Varietas yang paling terkenal di antaranya, Ampenan, Kasturi dan Escort. Tembakau ini cocok sekali dinikmati oleh mereka yang mencintai rokok-rokok mild.<\/p>\n\n\n\n
Beberapa varietas tembakau tersebut yang biasanya paling digemari oleh pecinta rokok linting. Kalau kamu suka tembakau apa?<\/p>\n\n\n\n
Lombok selain menyimpan keindahan alam yang indah ternyata juga menyimpan varietas tembakau yang cocok dinikmati masayarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Varietas yang paling terkenal di antaranya, Ampenan, Kasturi dan Escort. Tembakau ini cocok sekali dinikmati oleh mereka yang mencintai rokok-rokok mild.<\/p>\n\n\n\n
Beberapa varietas tembakau tersebut yang biasanya paling digemari oleh pecinta rokok linting. Kalau kamu suka tembakau apa?<\/p>\n\n\n\n Lombok selain menyimpan keindahan alam yang indah ternyata juga menyimpan varietas tembakau yang cocok dinikmati masayarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Varietas yang paling terkenal di antaranya, Ampenan, Kasturi dan Escort. Tembakau ini cocok sekali dinikmati oleh mereka yang mencintai rokok-rokok mild.<\/p>\n\n\n\n Beberapa varietas tembakau tersebut yang biasanya paling digemari oleh pecinta rokok linting. Kalau kamu suka tembakau apa?<\/p>\n\n\n\n Lombok selain menyimpan keindahan alam yang indah ternyata juga menyimpan varietas tembakau yang cocok dinikmati masayarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Varietas yang paling terkenal di antaranya, Ampenan, Kasturi dan Escort. Tembakau ini cocok sekali dinikmati oleh mereka yang mencintai rokok-rokok mild.<\/p>\n\n\n\n Beberapa varietas tembakau tersebut yang biasanya paling digemari oleh pecinta rokok linting. Kalau kamu suka tembakau apa?<\/p>\n\n\n\n Dalam tradisi kretek, tembakau ini bertanggung jawab menjaga citarasa kretek.<\/p>\n\n\n\n Lombok selain menyimpan keindahan alam yang indah ternyata juga menyimpan varietas tembakau yang cocok dinikmati masayarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Varietas yang paling terkenal di antaranya, Ampenan, Kasturi dan Escort. Tembakau ini cocok sekali dinikmati oleh mereka yang mencintai rokok-rokok mild.<\/p>\n\n\n\n Beberapa varietas tembakau tersebut yang biasanya paling digemari oleh pecinta rokok linting. Kalau kamu suka tembakau apa?<\/p>\n\n\n\n Dalam perkembangannya, tembakau kemlaka mendapat tempat khusus di hati para pecinta rokok linting, khususnya mereka yang menyukai sensasi isap berat dan ampeg.<\/p>\n\n\n\n Dalam tradisi kretek, tembakau ini bertanggung jawab menjaga citarasa kretek.<\/p>\n\n\n\n Lombok selain menyimpan keindahan alam yang indah ternyata juga menyimpan varietas tembakau yang cocok dinikmati masayarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Varietas yang paling terkenal di antaranya, Ampenan, Kasturi dan Escort. Tembakau ini cocok sekali dinikmati oleh mereka yang mencintai rokok-rokok mild.<\/p>\n\n\n\n Beberapa varietas tembakau tersebut yang biasanya paling digemari oleh pecinta rokok linting. Kalau kamu suka tembakau apa?<\/p>\n\n\n\n April 2018, Dinas Pertanian dan Kehutanan Pangan Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah sempat mengimbau para petani untuk menanam tembakau varietas kemlaka. Hal ini, selain tembakau kelmalaka lebih tahan terhadap penyakit dan hama, tembakau kemlaka diminati pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n Dalam perkembangannya, tembakau kemlaka mendapat tempat khusus di hati para pecinta rokok linting, khususnya mereka yang menyukai sensasi isap berat dan ampeg.<\/p>\n\n\n\n Dalam tradisi kretek, tembakau ini bertanggung jawab menjaga citarasa kretek.<\/p>\n\n\n\n Lombok selain menyimpan keindahan alam yang indah ternyata juga menyimpan varietas tembakau yang cocok dinikmati masayarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Varietas yang paling terkenal di antaranya, Ampenan, Kasturi dan Escort. Tembakau ini cocok sekali dinikmati oleh mereka yang mencintai rokok-rokok mild.<\/p>\n\n\n\n Beberapa varietas tembakau tersebut yang biasanya paling digemari oleh pecinta rokok linting. Kalau kamu suka tembakau apa?<\/p>\n\n\n\n April 2018, Dinas Pertanian dan Kehutanan Pangan Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah sempat mengimbau para petani untuk menanam tembakau varietas kemlaka. Hal ini, selain tembakau kelmalaka lebih tahan terhadap penyakit dan hama, tembakau kemlaka diminati pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n Dalam perkembangannya, tembakau kemlaka mendapat tempat khusus di hati para pecinta rokok linting, khususnya mereka yang menyukai sensasi isap berat dan ampeg.<\/p>\n\n\n\n Dalam tradisi kretek, tembakau ini bertanggung jawab menjaga citarasa kretek.<\/p>\n\n\n\n Lombok selain menyimpan keindahan alam yang indah ternyata juga menyimpan varietas tembakau yang cocok dinikmati masayarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Varietas yang paling terkenal di antaranya, Ampenan, Kasturi dan Escort. Tembakau ini cocok sekali dinikmati oleh mereka yang mencintai rokok-rokok mild.<\/p>\n\n\n\n Beberapa varietas tembakau tersebut yang biasanya paling digemari oleh pecinta rokok linting. Kalau kamu suka tembakau apa?<\/p>\n\n\n\n April 2018, Dinas Pertanian dan Kehutanan Pangan Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah sempat mengimbau para petani untuk menanam tembakau varietas kemlaka. Hal ini, selain tembakau kelmalaka lebih tahan terhadap penyakit dan hama, tembakau kemlaka diminati pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n Dalam perkembangannya, tembakau kemlaka mendapat tempat khusus di hati para pecinta rokok linting, khususnya mereka yang menyukai sensasi isap berat dan ampeg.<\/p>\n\n\n\n Dalam tradisi kretek, tembakau ini bertanggung jawab menjaga citarasa kretek.<\/p>\n\n\n\n Lombok selain menyimpan keindahan alam yang indah ternyata juga menyimpan varietas tembakau yang cocok dinikmati masayarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Varietas yang paling terkenal di antaranya, Ampenan, Kasturi dan Escort. Tembakau ini cocok sekali dinikmati oleh mereka yang mencintai rokok-rokok mild.<\/p>\n\n\n\n Beberapa varietas tembakau tersebut yang biasanya paling digemari oleh pecinta rokok linting. Kalau kamu suka tembakau apa?<\/p>\n\n\n\n Selain itu, tanah ini ternyata menyimpan perkebunan tembakau yang kian masyhur namanya. Ya, tembakau gayo. Varietas tembkau yang punya warna segar dan aroma \u201csensasional\u201d ini makin digandrungi. Sensasi isapnya yang ringan dan tidak berat di dada menjadi alasan utama bagi para pelinting yang semula mencintai rokok-rokok aromatik.<\/p>\n\n\n\n April 2018, Dinas Pertanian dan Kehutanan Pangan Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah sempat mengimbau para petani untuk menanam tembakau varietas kemlaka. Hal ini, selain tembakau kelmalaka lebih tahan terhadap penyakit dan hama, tembakau kemlaka diminati pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n Dalam perkembangannya, tembakau kemlaka mendapat tempat khusus di hati para pecinta rokok linting, khususnya mereka yang menyukai sensasi isap berat dan ampeg.<\/p>\n\n\n\n Dalam tradisi kretek, tembakau ini bertanggung jawab menjaga citarasa kretek.<\/p>\n\n\n\n Lombok selain menyimpan keindahan alam yang indah ternyata juga menyimpan varietas tembakau yang cocok dinikmati masayarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Varietas yang paling terkenal di antaranya, Ampenan, Kasturi dan Escort. Tembakau ini cocok sekali dinikmati oleh mereka yang mencintai rokok-rokok mild.<\/p>\n\n\n\n Beberapa varietas tembakau tersebut yang biasanya paling digemari oleh pecinta rokok linting. Kalau kamu suka tembakau apa?<\/p>\n\n\n\n Dataran tinggi Gayo merupakan wilayah Kabupaten Aceh Tengah yang terkenal akan kopi gayo yang memiliki citaras yang unik bagi penikmat kopi arabika.<\/p>\n\n\n\n Selain itu, tanah ini ternyata menyimpan perkebunan tembakau yang kian masyhur namanya. Ya, tembakau gayo. Varietas tembkau yang punya warna segar dan aroma \u201csensasional\u201d ini makin digandrungi. Sensasi isapnya yang ringan dan tidak berat di dada menjadi alasan utama bagi para pelinting yang semula mencintai rokok-rokok aromatik.<\/p>\n\n\n\n April 2018, Dinas Pertanian dan Kehutanan Pangan Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah sempat mengimbau para petani untuk menanam tembakau varietas kemlaka. Hal ini, selain tembakau kelmalaka lebih tahan terhadap penyakit dan hama, tembakau kemlaka diminati pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n Dalam perkembangannya, tembakau kemlaka mendapat tempat khusus di hati para pecinta rokok linting, khususnya mereka yang menyukai sensasi isap berat dan ampeg.<\/p>\n\n\n\n Dalam tradisi kretek, tembakau ini bertanggung jawab menjaga citarasa kretek.<\/p>\n\n\n\n Lombok selain menyimpan keindahan alam yang indah ternyata juga menyimpan varietas tembakau yang cocok dinikmati masayarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Varietas yang paling terkenal di antaranya, Ampenan, Kasturi dan Escort. Tembakau ini cocok sekali dinikmati oleh mereka yang mencintai rokok-rokok mild.<\/p>\n\n\n\n Beberapa varietas tembakau tersebut yang biasanya paling digemari oleh pecinta rokok linting. Kalau kamu suka tembakau apa?<\/p>\n\n\n\n Dataran tinggi Gayo merupakan wilayah Kabupaten Aceh Tengah yang terkenal akan kopi gayo yang memiliki citaras yang unik bagi penikmat kopi arabika.<\/p>\n\n\n\n Selain itu, tanah ini ternyata menyimpan perkebunan tembakau yang kian masyhur namanya. Ya, tembakau gayo. Varietas tembkau yang punya warna segar dan aroma \u201csensasional\u201d ini makin digandrungi. Sensasi isapnya yang ringan dan tidak berat di dada menjadi alasan utama bagi para pelinting yang semula mencintai rokok-rokok aromatik.<\/p>\n\n\n\n April 2018, Dinas Pertanian dan Kehutanan Pangan Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah sempat mengimbau para petani untuk menanam tembakau varietas kemlaka. Hal ini, selain tembakau kelmalaka lebih tahan terhadap penyakit dan hama, tembakau kemlaka diminati pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n Dalam perkembangannya, tembakau kemlaka mendapat tempat khusus di hati para pecinta rokok linting, khususnya mereka yang menyukai sensasi isap berat dan ampeg.