Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n
Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!
\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)
\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:
\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.
\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.
\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.
\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.
\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.
\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.
\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.
\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.
\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.
\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.
\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.
\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.
\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n
Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n
Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!
\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)
\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:
\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.
\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.
\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.
\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.
\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.
\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.
\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.
\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.
\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.
\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.
\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.
\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.
\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n
Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n
Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!
\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)
\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:
\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.
\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.
\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.
\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.
\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.
\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.
\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.
\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.
\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.
\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.
\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.
\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.
\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n
Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n
Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n
Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!
\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)
\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:
\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.
\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.
\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.
\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.
\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.
\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.
\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.
\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.
\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.
\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.
\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.
\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.
\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n
Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n
Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n
Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n
Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!
\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)
\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:
\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.
\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.
\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.
\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.
\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.
\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.
\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.
\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.
\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.
\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.
\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.
\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.
\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Dari keempat agenda Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS. Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro! Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n Dari keempat agenda Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS. Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro! Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n Dari keempat agenda Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS. Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro! Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n Dari keempat agenda Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS. Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro! Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi, bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n Dari keempat agenda Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS. Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro! Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi, bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n Dari keempat agenda Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS. Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro! Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi, bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n Dari keempat agenda Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS. Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro! Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi, bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n Dari keempat agenda Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS. Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro! PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi, bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n Dari keempat agenda Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS. Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro! Belum lama ini, di New York, Sri Mulyani juga sudah mengadakan pertemuan intensif dengan Bloomberg. Kado manis dari Sri Mulyani dengan menaikkan cukai rokok besar-besaran di negeri ini sudah diberikan kepada Bloomberg. Jika tidak dihalangi dengan gencar oleh seluruh stakeholder industri rokok di negeri ini, bukan tak mungkin kado istimewa lain dari Sri Mulyani kepada Bloomberg akan kembali diberikan, ratifikasi FCTC oleh pemerintah Indonesia. Rokok kretek mesti hilang dari pasar dalam negeri, dan petani cengkeh kembali merana. PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi, bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n Dari keempat agenda Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS. Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro! Kondisi menuju peniadaan rokok kretek dan penghancuran pertanian cengkeh lewat ratifikasi FCTC ini sepertinya kian terang di negeri ini. Adalah Sri Mulyani, yang kini menjabat menteri keuangan di Indonesia yang mengambil peran besar dalam usaha peniadaan produk rokok kretek dan penghancuran cengkeh di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum, salah satu pemain utama dalam usaha menekan agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC adalah Bloomberg Initiatives. Dan Sri Mulyani, ada di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n Belum lama ini, di New York, Sri Mulyani juga sudah mengadakan pertemuan intensif dengan Bloomberg. Kado manis dari Sri Mulyani dengan menaikkan cukai rokok besar-besaran di negeri ini sudah diberikan kepada Bloomberg. Jika tidak dihalangi dengan gencar oleh seluruh stakeholder industri rokok di negeri ini, bukan tak mungkin kado istimewa lain dari Sri Mulyani kepada Bloomberg akan kembali diberikan, ratifikasi FCTC oleh pemerintah Indonesia. Rokok kretek mesti hilang dari pasar dalam negeri, dan petani cengkeh kembali merana. PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi, bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n Dari keempat agenda Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS. Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro! Salah satu pasal penting dalam FCTC, adalah pengharaman keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok yang beredar di pasaran. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, dan menerapkannya dalam peraturan usaha rokok di Indonesia, maka mau tidak mau, setiap produksi rokok yang ada di Indonesia tidak boleh mengandung cengkeh secuil pun. Ini artinya, tidak akan ada lagi produk rokok kretek yang diproduksi pabrikan-pabrikan rokok dalam negeri. Kretek hilang, dan komoditas cengkeh kembali menjadi semenjana.<\/p>\n\n\n\n Kondisi menuju peniadaan rokok kretek dan penghancuran pertanian cengkeh lewat ratifikasi FCTC ini sepertinya kian terang di negeri ini. Adalah Sri Mulyani, yang kini menjabat menteri keuangan di Indonesia yang mengambil peran besar dalam usaha peniadaan produk rokok kretek dan penghancuran cengkeh di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum, salah satu pemain utama dalam usaha menekan agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC adalah Bloomberg Initiatives. Dan Sri Mulyani, ada di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n Belum lama ini, di New York, Sri Mulyani juga sudah mengadakan pertemuan intensif dengan Bloomberg. Kado manis dari Sri Mulyani dengan menaikkan cukai rokok besar-besaran di negeri ini sudah diberikan kepada Bloomberg. Jika tidak dihalangi dengan gencar oleh seluruh stakeholder industri rokok di negeri ini, bukan tak mungkin kado istimewa lain dari Sri Mulyani kepada Bloomberg akan kembali diberikan, ratifikasi FCTC oleh pemerintah Indonesia. Rokok kretek mesti hilang dari pasar dalam negeri, dan petani cengkeh kembali merana. PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi, bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n Dari keempat agenda Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS. Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro! Sayangnya, kejayaan petani cengkeh ini terancam dengan keberadaan gerakan antirokok dan kepentingan bisnis global yang berusaha merebut pasar rokok yang begitu menjanjikan di negeri ini. Sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar kedua di dunia di bawah China, Indonesia tentu saja menjadi bidikan serius kapitalisme global di bidang rokok dan farmasi. Merasa gagal bersaing secara sehat dengan produk rokok kretek, mereka kini terus-menerus berusaha menghancurkan keberadaan rokok kretek lewat regulasi yang dibikin semena-mena dan tidak adil dalam wujud Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). <\/p>\n\n\n\n Salah satu pasal penting dalam FCTC, adalah pengharaman keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok yang beredar di pasaran. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, dan menerapkannya dalam peraturan usaha rokok di Indonesia, maka mau tidak mau, setiap produksi rokok yang ada di Indonesia tidak boleh mengandung cengkeh secuil pun. Ini artinya, tidak akan ada lagi produk rokok kretek yang diproduksi pabrikan-pabrikan rokok dalam negeri. Kretek hilang, dan komoditas cengkeh kembali menjadi semenjana.<\/p>\n\n\n\n Kondisi menuju peniadaan rokok kretek dan penghancuran pertanian cengkeh lewat ratifikasi FCTC ini sepertinya kian terang di negeri ini. Adalah Sri Mulyani, yang kini menjabat menteri keuangan di Indonesia yang mengambil peran besar dalam usaha peniadaan produk rokok kretek dan penghancuran cengkeh di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum, salah satu pemain utama dalam usaha menekan agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC adalah Bloomberg Initiatives. Dan Sri Mulyani, ada di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n Belum lama ini, di New York, Sri Mulyani juga sudah mengadakan pertemuan intensif dengan Bloomberg. Kado manis dari Sri Mulyani dengan menaikkan cukai rokok besar-besaran di negeri ini sudah diberikan kepada Bloomberg. Jika tidak dihalangi dengan gencar oleh seluruh stakeholder industri rokok di negeri ini, bukan tak mungkin kado istimewa lain dari Sri Mulyani kepada Bloomberg akan kembali diberikan, ratifikasi FCTC oleh pemerintah Indonesia. Rokok kretek mesti hilang dari pasar dalam negeri, dan petani cengkeh kembali merana. PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi, bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n Dari keempat agenda Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS. Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro! Kembali bergeliatnya komoditas cengkeh di negeri ini usai diberangusnya BPPC pasca reformasi, tak lepas dari berjayanya industri rokok kretek dalam negeri. Rokok kretek berhasil menguasai lebih 90 persen pasar rokok nasional hingga hari ini. Dengan cengkeh sebagai salah satu bahan baku utama sekaligus bahan baku kunci rokok kretek, cengkeh menjadi komoditas yang menjanjikan dan menguntungkan petani.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, kejayaan petani cengkeh ini terancam dengan keberadaan gerakan antirokok dan kepentingan bisnis global yang berusaha merebut pasar rokok yang begitu menjanjikan di negeri ini. Sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar kedua di dunia di bawah China, Indonesia tentu saja menjadi bidikan serius kapitalisme global di bidang rokok dan farmasi. Merasa gagal bersaing secara sehat dengan produk rokok kretek, mereka kini terus-menerus berusaha menghancurkan keberadaan rokok kretek lewat regulasi yang dibikin semena-mena dan tidak adil dalam wujud Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). <\/p>\n\n\n\n Salah satu pasal penting dalam FCTC, adalah pengharaman keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok yang beredar di pasaran. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, dan menerapkannya dalam peraturan usaha rokok di Indonesia, maka mau tidak mau, setiap produksi rokok yang ada di Indonesia tidak boleh mengandung cengkeh secuil pun. Ini artinya, tidak akan ada lagi produk rokok kretek yang diproduksi pabrikan-pabrikan rokok dalam negeri. Kretek hilang, dan komoditas cengkeh kembali menjadi semenjana.<\/p>\n\n\n\n Kondisi menuju peniadaan rokok kretek dan penghancuran pertanian cengkeh lewat ratifikasi FCTC ini sepertinya kian terang di negeri ini. Adalah Sri Mulyani, yang kini menjabat menteri keuangan di Indonesia yang mengambil peran besar dalam usaha peniadaan produk rokok kretek dan penghancuran cengkeh di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum, salah satu pemain utama dalam usaha menekan agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC adalah Bloomberg Initiatives. Dan Sri Mulyani, ada di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n Belum lama ini, di New York, Sri Mulyani juga sudah mengadakan pertemuan intensif dengan Bloomberg. Kado manis dari Sri Mulyani dengan menaikkan cukai rokok besar-besaran di negeri ini sudah diberikan kepada Bloomberg. Jika tidak dihalangi dengan gencar oleh seluruh stakeholder industri rokok di negeri ini, bukan tak mungkin kado istimewa lain dari Sri Mulyani kepada Bloomberg akan kembali diberikan, ratifikasi FCTC oleh pemerintah Indonesia. Rokok kretek mesti hilang dari pasar dalam negeri, dan petani cengkeh kembali merana. PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi, bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n Dari keempat agenda Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS. Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro! Berdasarkan informasi yang saya dapat dari banyak petani cengkeh di pulau Simeulue, pada 2007, untuk memutus rantai tengkulak, Bu Susi memborong cengkeh di pulau Simeulue dengan harga Rp100.000 per kilogram, mengikuti harga yang ditetapkan di pasar nasional. Rantai jahat tengkulak berhasil diputus. Dan sejak saat itu hingga kini, harga cengkeh di pulau Simeulue mengikuti harga pasar nasional, pertanian cengkeh kembali menggeliat di sana berkat peran nyata Bu Susi. Mulanya saya kurang percaya dengan informasi ini, namun, puluhan petani yang saya temui di Simeulue, juga pejabat di dinas perkebunan di pulau Simeulue, mengamini apa yang dilakukan Bu Susi terhadap komoditas cengkeh di sana.<\/p>\n\n\n\n Kembali bergeliatnya komoditas cengkeh di negeri ini usai diberangusnya BPPC pasca reformasi, tak lepas dari berjayanya industri rokok kretek dalam negeri. Rokok kretek berhasil menguasai lebih 90 persen pasar rokok nasional hingga hari ini. Dengan cengkeh sebagai salah satu bahan baku utama sekaligus bahan baku kunci rokok kretek, cengkeh menjadi komoditas yang menjanjikan dan menguntungkan petani.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, kejayaan petani cengkeh ini terancam dengan keberadaan gerakan antirokok dan kepentingan bisnis global yang berusaha merebut pasar rokok yang begitu menjanjikan di negeri ini. Sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar kedua di dunia di bawah China, Indonesia tentu saja menjadi bidikan serius kapitalisme global di bidang rokok dan farmasi. Merasa gagal bersaing secara sehat dengan produk rokok kretek, mereka kini terus-menerus berusaha menghancurkan keberadaan rokok kretek lewat regulasi yang dibikin semena-mena dan tidak adil dalam wujud Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). <\/p>\n\n\n\n Salah satu pasal penting dalam FCTC, adalah pengharaman keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok yang beredar di pasaran. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, dan menerapkannya dalam peraturan usaha rokok di Indonesia, maka mau tidak mau, setiap produksi rokok yang ada di Indonesia tidak boleh mengandung cengkeh secuil pun. Ini artinya, tidak akan ada lagi produk rokok kretek yang diproduksi pabrikan-pabrikan rokok dalam negeri. Kretek hilang, dan komoditas cengkeh kembali menjadi semenjana.<\/p>\n\n\n\n Kondisi menuju peniadaan rokok kretek dan penghancuran pertanian cengkeh lewat ratifikasi FCTC ini sepertinya kian terang di negeri ini. Adalah Sri Mulyani, yang kini menjabat menteri keuangan di Indonesia yang mengambil peran besar dalam usaha peniadaan produk rokok kretek dan penghancuran cengkeh di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum, salah satu pemain utama dalam usaha menekan agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC adalah Bloomberg Initiatives. Dan Sri Mulyani, ada di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n Belum lama ini, di New York, Sri Mulyani juga sudah mengadakan pertemuan intensif dengan Bloomberg. Kado manis dari Sri Mulyani dengan menaikkan cukai rokok besar-besaran di negeri ini sudah diberikan kepada Bloomberg. Jika tidak dihalangi dengan gencar oleh seluruh stakeholder industri rokok di negeri ini, bukan tak mungkin kado istimewa lain dari Sri Mulyani kepada Bloomberg akan kembali diberikan, ratifikasi FCTC oleh pemerintah Indonesia. Rokok kretek mesti hilang dari pasar dalam negeri, dan petani cengkeh kembali merana. PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi, bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n Dari keempat agenda Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS. Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro! Adalah Susi Pujiastuti, seorang pengusaha sukses yang pada periode pertama masa kepemimpinan presiden Jokowi menjabat menteri kelautan dan perikanan yang kembali meningkatkan pamor komoditas cengkeh di pulau Simeulue. Ini terjadi pada tahun 2007. Kala itu, belenggu tengkulak di pulau Simeulue membikin harga cengkeh jatuh di pasaran, jauh lebih kecil dibandingkan dengan harga komoditas ini di wilayah lain di negeri ini. Sebagai perbandingan, harga cengkeh di wilayah lain, pada periode 2000an kembali mencapai titik tertingginya dengan harga beli di tingkat petani mencapai Rp100.000 per kilogram bahkan lebih, sedang di Simeulue, harga cengkeh maksimal berada di titik Rp30.000 saja per kilogramnya, bahkan di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan di pulau Simeulue, harga cengkeh jauh di bawah Rp30.000 per kilogram.<\/p>\n\n\n\n Berdasarkan informasi yang saya dapat dari banyak petani cengkeh di pulau Simeulue, pada 2007, untuk memutus rantai tengkulak, Bu Susi memborong cengkeh di pulau Simeulue dengan harga Rp100.000 per kilogram, mengikuti harga yang ditetapkan di pasar nasional. Rantai jahat tengkulak berhasil diputus. Dan sejak saat itu hingga kini, harga cengkeh di pulau Simeulue mengikuti harga pasar nasional, pertanian cengkeh kembali menggeliat di sana berkat peran nyata Bu Susi. Mulanya saya kurang percaya dengan informasi ini, namun, puluhan petani yang saya temui di Simeulue, juga pejabat di dinas perkebunan di pulau Simeulue, mengamini apa yang dilakukan Bu Susi terhadap komoditas cengkeh di sana.