\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n

Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saat ramai-ramai kampanye anti-tembakau yang salah satu gerakannya adalah dengan mendorong petani untuk mengganti tanaman tembakau mereka dengan jenis tanaman lain yang produktif, mereka yang memberi anjuran itu sesungguhnya tidak paham konteks. Dan bisa dipastikan, mereka tidak pernah turun ke lapangan, ke kebun-kebun tembakau, bertemu dengan petani dan berbincang dengan mereka.<\/h2>\n\n\n\n

Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n

Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Terik matahari menjamin daun tembakau berkualitas bagus, nikotin yang dihasilkan maksimal, dan terutama, ia melindungi daun-daun tembakau dari ancaman daun membusuk jika terlalu banyak terkena air. <\/p>\n\n\n\n

Saat ramai-ramai kampanye anti-tembakau yang salah satu gerakannya adalah dengan mendorong petani untuk mengganti tanaman tembakau mereka dengan jenis tanaman lain yang produktif, mereka yang memberi anjuran itu sesungguhnya tidak paham konteks. Dan bisa dipastikan, mereka tidak pernah turun ke lapangan, ke kebun-kebun tembakau, bertemu dengan petani dan berbincang dengan mereka.<\/h2>\n\n\n\n

Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n

Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Tapi ini yang paling bagus buat tembakau. Kalau kemaraunya seperti ini, tembakau kita nanti hasilnya bagus. Pasti bagus.\" Begitu ia menutup keterangannya.<\/p>\n\n\n\n

Terik matahari menjamin daun tembakau berkualitas bagus, nikotin yang dihasilkan maksimal, dan terutama, ia melindungi daun-daun tembakau dari ancaman daun membusuk jika terlalu banyak terkena air. <\/p>\n\n\n\n

Saat ramai-ramai kampanye anti-tembakau yang salah satu gerakannya adalah dengan mendorong petani untuk mengganti tanaman tembakau mereka dengan jenis tanaman lain yang produktif, mereka yang memberi anjuran itu sesungguhnya tidak paham konteks. Dan bisa dipastikan, mereka tidak pernah turun ke lapangan, ke kebun-kebun tembakau, bertemu dengan petani dan berbincang dengan mereka.<\/h2>\n\n\n\n

Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n

Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sekali waktu, salah seorang petani di Desa Tlilir, Temanggung pernah berujar kepada saya ketika musim kemarau sedang pada puncaknya, \"di musim kemarau seperti ini, rumput saja nggak bisa tumbuh, mati dia.\" Sembari menunjuk serumpun pohon pisang yang di dekatnya juga ada pohon pepaya, ia melanjutkan, \"lihat itu, pohon pisang dan pepaya, mati semua, kemaraunya pol-polan ini.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Tapi ini yang paling bagus buat tembakau. Kalau kemaraunya seperti ini, tembakau kita nanti hasilnya bagus. Pasti bagus.\" Begitu ia menutup keterangannya.<\/p>\n\n\n\n

Terik matahari menjamin daun tembakau berkualitas bagus, nikotin yang dihasilkan maksimal, dan terutama, ia melindungi daun-daun tembakau dari ancaman daun membusuk jika terlalu banyak terkena air. <\/p>\n\n\n\n

Saat ramai-ramai kampanye anti-tembakau yang salah satu gerakannya adalah dengan mendorong petani untuk mengganti tanaman tembakau mereka dengan jenis tanaman lain yang produktif, mereka yang memberi anjuran itu sesungguhnya tidak paham konteks. Dan bisa dipastikan, mereka tidak pernah turun ke lapangan, ke kebun-kebun tembakau, bertemu dengan petani dan berbincang dengan mereka.<\/h2>\n\n\n\n

Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n

Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selanjutnya, tumbuh kembang tanaman tembakau terjadi pada musim kemarau, di mana tanaman lain kesulitan tumbuh, tembakau malah sebaliknya, ia tumbuh subur dan akan menghasilkan kualitas daun yang baik jika musim kemarau berjalan baik seperti biasanya. Tidak ada hujan seperti di musim penghujan yang dapat mengganggu tumbuh kembang daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sekali waktu, salah seorang petani di Desa Tlilir, Temanggung pernah berujar kepada saya ketika musim kemarau sedang pada puncaknya, \"di musim kemarau seperti ini, rumput saja nggak bisa tumbuh, mati dia.\" Sembari menunjuk serumpun pohon pisang yang di dekatnya juga ada pohon pepaya, ia melanjutkan, \"lihat itu, pohon pisang dan pepaya, mati semua, kemaraunya pol-polan ini.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Tapi ini yang paling bagus buat tembakau. Kalau kemaraunya seperti ini, tembakau kita nanti hasilnya bagus. Pasti bagus.\" Begitu ia menutup keterangannya.<\/p>\n\n\n\n

Terik matahari menjamin daun tembakau berkualitas bagus, nikotin yang dihasilkan maksimal, dan terutama, ia melindungi daun-daun tembakau dari ancaman daun membusuk jika terlalu banyak terkena air. <\/p>\n\n\n\n

Saat ramai-ramai kampanye anti-tembakau yang salah satu gerakannya adalah dengan mendorong petani untuk mengganti tanaman tembakau mereka dengan jenis tanaman lain yang produktif, mereka yang memberi anjuran itu sesungguhnya tidak paham konteks. Dan bisa dipastikan, mereka tidak pernah turun ke lapangan, ke kebun-kebun tembakau, bertemu dengan petani dan berbincang dengan mereka.<\/h2>\n\n\n\n

Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n

Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Inilah yang menjadi sebab mengapa tembakau biasanya ditanam oleh para petani di akhir musim hujan. Karena pada masa-masa itu hujan masih cukup untuk mengairi tanaman tembakau yang baru ditanam. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tumbuh kembang tanaman tembakau terjadi pada musim kemarau, di mana tanaman lain kesulitan tumbuh, tembakau malah sebaliknya, ia tumbuh subur dan akan menghasilkan kualitas daun yang baik jika musim kemarau berjalan baik seperti biasanya. Tidak ada hujan seperti di musim penghujan yang dapat mengganggu tumbuh kembang daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sekali waktu, salah seorang petani di Desa Tlilir, Temanggung pernah berujar kepada saya ketika musim kemarau sedang pada puncaknya, \"di musim kemarau seperti ini, rumput saja nggak bisa tumbuh, mati dia.\" Sembari menunjuk serumpun pohon pisang yang di dekatnya juga ada pohon pepaya, ia melanjutkan, \"lihat itu, pohon pisang dan pepaya, mati semua, kemaraunya pol-polan ini.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Tapi ini yang paling bagus buat tembakau. Kalau kemaraunya seperti ini, tembakau kita nanti hasilnya bagus. Pasti bagus.\" Begitu ia menutup keterangannya.<\/p>\n\n\n\n

Terik matahari menjamin daun tembakau berkualitas bagus, nikotin yang dihasilkan maksimal, dan terutama, ia melindungi daun-daun tembakau dari ancaman daun membusuk jika terlalu banyak terkena air. <\/p>\n\n\n\n

Saat ramai-ramai kampanye anti-tembakau yang salah satu gerakannya adalah dengan mendorong petani untuk mengganti tanaman tembakau mereka dengan jenis tanaman lain yang produktif, mereka yang memberi anjuran itu sesungguhnya tidak paham konteks. Dan bisa dipastikan, mereka tidak pernah turun ke lapangan, ke kebun-kebun tembakau, bertemu dengan petani dan berbincang dengan mereka.<\/h2>\n\n\n\n

Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n

Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Air yang cukup banyak dibutuhkan tanaman tembakau hanya pada masa-masa awal tembakau ditanam. Selanjutnya, kebutuhan air kian berkurang sampai sama sekali tidak membutuhkan air, yaitu di masa-masa jelang tembakau dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Inilah yang menjadi sebab mengapa tembakau biasanya ditanam oleh para petani di akhir musim hujan. Karena pada masa-masa itu hujan masih cukup untuk mengairi tanaman tembakau yang baru ditanam. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tumbuh kembang tanaman tembakau terjadi pada musim kemarau, di mana tanaman lain kesulitan tumbuh, tembakau malah sebaliknya, ia tumbuh subur dan akan menghasilkan kualitas daun yang baik jika musim kemarau berjalan baik seperti biasanya. Tidak ada hujan seperti di musim penghujan yang dapat mengganggu tumbuh kembang daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sekali waktu, salah seorang petani di Desa Tlilir, Temanggung pernah berujar kepada saya ketika musim kemarau sedang pada puncaknya, \"di musim kemarau seperti ini, rumput saja nggak bisa tumbuh, mati dia.\" Sembari menunjuk serumpun pohon pisang yang di dekatnya juga ada pohon pepaya, ia melanjutkan, \"lihat itu, pohon pisang dan pepaya, mati semua, kemaraunya pol-polan ini.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Tapi ini yang paling bagus buat tembakau. Kalau kemaraunya seperti ini, tembakau kita nanti hasilnya bagus. Pasti bagus.\" Begitu ia menutup keterangannya.<\/p>\n\n\n\n

Terik matahari menjamin daun tembakau berkualitas bagus, nikotin yang dihasilkan maksimal, dan terutama, ia melindungi daun-daun tembakau dari ancaman daun membusuk jika terlalu banyak terkena air. <\/p>\n\n\n\n

Saat ramai-ramai kampanye anti-tembakau yang salah satu gerakannya adalah dengan mendorong petani untuk mengganti tanaman tembakau mereka dengan jenis tanaman lain yang produktif, mereka yang memberi anjuran itu sesungguhnya tidak paham konteks. Dan bisa dipastikan, mereka tidak pernah turun ke lapangan, ke kebun-kebun tembakau, bertemu dengan petani dan berbincang dengan mereka.<\/h2>\n\n\n\n

Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n

Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tanaman tembakau memang unik. Ia satu dari sedikit jenis tanaman semusim yang sedikit membutuhkan air untuk perkembangannya. Sedikitnya air menjamin kualitas baik tembakau yang ditanam. Sebaliknya, terlalu banyak air malah membikin kualitas tembakau jadi buruk. Membusuk. Dan tentu saja tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Air yang cukup banyak dibutuhkan tanaman tembakau hanya pada masa-masa awal tembakau ditanam. Selanjutnya, kebutuhan air kian berkurang sampai sama sekali tidak membutuhkan air, yaitu di masa-masa jelang tembakau dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Inilah yang menjadi sebab mengapa tembakau biasanya ditanam oleh para petani di akhir musim hujan. Karena pada masa-masa itu hujan masih cukup untuk mengairi tanaman tembakau yang baru ditanam. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tumbuh kembang tanaman tembakau terjadi pada musim kemarau, di mana tanaman lain kesulitan tumbuh, tembakau malah sebaliknya, ia tumbuh subur dan akan menghasilkan kualitas daun yang baik jika musim kemarau berjalan baik seperti biasanya. Tidak ada hujan seperti di musim penghujan yang dapat mengganggu tumbuh kembang daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sekali waktu, salah seorang petani di Desa Tlilir, Temanggung pernah berujar kepada saya ketika musim kemarau sedang pada puncaknya, \"di musim kemarau seperti ini, rumput saja nggak bisa tumbuh, mati dia.\" Sembari menunjuk serumpun pohon pisang yang di dekatnya juga ada pohon pepaya, ia melanjutkan, \"lihat itu, pohon pisang dan pepaya, mati semua, kemaraunya pol-polan ini.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Tapi ini yang paling bagus buat tembakau. Kalau kemaraunya seperti ini, tembakau kita nanti hasilnya bagus. Pasti bagus.\" Begitu ia menutup keterangannya.<\/p>\n\n\n\n

Terik matahari menjamin daun tembakau berkualitas bagus, nikotin yang dihasilkan maksimal, dan terutama, ia melindungi daun-daun tembakau dari ancaman daun membusuk jika terlalu banyak terkena air. <\/p>\n\n\n\n

Saat ramai-ramai kampanye anti-tembakau yang salah satu gerakannya adalah dengan mendorong petani untuk mengganti tanaman tembakau mereka dengan jenis tanaman lain yang produktif, mereka yang memberi anjuran itu sesungguhnya tidak paham konteks. Dan bisa dipastikan, mereka tidak pernah turun ke lapangan, ke kebun-kebun tembakau, bertemu dengan petani dan berbincang dengan mereka.<\/h2>\n\n\n\n

Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n

Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6931,"post_author":"878","post_date":"2020-07-17 11:00:47","post_date_gmt":"2020-07-17 04:00:47","post_content":"\n

Tanaman tembakau memang unik. Ia satu dari sedikit jenis tanaman semusim yang sedikit membutuhkan air untuk perkembangannya. Sedikitnya air menjamin kualitas baik tembakau yang ditanam. Sebaliknya, terlalu banyak air malah membikin kualitas tembakau jadi buruk. Membusuk. Dan tentu saja tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Air yang cukup banyak dibutuhkan tanaman tembakau hanya pada masa-masa awal tembakau ditanam. Selanjutnya, kebutuhan air kian berkurang sampai sama sekali tidak membutuhkan air, yaitu di masa-masa jelang tembakau dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Inilah yang menjadi sebab mengapa tembakau biasanya ditanam oleh para petani di akhir musim hujan. Karena pada masa-masa itu hujan masih cukup untuk mengairi tanaman tembakau yang baru ditanam. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tumbuh kembang tanaman tembakau terjadi pada musim kemarau, di mana tanaman lain kesulitan tumbuh, tembakau malah sebaliknya, ia tumbuh subur dan akan menghasilkan kualitas daun yang baik jika musim kemarau berjalan baik seperti biasanya. Tidak ada hujan seperti di musim penghujan yang dapat mengganggu tumbuh kembang daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sekali waktu, salah seorang petani di Desa Tlilir, Temanggung pernah berujar kepada saya ketika musim kemarau sedang pada puncaknya, \"di musim kemarau seperti ini, rumput saja nggak bisa tumbuh, mati dia.\" Sembari menunjuk serumpun pohon pisang yang di dekatnya juga ada pohon pepaya, ia melanjutkan, \"lihat itu, pohon pisang dan pepaya, mati semua, kemaraunya pol-polan ini.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Tapi ini yang paling bagus buat tembakau. Kalau kemaraunya seperti ini, tembakau kita nanti hasilnya bagus. Pasti bagus.\" Begitu ia menutup keterangannya.<\/p>\n\n\n\n

Terik matahari menjamin daun tembakau berkualitas bagus, nikotin yang dihasilkan maksimal, dan terutama, ia melindungi daun-daun tembakau dari ancaman daun membusuk jika terlalu banyak terkena air. <\/p>\n\n\n\n

Saat ramai-ramai kampanye anti-tembakau yang salah satu gerakannya adalah dengan mendorong petani untuk mengganti tanaman tembakau mereka dengan jenis tanaman lain yang produktif, mereka yang memberi anjuran itu sesungguhnya tidak paham konteks. Dan bisa dipastikan, mereka tidak pernah turun ke lapangan, ke kebun-kebun tembakau, bertemu dengan petani dan berbincang dengan mereka.<\/h2>\n\n\n\n

Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n

Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6931,"post_author":"878","post_date":"2020-07-17 11:00:47","post_date_gmt":"2020-07-17 04:00:47","post_content":"\n

Tanaman tembakau memang unik. Ia satu dari sedikit jenis tanaman semusim yang sedikit membutuhkan air untuk perkembangannya. Sedikitnya air menjamin kualitas baik tembakau yang ditanam. Sebaliknya, terlalu banyak air malah membikin kualitas tembakau jadi buruk. Membusuk. Dan tentu saja tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Air yang cukup banyak dibutuhkan tanaman tembakau hanya pada masa-masa awal tembakau ditanam. Selanjutnya, kebutuhan air kian berkurang sampai sama sekali tidak membutuhkan air, yaitu di masa-masa jelang tembakau dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Inilah yang menjadi sebab mengapa tembakau biasanya ditanam oleh para petani di akhir musim hujan. Karena pada masa-masa itu hujan masih cukup untuk mengairi tanaman tembakau yang baru ditanam. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tumbuh kembang tanaman tembakau terjadi pada musim kemarau, di mana tanaman lain kesulitan tumbuh, tembakau malah sebaliknya, ia tumbuh subur dan akan menghasilkan kualitas daun yang baik jika musim kemarau berjalan baik seperti biasanya. Tidak ada hujan seperti di musim penghujan yang dapat mengganggu tumbuh kembang daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sekali waktu, salah seorang petani di Desa Tlilir, Temanggung pernah berujar kepada saya ketika musim kemarau sedang pada puncaknya, \"di musim kemarau seperti ini, rumput saja nggak bisa tumbuh, mati dia.\" Sembari menunjuk serumpun pohon pisang yang di dekatnya juga ada pohon pepaya, ia melanjutkan, \"lihat itu, pohon pisang dan pepaya, mati semua, kemaraunya pol-polan ini.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Tapi ini yang paling bagus buat tembakau. Kalau kemaraunya seperti ini, tembakau kita nanti hasilnya bagus. Pasti bagus.\" Begitu ia menutup keterangannya.<\/p>\n\n\n\n

Terik matahari menjamin daun tembakau berkualitas bagus, nikotin yang dihasilkan maksimal, dan terutama, ia melindungi daun-daun tembakau dari ancaman daun membusuk jika terlalu banyak terkena air. <\/p>\n\n\n\n