<\/p>\n\n\n\n Dalam tradisi kretek, tembakau ini bertanggung jawab menjaga citarasa kretek.<\/p>\n\n\n\n Lombok selain menyimpan keindahan alam yang indah ternyata juga menyimpan varietas tembakau yang cocok dinikmati masayarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Varietas yang paling terkenal di antaranya, Ampenan, Kasturi dan Escort. Tembakau ini cocok sekali dinikmati oleh mereka yang mencintai rokok-rokok mild.<\/p>\n\n\n\n Beberapa varietas tembakau tersebut yang biasanya paling digemari oleh pecinta rokok linting. Kalau kamu suka tembakau apa?<\/p>\n\n\n\n Dataran tinggi Gayo merupakan wilayah Kabupaten Aceh Tengah yang terkenal akan kopi gayo yang memiliki citaras yang unik bagi penikmat kopi arabika.<\/p>\n\n\n\n Selain itu, tanah ini ternyata menyimpan perkebunan tembakau yang kian masyhur namanya. Ya, tembakau gayo. Varietas tembkau yang punya warna segar dan aroma \u201csensasional\u201d ini makin digandrungi. Sensasi isapnya yang ringan dan tidak berat di dada menjadi alasan utama bagi para pelinting yang semula mencintai rokok-rokok aromatik.<\/p>\n\n\n\n April 2018, Dinas Pertanian dan Kehutanan Pangan Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah sempat mengimbau para petani untuk menanam tembakau varietas kemlaka. Hal ini, selain tembakau kelmalaka lebih tahan terhadap penyakit dan hama, tembakau kemlaka diminati pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n Dalam perkembangannya, tembakau kemlaka mendapat tempat khusus di hati para pecinta rokok linting, khususnya mereka yang menyukai sensasi isap berat dan ampeg.<\/p>\n\n\n\n Dalam tradisi kretek, tembakau ini bertanggung jawab menjaga citarasa kretek.<\/p>\n\n\n\n Lombok selain menyimpan keindahan alam yang indah ternyata juga menyimpan varietas tembakau yang cocok dinikmati masayarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Varietas yang paling terkenal di antaranya, Ampenan, Kasturi dan Escort. Tembakau ini cocok sekali dinikmati oleh mereka yang mencintai rokok-rokok mild.<\/p>\n\n\n\n Beberapa varietas tembakau tersebut yang biasanya paling digemari oleh pecinta rokok linting. Kalau kamu suka tembakau apa?<\/p>\n\n\n\n Tembakau yang banyak diminati masyarakat Indonesia bisa dilihat dari berat atau tidaknya ketika diisap. Tembakau varietas apa saja sih yang banyak diminati para penikmat rokok lintingan sendiri?<\/p>\n\n\n\n Dataran tinggi Gayo merupakan wilayah Kabupaten Aceh Tengah yang terkenal akan kopi gayo yang memiliki citaras yang unik bagi penikmat kopi arabika.<\/p>\n\n\n\n Selain itu, tanah ini ternyata menyimpan perkebunan tembakau yang kian masyhur namanya. Ya, tembakau gayo. Varietas tembkau yang punya warna segar dan aroma \u201csensasional\u201d ini makin digandrungi. Sensasi isapnya yang ringan dan tidak berat di dada menjadi alasan utama bagi para pelinting yang semula mencintai rokok-rokok aromatik.<\/p>\n\n\n\n April 2018, Dinas Pertanian dan Kehutanan Pangan Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah sempat mengimbau para petani untuk menanam tembakau varietas kemlaka. Hal ini, selain tembakau kelmalaka lebih tahan terhadap penyakit dan hama, tembakau kemlaka diminati pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n Dalam perkembangannya, tembakau kemlaka mendapat tempat khusus di hati para pecinta rokok linting, khususnya mereka yang menyukai sensasi isap berat dan ampeg.<\/p>\n\n\n\n Dalam tradisi kretek, tembakau ini bertanggung jawab menjaga citarasa kretek.<\/p>\n\n\n\n Lombok selain menyimpan keindahan alam yang indah ternyata juga menyimpan varietas tembakau yang cocok dinikmati masayarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Varietas yang paling terkenal di antaranya, Ampenan, Kasturi dan Escort. Tembakau ini cocok sekali dinikmati oleh mereka yang mencintai rokok-rokok mild.<\/p>\n\n\n\n Beberapa varietas tembakau tersebut yang biasanya paling digemari oleh pecinta rokok linting. Kalau kamu suka tembakau apa?<\/p>\n\n\n\n Tren tingwe (melingting sendiri) mulai naik. Semakin mudah ditemui di warung-warung kopi, para perokok yang mulai beralih ke produk lintingan sendiri. Hal ini mungkin salah satunya dilandasi oleh kenaikan cukai dan harga rokok yang sangat barbar dan tidak manusiawi.<\/p>\n\n\n\n Tembakau yang banyak diminati masyarakat Indonesia bisa dilihat dari berat atau tidaknya ketika diisap. Tembakau varietas apa saja sih yang banyak diminati para penikmat rokok lintingan sendiri?<\/p>\n\n\n\n Dataran tinggi Gayo merupakan wilayah Kabupaten Aceh Tengah yang terkenal akan kopi gayo yang memiliki citaras yang unik bagi penikmat kopi arabika.<\/p>\n\n\n\n Selain itu, tanah ini ternyata menyimpan perkebunan tembakau yang kian masyhur namanya. Ya, tembakau gayo. Varietas tembkau yang punya warna segar dan aroma \u201csensasional\u201d ini makin digandrungi. Sensasi isapnya yang ringan dan tidak berat di dada menjadi alasan utama bagi para pelinting yang semula mencintai rokok-rokok aromatik.<\/p>\n\n\n\n April 2018, Dinas Pertanian dan Kehutanan Pangan Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah sempat mengimbau para petani untuk menanam tembakau varietas kemlaka. Hal ini, selain tembakau kelmalaka lebih tahan terhadap penyakit dan hama, tembakau kemlaka diminati pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n Dalam perkembangannya, tembakau kemlaka mendapat tempat khusus di hati para pecinta rokok linting, khususnya mereka yang menyukai sensasi isap berat dan ampeg.<\/p>\n\n\n\n Dalam tradisi kretek, tembakau ini bertanggung jawab menjaga citarasa kretek.<\/p>\n\n\n\n Lombok selain menyimpan keindahan alam yang indah ternyata juga menyimpan varietas tembakau yang cocok dinikmati masayarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Varietas yang paling terkenal di antaranya, Ampenan, Kasturi dan Escort. Tembakau ini cocok sekali dinikmati oleh mereka yang mencintai rokok-rokok mild.<\/p>\n\n\n\n Beberapa varietas tembakau tersebut yang biasanya paling digemari oleh pecinta rokok linting. Kalau kamu suka tembakau apa?<\/p>\n\n\n\n Logika lain, jika rokok kretek filter penyumbang kemiskinan kedua setelah beras, dan harus ditinggalkan dengan dalih supaya masyarakat tidak miskin. Berarti komoditas dan kebutuhan yang lain, terutama beras yang paling besar sumbangannya terhadap kemiskinan\u00a0 harus ditinggalkan, agar masyarakat lebih sejahtera?. Pastinya hal tersebut bukan solusi yang baik. Masak kebutuhan pokok ditinggalkan. Disinilah Pemerintah harus mengambil kebijakan yang solutif agar masyarakat tetap bisa memenuhi kebutuhan pokoknya dan tetap sejahtera.\u00a0\u00a0 Jadi rokok kretek asli Indonesia tak hanya menyumbang kas negara, tetapi juga bermanfaat bagi tubuh manusia. Jika ada informasi bahwa rokok penyumbang kemiskinan kedua setelah beras, jangan ditelan mentah-mentah, harus ditelusuri dahulu minimal dilihat akar penyebabnya, jangan asal menjustis. Tadi sudah dijelasin di atas ya. Asal tahu aja, kalau masyarakat dilarang merokok rokok kretek filter sebenarnya yang paling rugi itu pemerintah, pendapatan kas Negara akan berkurang. Perusahaan rokok kretek bisa beralih ke profisi lain, sedangkan hasil pertanian tembakau dan cengkeh tetap akan dikonsumsi masyarakat dengan melinting sendiri \u201cTingwe\u201d. <\/p>\n\n\n\n Logika lain, jika rokok kretek filter penyumbang kemiskinan kedua setelah beras, dan harus ditinggalkan dengan dalih supaya masyarakat tidak miskin. Berarti komoditas dan kebutuhan yang lain, terutama beras yang paling besar sumbangannya terhadap kemiskinan\u00a0 harus ditinggalkan, agar masyarakat lebih sejahtera?. Pastinya hal tersebut bukan solusi yang baik. Masak kebutuhan pokok ditinggalkan. Disinilah Pemerintah harus mengambil kebijakan yang solutif agar masyarakat tetap bisa memenuhi kebutuhan pokoknya dan tetap sejahtera.\u00a0\u00a0 Data Susenas tersebut seharusnya menjadi pertimbangan pemerintah dalam rangka pengentasan kemiskinan. Artinya pemerintah harusnya berupaya agar harga komuditas dan kebutuhan disesuai daya beli masyarakat. Ambil contoh pajak cukai rokok khususnya kretek filter jangan terlalu tinggi. Merokok kretek filter dan non filter sudah menjadi tradisi masyarakat Nusantara sudah ratusan tahun. Apalagi meracik rokok menjadi salah satu warisan nenek moyang. Tak berhenti disitu, aktifitas merokok tidak hanya sebuah tradisi tanpa makna. Merokok sebagai media relaksasi, rekreasi bahkan sampai sebagai media pengobatan. Jika menengok sejarah adanya rokok kretek khas Indonesia, dahulu kali pertama muncul rokok kretek untuk mengobati sakit bengek. Selanjutnya banyak riset yang mengatakan bahwa konten atau bahan dasar rokok kretek sangat dibutuhkan tubuh manusis. Hasil riset ini silahkan dibaca lagi pada tulisan terdahulu yang telah diterbitkan pada web boleh merokok yang berjudul \u201cTernyata Tubuh Manusia Membutuhkan Zat Yang Terkandung Dalam Sebatang Rokok Kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n Jadi rokok kretek asli Indonesia tak hanya menyumbang kas negara, tetapi juga bermanfaat bagi tubuh manusia. Jika ada informasi bahwa rokok penyumbang kemiskinan kedua setelah beras, jangan ditelan mentah-mentah, harus ditelusuri dahulu minimal dilihat akar penyebabnya, jangan asal menjustis. Tadi sudah dijelasin di atas ya. Asal tahu aja, kalau masyarakat dilarang merokok rokok kretek filter sebenarnya yang paling rugi itu pemerintah, pendapatan kas Negara akan berkurang. Perusahaan rokok kretek bisa beralih ke profisi lain, sedangkan hasil pertanian tembakau dan cengkeh tetap akan dikonsumsi masyarakat dengan melinting sendiri \u201cTingwe\u201d. <\/p>\n\n\n\n Logika lain, jika rokok kretek filter penyumbang kemiskinan kedua setelah beras, dan harus ditinggalkan dengan dalih supaya masyarakat tidak miskin. Berarti komoditas dan kebutuhan yang lain, terutama beras yang paling besar sumbangannya terhadap kemiskinan\u00a0 harus ditinggalkan, agar masyarakat lebih sejahtera?. Pastinya hal tersebut bukan solusi yang baik. Masak kebutuhan pokok ditinggalkan. Disinilah Pemerintah harus mengambil kebijakan yang solutif agar masyarakat tetap bisa memenuhi kebutuhan pokoknya dan tetap sejahtera.