<\/p>\n\n\n\n Kembali bergeliatnya komoditas cengkeh di negeri ini usai diberangusnya BPPC pasca reformasi, tak lepas dari berjayanya industri rokok kretek dalam negeri. Rokok kretek berhasil menguasai lebih 90 persen pasar rokok nasional hingga hari ini. Dengan cengkeh sebagai salah satu bahan baku utama sekaligus bahan baku kunci rokok kretek, cengkeh menjadi komoditas yang menjanjikan dan menguntungkan petani.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, kejayaan petani cengkeh ini terancam dengan keberadaan gerakan antirokok dan kepentingan bisnis global yang berusaha merebut pasar rokok yang begitu menjanjikan di negeri ini. Sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar kedua di dunia di bawah China, Indonesia tentu saja menjadi bidikan serius kapitalisme global di bidang rokok dan farmasi. Merasa gagal bersaing secara sehat dengan produk rokok kretek, mereka kini terus-menerus berusaha menghancurkan keberadaan rokok kretek lewat regulasi yang dibikin semena-mena dan tidak adil dalam wujud Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). <\/p>\n\n\n\n Salah satu pasal penting dalam FCTC, adalah pengharaman keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok yang beredar di pasaran. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, dan menerapkannya dalam peraturan usaha rokok di Indonesia, maka mau tidak mau, setiap produksi rokok yang ada di Indonesia tidak boleh mengandung cengkeh secuil pun. Ini artinya, tidak akan ada lagi produk rokok kretek yang diproduksi pabrikan-pabrikan rokok dalam negeri. Kretek hilang, dan komoditas cengkeh kembali menjadi semenjana.<\/p>\n\n\n\n Kondisi menuju peniadaan rokok kretek dan penghancuran pertanian cengkeh lewat ratifikasi FCTC ini sepertinya kian terang di negeri ini. Adalah Sri Mulyani, yang kini menjabat menteri keuangan di Indonesia yang mengambil peran besar dalam usaha peniadaan produk rokok kretek dan penghancuran cengkeh di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum, salah satu pemain utama dalam usaha menekan agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC adalah Bloomberg Initiatives. Dan Sri Mulyani, ada di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n Belum lama ini, di New York, Sri Mulyani juga sudah mengadakan pertemuan intensif dengan Bloomberg. Kado manis dari Sri Mulyani dengan menaikkan cukai rokok besar-besaran di negeri ini sudah diberikan kepada Bloomberg. Jika tidak dihalangi dengan gencar oleh seluruh stakeholder industri rokok di negeri ini, bukan tak mungkin kado istimewa lain dari Sri Mulyani kepada Bloomberg akan kembali diberikan, ratifikasi FCTC oleh pemerintah Indonesia. Rokok kretek mesti hilang dari pasar dalam negeri, dan petani cengkeh kembali merana. PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi, bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n Dari keempat agenda Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS. Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro! Selepas kehancuran komoditas cengkeh usai keberadaan BPPC di periode 90an, cengkeh kembali bangkit usai reformasi bergulir di negeri ini. Meski begitu, komoditas cengkeh di pulau Simeulue terlambat bangkit dibanding di daerah-daerah lainnya yang menghasilkan cengkeh di negeri ini. Hingga tsunami menggulung beberapa wilayah di Aceh, termasuk pulau Simeulue, komoditas cengkeh masih medioker di Simeulue, berbeda dengan wilayah lain di Indonesia yang usaha pertanian cengkehnya kembali bergeliat dengan harga yang sangat menguntungkan.<\/p>\n\n\n\n Adalah Susi Pujiastuti, seorang pengusaha sukses yang pada periode pertama masa kepemimpinan presiden Jokowi menjabat menteri kelautan dan perikanan yang kembali meningkatkan pamor komoditas cengkeh di pulau Simeulue. Ini terjadi pada tahun 2007. Kala itu, belenggu tengkulak di pulau Simeulue membikin harga cengkeh jatuh di pasaran, jauh lebih kecil dibandingkan dengan harga komoditas ini di wilayah lain di negeri ini. Sebagai perbandingan, harga cengkeh di wilayah lain, pada periode 2000an kembali mencapai titik tertingginya dengan harga beli di tingkat petani mencapai Rp100.000 per kilogram bahkan lebih, sedang di Simeulue, harga cengkeh maksimal berada di titik Rp30.000 saja per kilogramnya, bahkan di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan di pulau Simeulue, harga cengkeh jauh di bawah Rp30.000 per kilogram.<\/p>\n\n\n\n Berdasarkan informasi yang saya dapat dari banyak petani cengkeh di pulau Simeulue, pada 2007, untuk memutus rantai tengkulak, Bu Susi memborong cengkeh di pulau Simeulue dengan harga Rp100.000 per kilogram, mengikuti harga yang ditetapkan di pasar nasional. Rantai jahat tengkulak berhasil diputus. Dan sejak saat itu hingga kini, harga cengkeh di pulau Simeulue mengikuti harga pasar nasional, pertanian cengkeh kembali menggeliat di sana berkat peran nyata Bu Susi. Mulanya saya kurang percaya dengan informasi ini, namun, puluhan petani yang saya temui di Simeulue, juga pejabat di dinas perkebunan di pulau Simeulue, mengamini apa yang dilakukan Bu Susi terhadap komoditas cengkeh di sana.<\/p>\n\n\n\n Kembali bergeliatnya komoditas cengkeh di negeri ini usai diberangusnya BPPC pasca reformasi, tak lepas dari berjayanya industri rokok kretek dalam negeri. Rokok kretek berhasil menguasai lebih 90 persen pasar rokok nasional hingga hari ini. Dengan cengkeh sebagai salah satu bahan baku utama sekaligus bahan baku kunci rokok kretek, cengkeh menjadi komoditas yang menjanjikan dan menguntungkan petani.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, kejayaan petani cengkeh ini terancam dengan keberadaan gerakan antirokok dan kepentingan bisnis global yang berusaha merebut pasar rokok yang begitu menjanjikan di negeri ini. Sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar kedua di dunia di bawah China, Indonesia tentu saja menjadi bidikan serius kapitalisme global di bidang rokok dan farmasi. Merasa gagal bersaing secara sehat dengan produk rokok kretek, mereka kini terus-menerus berusaha menghancurkan keberadaan rokok kretek lewat regulasi yang dibikin semena-mena dan tidak adil dalam wujud Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). <\/p>\n\n\n\n Salah satu pasal penting dalam FCTC, adalah pengharaman keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok yang beredar di pasaran. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, dan menerapkannya dalam peraturan usaha rokok di Indonesia, maka mau tidak mau, setiap produksi rokok yang ada di Indonesia tidak boleh mengandung cengkeh secuil pun. Ini artinya, tidak akan ada lagi produk rokok kretek yang diproduksi pabrikan-pabrikan rokok dalam negeri. Kretek hilang, dan komoditas cengkeh kembali menjadi semenjana.<\/p>\n\n\n\n Kondisi menuju peniadaan rokok kretek dan penghancuran pertanian cengkeh lewat ratifikasi FCTC ini sepertinya kian terang di negeri ini. Adalah Sri Mulyani, yang kini menjabat menteri keuangan di Indonesia yang mengambil peran besar dalam usaha peniadaan produk rokok kretek dan penghancuran cengkeh di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum, salah satu pemain utama dalam usaha menekan agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC adalah Bloomberg Initiatives. Dan Sri Mulyani, ada di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n Belum lama ini, di New York, Sri Mulyani juga sudah mengadakan pertemuan intensif dengan Bloomberg. Kado manis dari Sri Mulyani dengan menaikkan cukai rokok besar-besaran di negeri ini sudah diberikan kepada Bloomberg. Jika tidak dihalangi dengan gencar oleh seluruh stakeholder industri rokok di negeri ini, bukan tak mungkin kado istimewa lain dari Sri Mulyani kepada Bloomberg akan kembali diberikan, ratifikasi FCTC oleh pemerintah Indonesia. Rokok kretek mesti hilang dari pasar dalam negeri, dan petani cengkeh kembali merana. PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi, bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n Dari keempat agenda Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS. Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro! Menyadari potensi cengkeh yang sangat menjanjikan, pada periode 70an, pejabat yang memimpin pulau Simeulue mengeluarkan peraturan yang tidak lazim. Ia mengeluarkan aturan bahwa seorang pemuda yang hendak menikah wajib menanam minimal 25 batang pohon cengkeh sebelum Ia menikah. Jika tidak menanam cengkeh, pemerintah lewat lembaga keagamaan daerah tidak akan menikahkan pemuda tersebut. Kebijakan ini berjalan terus hingga akhirnya bisnis cengkeh hancur berantakan pada periode 90an usai keberadaan BPPC yang diinisasi Orde Baru. Kebijakan yang mewajibkan penanaman pohon cengkeh bagi pemuda yang hendak menikah ini membikin pulau Simeulue hingga saat ini didominasi tanaman cengkeh di luar komoditas lain semisal kemiri, pala, dan sawit yang kini mulai ditanam massal di Simeulue.<\/p>\n\n\n\n Selepas kehancuran komoditas cengkeh usai keberadaan BPPC di periode 90an, cengkeh kembali bangkit usai reformasi bergulir di negeri ini. Meski begitu, komoditas cengkeh di pulau Simeulue terlambat bangkit dibanding di daerah-daerah lainnya yang menghasilkan cengkeh di negeri ini. Hingga tsunami menggulung beberapa wilayah di Aceh, termasuk pulau Simeulue, komoditas cengkeh masih medioker di Simeulue, berbeda dengan wilayah lain di Indonesia yang usaha pertanian cengkehnya kembali bergeliat dengan harga yang sangat menguntungkan.<\/p>\n\n\n\n Adalah Susi Pujiastuti, seorang pengusaha sukses yang pada periode pertama masa kepemimpinan presiden Jokowi menjabat menteri kelautan dan perikanan yang kembali meningkatkan pamor komoditas cengkeh di pulau Simeulue. Ini terjadi pada tahun 2007. Kala itu, belenggu tengkulak di pulau Simeulue membikin harga cengkeh jatuh di pasaran, jauh lebih kecil dibandingkan dengan harga komoditas ini di wilayah lain di negeri ini. Sebagai perbandingan, harga cengkeh di wilayah lain, pada periode 2000an kembali mencapai titik tertingginya dengan harga beli di tingkat petani mencapai Rp100.000 per kilogram bahkan lebih, sedang di Simeulue, harga cengkeh maksimal berada di titik Rp30.000 saja per kilogramnya, bahkan di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan di pulau Simeulue, harga cengkeh jauh di bawah Rp30.000 per kilogram.<\/p>\n\n\n\n Berdasarkan informasi yang saya dapat dari banyak petani cengkeh di pulau Simeulue, pada 2007, untuk memutus rantai tengkulak, Bu Susi memborong cengkeh di pulau Simeulue dengan harga Rp100.000 per kilogram, mengikuti harga yang ditetapkan di pasar nasional. Rantai jahat tengkulak berhasil diputus. Dan sejak saat itu hingga kini, harga cengkeh di pulau Simeulue mengikuti harga pasar nasional, pertanian cengkeh kembali menggeliat di sana berkat peran nyata Bu Susi. Mulanya saya kurang percaya dengan informasi ini, namun, puluhan petani yang saya temui di Simeulue, juga pejabat di dinas perkebunan di pulau Simeulue, mengamini apa yang dilakukan Bu Susi terhadap komoditas cengkeh di sana.<\/p>\n\n\n\n Kembali bergeliatnya komoditas cengkeh di negeri ini usai diberangusnya BPPC pasca reformasi, tak lepas dari berjayanya industri rokok kretek dalam negeri. Rokok kretek berhasil menguasai lebih 90 persen pasar rokok nasional hingga hari ini. Dengan cengkeh sebagai salah satu bahan baku utama sekaligus bahan baku kunci rokok kretek, cengkeh menjadi komoditas yang menjanjikan dan menguntungkan petani.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, kejayaan petani cengkeh ini terancam dengan keberadaan gerakan antirokok dan kepentingan bisnis global yang berusaha merebut pasar rokok yang begitu menjanjikan di negeri ini. Sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar kedua di dunia di bawah China, Indonesia tentu saja menjadi bidikan serius kapitalisme global di bidang rokok dan farmasi. Merasa gagal bersaing secara sehat dengan produk rokok kretek, mereka kini terus-menerus berusaha menghancurkan keberadaan rokok kretek lewat regulasi yang dibikin semena-mena dan tidak adil dalam wujud Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). <\/p>\n\n\n\n Salah satu pasal penting dalam FCTC, adalah pengharaman keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok yang beredar di pasaran. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, dan menerapkannya dalam peraturan usaha rokok di Indonesia, maka mau tidak mau, setiap produksi rokok yang ada di Indonesia tidak boleh mengandung cengkeh secuil pun. Ini artinya, tidak akan ada lagi produk rokok kretek yang diproduksi pabrikan-pabrikan rokok dalam negeri. Kretek hilang, dan komoditas cengkeh kembali menjadi semenjana.<\/p>\n\n\n\n Kondisi menuju peniadaan rokok kretek dan penghancuran pertanian cengkeh lewat ratifikasi FCTC ini sepertinya kian terang di negeri ini. Adalah Sri Mulyani, yang kini menjabat menteri keuangan di Indonesia yang mengambil peran besar dalam usaha peniadaan produk rokok kretek dan penghancuran cengkeh di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum, salah satu pemain utama dalam usaha menekan agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC adalah Bloomberg Initiatives. Dan Sri Mulyani, ada di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n Belum lama ini, di New York, Sri Mulyani juga sudah mengadakan pertemuan intensif dengan Bloomberg. Kado manis dari Sri Mulyani dengan menaikkan cukai rokok besar-besaran di negeri ini sudah diberikan kepada Bloomberg. Jika tidak dihalangi dengan gencar oleh seluruh stakeholder industri rokok di negeri ini, bukan tak mungkin kado istimewa lain dari Sri Mulyani kepada Bloomberg akan kembali diberikan, ratifikasi FCTC oleh pemerintah Indonesia. Rokok kretek mesti hilang dari pasar dalam negeri, dan petani cengkeh kembali merana. PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi, bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n Dari keempat agenda Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS. Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro! Pada periode 70an, ketika cengkeh kembali berjaya di pasaran dalam negeri, sejalan dengan menggeliatnya industri rokok kretek di Indonesia yang mulai menguasai pasar dalam negeri mengalahkan rokok putih yang sebelumnya menjadi promadona di Indonesia, masyarakat Simeulue kembali menanam cengkeh di perbukitan yang ada di wilayah mereka. Kondisi geografis pulau Simeulue yang berbukit-bukit dan dekat dengan laut memang mirip dengan kondisi geografis tempat pohon cengkeh awalnya berasal. Kondisi ini membikin cengkeh sangat cocok ditanam di pulau Simeulue dan tumbuh subur di sana.<\/p>\n\n\n\n Menyadari potensi cengkeh yang sangat menjanjikan, pada periode 70an, pejabat yang memimpin pulau Simeulue mengeluarkan peraturan yang tidak lazim. Ia mengeluarkan aturan bahwa seorang pemuda yang hendak menikah wajib menanam minimal 25 batang pohon cengkeh sebelum Ia menikah. Jika tidak menanam cengkeh, pemerintah lewat lembaga keagamaan daerah tidak akan menikahkan pemuda tersebut. Kebijakan ini berjalan terus hingga akhirnya bisnis cengkeh hancur berantakan pada periode 90an usai keberadaan BPPC yang diinisasi Orde Baru. Kebijakan yang mewajibkan penanaman pohon cengkeh bagi pemuda yang hendak menikah ini membikin pulau Simeulue hingga saat ini didominasi tanaman cengkeh di luar komoditas lain semisal kemiri, pala, dan sawit yang kini mulai ditanam massal di Simeulue.<\/p>\n\n\n\n Selepas kehancuran komoditas cengkeh usai keberadaan BPPC di periode 90an, cengkeh kembali bangkit usai reformasi bergulir di negeri ini. Meski begitu, komoditas cengkeh di pulau Simeulue terlambat bangkit dibanding di daerah-daerah lainnya yang menghasilkan cengkeh di negeri ini. Hingga tsunami menggulung beberapa wilayah di Aceh, termasuk pulau Simeulue, komoditas cengkeh masih medioker di Simeulue, berbeda dengan wilayah lain di Indonesia yang usaha pertanian cengkehnya kembali bergeliat dengan harga yang sangat menguntungkan.<\/p>\n\n\n\n Adalah Susi Pujiastuti, seorang pengusaha sukses yang pada periode pertama masa kepemimpinan presiden Jokowi menjabat menteri kelautan dan perikanan yang kembali meningkatkan pamor komoditas cengkeh di pulau Simeulue. Ini terjadi pada tahun 2007. Kala itu, belenggu tengkulak di pulau Simeulue membikin harga cengkeh jatuh di pasaran, jauh lebih kecil dibandingkan dengan harga komoditas ini di wilayah lain di negeri ini. Sebagai perbandingan, harga cengkeh di wilayah lain, pada periode 2000an kembali mencapai titik tertingginya dengan harga beli di tingkat petani mencapai Rp100.000 per kilogram bahkan lebih, sedang di Simeulue, harga cengkeh maksimal berada di titik Rp30.000 saja per kilogramnya, bahkan di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan di pulau Simeulue, harga cengkeh jauh di bawah Rp30.000 per kilogram.<\/p>\n\n\n\n Berdasarkan informasi yang saya dapat dari banyak petani cengkeh di pulau Simeulue, pada 2007, untuk memutus rantai tengkulak, Bu Susi memborong cengkeh di pulau Simeulue dengan harga Rp100.000 per kilogram, mengikuti harga yang ditetapkan di pasar nasional. Rantai jahat tengkulak berhasil diputus. Dan sejak saat itu hingga kini, harga cengkeh di pulau Simeulue mengikuti harga pasar nasional, pertanian cengkeh kembali menggeliat di sana berkat peran nyata Bu Susi. Mulanya saya kurang percaya dengan informasi ini, namun, puluhan petani yang saya temui di Simeulue, juga pejabat di dinas perkebunan di pulau Simeulue, mengamini apa yang dilakukan Bu Susi terhadap komoditas cengkeh di sana.<\/p>\n\n\n\n Kembali bergeliatnya komoditas cengkeh di negeri ini usai diberangusnya BPPC pasca reformasi, tak lepas dari berjayanya industri rokok kretek dalam negeri. Rokok kretek berhasil menguasai lebih 90 persen pasar rokok nasional hingga hari ini. Dengan cengkeh sebagai salah satu bahan baku utama sekaligus bahan baku kunci rokok kretek, cengkeh menjadi komoditas yang menjanjikan dan menguntungkan petani.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, kejayaan petani cengkeh ini terancam dengan keberadaan gerakan antirokok dan kepentingan bisnis global yang berusaha merebut pasar rokok yang begitu menjanjikan di negeri ini. Sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar kedua di dunia di bawah China, Indonesia tentu saja menjadi bidikan serius kapitalisme global di bidang rokok dan farmasi. Merasa gagal bersaing secara sehat dengan produk rokok kretek, mereka kini terus-menerus berusaha menghancurkan keberadaan rokok kretek lewat regulasi yang dibikin semena-mena dan tidak adil dalam wujud Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). <\/p>\n\n\n\n Salah satu pasal penting dalam FCTC, adalah pengharaman keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok yang beredar di pasaran. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, dan menerapkannya dalam peraturan usaha rokok di Indonesia, maka mau tidak mau, setiap produksi rokok yang ada di Indonesia tidak boleh mengandung cengkeh secuil pun. Ini artinya, tidak akan ada lagi produk rokok kretek yang diproduksi pabrikan-pabrikan rokok dalam negeri. Kretek hilang, dan komoditas cengkeh kembali menjadi semenjana.<\/p>\n\n\n\n Kondisi menuju peniadaan rokok kretek dan penghancuran pertanian cengkeh lewat ratifikasi FCTC ini sepertinya kian terang di negeri ini. Adalah Sri Mulyani, yang kini menjabat menteri keuangan di Indonesia yang mengambil peran besar dalam usaha peniadaan produk rokok kretek dan penghancuran cengkeh di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum, salah satu pemain utama dalam usaha menekan agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC adalah Bloomberg Initiatives. Dan Sri Mulyani, ada di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n Belum lama ini, di New York, Sri Mulyani juga sudah mengadakan pertemuan intensif dengan Bloomberg. Kado manis dari Sri Mulyani dengan menaikkan cukai rokok besar-besaran di negeri ini sudah diberikan kepada Bloomberg. Jika tidak dihalangi dengan gencar oleh seluruh stakeholder industri rokok di negeri ini, bukan tak mungkin kado istimewa lain dari Sri Mulyani kepada Bloomberg akan kembali diberikan, ratifikasi FCTC oleh pemerintah Indonesia. Rokok kretek mesti hilang dari pasar dalam negeri, dan petani cengkeh kembali merana. PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi, bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n Dari keempat agenda Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS. Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro! Selama penelitian bertemu dengan puluhan petani cengkeh di Simeulue, ada tiga temuan menarik yang saya dapat hasil berbincang-bincang dengan banyak narasumber yang saya jumpai di sana. Dua temuan menarik terkait langsung dengan cengkeh, dan satu temuan lainnya tak ada kaitannya dengan cengkeh, lebih kepada bagaimana penduduk Simeulue berhasil menyelamatkan diri usai gempa besar dan tsunami melanda pulau tersebut pada akhir tahun 2004.