\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi,  bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi,  bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Proxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi,  bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n

Proxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi,  bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n

Proxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi,  bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Belum lama ini, di New York, Sri Mulyani juga sudah mengadakan pertemuan intensif dengan Bloomberg. Kado manis dari Sri Mulyani dengan menaikkan cukai rokok besar-besaran di negeri ini sudah diberikan kepada Bloomberg. Jika tidak dihalangi dengan gencar oleh seluruh stakeholder industri rokok di negeri ini, bukan tak mungkin kado istimewa lain dari Sri Mulyani kepada Bloomberg akan kembali diberikan, ratifikasi FCTC oleh pemerintah Indonesia. Rokok kretek mesti hilang dari pasar dalam negeri, dan petani cengkeh kembali merana.
<\/p>\n","post_title":"Susi Pujiastuti, Sri Mulyani, dan Perlakuan Mereka Terhadap Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"susi-pujiastuti-sri-mulyani-dan-perlakuan-mereka-terhadap-komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-21 08:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-21 01:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6465","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\n

PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n

Proxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi,  bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kondisi menuju peniadaan rokok kretek dan penghancuran pertanian cengkeh lewat ratifikasi FCTC ini sepertinya kian terang di negeri ini. Adalah Sri Mulyani, yang kini menjabat menteri keuangan di Indonesia yang mengambil peran besar dalam usaha peniadaan produk rokok kretek dan penghancuran cengkeh di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum, salah satu pemain utama dalam usaha menekan agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC adalah Bloomberg Initiatives. Dan Sri Mulyani, ada di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, di New York, Sri Mulyani juga sudah mengadakan pertemuan intensif dengan Bloomberg. Kado manis dari Sri Mulyani dengan menaikkan cukai rokok besar-besaran di negeri ini sudah diberikan kepada Bloomberg. Jika tidak dihalangi dengan gencar oleh seluruh stakeholder industri rokok di negeri ini, bukan tak mungkin kado istimewa lain dari Sri Mulyani kepada Bloomberg akan kembali diberikan, ratifikasi FCTC oleh pemerintah Indonesia. Rokok kretek mesti hilang dari pasar dalam negeri, dan petani cengkeh kembali merana.
<\/p>\n","post_title":"Susi Pujiastuti, Sri Mulyani, dan Perlakuan Mereka Terhadap Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"susi-pujiastuti-sri-mulyani-dan-perlakuan-mereka-terhadap-komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-21 08:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-21 01:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6465","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\n

PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n

Proxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi,  bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Salah satu pasal penting dalam FCTC, adalah pengharaman keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok yang beredar di pasaran. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, dan menerapkannya dalam peraturan usaha rokok di Indonesia, maka mau tidak mau, setiap produksi rokok yang ada di Indonesia tidak boleh mengandung cengkeh secuil pun. Ini artinya, tidak akan ada lagi produk rokok kretek yang diproduksi pabrikan-pabrikan rokok dalam negeri. Kretek hilang, dan komoditas cengkeh kembali menjadi semenjana.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi menuju peniadaan rokok kretek dan penghancuran pertanian cengkeh lewat ratifikasi FCTC ini sepertinya kian terang di negeri ini. Adalah Sri Mulyani, yang kini menjabat menteri keuangan di Indonesia yang mengambil peran besar dalam usaha peniadaan produk rokok kretek dan penghancuran cengkeh di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum, salah satu pemain utama dalam usaha menekan agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC adalah Bloomberg Initiatives. Dan Sri Mulyani, ada di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, di New York, Sri Mulyani juga sudah mengadakan pertemuan intensif dengan Bloomberg. Kado manis dari Sri Mulyani dengan menaikkan cukai rokok besar-besaran di negeri ini sudah diberikan kepada Bloomberg. Jika tidak dihalangi dengan gencar oleh seluruh stakeholder industri rokok di negeri ini, bukan tak mungkin kado istimewa lain dari Sri Mulyani kepada Bloomberg akan kembali diberikan, ratifikasi FCTC oleh pemerintah Indonesia. Rokok kretek mesti hilang dari pasar dalam negeri, dan petani cengkeh kembali merana.
<\/p>\n","post_title":"Susi Pujiastuti, Sri Mulyani, dan Perlakuan Mereka Terhadap Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"susi-pujiastuti-sri-mulyani-dan-perlakuan-mereka-terhadap-komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-21 08:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-21 01:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6465","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\n

PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n

Proxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi,  bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sayangnya, kejayaan petani cengkeh ini terancam dengan keberadaan gerakan antirokok dan kepentingan bisnis global yang berusaha merebut pasar rokok yang begitu menjanjikan di negeri ini. Sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar kedua di dunia di bawah China, Indonesia tentu saja menjadi bidikan serius kapitalisme global di bidang rokok dan farmasi. Merasa gagal bersaing secara sehat dengan produk rokok kretek, mereka kini terus-menerus berusaha menghancurkan keberadaan rokok kretek lewat regulasi yang dibikin semena-mena dan tidak adil dalam wujud Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). <\/p>\n\n\n\n

Salah satu pasal penting dalam FCTC, adalah pengharaman keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok yang beredar di pasaran. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, dan menerapkannya dalam peraturan usaha rokok di Indonesia, maka mau tidak mau, setiap produksi rokok yang ada di Indonesia tidak boleh mengandung cengkeh secuil pun. Ini artinya, tidak akan ada lagi produk rokok kretek yang diproduksi pabrikan-pabrikan rokok dalam negeri. Kretek hilang, dan komoditas cengkeh kembali menjadi semenjana.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi menuju peniadaan rokok kretek dan penghancuran pertanian cengkeh lewat ratifikasi FCTC ini sepertinya kian terang di negeri ini. Adalah Sri Mulyani, yang kini menjabat menteri keuangan di Indonesia yang mengambil peran besar dalam usaha peniadaan produk rokok kretek dan penghancuran cengkeh di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum, salah satu pemain utama dalam usaha menekan agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC adalah Bloomberg Initiatives. Dan Sri Mulyani, ada di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, di New York, Sri Mulyani juga sudah mengadakan pertemuan intensif dengan Bloomberg. Kado manis dari Sri Mulyani dengan menaikkan cukai rokok besar-besaran di negeri ini sudah diberikan kepada Bloomberg. Jika tidak dihalangi dengan gencar oleh seluruh stakeholder industri rokok di negeri ini, bukan tak mungkin kado istimewa lain dari Sri Mulyani kepada Bloomberg akan kembali diberikan, ratifikasi FCTC oleh pemerintah Indonesia. Rokok kretek mesti hilang dari pasar dalam negeri, dan petani cengkeh kembali merana.
<\/p>\n","post_title":"Susi Pujiastuti, Sri Mulyani, dan Perlakuan Mereka Terhadap Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"susi-pujiastuti-sri-mulyani-dan-perlakuan-mereka-terhadap-komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-21 08:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-21 01:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6465","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\n

PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n

Proxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi,  bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kembali bergeliatnya komoditas cengkeh di negeri ini usai diberangusnya BPPC pasca reformasi, tak lepas dari berjayanya industri rokok kretek dalam negeri. Rokok kretek berhasil menguasai lebih 90 persen pasar rokok nasional hingga hari ini. Dengan cengkeh sebagai salah satu bahan baku utama sekaligus bahan baku kunci rokok kretek, cengkeh menjadi komoditas yang menjanjikan dan menguntungkan petani.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, kejayaan petani cengkeh ini terancam dengan keberadaan gerakan antirokok dan kepentingan bisnis global yang berusaha merebut pasar rokok yang begitu menjanjikan di negeri ini. Sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar kedua di dunia di bawah China, Indonesia tentu saja menjadi bidikan serius kapitalisme global di bidang rokok dan farmasi. Merasa gagal bersaing secara sehat dengan produk rokok kretek, mereka kini terus-menerus berusaha menghancurkan keberadaan rokok kretek lewat regulasi yang dibikin semena-mena dan tidak adil dalam wujud Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). <\/p>\n\n\n\n

Salah satu pasal penting dalam FCTC, adalah pengharaman keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok yang beredar di pasaran. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, dan menerapkannya dalam peraturan usaha rokok di Indonesia, maka mau tidak mau, setiap produksi rokok yang ada di Indonesia tidak boleh mengandung cengkeh secuil pun. Ini artinya, tidak akan ada lagi produk rokok kretek yang diproduksi pabrikan-pabrikan rokok dalam negeri. Kretek hilang, dan komoditas cengkeh kembali menjadi semenjana.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi menuju peniadaan rokok kretek dan penghancuran pertanian cengkeh lewat ratifikasi FCTC ini sepertinya kian terang di negeri ini. Adalah Sri Mulyani, yang kini menjabat menteri keuangan di Indonesia yang mengambil peran besar dalam usaha peniadaan produk rokok kretek dan penghancuran cengkeh di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum, salah satu pemain utama dalam usaha menekan agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC adalah Bloomberg Initiatives. Dan Sri Mulyani, ada di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, di New York, Sri Mulyani juga sudah mengadakan pertemuan intensif dengan Bloomberg. Kado manis dari Sri Mulyani dengan menaikkan cukai rokok besar-besaran di negeri ini sudah diberikan kepada Bloomberg. Jika tidak dihalangi dengan gencar oleh seluruh stakeholder industri rokok di negeri ini, bukan tak mungkin kado istimewa lain dari Sri Mulyani kepada Bloomberg akan kembali diberikan, ratifikasi FCTC oleh pemerintah Indonesia. Rokok kretek mesti hilang dari pasar dalam negeri, dan petani cengkeh kembali merana.
<\/p>\n","post_title":"Susi Pujiastuti, Sri Mulyani, dan Perlakuan Mereka Terhadap Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"susi-pujiastuti-sri-mulyani-dan-perlakuan-mereka-terhadap-komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-21 08:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-21 01:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6465","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\n

PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n

Proxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi,  bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Berdasarkan informasi yang saya dapat dari banyak petani cengkeh di pulau Simeulue, pada 2007, untuk memutus rantai tengkulak, Bu Susi memborong cengkeh di pulau Simeulue dengan harga Rp100.000 per kilogram, mengikuti harga yang ditetapkan di pasar nasional. Rantai jahat tengkulak berhasil diputus. Dan sejak saat itu hingga kini, harga cengkeh di pulau Simeulue mengikuti harga pasar nasional, pertanian cengkeh kembali menggeliat di sana berkat peran nyata Bu Susi. Mulanya saya kurang percaya dengan informasi ini, namun, puluhan petani yang saya temui di Simeulue, juga pejabat di dinas perkebunan di pulau Simeulue, mengamini apa yang dilakukan Bu Susi terhadap komoditas cengkeh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Kembali bergeliatnya komoditas cengkeh di negeri ini usai diberangusnya BPPC pasca reformasi, tak lepas dari berjayanya industri rokok kretek dalam negeri. Rokok kretek berhasil menguasai lebih 90 persen pasar rokok nasional hingga hari ini. Dengan cengkeh sebagai salah satu bahan baku utama sekaligus bahan baku kunci rokok kretek, cengkeh menjadi komoditas yang menjanjikan dan menguntungkan petani.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, kejayaan petani cengkeh ini terancam dengan keberadaan gerakan antirokok dan kepentingan bisnis global yang berusaha merebut pasar rokok yang begitu menjanjikan di negeri ini. Sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar kedua di dunia di bawah China, Indonesia tentu saja menjadi bidikan serius kapitalisme global di bidang rokok dan farmasi. Merasa gagal bersaing secara sehat dengan produk rokok kretek, mereka kini terus-menerus berusaha menghancurkan keberadaan rokok kretek lewat regulasi yang dibikin semena-mena dan tidak adil dalam wujud Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). <\/p>\n\n\n\n

Salah satu pasal penting dalam FCTC, adalah pengharaman keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok yang beredar di pasaran. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, dan menerapkannya dalam peraturan usaha rokok di Indonesia, maka mau tidak mau, setiap produksi rokok yang ada di Indonesia tidak boleh mengandung cengkeh secuil pun. Ini artinya, tidak akan ada lagi produk rokok kretek yang diproduksi pabrikan-pabrikan rokok dalam negeri. Kretek hilang, dan komoditas cengkeh kembali menjadi semenjana.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi menuju peniadaan rokok kretek dan penghancuran pertanian cengkeh lewat ratifikasi FCTC ini sepertinya kian terang di negeri ini. Adalah Sri Mulyani, yang kini menjabat menteri keuangan di Indonesia yang mengambil peran besar dalam usaha peniadaan produk rokok kretek dan penghancuran cengkeh di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum, salah satu pemain utama dalam usaha menekan agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC adalah Bloomberg Initiatives. Dan Sri Mulyani, ada di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, di New York, Sri Mulyani juga sudah mengadakan pertemuan intensif dengan Bloomberg. Kado manis dari Sri Mulyani dengan menaikkan cukai rokok besar-besaran di negeri ini sudah diberikan kepada Bloomberg. Jika tidak dihalangi dengan gencar oleh seluruh stakeholder industri rokok di negeri ini, bukan tak mungkin kado istimewa lain dari Sri Mulyani kepada Bloomberg akan kembali diberikan, ratifikasi FCTC oleh pemerintah Indonesia. Rokok kretek mesti hilang dari pasar dalam negeri, dan petani cengkeh kembali merana.
<\/p>\n","post_title":"Susi Pujiastuti, Sri Mulyani, dan Perlakuan Mereka Terhadap Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"susi-pujiastuti-sri-mulyani-dan-perlakuan-mereka-terhadap-komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-21 08:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-21 01:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6465","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\n

PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n

Proxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi,  bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Adalah Susi Pujiastuti, seorang pengusaha sukses yang pada periode pertama masa kepemimpinan presiden Jokowi menjabat menteri kelautan dan perikanan yang kembali meningkatkan pamor komoditas cengkeh di pulau Simeulue. Ini terjadi pada tahun 2007. Kala itu, belenggu tengkulak di pulau Simeulue membikin harga cengkeh jatuh di pasaran, jauh lebih kecil dibandingkan dengan harga komoditas ini di wilayah lain di negeri ini. Sebagai perbandingan, harga cengkeh di wilayah lain, pada periode 2000an kembali mencapai titik tertingginya dengan harga beli di tingkat petani mencapai Rp100.000 per kilogram bahkan lebih, sedang di Simeulue, harga cengkeh maksimal berada di titik Rp30.000 saja per kilogramnya, bahkan di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan di pulau Simeulue, harga cengkeh jauh di bawah Rp30.000 per kilogram.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan informasi yang saya dapat dari banyak petani cengkeh di pulau Simeulue, pada 2007, untuk memutus rantai tengkulak, Bu Susi memborong cengkeh di pulau Simeulue dengan harga Rp100.000 per kilogram, mengikuti harga yang ditetapkan di pasar nasional. Rantai jahat tengkulak berhasil diputus. Dan sejak saat itu hingga kini, harga cengkeh di pulau Simeulue mengikuti harga pasar nasional, pertanian cengkeh kembali menggeliat di sana berkat peran nyata Bu Susi. Mulanya saya kurang percaya dengan informasi ini, namun, puluhan petani yang saya temui di Simeulue, juga pejabat di dinas perkebunan di pulau Simeulue, mengamini apa yang dilakukan Bu Susi terhadap komoditas cengkeh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Kembali bergeliatnya komoditas cengkeh di negeri ini usai diberangusnya BPPC pasca reformasi, tak lepas dari berjayanya industri rokok kretek dalam negeri. Rokok kretek berhasil menguasai lebih 90 persen pasar rokok nasional hingga hari ini. Dengan cengkeh sebagai salah satu bahan baku utama sekaligus bahan baku kunci rokok kretek, cengkeh menjadi komoditas yang menjanjikan dan menguntungkan petani.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, kejayaan petani cengkeh ini terancam dengan keberadaan gerakan antirokok dan kepentingan bisnis global yang berusaha merebut pasar rokok yang begitu menjanjikan di negeri ini. Sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar kedua di dunia di bawah China, Indonesia tentu saja menjadi bidikan serius kapitalisme global di bidang rokok dan farmasi. Merasa gagal bersaing secara sehat dengan produk rokok kretek, mereka kini terus-menerus berusaha menghancurkan keberadaan rokok kretek lewat regulasi yang dibikin semena-mena dan tidak adil dalam wujud Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). <\/p>\n\n\n\n

Salah satu pasal penting dalam FCTC, adalah pengharaman keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok yang beredar di pasaran. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, dan menerapkannya dalam peraturan usaha rokok di Indonesia, maka mau tidak mau, setiap produksi rokok yang ada di Indonesia tidak boleh mengandung cengkeh secuil pun. Ini artinya, tidak akan ada lagi produk rokok kretek yang diproduksi pabrikan-pabrikan rokok dalam negeri. Kretek hilang, dan komoditas cengkeh kembali menjadi semenjana.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi menuju peniadaan rokok kretek dan penghancuran pertanian cengkeh lewat ratifikasi FCTC ini sepertinya kian terang di negeri ini. Adalah Sri Mulyani, yang kini menjabat menteri keuangan di Indonesia yang mengambil peran besar dalam usaha peniadaan produk rokok kretek dan penghancuran cengkeh di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum, salah satu pemain utama dalam usaha menekan agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC adalah Bloomberg Initiatives. Dan Sri Mulyani, ada di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, di New York, Sri Mulyani juga sudah mengadakan pertemuan intensif dengan Bloomberg. Kado manis dari Sri Mulyani dengan menaikkan cukai rokok besar-besaran di negeri ini sudah diberikan kepada Bloomberg. Jika tidak dihalangi dengan gencar oleh seluruh stakeholder industri rokok di negeri ini, bukan tak mungkin kado istimewa lain dari Sri Mulyani kepada Bloomberg akan kembali diberikan, ratifikasi FCTC oleh pemerintah Indonesia. Rokok kretek mesti hilang dari pasar dalam negeri, dan petani cengkeh kembali merana.
<\/p>\n","post_title":"Susi Pujiastuti, Sri Mulyani, dan Perlakuan Mereka Terhadap Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"susi-pujiastuti-sri-mulyani-dan-perlakuan-mereka-terhadap-komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-21 08:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-21 01:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6465","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\n

PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n

Proxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi,  bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selepas kehancuran komoditas cengkeh usai keberadaan BPPC di periode 90an, cengkeh kembali bangkit usai reformasi bergulir di negeri ini. Meski begitu, komoditas cengkeh di pulau Simeulue terlambat bangkit dibanding di daerah-daerah lainnya yang menghasilkan cengkeh di negeri ini. Hingga tsunami menggulung beberapa wilayah di Aceh, termasuk pulau Simeulue, komoditas cengkeh masih medioker di Simeulue, berbeda dengan wilayah lain di Indonesia yang usaha pertanian cengkehnya kembali bergeliat dengan harga yang sangat menguntungkan.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Susi Pujiastuti, seorang pengusaha sukses yang pada periode pertama masa kepemimpinan presiden Jokowi menjabat menteri kelautan dan perikanan yang kembali meningkatkan pamor komoditas cengkeh di pulau Simeulue. Ini terjadi pada tahun 2007. Kala itu, belenggu tengkulak di pulau Simeulue membikin harga cengkeh jatuh di pasaran, jauh lebih kecil dibandingkan dengan harga komoditas ini di wilayah lain di negeri ini. Sebagai perbandingan, harga cengkeh di wilayah lain, pada periode 2000an kembali mencapai titik tertingginya dengan harga beli di tingkat petani mencapai Rp100.000 per kilogram bahkan lebih, sedang di Simeulue, harga cengkeh maksimal berada di titik Rp30.000 saja per kilogramnya, bahkan di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan di pulau Simeulue, harga cengkeh jauh di bawah Rp30.000 per kilogram.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan informasi yang saya dapat dari banyak petani cengkeh di pulau Simeulue, pada 2007, untuk memutus rantai tengkulak, Bu Susi memborong cengkeh di pulau Simeulue dengan harga Rp100.000 per kilogram, mengikuti harga yang ditetapkan di pasar nasional. Rantai jahat tengkulak berhasil diputus. Dan sejak saat itu hingga kini, harga cengkeh di pulau Simeulue mengikuti harga pasar nasional, pertanian cengkeh kembali menggeliat di sana berkat peran nyata Bu Susi. Mulanya saya kurang percaya dengan informasi ini, namun, puluhan petani yang saya temui di Simeulue, juga pejabat di dinas perkebunan di pulau Simeulue, mengamini apa yang dilakukan Bu Susi terhadap komoditas cengkeh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Kembali bergeliatnya komoditas cengkeh di negeri ini usai diberangusnya BPPC pasca reformasi, tak lepas dari berjayanya industri rokok kretek dalam negeri. Rokok kretek berhasil menguasai lebih 90 persen pasar rokok nasional hingga hari ini. Dengan cengkeh sebagai salah satu bahan baku utama sekaligus bahan baku kunci rokok kretek, cengkeh menjadi komoditas yang menjanjikan dan menguntungkan petani.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, kejayaan petani cengkeh ini terancam dengan keberadaan gerakan antirokok dan kepentingan bisnis global yang berusaha merebut pasar rokok yang begitu menjanjikan di negeri ini. Sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar kedua di dunia di bawah China, Indonesia tentu saja menjadi bidikan serius kapitalisme global di bidang rokok dan farmasi. Merasa gagal bersaing secara sehat dengan produk rokok kretek, mereka kini terus-menerus berusaha menghancurkan keberadaan rokok kretek lewat regulasi yang dibikin semena-mena dan tidak adil dalam wujud Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). <\/p>\n\n\n\n

Salah satu pasal penting dalam FCTC, adalah pengharaman keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok yang beredar di pasaran. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, dan menerapkannya dalam peraturan usaha rokok di Indonesia, maka mau tidak mau, setiap produksi rokok yang ada di Indonesia tidak boleh mengandung cengkeh secuil pun. Ini artinya, tidak akan ada lagi produk rokok kretek yang diproduksi pabrikan-pabrikan rokok dalam negeri. Kretek hilang, dan komoditas cengkeh kembali menjadi semenjana.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi menuju peniadaan rokok kretek dan penghancuran pertanian cengkeh lewat ratifikasi FCTC ini sepertinya kian terang di negeri ini. Adalah Sri Mulyani, yang kini menjabat menteri keuangan di Indonesia yang mengambil peran besar dalam usaha peniadaan produk rokok kretek dan penghancuran cengkeh di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum, salah satu pemain utama dalam usaha menekan agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC adalah Bloomberg Initiatives. Dan Sri Mulyani, ada di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, di New York, Sri Mulyani juga sudah mengadakan pertemuan intensif dengan Bloomberg. Kado manis dari Sri Mulyani dengan menaikkan cukai rokok besar-besaran di negeri ini sudah diberikan kepada Bloomberg. Jika tidak dihalangi dengan gencar oleh seluruh stakeholder industri rokok di negeri ini, bukan tak mungkin kado istimewa lain dari Sri Mulyani kepada Bloomberg akan kembali diberikan, ratifikasi FCTC oleh pemerintah Indonesia. Rokok kretek mesti hilang dari pasar dalam negeri, dan petani cengkeh kembali merana.
<\/p>\n","post_title":"Susi Pujiastuti, Sri Mulyani, dan Perlakuan Mereka Terhadap Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"susi-pujiastuti-sri-mulyani-dan-perlakuan-mereka-terhadap-komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-21 08:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-21 01:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6465","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\n

PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n

Proxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi,  bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Menyadari potensi cengkeh yang sangat menjanjikan, pada periode 70an, pejabat yang memimpin pulau Simeulue mengeluarkan peraturan yang tidak lazim. Ia mengeluarkan aturan bahwa seorang pemuda yang hendak menikah wajib menanam minimal 25 batang pohon cengkeh sebelum Ia menikah. Jika tidak menanam cengkeh, pemerintah lewat lembaga keagamaan daerah tidak akan menikahkan pemuda tersebut. Kebijakan ini berjalan terus hingga akhirnya bisnis cengkeh hancur berantakan pada periode 90an usai keberadaan BPPC yang diinisasi Orde Baru. Kebijakan yang mewajibkan penanaman pohon cengkeh bagi pemuda yang hendak menikah ini membikin pulau Simeulue hingga saat ini didominasi tanaman cengkeh di luar komoditas lain semisal kemiri, pala, dan sawit yang kini mulai ditanam massal di Simeulue.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kehancuran komoditas cengkeh usai keberadaan BPPC di periode 90an, cengkeh kembali bangkit usai reformasi bergulir di negeri ini. Meski begitu, komoditas cengkeh di pulau Simeulue terlambat bangkit dibanding di daerah-daerah lainnya yang menghasilkan cengkeh di negeri ini. Hingga tsunami menggulung beberapa wilayah di Aceh, termasuk pulau Simeulue, komoditas cengkeh masih medioker di Simeulue, berbeda dengan wilayah lain di Indonesia yang usaha pertanian cengkehnya kembali bergeliat dengan harga yang sangat menguntungkan.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Susi Pujiastuti, seorang pengusaha sukses yang pada periode pertama masa kepemimpinan presiden Jokowi menjabat menteri kelautan dan perikanan yang kembali meningkatkan pamor komoditas cengkeh di pulau Simeulue. Ini terjadi pada tahun 2007. Kala itu, belenggu tengkulak di pulau Simeulue membikin harga cengkeh jatuh di pasaran, jauh lebih kecil dibandingkan dengan harga komoditas ini di wilayah lain di negeri ini. Sebagai perbandingan, harga cengkeh di wilayah lain, pada periode 2000an kembali mencapai titik tertingginya dengan harga beli di tingkat petani mencapai Rp100.000 per kilogram bahkan lebih, sedang di Simeulue, harga cengkeh maksimal berada di titik Rp30.000 saja per kilogramnya, bahkan di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan di pulau Simeulue, harga cengkeh jauh di bawah Rp30.000 per kilogram.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan informasi yang saya dapat dari banyak petani cengkeh di pulau Simeulue, pada 2007, untuk memutus rantai tengkulak, Bu Susi memborong cengkeh di pulau Simeulue dengan harga Rp100.000 per kilogram, mengikuti harga yang ditetapkan di pasar nasional. Rantai jahat tengkulak berhasil diputus. Dan sejak saat itu hingga kini, harga cengkeh di pulau Simeulue mengikuti harga pasar nasional, pertanian cengkeh kembali menggeliat di sana berkat peran nyata Bu Susi. Mulanya saya kurang percaya dengan informasi ini, namun, puluhan petani yang saya temui di Simeulue, juga pejabat di dinas perkebunan di pulau Simeulue, mengamini apa yang dilakukan Bu Susi terhadap komoditas cengkeh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Kembali bergeliatnya komoditas cengkeh di negeri ini usai diberangusnya BPPC pasca reformasi, tak lepas dari berjayanya industri rokok kretek dalam negeri. Rokok kretek berhasil menguasai lebih 90 persen pasar rokok nasional hingga hari ini. Dengan cengkeh sebagai salah satu bahan baku utama sekaligus bahan baku kunci rokok kretek, cengkeh menjadi komoditas yang menjanjikan dan menguntungkan petani.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, kejayaan petani cengkeh ini terancam dengan keberadaan gerakan antirokok dan kepentingan bisnis global yang berusaha merebut pasar rokok yang begitu menjanjikan di negeri ini. Sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar kedua di dunia di bawah China, Indonesia tentu saja menjadi bidikan serius kapitalisme global di bidang rokok dan farmasi. Merasa gagal bersaing secara sehat dengan produk rokok kretek, mereka kini terus-menerus berusaha menghancurkan keberadaan rokok kretek lewat regulasi yang dibikin semena-mena dan tidak adil dalam wujud Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). <\/p>\n\n\n\n

Salah satu pasal penting dalam FCTC, adalah pengharaman keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok yang beredar di pasaran. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, dan menerapkannya dalam peraturan usaha rokok di Indonesia, maka mau tidak mau, setiap produksi rokok yang ada di Indonesia tidak boleh mengandung cengkeh secuil pun. Ini artinya, tidak akan ada lagi produk rokok kretek yang diproduksi pabrikan-pabrikan rokok dalam negeri. Kretek hilang, dan komoditas cengkeh kembali menjadi semenjana.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi menuju peniadaan rokok kretek dan penghancuran pertanian cengkeh lewat ratifikasi FCTC ini sepertinya kian terang di negeri ini. Adalah Sri Mulyani, yang kini menjabat menteri keuangan di Indonesia yang mengambil peran besar dalam usaha peniadaan produk rokok kretek dan penghancuran cengkeh di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum, salah satu pemain utama dalam usaha menekan agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC adalah Bloomberg Initiatives. Dan Sri Mulyani, ada di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, di New York, Sri Mulyani juga sudah mengadakan pertemuan intensif dengan Bloomberg. Kado manis dari Sri Mulyani dengan menaikkan cukai rokok besar-besaran di negeri ini sudah diberikan kepada Bloomberg. Jika tidak dihalangi dengan gencar oleh seluruh stakeholder industri rokok di negeri ini, bukan tak mungkin kado istimewa lain dari Sri Mulyani kepada Bloomberg akan kembali diberikan, ratifikasi FCTC oleh pemerintah Indonesia. Rokok kretek mesti hilang dari pasar dalam negeri, dan petani cengkeh kembali merana.
<\/p>\n","post_title":"Susi Pujiastuti, Sri Mulyani, dan Perlakuan Mereka Terhadap Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"susi-pujiastuti-sri-mulyani-dan-perlakuan-mereka-terhadap-komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-21 08:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-21 01:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6465","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\n

PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n

Proxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi,  bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada periode 70an, ketika cengkeh kembali berjaya di pasaran dalam negeri, sejalan dengan menggeliatnya industri rokok kretek di Indonesia yang mulai menguasai pasar dalam negeri mengalahkan rokok putih yang sebelumnya menjadi promadona di Indonesia, masyarakat Simeulue kembali menanam cengkeh di perbukitan yang ada di wilayah mereka. Kondisi geografis pulau Simeulue yang berbukit-bukit dan dekat dengan laut memang mirip dengan kondisi geografis tempat pohon cengkeh awalnya berasal. Kondisi ini membikin cengkeh sangat cocok ditanam di pulau Simeulue dan tumbuh subur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Menyadari potensi cengkeh yang sangat menjanjikan, pada periode 70an, pejabat yang memimpin pulau Simeulue mengeluarkan peraturan yang tidak lazim. Ia mengeluarkan aturan bahwa seorang pemuda yang hendak menikah wajib menanam minimal 25 batang pohon cengkeh sebelum Ia menikah. Jika tidak menanam cengkeh, pemerintah lewat lembaga keagamaan daerah tidak akan menikahkan pemuda tersebut. Kebijakan ini berjalan terus hingga akhirnya bisnis cengkeh hancur berantakan pada periode 90an usai keberadaan BPPC yang diinisasi Orde Baru. Kebijakan yang mewajibkan penanaman pohon cengkeh bagi pemuda yang hendak menikah ini membikin pulau Simeulue hingga saat ini didominasi tanaman cengkeh di luar komoditas lain semisal kemiri, pala, dan sawit yang kini mulai ditanam massal di Simeulue.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kehancuran komoditas cengkeh usai keberadaan BPPC di periode 90an, cengkeh kembali bangkit usai reformasi bergulir di negeri ini. Meski begitu, komoditas cengkeh di pulau Simeulue terlambat bangkit dibanding di daerah-daerah lainnya yang menghasilkan cengkeh di negeri ini. Hingga tsunami menggulung beberapa wilayah di Aceh, termasuk pulau Simeulue, komoditas cengkeh masih medioker di Simeulue, berbeda dengan wilayah lain di Indonesia yang usaha pertanian cengkehnya kembali bergeliat dengan harga yang sangat menguntungkan.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Susi Pujiastuti, seorang pengusaha sukses yang pada periode pertama masa kepemimpinan presiden Jokowi menjabat menteri kelautan dan perikanan yang kembali meningkatkan pamor komoditas cengkeh di pulau Simeulue. Ini terjadi pada tahun 2007. Kala itu, belenggu tengkulak di pulau Simeulue membikin harga cengkeh jatuh di pasaran, jauh lebih kecil dibandingkan dengan harga komoditas ini di wilayah lain di negeri ini. Sebagai perbandingan, harga cengkeh di wilayah lain, pada periode 2000an kembali mencapai titik tertingginya dengan harga beli di tingkat petani mencapai Rp100.000 per kilogram bahkan lebih, sedang di Simeulue, harga cengkeh maksimal berada di titik Rp30.000 saja per kilogramnya, bahkan di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan di pulau Simeulue, harga cengkeh jauh di bawah Rp30.000 per kilogram.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan informasi yang saya dapat dari banyak petani cengkeh di pulau Simeulue, pada 2007, untuk memutus rantai tengkulak, Bu Susi memborong cengkeh di pulau Simeulue dengan harga Rp100.000 per kilogram, mengikuti harga yang ditetapkan di pasar nasional. Rantai jahat tengkulak berhasil diputus. Dan sejak saat itu hingga kini, harga cengkeh di pulau Simeulue mengikuti harga pasar nasional, pertanian cengkeh kembali menggeliat di sana berkat peran nyata Bu Susi. Mulanya saya kurang percaya dengan informasi ini, namun, puluhan petani yang saya temui di Simeulue, juga pejabat di dinas perkebunan di pulau Simeulue, mengamini apa yang dilakukan Bu Susi terhadap komoditas cengkeh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Kembali bergeliatnya komoditas cengkeh di negeri ini usai diberangusnya BPPC pasca reformasi, tak lepas dari berjayanya industri rokok kretek dalam negeri. Rokok kretek berhasil menguasai lebih 90 persen pasar rokok nasional hingga hari ini. Dengan cengkeh sebagai salah satu bahan baku utama sekaligus bahan baku kunci rokok kretek, cengkeh menjadi komoditas yang menjanjikan dan menguntungkan petani.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, kejayaan petani cengkeh ini terancam dengan keberadaan gerakan antirokok dan kepentingan bisnis global yang berusaha merebut pasar rokok yang begitu menjanjikan di negeri ini. Sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar kedua di dunia di bawah China, Indonesia tentu saja menjadi bidikan serius kapitalisme global di bidang rokok dan farmasi. Merasa gagal bersaing secara sehat dengan produk rokok kretek, mereka kini terus-menerus berusaha menghancurkan keberadaan rokok kretek lewat regulasi yang dibikin semena-mena dan tidak adil dalam wujud Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). <\/p>\n\n\n\n

Salah satu pasal penting dalam FCTC, adalah pengharaman keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok yang beredar di pasaran. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, dan menerapkannya dalam peraturan usaha rokok di Indonesia, maka mau tidak mau, setiap produksi rokok yang ada di Indonesia tidak boleh mengandung cengkeh secuil pun. Ini artinya, tidak akan ada lagi produk rokok kretek yang diproduksi pabrikan-pabrikan rokok dalam negeri. Kretek hilang, dan komoditas cengkeh kembali menjadi semenjana.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi menuju peniadaan rokok kretek dan penghancuran pertanian cengkeh lewat ratifikasi FCTC ini sepertinya kian terang di negeri ini. Adalah Sri Mulyani, yang kini menjabat menteri keuangan di Indonesia yang mengambil peran besar dalam usaha peniadaan produk rokok kretek dan penghancuran cengkeh di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum, salah satu pemain utama dalam usaha menekan agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC adalah Bloomberg Initiatives. Dan Sri Mulyani, ada di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, di New York, Sri Mulyani juga sudah mengadakan pertemuan intensif dengan Bloomberg. Kado manis dari Sri Mulyani dengan menaikkan cukai rokok besar-besaran di negeri ini sudah diberikan kepada Bloomberg. Jika tidak dihalangi dengan gencar oleh seluruh stakeholder industri rokok di negeri ini, bukan tak mungkin kado istimewa lain dari Sri Mulyani kepada Bloomberg akan kembali diberikan, ratifikasi FCTC oleh pemerintah Indonesia. Rokok kretek mesti hilang dari pasar dalam negeri, dan petani cengkeh kembali merana.
<\/p>\n","post_title":"Susi Pujiastuti, Sri Mulyani, dan Perlakuan Mereka Terhadap Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"susi-pujiastuti-sri-mulyani-dan-perlakuan-mereka-terhadap-komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-21 08:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-21 01:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6465","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\n

PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n

Proxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi,  bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selama penelitian bertemu dengan puluhan petani cengkeh di Simeulue, ada tiga temuan menarik yang saya dapat hasil berbincang-bincang dengan banyak narasumber yang saya jumpai di sana. Dua temuan menarik terkait langsung dengan cengkeh, dan satu temuan lainnya tak ada kaitannya dengan cengkeh, lebih kepada bagaimana penduduk Simeulue berhasil menyelamatkan diri usai gempa besar dan tsunami melanda pulau tersebut pada akhir tahun 2004.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode 70an, ketika cengkeh kembali berjaya di pasaran dalam negeri, sejalan dengan menggeliatnya industri rokok kretek di Indonesia yang mulai menguasai pasar dalam negeri mengalahkan rokok putih yang sebelumnya menjadi promadona di Indonesia, masyarakat Simeulue kembali menanam cengkeh di perbukitan yang ada di wilayah mereka. Kondisi geografis pulau Simeulue yang berbukit-bukit dan dekat dengan laut memang mirip dengan kondisi geografis tempat pohon cengkeh awalnya berasal. Kondisi ini membikin cengkeh sangat cocok ditanam di pulau Simeulue dan tumbuh subur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Menyadari potensi cengkeh yang sangat menjanjikan, pada periode 70an, pejabat yang memimpin pulau Simeulue mengeluarkan peraturan yang tidak lazim. Ia mengeluarkan aturan bahwa seorang pemuda yang hendak menikah wajib menanam minimal 25 batang pohon cengkeh sebelum Ia menikah. Jika tidak menanam cengkeh, pemerintah lewat lembaga keagamaan daerah tidak akan menikahkan pemuda tersebut. Kebijakan ini berjalan terus hingga akhirnya bisnis cengkeh hancur berantakan pada periode 90an usai keberadaan BPPC yang diinisasi Orde Baru. Kebijakan yang mewajibkan penanaman pohon cengkeh bagi pemuda yang hendak menikah ini membikin pulau Simeulue hingga saat ini didominasi tanaman cengkeh di luar komoditas lain semisal kemiri, pala, dan sawit yang kini mulai ditanam massal di Simeulue.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kehancuran komoditas cengkeh usai keberadaan BPPC di periode 90an, cengkeh kembali bangkit usai reformasi bergulir di negeri ini. Meski begitu, komoditas cengkeh di pulau Simeulue terlambat bangkit dibanding di daerah-daerah lainnya yang menghasilkan cengkeh di negeri ini. Hingga tsunami menggulung beberapa wilayah di Aceh, termasuk pulau Simeulue, komoditas cengkeh masih medioker di Simeulue, berbeda dengan wilayah lain di Indonesia yang usaha pertanian cengkehnya kembali bergeliat dengan harga yang sangat menguntungkan.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Susi Pujiastuti, seorang pengusaha sukses yang pada periode pertama masa kepemimpinan presiden Jokowi menjabat menteri kelautan dan perikanan yang kembali meningkatkan pamor komoditas cengkeh di pulau Simeulue. Ini terjadi pada tahun 2007. Kala itu, belenggu tengkulak di pulau Simeulue membikin harga cengkeh jatuh di pasaran, jauh lebih kecil dibandingkan dengan harga komoditas ini di wilayah lain di negeri ini. Sebagai perbandingan, harga cengkeh di wilayah lain, pada periode 2000an kembali mencapai titik tertingginya dengan harga beli di tingkat petani mencapai Rp100.000 per kilogram bahkan lebih, sedang di Simeulue, harga cengkeh maksimal berada di titik Rp30.000 saja per kilogramnya, bahkan di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan di pulau Simeulue, harga cengkeh jauh di bawah Rp30.000 per kilogram.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan informasi yang saya dapat dari banyak petani cengkeh di pulau Simeulue, pada 2007, untuk memutus rantai tengkulak, Bu Susi memborong cengkeh di pulau Simeulue dengan harga Rp100.000 per kilogram, mengikuti harga yang ditetapkan di pasar nasional. Rantai jahat tengkulak berhasil diputus. Dan sejak saat itu hingga kini, harga cengkeh di pulau Simeulue mengikuti harga pasar nasional, pertanian cengkeh kembali menggeliat di sana berkat peran nyata Bu Susi. Mulanya saya kurang percaya dengan informasi ini, namun, puluhan petani yang saya temui di Simeulue, juga pejabat di dinas perkebunan di pulau Simeulue, mengamini apa yang dilakukan Bu Susi terhadap komoditas cengkeh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Kembali bergeliatnya komoditas cengkeh di negeri ini usai diberangusnya BPPC pasca reformasi, tak lepas dari berjayanya industri rokok kretek dalam negeri. Rokok kretek berhasil menguasai lebih 90 persen pasar rokok nasional hingga hari ini. Dengan cengkeh sebagai salah satu bahan baku utama sekaligus bahan baku kunci rokok kretek, cengkeh menjadi komoditas yang menjanjikan dan menguntungkan petani.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, kejayaan petani cengkeh ini terancam dengan keberadaan gerakan antirokok dan kepentingan bisnis global yang berusaha merebut pasar rokok yang begitu menjanjikan di negeri ini. Sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar kedua di dunia di bawah China, Indonesia tentu saja menjadi bidikan serius kapitalisme global di bidang rokok dan farmasi. Merasa gagal bersaing secara sehat dengan produk rokok kretek, mereka kini terus-menerus berusaha menghancurkan keberadaan rokok kretek lewat regulasi yang dibikin semena-mena dan tidak adil dalam wujud Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). <\/p>\n\n\n\n

Salah satu pasal penting dalam FCTC, adalah pengharaman keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok yang beredar di pasaran. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, dan menerapkannya dalam peraturan usaha rokok di Indonesia, maka mau tidak mau, setiap produksi rokok yang ada di Indonesia tidak boleh mengandung cengkeh secuil pun. Ini artinya, tidak akan ada lagi produk rokok kretek yang diproduksi pabrikan-pabrikan rokok dalam negeri. Kretek hilang, dan komoditas cengkeh kembali menjadi semenjana.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi menuju peniadaan rokok kretek dan penghancuran pertanian cengkeh lewat ratifikasi FCTC ini sepertinya kian terang di negeri ini. Adalah Sri Mulyani, yang kini menjabat menteri keuangan di Indonesia yang mengambil peran besar dalam usaha peniadaan produk rokok kretek dan penghancuran cengkeh di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum, salah satu pemain utama dalam usaha menekan agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC adalah Bloomberg Initiatives. Dan Sri Mulyani, ada di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, di New York, Sri Mulyani juga sudah mengadakan pertemuan intensif dengan Bloomberg. Kado manis dari Sri Mulyani dengan menaikkan cukai rokok besar-besaran di negeri ini sudah diberikan kepada Bloomberg. Jika tidak dihalangi dengan gencar oleh seluruh stakeholder industri rokok di negeri ini, bukan tak mungkin kado istimewa lain dari Sri Mulyani kepada Bloomberg akan kembali diberikan, ratifikasi FCTC oleh pemerintah Indonesia. Rokok kretek mesti hilang dari pasar dalam negeri, dan petani cengkeh kembali merana.
<\/p>\n","post_title":"Susi Pujiastuti, Sri Mulyani, dan Perlakuan Mereka Terhadap Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"susi-pujiastuti-sri-mulyani-dan-perlakuan-mereka-terhadap-komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-21 08:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-21 01:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6465","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\n

PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n

Proxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi,  bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sekira tiga tahun lalu, saya berkesempatan berkunjung ke pulau Simeulue di provinsi Aceh. Kunjungan saya ke pulau yang terkenal dengan hasil lobsternya ini adalah untuk bertemu dengan petani cengkeh. Selain dikenal dengan hasil lautnya terutama lobster, pulau Simeulue juga dikenal sebagai penghasil cengkeh terbesar di Aceh. Keberadaan cengkeh di Simeulue seusia dengan keberadaan penjajah kolonial di sana yang menginisiasi penanaman cengkeh guna mengembalikan modal perang penjajah kolonial yang mengeluarkan banyak biaya selama perang penaklukan Aceh yang terkenal itu.<\/p>\n\n\n\n