\u00a0\u00a0 Baca: Tembakau yang Paling Laris di Pasar Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Data Susenas tersebut seharusnya menjadi pertimbangan pemerintah dalam rangka pengentasan kemiskinan. Artinya pemerintah harusnya berupaya agar harga komuditas dan kebutuhan disesuai daya beli masyarakat. Ambil contoh pajak cukai rokok khususnya kretek filter jangan terlalu tinggi. Merokok kretek filter dan non filter sudah menjadi tradisi masyarakat Nusantara sudah ratusan tahun. Apalagi meracik rokok menjadi salah satu warisan nenek moyang. Tak berhenti disitu, aktifitas merokok tidak hanya sebuah tradisi tanpa makna. Merokok sebagai media relaksasi, rekreasi bahkan sampai sebagai media pengobatan. Jika menengok sejarah adanya rokok kretek khas Indonesia, dahulu kali pertama muncul rokok kretek untuk mengobati sakit bengek. Selanjutnya banyak riset yang mengatakan bahwa konten atau bahan dasar rokok kretek sangat dibutuhkan tubuh manusis. Hasil riset ini silahkan dibaca lagi pada tulisan terdahulu yang telah diterbitkan pada web boleh merokok yang berjudul \u201cTernyata Tubuh Manusia Membutuhkan Zat Yang Terkandung Dalam Sebatang Rokok Kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n Jadi rokok kretek asli Indonesia tak hanya menyumbang kas negara, tetapi juga bermanfaat bagi tubuh manusia. Jika ada informasi bahwa rokok penyumbang kemiskinan kedua setelah beras, jangan ditelan mentah-mentah, harus ditelusuri dahulu minimal dilihat akar penyebabnya, jangan asal menjustis. Tadi sudah dijelasin di atas ya. Asal tahu aja, kalau masyarakat dilarang merokok rokok kretek filter sebenarnya yang paling rugi itu pemerintah, pendapatan kas Negara akan berkurang. Perusahaan rokok kretek bisa beralih ke profisi lain, sedangkan hasil pertanian tembakau dan cengkeh tetap akan dikonsumsi masyarakat dengan melinting sendiri \u201cTingwe\u201d. <\/p>\n\n\n\n Logika lain, jika rokok kretek filter penyumbang kemiskinan kedua setelah beras, dan harus ditinggalkan dengan dalih supaya masyarakat tidak miskin. Berarti komoditas dan kebutuhan yang lain, terutama beras yang paling besar sumbangannya terhadap kemiskinan\u00a0 harus ditinggalkan, agar masyarakat lebih sejahtera?. Pastinya hal tersebut bukan solusi yang baik. Masak kebutuhan pokok ditinggalkan. Disinilah Pemerintah harus mengambil kebijakan yang solutif agar masyarakat tetap bisa memenuhi kebutuhan pokoknya dan tetap sejahtera.\u00a0\u00a0 Pada tabel di atas, ada 13 item makanan dan 8 item non makanan penyumbang kemiskinan di Indonesia sesuai data Susenas. Dilihat per item penyumbang kemiskinan tersebut mayoritas menjadi kebutuhan primer masyarakat. Bahkan menjadi kebutuhan sehari-hari sebagai mahluk hidup butuh makan dan perlindungan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Tembakau yang Paling Laris di Pasar Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Data Susenas tersebut seharusnya menjadi pertimbangan pemerintah dalam rangka pengentasan kemiskinan. Artinya pemerintah harusnya berupaya agar harga komuditas dan kebutuhan disesuai daya beli masyarakat. Ambil contoh pajak cukai rokok khususnya kretek filter jangan terlalu tinggi. Merokok kretek filter dan non filter sudah menjadi tradisi masyarakat Nusantara sudah ratusan tahun. Apalagi meracik rokok menjadi salah satu warisan nenek moyang. Tak berhenti disitu, aktifitas merokok tidak hanya sebuah tradisi tanpa makna. Merokok sebagai media relaksasi, rekreasi bahkan sampai sebagai media pengobatan. Jika menengok sejarah adanya rokok kretek khas Indonesia, dahulu kali pertama muncul rokok kretek untuk mengobati sakit bengek. Selanjutnya banyak riset yang mengatakan bahwa konten atau bahan dasar rokok kretek sangat dibutuhkan tubuh manusis. Hasil riset ini silahkan dibaca lagi pada tulisan terdahulu yang telah diterbitkan pada web boleh merokok yang berjudul \u201cTernyata Tubuh Manusia Membutuhkan Zat Yang Terkandung Dalam Sebatang Rokok Kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n Jadi rokok kretek asli Indonesia tak hanya menyumbang kas negara, tetapi juga bermanfaat bagi tubuh manusia. Jika ada informasi bahwa rokok penyumbang kemiskinan kedua setelah beras, jangan ditelan mentah-mentah, harus ditelusuri dahulu minimal dilihat akar penyebabnya, jangan asal menjustis. Tadi sudah dijelasin di atas ya. Asal tahu aja, kalau masyarakat dilarang merokok rokok kretek filter sebenarnya yang paling rugi itu pemerintah, pendapatan kas Negara akan berkurang. Perusahaan rokok kretek bisa beralih ke profisi lain, sedangkan hasil pertanian tembakau dan cengkeh tetap akan dikonsumsi masyarakat dengan melinting sendiri \u201cTingwe\u201d. <\/p>\n\n\n\n Logika lain, jika rokok kretek filter penyumbang kemiskinan kedua setelah beras, dan harus ditinggalkan dengan dalih supaya masyarakat tidak miskin. Berarti komoditas dan kebutuhan yang lain, terutama beras yang paling besar sumbangannya terhadap kemiskinan\u00a0 harus ditinggalkan, agar masyarakat lebih sejahtera?. Pastinya hal tersebut bukan solusi yang baik. Masak kebutuhan pokok ditinggalkan. Disinilah Pemerintah harus mengambil kebijakan yang solutif agar masyarakat tetap bisa memenuhi kebutuhan pokoknya dan tetap sejahtera.\u00a0\u00a0 Pada tabel di atas, ada 13 item makanan dan 8 item non makanan penyumbang kemiskinan di Indonesia sesuai data Susenas. Dilihat per item penyumbang kemiskinan tersebut mayoritas menjadi kebutuhan primer masyarakat. Bahkan menjadi kebutuhan sehari-hari sebagai mahluk hidup butuh makan dan perlindungan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Tembakau yang Paling Laris di Pasar Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Data Susenas tersebut seharusnya menjadi pertimbangan pemerintah dalam rangka pengentasan kemiskinan. Artinya pemerintah harusnya berupaya agar harga komuditas dan kebutuhan disesuai daya beli masyarakat. Ambil contoh pajak cukai rokok khususnya kretek filter jangan terlalu tinggi. Merokok kretek filter dan non filter sudah menjadi tradisi masyarakat Nusantara sudah ratusan tahun. Apalagi meracik rokok menjadi salah satu warisan nenek moyang. Tak berhenti disitu, aktifitas merokok tidak hanya sebuah tradisi tanpa makna. Merokok sebagai media relaksasi, rekreasi bahkan sampai sebagai media pengobatan. Jika menengok sejarah adanya rokok kretek khas Indonesia, dahulu kali pertama muncul rokok kretek untuk mengobati sakit bengek. Selanjutnya banyak riset yang mengatakan bahwa konten atau bahan dasar rokok kretek sangat dibutuhkan tubuh manusis. Hasil riset ini silahkan dibaca lagi pada tulisan terdahulu yang telah diterbitkan pada web boleh merokok yang berjudul \u201cTernyata Tubuh Manusia Membutuhkan Zat Yang Terkandung Dalam Sebatang Rokok Kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n Jadi rokok kretek asli Indonesia tak hanya menyumbang kas negara, tetapi juga bermanfaat bagi tubuh manusia. Jika ada informasi bahwa rokok penyumbang kemiskinan kedua setelah beras, jangan ditelan mentah-mentah, harus ditelusuri dahulu minimal dilihat akar penyebabnya, jangan asal menjustis. Tadi sudah dijelasin di atas ya. Asal tahu aja, kalau masyarakat dilarang merokok rokok kretek filter sebenarnya yang paling rugi itu pemerintah, pendapatan kas Negara akan berkurang. Perusahaan rokok kretek bisa beralih ke profisi lain, sedangkan hasil pertanian tembakau dan cengkeh tetap akan dikonsumsi masyarakat dengan melinting sendiri \u201cTingwe\u201d. <\/p>\n\n\n\n Logika lain, jika rokok kretek filter penyumbang kemiskinan kedua setelah beras, dan harus ditinggalkan dengan dalih supaya masyarakat tidak miskin. Berarti komoditas dan kebutuhan yang lain, terutama beras yang paling besar sumbangannya terhadap kemiskinan\u00a0 harus ditinggalkan, agar masyarakat lebih sejahtera?. Pastinya hal tersebut bukan solusi yang baik. Masak kebutuhan pokok ditinggalkan. Disinilah Pemerintah harus mengambil kebijakan yang solutif agar masyarakat tetap bisa memenuhi kebutuhan pokoknya dan tetap sejahtera.\u00a0\u00a0 Dibawah ini, sajian data Sesenas supaya lebih mudah dan lebih jelas:<\/p>\n\n\n\n Pada tabel di atas, ada 13 item makanan dan 8 item non makanan penyumbang kemiskinan di Indonesia sesuai data Susenas. Dilihat per item penyumbang kemiskinan tersebut mayoritas menjadi kebutuhan primer masyarakat. Bahkan menjadi kebutuhan sehari-hari sebagai mahluk hidup butuh makan dan perlindungan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Tembakau yang Paling Laris di Pasar Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Data Susenas tersebut seharusnya menjadi pertimbangan pemerintah dalam rangka pengentasan kemiskinan. Artinya pemerintah harusnya berupaya agar harga komuditas dan kebutuhan disesuai daya beli masyarakat. Ambil contoh pajak cukai rokok khususnya kretek filter jangan terlalu tinggi. Merokok kretek filter dan non filter sudah menjadi tradisi masyarakat Nusantara sudah ratusan tahun. Apalagi meracik rokok menjadi salah satu warisan nenek moyang. Tak berhenti disitu, aktifitas merokok tidak hanya sebuah tradisi tanpa makna. Merokok sebagai media relaksasi, rekreasi bahkan sampai sebagai media pengobatan. Jika menengok sejarah adanya rokok kretek khas Indonesia, dahulu kali pertama muncul rokok kretek untuk mengobati sakit bengek. Selanjutnya banyak riset yang mengatakan bahwa konten atau bahan dasar rokok kretek sangat dibutuhkan tubuh manusis. Hasil riset ini silahkan dibaca lagi pada tulisan terdahulu yang telah diterbitkan pada web boleh merokok yang berjudul \u201cTernyata Tubuh Manusia Membutuhkan Zat Yang Terkandung Dalam Sebatang Rokok Kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n Jadi rokok kretek asli Indonesia tak hanya menyumbang kas negara, tetapi juga bermanfaat bagi tubuh manusia. Jika ada informasi bahwa rokok penyumbang kemiskinan kedua setelah beras, jangan ditelan mentah-mentah, harus ditelusuri dahulu minimal dilihat akar penyebabnya, jangan asal menjustis. Tadi sudah dijelasin di atas ya. Asal tahu aja, kalau masyarakat dilarang merokok rokok kretek filter sebenarnya yang paling rugi itu pemerintah, pendapatan kas Negara akan berkurang. Perusahaan rokok kretek bisa beralih ke profisi lain, sedangkan hasil pertanian tembakau dan cengkeh tetap akan dikonsumsi masyarakat dengan melinting sendiri \u201cTingwe\u201d. <\/p>\n\n\n\n Logika lain, jika rokok kretek filter penyumbang kemiskinan kedua setelah beras, dan harus ditinggalkan dengan dalih supaya masyarakat tidak miskin. Berarti komoditas dan kebutuhan yang lain, terutama beras yang paling besar sumbangannya terhadap kemiskinan\u00a0 harus ditinggalkan, agar masyarakat lebih sejahtera?. Pastinya hal tersebut bukan solusi yang baik. Masak kebutuhan pokok ditinggalkan. Disinilah Pemerintah harus mengambil kebijakan yang solutif agar masyarakat tetap bisa memenuhi kebutuhan pokoknya dan tetap sejahtera.