<\/p>\n\n\n\n Pada periode 70an, ketika cengkeh kembali berjaya di pasaran dalam negeri, sejalan dengan menggeliatnya industri rokok kretek di Indonesia yang mulai menguasai pasar dalam negeri mengalahkan rokok putih yang sebelumnya menjadi promadona di Indonesia, masyarakat Simeulue kembali menanam cengkeh di perbukitan yang ada di wilayah mereka. Kondisi geografis pulau Simeulue yang berbukit-bukit dan dekat dengan laut memang mirip dengan kondisi geografis tempat pohon cengkeh awalnya berasal. Kondisi ini membikin cengkeh sangat cocok ditanam di pulau Simeulue dan tumbuh subur di sana.<\/p>\n\n\n\n Menyadari potensi cengkeh yang sangat menjanjikan, pada periode 70an, pejabat yang memimpin pulau Simeulue mengeluarkan peraturan yang tidak lazim. Ia mengeluarkan aturan bahwa seorang pemuda yang hendak menikah wajib menanam minimal 25 batang pohon cengkeh sebelum Ia menikah. Jika tidak menanam cengkeh, pemerintah lewat lembaga keagamaan daerah tidak akan menikahkan pemuda tersebut. Kebijakan ini berjalan terus hingga akhirnya bisnis cengkeh hancur berantakan pada periode 90an usai keberadaan BPPC yang diinisasi Orde Baru. Kebijakan yang mewajibkan penanaman pohon cengkeh bagi pemuda yang hendak menikah ini membikin pulau Simeulue hingga saat ini didominasi tanaman cengkeh di luar komoditas lain semisal kemiri, pala, dan sawit yang kini mulai ditanam massal di Simeulue.<\/p>\n\n\n\n Selepas kehancuran komoditas cengkeh usai keberadaan BPPC di periode 90an, cengkeh kembali bangkit usai reformasi bergulir di negeri ini. Meski begitu, komoditas cengkeh di pulau Simeulue terlambat bangkit dibanding di daerah-daerah lainnya yang menghasilkan cengkeh di negeri ini. Hingga tsunami menggulung beberapa wilayah di Aceh, termasuk pulau Simeulue, komoditas cengkeh masih medioker di Simeulue, berbeda dengan wilayah lain di Indonesia yang usaha pertanian cengkehnya kembali bergeliat dengan harga yang sangat menguntungkan.<\/p>\n\n\n\n Adalah Susi Pujiastuti, seorang pengusaha sukses yang pada periode pertama masa kepemimpinan presiden Jokowi menjabat menteri kelautan dan perikanan yang kembali meningkatkan pamor komoditas cengkeh di pulau Simeulue. Ini terjadi pada tahun 2007. Kala itu, belenggu tengkulak di pulau Simeulue membikin harga cengkeh jatuh di pasaran, jauh lebih kecil dibandingkan dengan harga komoditas ini di wilayah lain di negeri ini. Sebagai perbandingan, harga cengkeh di wilayah lain, pada periode 2000an kembali mencapai titik tertingginya dengan harga beli di tingkat petani mencapai Rp100.000 per kilogram bahkan lebih, sedang di Simeulue, harga cengkeh maksimal berada di titik Rp30.000 saja per kilogramnya, bahkan di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan di pulau Simeulue, harga cengkeh jauh di bawah Rp30.000 per kilogram.<\/p>\n\n\n\n Berdasarkan informasi yang saya dapat dari banyak petani cengkeh di pulau Simeulue, pada 2007, untuk memutus rantai tengkulak, Bu Susi memborong cengkeh di pulau Simeulue dengan harga Rp100.000 per kilogram, mengikuti harga yang ditetapkan di pasar nasional. Rantai jahat tengkulak berhasil diputus. Dan sejak saat itu hingga kini, harga cengkeh di pulau Simeulue mengikuti harga pasar nasional, pertanian cengkeh kembali menggeliat di sana berkat peran nyata Bu Susi. Mulanya saya kurang percaya dengan informasi ini, namun, puluhan petani yang saya temui di Simeulue, juga pejabat di dinas perkebunan di pulau Simeulue, mengamini apa yang dilakukan Bu Susi terhadap komoditas cengkeh di sana.<\/p>\n\n\n\n Kembali bergeliatnya komoditas cengkeh di negeri ini usai diberangusnya BPPC pasca reformasi, tak lepas dari berjayanya industri rokok kretek dalam negeri. Rokok kretek berhasil menguasai lebih 90 persen pasar rokok nasional hingga hari ini. Dengan cengkeh sebagai salah satu bahan baku utama sekaligus bahan baku kunci rokok kretek, cengkeh menjadi komoditas yang menjanjikan dan menguntungkan petani.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, kejayaan petani cengkeh ini terancam dengan keberadaan gerakan antirokok dan kepentingan bisnis global yang berusaha merebut pasar rokok yang begitu menjanjikan di negeri ini. Sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar kedua di dunia di bawah China, Indonesia tentu saja menjadi bidikan serius kapitalisme global di bidang rokok dan farmasi. Merasa gagal bersaing secara sehat dengan produk rokok kretek, mereka kini terus-menerus berusaha menghancurkan keberadaan rokok kretek lewat regulasi yang dibikin semena-mena dan tidak adil dalam wujud Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). <\/p>\n\n\n\n Salah satu pasal penting dalam FCTC, adalah pengharaman keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok yang beredar di pasaran. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, dan menerapkannya dalam peraturan usaha rokok di Indonesia, maka mau tidak mau, setiap produksi rokok yang ada di Indonesia tidak boleh mengandung cengkeh secuil pun. Ini artinya, tidak akan ada lagi produk rokok kretek yang diproduksi pabrikan-pabrikan rokok dalam negeri. Kretek hilang, dan komoditas cengkeh kembali menjadi semenjana.<\/p>\n\n\n\n Kondisi menuju peniadaan rokok kretek dan penghancuran pertanian cengkeh lewat ratifikasi FCTC ini sepertinya kian terang di negeri ini. Adalah Sri Mulyani, yang kini menjabat menteri keuangan di Indonesia yang mengambil peran besar dalam usaha peniadaan produk rokok kretek dan penghancuran cengkeh di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum, salah satu pemain utama dalam usaha menekan agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC adalah Bloomberg Initiatives. Dan Sri Mulyani, ada di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n Belum lama ini, di New York, Sri Mulyani juga sudah mengadakan pertemuan intensif dengan Bloomberg. Kado manis dari Sri Mulyani dengan menaikkan cukai rokok besar-besaran di negeri ini sudah diberikan kepada Bloomberg. Jika tidak dihalangi dengan gencar oleh seluruh stakeholder industri rokok di negeri ini, bukan tak mungkin kado istimewa lain dari Sri Mulyani kepada Bloomberg akan kembali diberikan, ratifikasi FCTC oleh pemerintah Indonesia. Rokok kretek mesti hilang dari pasar dalam negeri, dan petani cengkeh kembali merana. PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi, bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n Dari keempat agenda Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS. Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro! Sekira tiga tahun lalu, saya berkesempatan berkunjung ke pulau Simeulue di provinsi Aceh. Kunjungan saya ke pulau yang terkenal dengan hasil lobsternya ini adalah untuk bertemu dengan petani cengkeh. Selain dikenal dengan hasil lautnya terutama lobster, pulau Simeulue juga dikenal sebagai penghasil cengkeh terbesar di Aceh. Keberadaan cengkeh di Simeulue seusia dengan keberadaan penjajah kolonial di sana yang menginisiasi penanaman cengkeh guna mengembalikan modal perang penjajah kolonial yang mengeluarkan banyak biaya selama perang penaklukan Aceh yang terkenal itu.<\/p>\n\n\n\n Selama penelitian bertemu dengan puluhan petani cengkeh di Simeulue, ada tiga temuan menarik yang saya dapat hasil berbincang-bincang dengan banyak narasumber yang saya jumpai di sana. Dua temuan menarik terkait langsung dengan cengkeh, dan satu temuan lainnya tak ada kaitannya dengan cengkeh, lebih kepada bagaimana penduduk Simeulue berhasil menyelamatkan diri usai gempa besar dan tsunami melanda pulau tersebut pada akhir tahun 2004.<\/p>\n\n\n\n Pada periode 70an, ketika cengkeh kembali berjaya di pasaran dalam negeri, sejalan dengan menggeliatnya industri rokok kretek di Indonesia yang mulai menguasai pasar dalam negeri mengalahkan rokok putih yang sebelumnya menjadi promadona di Indonesia, masyarakat Simeulue kembali menanam cengkeh di perbukitan yang ada di wilayah mereka. Kondisi geografis pulau Simeulue yang berbukit-bukit dan dekat dengan laut memang mirip dengan kondisi geografis tempat pohon cengkeh awalnya berasal. Kondisi ini membikin cengkeh sangat cocok ditanam di pulau Simeulue dan tumbuh subur di sana.<\/p>\n\n\n\n Menyadari potensi cengkeh yang sangat menjanjikan, pada periode 70an, pejabat yang memimpin pulau Simeulue mengeluarkan peraturan yang tidak lazim. Ia mengeluarkan aturan bahwa seorang pemuda yang hendak menikah wajib menanam minimal 25 batang pohon cengkeh sebelum Ia menikah. Jika tidak menanam cengkeh, pemerintah lewat lembaga keagamaan daerah tidak akan menikahkan pemuda tersebut. Kebijakan ini berjalan terus hingga akhirnya bisnis cengkeh hancur berantakan pada periode 90an usai keberadaan BPPC yang diinisasi Orde Baru. Kebijakan yang mewajibkan penanaman pohon cengkeh bagi pemuda yang hendak menikah ini membikin pulau Simeulue hingga saat ini didominasi tanaman cengkeh di luar komoditas lain semisal kemiri, pala, dan sawit yang kini mulai ditanam massal di Simeulue.<\/p>\n\n\n\n Selepas kehancuran komoditas cengkeh usai keberadaan BPPC di periode 90an, cengkeh kembali bangkit usai reformasi bergulir di negeri ini. Meski begitu, komoditas cengkeh di pulau Simeulue terlambat bangkit dibanding di daerah-daerah lainnya yang menghasilkan cengkeh di negeri ini. Hingga tsunami menggulung beberapa wilayah di Aceh, termasuk pulau Simeulue, komoditas cengkeh masih medioker di Simeulue, berbeda dengan wilayah lain di Indonesia yang usaha pertanian cengkehnya kembali bergeliat dengan harga yang sangat menguntungkan.<\/p>\n\n\n\n Adalah Susi Pujiastuti, seorang pengusaha sukses yang pada periode pertama masa kepemimpinan presiden Jokowi menjabat menteri kelautan dan perikanan yang kembali meningkatkan pamor komoditas cengkeh di pulau Simeulue. Ini terjadi pada tahun 2007. Kala itu, belenggu tengkulak di pulau Simeulue membikin harga cengkeh jatuh di pasaran, jauh lebih kecil dibandingkan dengan harga komoditas ini di wilayah lain di negeri ini. Sebagai perbandingan, harga cengkeh di wilayah lain, pada periode 2000an kembali mencapai titik tertingginya dengan harga beli di tingkat petani mencapai Rp100.000 per kilogram bahkan lebih, sedang di Simeulue, harga cengkeh maksimal berada di titik Rp30.000 saja per kilogramnya, bahkan di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan di pulau Simeulue, harga cengkeh jauh di bawah Rp30.000 per kilogram.<\/p>\n\n\n\n Berdasarkan informasi yang saya dapat dari banyak petani cengkeh di pulau Simeulue, pada 2007, untuk memutus rantai tengkulak, Bu Susi memborong cengkeh di pulau Simeulue dengan harga Rp100.000 per kilogram, mengikuti harga yang ditetapkan di pasar nasional. Rantai jahat tengkulak berhasil diputus. Dan sejak saat itu hingga kini, harga cengkeh di pulau Simeulue mengikuti harga pasar nasional, pertanian cengkeh kembali menggeliat di sana berkat peran nyata Bu Susi. Mulanya saya kurang percaya dengan informasi ini, namun, puluhan petani yang saya temui di Simeulue, juga pejabat di dinas perkebunan di pulau Simeulue, mengamini apa yang dilakukan Bu Susi terhadap komoditas cengkeh di sana.<\/p>\n\n\n\n Kembali bergeliatnya komoditas cengkeh di negeri ini usai diberangusnya BPPC pasca reformasi, tak lepas dari berjayanya industri rokok kretek dalam negeri. Rokok kretek berhasil menguasai lebih 90 persen pasar rokok nasional hingga hari ini. Dengan cengkeh sebagai salah satu bahan baku utama sekaligus bahan baku kunci rokok kretek, cengkeh menjadi komoditas yang menjanjikan dan menguntungkan petani.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, kejayaan petani cengkeh ini terancam dengan keberadaan gerakan antirokok dan kepentingan bisnis global yang berusaha merebut pasar rokok yang begitu menjanjikan di negeri ini. Sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar kedua di dunia di bawah China, Indonesia tentu saja menjadi bidikan serius kapitalisme global di bidang rokok dan farmasi. Merasa gagal bersaing secara sehat dengan produk rokok kretek, mereka kini terus-menerus berusaha menghancurkan keberadaan rokok kretek lewat regulasi yang dibikin semena-mena dan tidak adil dalam wujud Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). <\/p>\n\n\n\n Salah satu pasal penting dalam FCTC, adalah pengharaman keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok yang beredar di pasaran. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, dan menerapkannya dalam peraturan usaha rokok di Indonesia, maka mau tidak mau, setiap produksi rokok yang ada di Indonesia tidak boleh mengandung cengkeh secuil pun. Ini artinya, tidak akan ada lagi produk rokok kretek yang diproduksi pabrikan-pabrikan rokok dalam negeri. Kretek hilang, dan komoditas cengkeh kembali menjadi semenjana.<\/p>\n\n\n\n Kondisi menuju peniadaan rokok kretek dan penghancuran pertanian cengkeh lewat ratifikasi FCTC ini sepertinya kian terang di negeri ini. Adalah Sri Mulyani, yang kini menjabat menteri keuangan di Indonesia yang mengambil peran besar dalam usaha peniadaan produk rokok kretek dan penghancuran cengkeh di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum, salah satu pemain utama dalam usaha menekan agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC adalah Bloomberg Initiatives. Dan Sri Mulyani, ada di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n Belum lama ini, di New York, Sri Mulyani juga sudah mengadakan pertemuan intensif dengan Bloomberg. Kado manis dari Sri Mulyani dengan menaikkan cukai rokok besar-besaran di negeri ini sudah diberikan kepada Bloomberg. Jika tidak dihalangi dengan gencar oleh seluruh stakeholder industri rokok di negeri ini, bukan tak mungkin kado istimewa lain dari Sri Mulyani kepada Bloomberg akan kembali diberikan, ratifikasi FCTC oleh pemerintah Indonesia. Rokok kretek mesti hilang dari pasar dalam negeri, dan petani cengkeh kembali merana. PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi, bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n Dari keempat agenda Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS. Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro! Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6465,"post_author":"878","post_date":"2020-02-21 08:17:35","post_date_gmt":"2020-02-21 01:17:35","post_content":"\n Sekira tiga tahun lalu, saya berkesempatan berkunjung ke pulau Simeulue di provinsi Aceh. Kunjungan saya ke pulau yang terkenal dengan hasil lobsternya ini adalah untuk bertemu dengan petani cengkeh. Selain dikenal dengan hasil lautnya terutama lobster, pulau Simeulue juga dikenal sebagai penghasil cengkeh terbesar di Aceh. Keberadaan cengkeh di Simeulue seusia dengan keberadaan penjajah kolonial di sana yang menginisiasi penanaman cengkeh guna mengembalikan modal perang penjajah kolonial yang mengeluarkan banyak biaya selama perang penaklukan Aceh yang terkenal itu.<\/p>\n\n\n\n Selama penelitian bertemu dengan puluhan petani cengkeh di Simeulue, ada tiga temuan menarik yang saya dapat hasil berbincang-bincang dengan banyak narasumber yang saya jumpai di sana. Dua temuan menarik terkait langsung dengan cengkeh, dan satu temuan lainnya tak ada kaitannya dengan cengkeh, lebih kepada bagaimana penduduk Simeulue berhasil menyelamatkan diri usai gempa besar dan tsunami melanda pulau tersebut pada akhir tahun 2004.<\/p>\n\n\n\n Pada periode 70an, ketika cengkeh kembali berjaya di pasaran dalam negeri, sejalan dengan menggeliatnya industri rokok kretek di Indonesia yang mulai menguasai pasar dalam negeri mengalahkan rokok putih yang sebelumnya menjadi promadona di Indonesia, masyarakat Simeulue kembali menanam cengkeh di perbukitan yang ada di wilayah mereka. Kondisi geografis pulau Simeulue yang berbukit-bukit dan dekat dengan laut memang mirip dengan kondisi geografis tempat pohon cengkeh awalnya berasal. Kondisi ini membikin cengkeh sangat cocok ditanam di pulau Simeulue dan tumbuh subur di sana.<\/p>\n\n\n\n Menyadari potensi cengkeh yang sangat menjanjikan, pada periode 70an, pejabat yang memimpin pulau Simeulue mengeluarkan peraturan yang tidak lazim. Ia mengeluarkan aturan bahwa seorang pemuda yang hendak menikah wajib menanam minimal 25 batang pohon cengkeh sebelum Ia menikah. Jika tidak menanam cengkeh, pemerintah lewat lembaga keagamaan daerah tidak akan menikahkan pemuda tersebut. Kebijakan ini berjalan terus hingga akhirnya bisnis cengkeh hancur berantakan pada periode 90an usai keberadaan BPPC yang diinisasi Orde Baru. Kebijakan yang mewajibkan penanaman pohon cengkeh bagi pemuda yang hendak menikah ini membikin pulau Simeulue hingga saat ini didominasi tanaman cengkeh di luar komoditas lain semisal kemiri, pala, dan sawit yang kini mulai ditanam massal di Simeulue.<\/p>\n\n\n\n Selepas kehancuran komoditas cengkeh usai keberadaan BPPC di periode 90an, cengkeh kembali bangkit usai reformasi bergulir di negeri ini. Meski begitu, komoditas cengkeh di pulau Simeulue terlambat bangkit dibanding di daerah-daerah lainnya yang menghasilkan cengkeh di negeri ini. Hingga tsunami menggulung beberapa wilayah di Aceh, termasuk pulau Simeulue, komoditas cengkeh masih medioker di Simeulue, berbeda dengan wilayah lain di Indonesia yang usaha pertanian cengkehnya kembali bergeliat dengan harga yang sangat menguntungkan.<\/p>\n\n\n\n Adalah Susi Pujiastuti, seorang pengusaha sukses yang pada periode pertama masa kepemimpinan presiden Jokowi menjabat menteri kelautan dan perikanan yang kembali meningkatkan pamor komoditas cengkeh di pulau Simeulue. Ini terjadi pada tahun 2007. Kala itu, belenggu tengkulak di pulau Simeulue membikin harga cengkeh jatuh di pasaran, jauh lebih kecil dibandingkan dengan harga komoditas ini di wilayah lain di negeri ini. Sebagai perbandingan, harga cengkeh di wilayah lain, pada periode 2000an kembali mencapai titik tertingginya dengan harga beli di tingkat petani mencapai Rp100.000 per kilogram bahkan lebih, sedang di Simeulue, harga cengkeh maksimal berada di titik Rp30.000 saja per kilogramnya, bahkan di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan di pulau Simeulue, harga cengkeh jauh di bawah Rp30.000 per kilogram.<\/p>\n\n\n\n Berdasarkan informasi yang saya dapat dari banyak petani cengkeh di pulau Simeulue, pada 2007, untuk memutus rantai tengkulak, Bu Susi memborong cengkeh di pulau Simeulue dengan harga Rp100.000 per kilogram, mengikuti harga yang ditetapkan di pasar nasional. Rantai jahat tengkulak berhasil diputus. Dan sejak saat itu hingga kini, harga cengkeh di pulau Simeulue mengikuti harga pasar nasional, pertanian cengkeh kembali menggeliat di sana berkat peran nyata Bu Susi. Mulanya saya kurang percaya dengan informasi ini, namun, puluhan petani yang saya temui di Simeulue, juga pejabat di dinas perkebunan di pulau Simeulue, mengamini apa yang dilakukan Bu Susi terhadap komoditas cengkeh di sana.<\/p>\n\n\n\n Kembali bergeliatnya komoditas cengkeh di negeri ini usai diberangusnya BPPC pasca reformasi, tak lepas dari berjayanya industri rokok kretek dalam negeri. Rokok kretek berhasil menguasai lebih 90 persen pasar rokok nasional hingga hari ini. Dengan cengkeh sebagai salah satu bahan baku utama sekaligus bahan baku kunci rokok kretek, cengkeh menjadi komoditas yang menjanjikan dan menguntungkan petani.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, kejayaan petani cengkeh ini terancam dengan keberadaan gerakan antirokok dan kepentingan bisnis global yang berusaha merebut pasar rokok yang begitu menjanjikan di negeri ini. Sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar kedua di dunia di bawah China, Indonesia tentu saja menjadi bidikan serius kapitalisme global di bidang rokok dan farmasi. Merasa gagal bersaing secara sehat dengan produk rokok kretek, mereka kini terus-menerus berusaha menghancurkan keberadaan rokok kretek lewat regulasi yang dibikin semena-mena dan tidak adil dalam wujud Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). <\/p>\n\n\n\n Salah satu pasal penting dalam FCTC, adalah pengharaman keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok yang beredar di pasaran. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, dan menerapkannya dalam peraturan usaha rokok di Indonesia, maka mau tidak mau, setiap produksi rokok yang ada di Indonesia tidak boleh mengandung cengkeh secuil pun. Ini artinya, tidak akan ada lagi produk rokok kretek yang diproduksi pabrikan-pabrikan rokok dalam negeri. Kretek hilang, dan komoditas cengkeh kembali menjadi semenjana.<\/p>\n\n\n\n Kondisi menuju peniadaan rokok kretek dan penghancuran pertanian cengkeh lewat ratifikasi FCTC ini sepertinya kian terang di negeri ini. Adalah Sri Mulyani, yang kini menjabat menteri keuangan di Indonesia yang mengambil peran besar dalam usaha peniadaan produk rokok kretek dan penghancuran cengkeh di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum, salah satu pemain utama dalam usaha menekan agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC adalah Bloomberg Initiatives. Dan Sri Mulyani, ada di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n Belum lama ini, di New York, Sri Mulyani juga sudah mengadakan pertemuan intensif dengan Bloomberg. Kado manis dari Sri Mulyani dengan menaikkan cukai rokok besar-besaran di negeri ini sudah diberikan kepada Bloomberg. Jika tidak dihalangi dengan gencar oleh seluruh stakeholder industri rokok di negeri ini, bukan tak mungkin kado istimewa lain dari Sri Mulyani kepada Bloomberg akan kembali diberikan, ratifikasi FCTC oleh pemerintah Indonesia. Rokok kretek mesti hilang dari pasar dalam negeri, dan petani cengkeh kembali merana. PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi, bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n Dari keempat agenda Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS. Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro! Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6465,"post_author":"878","post_date":"2020-02-21 08:17:35","post_date_gmt":"2020-02-21 01:17:35","post_content":"\n Sekira tiga tahun lalu, saya berkesempatan berkunjung ke pulau Simeulue di provinsi Aceh. Kunjungan saya ke pulau yang terkenal dengan hasil lobsternya ini adalah untuk bertemu dengan petani cengkeh. Selain dikenal dengan hasil lautnya terutama lobster, pulau Simeulue juga dikenal sebagai penghasil cengkeh terbesar di Aceh. Keberadaan cengkeh di Simeulue seusia dengan keberadaan penjajah kolonial di sana yang menginisiasi penanaman cengkeh guna mengembalikan modal perang penjajah kolonial yang mengeluarkan banyak biaya selama perang penaklukan Aceh yang terkenal itu.<\/p>\n\n\n\n Selama penelitian bertemu dengan puluhan petani cengkeh di Simeulue, ada tiga temuan menarik yang saya dapat hasil berbincang-bincang dengan banyak narasumber yang saya jumpai di sana. Dua temuan menarik terkait langsung dengan cengkeh, dan satu temuan lainnya tak ada kaitannya dengan cengkeh, lebih kepada bagaimana penduduk Simeulue berhasil menyelamatkan diri usai gempa besar dan tsunami melanda pulau tersebut pada akhir tahun 2004.<\/p>\n\n\n\n Pada periode 70an, ketika cengkeh kembali berjaya di pasaran dalam negeri, sejalan dengan menggeliatnya industri rokok kretek di Indonesia yang mulai menguasai pasar dalam negeri mengalahkan rokok putih yang sebelumnya menjadi promadona di Indonesia, masyarakat Simeulue kembali menanam cengkeh di perbukitan yang ada di wilayah mereka. Kondisi geografis pulau Simeulue yang berbukit-bukit dan dekat dengan laut memang mirip dengan kondisi geografis tempat pohon cengkeh awalnya berasal. Kondisi ini membikin cengkeh sangat cocok ditanam di pulau Simeulue dan tumbuh subur di sana.<\/p>\n\n\n\n Menyadari potensi cengkeh yang sangat menjanjikan, pada periode 70an, pejabat yang memimpin pulau Simeulue mengeluarkan peraturan yang tidak lazim. Ia mengeluarkan aturan bahwa seorang pemuda yang hendak menikah wajib menanam minimal 25 batang pohon cengkeh sebelum Ia menikah. Jika tidak menanam cengkeh, pemerintah lewat lembaga keagamaan daerah tidak akan menikahkan pemuda tersebut. Kebijakan ini berjalan terus hingga akhirnya bisnis cengkeh hancur berantakan pada periode 90an usai keberadaan BPPC yang diinisasi Orde Baru. Kebijakan yang mewajibkan penanaman pohon cengkeh bagi pemuda yang hendak menikah ini membikin pulau Simeulue hingga saat ini didominasi tanaman cengkeh di luar komoditas lain semisal kemiri, pala, dan sawit yang kini mulai ditanam massal di Simeulue.<\/p>\n\n\n\n Selepas kehancuran komoditas cengkeh usai keberadaan BPPC di periode 90an, cengkeh kembali bangkit usai reformasi bergulir di negeri ini. Meski begitu, komoditas cengkeh di pulau Simeulue terlambat bangkit dibanding di daerah-daerah lainnya yang menghasilkan cengkeh di negeri ini. Hingga tsunami menggulung beberapa wilayah di Aceh, termasuk pulau Simeulue, komoditas cengkeh masih medioker di Simeulue, berbeda dengan wilayah lain di Indonesia yang usaha pertanian cengkehnya kembali bergeliat dengan harga yang sangat menguntungkan.<\/p>\n\n\n\n Adalah Susi Pujiastuti, seorang pengusaha sukses yang pada periode pertama masa kepemimpinan presiden Jokowi menjabat menteri kelautan dan perikanan yang kembali meningkatkan pamor komoditas cengkeh di pulau Simeulue. Ini terjadi pada tahun 2007. Kala itu, belenggu tengkulak di pulau Simeulue membikin harga cengkeh jatuh di pasaran, jauh lebih kecil dibandingkan dengan harga komoditas ini di wilayah lain di negeri ini. Sebagai perbandingan, harga cengkeh di wilayah lain, pada periode 2000an kembali mencapai titik tertingginya dengan harga beli di tingkat petani mencapai Rp100.000 per kilogram bahkan lebih, sedang di Simeulue, harga cengkeh maksimal berada di titik Rp30.000 saja per kilogramnya, bahkan di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan di pulau Simeulue, harga cengkeh jauh di bawah Rp30.000 per kilogram.<\/p>\n\n\n\n Berdasarkan informasi yang saya dapat dari banyak petani cengkeh di pulau Simeulue, pada 2007, untuk memutus rantai tengkulak, Bu Susi memborong cengkeh di pulau Simeulue dengan harga Rp100.000 per kilogram, mengikuti harga yang ditetapkan di pasar nasional. Rantai jahat tengkulak berhasil diputus. Dan sejak saat itu hingga kini, harga cengkeh di pulau Simeulue mengikuti harga pasar nasional, pertanian cengkeh kembali menggeliat di sana berkat peran nyata Bu Susi. Mulanya saya kurang percaya dengan informasi ini, namun, puluhan petani yang saya temui di Simeulue, juga pejabat di dinas perkebunan di pulau Simeulue, mengamini apa yang dilakukan Bu Susi terhadap komoditas cengkeh di sana.<\/p>\n\n\n\n Kembali bergeliatnya komoditas cengkeh di negeri ini usai diberangusnya BPPC pasca reformasi, tak lepas dari berjayanya industri rokok kretek dalam negeri. Rokok kretek berhasil menguasai lebih 90 persen pasar rokok nasional hingga hari ini. Dengan cengkeh sebagai salah satu bahan baku utama sekaligus bahan baku kunci rokok kretek, cengkeh menjadi komoditas yang menjanjikan dan menguntungkan petani.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, kejayaan petani cengkeh ini terancam dengan keberadaan gerakan antirokok dan kepentingan bisnis global yang berusaha merebut pasar rokok yang begitu menjanjikan di negeri ini. Sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar kedua di dunia di bawah China, Indonesia tentu saja menjadi bidikan serius kapitalisme global di bidang rokok dan farmasi. Merasa gagal bersaing secara sehat dengan produk rokok kretek, mereka kini terus-menerus berusaha menghancurkan keberadaan rokok kretek lewat regulasi yang dibikin semena-mena dan tidak adil dalam wujud Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). <\/p>\n\n\n\n Salah satu pasal penting dalam FCTC, adalah pengharaman keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok yang beredar di pasaran. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, dan menerapkannya dalam peraturan usaha rokok di Indonesia, maka mau tidak mau, setiap produksi rokok yang ada di Indonesia tidak boleh mengandung cengkeh secuil pun. Ini artinya, tidak akan ada lagi produk rokok kretek yang diproduksi pabrikan-pabrikan rokok dalam negeri. Kretek hilang, dan komoditas cengkeh kembali menjadi semenjana.<\/p>\n\n\n\n Kondisi menuju peniadaan rokok kretek dan penghancuran pertanian cengkeh lewat ratifikasi FCTC ini sepertinya kian terang di negeri ini. Adalah Sri Mulyani, yang kini menjabat menteri keuangan di Indonesia yang mengambil peran besar dalam usaha peniadaan produk rokok kretek dan penghancuran cengkeh di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum, salah satu pemain utama dalam usaha menekan agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC adalah Bloomberg Initiatives. Dan Sri Mulyani, ada di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n Belum lama ini, di New York, Sri Mulyani juga sudah mengadakan pertemuan intensif dengan Bloomberg. Kado manis dari Sri Mulyani dengan menaikkan cukai rokok besar-besaran di negeri ini sudah diberikan kepada Bloomberg. Jika tidak dihalangi dengan gencar oleh seluruh stakeholder industri rokok di negeri ini, bukan tak mungkin kado istimewa lain dari Sri Mulyani kepada Bloomberg akan kembali diberikan, ratifikasi FCTC oleh pemerintah Indonesia. Rokok kretek mesti hilang dari pasar dalam negeri, dan petani cengkeh kembali merana. PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi, bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n Dari keempat agenda Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS. Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro! Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6465,"post_author":"878","post_date":"2020-02-21 08:17:35","post_date_gmt":"2020-02-21 01:17:35","post_content":"\n Sekira tiga tahun lalu, saya berkesempatan berkunjung ke pulau Simeulue di provinsi Aceh. Kunjungan saya ke pulau yang terkenal dengan hasil lobsternya ini adalah untuk bertemu dengan petani cengkeh. Selain dikenal dengan hasil lautnya terutama lobster, pulau Simeulue juga dikenal sebagai penghasil cengkeh terbesar di Aceh. Keberadaan cengkeh di Simeulue seusia dengan keberadaan penjajah kolonial di sana yang menginisiasi penanaman cengkeh guna mengembalikan modal perang penjajah kolonial yang mengeluarkan banyak biaya selama perang penaklukan Aceh yang terkenal itu.<\/p>\n\n\n\n Selama penelitian bertemu dengan puluhan petani cengkeh di Simeulue, ada tiga temuan menarik yang saya dapat hasil berbincang-bincang dengan banyak narasumber yang saya jumpai di sana. Dua temuan menarik terkait langsung dengan cengkeh, dan satu temuan lainnya tak ada kaitannya dengan cengkeh, lebih kepada bagaimana penduduk Simeulue berhasil menyelamatkan diri usai gempa besar dan tsunami melanda pulau tersebut pada akhir tahun 2004.<\/p>\n\n\n\n Pada periode 70an, ketika cengkeh kembali berjaya di pasaran dalam negeri, sejalan dengan menggeliatnya industri rokok kretek di Indonesia yang mulai menguasai pasar dalam negeri mengalahkan rokok putih yang sebelumnya menjadi promadona di Indonesia, masyarakat Simeulue kembali menanam cengkeh di perbukitan yang ada di wilayah mereka. Kondisi geografis pulau Simeulue yang berbukit-bukit dan dekat dengan laut memang mirip dengan kondisi geografis tempat pohon cengkeh awalnya berasal. Kondisi ini membikin cengkeh sangat cocok ditanam di pulau Simeulue dan tumbuh subur di sana.<\/p>\n\n\n\n Menyadari potensi cengkeh yang sangat menjanjikan, pada periode 70an, pejabat yang memimpin pulau Simeulue mengeluarkan peraturan yang tidak lazim. Ia mengeluarkan aturan bahwa seorang pemuda yang hendak menikah wajib menanam minimal 25 batang pohon cengkeh sebelum Ia menikah. Jika tidak menanam cengkeh, pemerintah lewat lembaga keagamaan daerah tidak akan menikahkan pemuda tersebut. Kebijakan ini berjalan terus hingga akhirnya bisnis cengkeh hancur berantakan pada periode 90an usai keberadaan BPPC yang diinisasi Orde Baru. Kebijakan yang mewajibkan penanaman pohon cengkeh bagi pemuda yang hendak menikah ini membikin pulau Simeulue hingga saat ini didominasi tanaman cengkeh di luar komoditas lain semisal kemiri, pala, dan sawit yang kini mulai ditanam massal di Simeulue.<\/p>\n\n\n\n Selepas kehancuran komoditas cengkeh usai keberadaan BPPC di periode 90an, cengkeh kembali bangkit usai reformasi bergulir di negeri ini. Meski begitu, komoditas cengkeh di pulau Simeulue terlambat bangkit dibanding di daerah-daerah lainnya yang menghasilkan cengkeh di negeri ini. Hingga tsunami menggulung beberapa wilayah di Aceh, termasuk pulau Simeulue, komoditas cengkeh masih medioker di Simeulue, berbeda dengan wilayah lain di Indonesia yang usaha pertanian cengkehnya kembali bergeliat dengan harga yang sangat menguntungkan.<\/p>\n\n\n\n Adalah Susi Pujiastuti, seorang pengusaha sukses yang pada periode pertama masa kepemimpinan presiden Jokowi menjabat menteri kelautan dan perikanan yang kembali meningkatkan pamor komoditas cengkeh di pulau Simeulue. Ini terjadi pada tahun 2007. Kala itu, belenggu tengkulak di pulau Simeulue membikin harga cengkeh jatuh di pasaran, jauh lebih kecil dibandingkan dengan harga komoditas ini di wilayah lain di negeri ini. Sebagai perbandingan, harga cengkeh di wilayah lain, pada periode 2000an kembali mencapai titik tertingginya dengan harga beli di tingkat petani mencapai Rp100.000 per kilogram bahkan lebih, sedang di Simeulue, harga cengkeh maksimal berada di titik Rp30.000 saja per kilogramnya, bahkan di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan di pulau Simeulue, harga cengkeh jauh di bawah Rp30.000 per kilogram.<\/p>\n\n\n\n Berdasarkan informasi yang saya dapat dari banyak petani cengkeh di pulau Simeulue, pada 2007, untuk memutus rantai tengkulak, Bu Susi memborong cengkeh di pulau Simeulue dengan harga Rp100.000 per kilogram, mengikuti harga yang ditetapkan di pasar nasional. Rantai jahat tengkulak berhasil diputus. Dan sejak saat itu hingga kini, harga cengkeh di pulau Simeulue mengikuti harga pasar nasional, pertanian cengkeh kembali menggeliat di sana berkat peran nyata Bu Susi. Mulanya saya kurang percaya dengan informasi ini, namun, puluhan petani yang saya temui di Simeulue, juga pejabat di dinas perkebunan di pulau Simeulue, mengamini apa yang dilakukan Bu Susi terhadap komoditas cengkeh di sana.<\/p>\n\n\n\n Kembali bergeliatnya komoditas cengkeh di negeri ini usai diberangusnya BPPC pasca reformasi, tak lepas dari berjayanya industri rokok kretek dalam negeri. Rokok kretek berhasil menguasai lebih 90 persen pasar rokok nasional hingga hari ini. Dengan cengkeh sebagai salah satu bahan baku utama sekaligus bahan baku kunci rokok kretek, cengkeh menjadi komoditas yang menjanjikan dan menguntungkan petani.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, kejayaan petani cengkeh ini terancam dengan keberadaan gerakan antirokok dan kepentingan bisnis global yang berusaha merebut pasar rokok yang begitu menjanjikan di negeri ini. Sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar kedua di dunia di bawah China, Indonesia tentu saja menjadi bidikan serius kapitalisme global di bidang rokok dan farmasi. Merasa gagal bersaing secara sehat dengan produk rokok kretek, mereka kini terus-menerus berusaha menghancurkan keberadaan rokok kretek lewat regulasi yang dibikin semena-mena dan tidak adil dalam wujud Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). <\/p>\n\n\n\n Salah satu pasal penting dalam FCTC, adalah pengharaman keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok yang beredar di pasaran. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, dan menerapkannya dalam peraturan usaha rokok di Indonesia, maka mau tidak mau, setiap produksi rokok yang ada di Indonesia tidak boleh mengandung cengkeh secuil pun. Ini artinya, tidak akan ada lagi produk rokok kretek yang diproduksi pabrikan-pabrikan rokok dalam negeri. Kretek hilang, dan komoditas cengkeh kembali menjadi semenjana.<\/p>\n\n\n\n Kondisi menuju peniadaan rokok kretek dan penghancuran pertanian cengkeh lewat ratifikasi FCTC ini sepertinya kian terang di negeri ini. Adalah Sri Mulyani, yang kini menjabat menteri keuangan di Indonesia yang mengambil peran besar dalam usaha peniadaan produk rokok kretek dan penghancuran cengkeh di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum, salah satu pemain utama dalam usaha menekan agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC adalah Bloomberg Initiatives. Dan Sri Mulyani, ada di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n Belum lama ini, di New York, Sri Mulyani juga sudah mengadakan pertemuan intensif dengan Bloomberg. Kado manis dari Sri Mulyani dengan menaikkan cukai rokok besar-besaran di negeri ini sudah diberikan kepada Bloomberg. Jika tidak dihalangi dengan gencar oleh seluruh stakeholder industri rokok di negeri ini, bukan tak mungkin kado istimewa lain dari Sri Mulyani kepada Bloomberg akan kembali diberikan, ratifikasi FCTC oleh pemerintah Indonesia. Rokok kretek mesti hilang dari pasar dalam negeri, dan petani cengkeh kembali merana. PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi, bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n Dari keempat agenda Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS. Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro! Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6465,"post_author":"878","post_date":"2020-02-21 08:17:35","post_date_gmt":"2020-02-21 01:17:35","post_content":"\n Sekira tiga tahun lalu, saya berkesempatan berkunjung ke pulau Simeulue di provinsi Aceh. Kunjungan saya ke pulau yang terkenal dengan hasil lobsternya ini adalah untuk bertemu dengan petani cengkeh. Selain dikenal dengan hasil lautnya terutama lobster, pulau Simeulue juga dikenal sebagai penghasil cengkeh terbesar di Aceh. Keberadaan cengkeh di Simeulue seusia dengan keberadaan penjajah kolonial di sana yang menginisiasi penanaman cengkeh guna mengembalikan modal perang penjajah kolonial yang mengeluarkan banyak biaya selama perang penaklukan Aceh yang terkenal itu.<\/p>\n\n\n\n Selama penelitian bertemu dengan puluhan petani cengkeh di Simeulue, ada tiga temuan menarik yang saya dapat hasil berbincang-bincang dengan banyak narasumber yang saya jumpai di sana. Dua temuan menarik terkait langsung dengan cengkeh, dan satu temuan lainnya tak ada kaitannya dengan cengkeh, lebih kepada bagaimana penduduk Simeulue berhasil menyelamatkan diri usai gempa besar dan tsunami melanda pulau tersebut pada akhir tahun 2004.<\/p>\n\n\n\n Pada periode 70an, ketika cengkeh kembali berjaya di pasaran dalam negeri, sejalan dengan menggeliatnya industri rokok kretek di Indonesia yang mulai menguasai pasar dalam negeri mengalahkan rokok putih yang sebelumnya menjadi promadona di Indonesia, masyarakat Simeulue kembali menanam cengkeh di perbukitan yang ada di wilayah mereka. Kondisi geografis pulau Simeulue yang berbukit-bukit dan dekat dengan laut memang mirip dengan kondisi geografis tempat pohon cengkeh awalnya berasal. Kondisi ini membikin cengkeh sangat cocok ditanam di pulau Simeulue dan tumbuh subur di sana.<\/p>\n\n\n\n Menyadari potensi cengkeh yang sangat menjanjikan, pada periode 70an, pejabat yang memimpin pulau Simeulue mengeluarkan peraturan yang tidak lazim. Ia mengeluarkan aturan bahwa seorang pemuda yang hendak menikah wajib menanam minimal 25 batang pohon cengkeh sebelum Ia menikah. Jika tidak menanam cengkeh, pemerintah lewat lembaga keagamaan daerah tidak akan menikahkan pemuda tersebut. Kebijakan ini berjalan terus hingga akhirnya bisnis cengkeh hancur berantakan pada periode 90an usai keberadaan BPPC yang diinisasi Orde Baru. Kebijakan yang mewajibkan penanaman pohon cengkeh bagi pemuda yang hendak menikah ini membikin pulau Simeulue hingga saat ini didominasi tanaman cengkeh di luar komoditas lain semisal kemiri, pala, dan sawit yang kini mulai ditanam massal di Simeulue.<\/p>\n\n\n\n Selepas kehancuran komoditas cengkeh usai keberadaan BPPC di periode 90an, cengkeh kembali bangkit usai reformasi bergulir di negeri ini. Meski begitu, komoditas cengkeh di pulau Simeulue terlambat bangkit dibanding di daerah-daerah lainnya yang menghasilkan cengkeh di negeri ini. Hingga tsunami menggulung beberapa wilayah di Aceh, termasuk pulau Simeulue, komoditas cengkeh masih medioker di Simeulue, berbeda dengan wilayah lain di Indonesia yang usaha pertanian cengkehnya kembali bergeliat dengan harga yang sangat menguntungkan.<\/p>\n\n\n\n Adalah Susi Pujiastuti, seorang pengusaha sukses yang pada periode pertama masa kepemimpinan presiden Jokowi menjabat menteri kelautan dan perikanan yang kembali meningkatkan pamor komoditas cengkeh di pulau Simeulue. Ini terjadi pada tahun 2007. Kala itu, belenggu tengkulak di pulau Simeulue membikin harga cengkeh jatuh di pasaran, jauh lebih kecil dibandingkan dengan harga komoditas ini di wilayah lain di negeri ini. Sebagai perbandingan, harga cengkeh di wilayah lain, pada periode 2000an kembali mencapai titik tertingginya dengan harga beli di tingkat petani mencapai Rp100.000 per kilogram bahkan lebih, sedang di Simeulue, harga cengkeh maksimal berada di titik Rp30.000 saja per kilogramnya, bahkan di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan di pulau Simeulue, harga cengkeh jauh di bawah Rp30.000 per kilogram.<\/p>\n\n\n\n Berdasarkan informasi yang saya dapat dari banyak petani cengkeh di pulau Simeulue, pada 2007, untuk memutus rantai tengkulak, Bu Susi memborong cengkeh di pulau Simeulue dengan harga Rp100.000 per kilogram, mengikuti harga yang ditetapkan di pasar nasional. Rantai jahat tengkulak berhasil diputus. Dan sejak saat itu hingga kini, harga cengkeh di pulau Simeulue mengikuti harga pasar nasional, pertanian cengkeh kembali menggeliat di sana berkat peran nyata Bu Susi. Mulanya saya kurang percaya dengan informasi ini, namun, puluhan petani yang saya temui di Simeulue, juga pejabat di dinas perkebunan di pulau Simeulue, mengamini apa yang dilakukan Bu Susi terhadap komoditas cengkeh di sana.<\/p>\n\n\n\n Kembali bergeliatnya komoditas cengkeh di negeri ini usai diberangusnya BPPC pasca reformasi, tak lepas dari berjayanya industri rokok kretek dalam negeri. Rokok kretek berhasil menguasai lebih 90 persen pasar rokok nasional hingga hari ini. Dengan cengkeh sebagai salah satu bahan baku utama sekaligus bahan baku kunci rokok kretek, cengkeh menjadi komoditas yang menjanjikan dan menguntungkan petani.