Saat ramai-ramai kampanye anti-tembakau yang salah satu gerakannya adalah dengan mendorong petani untuk mengganti tanaman tembakau mereka dengan jenis tanaman lain yang produktif, mereka yang memberi anjuran itu sesungguhnya tidak paham konteks. Dan bisa dipastikan, mereka tidak pernah turun ke lapangan, ke kebun-kebun tembakau, bertemu dengan petani dan berbincang dengan mereka.<\/h2>\n\n\n\n

Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n

Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6931,"post_author":"878","post_date":"2020-07-17 11:00:47","post_date_gmt":"2020-07-17 04:00:47","post_content":"\n

Tanaman tembakau memang unik. Ia satu dari sedikit jenis tanaman semusim yang sedikit membutuhkan air untuk perkembangannya. Sedikitnya air menjamin kualitas baik tembakau yang ditanam. Sebaliknya, terlalu banyak air malah membikin kualitas tembakau jadi buruk. Membusuk. Dan tentu saja tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Air yang cukup banyak dibutuhkan tanaman tembakau hanya pada masa-masa awal tembakau ditanam. Selanjutnya, kebutuhan air kian berkurang sampai sama sekali tidak membutuhkan air, yaitu di masa-masa jelang tembakau dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Inilah yang menjadi sebab mengapa tembakau biasanya ditanam oleh para petani di akhir musim hujan. Karena pada masa-masa itu hujan masih cukup untuk mengairi tanaman tembakau yang baru ditanam. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tumbuh kembang tanaman tembakau terjadi pada musim kemarau, di mana tanaman lain kesulitan tumbuh, tembakau malah sebaliknya, ia tumbuh subur dan akan menghasilkan kualitas daun yang baik jika musim kemarau berjalan baik seperti biasanya. Tidak ada hujan seperti di musim penghujan yang dapat mengganggu tumbuh kembang daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sekali waktu, salah seorang petani di Desa Tlilir, Temanggung pernah berujar kepada saya ketika musim kemarau sedang pada puncaknya, \"di musim kemarau seperti ini, rumput saja nggak bisa tumbuh, mati dia.\" Sembari menunjuk serumpun pohon pisang yang di dekatnya juga ada pohon pepaya, ia melanjutkan, \"lihat itu, pohon pisang dan pepaya, mati semua, kemaraunya pol-polan ini.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Tapi ini yang paling bagus buat tembakau. Kalau kemaraunya seperti ini, tembakau kita nanti hasilnya bagus. Pasti bagus.\" Begitu ia menutup keterangannya.<\/p>\n\n\n\n

Terik matahari menjamin daun tembakau berkualitas bagus, nikotin yang dihasilkan maksimal, dan terutama, ia melindungi daun-daun tembakau dari ancaman daun membusuk jika terlalu banyak terkena air. <\/p>\n\n\n\n

Saat ramai-ramai kampanye anti-tembakau yang salah satu gerakannya adalah dengan mendorong petani untuk mengganti tanaman tembakau mereka dengan jenis tanaman lain yang produktif, mereka yang memberi anjuran itu sesungguhnya tidak paham konteks. Dan bisa dipastikan, mereka tidak pernah turun ke lapangan, ke kebun-kebun tembakau, bertemu dengan petani dan berbincang dengan mereka.<\/h2>\n\n\n\n

Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n

Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6931,"post_author":"878","post_date":"2020-07-17 11:00:47","post_date_gmt":"2020-07-17 04:00:47","post_content":"\n

Tanaman tembakau memang unik. Ia satu dari sedikit jenis tanaman semusim yang sedikit membutuhkan air untuk perkembangannya. Sedikitnya air menjamin kualitas baik tembakau yang ditanam. Sebaliknya, terlalu banyak air malah membikin kualitas tembakau jadi buruk. Membusuk. Dan tentu saja tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Air yang cukup banyak dibutuhkan tanaman tembakau hanya pada masa-masa awal tembakau ditanam. Selanjutnya, kebutuhan air kian berkurang sampai sama sekali tidak membutuhkan air, yaitu di masa-masa jelang tembakau dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Inilah yang menjadi sebab mengapa tembakau biasanya ditanam oleh para petani di akhir musim hujan. Karena pada masa-masa itu hujan masih cukup untuk mengairi tanaman tembakau yang baru ditanam. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tumbuh kembang tanaman tembakau terjadi pada musim kemarau, di mana tanaman lain kesulitan tumbuh, tembakau malah sebaliknya, ia tumbuh subur dan akan menghasilkan kualitas daun yang baik jika musim kemarau berjalan baik seperti biasanya. Tidak ada hujan seperti di musim penghujan yang dapat mengganggu tumbuh kembang daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sekali waktu, salah seorang petani di Desa Tlilir, Temanggung pernah berujar kepada saya ketika musim kemarau sedang pada puncaknya, \"di musim kemarau seperti ini, rumput saja nggak bisa tumbuh, mati dia.\" Sembari menunjuk serumpun pohon pisang yang di dekatnya juga ada pohon pepaya, ia melanjutkan, \"lihat itu, pohon pisang dan pepaya, mati semua, kemaraunya pol-polan ini.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Tapi ini yang paling bagus buat tembakau. Kalau kemaraunya seperti ini, tembakau kita nanti hasilnya bagus. Pasti bagus.\" Begitu ia menutup keterangannya.<\/p>\n\n\n\n

Terik matahari menjamin daun tembakau berkualitas bagus, nikotin yang dihasilkan maksimal, dan terutama, ia melindungi daun-daun tembakau dari ancaman daun membusuk jika terlalu banyak terkena air. <\/p>\n\n\n\n

Saat ramai-ramai kampanye anti-tembakau yang salah satu gerakannya adalah dengan mendorong petani untuk mengganti tanaman tembakau mereka dengan jenis tanaman lain yang produktif, mereka yang memberi anjuran itu sesungguhnya tidak paham konteks. Dan bisa dipastikan, mereka tidak pernah turun ke lapangan, ke kebun-kebun tembakau, bertemu dengan petani dan berbincang dengan mereka.<\/h2>\n\n\n\n

Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n

Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6931,"post_author":"878","post_date":"2020-07-17 11:00:47","post_date_gmt":"2020-07-17 04:00:47","post_content":"\n

Tanaman tembakau memang unik. Ia satu dari sedikit jenis tanaman semusim yang sedikit membutuhkan air untuk perkembangannya. Sedikitnya air menjamin kualitas baik tembakau yang ditanam. Sebaliknya, terlalu banyak air malah membikin kualitas tembakau jadi buruk. Membusuk. Dan tentu saja tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Air yang cukup banyak dibutuhkan tanaman tembakau hanya pada masa-masa awal tembakau ditanam. Selanjutnya, kebutuhan air kian berkurang sampai sama sekali tidak membutuhkan air, yaitu di masa-masa jelang tembakau dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Inilah yang menjadi sebab mengapa tembakau biasanya ditanam oleh para petani di akhir musim hujan. Karena pada masa-masa itu hujan masih cukup untuk mengairi tanaman tembakau yang baru ditanam. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tumbuh kembang tanaman tembakau terjadi pada musim kemarau, di mana tanaman lain kesulitan tumbuh, tembakau malah sebaliknya, ia tumbuh subur dan akan menghasilkan kualitas daun yang baik jika musim kemarau berjalan baik seperti biasanya. Tidak ada hujan seperti di musim penghujan yang dapat mengganggu tumbuh kembang daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sekali waktu, salah seorang petani di Desa Tlilir, Temanggung pernah berujar kepada saya ketika musim kemarau sedang pada puncaknya, \"di musim kemarau seperti ini, rumput saja nggak bisa tumbuh, mati dia.\" Sembari menunjuk serumpun pohon pisang yang di dekatnya juga ada pohon pepaya, ia melanjutkan, \"lihat itu, pohon pisang dan pepaya, mati semua, kemaraunya pol-polan ini.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Tapi ini yang paling bagus buat tembakau. Kalau kemaraunya seperti ini, tembakau kita nanti hasilnya bagus. Pasti bagus.\" Begitu ia menutup keterangannya.<\/p>\n\n\n\n

Terik matahari menjamin daun tembakau berkualitas bagus, nikotin yang dihasilkan maksimal, dan terutama, ia melindungi daun-daun tembakau dari ancaman daun membusuk jika terlalu banyak terkena air. <\/p>\n\n\n\n

Saat ramai-ramai kampanye anti-tembakau yang salah satu gerakannya adalah dengan mendorong petani untuk mengganti tanaman tembakau mereka dengan jenis tanaman lain yang produktif, mereka yang memberi anjuran itu sesungguhnya tidak paham konteks. Dan bisa dipastikan, mereka tidak pernah turun ke lapangan, ke kebun-kebun tembakau, bertemu dengan petani dan berbincang dengan mereka.<\/h2>\n\n\n\n

Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n

Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6931,"post_author":"878","post_date":"2020-07-17 11:00:47","post_date_gmt":"2020-07-17 04:00:47","post_content":"\n

Tanaman tembakau memang unik. Ia satu dari sedikit jenis tanaman semusim yang sedikit membutuhkan air untuk perkembangannya. Sedikitnya air menjamin kualitas baik tembakau yang ditanam. Sebaliknya, terlalu banyak air malah membikin kualitas tembakau jadi buruk. Membusuk. Dan tentu saja tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Air yang cukup banyak dibutuhkan tanaman tembakau hanya pada masa-masa awal tembakau ditanam. Selanjutnya, kebutuhan air kian berkurang sampai sama sekali tidak membutuhkan air, yaitu di masa-masa jelang tembakau dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Inilah yang menjadi sebab mengapa tembakau biasanya ditanam oleh para petani di akhir musim hujan. Karena pada masa-masa itu hujan masih cukup untuk mengairi tanaman tembakau yang baru ditanam. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tumbuh kembang tanaman tembakau terjadi pada musim kemarau, di mana tanaman lain kesulitan tumbuh, tembakau malah sebaliknya, ia tumbuh subur dan akan menghasilkan kualitas daun yang baik jika musim kemarau berjalan baik seperti biasanya. Tidak ada hujan seperti di musim penghujan yang dapat mengganggu tumbuh kembang daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sekali waktu, salah seorang petani di Desa Tlilir, Temanggung pernah berujar kepada saya ketika musim kemarau sedang pada puncaknya, \"di musim kemarau seperti ini, rumput saja nggak bisa tumbuh, mati dia.\" Sembari menunjuk serumpun pohon pisang yang di dekatnya juga ada pohon pepaya, ia melanjutkan, \"lihat itu, pohon pisang dan pepaya, mati semua, kemaraunya pol-polan ini.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Tapi ini yang paling bagus buat tembakau. Kalau kemaraunya seperti ini, tembakau kita nanti hasilnya bagus. Pasti bagus.\" Begitu ia menutup keterangannya.<\/p>\n\n\n\n

Terik matahari menjamin daun tembakau berkualitas bagus, nikotin yang dihasilkan maksimal, dan terutama, ia melindungi daun-daun tembakau dari ancaman daun membusuk jika terlalu banyak terkena air. <\/p>\n\n\n\n

Saat ramai-ramai kampanye anti-tembakau yang salah satu gerakannya adalah dengan mendorong petani untuk mengganti tanaman tembakau mereka dengan jenis tanaman lain yang produktif, mereka yang memberi anjuran itu sesungguhnya tidak paham konteks. Dan bisa dipastikan, mereka tidak pernah turun ke lapangan, ke kebun-kebun tembakau, bertemu dengan petani dan berbincang dengan mereka.<\/h2>\n\n\n\n

Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n

Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6931,"post_author":"878","post_date":"2020-07-17 11:00:47","post_date_gmt":"2020-07-17 04:00:47","post_content":"\n

Tanaman tembakau memang unik. Ia satu dari sedikit jenis tanaman semusim yang sedikit membutuhkan air untuk perkembangannya. Sedikitnya air menjamin kualitas baik tembakau yang ditanam. Sebaliknya, terlalu banyak air malah membikin kualitas tembakau jadi buruk. Membusuk. Dan tentu saja tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Air yang cukup banyak dibutuhkan tanaman tembakau hanya pada masa-masa awal tembakau ditanam. Selanjutnya, kebutuhan air kian berkurang sampai sama sekali tidak membutuhkan air, yaitu di masa-masa jelang tembakau dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Inilah yang menjadi sebab mengapa tembakau biasanya ditanam oleh para petani di akhir musim hujan. Karena pada masa-masa itu hujan masih cukup untuk mengairi tanaman tembakau yang baru ditanam. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tumbuh kembang tanaman tembakau terjadi pada musim kemarau, di mana tanaman lain kesulitan tumbuh, tembakau malah sebaliknya, ia tumbuh subur dan akan menghasilkan kualitas daun yang baik jika musim kemarau berjalan baik seperti biasanya. Tidak ada hujan seperti di musim penghujan yang dapat mengganggu tumbuh kembang daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sekali waktu, salah seorang petani di Desa Tlilir, Temanggung pernah berujar kepada saya ketika musim kemarau sedang pada puncaknya, \"di musim kemarau seperti ini, rumput saja nggak bisa tumbuh, mati dia.\" Sembari menunjuk serumpun pohon pisang yang di dekatnya juga ada pohon pepaya, ia melanjutkan, \"lihat itu, pohon pisang dan pepaya, mati semua, kemaraunya pol-polan ini.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Tapi ini yang paling bagus buat tembakau. Kalau kemaraunya seperti ini, tembakau kita nanti hasilnya bagus. Pasti bagus.\" Begitu ia menutup keterangannya.<\/p>\n\n\n\n

Terik matahari menjamin daun tembakau berkualitas bagus, nikotin yang dihasilkan maksimal, dan terutama, ia melindungi daun-daun tembakau dari ancaman daun membusuk jika terlalu banyak terkena air. <\/p>\n\n\n\n

Saat ramai-ramai kampanye anti-tembakau yang salah satu gerakannya adalah dengan mendorong petani untuk mengganti tanaman tembakau mereka dengan jenis tanaman lain yang produktif, mereka yang memberi anjuran itu sesungguhnya tidak paham konteks. Dan bisa dipastikan, mereka tidak pernah turun ke lapangan, ke kebun-kebun tembakau, bertemu dengan petani dan berbincang dengan mereka.<\/h2>\n\n\n\n

Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n

Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6931,"post_author":"878","post_date":"2020-07-17 11:00:47","post_date_gmt":"2020-07-17 04:00:47","post_content":"\n

Tanaman tembakau memang unik. Ia satu dari sedikit jenis tanaman semusim yang sedikit membutuhkan air untuk perkembangannya. Sedikitnya air menjamin kualitas baik tembakau yang ditanam. Sebaliknya, terlalu banyak air malah membikin kualitas tembakau jadi buruk. Membusuk. Dan tentu saja tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Air yang cukup banyak dibutuhkan tanaman tembakau hanya pada masa-masa awal tembakau ditanam. Selanjutnya, kebutuhan air kian berkurang sampai sama sekali tidak membutuhkan air, yaitu di masa-masa jelang tembakau dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Inilah yang menjadi sebab mengapa tembakau biasanya ditanam oleh para petani di akhir musim hujan. Karena pada masa-masa itu hujan masih cukup untuk mengairi tanaman tembakau yang baru ditanam. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tumbuh kembang tanaman tembakau terjadi pada musim kemarau, di mana tanaman lain kesulitan tumbuh, tembakau malah sebaliknya, ia tumbuh subur dan akan menghasilkan kualitas daun yang baik jika musim kemarau berjalan baik seperti biasanya. Tidak ada hujan seperti di musim penghujan yang dapat mengganggu tumbuh kembang daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sekali waktu, salah seorang petani di Desa Tlilir, Temanggung pernah berujar kepada saya ketika musim kemarau sedang pada puncaknya, \"di musim kemarau seperti ini, rumput saja nggak bisa tumbuh, mati dia.\" Sembari menunjuk serumpun pohon pisang yang di dekatnya juga ada pohon pepaya, ia melanjutkan, \"lihat itu, pohon pisang dan pepaya, mati semua, kemaraunya pol-polan ini.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Tapi ini yang paling bagus buat tembakau. Kalau kemaraunya seperti ini, tembakau kita nanti hasilnya bagus. Pasti bagus.\" Begitu ia menutup keterangannya.<\/p>\n\n\n\n

Terik matahari menjamin daun tembakau berkualitas bagus, nikotin yang dihasilkan maksimal, dan terutama, ia melindungi daun-daun tembakau dari ancaman daun membusuk jika terlalu banyak terkena air. <\/p>\n\n\n\n

Saat ramai-ramai kampanye anti-tembakau yang salah satu gerakannya adalah dengan mendorong petani untuk mengganti tanaman tembakau mereka dengan jenis tanaman lain yang produktif, mereka yang memberi anjuran itu sesungguhnya tidak paham konteks. Dan bisa dipastikan, mereka tidak pernah turun ke lapangan, ke kebun-kebun tembakau, bertemu dengan petani dan berbincang dengan mereka.<\/h2>\n\n\n\n

Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n

Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6931,"post_author":"878","post_date":"2020-07-17 11:00:47","post_date_gmt":"2020-07-17 04:00:47","post_content":"\n