\u00a0\u00a0 Sederhananya begini, penduduk di Indonesia ini banyakan mana yang merokok dan yang tidak merokok?. Jawaban pertanyaan ini harus clear<\/em> dulu. Pastinya jawaban sesuai fakta adalah banyak yang tidak merokok . Ya iyalah, penduduk di Indonesian ini kan jumlahnya didominasi kaum hawa dan mereka banyak yang tidak merokok. Belum lagi anak-anak, remaja yang masih sekolah belum boleh merokok sesuai aturan kebijakan pemerintah. Bahkan di kalangan kaum adam pun banyak yang tidak merokok, iya kan? Lalu logikanya gimana ya, perokok itu kaum minoritas tapi penyumbang kemiskinan nomor dua setelah beras. Mungkin begini penjelasannya, karena harga rokok terlalu mahal akibat pungutan pajak pemerintah berupa cukai terlalu gede. Jadi wajar kalau pengeluaran untuk rokok kretek filter ikut gede pula. Sebab pajak yang dipungut untuk rokok kretek filter paling gede dibanding rokok kretek non filter. Nah ketahuan, rokok menjadi penyumbang kemiskinan kedua setelah beras akibat dari pungutan pajak pemerintah terlalu tinggi, begitulah alurnya.<\/p>\n\n\n\n Dibawah ini, sajian data Sesenas supaya lebih mudah dan lebih jelas:<\/p>\n\n\n\n Pada tabel di atas, ada 13 item makanan dan 8 item non makanan penyumbang kemiskinan di Indonesia sesuai data Susenas. Dilihat per item penyumbang kemiskinan tersebut mayoritas menjadi kebutuhan primer masyarakat. Bahkan menjadi kebutuhan sehari-hari sebagai mahluk hidup butuh makan dan perlindungan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Tembakau yang Paling Laris di Pasar Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Data Susenas tersebut seharusnya menjadi pertimbangan pemerintah dalam rangka pengentasan kemiskinan. Artinya pemerintah harusnya berupaya agar harga komuditas dan kebutuhan disesuai daya beli masyarakat. Ambil contoh pajak cukai rokok khususnya kretek filter jangan terlalu tinggi. Merokok kretek filter dan non filter sudah menjadi tradisi masyarakat Nusantara sudah ratusan tahun. Apalagi meracik rokok menjadi salah satu warisan nenek moyang. Tak berhenti disitu, aktifitas merokok tidak hanya sebuah tradisi tanpa makna. Merokok sebagai media relaksasi, rekreasi bahkan sampai sebagai media pengobatan. Jika menengok sejarah adanya rokok kretek khas Indonesia, dahulu kali pertama muncul rokok kretek untuk mengobati sakit bengek. Selanjutnya banyak riset yang mengatakan bahwa konten atau bahan dasar rokok kretek sangat dibutuhkan tubuh manusis. Hasil riset ini silahkan dibaca lagi pada tulisan terdahulu yang telah diterbitkan pada web boleh merokok yang berjudul \u201cTernyata Tubuh Manusia Membutuhkan Zat Yang Terkandung Dalam Sebatang Rokok Kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n Jadi rokok kretek asli Indonesia tak hanya menyumbang kas negara, tetapi juga bermanfaat bagi tubuh manusia. Jika ada informasi bahwa rokok penyumbang kemiskinan kedua setelah beras, jangan ditelan mentah-mentah, harus ditelusuri dahulu minimal dilihat akar penyebabnya, jangan asal menjustis. Tadi sudah dijelasin di atas ya. Asal tahu aja, kalau masyarakat dilarang merokok rokok kretek filter sebenarnya yang paling rugi itu pemerintah, pendapatan kas Negara akan berkurang. Perusahaan rokok kretek bisa beralih ke profisi lain, sedangkan hasil pertanian tembakau dan cengkeh tetap akan dikonsumsi masyarakat dengan melinting sendiri \u201cTingwe\u201d. <\/p>\n\n\n\n Logika lain, jika rokok kretek filter penyumbang kemiskinan kedua setelah beras, dan harus ditinggalkan dengan dalih supaya masyarakat tidak miskin. Berarti komoditas dan kebutuhan yang lain, terutama beras yang paling besar sumbangannya terhadap kemiskinan\u00a0 harus ditinggalkan, agar masyarakat lebih sejahtera?. Pastinya hal tersebut bukan solusi yang baik. Masak kebutuhan pokok ditinggalkan. Disinilah Pemerintah harus mengambil kebijakan yang solutif agar masyarakat tetap bisa memenuhi kebutuhan pokoknya dan tetap sejahtera.\u00a0\u00a0 Baca: Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin<\/a><\/p>\n\n\n\n Sederhananya begini, penduduk di Indonesia ini banyakan mana yang merokok dan yang tidak merokok?. Jawaban pertanyaan ini harus clear<\/em> dulu. Pastinya jawaban sesuai fakta adalah banyak yang tidak merokok . Ya iyalah, penduduk di Indonesian ini kan jumlahnya didominasi kaum hawa dan mereka banyak yang tidak merokok. Belum lagi anak-anak, remaja yang masih sekolah belum boleh merokok sesuai aturan kebijakan pemerintah. Bahkan di kalangan kaum adam pun banyak yang tidak merokok, iya kan? Lalu logikanya gimana ya, perokok itu kaum minoritas tapi penyumbang kemiskinan nomor dua setelah beras. Mungkin begini penjelasannya, karena harga rokok terlalu mahal akibat pungutan pajak pemerintah berupa cukai terlalu gede. Jadi wajar kalau pengeluaran untuk rokok kretek filter ikut gede pula. Sebab pajak yang dipungut untuk rokok kretek filter paling gede dibanding rokok kretek non filter. Nah ketahuan, rokok menjadi penyumbang kemiskinan kedua setelah beras akibat dari pungutan pajak pemerintah terlalu tinggi, begitulah alurnya.<\/p>\n\n\n\n Dibawah ini, sajian data Sesenas supaya lebih mudah dan lebih jelas:<\/p>\n\n\n\n Pada tabel di atas, ada 13 item makanan dan 8 item non makanan penyumbang kemiskinan di Indonesia sesuai data Susenas. Dilihat per item penyumbang kemiskinan tersebut mayoritas menjadi kebutuhan primer masyarakat. Bahkan menjadi kebutuhan sehari-hari sebagai mahluk hidup butuh makan dan perlindungan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Tembakau yang Paling Laris di Pasar Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Data Susenas tersebut seharusnya menjadi pertimbangan pemerintah dalam rangka pengentasan kemiskinan. Artinya pemerintah harusnya berupaya agar harga komuditas dan kebutuhan disesuai daya beli masyarakat. Ambil contoh pajak cukai rokok khususnya kretek filter jangan terlalu tinggi. Merokok kretek filter dan non filter sudah menjadi tradisi masyarakat Nusantara sudah ratusan tahun. Apalagi meracik rokok menjadi salah satu warisan nenek moyang. Tak berhenti disitu, aktifitas merokok tidak hanya sebuah tradisi tanpa makna. Merokok sebagai media relaksasi, rekreasi bahkan sampai sebagai media pengobatan. Jika menengok sejarah adanya rokok kretek khas Indonesia, dahulu kali pertama muncul rokok kretek untuk mengobati sakit bengek. Selanjutnya banyak riset yang mengatakan bahwa konten atau bahan dasar rokok kretek sangat dibutuhkan tubuh manusis. Hasil riset ini silahkan dibaca lagi pada tulisan terdahulu yang telah diterbitkan pada web boleh merokok yang berjudul \u201cTernyata Tubuh Manusia Membutuhkan Zat Yang Terkandung Dalam Sebatang Rokok Kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n Jadi rokok kretek asli Indonesia tak hanya menyumbang kas negara, tetapi juga bermanfaat bagi tubuh manusia. Jika ada informasi bahwa rokok penyumbang kemiskinan kedua setelah beras, jangan ditelan mentah-mentah, harus ditelusuri dahulu minimal dilihat akar penyebabnya, jangan asal menjustis. Tadi sudah dijelasin di atas ya. Asal tahu aja, kalau masyarakat dilarang merokok rokok kretek filter sebenarnya yang paling rugi itu pemerintah, pendapatan kas Negara akan berkurang. Perusahaan rokok kretek bisa beralih ke profisi lain, sedangkan hasil pertanian tembakau dan cengkeh tetap akan dikonsumsi masyarakat dengan melinting sendiri \u201cTingwe\u201d. <\/p>\n\n\n\n Logika lain, jika rokok kretek filter penyumbang kemiskinan kedua setelah beras, dan harus ditinggalkan dengan dalih supaya masyarakat tidak miskin. Berarti komoditas dan kebutuhan yang lain, terutama beras yang paling besar sumbangannya terhadap kemiskinan\u00a0 harus ditinggalkan, agar masyarakat lebih sejahtera?. Pastinya hal tersebut bukan solusi yang baik. Masak kebutuhan pokok ditinggalkan. Disinilah Pemerintah harus mengambil kebijakan yang solutif agar masyarakat tetap bisa memenuhi kebutuhan pokoknya dan tetap sejahtera.\u00a0\u00a0 Seseorang ini tidak usah disebutkan namanya ya, sebab tak baik, ntar yang ada hanya perselisian dan pertengkaran. Karena ia ini kasihan menjadi salah satu korban dari ketidaktahuan, sayangnya ia tidak mau belajar dan cari tahu dahulu. Memang data Susenas dibuat seperti itu, sehingga banyak orang terjebak, bahkan di tahun-tahun sebelumnya ada salah satu pejabat Susenas membaca datanya pun demikian, dengan memojokkan rokok kretek akibatnya sesat dan menyesatkan banyak orang.<\/p>\n\n\n\n Baca: Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin<\/a><\/p>\n\n\n\n Sederhananya begini, penduduk di Indonesia ini banyakan mana yang merokok dan yang tidak merokok?. Jawaban pertanyaan ini harus clear<\/em> dulu. Pastinya jawaban sesuai fakta adalah banyak yang tidak merokok . Ya iyalah, penduduk di Indonesian ini kan jumlahnya didominasi kaum hawa dan mereka banyak yang tidak merokok. Belum lagi anak-anak, remaja yang masih sekolah belum boleh merokok sesuai aturan kebijakan pemerintah. Bahkan di kalangan kaum adam pun banyak yang tidak merokok, iya kan? Lalu logikanya gimana ya, perokok itu kaum minoritas tapi penyumbang kemiskinan nomor dua setelah beras. Mungkin begini penjelasannya, karena harga rokok terlalu mahal akibat pungutan pajak pemerintah berupa cukai terlalu gede. Jadi wajar kalau pengeluaran untuk rokok kretek filter ikut gede pula. Sebab pajak yang dipungut untuk rokok kretek filter paling gede dibanding rokok kretek non filter. Nah ketahuan, rokok menjadi penyumbang kemiskinan kedua setelah beras akibat dari pungutan pajak pemerintah terlalu tinggi, begitulah alurnya.