Selama penelitian bertemu dengan puluhan petani cengkeh di Simeulue, ada tiga temuan menarik yang saya dapat hasil berbincang-bincang dengan banyak narasumber yang saya jumpai di sana. Dua temuan menarik terkait langsung dengan cengkeh, dan satu temuan lainnya tak ada kaitannya dengan cengkeh, lebih kepada bagaimana penduduk Simeulue berhasil menyelamatkan diri usai gempa besar dan tsunami melanda pulau tersebut pada akhir tahun 2004.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode 70an, ketika cengkeh kembali berjaya di pasaran dalam negeri, sejalan dengan menggeliatnya industri rokok kretek di Indonesia yang mulai menguasai pasar dalam negeri mengalahkan rokok putih yang sebelumnya menjadi promadona di Indonesia, masyarakat Simeulue kembali menanam cengkeh di perbukitan yang ada di wilayah mereka. Kondisi geografis pulau Simeulue yang berbukit-bukit dan dekat dengan laut memang mirip dengan kondisi geografis tempat pohon cengkeh awalnya berasal. Kondisi ini membikin cengkeh sangat cocok ditanam di pulau Simeulue dan tumbuh subur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Menyadari potensi cengkeh yang sangat menjanjikan, pada periode 70an, pejabat yang memimpin pulau Simeulue mengeluarkan peraturan yang tidak lazim. Ia mengeluarkan aturan bahwa seorang pemuda yang hendak menikah wajib menanam minimal 25 batang pohon cengkeh sebelum Ia menikah. Jika tidak menanam cengkeh, pemerintah lewat lembaga keagamaan daerah tidak akan menikahkan pemuda tersebut. Kebijakan ini berjalan terus hingga akhirnya bisnis cengkeh hancur berantakan pada periode 90an usai keberadaan BPPC yang diinisasi Orde Baru. Kebijakan yang mewajibkan penanaman pohon cengkeh bagi pemuda yang hendak menikah ini membikin pulau Simeulue hingga saat ini didominasi tanaman cengkeh di luar komoditas lain semisal kemiri, pala, dan sawit yang kini mulai ditanam massal di Simeulue.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kehancuran komoditas cengkeh usai keberadaan BPPC di periode 90an, cengkeh kembali bangkit usai reformasi bergulir di negeri ini. Meski begitu, komoditas cengkeh di pulau Simeulue terlambat bangkit dibanding di daerah-daerah lainnya yang menghasilkan cengkeh di negeri ini. Hingga tsunami menggulung beberapa wilayah di Aceh, termasuk pulau Simeulue, komoditas cengkeh masih medioker di Simeulue, berbeda dengan wilayah lain di Indonesia yang usaha pertanian cengkehnya kembali bergeliat dengan harga yang sangat menguntungkan.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Susi Pujiastuti, seorang pengusaha sukses yang pada periode pertama masa kepemimpinan presiden Jokowi menjabat menteri kelautan dan perikanan yang kembali meningkatkan pamor komoditas cengkeh di pulau Simeulue. Ini terjadi pada tahun 2007. Kala itu, belenggu tengkulak di pulau Simeulue membikin harga cengkeh jatuh di pasaran, jauh lebih kecil dibandingkan dengan harga komoditas ini di wilayah lain di negeri ini. Sebagai perbandingan, harga cengkeh di wilayah lain, pada periode 2000an kembali mencapai titik tertingginya dengan harga beli di tingkat petani mencapai Rp100.000 per kilogram bahkan lebih, sedang di Simeulue, harga cengkeh maksimal berada di titik Rp30.000 saja per kilogramnya, bahkan di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan di pulau Simeulue, harga cengkeh jauh di bawah Rp30.000 per kilogram.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan informasi yang saya dapat dari banyak petani cengkeh di pulau Simeulue, pada 2007, untuk memutus rantai tengkulak, Bu Susi memborong cengkeh di pulau Simeulue dengan harga Rp100.000 per kilogram, mengikuti harga yang ditetapkan di pasar nasional. Rantai jahat tengkulak berhasil diputus. Dan sejak saat itu hingga kini, harga cengkeh di pulau Simeulue mengikuti harga pasar nasional, pertanian cengkeh kembali menggeliat di sana berkat peran nyata Bu Susi. Mulanya saya kurang percaya dengan informasi ini, namun, puluhan petani yang saya temui di Simeulue, juga pejabat di dinas perkebunan di pulau Simeulue, mengamini apa yang dilakukan Bu Susi terhadap komoditas cengkeh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Kembali bergeliatnya komoditas cengkeh di negeri ini usai diberangusnya BPPC pasca reformasi, tak lepas dari berjayanya industri rokok kretek dalam negeri. Rokok kretek berhasil menguasai lebih 90 persen pasar rokok nasional hingga hari ini. Dengan cengkeh sebagai salah satu bahan baku utama sekaligus bahan baku kunci rokok kretek, cengkeh menjadi komoditas yang menjanjikan dan menguntungkan petani.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, kejayaan petani cengkeh ini terancam dengan keberadaan gerakan antirokok dan kepentingan bisnis global yang berusaha merebut pasar rokok yang begitu menjanjikan di negeri ini. Sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar kedua di dunia di bawah China, Indonesia tentu saja menjadi bidikan serius kapitalisme global di bidang rokok dan farmasi. Merasa gagal bersaing secara sehat dengan produk rokok kretek, mereka kini terus-menerus berusaha menghancurkan keberadaan rokok kretek lewat regulasi yang dibikin semena-mena dan tidak adil dalam wujud Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). <\/p>\n\n\n\n

Salah satu pasal penting dalam FCTC, adalah pengharaman keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok yang beredar di pasaran. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, dan menerapkannya dalam peraturan usaha rokok di Indonesia, maka mau tidak mau, setiap produksi rokok yang ada di Indonesia tidak boleh mengandung cengkeh secuil pun. Ini artinya, tidak akan ada lagi produk rokok kretek yang diproduksi pabrikan-pabrikan rokok dalam negeri. Kretek hilang, dan komoditas cengkeh kembali menjadi semenjana.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi menuju peniadaan rokok kretek dan penghancuran pertanian cengkeh lewat ratifikasi FCTC ini sepertinya kian terang di negeri ini. Adalah Sri Mulyani, yang kini menjabat menteri keuangan di Indonesia yang mengambil peran besar dalam usaha peniadaan produk rokok kretek dan penghancuran cengkeh di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum, salah satu pemain utama dalam usaha menekan agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC adalah Bloomberg Initiatives. Dan Sri Mulyani, ada di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, di New York, Sri Mulyani juga sudah mengadakan pertemuan intensif dengan Bloomberg. Kado manis dari Sri Mulyani dengan menaikkan cukai rokok besar-besaran di negeri ini sudah diberikan kepada Bloomberg. Jika tidak dihalangi dengan gencar oleh seluruh stakeholder industri rokok di negeri ini, bukan tak mungkin kado istimewa lain dari Sri Mulyani kepada Bloomberg akan kembali diberikan, ratifikasi FCTC oleh pemerintah Indonesia. Rokok kretek mesti hilang dari pasar dalam negeri, dan petani cengkeh kembali merana.
<\/p>\n","post_title":"Susi Pujiastuti, Sri Mulyani, dan Perlakuan Mereka Terhadap Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"susi-pujiastuti-sri-mulyani-dan-perlakuan-mereka-terhadap-komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-21 08:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-21 01:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6465","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\n

PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n

Proxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi,  bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6465,"post_author":"878","post_date":"2020-02-21 08:17:35","post_date_gmt":"2020-02-21 01:17:35","post_content":"\n

Sekira tiga tahun lalu, saya berkesempatan berkunjung ke pulau Simeulue di provinsi Aceh. Kunjungan saya ke pulau yang terkenal dengan hasil lobsternya ini adalah untuk bertemu dengan petani cengkeh. Selain dikenal dengan hasil lautnya terutama lobster, pulau Simeulue juga dikenal sebagai penghasil cengkeh terbesar di Aceh. Keberadaan cengkeh di Simeulue seusia dengan keberadaan penjajah kolonial di sana yang menginisiasi penanaman cengkeh guna mengembalikan modal perang penjajah kolonial yang mengeluarkan banyak biaya selama perang penaklukan Aceh yang terkenal itu.<\/p>\n\n\n\n

Selama penelitian bertemu dengan puluhan petani cengkeh di Simeulue, ada tiga temuan menarik yang saya dapat hasil berbincang-bincang dengan banyak narasumber yang saya jumpai di sana. Dua temuan menarik terkait langsung dengan cengkeh, dan satu temuan lainnya tak ada kaitannya dengan cengkeh, lebih kepada bagaimana penduduk Simeulue berhasil menyelamatkan diri usai gempa besar dan tsunami melanda pulau tersebut pada akhir tahun 2004.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode 70an, ketika cengkeh kembali berjaya di pasaran dalam negeri, sejalan dengan menggeliatnya industri rokok kretek di Indonesia yang mulai menguasai pasar dalam negeri mengalahkan rokok putih yang sebelumnya menjadi promadona di Indonesia, masyarakat Simeulue kembali menanam cengkeh di perbukitan yang ada di wilayah mereka. Kondisi geografis pulau Simeulue yang berbukit-bukit dan dekat dengan laut memang mirip dengan kondisi geografis tempat pohon cengkeh awalnya berasal. Kondisi ini membikin cengkeh sangat cocok ditanam di pulau Simeulue dan tumbuh subur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Menyadari potensi cengkeh yang sangat menjanjikan, pada periode 70an, pejabat yang memimpin pulau Simeulue mengeluarkan peraturan yang tidak lazim. Ia mengeluarkan aturan bahwa seorang pemuda yang hendak menikah wajib menanam minimal 25 batang pohon cengkeh sebelum Ia menikah. Jika tidak menanam cengkeh, pemerintah lewat lembaga keagamaan daerah tidak akan menikahkan pemuda tersebut. Kebijakan ini berjalan terus hingga akhirnya bisnis cengkeh hancur berantakan pada periode 90an usai keberadaan BPPC yang diinisasi Orde Baru. Kebijakan yang mewajibkan penanaman pohon cengkeh bagi pemuda yang hendak menikah ini membikin pulau Simeulue hingga saat ini didominasi tanaman cengkeh di luar komoditas lain semisal kemiri, pala, dan sawit yang kini mulai ditanam massal di Simeulue.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kehancuran komoditas cengkeh usai keberadaan BPPC di periode 90an, cengkeh kembali bangkit usai reformasi bergulir di negeri ini. Meski begitu, komoditas cengkeh di pulau Simeulue terlambat bangkit dibanding di daerah-daerah lainnya yang menghasilkan cengkeh di negeri ini. Hingga tsunami menggulung beberapa wilayah di Aceh, termasuk pulau Simeulue, komoditas cengkeh masih medioker di Simeulue, berbeda dengan wilayah lain di Indonesia yang usaha pertanian cengkehnya kembali bergeliat dengan harga yang sangat menguntungkan.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Susi Pujiastuti, seorang pengusaha sukses yang pada periode pertama masa kepemimpinan presiden Jokowi menjabat menteri kelautan dan perikanan yang kembali meningkatkan pamor komoditas cengkeh di pulau Simeulue. Ini terjadi pada tahun 2007. Kala itu, belenggu tengkulak di pulau Simeulue membikin harga cengkeh jatuh di pasaran, jauh lebih kecil dibandingkan dengan harga komoditas ini di wilayah lain di negeri ini. Sebagai perbandingan, harga cengkeh di wilayah lain, pada periode 2000an kembali mencapai titik tertingginya dengan harga beli di tingkat petani mencapai Rp100.000 per kilogram bahkan lebih, sedang di Simeulue, harga cengkeh maksimal berada di titik Rp30.000 saja per kilogramnya, bahkan di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan di pulau Simeulue, harga cengkeh jauh di bawah Rp30.000 per kilogram.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan informasi yang saya dapat dari banyak petani cengkeh di pulau Simeulue, pada 2007, untuk memutus rantai tengkulak, Bu Susi memborong cengkeh di pulau Simeulue dengan harga Rp100.000 per kilogram, mengikuti harga yang ditetapkan di pasar nasional. Rantai jahat tengkulak berhasil diputus. Dan sejak saat itu hingga kini, harga cengkeh di pulau Simeulue mengikuti harga pasar nasional, pertanian cengkeh kembali menggeliat di sana berkat peran nyata Bu Susi. Mulanya saya kurang percaya dengan informasi ini, namun, puluhan petani yang saya temui di Simeulue, juga pejabat di dinas perkebunan di pulau Simeulue, mengamini apa yang dilakukan Bu Susi terhadap komoditas cengkeh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Kembali bergeliatnya komoditas cengkeh di negeri ini usai diberangusnya BPPC pasca reformasi, tak lepas dari berjayanya industri rokok kretek dalam negeri. Rokok kretek berhasil menguasai lebih 90 persen pasar rokok nasional hingga hari ini. Dengan cengkeh sebagai salah satu bahan baku utama sekaligus bahan baku kunci rokok kretek, cengkeh menjadi komoditas yang menjanjikan dan menguntungkan petani.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, kejayaan petani cengkeh ini terancam dengan keberadaan gerakan antirokok dan kepentingan bisnis global yang berusaha merebut pasar rokok yang begitu menjanjikan di negeri ini. Sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar kedua di dunia di bawah China, Indonesia tentu saja menjadi bidikan serius kapitalisme global di bidang rokok dan farmasi. Merasa gagal bersaing secara sehat dengan produk rokok kretek, mereka kini terus-menerus berusaha menghancurkan keberadaan rokok kretek lewat regulasi yang dibikin semena-mena dan tidak adil dalam wujud Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). <\/p>\n\n\n\n

Salah satu pasal penting dalam FCTC, adalah pengharaman keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok yang beredar di pasaran. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, dan menerapkannya dalam peraturan usaha rokok di Indonesia, maka mau tidak mau, setiap produksi rokok yang ada di Indonesia tidak boleh mengandung cengkeh secuil pun. Ini artinya, tidak akan ada lagi produk rokok kretek yang diproduksi pabrikan-pabrikan rokok dalam negeri. Kretek hilang, dan komoditas cengkeh kembali menjadi semenjana.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi menuju peniadaan rokok kretek dan penghancuran pertanian cengkeh lewat ratifikasi FCTC ini sepertinya kian terang di negeri ini. Adalah Sri Mulyani, yang kini menjabat menteri keuangan di Indonesia yang mengambil peran besar dalam usaha peniadaan produk rokok kretek dan penghancuran cengkeh di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum, salah satu pemain utama dalam usaha menekan agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC adalah Bloomberg Initiatives. Dan Sri Mulyani, ada di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, di New York, Sri Mulyani juga sudah mengadakan pertemuan intensif dengan Bloomberg. Kado manis dari Sri Mulyani dengan menaikkan cukai rokok besar-besaran di negeri ini sudah diberikan kepada Bloomberg. Jika tidak dihalangi dengan gencar oleh seluruh stakeholder industri rokok di negeri ini, bukan tak mungkin kado istimewa lain dari Sri Mulyani kepada Bloomberg akan kembali diberikan, ratifikasi FCTC oleh pemerintah Indonesia. Rokok kretek mesti hilang dari pasar dalam negeri, dan petani cengkeh kembali merana.
<\/p>\n","post_title":"Susi Pujiastuti, Sri Mulyani, dan Perlakuan Mereka Terhadap Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"susi-pujiastuti-sri-mulyani-dan-perlakuan-mereka-terhadap-komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-21 08:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-21 01:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6465","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\n

PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n

Proxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi,  bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6465,"post_author":"878","post_date":"2020-02-21 08:17:35","post_date_gmt":"2020-02-21 01:17:35","post_content":"\n

Sekira tiga tahun lalu, saya berkesempatan berkunjung ke pulau Simeulue di provinsi Aceh. Kunjungan saya ke pulau yang terkenal dengan hasil lobsternya ini adalah untuk bertemu dengan petani cengkeh. Selain dikenal dengan hasil lautnya terutama lobster, pulau Simeulue juga dikenal sebagai penghasil cengkeh terbesar di Aceh. Keberadaan cengkeh di Simeulue seusia dengan keberadaan penjajah kolonial di sana yang menginisiasi penanaman cengkeh guna mengembalikan modal perang penjajah kolonial yang mengeluarkan banyak biaya selama perang penaklukan Aceh yang terkenal itu.<\/p>\n\n\n\n

Selama penelitian bertemu dengan puluhan petani cengkeh di Simeulue, ada tiga temuan menarik yang saya dapat hasil berbincang-bincang dengan banyak narasumber yang saya jumpai di sana. Dua temuan menarik terkait langsung dengan cengkeh, dan satu temuan lainnya tak ada kaitannya dengan cengkeh, lebih kepada bagaimana penduduk Simeulue berhasil menyelamatkan diri usai gempa besar dan tsunami melanda pulau tersebut pada akhir tahun 2004.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode 70an, ketika cengkeh kembali berjaya di pasaran dalam negeri, sejalan dengan menggeliatnya industri rokok kretek di Indonesia yang mulai menguasai pasar dalam negeri mengalahkan rokok putih yang sebelumnya menjadi promadona di Indonesia, masyarakat Simeulue kembali menanam cengkeh di perbukitan yang ada di wilayah mereka. Kondisi geografis pulau Simeulue yang berbukit-bukit dan dekat dengan laut memang mirip dengan kondisi geografis tempat pohon cengkeh awalnya berasal. Kondisi ini membikin cengkeh sangat cocok ditanam di pulau Simeulue dan tumbuh subur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Menyadari potensi cengkeh yang sangat menjanjikan, pada periode 70an, pejabat yang memimpin pulau Simeulue mengeluarkan peraturan yang tidak lazim. Ia mengeluarkan aturan bahwa seorang pemuda yang hendak menikah wajib menanam minimal 25 batang pohon cengkeh sebelum Ia menikah. Jika tidak menanam cengkeh, pemerintah lewat lembaga keagamaan daerah tidak akan menikahkan pemuda tersebut. Kebijakan ini berjalan terus hingga akhirnya bisnis cengkeh hancur berantakan pada periode 90an usai keberadaan BPPC yang diinisasi Orde Baru. Kebijakan yang mewajibkan penanaman pohon cengkeh bagi pemuda yang hendak menikah ini membikin pulau Simeulue hingga saat ini didominasi tanaman cengkeh di luar komoditas lain semisal kemiri, pala, dan sawit yang kini mulai ditanam massal di Simeulue.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kehancuran komoditas cengkeh usai keberadaan BPPC di periode 90an, cengkeh kembali bangkit usai reformasi bergulir di negeri ini. Meski begitu, komoditas cengkeh di pulau Simeulue terlambat bangkit dibanding di daerah-daerah lainnya yang menghasilkan cengkeh di negeri ini. Hingga tsunami menggulung beberapa wilayah di Aceh, termasuk pulau Simeulue, komoditas cengkeh masih medioker di Simeulue, berbeda dengan wilayah lain di Indonesia yang usaha pertanian cengkehnya kembali bergeliat dengan harga yang sangat menguntungkan.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Susi Pujiastuti, seorang pengusaha sukses yang pada periode pertama masa kepemimpinan presiden Jokowi menjabat menteri kelautan dan perikanan yang kembali meningkatkan pamor komoditas cengkeh di pulau Simeulue. Ini terjadi pada tahun 2007. Kala itu, belenggu tengkulak di pulau Simeulue membikin harga cengkeh jatuh di pasaran, jauh lebih kecil dibandingkan dengan harga komoditas ini di wilayah lain di negeri ini. Sebagai perbandingan, harga cengkeh di wilayah lain, pada periode 2000an kembali mencapai titik tertingginya dengan harga beli di tingkat petani mencapai Rp100.000 per kilogram bahkan lebih, sedang di Simeulue, harga cengkeh maksimal berada di titik Rp30.000 saja per kilogramnya, bahkan di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan di pulau Simeulue, harga cengkeh jauh di bawah Rp30.000 per kilogram.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan informasi yang saya dapat dari banyak petani cengkeh di pulau Simeulue, pada 2007, untuk memutus rantai tengkulak, Bu Susi memborong cengkeh di pulau Simeulue dengan harga Rp100.000 per kilogram, mengikuti harga yang ditetapkan di pasar nasional. Rantai jahat tengkulak berhasil diputus. Dan sejak saat itu hingga kini, harga cengkeh di pulau Simeulue mengikuti harga pasar nasional, pertanian cengkeh kembali menggeliat di sana berkat peran nyata Bu Susi. Mulanya saya kurang percaya dengan informasi ini, namun, puluhan petani yang saya temui di Simeulue, juga pejabat di dinas perkebunan di pulau Simeulue, mengamini apa yang dilakukan Bu Susi terhadap komoditas cengkeh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Kembali bergeliatnya komoditas cengkeh di negeri ini usai diberangusnya BPPC pasca reformasi, tak lepas dari berjayanya industri rokok kretek dalam negeri. Rokok kretek berhasil menguasai lebih 90 persen pasar rokok nasional hingga hari ini. Dengan cengkeh sebagai salah satu bahan baku utama sekaligus bahan baku kunci rokok kretek, cengkeh menjadi komoditas yang menjanjikan dan menguntungkan petani.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, kejayaan petani cengkeh ini terancam dengan keberadaan gerakan antirokok dan kepentingan bisnis global yang berusaha merebut pasar rokok yang begitu menjanjikan di negeri ini. Sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar kedua di dunia di bawah China, Indonesia tentu saja menjadi bidikan serius kapitalisme global di bidang rokok dan farmasi. Merasa gagal bersaing secara sehat dengan produk rokok kretek, mereka kini terus-menerus berusaha menghancurkan keberadaan rokok kretek lewat regulasi yang dibikin semena-mena dan tidak adil dalam wujud Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). <\/p>\n\n\n\n

Salah satu pasal penting dalam FCTC, adalah pengharaman keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok yang beredar di pasaran. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, dan menerapkannya dalam peraturan usaha rokok di Indonesia, maka mau tidak mau, setiap produksi rokok yang ada di Indonesia tidak boleh mengandung cengkeh secuil pun. Ini artinya, tidak akan ada lagi produk rokok kretek yang diproduksi pabrikan-pabrikan rokok dalam negeri. Kretek hilang, dan komoditas cengkeh kembali menjadi semenjana.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi menuju peniadaan rokok kretek dan penghancuran pertanian cengkeh lewat ratifikasi FCTC ini sepertinya kian terang di negeri ini. Adalah Sri Mulyani, yang kini menjabat menteri keuangan di Indonesia yang mengambil peran besar dalam usaha peniadaan produk rokok kretek dan penghancuran cengkeh di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum, salah satu pemain utama dalam usaha menekan agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC adalah Bloomberg Initiatives. Dan Sri Mulyani, ada di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, di New York, Sri Mulyani juga sudah mengadakan pertemuan intensif dengan Bloomberg. Kado manis dari Sri Mulyani dengan menaikkan cukai rokok besar-besaran di negeri ini sudah diberikan kepada Bloomberg. Jika tidak dihalangi dengan gencar oleh seluruh stakeholder industri rokok di negeri ini, bukan tak mungkin kado istimewa lain dari Sri Mulyani kepada Bloomberg akan kembali diberikan, ratifikasi FCTC oleh pemerintah Indonesia. Rokok kretek mesti hilang dari pasar dalam negeri, dan petani cengkeh kembali merana.
<\/p>\n","post_title":"Susi Pujiastuti, Sri Mulyani, dan Perlakuan Mereka Terhadap Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"susi-pujiastuti-sri-mulyani-dan-perlakuan-mereka-terhadap-komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-21 08:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-21 01:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6465","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\n

PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n

Proxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi,  bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6465,"post_author":"878","post_date":"2020-02-21 08:17:35","post_date_gmt":"2020-02-21 01:17:35","post_content":"\n

Sekira tiga tahun lalu, saya berkesempatan berkunjung ke pulau Simeulue di provinsi Aceh. Kunjungan saya ke pulau yang terkenal dengan hasil lobsternya ini adalah untuk bertemu dengan petani cengkeh. Selain dikenal dengan hasil lautnya terutama lobster, pulau Simeulue juga dikenal sebagai penghasil cengkeh terbesar di Aceh. Keberadaan cengkeh di Simeulue seusia dengan keberadaan penjajah kolonial di sana yang menginisiasi penanaman cengkeh guna mengembalikan modal perang penjajah kolonial yang mengeluarkan banyak biaya selama perang penaklukan Aceh yang terkenal itu.<\/p>\n\n\n\n

Selama penelitian bertemu dengan puluhan petani cengkeh di Simeulue, ada tiga temuan menarik yang saya dapat hasil berbincang-bincang dengan banyak narasumber yang saya jumpai di sana. Dua temuan menarik terkait langsung dengan cengkeh, dan satu temuan lainnya tak ada kaitannya dengan cengkeh, lebih kepada bagaimana penduduk Simeulue berhasil menyelamatkan diri usai gempa besar dan tsunami melanda pulau tersebut pada akhir tahun 2004.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode 70an, ketika cengkeh kembali berjaya di pasaran dalam negeri, sejalan dengan menggeliatnya industri rokok kretek di Indonesia yang mulai menguasai pasar dalam negeri mengalahkan rokok putih yang sebelumnya menjadi promadona di Indonesia, masyarakat Simeulue kembali menanam cengkeh di perbukitan yang ada di wilayah mereka. Kondisi geografis pulau Simeulue yang berbukit-bukit dan dekat dengan laut memang mirip dengan kondisi geografis tempat pohon cengkeh awalnya berasal. Kondisi ini membikin cengkeh sangat cocok ditanam di pulau Simeulue dan tumbuh subur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Menyadari potensi cengkeh yang sangat menjanjikan, pada periode 70an, pejabat yang memimpin pulau Simeulue mengeluarkan peraturan yang tidak lazim. Ia mengeluarkan aturan bahwa seorang pemuda yang hendak menikah wajib menanam minimal 25 batang pohon cengkeh sebelum Ia menikah. Jika tidak menanam cengkeh, pemerintah lewat lembaga keagamaan daerah tidak akan menikahkan pemuda tersebut. Kebijakan ini berjalan terus hingga akhirnya bisnis cengkeh hancur berantakan pada periode 90an usai keberadaan BPPC yang diinisasi Orde Baru. Kebijakan yang mewajibkan penanaman pohon cengkeh bagi pemuda yang hendak menikah ini membikin pulau Simeulue hingga saat ini didominasi tanaman cengkeh di luar komoditas lain semisal kemiri, pala, dan sawit yang kini mulai ditanam massal di Simeulue.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kehancuran komoditas cengkeh usai keberadaan BPPC di periode 90an, cengkeh kembali bangkit usai reformasi bergulir di negeri ini. Meski begitu, komoditas cengkeh di pulau Simeulue terlambat bangkit dibanding di daerah-daerah lainnya yang menghasilkan cengkeh di negeri ini. Hingga tsunami menggulung beberapa wilayah di Aceh, termasuk pulau Simeulue, komoditas cengkeh masih medioker di Simeulue, berbeda dengan wilayah lain di Indonesia yang usaha pertanian cengkehnya kembali bergeliat dengan harga yang sangat menguntungkan.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Susi Pujiastuti, seorang pengusaha sukses yang pada periode pertama masa kepemimpinan presiden Jokowi menjabat menteri kelautan dan perikanan yang kembali meningkatkan pamor komoditas cengkeh di pulau Simeulue. Ini terjadi pada tahun 2007. Kala itu, belenggu tengkulak di pulau Simeulue membikin harga cengkeh jatuh di pasaran, jauh lebih kecil dibandingkan dengan harga komoditas ini di wilayah lain di negeri ini. Sebagai perbandingan, harga cengkeh di wilayah lain, pada periode 2000an kembali mencapai titik tertingginya dengan harga beli di tingkat petani mencapai Rp100.000 per kilogram bahkan lebih, sedang di Simeulue, harga cengkeh maksimal berada di titik Rp30.000 saja per kilogramnya, bahkan di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan di pulau Simeulue, harga cengkeh jauh di bawah Rp30.000 per kilogram.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan informasi yang saya dapat dari banyak petani cengkeh di pulau Simeulue, pada 2007, untuk memutus rantai tengkulak, Bu Susi memborong cengkeh di pulau Simeulue dengan harga Rp100.000 per kilogram, mengikuti harga yang ditetapkan di pasar nasional. Rantai jahat tengkulak berhasil diputus. Dan sejak saat itu hingga kini, harga cengkeh di pulau Simeulue mengikuti harga pasar nasional, pertanian cengkeh kembali menggeliat di sana berkat peran nyata Bu Susi. Mulanya saya kurang percaya dengan informasi ini, namun, puluhan petani yang saya temui di Simeulue, juga pejabat di dinas perkebunan di pulau Simeulue, mengamini apa yang dilakukan Bu Susi terhadap komoditas cengkeh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Kembali bergeliatnya komoditas cengkeh di negeri ini usai diberangusnya BPPC pasca reformasi, tak lepas dari berjayanya industri rokok kretek dalam negeri. Rokok kretek berhasil menguasai lebih 90 persen pasar rokok nasional hingga hari ini. Dengan cengkeh sebagai salah satu bahan baku utama sekaligus bahan baku kunci rokok kretek, cengkeh menjadi komoditas yang menjanjikan dan menguntungkan petani.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, kejayaan petani cengkeh ini terancam dengan keberadaan gerakan antirokok dan kepentingan bisnis global yang berusaha merebut pasar rokok yang begitu menjanjikan di negeri ini. Sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar kedua di dunia di bawah China, Indonesia tentu saja menjadi bidikan serius kapitalisme global di bidang rokok dan farmasi. Merasa gagal bersaing secara sehat dengan produk rokok kretek, mereka kini terus-menerus berusaha menghancurkan keberadaan rokok kretek lewat regulasi yang dibikin semena-mena dan tidak adil dalam wujud Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). <\/p>\n\n\n\n

Salah satu pasal penting dalam FCTC, adalah pengharaman keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok yang beredar di pasaran. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, dan menerapkannya dalam peraturan usaha rokok di Indonesia, maka mau tidak mau, setiap produksi rokok yang ada di Indonesia tidak boleh mengandung cengkeh secuil pun. Ini artinya, tidak akan ada lagi produk rokok kretek yang diproduksi pabrikan-pabrikan rokok dalam negeri. Kretek hilang, dan komoditas cengkeh kembali menjadi semenjana.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi menuju peniadaan rokok kretek dan penghancuran pertanian cengkeh lewat ratifikasi FCTC ini sepertinya kian terang di negeri ini. Adalah Sri Mulyani, yang kini menjabat menteri keuangan di Indonesia yang mengambil peran besar dalam usaha peniadaan produk rokok kretek dan penghancuran cengkeh di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum, salah satu pemain utama dalam usaha menekan agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC adalah Bloomberg Initiatives. Dan Sri Mulyani, ada di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, di New York, Sri Mulyani juga sudah mengadakan pertemuan intensif dengan Bloomberg. Kado manis dari Sri Mulyani dengan menaikkan cukai rokok besar-besaran di negeri ini sudah diberikan kepada Bloomberg. Jika tidak dihalangi dengan gencar oleh seluruh stakeholder industri rokok di negeri ini, bukan tak mungkin kado istimewa lain dari Sri Mulyani kepada Bloomberg akan kembali diberikan, ratifikasi FCTC oleh pemerintah Indonesia. Rokok kretek mesti hilang dari pasar dalam negeri, dan petani cengkeh kembali merana.
<\/p>\n","post_title":"Susi Pujiastuti, Sri Mulyani, dan Perlakuan Mereka Terhadap Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"susi-pujiastuti-sri-mulyani-dan-perlakuan-mereka-terhadap-komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-21 08:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-21 01:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6465","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\n

PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n

Proxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi,  bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6465,"post_author":"878","post_date":"2020-02-21 08:17:35","post_date_gmt":"2020-02-21 01:17:35","post_content":"\n

Sekira tiga tahun lalu, saya berkesempatan berkunjung ke pulau Simeulue di provinsi Aceh. Kunjungan saya ke pulau yang terkenal dengan hasil lobsternya ini adalah untuk bertemu dengan petani cengkeh. Selain dikenal dengan hasil lautnya terutama lobster, pulau Simeulue juga dikenal sebagai penghasil cengkeh terbesar di Aceh. Keberadaan cengkeh di Simeulue seusia dengan keberadaan penjajah kolonial di sana yang menginisiasi penanaman cengkeh guna mengembalikan modal perang penjajah kolonial yang mengeluarkan banyak biaya selama perang penaklukan Aceh yang terkenal itu.<\/p>\n\n\n\n

Selama penelitian bertemu dengan puluhan petani cengkeh di Simeulue, ada tiga temuan menarik yang saya dapat hasil berbincang-bincang dengan banyak narasumber yang saya jumpai di sana. Dua temuan menarik terkait langsung dengan cengkeh, dan satu temuan lainnya tak ada kaitannya dengan cengkeh, lebih kepada bagaimana penduduk Simeulue berhasil menyelamatkan diri usai gempa besar dan tsunami melanda pulau tersebut pada akhir tahun 2004.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode 70an, ketika cengkeh kembali berjaya di pasaran dalam negeri, sejalan dengan menggeliatnya industri rokok kretek di Indonesia yang mulai menguasai pasar dalam negeri mengalahkan rokok putih yang sebelumnya menjadi promadona di Indonesia, masyarakat Simeulue kembali menanam cengkeh di perbukitan yang ada di wilayah mereka. Kondisi geografis pulau Simeulue yang berbukit-bukit dan dekat dengan laut memang mirip dengan kondisi geografis tempat pohon cengkeh awalnya berasal. Kondisi ini membikin cengkeh sangat cocok ditanam di pulau Simeulue dan tumbuh subur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Menyadari potensi cengkeh yang sangat menjanjikan, pada periode 70an, pejabat yang memimpin pulau Simeulue mengeluarkan peraturan yang tidak lazim. Ia mengeluarkan aturan bahwa seorang pemuda yang hendak menikah wajib menanam minimal 25 batang pohon cengkeh sebelum Ia menikah. Jika tidak menanam cengkeh, pemerintah lewat lembaga keagamaan daerah tidak akan menikahkan pemuda tersebut. Kebijakan ini berjalan terus hingga akhirnya bisnis cengkeh hancur berantakan pada periode 90an usai keberadaan BPPC yang diinisasi Orde Baru. Kebijakan yang mewajibkan penanaman pohon cengkeh bagi pemuda yang hendak menikah ini membikin pulau Simeulue hingga saat ini didominasi tanaman cengkeh di luar komoditas lain semisal kemiri, pala, dan sawit yang kini mulai ditanam massal di Simeulue.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kehancuran komoditas cengkeh usai keberadaan BPPC di periode 90an, cengkeh kembali bangkit usai reformasi bergulir di negeri ini. Meski begitu, komoditas cengkeh di pulau Simeulue terlambat bangkit dibanding di daerah-daerah lainnya yang menghasilkan cengkeh di negeri ini. Hingga tsunami menggulung beberapa wilayah di Aceh, termasuk pulau Simeulue, komoditas cengkeh masih medioker di Simeulue, berbeda dengan wilayah lain di Indonesia yang usaha pertanian cengkehnya kembali bergeliat dengan harga yang sangat menguntungkan.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Susi Pujiastuti, seorang pengusaha sukses yang pada periode pertama masa kepemimpinan presiden Jokowi menjabat menteri kelautan dan perikanan yang kembali meningkatkan pamor komoditas cengkeh di pulau Simeulue. Ini terjadi pada tahun 2007. Kala itu, belenggu tengkulak di pulau Simeulue membikin harga cengkeh jatuh di pasaran, jauh lebih kecil dibandingkan dengan harga komoditas ini di wilayah lain di negeri ini. Sebagai perbandingan, harga cengkeh di wilayah lain, pada periode 2000an kembali mencapai titik tertingginya dengan harga beli di tingkat petani mencapai Rp100.000 per kilogram bahkan lebih, sedang di Simeulue, harga cengkeh maksimal berada di titik Rp30.000 saja per kilogramnya, bahkan di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan di pulau Simeulue, harga cengkeh jauh di bawah Rp30.000 per kilogram.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan informasi yang saya dapat dari banyak petani cengkeh di pulau Simeulue, pada 2007, untuk memutus rantai tengkulak, Bu Susi memborong cengkeh di pulau Simeulue dengan harga Rp100.000 per kilogram, mengikuti harga yang ditetapkan di pasar nasional. Rantai jahat tengkulak berhasil diputus. Dan sejak saat itu hingga kini, harga cengkeh di pulau Simeulue mengikuti harga pasar nasional, pertanian cengkeh kembali menggeliat di sana berkat peran nyata Bu Susi. Mulanya saya kurang percaya dengan informasi ini, namun, puluhan petani yang saya temui di Simeulue, juga pejabat di dinas perkebunan di pulau Simeulue, mengamini apa yang dilakukan Bu Susi terhadap komoditas cengkeh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Kembali bergeliatnya komoditas cengkeh di negeri ini usai diberangusnya BPPC pasca reformasi, tak lepas dari berjayanya industri rokok kretek dalam negeri. Rokok kretek berhasil menguasai lebih 90 persen pasar rokok nasional hingga hari ini. Dengan cengkeh sebagai salah satu bahan baku utama sekaligus bahan baku kunci rokok kretek, cengkeh menjadi komoditas yang menjanjikan dan menguntungkan petani.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, kejayaan petani cengkeh ini terancam dengan keberadaan gerakan antirokok dan kepentingan bisnis global yang berusaha merebut pasar rokok yang begitu menjanjikan di negeri ini. Sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar kedua di dunia di bawah China, Indonesia tentu saja menjadi bidikan serius kapitalisme global di bidang rokok dan farmasi. Merasa gagal bersaing secara sehat dengan produk rokok kretek, mereka kini terus-menerus berusaha menghancurkan keberadaan rokok kretek lewat regulasi yang dibikin semena-mena dan tidak adil dalam wujud Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). <\/p>\n\n\n\n

Salah satu pasal penting dalam FCTC, adalah pengharaman keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok yang beredar di pasaran. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, dan menerapkannya dalam peraturan usaha rokok di Indonesia, maka mau tidak mau, setiap produksi rokok yang ada di Indonesia tidak boleh mengandung cengkeh secuil pun. Ini artinya, tidak akan ada lagi produk rokok kretek yang diproduksi pabrikan-pabrikan rokok dalam negeri. Kretek hilang, dan komoditas cengkeh kembali menjadi semenjana.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi menuju peniadaan rokok kretek dan penghancuran pertanian cengkeh lewat ratifikasi FCTC ini sepertinya kian terang di negeri ini. Adalah Sri Mulyani, yang kini menjabat menteri keuangan di Indonesia yang mengambil peran besar dalam usaha peniadaan produk rokok kretek dan penghancuran cengkeh di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum, salah satu pemain utama dalam usaha menekan agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC adalah Bloomberg Initiatives. Dan Sri Mulyani, ada di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, di New York, Sri Mulyani juga sudah mengadakan pertemuan intensif dengan Bloomberg. Kado manis dari Sri Mulyani dengan menaikkan cukai rokok besar-besaran di negeri ini sudah diberikan kepada Bloomberg. Jika tidak dihalangi dengan gencar oleh seluruh stakeholder industri rokok di negeri ini, bukan tak mungkin kado istimewa lain dari Sri Mulyani kepada Bloomberg akan kembali diberikan, ratifikasi FCTC oleh pemerintah Indonesia. Rokok kretek mesti hilang dari pasar dalam negeri, dan petani cengkeh kembali merana.
<\/p>\n","post_title":"Susi Pujiastuti, Sri Mulyani, dan Perlakuan Mereka Terhadap Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"susi-pujiastuti-sri-mulyani-dan-perlakuan-mereka-terhadap-komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-21 08:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-21 01:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6465","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\n

PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n

Proxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi,  bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6465,"post_author":"878","post_date":"2020-02-21 08:17:35","post_date_gmt":"2020-02-21 01:17:35","post_content":"\n

Sekira tiga tahun lalu, saya berkesempatan berkunjung ke pulau Simeulue di provinsi Aceh. Kunjungan saya ke pulau yang terkenal dengan hasil lobsternya ini adalah untuk bertemu dengan petani cengkeh. Selain dikenal dengan hasil lautnya terutama lobster, pulau Simeulue juga dikenal sebagai penghasil cengkeh terbesar di Aceh. Keberadaan cengkeh di Simeulue seusia dengan keberadaan penjajah kolonial di sana yang menginisiasi penanaman cengkeh guna mengembalikan modal perang penjajah kolonial yang mengeluarkan banyak biaya selama perang penaklukan Aceh yang terkenal itu.<\/p>\n\n\n\n

Selama penelitian bertemu dengan puluhan petani cengkeh di Simeulue, ada tiga temuan menarik yang saya dapat hasil berbincang-bincang dengan banyak narasumber yang saya jumpai di sana. Dua temuan menarik terkait langsung dengan cengkeh, dan satu temuan lainnya tak ada kaitannya dengan cengkeh, lebih kepada bagaimana penduduk Simeulue berhasil menyelamatkan diri usai gempa besar dan tsunami melanda pulau tersebut pada akhir tahun 2004.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode 70an, ketika cengkeh kembali berjaya di pasaran dalam negeri, sejalan dengan menggeliatnya industri rokok kretek di Indonesia yang mulai menguasai pasar dalam negeri mengalahkan rokok putih yang sebelumnya menjadi promadona di Indonesia, masyarakat Simeulue kembali menanam cengkeh di perbukitan yang ada di wilayah mereka. Kondisi geografis pulau Simeulue yang berbukit-bukit dan dekat dengan laut memang mirip dengan kondisi geografis tempat pohon cengkeh awalnya berasal. Kondisi ini membikin cengkeh sangat cocok ditanam di pulau Simeulue dan tumbuh subur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Menyadari potensi cengkeh yang sangat menjanjikan, pada periode 70an, pejabat yang memimpin pulau Simeulue mengeluarkan peraturan yang tidak lazim. Ia mengeluarkan aturan bahwa seorang pemuda yang hendak menikah wajib menanam minimal 25 batang pohon cengkeh sebelum Ia menikah. Jika tidak menanam cengkeh, pemerintah lewat lembaga keagamaan daerah tidak akan menikahkan pemuda tersebut. Kebijakan ini berjalan terus hingga akhirnya bisnis cengkeh hancur berantakan pada periode 90an usai keberadaan BPPC yang diinisasi Orde Baru. Kebijakan yang mewajibkan penanaman pohon cengkeh bagi pemuda yang hendak menikah ini membikin pulau Simeulue hingga saat ini didominasi tanaman cengkeh di luar komoditas lain semisal kemiri, pala, dan sawit yang kini mulai ditanam massal di Simeulue.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kehancuran komoditas cengkeh usai keberadaan BPPC di periode 90an, cengkeh kembali bangkit usai reformasi bergulir di negeri ini. Meski begitu, komoditas cengkeh di pulau Simeulue terlambat bangkit dibanding di daerah-daerah lainnya yang menghasilkan cengkeh di negeri ini. Hingga tsunami menggulung beberapa wilayah di Aceh, termasuk pulau Simeulue, komoditas cengkeh masih medioker di Simeulue, berbeda dengan wilayah lain di Indonesia yang usaha pertanian cengkehnya kembali bergeliat dengan harga yang sangat menguntungkan.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Susi Pujiastuti, seorang pengusaha sukses yang pada periode pertama masa kepemimpinan presiden Jokowi menjabat menteri kelautan dan perikanan yang kembali meningkatkan pamor komoditas cengkeh di pulau Simeulue. Ini terjadi pada tahun 2007. Kala itu, belenggu tengkulak di pulau Simeulue membikin harga cengkeh jatuh di pasaran, jauh lebih kecil dibandingkan dengan harga komoditas ini di wilayah lain di negeri ini. Sebagai perbandingan, harga cengkeh di wilayah lain, pada periode 2000an kembali mencapai titik tertingginya dengan harga beli di tingkat petani mencapai Rp100.000 per kilogram bahkan lebih, sedang di Simeulue, harga cengkeh maksimal berada di titik Rp30.000 saja per kilogramnya, bahkan di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan di pulau Simeulue, harga cengkeh jauh di bawah Rp30.000 per kilogram.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan informasi yang saya dapat dari banyak petani cengkeh di pulau Simeulue, pada 2007, untuk memutus rantai tengkulak, Bu Susi memborong cengkeh di pulau Simeulue dengan harga Rp100.000 per kilogram, mengikuti harga yang ditetapkan di pasar nasional. Rantai jahat tengkulak berhasil diputus. Dan sejak saat itu hingga kini, harga cengkeh di pulau Simeulue mengikuti harga pasar nasional, pertanian cengkeh kembali menggeliat di sana berkat peran nyata Bu Susi. Mulanya saya kurang percaya dengan informasi ini, namun, puluhan petani yang saya temui di Simeulue, juga pejabat di dinas perkebunan di pulau Simeulue, mengamini apa yang dilakukan Bu Susi terhadap komoditas cengkeh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Kembali bergeliatnya komoditas cengkeh di negeri ini usai diberangusnya BPPC pasca reformasi, tak lepas dari berjayanya industri rokok kretek dalam negeri. Rokok kretek berhasil menguasai lebih 90 persen pasar rokok nasional hingga hari ini. Dengan cengkeh sebagai salah satu bahan baku utama sekaligus bahan baku kunci rokok kretek, cengkeh menjadi komoditas yang menjanjikan dan menguntungkan petani.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, kejayaan petani cengkeh ini terancam dengan keberadaan gerakan antirokok dan kepentingan bisnis global yang berusaha merebut pasar rokok yang begitu menjanjikan di negeri ini. Sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar kedua di dunia di bawah China, Indonesia tentu saja menjadi bidikan serius kapitalisme global di bidang rokok dan farmasi. Merasa gagal bersaing secara sehat dengan produk rokok kretek, mereka kini terus-menerus berusaha menghancurkan keberadaan rokok kretek lewat regulasi yang dibikin semena-mena dan tidak adil dalam wujud Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). <\/p>\n\n\n\n

Salah satu pasal penting dalam FCTC, adalah pengharaman keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok yang beredar di pasaran. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, dan menerapkannya dalam peraturan usaha rokok di Indonesia, maka mau tidak mau, setiap produksi rokok yang ada di Indonesia tidak boleh mengandung cengkeh secuil pun. Ini artinya, tidak akan ada lagi produk rokok kretek yang diproduksi pabrikan-pabrikan rokok dalam negeri. Kretek hilang, dan komoditas cengkeh kembali menjadi semenjana.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi menuju peniadaan rokok kretek dan penghancuran pertanian cengkeh lewat ratifikasi FCTC ini sepertinya kian terang di negeri ini. Adalah Sri Mulyani, yang kini menjabat menteri keuangan di Indonesia yang mengambil peran besar dalam usaha peniadaan produk rokok kretek dan penghancuran cengkeh di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum, salah satu pemain utama dalam usaha menekan agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC adalah Bloomberg Initiatives. Dan Sri Mulyani, ada di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, di New York, Sri Mulyani juga sudah mengadakan pertemuan intensif dengan Bloomberg. Kado manis dari Sri Mulyani dengan menaikkan cukai rokok besar-besaran di negeri ini sudah diberikan kepada Bloomberg. Jika tidak dihalangi dengan gencar oleh seluruh stakeholder industri rokok di negeri ini, bukan tak mungkin kado istimewa lain dari Sri Mulyani kepada Bloomberg akan kembali diberikan, ratifikasi FCTC oleh pemerintah Indonesia. Rokok kretek mesti hilang dari pasar dalam negeri, dan petani cengkeh kembali merana.
<\/p>\n","post_title":"Susi Pujiastuti, Sri Mulyani, dan Perlakuan Mereka Terhadap Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"susi-pujiastuti-sri-mulyani-dan-perlakuan-mereka-terhadap-komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-21 08:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-21 01:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6465","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\n

PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n

Proxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi,  bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6465,"post_author":"878","post_date":"2020-02-21 08:17:35","post_date_gmt":"2020-02-21 01:17:35","post_content":"\n

Sekira tiga tahun lalu, saya berkesempatan berkunjung ke pulau Simeulue di provinsi Aceh. Kunjungan saya ke pulau yang terkenal dengan hasil lobsternya ini adalah untuk bertemu dengan petani cengkeh. Selain dikenal dengan hasil lautnya terutama lobster, pulau Simeulue juga dikenal sebagai penghasil cengkeh terbesar di Aceh. Keberadaan cengkeh di Simeulue seusia dengan keberadaan penjajah kolonial di sana yang menginisiasi penanaman cengkeh guna mengembalikan modal perang penjajah kolonial yang mengeluarkan banyak biaya selama perang penaklukan Aceh yang terkenal itu.<\/p>\n\n\n\n

Selama penelitian bertemu dengan puluhan petani cengkeh di Simeulue, ada tiga temuan menarik yang saya dapat hasil berbincang-bincang dengan banyak narasumber yang saya jumpai di sana. Dua temuan menarik terkait langsung dengan cengkeh, dan satu temuan lainnya tak ada kaitannya dengan cengkeh, lebih kepada bagaimana penduduk Simeulue berhasil menyelamatkan diri usai gempa besar dan tsunami melanda pulau tersebut pada akhir tahun 2004.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode 70an, ketika cengkeh kembali berjaya di pasaran dalam negeri, sejalan dengan menggeliatnya industri rokok kretek di Indonesia yang mulai menguasai pasar dalam negeri mengalahkan rokok putih yang sebelumnya menjadi promadona di Indonesia, masyarakat Simeulue kembali menanam cengkeh di perbukitan yang ada di wilayah mereka. Kondisi geografis pulau Simeulue yang berbukit-bukit dan dekat dengan laut memang mirip dengan kondisi geografis tempat pohon cengkeh awalnya berasal. Kondisi ini membikin cengkeh sangat cocok ditanam di pulau Simeulue dan tumbuh subur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Menyadari potensi cengkeh yang sangat menjanjikan, pada periode 70an, pejabat yang memimpin pulau Simeulue mengeluarkan peraturan yang tidak lazim. Ia mengeluarkan aturan bahwa seorang pemuda yang hendak menikah wajib menanam minimal 25 batang pohon cengkeh sebelum Ia menikah. Jika tidak menanam cengkeh, pemerintah lewat lembaga keagamaan daerah tidak akan menikahkan pemuda tersebut. Kebijakan ini berjalan terus hingga akhirnya bisnis cengkeh hancur berantakan pada periode 90an usai keberadaan BPPC yang diinisasi Orde Baru. Kebijakan yang mewajibkan penanaman pohon cengkeh bagi pemuda yang hendak menikah ini membikin pulau Simeulue hingga saat ini didominasi tanaman cengkeh di luar komoditas lain semisal kemiri, pala, dan sawit yang kini mulai ditanam massal di Simeulue.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kehancuran komoditas cengkeh usai keberadaan BPPC di periode 90an, cengkeh kembali bangkit usai reformasi bergulir di negeri ini. Meski begitu, komoditas cengkeh di pulau Simeulue terlambat bangkit dibanding di daerah-daerah lainnya yang menghasilkan cengkeh di negeri ini. Hingga tsunami menggulung beberapa wilayah di Aceh, termasuk pulau Simeulue, komoditas cengkeh masih medioker di Simeulue, berbeda dengan wilayah lain di Indonesia yang usaha pertanian cengkehnya kembali bergeliat dengan harga yang sangat menguntungkan.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Susi Pujiastuti, seorang pengusaha sukses yang pada periode pertama masa kepemimpinan presiden Jokowi menjabat menteri kelautan dan perikanan yang kembali meningkatkan pamor komoditas cengkeh di pulau Simeulue. Ini terjadi pada tahun 2007. Kala itu, belenggu tengkulak di pulau Simeulue membikin harga cengkeh jatuh di pasaran, jauh lebih kecil dibandingkan dengan harga komoditas ini di wilayah lain di negeri ini. Sebagai perbandingan, harga cengkeh di wilayah lain, pada periode 2000an kembali mencapai titik tertingginya dengan harga beli di tingkat petani mencapai Rp100.000 per kilogram bahkan lebih, sedang di Simeulue, harga cengkeh maksimal berada di titik Rp30.000 saja per kilogramnya, bahkan di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan di pulau Simeulue, harga cengkeh jauh di bawah Rp30.000 per kilogram.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan informasi yang saya dapat dari banyak petani cengkeh di pulau Simeulue, pada 2007, untuk memutus rantai tengkulak, Bu Susi memborong cengkeh di pulau Simeulue dengan harga Rp100.000 per kilogram, mengikuti harga yang ditetapkan di pasar nasional. Rantai jahat tengkulak berhasil diputus. Dan sejak saat itu hingga kini, harga cengkeh di pulau Simeulue mengikuti harga pasar nasional, pertanian cengkeh kembali menggeliat di sana berkat peran nyata Bu Susi. Mulanya saya kurang percaya dengan informasi ini, namun, puluhan petani yang saya temui di Simeulue, juga pejabat di dinas perkebunan di pulau Simeulue, mengamini apa yang dilakukan Bu Susi terhadap komoditas cengkeh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Kembali bergeliatnya komoditas cengkeh di negeri ini usai diberangusnya BPPC pasca reformasi, tak lepas dari berjayanya industri rokok kretek dalam negeri. Rokok kretek berhasil menguasai lebih 90 persen pasar rokok nasional hingga hari ini. Dengan cengkeh sebagai salah satu bahan baku utama sekaligus bahan baku kunci rokok kretek, cengkeh menjadi komoditas yang menjanjikan dan menguntungkan petani.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, kejayaan petani cengkeh ini terancam dengan keberadaan gerakan antirokok dan kepentingan bisnis global yang berusaha merebut pasar rokok yang begitu menjanjikan di negeri ini. Sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar kedua di dunia di bawah China, Indonesia tentu saja menjadi bidikan serius kapitalisme global di bidang rokok dan farmasi. Merasa gagal bersaing secara sehat dengan produk rokok kretek, mereka kini terus-menerus berusaha menghancurkan keberadaan rokok kretek lewat regulasi yang dibikin semena-mena dan tidak adil dalam wujud Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). <\/p>\n\n\n\n

Salah satu pasal penting dalam FCTC, adalah pengharaman keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok yang beredar di pasaran. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, dan menerapkannya dalam peraturan usaha rokok di Indonesia, maka mau tidak mau, setiap produksi rokok yang ada di Indonesia tidak boleh mengandung cengkeh secuil pun. Ini artinya, tidak akan ada lagi produk rokok kretek yang diproduksi pabrikan-pabrikan rokok dalam negeri. Kretek hilang, dan komoditas cengkeh kembali menjadi semenjana.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi menuju peniadaan rokok kretek dan penghancuran pertanian cengkeh lewat ratifikasi FCTC ini sepertinya kian terang di negeri ini. Adalah Sri Mulyani, yang kini menjabat menteri keuangan di Indonesia yang mengambil peran besar dalam usaha peniadaan produk rokok kretek dan penghancuran cengkeh di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum, salah satu pemain utama dalam usaha menekan agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC adalah Bloomberg Initiatives. Dan Sri Mulyani, ada di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, di New York, Sri Mulyani juga sudah mengadakan pertemuan intensif dengan Bloomberg. Kado manis dari Sri Mulyani dengan menaikkan cukai rokok besar-besaran di negeri ini sudah diberikan kepada Bloomberg. Jika tidak dihalangi dengan gencar oleh seluruh stakeholder industri rokok di negeri ini, bukan tak mungkin kado istimewa lain dari Sri Mulyani kepada Bloomberg akan kembali diberikan, ratifikasi FCTC oleh pemerintah Indonesia. Rokok kretek mesti hilang dari pasar dalam negeri, dan petani cengkeh kembali merana.
<\/p>\n","post_title":"Susi Pujiastuti, Sri Mulyani, dan Perlakuan Mereka Terhadap Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"susi-pujiastuti-sri-mulyani-dan-perlakuan-mereka-terhadap-komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-21 08:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-21 01:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6465","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\n

PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n

Proxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi,  bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6465,"post_author":"878","post_date":"2020-02-21 08:17:35","post_date_gmt":"2020-02-21 01:17:35","post_content":"\n

Sekira tiga tahun lalu, saya berkesempatan berkunjung ke pulau Simeulue di provinsi Aceh. Kunjungan saya ke pulau yang terkenal dengan hasil lobsternya ini adalah untuk bertemu dengan petani cengkeh. Selain dikenal dengan hasil lautnya terutama lobster, pulau Simeulue juga dikenal sebagai penghasil cengkeh terbesar di Aceh. Keberadaan cengkeh di Simeulue seusia dengan keberadaan penjajah kolonial di sana yang menginisiasi penanaman cengkeh guna mengembalikan modal perang penjajah kolonial yang mengeluarkan banyak biaya selama perang penaklukan Aceh yang terkenal itu.<\/p>\n\n\n\n

Selama penelitian bertemu dengan puluhan petani cengkeh di Simeulue, ada tiga temuan menarik yang saya dapat hasil berbincang-bincang dengan banyak narasumber yang saya jumpai di sana. Dua temuan menarik terkait langsung dengan cengkeh, dan satu temuan lainnya tak ada kaitannya dengan cengkeh, lebih kepada bagaimana penduduk Simeulue berhasil menyelamatkan diri usai gempa besar dan tsunami melanda pulau tersebut pada akhir tahun 2004.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode 70an, ketika cengkeh kembali berjaya di pasaran dalam negeri, sejalan dengan menggeliatnya industri rokok kretek di Indonesia yang mulai menguasai pasar dalam negeri mengalahkan rokok putih yang sebelumnya menjadi promadona di Indonesia, masyarakat Simeulue kembali menanam cengkeh di perbukitan yang ada di wilayah mereka. Kondisi geografis pulau Simeulue yang berbukit-bukit dan dekat dengan laut memang mirip dengan kondisi geografis tempat pohon cengkeh awalnya berasal. Kondisi ini membikin cengkeh sangat cocok ditanam di pulau Simeulue dan tumbuh subur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Menyadari potensi cengkeh yang sangat menjanjikan, pada periode 70an, pejabat yang memimpin pulau Simeulue mengeluarkan peraturan yang tidak lazim. Ia mengeluarkan aturan bahwa seorang pemuda yang hendak menikah wajib menanam minimal 25 batang pohon cengkeh sebelum Ia menikah. Jika tidak menanam cengkeh, pemerintah lewat lembaga keagamaan daerah tidak akan menikahkan pemuda tersebut. Kebijakan ini berjalan terus hingga akhirnya bisnis cengkeh hancur berantakan pada periode 90an usai keberadaan BPPC yang diinisasi Orde Baru. Kebijakan yang mewajibkan penanaman pohon cengkeh bagi pemuda yang hendak menikah ini membikin pulau Simeulue hingga saat ini didominasi tanaman cengkeh di luar komoditas lain semisal kemiri, pala, dan sawit yang kini mulai ditanam massal di Simeulue.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kehancuran komoditas cengkeh usai keberadaan BPPC di periode 90an, cengkeh kembali bangkit usai reformasi bergulir di negeri ini. Meski begitu, komoditas cengkeh di pulau Simeulue terlambat bangkit dibanding di daerah-daerah lainnya yang menghasilkan cengkeh di negeri ini. Hingga tsunami menggulung beberapa wilayah di Aceh, termasuk pulau Simeulue, komoditas cengkeh masih medioker di Simeulue, berbeda dengan wilayah lain di Indonesia yang usaha pertanian cengkehnya kembali bergeliat dengan harga yang sangat menguntungkan.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Susi Pujiastuti, seorang pengusaha sukses yang pada periode pertama masa kepemimpinan presiden Jokowi menjabat menteri kelautan dan perikanan yang kembali meningkatkan pamor komoditas cengkeh di pulau Simeulue. Ini terjadi pada tahun 2007. Kala itu, belenggu tengkulak di pulau Simeulue membikin harga cengkeh jatuh di pasaran, jauh lebih kecil dibandingkan dengan harga komoditas ini di wilayah lain di negeri ini. Sebagai perbandingan, harga cengkeh di wilayah lain, pada periode 2000an kembali mencapai titik tertingginya dengan harga beli di tingkat petani mencapai Rp100.000 per kilogram bahkan lebih, sedang di Simeulue, harga cengkeh maksimal berada di titik Rp30.000 saja per kilogramnya, bahkan di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan di pulau Simeulue, harga cengkeh jauh di bawah Rp30.000 per kilogram.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan informasi yang saya dapat dari banyak petani cengkeh di pulau Simeulue, pada 2007, untuk memutus rantai tengkulak, Bu Susi memborong cengkeh di pulau Simeulue dengan harga Rp100.000 per kilogram, mengikuti harga yang ditetapkan di pasar nasional. Rantai jahat tengkulak berhasil diputus. Dan sejak saat itu hingga kini, harga cengkeh di pulau Simeulue mengikuti harga pasar nasional, pertanian cengkeh kembali menggeliat di sana berkat peran nyata Bu Susi. Mulanya saya kurang percaya dengan informasi ini, namun, puluhan petani yang saya temui di Simeulue, juga pejabat di dinas perkebunan di pulau Simeulue, mengamini apa yang dilakukan Bu Susi terhadap komoditas cengkeh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Kembali bergeliatnya komoditas cengkeh di negeri ini usai diberangusnya BPPC pasca reformasi, tak lepas dari berjayanya industri rokok kretek dalam negeri. Rokok kretek berhasil menguasai lebih 90 persen pasar rokok nasional hingga hari ini. Dengan cengkeh sebagai salah satu bahan baku utama sekaligus bahan baku kunci rokok kretek, cengkeh menjadi komoditas yang menjanjikan dan menguntungkan petani.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, kejayaan petani cengkeh ini terancam dengan keberadaan gerakan antirokok dan kepentingan bisnis global yang berusaha merebut pasar rokok yang begitu menjanjikan di negeri ini. Sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar kedua di dunia di bawah China, Indonesia tentu saja menjadi bidikan serius kapitalisme global di bidang rokok dan farmasi. Merasa gagal bersaing secara sehat dengan produk rokok kretek, mereka kini terus-menerus berusaha menghancurkan keberadaan rokok kretek lewat regulasi yang dibikin semena-mena dan tidak adil dalam wujud Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). <\/p>\n\n\n\n

Salah satu pasal penting dalam FCTC, adalah pengharaman keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok yang beredar di pasaran. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, dan menerapkannya dalam peraturan usaha rokok di Indonesia, maka mau tidak mau, setiap produksi rokok yang ada di Indonesia tidak boleh mengandung cengkeh secuil pun. Ini artinya, tidak akan ada lagi produk rokok kretek yang diproduksi pabrikan-pabrikan rokok dalam negeri. Kretek hilang, dan komoditas cengkeh kembali menjadi semenjana.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi menuju peniadaan rokok kretek dan penghancuran pertanian cengkeh lewat ratifikasi FCTC ini sepertinya kian terang di negeri ini. Adalah Sri Mulyani, yang kini menjabat menteri keuangan di Indonesia yang mengambil peran besar dalam usaha peniadaan produk rokok kretek dan penghancuran cengkeh di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum, salah satu pemain utama dalam usaha menekan agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC adalah Bloomberg Initiatives. Dan Sri Mulyani, ada di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, di New York, Sri Mulyani juga sudah mengadakan pertemuan intensif dengan Bloomberg. Kado manis dari Sri Mulyani dengan menaikkan cukai rokok besar-besaran di negeri ini sudah diberikan kepada Bloomberg. Jika tidak dihalangi dengan gencar oleh seluruh stakeholder industri rokok di negeri ini, bukan tak mungkin kado istimewa lain dari Sri Mulyani kepada Bloomberg akan kembali diberikan, ratifikasi FCTC oleh pemerintah Indonesia. Rokok kretek mesti hilang dari pasar dalam negeri, dan petani cengkeh kembali merana.
<\/p>\n","post_title":"Susi Pujiastuti, Sri Mulyani, dan Perlakuan Mereka Terhadap Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"susi-pujiastuti-sri-mulyani-dan-perlakuan-mereka-terhadap-komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-21 08:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-21 01:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6465","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\n

PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n

Proxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi,  bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6465,"post_author":"878","post_date":"2020-02-21 08:17:35","post_date_gmt":"2020-02-21 01:17:35","post_content":"\n

Sekira tiga tahun lalu, saya berkesempatan berkunjung ke pulau Simeulue di provinsi Aceh. Kunjungan saya ke pulau yang terkenal dengan hasil lobsternya ini adalah untuk bertemu dengan petani cengkeh. Selain dikenal dengan hasil lautnya terutama lobster, pulau Simeulue juga dikenal sebagai penghasil cengkeh terbesar di Aceh. Keberadaan cengkeh di Simeulue seusia dengan keberadaan penjajah kolonial di sana yang menginisiasi penanaman cengkeh guna mengembalikan modal perang penjajah kolonial yang mengeluarkan banyak biaya selama perang penaklukan Aceh yang terkenal itu.<\/p>\n\n\n\n

Selama penelitian bertemu dengan puluhan petani cengkeh di Simeulue, ada tiga temuan menarik yang saya dapat hasil berbincang-bincang dengan banyak narasumber yang saya jumpai di sana. Dua temuan menarik terkait langsung dengan cengkeh, dan satu temuan lainnya tak ada kaitannya dengan cengkeh, lebih kepada bagaimana penduduk Simeulue berhasil menyelamatkan diri usai gempa besar dan tsunami melanda pulau tersebut pada akhir tahun 2004.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode 70an, ketika cengkeh kembali berjaya di pasaran dalam negeri, sejalan dengan menggeliatnya industri rokok kretek di Indonesia yang mulai menguasai pasar dalam negeri mengalahkan rokok putih yang sebelumnya menjadi promadona di Indonesia, masyarakat Simeulue kembali menanam cengkeh di perbukitan yang ada di wilayah mereka. Kondisi geografis pulau Simeulue yang berbukit-bukit dan dekat dengan laut memang mirip dengan kondisi geografis tempat pohon cengkeh awalnya berasal. Kondisi ini membikin cengkeh sangat cocok ditanam di pulau Simeulue dan tumbuh subur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Menyadari potensi cengkeh yang sangat menjanjikan, pada periode 70an, pejabat yang memimpin pulau Simeulue mengeluarkan peraturan yang tidak lazim. Ia mengeluarkan aturan bahwa seorang pemuda yang hendak menikah wajib menanam minimal 25 batang pohon cengkeh sebelum Ia menikah. Jika tidak menanam cengkeh, pemerintah lewat lembaga keagamaan daerah tidak akan menikahkan pemuda tersebut. Kebijakan ini berjalan terus hingga akhirnya bisnis cengkeh hancur berantakan pada periode 90an usai keberadaan BPPC yang diinisasi Orde Baru. Kebijakan yang mewajibkan penanaman pohon cengkeh bagi pemuda yang hendak menikah ini membikin pulau Simeulue hingga saat ini didominasi tanaman cengkeh di luar komoditas lain semisal kemiri, pala, dan sawit yang kini mulai ditanam massal di Simeulue.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kehancuran komoditas cengkeh usai keberadaan BPPC di periode 90an, cengkeh kembali bangkit usai reformasi bergulir di negeri ini. Meski begitu, komoditas cengkeh di pulau Simeulue terlambat bangkit dibanding di daerah-daerah lainnya yang menghasilkan cengkeh di negeri ini. Hingga tsunami menggulung beberapa wilayah di Aceh, termasuk pulau Simeulue, komoditas cengkeh masih medioker di Simeulue, berbeda dengan wilayah lain di Indonesia yang usaha pertanian cengkehnya kembali bergeliat dengan harga yang sangat menguntungkan.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Susi Pujiastuti, seorang pengusaha sukses yang pada periode pertama masa kepemimpinan presiden Jokowi menjabat menteri kelautan dan perikanan yang kembali meningkatkan pamor komoditas cengkeh di pulau Simeulue. Ini terjadi pada tahun 2007. Kala itu, belenggu tengkulak di pulau Simeulue membikin harga cengkeh jatuh di pasaran, jauh lebih kecil dibandingkan dengan harga komoditas ini di wilayah lain di negeri ini. Sebagai perbandingan, harga cengkeh di wilayah lain, pada periode 2000an kembali mencapai titik tertingginya dengan harga beli di tingkat petani mencapai Rp100.000 per kilogram bahkan lebih, sedang di Simeulue, harga cengkeh maksimal berada di titik Rp30.000 saja per kilogramnya, bahkan di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan di pulau Simeulue, harga cengkeh jauh di bawah Rp30.000 per kilogram.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan informasi yang saya dapat dari banyak petani cengkeh di pulau Simeulue, pada 2007, untuk memutus rantai tengkulak, Bu Susi memborong cengkeh di pulau Simeulue dengan harga Rp100.000 per kilogram, mengikuti harga yang ditetapkan di pasar nasional. Rantai jahat tengkulak berhasil diputus. Dan sejak saat itu hingga kini, harga cengkeh di pulau Simeulue mengikuti harga pasar nasional, pertanian cengkeh kembali menggeliat di sana berkat peran nyata Bu Susi. Mulanya saya kurang percaya dengan informasi ini, namun, puluhan petani yang saya temui di Simeulue, juga pejabat di dinas perkebunan di pulau Simeulue, mengamini apa yang dilakukan Bu Susi terhadap komoditas cengkeh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Kembali bergeliatnya komoditas cengkeh di negeri ini usai diberangusnya BPPC pasca reformasi, tak lepas dari berjayanya industri rokok kretek dalam negeri. Rokok kretek berhasil menguasai lebih 90 persen pasar rokok nasional hingga hari ini. Dengan cengkeh sebagai salah satu bahan baku utama sekaligus bahan baku kunci rokok kretek, cengkeh menjadi komoditas yang menjanjikan dan menguntungkan petani.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, kejayaan petani cengkeh ini terancam dengan keberadaan gerakan antirokok dan kepentingan bisnis global yang berusaha merebut pasar rokok yang begitu menjanjikan di negeri ini. Sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar kedua di dunia di bawah China, Indonesia tentu saja menjadi bidikan serius kapitalisme global di bidang rokok dan farmasi. Merasa gagal bersaing secara sehat dengan produk rokok kretek, mereka kini terus-menerus berusaha menghancurkan keberadaan rokok kretek lewat regulasi yang dibikin semena-mena dan tidak adil dalam wujud Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). <\/p>\n\n\n\n

Salah satu pasal penting dalam FCTC, adalah pengharaman keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok yang beredar di pasaran. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, dan menerapkannya dalam peraturan usaha rokok di Indonesia, maka mau tidak mau, setiap produksi rokok yang ada di Indonesia tidak boleh mengandung cengkeh secuil pun. Ini artinya, tidak akan ada lagi produk rokok kretek yang diproduksi pabrikan-pabrikan rokok dalam negeri. Kretek hilang, dan komoditas cengkeh kembali menjadi semenjana.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi menuju peniadaan rokok kretek dan penghancuran pertanian cengkeh lewat ratifikasi FCTC ini sepertinya kian terang di negeri ini. Adalah Sri Mulyani, yang kini menjabat menteri keuangan di Indonesia yang mengambil peran besar dalam usaha peniadaan produk rokok kretek dan penghancuran cengkeh di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum, salah satu pemain utama dalam usaha menekan agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC adalah Bloomberg Initiatives. Dan Sri Mulyani, ada di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, di New York, Sri Mulyani juga sudah mengadakan pertemuan intensif dengan Bloomberg. Kado manis dari Sri Mulyani dengan menaikkan cukai rokok besar-besaran di negeri ini sudah diberikan kepada Bloomberg. Jika tidak dihalangi dengan gencar oleh seluruh stakeholder industri rokok di negeri ini, bukan tak mungkin kado istimewa lain dari Sri Mulyani kepada Bloomberg akan kembali diberikan, ratifikasi FCTC oleh pemerintah Indonesia. Rokok kretek mesti hilang dari pasar dalam negeri, dan petani cengkeh kembali merana.
<\/p>\n","post_title":"Susi Pujiastuti, Sri Mulyani, dan Perlakuan Mereka Terhadap Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"susi-pujiastuti-sri-mulyani-dan-perlakuan-mereka-terhadap-komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-21 08:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-21 01:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6465","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\n

PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n

Proxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi,  bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6465,"post_author":"878","post_date":"2020-02-21 08:17:35","post_date_gmt":"2020-02-21 01:17:35","post_content":"\n

Sekira tiga tahun lalu, saya berkesempatan berkunjung ke pulau Simeulue di provinsi Aceh. Kunjungan saya ke pulau yang terkenal dengan hasil lobsternya ini adalah untuk bertemu dengan petani cengkeh. Selain dikenal dengan hasil lautnya terutama lobster, pulau Simeulue juga dikenal sebagai penghasil cengkeh terbesar di Aceh. Keberadaan cengkeh di Simeulue seusia dengan keberadaan penjajah kolonial di sana yang menginisiasi penanaman cengkeh guna mengembalikan modal perang penjajah kolonial yang mengeluarkan banyak biaya selama perang penaklukan Aceh yang terkenal itu.<\/p>\n\n\n\n

Selama penelitian bertemu dengan puluhan petani cengkeh di Simeulue, ada tiga temuan menarik yang saya dapat hasil berbincang-bincang dengan banyak narasumber yang saya jumpai di sana. Dua temuan menarik terkait langsung dengan cengkeh, dan satu temuan lainnya tak ada kaitannya dengan cengkeh, lebih kepada bagaimana penduduk Simeulue berhasil menyelamatkan diri usai gempa besar dan tsunami melanda pulau tersebut pada akhir tahun 2004.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode 70an, ketika cengkeh kembali berjaya di pasaran dalam negeri, sejalan dengan menggeliatnya industri rokok kretek di Indonesia yang mulai menguasai pasar dalam negeri mengalahkan rokok putih yang sebelumnya menjadi promadona di Indonesia, masyarakat Simeulue kembali menanam cengkeh di perbukitan yang ada di wilayah mereka. Kondisi geografis pulau Simeulue yang berbukit-bukit dan dekat dengan laut memang mirip dengan kondisi geografis tempat pohon cengkeh awalnya berasal. Kondisi ini membikin cengkeh sangat cocok ditanam di pulau Simeulue dan tumbuh subur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Menyadari potensi cengkeh yang sangat menjanjikan, pada periode 70an, pejabat yang memimpin pulau Simeulue mengeluarkan peraturan yang tidak lazim. Ia mengeluarkan aturan bahwa seorang pemuda yang hendak menikah wajib menanam minimal 25 batang pohon cengkeh sebelum Ia menikah. Jika tidak menanam cengkeh, pemerintah lewat lembaga keagamaan daerah tidak akan menikahkan pemuda tersebut. Kebijakan ini berjalan terus hingga akhirnya bisnis cengkeh hancur berantakan pada periode 90an usai keberadaan BPPC yang diinisasi Orde Baru. Kebijakan yang mewajibkan penanaman pohon cengkeh bagi pemuda yang hendak menikah ini membikin pulau Simeulue hingga saat ini didominasi tanaman cengkeh di luar komoditas lain semisal kemiri, pala, dan sawit yang kini mulai ditanam massal di Simeulue.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kehancuran komoditas cengkeh usai keberadaan BPPC di periode 90an, cengkeh kembali bangkit usai reformasi bergulir di negeri ini. Meski begitu, komoditas cengkeh di pulau Simeulue terlambat bangkit dibanding di daerah-daerah lainnya yang menghasilkan cengkeh di negeri ini. Hingga tsunami menggulung beberapa wilayah di Aceh, termasuk pulau Simeulue, komoditas cengkeh masih medioker di Simeulue, berbeda dengan wilayah lain di Indonesia yang usaha pertanian cengkehnya kembali bergeliat dengan harga yang sangat menguntungkan.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Susi Pujiastuti, seorang pengusaha sukses yang pada periode pertama masa kepemimpinan presiden Jokowi menjabat menteri kelautan dan perikanan yang kembali meningkatkan pamor komoditas cengkeh di pulau Simeulue. Ini terjadi pada tahun 2007. Kala itu, belenggu tengkulak di pulau Simeulue membikin harga cengkeh jatuh di pasaran, jauh lebih kecil dibandingkan dengan harga komoditas ini di wilayah lain di negeri ini. Sebagai perbandingan, harga cengkeh di wilayah lain, pada periode 2000an kembali mencapai titik tertingginya dengan harga beli di tingkat petani mencapai Rp100.000 per kilogram bahkan lebih, sedang di Simeulue, harga cengkeh maksimal berada di titik Rp30.000 saja per kilogramnya, bahkan di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan di pulau Simeulue, harga cengkeh jauh di bawah Rp30.000 per kilogram.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan informasi yang saya dapat dari banyak petani cengkeh di pulau Simeulue, pada 2007, untuk memutus rantai tengkulak, Bu Susi memborong cengkeh di pulau Simeulue dengan harga Rp100.000 per kilogram, mengikuti harga yang ditetapkan di pasar nasional. Rantai jahat tengkulak berhasil diputus. Dan sejak saat itu hingga kini, harga cengkeh di pulau Simeulue mengikuti harga pasar nasional, pertanian cengkeh kembali menggeliat di sana berkat peran nyata Bu Susi. Mulanya saya kurang percaya dengan informasi ini, namun, puluhan petani yang saya temui di Simeulue, juga pejabat di dinas perkebunan di pulau Simeulue, mengamini apa yang dilakukan Bu Susi terhadap komoditas cengkeh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Kembali bergeliatnya komoditas cengkeh di negeri ini usai diberangusnya BPPC pasca reformasi, tak lepas dari berjayanya industri rokok kretek dalam negeri. Rokok kretek berhasil menguasai lebih 90 persen pasar rokok nasional hingga hari ini. Dengan cengkeh sebagai salah satu bahan baku utama sekaligus bahan baku kunci rokok kretek, cengkeh menjadi komoditas yang menjanjikan dan menguntungkan petani.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, kejayaan petani cengkeh ini terancam dengan keberadaan gerakan antirokok dan kepentingan bisnis global yang berusaha merebut pasar rokok yang begitu menjanjikan di negeri ini. Sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar kedua di dunia di bawah China, Indonesia tentu saja menjadi bidikan serius kapitalisme global di bidang rokok dan farmasi. Merasa gagal bersaing secara sehat dengan produk rokok kretek, mereka kini terus-menerus berusaha menghancurkan keberadaan rokok kretek lewat regulasi yang dibikin semena-mena dan tidak adil dalam wujud Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). <\/p>\n\n\n\n

Salah satu pasal penting dalam FCTC, adalah pengharaman keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok yang beredar di pasaran. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, dan menerapkannya dalam peraturan usaha rokok di Indonesia, maka mau tidak mau, setiap produksi rokok yang ada di Indonesia tidak boleh mengandung cengkeh secuil pun. Ini artinya, tidak akan ada lagi produk rokok kretek yang diproduksi pabrikan-pabrikan rokok dalam negeri. Kretek hilang, dan komoditas cengkeh kembali menjadi semenjana.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi menuju peniadaan rokok kretek dan penghancuran pertanian cengkeh lewat ratifikasi FCTC ini sepertinya kian terang di negeri ini. Adalah Sri Mulyani, yang kini menjabat menteri keuangan di Indonesia yang mengambil peran besar dalam usaha peniadaan produk rokok kretek dan penghancuran cengkeh di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum, salah satu pemain utama dalam usaha menekan agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC adalah Bloomberg Initiatives. Dan Sri Mulyani, ada di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, di New York, Sri Mulyani juga sudah mengadakan pertemuan intensif dengan Bloomberg. Kado manis dari Sri Mulyani dengan menaikkan cukai rokok besar-besaran di negeri ini sudah diberikan kepada Bloomberg. Jika tidak dihalangi dengan gencar oleh seluruh stakeholder industri rokok di negeri ini, bukan tak mungkin kado istimewa lain dari Sri Mulyani kepada Bloomberg akan kembali diberikan, ratifikasi FCTC oleh pemerintah Indonesia. Rokok kretek mesti hilang dari pasar dalam negeri, dan petani cengkeh kembali merana.
<\/p>\n","post_title":"Susi Pujiastuti, Sri Mulyani, dan Perlakuan Mereka Terhadap Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"susi-pujiastuti-sri-mulyani-dan-perlakuan-mereka-terhadap-komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-21 08:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-21 01:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6465","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\n

PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n

Proxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi,  bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6465,"post_author":"878","post_date":"2020-02-21 08:17:35","post_date_gmt":"2020-02-21 01:17:35","post_content":"\n

Sekira tiga tahun lalu, saya berkesempatan berkunjung ke pulau Simeulue di provinsi Aceh. Kunjungan saya ke pulau yang terkenal dengan hasil lobsternya ini adalah untuk bertemu dengan petani cengkeh. Selain dikenal dengan hasil lautnya terutama lobster, pulau Simeulue juga dikenal sebagai penghasil cengkeh terbesar di Aceh. Keberadaan cengkeh di Simeulue seusia dengan keberadaan penjajah kolonial di sana yang menginisiasi penanaman cengkeh guna mengembalikan modal perang penjajah kolonial yang mengeluarkan banyak biaya selama perang penaklukan Aceh yang terkenal itu.<\/p>\n\n\n\n

Selama penelitian bertemu dengan puluhan petani cengkeh di Simeulue, ada tiga temuan menarik yang saya dapat hasil berbincang-bincang dengan banyak narasumber yang saya jumpai di sana. Dua temuan menarik terkait langsung dengan cengkeh, dan satu temuan lainnya tak ada kaitannya dengan cengkeh, lebih kepada bagaimana penduduk Simeulue berhasil menyelamatkan diri usai gempa besar dan tsunami melanda pulau tersebut pada akhir tahun 2004.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode 70an, ketika cengkeh kembali berjaya di pasaran dalam negeri, sejalan dengan menggeliatnya industri rokok kretek di Indonesia yang mulai menguasai pasar dalam negeri mengalahkan rokok putih yang sebelumnya menjadi promadona di Indonesia, masyarakat Simeulue kembali menanam cengkeh di perbukitan yang ada di wilayah mereka. Kondisi geografis pulau Simeulue yang berbukit-bukit dan dekat dengan laut memang mirip dengan kondisi geografis tempat pohon cengkeh awalnya berasal. Kondisi ini membikin cengkeh sangat cocok ditanam di pulau Simeulue dan tumbuh subur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Menyadari potensi cengkeh yang sangat menjanjikan, pada periode 70an, pejabat yang memimpin pulau Simeulue mengeluarkan peraturan yang tidak lazim. Ia mengeluarkan aturan bahwa seorang pemuda yang hendak menikah wajib menanam minimal 25 batang pohon cengkeh sebelum Ia menikah. Jika tidak menanam cengkeh, pemerintah lewat lembaga keagamaan daerah tidak akan menikahkan pemuda tersebut. Kebijakan ini berjalan terus hingga akhirnya bisnis cengkeh hancur berantakan pada periode 90an usai keberadaan BPPC yang diinisasi Orde Baru. Kebijakan yang mewajibkan penanaman pohon cengkeh bagi pemuda yang hendak menikah ini membikin pulau Simeulue hingga saat ini didominasi tanaman cengkeh di luar komoditas lain semisal kemiri, pala, dan sawit yang kini mulai ditanam massal di Simeulue.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kehancuran komoditas cengkeh usai keberadaan BPPC di periode 90an, cengkeh kembali bangkit usai reformasi bergulir di negeri ini. Meski begitu, komoditas cengkeh di pulau Simeulue terlambat bangkit dibanding di daerah-daerah lainnya yang menghasilkan cengkeh di negeri ini. Hingga tsunami menggulung beberapa wilayah di Aceh, termasuk pulau Simeulue, komoditas cengkeh masih medioker di Simeulue, berbeda dengan wilayah lain di Indonesia yang usaha pertanian cengkehnya kembali bergeliat dengan harga yang sangat menguntungkan.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Susi Pujiastuti, seorang pengusaha sukses yang pada periode pertama masa kepemimpinan presiden Jokowi menjabat menteri kelautan dan perikanan yang kembali meningkatkan pamor komoditas cengkeh di pulau Simeulue. Ini terjadi pada tahun 2007. Kala itu, belenggu tengkulak di pulau Simeulue membikin harga cengkeh jatuh di pasaran, jauh lebih kecil dibandingkan dengan harga komoditas ini di wilayah lain di negeri ini. Sebagai perbandingan, harga cengkeh di wilayah lain, pada periode 2000an kembali mencapai titik tertingginya dengan harga beli di tingkat petani mencapai Rp100.000 per kilogram bahkan lebih, sedang di Simeulue, harga cengkeh maksimal berada di titik Rp30.000 saja per kilogramnya, bahkan di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan di pulau Simeulue, harga cengkeh jauh di bawah Rp30.000 per kilogram.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan informasi yang saya dapat dari banyak petani cengkeh di pulau Simeulue, pada 2007, untuk memutus rantai tengkulak, Bu Susi memborong cengkeh di pulau Simeulue dengan harga Rp100.000 per kilogram, mengikuti harga yang ditetapkan di pasar nasional. Rantai jahat tengkulak berhasil diputus. Dan sejak saat itu hingga kini, harga cengkeh di pulau Simeulue mengikuti harga pasar nasional, pertanian cengkeh kembali menggeliat di sana berkat peran nyata Bu Susi. Mulanya saya kurang percaya dengan informasi ini, namun, puluhan petani yang saya temui di Simeulue, juga pejabat di dinas perkebunan di pulau Simeulue, mengamini apa yang dilakukan Bu Susi terhadap komoditas cengkeh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Kembali bergeliatnya komoditas cengkeh di negeri ini usai diberangusnya BPPC pasca reformasi, tak lepas dari berjayanya industri rokok kretek dalam negeri. Rokok kretek berhasil menguasai lebih 90 persen pasar rokok nasional hingga hari ini. Dengan cengkeh sebagai salah satu bahan baku utama sekaligus bahan baku kunci rokok kretek, cengkeh menjadi komoditas yang menjanjikan dan menguntungkan petani.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, kejayaan petani cengkeh ini terancam dengan keberadaan gerakan antirokok dan kepentingan bisnis global yang berusaha merebut pasar rokok yang begitu menjanjikan di negeri ini. Sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar kedua di dunia di bawah China, Indonesia tentu saja menjadi bidikan serius kapitalisme global di bidang rokok dan farmasi. Merasa gagal bersaing secara sehat dengan produk rokok kretek, mereka kini terus-menerus berusaha menghancurkan keberadaan rokok kretek lewat regulasi yang dibikin semena-mena dan tidak adil dalam wujud Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). <\/p>\n\n\n\n

Salah satu pasal penting dalam FCTC, adalah pengharaman keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok yang beredar di pasaran. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, dan menerapkannya dalam peraturan usaha rokok di Indonesia, maka mau tidak mau, setiap produksi rokok yang ada di Indonesia tidak boleh mengandung cengkeh secuil pun. Ini artinya, tidak akan ada lagi produk rokok kretek yang diproduksi pabrikan-pabrikan rokok dalam negeri. Kretek hilang, dan komoditas cengkeh kembali menjadi semenjana.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi menuju peniadaan rokok kretek dan penghancuran pertanian cengkeh lewat ratifikasi FCTC ini sepertinya kian terang di negeri ini. Adalah Sri Mulyani, yang kini menjabat menteri keuangan di Indonesia yang mengambil peran besar dalam usaha peniadaan produk rokok kretek dan penghancuran cengkeh di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum, salah satu pemain utama dalam usaha menekan agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC adalah Bloomberg Initiatives. Dan Sri Mulyani, ada di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, di New York, Sri Mulyani juga sudah mengadakan pertemuan intensif dengan Bloomberg. Kado manis dari Sri Mulyani dengan menaikkan cukai rokok besar-besaran di negeri ini sudah diberikan kepada Bloomberg. Jika tidak dihalangi dengan gencar oleh seluruh stakeholder industri rokok di negeri ini, bukan tak mungkin kado istimewa lain dari Sri Mulyani kepada Bloomberg akan kembali diberikan, ratifikasi FCTC oleh pemerintah Indonesia. Rokok kretek mesti hilang dari pasar dalam negeri, dan petani cengkeh kembali merana.
<\/p>\n","post_title":"Susi Pujiastuti, Sri Mulyani, dan Perlakuan Mereka Terhadap Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"susi-pujiastuti-sri-mulyani-dan-perlakuan-mereka-terhadap-komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-21 08:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-21 01:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6465","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\n

PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n

Proxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi,  bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6465,"post_author":"878","post_date":"2020-02-21 08:17:35","post_date_gmt":"2020-02-21 01:17:35","post_content":"\n

Sekira tiga tahun lalu, saya berkesempatan berkunjung ke pulau Simeulue di provinsi Aceh. Kunjungan saya ke pulau yang terkenal dengan hasil lobsternya ini adalah untuk bertemu dengan petani cengkeh. Selain dikenal dengan hasil lautnya terutama lobster, pulau Simeulue juga dikenal sebagai penghasil cengkeh terbesar di Aceh. Keberadaan cengkeh di Simeulue seusia dengan keberadaan penjajah kolonial di sana yang menginisiasi penanaman cengkeh guna mengembalikan modal perang penjajah kolonial yang mengeluarkan banyak biaya selama perang penaklukan Aceh yang terkenal itu.<\/p>\n\n\n\n

Selama penelitian bertemu dengan puluhan petani cengkeh di Simeulue, ada tiga temuan menarik yang saya dapat hasil berbincang-bincang dengan banyak narasumber yang saya jumpai di sana. Dua temuan menarik terkait langsung dengan cengkeh, dan satu temuan lainnya tak ada kaitannya dengan cengkeh, lebih kepada bagaimana penduduk Simeulue berhasil menyelamatkan diri usai gempa besar dan tsunami melanda pulau tersebut pada akhir tahun 2004.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode 70an, ketika cengkeh kembali berjaya di pasaran dalam negeri, sejalan dengan menggeliatnya industri rokok kretek di Indonesia yang mulai menguasai pasar dalam negeri mengalahkan rokok putih yang sebelumnya menjadi promadona di Indonesia, masyarakat Simeulue kembali menanam cengkeh di perbukitan yang ada di wilayah mereka. Kondisi geografis pulau Simeulue yang berbukit-bukit dan dekat dengan laut memang mirip dengan kondisi geografis tempat pohon cengkeh awalnya berasal. Kondisi ini membikin cengkeh sangat cocok ditanam di pulau Simeulue dan tumbuh subur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Menyadari potensi cengkeh yang sangat menjanjikan, pada periode 70an, pejabat yang memimpin pulau Simeulue mengeluarkan peraturan yang tidak lazim. Ia mengeluarkan aturan bahwa seorang pemuda yang hendak menikah wajib menanam minimal 25 batang pohon cengkeh sebelum Ia menikah. Jika tidak menanam cengkeh, pemerintah lewat lembaga keagamaan daerah tidak akan menikahkan pemuda tersebut. Kebijakan ini berjalan terus hingga akhirnya bisnis cengkeh hancur berantakan pada periode 90an usai keberadaan BPPC yang diinisasi Orde Baru. Kebijakan yang mewajibkan penanaman pohon cengkeh bagi pemuda yang hendak menikah ini membikin pulau Simeulue hingga saat ini didominasi tanaman cengkeh di luar komoditas lain semisal kemiri, pala, dan sawit yang kini mulai ditanam massal di Simeulue.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kehancuran komoditas cengkeh usai keberadaan BPPC di periode 90an, cengkeh kembali bangkit usai reformasi bergulir di negeri ini. Meski begitu, komoditas cengkeh di pulau Simeulue terlambat bangkit dibanding di daerah-daerah lainnya yang menghasilkan cengkeh di negeri ini. Hingga tsunami menggulung beberapa wilayah di Aceh, termasuk pulau Simeulue, komoditas cengkeh masih medioker di Simeulue, berbeda dengan wilayah lain di Indonesia yang usaha pertanian cengkehnya kembali bergeliat dengan harga yang sangat menguntungkan.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Susi Pujiastuti, seorang pengusaha sukses yang pada periode pertama masa kepemimpinan presiden Jokowi menjabat menteri kelautan dan perikanan yang kembali meningkatkan pamor komoditas cengkeh di pulau Simeulue. Ini terjadi pada tahun 2007. Kala itu, belenggu tengkulak di pulau Simeulue membikin harga cengkeh jatuh di pasaran, jauh lebih kecil dibandingkan dengan harga komoditas ini di wilayah lain di negeri ini. Sebagai perbandingan, harga cengkeh di wilayah lain, pada periode 2000an kembali mencapai titik tertingginya dengan harga beli di tingkat petani mencapai Rp100.000 per kilogram bahkan lebih, sedang di Simeulue, harga cengkeh maksimal berada di titik Rp30.000 saja per kilogramnya, bahkan di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan di pulau Simeulue, harga cengkeh jauh di bawah Rp30.000 per kilogram.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan informasi yang saya dapat dari banyak petani cengkeh di pulau Simeulue, pada 2007, untuk memutus rantai tengkulak, Bu Susi memborong cengkeh di pulau Simeulue dengan harga Rp100.000 per kilogram, mengikuti harga yang ditetapkan di pasar nasional. Rantai jahat tengkulak berhasil diputus. Dan sejak saat itu hingga kini, harga cengkeh di pulau Simeulue mengikuti harga pasar nasional, pertanian cengkeh kembali menggeliat di sana berkat peran nyata Bu Susi. Mulanya saya kurang percaya dengan informasi ini, namun, puluhan petani yang saya temui di Simeulue, juga pejabat di dinas perkebunan di pulau Simeulue, mengamini apa yang dilakukan Bu Susi terhadap komoditas cengkeh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Kembali bergeliatnya komoditas cengkeh di negeri ini usai diberangusnya BPPC pasca reformasi, tak lepas dari berjayanya industri rokok kretek dalam negeri. Rokok kretek berhasil menguasai lebih 90 persen pasar rokok nasional hingga hari ini. Dengan cengkeh sebagai salah satu bahan baku utama sekaligus bahan baku kunci rokok kretek, cengkeh menjadi komoditas yang menjanjikan dan menguntungkan petani.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, kejayaan petani cengkeh ini terancam dengan keberadaan gerakan antirokok dan kepentingan bisnis global yang berusaha merebut pasar rokok yang begitu menjanjikan di negeri ini. Sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar kedua di dunia di bawah China, Indonesia tentu saja menjadi bidikan serius kapitalisme global di bidang rokok dan farmasi. Merasa gagal bersaing secara sehat dengan produk rokok kretek, mereka kini terus-menerus berusaha menghancurkan keberadaan rokok kretek lewat regulasi yang dibikin semena-mena dan tidak adil dalam wujud Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). <\/p>\n\n\n\n