Tanaman tembakau memang unik. Ia satu dari sedikit jenis tanaman semusim yang sedikit membutuhkan air untuk perkembangannya. Sedikitnya air menjamin kualitas baik tembakau yang ditanam. Sebaliknya, terlalu banyak air malah membikin kualitas tembakau jadi buruk. Membusuk. Dan tentu saja tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Air yang cukup banyak dibutuhkan tanaman tembakau hanya pada masa-masa awal tembakau ditanam. Selanjutnya, kebutuhan air kian berkurang sampai sama sekali tidak membutuhkan air, yaitu di masa-masa jelang tembakau dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Inilah yang menjadi sebab mengapa tembakau biasanya ditanam oleh para petani di akhir musim hujan. Karena pada masa-masa itu hujan masih cukup untuk mengairi tanaman tembakau yang baru ditanam. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tumbuh kembang tanaman tembakau terjadi pada musim kemarau, di mana tanaman lain kesulitan tumbuh, tembakau malah sebaliknya, ia tumbuh subur dan akan menghasilkan kualitas daun yang baik jika musim kemarau berjalan baik seperti biasanya. Tidak ada hujan seperti di musim penghujan yang dapat mengganggu tumbuh kembang daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sekali waktu, salah seorang petani di Desa Tlilir, Temanggung pernah berujar kepada saya ketika musim kemarau sedang pada puncaknya, \"di musim kemarau seperti ini, rumput saja nggak bisa tumbuh, mati dia.\" Sembari menunjuk serumpun pohon pisang yang di dekatnya juga ada pohon pepaya, ia melanjutkan, \"lihat itu, pohon pisang dan pepaya, mati semua, kemaraunya pol-polan ini.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Tapi ini yang paling bagus buat tembakau. Kalau kemaraunya seperti ini, tembakau kita nanti hasilnya bagus. Pasti bagus.\" Begitu ia menutup keterangannya.<\/p>\n\n\n\n

Terik matahari menjamin daun tembakau berkualitas bagus, nikotin yang dihasilkan maksimal, dan terutama, ia melindungi daun-daun tembakau dari ancaman daun membusuk jika terlalu banyak terkena air. <\/p>\n\n\n\n

Saat ramai-ramai kampanye anti-tembakau yang salah satu gerakannya adalah dengan mendorong petani untuk mengganti tanaman tembakau mereka dengan jenis tanaman lain yang produktif, mereka yang memberi anjuran itu sesungguhnya tidak paham konteks. Dan bisa dipastikan, mereka tidak pernah turun ke lapangan, ke kebun-kebun tembakau, bertemu dengan petani dan berbincang dengan mereka.<\/h2>\n\n\n\n

Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n

Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6931,"post_author":"878","post_date":"2020-07-17 11:00:47","post_date_gmt":"2020-07-17 04:00:47","post_content":"\n

Tanaman tembakau memang unik. Ia satu dari sedikit jenis tanaman semusim yang sedikit membutuhkan air untuk perkembangannya. Sedikitnya air menjamin kualitas baik tembakau yang ditanam. Sebaliknya, terlalu banyak air malah membikin kualitas tembakau jadi buruk. Membusuk. Dan tentu saja tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Air yang cukup banyak dibutuhkan tanaman tembakau hanya pada masa-masa awal tembakau ditanam. Selanjutnya, kebutuhan air kian berkurang sampai sama sekali tidak membutuhkan air, yaitu di masa-masa jelang tembakau dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Inilah yang menjadi sebab mengapa tembakau biasanya ditanam oleh para petani di akhir musim hujan. Karena pada masa-masa itu hujan masih cukup untuk mengairi tanaman tembakau yang baru ditanam. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tumbuh kembang tanaman tembakau terjadi pada musim kemarau, di mana tanaman lain kesulitan tumbuh, tembakau malah sebaliknya, ia tumbuh subur dan akan menghasilkan kualitas daun yang baik jika musim kemarau berjalan baik seperti biasanya. Tidak ada hujan seperti di musim penghujan yang dapat mengganggu tumbuh kembang daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sekali waktu, salah seorang petani di Desa Tlilir, Temanggung pernah berujar kepada saya ketika musim kemarau sedang pada puncaknya, \"di musim kemarau seperti ini, rumput saja nggak bisa tumbuh, mati dia.\" Sembari menunjuk serumpun pohon pisang yang di dekatnya juga ada pohon pepaya, ia melanjutkan, \"lihat itu, pohon pisang dan pepaya, mati semua, kemaraunya pol-polan ini.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Tapi ini yang paling bagus buat tembakau. Kalau kemaraunya seperti ini, tembakau kita nanti hasilnya bagus. Pasti bagus.\" Begitu ia menutup keterangannya.<\/p>\n\n\n\n

Terik matahari menjamin daun tembakau berkualitas bagus, nikotin yang dihasilkan maksimal, dan terutama, ia melindungi daun-daun tembakau dari ancaman daun membusuk jika terlalu banyak terkena air. <\/p>\n\n\n\n

Saat ramai-ramai kampanye anti-tembakau yang salah satu gerakannya adalah dengan mendorong petani untuk mengganti tanaman tembakau mereka dengan jenis tanaman lain yang produktif, mereka yang memberi anjuran itu sesungguhnya tidak paham konteks. Dan bisa dipastikan, mereka tidak pernah turun ke lapangan, ke kebun-kebun tembakau, bertemu dengan petani dan berbincang dengan mereka.<\/h2>\n\n\n\n

Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n

Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6931,"post_author":"878","post_date":"2020-07-17 11:00:47","post_date_gmt":"2020-07-17 04:00:47","post_content":"\n

Tanaman tembakau memang unik. Ia satu dari sedikit jenis tanaman semusim yang sedikit membutuhkan air untuk perkembangannya. Sedikitnya air menjamin kualitas baik tembakau yang ditanam. Sebaliknya, terlalu banyak air malah membikin kualitas tembakau jadi buruk. Membusuk. Dan tentu saja tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Air yang cukup banyak dibutuhkan tanaman tembakau hanya pada masa-masa awal tembakau ditanam. Selanjutnya, kebutuhan air kian berkurang sampai sama sekali tidak membutuhkan air, yaitu di masa-masa jelang tembakau dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Inilah yang menjadi sebab mengapa tembakau biasanya ditanam oleh para petani di akhir musim hujan. Karena pada masa-masa itu hujan masih cukup untuk mengairi tanaman tembakau yang baru ditanam. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tumbuh kembang tanaman tembakau terjadi pada musim kemarau, di mana tanaman lain kesulitan tumbuh, tembakau malah sebaliknya, ia tumbuh subur dan akan menghasilkan kualitas daun yang baik jika musim kemarau berjalan baik seperti biasanya. Tidak ada hujan seperti di musim penghujan yang dapat mengganggu tumbuh kembang daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sekali waktu, salah seorang petani di Desa Tlilir, Temanggung pernah berujar kepada saya ketika musim kemarau sedang pada puncaknya, \"di musim kemarau seperti ini, rumput saja nggak bisa tumbuh, mati dia.\" Sembari menunjuk serumpun pohon pisang yang di dekatnya juga ada pohon pepaya, ia melanjutkan, \"lihat itu, pohon pisang dan pepaya, mati semua, kemaraunya pol-polan ini.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Tapi ini yang paling bagus buat tembakau. Kalau kemaraunya seperti ini, tembakau kita nanti hasilnya bagus. Pasti bagus.\" Begitu ia menutup keterangannya.<\/p>\n\n\n\n

Terik matahari menjamin daun tembakau berkualitas bagus, nikotin yang dihasilkan maksimal, dan terutama, ia melindungi daun-daun tembakau dari ancaman daun membusuk jika terlalu banyak terkena air. <\/p>\n\n\n\n

Saat ramai-ramai kampanye anti-tembakau yang salah satu gerakannya adalah dengan mendorong petani untuk mengganti tanaman tembakau mereka dengan jenis tanaman lain yang produktif, mereka yang memberi anjuran itu sesungguhnya tidak paham konteks. Dan bisa dipastikan, mereka tidak pernah turun ke lapangan, ke kebun-kebun tembakau, bertemu dengan petani dan berbincang dengan mereka.<\/h2>\n\n\n\n

Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n

Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6931,"post_author":"878","post_date":"2020-07-17 11:00:47","post_date_gmt":"2020-07-17 04:00:47","post_content":"\n

Tanaman tembakau memang unik. Ia satu dari sedikit jenis tanaman semusim yang sedikit membutuhkan air untuk perkembangannya. Sedikitnya air menjamin kualitas baik tembakau yang ditanam. Sebaliknya, terlalu banyak air malah membikin kualitas tembakau jadi buruk. Membusuk. Dan tentu saja tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Air yang cukup banyak dibutuhkan tanaman tembakau hanya pada masa-masa awal tembakau ditanam. Selanjutnya, kebutuhan air kian berkurang sampai sama sekali tidak membutuhkan air, yaitu di masa-masa jelang tembakau dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Inilah yang menjadi sebab mengapa tembakau biasanya ditanam oleh para petani di akhir musim hujan. Karena pada masa-masa itu hujan masih cukup untuk mengairi tanaman tembakau yang baru ditanam. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tumbuh kembang tanaman tembakau terjadi pada musim kemarau, di mana tanaman lain kesulitan tumbuh, tembakau malah sebaliknya, ia tumbuh subur dan akan menghasilkan kualitas daun yang baik jika musim kemarau berjalan baik seperti biasanya. Tidak ada hujan seperti di musim penghujan yang dapat mengganggu tumbuh kembang daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sekali waktu, salah seorang petani di Desa Tlilir, Temanggung pernah berujar kepada saya ketika musim kemarau sedang pada puncaknya, \"di musim kemarau seperti ini, rumput saja nggak bisa tumbuh, mati dia.\" Sembari menunjuk serumpun pohon pisang yang di dekatnya juga ada pohon pepaya, ia melanjutkan, \"lihat itu, pohon pisang dan pepaya, mati semua, kemaraunya pol-polan ini.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Tapi ini yang paling bagus buat tembakau. Kalau kemaraunya seperti ini, tembakau kita nanti hasilnya bagus. Pasti bagus.\" Begitu ia menutup keterangannya.<\/p>\n\n\n\n

Terik matahari menjamin daun tembakau berkualitas bagus, nikotin yang dihasilkan maksimal, dan terutama, ia melindungi daun-daun tembakau dari ancaman daun membusuk jika terlalu banyak terkena air. <\/p>\n\n\n\n

Saat ramai-ramai kampanye anti-tembakau yang salah satu gerakannya adalah dengan mendorong petani untuk mengganti tanaman tembakau mereka dengan jenis tanaman lain yang produktif, mereka yang memberi anjuran itu sesungguhnya tidak paham konteks. Dan bisa dipastikan, mereka tidak pernah turun ke lapangan, ke kebun-kebun tembakau, bertemu dengan petani dan berbincang dengan mereka.<\/h2>\n\n\n\n

Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n

Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6931,"post_author":"878","post_date":"2020-07-17 11:00:47","post_date_gmt":"2020-07-17 04:00:47","post_content":"\n

Tanaman tembakau memang unik. Ia satu dari sedikit jenis tanaman semusim yang sedikit membutuhkan air untuk perkembangannya. Sedikitnya air menjamin kualitas baik tembakau yang ditanam. Sebaliknya, terlalu banyak air malah membikin kualitas tembakau jadi buruk. Membusuk. Dan tentu saja tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Air yang cukup banyak dibutuhkan tanaman tembakau hanya pada masa-masa awal tembakau ditanam. Selanjutnya, kebutuhan air kian berkurang sampai sama sekali tidak membutuhkan air, yaitu di masa-masa jelang tembakau dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Inilah yang menjadi sebab mengapa tembakau biasanya ditanam oleh para petani di akhir musim hujan. Karena pada masa-masa itu hujan masih cukup untuk mengairi tanaman tembakau yang baru ditanam. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tumbuh kembang tanaman tembakau terjadi pada musim kemarau, di mana tanaman lain kesulitan tumbuh, tembakau malah sebaliknya, ia tumbuh subur dan akan menghasilkan kualitas daun yang baik jika musim kemarau berjalan baik seperti biasanya. Tidak ada hujan seperti di musim penghujan yang dapat mengganggu tumbuh kembang daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sekali waktu, salah seorang petani di Desa Tlilir, Temanggung pernah berujar kepada saya ketika musim kemarau sedang pada puncaknya, \"di musim kemarau seperti ini, rumput saja nggak bisa tumbuh, mati dia.\" Sembari menunjuk serumpun pohon pisang yang di dekatnya juga ada pohon pepaya, ia melanjutkan, \"lihat itu, pohon pisang dan pepaya, mati semua, kemaraunya pol-polan ini.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Tapi ini yang paling bagus buat tembakau. Kalau kemaraunya seperti ini, tembakau kita nanti hasilnya bagus. Pasti bagus.\" Begitu ia menutup keterangannya.<\/p>\n\n\n\n

Terik matahari menjamin daun tembakau berkualitas bagus, nikotin yang dihasilkan maksimal, dan terutama, ia melindungi daun-daun tembakau dari ancaman daun membusuk jika terlalu banyak terkena air. <\/p>\n\n\n\n

Saat ramai-ramai kampanye anti-tembakau yang salah satu gerakannya adalah dengan mendorong petani untuk mengganti tanaman tembakau mereka dengan jenis tanaman lain yang produktif, mereka yang memberi anjuran itu sesungguhnya tidak paham konteks. Dan bisa dipastikan, mereka tidak pernah turun ke lapangan, ke kebun-kebun tembakau, bertemu dengan petani dan berbincang dengan mereka.<\/h2>\n\n\n\n

Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n

Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6931,"post_author":"878","post_date":"2020-07-17 11:00:47","post_date_gmt":"2020-07-17 04:00:47","post_content":"\n

Tanaman tembakau memang unik. Ia satu dari sedikit jenis tanaman semusim yang sedikit membutuhkan air untuk perkembangannya. Sedikitnya air menjamin kualitas baik tembakau yang ditanam. Sebaliknya, terlalu banyak air malah membikin kualitas tembakau jadi buruk. Membusuk. Dan tentu saja tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Air yang cukup banyak dibutuhkan tanaman tembakau hanya pada masa-masa awal tembakau ditanam. Selanjutnya, kebutuhan air kian berkurang sampai sama sekali tidak membutuhkan air, yaitu di masa-masa jelang tembakau dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Inilah yang menjadi sebab mengapa tembakau biasanya ditanam oleh para petani di akhir musim hujan. Karena pada masa-masa itu hujan masih cukup untuk mengairi tanaman tembakau yang baru ditanam. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tumbuh kembang tanaman tembakau terjadi pada musim kemarau, di mana tanaman lain kesulitan tumbuh, tembakau malah sebaliknya, ia tumbuh subur dan akan menghasilkan kualitas daun yang baik jika musim kemarau berjalan baik seperti biasanya. Tidak ada hujan seperti di musim penghujan yang dapat mengganggu tumbuh kembang daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sekali waktu, salah seorang petani di Desa Tlilir, Temanggung pernah berujar kepada saya ketika musim kemarau sedang pada puncaknya, \"di musim kemarau seperti ini, rumput saja nggak bisa tumbuh, mati dia.\" Sembari menunjuk serumpun pohon pisang yang di dekatnya juga ada pohon pepaya, ia melanjutkan, \"lihat itu, pohon pisang dan pepaya, mati semua, kemaraunya pol-polan ini.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Tapi ini yang paling bagus buat tembakau. Kalau kemaraunya seperti ini, tembakau kita nanti hasilnya bagus. Pasti bagus.\" Begitu ia menutup keterangannya.<\/p>\n\n\n\n

Terik matahari menjamin daun tembakau berkualitas bagus, nikotin yang dihasilkan maksimal, dan terutama, ia melindungi daun-daun tembakau dari ancaman daun membusuk jika terlalu banyak terkena air. <\/p>\n\n\n\n

Saat ramai-ramai kampanye anti-tembakau yang salah satu gerakannya adalah dengan mendorong petani untuk mengganti tanaman tembakau mereka dengan jenis tanaman lain yang produktif, mereka yang memberi anjuran itu sesungguhnya tidak paham konteks. Dan bisa dipastikan, mereka tidak pernah turun ke lapangan, ke kebun-kebun tembakau, bertemu dengan petani dan berbincang dengan mereka.<\/h2>\n\n\n\n

Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n

Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6931,"post_author":"878","post_date":"2020-07-17 11:00:47","post_date_gmt":"2020-07-17 04:00:47","post_content":"\n

Tanaman tembakau memang unik. Ia satu dari sedikit jenis tanaman semusim yang sedikit membutuhkan air untuk perkembangannya. Sedikitnya air menjamin kualitas baik tembakau yang ditanam. Sebaliknya, terlalu banyak air malah membikin kualitas tembakau jadi buruk. Membusuk. Dan tentu saja tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Air yang cukup banyak dibutuhkan tanaman tembakau hanya pada masa-masa awal tembakau ditanam. Selanjutnya, kebutuhan air kian berkurang sampai sama sekali tidak membutuhkan air, yaitu di masa-masa jelang tembakau dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Inilah yang menjadi sebab mengapa tembakau biasanya ditanam oleh para petani di akhir musim hujan. Karena pada masa-masa itu hujan masih cukup untuk mengairi tanaman tembakau yang baru ditanam. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tumbuh kembang tanaman tembakau terjadi pada musim kemarau, di mana tanaman lain kesulitan tumbuh, tembakau malah sebaliknya, ia tumbuh subur dan akan menghasilkan kualitas daun yang baik jika musim kemarau berjalan baik seperti biasanya. Tidak ada hujan seperti di musim penghujan yang dapat mengganggu tumbuh kembang daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sekali waktu, salah seorang petani di Desa Tlilir, Temanggung pernah berujar kepada saya ketika musim kemarau sedang pada puncaknya, \"di musim kemarau seperti ini, rumput saja nggak bisa tumbuh, mati dia.\" Sembari menunjuk serumpun pohon pisang yang di dekatnya juga ada pohon pepaya, ia melanjutkan, \"lihat itu, pohon pisang dan pepaya, mati semua, kemaraunya pol-polan ini.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Tapi ini yang paling bagus buat tembakau. Kalau kemaraunya seperti ini, tembakau kita nanti hasilnya bagus. Pasti bagus.\" Begitu ia menutup keterangannya.<\/p>\n\n\n\n