<\/p>\n\n\n\n Dibawah ini, sajian data Sesenas supaya lebih mudah dan lebih jelas:<\/p>\n\n\n\n Pada tabel di atas, ada 13 item makanan dan 8 item non makanan penyumbang kemiskinan di Indonesia sesuai data Susenas. Dilihat per item penyumbang kemiskinan tersebut mayoritas menjadi kebutuhan primer masyarakat. Bahkan menjadi kebutuhan sehari-hari sebagai mahluk hidup butuh makan dan perlindungan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Tembakau yang Paling Laris di Pasar Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Data Susenas tersebut seharusnya menjadi pertimbangan pemerintah dalam rangka pengentasan kemiskinan. Artinya pemerintah harusnya berupaya agar harga komuditas dan kebutuhan disesuai daya beli masyarakat. Ambil contoh pajak cukai rokok khususnya kretek filter jangan terlalu tinggi. Merokok kretek filter dan non filter sudah menjadi tradisi masyarakat Nusantara sudah ratusan tahun. Apalagi meracik rokok menjadi salah satu warisan nenek moyang. Tak berhenti disitu, aktifitas merokok tidak hanya sebuah tradisi tanpa makna. Merokok sebagai media relaksasi, rekreasi bahkan sampai sebagai media pengobatan. Jika menengok sejarah adanya rokok kretek khas Indonesia, dahulu kali pertama muncul rokok kretek untuk mengobati sakit bengek. Selanjutnya banyak riset yang mengatakan bahwa konten atau bahan dasar rokok kretek sangat dibutuhkan tubuh manusis. Hasil riset ini silahkan dibaca lagi pada tulisan terdahulu yang telah diterbitkan pada web boleh merokok yang berjudul \u201cTernyata Tubuh Manusia Membutuhkan Zat Yang Terkandung Dalam Sebatang Rokok Kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n Jadi rokok kretek asli Indonesia tak hanya menyumbang kas negara, tetapi juga bermanfaat bagi tubuh manusia. Jika ada informasi bahwa rokok penyumbang kemiskinan kedua setelah beras, jangan ditelan mentah-mentah, harus ditelusuri dahulu minimal dilihat akar penyebabnya, jangan asal menjustis. Tadi sudah dijelasin di atas ya. Asal tahu aja, kalau masyarakat dilarang merokok rokok kretek filter sebenarnya yang paling rugi itu pemerintah, pendapatan kas Negara akan berkurang. Perusahaan rokok kretek bisa beralih ke profisi lain, sedangkan hasil pertanian tembakau dan cengkeh tetap akan dikonsumsi masyarakat dengan melinting sendiri \u201cTingwe\u201d. <\/p>\n\n\n\n Logika lain, jika rokok kretek filter penyumbang kemiskinan kedua setelah beras, dan harus ditinggalkan dengan dalih supaya masyarakat tidak miskin. Berarti komoditas dan kebutuhan yang lain, terutama beras yang paling besar sumbangannya terhadap kemiskinan\u00a0 harus ditinggalkan, agar masyarakat lebih sejahtera?. Pastinya hal tersebut bukan solusi yang baik. Masak kebutuhan pokok ditinggalkan. Disinilah Pemerintah harus mengambil kebijakan yang solutif agar masyarakat tetap bisa memenuhi kebutuhan pokoknya dan tetap sejahtera.\u00a0\u00a0 Kemarin ada seorang teman yang mengirim link tautan media sosial salah seorang juru bicara Presiden yang membahas \u201crokok\u201d menjadi sebab kemiskinan kedua setelah beras. Sang Juru Bicara tersebut menulis, \u201ctidaklah lebih baik kita menghentikan konsumsi rokok kini?\u201d.<\/p>\n\n\n\n Seseorang ini tidak usah disebutkan namanya ya, sebab tak baik, ntar yang ada hanya perselisian dan pertengkaran. Karena ia ini kasihan menjadi salah satu korban dari ketidaktahuan, sayangnya ia tidak mau belajar dan cari tahu dahulu. Memang data Susenas dibuat seperti itu, sehingga banyak orang terjebak, bahkan di tahun-tahun sebelumnya ada salah satu pejabat Susenas membaca datanya pun demikian, dengan memojokkan rokok kretek akibatnya sesat dan menyesatkan banyak orang.<\/p>\n\n\n\n Baca: Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin<\/a><\/p>\n\n\n\n Sederhananya begini, penduduk di Indonesia ini banyakan mana yang merokok dan yang tidak merokok?. Jawaban pertanyaan ini harus clear<\/em> dulu. Pastinya jawaban sesuai fakta adalah banyak yang tidak merokok . Ya iyalah, penduduk di Indonesian ini kan jumlahnya didominasi kaum hawa dan mereka banyak yang tidak merokok. Belum lagi anak-anak, remaja yang masih sekolah belum boleh merokok sesuai aturan kebijakan pemerintah. Bahkan di kalangan kaum adam pun banyak yang tidak merokok, iya kan? Lalu logikanya gimana ya, perokok itu kaum minoritas tapi penyumbang kemiskinan nomor dua setelah beras. Mungkin begini penjelasannya, karena harga rokok terlalu mahal akibat pungutan pajak pemerintah berupa cukai terlalu gede. Jadi wajar kalau pengeluaran untuk rokok kretek filter ikut gede pula. Sebab pajak yang dipungut untuk rokok kretek filter paling gede dibanding rokok kretek non filter. Nah ketahuan, rokok menjadi penyumbang kemiskinan kedua setelah beras akibat dari pungutan pajak pemerintah terlalu tinggi, begitulah alurnya.<\/p>\n\n\n\n Dibawah ini, sajian data Sesenas supaya lebih mudah dan lebih jelas:<\/p>\n\n\n\n Pada tabel di atas, ada 13 item makanan dan 8 item non makanan penyumbang kemiskinan di Indonesia sesuai data Susenas. Dilihat per item penyumbang kemiskinan tersebut mayoritas menjadi kebutuhan primer masyarakat. Bahkan menjadi kebutuhan sehari-hari sebagai mahluk hidup butuh makan dan perlindungan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Tembakau yang Paling Laris di Pasar Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Data Susenas tersebut seharusnya menjadi pertimbangan pemerintah dalam rangka pengentasan kemiskinan. Artinya pemerintah harusnya berupaya agar harga komuditas dan kebutuhan disesuai daya beli masyarakat. Ambil contoh pajak cukai rokok khususnya kretek filter jangan terlalu tinggi. Merokok kretek filter dan non filter sudah menjadi tradisi masyarakat Nusantara sudah ratusan tahun. Apalagi meracik rokok menjadi salah satu warisan nenek moyang. Tak berhenti disitu, aktifitas merokok tidak hanya sebuah tradisi tanpa makna. Merokok sebagai media relaksasi, rekreasi bahkan sampai sebagai media pengobatan. Jika menengok sejarah adanya rokok kretek khas Indonesia, dahulu kali pertama muncul rokok kretek untuk mengobati sakit bengek. Selanjutnya banyak riset yang mengatakan bahwa konten atau bahan dasar rokok kretek sangat dibutuhkan tubuh manusis. Hasil riset ini silahkan dibaca lagi pada tulisan terdahulu yang telah diterbitkan pada web boleh merokok yang berjudul \u201cTernyata Tubuh Manusia Membutuhkan Zat Yang Terkandung Dalam Sebatang Rokok Kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n Jadi rokok kretek asli Indonesia tak hanya menyumbang kas negara, tetapi juga bermanfaat bagi tubuh manusia. Jika ada informasi bahwa rokok penyumbang kemiskinan kedua setelah beras, jangan ditelan mentah-mentah, harus ditelusuri dahulu minimal dilihat akar penyebabnya, jangan asal menjustis. Tadi sudah dijelasin di atas ya. Asal tahu aja, kalau masyarakat dilarang merokok rokok kretek filter sebenarnya yang paling rugi itu pemerintah, pendapatan kas Negara akan berkurang. Perusahaan rokok kretek bisa beralih ke profisi lain, sedangkan hasil pertanian tembakau dan cengkeh tetap akan dikonsumsi masyarakat dengan melinting sendiri \u201cTingwe\u201d. <\/p>\n\n\n\n Logika lain, jika rokok kretek filter penyumbang kemiskinan kedua setelah beras, dan harus ditinggalkan dengan dalih supaya masyarakat tidak miskin. Berarti komoditas dan kebutuhan yang lain, terutama beras yang paling besar sumbangannya terhadap kemiskinan\u00a0 harus ditinggalkan, agar masyarakat lebih sejahtera?. Pastinya hal tersebut bukan solusi yang baik. Masak kebutuhan pokok ditinggalkan. Disinilah Pemerintah harus mengambil kebijakan yang solutif agar masyarakat tetap bisa memenuhi kebutuhan pokoknya dan tetap sejahtera.\u00a0\u00a0 Banyak orang salah menalar saat membaca data sajian Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas). Jika baca datanya aja sudah salah, pastinya logika secara otomatis akan ikut keliru. Siapapun dia, harus hati-hati jika membaca data tersebut. Begitu keliru baca datanya, bias sesatkan pikiran si pembaca, bahkan bisa menyesatkan pikiran orang lain. Untuk itu mari kita sama-sama belajar baca data Susenas, agar tidak sesat dan menyesatkan pikiran banyak orang, seperti yang telah dilakukan salah satu juru bicara Presiden.<\/p>\n\n\n\n Kemarin ada seorang teman yang mengirim link tautan media sosial salah seorang juru bicara Presiden yang membahas \u201crokok\u201d menjadi sebab kemiskinan kedua setelah beras. Sang Juru Bicara tersebut menulis, \u201ctidaklah lebih baik kita menghentikan konsumsi rokok kini?\u201d.<\/p>\n\n\n\n Seseorang ini tidak usah disebutkan namanya ya, sebab tak baik, ntar yang ada hanya perselisian dan pertengkaran. Karena ia ini kasihan menjadi salah satu korban dari ketidaktahuan, sayangnya ia tidak mau belajar dan cari tahu dahulu. Memang data Susenas dibuat seperti itu, sehingga banyak orang terjebak, bahkan di tahun-tahun sebelumnya ada salah satu pejabat Susenas membaca datanya pun demikian, dengan memojokkan rokok kretek akibatnya sesat dan menyesatkan banyak orang.<\/p>\n\n\n\n Baca: Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin<\/a><\/p>\n\n\n\n Sederhananya begini, penduduk di Indonesia ini banyakan mana yang merokok dan yang tidak merokok?. Jawaban pertanyaan ini harus clear<\/em> dulu. Pastinya jawaban sesuai fakta adalah banyak yang tidak merokok . Ya iyalah, penduduk di Indonesian ini kan jumlahnya didominasi kaum hawa dan mereka banyak yang tidak merokok. Belum lagi anak-anak, remaja yang masih sekolah belum boleh merokok sesuai aturan kebijakan pemerintah. Bahkan di kalangan kaum adam pun banyak yang tidak merokok, iya kan? Lalu logikanya gimana ya, perokok itu kaum minoritas tapi penyumbang kemiskinan nomor dua setelah beras. Mungkin begini penjelasannya, karena harga rokok terlalu mahal akibat pungutan pajak pemerintah berupa cukai terlalu gede. Jadi wajar kalau pengeluaran untuk rokok kretek filter ikut gede pula. Sebab pajak yang dipungut untuk rokok kretek filter paling gede dibanding rokok kretek non filter. Nah ketahuan, rokok menjadi penyumbang kemiskinan kedua setelah beras akibat dari pungutan pajak pemerintah terlalu tinggi, begitulah alurnya.