Salah satu pasal penting dalam FCTC, adalah pengharaman keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok yang beredar di pasaran. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, dan menerapkannya dalam peraturan usaha rokok di Indonesia, maka mau tidak mau, setiap produksi rokok yang ada di Indonesia tidak boleh mengandung cengkeh secuil pun. Ini artinya, tidak akan ada lagi produk rokok kretek yang diproduksi pabrikan-pabrikan rokok dalam negeri. Kretek hilang, dan komoditas cengkeh kembali menjadi semenjana.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi menuju peniadaan rokok kretek dan penghancuran pertanian cengkeh lewat ratifikasi FCTC ini sepertinya kian terang di negeri ini. Adalah Sri Mulyani, yang kini menjabat menteri keuangan di Indonesia yang mengambil peran besar dalam usaha peniadaan produk rokok kretek dan penghancuran cengkeh di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum, salah satu pemain utama dalam usaha menekan agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC adalah Bloomberg Initiatives. Dan Sri Mulyani, ada di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, di New York, Sri Mulyani juga sudah mengadakan pertemuan intensif dengan Bloomberg. Kado manis dari Sri Mulyani dengan menaikkan cukai rokok besar-besaran di negeri ini sudah diberikan kepada Bloomberg. Jika tidak dihalangi dengan gencar oleh seluruh stakeholder industri rokok di negeri ini, bukan tak mungkin kado istimewa lain dari Sri Mulyani kepada Bloomberg akan kembali diberikan, ratifikasi FCTC oleh pemerintah Indonesia. Rokok kretek mesti hilang dari pasar dalam negeri, dan petani cengkeh kembali merana.
<\/p>\n","post_title":"Susi Pujiastuti, Sri Mulyani, dan Perlakuan Mereka Terhadap Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"susi-pujiastuti-sri-mulyani-dan-perlakuan-mereka-terhadap-komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-21 08:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-21 01:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6465","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\n

PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n

Proxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi,  bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6465,"post_author":"878","post_date":"2020-02-21 08:17:35","post_date_gmt":"2020-02-21 01:17:35","post_content":"\n

Sekira tiga tahun lalu, saya berkesempatan berkunjung ke pulau Simeulue di provinsi Aceh. Kunjungan saya ke pulau yang terkenal dengan hasil lobsternya ini adalah untuk bertemu dengan petani cengkeh. Selain dikenal dengan hasil lautnya terutama lobster, pulau Simeulue juga dikenal sebagai penghasil cengkeh terbesar di Aceh. Keberadaan cengkeh di Simeulue seusia dengan keberadaan penjajah kolonial di sana yang menginisiasi penanaman cengkeh guna mengembalikan modal perang penjajah kolonial yang mengeluarkan banyak biaya selama perang penaklukan Aceh yang terkenal itu.<\/p>\n\n\n\n

Selama penelitian bertemu dengan puluhan petani cengkeh di Simeulue, ada tiga temuan menarik yang saya dapat hasil berbincang-bincang dengan banyak narasumber yang saya jumpai di sana. Dua temuan menarik terkait langsung dengan cengkeh, dan satu temuan lainnya tak ada kaitannya dengan cengkeh, lebih kepada bagaimana penduduk Simeulue berhasil menyelamatkan diri usai gempa besar dan tsunami melanda pulau tersebut pada akhir tahun 2004.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode 70an, ketika cengkeh kembali berjaya di pasaran dalam negeri, sejalan dengan menggeliatnya industri rokok kretek di Indonesia yang mulai menguasai pasar dalam negeri mengalahkan rokok putih yang sebelumnya menjadi promadona di Indonesia, masyarakat Simeulue kembali menanam cengkeh di perbukitan yang ada di wilayah mereka. Kondisi geografis pulau Simeulue yang berbukit-bukit dan dekat dengan laut memang mirip dengan kondisi geografis tempat pohon cengkeh awalnya berasal. Kondisi ini membikin cengkeh sangat cocok ditanam di pulau Simeulue dan tumbuh subur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Menyadari potensi cengkeh yang sangat menjanjikan, pada periode 70an, pejabat yang memimpin pulau Simeulue mengeluarkan peraturan yang tidak lazim. Ia mengeluarkan aturan bahwa seorang pemuda yang hendak menikah wajib menanam minimal 25 batang pohon cengkeh sebelum Ia menikah. Jika tidak menanam cengkeh, pemerintah lewat lembaga keagamaan daerah tidak akan menikahkan pemuda tersebut. Kebijakan ini berjalan terus hingga akhirnya bisnis cengkeh hancur berantakan pada periode 90an usai keberadaan BPPC yang diinisasi Orde Baru. Kebijakan yang mewajibkan penanaman pohon cengkeh bagi pemuda yang hendak menikah ini membikin pulau Simeulue hingga saat ini didominasi tanaman cengkeh di luar komoditas lain semisal kemiri, pala, dan sawit yang kini mulai ditanam massal di Simeulue.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kehancuran komoditas cengkeh usai keberadaan BPPC di periode 90an, cengkeh kembali bangkit usai reformasi bergulir di negeri ini. Meski begitu, komoditas cengkeh di pulau Simeulue terlambat bangkit dibanding di daerah-daerah lainnya yang menghasilkan cengkeh di negeri ini. Hingga tsunami menggulung beberapa wilayah di Aceh, termasuk pulau Simeulue, komoditas cengkeh masih medioker di Simeulue, berbeda dengan wilayah lain di Indonesia yang usaha pertanian cengkehnya kembali bergeliat dengan harga yang sangat menguntungkan.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Susi Pujiastuti, seorang pengusaha sukses yang pada periode pertama masa kepemimpinan presiden Jokowi menjabat menteri kelautan dan perikanan yang kembali meningkatkan pamor komoditas cengkeh di pulau Simeulue. Ini terjadi pada tahun 2007. Kala itu, belenggu tengkulak di pulau Simeulue membikin harga cengkeh jatuh di pasaran, jauh lebih kecil dibandingkan dengan harga komoditas ini di wilayah lain di negeri ini. Sebagai perbandingan, harga cengkeh di wilayah lain, pada periode 2000an kembali mencapai titik tertingginya dengan harga beli di tingkat petani mencapai Rp100.000 per kilogram bahkan lebih, sedang di Simeulue, harga cengkeh maksimal berada di titik Rp30.000 saja per kilogramnya, bahkan di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan di pulau Simeulue, harga cengkeh jauh di bawah Rp30.000 per kilogram.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan informasi yang saya dapat dari banyak petani cengkeh di pulau Simeulue, pada 2007, untuk memutus rantai tengkulak, Bu Susi memborong cengkeh di pulau Simeulue dengan harga Rp100.000 per kilogram, mengikuti harga yang ditetapkan di pasar nasional. Rantai jahat tengkulak berhasil diputus. Dan sejak saat itu hingga kini, harga cengkeh di pulau Simeulue mengikuti harga pasar nasional, pertanian cengkeh kembali menggeliat di sana berkat peran nyata Bu Susi. Mulanya saya kurang percaya dengan informasi ini, namun, puluhan petani yang saya temui di Simeulue, juga pejabat di dinas perkebunan di pulau Simeulue, mengamini apa yang dilakukan Bu Susi terhadap komoditas cengkeh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Kembali bergeliatnya komoditas cengkeh di negeri ini usai diberangusnya BPPC pasca reformasi, tak lepas dari berjayanya industri rokok kretek dalam negeri. Rokok kretek berhasil menguasai lebih 90 persen pasar rokok nasional hingga hari ini. Dengan cengkeh sebagai salah satu bahan baku utama sekaligus bahan baku kunci rokok kretek, cengkeh menjadi komoditas yang menjanjikan dan menguntungkan petani.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, kejayaan petani cengkeh ini terancam dengan keberadaan gerakan antirokok dan kepentingan bisnis global yang berusaha merebut pasar rokok yang begitu menjanjikan di negeri ini. Sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar kedua di dunia di bawah China, Indonesia tentu saja menjadi bidikan serius kapitalisme global di bidang rokok dan farmasi. Merasa gagal bersaing secara sehat dengan produk rokok kretek, mereka kini terus-menerus berusaha menghancurkan keberadaan rokok kretek lewat regulasi yang dibikin semena-mena dan tidak adil dalam wujud Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). <\/p>\n\n\n\n

Salah satu pasal penting dalam FCTC, adalah pengharaman keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok yang beredar di pasaran. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, dan menerapkannya dalam peraturan usaha rokok di Indonesia, maka mau tidak mau, setiap produksi rokok yang ada di Indonesia tidak boleh mengandung cengkeh secuil pun. Ini artinya, tidak akan ada lagi produk rokok kretek yang diproduksi pabrikan-pabrikan rokok dalam negeri. Kretek hilang, dan komoditas cengkeh kembali menjadi semenjana.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi menuju peniadaan rokok kretek dan penghancuran pertanian cengkeh lewat ratifikasi FCTC ini sepertinya kian terang di negeri ini. Adalah Sri Mulyani, yang kini menjabat menteri keuangan di Indonesia yang mengambil peran besar dalam usaha peniadaan produk rokok kretek dan penghancuran cengkeh di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum, salah satu pemain utama dalam usaha menekan agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC adalah Bloomberg Initiatives. Dan Sri Mulyani, ada di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, di New York, Sri Mulyani juga sudah mengadakan pertemuan intensif dengan Bloomberg. Kado manis dari Sri Mulyani dengan menaikkan cukai rokok besar-besaran di negeri ini sudah diberikan kepada Bloomberg. Jika tidak dihalangi dengan gencar oleh seluruh stakeholder industri rokok di negeri ini, bukan tak mungkin kado istimewa lain dari Sri Mulyani kepada Bloomberg akan kembali diberikan, ratifikasi FCTC oleh pemerintah Indonesia. Rokok kretek mesti hilang dari pasar dalam negeri, dan petani cengkeh kembali merana.
<\/p>\n","post_title":"Susi Pujiastuti, Sri Mulyani, dan Perlakuan Mereka Terhadap Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"susi-pujiastuti-sri-mulyani-dan-perlakuan-mereka-terhadap-komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-21 08:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-21 01:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6465","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\n

PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n

Proxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi,  bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6465,"post_author":"878","post_date":"2020-02-21 08:17:35","post_date_gmt":"2020-02-21 01:17:35","post_content":"\n

Sekira tiga tahun lalu, saya berkesempatan berkunjung ke pulau Simeulue di provinsi Aceh. Kunjungan saya ke pulau yang terkenal dengan hasil lobsternya ini adalah untuk bertemu dengan petani cengkeh. Selain dikenal dengan hasil lautnya terutama lobster, pulau Simeulue juga dikenal sebagai penghasil cengkeh terbesar di Aceh. Keberadaan cengkeh di Simeulue seusia dengan keberadaan penjajah kolonial di sana yang menginisiasi penanaman cengkeh guna mengembalikan modal perang penjajah kolonial yang mengeluarkan banyak biaya selama perang penaklukan Aceh yang terkenal itu.<\/p>\n\n\n\n

Selama penelitian bertemu dengan puluhan petani cengkeh di Simeulue, ada tiga temuan menarik yang saya dapat hasil berbincang-bincang dengan banyak narasumber yang saya jumpai di sana. Dua temuan menarik terkait langsung dengan cengkeh, dan satu temuan lainnya tak ada kaitannya dengan cengkeh, lebih kepada bagaimana penduduk Simeulue berhasil menyelamatkan diri usai gempa besar dan tsunami melanda pulau tersebut pada akhir tahun 2004.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode 70an, ketika cengkeh kembali berjaya di pasaran dalam negeri, sejalan dengan menggeliatnya industri rokok kretek di Indonesia yang mulai menguasai pasar dalam negeri mengalahkan rokok putih yang sebelumnya menjadi promadona di Indonesia, masyarakat Simeulue kembali menanam cengkeh di perbukitan yang ada di wilayah mereka. Kondisi geografis pulau Simeulue yang berbukit-bukit dan dekat dengan laut memang mirip dengan kondisi geografis tempat pohon cengkeh awalnya berasal. Kondisi ini membikin cengkeh sangat cocok ditanam di pulau Simeulue dan tumbuh subur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Menyadari potensi cengkeh yang sangat menjanjikan, pada periode 70an, pejabat yang memimpin pulau Simeulue mengeluarkan peraturan yang tidak lazim. Ia mengeluarkan aturan bahwa seorang pemuda yang hendak menikah wajib menanam minimal 25 batang pohon cengkeh sebelum Ia menikah. Jika tidak menanam cengkeh, pemerintah lewat lembaga keagamaan daerah tidak akan menikahkan pemuda tersebut. Kebijakan ini berjalan terus hingga akhirnya bisnis cengkeh hancur berantakan pada periode 90an usai keberadaan BPPC yang diinisasi Orde Baru. Kebijakan yang mewajibkan penanaman pohon cengkeh bagi pemuda yang hendak menikah ini membikin pulau Simeulue hingga saat ini didominasi tanaman cengkeh di luar komoditas lain semisal kemiri, pala, dan sawit yang kini mulai ditanam massal di Simeulue.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kehancuran komoditas cengkeh usai keberadaan BPPC di periode 90an, cengkeh kembali bangkit usai reformasi bergulir di negeri ini. Meski begitu, komoditas cengkeh di pulau Simeulue terlambat bangkit dibanding di daerah-daerah lainnya yang menghasilkan cengkeh di negeri ini. Hingga tsunami menggulung beberapa wilayah di Aceh, termasuk pulau Simeulue, komoditas cengkeh masih medioker di Simeulue, berbeda dengan wilayah lain di Indonesia yang usaha pertanian cengkehnya kembali bergeliat dengan harga yang sangat menguntungkan.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Susi Pujiastuti, seorang pengusaha sukses yang pada periode pertama masa kepemimpinan presiden Jokowi menjabat menteri kelautan dan perikanan yang kembali meningkatkan pamor komoditas cengkeh di pulau Simeulue. Ini terjadi pada tahun 2007. Kala itu, belenggu tengkulak di pulau Simeulue membikin harga cengkeh jatuh di pasaran, jauh lebih kecil dibandingkan dengan harga komoditas ini di wilayah lain di negeri ini. Sebagai perbandingan, harga cengkeh di wilayah lain, pada periode 2000an kembali mencapai titik tertingginya dengan harga beli di tingkat petani mencapai Rp100.000 per kilogram bahkan lebih, sedang di Simeulue, harga cengkeh maksimal berada di titik Rp30.000 saja per kilogramnya, bahkan di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan di pulau Simeulue, harga cengkeh jauh di bawah Rp30.000 per kilogram.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan informasi yang saya dapat dari banyak petani cengkeh di pulau Simeulue, pada 2007, untuk memutus rantai tengkulak, Bu Susi memborong cengkeh di pulau Simeulue dengan harga Rp100.000 per kilogram, mengikuti harga yang ditetapkan di pasar nasional. Rantai jahat tengkulak berhasil diputus. Dan sejak saat itu hingga kini, harga cengkeh di pulau Simeulue mengikuti harga pasar nasional, pertanian cengkeh kembali menggeliat di sana berkat peran nyata Bu Susi. Mulanya saya kurang percaya dengan informasi ini, namun, puluhan petani yang saya temui di Simeulue, juga pejabat di dinas perkebunan di pulau Simeulue, mengamini apa yang dilakukan Bu Susi terhadap komoditas cengkeh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Kembali bergeliatnya komoditas cengkeh di negeri ini usai diberangusnya BPPC pasca reformasi, tak lepas dari berjayanya industri rokok kretek dalam negeri. Rokok kretek berhasil menguasai lebih 90 persen pasar rokok nasional hingga hari ini. Dengan cengkeh sebagai salah satu bahan baku utama sekaligus bahan baku kunci rokok kretek, cengkeh menjadi komoditas yang menjanjikan dan menguntungkan petani.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, kejayaan petani cengkeh ini terancam dengan keberadaan gerakan antirokok dan kepentingan bisnis global yang berusaha merebut pasar rokok yang begitu menjanjikan di negeri ini. Sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar kedua di dunia di bawah China, Indonesia tentu saja menjadi bidikan serius kapitalisme global di bidang rokok dan farmasi. Merasa gagal bersaing secara sehat dengan produk rokok kretek, mereka kini terus-menerus berusaha menghancurkan keberadaan rokok kretek lewat regulasi yang dibikin semena-mena dan tidak adil dalam wujud Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). <\/p>\n\n\n\n

Salah satu pasal penting dalam FCTC, adalah pengharaman keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok yang beredar di pasaran. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, dan menerapkannya dalam peraturan usaha rokok di Indonesia, maka mau tidak mau, setiap produksi rokok yang ada di Indonesia tidak boleh mengandung cengkeh secuil pun. Ini artinya, tidak akan ada lagi produk rokok kretek yang diproduksi pabrikan-pabrikan rokok dalam negeri. Kretek hilang, dan komoditas cengkeh kembali menjadi semenjana.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi menuju peniadaan rokok kretek dan penghancuran pertanian cengkeh lewat ratifikasi FCTC ini sepertinya kian terang di negeri ini. Adalah Sri Mulyani, yang kini menjabat menteri keuangan di Indonesia yang mengambil peran besar dalam usaha peniadaan produk rokok kretek dan penghancuran cengkeh di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum, salah satu pemain utama dalam usaha menekan agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC adalah Bloomberg Initiatives. Dan Sri Mulyani, ada di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, di New York, Sri Mulyani juga sudah mengadakan pertemuan intensif dengan Bloomberg. Kado manis dari Sri Mulyani dengan menaikkan cukai rokok besar-besaran di negeri ini sudah diberikan kepada Bloomberg. Jika tidak dihalangi dengan gencar oleh seluruh stakeholder industri rokok di negeri ini, bukan tak mungkin kado istimewa lain dari Sri Mulyani kepada Bloomberg akan kembali diberikan, ratifikasi FCTC oleh pemerintah Indonesia. Rokok kretek mesti hilang dari pasar dalam negeri, dan petani cengkeh kembali merana.
<\/p>\n","post_title":"Susi Pujiastuti, Sri Mulyani, dan Perlakuan Mereka Terhadap Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"susi-pujiastuti-sri-mulyani-dan-perlakuan-mereka-terhadap-komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-21 08:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-21 01:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6465","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\n

PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n

Proxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi,  bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6465,"post_author":"878","post_date":"2020-02-21 08:17:35","post_date_gmt":"2020-02-21 01:17:35","post_content":"\n

Sekira tiga tahun lalu, saya berkesempatan berkunjung ke pulau Simeulue di provinsi Aceh. Kunjungan saya ke pulau yang terkenal dengan hasil lobsternya ini adalah untuk bertemu dengan petani cengkeh. Selain dikenal dengan hasil lautnya terutama lobster, pulau Simeulue juga dikenal sebagai penghasil cengkeh terbesar di Aceh. Keberadaan cengkeh di Simeulue seusia dengan keberadaan penjajah kolonial di sana yang menginisiasi penanaman cengkeh guna mengembalikan modal perang penjajah kolonial yang mengeluarkan banyak biaya selama perang penaklukan Aceh yang terkenal itu.<\/p>\n\n\n\n

Selama penelitian bertemu dengan puluhan petani cengkeh di Simeulue, ada tiga temuan menarik yang saya dapat hasil berbincang-bincang dengan banyak narasumber yang saya jumpai di sana. Dua temuan menarik terkait langsung dengan cengkeh, dan satu temuan lainnya tak ada kaitannya dengan cengkeh, lebih kepada bagaimana penduduk Simeulue berhasil menyelamatkan diri usai gempa besar dan tsunami melanda pulau tersebut pada akhir tahun 2004.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode 70an, ketika cengkeh kembali berjaya di pasaran dalam negeri, sejalan dengan menggeliatnya industri rokok kretek di Indonesia yang mulai menguasai pasar dalam negeri mengalahkan rokok putih yang sebelumnya menjadi promadona di Indonesia, masyarakat Simeulue kembali menanam cengkeh di perbukitan yang ada di wilayah mereka. Kondisi geografis pulau Simeulue yang berbukit-bukit dan dekat dengan laut memang mirip dengan kondisi geografis tempat pohon cengkeh awalnya berasal. Kondisi ini membikin cengkeh sangat cocok ditanam di pulau Simeulue dan tumbuh subur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Menyadari potensi cengkeh yang sangat menjanjikan, pada periode 70an, pejabat yang memimpin pulau Simeulue mengeluarkan peraturan yang tidak lazim. Ia mengeluarkan aturan bahwa seorang pemuda yang hendak menikah wajib menanam minimal 25 batang pohon cengkeh sebelum Ia menikah. Jika tidak menanam cengkeh, pemerintah lewat lembaga keagamaan daerah tidak akan menikahkan pemuda tersebut. Kebijakan ini berjalan terus hingga akhirnya bisnis cengkeh hancur berantakan pada periode 90an usai keberadaan BPPC yang diinisasi Orde Baru. Kebijakan yang mewajibkan penanaman pohon cengkeh bagi pemuda yang hendak menikah ini membikin pulau Simeulue hingga saat ini didominasi tanaman cengkeh di luar komoditas lain semisal kemiri, pala, dan sawit yang kini mulai ditanam massal di Simeulue.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kehancuran komoditas cengkeh usai keberadaan BPPC di periode 90an, cengkeh kembali bangkit usai reformasi bergulir di negeri ini. Meski begitu, komoditas cengkeh di pulau Simeulue terlambat bangkit dibanding di daerah-daerah lainnya yang menghasilkan cengkeh di negeri ini. Hingga tsunami menggulung beberapa wilayah di Aceh, termasuk pulau Simeulue, komoditas cengkeh masih medioker di Simeulue, berbeda dengan wilayah lain di Indonesia yang usaha pertanian cengkehnya kembali bergeliat dengan harga yang sangat menguntungkan.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Susi Pujiastuti, seorang pengusaha sukses yang pada periode pertama masa kepemimpinan presiden Jokowi menjabat menteri kelautan dan perikanan yang kembali meningkatkan pamor komoditas cengkeh di pulau Simeulue. Ini terjadi pada tahun 2007. Kala itu, belenggu tengkulak di pulau Simeulue membikin harga cengkeh jatuh di pasaran, jauh lebih kecil dibandingkan dengan harga komoditas ini di wilayah lain di negeri ini. Sebagai perbandingan, harga cengkeh di wilayah lain, pada periode 2000an kembali mencapai titik tertingginya dengan harga beli di tingkat petani mencapai Rp100.000 per kilogram bahkan lebih, sedang di Simeulue, harga cengkeh maksimal berada di titik Rp30.000 saja per kilogramnya, bahkan di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan di pulau Simeulue, harga cengkeh jauh di bawah Rp30.000 per kilogram.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan informasi yang saya dapat dari banyak petani cengkeh di pulau Simeulue, pada 2007, untuk memutus rantai tengkulak, Bu Susi memborong cengkeh di pulau Simeulue dengan harga Rp100.000 per kilogram, mengikuti harga yang ditetapkan di pasar nasional. Rantai jahat tengkulak berhasil diputus. Dan sejak saat itu hingga kini, harga cengkeh di pulau Simeulue mengikuti harga pasar nasional, pertanian cengkeh kembali menggeliat di sana berkat peran nyata Bu Susi. Mulanya saya kurang percaya dengan informasi ini, namun, puluhan petani yang saya temui di Simeulue, juga pejabat di dinas perkebunan di pulau Simeulue, mengamini apa yang dilakukan Bu Susi terhadap komoditas cengkeh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Kembali bergeliatnya komoditas cengkeh di negeri ini usai diberangusnya BPPC pasca reformasi, tak lepas dari berjayanya industri rokok kretek dalam negeri. Rokok kretek berhasil menguasai lebih 90 persen pasar rokok nasional hingga hari ini. Dengan cengkeh sebagai salah satu bahan baku utama sekaligus bahan baku kunci rokok kretek, cengkeh menjadi komoditas yang menjanjikan dan menguntungkan petani.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, kejayaan petani cengkeh ini terancam dengan keberadaan gerakan antirokok dan kepentingan bisnis global yang berusaha merebut pasar rokok yang begitu menjanjikan di negeri ini. Sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar kedua di dunia di bawah China, Indonesia tentu saja menjadi bidikan serius kapitalisme global di bidang rokok dan farmasi. Merasa gagal bersaing secara sehat dengan produk rokok kretek, mereka kini terus-menerus berusaha menghancurkan keberadaan rokok kretek lewat regulasi yang dibikin semena-mena dan tidak adil dalam wujud Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). <\/p>\n\n\n\n

Salah satu pasal penting dalam FCTC, adalah pengharaman keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok yang beredar di pasaran. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, dan menerapkannya dalam peraturan usaha rokok di Indonesia, maka mau tidak mau, setiap produksi rokok yang ada di Indonesia tidak boleh mengandung cengkeh secuil pun. Ini artinya, tidak akan ada lagi produk rokok kretek yang diproduksi pabrikan-pabrikan rokok dalam negeri. Kretek hilang, dan komoditas cengkeh kembali menjadi semenjana.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi menuju peniadaan rokok kretek dan penghancuran pertanian cengkeh lewat ratifikasi FCTC ini sepertinya kian terang di negeri ini. Adalah Sri Mulyani, yang kini menjabat menteri keuangan di Indonesia yang mengambil peran besar dalam usaha peniadaan produk rokok kretek dan penghancuran cengkeh di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum, salah satu pemain utama dalam usaha menekan agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC adalah Bloomberg Initiatives. Dan Sri Mulyani, ada di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, di New York, Sri Mulyani juga sudah mengadakan pertemuan intensif dengan Bloomberg. Kado manis dari Sri Mulyani dengan menaikkan cukai rokok besar-besaran di negeri ini sudah diberikan kepada Bloomberg. Jika tidak dihalangi dengan gencar oleh seluruh stakeholder industri rokok di negeri ini, bukan tak mungkin kado istimewa lain dari Sri Mulyani kepada Bloomberg akan kembali diberikan, ratifikasi FCTC oleh pemerintah Indonesia. Rokok kretek mesti hilang dari pasar dalam negeri, dan petani cengkeh kembali merana.
<\/p>\n","post_title":"Susi Pujiastuti, Sri Mulyani, dan Perlakuan Mereka Terhadap Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"susi-pujiastuti-sri-mulyani-dan-perlakuan-mereka-terhadap-komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-21 08:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-21 01:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6465","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\n

PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n

Proxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi,  bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6465,"post_author":"878","post_date":"2020-02-21 08:17:35","post_date_gmt":"2020-02-21 01:17:35","post_content":"\n

Sekira tiga tahun lalu, saya berkesempatan berkunjung ke pulau Simeulue di provinsi Aceh. Kunjungan saya ke pulau yang terkenal dengan hasil lobsternya ini adalah untuk bertemu dengan petani cengkeh. Selain dikenal dengan hasil lautnya terutama lobster, pulau Simeulue juga dikenal sebagai penghasil cengkeh terbesar di Aceh. Keberadaan cengkeh di Simeulue seusia dengan keberadaan penjajah kolonial di sana yang menginisiasi penanaman cengkeh guna mengembalikan modal perang penjajah kolonial yang mengeluarkan banyak biaya selama perang penaklukan Aceh yang terkenal itu.<\/p>\n\n\n\n

Selama penelitian bertemu dengan puluhan petani cengkeh di Simeulue, ada tiga temuan menarik yang saya dapat hasil berbincang-bincang dengan banyak narasumber yang saya jumpai di sana. Dua temuan menarik terkait langsung dengan cengkeh, dan satu temuan lainnya tak ada kaitannya dengan cengkeh, lebih kepada bagaimana penduduk Simeulue berhasil menyelamatkan diri usai gempa besar dan tsunami melanda pulau tersebut pada akhir tahun 2004.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode 70an, ketika cengkeh kembali berjaya di pasaran dalam negeri, sejalan dengan menggeliatnya industri rokok kretek di Indonesia yang mulai menguasai pasar dalam negeri mengalahkan rokok putih yang sebelumnya menjadi promadona di Indonesia, masyarakat Simeulue kembali menanam cengkeh di perbukitan yang ada di wilayah mereka. Kondisi geografis pulau Simeulue yang berbukit-bukit dan dekat dengan laut memang mirip dengan kondisi geografis tempat pohon cengkeh awalnya berasal. Kondisi ini membikin cengkeh sangat cocok ditanam di pulau Simeulue dan tumbuh subur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Menyadari potensi cengkeh yang sangat menjanjikan, pada periode 70an, pejabat yang memimpin pulau Simeulue mengeluarkan peraturan yang tidak lazim. Ia mengeluarkan aturan bahwa seorang pemuda yang hendak menikah wajib menanam minimal 25 batang pohon cengkeh sebelum Ia menikah. Jika tidak menanam cengkeh, pemerintah lewat lembaga keagamaan daerah tidak akan menikahkan pemuda tersebut. Kebijakan ini berjalan terus hingga akhirnya bisnis cengkeh hancur berantakan pada periode 90an usai keberadaan BPPC yang diinisasi Orde Baru. Kebijakan yang mewajibkan penanaman pohon cengkeh bagi pemuda yang hendak menikah ini membikin pulau Simeulue hingga saat ini didominasi tanaman cengkeh di luar komoditas lain semisal kemiri, pala, dan sawit yang kini mulai ditanam massal di Simeulue.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kehancuran komoditas cengkeh usai keberadaan BPPC di periode 90an, cengkeh kembali bangkit usai reformasi bergulir di negeri ini. Meski begitu, komoditas cengkeh di pulau Simeulue terlambat bangkit dibanding di daerah-daerah lainnya yang menghasilkan cengkeh di negeri ini. Hingga tsunami menggulung beberapa wilayah di Aceh, termasuk pulau Simeulue, komoditas cengkeh masih medioker di Simeulue, berbeda dengan wilayah lain di Indonesia yang usaha pertanian cengkehnya kembali bergeliat dengan harga yang sangat menguntungkan.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Susi Pujiastuti, seorang pengusaha sukses yang pada periode pertama masa kepemimpinan presiden Jokowi menjabat menteri kelautan dan perikanan yang kembali meningkatkan pamor komoditas cengkeh di pulau Simeulue. Ini terjadi pada tahun 2007. Kala itu, belenggu tengkulak di pulau Simeulue membikin harga cengkeh jatuh di pasaran, jauh lebih kecil dibandingkan dengan harga komoditas ini di wilayah lain di negeri ini. Sebagai perbandingan, harga cengkeh di wilayah lain, pada periode 2000an kembali mencapai titik tertingginya dengan harga beli di tingkat petani mencapai Rp100.000 per kilogram bahkan lebih, sedang di Simeulue, harga cengkeh maksimal berada di titik Rp30.000 saja per kilogramnya, bahkan di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan di pulau Simeulue, harga cengkeh jauh di bawah Rp30.000 per kilogram.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan informasi yang saya dapat dari banyak petani cengkeh di pulau Simeulue, pada 2007, untuk memutus rantai tengkulak, Bu Susi memborong cengkeh di pulau Simeulue dengan harga Rp100.000 per kilogram, mengikuti harga yang ditetapkan di pasar nasional. Rantai jahat tengkulak berhasil diputus. Dan sejak saat itu hingga kini, harga cengkeh di pulau Simeulue mengikuti harga pasar nasional, pertanian cengkeh kembali menggeliat di sana berkat peran nyata Bu Susi. Mulanya saya kurang percaya dengan informasi ini, namun, puluhan petani yang saya temui di Simeulue, juga pejabat di dinas perkebunan di pulau Simeulue, mengamini apa yang dilakukan Bu Susi terhadap komoditas cengkeh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Kembali bergeliatnya komoditas cengkeh di negeri ini usai diberangusnya BPPC pasca reformasi, tak lepas dari berjayanya industri rokok kretek dalam negeri. Rokok kretek berhasil menguasai lebih 90 persen pasar rokok nasional hingga hari ini. Dengan cengkeh sebagai salah satu bahan baku utama sekaligus bahan baku kunci rokok kretek, cengkeh menjadi komoditas yang menjanjikan dan menguntungkan petani.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, kejayaan petani cengkeh ini terancam dengan keberadaan gerakan antirokok dan kepentingan bisnis global yang berusaha merebut pasar rokok yang begitu menjanjikan di negeri ini. Sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar kedua di dunia di bawah China, Indonesia tentu saja menjadi bidikan serius kapitalisme global di bidang rokok dan farmasi. Merasa gagal bersaing secara sehat dengan produk rokok kretek, mereka kini terus-menerus berusaha menghancurkan keberadaan rokok kretek lewat regulasi yang dibikin semena-mena dan tidak adil dalam wujud Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). <\/p>\n\n\n\n

Salah satu pasal penting dalam FCTC, adalah pengharaman keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok yang beredar di pasaran. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, dan menerapkannya dalam peraturan usaha rokok di Indonesia, maka mau tidak mau, setiap produksi rokok yang ada di Indonesia tidak boleh mengandung cengkeh secuil pun. Ini artinya, tidak akan ada lagi produk rokok kretek yang diproduksi pabrikan-pabrikan rokok dalam negeri. Kretek hilang, dan komoditas cengkeh kembali menjadi semenjana.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi menuju peniadaan rokok kretek dan penghancuran pertanian cengkeh lewat ratifikasi FCTC ini sepertinya kian terang di negeri ini. Adalah Sri Mulyani, yang kini menjabat menteri keuangan di Indonesia yang mengambil peran besar dalam usaha peniadaan produk rokok kretek dan penghancuran cengkeh di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum, salah satu pemain utama dalam usaha menekan agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC adalah Bloomberg Initiatives. Dan Sri Mulyani, ada di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, di New York, Sri Mulyani juga sudah mengadakan pertemuan intensif dengan Bloomberg. Kado manis dari Sri Mulyani dengan menaikkan cukai rokok besar-besaran di negeri ini sudah diberikan kepada Bloomberg. Jika tidak dihalangi dengan gencar oleh seluruh stakeholder industri rokok di negeri ini, bukan tak mungkin kado istimewa lain dari Sri Mulyani kepada Bloomberg akan kembali diberikan, ratifikasi FCTC oleh pemerintah Indonesia. Rokok kretek mesti hilang dari pasar dalam negeri, dan petani cengkeh kembali merana.
<\/p>\n","post_title":"Susi Pujiastuti, Sri Mulyani, dan Perlakuan Mereka Terhadap Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"susi-pujiastuti-sri-mulyani-dan-perlakuan-mereka-terhadap-komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-21 08:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-21 01:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6465","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\n

PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n

Proxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi,  bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6465,"post_author":"878","post_date":"2020-02-21 08:17:35","post_date_gmt":"2020-02-21 01:17:35","post_content":"\n

Sekira tiga tahun lalu, saya berkesempatan berkunjung ke pulau Simeulue di provinsi Aceh. Kunjungan saya ke pulau yang terkenal dengan hasil lobsternya ini adalah untuk bertemu dengan petani cengkeh. Selain dikenal dengan hasil lautnya terutama lobster, pulau Simeulue juga dikenal sebagai penghasil cengkeh terbesar di Aceh. Keberadaan cengkeh di Simeulue seusia dengan keberadaan penjajah kolonial di sana yang menginisiasi penanaman cengkeh guna mengembalikan modal perang penjajah kolonial yang mengeluarkan banyak biaya selama perang penaklukan Aceh yang terkenal itu.<\/p>\n\n\n\n

Selama penelitian bertemu dengan puluhan petani cengkeh di Simeulue, ada tiga temuan menarik yang saya dapat hasil berbincang-bincang dengan banyak narasumber yang saya jumpai di sana. Dua temuan menarik terkait langsung dengan cengkeh, dan satu temuan lainnya tak ada kaitannya dengan cengkeh, lebih kepada bagaimana penduduk Simeulue berhasil menyelamatkan diri usai gempa besar dan tsunami melanda pulau tersebut pada akhir tahun 2004.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode 70an, ketika cengkeh kembali berjaya di pasaran dalam negeri, sejalan dengan menggeliatnya industri rokok kretek di Indonesia yang mulai menguasai pasar dalam negeri mengalahkan rokok putih yang sebelumnya menjadi promadona di Indonesia, masyarakat Simeulue kembali menanam cengkeh di perbukitan yang ada di wilayah mereka. Kondisi geografis pulau Simeulue yang berbukit-bukit dan dekat dengan laut memang mirip dengan kondisi geografis tempat pohon cengkeh awalnya berasal. Kondisi ini membikin cengkeh sangat cocok ditanam di pulau Simeulue dan tumbuh subur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Menyadari potensi cengkeh yang sangat menjanjikan, pada periode 70an, pejabat yang memimpin pulau Simeulue mengeluarkan peraturan yang tidak lazim. Ia mengeluarkan aturan bahwa seorang pemuda yang hendak menikah wajib menanam minimal 25 batang pohon cengkeh sebelum Ia menikah. Jika tidak menanam cengkeh, pemerintah lewat lembaga keagamaan daerah tidak akan menikahkan pemuda tersebut. Kebijakan ini berjalan terus hingga akhirnya bisnis cengkeh hancur berantakan pada periode 90an usai keberadaan BPPC yang diinisasi Orde Baru. Kebijakan yang mewajibkan penanaman pohon cengkeh bagi pemuda yang hendak menikah ini membikin pulau Simeulue hingga saat ini didominasi tanaman cengkeh di luar komoditas lain semisal kemiri, pala, dan sawit yang kini mulai ditanam massal di Simeulue.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kehancuran komoditas cengkeh usai keberadaan BPPC di periode 90an, cengkeh kembali bangkit usai reformasi bergulir di negeri ini. Meski begitu, komoditas cengkeh di pulau Simeulue terlambat bangkit dibanding di daerah-daerah lainnya yang menghasilkan cengkeh di negeri ini. Hingga tsunami menggulung beberapa wilayah di Aceh, termasuk pulau Simeulue, komoditas cengkeh masih medioker di Simeulue, berbeda dengan wilayah lain di Indonesia yang usaha pertanian cengkehnya kembali bergeliat dengan harga yang sangat menguntungkan.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Susi Pujiastuti, seorang pengusaha sukses yang pada periode pertama masa kepemimpinan presiden Jokowi menjabat menteri kelautan dan perikanan yang kembali meningkatkan pamor komoditas cengkeh di pulau Simeulue. Ini terjadi pada tahun 2007. Kala itu, belenggu tengkulak di pulau Simeulue membikin harga cengkeh jatuh di pasaran, jauh lebih kecil dibandingkan dengan harga komoditas ini di wilayah lain di negeri ini. Sebagai perbandingan, harga cengkeh di wilayah lain, pada periode 2000an kembali mencapai titik tertingginya dengan harga beli di tingkat petani mencapai Rp100.000 per kilogram bahkan lebih, sedang di Simeulue, harga cengkeh maksimal berada di titik Rp30.000 saja per kilogramnya, bahkan di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan di pulau Simeulue, harga cengkeh jauh di bawah Rp30.000 per kilogram.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan informasi yang saya dapat dari banyak petani cengkeh di pulau Simeulue, pada 2007, untuk memutus rantai tengkulak, Bu Susi memborong cengkeh di pulau Simeulue dengan harga Rp100.000 per kilogram, mengikuti harga yang ditetapkan di pasar nasional. Rantai jahat tengkulak berhasil diputus. Dan sejak saat itu hingga kini, harga cengkeh di pulau Simeulue mengikuti harga pasar nasional, pertanian cengkeh kembali menggeliat di sana berkat peran nyata Bu Susi. Mulanya saya kurang percaya dengan informasi ini, namun, puluhan petani yang saya temui di Simeulue, juga pejabat di dinas perkebunan di pulau Simeulue, mengamini apa yang dilakukan Bu Susi terhadap komoditas cengkeh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Kembali bergeliatnya komoditas cengkeh di negeri ini usai diberangusnya BPPC pasca reformasi, tak lepas dari berjayanya industri rokok kretek dalam negeri. Rokok kretek berhasil menguasai lebih 90 persen pasar rokok nasional hingga hari ini. Dengan cengkeh sebagai salah satu bahan baku utama sekaligus bahan baku kunci rokok kretek, cengkeh menjadi komoditas yang menjanjikan dan menguntungkan petani.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, kejayaan petani cengkeh ini terancam dengan keberadaan gerakan antirokok dan kepentingan bisnis global yang berusaha merebut pasar rokok yang begitu menjanjikan di negeri ini. Sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar kedua di dunia di bawah China, Indonesia tentu saja menjadi bidikan serius kapitalisme global di bidang rokok dan farmasi. Merasa gagal bersaing secara sehat dengan produk rokok kretek, mereka kini terus-menerus berusaha menghancurkan keberadaan rokok kretek lewat regulasi yang dibikin semena-mena dan tidak adil dalam wujud Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). <\/p>\n\n\n\n

Salah satu pasal penting dalam FCTC, adalah pengharaman keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok yang beredar di pasaran. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, dan menerapkannya dalam peraturan usaha rokok di Indonesia, maka mau tidak mau, setiap produksi rokok yang ada di Indonesia tidak boleh mengandung cengkeh secuil pun. Ini artinya, tidak akan ada lagi produk rokok kretek yang diproduksi pabrikan-pabrikan rokok dalam negeri. Kretek hilang, dan komoditas cengkeh kembali menjadi semenjana.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi menuju peniadaan rokok kretek dan penghancuran pertanian cengkeh lewat ratifikasi FCTC ini sepertinya kian terang di negeri ini. Adalah Sri Mulyani, yang kini menjabat menteri keuangan di Indonesia yang mengambil peran besar dalam usaha peniadaan produk rokok kretek dan penghancuran cengkeh di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum, salah satu pemain utama dalam usaha menekan agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC adalah Bloomberg Initiatives. Dan Sri Mulyani, ada di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, di New York, Sri Mulyani juga sudah mengadakan pertemuan intensif dengan Bloomberg. Kado manis dari Sri Mulyani dengan menaikkan cukai rokok besar-besaran di negeri ini sudah diberikan kepada Bloomberg. Jika tidak dihalangi dengan gencar oleh seluruh stakeholder industri rokok di negeri ini, bukan tak mungkin kado istimewa lain dari Sri Mulyani kepada Bloomberg akan kembali diberikan, ratifikasi FCTC oleh pemerintah Indonesia. Rokok kretek mesti hilang dari pasar dalam negeri, dan petani cengkeh kembali merana.
<\/p>\n","post_title":"Susi Pujiastuti, Sri Mulyani, dan Perlakuan Mereka Terhadap Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"susi-pujiastuti-sri-mulyani-dan-perlakuan-mereka-terhadap-komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-21 08:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-21 01:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6465","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\n

PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n

Proxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi,  bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6465,"post_author":"878","post_date":"2020-02-21 08:17:35","post_date_gmt":"2020-02-21 01:17:35","post_content":"\n

Sekira tiga tahun lalu, saya berkesempatan berkunjung ke pulau Simeulue di provinsi Aceh. Kunjungan saya ke pulau yang terkenal dengan hasil lobsternya ini adalah untuk bertemu dengan petani cengkeh. Selain dikenal dengan hasil lautnya terutama lobster, pulau Simeulue juga dikenal sebagai penghasil cengkeh terbesar di Aceh. Keberadaan cengkeh di Simeulue seusia dengan keberadaan penjajah kolonial di sana yang menginisiasi penanaman cengkeh guna mengembalikan modal perang penjajah kolonial yang mengeluarkan banyak biaya selama perang penaklukan Aceh yang terkenal itu.<\/p>\n\n\n\n