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, kejayaan petani cengkeh ini terancam dengan keberadaan gerakan antirokok dan kepentingan bisnis global yang berusaha merebut pasar rokok yang begitu menjanjikan di negeri ini. Sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar kedua di dunia di bawah China, Indonesia tentu saja menjadi bidikan serius kapitalisme global di bidang rokok dan farmasi. Merasa gagal bersaing secara sehat dengan produk rokok kretek, mereka kini terus-menerus berusaha menghancurkan keberadaan rokok kretek lewat regulasi yang dibikin semena-mena dan tidak adil dalam wujud Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). <\/p>\n\n\n\n Salah satu pasal penting dalam FCTC, adalah pengharaman keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok yang beredar di pasaran. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, dan menerapkannya dalam peraturan usaha rokok di Indonesia, maka mau tidak mau, setiap produksi rokok yang ada di Indonesia tidak boleh mengandung cengkeh secuil pun. Ini artinya, tidak akan ada lagi produk rokok kretek yang diproduksi pabrikan-pabrikan rokok dalam negeri. Kretek hilang, dan komoditas cengkeh kembali menjadi semenjana.<\/p>\n\n\n\n Kondisi menuju peniadaan rokok kretek dan penghancuran pertanian cengkeh lewat ratifikasi FCTC ini sepertinya kian terang di negeri ini. Adalah Sri Mulyani, yang kini menjabat menteri keuangan di Indonesia yang mengambil peran besar dalam usaha peniadaan produk rokok kretek dan penghancuran cengkeh di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum, salah satu pemain utama dalam usaha menekan agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC adalah Bloomberg Initiatives. Dan Sri Mulyani, ada di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n Belum lama ini, di New York, Sri Mulyani juga sudah mengadakan pertemuan intensif dengan Bloomberg. Kado manis dari Sri Mulyani dengan menaikkan cukai rokok besar-besaran di negeri ini sudah diberikan kepada Bloomberg. Jika tidak dihalangi dengan gencar oleh seluruh stakeholder industri rokok di negeri ini, bukan tak mungkin kado istimewa lain dari Sri Mulyani kepada Bloomberg akan kembali diberikan, ratifikasi FCTC oleh pemerintah Indonesia. Rokok kretek mesti hilang dari pasar dalam negeri, dan petani cengkeh kembali merana. PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi, bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n Dari keempat agenda Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS. Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro! Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6465,"post_author":"878","post_date":"2020-02-21 08:17:35","post_date_gmt":"2020-02-21 01:17:35","post_content":"\n Sekira tiga tahun lalu, saya berkesempatan berkunjung ke pulau Simeulue di provinsi Aceh. Kunjungan saya ke pulau yang terkenal dengan hasil lobsternya ini adalah untuk bertemu dengan petani cengkeh. Selain dikenal dengan hasil lautnya terutama lobster, pulau Simeulue juga dikenal sebagai penghasil cengkeh terbesar di Aceh. Keberadaan cengkeh di Simeulue seusia dengan keberadaan penjajah kolonial di sana yang menginisiasi penanaman cengkeh guna mengembalikan modal perang penjajah kolonial yang mengeluarkan banyak biaya selama perang penaklukan Aceh yang terkenal itu.<\/p>\n\n\n\n Selama penelitian bertemu dengan puluhan petani cengkeh di Simeulue, ada tiga temuan menarik yang saya dapat hasil berbincang-bincang dengan banyak narasumber yang saya jumpai di sana. Dua temuan menarik terkait langsung dengan cengkeh, dan satu temuan lainnya tak ada kaitannya dengan cengkeh, lebih kepada bagaimana penduduk Simeulue berhasil menyelamatkan diri usai gempa besar dan tsunami melanda pulau tersebut pada akhir tahun 2004.<\/p>\n\n\n\n Pada periode 70an, ketika cengkeh kembali berjaya di pasaran dalam negeri, sejalan dengan menggeliatnya industri rokok kretek di Indonesia yang mulai menguasai pasar dalam negeri mengalahkan rokok putih yang sebelumnya menjadi promadona di Indonesia, masyarakat Simeulue kembali menanam cengkeh di perbukitan yang ada di wilayah mereka. Kondisi geografis pulau Simeulue yang berbukit-bukit dan dekat dengan laut memang mirip dengan kondisi geografis tempat pohon cengkeh awalnya berasal. Kondisi ini membikin cengkeh sangat cocok ditanam di pulau Simeulue dan tumbuh subur di sana.<\/p>\n\n\n\n Menyadari potensi cengkeh yang sangat menjanjikan, pada periode 70an, pejabat yang memimpin pulau Simeulue mengeluarkan peraturan yang tidak lazim. Ia mengeluarkan aturan bahwa seorang pemuda yang hendak menikah wajib menanam minimal 25 batang pohon cengkeh sebelum Ia menikah. Jika tidak menanam cengkeh, pemerintah lewat lembaga keagamaan daerah tidak akan menikahkan pemuda tersebut. Kebijakan ini berjalan terus hingga akhirnya bisnis cengkeh hancur berantakan pada periode 90an usai keberadaan BPPC yang diinisasi Orde Baru. Kebijakan yang mewajibkan penanaman pohon cengkeh bagi pemuda yang hendak menikah ini membikin pulau Simeulue hingga saat ini didominasi tanaman cengkeh di luar komoditas lain semisal kemiri, pala, dan sawit yang kini mulai ditanam massal di Simeulue.<\/p>\n\n\n\n Selepas kehancuran komoditas cengkeh usai keberadaan BPPC di periode 90an, cengkeh kembali bangkit usai reformasi bergulir di negeri ini. Meski begitu, komoditas cengkeh di pulau Simeulue terlambat bangkit dibanding di daerah-daerah lainnya yang menghasilkan cengkeh di negeri ini. Hingga tsunami menggulung beberapa wilayah di Aceh, termasuk pulau Simeulue, komoditas cengkeh masih medioker di Simeulue, berbeda dengan wilayah lain di Indonesia yang usaha pertanian cengkehnya kembali bergeliat dengan harga yang sangat menguntungkan.<\/p>\n\n\n\n Adalah Susi Pujiastuti, seorang pengusaha sukses yang pada periode pertama masa kepemimpinan presiden Jokowi menjabat menteri kelautan dan perikanan yang kembali meningkatkan pamor komoditas cengkeh di pulau Simeulue. Ini terjadi pada tahun 2007. Kala itu, belenggu tengkulak di pulau Simeulue membikin harga cengkeh jatuh di pasaran, jauh lebih kecil dibandingkan dengan harga komoditas ini di wilayah lain di negeri ini. Sebagai perbandingan, harga cengkeh di wilayah lain, pada periode 2000an kembali mencapai titik tertingginya dengan harga beli di tingkat petani mencapai Rp100.000 per kilogram bahkan lebih, sedang di Simeulue, harga cengkeh maksimal berada di titik Rp30.000 saja per kilogramnya, bahkan di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan di pulau Simeulue, harga cengkeh jauh di bawah Rp30.000 per kilogram.<\/p>\n\n\n\n Berdasarkan informasi yang saya dapat dari banyak petani cengkeh di pulau Simeulue, pada 2007, untuk memutus rantai tengkulak, Bu Susi memborong cengkeh di pulau Simeulue dengan harga Rp100.000 per kilogram, mengikuti harga yang ditetapkan di pasar nasional. Rantai jahat tengkulak berhasil diputus. Dan sejak saat itu hingga kini, harga cengkeh di pulau Simeulue mengikuti harga pasar nasional, pertanian cengkeh kembali menggeliat di sana berkat peran nyata Bu Susi. Mulanya saya kurang percaya dengan informasi ini, namun, puluhan petani yang saya temui di Simeulue, juga pejabat di dinas perkebunan di pulau Simeulue, mengamini apa yang dilakukan Bu Susi terhadap komoditas cengkeh di sana.<\/p>\n\n\n\n Kembali bergeliatnya komoditas cengkeh di negeri ini usai diberangusnya BPPC pasca reformasi, tak lepas dari berjayanya industri rokok kretek dalam negeri. Rokok kretek berhasil menguasai lebih 90 persen pasar rokok nasional hingga hari ini. Dengan cengkeh sebagai salah satu bahan baku utama sekaligus bahan baku kunci rokok kretek, cengkeh menjadi komoditas yang menjanjikan dan menguntungkan petani.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, kejayaan petani cengkeh ini terancam dengan keberadaan gerakan antirokok dan kepentingan bisnis global yang berusaha merebut pasar rokok yang begitu menjanjikan di negeri ini. Sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar kedua di dunia di bawah China, Indonesia tentu saja menjadi bidikan serius kapitalisme global di bidang rokok dan farmasi. Merasa gagal bersaing secara sehat dengan produk rokok kretek, mereka kini terus-menerus berusaha menghancurkan keberadaan rokok kretek lewat regulasi yang dibikin semena-mena dan tidak adil dalam wujud Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). <\/p>\n\n\n\n Salah satu pasal penting dalam FCTC, adalah pengharaman keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok yang beredar di pasaran. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, dan menerapkannya dalam peraturan usaha rokok di Indonesia, maka mau tidak mau, setiap produksi rokok yang ada di Indonesia tidak boleh mengandung cengkeh secuil pun. Ini artinya, tidak akan ada lagi produk rokok kretek yang diproduksi pabrikan-pabrikan rokok dalam negeri. Kretek hilang, dan komoditas cengkeh kembali menjadi semenjana.<\/p>\n\n\n\n Kondisi menuju peniadaan rokok kretek dan penghancuran pertanian cengkeh lewat ratifikasi FCTC ini sepertinya kian terang di negeri ini. Adalah Sri Mulyani, yang kini menjabat menteri keuangan di Indonesia yang mengambil peran besar dalam usaha peniadaan produk rokok kretek dan penghancuran cengkeh di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum, salah satu pemain utama dalam usaha menekan agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC adalah Bloomberg Initiatives. Dan Sri Mulyani, ada di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n Belum lama ini, di New York, Sri Mulyani juga sudah mengadakan pertemuan intensif dengan Bloomberg. Kado manis dari Sri Mulyani dengan menaikkan cukai rokok besar-besaran di negeri ini sudah diberikan kepada Bloomberg. Jika tidak dihalangi dengan gencar oleh seluruh stakeholder industri rokok di negeri ini, bukan tak mungkin kado istimewa lain dari Sri Mulyani kepada Bloomberg akan kembali diberikan, ratifikasi FCTC oleh pemerintah Indonesia. Rokok kretek mesti hilang dari pasar dalam negeri, dan petani cengkeh kembali merana. PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi, bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n Dari keempat agenda Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS. Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro! Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6465,"post_author":"878","post_date":"2020-02-21 08:17:35","post_date_gmt":"2020-02-21 01:17:35","post_content":"\n Sekira tiga tahun lalu, saya berkesempatan berkunjung ke pulau Simeulue di provinsi Aceh. Kunjungan saya ke pulau yang terkenal dengan hasil lobsternya ini adalah untuk bertemu dengan petani cengkeh. Selain dikenal dengan hasil lautnya terutama lobster, pulau Simeulue juga dikenal sebagai penghasil cengkeh terbesar di Aceh. Keberadaan cengkeh di Simeulue seusia dengan keberadaan penjajah kolonial di sana yang menginisiasi penanaman cengkeh guna mengembalikan modal perang penjajah kolonial yang mengeluarkan banyak biaya selama perang penaklukan Aceh yang terkenal itu.<\/p>\n\n\n\n Selama penelitian bertemu dengan puluhan petani cengkeh di Simeulue, ada tiga temuan menarik yang saya dapat hasil berbincang-bincang dengan banyak narasumber yang saya jumpai di sana. Dua temuan menarik terkait langsung dengan cengkeh, dan satu temuan lainnya tak ada kaitannya dengan cengkeh, lebih kepada bagaimana penduduk Simeulue berhasil menyelamatkan diri usai gempa besar dan tsunami melanda pulau tersebut pada akhir tahun 2004.<\/p>\n\n\n\n Pada periode 70an, ketika cengkeh kembali berjaya di pasaran dalam negeri, sejalan dengan menggeliatnya industri rokok kretek di Indonesia yang mulai menguasai pasar dalam negeri mengalahkan rokok putih yang sebelumnya menjadi promadona di Indonesia, masyarakat Simeulue kembali menanam cengkeh di perbukitan yang ada di wilayah mereka. Kondisi geografis pulau Simeulue yang berbukit-bukit dan dekat dengan laut memang mirip dengan kondisi geografis tempat pohon cengkeh awalnya berasal. Kondisi ini membikin cengkeh sangat cocok ditanam di pulau Simeulue dan tumbuh subur di sana.<\/p>\n\n\n\n Menyadari potensi cengkeh yang sangat menjanjikan, pada periode 70an, pejabat yang memimpin pulau Simeulue mengeluarkan peraturan yang tidak lazim. Ia mengeluarkan aturan bahwa seorang pemuda yang hendak menikah wajib menanam minimal 25 batang pohon cengkeh sebelum Ia menikah. Jika tidak menanam cengkeh, pemerintah lewat lembaga keagamaan daerah tidak akan menikahkan pemuda tersebut. Kebijakan ini berjalan terus hingga akhirnya bisnis cengkeh hancur berantakan pada periode 90an usai keberadaan BPPC yang diinisasi Orde Baru. Kebijakan yang mewajibkan penanaman pohon cengkeh bagi pemuda yang hendak menikah ini membikin pulau Simeulue hingga saat ini didominasi tanaman cengkeh di luar komoditas lain semisal kemiri, pala, dan sawit yang kini mulai ditanam massal di Simeulue.<\/p>\n\n\n\n Selepas kehancuran komoditas cengkeh usai keberadaan BPPC di periode 90an, cengkeh kembali bangkit usai reformasi bergulir di negeri ini. Meski begitu, komoditas cengkeh di pulau Simeulue terlambat bangkit dibanding di daerah-daerah lainnya yang menghasilkan cengkeh di negeri ini. Hingga tsunami menggulung beberapa wilayah di Aceh, termasuk pulau Simeulue, komoditas cengkeh masih medioker di Simeulue, berbeda dengan wilayah lain di Indonesia yang usaha pertanian cengkehnya kembali bergeliat dengan harga yang sangat menguntungkan.<\/p>\n\n\n\n Adalah Susi Pujiastuti, seorang pengusaha sukses yang pada periode pertama masa kepemimpinan presiden Jokowi menjabat menteri kelautan dan perikanan yang kembali meningkatkan pamor komoditas cengkeh di pulau Simeulue. Ini terjadi pada tahun 2007. Kala itu, belenggu tengkulak di pulau Simeulue membikin harga cengkeh jatuh di pasaran, jauh lebih kecil dibandingkan dengan harga komoditas ini di wilayah lain di negeri ini. Sebagai perbandingan, harga cengkeh di wilayah lain, pada periode 2000an kembali mencapai titik tertingginya dengan harga beli di tingkat petani mencapai Rp100.000 per kilogram bahkan lebih, sedang di Simeulue, harga cengkeh maksimal berada di titik Rp30.000 saja per kilogramnya, bahkan di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan di pulau Simeulue, harga cengkeh jauh di bawah Rp30.000 per kilogram.<\/p>\n\n\n\n Berdasarkan informasi yang saya dapat dari banyak petani cengkeh di pulau Simeulue, pada 2007, untuk memutus rantai tengkulak, Bu Susi memborong cengkeh di pulau Simeulue dengan harga Rp100.000 per kilogram, mengikuti harga yang ditetapkan di pasar nasional. Rantai jahat tengkulak berhasil diputus. Dan sejak saat itu hingga kini, harga cengkeh di pulau Simeulue mengikuti harga pasar nasional, pertanian cengkeh kembali menggeliat di sana berkat peran nyata Bu Susi. Mulanya saya kurang percaya dengan informasi ini, namun, puluhan petani yang saya temui di Simeulue, juga pejabat di dinas perkebunan di pulau Simeulue, mengamini apa yang dilakukan Bu Susi terhadap komoditas cengkeh di sana.<\/p>\n\n\n\n Kembali bergeliatnya komoditas cengkeh di negeri ini usai diberangusnya BPPC pasca reformasi, tak lepas dari berjayanya industri rokok kretek dalam negeri. Rokok kretek berhasil menguasai lebih 90 persen pasar rokok nasional hingga hari ini. Dengan cengkeh sebagai salah satu bahan baku utama sekaligus bahan baku kunci rokok kretek, cengkeh menjadi komoditas yang menjanjikan dan menguntungkan petani.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, kejayaan petani cengkeh ini terancam dengan keberadaan gerakan antirokok dan kepentingan bisnis global yang berusaha merebut pasar rokok yang begitu menjanjikan di negeri ini. Sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar kedua di dunia di bawah China, Indonesia tentu saja menjadi bidikan serius kapitalisme global di bidang rokok dan farmasi. Merasa gagal bersaing secara sehat dengan produk rokok kretek, mereka kini terus-menerus berusaha menghancurkan keberadaan rokok kretek lewat regulasi yang dibikin semena-mena dan tidak adil dalam wujud Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). <\/p>\n\n\n\n Salah satu pasal penting dalam FCTC, adalah pengharaman keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok yang beredar di pasaran. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, dan menerapkannya dalam peraturan usaha rokok di Indonesia, maka mau tidak mau, setiap produksi rokok yang ada di Indonesia tidak boleh mengandung cengkeh secuil pun. Ini artinya, tidak akan ada lagi produk rokok kretek yang diproduksi pabrikan-pabrikan rokok dalam negeri. Kretek hilang, dan komoditas cengkeh kembali menjadi semenjana.<\/p>\n\n\n\n Kondisi menuju peniadaan rokok kretek dan penghancuran pertanian cengkeh lewat ratifikasi FCTC ini sepertinya kian terang di negeri ini. Adalah Sri Mulyani, yang kini menjabat menteri keuangan di Indonesia yang mengambil peran besar dalam usaha peniadaan produk rokok kretek dan penghancuran cengkeh di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum, salah satu pemain utama dalam usaha menekan agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC adalah Bloomberg Initiatives. Dan Sri Mulyani, ada di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n Belum lama ini, di New York, Sri Mulyani juga sudah mengadakan pertemuan intensif dengan Bloomberg. Kado manis dari Sri Mulyani dengan menaikkan cukai rokok besar-besaran di negeri ini sudah diberikan kepada Bloomberg. Jika tidak dihalangi dengan gencar oleh seluruh stakeholder industri rokok di negeri ini, bukan tak mungkin kado istimewa lain dari Sri Mulyani kepada Bloomberg akan kembali diberikan, ratifikasi FCTC oleh pemerintah Indonesia. Rokok kretek mesti hilang dari pasar dalam negeri, dan petani cengkeh kembali merana. PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi, bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n Dari keempat agenda Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS. Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro! *** Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6465,"post_author":"878","post_date":"2020-02-21 08:17:35","post_date_gmt":"2020-02-21 01:17:35","post_content":"\n Sekira tiga tahun lalu, saya berkesempatan berkunjung ke pulau Simeulue di provinsi Aceh. Kunjungan saya ke pulau yang terkenal dengan hasil lobsternya ini adalah untuk bertemu dengan petani cengkeh. Selain dikenal dengan hasil lautnya terutama lobster, pulau Simeulue juga dikenal sebagai penghasil cengkeh terbesar di Aceh. Keberadaan cengkeh di Simeulue seusia dengan keberadaan penjajah kolonial di sana yang menginisiasi penanaman cengkeh guna mengembalikan modal perang penjajah kolonial yang mengeluarkan banyak biaya selama perang penaklukan Aceh yang terkenal itu.<\/p>\n\n\n\n Selama penelitian bertemu dengan puluhan petani cengkeh di Simeulue, ada tiga temuan menarik yang saya dapat hasil berbincang-bincang dengan banyak narasumber yang saya jumpai di sana. Dua temuan menarik terkait langsung dengan cengkeh, dan satu temuan lainnya tak ada kaitannya dengan cengkeh, lebih kepada bagaimana penduduk Simeulue berhasil menyelamatkan diri usai gempa besar dan tsunami melanda pulau tersebut pada akhir tahun 2004.<\/p>\n\n\n\n Pada periode 70an, ketika cengkeh kembali berjaya di pasaran dalam negeri, sejalan dengan menggeliatnya industri rokok kretek di Indonesia yang mulai menguasai pasar dalam negeri mengalahkan rokok putih yang sebelumnya menjadi promadona di Indonesia, masyarakat Simeulue kembali menanam cengkeh di perbukitan yang ada di wilayah mereka. Kondisi geografis pulau Simeulue yang berbukit-bukit dan dekat dengan laut memang mirip dengan kondisi geografis tempat pohon cengkeh awalnya berasal. Kondisi ini membikin cengkeh sangat cocok ditanam di pulau Simeulue dan tumbuh subur di sana.<\/p>\n\n\n\n Menyadari potensi cengkeh yang sangat menjanjikan, pada periode 70an, pejabat yang memimpin pulau Simeulue mengeluarkan peraturan yang tidak lazim. Ia mengeluarkan aturan bahwa seorang pemuda yang hendak menikah wajib menanam minimal 25 batang pohon cengkeh sebelum Ia menikah. Jika tidak menanam cengkeh, pemerintah lewat lembaga keagamaan daerah tidak akan menikahkan pemuda tersebut. Kebijakan ini berjalan terus hingga akhirnya bisnis cengkeh hancur berantakan pada periode 90an usai keberadaan BPPC yang diinisasi Orde Baru. Kebijakan yang mewajibkan penanaman pohon cengkeh bagi pemuda yang hendak menikah ini membikin pulau Simeulue hingga saat ini didominasi tanaman cengkeh di luar komoditas lain semisal kemiri, pala, dan sawit yang kini mulai ditanam massal di Simeulue.<\/p>\n\n\n\n Selepas kehancuran komoditas cengkeh usai keberadaan BPPC di periode 90an, cengkeh kembali bangkit usai reformasi bergulir di negeri ini. Meski begitu, komoditas cengkeh di pulau Simeulue terlambat bangkit dibanding di daerah-daerah lainnya yang menghasilkan cengkeh di negeri ini. Hingga tsunami menggulung beberapa wilayah di Aceh, termasuk pulau Simeulue, komoditas cengkeh masih medioker di Simeulue, berbeda dengan wilayah lain di Indonesia yang usaha pertanian cengkehnya kembali bergeliat dengan harga yang sangat menguntungkan.<\/p>\n\n\n\n Adalah Susi Pujiastuti, seorang pengusaha sukses yang pada periode pertama masa kepemimpinan presiden Jokowi menjabat menteri kelautan dan perikanan yang kembali meningkatkan pamor komoditas cengkeh di pulau Simeulue. Ini terjadi pada tahun 2007. Kala itu, belenggu tengkulak di pulau Simeulue membikin harga cengkeh jatuh di pasaran, jauh lebih kecil dibandingkan dengan harga komoditas ini di wilayah lain di negeri ini. Sebagai perbandingan, harga cengkeh di wilayah lain, pada periode 2000an kembali mencapai titik tertingginya dengan harga beli di tingkat petani mencapai Rp100.000 per kilogram bahkan lebih, sedang di Simeulue, harga cengkeh maksimal berada di titik Rp30.000 saja per kilogramnya, bahkan di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan di pulau Simeulue, harga cengkeh jauh di bawah Rp30.000 per kilogram.