<\/p>\n\n\n\n Dibawah ini, sajian data Sesenas supaya lebih mudah dan lebih jelas:<\/p>\n\n\n\n Pada tabel di atas, ada 13 item makanan dan 8 item non makanan penyumbang kemiskinan di Indonesia sesuai data Susenas. Dilihat per item penyumbang kemiskinan tersebut mayoritas menjadi kebutuhan primer masyarakat. Bahkan menjadi kebutuhan sehari-hari sebagai mahluk hidup butuh makan dan perlindungan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Tembakau yang Paling Laris di Pasar Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Data Susenas tersebut seharusnya menjadi pertimbangan pemerintah dalam rangka pengentasan kemiskinan. Artinya pemerintah harusnya berupaya agar harga komuditas dan kebutuhan disesuai daya beli masyarakat. Ambil contoh pajak cukai rokok khususnya kretek filter jangan terlalu tinggi. Merokok kretek filter dan non filter sudah menjadi tradisi masyarakat Nusantara sudah ratusan tahun. Apalagi meracik rokok menjadi salah satu warisan nenek moyang. Tak berhenti disitu, aktifitas merokok tidak hanya sebuah tradisi tanpa makna. Merokok sebagai media relaksasi, rekreasi bahkan sampai sebagai media pengobatan. Jika menengok sejarah adanya rokok kretek khas Indonesia, dahulu kali pertama muncul rokok kretek untuk mengobati sakit bengek. Selanjutnya banyak riset yang mengatakan bahwa konten atau bahan dasar rokok kretek sangat dibutuhkan tubuh manusis. Hasil riset ini silahkan dibaca lagi pada tulisan terdahulu yang telah diterbitkan pada web boleh merokok yang berjudul \u201cTernyata Tubuh Manusia Membutuhkan Zat Yang Terkandung Dalam Sebatang Rokok Kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n Jadi rokok kretek asli Indonesia tak hanya menyumbang kas negara, tetapi juga bermanfaat bagi tubuh manusia. Jika ada informasi bahwa rokok penyumbang kemiskinan kedua setelah beras, jangan ditelan mentah-mentah, harus ditelusuri dahulu minimal dilihat akar penyebabnya, jangan asal menjustis. Tadi sudah dijelasin di atas ya. Asal tahu aja, kalau masyarakat dilarang merokok rokok kretek filter sebenarnya yang paling rugi itu pemerintah, pendapatan kas Negara akan berkurang. Perusahaan rokok kretek bisa beralih ke profisi lain, sedangkan hasil pertanian tembakau dan cengkeh tetap akan dikonsumsi masyarakat dengan melinting sendiri \u201cTingwe\u201d. <\/p>\n\n\n\n Logika lain, jika rokok kretek filter penyumbang kemiskinan kedua setelah beras, dan harus ditinggalkan dengan dalih supaya masyarakat tidak miskin. Berarti komoditas dan kebutuhan yang lain, terutama beras yang paling besar sumbangannya terhadap kemiskinan\u00a0 harus ditinggalkan, agar masyarakat lebih sejahtera?. Pastinya hal tersebut bukan solusi yang baik. Masak kebutuhan pokok ditinggalkan. Disinilah Pemerintah harus mengambil kebijakan yang solutif agar masyarakat tetap bisa memenuhi kebutuhan pokoknya dan tetap sejahtera.\u00a0\u00a0 Rokok kretek ditemukan putra bangsa, di produksi putra bangsa, industriya milik bumiputera, bahan bakunya diperoleh dari petani lokal, keuntungan dari penjualan sebagian besar masuk kas Negara untuk pembangunan, yang dinikmati semua kalangan bahkan yang tidak merokok dan benci rokok sekalipun. Lalu alasan apalagi hingga tak merokok kretek? Mari kita sama-sama mencintai produk dalam negeri, agar kita menjadi bangsa yang kuat. Banyak orang salah menalar saat membaca data sajian Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas). Jika baca datanya aja sudah salah, pastinya logika secara otomatis akan ikut keliru. Siapapun dia, harus hati-hati jika membaca data tersebut. Begitu keliru baca datanya, bias sesatkan pikiran si pembaca, bahkan bisa menyesatkan pikiran orang lain. Untuk itu mari kita sama-sama belajar baca data Susenas, agar tidak sesat dan menyesatkan pikiran banyak orang, seperti yang telah dilakukan salah satu juru bicara Presiden.<\/p>\n\n\n\n Kemarin ada seorang teman yang mengirim link tautan media sosial salah seorang juru bicara Presiden yang membahas \u201crokok\u201d menjadi sebab kemiskinan kedua setelah beras. Sang Juru Bicara tersebut menulis, \u201ctidaklah lebih baik kita menghentikan konsumsi rokok kini?\u201d.<\/p>\n\n\n\n Seseorang ini tidak usah disebutkan namanya ya, sebab tak baik, ntar yang ada hanya perselisian dan pertengkaran. Karena ia ini kasihan menjadi salah satu korban dari ketidaktahuan, sayangnya ia tidak mau belajar dan cari tahu dahulu. Memang data Susenas dibuat seperti itu, sehingga banyak orang terjebak, bahkan di tahun-tahun sebelumnya ada salah satu pejabat Susenas membaca datanya pun demikian, dengan memojokkan rokok kretek akibatnya sesat dan menyesatkan banyak orang.<\/p>\n\n\n\n Baca: Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin<\/a><\/p>\n\n\n\n Sederhananya begini, penduduk di Indonesia ini banyakan mana yang merokok dan yang tidak merokok?. Jawaban pertanyaan ini harus clear<\/em> dulu. Pastinya jawaban sesuai fakta adalah banyak yang tidak merokok . Ya iyalah, penduduk di Indonesian ini kan jumlahnya didominasi kaum hawa dan mereka banyak yang tidak merokok. Belum lagi anak-anak, remaja yang masih sekolah belum boleh merokok sesuai aturan kebijakan pemerintah. Bahkan di kalangan kaum adam pun banyak yang tidak merokok, iya kan? Lalu logikanya gimana ya, perokok itu kaum minoritas tapi penyumbang kemiskinan nomor dua setelah beras. Mungkin begini penjelasannya, karena harga rokok terlalu mahal akibat pungutan pajak pemerintah berupa cukai terlalu gede. Jadi wajar kalau pengeluaran untuk rokok kretek filter ikut gede pula. Sebab pajak yang dipungut untuk rokok kretek filter paling gede dibanding rokok kretek non filter. Nah ketahuan, rokok menjadi penyumbang kemiskinan kedua setelah beras akibat dari pungutan pajak pemerintah terlalu tinggi, begitulah alurnya.<\/p>\n\n\n\n Dibawah ini, sajian data Sesenas supaya lebih mudah dan lebih jelas:<\/p>\n\n\n\n Pada tabel di atas, ada 13 item makanan dan 8 item non makanan penyumbang kemiskinan di Indonesia sesuai data Susenas. Dilihat per item penyumbang kemiskinan tersebut mayoritas menjadi kebutuhan primer masyarakat. Bahkan menjadi kebutuhan sehari-hari sebagai mahluk hidup butuh makan dan perlindungan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Tembakau yang Paling Laris di Pasar Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Data Susenas tersebut seharusnya menjadi pertimbangan pemerintah dalam rangka pengentasan kemiskinan. Artinya pemerintah harusnya berupaya agar harga komuditas dan kebutuhan disesuai daya beli masyarakat. Ambil contoh pajak cukai rokok khususnya kretek filter jangan terlalu tinggi. Merokok kretek filter dan non filter sudah menjadi tradisi masyarakat Nusantara sudah ratusan tahun. Apalagi meracik rokok menjadi salah satu warisan nenek moyang. Tak berhenti disitu, aktifitas merokok tidak hanya sebuah tradisi tanpa makna. Merokok sebagai media relaksasi, rekreasi bahkan sampai sebagai media pengobatan. Jika menengok sejarah adanya rokok kretek khas Indonesia, dahulu kali pertama muncul rokok kretek untuk mengobati sakit bengek. Selanjutnya banyak riset yang mengatakan bahwa konten atau bahan dasar rokok kretek sangat dibutuhkan tubuh manusis. Hasil riset ini silahkan dibaca lagi pada tulisan terdahulu yang telah diterbitkan pada web boleh merokok yang berjudul \u201cTernyata Tubuh Manusia Membutuhkan Zat Yang Terkandung Dalam Sebatang Rokok Kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n Jadi rokok kretek asli Indonesia tak hanya menyumbang kas negara, tetapi juga bermanfaat bagi tubuh manusia. Jika ada informasi bahwa rokok penyumbang kemiskinan kedua setelah beras, jangan ditelan mentah-mentah, harus ditelusuri dahulu minimal dilihat akar penyebabnya, jangan asal menjustis. Tadi sudah dijelasin di atas ya. Asal tahu aja, kalau masyarakat dilarang merokok rokok kretek filter sebenarnya yang paling rugi itu pemerintah, pendapatan kas Negara akan berkurang. Perusahaan rokok kretek bisa beralih ke profisi lain, sedangkan hasil pertanian tembakau dan cengkeh tetap akan dikonsumsi masyarakat dengan melinting sendiri \u201cTingwe\u201d. <\/p>\n\n\n\n Logika lain, jika rokok kretek filter penyumbang kemiskinan kedua setelah beras, dan harus ditinggalkan dengan dalih supaya masyarakat tidak miskin. Berarti komoditas dan kebutuhan yang lain, terutama beras yang paling besar sumbangannya terhadap kemiskinan\u00a0 harus ditinggalkan, agar masyarakat lebih sejahtera?. Pastinya hal tersebut bukan solusi yang baik. Masak kebutuhan pokok ditinggalkan. Disinilah Pemerintah harus mengambil kebijakan yang solutif agar masyarakat tetap bisa memenuhi kebutuhan pokoknya dan tetap sejahtera.\u00a0\u00a0 Rokok kretek, awalnya di temukan H. Djamhari untuk pengobatan alternatif dan kemudian diproduksi masal oleh Nitisemito, keduanya putra bangsa dari Kudus Kota Kretek. Belakangan banyak berdiri industri rokok kretek milik putra bangsa di beberapa daerah, dengan karyawan dari asal daerah tersebut. Hitungan kumulatif, sekitar ada 6.1 juta jiwa penyerapan tenaga kerja dari hulu hingga hilir. <\/p>\n\n\n\n Rokok kretek ditemukan putra bangsa, di produksi putra bangsa, industriya milik bumiputera, bahan bakunya diperoleh dari petani lokal, keuntungan dari penjualan sebagian besar masuk kas Negara untuk pembangunan, yang dinikmati semua kalangan bahkan yang tidak merokok dan benci rokok sekalipun. Lalu alasan apalagi hingga tak merokok kretek? Mari kita sama-sama mencintai produk dalam negeri, agar kita menjadi bangsa yang kuat. Banyak orang salah menalar saat membaca data sajian Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas). Jika baca datanya aja sudah salah, pastinya logika secara otomatis akan ikut keliru. Siapapun dia, harus hati-hati jika membaca data tersebut. Begitu keliru baca datanya, bias sesatkan pikiran si pembaca, bahkan bisa menyesatkan pikiran orang lain. Untuk itu mari kita sama-sama belajar baca data Susenas, agar tidak sesat dan menyesatkan pikiran banyak orang, seperti yang telah dilakukan salah satu juru bicara Presiden.