Selama penelitian bertemu dengan puluhan petani cengkeh di Simeulue, ada tiga temuan menarik yang saya dapat hasil berbincang-bincang dengan banyak narasumber yang saya jumpai di sana. Dua temuan menarik terkait langsung dengan cengkeh, dan satu temuan lainnya tak ada kaitannya dengan cengkeh, lebih kepada bagaimana penduduk Simeulue berhasil menyelamatkan diri usai gempa besar dan tsunami melanda pulau tersebut pada akhir tahun 2004.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode 70an, ketika cengkeh kembali berjaya di pasaran dalam negeri, sejalan dengan menggeliatnya industri rokok kretek di Indonesia yang mulai menguasai pasar dalam negeri mengalahkan rokok putih yang sebelumnya menjadi promadona di Indonesia, masyarakat Simeulue kembali menanam cengkeh di perbukitan yang ada di wilayah mereka. Kondisi geografis pulau Simeulue yang berbukit-bukit dan dekat dengan laut memang mirip dengan kondisi geografis tempat pohon cengkeh awalnya berasal. Kondisi ini membikin cengkeh sangat cocok ditanam di pulau Simeulue dan tumbuh subur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Menyadari potensi cengkeh yang sangat menjanjikan, pada periode 70an, pejabat yang memimpin pulau Simeulue mengeluarkan peraturan yang tidak lazim. Ia mengeluarkan aturan bahwa seorang pemuda yang hendak menikah wajib menanam minimal 25 batang pohon cengkeh sebelum Ia menikah. Jika tidak menanam cengkeh, pemerintah lewat lembaga keagamaan daerah tidak akan menikahkan pemuda tersebut. Kebijakan ini berjalan terus hingga akhirnya bisnis cengkeh hancur berantakan pada periode 90an usai keberadaan BPPC yang diinisasi Orde Baru. Kebijakan yang mewajibkan penanaman pohon cengkeh bagi pemuda yang hendak menikah ini membikin pulau Simeulue hingga saat ini didominasi tanaman cengkeh di luar komoditas lain semisal kemiri, pala, dan sawit yang kini mulai ditanam massal di Simeulue.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kehancuran komoditas cengkeh usai keberadaan BPPC di periode 90an, cengkeh kembali bangkit usai reformasi bergulir di negeri ini. Meski begitu, komoditas cengkeh di pulau Simeulue terlambat bangkit dibanding di daerah-daerah lainnya yang menghasilkan cengkeh di negeri ini. Hingga tsunami menggulung beberapa wilayah di Aceh, termasuk pulau Simeulue, komoditas cengkeh masih medioker di Simeulue, berbeda dengan wilayah lain di Indonesia yang usaha pertanian cengkehnya kembali bergeliat dengan harga yang sangat menguntungkan.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Susi Pujiastuti, seorang pengusaha sukses yang pada periode pertama masa kepemimpinan presiden Jokowi menjabat menteri kelautan dan perikanan yang kembali meningkatkan pamor komoditas cengkeh di pulau Simeulue. Ini terjadi pada tahun 2007. Kala itu, belenggu tengkulak di pulau Simeulue membikin harga cengkeh jatuh di pasaran, jauh lebih kecil dibandingkan dengan harga komoditas ini di wilayah lain di negeri ini. Sebagai perbandingan, harga cengkeh di wilayah lain, pada periode 2000an kembali mencapai titik tertingginya dengan harga beli di tingkat petani mencapai Rp100.000 per kilogram bahkan lebih, sedang di Simeulue, harga cengkeh maksimal berada di titik Rp30.000 saja per kilogramnya, bahkan di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan di pulau Simeulue, harga cengkeh jauh di bawah Rp30.000 per kilogram.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan informasi yang saya dapat dari banyak petani cengkeh di pulau Simeulue, pada 2007, untuk memutus rantai tengkulak, Bu Susi memborong cengkeh di pulau Simeulue dengan harga Rp100.000 per kilogram, mengikuti harga yang ditetapkan di pasar nasional. Rantai jahat tengkulak berhasil diputus. Dan sejak saat itu hingga kini, harga cengkeh di pulau Simeulue mengikuti harga pasar nasional, pertanian cengkeh kembali menggeliat di sana berkat peran nyata Bu Susi. Mulanya saya kurang percaya dengan informasi ini, namun, puluhan petani yang saya temui di Simeulue, juga pejabat di dinas perkebunan di pulau Simeulue, mengamini apa yang dilakukan Bu Susi terhadap komoditas cengkeh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Kembali bergeliatnya komoditas cengkeh di negeri ini usai diberangusnya BPPC pasca reformasi, tak lepas dari berjayanya industri rokok kretek dalam negeri. Rokok kretek berhasil menguasai lebih 90 persen pasar rokok nasional hingga hari ini. Dengan cengkeh sebagai salah satu bahan baku utama sekaligus bahan baku kunci rokok kretek, cengkeh menjadi komoditas yang menjanjikan dan menguntungkan petani.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, kejayaan petani cengkeh ini terancam dengan keberadaan gerakan antirokok dan kepentingan bisnis global yang berusaha merebut pasar rokok yang begitu menjanjikan di negeri ini. Sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar kedua di dunia di bawah China, Indonesia tentu saja menjadi bidikan serius kapitalisme global di bidang rokok dan farmasi. Merasa gagal bersaing secara sehat dengan produk rokok kretek, mereka kini terus-menerus berusaha menghancurkan keberadaan rokok kretek lewat regulasi yang dibikin semena-mena dan tidak adil dalam wujud Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). <\/p>\n\n\n\n

Salah satu pasal penting dalam FCTC, adalah pengharaman keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok yang beredar di pasaran. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, dan menerapkannya dalam peraturan usaha rokok di Indonesia, maka mau tidak mau, setiap produksi rokok yang ada di Indonesia tidak boleh mengandung cengkeh secuil pun. Ini artinya, tidak akan ada lagi produk rokok kretek yang diproduksi pabrikan-pabrikan rokok dalam negeri. Kretek hilang, dan komoditas cengkeh kembali menjadi semenjana.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi menuju peniadaan rokok kretek dan penghancuran pertanian cengkeh lewat ratifikasi FCTC ini sepertinya kian terang di negeri ini. Adalah Sri Mulyani, yang kini menjabat menteri keuangan di Indonesia yang mengambil peran besar dalam usaha peniadaan produk rokok kretek dan penghancuran cengkeh di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum, salah satu pemain utama dalam usaha menekan agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC adalah Bloomberg Initiatives. Dan Sri Mulyani, ada di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, di New York, Sri Mulyani juga sudah mengadakan pertemuan intensif dengan Bloomberg. Kado manis dari Sri Mulyani dengan menaikkan cukai rokok besar-besaran di negeri ini sudah diberikan kepada Bloomberg. Jika tidak dihalangi dengan gencar oleh seluruh stakeholder industri rokok di negeri ini, bukan tak mungkin kado istimewa lain dari Sri Mulyani kepada Bloomberg akan kembali diberikan, ratifikasi FCTC oleh pemerintah Indonesia. Rokok kretek mesti hilang dari pasar dalam negeri, dan petani cengkeh kembali merana.
<\/p>\n","post_title":"Susi Pujiastuti, Sri Mulyani, dan Perlakuan Mereka Terhadap Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"susi-pujiastuti-sri-mulyani-dan-perlakuan-mereka-terhadap-komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-21 08:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-21 01:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6465","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\n

PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n

Proxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi,  bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6465,"post_author":"878","post_date":"2020-02-21 08:17:35","post_date_gmt":"2020-02-21 01:17:35","post_content":"\n

Sekira tiga tahun lalu, saya berkesempatan berkunjung ke pulau Simeulue di provinsi Aceh. Kunjungan saya ke pulau yang terkenal dengan hasil lobsternya ini adalah untuk bertemu dengan petani cengkeh. Selain dikenal dengan hasil lautnya terutama lobster, pulau Simeulue juga dikenal sebagai penghasil cengkeh terbesar di Aceh. Keberadaan cengkeh di Simeulue seusia dengan keberadaan penjajah kolonial di sana yang menginisiasi penanaman cengkeh guna mengembalikan modal perang penjajah kolonial yang mengeluarkan banyak biaya selama perang penaklukan Aceh yang terkenal itu.<\/p>\n\n\n\n

Selama penelitian bertemu dengan puluhan petani cengkeh di Simeulue, ada tiga temuan menarik yang saya dapat hasil berbincang-bincang dengan banyak narasumber yang saya jumpai di sana. Dua temuan menarik terkait langsung dengan cengkeh, dan satu temuan lainnya tak ada kaitannya dengan cengkeh, lebih kepada bagaimana penduduk Simeulue berhasil menyelamatkan diri usai gempa besar dan tsunami melanda pulau tersebut pada akhir tahun 2004.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode 70an, ketika cengkeh kembali berjaya di pasaran dalam negeri, sejalan dengan menggeliatnya industri rokok kretek di Indonesia yang mulai menguasai pasar dalam negeri mengalahkan rokok putih yang sebelumnya menjadi promadona di Indonesia, masyarakat Simeulue kembali menanam cengkeh di perbukitan yang ada di wilayah mereka. Kondisi geografis pulau Simeulue yang berbukit-bukit dan dekat dengan laut memang mirip dengan kondisi geografis tempat pohon cengkeh awalnya berasal. Kondisi ini membikin cengkeh sangat cocok ditanam di pulau Simeulue dan tumbuh subur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Menyadari potensi cengkeh yang sangat menjanjikan, pada periode 70an, pejabat yang memimpin pulau Simeulue mengeluarkan peraturan yang tidak lazim. Ia mengeluarkan aturan bahwa seorang pemuda yang hendak menikah wajib menanam minimal 25 batang pohon cengkeh sebelum Ia menikah. Jika tidak menanam cengkeh, pemerintah lewat lembaga keagamaan daerah tidak akan menikahkan pemuda tersebut. Kebijakan ini berjalan terus hingga akhirnya bisnis cengkeh hancur berantakan pada periode 90an usai keberadaan BPPC yang diinisasi Orde Baru. Kebijakan yang mewajibkan penanaman pohon cengkeh bagi pemuda yang hendak menikah ini membikin pulau Simeulue hingga saat ini didominasi tanaman cengkeh di luar komoditas lain semisal kemiri, pala, dan sawit yang kini mulai ditanam massal di Simeulue.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kehancuran komoditas cengkeh usai keberadaan BPPC di periode 90an, cengkeh kembali bangkit usai reformasi bergulir di negeri ini. Meski begitu, komoditas cengkeh di pulau Simeulue terlambat bangkit dibanding di daerah-daerah lainnya yang menghasilkan cengkeh di negeri ini. Hingga tsunami menggulung beberapa wilayah di Aceh, termasuk pulau Simeulue, komoditas cengkeh masih medioker di Simeulue, berbeda dengan wilayah lain di Indonesia yang usaha pertanian cengkehnya kembali bergeliat dengan harga yang sangat menguntungkan.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Susi Pujiastuti, seorang pengusaha sukses yang pada periode pertama masa kepemimpinan presiden Jokowi menjabat menteri kelautan dan perikanan yang kembali meningkatkan pamor komoditas cengkeh di pulau Simeulue. Ini terjadi pada tahun 2007. Kala itu, belenggu tengkulak di pulau Simeulue membikin harga cengkeh jatuh di pasaran, jauh lebih kecil dibandingkan dengan harga komoditas ini di wilayah lain di negeri ini. Sebagai perbandingan, harga cengkeh di wilayah lain, pada periode 2000an kembali mencapai titik tertingginya dengan harga beli di tingkat petani mencapai Rp100.000 per kilogram bahkan lebih, sedang di Simeulue, harga cengkeh maksimal berada di titik Rp30.000 saja per kilogramnya, bahkan di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan di pulau Simeulue, harga cengkeh jauh di bawah Rp30.000 per kilogram.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan informasi yang saya dapat dari banyak petani cengkeh di pulau Simeulue, pada 2007, untuk memutus rantai tengkulak, Bu Susi memborong cengkeh di pulau Simeulue dengan harga Rp100.000 per kilogram, mengikuti harga yang ditetapkan di pasar nasional. Rantai jahat tengkulak berhasil diputus. Dan sejak saat itu hingga kini, harga cengkeh di pulau Simeulue mengikuti harga pasar nasional, pertanian cengkeh kembali menggeliat di sana berkat peran nyata Bu Susi. Mulanya saya kurang percaya dengan informasi ini, namun, puluhan petani yang saya temui di Simeulue, juga pejabat di dinas perkebunan di pulau Simeulue, mengamini apa yang dilakukan Bu Susi terhadap komoditas cengkeh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Kembali bergeliatnya komoditas cengkeh di negeri ini usai diberangusnya BPPC pasca reformasi, tak lepas dari berjayanya industri rokok kretek dalam negeri. Rokok kretek berhasil menguasai lebih 90 persen pasar rokok nasional hingga hari ini. Dengan cengkeh sebagai salah satu bahan baku utama sekaligus bahan baku kunci rokok kretek, cengkeh menjadi komoditas yang menjanjikan dan menguntungkan petani.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, kejayaan petani cengkeh ini terancam dengan keberadaan gerakan antirokok dan kepentingan bisnis global yang berusaha merebut pasar rokok yang begitu menjanjikan di negeri ini. Sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar kedua di dunia di bawah China, Indonesia tentu saja menjadi bidikan serius kapitalisme global di bidang rokok dan farmasi. Merasa gagal bersaing secara sehat dengan produk rokok kretek, mereka kini terus-menerus berusaha menghancurkan keberadaan rokok kretek lewat regulasi yang dibikin semena-mena dan tidak adil dalam wujud Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). <\/p>\n\n\n\n

Salah satu pasal penting dalam FCTC, adalah pengharaman keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok yang beredar di pasaran. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, dan menerapkannya dalam peraturan usaha rokok di Indonesia, maka mau tidak mau, setiap produksi rokok yang ada di Indonesia tidak boleh mengandung cengkeh secuil pun. Ini artinya, tidak akan ada lagi produk rokok kretek yang diproduksi pabrikan-pabrikan rokok dalam negeri. Kretek hilang, dan komoditas cengkeh kembali menjadi semenjana.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi menuju peniadaan rokok kretek dan penghancuran pertanian cengkeh lewat ratifikasi FCTC ini sepertinya kian terang di negeri ini. Adalah Sri Mulyani, yang kini menjabat menteri keuangan di Indonesia yang mengambil peran besar dalam usaha peniadaan produk rokok kretek dan penghancuran cengkeh di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum, salah satu pemain utama dalam usaha menekan agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC adalah Bloomberg Initiatives. Dan Sri Mulyani, ada di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, di New York, Sri Mulyani juga sudah mengadakan pertemuan intensif dengan Bloomberg. Kado manis dari Sri Mulyani dengan menaikkan cukai rokok besar-besaran di negeri ini sudah diberikan kepada Bloomberg. Jika tidak dihalangi dengan gencar oleh seluruh stakeholder industri rokok di negeri ini, bukan tak mungkin kado istimewa lain dari Sri Mulyani kepada Bloomberg akan kembali diberikan, ratifikasi FCTC oleh pemerintah Indonesia. Rokok kretek mesti hilang dari pasar dalam negeri, dan petani cengkeh kembali merana.
<\/p>\n","post_title":"Susi Pujiastuti, Sri Mulyani, dan Perlakuan Mereka Terhadap Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"susi-pujiastuti-sri-mulyani-dan-perlakuan-mereka-terhadap-komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-21 08:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-21 01:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6465","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\n

PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n

Proxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi,  bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6465,"post_author":"878","post_date":"2020-02-21 08:17:35","post_date_gmt":"2020-02-21 01:17:35","post_content":"\n

Sekira tiga tahun lalu, saya berkesempatan berkunjung ke pulau Simeulue di provinsi Aceh. Kunjungan saya ke pulau yang terkenal dengan hasil lobsternya ini adalah untuk bertemu dengan petani cengkeh. Selain dikenal dengan hasil lautnya terutama lobster, pulau Simeulue juga dikenal sebagai penghasil cengkeh terbesar di Aceh. Keberadaan cengkeh di Simeulue seusia dengan keberadaan penjajah kolonial di sana yang menginisiasi penanaman cengkeh guna mengembalikan modal perang penjajah kolonial yang mengeluarkan banyak biaya selama perang penaklukan Aceh yang terkenal itu.<\/p>\n\n\n\n

Selama penelitian bertemu dengan puluhan petani cengkeh di Simeulue, ada tiga temuan menarik yang saya dapat hasil berbincang-bincang dengan banyak narasumber yang saya jumpai di sana. Dua temuan menarik terkait langsung dengan cengkeh, dan satu temuan lainnya tak ada kaitannya dengan cengkeh, lebih kepada bagaimana penduduk Simeulue berhasil menyelamatkan diri usai gempa besar dan tsunami melanda pulau tersebut pada akhir tahun 2004.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode 70an, ketika cengkeh kembali berjaya di pasaran dalam negeri, sejalan dengan menggeliatnya industri rokok kretek di Indonesia yang mulai menguasai pasar dalam negeri mengalahkan rokok putih yang sebelumnya menjadi promadona di Indonesia, masyarakat Simeulue kembali menanam cengkeh di perbukitan yang ada di wilayah mereka. Kondisi geografis pulau Simeulue yang berbukit-bukit dan dekat dengan laut memang mirip dengan kondisi geografis tempat pohon cengkeh awalnya berasal. Kondisi ini membikin cengkeh sangat cocok ditanam di pulau Simeulue dan tumbuh subur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Menyadari potensi cengkeh yang sangat menjanjikan, pada periode 70an, pejabat yang memimpin pulau Simeulue mengeluarkan peraturan yang tidak lazim. Ia mengeluarkan aturan bahwa seorang pemuda yang hendak menikah wajib menanam minimal 25 batang pohon cengkeh sebelum Ia menikah. Jika tidak menanam cengkeh, pemerintah lewat lembaga keagamaan daerah tidak akan menikahkan pemuda tersebut. Kebijakan ini berjalan terus hingga akhirnya bisnis cengkeh hancur berantakan pada periode 90an usai keberadaan BPPC yang diinisasi Orde Baru. Kebijakan yang mewajibkan penanaman pohon cengkeh bagi pemuda yang hendak menikah ini membikin pulau Simeulue hingga saat ini didominasi tanaman cengkeh di luar komoditas lain semisal kemiri, pala, dan sawit yang kini mulai ditanam massal di Simeulue.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kehancuran komoditas cengkeh usai keberadaan BPPC di periode 90an, cengkeh kembali bangkit usai reformasi bergulir di negeri ini. Meski begitu, komoditas cengkeh di pulau Simeulue terlambat bangkit dibanding di daerah-daerah lainnya yang menghasilkan cengkeh di negeri ini. Hingga tsunami menggulung beberapa wilayah di Aceh, termasuk pulau Simeulue, komoditas cengkeh masih medioker di Simeulue, berbeda dengan wilayah lain di Indonesia yang usaha pertanian cengkehnya kembali bergeliat dengan harga yang sangat menguntungkan.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Susi Pujiastuti, seorang pengusaha sukses yang pada periode pertama masa kepemimpinan presiden Jokowi menjabat menteri kelautan dan perikanan yang kembali meningkatkan pamor komoditas cengkeh di pulau Simeulue. Ini terjadi pada tahun 2007. Kala itu, belenggu tengkulak di pulau Simeulue membikin harga cengkeh jatuh di pasaran, jauh lebih kecil dibandingkan dengan harga komoditas ini di wilayah lain di negeri ini. Sebagai perbandingan, harga cengkeh di wilayah lain, pada periode 2000an kembali mencapai titik tertingginya dengan harga beli di tingkat petani mencapai Rp100.000 per kilogram bahkan lebih, sedang di Simeulue, harga cengkeh maksimal berada di titik Rp30.000 saja per kilogramnya, bahkan di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan di pulau Simeulue, harga cengkeh jauh di bawah Rp30.000 per kilogram.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan informasi yang saya dapat dari banyak petani cengkeh di pulau Simeulue, pada 2007, untuk memutus rantai tengkulak, Bu Susi memborong cengkeh di pulau Simeulue dengan harga Rp100.000 per kilogram, mengikuti harga yang ditetapkan di pasar nasional. Rantai jahat tengkulak berhasil diputus. Dan sejak saat itu hingga kini, harga cengkeh di pulau Simeulue mengikuti harga pasar nasional, pertanian cengkeh kembali menggeliat di sana berkat peran nyata Bu Susi. Mulanya saya kurang percaya dengan informasi ini, namun, puluhan petani yang saya temui di Simeulue, juga pejabat di dinas perkebunan di pulau Simeulue, mengamini apa yang dilakukan Bu Susi terhadap komoditas cengkeh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Kembali bergeliatnya komoditas cengkeh di negeri ini usai diberangusnya BPPC pasca reformasi, tak lepas dari berjayanya industri rokok kretek dalam negeri. Rokok kretek berhasil menguasai lebih 90 persen pasar rokok nasional hingga hari ini. Dengan cengkeh sebagai salah satu bahan baku utama sekaligus bahan baku kunci rokok kretek, cengkeh menjadi komoditas yang menjanjikan dan menguntungkan petani.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, kejayaan petani cengkeh ini terancam dengan keberadaan gerakan antirokok dan kepentingan bisnis global yang berusaha merebut pasar rokok yang begitu menjanjikan di negeri ini. Sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar kedua di dunia di bawah China, Indonesia tentu saja menjadi bidikan serius kapitalisme global di bidang rokok dan farmasi. Merasa gagal bersaing secara sehat dengan produk rokok kretek, mereka kini terus-menerus berusaha menghancurkan keberadaan rokok kretek lewat regulasi yang dibikin semena-mena dan tidak adil dalam wujud Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). <\/p>\n\n\n\n

Salah satu pasal penting dalam FCTC, adalah pengharaman keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok yang beredar di pasaran. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, dan menerapkannya dalam peraturan usaha rokok di Indonesia, maka mau tidak mau, setiap produksi rokok yang ada di Indonesia tidak boleh mengandung cengkeh secuil pun. Ini artinya, tidak akan ada lagi produk rokok kretek yang diproduksi pabrikan-pabrikan rokok dalam negeri. Kretek hilang, dan komoditas cengkeh kembali menjadi semenjana.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi menuju peniadaan rokok kretek dan penghancuran pertanian cengkeh lewat ratifikasi FCTC ini sepertinya kian terang di negeri ini. Adalah Sri Mulyani, yang kini menjabat menteri keuangan di Indonesia yang mengambil peran besar dalam usaha peniadaan produk rokok kretek dan penghancuran cengkeh di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum, salah satu pemain utama dalam usaha menekan agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC adalah Bloomberg Initiatives. Dan Sri Mulyani, ada di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, di New York, Sri Mulyani juga sudah mengadakan pertemuan intensif dengan Bloomberg. Kado manis dari Sri Mulyani dengan menaikkan cukai rokok besar-besaran di negeri ini sudah diberikan kepada Bloomberg. Jika tidak dihalangi dengan gencar oleh seluruh stakeholder industri rokok di negeri ini, bukan tak mungkin kado istimewa lain dari Sri Mulyani kepada Bloomberg akan kembali diberikan, ratifikasi FCTC oleh pemerintah Indonesia. Rokok kretek mesti hilang dari pasar dalam negeri, dan petani cengkeh kembali merana.
<\/p>\n","post_title":"Susi Pujiastuti, Sri Mulyani, dan Perlakuan Mereka Terhadap Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"susi-pujiastuti-sri-mulyani-dan-perlakuan-mereka-terhadap-komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-21 08:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-21 01:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6465","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\n

PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n

Proxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi,  bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6465,"post_author":"878","post_date":"2020-02-21 08:17:35","post_date_gmt":"2020-02-21 01:17:35","post_content":"\n

Sekira tiga tahun lalu, saya berkesempatan berkunjung ke pulau Simeulue di provinsi Aceh. Kunjungan saya ke pulau yang terkenal dengan hasil lobsternya ini adalah untuk bertemu dengan petani cengkeh. Selain dikenal dengan hasil lautnya terutama lobster, pulau Simeulue juga dikenal sebagai penghasil cengkeh terbesar di Aceh. Keberadaan cengkeh di Simeulue seusia dengan keberadaan penjajah kolonial di sana yang menginisiasi penanaman cengkeh guna mengembalikan modal perang penjajah kolonial yang mengeluarkan banyak biaya selama perang penaklukan Aceh yang terkenal itu.<\/p>\n\n\n\n

Selama penelitian bertemu dengan puluhan petani cengkeh di Simeulue, ada tiga temuan menarik yang saya dapat hasil berbincang-bincang dengan banyak narasumber yang saya jumpai di sana. Dua temuan menarik terkait langsung dengan cengkeh, dan satu temuan lainnya tak ada kaitannya dengan cengkeh, lebih kepada bagaimana penduduk Simeulue berhasil menyelamatkan diri usai gempa besar dan tsunami melanda pulau tersebut pada akhir tahun 2004.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode 70an, ketika cengkeh kembali berjaya di pasaran dalam negeri, sejalan dengan menggeliatnya industri rokok kretek di Indonesia yang mulai menguasai pasar dalam negeri mengalahkan rokok putih yang sebelumnya menjadi promadona di Indonesia, masyarakat Simeulue kembali menanam cengkeh di perbukitan yang ada di wilayah mereka. Kondisi geografis pulau Simeulue yang berbukit-bukit dan dekat dengan laut memang mirip dengan kondisi geografis tempat pohon cengkeh awalnya berasal. Kondisi ini membikin cengkeh sangat cocok ditanam di pulau Simeulue dan tumbuh subur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Menyadari potensi cengkeh yang sangat menjanjikan, pada periode 70an, pejabat yang memimpin pulau Simeulue mengeluarkan peraturan yang tidak lazim. Ia mengeluarkan aturan bahwa seorang pemuda yang hendak menikah wajib menanam minimal 25 batang pohon cengkeh sebelum Ia menikah. Jika tidak menanam cengkeh, pemerintah lewat lembaga keagamaan daerah tidak akan menikahkan pemuda tersebut. Kebijakan ini berjalan terus hingga akhirnya bisnis cengkeh hancur berantakan pada periode 90an usai keberadaan BPPC yang diinisasi Orde Baru. Kebijakan yang mewajibkan penanaman pohon cengkeh bagi pemuda yang hendak menikah ini membikin pulau Simeulue hingga saat ini didominasi tanaman cengkeh di luar komoditas lain semisal kemiri, pala, dan sawit yang kini mulai ditanam massal di Simeulue.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kehancuran komoditas cengkeh usai keberadaan BPPC di periode 90an, cengkeh kembali bangkit usai reformasi bergulir di negeri ini. Meski begitu, komoditas cengkeh di pulau Simeulue terlambat bangkit dibanding di daerah-daerah lainnya yang menghasilkan cengkeh di negeri ini. Hingga tsunami menggulung beberapa wilayah di Aceh, termasuk pulau Simeulue, komoditas cengkeh masih medioker di Simeulue, berbeda dengan wilayah lain di Indonesia yang usaha pertanian cengkehnya kembali bergeliat dengan harga yang sangat menguntungkan.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Susi Pujiastuti, seorang pengusaha sukses yang pada periode pertama masa kepemimpinan presiden Jokowi menjabat menteri kelautan dan perikanan yang kembali meningkatkan pamor komoditas cengkeh di pulau Simeulue. Ini terjadi pada tahun 2007. Kala itu, belenggu tengkulak di pulau Simeulue membikin harga cengkeh jatuh di pasaran, jauh lebih kecil dibandingkan dengan harga komoditas ini di wilayah lain di negeri ini. Sebagai perbandingan, harga cengkeh di wilayah lain, pada periode 2000an kembali mencapai titik tertingginya dengan harga beli di tingkat petani mencapai Rp100.000 per kilogram bahkan lebih, sedang di Simeulue, harga cengkeh maksimal berada di titik Rp30.000 saja per kilogramnya, bahkan di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan di pulau Simeulue, harga cengkeh jauh di bawah Rp30.000 per kilogram.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan informasi yang saya dapat dari banyak petani cengkeh di pulau Simeulue, pada 2007, untuk memutus rantai tengkulak, Bu Susi memborong cengkeh di pulau Simeulue dengan harga Rp100.000 per kilogram, mengikuti harga yang ditetapkan di pasar nasional. Rantai jahat tengkulak berhasil diputus. Dan sejak saat itu hingga kini, harga cengkeh di pulau Simeulue mengikuti harga pasar nasional, pertanian cengkeh kembali menggeliat di sana berkat peran nyata Bu Susi. Mulanya saya kurang percaya dengan informasi ini, namun, puluhan petani yang saya temui di Simeulue, juga pejabat di dinas perkebunan di pulau Simeulue, mengamini apa yang dilakukan Bu Susi terhadap komoditas cengkeh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Kembali bergeliatnya komoditas cengkeh di negeri ini usai diberangusnya BPPC pasca reformasi, tak lepas dari berjayanya industri rokok kretek dalam negeri. Rokok kretek berhasil menguasai lebih 90 persen pasar rokok nasional hingga hari ini. Dengan cengkeh sebagai salah satu bahan baku utama sekaligus bahan baku kunci rokok kretek, cengkeh menjadi komoditas yang menjanjikan dan menguntungkan petani.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, kejayaan petani cengkeh ini terancam dengan keberadaan gerakan antirokok dan kepentingan bisnis global yang berusaha merebut pasar rokok yang begitu menjanjikan di negeri ini. Sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar kedua di dunia di bawah China, Indonesia tentu saja menjadi bidikan serius kapitalisme global di bidang rokok dan farmasi. Merasa gagal bersaing secara sehat dengan produk rokok kretek, mereka kini terus-menerus berusaha menghancurkan keberadaan rokok kretek lewat regulasi yang dibikin semena-mena dan tidak adil dalam wujud Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). <\/p>\n\n\n\n

Salah satu pasal penting dalam FCTC, adalah pengharaman keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok yang beredar di pasaran. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, dan menerapkannya dalam peraturan usaha rokok di Indonesia, maka mau tidak mau, setiap produksi rokok yang ada di Indonesia tidak boleh mengandung cengkeh secuil pun. Ini artinya, tidak akan ada lagi produk rokok kretek yang diproduksi pabrikan-pabrikan rokok dalam negeri. Kretek hilang, dan komoditas cengkeh kembali menjadi semenjana.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi menuju peniadaan rokok kretek dan penghancuran pertanian cengkeh lewat ratifikasi FCTC ini sepertinya kian terang di negeri ini. Adalah Sri Mulyani, yang kini menjabat menteri keuangan di Indonesia yang mengambil peran besar dalam usaha peniadaan produk rokok kretek dan penghancuran cengkeh di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum, salah satu pemain utama dalam usaha menekan agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC adalah Bloomberg Initiatives. Dan Sri Mulyani, ada di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, di New York, Sri Mulyani juga sudah mengadakan pertemuan intensif dengan Bloomberg. Kado manis dari Sri Mulyani dengan menaikkan cukai rokok besar-besaran di negeri ini sudah diberikan kepada Bloomberg. Jika tidak dihalangi dengan gencar oleh seluruh stakeholder industri rokok di negeri ini, bukan tak mungkin kado istimewa lain dari Sri Mulyani kepada Bloomberg akan kembali diberikan, ratifikasi FCTC oleh pemerintah Indonesia. Rokok kretek mesti hilang dari pasar dalam negeri, dan petani cengkeh kembali merana.
<\/p>\n","post_title":"Susi Pujiastuti, Sri Mulyani, dan Perlakuan Mereka Terhadap Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"susi-pujiastuti-sri-mulyani-dan-perlakuan-mereka-terhadap-komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-21 08:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-21 01:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6465","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\n

PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n

Proxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi,  bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6465,"post_author":"878","post_date":"2020-02-21 08:17:35","post_date_gmt":"2020-02-21 01:17:35","post_content":"\n

Sekira tiga tahun lalu, saya berkesempatan berkunjung ke pulau Simeulue di provinsi Aceh. Kunjungan saya ke pulau yang terkenal dengan hasil lobsternya ini adalah untuk bertemu dengan petani cengkeh. Selain dikenal dengan hasil lautnya terutama lobster, pulau Simeulue juga dikenal sebagai penghasil cengkeh terbesar di Aceh. Keberadaan cengkeh di Simeulue seusia dengan keberadaan penjajah kolonial di sana yang menginisiasi penanaman cengkeh guna mengembalikan modal perang penjajah kolonial yang mengeluarkan banyak biaya selama perang penaklukan Aceh yang terkenal itu.<\/p>\n\n\n\n

Selama penelitian bertemu dengan puluhan petani cengkeh di Simeulue, ada tiga temuan menarik yang saya dapat hasil berbincang-bincang dengan banyak narasumber yang saya jumpai di sana. Dua temuan menarik terkait langsung dengan cengkeh, dan satu temuan lainnya tak ada kaitannya dengan cengkeh, lebih kepada bagaimana penduduk Simeulue berhasil menyelamatkan diri usai gempa besar dan tsunami melanda pulau tersebut pada akhir tahun 2004.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode 70an, ketika cengkeh kembali berjaya di pasaran dalam negeri, sejalan dengan menggeliatnya industri rokok kretek di Indonesia yang mulai menguasai pasar dalam negeri mengalahkan rokok putih yang sebelumnya menjadi promadona di Indonesia, masyarakat Simeulue kembali menanam cengkeh di perbukitan yang ada di wilayah mereka. Kondisi geografis pulau Simeulue yang berbukit-bukit dan dekat dengan laut memang mirip dengan kondisi geografis tempat pohon cengkeh awalnya berasal. Kondisi ini membikin cengkeh sangat cocok ditanam di pulau Simeulue dan tumbuh subur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Menyadari potensi cengkeh yang sangat menjanjikan, pada periode 70an, pejabat yang memimpin pulau Simeulue mengeluarkan peraturan yang tidak lazim. Ia mengeluarkan aturan bahwa seorang pemuda yang hendak menikah wajib menanam minimal 25 batang pohon cengkeh sebelum Ia menikah. Jika tidak menanam cengkeh, pemerintah lewat lembaga keagamaan daerah tidak akan menikahkan pemuda tersebut. Kebijakan ini berjalan terus hingga akhirnya bisnis cengkeh hancur berantakan pada periode 90an usai keberadaan BPPC yang diinisasi Orde Baru. Kebijakan yang mewajibkan penanaman pohon cengkeh bagi pemuda yang hendak menikah ini membikin pulau Simeulue hingga saat ini didominasi tanaman cengkeh di luar komoditas lain semisal kemiri, pala, dan sawit yang kini mulai ditanam massal di Simeulue.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kehancuran komoditas cengkeh usai keberadaan BPPC di periode 90an, cengkeh kembali bangkit usai reformasi bergulir di negeri ini. Meski begitu, komoditas cengkeh di pulau Simeulue terlambat bangkit dibanding di daerah-daerah lainnya yang menghasilkan cengkeh di negeri ini. Hingga tsunami menggulung beberapa wilayah di Aceh, termasuk pulau Simeulue, komoditas cengkeh masih medioker di Simeulue, berbeda dengan wilayah lain di Indonesia yang usaha pertanian cengkehnya kembali bergeliat dengan harga yang sangat menguntungkan.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Susi Pujiastuti, seorang pengusaha sukses yang pada periode pertama masa kepemimpinan presiden Jokowi menjabat menteri kelautan dan perikanan yang kembali meningkatkan pamor komoditas cengkeh di pulau Simeulue. Ini terjadi pada tahun 2007. Kala itu, belenggu tengkulak di pulau Simeulue membikin harga cengkeh jatuh di pasaran, jauh lebih kecil dibandingkan dengan harga komoditas ini di wilayah lain di negeri ini. Sebagai perbandingan, harga cengkeh di wilayah lain, pada periode 2000an kembali mencapai titik tertingginya dengan harga beli di tingkat petani mencapai Rp100.000 per kilogram bahkan lebih, sedang di Simeulue, harga cengkeh maksimal berada di titik Rp30.000 saja per kilogramnya, bahkan di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan di pulau Simeulue, harga cengkeh jauh di bawah Rp30.000 per kilogram.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan informasi yang saya dapat dari banyak petani cengkeh di pulau Simeulue, pada 2007, untuk memutus rantai tengkulak, Bu Susi memborong cengkeh di pulau Simeulue dengan harga Rp100.000 per kilogram, mengikuti harga yang ditetapkan di pasar nasional. Rantai jahat tengkulak berhasil diputus. Dan sejak saat itu hingga kini, harga cengkeh di pulau Simeulue mengikuti harga pasar nasional, pertanian cengkeh kembali menggeliat di sana berkat peran nyata Bu Susi. Mulanya saya kurang percaya dengan informasi ini, namun, puluhan petani yang saya temui di Simeulue, juga pejabat di dinas perkebunan di pulau Simeulue, mengamini apa yang dilakukan Bu Susi terhadap komoditas cengkeh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Kembali bergeliatnya komoditas cengkeh di negeri ini usai diberangusnya BPPC pasca reformasi, tak lepas dari berjayanya industri rokok kretek dalam negeri. Rokok kretek berhasil menguasai lebih 90 persen pasar rokok nasional hingga hari ini. Dengan cengkeh sebagai salah satu bahan baku utama sekaligus bahan baku kunci rokok kretek, cengkeh menjadi komoditas yang menjanjikan dan menguntungkan petani.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, kejayaan petani cengkeh ini terancam dengan keberadaan gerakan antirokok dan kepentingan bisnis global yang berusaha merebut pasar rokok yang begitu menjanjikan di negeri ini. Sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar kedua di dunia di bawah China, Indonesia tentu saja menjadi bidikan serius kapitalisme global di bidang rokok dan farmasi. Merasa gagal bersaing secara sehat dengan produk rokok kretek, mereka kini terus-menerus berusaha menghancurkan keberadaan rokok kretek lewat regulasi yang dibikin semena-mena dan tidak adil dalam wujud Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). <\/p>\n\n\n\n

Salah satu pasal penting dalam FCTC, adalah pengharaman keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok yang beredar di pasaran. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, dan menerapkannya dalam peraturan usaha rokok di Indonesia, maka mau tidak mau, setiap produksi rokok yang ada di Indonesia tidak boleh mengandung cengkeh secuil pun. Ini artinya, tidak akan ada lagi produk rokok kretek yang diproduksi pabrikan-pabrikan rokok dalam negeri. Kretek hilang, dan komoditas cengkeh kembali menjadi semenjana.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi menuju peniadaan rokok kretek dan penghancuran pertanian cengkeh lewat ratifikasi FCTC ini sepertinya kian terang di negeri ini. Adalah Sri Mulyani, yang kini menjabat menteri keuangan di Indonesia yang mengambil peran besar dalam usaha peniadaan produk rokok kretek dan penghancuran cengkeh di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum, salah satu pemain utama dalam usaha menekan agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC adalah Bloomberg Initiatives. Dan Sri Mulyani, ada di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, di New York, Sri Mulyani juga sudah mengadakan pertemuan intensif dengan Bloomberg. Kado manis dari Sri Mulyani dengan menaikkan cukai rokok besar-besaran di negeri ini sudah diberikan kepada Bloomberg. Jika tidak dihalangi dengan gencar oleh seluruh stakeholder industri rokok di negeri ini, bukan tak mungkin kado istimewa lain dari Sri Mulyani kepada Bloomberg akan kembali diberikan, ratifikasi FCTC oleh pemerintah Indonesia. Rokok kretek mesti hilang dari pasar dalam negeri, dan petani cengkeh kembali merana.
<\/p>\n","post_title":"Susi Pujiastuti, Sri Mulyani, dan Perlakuan Mereka Terhadap Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"susi-pujiastuti-sri-mulyani-dan-perlakuan-mereka-terhadap-komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-21 08:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-21 01:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6465","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\n

PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n

Proxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi,  bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6465,"post_author":"878","post_date":"2020-02-21 08:17:35","post_date_gmt":"2020-02-21 01:17:35","post_content":"\n

Sekira tiga tahun lalu, saya berkesempatan berkunjung ke pulau Simeulue di provinsi Aceh. Kunjungan saya ke pulau yang terkenal dengan hasil lobsternya ini adalah untuk bertemu dengan petani cengkeh. Selain dikenal dengan hasil lautnya terutama lobster, pulau Simeulue juga dikenal sebagai penghasil cengkeh terbesar di Aceh. Keberadaan cengkeh di Simeulue seusia dengan keberadaan penjajah kolonial di sana yang menginisiasi penanaman cengkeh guna mengembalikan modal perang penjajah kolonial yang mengeluarkan banyak biaya selama perang penaklukan Aceh yang terkenal itu.<\/p>\n\n\n\n

Selama penelitian bertemu dengan puluhan petani cengkeh di Simeulue, ada tiga temuan menarik yang saya dapat hasil berbincang-bincang dengan banyak narasumber yang saya jumpai di sana. Dua temuan menarik terkait langsung dengan cengkeh, dan satu temuan lainnya tak ada kaitannya dengan cengkeh, lebih kepada bagaimana penduduk Simeulue berhasil menyelamatkan diri usai gempa besar dan tsunami melanda pulau tersebut pada akhir tahun 2004.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode 70an, ketika cengkeh kembali berjaya di pasaran dalam negeri, sejalan dengan menggeliatnya industri rokok kretek di Indonesia yang mulai menguasai pasar dalam negeri mengalahkan rokok putih yang sebelumnya menjadi promadona di Indonesia, masyarakat Simeulue kembali menanam cengkeh di perbukitan yang ada di wilayah mereka. Kondisi geografis pulau Simeulue yang berbukit-bukit dan dekat dengan laut memang mirip dengan kondisi geografis tempat pohon cengkeh awalnya berasal. Kondisi ini membikin cengkeh sangat cocok ditanam di pulau Simeulue dan tumbuh subur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Menyadari potensi cengkeh yang sangat menjanjikan, pada periode 70an, pejabat yang memimpin pulau Simeulue mengeluarkan peraturan yang tidak lazim. Ia mengeluarkan aturan bahwa seorang pemuda yang hendak menikah wajib menanam minimal 25 batang pohon cengkeh sebelum Ia menikah. Jika tidak menanam cengkeh, pemerintah lewat lembaga keagamaan daerah tidak akan menikahkan pemuda tersebut. Kebijakan ini berjalan terus hingga akhirnya bisnis cengkeh hancur berantakan pada periode 90an usai keberadaan BPPC yang diinisasi Orde Baru. Kebijakan yang mewajibkan penanaman pohon cengkeh bagi pemuda yang hendak menikah ini membikin pulau Simeulue hingga saat ini didominasi tanaman cengkeh di luar komoditas lain semisal kemiri, pala, dan sawit yang kini mulai ditanam massal di Simeulue.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kehancuran komoditas cengkeh usai keberadaan BPPC di periode 90an, cengkeh kembali bangkit usai reformasi bergulir di negeri ini. Meski begitu, komoditas cengkeh di pulau Simeulue terlambat bangkit dibanding di daerah-daerah lainnya yang menghasilkan cengkeh di negeri ini. Hingga tsunami menggulung beberapa wilayah di Aceh, termasuk pulau Simeulue, komoditas cengkeh masih medioker di Simeulue, berbeda dengan wilayah lain di Indonesia yang usaha pertanian cengkehnya kembali bergeliat dengan harga yang sangat menguntungkan.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Susi Pujiastuti, seorang pengusaha sukses yang pada periode pertama masa kepemimpinan presiden Jokowi menjabat menteri kelautan dan perikanan yang kembali meningkatkan pamor komoditas cengkeh di pulau Simeulue. Ini terjadi pada tahun 2007. Kala itu, belenggu tengkulak di pulau Simeulue membikin harga cengkeh jatuh di pasaran, jauh lebih kecil dibandingkan dengan harga komoditas ini di wilayah lain di negeri ini. Sebagai perbandingan, harga cengkeh di wilayah lain, pada periode 2000an kembali mencapai titik tertingginya dengan harga beli di tingkat petani mencapai Rp100.000 per kilogram bahkan lebih, sedang di Simeulue, harga cengkeh maksimal berada di titik Rp30.000 saja per kilogramnya, bahkan di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan di pulau Simeulue, harga cengkeh jauh di bawah Rp30.000 per kilogram.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan informasi yang saya dapat dari banyak petani cengkeh di pulau Simeulue, pada 2007, untuk memutus rantai tengkulak, Bu Susi memborong cengkeh di pulau Simeulue dengan harga Rp100.000 per kilogram, mengikuti harga yang ditetapkan di pasar nasional. Rantai jahat tengkulak berhasil diputus. Dan sejak saat itu hingga kini, harga cengkeh di pulau Simeulue mengikuti harga pasar nasional, pertanian cengkeh kembali menggeliat di sana berkat peran nyata Bu Susi. Mulanya saya kurang percaya dengan informasi ini, namun, puluhan petani yang saya temui di Simeulue, juga pejabat di dinas perkebunan di pulau Simeulue, mengamini apa yang dilakukan Bu Susi terhadap komoditas cengkeh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Kembali bergeliatnya komoditas cengkeh di negeri ini usai diberangusnya BPPC pasca reformasi, tak lepas dari berjayanya industri rokok kretek dalam negeri. Rokok kretek berhasil menguasai lebih 90 persen pasar rokok nasional hingga hari ini. Dengan cengkeh sebagai salah satu bahan baku utama sekaligus bahan baku kunci rokok kretek, cengkeh menjadi komoditas yang menjanjikan dan menguntungkan petani.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, kejayaan petani cengkeh ini terancam dengan keberadaan gerakan antirokok dan kepentingan bisnis global yang berusaha merebut pasar rokok yang begitu menjanjikan di negeri ini. Sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar kedua di dunia di bawah China, Indonesia tentu saja menjadi bidikan serius kapitalisme global di bidang rokok dan farmasi. Merasa gagal bersaing secara sehat dengan produk rokok kretek, mereka kini terus-menerus berusaha menghancurkan keberadaan rokok kretek lewat regulasi yang dibikin semena-mena dan tidak adil dalam wujud Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). <\/p>\n\n\n\n

Salah satu pasal penting dalam FCTC, adalah pengharaman keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok yang beredar di pasaran. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, dan menerapkannya dalam peraturan usaha rokok di Indonesia, maka mau tidak mau, setiap produksi rokok yang ada di Indonesia tidak boleh mengandung cengkeh secuil pun. Ini artinya, tidak akan ada lagi produk rokok kretek yang diproduksi pabrikan-pabrikan rokok dalam negeri. Kretek hilang, dan komoditas cengkeh kembali menjadi semenjana.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi menuju peniadaan rokok kretek dan penghancuran pertanian cengkeh lewat ratifikasi FCTC ini sepertinya kian terang di negeri ini. Adalah Sri Mulyani, yang kini menjabat menteri keuangan di Indonesia yang mengambil peran besar dalam usaha peniadaan produk rokok kretek dan penghancuran cengkeh di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum, salah satu pemain utama dalam usaha menekan agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC adalah Bloomberg Initiatives. Dan Sri Mulyani, ada di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, di New York, Sri Mulyani juga sudah mengadakan pertemuan intensif dengan Bloomberg. Kado manis dari Sri Mulyani dengan menaikkan cukai rokok besar-besaran di negeri ini sudah diberikan kepada Bloomberg. Jika tidak dihalangi dengan gencar oleh seluruh stakeholder industri rokok di negeri ini, bukan tak mungkin kado istimewa lain dari Sri Mulyani kepada Bloomberg akan kembali diberikan, ratifikasi FCTC oleh pemerintah Indonesia. Rokok kretek mesti hilang dari pasar dalam negeri, dan petani cengkeh kembali merana.
<\/p>\n","post_title":"Susi Pujiastuti, Sri Mulyani, dan Perlakuan Mereka Terhadap Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"susi-pujiastuti-sri-mulyani-dan-perlakuan-mereka-terhadap-komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-21 08:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-21 01:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6465","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\n

PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n

Proxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi,  bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6465,"post_author":"878","post_date":"2020-02-21 08:17:35","post_date_gmt":"2020-02-21 01:17:35","post_content":"\n

Sekira tiga tahun lalu, saya berkesempatan berkunjung ke pulau Simeulue di provinsi Aceh. Kunjungan saya ke pulau yang terkenal dengan hasil lobsternya ini adalah untuk bertemu dengan petani cengkeh. Selain dikenal dengan hasil lautnya terutama lobster, pulau Simeulue juga dikenal sebagai penghasil cengkeh terbesar di Aceh. Keberadaan cengkeh di Simeulue seusia dengan keberadaan penjajah kolonial di sana yang menginisiasi penanaman cengkeh guna mengembalikan modal perang penjajah kolonial yang mengeluarkan banyak biaya selama perang penaklukan Aceh yang terkenal itu.<\/p>\n\n\n\n

Selama penelitian bertemu dengan puluhan petani cengkeh di Simeulue, ada tiga temuan menarik yang saya dapat hasil berbincang-bincang dengan banyak narasumber yang saya jumpai di sana. Dua temuan menarik terkait langsung dengan cengkeh, dan satu temuan lainnya tak ada kaitannya dengan cengkeh, lebih kepada bagaimana penduduk Simeulue berhasil menyelamatkan diri usai gempa besar dan tsunami melanda pulau tersebut pada akhir tahun 2004.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode 70an, ketika cengkeh kembali berjaya di pasaran dalam negeri, sejalan dengan menggeliatnya industri rokok kretek di Indonesia yang mulai menguasai pasar dalam negeri mengalahkan rokok putih yang sebelumnya menjadi promadona di Indonesia, masyarakat Simeulue kembali menanam cengkeh di perbukitan yang ada di wilayah mereka. Kondisi geografis pulau Simeulue yang berbukit-bukit dan dekat dengan laut memang mirip dengan kondisi geografis tempat pohon cengkeh awalnya berasal. Kondisi ini membikin cengkeh sangat cocok ditanam di pulau Simeulue dan tumbuh subur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Menyadari potensi cengkeh yang sangat menjanjikan, pada periode 70an, pejabat yang memimpin pulau Simeulue mengeluarkan peraturan yang tidak lazim. Ia mengeluarkan aturan bahwa seorang pemuda yang hendak menikah wajib menanam minimal 25 batang pohon cengkeh sebelum Ia menikah. Jika tidak menanam cengkeh, pemerintah lewat lembaga keagamaan daerah tidak akan menikahkan pemuda tersebut. Kebijakan ini berjalan terus hingga akhirnya bisnis cengkeh hancur berantakan pada periode 90an usai keberadaan BPPC yang diinisasi Orde Baru. Kebijakan yang mewajibkan penanaman pohon cengkeh bagi pemuda yang hendak menikah ini membikin pulau Simeulue hingga saat ini didominasi tanaman cengkeh di luar komoditas lain semisal kemiri, pala, dan sawit yang kini mulai ditanam massal di Simeulue.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kehancuran komoditas cengkeh usai keberadaan BPPC di periode 90an, cengkeh kembali bangkit usai reformasi bergulir di negeri ini. Meski begitu, komoditas cengkeh di pulau Simeulue terlambat bangkit dibanding di daerah-daerah lainnya yang menghasilkan cengkeh di negeri ini. Hingga tsunami menggulung beberapa wilayah di Aceh, termasuk pulau Simeulue, komoditas cengkeh masih medioker di Simeulue, berbeda dengan wilayah lain di Indonesia yang usaha pertanian cengkehnya kembali bergeliat dengan harga yang sangat menguntungkan.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Susi Pujiastuti, seorang pengusaha sukses yang pada periode pertama masa kepemimpinan presiden Jokowi menjabat menteri kelautan dan perikanan yang kembali meningkatkan pamor komoditas cengkeh di pulau Simeulue. Ini terjadi pada tahun 2007. Kala itu, belenggu tengkulak di pulau Simeulue membikin harga cengkeh jatuh di pasaran, jauh lebih kecil dibandingkan dengan harga komoditas ini di wilayah lain di negeri ini. Sebagai perbandingan, harga cengkeh di wilayah lain, pada periode 2000an kembali mencapai titik tertingginya dengan harga beli di tingkat petani mencapai Rp100.000 per kilogram bahkan lebih, sedang di Simeulue, harga cengkeh maksimal berada di titik Rp30.000 saja per kilogramnya, bahkan di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan di pulau Simeulue, harga cengkeh jauh di bawah Rp30.000 per kilogram.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan informasi yang saya dapat dari banyak petani cengkeh di pulau Simeulue, pada 2007, untuk memutus rantai tengkulak, Bu Susi memborong cengkeh di pulau Simeulue dengan harga Rp100.000 per kilogram, mengikuti harga yang ditetapkan di pasar nasional. Rantai jahat tengkulak berhasil diputus. Dan sejak saat itu hingga kini, harga cengkeh di pulau Simeulue mengikuti harga pasar nasional, pertanian cengkeh kembali menggeliat di sana berkat peran nyata Bu Susi. Mulanya saya kurang percaya dengan informasi ini, namun, puluhan petani yang saya temui di Simeulue, juga pejabat di dinas perkebunan di pulau Simeulue, mengamini apa yang dilakukan Bu Susi terhadap komoditas cengkeh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Kembali bergeliatnya komoditas cengkeh di negeri ini usai diberangusnya BPPC pasca reformasi, tak lepas dari berjayanya industri rokok kretek dalam negeri. Rokok kretek berhasil menguasai lebih 90 persen pasar rokok nasional hingga hari ini. Dengan cengkeh sebagai salah satu bahan baku utama sekaligus bahan baku kunci rokok kretek, cengkeh menjadi komoditas yang menjanjikan dan menguntungkan petani.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, kejayaan petani cengkeh ini terancam dengan keberadaan gerakan antirokok dan kepentingan bisnis global yang berusaha merebut pasar rokok yang begitu menjanjikan di negeri ini. Sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar kedua di dunia di bawah China, Indonesia tentu saja menjadi bidikan serius kapitalisme global di bidang rokok dan farmasi. Merasa gagal bersaing secara sehat dengan produk rokok kretek, mereka kini terus-menerus berusaha menghancurkan keberadaan rokok kretek lewat regulasi yang dibikin semena-mena dan tidak adil dalam wujud Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). <\/p>\n\n\n\n

Salah satu pasal penting dalam FCTC, adalah pengharaman keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok yang beredar di pasaran. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, dan menerapkannya dalam peraturan usaha rokok di Indonesia, maka mau tidak mau, setiap produksi rokok yang ada di Indonesia tidak boleh mengandung cengkeh secuil pun. Ini artinya, tidak akan ada lagi produk rokok kretek yang diproduksi pabrikan-pabrikan rokok dalam negeri. Kretek hilang, dan komoditas cengkeh kembali menjadi semenjana.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi menuju peniadaan rokok kretek dan penghancuran pertanian cengkeh lewat ratifikasi FCTC ini sepertinya kian terang di negeri ini. Adalah Sri Mulyani, yang kini menjabat menteri keuangan di Indonesia yang mengambil peran besar dalam usaha peniadaan produk rokok kretek dan penghancuran cengkeh di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum, salah satu pemain utama dalam usaha menekan agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC adalah Bloomberg Initiatives. Dan Sri Mulyani, ada di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, di New York, Sri Mulyani juga sudah mengadakan pertemuan intensif dengan Bloomberg. Kado manis dari Sri Mulyani dengan menaikkan cukai rokok besar-besaran di negeri ini sudah diberikan kepada Bloomberg. Jika tidak dihalangi dengan gencar oleh seluruh stakeholder industri rokok di negeri ini, bukan tak mungkin kado istimewa lain dari Sri Mulyani kepada Bloomberg akan kembali diberikan, ratifikasi FCTC oleh pemerintah Indonesia. Rokok kretek mesti hilang dari pasar dalam negeri, dan petani cengkeh kembali merana.
<\/p>\n","post_title":"Susi Pujiastuti, Sri Mulyani, dan Perlakuan Mereka Terhadap Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"susi-pujiastuti-sri-mulyani-dan-perlakuan-mereka-terhadap-komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-21 08:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-21 01:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6465","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\n

PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n

Proxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi,  bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6465,"post_author":"878","post_date":"2020-02-21 08:17:35","post_date_gmt":"2020-02-21 01:17:35","post_content":"\n

Sekira tiga tahun lalu, saya berkesempatan berkunjung ke pulau Simeulue di provinsi Aceh. Kunjungan saya ke pulau yang terkenal dengan hasil lobsternya ini adalah untuk bertemu dengan petani cengkeh. Selain dikenal dengan hasil lautnya terutama lobster, pulau Simeulue juga dikenal sebagai penghasil cengkeh terbesar di Aceh. Keberadaan cengkeh di Simeulue seusia dengan keberadaan penjajah kolonial di sana yang menginisiasi penanaman cengkeh guna mengembalikan modal perang penjajah kolonial yang mengeluarkan banyak biaya selama perang penaklukan Aceh yang terkenal itu.<\/p>\n\n\n\n

Selama penelitian bertemu dengan puluhan petani cengkeh di Simeulue, ada tiga temuan menarik yang saya dapat hasil berbincang-bincang dengan banyak narasumber yang saya jumpai di sana. Dua temuan menarik terkait langsung dengan cengkeh, dan satu temuan lainnya tak ada kaitannya dengan cengkeh, lebih kepada bagaimana penduduk Simeulue berhasil menyelamatkan diri usai gempa besar dan tsunami melanda pulau tersebut pada akhir tahun 2004.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode 70an, ketika cengkeh kembali berjaya di pasaran dalam negeri, sejalan dengan menggeliatnya industri rokok kretek di Indonesia yang mulai menguasai pasar dalam negeri mengalahkan rokok putih yang sebelumnya menjadi promadona di Indonesia, masyarakat Simeulue kembali menanam cengkeh di perbukitan yang ada di wilayah mereka. Kondisi geografis pulau Simeulue yang berbukit-bukit dan dekat dengan laut memang mirip dengan kondisi geografis tempat pohon cengkeh awalnya berasal. Kondisi ini membikin cengkeh sangat cocok ditanam di pulau Simeulue dan tumbuh subur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Menyadari potensi cengkeh yang sangat menjanjikan, pada periode 70an, pejabat yang memimpin pulau Simeulue mengeluarkan peraturan yang tidak lazim. Ia mengeluarkan aturan bahwa seorang pemuda yang hendak menikah wajib menanam minimal 25 batang pohon cengkeh sebelum Ia menikah. Jika tidak menanam cengkeh, pemerintah lewat lembaga keagamaan daerah tidak akan menikahkan pemuda tersebut. Kebijakan ini berjalan terus hingga akhirnya bisnis cengkeh hancur berantakan pada periode 90an usai keberadaan BPPC yang diinisasi Orde Baru. Kebijakan yang mewajibkan penanaman pohon cengkeh bagi pemuda yang hendak menikah ini membikin pulau Simeulue hingga saat ini didominasi tanaman cengkeh di luar komoditas lain semisal kemiri, pala, dan sawit yang kini mulai ditanam massal di Simeulue.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kehancuran komoditas cengkeh usai keberadaan BPPC di periode 90an, cengkeh kembali bangkit usai reformasi bergulir di negeri ini. Meski begitu, komoditas cengkeh di pulau Simeulue terlambat bangkit dibanding di daerah-daerah lainnya yang menghasilkan cengkeh di negeri ini. Hingga tsunami menggulung beberapa wilayah di Aceh, termasuk pulau Simeulue, komoditas cengkeh masih medioker di Simeulue, berbeda dengan wilayah lain di Indonesia yang usaha pertanian cengkehnya kembali bergeliat dengan harga yang sangat menguntungkan.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Susi Pujiastuti, seorang pengusaha sukses yang pada periode pertama masa kepemimpinan presiden Jokowi menjabat menteri kelautan dan perikanan yang kembali meningkatkan pamor komoditas cengkeh di pulau Simeulue. Ini terjadi pada tahun 2007. Kala itu, belenggu tengkulak di pulau Simeulue membikin harga cengkeh jatuh di pasaran, jauh lebih kecil dibandingkan dengan harga komoditas ini di wilayah lain di negeri ini. Sebagai perbandingan, harga cengkeh di wilayah lain, pada periode 2000an kembali mencapai titik tertingginya dengan harga beli di tingkat petani mencapai Rp100.000 per kilogram bahkan lebih, sedang di Simeulue, harga cengkeh maksimal berada di titik Rp30.000 saja per kilogramnya, bahkan di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan di pulau Simeulue, harga cengkeh jauh di bawah Rp30.000 per kilogram.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan informasi yang saya dapat dari banyak petani cengkeh di pulau Simeulue, pada 2007, untuk memutus rantai tengkulak, Bu Susi memborong cengkeh di pulau Simeulue dengan harga Rp100.000 per kilogram, mengikuti harga yang ditetapkan di pasar nasional. Rantai jahat tengkulak berhasil diputus. Dan sejak saat itu hingga kini, harga cengkeh di pulau Simeulue mengikuti harga pasar nasional, pertanian cengkeh kembali menggeliat di sana berkat peran nyata Bu Susi. Mulanya saya kurang percaya dengan informasi ini, namun, puluhan petani yang saya temui di Simeulue, juga pejabat di dinas perkebunan di pulau Simeulue, mengamini apa yang dilakukan Bu Susi terhadap komoditas cengkeh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Kembali bergeliatnya komoditas cengkeh di negeri ini usai diberangusnya BPPC pasca reformasi, tak lepas dari berjayanya industri rokok kretek dalam negeri. Rokok kretek berhasil menguasai lebih 90 persen pasar rokok nasional hingga hari ini. Dengan cengkeh sebagai salah satu bahan baku utama sekaligus bahan baku kunci rokok kretek, cengkeh menjadi komoditas yang menjanjikan dan menguntungkan petani.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, kejayaan petani cengkeh ini terancam dengan keberadaan gerakan antirokok dan kepentingan bisnis global yang berusaha merebut pasar rokok yang begitu menjanjikan di negeri ini. Sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar kedua di dunia di bawah China, Indonesia tentu saja menjadi bidikan serius kapitalisme global di bidang rokok dan farmasi. Merasa gagal bersaing secara sehat dengan produk rokok kretek, mereka kini terus-menerus berusaha menghancurkan keberadaan rokok kretek lewat regulasi yang dibikin semena-mena dan tidak adil dalam wujud Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). <\/p>\n\n\n\n

Salah satu pasal penting dalam FCTC, adalah pengharaman keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok yang beredar di pasaran. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, dan menerapkannya dalam peraturan usaha rokok di Indonesia, maka mau tidak mau, setiap produksi rokok yang ada di Indonesia tidak boleh mengandung cengkeh secuil pun. Ini artinya, tidak akan ada lagi produk rokok kretek yang diproduksi pabrikan-pabrikan rokok dalam negeri. Kretek hilang, dan komoditas cengkeh kembali menjadi semenjana.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi menuju peniadaan rokok kretek dan penghancuran pertanian cengkeh lewat ratifikasi FCTC ini sepertinya kian terang di negeri ini. Adalah Sri Mulyani, yang kini menjabat menteri keuangan di Indonesia yang mengambil peran besar dalam usaha peniadaan produk rokok kretek dan penghancuran cengkeh di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum, salah satu pemain utama dalam usaha menekan agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC adalah Bloomberg Initiatives. Dan Sri Mulyani, ada di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, di New York, Sri Mulyani juga sudah mengadakan pertemuan intensif dengan Bloomberg. Kado manis dari Sri Mulyani dengan menaikkan cukai rokok besar-besaran di negeri ini sudah diberikan kepada Bloomberg. Jika tidak dihalangi dengan gencar oleh seluruh stakeholder industri rokok di negeri ini, bukan tak mungkin kado istimewa lain dari Sri Mulyani kepada Bloomberg akan kembali diberikan, ratifikasi FCTC oleh pemerintah Indonesia. Rokok kretek mesti hilang dari pasar dalam negeri, dan petani cengkeh kembali merana.
<\/p>\n","post_title":"Susi Pujiastuti, Sri Mulyani, dan Perlakuan Mereka Terhadap Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"susi-pujiastuti-sri-mulyani-dan-perlakuan-mereka-terhadap-komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-21 08:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-21 01:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6465","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\n

PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n

Proxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi,  bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6465,"post_author":"878","post_date":"2020-02-21 08:17:35","post_date_gmt":"2020-02-21 01:17:35","post_content":"\n

Sekira tiga tahun lalu, saya berkesempatan berkunjung ke pulau Simeulue di provinsi Aceh. Kunjungan saya ke pulau yang terkenal dengan hasil lobsternya ini adalah untuk bertemu dengan petani cengkeh. Selain dikenal dengan hasil lautnya terutama lobster, pulau Simeulue juga dikenal sebagai penghasil cengkeh terbesar di Aceh. Keberadaan cengkeh di Simeulue seusia dengan keberadaan penjajah kolonial di sana yang menginisiasi penanaman cengkeh guna mengembalikan modal perang penjajah kolonial yang mengeluarkan banyak biaya selama perang penaklukan Aceh yang terkenal itu.<\/p>\n\n\n\n

Selama penelitian bertemu dengan puluhan petani cengkeh di Simeulue, ada tiga temuan menarik yang saya dapat hasil berbincang-bincang dengan banyak narasumber yang saya jumpai di sana. Dua temuan menarik terkait langsung dengan cengkeh, dan satu temuan lainnya tak ada kaitannya dengan cengkeh, lebih kepada bagaimana penduduk Simeulue berhasil menyelamatkan diri usai gempa besar dan tsunami melanda pulau tersebut pada akhir tahun 2004.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode 70an, ketika cengkeh kembali berjaya di pasaran dalam negeri, sejalan dengan menggeliatnya industri rokok kretek di Indonesia yang mulai menguasai pasar dalam negeri mengalahkan rokok putih yang sebelumnya menjadi promadona di Indonesia, masyarakat Simeulue kembali menanam cengkeh di perbukitan yang ada di wilayah mereka. Kondisi geografis pulau Simeulue yang berbukit-bukit dan dekat dengan laut memang mirip dengan kondisi geografis tempat pohon cengkeh awalnya berasal. Kondisi ini membikin cengkeh sangat cocok ditanam di pulau Simeulue dan tumbuh subur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Menyadari potensi cengkeh yang sangat menjanjikan, pada periode 70an, pejabat yang memimpin pulau Simeulue mengeluarkan peraturan yang tidak lazim. Ia mengeluarkan aturan bahwa seorang pemuda yang hendak menikah wajib menanam minimal 25 batang pohon cengkeh sebelum Ia menikah. Jika tidak menanam cengkeh, pemerintah lewat lembaga keagamaan daerah tidak akan menikahkan pemuda tersebut. Kebijakan ini berjalan terus hingga akhirnya bisnis cengkeh hancur berantakan pada periode 90an usai keberadaan BPPC yang diinisasi Orde Baru. Kebijakan yang mewajibkan penanaman pohon cengkeh bagi pemuda yang hendak menikah ini membikin pulau Simeulue hingga saat ini didominasi tanaman cengkeh di luar komoditas lain semisal kemiri, pala, dan sawit yang kini mulai ditanam massal di Simeulue.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kehancuran komoditas cengkeh usai keberadaan BPPC di periode 90an, cengkeh kembali bangkit usai reformasi bergulir di negeri ini. Meski begitu, komoditas cengkeh di pulau Simeulue terlambat bangkit dibanding di daerah-daerah lainnya yang menghasilkan cengkeh di negeri ini. Hingga tsunami menggulung beberapa wilayah di Aceh, termasuk pulau Simeulue, komoditas cengkeh masih medioker di Simeulue, berbeda dengan wilayah lain di Indonesia yang usaha pertanian cengkehnya kembali bergeliat dengan harga yang sangat menguntungkan.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Susi Pujiastuti, seorang pengusaha sukses yang pada periode pertama masa kepemimpinan presiden Jokowi menjabat menteri kelautan dan perikanan yang kembali meningkatkan pamor komoditas cengkeh di pulau Simeulue. Ini terjadi pada tahun 2007. Kala itu, belenggu tengkulak di pulau Simeulue membikin harga cengkeh jatuh di pasaran, jauh lebih kecil dibandingkan dengan harga komoditas ini di wilayah lain di negeri ini. Sebagai perbandingan, harga cengkeh di wilayah lain, pada periode 2000an kembali mencapai titik tertingginya dengan harga beli di tingkat petani mencapai Rp100.000 per kilogram bahkan lebih, sedang di Simeulue, harga cengkeh maksimal berada di titik Rp30.000 saja per kilogramnya, bahkan di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan di pulau Simeulue, harga cengkeh jauh di bawah Rp30.000 per kilogram.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan informasi yang saya dapat dari banyak petani cengkeh di pulau Simeulue, pada 2007, untuk memutus rantai tengkulak, Bu Susi memborong cengkeh di pulau Simeulue dengan harga Rp100.000 per kilogram, mengikuti harga yang ditetapkan di pasar nasional. Rantai jahat tengkulak berhasil diputus. Dan sejak saat itu hingga kini, harga cengkeh di pulau Simeulue mengikuti harga pasar nasional, pertanian cengkeh kembali menggeliat di sana berkat peran nyata Bu Susi. Mulanya saya kurang percaya dengan informasi ini, namun, puluhan petani yang saya temui di Simeulue, juga pejabat di dinas perkebunan di pulau Simeulue, mengamini apa yang dilakukan Bu Susi terhadap komoditas cengkeh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Kembali bergeliatnya komoditas cengkeh di negeri ini usai diberangusnya BPPC pasca reformasi, tak lepas dari berjayanya industri rokok kretek dalam negeri. Rokok kretek berhasil menguasai lebih 90 persen pasar rokok nasional hingga hari ini. Dengan cengkeh sebagai salah satu bahan baku utama sekaligus bahan baku kunci rokok kretek, cengkeh menjadi komoditas yang menjanjikan dan menguntungkan petani.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, kejayaan petani cengkeh ini terancam dengan keberadaan gerakan antirokok dan kepentingan bisnis global yang berusaha merebut pasar rokok yang begitu menjanjikan di negeri ini. Sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar kedua di dunia di bawah China, Indonesia tentu saja menjadi bidikan serius kapitalisme global di bidang rokok dan farmasi. Merasa gagal bersaing secara sehat dengan produk rokok kretek, mereka kini terus-menerus berusaha menghancurkan keberadaan rokok kretek lewat regulasi yang dibikin semena-mena dan tidak adil dalam wujud Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). <\/p>\n\n\n\n

Salah satu pasal penting dalam FCTC, adalah pengharaman keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok yang beredar di pasaran. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, dan menerapkannya dalam peraturan usaha rokok di Indonesia, maka mau tidak mau, setiap produksi rokok yang ada di Indonesia tidak boleh mengandung cengkeh secuil pun. Ini artinya, tidak akan ada lagi produk rokok kretek yang diproduksi pabrikan-pabrikan rokok dalam negeri. Kretek hilang, dan komoditas cengkeh kembali menjadi semenjana.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi menuju peniadaan rokok kretek dan penghancuran pertanian cengkeh lewat ratifikasi FCTC ini sepertinya kian terang di negeri ini. Adalah Sri Mulyani, yang kini menjabat menteri keuangan di Indonesia yang mengambil peran besar dalam usaha peniadaan produk rokok kretek dan penghancuran cengkeh di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum, salah satu pemain utama dalam usaha menekan agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC adalah Bloomberg Initiatives. Dan Sri Mulyani, ada di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, di New York, Sri Mulyani juga sudah mengadakan pertemuan intensif dengan Bloomberg. Kado manis dari Sri Mulyani dengan menaikkan cukai rokok besar-besaran di negeri ini sudah diberikan kepada Bloomberg. Jika tidak dihalangi dengan gencar oleh seluruh stakeholder industri rokok di negeri ini, bukan tak mungkin kado istimewa lain dari Sri Mulyani kepada Bloomberg akan kembali diberikan, ratifikasi FCTC oleh pemerintah Indonesia. Rokok kretek mesti hilang dari pasar dalam negeri, dan petani cengkeh kembali merana.
<\/p>\n","post_title":"Susi Pujiastuti, Sri Mulyani, dan Perlakuan Mereka Terhadap Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"susi-pujiastuti-sri-mulyani-dan-perlakuan-mereka-terhadap-komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-21 08:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-21 01:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6465","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\n

PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n

Proxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi,  bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6465,"post_author":"878","post_date":"2020-02-21 08:17:35","post_date_gmt":"2020-02-21 01:17:35","post_content":"\n

Sekira tiga tahun lalu, saya berkesempatan berkunjung ke pulau Simeulue di provinsi Aceh. Kunjungan saya ke pulau yang terkenal dengan hasil lobsternya ini adalah untuk bertemu dengan petani cengkeh. Selain dikenal dengan hasil lautnya terutama lobster, pulau Simeulue juga dikenal sebagai penghasil cengkeh terbesar di Aceh. Keberadaan cengkeh di Simeulue seusia dengan keberadaan penjajah kolonial di sana yang menginisiasi penanaman cengkeh guna mengembalikan modal perang penjajah kolonial yang mengeluarkan banyak biaya selama perang penaklukan Aceh yang terkenal itu.<\/p>\n\n\n\n

Selama penelitian bertemu dengan puluhan petani cengkeh di Simeulue, ada tiga temuan menarik yang saya dapat hasil berbincang-bincang dengan banyak narasumber yang saya jumpai di sana. Dua temuan menarik terkait langsung dengan cengkeh, dan satu temuan lainnya tak ada kaitannya dengan cengkeh, lebih kepada bagaimana penduduk Simeulue berhasil menyelamatkan diri usai gempa besar dan tsunami melanda pulau tersebut pada akhir tahun 2004.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode 70an, ketika cengkeh kembali berjaya di pasaran dalam negeri, sejalan dengan menggeliatnya industri rokok kretek di Indonesia yang mulai menguasai pasar dalam negeri mengalahkan rokok putih yang sebelumnya menjadi promadona di Indonesia, masyarakat Simeulue kembali menanam cengkeh di perbukitan yang ada di wilayah mereka. Kondisi geografis pulau Simeulue yang berbukit-bukit dan dekat dengan laut memang mirip dengan kondisi geografis tempat pohon cengkeh awalnya berasal. Kondisi ini membikin cengkeh sangat cocok ditanam di pulau Simeulue dan tumbuh subur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Menyadari potensi cengkeh yang sangat menjanjikan, pada periode 70an, pejabat yang memimpin pulau Simeulue mengeluarkan peraturan yang tidak lazim. Ia mengeluarkan aturan bahwa seorang pemuda yang hendak menikah wajib menanam minimal 25 batang pohon cengkeh sebelum Ia menikah. Jika tidak menanam cengkeh, pemerintah lewat lembaga keagamaan daerah tidak akan menikahkan pemuda tersebut. Kebijakan ini berjalan terus hingga akhirnya bisnis cengkeh hancur berantakan pada periode 90an usai keberadaan BPPC yang diinisasi Orde Baru. Kebijakan yang mewajibkan penanaman pohon cengkeh bagi pemuda yang hendak menikah ini membikin pulau Simeulue hingga saat ini didominasi tanaman cengkeh di luar komoditas lain semisal kemiri, pala, dan sawit yang kini mulai ditanam massal di Simeulue.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kehancuran komoditas cengkeh usai keberadaan BPPC di periode 90an, cengkeh kembali bangkit usai reformasi bergulir di negeri ini. Meski begitu, komoditas cengkeh di pulau Simeulue terlambat bangkit dibanding di daerah-daerah lainnya yang menghasilkan cengkeh di negeri ini. Hingga tsunami menggulung beberapa wilayah di Aceh, termasuk pulau Simeulue, komoditas cengkeh masih medioker di Simeulue, berbeda dengan wilayah lain di Indonesia yang usaha pertanian cengkehnya kembali bergeliat dengan harga yang sangat menguntungkan.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Susi Pujiastuti, seorang pengusaha sukses yang pada periode pertama masa kepemimpinan presiden Jokowi menjabat menteri kelautan dan perikanan yang kembali meningkatkan pamor komoditas cengkeh di pulau Simeulue. Ini terjadi pada tahun 2007. Kala itu, belenggu tengkulak di pulau Simeulue membikin harga cengkeh jatuh di pasaran, jauh lebih kecil dibandingkan dengan harga komoditas ini di wilayah lain di negeri ini. Sebagai perbandingan, harga cengkeh di wilayah lain, pada periode 2000an kembali mencapai titik tertingginya dengan harga beli di tingkat petani mencapai Rp100.000 per kilogram bahkan lebih, sedang di Simeulue, harga cengkeh maksimal berada di titik Rp30.000 saja per kilogramnya, bahkan di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan di pulau Simeulue, harga cengkeh jauh di bawah Rp30.000 per kilogram.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan informasi yang saya dapat dari banyak petani cengkeh di pulau Simeulue, pada 2007, untuk memutus rantai tengkulak, Bu Susi memborong cengkeh di pulau Simeulue dengan harga Rp100.000 per kilogram, mengikuti harga yang ditetapkan di pasar nasional. Rantai jahat tengkulak berhasil diputus. Dan sejak saat itu hingga kini, harga cengkeh di pulau Simeulue mengikuti harga pasar nasional, pertanian cengkeh kembali menggeliat di sana berkat peran nyata Bu Susi. Mulanya saya kurang percaya dengan informasi ini, namun, puluhan petani yang saya temui di Simeulue, juga pejabat di dinas perkebunan di pulau Simeulue, mengamini apa yang dilakukan Bu Susi terhadap komoditas cengkeh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Kembali bergeliatnya komoditas cengkeh di negeri ini usai diberangusnya BPPC pasca reformasi, tak lepas dari berjayanya industri rokok kretek dalam negeri. Rokok kretek berhasil menguasai lebih 90 persen pasar rokok nasional hingga hari ini. Dengan cengkeh sebagai salah satu bahan baku utama sekaligus bahan baku kunci rokok kretek, cengkeh menjadi komoditas yang menjanjikan dan menguntungkan petani.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, kejayaan petani cengkeh ini terancam dengan keberadaan gerakan antirokok dan kepentingan bisnis global yang berusaha merebut pasar rokok yang begitu menjanjikan di negeri ini. Sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar kedua di dunia di bawah China, Indonesia tentu saja menjadi bidikan serius kapitalisme global di bidang rokok dan farmasi. Merasa gagal bersaing secara sehat dengan produk rokok kretek, mereka kini terus-menerus berusaha menghancurkan keberadaan rokok kretek lewat regulasi yang dibikin semena-mena dan tidak adil dalam wujud Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). <\/p>\n\n\n\n

Salah satu pasal penting dalam FCTC, adalah pengharaman keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok yang beredar di pasaran. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, dan menerapkannya dalam peraturan usaha rokok di Indonesia, maka mau tidak mau, setiap produksi rokok yang ada di Indonesia tidak boleh mengandung cengkeh secuil pun. Ini artinya, tidak akan ada lagi produk rokok kretek yang diproduksi pabrikan-pabrikan rokok dalam negeri. Kretek hilang, dan komoditas cengkeh kembali menjadi semenjana.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi menuju peniadaan rokok kretek dan penghancuran pertanian cengkeh lewat ratifikasi FCTC ini sepertinya kian terang di negeri ini. Adalah Sri Mulyani, yang kini menjabat menteri keuangan di Indonesia yang mengambil peran besar dalam usaha peniadaan produk rokok kretek dan penghancuran cengkeh di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum, salah satu pemain utama dalam usaha menekan agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC adalah Bloomberg Initiatives. Dan Sri Mulyani, ada di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, di New York, Sri Mulyani juga sudah mengadakan pertemuan intensif dengan Bloomberg. Kado manis dari Sri Mulyani dengan menaikkan cukai rokok besar-besaran di negeri ini sudah diberikan kepada Bloomberg. Jika tidak dihalangi dengan gencar oleh seluruh stakeholder industri rokok di negeri ini, bukan tak mungkin kado istimewa lain dari Sri Mulyani kepada Bloomberg akan kembali diberikan, ratifikasi FCTC oleh pemerintah Indonesia. Rokok kretek mesti hilang dari pasar dalam negeri, dan petani cengkeh kembali merana.
<\/p>\n","post_title":"Susi Pujiastuti, Sri Mulyani, dan Perlakuan Mereka Terhadap Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"susi-pujiastuti-sri-mulyani-dan-perlakuan-mereka-terhadap-komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-21 08:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-21 01:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6465","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\n

PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n

Proxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi,  bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6465,"post_author":"878","post_date":"2020-02-21 08:17:35","post_date_gmt":"2020-02-21 01:17:35","post_content":"\n

Sekira tiga tahun lalu, saya berkesempatan berkunjung ke pulau Simeulue di provinsi Aceh. Kunjungan saya ke pulau yang terkenal dengan hasil lobsternya ini adalah untuk bertemu dengan petani cengkeh. Selain dikenal dengan hasil lautnya terutama lobster, pulau Simeulue juga dikenal sebagai penghasil cengkeh terbesar di Aceh. Keberadaan cengkeh di Simeulue seusia dengan keberadaan penjajah kolonial di sana yang menginisiasi penanaman cengkeh guna mengembalikan modal perang penjajah kolonial yang mengeluarkan banyak biaya selama perang penaklukan Aceh yang terkenal itu.<\/p>\n\n\n\n

Selama penelitian bertemu dengan puluhan petani cengkeh di Simeulue, ada tiga temuan menarik yang saya dapat hasil berbincang-bincang dengan banyak narasumber yang saya jumpai di sana. Dua temuan menarik terkait langsung dengan cengkeh, dan satu temuan lainnya tak ada kaitannya dengan cengkeh, lebih kepada bagaimana penduduk Simeulue berhasil menyelamatkan diri usai gempa besar dan tsunami melanda pulau tersebut pada akhir tahun 2004.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode 70an, ketika cengkeh kembali berjaya di pasaran dalam negeri, sejalan dengan menggeliatnya industri rokok kretek di Indonesia yang mulai menguasai pasar dalam negeri mengalahkan rokok putih yang sebelumnya menjadi promadona di Indonesia, masyarakat Simeulue kembali menanam cengkeh di perbukitan yang ada di wilayah mereka. Kondisi geografis pulau Simeulue yang berbukit-bukit dan dekat dengan laut memang mirip dengan kondisi geografis tempat pohon cengkeh awalnya berasal. Kondisi ini membikin cengkeh sangat cocok ditanam di pulau Simeulue dan tumbuh subur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Menyadari potensi cengkeh yang sangat menjanjikan, pada periode 70an, pejabat yang memimpin pulau Simeulue mengeluarkan peraturan yang tidak lazim. Ia mengeluarkan aturan bahwa seorang pemuda yang hendak menikah wajib menanam minimal 25 batang pohon cengkeh sebelum Ia menikah. Jika tidak menanam cengkeh, pemerintah lewat lembaga keagamaan daerah tidak akan menikahkan pemuda tersebut. Kebijakan ini berjalan terus hingga akhirnya bisnis cengkeh hancur berantakan pada periode 90an usai keberadaan BPPC yang diinisasi Orde Baru. Kebijakan yang mewajibkan penanaman pohon cengkeh bagi pemuda yang hendak menikah ini membikin pulau Simeulue hingga saat ini didominasi tanaman cengkeh di luar komoditas lain semisal kemiri, pala, dan sawit yang kini mulai ditanam massal di Simeulue.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kehancuran komoditas cengkeh usai keberadaan BPPC di periode 90an, cengkeh kembali bangkit usai reformasi bergulir di negeri ini. Meski begitu, komoditas cengkeh di pulau Simeulue terlambat bangkit dibanding di daerah-daerah lainnya yang menghasilkan cengkeh di negeri ini. Hingga tsunami menggulung beberapa wilayah di Aceh, termasuk pulau Simeulue, komoditas cengkeh masih medioker di Simeulue, berbeda dengan wilayah lain di Indonesia yang usaha pertanian cengkehnya kembali bergeliat dengan harga yang sangat menguntungkan.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Susi Pujiastuti, seorang pengusaha sukses yang pada periode pertama masa kepemimpinan presiden Jokowi menjabat menteri kelautan dan perikanan yang kembali meningkatkan pamor komoditas cengkeh di pulau Simeulue. Ini terjadi pada tahun 2007. Kala itu, belenggu tengkulak di pulau Simeulue membikin harga cengkeh jatuh di pasaran, jauh lebih kecil dibandingkan dengan harga komoditas ini di wilayah lain di negeri ini. Sebagai perbandingan, harga cengkeh di wilayah lain, pada periode 2000an kembali mencapai titik tertingginya dengan harga beli di tingkat petani mencapai Rp100.000 per kilogram bahkan lebih, sedang di Simeulue, harga cengkeh maksimal berada di titik Rp30.000 saja per kilogramnya, bahkan di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan di pulau Simeulue, harga cengkeh jauh di bawah Rp30.000 per kilogram.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan informasi yang saya dapat dari banyak petani cengkeh di pulau Simeulue, pada 2007, untuk memutus rantai tengkulak, Bu Susi memborong cengkeh di pulau Simeulue dengan harga Rp100.000 per kilogram, mengikuti harga yang ditetapkan di pasar nasional. Rantai jahat tengkulak berhasil diputus. Dan sejak saat itu hingga kini, harga cengkeh di pulau Simeulue mengikuti harga pasar nasional, pertanian cengkeh kembali menggeliat di sana berkat peran nyata Bu Susi. Mulanya saya kurang percaya dengan informasi ini, namun, puluhan petani yang saya temui di Simeulue, juga pejabat di dinas perkebunan di pulau Simeulue, mengamini apa yang dilakukan Bu Susi terhadap komoditas cengkeh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Kembali bergeliatnya komoditas cengkeh di negeri ini usai diberangusnya BPPC pasca reformasi, tak lepas dari berjayanya industri rokok kretek dalam negeri. Rokok kretek berhasil menguasai lebih 90 persen pasar rokok nasional hingga hari ini. Dengan cengkeh sebagai salah satu bahan baku utama sekaligus bahan baku kunci rokok kretek, cengkeh menjadi komoditas yang menjanjikan dan menguntungkan petani.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, kejayaan petani cengkeh ini terancam dengan keberadaan gerakan antirokok dan kepentingan bisnis global yang berusaha merebut pasar rokok yang begitu menjanjikan di negeri ini. Sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar kedua di dunia di bawah China, Indonesia tentu saja menjadi bidikan serius kapitalisme global di bidang rokok dan farmasi. Merasa gagal bersaing secara sehat dengan produk rokok kretek, mereka kini terus-menerus berusaha menghancurkan keberadaan rokok kretek lewat regulasi yang dibikin semena-mena dan tidak adil dalam wujud Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). <\/p>\n\n\n\n

Salah satu pasal penting dalam FCTC, adalah pengharaman keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok yang beredar di pasaran. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, dan menerapkannya dalam peraturan usaha rokok di Indonesia, maka mau tidak mau, setiap produksi rokok yang ada di Indonesia tidak boleh mengandung cengkeh secuil pun. Ini artinya, tidak akan ada lagi produk rokok kretek yang diproduksi pabrikan-pabrikan rokok dalam negeri. Kretek hilang, dan komoditas cengkeh kembali menjadi semenjana.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi menuju peniadaan rokok kretek dan penghancuran pertanian cengkeh lewat ratifikasi FCTC ini sepertinya kian terang di negeri ini. Adalah Sri Mulyani, yang kini menjabat menteri keuangan di Indonesia yang mengambil peran besar dalam usaha peniadaan produk rokok kretek dan penghancuran cengkeh di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum, salah satu pemain utama dalam usaha menekan agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC adalah Bloomberg Initiatives. Dan Sri Mulyani, ada di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, di New York, Sri Mulyani juga sudah mengadakan pertemuan intensif dengan Bloomberg. Kado manis dari Sri Mulyani dengan menaikkan cukai rokok besar-besaran di negeri ini sudah diberikan kepada Bloomberg. Jika tidak dihalangi dengan gencar oleh seluruh stakeholder industri rokok di negeri ini, bukan tak mungkin kado istimewa lain dari Sri Mulyani kepada Bloomberg akan kembali diberikan, ratifikasi FCTC oleh pemerintah Indonesia. Rokok kretek mesti hilang dari pasar dalam negeri, dan petani cengkeh kembali merana.
<\/p>\n","post_title":"Susi Pujiastuti, Sri Mulyani, dan Perlakuan Mereka Terhadap Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"susi-pujiastuti-sri-mulyani-dan-perlakuan-mereka-terhadap-komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-21 08:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-21 01:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6465","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\n

PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n

Proxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi,  bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6465,"post_author":"878","post_date":"2020-02-21 08:17:35","post_date_gmt":"2020-02-21 01:17:35","post_content":"\n

Sekira tiga tahun lalu, saya berkesempatan berkunjung ke pulau Simeulue di provinsi Aceh. Kunjungan saya ke pulau yang terkenal dengan hasil lobsternya ini adalah untuk bertemu dengan petani cengkeh. Selain dikenal dengan hasil lautnya terutama lobster, pulau Simeulue juga dikenal sebagai penghasil cengkeh terbesar di Aceh. Keberadaan cengkeh di Simeulue seusia dengan keberadaan penjajah kolonial di sana yang menginisiasi penanaman cengkeh guna mengembalikan modal perang penjajah kolonial yang mengeluarkan banyak biaya selama perang penaklukan Aceh yang terkenal itu.<\/p>\n\n\n\n

Selama penelitian bertemu dengan puluhan petani cengkeh di Simeulue, ada tiga temuan menarik yang saya dapat hasil berbincang-bincang dengan banyak narasumber yang saya jumpai di sana. Dua temuan menarik terkait langsung dengan cengkeh, dan satu temuan lainnya tak ada kaitannya dengan cengkeh, lebih kepada bagaimana penduduk Simeulue berhasil menyelamatkan diri usai gempa besar dan tsunami melanda pulau tersebut pada akhir tahun 2004.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode 70an, ketika cengkeh kembali berjaya di pasaran dalam negeri, sejalan dengan menggeliatnya industri rokok kretek di Indonesia yang mulai menguasai pasar dalam negeri mengalahkan rokok putih yang sebelumnya menjadi promadona di Indonesia, masyarakat Simeulue kembali menanam cengkeh di perbukitan yang ada di wilayah mereka. Kondisi geografis pulau Simeulue yang berbukit-bukit dan dekat dengan laut memang mirip dengan kondisi geografis tempat pohon cengkeh awalnya berasal. Kondisi ini membikin cengkeh sangat cocok ditanam di pulau Simeulue dan tumbuh subur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Menyadari potensi cengkeh yang sangat menjanjikan, pada periode 70an, pejabat yang memimpin pulau Simeulue mengeluarkan peraturan yang tidak lazim. Ia mengeluarkan aturan bahwa seorang pemuda yang hendak menikah wajib menanam minimal 25 batang pohon cengkeh sebelum Ia menikah. Jika tidak menanam cengkeh, pemerintah lewat lembaga keagamaan daerah tidak akan menikahkan pemuda tersebut. Kebijakan ini berjalan terus hingga akhirnya bisnis cengkeh hancur berantakan pada periode 90an usai keberadaan BPPC yang diinisasi Orde Baru. Kebijakan yang mewajibkan penanaman pohon cengkeh bagi pemuda yang hendak menikah ini membikin pulau Simeulue hingga saat ini didominasi tanaman cengkeh di luar komoditas lain semisal kemiri, pala, dan sawit yang kini mulai ditanam massal di Simeulue.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kehancuran komoditas cengkeh usai keberadaan BPPC di periode 90an, cengkeh kembali bangkit usai reformasi bergulir di negeri ini. Meski begitu, komoditas cengkeh di pulau Simeulue terlambat bangkit dibanding di daerah-daerah lainnya yang menghasilkan cengkeh di negeri ini. Hingga tsunami menggulung beberapa wilayah di Aceh, termasuk pulau Simeulue, komoditas cengkeh masih medioker di Simeulue, berbeda dengan wilayah lain di Indonesia yang usaha pertanian cengkehnya kembali bergeliat dengan harga yang sangat menguntungkan.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Susi Pujiastuti, seorang pengusaha sukses yang pada periode pertama masa kepemimpinan presiden Jokowi menjabat menteri kelautan dan perikanan yang kembali meningkatkan pamor komoditas cengkeh di pulau Simeulue. Ini terjadi pada tahun 2007. Kala itu, belenggu tengkulak di pulau Simeulue membikin harga cengkeh jatuh di pasaran, jauh lebih kecil dibandingkan dengan harga komoditas ini di wilayah lain di negeri ini. Sebagai perbandingan, harga cengkeh di wilayah lain, pada periode 2000an kembali mencapai titik tertingginya dengan harga beli di tingkat petani mencapai Rp100.000 per kilogram bahkan lebih, sedang di Simeulue, harga cengkeh maksimal berada di titik Rp30.000 saja per kilogramnya, bahkan di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan di pulau Simeulue, harga cengkeh jauh di bawah Rp30.000 per kilogram.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan informasi yang saya dapat dari banyak petani cengkeh di pulau Simeulue, pada 2007, untuk memutus rantai tengkulak, Bu Susi memborong cengkeh di pulau Simeulue dengan harga Rp100.000 per kilogram, mengikuti harga yang ditetapkan di pasar nasional. Rantai jahat tengkulak berhasil diputus. Dan sejak saat itu hingga kini, harga cengkeh di pulau Simeulue mengikuti harga pasar nasional, pertanian cengkeh kembali menggeliat di sana berkat peran nyata Bu Susi. Mulanya saya kurang percaya dengan informasi ini, namun, puluhan petani yang saya temui di Simeulue, juga pejabat di dinas perkebunan di pulau Simeulue, mengamini apa yang dilakukan Bu Susi terhadap komoditas cengkeh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Kembali bergeliatnya komoditas cengkeh di negeri ini usai diberangusnya BPPC pasca reformasi, tak lepas dari berjayanya industri rokok kretek dalam negeri. Rokok kretek berhasil menguasai lebih 90 persen pasar rokok nasional hingga hari ini. Dengan cengkeh sebagai salah satu bahan baku utama sekaligus bahan baku kunci rokok kretek, cengkeh menjadi komoditas yang menjanjikan dan menguntungkan petani.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, kejayaan petani cengkeh ini terancam dengan keberadaan gerakan antirokok dan kepentingan bisnis global yang berusaha merebut pasar rokok yang begitu menjanjikan di negeri ini. Sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar kedua di dunia di bawah China, Indonesia tentu saja menjadi bidikan serius kapitalisme global di bidang rokok dan farmasi. Merasa gagal bersaing secara sehat dengan produk rokok kretek, mereka kini terus-menerus berusaha menghancurkan keberadaan rokok kretek lewat regulasi yang dibikin semena-mena dan tidak adil dalam wujud Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). <\/p>\n\n\n\n