Terik matahari menjamin daun tembakau berkualitas bagus, nikotin yang dihasilkan maksimal, dan terutama, ia melindungi daun-daun tembakau dari ancaman daun membusuk jika terlalu banyak terkena air. <\/p>\n\n\n\n

Saat ramai-ramai kampanye anti-tembakau yang salah satu gerakannya adalah dengan mendorong petani untuk mengganti tanaman tembakau mereka dengan jenis tanaman lain yang produktif, mereka yang memberi anjuran itu sesungguhnya tidak paham konteks. Dan bisa dipastikan, mereka tidak pernah turun ke lapangan, ke kebun-kebun tembakau, bertemu dengan petani dan berbincang dengan mereka.<\/h2>\n\n\n\n

Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n

Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selamat tahun baru, Kretekus.<\/p>\n","post_title":"Tahun Baru dan Doa-Doa untuk Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-baru-dan-doa-doa-untuk-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-20 11:36:38","post_modified_gmt":"2020-08-20 04:36:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7029","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6931,"post_author":"878","post_date":"2020-07-17 11:00:47","post_date_gmt":"2020-07-17 04:00:47","post_content":"\n

Tanaman tembakau memang unik. Ia satu dari sedikit jenis tanaman semusim yang sedikit membutuhkan air untuk perkembangannya. Sedikitnya air menjamin kualitas baik tembakau yang ditanam. Sebaliknya, terlalu banyak air malah membikin kualitas tembakau jadi buruk. Membusuk. Dan tentu saja tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Air yang cukup banyak dibutuhkan tanaman tembakau hanya pada masa-masa awal tembakau ditanam. Selanjutnya, kebutuhan air kian berkurang sampai sama sekali tidak membutuhkan air, yaitu di masa-masa jelang tembakau dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Inilah yang menjadi sebab mengapa tembakau biasanya ditanam oleh para petani di akhir musim hujan. Karena pada masa-masa itu hujan masih cukup untuk mengairi tanaman tembakau yang baru ditanam. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tumbuh kembang tanaman tembakau terjadi pada musim kemarau, di mana tanaman lain kesulitan tumbuh, tembakau malah sebaliknya, ia tumbuh subur dan akan menghasilkan kualitas daun yang baik jika musim kemarau berjalan baik seperti biasanya. Tidak ada hujan seperti di musim penghujan yang dapat mengganggu tumbuh kembang daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sekali waktu, salah seorang petani di Desa Tlilir, Temanggung pernah berujar kepada saya ketika musim kemarau sedang pada puncaknya, \"di musim kemarau seperti ini, rumput saja nggak bisa tumbuh, mati dia.\" Sembari menunjuk serumpun pohon pisang yang di dekatnya juga ada pohon pepaya, ia melanjutkan, \"lihat itu, pohon pisang dan pepaya, mati semua, kemaraunya pol-polan ini.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Tapi ini yang paling bagus buat tembakau. Kalau kemaraunya seperti ini, tembakau kita nanti hasilnya bagus. Pasti bagus.\" Begitu ia menutup keterangannya.<\/p>\n\n\n\n

Terik matahari menjamin daun tembakau berkualitas bagus, nikotin yang dihasilkan maksimal, dan terutama, ia melindungi daun-daun tembakau dari ancaman daun membusuk jika terlalu banyak terkena air. <\/p>\n\n\n\n

Saat ramai-ramai kampanye anti-tembakau yang salah satu gerakannya adalah dengan mendorong petani untuk mengganti tanaman tembakau mereka dengan jenis tanaman lain yang produktif, mereka yang memberi anjuran itu sesungguhnya tidak paham konteks. Dan bisa dipastikan, mereka tidak pernah turun ke lapangan, ke kebun-kebun tembakau, bertemu dengan petani dan berbincang dengan mereka.<\/h2>\n\n\n\n

Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n

Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di momen tahun baru Islam ini, saya mengajak kita semua para kretekus untuk mengaminkan doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala di Kudus ini, doa-doa untuk kebaikan kretek, agar hijrah dari bermacam keburukan ke kebaikan-kebaikan yang memang diharapkan.<\/p>\n\n\n\n

Selamat tahun baru, Kretekus.<\/p>\n","post_title":"Tahun Baru dan Doa-Doa untuk Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-baru-dan-doa-doa-untuk-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-20 11:36:38","post_modified_gmt":"2020-08-20 04:36:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7029","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6931,"post_author":"878","post_date":"2020-07-17 11:00:47","post_date_gmt":"2020-07-17 04:00:47","post_content":"\n

Tanaman tembakau memang unik. Ia satu dari sedikit jenis tanaman semusim yang sedikit membutuhkan air untuk perkembangannya. Sedikitnya air menjamin kualitas baik tembakau yang ditanam. Sebaliknya, terlalu banyak air malah membikin kualitas tembakau jadi buruk. Membusuk. Dan tentu saja tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Air yang cukup banyak dibutuhkan tanaman tembakau hanya pada masa-masa awal tembakau ditanam. Selanjutnya, kebutuhan air kian berkurang sampai sama sekali tidak membutuhkan air, yaitu di masa-masa jelang tembakau dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Inilah yang menjadi sebab mengapa tembakau biasanya ditanam oleh para petani di akhir musim hujan. Karena pada masa-masa itu hujan masih cukup untuk mengairi tanaman tembakau yang baru ditanam. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tumbuh kembang tanaman tembakau terjadi pada musim kemarau, di mana tanaman lain kesulitan tumbuh, tembakau malah sebaliknya, ia tumbuh subur dan akan menghasilkan kualitas daun yang baik jika musim kemarau berjalan baik seperti biasanya. Tidak ada hujan seperti di musim penghujan yang dapat mengganggu tumbuh kembang daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sekali waktu, salah seorang petani di Desa Tlilir, Temanggung pernah berujar kepada saya ketika musim kemarau sedang pada puncaknya, \"di musim kemarau seperti ini, rumput saja nggak bisa tumbuh, mati dia.\" Sembari menunjuk serumpun pohon pisang yang di dekatnya juga ada pohon pepaya, ia melanjutkan, \"lihat itu, pohon pisang dan pepaya, mati semua, kemaraunya pol-polan ini.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Tapi ini yang paling bagus buat tembakau. Kalau kemaraunya seperti ini, tembakau kita nanti hasilnya bagus. Pasti bagus.\" Begitu ia menutup keterangannya.<\/p>\n\n\n\n

Terik matahari menjamin daun tembakau berkualitas bagus, nikotin yang dihasilkan maksimal, dan terutama, ia melindungi daun-daun tembakau dari ancaman daun membusuk jika terlalu banyak terkena air. <\/p>\n\n\n\n

Saat ramai-ramai kampanye anti-tembakau yang salah satu gerakannya adalah dengan mendorong petani untuk mengganti tanaman tembakau mereka dengan jenis tanaman lain yang produktif, mereka yang memberi anjuran itu sesungguhnya tidak paham konteks. Dan bisa dipastikan, mereka tidak pernah turun ke lapangan, ke kebun-kebun tembakau, bertemu dengan petani dan berbincang dengan mereka.<\/h2>\n\n\n\n

Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n

Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Momen hijrah ini juga dipakai dalam doa-doa dan harapan-harapan terhadap kretek. Dalam doa-doa yang dibacakan di masjid-masjid dan musala-musala, salah satu doa yang lantang saya dengar, berisi harapan semoga nasib rokok kretek hijrah, hijrah dari stigma-stigma buruk, dan usaha-usaha penggembosan terhadapnya, serta keuntungan yang kian berkurang karena banyak faktor, menuju kebaikan-kebaikan, karena kretek merupakan sumber penghidupan banyak orang, banyak sekali orang di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Di momen tahun baru Islam ini, saya mengajak kita semua para kretekus untuk mengaminkan doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala di Kudus ini, doa-doa untuk kebaikan kretek, agar hijrah dari bermacam keburukan ke kebaikan-kebaikan yang memang diharapkan.<\/p>\n\n\n\n

Selamat tahun baru, Kretekus.<\/p>\n","post_title":"Tahun Baru dan Doa-Doa untuk Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-baru-dan-doa-doa-untuk-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-20 11:36:38","post_modified_gmt":"2020-08-20 04:36:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7029","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6931,"post_author":"878","post_date":"2020-07-17 11:00:47","post_date_gmt":"2020-07-17 04:00:47","post_content":"\n

Tanaman tembakau memang unik. Ia satu dari sedikit jenis tanaman semusim yang sedikit membutuhkan air untuk perkembangannya. Sedikitnya air menjamin kualitas baik tembakau yang ditanam. Sebaliknya, terlalu banyak air malah membikin kualitas tembakau jadi buruk. Membusuk. Dan tentu saja tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Air yang cukup banyak dibutuhkan tanaman tembakau hanya pada masa-masa awal tembakau ditanam. Selanjutnya, kebutuhan air kian berkurang sampai sama sekali tidak membutuhkan air, yaitu di masa-masa jelang tembakau dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Inilah yang menjadi sebab mengapa tembakau biasanya ditanam oleh para petani di akhir musim hujan. Karena pada masa-masa itu hujan masih cukup untuk mengairi tanaman tembakau yang baru ditanam. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tumbuh kembang tanaman tembakau terjadi pada musim kemarau, di mana tanaman lain kesulitan tumbuh, tembakau malah sebaliknya, ia tumbuh subur dan akan menghasilkan kualitas daun yang baik jika musim kemarau berjalan baik seperti biasanya. Tidak ada hujan seperti di musim penghujan yang dapat mengganggu tumbuh kembang daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sekali waktu, salah seorang petani di Desa Tlilir, Temanggung pernah berujar kepada saya ketika musim kemarau sedang pada puncaknya, \"di musim kemarau seperti ini, rumput saja nggak bisa tumbuh, mati dia.\" Sembari menunjuk serumpun pohon pisang yang di dekatnya juga ada pohon pepaya, ia melanjutkan, \"lihat itu, pohon pisang dan pepaya, mati semua, kemaraunya pol-polan ini.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Tapi ini yang paling bagus buat tembakau. Kalau kemaraunya seperti ini, tembakau kita nanti hasilnya bagus. Pasti bagus.\" Begitu ia menutup keterangannya.<\/p>\n\n\n\n

Terik matahari menjamin daun tembakau berkualitas bagus, nikotin yang dihasilkan maksimal, dan terutama, ia melindungi daun-daun tembakau dari ancaman daun membusuk jika terlalu banyak terkena air. <\/p>\n\n\n\n

Saat ramai-ramai kampanye anti-tembakau yang salah satu gerakannya adalah dengan mendorong petani untuk mengganti tanaman tembakau mereka dengan jenis tanaman lain yang produktif, mereka yang memberi anjuran itu sesungguhnya tidak paham konteks. Dan bisa dipastikan, mereka tidak pernah turun ke lapangan, ke kebun-kebun tembakau, bertemu dengan petani dan berbincang dengan mereka.<\/h2>\n\n\n\n

Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n

Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Setidaknya ada tiga masjid di sekitar tempat saya tinggal yang menyebut-nyebut kretek dalam doa-doa yang mereka panjatkan. Doa itu berisi doa-doa tentang kebaikan kretek, kebaikan industri kretek, kebaikan para pekerja di bidang kretek, dan kebaikan petani-petani yang terlibat langsung dalam rantai produksi rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Momen hijrah ini juga dipakai dalam doa-doa dan harapan-harapan terhadap kretek. Dalam doa-doa yang dibacakan di masjid-masjid dan musala-musala, salah satu doa yang lantang saya dengar, berisi harapan semoga nasib rokok kretek hijrah, hijrah dari stigma-stigma buruk, dan usaha-usaha penggembosan terhadapnya, serta keuntungan yang kian berkurang karena banyak faktor, menuju kebaikan-kebaikan, karena kretek merupakan sumber penghidupan banyak orang, banyak sekali orang di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Di momen tahun baru Islam ini, saya mengajak kita semua para kretekus untuk mengaminkan doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala di Kudus ini, doa-doa untuk kebaikan kretek, agar hijrah dari bermacam keburukan ke kebaikan-kebaikan yang memang diharapkan.<\/p>\n\n\n\n

Selamat tahun baru, Kretekus.<\/p>\n","post_title":"Tahun Baru dan Doa-Doa untuk Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-baru-dan-doa-doa-untuk-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-20 11:36:38","post_modified_gmt":"2020-08-20 04:36:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7029","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6931,"post_author":"878","post_date":"2020-07-17 11:00:47","post_date_gmt":"2020-07-17 04:00:47","post_content":"\n

Tanaman tembakau memang unik. Ia satu dari sedikit jenis tanaman semusim yang sedikit membutuhkan air untuk perkembangannya. Sedikitnya air menjamin kualitas baik tembakau yang ditanam. Sebaliknya, terlalu banyak air malah membikin kualitas tembakau jadi buruk. Membusuk. Dan tentu saja tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Air yang cukup banyak dibutuhkan tanaman tembakau hanya pada masa-masa awal tembakau ditanam. Selanjutnya, kebutuhan air kian berkurang sampai sama sekali tidak membutuhkan air, yaitu di masa-masa jelang tembakau dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Inilah yang menjadi sebab mengapa tembakau biasanya ditanam oleh para petani di akhir musim hujan. Karena pada masa-masa itu hujan masih cukup untuk mengairi tanaman tembakau yang baru ditanam. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tumbuh kembang tanaman tembakau terjadi pada musim kemarau, di mana tanaman lain kesulitan tumbuh, tembakau malah sebaliknya, ia tumbuh subur dan akan menghasilkan kualitas daun yang baik jika musim kemarau berjalan baik seperti biasanya. Tidak ada hujan seperti di musim penghujan yang dapat mengganggu tumbuh kembang daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sekali waktu, salah seorang petani di Desa Tlilir, Temanggung pernah berujar kepada saya ketika musim kemarau sedang pada puncaknya, \"di musim kemarau seperti ini, rumput saja nggak bisa tumbuh, mati dia.\" Sembari menunjuk serumpun pohon pisang yang di dekatnya juga ada pohon pepaya, ia melanjutkan, \"lihat itu, pohon pisang dan pepaya, mati semua, kemaraunya pol-polan ini.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Tapi ini yang paling bagus buat tembakau. Kalau kemaraunya seperti ini, tembakau kita nanti hasilnya bagus. Pasti bagus.\" Begitu ia menutup keterangannya.<\/p>\n\n\n\n

Terik matahari menjamin daun tembakau berkualitas bagus, nikotin yang dihasilkan maksimal, dan terutama, ia melindungi daun-daun tembakau dari ancaman daun membusuk jika terlalu banyak terkena air. <\/p>\n\n\n\n

Saat ramai-ramai kampanye anti-tembakau yang salah satu gerakannya adalah dengan mendorong petani untuk mengganti tanaman tembakau mereka dengan jenis tanaman lain yang produktif, mereka yang memberi anjuran itu sesungguhnya tidak paham konteks. Dan bisa dipastikan, mereka tidak pernah turun ke lapangan, ke kebun-kebun tembakau, bertemu dengan petani dan berbincang dengan mereka.<\/h2>\n\n\n\n

Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n

Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kudus Kota Kretek bisa jadi memang sudah benar-benar merasuk dalam diri sebagian besar masyarakat Kudus, termasuk dalam ritual-ritual keseharian mereka. Tak hanya keberadaan rokok kretek pada saat hajatan, tahlilan, dan acara yang mengumpulkan orang banyak saja, pada momen satu muharam atau satu suro ini, kretek juga terselip dalam doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya ada tiga masjid di sekitar tempat saya tinggal yang menyebut-nyebut kretek dalam doa-doa yang mereka panjatkan. Doa itu berisi doa-doa tentang kebaikan kretek, kebaikan industri kretek, kebaikan para pekerja di bidang kretek, dan kebaikan petani-petani yang terlibat langsung dalam rantai produksi rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Momen hijrah ini juga dipakai dalam doa-doa dan harapan-harapan terhadap kretek. Dalam doa-doa yang dibacakan di masjid-masjid dan musala-musala, salah satu doa yang lantang saya dengar, berisi harapan semoga nasib rokok kretek hijrah, hijrah dari stigma-stigma buruk, dan usaha-usaha penggembosan terhadapnya, serta keuntungan yang kian berkurang karena banyak faktor, menuju kebaikan-kebaikan, karena kretek merupakan sumber penghidupan banyak orang, banyak sekali orang di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Di momen tahun baru Islam ini, saya mengajak kita semua para kretekus untuk mengaminkan doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala di Kudus ini, doa-doa untuk kebaikan kretek, agar hijrah dari bermacam keburukan ke kebaikan-kebaikan yang memang diharapkan.<\/p>\n\n\n\n