<\/p>\n\n\n\n Kemarin ada seorang teman yang mengirim link tautan media sosial salah seorang juru bicara Presiden yang membahas \u201crokok\u201d menjadi sebab kemiskinan kedua setelah beras. Sang Juru Bicara tersebut menulis, \u201ctidaklah lebih baik kita menghentikan konsumsi rokok kini?\u201d.<\/p>\n\n\n\n Seseorang ini tidak usah disebutkan namanya ya, sebab tak baik, ntar yang ada hanya perselisian dan pertengkaran. Karena ia ini kasihan menjadi salah satu korban dari ketidaktahuan, sayangnya ia tidak mau belajar dan cari tahu dahulu. Memang data Susenas dibuat seperti itu, sehingga banyak orang terjebak, bahkan di tahun-tahun sebelumnya ada salah satu pejabat Susenas membaca datanya pun demikian, dengan memojokkan rokok kretek akibatnya sesat dan menyesatkan banyak orang.<\/p>\n\n\n\n Baca: Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin<\/a><\/p>\n\n\n\n Sederhananya begini, penduduk di Indonesia ini banyakan mana yang merokok dan yang tidak merokok?. Jawaban pertanyaan ini harus clear<\/em> dulu. Pastinya jawaban sesuai fakta adalah banyak yang tidak merokok . Ya iyalah, penduduk di Indonesian ini kan jumlahnya didominasi kaum hawa dan mereka banyak yang tidak merokok. Belum lagi anak-anak, remaja yang masih sekolah belum boleh merokok sesuai aturan kebijakan pemerintah. Bahkan di kalangan kaum adam pun banyak yang tidak merokok, iya kan? Lalu logikanya gimana ya, perokok itu kaum minoritas tapi penyumbang kemiskinan nomor dua setelah beras. Mungkin begini penjelasannya, karena harga rokok terlalu mahal akibat pungutan pajak pemerintah berupa cukai terlalu gede. Jadi wajar kalau pengeluaran untuk rokok kretek filter ikut gede pula. Sebab pajak yang dipungut untuk rokok kretek filter paling gede dibanding rokok kretek non filter. Nah ketahuan, rokok menjadi penyumbang kemiskinan kedua setelah beras akibat dari pungutan pajak pemerintah terlalu tinggi, begitulah alurnya.<\/p>\n\n\n\n Dibawah ini, sajian data Sesenas supaya lebih mudah dan lebih jelas:<\/p>\n\n\n\n Pada tabel di atas, ada 13 item makanan dan 8 item non makanan penyumbang kemiskinan di Indonesia sesuai data Susenas. Dilihat per item penyumbang kemiskinan tersebut mayoritas menjadi kebutuhan primer masyarakat. Bahkan menjadi kebutuhan sehari-hari sebagai mahluk hidup butuh makan dan perlindungan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Tembakau yang Paling Laris di Pasar Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Data Susenas tersebut seharusnya menjadi pertimbangan pemerintah dalam rangka pengentasan kemiskinan. Artinya pemerintah harusnya berupaya agar harga komuditas dan kebutuhan disesuai daya beli masyarakat. Ambil contoh pajak cukai rokok khususnya kretek filter jangan terlalu tinggi. Merokok kretek filter dan non filter sudah menjadi tradisi masyarakat Nusantara sudah ratusan tahun. Apalagi meracik rokok menjadi salah satu warisan nenek moyang. Tak berhenti disitu, aktifitas merokok tidak hanya sebuah tradisi tanpa makna. Merokok sebagai media relaksasi, rekreasi bahkan sampai sebagai media pengobatan. Jika menengok sejarah adanya rokok kretek khas Indonesia, dahulu kali pertama muncul rokok kretek untuk mengobati sakit bengek. Selanjutnya banyak riset yang mengatakan bahwa konten atau bahan dasar rokok kretek sangat dibutuhkan tubuh manusis. Hasil riset ini silahkan dibaca lagi pada tulisan terdahulu yang telah diterbitkan pada web boleh merokok yang berjudul \u201cTernyata Tubuh Manusia Membutuhkan Zat Yang Terkandung Dalam Sebatang Rokok Kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n Jadi rokok kretek asli Indonesia tak hanya menyumbang kas negara, tetapi juga bermanfaat bagi tubuh manusia. Jika ada informasi bahwa rokok penyumbang kemiskinan kedua setelah beras, jangan ditelan mentah-mentah, harus ditelusuri dahulu minimal dilihat akar penyebabnya, jangan asal menjustis. Tadi sudah dijelasin di atas ya. Asal tahu aja, kalau masyarakat dilarang merokok rokok kretek filter sebenarnya yang paling rugi itu pemerintah, pendapatan kas Negara akan berkurang. Perusahaan rokok kretek bisa beralih ke profisi lain, sedangkan hasil pertanian tembakau dan cengkeh tetap akan dikonsumsi masyarakat dengan melinting sendiri \u201cTingwe\u201d. <\/p>\n\n\n\n Logika lain, jika rokok kretek filter penyumbang kemiskinan kedua setelah beras, dan harus ditinggalkan dengan dalih supaya masyarakat tidak miskin. Berarti komoditas dan kebutuhan yang lain, terutama beras yang paling besar sumbangannya terhadap kemiskinan\u00a0 harus ditinggalkan, agar masyarakat lebih sejahtera?. Pastinya hal tersebut bukan solusi yang baik. Masak kebutuhan pokok ditinggalkan. Disinilah Pemerintah harus mengambil kebijakan yang solutif agar masyarakat tetap bisa memenuhi kebutuhan pokoknya dan tetap sejahtera.\u00a0\u00a0 Data Statistik Perkebunan Indonesia 2015-2017 menunjukkan perkebunan tembakau tersebar di 15 Provinsi dan perkebunan cengkeh terdapat 30 provinsi yang tersebar di bumi pertiwi ini. Dari perkebunan tembakau dan cengkeh tersebut, 93% terserap untuk bahan baku rokok kretek. Adanya cengkeh ini sebagai pembeda dengan rokok produk luar. Rokok produk luar bahan bakunya hanya memakai tembakau. Populer dengan sebutan \u201crokok putihan\u201d, sedang rokok asli Indonesia ditambahkan cengkeh yang akhirnya disebut \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n Rokok kretek, awalnya di temukan H. Djamhari untuk pengobatan alternatif dan kemudian diproduksi masal oleh Nitisemito, keduanya putra bangsa dari Kudus Kota Kretek. Belakangan banyak berdiri industri rokok kretek milik putra bangsa di beberapa daerah, dengan karyawan dari asal daerah tersebut. Hitungan kumulatif, sekitar ada 6.1 juta jiwa penyerapan tenaga kerja dari hulu hingga hilir. <\/p>\n\n\n\n Rokok kretek ditemukan putra bangsa, di produksi putra bangsa, industriya milik bumiputera, bahan bakunya diperoleh dari petani lokal, keuntungan dari penjualan sebagian besar masuk kas Negara untuk pembangunan, yang dinikmati semua kalangan bahkan yang tidak merokok dan benci rokok sekalipun. Lalu alasan apalagi hingga tak merokok kretek? Mari kita sama-sama mencintai produk dalam negeri, agar kita menjadi bangsa yang kuat. Banyak orang salah menalar saat membaca data sajian Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas). Jika baca datanya aja sudah salah, pastinya logika secara otomatis akan ikut keliru. Siapapun dia, harus hati-hati jika membaca data tersebut. Begitu keliru baca datanya, bias sesatkan pikiran si pembaca, bahkan bisa menyesatkan pikiran orang lain. Untuk itu mari kita sama-sama belajar baca data Susenas, agar tidak sesat dan menyesatkan pikiran banyak orang, seperti yang telah dilakukan salah satu juru bicara Presiden.<\/p>\n\n\n\n Kemarin ada seorang teman yang mengirim link tautan media sosial salah seorang juru bicara Presiden yang membahas \u201crokok\u201d menjadi sebab kemiskinan kedua setelah beras. Sang Juru Bicara tersebut menulis, \u201ctidaklah lebih baik kita menghentikan konsumsi rokok kini?\u201d.<\/p>\n\n\n\n Seseorang ini tidak usah disebutkan namanya ya, sebab tak baik, ntar yang ada hanya perselisian dan pertengkaran. Karena ia ini kasihan menjadi salah satu korban dari ketidaktahuan, sayangnya ia tidak mau belajar dan cari tahu dahulu. Memang data Susenas dibuat seperti itu, sehingga banyak orang terjebak, bahkan di tahun-tahun sebelumnya ada salah satu pejabat Susenas membaca datanya pun demikian, dengan memojokkan rokok kretek akibatnya sesat dan menyesatkan banyak orang.<\/p>\n\n\n\n Baca: Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin<\/a><\/p>\n\n\n\n Sederhananya begini, penduduk di Indonesia ini banyakan mana yang merokok dan yang tidak merokok?. Jawaban pertanyaan ini harus clear<\/em> dulu. Pastinya jawaban sesuai fakta adalah banyak yang tidak merokok . Ya iyalah, penduduk di Indonesian ini kan jumlahnya didominasi kaum hawa dan mereka banyak yang tidak merokok. Belum lagi anak-anak, remaja yang masih sekolah belum boleh merokok sesuai aturan kebijakan pemerintah. Bahkan di kalangan kaum adam pun banyak yang tidak merokok, iya kan? Lalu logikanya gimana ya, perokok itu kaum minoritas tapi penyumbang kemiskinan nomor dua setelah beras. Mungkin begini penjelasannya, karena harga rokok terlalu mahal akibat pungutan pajak pemerintah berupa cukai terlalu gede. Jadi wajar kalau pengeluaran untuk rokok kretek filter ikut gede pula. Sebab pajak yang dipungut untuk rokok kretek filter paling gede dibanding rokok kretek non filter. Nah ketahuan, rokok menjadi penyumbang kemiskinan kedua setelah beras akibat dari pungutan pajak pemerintah terlalu tinggi, begitulah alurnya.