<\/p>\n\n\n\n Berdasarkan informasi yang saya dapat dari banyak petani cengkeh di pulau Simeulue, pada 2007, untuk memutus rantai tengkulak, Bu Susi memborong cengkeh di pulau Simeulue dengan harga Rp100.000 per kilogram, mengikuti harga yang ditetapkan di pasar nasional. Rantai jahat tengkulak berhasil diputus. Dan sejak saat itu hingga kini, harga cengkeh di pulau Simeulue mengikuti harga pasar nasional, pertanian cengkeh kembali menggeliat di sana berkat peran nyata Bu Susi. Mulanya saya kurang percaya dengan informasi ini, namun, puluhan petani yang saya temui di Simeulue, juga pejabat di dinas perkebunan di pulau Simeulue, mengamini apa yang dilakukan Bu Susi terhadap komoditas cengkeh di sana.<\/p>\n\n\n\n Kembali bergeliatnya komoditas cengkeh di negeri ini usai diberangusnya BPPC pasca reformasi, tak lepas dari berjayanya industri rokok kretek dalam negeri. Rokok kretek berhasil menguasai lebih 90 persen pasar rokok nasional hingga hari ini. Dengan cengkeh sebagai salah satu bahan baku utama sekaligus bahan baku kunci rokok kretek, cengkeh menjadi komoditas yang menjanjikan dan menguntungkan petani.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, kejayaan petani cengkeh ini terancam dengan keberadaan gerakan antirokok dan kepentingan bisnis global yang berusaha merebut pasar rokok yang begitu menjanjikan di negeri ini. Sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar kedua di dunia di bawah China, Indonesia tentu saja menjadi bidikan serius kapitalisme global di bidang rokok dan farmasi. Merasa gagal bersaing secara sehat dengan produk rokok kretek, mereka kini terus-menerus berusaha menghancurkan keberadaan rokok kretek lewat regulasi yang dibikin semena-mena dan tidak adil dalam wujud Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). <\/p>\n\n\n\n Salah satu pasal penting dalam FCTC, adalah pengharaman keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok yang beredar di pasaran. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, dan menerapkannya dalam peraturan usaha rokok di Indonesia, maka mau tidak mau, setiap produksi rokok yang ada di Indonesia tidak boleh mengandung cengkeh secuil pun. Ini artinya, tidak akan ada lagi produk rokok kretek yang diproduksi pabrikan-pabrikan rokok dalam negeri. Kretek hilang, dan komoditas cengkeh kembali menjadi semenjana.<\/p>\n\n\n\n Kondisi menuju peniadaan rokok kretek dan penghancuran pertanian cengkeh lewat ratifikasi FCTC ini sepertinya kian terang di negeri ini. Adalah Sri Mulyani, yang kini menjabat menteri keuangan di Indonesia yang mengambil peran besar dalam usaha peniadaan produk rokok kretek dan penghancuran cengkeh di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum, salah satu pemain utama dalam usaha menekan agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC adalah Bloomberg Initiatives. Dan Sri Mulyani, ada di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n Belum lama ini, di New York, Sri Mulyani juga sudah mengadakan pertemuan intensif dengan Bloomberg. Kado manis dari Sri Mulyani dengan menaikkan cukai rokok besar-besaran di negeri ini sudah diberikan kepada Bloomberg. Jika tidak dihalangi dengan gencar oleh seluruh stakeholder industri rokok di negeri ini, bukan tak mungkin kado istimewa lain dari Sri Mulyani kepada Bloomberg akan kembali diberikan, ratifikasi FCTC oleh pemerintah Indonesia. Rokok kretek mesti hilang dari pasar dalam negeri, dan petani cengkeh kembali merana. PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi, bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n Dari keempat agenda Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS. Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro! Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n *** Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6465,"post_author":"878","post_date":"2020-02-21 08:17:35","post_date_gmt":"2020-02-21 01:17:35","post_content":"\n Sekira tiga tahun lalu, saya berkesempatan berkunjung ke pulau Simeulue di provinsi Aceh. Kunjungan saya ke pulau yang terkenal dengan hasil lobsternya ini adalah untuk bertemu dengan petani cengkeh. Selain dikenal dengan hasil lautnya terutama lobster, pulau Simeulue juga dikenal sebagai penghasil cengkeh terbesar di Aceh. Keberadaan cengkeh di Simeulue seusia dengan keberadaan penjajah kolonial di sana yang menginisiasi penanaman cengkeh guna mengembalikan modal perang penjajah kolonial yang mengeluarkan banyak biaya selama perang penaklukan Aceh yang terkenal itu.<\/p>\n\n\n\n Selama penelitian bertemu dengan puluhan petani cengkeh di Simeulue, ada tiga temuan menarik yang saya dapat hasil berbincang-bincang dengan banyak narasumber yang saya jumpai di sana. Dua temuan menarik terkait langsung dengan cengkeh, dan satu temuan lainnya tak ada kaitannya dengan cengkeh, lebih kepada bagaimana penduduk Simeulue berhasil menyelamatkan diri usai gempa besar dan tsunami melanda pulau tersebut pada akhir tahun 2004.<\/p>\n\n\n\n Pada periode 70an, ketika cengkeh kembali berjaya di pasaran dalam negeri, sejalan dengan menggeliatnya industri rokok kretek di Indonesia yang mulai menguasai pasar dalam negeri mengalahkan rokok putih yang sebelumnya menjadi promadona di Indonesia, masyarakat Simeulue kembali menanam cengkeh di perbukitan yang ada di wilayah mereka. Kondisi geografis pulau Simeulue yang berbukit-bukit dan dekat dengan laut memang mirip dengan kondisi geografis tempat pohon cengkeh awalnya berasal. Kondisi ini membikin cengkeh sangat cocok ditanam di pulau Simeulue dan tumbuh subur di sana.<\/p>\n\n\n\n Menyadari potensi cengkeh yang sangat menjanjikan, pada periode 70an, pejabat yang memimpin pulau Simeulue mengeluarkan peraturan yang tidak lazim. Ia mengeluarkan aturan bahwa seorang pemuda yang hendak menikah wajib menanam minimal 25 batang pohon cengkeh sebelum Ia menikah. Jika tidak menanam cengkeh, pemerintah lewat lembaga keagamaan daerah tidak akan menikahkan pemuda tersebut. Kebijakan ini berjalan terus hingga akhirnya bisnis cengkeh hancur berantakan pada periode 90an usai keberadaan BPPC yang diinisasi Orde Baru. Kebijakan yang mewajibkan penanaman pohon cengkeh bagi pemuda yang hendak menikah ini membikin pulau Simeulue hingga saat ini didominasi tanaman cengkeh di luar komoditas lain semisal kemiri, pala, dan sawit yang kini mulai ditanam massal di Simeulue.<\/p>\n\n\n\n Selepas kehancuran komoditas cengkeh usai keberadaan BPPC di periode 90an, cengkeh kembali bangkit usai reformasi bergulir di negeri ini. Meski begitu, komoditas cengkeh di pulau Simeulue terlambat bangkit dibanding di daerah-daerah lainnya yang menghasilkan cengkeh di negeri ini. Hingga tsunami menggulung beberapa wilayah di Aceh, termasuk pulau Simeulue, komoditas cengkeh masih medioker di Simeulue, berbeda dengan wilayah lain di Indonesia yang usaha pertanian cengkehnya kembali bergeliat dengan harga yang sangat menguntungkan.<\/p>\n\n\n\n Adalah Susi Pujiastuti, seorang pengusaha sukses yang pada periode pertama masa kepemimpinan presiden Jokowi menjabat menteri kelautan dan perikanan yang kembali meningkatkan pamor komoditas cengkeh di pulau Simeulue. Ini terjadi pada tahun 2007. Kala itu, belenggu tengkulak di pulau Simeulue membikin harga cengkeh jatuh di pasaran, jauh lebih kecil dibandingkan dengan harga komoditas ini di wilayah lain di negeri ini. Sebagai perbandingan, harga cengkeh di wilayah lain, pada periode 2000an kembali mencapai titik tertingginya dengan harga beli di tingkat petani mencapai Rp100.000 per kilogram bahkan lebih, sedang di Simeulue, harga cengkeh maksimal berada di titik Rp30.000 saja per kilogramnya, bahkan di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan di pulau Simeulue, harga cengkeh jauh di bawah Rp30.000 per kilogram.<\/p>\n\n\n\n Berdasarkan informasi yang saya dapat dari banyak petani cengkeh di pulau Simeulue, pada 2007, untuk memutus rantai tengkulak, Bu Susi memborong cengkeh di pulau Simeulue dengan harga Rp100.000 per kilogram, mengikuti harga yang ditetapkan di pasar nasional. Rantai jahat tengkulak berhasil diputus. Dan sejak saat itu hingga kini, harga cengkeh di pulau Simeulue mengikuti harga pasar nasional, pertanian cengkeh kembali menggeliat di sana berkat peran nyata Bu Susi. Mulanya saya kurang percaya dengan informasi ini, namun, puluhan petani yang saya temui di Simeulue, juga pejabat di dinas perkebunan di pulau Simeulue, mengamini apa yang dilakukan Bu Susi terhadap komoditas cengkeh di sana.<\/p>\n\n\n\n Kembali bergeliatnya komoditas cengkeh di negeri ini usai diberangusnya BPPC pasca reformasi, tak lepas dari berjayanya industri rokok kretek dalam negeri. Rokok kretek berhasil menguasai lebih 90 persen pasar rokok nasional hingga hari ini. Dengan cengkeh sebagai salah satu bahan baku utama sekaligus bahan baku kunci rokok kretek, cengkeh menjadi komoditas yang menjanjikan dan menguntungkan petani.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, kejayaan petani cengkeh ini terancam dengan keberadaan gerakan antirokok dan kepentingan bisnis global yang berusaha merebut pasar rokok yang begitu menjanjikan di negeri ini. Sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar kedua di dunia di bawah China, Indonesia tentu saja menjadi bidikan serius kapitalisme global di bidang rokok dan farmasi. Merasa gagal bersaing secara sehat dengan produk rokok kretek, mereka kini terus-menerus berusaha menghancurkan keberadaan rokok kretek lewat regulasi yang dibikin semena-mena dan tidak adil dalam wujud Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). <\/p>\n\n\n\n Salah satu pasal penting dalam FCTC, adalah pengharaman keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok yang beredar di pasaran. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, dan menerapkannya dalam peraturan usaha rokok di Indonesia, maka mau tidak mau, setiap produksi rokok yang ada di Indonesia tidak boleh mengandung cengkeh secuil pun. Ini artinya, tidak akan ada lagi produk rokok kretek yang diproduksi pabrikan-pabrikan rokok dalam negeri. Kretek hilang, dan komoditas cengkeh kembali menjadi semenjana.<\/p>\n\n\n\n Kondisi menuju peniadaan rokok kretek dan penghancuran pertanian cengkeh lewat ratifikasi FCTC ini sepertinya kian terang di negeri ini. Adalah Sri Mulyani, yang kini menjabat menteri keuangan di Indonesia yang mengambil peran besar dalam usaha peniadaan produk rokok kretek dan penghancuran cengkeh di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum, salah satu pemain utama dalam usaha menekan agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC adalah Bloomberg Initiatives. Dan Sri Mulyani, ada di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n Belum lama ini, di New York, Sri Mulyani juga sudah mengadakan pertemuan intensif dengan Bloomberg. Kado manis dari Sri Mulyani dengan menaikkan cukai rokok besar-besaran di negeri ini sudah diberikan kepada Bloomberg. Jika tidak dihalangi dengan gencar oleh seluruh stakeholder industri rokok di negeri ini, bukan tak mungkin kado istimewa lain dari Sri Mulyani kepada Bloomberg akan kembali diberikan, ratifikasi FCTC oleh pemerintah Indonesia. Rokok kretek mesti hilang dari pasar dalam negeri, dan petani cengkeh kembali merana. PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi, bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n Dari keempat agenda Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS. Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro! Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n *** Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6465,"post_author":"878","post_date":"2020-02-21 08:17:35","post_date_gmt":"2020-02-21 01:17:35","post_content":"\n Sekira tiga tahun lalu, saya berkesempatan berkunjung ke pulau Simeulue di provinsi Aceh. Kunjungan saya ke pulau yang terkenal dengan hasil lobsternya ini adalah untuk bertemu dengan petani cengkeh. Selain dikenal dengan hasil lautnya terutama lobster, pulau Simeulue juga dikenal sebagai penghasil cengkeh terbesar di Aceh. Keberadaan cengkeh di Simeulue seusia dengan keberadaan penjajah kolonial di sana yang menginisiasi penanaman cengkeh guna mengembalikan modal perang penjajah kolonial yang mengeluarkan banyak biaya selama perang penaklukan Aceh yang terkenal itu.<\/p>\n\n\n\n Selama penelitian bertemu dengan puluhan petani cengkeh di Simeulue, ada tiga temuan menarik yang saya dapat hasil berbincang-bincang dengan banyak narasumber yang saya jumpai di sana. Dua temuan menarik terkait langsung dengan cengkeh, dan satu temuan lainnya tak ada kaitannya dengan cengkeh, lebih kepada bagaimana penduduk Simeulue berhasil menyelamatkan diri usai gempa besar dan tsunami melanda pulau tersebut pada akhir tahun 2004.<\/p>\n\n\n\n Pada periode 70an, ketika cengkeh kembali berjaya di pasaran dalam negeri, sejalan dengan menggeliatnya industri rokok kretek di Indonesia yang mulai menguasai pasar dalam negeri mengalahkan rokok putih yang sebelumnya menjadi promadona di Indonesia, masyarakat Simeulue kembali menanam cengkeh di perbukitan yang ada di wilayah mereka. Kondisi geografis pulau Simeulue yang berbukit-bukit dan dekat dengan laut memang mirip dengan kondisi geografis tempat pohon cengkeh awalnya berasal. Kondisi ini membikin cengkeh sangat cocok ditanam di pulau Simeulue dan tumbuh subur di sana.<\/p>\n\n\n\n Menyadari potensi cengkeh yang sangat menjanjikan, pada periode 70an, pejabat yang memimpin pulau Simeulue mengeluarkan peraturan yang tidak lazim. Ia mengeluarkan aturan bahwa seorang pemuda yang hendak menikah wajib menanam minimal 25 batang pohon cengkeh sebelum Ia menikah. Jika tidak menanam cengkeh, pemerintah lewat lembaga keagamaan daerah tidak akan menikahkan pemuda tersebut. Kebijakan ini berjalan terus hingga akhirnya bisnis cengkeh hancur berantakan pada periode 90an usai keberadaan BPPC yang diinisasi Orde Baru. Kebijakan yang mewajibkan penanaman pohon cengkeh bagi pemuda yang hendak menikah ini membikin pulau Simeulue hingga saat ini didominasi tanaman cengkeh di luar komoditas lain semisal kemiri, pala, dan sawit yang kini mulai ditanam massal di Simeulue.<\/p>\n\n\n\n Selepas kehancuran komoditas cengkeh usai keberadaan BPPC di periode 90an, cengkeh kembali bangkit usai reformasi bergulir di negeri ini. Meski begitu, komoditas cengkeh di pulau Simeulue terlambat bangkit dibanding di daerah-daerah lainnya yang menghasilkan cengkeh di negeri ini. Hingga tsunami menggulung beberapa wilayah di Aceh, termasuk pulau Simeulue, komoditas cengkeh masih medioker di Simeulue, berbeda dengan wilayah lain di Indonesia yang usaha pertanian cengkehnya kembali bergeliat dengan harga yang sangat menguntungkan.<\/p>\n\n\n\n Adalah Susi Pujiastuti, seorang pengusaha sukses yang pada periode pertama masa kepemimpinan presiden Jokowi menjabat menteri kelautan dan perikanan yang kembali meningkatkan pamor komoditas cengkeh di pulau Simeulue. Ini terjadi pada tahun 2007. Kala itu, belenggu tengkulak di pulau Simeulue membikin harga cengkeh jatuh di pasaran, jauh lebih kecil dibandingkan dengan harga komoditas ini di wilayah lain di negeri ini. Sebagai perbandingan, harga cengkeh di wilayah lain, pada periode 2000an kembali mencapai titik tertingginya dengan harga beli di tingkat petani mencapai Rp100.000 per kilogram bahkan lebih, sedang di Simeulue, harga cengkeh maksimal berada di titik Rp30.000 saja per kilogramnya, bahkan di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan di pulau Simeulue, harga cengkeh jauh di bawah Rp30.000 per kilogram.<\/p>\n\n\n\n Berdasarkan informasi yang saya dapat dari banyak petani cengkeh di pulau Simeulue, pada 2007, untuk memutus rantai tengkulak, Bu Susi memborong cengkeh di pulau Simeulue dengan harga Rp100.000 per kilogram, mengikuti harga yang ditetapkan di pasar nasional. Rantai jahat tengkulak berhasil diputus. Dan sejak saat itu hingga kini, harga cengkeh di pulau Simeulue mengikuti harga pasar nasional, pertanian cengkeh kembali menggeliat di sana berkat peran nyata Bu Susi. Mulanya saya kurang percaya dengan informasi ini, namun, puluhan petani yang saya temui di Simeulue, juga pejabat di dinas perkebunan di pulau Simeulue, mengamini apa yang dilakukan Bu Susi terhadap komoditas cengkeh di sana.<\/p>\n\n\n\n Kembali bergeliatnya komoditas cengkeh di negeri ini usai diberangusnya BPPC pasca reformasi, tak lepas dari berjayanya industri rokok kretek dalam negeri. Rokok kretek berhasil menguasai lebih 90 persen pasar rokok nasional hingga hari ini. Dengan cengkeh sebagai salah satu bahan baku utama sekaligus bahan baku kunci rokok kretek, cengkeh menjadi komoditas yang menjanjikan dan menguntungkan petani.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, kejayaan petani cengkeh ini terancam dengan keberadaan gerakan antirokok dan kepentingan bisnis global yang berusaha merebut pasar rokok yang begitu menjanjikan di negeri ini. Sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar kedua di dunia di bawah China, Indonesia tentu saja menjadi bidikan serius kapitalisme global di bidang rokok dan farmasi. Merasa gagal bersaing secara sehat dengan produk rokok kretek, mereka kini terus-menerus berusaha menghancurkan keberadaan rokok kretek lewat regulasi yang dibikin semena-mena dan tidak adil dalam wujud Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). <\/p>\n\n\n\n Salah satu pasal penting dalam FCTC, adalah pengharaman keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok yang beredar di pasaran. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, dan menerapkannya dalam peraturan usaha rokok di Indonesia, maka mau tidak mau, setiap produksi rokok yang ada di Indonesia tidak boleh mengandung cengkeh secuil pun. Ini artinya, tidak akan ada lagi produk rokok kretek yang diproduksi pabrikan-pabrikan rokok dalam negeri. Kretek hilang, dan komoditas cengkeh kembali menjadi semenjana.<\/p>\n\n\n\n Kondisi menuju peniadaan rokok kretek dan penghancuran pertanian cengkeh lewat ratifikasi FCTC ini sepertinya kian terang di negeri ini. Adalah Sri Mulyani, yang kini menjabat menteri keuangan di Indonesia yang mengambil peran besar dalam usaha peniadaan produk rokok kretek dan penghancuran cengkeh di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum, salah satu pemain utama dalam usaha menekan agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC adalah Bloomberg Initiatives. Dan Sri Mulyani, ada di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n Belum lama ini, di New York, Sri Mulyani juga sudah mengadakan pertemuan intensif dengan Bloomberg. Kado manis dari Sri Mulyani dengan menaikkan cukai rokok besar-besaran di negeri ini sudah diberikan kepada Bloomberg. Jika tidak dihalangi dengan gencar oleh seluruh stakeholder industri rokok di negeri ini, bukan tak mungkin kado istimewa lain dari Sri Mulyani kepada Bloomberg akan kembali diberikan, ratifikasi FCTC oleh pemerintah Indonesia. Rokok kretek mesti hilang dari pasar dalam negeri, dan petani cengkeh kembali merana. PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi, bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n Dari keempat agenda Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS. Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro! Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n *** Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6465,"post_author":"878","post_date":"2020-02-21 08:17:35","post_date_gmt":"2020-02-21 01:17:35","post_content":"\n Sekira tiga tahun lalu, saya berkesempatan berkunjung ke pulau Simeulue di provinsi Aceh. Kunjungan saya ke pulau yang terkenal dengan hasil lobsternya ini adalah untuk bertemu dengan petani cengkeh. Selain dikenal dengan hasil lautnya terutama lobster, pulau Simeulue juga dikenal sebagai penghasil cengkeh terbesar di Aceh. Keberadaan cengkeh di Simeulue seusia dengan keberadaan penjajah kolonial di sana yang menginisiasi penanaman cengkeh guna mengembalikan modal perang penjajah kolonial yang mengeluarkan banyak biaya selama perang penaklukan Aceh yang terkenal itu.<\/p>\n\n\n\n Selama penelitian bertemu dengan puluhan petani cengkeh di Simeulue, ada tiga temuan menarik yang saya dapat hasil berbincang-bincang dengan banyak narasumber yang saya jumpai di sana. Dua temuan menarik terkait langsung dengan cengkeh, dan satu temuan lainnya tak ada kaitannya dengan cengkeh, lebih kepada bagaimana penduduk Simeulue berhasil menyelamatkan diri usai gempa besar dan tsunami melanda pulau tersebut pada akhir tahun 2004.<\/p>\n\n\n\n Pada periode 70an, ketika cengkeh kembali berjaya di pasaran dalam negeri, sejalan dengan menggeliatnya industri rokok kretek di Indonesia yang mulai menguasai pasar dalam negeri mengalahkan rokok putih yang sebelumnya menjadi promadona di Indonesia, masyarakat Simeulue kembali menanam cengkeh di perbukitan yang ada di wilayah mereka. Kondisi geografis pulau Simeulue yang berbukit-bukit dan dekat dengan laut memang mirip dengan kondisi geografis tempat pohon cengkeh awalnya berasal. Kondisi ini membikin cengkeh sangat cocok ditanam di pulau Simeulue dan tumbuh subur di sana.