Selamat tahun baru, Kretekus.<\/p>\n","post_title":"Tahun Baru dan Doa-Doa untuk Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-baru-dan-doa-doa-untuk-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-20 11:36:38","post_modified_gmt":"2020-08-20 04:36:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7029","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6931,"post_author":"878","post_date":"2020-07-17 11:00:47","post_date_gmt":"2020-07-17 04:00:47","post_content":"\n

Tanaman tembakau memang unik. Ia satu dari sedikit jenis tanaman semusim yang sedikit membutuhkan air untuk perkembangannya. Sedikitnya air menjamin kualitas baik tembakau yang ditanam. Sebaliknya, terlalu banyak air malah membikin kualitas tembakau jadi buruk. Membusuk. Dan tentu saja tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Air yang cukup banyak dibutuhkan tanaman tembakau hanya pada masa-masa awal tembakau ditanam. Selanjutnya, kebutuhan air kian berkurang sampai sama sekali tidak membutuhkan air, yaitu di masa-masa jelang tembakau dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Inilah yang menjadi sebab mengapa tembakau biasanya ditanam oleh para petani di akhir musim hujan. Karena pada masa-masa itu hujan masih cukup untuk mengairi tanaman tembakau yang baru ditanam. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tumbuh kembang tanaman tembakau terjadi pada musim kemarau, di mana tanaman lain kesulitan tumbuh, tembakau malah sebaliknya, ia tumbuh subur dan akan menghasilkan kualitas daun yang baik jika musim kemarau berjalan baik seperti biasanya. Tidak ada hujan seperti di musim penghujan yang dapat mengganggu tumbuh kembang daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sekali waktu, salah seorang petani di Desa Tlilir, Temanggung pernah berujar kepada saya ketika musim kemarau sedang pada puncaknya, \"di musim kemarau seperti ini, rumput saja nggak bisa tumbuh, mati dia.\" Sembari menunjuk serumpun pohon pisang yang di dekatnya juga ada pohon pepaya, ia melanjutkan, \"lihat itu, pohon pisang dan pepaya, mati semua, kemaraunya pol-polan ini.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Tapi ini yang paling bagus buat tembakau. Kalau kemaraunya seperti ini, tembakau kita nanti hasilnya bagus. Pasti bagus.\" Begitu ia menutup keterangannya.<\/p>\n\n\n\n

Terik matahari menjamin daun tembakau berkualitas bagus, nikotin yang dihasilkan maksimal, dan terutama, ia melindungi daun-daun tembakau dari ancaman daun membusuk jika terlalu banyak terkena air. <\/p>\n\n\n\n

Saat ramai-ramai kampanye anti-tembakau yang salah satu gerakannya adalah dengan mendorong petani untuk mengganti tanaman tembakau mereka dengan jenis tanaman lain yang produktif, mereka yang memberi anjuran itu sesungguhnya tidak paham konteks. Dan bisa dipastikan, mereka tidak pernah turun ke lapangan, ke kebun-kebun tembakau, bertemu dengan petani dan berbincang dengan mereka.<\/h2>\n\n\n\n

Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n

Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Orang-orang berdoa bersama-sama dengan khidmat dan khusyuk. Beragam doa dan permohonan dipanjatkan. Satu doa yang di tahun baru sebelumnya tak pernah dipanjatkan, adalah doa agar negeri ini terbebas dari pandemi korona dengan segera.<\/p>\n\n\n\n

Kudus Kota Kretek bisa jadi memang sudah benar-benar merasuk dalam diri sebagian besar masyarakat Kudus, termasuk dalam ritual-ritual keseharian mereka. Tak hanya keberadaan rokok kretek pada saat hajatan, tahlilan, dan acara yang mengumpulkan orang banyak saja, pada momen satu muharam atau satu suro ini, kretek juga terselip dalam doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya ada tiga masjid di sekitar tempat saya tinggal yang menyebut-nyebut kretek dalam doa-doa yang mereka panjatkan. Doa itu berisi doa-doa tentang kebaikan kretek, kebaikan industri kretek, kebaikan para pekerja di bidang kretek, dan kebaikan petani-petani yang terlibat langsung dalam rantai produksi rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Momen hijrah ini juga dipakai dalam doa-doa dan harapan-harapan terhadap kretek. Dalam doa-doa yang dibacakan di masjid-masjid dan musala-musala, salah satu doa yang lantang saya dengar, berisi harapan semoga nasib rokok kretek hijrah, hijrah dari stigma-stigma buruk, dan usaha-usaha penggembosan terhadapnya, serta keuntungan yang kian berkurang karena banyak faktor, menuju kebaikan-kebaikan, karena kretek merupakan sumber penghidupan banyak orang, banyak sekali orang di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Di momen tahun baru Islam ini, saya mengajak kita semua para kretekus untuk mengaminkan doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala di Kudus ini, doa-doa untuk kebaikan kretek, agar hijrah dari bermacam keburukan ke kebaikan-kebaikan yang memang diharapkan.<\/p>\n\n\n\n

Selamat tahun baru, Kretekus.<\/p>\n","post_title":"Tahun Baru dan Doa-Doa untuk Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-baru-dan-doa-doa-untuk-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-20 11:36:38","post_modified_gmt":"2020-08-20 04:36:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7029","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6931,"post_author":"878","post_date":"2020-07-17 11:00:47","post_date_gmt":"2020-07-17 04:00:47","post_content":"\n

Tanaman tembakau memang unik. Ia satu dari sedikit jenis tanaman semusim yang sedikit membutuhkan air untuk perkembangannya. Sedikitnya air menjamin kualitas baik tembakau yang ditanam. Sebaliknya, terlalu banyak air malah membikin kualitas tembakau jadi buruk. Membusuk. Dan tentu saja tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Air yang cukup banyak dibutuhkan tanaman tembakau hanya pada masa-masa awal tembakau ditanam. Selanjutnya, kebutuhan air kian berkurang sampai sama sekali tidak membutuhkan air, yaitu di masa-masa jelang tembakau dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Inilah yang menjadi sebab mengapa tembakau biasanya ditanam oleh para petani di akhir musim hujan. Karena pada masa-masa itu hujan masih cukup untuk mengairi tanaman tembakau yang baru ditanam. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tumbuh kembang tanaman tembakau terjadi pada musim kemarau, di mana tanaman lain kesulitan tumbuh, tembakau malah sebaliknya, ia tumbuh subur dan akan menghasilkan kualitas daun yang baik jika musim kemarau berjalan baik seperti biasanya. Tidak ada hujan seperti di musim penghujan yang dapat mengganggu tumbuh kembang daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sekali waktu, salah seorang petani di Desa Tlilir, Temanggung pernah berujar kepada saya ketika musim kemarau sedang pada puncaknya, \"di musim kemarau seperti ini, rumput saja nggak bisa tumbuh, mati dia.\" Sembari menunjuk serumpun pohon pisang yang di dekatnya juga ada pohon pepaya, ia melanjutkan, \"lihat itu, pohon pisang dan pepaya, mati semua, kemaraunya pol-polan ini.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Tapi ini yang paling bagus buat tembakau. Kalau kemaraunya seperti ini, tembakau kita nanti hasilnya bagus. Pasti bagus.\" Begitu ia menutup keterangannya.<\/p>\n\n\n\n

Terik matahari menjamin daun tembakau berkualitas bagus, nikotin yang dihasilkan maksimal, dan terutama, ia melindungi daun-daun tembakau dari ancaman daun membusuk jika terlalu banyak terkena air. <\/p>\n\n\n\n

Saat ramai-ramai kampanye anti-tembakau yang salah satu gerakannya adalah dengan mendorong petani untuk mengganti tanaman tembakau mereka dengan jenis tanaman lain yang produktif, mereka yang memberi anjuran itu sesungguhnya tidak paham konteks. Dan bisa dipastikan, mereka tidak pernah turun ke lapangan, ke kebun-kebun tembakau, bertemu dengan petani dan berbincang dengan mereka.<\/h2>\n\n\n\n

Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n

Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pandemi korona tak menghalangi mereka berbondong-bondong menuju masjid-masjid dan musala-musala. Ada yang masih tetap berusaha memenuhi standar protokol kesehatan dengan tetap menggunakan masker, dan ada pula yang sudah benar-benar mengabaikan. Masjid-masjid dan musala-musala mengadakan pengajian, doa-doa, dan tahlilan pada sore hari sebelum menyambut malam tahun baru Islam. <\/p>\n\n\n\n

Orang-orang berdoa bersama-sama dengan khidmat dan khusyuk. Beragam doa dan permohonan dipanjatkan. Satu doa yang di tahun baru sebelumnya tak pernah dipanjatkan, adalah doa agar negeri ini terbebas dari pandemi korona dengan segera.<\/p>\n\n\n\n

Kudus Kota Kretek bisa jadi memang sudah benar-benar merasuk dalam diri sebagian besar masyarakat Kudus, termasuk dalam ritual-ritual keseharian mereka. Tak hanya keberadaan rokok kretek pada saat hajatan, tahlilan, dan acara yang mengumpulkan orang banyak saja, pada momen satu muharam atau satu suro ini, kretek juga terselip dalam doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya ada tiga masjid di sekitar tempat saya tinggal yang menyebut-nyebut kretek dalam doa-doa yang mereka panjatkan. Doa itu berisi doa-doa tentang kebaikan kretek, kebaikan industri kretek, kebaikan para pekerja di bidang kretek, dan kebaikan petani-petani yang terlibat langsung dalam rantai produksi rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Momen hijrah ini juga dipakai dalam doa-doa dan harapan-harapan terhadap kretek. Dalam doa-doa yang dibacakan di masjid-masjid dan musala-musala, salah satu doa yang lantang saya dengar, berisi harapan semoga nasib rokok kretek hijrah, hijrah dari stigma-stigma buruk, dan usaha-usaha penggembosan terhadapnya, serta keuntungan yang kian berkurang karena banyak faktor, menuju kebaikan-kebaikan, karena kretek merupakan sumber penghidupan banyak orang, banyak sekali orang di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Di momen tahun baru Islam ini, saya mengajak kita semua para kretekus untuk mengaminkan doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala di Kudus ini, doa-doa untuk kebaikan kretek, agar hijrah dari bermacam keburukan ke kebaikan-kebaikan yang memang diharapkan.<\/p>\n\n\n\n

Selamat tahun baru, Kretekus.<\/p>\n","post_title":"Tahun Baru dan Doa-Doa untuk Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-baru-dan-doa-doa-untuk-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-20 11:36:38","post_modified_gmt":"2020-08-20 04:36:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7029","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6931,"post_author":"878","post_date":"2020-07-17 11:00:47","post_date_gmt":"2020-07-17 04:00:47","post_content":"\n

Tanaman tembakau memang unik. Ia satu dari sedikit jenis tanaman semusim yang sedikit membutuhkan air untuk perkembangannya. Sedikitnya air menjamin kualitas baik tembakau yang ditanam. Sebaliknya, terlalu banyak air malah membikin kualitas tembakau jadi buruk. Membusuk. Dan tentu saja tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Air yang cukup banyak dibutuhkan tanaman tembakau hanya pada masa-masa awal tembakau ditanam. Selanjutnya, kebutuhan air kian berkurang sampai sama sekali tidak membutuhkan air, yaitu di masa-masa jelang tembakau dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Inilah yang menjadi sebab mengapa tembakau biasanya ditanam oleh para petani di akhir musim hujan. Karena pada masa-masa itu hujan masih cukup untuk mengairi tanaman tembakau yang baru ditanam. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tumbuh kembang tanaman tembakau terjadi pada musim kemarau, di mana tanaman lain kesulitan tumbuh, tembakau malah sebaliknya, ia tumbuh subur dan akan menghasilkan kualitas daun yang baik jika musim kemarau berjalan baik seperti biasanya. Tidak ada hujan seperti di musim penghujan yang dapat mengganggu tumbuh kembang daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sekali waktu, salah seorang petani di Desa Tlilir, Temanggung pernah berujar kepada saya ketika musim kemarau sedang pada puncaknya, \"di musim kemarau seperti ini, rumput saja nggak bisa tumbuh, mati dia.\" Sembari menunjuk serumpun pohon pisang yang di dekatnya juga ada pohon pepaya, ia melanjutkan, \"lihat itu, pohon pisang dan pepaya, mati semua, kemaraunya pol-polan ini.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Tapi ini yang paling bagus buat tembakau. Kalau kemaraunya seperti ini, tembakau kita nanti hasilnya bagus. Pasti bagus.\" Begitu ia menutup keterangannya.<\/p>\n\n\n\n

Terik matahari menjamin daun tembakau berkualitas bagus, nikotin yang dihasilkan maksimal, dan terutama, ia melindungi daun-daun tembakau dari ancaman daun membusuk jika terlalu banyak terkena air. <\/p>\n\n\n\n

Saat ramai-ramai kampanye anti-tembakau yang salah satu gerakannya adalah dengan mendorong petani untuk mengganti tanaman tembakau mereka dengan jenis tanaman lain yang produktif, mereka yang memberi anjuran itu sesungguhnya tidak paham konteks. Dan bisa dipastikan, mereka tidak pernah turun ke lapangan, ke kebun-kebun tembakau, bertemu dengan petani dan berbincang dengan mereka.<\/h2>\n\n\n\n

Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n

Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tahun baru dan Satu Suro kali ini, saya sedang berada di Kudus. Sore hari, jelang malam satu suro, saya melihat banyak orang-orang berbondong-bondong menuju ke masjid dan musala yang ada di lingkungan mereka. Orang-orang yang berkunjung ke masjid dan musala, lebih banyak dari biasanya, dari maghrib-maghrib pada hari-hari lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pandemi korona tak menghalangi mereka berbondong-bondong menuju masjid-masjid dan musala-musala. Ada yang masih tetap berusaha memenuhi standar protokol kesehatan dengan tetap menggunakan masker, dan ada pula yang sudah benar-benar mengabaikan. Masjid-masjid dan musala-musala mengadakan pengajian, doa-doa, dan tahlilan pada sore hari sebelum menyambut malam tahun baru Islam. <\/p>\n\n\n\n

Orang-orang berdoa bersama-sama dengan khidmat dan khusyuk. Beragam doa dan permohonan dipanjatkan. Satu doa yang di tahun baru sebelumnya tak pernah dipanjatkan, adalah doa agar negeri ini terbebas dari pandemi korona dengan segera.<\/p>\n\n\n\n

Kudus Kota Kretek bisa jadi memang sudah benar-benar merasuk dalam diri sebagian besar masyarakat Kudus, termasuk dalam ritual-ritual keseharian mereka. Tak hanya keberadaan rokok kretek pada saat hajatan, tahlilan, dan acara yang mengumpulkan orang banyak saja, pada momen satu muharam atau satu suro ini, kretek juga terselip dalam doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya ada tiga masjid di sekitar tempat saya tinggal yang menyebut-nyebut kretek dalam doa-doa yang mereka panjatkan. Doa itu berisi doa-doa tentang kebaikan kretek, kebaikan industri kretek, kebaikan para pekerja di bidang kretek, dan kebaikan petani-petani yang terlibat langsung dalam rantai produksi rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Momen hijrah ini juga dipakai dalam doa-doa dan harapan-harapan terhadap kretek. Dalam doa-doa yang dibacakan di masjid-masjid dan musala-musala, salah satu doa yang lantang saya dengar, berisi harapan semoga nasib rokok kretek hijrah, hijrah dari stigma-stigma buruk, dan usaha-usaha penggembosan terhadapnya, serta keuntungan yang kian berkurang karena banyak faktor, menuju kebaikan-kebaikan, karena kretek merupakan sumber penghidupan banyak orang, banyak sekali orang di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Di momen tahun baru Islam ini, saya mengajak kita semua para kretekus untuk mengaminkan doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala di Kudus ini, doa-doa untuk kebaikan kretek, agar hijrah dari bermacam keburukan ke kebaikan-kebaikan yang memang diharapkan.<\/p>\n\n\n\n

Selamat tahun baru, Kretekus.<\/p>\n","post_title":"Tahun Baru dan Doa-Doa untuk Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-baru-dan-doa-doa-untuk-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-20 11:36:38","post_modified_gmt":"2020-08-20 04:36:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7029","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6931,"post_author":"878","post_date":"2020-07-17 11:00:47","post_date_gmt":"2020-07-17 04:00:47","post_content":"\n

Tanaman tembakau memang unik. Ia satu dari sedikit jenis tanaman semusim yang sedikit membutuhkan air untuk perkembangannya. Sedikitnya air menjamin kualitas baik tembakau yang ditanam. Sebaliknya, terlalu banyak air malah membikin kualitas tembakau jadi buruk. Membusuk. Dan tentu saja tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Air yang cukup banyak dibutuhkan tanaman tembakau hanya pada masa-masa awal tembakau ditanam. Selanjutnya, kebutuhan air kian berkurang sampai sama sekali tidak membutuhkan air, yaitu di masa-masa jelang tembakau dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Inilah yang menjadi sebab mengapa tembakau biasanya ditanam oleh para petani di akhir musim hujan. Karena pada masa-masa itu hujan masih cukup untuk mengairi tanaman tembakau yang baru ditanam. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tumbuh kembang tanaman tembakau terjadi pada musim kemarau, di mana tanaman lain kesulitan tumbuh, tembakau malah sebaliknya, ia tumbuh subur dan akan menghasilkan kualitas daun yang baik jika musim kemarau berjalan baik seperti biasanya. Tidak ada hujan seperti di musim penghujan yang dapat mengganggu tumbuh kembang daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sekali waktu, salah seorang petani di Desa Tlilir, Temanggung pernah berujar kepada saya ketika musim kemarau sedang pada puncaknya, \"di musim kemarau seperti ini, rumput saja nggak bisa tumbuh, mati dia.\" Sembari menunjuk serumpun pohon pisang yang di dekatnya juga ada pohon pepaya, ia melanjutkan, \"lihat itu, pohon pisang dan pepaya, mati semua, kemaraunya pol-polan ini.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Tapi ini yang paling bagus buat tembakau. Kalau kemaraunya seperti ini, tembakau kita nanti hasilnya bagus. Pasti bagus.\" Begitu ia menutup keterangannya.<\/p>\n\n\n\n