Salah satu pasal penting dalam FCTC, adalah pengharaman keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok yang beredar di pasaran. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, dan menerapkannya dalam peraturan usaha rokok di Indonesia, maka mau tidak mau, setiap produksi rokok yang ada di Indonesia tidak boleh mengandung cengkeh secuil pun. Ini artinya, tidak akan ada lagi produk rokok kretek yang diproduksi pabrikan-pabrikan rokok dalam negeri. Kretek hilang, dan komoditas cengkeh kembali menjadi semenjana.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi menuju peniadaan rokok kretek dan penghancuran pertanian cengkeh lewat ratifikasi FCTC ini sepertinya kian terang di negeri ini. Adalah Sri Mulyani, yang kini menjabat menteri keuangan di Indonesia yang mengambil peran besar dalam usaha peniadaan produk rokok kretek dan penghancuran cengkeh di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum, salah satu pemain utama dalam usaha menekan agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC adalah Bloomberg Initiatives. Dan Sri Mulyani, ada di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, di New York, Sri Mulyani juga sudah mengadakan pertemuan intensif dengan Bloomberg. Kado manis dari Sri Mulyani dengan menaikkan cukai rokok besar-besaran di negeri ini sudah diberikan kepada Bloomberg. Jika tidak dihalangi dengan gencar oleh seluruh stakeholder industri rokok di negeri ini, bukan tak mungkin kado istimewa lain dari Sri Mulyani kepada Bloomberg akan kembali diberikan, ratifikasi FCTC oleh pemerintah Indonesia. Rokok kretek mesti hilang dari pasar dalam negeri, dan petani cengkeh kembali merana.
<\/p>\n","post_title":"Susi Pujiastuti, Sri Mulyani, dan Perlakuan Mereka Terhadap Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"susi-pujiastuti-sri-mulyani-dan-perlakuan-mereka-terhadap-komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-21 08:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-21 01:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6465","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\n

PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n

Proxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi,  bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6465,"post_author":"878","post_date":"2020-02-21 08:17:35","post_date_gmt":"2020-02-21 01:17:35","post_content":"\n

Sekira tiga tahun lalu, saya berkesempatan berkunjung ke pulau Simeulue di provinsi Aceh. Kunjungan saya ke pulau yang terkenal dengan hasil lobsternya ini adalah untuk bertemu dengan petani cengkeh. Selain dikenal dengan hasil lautnya terutama lobster, pulau Simeulue juga dikenal sebagai penghasil cengkeh terbesar di Aceh. Keberadaan cengkeh di Simeulue seusia dengan keberadaan penjajah kolonial di sana yang menginisiasi penanaman cengkeh guna mengembalikan modal perang penjajah kolonial yang mengeluarkan banyak biaya selama perang penaklukan Aceh yang terkenal itu.<\/p>\n\n\n\n

Selama penelitian bertemu dengan puluhan petani cengkeh di Simeulue, ada tiga temuan menarik yang saya dapat hasil berbincang-bincang dengan banyak narasumber yang saya jumpai di sana. Dua temuan menarik terkait langsung dengan cengkeh, dan satu temuan lainnya tak ada kaitannya dengan cengkeh, lebih kepada bagaimana penduduk Simeulue berhasil menyelamatkan diri usai gempa besar dan tsunami melanda pulau tersebut pada akhir tahun 2004.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode 70an, ketika cengkeh kembali berjaya di pasaran dalam negeri, sejalan dengan menggeliatnya industri rokok kretek di Indonesia yang mulai menguasai pasar dalam negeri mengalahkan rokok putih yang sebelumnya menjadi promadona di Indonesia, masyarakat Simeulue kembali menanam cengkeh di perbukitan yang ada di wilayah mereka. Kondisi geografis pulau Simeulue yang berbukit-bukit dan dekat dengan laut memang mirip dengan kondisi geografis tempat pohon cengkeh awalnya berasal. Kondisi ini membikin cengkeh sangat cocok ditanam di pulau Simeulue dan tumbuh subur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Menyadari potensi cengkeh yang sangat menjanjikan, pada periode 70an, pejabat yang memimpin pulau Simeulue mengeluarkan peraturan yang tidak lazim. Ia mengeluarkan aturan bahwa seorang pemuda yang hendak menikah wajib menanam minimal 25 batang pohon cengkeh sebelum Ia menikah. Jika tidak menanam cengkeh, pemerintah lewat lembaga keagamaan daerah tidak akan menikahkan pemuda tersebut. Kebijakan ini berjalan terus hingga akhirnya bisnis cengkeh hancur berantakan pada periode 90an usai keberadaan BPPC yang diinisasi Orde Baru. Kebijakan yang mewajibkan penanaman pohon cengkeh bagi pemuda yang hendak menikah ini membikin pulau Simeulue hingga saat ini didominasi tanaman cengkeh di luar komoditas lain semisal kemiri, pala, dan sawit yang kini mulai ditanam massal di Simeulue.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kehancuran komoditas cengkeh usai keberadaan BPPC di periode 90an, cengkeh kembali bangkit usai reformasi bergulir di negeri ini. Meski begitu, komoditas cengkeh di pulau Simeulue terlambat bangkit dibanding di daerah-daerah lainnya yang menghasilkan cengkeh di negeri ini. Hingga tsunami menggulung beberapa wilayah di Aceh, termasuk pulau Simeulue, komoditas cengkeh masih medioker di Simeulue, berbeda dengan wilayah lain di Indonesia yang usaha pertanian cengkehnya kembali bergeliat dengan harga yang sangat menguntungkan.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Susi Pujiastuti, seorang pengusaha sukses yang pada periode pertama masa kepemimpinan presiden Jokowi menjabat menteri kelautan dan perikanan yang kembali meningkatkan pamor komoditas cengkeh di pulau Simeulue. Ini terjadi pada tahun 2007. Kala itu, belenggu tengkulak di pulau Simeulue membikin harga cengkeh jatuh di pasaran, jauh lebih kecil dibandingkan dengan harga komoditas ini di wilayah lain di negeri ini. Sebagai perbandingan, harga cengkeh di wilayah lain, pada periode 2000an kembali mencapai titik tertingginya dengan harga beli di tingkat petani mencapai Rp100.000 per kilogram bahkan lebih, sedang di Simeulue, harga cengkeh maksimal berada di titik Rp30.000 saja per kilogramnya, bahkan di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan di pulau Simeulue, harga cengkeh jauh di bawah Rp30.000 per kilogram.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan informasi yang saya dapat dari banyak petani cengkeh di pulau Simeulue, pada 2007, untuk memutus rantai tengkulak, Bu Susi memborong cengkeh di pulau Simeulue dengan harga Rp100.000 per kilogram, mengikuti harga yang ditetapkan di pasar nasional. Rantai jahat tengkulak berhasil diputus. Dan sejak saat itu hingga kini, harga cengkeh di pulau Simeulue mengikuti harga pasar nasional, pertanian cengkeh kembali menggeliat di sana berkat peran nyata Bu Susi. Mulanya saya kurang percaya dengan informasi ini, namun, puluhan petani yang saya temui di Simeulue, juga pejabat di dinas perkebunan di pulau Simeulue, mengamini apa yang dilakukan Bu Susi terhadap komoditas cengkeh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Kembali bergeliatnya komoditas cengkeh di negeri ini usai diberangusnya BPPC pasca reformasi, tak lepas dari berjayanya industri rokok kretek dalam negeri. Rokok kretek berhasil menguasai lebih 90 persen pasar rokok nasional hingga hari ini. Dengan cengkeh sebagai salah satu bahan baku utama sekaligus bahan baku kunci rokok kretek, cengkeh menjadi komoditas yang menjanjikan dan menguntungkan petani.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, kejayaan petani cengkeh ini terancam dengan keberadaan gerakan antirokok dan kepentingan bisnis global yang berusaha merebut pasar rokok yang begitu menjanjikan di negeri ini. Sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar kedua di dunia di bawah China, Indonesia tentu saja menjadi bidikan serius kapitalisme global di bidang rokok dan farmasi. Merasa gagal bersaing secara sehat dengan produk rokok kretek, mereka kini terus-menerus berusaha menghancurkan keberadaan rokok kretek lewat regulasi yang dibikin semena-mena dan tidak adil dalam wujud Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). <\/p>\n\n\n\n

Salah satu pasal penting dalam FCTC, adalah pengharaman keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok yang beredar di pasaran. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, dan menerapkannya dalam peraturan usaha rokok di Indonesia, maka mau tidak mau, setiap produksi rokok yang ada di Indonesia tidak boleh mengandung cengkeh secuil pun. Ini artinya, tidak akan ada lagi produk rokok kretek yang diproduksi pabrikan-pabrikan rokok dalam negeri. Kretek hilang, dan komoditas cengkeh kembali menjadi semenjana.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi menuju peniadaan rokok kretek dan penghancuran pertanian cengkeh lewat ratifikasi FCTC ini sepertinya kian terang di negeri ini. Adalah Sri Mulyani, yang kini menjabat menteri keuangan di Indonesia yang mengambil peran besar dalam usaha peniadaan produk rokok kretek dan penghancuran cengkeh di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum, salah satu pemain utama dalam usaha menekan agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC adalah Bloomberg Initiatives. Dan Sri Mulyani, ada di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, di New York, Sri Mulyani juga sudah mengadakan pertemuan intensif dengan Bloomberg. Kado manis dari Sri Mulyani dengan menaikkan cukai rokok besar-besaran di negeri ini sudah diberikan kepada Bloomberg. Jika tidak dihalangi dengan gencar oleh seluruh stakeholder industri rokok di negeri ini, bukan tak mungkin kado istimewa lain dari Sri Mulyani kepada Bloomberg akan kembali diberikan, ratifikasi FCTC oleh pemerintah Indonesia. Rokok kretek mesti hilang dari pasar dalam negeri, dan petani cengkeh kembali merana.
<\/p>\n","post_title":"Susi Pujiastuti, Sri Mulyani, dan Perlakuan Mereka Terhadap Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"susi-pujiastuti-sri-mulyani-dan-perlakuan-mereka-terhadap-komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-21 08:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-21 01:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6465","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\n

PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n

Proxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi,  bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6465,"post_author":"878","post_date":"2020-02-21 08:17:35","post_date_gmt":"2020-02-21 01:17:35","post_content":"\n

Sekira tiga tahun lalu, saya berkesempatan berkunjung ke pulau Simeulue di provinsi Aceh. Kunjungan saya ke pulau yang terkenal dengan hasil lobsternya ini adalah untuk bertemu dengan petani cengkeh. Selain dikenal dengan hasil lautnya terutama lobster, pulau Simeulue juga dikenal sebagai penghasil cengkeh terbesar di Aceh. Keberadaan cengkeh di Simeulue seusia dengan keberadaan penjajah kolonial di sana yang menginisiasi penanaman cengkeh guna mengembalikan modal perang penjajah kolonial yang mengeluarkan banyak biaya selama perang penaklukan Aceh yang terkenal itu.<\/p>\n\n\n\n

Selama penelitian bertemu dengan puluhan petani cengkeh di Simeulue, ada tiga temuan menarik yang saya dapat hasil berbincang-bincang dengan banyak narasumber yang saya jumpai di sana. Dua temuan menarik terkait langsung dengan cengkeh, dan satu temuan lainnya tak ada kaitannya dengan cengkeh, lebih kepada bagaimana penduduk Simeulue berhasil menyelamatkan diri usai gempa besar dan tsunami melanda pulau tersebut pada akhir tahun 2004.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode 70an, ketika cengkeh kembali berjaya di pasaran dalam negeri, sejalan dengan menggeliatnya industri rokok kretek di Indonesia yang mulai menguasai pasar dalam negeri mengalahkan rokok putih yang sebelumnya menjadi promadona di Indonesia, masyarakat Simeulue kembali menanam cengkeh di perbukitan yang ada di wilayah mereka. Kondisi geografis pulau Simeulue yang berbukit-bukit dan dekat dengan laut memang mirip dengan kondisi geografis tempat pohon cengkeh awalnya berasal. Kondisi ini membikin cengkeh sangat cocok ditanam di pulau Simeulue dan tumbuh subur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Menyadari potensi cengkeh yang sangat menjanjikan, pada periode 70an, pejabat yang memimpin pulau Simeulue mengeluarkan peraturan yang tidak lazim. Ia mengeluarkan aturan bahwa seorang pemuda yang hendak menikah wajib menanam minimal 25 batang pohon cengkeh sebelum Ia menikah. Jika tidak menanam cengkeh, pemerintah lewat lembaga keagamaan daerah tidak akan menikahkan pemuda tersebut. Kebijakan ini berjalan terus hingga akhirnya bisnis cengkeh hancur berantakan pada periode 90an usai keberadaan BPPC yang diinisasi Orde Baru. Kebijakan yang mewajibkan penanaman pohon cengkeh bagi pemuda yang hendak menikah ini membikin pulau Simeulue hingga saat ini didominasi tanaman cengkeh di luar komoditas lain semisal kemiri, pala, dan sawit yang kini mulai ditanam massal di Simeulue.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kehancuran komoditas cengkeh usai keberadaan BPPC di periode 90an, cengkeh kembali bangkit usai reformasi bergulir di negeri ini. Meski begitu, komoditas cengkeh di pulau Simeulue terlambat bangkit dibanding di daerah-daerah lainnya yang menghasilkan cengkeh di negeri ini. Hingga tsunami menggulung beberapa wilayah di Aceh, termasuk pulau Simeulue, komoditas cengkeh masih medioker di Simeulue, berbeda dengan wilayah lain di Indonesia yang usaha pertanian cengkehnya kembali bergeliat dengan harga yang sangat menguntungkan.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Susi Pujiastuti, seorang pengusaha sukses yang pada periode pertama masa kepemimpinan presiden Jokowi menjabat menteri kelautan dan perikanan yang kembali meningkatkan pamor komoditas cengkeh di pulau Simeulue. Ini terjadi pada tahun 2007. Kala itu, belenggu tengkulak di pulau Simeulue membikin harga cengkeh jatuh di pasaran, jauh lebih kecil dibandingkan dengan harga komoditas ini di wilayah lain di negeri ini. Sebagai perbandingan, harga cengkeh di wilayah lain, pada periode 2000an kembali mencapai titik tertingginya dengan harga beli di tingkat petani mencapai Rp100.000 per kilogram bahkan lebih, sedang di Simeulue, harga cengkeh maksimal berada di titik Rp30.000 saja per kilogramnya, bahkan di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan di pulau Simeulue, harga cengkeh jauh di bawah Rp30.000 per kilogram.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan informasi yang saya dapat dari banyak petani cengkeh di pulau Simeulue, pada 2007, untuk memutus rantai tengkulak, Bu Susi memborong cengkeh di pulau Simeulue dengan harga Rp100.000 per kilogram, mengikuti harga yang ditetapkan di pasar nasional. Rantai jahat tengkulak berhasil diputus. Dan sejak saat itu hingga kini, harga cengkeh di pulau Simeulue mengikuti harga pasar nasional, pertanian cengkeh kembali menggeliat di sana berkat peran nyata Bu Susi. Mulanya saya kurang percaya dengan informasi ini, namun, puluhan petani yang saya temui di Simeulue, juga pejabat di dinas perkebunan di pulau Simeulue, mengamini apa yang dilakukan Bu Susi terhadap komoditas cengkeh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Kembali bergeliatnya komoditas cengkeh di negeri ini usai diberangusnya BPPC pasca reformasi, tak lepas dari berjayanya industri rokok kretek dalam negeri. Rokok kretek berhasil menguasai lebih 90 persen pasar rokok nasional hingga hari ini. Dengan cengkeh sebagai salah satu bahan baku utama sekaligus bahan baku kunci rokok kretek, cengkeh menjadi komoditas yang menjanjikan dan menguntungkan petani.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, kejayaan petani cengkeh ini terancam dengan keberadaan gerakan antirokok dan kepentingan bisnis global yang berusaha merebut pasar rokok yang begitu menjanjikan di negeri ini. Sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar kedua di dunia di bawah China, Indonesia tentu saja menjadi bidikan serius kapitalisme global di bidang rokok dan farmasi. Merasa gagal bersaing secara sehat dengan produk rokok kretek, mereka kini terus-menerus berusaha menghancurkan keberadaan rokok kretek lewat regulasi yang dibikin semena-mena dan tidak adil dalam wujud Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). <\/p>\n\n\n\n

Salah satu pasal penting dalam FCTC, adalah pengharaman keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok yang beredar di pasaran. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, dan menerapkannya dalam peraturan usaha rokok di Indonesia, maka mau tidak mau, setiap produksi rokok yang ada di Indonesia tidak boleh mengandung cengkeh secuil pun. Ini artinya, tidak akan ada lagi produk rokok kretek yang diproduksi pabrikan-pabrikan rokok dalam negeri. Kretek hilang, dan komoditas cengkeh kembali menjadi semenjana.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi menuju peniadaan rokok kretek dan penghancuran pertanian cengkeh lewat ratifikasi FCTC ini sepertinya kian terang di negeri ini. Adalah Sri Mulyani, yang kini menjabat menteri keuangan di Indonesia yang mengambil peran besar dalam usaha peniadaan produk rokok kretek dan penghancuran cengkeh di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum, salah satu pemain utama dalam usaha menekan agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC adalah Bloomberg Initiatives. Dan Sri Mulyani, ada di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, di New York, Sri Mulyani juga sudah mengadakan pertemuan intensif dengan Bloomberg. Kado manis dari Sri Mulyani dengan menaikkan cukai rokok besar-besaran di negeri ini sudah diberikan kepada Bloomberg. Jika tidak dihalangi dengan gencar oleh seluruh stakeholder industri rokok di negeri ini, bukan tak mungkin kado istimewa lain dari Sri Mulyani kepada Bloomberg akan kembali diberikan, ratifikasi FCTC oleh pemerintah Indonesia. Rokok kretek mesti hilang dari pasar dalam negeri, dan petani cengkeh kembali merana.
<\/p>\n","post_title":"Susi Pujiastuti, Sri Mulyani, dan Perlakuan Mereka Terhadap Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"susi-pujiastuti-sri-mulyani-dan-perlakuan-mereka-terhadap-komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-21 08:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-21 01:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6465","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\n

PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n

Proxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi,  bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6465,"post_author":"878","post_date":"2020-02-21 08:17:35","post_date_gmt":"2020-02-21 01:17:35","post_content":"\n

Sekira tiga tahun lalu, saya berkesempatan berkunjung ke pulau Simeulue di provinsi Aceh. Kunjungan saya ke pulau yang terkenal dengan hasil lobsternya ini adalah untuk bertemu dengan petani cengkeh. Selain dikenal dengan hasil lautnya terutama lobster, pulau Simeulue juga dikenal sebagai penghasil cengkeh terbesar di Aceh. Keberadaan cengkeh di Simeulue seusia dengan keberadaan penjajah kolonial di sana yang menginisiasi penanaman cengkeh guna mengembalikan modal perang penjajah kolonial yang mengeluarkan banyak biaya selama perang penaklukan Aceh yang terkenal itu.<\/p>\n\n\n\n

Selama penelitian bertemu dengan puluhan petani cengkeh di Simeulue, ada tiga temuan menarik yang saya dapat hasil berbincang-bincang dengan banyak narasumber yang saya jumpai di sana. Dua temuan menarik terkait langsung dengan cengkeh, dan satu temuan lainnya tak ada kaitannya dengan cengkeh, lebih kepada bagaimana penduduk Simeulue berhasil menyelamatkan diri usai gempa besar dan tsunami melanda pulau tersebut pada akhir tahun 2004.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode 70an, ketika cengkeh kembali berjaya di pasaran dalam negeri, sejalan dengan menggeliatnya industri rokok kretek di Indonesia yang mulai menguasai pasar dalam negeri mengalahkan rokok putih yang sebelumnya menjadi promadona di Indonesia, masyarakat Simeulue kembali menanam cengkeh di perbukitan yang ada di wilayah mereka. Kondisi geografis pulau Simeulue yang berbukit-bukit dan dekat dengan laut memang mirip dengan kondisi geografis tempat pohon cengkeh awalnya berasal. Kondisi ini membikin cengkeh sangat cocok ditanam di pulau Simeulue dan tumbuh subur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Menyadari potensi cengkeh yang sangat menjanjikan, pada periode 70an, pejabat yang memimpin pulau Simeulue mengeluarkan peraturan yang tidak lazim. Ia mengeluarkan aturan bahwa seorang pemuda yang hendak menikah wajib menanam minimal 25 batang pohon cengkeh sebelum Ia menikah. Jika tidak menanam cengkeh, pemerintah lewat lembaga keagamaan daerah tidak akan menikahkan pemuda tersebut. Kebijakan ini berjalan terus hingga akhirnya bisnis cengkeh hancur berantakan pada periode 90an usai keberadaan BPPC yang diinisasi Orde Baru. Kebijakan yang mewajibkan penanaman pohon cengkeh bagi pemuda yang hendak menikah ini membikin pulau Simeulue hingga saat ini didominasi tanaman cengkeh di luar komoditas lain semisal kemiri, pala, dan sawit yang kini mulai ditanam massal di Simeulue.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kehancuran komoditas cengkeh usai keberadaan BPPC di periode 90an, cengkeh kembali bangkit usai reformasi bergulir di negeri ini. Meski begitu, komoditas cengkeh di pulau Simeulue terlambat bangkit dibanding di daerah-daerah lainnya yang menghasilkan cengkeh di negeri ini. Hingga tsunami menggulung beberapa wilayah di Aceh, termasuk pulau Simeulue, komoditas cengkeh masih medioker di Simeulue, berbeda dengan wilayah lain di Indonesia yang usaha pertanian cengkehnya kembali bergeliat dengan harga yang sangat menguntungkan.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Susi Pujiastuti, seorang pengusaha sukses yang pada periode pertama masa kepemimpinan presiden Jokowi menjabat menteri kelautan dan perikanan yang kembali meningkatkan pamor komoditas cengkeh di pulau Simeulue. Ini terjadi pada tahun 2007. Kala itu, belenggu tengkulak di pulau Simeulue membikin harga cengkeh jatuh di pasaran, jauh lebih kecil dibandingkan dengan harga komoditas ini di wilayah lain di negeri ini. Sebagai perbandingan, harga cengkeh di wilayah lain, pada periode 2000an kembali mencapai titik tertingginya dengan harga beli di tingkat petani mencapai Rp100.000 per kilogram bahkan lebih, sedang di Simeulue, harga cengkeh maksimal berada di titik Rp30.000 saja per kilogramnya, bahkan di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan di pulau Simeulue, harga cengkeh jauh di bawah Rp30.000 per kilogram.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan informasi yang saya dapat dari banyak petani cengkeh di pulau Simeulue, pada 2007, untuk memutus rantai tengkulak, Bu Susi memborong cengkeh di pulau Simeulue dengan harga Rp100.000 per kilogram, mengikuti harga yang ditetapkan di pasar nasional. Rantai jahat tengkulak berhasil diputus. Dan sejak saat itu hingga kini, harga cengkeh di pulau Simeulue mengikuti harga pasar nasional, pertanian cengkeh kembali menggeliat di sana berkat peran nyata Bu Susi. Mulanya saya kurang percaya dengan informasi ini, namun, puluhan petani yang saya temui di Simeulue, juga pejabat di dinas perkebunan di pulau Simeulue, mengamini apa yang dilakukan Bu Susi terhadap komoditas cengkeh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Kembali bergeliatnya komoditas cengkeh di negeri ini usai diberangusnya BPPC pasca reformasi, tak lepas dari berjayanya industri rokok kretek dalam negeri. Rokok kretek berhasil menguasai lebih 90 persen pasar rokok nasional hingga hari ini. Dengan cengkeh sebagai salah satu bahan baku utama sekaligus bahan baku kunci rokok kretek, cengkeh menjadi komoditas yang menjanjikan dan menguntungkan petani.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, kejayaan petani cengkeh ini terancam dengan keberadaan gerakan antirokok dan kepentingan bisnis global yang berusaha merebut pasar rokok yang begitu menjanjikan di negeri ini. Sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar kedua di dunia di bawah China, Indonesia tentu saja menjadi bidikan serius kapitalisme global di bidang rokok dan farmasi. Merasa gagal bersaing secara sehat dengan produk rokok kretek, mereka kini terus-menerus berusaha menghancurkan keberadaan rokok kretek lewat regulasi yang dibikin semena-mena dan tidak adil dalam wujud Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). <\/p>\n\n\n\n

Salah satu pasal penting dalam FCTC, adalah pengharaman keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok yang beredar di pasaran. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, dan menerapkannya dalam peraturan usaha rokok di Indonesia, maka mau tidak mau, setiap produksi rokok yang ada di Indonesia tidak boleh mengandung cengkeh secuil pun. Ini artinya, tidak akan ada lagi produk rokok kretek yang diproduksi pabrikan-pabrikan rokok dalam negeri. Kretek hilang, dan komoditas cengkeh kembali menjadi semenjana.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi menuju peniadaan rokok kretek dan penghancuran pertanian cengkeh lewat ratifikasi FCTC ini sepertinya kian terang di negeri ini. Adalah Sri Mulyani, yang kini menjabat menteri keuangan di Indonesia yang mengambil peran besar dalam usaha peniadaan produk rokok kretek dan penghancuran cengkeh di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum, salah satu pemain utama dalam usaha menekan agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC adalah Bloomberg Initiatives. Dan Sri Mulyani, ada di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, di New York, Sri Mulyani juga sudah mengadakan pertemuan intensif dengan Bloomberg. Kado manis dari Sri Mulyani dengan menaikkan cukai rokok besar-besaran di negeri ini sudah diberikan kepada Bloomberg. Jika tidak dihalangi dengan gencar oleh seluruh stakeholder industri rokok di negeri ini, bukan tak mungkin kado istimewa lain dari Sri Mulyani kepada Bloomberg akan kembali diberikan, ratifikasi FCTC oleh pemerintah Indonesia. Rokok kretek mesti hilang dari pasar dalam negeri, dan petani cengkeh kembali merana.
<\/p>\n","post_title":"Susi Pujiastuti, Sri Mulyani, dan Perlakuan Mereka Terhadap Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"susi-pujiastuti-sri-mulyani-dan-perlakuan-mereka-terhadap-komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-21 08:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-21 01:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6465","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\n

PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n

Proxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi,  bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6465,"post_author":"878","post_date":"2020-02-21 08:17:35","post_date_gmt":"2020-02-21 01:17:35","post_content":"\n

Sekira tiga tahun lalu, saya berkesempatan berkunjung ke pulau Simeulue di provinsi Aceh. Kunjungan saya ke pulau yang terkenal dengan hasil lobsternya ini adalah untuk bertemu dengan petani cengkeh. Selain dikenal dengan hasil lautnya terutama lobster, pulau Simeulue juga dikenal sebagai penghasil cengkeh terbesar di Aceh. Keberadaan cengkeh di Simeulue seusia dengan keberadaan penjajah kolonial di sana yang menginisiasi penanaman cengkeh guna mengembalikan modal perang penjajah kolonial yang mengeluarkan banyak biaya selama perang penaklukan Aceh yang terkenal itu.<\/p>\n\n\n\n

Selama penelitian bertemu dengan puluhan petani cengkeh di Simeulue, ada tiga temuan menarik yang saya dapat hasil berbincang-bincang dengan banyak narasumber yang saya jumpai di sana. Dua temuan menarik terkait langsung dengan cengkeh, dan satu temuan lainnya tak ada kaitannya dengan cengkeh, lebih kepada bagaimana penduduk Simeulue berhasil menyelamatkan diri usai gempa besar dan tsunami melanda pulau tersebut pada akhir tahun 2004.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode 70an, ketika cengkeh kembali berjaya di pasaran dalam negeri, sejalan dengan menggeliatnya industri rokok kretek di Indonesia yang mulai menguasai pasar dalam negeri mengalahkan rokok putih yang sebelumnya menjadi promadona di Indonesia, masyarakat Simeulue kembali menanam cengkeh di perbukitan yang ada di wilayah mereka. Kondisi geografis pulau Simeulue yang berbukit-bukit dan dekat dengan laut memang mirip dengan kondisi geografis tempat pohon cengkeh awalnya berasal. Kondisi ini membikin cengkeh sangat cocok ditanam di pulau Simeulue dan tumbuh subur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Menyadari potensi cengkeh yang sangat menjanjikan, pada periode 70an, pejabat yang memimpin pulau Simeulue mengeluarkan peraturan yang tidak lazim. Ia mengeluarkan aturan bahwa seorang pemuda yang hendak menikah wajib menanam minimal 25 batang pohon cengkeh sebelum Ia menikah. Jika tidak menanam cengkeh, pemerintah lewat lembaga keagamaan daerah tidak akan menikahkan pemuda tersebut. Kebijakan ini berjalan terus hingga akhirnya bisnis cengkeh hancur berantakan pada periode 90an usai keberadaan BPPC yang diinisasi Orde Baru. Kebijakan yang mewajibkan penanaman pohon cengkeh bagi pemuda yang hendak menikah ini membikin pulau Simeulue hingga saat ini didominasi tanaman cengkeh di luar komoditas lain semisal kemiri, pala, dan sawit yang kini mulai ditanam massal di Simeulue.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kehancuran komoditas cengkeh usai keberadaan BPPC di periode 90an, cengkeh kembali bangkit usai reformasi bergulir di negeri ini. Meski begitu, komoditas cengkeh di pulau Simeulue terlambat bangkit dibanding di daerah-daerah lainnya yang menghasilkan cengkeh di negeri ini. Hingga tsunami menggulung beberapa wilayah di Aceh, termasuk pulau Simeulue, komoditas cengkeh masih medioker di Simeulue, berbeda dengan wilayah lain di Indonesia yang usaha pertanian cengkehnya kembali bergeliat dengan harga yang sangat menguntungkan.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Susi Pujiastuti, seorang pengusaha sukses yang pada periode pertama masa kepemimpinan presiden Jokowi menjabat menteri kelautan dan perikanan yang kembali meningkatkan pamor komoditas cengkeh di pulau Simeulue. Ini terjadi pada tahun 2007. Kala itu, belenggu tengkulak di pulau Simeulue membikin harga cengkeh jatuh di pasaran, jauh lebih kecil dibandingkan dengan harga komoditas ini di wilayah lain di negeri ini. Sebagai perbandingan, harga cengkeh di wilayah lain, pada periode 2000an kembali mencapai titik tertingginya dengan harga beli di tingkat petani mencapai Rp100.000 per kilogram bahkan lebih, sedang di Simeulue, harga cengkeh maksimal berada di titik Rp30.000 saja per kilogramnya, bahkan di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan di pulau Simeulue, harga cengkeh jauh di bawah Rp30.000 per kilogram.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan informasi yang saya dapat dari banyak petani cengkeh di pulau Simeulue, pada 2007, untuk memutus rantai tengkulak, Bu Susi memborong cengkeh di pulau Simeulue dengan harga Rp100.000 per kilogram, mengikuti harga yang ditetapkan di pasar nasional. Rantai jahat tengkulak berhasil diputus. Dan sejak saat itu hingga kini, harga cengkeh di pulau Simeulue mengikuti harga pasar nasional, pertanian cengkeh kembali menggeliat di sana berkat peran nyata Bu Susi. Mulanya saya kurang percaya dengan informasi ini, namun, puluhan petani yang saya temui di Simeulue, juga pejabat di dinas perkebunan di pulau Simeulue, mengamini apa yang dilakukan Bu Susi terhadap komoditas cengkeh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Kembali bergeliatnya komoditas cengkeh di negeri ini usai diberangusnya BPPC pasca reformasi, tak lepas dari berjayanya industri rokok kretek dalam negeri. Rokok kretek berhasil menguasai lebih 90 persen pasar rokok nasional hingga hari ini. Dengan cengkeh sebagai salah satu bahan baku utama sekaligus bahan baku kunci rokok kretek, cengkeh menjadi komoditas yang menjanjikan dan menguntungkan petani.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, kejayaan petani cengkeh ini terancam dengan keberadaan gerakan antirokok dan kepentingan bisnis global yang berusaha merebut pasar rokok yang begitu menjanjikan di negeri ini. Sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar kedua di dunia di bawah China, Indonesia tentu saja menjadi bidikan serius kapitalisme global di bidang rokok dan farmasi. Merasa gagal bersaing secara sehat dengan produk rokok kretek, mereka kini terus-menerus berusaha menghancurkan keberadaan rokok kretek lewat regulasi yang dibikin semena-mena dan tidak adil dalam wujud Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). <\/p>\n\n\n\n

Salah satu pasal penting dalam FCTC, adalah pengharaman keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok yang beredar di pasaran. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, dan menerapkannya dalam peraturan usaha rokok di Indonesia, maka mau tidak mau, setiap produksi rokok yang ada di Indonesia tidak boleh mengandung cengkeh secuil pun. Ini artinya, tidak akan ada lagi produk rokok kretek yang diproduksi pabrikan-pabrikan rokok dalam negeri. Kretek hilang, dan komoditas cengkeh kembali menjadi semenjana.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi menuju peniadaan rokok kretek dan penghancuran pertanian cengkeh lewat ratifikasi FCTC ini sepertinya kian terang di negeri ini. Adalah Sri Mulyani, yang kini menjabat menteri keuangan di Indonesia yang mengambil peran besar dalam usaha peniadaan produk rokok kretek dan penghancuran cengkeh di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum, salah satu pemain utama dalam usaha menekan agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC adalah Bloomberg Initiatives. Dan Sri Mulyani, ada di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, di New York, Sri Mulyani juga sudah mengadakan pertemuan intensif dengan Bloomberg. Kado manis dari Sri Mulyani dengan menaikkan cukai rokok besar-besaran di negeri ini sudah diberikan kepada Bloomberg. Jika tidak dihalangi dengan gencar oleh seluruh stakeholder industri rokok di negeri ini, bukan tak mungkin kado istimewa lain dari Sri Mulyani kepada Bloomberg akan kembali diberikan, ratifikasi FCTC oleh pemerintah Indonesia. Rokok kretek mesti hilang dari pasar dalam negeri, dan petani cengkeh kembali merana.
<\/p>\n","post_title":"Susi Pujiastuti, Sri Mulyani, dan Perlakuan Mereka Terhadap Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"susi-pujiastuti-sri-mulyani-dan-perlakuan-mereka-terhadap-komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-21 08:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-21 01:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6465","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\n

PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n

Proxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi,  bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6465,"post_author":"878","post_date":"2020-02-21 08:17:35","post_date_gmt":"2020-02-21 01:17:35","post_content":"\n

Sekira tiga tahun lalu, saya berkesempatan berkunjung ke pulau Simeulue di provinsi Aceh. Kunjungan saya ke pulau yang terkenal dengan hasil lobsternya ini adalah untuk bertemu dengan petani cengkeh. Selain dikenal dengan hasil lautnya terutama lobster, pulau Simeulue juga dikenal sebagai penghasil cengkeh terbesar di Aceh. Keberadaan cengkeh di Simeulue seusia dengan keberadaan penjajah kolonial di sana yang menginisiasi penanaman cengkeh guna mengembalikan modal perang penjajah kolonial yang mengeluarkan banyak biaya selama perang penaklukan Aceh yang terkenal itu.<\/p>\n\n\n\n

Selama penelitian bertemu dengan puluhan petani cengkeh di Simeulue, ada tiga temuan menarik yang saya dapat hasil berbincang-bincang dengan banyak narasumber yang saya jumpai di sana. Dua temuan menarik terkait langsung dengan cengkeh, dan satu temuan lainnya tak ada kaitannya dengan cengkeh, lebih kepada bagaimana penduduk Simeulue berhasil menyelamatkan diri usai gempa besar dan tsunami melanda pulau tersebut pada akhir tahun 2004.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode 70an, ketika cengkeh kembali berjaya di pasaran dalam negeri, sejalan dengan menggeliatnya industri rokok kretek di Indonesia yang mulai menguasai pasar dalam negeri mengalahkan rokok putih yang sebelumnya menjadi promadona di Indonesia, masyarakat Simeulue kembali menanam cengkeh di perbukitan yang ada di wilayah mereka. Kondisi geografis pulau Simeulue yang berbukit-bukit dan dekat dengan laut memang mirip dengan kondisi geografis tempat pohon cengkeh awalnya berasal. Kondisi ini membikin cengkeh sangat cocok ditanam di pulau Simeulue dan tumbuh subur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Menyadari potensi cengkeh yang sangat menjanjikan, pada periode 70an, pejabat yang memimpin pulau Simeulue mengeluarkan peraturan yang tidak lazim. Ia mengeluarkan aturan bahwa seorang pemuda yang hendak menikah wajib menanam minimal 25 batang pohon cengkeh sebelum Ia menikah. Jika tidak menanam cengkeh, pemerintah lewat lembaga keagamaan daerah tidak akan menikahkan pemuda tersebut. Kebijakan ini berjalan terus hingga akhirnya bisnis cengkeh hancur berantakan pada periode 90an usai keberadaan BPPC yang diinisasi Orde Baru. Kebijakan yang mewajibkan penanaman pohon cengkeh bagi pemuda yang hendak menikah ini membikin pulau Simeulue hingga saat ini didominasi tanaman cengkeh di luar komoditas lain semisal kemiri, pala, dan sawit yang kini mulai ditanam massal di Simeulue.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kehancuran komoditas cengkeh usai keberadaan BPPC di periode 90an, cengkeh kembali bangkit usai reformasi bergulir di negeri ini. Meski begitu, komoditas cengkeh di pulau Simeulue terlambat bangkit dibanding di daerah-daerah lainnya yang menghasilkan cengkeh di negeri ini. Hingga tsunami menggulung beberapa wilayah di Aceh, termasuk pulau Simeulue, komoditas cengkeh masih medioker di Simeulue, berbeda dengan wilayah lain di Indonesia yang usaha pertanian cengkehnya kembali bergeliat dengan harga yang sangat menguntungkan.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Susi Pujiastuti, seorang pengusaha sukses yang pada periode pertama masa kepemimpinan presiden Jokowi menjabat menteri kelautan dan perikanan yang kembali meningkatkan pamor komoditas cengkeh di pulau Simeulue. Ini terjadi pada tahun 2007. Kala itu, belenggu tengkulak di pulau Simeulue membikin harga cengkeh jatuh di pasaran, jauh lebih kecil dibandingkan dengan harga komoditas ini di wilayah lain di negeri ini. Sebagai perbandingan, harga cengkeh di wilayah lain, pada periode 2000an kembali mencapai titik tertingginya dengan harga beli di tingkat petani mencapai Rp100.000 per kilogram bahkan lebih, sedang di Simeulue, harga cengkeh maksimal berada di titik Rp30.000 saja per kilogramnya, bahkan di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan di pulau Simeulue, harga cengkeh jauh di bawah Rp30.000 per kilogram.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan informasi yang saya dapat dari banyak petani cengkeh di pulau Simeulue, pada 2007, untuk memutus rantai tengkulak, Bu Susi memborong cengkeh di pulau Simeulue dengan harga Rp100.000 per kilogram, mengikuti harga yang ditetapkan di pasar nasional. Rantai jahat tengkulak berhasil diputus. Dan sejak saat itu hingga kini, harga cengkeh di pulau Simeulue mengikuti harga pasar nasional, pertanian cengkeh kembali menggeliat di sana berkat peran nyata Bu Susi. Mulanya saya kurang percaya dengan informasi ini, namun, puluhan petani yang saya temui di Simeulue, juga pejabat di dinas perkebunan di pulau Simeulue, mengamini apa yang dilakukan Bu Susi terhadap komoditas cengkeh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Kembali bergeliatnya komoditas cengkeh di negeri ini usai diberangusnya BPPC pasca reformasi, tak lepas dari berjayanya industri rokok kretek dalam negeri. Rokok kretek berhasil menguasai lebih 90 persen pasar rokok nasional hingga hari ini. Dengan cengkeh sebagai salah satu bahan baku utama sekaligus bahan baku kunci rokok kretek, cengkeh menjadi komoditas yang menjanjikan dan menguntungkan petani.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, kejayaan petani cengkeh ini terancam dengan keberadaan gerakan antirokok dan kepentingan bisnis global yang berusaha merebut pasar rokok yang begitu menjanjikan di negeri ini. Sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar kedua di dunia di bawah China, Indonesia tentu saja menjadi bidikan serius kapitalisme global di bidang rokok dan farmasi. Merasa gagal bersaing secara sehat dengan produk rokok kretek, mereka kini terus-menerus berusaha menghancurkan keberadaan rokok kretek lewat regulasi yang dibikin semena-mena dan tidak adil dalam wujud Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). <\/p>\n\n\n\n

Salah satu pasal penting dalam FCTC, adalah pengharaman keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok yang beredar di pasaran. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, dan menerapkannya dalam peraturan usaha rokok di Indonesia, maka mau tidak mau, setiap produksi rokok yang ada di Indonesia tidak boleh mengandung cengkeh secuil pun. Ini artinya, tidak akan ada lagi produk rokok kretek yang diproduksi pabrikan-pabrikan rokok dalam negeri. Kretek hilang, dan komoditas cengkeh kembali menjadi semenjana.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi menuju peniadaan rokok kretek dan penghancuran pertanian cengkeh lewat ratifikasi FCTC ini sepertinya kian terang di negeri ini. Adalah Sri Mulyani, yang kini menjabat menteri keuangan di Indonesia yang mengambil peran besar dalam usaha peniadaan produk rokok kretek dan penghancuran cengkeh di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum, salah satu pemain utama dalam usaha menekan agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC adalah Bloomberg Initiatives. Dan Sri Mulyani, ada di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, di New York, Sri Mulyani juga sudah mengadakan pertemuan intensif dengan Bloomberg. Kado manis dari Sri Mulyani dengan menaikkan cukai rokok besar-besaran di negeri ini sudah diberikan kepada Bloomberg. Jika tidak dihalangi dengan gencar oleh seluruh stakeholder industri rokok di negeri ini, bukan tak mungkin kado istimewa lain dari Sri Mulyani kepada Bloomberg akan kembali diberikan, ratifikasi FCTC oleh pemerintah Indonesia. Rokok kretek mesti hilang dari pasar dalam negeri, dan petani cengkeh kembali merana.
<\/p>\n","post_title":"Susi Pujiastuti, Sri Mulyani, dan Perlakuan Mereka Terhadap Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"susi-pujiastuti-sri-mulyani-dan-perlakuan-mereka-terhadap-komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-21 08:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-21 01:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6465","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\n

PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n

Proxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi,  bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6465,"post_author":"878","post_date":"2020-02-21 08:17:35","post_date_gmt":"2020-02-21 01:17:35","post_content":"\n

Sekira tiga tahun lalu, saya berkesempatan berkunjung ke pulau Simeulue di provinsi Aceh. Kunjungan saya ke pulau yang terkenal dengan hasil lobsternya ini adalah untuk bertemu dengan petani cengkeh. Selain dikenal dengan hasil lautnya terutama lobster, pulau Simeulue juga dikenal sebagai penghasil cengkeh terbesar di Aceh. Keberadaan cengkeh di Simeulue seusia dengan keberadaan penjajah kolonial di sana yang menginisiasi penanaman cengkeh guna mengembalikan modal perang penjajah kolonial yang mengeluarkan banyak biaya selama perang penaklukan Aceh yang terkenal itu.<\/p>\n\n\n\n