<\/p>\n\n\n\n Menyadari potensi cengkeh yang sangat menjanjikan, pada periode 70an, pejabat yang memimpin pulau Simeulue mengeluarkan peraturan yang tidak lazim. Ia mengeluarkan aturan bahwa seorang pemuda yang hendak menikah wajib menanam minimal 25 batang pohon cengkeh sebelum Ia menikah. Jika tidak menanam cengkeh, pemerintah lewat lembaga keagamaan daerah tidak akan menikahkan pemuda tersebut. Kebijakan ini berjalan terus hingga akhirnya bisnis cengkeh hancur berantakan pada periode 90an usai keberadaan BPPC yang diinisasi Orde Baru. Kebijakan yang mewajibkan penanaman pohon cengkeh bagi pemuda yang hendak menikah ini membikin pulau Simeulue hingga saat ini didominasi tanaman cengkeh di luar komoditas lain semisal kemiri, pala, dan sawit yang kini mulai ditanam massal di Simeulue.<\/p>\n\n\n\n Selepas kehancuran komoditas cengkeh usai keberadaan BPPC di periode 90an, cengkeh kembali bangkit usai reformasi bergulir di negeri ini. Meski begitu, komoditas cengkeh di pulau Simeulue terlambat bangkit dibanding di daerah-daerah lainnya yang menghasilkan cengkeh di negeri ini. Hingga tsunami menggulung beberapa wilayah di Aceh, termasuk pulau Simeulue, komoditas cengkeh masih medioker di Simeulue, berbeda dengan wilayah lain di Indonesia yang usaha pertanian cengkehnya kembali bergeliat dengan harga yang sangat menguntungkan.<\/p>\n\n\n\n Adalah Susi Pujiastuti, seorang pengusaha sukses yang pada periode pertama masa kepemimpinan presiden Jokowi menjabat menteri kelautan dan perikanan yang kembali meningkatkan pamor komoditas cengkeh di pulau Simeulue. Ini terjadi pada tahun 2007. Kala itu, belenggu tengkulak di pulau Simeulue membikin harga cengkeh jatuh di pasaran, jauh lebih kecil dibandingkan dengan harga komoditas ini di wilayah lain di negeri ini. Sebagai perbandingan, harga cengkeh di wilayah lain, pada periode 2000an kembali mencapai titik tertingginya dengan harga beli di tingkat petani mencapai Rp100.000 per kilogram bahkan lebih, sedang di Simeulue, harga cengkeh maksimal berada di titik Rp30.000 saja per kilogramnya, bahkan di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan di pulau Simeulue, harga cengkeh jauh di bawah Rp30.000 per kilogram.<\/p>\n\n\n\n Berdasarkan informasi yang saya dapat dari banyak petani cengkeh di pulau Simeulue, pada 2007, untuk memutus rantai tengkulak, Bu Susi memborong cengkeh di pulau Simeulue dengan harga Rp100.000 per kilogram, mengikuti harga yang ditetapkan di pasar nasional. Rantai jahat tengkulak berhasil diputus. Dan sejak saat itu hingga kini, harga cengkeh di pulau Simeulue mengikuti harga pasar nasional, pertanian cengkeh kembali menggeliat di sana berkat peran nyata Bu Susi. Mulanya saya kurang percaya dengan informasi ini, namun, puluhan petani yang saya temui di Simeulue, juga pejabat di dinas perkebunan di pulau Simeulue, mengamini apa yang dilakukan Bu Susi terhadap komoditas cengkeh di sana.<\/p>\n\n\n\n Kembali bergeliatnya komoditas cengkeh di negeri ini usai diberangusnya BPPC pasca reformasi, tak lepas dari berjayanya industri rokok kretek dalam negeri. Rokok kretek berhasil menguasai lebih 90 persen pasar rokok nasional hingga hari ini. Dengan cengkeh sebagai salah satu bahan baku utama sekaligus bahan baku kunci rokok kretek, cengkeh menjadi komoditas yang menjanjikan dan menguntungkan petani.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, kejayaan petani cengkeh ini terancam dengan keberadaan gerakan antirokok dan kepentingan bisnis global yang berusaha merebut pasar rokok yang begitu menjanjikan di negeri ini. Sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar kedua di dunia di bawah China, Indonesia tentu saja menjadi bidikan serius kapitalisme global di bidang rokok dan farmasi. Merasa gagal bersaing secara sehat dengan produk rokok kretek, mereka kini terus-menerus berusaha menghancurkan keberadaan rokok kretek lewat regulasi yang dibikin semena-mena dan tidak adil dalam wujud Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). <\/p>\n\n\n\n Salah satu pasal penting dalam FCTC, adalah pengharaman keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok yang beredar di pasaran. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, dan menerapkannya dalam peraturan usaha rokok di Indonesia, maka mau tidak mau, setiap produksi rokok yang ada di Indonesia tidak boleh mengandung cengkeh secuil pun. Ini artinya, tidak akan ada lagi produk rokok kretek yang diproduksi pabrikan-pabrikan rokok dalam negeri. Kretek hilang, dan komoditas cengkeh kembali menjadi semenjana.<\/p>\n\n\n\n Kondisi menuju peniadaan rokok kretek dan penghancuran pertanian cengkeh lewat ratifikasi FCTC ini sepertinya kian terang di negeri ini. Adalah Sri Mulyani, yang kini menjabat menteri keuangan di Indonesia yang mengambil peran besar dalam usaha peniadaan produk rokok kretek dan penghancuran cengkeh di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum, salah satu pemain utama dalam usaha menekan agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC adalah Bloomberg Initiatives. Dan Sri Mulyani, ada di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n Belum lama ini, di New York, Sri Mulyani juga sudah mengadakan pertemuan intensif dengan Bloomberg. Kado manis dari Sri Mulyani dengan menaikkan cukai rokok besar-besaran di negeri ini sudah diberikan kepada Bloomberg. Jika tidak dihalangi dengan gencar oleh seluruh stakeholder industri rokok di negeri ini, bukan tak mungkin kado istimewa lain dari Sri Mulyani kepada Bloomberg akan kembali diberikan, ratifikasi FCTC oleh pemerintah Indonesia. Rokok kretek mesti hilang dari pasar dalam negeri, dan petani cengkeh kembali merana. PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi, bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n Dari keempat agenda Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS. Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n
\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)
\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:
\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.
\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.
\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.
\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.
\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.
\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.
\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.
\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.
\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.
\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.
\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.
\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.
\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n
\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)
\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:
\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.
\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.
\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.
\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.
\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.
\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.
\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.
\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.
\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.
\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.
\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.
\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.
\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n
\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)
\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:
\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.
\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.
\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.
\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.
\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.
\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.
\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.
\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.
\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.
\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.
\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.
\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.
\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n
\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)
\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:
\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.
\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.
\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.
\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.
\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.
\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.
\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.
\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.
\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.
\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.
\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.
\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.
\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n
\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)
\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:
\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.
\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.
\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.
\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.
\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.
\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.
\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.
\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.
\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.
\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.
\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.
\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.
\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n
\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)
\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:
\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.
\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.
\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.
\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.
\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.
\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.
\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.
\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.
\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.
\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.
\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.
\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.
\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};Proxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n
\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)
\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:
\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.
\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.
\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.
\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.
\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.
\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.
\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.
\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.
\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.
\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.
\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.
\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.
\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};Proxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n
\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)
\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:
\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.
\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.
\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.
\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.
\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.
\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.
\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.
\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.
\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.
\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.
\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.
\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.
\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};Proxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n
\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)
\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:
\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.
\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.
\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.
\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.
\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.
\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.
\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.
\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.
\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.
\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.
\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.
\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.
\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Susi Pujiastuti, Sri Mulyani, dan Perlakuan Mereka Terhadap Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"susi-pujiastuti-sri-mulyani-dan-perlakuan-mereka-terhadap-komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-21 08:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-21 01:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6465","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\nProxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n
\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)
\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:
\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.
\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.
\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.
\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.
\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.
\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.
\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.
\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.
\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.
\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.
\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.
\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.
\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Susi Pujiastuti, Sri Mulyani, dan Perlakuan Mereka Terhadap Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"susi-pujiastuti-sri-mulyani-dan-perlakuan-mereka-terhadap-komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-21 08:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-21 01:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6465","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\nProxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n
\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)
\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:
\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.
\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.
\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.
\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.
\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.
\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.
\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.
\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.
\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.
\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.
\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.
\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.
\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Susi Pujiastuti, Sri Mulyani, dan Perlakuan Mereka Terhadap Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"susi-pujiastuti-sri-mulyani-dan-perlakuan-mereka-terhadap-komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-21 08:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-21 01:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6465","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\nProxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n
\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)
\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:
\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.
\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.
\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.
\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.
\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.
\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.
\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.
\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.
\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.
\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.
\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.
\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.
\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Susi Pujiastuti, Sri Mulyani, dan Perlakuan Mereka Terhadap Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"susi-pujiastuti-sri-mulyani-dan-perlakuan-mereka-terhadap-komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-21 08:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-21 01:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6465","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\nProxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n
\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)
\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:
\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.
\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.
\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.
\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.
\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.
\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.
\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.
\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.
\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.
\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.
\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.
\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.
\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Susi Pujiastuti, Sri Mulyani, dan Perlakuan Mereka Terhadap Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"susi-pujiastuti-sri-mulyani-dan-perlakuan-mereka-terhadap-komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-21 08:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-21 01:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6465","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\nProxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n
\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)
\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:
\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.
\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.
\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.
\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.
\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.
\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.
\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.
\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.
\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.
\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.
\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.
\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.
\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Susi Pujiastuti, Sri Mulyani, dan Perlakuan Mereka Terhadap Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"susi-pujiastuti-sri-mulyani-dan-perlakuan-mereka-terhadap-komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-21 08:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-21 01:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6465","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\nProxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n
\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)
\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:
\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.
\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.
\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.
\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.
\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.
\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.
\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.