Terik matahari menjamin daun tembakau berkualitas bagus, nikotin yang dihasilkan maksimal, dan terutama, ia melindungi daun-daun tembakau dari ancaman daun membusuk jika terlalu banyak terkena air. <\/p>\n\n\n\n

Saat ramai-ramai kampanye anti-tembakau yang salah satu gerakannya adalah dengan mendorong petani untuk mengganti tanaman tembakau mereka dengan jenis tanaman lain yang produktif, mereka yang memberi anjuran itu sesungguhnya tidak paham konteks. Dan bisa dipastikan, mereka tidak pernah turun ke lapangan, ke kebun-kebun tembakau, bertemu dengan petani dan berbincang dengan mereka.<\/h2>\n\n\n\n

Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n

Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dalam tradisi Jawa, tahun baru Islam bertepatan dengan perayaan Suro, tahun baru dalam kalender Jawa. Akulturasi antara Islam dan tradisi-tradisi Jawa menghasilkan perayaan tahun baru Islam dan Satu Suro yang beragam pula. <\/p>\n\n\n\n

Tahun baru dan Satu Suro kali ini, saya sedang berada di Kudus. Sore hari, jelang malam satu suro, saya melihat banyak orang-orang berbondong-bondong menuju ke masjid dan musala yang ada di lingkungan mereka. Orang-orang yang berkunjung ke masjid dan musala, lebih banyak dari biasanya, dari maghrib-maghrib pada hari-hari lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pandemi korona tak menghalangi mereka berbondong-bondong menuju masjid-masjid dan musala-musala. Ada yang masih tetap berusaha memenuhi standar protokol kesehatan dengan tetap menggunakan masker, dan ada pula yang sudah benar-benar mengabaikan. Masjid-masjid dan musala-musala mengadakan pengajian, doa-doa, dan tahlilan pada sore hari sebelum menyambut malam tahun baru Islam. <\/p>\n\n\n\n

Orang-orang berdoa bersama-sama dengan khidmat dan khusyuk. Beragam doa dan permohonan dipanjatkan. Satu doa yang di tahun baru sebelumnya tak pernah dipanjatkan, adalah doa agar negeri ini terbebas dari pandemi korona dengan segera.<\/p>\n\n\n\n

Kudus Kota Kretek bisa jadi memang sudah benar-benar merasuk dalam diri sebagian besar masyarakat Kudus, termasuk dalam ritual-ritual keseharian mereka. Tak hanya keberadaan rokok kretek pada saat hajatan, tahlilan, dan acara yang mengumpulkan orang banyak saja, pada momen satu muharam atau satu suro ini, kretek juga terselip dalam doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya ada tiga masjid di sekitar tempat saya tinggal yang menyebut-nyebut kretek dalam doa-doa yang mereka panjatkan. Doa itu berisi doa-doa tentang kebaikan kretek, kebaikan industri kretek, kebaikan para pekerja di bidang kretek, dan kebaikan petani-petani yang terlibat langsung dalam rantai produksi rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Momen hijrah ini juga dipakai dalam doa-doa dan harapan-harapan terhadap kretek. Dalam doa-doa yang dibacakan di masjid-masjid dan musala-musala, salah satu doa yang lantang saya dengar, berisi harapan semoga nasib rokok kretek hijrah, hijrah dari stigma-stigma buruk, dan usaha-usaha penggembosan terhadapnya, serta keuntungan yang kian berkurang karena banyak faktor, menuju kebaikan-kebaikan, karena kretek merupakan sumber penghidupan banyak orang, banyak sekali orang di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Di momen tahun baru Islam ini, saya mengajak kita semua para kretekus untuk mengaminkan doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala di Kudus ini, doa-doa untuk kebaikan kretek, agar hijrah dari bermacam keburukan ke kebaikan-kebaikan yang memang diharapkan.<\/p>\n\n\n\n

Selamat tahun baru, Kretekus.<\/p>\n","post_title":"Tahun Baru dan Doa-Doa untuk Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-baru-dan-doa-doa-untuk-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-20 11:36:38","post_modified_gmt":"2020-08-20 04:36:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7029","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6931,"post_author":"878","post_date":"2020-07-17 11:00:47","post_date_gmt":"2020-07-17 04:00:47","post_content":"\n

Tanaman tembakau memang unik. Ia satu dari sedikit jenis tanaman semusim yang sedikit membutuhkan air untuk perkembangannya. Sedikitnya air menjamin kualitas baik tembakau yang ditanam. Sebaliknya, terlalu banyak air malah membikin kualitas tembakau jadi buruk. Membusuk. Dan tentu saja tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Air yang cukup banyak dibutuhkan tanaman tembakau hanya pada masa-masa awal tembakau ditanam. Selanjutnya, kebutuhan air kian berkurang sampai sama sekali tidak membutuhkan air, yaitu di masa-masa jelang tembakau dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Inilah yang menjadi sebab mengapa tembakau biasanya ditanam oleh para petani di akhir musim hujan. Karena pada masa-masa itu hujan masih cukup untuk mengairi tanaman tembakau yang baru ditanam. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tumbuh kembang tanaman tembakau terjadi pada musim kemarau, di mana tanaman lain kesulitan tumbuh, tembakau malah sebaliknya, ia tumbuh subur dan akan menghasilkan kualitas daun yang baik jika musim kemarau berjalan baik seperti biasanya. Tidak ada hujan seperti di musim penghujan yang dapat mengganggu tumbuh kembang daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sekali waktu, salah seorang petani di Desa Tlilir, Temanggung pernah berujar kepada saya ketika musim kemarau sedang pada puncaknya, \"di musim kemarau seperti ini, rumput saja nggak bisa tumbuh, mati dia.\" Sembari menunjuk serumpun pohon pisang yang di dekatnya juga ada pohon pepaya, ia melanjutkan, \"lihat itu, pohon pisang dan pepaya, mati semua, kemaraunya pol-polan ini.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Tapi ini yang paling bagus buat tembakau. Kalau kemaraunya seperti ini, tembakau kita nanti hasilnya bagus. Pasti bagus.\" Begitu ia menutup keterangannya.<\/p>\n\n\n\n

Terik matahari menjamin daun tembakau berkualitas bagus, nikotin yang dihasilkan maksimal, dan terutama, ia melindungi daun-daun tembakau dari ancaman daun membusuk jika terlalu banyak terkena air. <\/p>\n\n\n\n

Saat ramai-ramai kampanye anti-tembakau yang salah satu gerakannya adalah dengan mendorong petani untuk mengganti tanaman tembakau mereka dengan jenis tanaman lain yang produktif, mereka yang memberi anjuran itu sesungguhnya tidak paham konteks. Dan bisa dipastikan, mereka tidak pernah turun ke lapangan, ke kebun-kebun tembakau, bertemu dengan petani dan berbincang dengan mereka.<\/h2>\n\n\n\n

Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n

Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selain resolusi personal, tahun baru Islam dirayakan oleh umat Islam dengan ragam bentuk kegiatan dan ibadah serta ritual-ritual tradisi menyesuaikan dengan lokasi tempat tradisi itu berasal. Ada parade perayaan tahun baru, zikir akbar, pengajian, dan lain-lain. <\/p>\n\n\n\n

Dalam tradisi Jawa, tahun baru Islam bertepatan dengan perayaan Suro, tahun baru dalam kalender Jawa. Akulturasi antara Islam dan tradisi-tradisi Jawa menghasilkan perayaan tahun baru Islam dan Satu Suro yang beragam pula. <\/p>\n\n\n\n

Tahun baru dan Satu Suro kali ini, saya sedang berada di Kudus. Sore hari, jelang malam satu suro, saya melihat banyak orang-orang berbondong-bondong menuju ke masjid dan musala yang ada di lingkungan mereka. Orang-orang yang berkunjung ke masjid dan musala, lebih banyak dari biasanya, dari maghrib-maghrib pada hari-hari lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pandemi korona tak menghalangi mereka berbondong-bondong menuju masjid-masjid dan musala-musala. Ada yang masih tetap berusaha memenuhi standar protokol kesehatan dengan tetap menggunakan masker, dan ada pula yang sudah benar-benar mengabaikan. Masjid-masjid dan musala-musala mengadakan pengajian, doa-doa, dan tahlilan pada sore hari sebelum menyambut malam tahun baru Islam. <\/p>\n\n\n\n

Orang-orang berdoa bersama-sama dengan khidmat dan khusyuk. Beragam doa dan permohonan dipanjatkan. Satu doa yang di tahun baru sebelumnya tak pernah dipanjatkan, adalah doa agar negeri ini terbebas dari pandemi korona dengan segera.<\/p>\n\n\n\n

Kudus Kota Kretek bisa jadi memang sudah benar-benar merasuk dalam diri sebagian besar masyarakat Kudus, termasuk dalam ritual-ritual keseharian mereka. Tak hanya keberadaan rokok kretek pada saat hajatan, tahlilan, dan acara yang mengumpulkan orang banyak saja, pada momen satu muharam atau satu suro ini, kretek juga terselip dalam doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya ada tiga masjid di sekitar tempat saya tinggal yang menyebut-nyebut kretek dalam doa-doa yang mereka panjatkan. Doa itu berisi doa-doa tentang kebaikan kretek, kebaikan industri kretek, kebaikan para pekerja di bidang kretek, dan kebaikan petani-petani yang terlibat langsung dalam rantai produksi rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Momen hijrah ini juga dipakai dalam doa-doa dan harapan-harapan terhadap kretek. Dalam doa-doa yang dibacakan di masjid-masjid dan musala-musala, salah satu doa yang lantang saya dengar, berisi harapan semoga nasib rokok kretek hijrah, hijrah dari stigma-stigma buruk, dan usaha-usaha penggembosan terhadapnya, serta keuntungan yang kian berkurang karena banyak faktor, menuju kebaikan-kebaikan, karena kretek merupakan sumber penghidupan banyak orang, banyak sekali orang di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Di momen tahun baru Islam ini, saya mengajak kita semua para kretekus untuk mengaminkan doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala di Kudus ini, doa-doa untuk kebaikan kretek, agar hijrah dari bermacam keburukan ke kebaikan-kebaikan yang memang diharapkan.<\/p>\n\n\n\n

Selamat tahun baru, Kretekus.<\/p>\n","post_title":"Tahun Baru dan Doa-Doa untuk Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-baru-dan-doa-doa-untuk-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-20 11:36:38","post_modified_gmt":"2020-08-20 04:36:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7029","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6931,"post_author":"878","post_date":"2020-07-17 11:00:47","post_date_gmt":"2020-07-17 04:00:47","post_content":"\n

Tanaman tembakau memang unik. Ia satu dari sedikit jenis tanaman semusim yang sedikit membutuhkan air untuk perkembangannya. Sedikitnya air menjamin kualitas baik tembakau yang ditanam. Sebaliknya, terlalu banyak air malah membikin kualitas tembakau jadi buruk. Membusuk. Dan tentu saja tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Air yang cukup banyak dibutuhkan tanaman tembakau hanya pada masa-masa awal tembakau ditanam. Selanjutnya, kebutuhan air kian berkurang sampai sama sekali tidak membutuhkan air, yaitu di masa-masa jelang tembakau dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Inilah yang menjadi sebab mengapa tembakau biasanya ditanam oleh para petani di akhir musim hujan. Karena pada masa-masa itu hujan masih cukup untuk mengairi tanaman tembakau yang baru ditanam. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tumbuh kembang tanaman tembakau terjadi pada musim kemarau, di mana tanaman lain kesulitan tumbuh, tembakau malah sebaliknya, ia tumbuh subur dan akan menghasilkan kualitas daun yang baik jika musim kemarau berjalan baik seperti biasanya. Tidak ada hujan seperti di musim penghujan yang dapat mengganggu tumbuh kembang daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sekali waktu, salah seorang petani di Desa Tlilir, Temanggung pernah berujar kepada saya ketika musim kemarau sedang pada puncaknya, \"di musim kemarau seperti ini, rumput saja nggak bisa tumbuh, mati dia.\" Sembari menunjuk serumpun pohon pisang yang di dekatnya juga ada pohon pepaya, ia melanjutkan, \"lihat itu, pohon pisang dan pepaya, mati semua, kemaraunya pol-polan ini.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Tapi ini yang paling bagus buat tembakau. Kalau kemaraunya seperti ini, tembakau kita nanti hasilnya bagus. Pasti bagus.\" Begitu ia menutup keterangannya.<\/p>\n\n\n\n

Terik matahari menjamin daun tembakau berkualitas bagus, nikotin yang dihasilkan maksimal, dan terutama, ia melindungi daun-daun tembakau dari ancaman daun membusuk jika terlalu banyak terkena air. <\/p>\n\n\n\n

Saat ramai-ramai kampanye anti-tembakau yang salah satu gerakannya adalah dengan mendorong petani untuk mengganti tanaman tembakau mereka dengan jenis tanaman lain yang produktif, mereka yang memberi anjuran itu sesungguhnya tidak paham konteks. Dan bisa dipastikan, mereka tidak pernah turun ke lapangan, ke kebun-kebun tembakau, bertemu dengan petani dan berbincang dengan mereka.<\/h2>\n\n\n\n

Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n

Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tahun baru, resolusi baru. Begitu biasanya manusia-manusia memaknai tahun baru. Pun begitu ketika tahun baru Islam dirayakan. Resolusi baru tersebut, seperti yang saya jabarkan di atas. Bentuknya adalah momen-momen hijrah dari keburukan ke kebaikan dan sejenisnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain resolusi personal, tahun baru Islam dirayakan oleh umat Islam dengan ragam bentuk kegiatan dan ibadah serta ritual-ritual tradisi menyesuaikan dengan lokasi tempat tradisi itu berasal. Ada parade perayaan tahun baru, zikir akbar, pengajian, dan lain-lain. <\/p>\n\n\n\n

Dalam tradisi Jawa, tahun baru Islam bertepatan dengan perayaan Suro, tahun baru dalam kalender Jawa. Akulturasi antara Islam dan tradisi-tradisi Jawa menghasilkan perayaan tahun baru Islam dan Satu Suro yang beragam pula. <\/p>\n\n\n\n

Tahun baru dan Satu Suro kali ini, saya sedang berada di Kudus. Sore hari, jelang malam satu suro, saya melihat banyak orang-orang berbondong-bondong menuju ke masjid dan musala yang ada di lingkungan mereka. Orang-orang yang berkunjung ke masjid dan musala, lebih banyak dari biasanya, dari maghrib-maghrib pada hari-hari lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pandemi korona tak menghalangi mereka berbondong-bondong menuju masjid-masjid dan musala-musala. Ada yang masih tetap berusaha memenuhi standar protokol kesehatan dengan tetap menggunakan masker, dan ada pula yang sudah benar-benar mengabaikan. Masjid-masjid dan musala-musala mengadakan pengajian, doa-doa, dan tahlilan pada sore hari sebelum menyambut malam tahun baru Islam. <\/p>\n\n\n\n

Orang-orang berdoa bersama-sama dengan khidmat dan khusyuk. Beragam doa dan permohonan dipanjatkan. Satu doa yang di tahun baru sebelumnya tak pernah dipanjatkan, adalah doa agar negeri ini terbebas dari pandemi korona dengan segera.<\/p>\n\n\n\n

Kudus Kota Kretek bisa jadi memang sudah benar-benar merasuk dalam diri sebagian besar masyarakat Kudus, termasuk dalam ritual-ritual keseharian mereka. Tak hanya keberadaan rokok kretek pada saat hajatan, tahlilan, dan acara yang mengumpulkan orang banyak saja, pada momen satu muharam atau satu suro ini, kretek juga terselip dalam doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya ada tiga masjid di sekitar tempat saya tinggal yang menyebut-nyebut kretek dalam doa-doa yang mereka panjatkan. Doa itu berisi doa-doa tentang kebaikan kretek, kebaikan industri kretek, kebaikan para pekerja di bidang kretek, dan kebaikan petani-petani yang terlibat langsung dalam rantai produksi rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Momen hijrah ini juga dipakai dalam doa-doa dan harapan-harapan terhadap kretek. Dalam doa-doa yang dibacakan di masjid-masjid dan musala-musala, salah satu doa yang lantang saya dengar, berisi harapan semoga nasib rokok kretek hijrah, hijrah dari stigma-stigma buruk, dan usaha-usaha penggembosan terhadapnya, serta keuntungan yang kian berkurang karena banyak faktor, menuju kebaikan-kebaikan, karena kretek merupakan sumber penghidupan banyak orang, banyak sekali orang di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Di momen tahun baru Islam ini, saya mengajak kita semua para kretekus untuk mengaminkan doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala di Kudus ini, doa-doa untuk kebaikan kretek, agar hijrah dari bermacam keburukan ke kebaikan-kebaikan yang memang diharapkan.<\/p>\n\n\n\n