Selama penelitian bertemu dengan puluhan petani cengkeh di Simeulue, ada tiga temuan menarik yang saya dapat hasil berbincang-bincang dengan banyak narasumber yang saya jumpai di sana. Dua temuan menarik terkait langsung dengan cengkeh, dan satu temuan lainnya tak ada kaitannya dengan cengkeh, lebih kepada bagaimana penduduk Simeulue berhasil menyelamatkan diri usai gempa besar dan tsunami melanda pulau tersebut pada akhir tahun 2004.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode 70an, ketika cengkeh kembali berjaya di pasaran dalam negeri, sejalan dengan menggeliatnya industri rokok kretek di Indonesia yang mulai menguasai pasar dalam negeri mengalahkan rokok putih yang sebelumnya menjadi promadona di Indonesia, masyarakat Simeulue kembali menanam cengkeh di perbukitan yang ada di wilayah mereka. Kondisi geografis pulau Simeulue yang berbukit-bukit dan dekat dengan laut memang mirip dengan kondisi geografis tempat pohon cengkeh awalnya berasal. Kondisi ini membikin cengkeh sangat cocok ditanam di pulau Simeulue dan tumbuh subur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Menyadari potensi cengkeh yang sangat menjanjikan, pada periode 70an, pejabat yang memimpin pulau Simeulue mengeluarkan peraturan yang tidak lazim. Ia mengeluarkan aturan bahwa seorang pemuda yang hendak menikah wajib menanam minimal 25 batang pohon cengkeh sebelum Ia menikah. Jika tidak menanam cengkeh, pemerintah lewat lembaga keagamaan daerah tidak akan menikahkan pemuda tersebut. Kebijakan ini berjalan terus hingga akhirnya bisnis cengkeh hancur berantakan pada periode 90an usai keberadaan BPPC yang diinisasi Orde Baru. Kebijakan yang mewajibkan penanaman pohon cengkeh bagi pemuda yang hendak menikah ini membikin pulau Simeulue hingga saat ini didominasi tanaman cengkeh di luar komoditas lain semisal kemiri, pala, dan sawit yang kini mulai ditanam massal di Simeulue.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kehancuran komoditas cengkeh usai keberadaan BPPC di periode 90an, cengkeh kembali bangkit usai reformasi bergulir di negeri ini. Meski begitu, komoditas cengkeh di pulau Simeulue terlambat bangkit dibanding di daerah-daerah lainnya yang menghasilkan cengkeh di negeri ini. Hingga tsunami menggulung beberapa wilayah di Aceh, termasuk pulau Simeulue, komoditas cengkeh masih medioker di Simeulue, berbeda dengan wilayah lain di Indonesia yang usaha pertanian cengkehnya kembali bergeliat dengan harga yang sangat menguntungkan.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Susi Pujiastuti, seorang pengusaha sukses yang pada periode pertama masa kepemimpinan presiden Jokowi menjabat menteri kelautan dan perikanan yang kembali meningkatkan pamor komoditas cengkeh di pulau Simeulue. Ini terjadi pada tahun 2007. Kala itu, belenggu tengkulak di pulau Simeulue membikin harga cengkeh jatuh di pasaran, jauh lebih kecil dibandingkan dengan harga komoditas ini di wilayah lain di negeri ini. Sebagai perbandingan, harga cengkeh di wilayah lain, pada periode 2000an kembali mencapai titik tertingginya dengan harga beli di tingkat petani mencapai Rp100.000 per kilogram bahkan lebih, sedang di Simeulue, harga cengkeh maksimal berada di titik Rp30.000 saja per kilogramnya, bahkan di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan di pulau Simeulue, harga cengkeh jauh di bawah Rp30.000 per kilogram.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan informasi yang saya dapat dari banyak petani cengkeh di pulau Simeulue, pada 2007, untuk memutus rantai tengkulak, Bu Susi memborong cengkeh di pulau Simeulue dengan harga Rp100.000 per kilogram, mengikuti harga yang ditetapkan di pasar nasional. Rantai jahat tengkulak berhasil diputus. Dan sejak saat itu hingga kini, harga cengkeh di pulau Simeulue mengikuti harga pasar nasional, pertanian cengkeh kembali menggeliat di sana berkat peran nyata Bu Susi. Mulanya saya kurang percaya dengan informasi ini, namun, puluhan petani yang saya temui di Simeulue, juga pejabat di dinas perkebunan di pulau Simeulue, mengamini apa yang dilakukan Bu Susi terhadap komoditas cengkeh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Kembali bergeliatnya komoditas cengkeh di negeri ini usai diberangusnya BPPC pasca reformasi, tak lepas dari berjayanya industri rokok kretek dalam negeri. Rokok kretek berhasil menguasai lebih 90 persen pasar rokok nasional hingga hari ini. Dengan cengkeh sebagai salah satu bahan baku utama sekaligus bahan baku kunci rokok kretek, cengkeh menjadi komoditas yang menjanjikan dan menguntungkan petani.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, kejayaan petani cengkeh ini terancam dengan keberadaan gerakan antirokok dan kepentingan bisnis global yang berusaha merebut pasar rokok yang begitu menjanjikan di negeri ini. Sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar kedua di dunia di bawah China, Indonesia tentu saja menjadi bidikan serius kapitalisme global di bidang rokok dan farmasi. Merasa gagal bersaing secara sehat dengan produk rokok kretek, mereka kini terus-menerus berusaha menghancurkan keberadaan rokok kretek lewat regulasi yang dibikin semena-mena dan tidak adil dalam wujud Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). <\/p>\n\n\n\n

Salah satu pasal penting dalam FCTC, adalah pengharaman keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok yang beredar di pasaran. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, dan menerapkannya dalam peraturan usaha rokok di Indonesia, maka mau tidak mau, setiap produksi rokok yang ada di Indonesia tidak boleh mengandung cengkeh secuil pun. Ini artinya, tidak akan ada lagi produk rokok kretek yang diproduksi pabrikan-pabrikan rokok dalam negeri. Kretek hilang, dan komoditas cengkeh kembali menjadi semenjana.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi menuju peniadaan rokok kretek dan penghancuran pertanian cengkeh lewat ratifikasi FCTC ini sepertinya kian terang di negeri ini. Adalah Sri Mulyani, yang kini menjabat menteri keuangan di Indonesia yang mengambil peran besar dalam usaha peniadaan produk rokok kretek dan penghancuran cengkeh di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum, salah satu pemain utama dalam usaha menekan agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC adalah Bloomberg Initiatives. Dan Sri Mulyani, ada di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, di New York, Sri Mulyani juga sudah mengadakan pertemuan intensif dengan Bloomberg. Kado manis dari Sri Mulyani dengan menaikkan cukai rokok besar-besaran di negeri ini sudah diberikan kepada Bloomberg. Jika tidak dihalangi dengan gencar oleh seluruh stakeholder industri rokok di negeri ini, bukan tak mungkin kado istimewa lain dari Sri Mulyani kepada Bloomberg akan kembali diberikan, ratifikasi FCTC oleh pemerintah Indonesia. Rokok kretek mesti hilang dari pasar dalam negeri, dan petani cengkeh kembali merana.
<\/p>\n","post_title":"Susi Pujiastuti, Sri Mulyani, dan Perlakuan Mereka Terhadap Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"susi-pujiastuti-sri-mulyani-dan-perlakuan-mereka-terhadap-komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-21 08:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-21 01:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6465","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\n

PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n

Proxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi,  bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6465,"post_author":"878","post_date":"2020-02-21 08:17:35","post_date_gmt":"2020-02-21 01:17:35","post_content":"\n

Sekira tiga tahun lalu, saya berkesempatan berkunjung ke pulau Simeulue di provinsi Aceh. Kunjungan saya ke pulau yang terkenal dengan hasil lobsternya ini adalah untuk bertemu dengan petani cengkeh. Selain dikenal dengan hasil lautnya terutama lobster, pulau Simeulue juga dikenal sebagai penghasil cengkeh terbesar di Aceh. Keberadaan cengkeh di Simeulue seusia dengan keberadaan penjajah kolonial di sana yang menginisiasi penanaman cengkeh guna mengembalikan modal perang penjajah kolonial yang mengeluarkan banyak biaya selama perang penaklukan Aceh yang terkenal itu.<\/p>\n\n\n\n

Selama penelitian bertemu dengan puluhan petani cengkeh di Simeulue, ada tiga temuan menarik yang saya dapat hasil berbincang-bincang dengan banyak narasumber yang saya jumpai di sana. Dua temuan menarik terkait langsung dengan cengkeh, dan satu temuan lainnya tak ada kaitannya dengan cengkeh, lebih kepada bagaimana penduduk Simeulue berhasil menyelamatkan diri usai gempa besar dan tsunami melanda pulau tersebut pada akhir tahun 2004.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode 70an, ketika cengkeh kembali berjaya di pasaran dalam negeri, sejalan dengan menggeliatnya industri rokok kretek di Indonesia yang mulai menguasai pasar dalam negeri mengalahkan rokok putih yang sebelumnya menjadi promadona di Indonesia, masyarakat Simeulue kembali menanam cengkeh di perbukitan yang ada di wilayah mereka. Kondisi geografis pulau Simeulue yang berbukit-bukit dan dekat dengan laut memang mirip dengan kondisi geografis tempat pohon cengkeh awalnya berasal. Kondisi ini membikin cengkeh sangat cocok ditanam di pulau Simeulue dan tumbuh subur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Menyadari potensi cengkeh yang sangat menjanjikan, pada periode 70an, pejabat yang memimpin pulau Simeulue mengeluarkan peraturan yang tidak lazim. Ia mengeluarkan aturan bahwa seorang pemuda yang hendak menikah wajib menanam minimal 25 batang pohon cengkeh sebelum Ia menikah. Jika tidak menanam cengkeh, pemerintah lewat lembaga keagamaan daerah tidak akan menikahkan pemuda tersebut. Kebijakan ini berjalan terus hingga akhirnya bisnis cengkeh hancur berantakan pada periode 90an usai keberadaan BPPC yang diinisasi Orde Baru. Kebijakan yang mewajibkan penanaman pohon cengkeh bagi pemuda yang hendak menikah ini membikin pulau Simeulue hingga saat ini didominasi tanaman cengkeh di luar komoditas lain semisal kemiri, pala, dan sawit yang kini mulai ditanam massal di Simeulue.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kehancuran komoditas cengkeh usai keberadaan BPPC di periode 90an, cengkeh kembali bangkit usai reformasi bergulir di negeri ini. Meski begitu, komoditas cengkeh di pulau Simeulue terlambat bangkit dibanding di daerah-daerah lainnya yang menghasilkan cengkeh di negeri ini. Hingga tsunami menggulung beberapa wilayah di Aceh, termasuk pulau Simeulue, komoditas cengkeh masih medioker di Simeulue, berbeda dengan wilayah lain di Indonesia yang usaha pertanian cengkehnya kembali bergeliat dengan harga yang sangat menguntungkan.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Susi Pujiastuti, seorang pengusaha sukses yang pada periode pertama masa kepemimpinan presiden Jokowi menjabat menteri kelautan dan perikanan yang kembali meningkatkan pamor komoditas cengkeh di pulau Simeulue. Ini terjadi pada tahun 2007. Kala itu, belenggu tengkulak di pulau Simeulue membikin harga cengkeh jatuh di pasaran, jauh lebih kecil dibandingkan dengan harga komoditas ini di wilayah lain di negeri ini. Sebagai perbandingan, harga cengkeh di wilayah lain, pada periode 2000an kembali mencapai titik tertingginya dengan harga beli di tingkat petani mencapai Rp100.000 per kilogram bahkan lebih, sedang di Simeulue, harga cengkeh maksimal berada di titik Rp30.000 saja per kilogramnya, bahkan di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan di pulau Simeulue, harga cengkeh jauh di bawah Rp30.000 per kilogram.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan informasi yang saya dapat dari banyak petani cengkeh di pulau Simeulue, pada 2007, untuk memutus rantai tengkulak, Bu Susi memborong cengkeh di pulau Simeulue dengan harga Rp100.000 per kilogram, mengikuti harga yang ditetapkan di pasar nasional. Rantai jahat tengkulak berhasil diputus. Dan sejak saat itu hingga kini, harga cengkeh di pulau Simeulue mengikuti harga pasar nasional, pertanian cengkeh kembali menggeliat di sana berkat peran nyata Bu Susi. Mulanya saya kurang percaya dengan informasi ini, namun, puluhan petani yang saya temui di Simeulue, juga pejabat di dinas perkebunan di pulau Simeulue, mengamini apa yang dilakukan Bu Susi terhadap komoditas cengkeh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Kembali bergeliatnya komoditas cengkeh di negeri ini usai diberangusnya BPPC pasca reformasi, tak lepas dari berjayanya industri rokok kretek dalam negeri. Rokok kretek berhasil menguasai lebih 90 persen pasar rokok nasional hingga hari ini. Dengan cengkeh sebagai salah satu bahan baku utama sekaligus bahan baku kunci rokok kretek, cengkeh menjadi komoditas yang menjanjikan dan menguntungkan petani.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, kejayaan petani cengkeh ini terancam dengan keberadaan gerakan antirokok dan kepentingan bisnis global yang berusaha merebut pasar rokok yang begitu menjanjikan di negeri ini. Sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar kedua di dunia di bawah China, Indonesia tentu saja menjadi bidikan serius kapitalisme global di bidang rokok dan farmasi. Merasa gagal bersaing secara sehat dengan produk rokok kretek, mereka kini terus-menerus berusaha menghancurkan keberadaan rokok kretek lewat regulasi yang dibikin semena-mena dan tidak adil dalam wujud Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). <\/p>\n\n\n\n

Salah satu pasal penting dalam FCTC, adalah pengharaman keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok yang beredar di pasaran. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, dan menerapkannya dalam peraturan usaha rokok di Indonesia, maka mau tidak mau, setiap produksi rokok yang ada di Indonesia tidak boleh mengandung cengkeh secuil pun. Ini artinya, tidak akan ada lagi produk rokok kretek yang diproduksi pabrikan-pabrikan rokok dalam negeri. Kretek hilang, dan komoditas cengkeh kembali menjadi semenjana.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi menuju peniadaan rokok kretek dan penghancuran pertanian cengkeh lewat ratifikasi FCTC ini sepertinya kian terang di negeri ini. Adalah Sri Mulyani, yang kini menjabat menteri keuangan di Indonesia yang mengambil peran besar dalam usaha peniadaan produk rokok kretek dan penghancuran cengkeh di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum, salah satu pemain utama dalam usaha menekan agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC adalah Bloomberg Initiatives. Dan Sri Mulyani, ada di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, di New York, Sri Mulyani juga sudah mengadakan pertemuan intensif dengan Bloomberg. Kado manis dari Sri Mulyani dengan menaikkan cukai rokok besar-besaran di negeri ini sudah diberikan kepada Bloomberg. Jika tidak dihalangi dengan gencar oleh seluruh stakeholder industri rokok di negeri ini, bukan tak mungkin kado istimewa lain dari Sri Mulyani kepada Bloomberg akan kembali diberikan, ratifikasi FCTC oleh pemerintah Indonesia. Rokok kretek mesti hilang dari pasar dalam negeri, dan petani cengkeh kembali merana.
<\/p>\n","post_title":"Susi Pujiastuti, Sri Mulyani, dan Perlakuan Mereka Terhadap Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"susi-pujiastuti-sri-mulyani-dan-perlakuan-mereka-terhadap-komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-21 08:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-21 01:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6465","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\n

PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n

Proxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi,  bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6465,"post_author":"878","post_date":"2020-02-21 08:17:35","post_date_gmt":"2020-02-21 01:17:35","post_content":"\n

Sekira tiga tahun lalu, saya berkesempatan berkunjung ke pulau Simeulue di provinsi Aceh. Kunjungan saya ke pulau yang terkenal dengan hasil lobsternya ini adalah untuk bertemu dengan petani cengkeh. Selain dikenal dengan hasil lautnya terutama lobster, pulau Simeulue juga dikenal sebagai penghasil cengkeh terbesar di Aceh. Keberadaan cengkeh di Simeulue seusia dengan keberadaan penjajah kolonial di sana yang menginisiasi penanaman cengkeh guna mengembalikan modal perang penjajah kolonial yang mengeluarkan banyak biaya selama perang penaklukan Aceh yang terkenal itu.<\/p>\n\n\n\n

Selama penelitian bertemu dengan puluhan petani cengkeh di Simeulue, ada tiga temuan menarik yang saya dapat hasil berbincang-bincang dengan banyak narasumber yang saya jumpai di sana. Dua temuan menarik terkait langsung dengan cengkeh, dan satu temuan lainnya tak ada kaitannya dengan cengkeh, lebih kepada bagaimana penduduk Simeulue berhasil menyelamatkan diri usai gempa besar dan tsunami melanda pulau tersebut pada akhir tahun 2004.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode 70an, ketika cengkeh kembali berjaya di pasaran dalam negeri, sejalan dengan menggeliatnya industri rokok kretek di Indonesia yang mulai menguasai pasar dalam negeri mengalahkan rokok putih yang sebelumnya menjadi promadona di Indonesia, masyarakat Simeulue kembali menanam cengkeh di perbukitan yang ada di wilayah mereka. Kondisi geografis pulau Simeulue yang berbukit-bukit dan dekat dengan laut memang mirip dengan kondisi geografis tempat pohon cengkeh awalnya berasal. Kondisi ini membikin cengkeh sangat cocok ditanam di pulau Simeulue dan tumbuh subur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Menyadari potensi cengkeh yang sangat menjanjikan, pada periode 70an, pejabat yang memimpin pulau Simeulue mengeluarkan peraturan yang tidak lazim. Ia mengeluarkan aturan bahwa seorang pemuda yang hendak menikah wajib menanam minimal 25 batang pohon cengkeh sebelum Ia menikah. Jika tidak menanam cengkeh, pemerintah lewat lembaga keagamaan daerah tidak akan menikahkan pemuda tersebut. Kebijakan ini berjalan terus hingga akhirnya bisnis cengkeh hancur berantakan pada periode 90an usai keberadaan BPPC yang diinisasi Orde Baru. Kebijakan yang mewajibkan penanaman pohon cengkeh bagi pemuda yang hendak menikah ini membikin pulau Simeulue hingga saat ini didominasi tanaman cengkeh di luar komoditas lain semisal kemiri, pala, dan sawit yang kini mulai ditanam massal di Simeulue.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kehancuran komoditas cengkeh usai keberadaan BPPC di periode 90an, cengkeh kembali bangkit usai reformasi bergulir di negeri ini. Meski begitu, komoditas cengkeh di pulau Simeulue terlambat bangkit dibanding di daerah-daerah lainnya yang menghasilkan cengkeh di negeri ini. Hingga tsunami menggulung beberapa wilayah di Aceh, termasuk pulau Simeulue, komoditas cengkeh masih medioker di Simeulue, berbeda dengan wilayah lain di Indonesia yang usaha pertanian cengkehnya kembali bergeliat dengan harga yang sangat menguntungkan.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Susi Pujiastuti, seorang pengusaha sukses yang pada periode pertama masa kepemimpinan presiden Jokowi menjabat menteri kelautan dan perikanan yang kembali meningkatkan pamor komoditas cengkeh di pulau Simeulue. Ini terjadi pada tahun 2007. Kala itu, belenggu tengkulak di pulau Simeulue membikin harga cengkeh jatuh di pasaran, jauh lebih kecil dibandingkan dengan harga komoditas ini di wilayah lain di negeri ini. Sebagai perbandingan, harga cengkeh di wilayah lain, pada periode 2000an kembali mencapai titik tertingginya dengan harga beli di tingkat petani mencapai Rp100.000 per kilogram bahkan lebih, sedang di Simeulue, harga cengkeh maksimal berada di titik Rp30.000 saja per kilogramnya, bahkan di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan di pulau Simeulue, harga cengkeh jauh di bawah Rp30.000 per kilogram.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan informasi yang saya dapat dari banyak petani cengkeh di pulau Simeulue, pada 2007, untuk memutus rantai tengkulak, Bu Susi memborong cengkeh di pulau Simeulue dengan harga Rp100.000 per kilogram, mengikuti harga yang ditetapkan di pasar nasional. Rantai jahat tengkulak berhasil diputus. Dan sejak saat itu hingga kini, harga cengkeh di pulau Simeulue mengikuti harga pasar nasional, pertanian cengkeh kembali menggeliat di sana berkat peran nyata Bu Susi. Mulanya saya kurang percaya dengan informasi ini, namun, puluhan petani yang saya temui di Simeulue, juga pejabat di dinas perkebunan di pulau Simeulue, mengamini apa yang dilakukan Bu Susi terhadap komoditas cengkeh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Kembali bergeliatnya komoditas cengkeh di negeri ini usai diberangusnya BPPC pasca reformasi, tak lepas dari berjayanya industri rokok kretek dalam negeri. Rokok kretek berhasil menguasai lebih 90 persen pasar rokok nasional hingga hari ini. Dengan cengkeh sebagai salah satu bahan baku utama sekaligus bahan baku kunci rokok kretek, cengkeh menjadi komoditas yang menjanjikan dan menguntungkan petani.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, kejayaan petani cengkeh ini terancam dengan keberadaan gerakan antirokok dan kepentingan bisnis global yang berusaha merebut pasar rokok yang begitu menjanjikan di negeri ini. Sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar kedua di dunia di bawah China, Indonesia tentu saja menjadi bidikan serius kapitalisme global di bidang rokok dan farmasi. Merasa gagal bersaing secara sehat dengan produk rokok kretek, mereka kini terus-menerus berusaha menghancurkan keberadaan rokok kretek lewat regulasi yang dibikin semena-mena dan tidak adil dalam wujud Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). <\/p>\n\n\n\n

Salah satu pasal penting dalam FCTC, adalah pengharaman keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok yang beredar di pasaran. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, dan menerapkannya dalam peraturan usaha rokok di Indonesia, maka mau tidak mau, setiap produksi rokok yang ada di Indonesia tidak boleh mengandung cengkeh secuil pun. Ini artinya, tidak akan ada lagi produk rokok kretek yang diproduksi pabrikan-pabrikan rokok dalam negeri. Kretek hilang, dan komoditas cengkeh kembali menjadi semenjana.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi menuju peniadaan rokok kretek dan penghancuran pertanian cengkeh lewat ratifikasi FCTC ini sepertinya kian terang di negeri ini. Adalah Sri Mulyani, yang kini menjabat menteri keuangan di Indonesia yang mengambil peran besar dalam usaha peniadaan produk rokok kretek dan penghancuran cengkeh di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum, salah satu pemain utama dalam usaha menekan agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC adalah Bloomberg Initiatives. Dan Sri Mulyani, ada di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, di New York, Sri Mulyani juga sudah mengadakan pertemuan intensif dengan Bloomberg. Kado manis dari Sri Mulyani dengan menaikkan cukai rokok besar-besaran di negeri ini sudah diberikan kepada Bloomberg. Jika tidak dihalangi dengan gencar oleh seluruh stakeholder industri rokok di negeri ini, bukan tak mungkin kado istimewa lain dari Sri Mulyani kepada Bloomberg akan kembali diberikan, ratifikasi FCTC oleh pemerintah Indonesia. Rokok kretek mesti hilang dari pasar dalam negeri, dan petani cengkeh kembali merana.
<\/p>\n","post_title":"Susi Pujiastuti, Sri Mulyani, dan Perlakuan Mereka Terhadap Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"susi-pujiastuti-sri-mulyani-dan-perlakuan-mereka-terhadap-komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-21 08:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-21 01:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6465","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\n

PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n

Proxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi,  bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n

Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6465,"post_author":"878","post_date":"2020-02-21 08:17:35","post_date_gmt":"2020-02-21 01:17:35","post_content":"\n

Sekira tiga tahun lalu, saya berkesempatan berkunjung ke pulau Simeulue di provinsi Aceh. Kunjungan saya ke pulau yang terkenal dengan hasil lobsternya ini adalah untuk bertemu dengan petani cengkeh. Selain dikenal dengan hasil lautnya terutama lobster, pulau Simeulue juga dikenal sebagai penghasil cengkeh terbesar di Aceh. Keberadaan cengkeh di Simeulue seusia dengan keberadaan penjajah kolonial di sana yang menginisiasi penanaman cengkeh guna mengembalikan modal perang penjajah kolonial yang mengeluarkan banyak biaya selama perang penaklukan Aceh yang terkenal itu.<\/p>\n\n\n\n

Selama penelitian bertemu dengan puluhan petani cengkeh di Simeulue, ada tiga temuan menarik yang saya dapat hasil berbincang-bincang dengan banyak narasumber yang saya jumpai di sana. Dua temuan menarik terkait langsung dengan cengkeh, dan satu temuan lainnya tak ada kaitannya dengan cengkeh, lebih kepada bagaimana penduduk Simeulue berhasil menyelamatkan diri usai gempa besar dan tsunami melanda pulau tersebut pada akhir tahun 2004.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode 70an, ketika cengkeh kembali berjaya di pasaran dalam negeri, sejalan dengan menggeliatnya industri rokok kretek di Indonesia yang mulai menguasai pasar dalam negeri mengalahkan rokok putih yang sebelumnya menjadi promadona di Indonesia, masyarakat Simeulue kembali menanam cengkeh di perbukitan yang ada di wilayah mereka. Kondisi geografis pulau Simeulue yang berbukit-bukit dan dekat dengan laut memang mirip dengan kondisi geografis tempat pohon cengkeh awalnya berasal. Kondisi ini membikin cengkeh sangat cocok ditanam di pulau Simeulue dan tumbuh subur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Menyadari potensi cengkeh yang sangat menjanjikan, pada periode 70an, pejabat yang memimpin pulau Simeulue mengeluarkan peraturan yang tidak lazim. Ia mengeluarkan aturan bahwa seorang pemuda yang hendak menikah wajib menanam minimal 25 batang pohon cengkeh sebelum Ia menikah. Jika tidak menanam cengkeh, pemerintah lewat lembaga keagamaan daerah tidak akan menikahkan pemuda tersebut. Kebijakan ini berjalan terus hingga akhirnya bisnis cengkeh hancur berantakan pada periode 90an usai keberadaan BPPC yang diinisasi Orde Baru. Kebijakan yang mewajibkan penanaman pohon cengkeh bagi pemuda yang hendak menikah ini membikin pulau Simeulue hingga saat ini didominasi tanaman cengkeh di luar komoditas lain semisal kemiri, pala, dan sawit yang kini mulai ditanam massal di Simeulue.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kehancuran komoditas cengkeh usai keberadaan BPPC di periode 90an, cengkeh kembali bangkit usai reformasi bergulir di negeri ini. Meski begitu, komoditas cengkeh di pulau Simeulue terlambat bangkit dibanding di daerah-daerah lainnya yang menghasilkan cengkeh di negeri ini. Hingga tsunami menggulung beberapa wilayah di Aceh, termasuk pulau Simeulue, komoditas cengkeh masih medioker di Simeulue, berbeda dengan wilayah lain di Indonesia yang usaha pertanian cengkehnya kembali bergeliat dengan harga yang sangat menguntungkan.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Susi Pujiastuti, seorang pengusaha sukses yang pada periode pertama masa kepemimpinan presiden Jokowi menjabat menteri kelautan dan perikanan yang kembali meningkatkan pamor komoditas cengkeh di pulau Simeulue. Ini terjadi pada tahun 2007. Kala itu, belenggu tengkulak di pulau Simeulue membikin harga cengkeh jatuh di pasaran, jauh lebih kecil dibandingkan dengan harga komoditas ini di wilayah lain di negeri ini. Sebagai perbandingan, harga cengkeh di wilayah lain, pada periode 2000an kembali mencapai titik tertingginya dengan harga beli di tingkat petani mencapai Rp100.000 per kilogram bahkan lebih, sedang di Simeulue, harga cengkeh maksimal berada di titik Rp30.000 saja per kilogramnya, bahkan di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan di pulau Simeulue, harga cengkeh jauh di bawah Rp30.000 per kilogram.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan informasi yang saya dapat dari banyak petani cengkeh di pulau Simeulue, pada 2007, untuk memutus rantai tengkulak, Bu Susi memborong cengkeh di pulau Simeulue dengan harga Rp100.000 per kilogram, mengikuti harga yang ditetapkan di pasar nasional. Rantai jahat tengkulak berhasil diputus. Dan sejak saat itu hingga kini, harga cengkeh di pulau Simeulue mengikuti harga pasar nasional, pertanian cengkeh kembali menggeliat di sana berkat peran nyata Bu Susi. Mulanya saya kurang percaya dengan informasi ini, namun, puluhan petani yang saya temui di Simeulue, juga pejabat di dinas perkebunan di pulau Simeulue, mengamini apa yang dilakukan Bu Susi terhadap komoditas cengkeh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Kembali bergeliatnya komoditas cengkeh di negeri ini usai diberangusnya BPPC pasca reformasi, tak lepas dari berjayanya industri rokok kretek dalam negeri. Rokok kretek berhasil menguasai lebih 90 persen pasar rokok nasional hingga hari ini. Dengan cengkeh sebagai salah satu bahan baku utama sekaligus bahan baku kunci rokok kretek, cengkeh menjadi komoditas yang menjanjikan dan menguntungkan petani.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, kejayaan petani cengkeh ini terancam dengan keberadaan gerakan antirokok dan kepentingan bisnis global yang berusaha merebut pasar rokok yang begitu menjanjikan di negeri ini. Sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar kedua di dunia di bawah China, Indonesia tentu saja menjadi bidikan serius kapitalisme global di bidang rokok dan farmasi. Merasa gagal bersaing secara sehat dengan produk rokok kretek, mereka kini terus-menerus berusaha menghancurkan keberadaan rokok kretek lewat regulasi yang dibikin semena-mena dan tidak adil dalam wujud Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). <\/p>\n\n\n\n

Salah satu pasal penting dalam FCTC, adalah pengharaman keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok yang beredar di pasaran. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, dan menerapkannya dalam peraturan usaha rokok di Indonesia, maka mau tidak mau, setiap produksi rokok yang ada di Indonesia tidak boleh mengandung cengkeh secuil pun. Ini artinya, tidak akan ada lagi produk rokok kretek yang diproduksi pabrikan-pabrikan rokok dalam negeri. Kretek hilang, dan komoditas cengkeh kembali menjadi semenjana.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi menuju peniadaan rokok kretek dan penghancuran pertanian cengkeh lewat ratifikasi FCTC ini sepertinya kian terang di negeri ini. Adalah Sri Mulyani, yang kini menjabat menteri keuangan di Indonesia yang mengambil peran besar dalam usaha peniadaan produk rokok kretek dan penghancuran cengkeh di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum, salah satu pemain utama dalam usaha menekan agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC adalah Bloomberg Initiatives. Dan Sri Mulyani, ada di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, di New York, Sri Mulyani juga sudah mengadakan pertemuan intensif dengan Bloomberg. Kado manis dari Sri Mulyani dengan menaikkan cukai rokok besar-besaran di negeri ini sudah diberikan kepada Bloomberg. Jika tidak dihalangi dengan gencar oleh seluruh stakeholder industri rokok di negeri ini, bukan tak mungkin kado istimewa lain dari Sri Mulyani kepada Bloomberg akan kembali diberikan, ratifikasi FCTC oleh pemerintah Indonesia. Rokok kretek mesti hilang dari pasar dalam negeri, dan petani cengkeh kembali merana.
<\/p>\n","post_title":"Susi Pujiastuti, Sri Mulyani, dan Perlakuan Mereka Terhadap Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"susi-pujiastuti-sri-mulyani-dan-perlakuan-mereka-terhadap-komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-21 08:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-21 01:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6465","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\n

PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n

Proxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi,  bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saya suka bersua dan ngobrol dengan orang-orang tua. Orang-orang yang telah sepuh dari segi usia. Selain untuk memuliakan mereka, sebagai peminat sejarah dan budaya, saya suka mendengar cerita-cerita dan kesaksian-kesaksian mereka tentang kampung yang saya tinggali dan perubahannya.

Di kampung tempat saya tinggal sekarang, orang paling sepuh mungkin Mbah Projo, demikian kami memanggil. Darinya saya mendapat banyak cerita tentang kampung yang saya diami ini.

Saya mengira Mbah Projo merupakan salah satu keluarga \u2018asli\u2019 kampung ini. Dugaan ini saya bangun selain dari lokasi rumahnya, yang terpisah dari sejumlah rumah \u2018pendatang\u2019, juga karena ia memiliki ikatan kekerabatan dengan banyak keluarga di kampung ini yang dipandang sebagai penduduk \u2018asli\u2019.

Tetapi ternyata, menurut Mbah Projo, tidak. Mereka juga pendatang di kampung ini. Lho, bagaimana sejarahnya? Lalu mbah Projo cerita bahwa mereka dulu berasal dari utara, tepatnya Maguwoharjo. Waktu itu, kampung mereka dekat sekali dengan Lapangan Udara Maguwo, yang menjadi situs peperangan antara tentara Indonesia dan Belanda pada perang mempertahankan kemerdekaan. Mereka pindah ke daerah agak selatan, kampung kami sekarang ini, yang kalau ditarik garis lurus mungkin jaraknya 4-5 km. Perpindahan itu dilakukan untuk mengamankan diri Dan keluarga.

Jika cerita Mbah Projo benar maka peristiwa pindahnya mereka itu mungkin terjadi antara tahun 1947 -1949, saat agresi Belanda I dan II. Pada Agresi Belanda I, sejarah mencatat pesawat yang ditumpangi 9 orang, di antaranya Adi Sucipto, Abdurrahman Saleh, dan Adi Sumarmo, ditembak jatuh oleh pesawat Belanda ketika berputar-putar di udara Yogya menjelang pendaratan di bandara Maguwo, yang sekarang ganti nama jadi Adi Sucipto. Ya kira-kira kurang lebih tahun-tahun itulah.

Nah waktu itu mbah Projo usia berapa? Embuh, yang jelas saya masih kecil, tapi saya masih ingat jalan kaki dari Maguwo sana ke sini, jawab Mbah Projo. Sebagaimana umumnya orang desa, Mbah Projo betul-betul tak mengingat dan tak punya dokumen, kapan ia lahir. Tapi kalau kita boleh menaksir, jika saat itu usianya 5 tahunan saja, maka sekarang usianya 79 tahun.

Mbah Projo, dengan demikian, merupakan salah satu, kalau bukan satu-satunya orang tertua di RT saya.

Kulitnya hitam, rambut putih, dan gigi hampir tanggal semua. Sudah sepuh, tapi masih kuat saja. Hingga sekarang masih menggarap sawah, baik warisan keluarga maupun milik orang. Luasan sawah di kampung kami terus merosot, dan petani juga semakin langka. Mbah Projo sedikit yang tersisa.

Tapi dia sehat dan kuat. Ingatan masih jernih. Kemana-mana naik sepeda dan ini yang menarik: tetap dan terus merokok. Rokoknya kretek melinting sendiri, tapi kalau ada duit dia akan beli Djarum 76 atau Bintang Buana Kretek atau kretek-kretek yang lain. Saya pernah nanya sejak kapan udud? Sejak kecil, umur 10an tahun. Berarti sudah hampir tujuh dekade ia merokok. Bajigur tenan.

Kalau mau ke sawah, mbah Projo sering lewat depan rumah saya. Demikian juga kalau mau ke kandang sapi. Oh ya, dia juga memelihara dua ekor sapi milik orang. Kami selalu bersapaan dan saya kerap mengajaknya mampir, tapi dia menjawab: ke sawah dulu. Hanya sesekali ia berkenan dan dari sana ia banyak cerita kehidupannya. Misal bahwa di masa muda ia pernah merantau ke Lampung dan ke Jakarta bekerja sebagai buruh bangunan. Bahwa perumahan yang baru dibuka di RT kami, yang jumlahnya 20an buah, itu dulu rumah milik mantan carik. Duh sugih tenan, dan ia kemudian menyebut anak-cucu carik yang masih tinggal di sekitaran kampung kami.

Kalau malam dia kerap keluar, terutama untuk kepentingan menengok aliran air sawahnya. Naik sepeda, pakai sarung dan uniknya sering tak berjaket. Ampuh betul mbah Projo ini.

Kalau pas kami sedang giliran jaga malam, kami sering menawarinya untuk mampir cangkrukan sambil menikmati wedang dan cemilan. Sekali-sekali ia mau mampir. Tapi ketika melihat cemilannya kacang goreng sangrai dan kripik singkong, ia tampak kecewa sekali. \"Wow gak bisa mengunyah, sudah gak punya gigi,\" katanya. Saya merasa bersalah waktu itu. Tapi kemudian saya menawarinya rokok kretek. \"Wis udud wae,\" sambungnya dengan perasaan gembira. Lebih-lebih setelah kuminta dia bawa saja pulang rokok sisanya.

Terus terang Mbah Projo menjadi salah satu rujukan kami ketika ada debat di kampung untuk menolak atau mendukung anggapan rokok bisa bikin tidak sehat dan mengakibatkan kematian. Tentu saja eksistensi mbah Projo semacam kartu AS bagi penolak. Mbah Projo nyatanya gak mati-mati, padahal merokoknya gak henti-henti. Bahkan bisa dikata ia sehat sekali. Saya jarang mendengar kabar dia sakit. Berbeda dengan orang-orang yang lebih muda dari dia, yang bolak-balik sakit, dan bahkan meninggal, padahal ya tidak merokok. Sebaliknya, bagi yang antirokok atau antitembakau, dia hanya pengecualiaan belaka. Pengecualiaan kok banyak. Hehehe...

Saya jadi ingat terbitan buku teman-teman KNPK berjudul \"Mereka Yang Melampaui Waktu\" yang berisi kisah hidup beberapa orang di atas usia 70an tahun, yang tetap sehat, kuat, dan tetap dan terus merokok. Mbah Projo adalah orang yang juga melampaui waktu.

Jelas dari pengalaman mereka, juga mbah Projo, rokok sama sekali bukan faktor negatif. Faktor utamanya tetap gaya hidup. Pikiran tidak neko-neko, kerja fisik yang menggantikan olahraga rutin, dan makan sehat apa adanya, serta santai di pikiran dan tindakan.

Anda bisa saja tidak merokok, tapi klo gak pernah olahraga, makan apa saja yang ada di atas meja, dan berpikir berat dan gampang stress, ya penyakit apapun bisa dengan mudah mampir.

Kalau merokok? Ya sama saja, kalau gaya hidup ambyar dan amburadul, penyakit juga akan jadi teman akrab.

Jadi rokok bukanlah faktor utama, sehat atau tidak sehat. Yang utama gaya hidup. Mungkin bukan kebetulan, seperti mbah Projo, figur-figur dalam buku \"Yang Melampaui Waktu\" adalah orang-orang biasa, yang tak neko-neko dan santai. Dan kurang ajarnya, udud itu justru bagian dari hidup santai dan rekreatif. Hal inilah yang saya lihat dalam kehidupan orang seperti Mbah Projo.

Saya ingat lagi mBah Projo ketika dalam pertemuan RT dia duduk agak menjauh karena tidak ingin aroma kretek lintingannya mengganggu orang lain. Ia merdeka dan bebas. Rupanya Mbah Projo cukup tahu diri soal itu.

Mari berguru kepada Mbah Projo!

Hairus Salim, 13 Maret 2020 catatan seusai rapat rt<\/p>\n","post_title":"Yang Melampaui Waktu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-melampaui-waktu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-13 11:38:06","post_modified_gmt":"2020-03-13 04:38:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6575","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6567,"post_author":"932","post_date":"2020-03-07 11:16:49","post_date_gmt":"2020-03-07 04:16:49","post_content":"\n

Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n

Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6465,"post_author":"878","post_date":"2020-02-21 08:17:35","post_date_gmt":"2020-02-21 01:17:35","post_content":"\n

Sekira tiga tahun lalu, saya berkesempatan berkunjung ke pulau Simeulue di provinsi Aceh. Kunjungan saya ke pulau yang terkenal dengan hasil lobsternya ini adalah untuk bertemu dengan petani cengkeh. Selain dikenal dengan hasil lautnya terutama lobster, pulau Simeulue juga dikenal sebagai penghasil cengkeh terbesar di Aceh. Keberadaan cengkeh di Simeulue seusia dengan keberadaan penjajah kolonial di sana yang menginisiasi penanaman cengkeh guna mengembalikan modal perang penjajah kolonial yang mengeluarkan banyak biaya selama perang penaklukan Aceh yang terkenal itu.<\/p>\n\n\n\n

Selama penelitian bertemu dengan puluhan petani cengkeh di Simeulue, ada tiga temuan menarik yang saya dapat hasil berbincang-bincang dengan banyak narasumber yang saya jumpai di sana. Dua temuan menarik terkait langsung dengan cengkeh, dan satu temuan lainnya tak ada kaitannya dengan cengkeh, lebih kepada bagaimana penduduk Simeulue berhasil menyelamatkan diri usai gempa besar dan tsunami melanda pulau tersebut pada akhir tahun 2004.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode 70an, ketika cengkeh kembali berjaya di pasaran dalam negeri, sejalan dengan menggeliatnya industri rokok kretek di Indonesia yang mulai menguasai pasar dalam negeri mengalahkan rokok putih yang sebelumnya menjadi promadona di Indonesia, masyarakat Simeulue kembali menanam cengkeh di perbukitan yang ada di wilayah mereka. Kondisi geografis pulau Simeulue yang berbukit-bukit dan dekat dengan laut memang mirip dengan kondisi geografis tempat pohon cengkeh awalnya berasal. Kondisi ini membikin cengkeh sangat cocok ditanam di pulau Simeulue dan tumbuh subur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Menyadari potensi cengkeh yang sangat menjanjikan, pada periode 70an, pejabat yang memimpin pulau Simeulue mengeluarkan peraturan yang tidak lazim. Ia mengeluarkan aturan bahwa seorang pemuda yang hendak menikah wajib menanam minimal 25 batang pohon cengkeh sebelum Ia menikah. Jika tidak menanam cengkeh, pemerintah lewat lembaga keagamaan daerah tidak akan menikahkan pemuda tersebut. Kebijakan ini berjalan terus hingga akhirnya bisnis cengkeh hancur berantakan pada periode 90an usai keberadaan BPPC yang diinisasi Orde Baru. Kebijakan yang mewajibkan penanaman pohon cengkeh bagi pemuda yang hendak menikah ini membikin pulau Simeulue hingga saat ini didominasi tanaman cengkeh di luar komoditas lain semisal kemiri, pala, dan sawit yang kini mulai ditanam massal di Simeulue.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kehancuran komoditas cengkeh usai keberadaan BPPC di periode 90an, cengkeh kembali bangkit usai reformasi bergulir di negeri ini. Meski begitu, komoditas cengkeh di pulau Simeulue terlambat bangkit dibanding di daerah-daerah lainnya yang menghasilkan cengkeh di negeri ini. Hingga tsunami menggulung beberapa wilayah di Aceh, termasuk pulau Simeulue, komoditas cengkeh masih medioker di Simeulue, berbeda dengan wilayah lain di Indonesia yang usaha pertanian cengkehnya kembali bergeliat dengan harga yang sangat menguntungkan.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Susi Pujiastuti, seorang pengusaha sukses yang pada periode pertama masa kepemimpinan presiden Jokowi menjabat menteri kelautan dan perikanan yang kembali meningkatkan pamor komoditas cengkeh di pulau Simeulue. Ini terjadi pada tahun 2007. Kala itu, belenggu tengkulak di pulau Simeulue membikin harga cengkeh jatuh di pasaran, jauh lebih kecil dibandingkan dengan harga komoditas ini di wilayah lain di negeri ini. Sebagai perbandingan, harga cengkeh di wilayah lain, pada periode 2000an kembali mencapai titik tertingginya dengan harga beli di tingkat petani mencapai Rp100.000 per kilogram bahkan lebih, sedang di Simeulue, harga cengkeh maksimal berada di titik Rp30.000 saja per kilogramnya, bahkan di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan di pulau Simeulue, harga cengkeh jauh di bawah Rp30.000 per kilogram.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan informasi yang saya dapat dari banyak petani cengkeh di pulau Simeulue, pada 2007, untuk memutus rantai tengkulak, Bu Susi memborong cengkeh di pulau Simeulue dengan harga Rp100.000 per kilogram, mengikuti harga yang ditetapkan di pasar nasional. Rantai jahat tengkulak berhasil diputus. Dan sejak saat itu hingga kini, harga cengkeh di pulau Simeulue mengikuti harga pasar nasional, pertanian cengkeh kembali menggeliat di sana berkat peran nyata Bu Susi. Mulanya saya kurang percaya dengan informasi ini, namun, puluhan petani yang saya temui di Simeulue, juga pejabat di dinas perkebunan di pulau Simeulue, mengamini apa yang dilakukan Bu Susi terhadap komoditas cengkeh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Kembali bergeliatnya komoditas cengkeh di negeri ini usai diberangusnya BPPC pasca reformasi, tak lepas dari berjayanya industri rokok kretek dalam negeri. Rokok kretek berhasil menguasai lebih 90 persen pasar rokok nasional hingga hari ini. Dengan cengkeh sebagai salah satu bahan baku utama sekaligus bahan baku kunci rokok kretek, cengkeh menjadi komoditas yang menjanjikan dan menguntungkan petani.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, kejayaan petani cengkeh ini terancam dengan keberadaan gerakan antirokok dan kepentingan bisnis global yang berusaha merebut pasar rokok yang begitu menjanjikan di negeri ini. Sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar kedua di dunia di bawah China, Indonesia tentu saja menjadi bidikan serius kapitalisme global di bidang rokok dan farmasi. Merasa gagal bersaing secara sehat dengan produk rokok kretek, mereka kini terus-menerus berusaha menghancurkan keberadaan rokok kretek lewat regulasi yang dibikin semena-mena dan tidak adil dalam wujud Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). <\/p>\n\n\n\n

Salah satu pasal penting dalam FCTC, adalah pengharaman keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok yang beredar di pasaran. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, dan menerapkannya dalam peraturan usaha rokok di Indonesia, maka mau tidak mau, setiap produksi rokok yang ada di Indonesia tidak boleh mengandung cengkeh secuil pun. Ini artinya, tidak akan ada lagi produk rokok kretek yang diproduksi pabrikan-pabrikan rokok dalam negeri. Kretek hilang, dan komoditas cengkeh kembali menjadi semenjana.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi menuju peniadaan rokok kretek dan penghancuran pertanian cengkeh lewat ratifikasi FCTC ini sepertinya kian terang di negeri ini. Adalah Sri Mulyani, yang kini menjabat menteri keuangan di Indonesia yang mengambil peran besar dalam usaha peniadaan produk rokok kretek dan penghancuran cengkeh di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum, salah satu pemain utama dalam usaha menekan agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC adalah Bloomberg Initiatives. Dan Sri Mulyani, ada di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, di New York, Sri Mulyani juga sudah mengadakan pertemuan intensif dengan Bloomberg. Kado manis dari Sri Mulyani dengan menaikkan cukai rokok besar-besaran di negeri ini sudah diberikan kepada Bloomberg. Jika tidak dihalangi dengan gencar oleh seluruh stakeholder industri rokok di negeri ini, bukan tak mungkin kado istimewa lain dari Sri Mulyani kepada Bloomberg akan kembali diberikan, ratifikasi FCTC oleh pemerintah Indonesia. Rokok kretek mesti hilang dari pasar dalam negeri, dan petani cengkeh kembali merana.
<\/p>\n","post_title":"Susi Pujiastuti, Sri Mulyani, dan Perlakuan Mereka Terhadap Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"susi-pujiastuti-sri-mulyani-dan-perlakuan-mereka-terhadap-komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-21 08:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-21 01:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6465","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\n

PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n

Proxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi,  bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};