\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.
\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.
\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.
\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.
\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.
\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Susi Pujiastuti, Sri Mulyani, dan Perlakuan Mereka Terhadap Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"susi-pujiastuti-sri-mulyani-dan-perlakuan-mereka-terhadap-komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-21 08:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-21 01:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6465","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\nProxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n
\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)
\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:
\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.
\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.
\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.
\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.
\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.
\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.
\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.
\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.
\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.
\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.
\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.
\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.
\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Susi Pujiastuti, Sri Mulyani, dan Perlakuan Mereka Terhadap Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"susi-pujiastuti-sri-mulyani-dan-perlakuan-mereka-terhadap-komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-21 08:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-21 01:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6465","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\nProxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n
\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)
\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:
\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.
\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.
\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.
\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.
\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.
\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.
\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.
\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.
\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.
\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.
\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.
\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.
\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Susi Pujiastuti, Sri Mulyani, dan Perlakuan Mereka Terhadap Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"susi-pujiastuti-sri-mulyani-dan-perlakuan-mereka-terhadap-komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-21 08:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-21 01:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6465","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\nProxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n
\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)
\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:
\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.
\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.
\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.
\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.
\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.
\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.
\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.
\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.
\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.
\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.
\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.
\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.
\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Susi Pujiastuti, Sri Mulyani, dan Perlakuan Mereka Terhadap Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"susi-pujiastuti-sri-mulyani-dan-perlakuan-mereka-terhadap-komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-21 08:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-21 01:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6465","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\nProxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n
\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)
\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:
\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.
\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.
\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.
\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.
\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.
\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.
\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.
\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.
\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.
\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.
\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.
\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.
\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Susi Pujiastuti, Sri Mulyani, dan Perlakuan Mereka Terhadap Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"susi-pujiastuti-sri-mulyani-dan-perlakuan-mereka-terhadap-komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-21 08:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-21 01:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6465","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\nProxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n
\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)
\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:
\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.
\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.
\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.
\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.
\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.
\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.
\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.
\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.
\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.
\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.
\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.
\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.
\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Susi Pujiastuti, Sri Mulyani, dan Perlakuan Mereka Terhadap Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"susi-pujiastuti-sri-mulyani-dan-perlakuan-mereka-terhadap-komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-21 08:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-21 01:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6465","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\nProxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n
\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)
\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:
\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.
\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.
\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.
\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.
\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.
\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.
\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.
\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.
\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.
\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.
\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.
\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.
\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Susi Pujiastuti, Sri Mulyani, dan Perlakuan Mereka Terhadap Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"susi-pujiastuti-sri-mulyani-dan-perlakuan-mereka-terhadap-komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-21 08:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-21 01:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6465","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\nProxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n
\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)
\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:
\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.
\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.
\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.
\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.
\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.
\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.
\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.
\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.
\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.
\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.
\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.
\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.
\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Susi Pujiastuti, Sri Mulyani, dan Perlakuan Mereka Terhadap Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"susi-pujiastuti-sri-mulyani-dan-perlakuan-mereka-terhadap-komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-21 08:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-21 01:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6465","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\nProxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n
\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)
\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:
\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.
\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.
\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.
\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.
\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.
\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.
\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.
\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.
\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.
\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.
\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.
\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.
\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Susi Pujiastuti, Sri Mulyani, dan Perlakuan Mereka Terhadap Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"susi-pujiastuti-sri-mulyani-dan-perlakuan-mereka-terhadap-komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-21 08:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-21 01:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6465","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\nProxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n
\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)
\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:
\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.
\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.
\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.
\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.
\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.
\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.
\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.
\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.
\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.
\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.
\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.
\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.
\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Susi Pujiastuti, Sri Mulyani, dan Perlakuan Mereka Terhadap Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"susi-pujiastuti-sri-mulyani-dan-perlakuan-mereka-terhadap-komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-21 08:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-21 01:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6465","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\nProxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n
\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)
\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:
\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.
\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.
\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.
\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.
\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.
\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.
\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.
\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.
\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.
\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.
\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.
\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.
\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Susi Pujiastuti, Sri Mulyani, dan Perlakuan Mereka Terhadap Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"susi-pujiastuti-sri-mulyani-dan-perlakuan-mereka-terhadap-komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-21 08:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-21 01:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6465","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\nProxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n
\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)
\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:
\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.
\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.
\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.
\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.
\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.
\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.
\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.
\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.
\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.
\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.
\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.
\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.
\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Susi Pujiastuti, Sri Mulyani, dan Perlakuan Mereka Terhadap Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"susi-pujiastuti-sri-mulyani-dan-perlakuan-mereka-terhadap-komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-21 08:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-21 01:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6465","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\nProxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n
\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)
\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:
\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.
\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.
\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.
\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.
\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.
\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.
\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.
\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.
\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.
\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.
\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.
\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.
\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Susi Pujiastuti, Sri Mulyani, dan Perlakuan Mereka Terhadap Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"susi-pujiastuti-sri-mulyani-dan-perlakuan-mereka-terhadap-komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-21 08:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-21 01:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6465","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\nProxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n
\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)
\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:
\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.
\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.
\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.
\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.
\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.
\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.
\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.
\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.
\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.
\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.
\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.
\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.
\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Susi Pujiastuti, Sri Mulyani, dan Perlakuan Mereka Terhadap Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"susi-pujiastuti-sri-mulyani-dan-perlakuan-mereka-terhadap-komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-21 08:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-21 01:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6465","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\nProxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n
\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)
\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:
\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.
\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.
\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.
\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.
\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.
\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.
\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.
\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.
\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.
\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.
\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.
\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.
\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Susi Pujiastuti, Sri Mulyani, dan Perlakuan Mereka Terhadap Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"susi-pujiastuti-sri-mulyani-dan-perlakuan-mereka-terhadap-komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-21 08:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-21 01:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6465","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\nProxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n
\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)
\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:
\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.
\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.
\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.
\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.
\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.
\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.
\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.
\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.
\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.
\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.
\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.
\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.
\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Susi Pujiastuti, Sri Mulyani, dan Perlakuan Mereka Terhadap Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"susi-pujiastuti-sri-mulyani-dan-perlakuan-mereka-terhadap-komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-21 08:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-21 01:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6465","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\nProxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n
\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)
\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:
\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.
\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.
\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.
\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.
\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.
\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.
\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.
\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.
\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.
\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.
\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.
\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.
\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};