Selamat tahun baru, Kretekus.<\/p>\n","post_title":"Tahun Baru dan Doa-Doa untuk Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-baru-dan-doa-doa-untuk-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-20 11:36:38","post_modified_gmt":"2020-08-20 04:36:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7029","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6931,"post_author":"878","post_date":"2020-07-17 11:00:47","post_date_gmt":"2020-07-17 04:00:47","post_content":"\n

Tanaman tembakau memang unik. Ia satu dari sedikit jenis tanaman semusim yang sedikit membutuhkan air untuk perkembangannya. Sedikitnya air menjamin kualitas baik tembakau yang ditanam. Sebaliknya, terlalu banyak air malah membikin kualitas tembakau jadi buruk. Membusuk. Dan tentu saja tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Air yang cukup banyak dibutuhkan tanaman tembakau hanya pada masa-masa awal tembakau ditanam. Selanjutnya, kebutuhan air kian berkurang sampai sama sekali tidak membutuhkan air, yaitu di masa-masa jelang tembakau dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Inilah yang menjadi sebab mengapa tembakau biasanya ditanam oleh para petani di akhir musim hujan. Karena pada masa-masa itu hujan masih cukup untuk mengairi tanaman tembakau yang baru ditanam. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tumbuh kembang tanaman tembakau terjadi pada musim kemarau, di mana tanaman lain kesulitan tumbuh, tembakau malah sebaliknya, ia tumbuh subur dan akan menghasilkan kualitas daun yang baik jika musim kemarau berjalan baik seperti biasanya. Tidak ada hujan seperti di musim penghujan yang dapat mengganggu tumbuh kembang daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sekali waktu, salah seorang petani di Desa Tlilir, Temanggung pernah berujar kepada saya ketika musim kemarau sedang pada puncaknya, \"di musim kemarau seperti ini, rumput saja nggak bisa tumbuh, mati dia.\" Sembari menunjuk serumpun pohon pisang yang di dekatnya juga ada pohon pepaya, ia melanjutkan, \"lihat itu, pohon pisang dan pepaya, mati semua, kemaraunya pol-polan ini.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Tapi ini yang paling bagus buat tembakau. Kalau kemaraunya seperti ini, tembakau kita nanti hasilnya bagus. Pasti bagus.\" Begitu ia menutup keterangannya.<\/p>\n\n\n\n

Terik matahari menjamin daun tembakau berkualitas bagus, nikotin yang dihasilkan maksimal, dan terutama, ia melindungi daun-daun tembakau dari ancaman daun membusuk jika terlalu banyak terkena air. <\/p>\n\n\n\n

Saat ramai-ramai kampanye anti-tembakau yang salah satu gerakannya adalah dengan mendorong petani untuk mengganti tanaman tembakau mereka dengan jenis tanaman lain yang produktif, mereka yang memberi anjuran itu sesungguhnya tidak paham konteks. Dan bisa dipastikan, mereka tidak pernah turun ke lapangan, ke kebun-kebun tembakau, bertemu dengan petani dan berbincang dengan mereka.<\/h2>\n\n\n\n

Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n

Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selanjutnya, momen hijrah, yang juga diperingati sebagai awal mula tahun dalam Islam, tahun baru Islam, menjadi sebuah momen perubahan oleh banyak dari mereka yang merayakannya. Momen hijrah digunakan sebagai penanda seseorang hendak berubah dari buruk menjadi baik, dari jahat menjadi tidak jahat, dari nakal menjadi tidak nakal, dari maksiat lantas meninggalkannya, dan ragam bentuk penanda perubahan-perubahan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Tahun baru, resolusi baru. Begitu biasanya manusia-manusia memaknai tahun baru. Pun begitu ketika tahun baru Islam dirayakan. Resolusi baru tersebut, seperti yang saya jabarkan di atas. Bentuknya adalah momen-momen hijrah dari keburukan ke kebaikan dan sejenisnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain resolusi personal, tahun baru Islam dirayakan oleh umat Islam dengan ragam bentuk kegiatan dan ibadah serta ritual-ritual tradisi menyesuaikan dengan lokasi tempat tradisi itu berasal. Ada parade perayaan tahun baru, zikir akbar, pengajian, dan lain-lain. <\/p>\n\n\n\n

Dalam tradisi Jawa, tahun baru Islam bertepatan dengan perayaan Suro, tahun baru dalam kalender Jawa. Akulturasi antara Islam dan tradisi-tradisi Jawa menghasilkan perayaan tahun baru Islam dan Satu Suro yang beragam pula. <\/p>\n\n\n\n

Tahun baru dan Satu Suro kali ini, saya sedang berada di Kudus. Sore hari, jelang malam satu suro, saya melihat banyak orang-orang berbondong-bondong menuju ke masjid dan musala yang ada di lingkungan mereka. Orang-orang yang berkunjung ke masjid dan musala, lebih banyak dari biasanya, dari maghrib-maghrib pada hari-hari lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pandemi korona tak menghalangi mereka berbondong-bondong menuju masjid-masjid dan musala-musala. Ada yang masih tetap berusaha memenuhi standar protokol kesehatan dengan tetap menggunakan masker, dan ada pula yang sudah benar-benar mengabaikan. Masjid-masjid dan musala-musala mengadakan pengajian, doa-doa, dan tahlilan pada sore hari sebelum menyambut malam tahun baru Islam. <\/p>\n\n\n\n

Orang-orang berdoa bersama-sama dengan khidmat dan khusyuk. Beragam doa dan permohonan dipanjatkan. Satu doa yang di tahun baru sebelumnya tak pernah dipanjatkan, adalah doa agar negeri ini terbebas dari pandemi korona dengan segera.<\/p>\n\n\n\n

Kudus Kota Kretek bisa jadi memang sudah benar-benar merasuk dalam diri sebagian besar masyarakat Kudus, termasuk dalam ritual-ritual keseharian mereka. Tak hanya keberadaan rokok kretek pada saat hajatan, tahlilan, dan acara yang mengumpulkan orang banyak saja, pada momen satu muharam atau satu suro ini, kretek juga terselip dalam doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya ada tiga masjid di sekitar tempat saya tinggal yang menyebut-nyebut kretek dalam doa-doa yang mereka panjatkan. Doa itu berisi doa-doa tentang kebaikan kretek, kebaikan industri kretek, kebaikan para pekerja di bidang kretek, dan kebaikan petani-petani yang terlibat langsung dalam rantai produksi rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Momen hijrah ini juga dipakai dalam doa-doa dan harapan-harapan terhadap kretek. Dalam doa-doa yang dibacakan di masjid-masjid dan musala-musala, salah satu doa yang lantang saya dengar, berisi harapan semoga nasib rokok kretek hijrah, hijrah dari stigma-stigma buruk, dan usaha-usaha penggembosan terhadapnya, serta keuntungan yang kian berkurang karena banyak faktor, menuju kebaikan-kebaikan, karena kretek merupakan sumber penghidupan banyak orang, banyak sekali orang di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Di momen tahun baru Islam ini, saya mengajak kita semua para kretekus untuk mengaminkan doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala di Kudus ini, doa-doa untuk kebaikan kretek, agar hijrah dari bermacam keburukan ke kebaikan-kebaikan yang memang diharapkan.<\/p>\n\n\n\n

Selamat tahun baru, Kretekus.<\/p>\n","post_title":"Tahun Baru dan Doa-Doa untuk Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-baru-dan-doa-doa-untuk-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-20 11:36:38","post_modified_gmt":"2020-08-20 04:36:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7029","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6931,"post_author":"878","post_date":"2020-07-17 11:00:47","post_date_gmt":"2020-07-17 04:00:47","post_content":"\n

Tanaman tembakau memang unik. Ia satu dari sedikit jenis tanaman semusim yang sedikit membutuhkan air untuk perkembangannya. Sedikitnya air menjamin kualitas baik tembakau yang ditanam. Sebaliknya, terlalu banyak air malah membikin kualitas tembakau jadi buruk. Membusuk. Dan tentu saja tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Air yang cukup banyak dibutuhkan tanaman tembakau hanya pada masa-masa awal tembakau ditanam. Selanjutnya, kebutuhan air kian berkurang sampai sama sekali tidak membutuhkan air, yaitu di masa-masa jelang tembakau dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Inilah yang menjadi sebab mengapa tembakau biasanya ditanam oleh para petani di akhir musim hujan. Karena pada masa-masa itu hujan masih cukup untuk mengairi tanaman tembakau yang baru ditanam. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tumbuh kembang tanaman tembakau terjadi pada musim kemarau, di mana tanaman lain kesulitan tumbuh, tembakau malah sebaliknya, ia tumbuh subur dan akan menghasilkan kualitas daun yang baik jika musim kemarau berjalan baik seperti biasanya. Tidak ada hujan seperti di musim penghujan yang dapat mengganggu tumbuh kembang daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sekali waktu, salah seorang petani di Desa Tlilir, Temanggung pernah berujar kepada saya ketika musim kemarau sedang pada puncaknya, \"di musim kemarau seperti ini, rumput saja nggak bisa tumbuh, mati dia.\" Sembari menunjuk serumpun pohon pisang yang di dekatnya juga ada pohon pepaya, ia melanjutkan, \"lihat itu, pohon pisang dan pepaya, mati semua, kemaraunya pol-polan ini.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Tapi ini yang paling bagus buat tembakau. Kalau kemaraunya seperti ini, tembakau kita nanti hasilnya bagus. Pasti bagus.\" Begitu ia menutup keterangannya.<\/p>\n\n\n\n

Terik matahari menjamin daun tembakau berkualitas bagus, nikotin yang dihasilkan maksimal, dan terutama, ia melindungi daun-daun tembakau dari ancaman daun membusuk jika terlalu banyak terkena air. <\/p>\n\n\n\n

Saat ramai-ramai kampanye anti-tembakau yang salah satu gerakannya adalah dengan mendorong petani untuk mengganti tanaman tembakau mereka dengan jenis tanaman lain yang produktif, mereka yang memberi anjuran itu sesungguhnya tidak paham konteks. Dan bisa dipastikan, mereka tidak pernah turun ke lapangan, ke kebun-kebun tembakau, bertemu dengan petani dan berbincang dengan mereka.<\/h2>\n\n\n\n

Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n

Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Salah satu yang bisa saya tanggap dari pemilihan momen hijrah sebagai awal mula penanggalan hijriyah, di sana titik balik sebuah kebangkitan dimulai. Titik balik dari pasif tanpa perlawanan menjadi mulai mengorganisasi perlawanan, titik balik dari diam-diam menjadi terbuka, titik balik dari keterpurukan menuju kemerdekaan hakiki. Momen titik balik ini memang layak dijadikan permulaan tahun dalam khazanah kalender hijriyah.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, momen hijrah, yang juga diperingati sebagai awal mula tahun dalam Islam, tahun baru Islam, menjadi sebuah momen perubahan oleh banyak dari mereka yang merayakannya. Momen hijrah digunakan sebagai penanda seseorang hendak berubah dari buruk menjadi baik, dari jahat menjadi tidak jahat, dari nakal menjadi tidak nakal, dari maksiat lantas meninggalkannya, dan ragam bentuk penanda perubahan-perubahan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Tahun baru, resolusi baru. Begitu biasanya manusia-manusia memaknai tahun baru. Pun begitu ketika tahun baru Islam dirayakan. Resolusi baru tersebut, seperti yang saya jabarkan di atas. Bentuknya adalah momen-momen hijrah dari keburukan ke kebaikan dan sejenisnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain resolusi personal, tahun baru Islam dirayakan oleh umat Islam dengan ragam bentuk kegiatan dan ibadah serta ritual-ritual tradisi menyesuaikan dengan lokasi tempat tradisi itu berasal. Ada parade perayaan tahun baru, zikir akbar, pengajian, dan lain-lain. <\/p>\n\n\n\n

Dalam tradisi Jawa, tahun baru Islam bertepatan dengan perayaan Suro, tahun baru dalam kalender Jawa. Akulturasi antara Islam dan tradisi-tradisi Jawa menghasilkan perayaan tahun baru Islam dan Satu Suro yang beragam pula. <\/p>\n\n\n\n

Tahun baru dan Satu Suro kali ini, saya sedang berada di Kudus. Sore hari, jelang malam satu suro, saya melihat banyak orang-orang berbondong-bondong menuju ke masjid dan musala yang ada di lingkungan mereka. Orang-orang yang berkunjung ke masjid dan musala, lebih banyak dari biasanya, dari maghrib-maghrib pada hari-hari lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pandemi korona tak menghalangi mereka berbondong-bondong menuju masjid-masjid dan musala-musala. Ada yang masih tetap berusaha memenuhi standar protokol kesehatan dengan tetap menggunakan masker, dan ada pula yang sudah benar-benar mengabaikan. Masjid-masjid dan musala-musala mengadakan pengajian, doa-doa, dan tahlilan pada sore hari sebelum menyambut malam tahun baru Islam. <\/p>\n\n\n\n

Orang-orang berdoa bersama-sama dengan khidmat dan khusyuk. Beragam doa dan permohonan dipanjatkan. Satu doa yang di tahun baru sebelumnya tak pernah dipanjatkan, adalah doa agar negeri ini terbebas dari pandemi korona dengan segera.<\/p>\n\n\n\n

Kudus Kota Kretek bisa jadi memang sudah benar-benar merasuk dalam diri sebagian besar masyarakat Kudus, termasuk dalam ritual-ritual keseharian mereka. Tak hanya keberadaan rokok kretek pada saat hajatan, tahlilan, dan acara yang mengumpulkan orang banyak saja, pada momen satu muharam atau satu suro ini, kretek juga terselip dalam doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya ada tiga masjid di sekitar tempat saya tinggal yang menyebut-nyebut kretek dalam doa-doa yang mereka panjatkan. Doa itu berisi doa-doa tentang kebaikan kretek, kebaikan industri kretek, kebaikan para pekerja di bidang kretek, dan kebaikan petani-petani yang terlibat langsung dalam rantai produksi rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Momen hijrah ini juga dipakai dalam doa-doa dan harapan-harapan terhadap kretek. Dalam doa-doa yang dibacakan di masjid-masjid dan musala-musala, salah satu doa yang lantang saya dengar, berisi harapan semoga nasib rokok kretek hijrah, hijrah dari stigma-stigma buruk, dan usaha-usaha penggembosan terhadapnya, serta keuntungan yang kian berkurang karena banyak faktor, menuju kebaikan-kebaikan, karena kretek merupakan sumber penghidupan banyak orang, banyak sekali orang di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Di momen tahun baru Islam ini, saya mengajak kita semua para kretekus untuk mengaminkan doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala di Kudus ini, doa-doa untuk kebaikan kretek, agar hijrah dari bermacam keburukan ke kebaikan-kebaikan yang memang diharapkan.<\/p>\n\n\n\n

Selamat tahun baru, Kretekus.<\/p>\n","post_title":"Tahun Baru dan Doa-Doa untuk Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-baru-dan-doa-doa-untuk-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-20 11:36:38","post_modified_gmt":"2020-08-20 04:36:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7029","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6931,"post_author":"878","post_date":"2020-07-17 11:00:47","post_date_gmt":"2020-07-17 04:00:47","post_content":"\n

Tanaman tembakau memang unik. Ia satu dari sedikit jenis tanaman semusim yang sedikit membutuhkan air untuk perkembangannya. Sedikitnya air menjamin kualitas baik tembakau yang ditanam. Sebaliknya, terlalu banyak air malah membikin kualitas tembakau jadi buruk. Membusuk. Dan tentu saja tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Air yang cukup banyak dibutuhkan tanaman tembakau hanya pada masa-masa awal tembakau ditanam. Selanjutnya, kebutuhan air kian berkurang sampai sama sekali tidak membutuhkan air, yaitu di masa-masa jelang tembakau dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Inilah yang menjadi sebab mengapa tembakau biasanya ditanam oleh para petani di akhir musim hujan. Karena pada masa-masa itu hujan masih cukup untuk mengairi tanaman tembakau yang baru ditanam. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tumbuh kembang tanaman tembakau terjadi pada musim kemarau, di mana tanaman lain kesulitan tumbuh, tembakau malah sebaliknya, ia tumbuh subur dan akan menghasilkan kualitas daun yang baik jika musim kemarau berjalan baik seperti biasanya. Tidak ada hujan seperti di musim penghujan yang dapat mengganggu tumbuh kembang daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sekali waktu, salah seorang petani di Desa Tlilir, Temanggung pernah berujar kepada saya ketika musim kemarau sedang pada puncaknya, \"di musim kemarau seperti ini, rumput saja nggak bisa tumbuh, mati dia.\" Sembari menunjuk serumpun pohon pisang yang di dekatnya juga ada pohon pepaya, ia melanjutkan, \"lihat itu, pohon pisang dan pepaya, mati semua, kemaraunya pol-polan ini.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Tapi ini yang paling bagus buat tembakau. Kalau kemaraunya seperti ini, tembakau kita nanti hasilnya bagus. Pasti bagus.\" Begitu ia menutup keterangannya.<\/p>\n\n\n\n

Terik matahari menjamin daun tembakau berkualitas bagus, nikotin yang dihasilkan maksimal, dan terutama, ia melindungi daun-daun tembakau dari ancaman daun membusuk jika terlalu banyak terkena air. <\/p>\n\n\n\n

Saat ramai-ramai kampanye anti-tembakau yang salah satu gerakannya adalah dengan mendorong petani untuk mengganti tanaman tembakau mereka dengan jenis tanaman lain yang produktif, mereka yang memberi anjuran itu sesungguhnya tidak paham konteks. Dan bisa dipastikan, mereka tidak pernah turun ke lapangan, ke kebun-kebun tembakau, bertemu dengan petani dan berbincang dengan mereka.<\/h2>\n\n\n\n

Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n

Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Mengapa bukan momen-momen lain yang banyak terjadi sepanjang sejarah kenabian Muhammad. Momen kelahiran Nabi Muhammad misal, seperti kalender masehi berbasis matahari dimulai dengan momen kelahiran Yesus Kristus atau Nabi Isa. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu yang bisa saya tanggap dari pemilihan momen hijrah sebagai awal mula penanggalan hijriyah, di sana titik balik sebuah kebangkitan dimulai. Titik balik dari pasif tanpa perlawanan menjadi mulai mengorganisasi perlawanan, titik balik dari diam-diam menjadi terbuka, titik balik dari keterpurukan menuju kemerdekaan hakiki. Momen titik balik ini memang layak dijadikan permulaan tahun dalam khazanah kalender hijriyah.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, momen hijrah, yang juga diperingati sebagai awal mula tahun dalam Islam, tahun baru Islam, menjadi sebuah momen perubahan oleh banyak dari mereka yang merayakannya. Momen hijrah digunakan sebagai penanda seseorang hendak berubah dari buruk menjadi baik, dari jahat menjadi tidak jahat, dari nakal menjadi tidak nakal, dari maksiat lantas meninggalkannya, dan ragam bentuk penanda perubahan-perubahan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Tahun baru, resolusi baru. Begitu biasanya manusia-manusia memaknai tahun baru. Pun begitu ketika tahun baru Islam dirayakan. Resolusi baru tersebut, seperti yang saya jabarkan di atas. Bentuknya adalah momen-momen hijrah dari keburukan ke kebaikan dan sejenisnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain resolusi personal, tahun baru Islam dirayakan oleh umat Islam dengan ragam bentuk kegiatan dan ibadah serta ritual-ritual tradisi menyesuaikan dengan lokasi tempat tradisi itu berasal. Ada parade perayaan tahun baru, zikir akbar, pengajian, dan lain-lain. <\/p>\n\n\n\n

Dalam tradisi Jawa, tahun baru Islam bertepatan dengan perayaan Suro, tahun baru dalam kalender Jawa. Akulturasi antara Islam dan tradisi-tradisi Jawa menghasilkan perayaan tahun baru Islam dan Satu Suro yang beragam pula. <\/p>\n\n\n\n

Tahun baru dan Satu Suro kali ini, saya sedang berada di Kudus. Sore hari, jelang malam satu suro, saya melihat banyak orang-orang berbondong-bondong menuju ke masjid dan musala yang ada di lingkungan mereka. Orang-orang yang berkunjung ke masjid dan musala, lebih banyak dari biasanya, dari maghrib-maghrib pada hari-hari lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pandemi korona tak menghalangi mereka berbondong-bondong menuju masjid-masjid dan musala-musala. Ada yang masih tetap berusaha memenuhi standar protokol kesehatan dengan tetap menggunakan masker, dan ada pula yang sudah benar-benar mengabaikan. Masjid-masjid dan musala-musala mengadakan pengajian, doa-doa, dan tahlilan pada sore hari sebelum menyambut malam tahun baru Islam. <\/p>\n\n\n\n

Orang-orang berdoa bersama-sama dengan khidmat dan khusyuk. Beragam doa dan permohonan dipanjatkan. Satu doa yang di tahun baru sebelumnya tak pernah dipanjatkan, adalah doa agar negeri ini terbebas dari pandemi korona dengan segera.<\/p>\n\n\n\n

Kudus Kota Kretek bisa jadi memang sudah benar-benar merasuk dalam diri sebagian besar masyarakat Kudus, termasuk dalam ritual-ritual keseharian mereka. Tak hanya keberadaan rokok kretek pada saat hajatan, tahlilan, dan acara yang mengumpulkan orang banyak saja, pada momen satu muharam atau satu suro ini, kretek juga terselip dalam doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya ada tiga masjid di sekitar tempat saya tinggal yang menyebut-nyebut kretek dalam doa-doa yang mereka panjatkan. Doa itu berisi doa-doa tentang kebaikan kretek, kebaikan industri kretek, kebaikan para pekerja di bidang kretek, dan kebaikan petani-petani yang terlibat langsung dalam rantai produksi rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Momen hijrah ini juga dipakai dalam doa-doa dan harapan-harapan terhadap kretek. Dalam doa-doa yang dibacakan di masjid-masjid dan musala-musala, salah satu doa yang lantang saya dengar, berisi harapan semoga nasib rokok kretek hijrah, hijrah dari stigma-stigma buruk, dan usaha-usaha penggembosan terhadapnya, serta keuntungan yang kian berkurang karena banyak faktor, menuju kebaikan-kebaikan, karena kretek merupakan sumber penghidupan banyak orang, banyak sekali orang di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Di momen tahun baru Islam ini, saya mengajak kita semua para kretekus untuk mengaminkan doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala di Kudus ini, doa-doa untuk kebaikan kretek, agar hijrah dari bermacam keburukan ke kebaikan-kebaikan yang memang diharapkan.<\/p>\n\n\n\n

Selamat tahun baru, Kretekus.<\/p>\n","post_title":"Tahun Baru dan Doa-Doa untuk Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-baru-dan-doa-doa-untuk-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-20 11:36:38","post_modified_gmt":"2020-08-20 04:36:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7029","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6931,"post_author":"878","post_date":"2020-07-17 11:00:47","post_date_gmt":"2020-07-17 04:00:47","post_content":"\n

Tanaman tembakau memang unik. Ia satu dari sedikit jenis tanaman semusim yang sedikit membutuhkan air untuk perkembangannya. Sedikitnya air menjamin kualitas baik tembakau yang ditanam. Sebaliknya, terlalu banyak air malah membikin kualitas tembakau jadi buruk. Membusuk. Dan tentu saja tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Air yang cukup banyak dibutuhkan tanaman tembakau hanya pada masa-masa awal tembakau ditanam. Selanjutnya, kebutuhan air kian berkurang sampai sama sekali tidak membutuhkan air, yaitu di masa-masa jelang tembakau dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Inilah yang menjadi sebab mengapa tembakau biasanya ditanam oleh para petani di akhir musim hujan. Karena pada masa-masa itu hujan masih cukup untuk mengairi tanaman tembakau yang baru ditanam. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tumbuh kembang tanaman tembakau terjadi pada musim kemarau, di mana tanaman lain kesulitan tumbuh, tembakau malah sebaliknya, ia tumbuh subur dan akan menghasilkan kualitas daun yang baik jika musim kemarau berjalan baik seperti biasanya. Tidak ada hujan seperti di musim penghujan yang dapat mengganggu tumbuh kembang daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sekali waktu, salah seorang petani di Desa Tlilir, Temanggung pernah berujar kepada saya ketika musim kemarau sedang pada puncaknya, \"di musim kemarau seperti ini, rumput saja nggak bisa tumbuh, mati dia.\" Sembari menunjuk serumpun pohon pisang yang di dekatnya juga ada pohon pepaya, ia melanjutkan, \"lihat itu, pohon pisang dan pepaya, mati semua, kemaraunya pol-polan ini.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Tapi ini yang paling bagus buat tembakau. Kalau kemaraunya seperti ini, tembakau kita nanti hasilnya bagus. Pasti bagus.\" Begitu ia menutup keterangannya.<\/p>\n\n\n\n

Terik matahari menjamin daun tembakau berkualitas bagus, nikotin yang dihasilkan maksimal, dan terutama, ia melindungi daun-daun tembakau dari ancaman daun membusuk jika terlalu banyak terkena air. <\/p>\n\n\n\n

Saat ramai-ramai kampanye anti-tembakau yang salah satu gerakannya adalah dengan mendorong petani untuk mengganti tanaman tembakau mereka dengan jenis tanaman lain yang produktif, mereka yang memberi anjuran itu sesungguhnya tidak paham konteks. Dan bisa dipastikan, mereka tidak pernah turun ke lapangan, ke kebun-kebun tembakau, bertemu dengan petani dan berbincang dengan mereka.<\/h2>\n\n\n\n

Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n

Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Mengapa momen hijrah Nabi Muhammad dan kaum muslimin dari Mekah ke Madinah dipilih sebagai titik mula penanggalan hijriyah, sistem penanggalan berbasis peredaran bulan mulai dari terlihat sangat kecil, hingga purnama di tengah bulan, dan kemudian kembali mengecil hingga menghilang di akhir bulan sebelum ia muncul kembali dan bulan baru dihitung dari tanggal satu lagi. <\/p>\n\n\n\n

Mengapa bukan momen-momen lain yang banyak terjadi sepanjang sejarah kenabian Muhammad. Momen kelahiran Nabi Muhammad misal, seperti kalender masehi berbasis matahari dimulai dengan momen kelahiran Yesus Kristus atau Nabi Isa. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu yang bisa saya tanggap dari pemilihan momen hijrah sebagai awal mula penanggalan hijriyah, di sana titik balik sebuah kebangkitan dimulai. Titik balik dari pasif tanpa perlawanan menjadi mulai mengorganisasi perlawanan, titik balik dari diam-diam menjadi terbuka, titik balik dari keterpurukan menuju kemerdekaan hakiki. Momen titik balik ini memang layak dijadikan permulaan tahun dalam khazanah kalender hijriyah.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, momen hijrah, yang juga diperingati sebagai awal mula tahun dalam Islam, tahun baru Islam, menjadi sebuah momen perubahan oleh banyak dari mereka yang merayakannya. Momen hijrah digunakan sebagai penanda seseorang hendak berubah dari buruk menjadi baik, dari jahat menjadi tidak jahat, dari nakal menjadi tidak nakal, dari maksiat lantas meninggalkannya, dan ragam bentuk penanda perubahan-perubahan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Tahun baru, resolusi baru. Begitu biasanya manusia-manusia memaknai tahun baru. Pun begitu ketika tahun baru Islam dirayakan. Resolusi baru tersebut, seperti yang saya jabarkan di atas. Bentuknya adalah momen-momen hijrah dari keburukan ke kebaikan dan sejenisnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain resolusi personal, tahun baru Islam dirayakan oleh umat Islam dengan ragam bentuk kegiatan dan ibadah serta ritual-ritual tradisi menyesuaikan dengan lokasi tempat tradisi itu berasal. Ada parade perayaan tahun baru, zikir akbar, pengajian, dan lain-lain. <\/p>\n\n\n\n

Dalam tradisi Jawa, tahun baru Islam bertepatan dengan perayaan Suro, tahun baru dalam kalender Jawa. Akulturasi antara Islam dan tradisi-tradisi Jawa menghasilkan perayaan tahun baru Islam dan Satu Suro yang beragam pula. <\/p>\n\n\n\n

Tahun baru dan Satu Suro kali ini, saya sedang berada di Kudus. Sore hari, jelang malam satu suro, saya melihat banyak orang-orang berbondong-bondong menuju ke masjid dan musala yang ada di lingkungan mereka. Orang-orang yang berkunjung ke masjid dan musala, lebih banyak dari biasanya, dari maghrib-maghrib pada hari-hari lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pandemi korona tak menghalangi mereka berbondong-bondong menuju masjid-masjid dan musala-musala. Ada yang masih tetap berusaha memenuhi standar protokol kesehatan dengan tetap menggunakan masker, dan ada pula yang sudah benar-benar mengabaikan. Masjid-masjid dan musala-musala mengadakan pengajian, doa-doa, dan tahlilan pada sore hari sebelum menyambut malam tahun baru Islam. <\/p>\n\n\n\n

Orang-orang berdoa bersama-sama dengan khidmat dan khusyuk. Beragam doa dan permohonan dipanjatkan. Satu doa yang di tahun baru sebelumnya tak pernah dipanjatkan, adalah doa agar negeri ini terbebas dari pandemi korona dengan segera.<\/p>\n\n\n\n

Kudus Kota Kretek bisa jadi memang sudah benar-benar merasuk dalam diri sebagian besar masyarakat Kudus, termasuk dalam ritual-ritual keseharian mereka. Tak hanya keberadaan rokok kretek pada saat hajatan, tahlilan, dan acara yang mengumpulkan orang banyak saja, pada momen satu muharam atau satu suro ini, kretek juga terselip dalam doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya ada tiga masjid di sekitar tempat saya tinggal yang menyebut-nyebut kretek dalam doa-doa yang mereka panjatkan. Doa itu berisi doa-doa tentang kebaikan kretek, kebaikan industri kretek, kebaikan para pekerja di bidang kretek, dan kebaikan petani-petani yang terlibat langsung dalam rantai produksi rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Momen hijrah ini juga dipakai dalam doa-doa dan harapan-harapan terhadap kretek. Dalam doa-doa yang dibacakan di masjid-masjid dan musala-musala, salah satu doa yang lantang saya dengar, berisi harapan semoga nasib rokok kretek hijrah, hijrah dari stigma-stigma buruk, dan usaha-usaha penggembosan terhadapnya, serta keuntungan yang kian berkurang karena banyak faktor, menuju kebaikan-kebaikan, karena kretek merupakan sumber penghidupan banyak orang, banyak sekali orang di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Di momen tahun baru Islam ini, saya mengajak kita semua para kretekus untuk mengaminkan doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala di Kudus ini, doa-doa untuk kebaikan kretek, agar hijrah dari bermacam keburukan ke kebaikan-kebaikan yang memang diharapkan.<\/p>\n\n\n\n

Selamat tahun baru, Kretekus.<\/p>\n","post_title":"Tahun Baru dan Doa-Doa untuk Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-baru-dan-doa-doa-untuk-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-20 11:36:38","post_modified_gmt":"2020-08-20 04:36:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7029","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6931,"post_author":"878","post_date":"2020-07-17 11:00:47","post_date_gmt":"2020-07-17 04:00:47","post_content":"\n

Tanaman tembakau memang unik. Ia satu dari sedikit jenis tanaman semusim yang sedikit membutuhkan air untuk perkembangannya. Sedikitnya air menjamin kualitas baik tembakau yang ditanam. Sebaliknya, terlalu banyak air malah membikin kualitas tembakau jadi buruk. Membusuk. Dan tentu saja tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Air yang cukup banyak dibutuhkan tanaman tembakau hanya pada masa-masa awal tembakau ditanam. Selanjutnya, kebutuhan air kian berkurang sampai sama sekali tidak membutuhkan air, yaitu di masa-masa jelang tembakau dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Inilah yang menjadi sebab mengapa tembakau biasanya ditanam oleh para petani di akhir musim hujan. Karena pada masa-masa itu hujan masih cukup untuk mengairi tanaman tembakau yang baru ditanam. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, tumbuh kembang tanaman tembakau terjadi pada musim kemarau, di mana tanaman lain kesulitan tumbuh, tembakau malah sebaliknya, ia tumbuh subur dan akan menghasilkan kualitas daun yang baik jika musim kemarau berjalan baik seperti biasanya. Tidak ada hujan seperti di musim penghujan yang dapat mengganggu tumbuh kembang daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sekali waktu, salah seorang petani di Desa Tlilir, Temanggung pernah berujar kepada saya ketika musim kemarau sedang pada puncaknya, \"di musim kemarau seperti ini, rumput saja nggak bisa tumbuh, mati dia.\" Sembari menunjuk serumpun pohon pisang yang di dekatnya juga ada pohon pepaya, ia melanjutkan, \"lihat itu, pohon pisang dan pepaya, mati semua, kemaraunya pol-polan ini.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Tapi ini yang paling bagus buat tembakau. Kalau kemaraunya seperti ini, tembakau kita nanti hasilnya bagus. Pasti bagus.\" Begitu ia menutup keterangannya.<\/p>\n\n\n\n

Terik matahari menjamin daun tembakau berkualitas bagus, nikotin yang dihasilkan maksimal, dan terutama, ia melindungi daun-daun tembakau dari ancaman daun membusuk jika terlalu banyak terkena air. <\/p>\n\n\n\n

Saat ramai-ramai kampanye anti-tembakau yang salah satu gerakannya adalah dengan mendorong petani untuk mengganti tanaman tembakau mereka dengan jenis tanaman lain yang produktif, mereka yang memberi anjuran itu sesungguhnya tidak paham konteks. Dan bisa dipastikan, mereka tidak pernah turun ke lapangan, ke kebun-kebun tembakau, bertemu dengan petani dan berbincang dengan mereka.<\/h2>\n\n\n\n

Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n

Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6619,"post_author":"878","post_date":"2020-04-09 11:21:29","post_date_gmt":"2020-04-09 04:21:29","post_content":"\n

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

\nTahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

\nSetiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

\nUntuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

\nMaret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

\nPada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

\nIni menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

\nSayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi'i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nMenurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

\nDi Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi'i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. \"Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.\" Ujar Pak Rofi'i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

\nObrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

\nPak Rofi'i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi'i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

\nSedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

\nPak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

\nNamun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. \"Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.\" Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.<\/p>\n","post_title":"Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"musim-tanam-tembakau-di-tengah-wabah-korona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-09 11:21:35","post_modified_gmt":"2020-04-09 04:21:35","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6619","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};