<\/p>\n\n\n\n Dibawah ini, sajian data Sesenas supaya lebih mudah dan lebih jelas:<\/p>\n\n\n\n Pada tabel di atas, ada 13 item makanan dan 8 item non makanan penyumbang kemiskinan di Indonesia sesuai data Susenas. Dilihat per item penyumbang kemiskinan tersebut mayoritas menjadi kebutuhan primer masyarakat. Bahkan menjadi kebutuhan sehari-hari sebagai mahluk hidup butuh makan dan perlindungan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Tembakau yang Paling Laris di Pasar Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Data Susenas tersebut seharusnya menjadi pertimbangan pemerintah dalam rangka pengentasan kemiskinan. Artinya pemerintah harusnya berupaya agar harga komuditas dan kebutuhan disesuai daya beli masyarakat. Ambil contoh pajak cukai rokok khususnya kretek filter jangan terlalu tinggi. Merokok kretek filter dan non filter sudah menjadi tradisi masyarakat Nusantara sudah ratusan tahun. Apalagi meracik rokok menjadi salah satu warisan nenek moyang. Tak berhenti disitu, aktifitas merokok tidak hanya sebuah tradisi tanpa makna. Merokok sebagai media relaksasi, rekreasi bahkan sampai sebagai media pengobatan. Jika menengok sejarah adanya rokok kretek khas Indonesia, dahulu kali pertama muncul rokok kretek untuk mengobati sakit bengek. Selanjutnya banyak riset yang mengatakan bahwa konten atau bahan dasar rokok kretek sangat dibutuhkan tubuh manusis. Hasil riset ini silahkan dibaca lagi pada tulisan terdahulu yang telah diterbitkan pada web boleh merokok yang berjudul \u201cTernyata Tubuh Manusia Membutuhkan Zat Yang Terkandung Dalam Sebatang Rokok Kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n Jadi rokok kretek asli Indonesia tak hanya menyumbang kas negara, tetapi juga bermanfaat bagi tubuh manusia. Jika ada informasi bahwa rokok penyumbang kemiskinan kedua setelah beras, jangan ditelan mentah-mentah, harus ditelusuri dahulu minimal dilihat akar penyebabnya, jangan asal menjustis. Tadi sudah dijelasin di atas ya. Asal tahu aja, kalau masyarakat dilarang merokok rokok kretek filter sebenarnya yang paling rugi itu pemerintah, pendapatan kas Negara akan berkurang. Perusahaan rokok kretek bisa beralih ke profisi lain, sedangkan hasil pertanian tembakau dan cengkeh tetap akan dikonsumsi masyarakat dengan melinting sendiri \u201cTingwe\u201d. <\/p>\n\n\n\n Logika lain, jika rokok kretek filter penyumbang kemiskinan kedua setelah beras, dan harus ditinggalkan dengan dalih supaya masyarakat tidak miskin. Berarti komoditas dan kebutuhan yang lain, terutama beras yang paling besar sumbangannya terhadap kemiskinan\u00a0 harus ditinggalkan, agar masyarakat lebih sejahtera?. Pastinya hal tersebut bukan solusi yang baik. Masak kebutuhan pokok ditinggalkan. Disinilah Pemerintah harus mengambil kebijakan yang solutif agar masyarakat tetap bisa memenuhi kebutuhan pokoknya dan tetap sejahtera.\u00a0\u00a0 Lain halnya tembakau, ada buah cengkeh. Kalau ini sudah tidak diragukan lagi, sebagai tanaman asli bumi pertiwi. Walaupun banyak juga anak bangsa yang menganggap tanaman cengkeh itu bukan tanaman asli Nusantara. Anggapan itu sangat keliru, tapi juga tidak bisa di salahkan. Karena memang sejarah tanaman cengkeh di Nusantara ini pernah habis dibakar penjajah yang kemudian di budidaya penjajah di negari lain. Dan mungkin saat itu tanaman cengkeh di Nusantara ini hanya tinggal beberapa glintir. Berjalannya waktu, varietas cengkeh yang pernah di ambil dan dibudidayakan di negeri lain oleh penjajah, kemudian diambil dan dibudidayakan lagi di bumi pertiwi ini. Inilah sejarah singkat tanaman cengkeh yang fenomenal. Jelasnya, tanaman cengkeh adalah tanaman asli Nusantara, dan banyak literatur yang menuliskan dari daerah Maluku cengkeh yang kuwalitasnya sangat bagus. <\/p>\n\n\n\n Data Statistik Perkebunan Indonesia 2015-2017 menunjukkan perkebunan tembakau tersebar di 15 Provinsi dan perkebunan cengkeh terdapat 30 provinsi yang tersebar di bumi pertiwi ini. Dari perkebunan tembakau dan cengkeh tersebut, 93% terserap untuk bahan baku rokok kretek. Adanya cengkeh ini sebagai pembeda dengan rokok produk luar. Rokok produk luar bahan bakunya hanya memakai tembakau. Populer dengan sebutan \u201crokok putihan\u201d, sedang rokok asli Indonesia ditambahkan cengkeh yang akhirnya disebut \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n Rokok kretek, awalnya di temukan H. Djamhari untuk pengobatan alternatif dan kemudian diproduksi masal oleh Nitisemito, keduanya putra bangsa dari Kudus Kota Kretek. Belakangan banyak berdiri industri rokok kretek milik putra bangsa di beberapa daerah, dengan karyawan dari asal daerah tersebut. Hitungan kumulatif, sekitar ada 6.1 juta jiwa penyerapan tenaga kerja dari hulu hingga hilir. <\/p>\n\n\n\n Rokok kretek ditemukan putra bangsa, di produksi putra bangsa, industriya milik bumiputera, bahan bakunya diperoleh dari petani lokal, keuntungan dari penjualan sebagian besar masuk kas Negara untuk pembangunan, yang dinikmati semua kalangan bahkan yang tidak merokok dan benci rokok sekalipun. Lalu alasan apalagi hingga tak merokok kretek? Mari kita sama-sama mencintai produk dalam negeri, agar kita menjadi bangsa yang kuat. Banyak orang salah menalar saat membaca data sajian Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas). Jika baca datanya aja sudah salah, pastinya logika secara otomatis akan ikut keliru. Siapapun dia, harus hati-hati jika membaca data tersebut. Begitu keliru baca datanya, bias sesatkan pikiran si pembaca, bahkan bisa menyesatkan pikiran orang lain. Untuk itu mari kita sama-sama belajar baca data Susenas, agar tidak sesat dan menyesatkan pikiran banyak orang, seperti yang telah dilakukan salah satu juru bicara Presiden.<\/p>\n\n\n\n Kemarin ada seorang teman yang mengirim link tautan media sosial salah seorang juru bicara Presiden yang membahas \u201crokok\u201d menjadi sebab kemiskinan kedua setelah beras. Sang Juru Bicara tersebut menulis, \u201ctidaklah lebih baik kita menghentikan konsumsi rokok kini?\u201d.<\/p>\n\n\n\n Seseorang ini tidak usah disebutkan namanya ya, sebab tak baik, ntar yang ada hanya perselisian dan pertengkaran. Karena ia ini kasihan menjadi salah satu korban dari ketidaktahuan, sayangnya ia tidak mau belajar dan cari tahu dahulu. Memang data Susenas dibuat seperti itu, sehingga banyak orang terjebak, bahkan di tahun-tahun sebelumnya ada salah satu pejabat Susenas membaca datanya pun demikian, dengan memojokkan rokok kretek akibatnya sesat dan menyesatkan banyak orang.<\/p>\n\n\n\n Baca: Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin<\/a><\/p>\n\n\n\n Sederhananya begini, penduduk di Indonesia ini banyakan mana yang merokok dan yang tidak merokok?. Jawaban pertanyaan ini harus clear<\/em> dulu. Pastinya jawaban sesuai fakta adalah banyak yang tidak merokok . Ya iyalah, penduduk di Indonesian ini kan jumlahnya didominasi kaum hawa dan mereka banyak yang tidak merokok. Belum lagi anak-anak, remaja yang masih sekolah belum boleh merokok sesuai aturan kebijakan pemerintah. Bahkan di kalangan kaum adam pun banyak yang tidak merokok, iya kan? Lalu logikanya gimana ya, perokok itu kaum minoritas tapi penyumbang kemiskinan nomor dua setelah beras. Mungkin begini penjelasannya, karena harga rokok terlalu mahal akibat pungutan pajak pemerintah berupa cukai terlalu gede. Jadi wajar kalau pengeluaran untuk rokok kretek filter ikut gede pula. Sebab pajak yang dipungut untuk rokok kretek filter paling gede dibanding rokok kretek non filter. Nah ketahuan, rokok menjadi penyumbang kemiskinan kedua setelah beras akibat dari pungutan pajak pemerintah terlalu tinggi, begitulah alurnya.<\/p>\n\n\n\n Dibawah ini, sajian data Sesenas supaya lebih mudah dan lebih jelas:<\/p>\n\n\n\n Pada tabel di atas, ada 13 item makanan dan 8 item non makanan penyumbang kemiskinan di Indonesia sesuai data Susenas. Dilihat per item penyumbang kemiskinan tersebut mayoritas menjadi kebutuhan primer masyarakat. Bahkan menjadi kebutuhan sehari-hari sebagai mahluk hidup butuh makan dan perlindungan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Tembakau yang Paling Laris di Pasar Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Data Susenas tersebut seharusnya menjadi pertimbangan pemerintah dalam rangka pengentasan kemiskinan. Artinya pemerintah harusnya berupaya agar harga komuditas dan kebutuhan disesuai daya beli masyarakat. Ambil contoh pajak cukai rokok khususnya kretek filter jangan terlalu tinggi. Merokok kretek filter dan non filter sudah menjadi tradisi masyarakat Nusantara sudah ratusan tahun. Apalagi meracik rokok menjadi salah satu warisan nenek moyang. Tak berhenti disitu, aktifitas merokok tidak hanya sebuah tradisi tanpa makna. Merokok sebagai media relaksasi, rekreasi bahkan sampai sebagai media pengobatan. Jika menengok sejarah adanya rokok kretek khas Indonesia, dahulu kali pertama muncul rokok kretek untuk mengobati sakit bengek. Selanjutnya banyak riset yang mengatakan bahwa konten atau bahan dasar rokok kretek sangat dibutuhkan tubuh manusis. Hasil riset ini silahkan dibaca lagi pada tulisan terdahulu yang telah diterbitkan pada web boleh merokok yang berjudul \u201cTernyata Tubuh Manusia Membutuhkan Zat Yang Terkandung Dalam Sebatang Rokok Kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n Jadi rokok kretek asli Indonesia tak hanya menyumbang kas negara, tetapi juga bermanfaat bagi tubuh manusia. Jika ada informasi bahwa rokok penyumbang kemiskinan kedua setelah beras, jangan ditelan mentah-mentah, harus ditelusuri dahulu minimal dilihat akar penyebabnya, jangan asal menjustis. Tadi sudah dijelasin di atas ya. Asal tahu aja, kalau masyarakat dilarang merokok rokok kretek filter sebenarnya yang paling rugi itu pemerintah, pendapatan kas Negara akan berkurang. Perusahaan rokok kretek bisa beralih ke profisi lain, sedangkan hasil pertanian tembakau dan cengkeh tetap akan dikonsumsi masyarakat dengan melinting sendiri \u201cTingwe\u201d. <\/p>\n\n\n\n Logika lain, jika rokok kretek filter penyumbang kemiskinan kedua setelah beras, dan harus ditinggalkan dengan dalih supaya masyarakat tidak miskin. Berarti komoditas dan kebutuhan yang lain, terutama beras yang paling besar sumbangannya terhadap kemiskinan\u00a0 harus ditinggalkan, agar masyarakat lebih sejahtera?. Pastinya hal tersebut bukan solusi yang baik. Masak kebutuhan pokok ditinggalkan. Disinilah Pemerintah harus mengambil kebijakan yang solutif agar masyarakat tetap bisa memenuhi kebutuhan pokoknya dan tetap sejahtera.\u00a0\u00a0 Terlepas beda pendapat tentang tembakau, ada laporan yang menarik yang ditulis oleh P. De Kat Angelino dalam Voorstenlandsche Tabaksenquete tahun 1929, mengungkapkan bahwa kalaupun tanaman tembakau bukan tanaman asli Indonesia, sejak diperkenalkan sudah memiliki pertalian khusus dengan tanah Indonesia. Tembakau tak hanya menjadi komoditas utama pemerintah kolonial, tetapi juga telah mengubah kehidupan sosial ekonomi masyarakat bumiputera. <\/p>\n\n\n\n Lain halnya tembakau, ada buah cengkeh. Kalau ini sudah tidak diragukan lagi, sebagai tanaman asli bumi pertiwi. Walaupun banyak juga anak bangsa yang menganggap tanaman cengkeh itu bukan tanaman asli Nusantara. Anggapan itu sangat keliru, tapi juga tidak bisa di salahkan. Karena memang sejarah tanaman cengkeh di Nusantara ini pernah habis dibakar penjajah yang kemudian di budidaya penjajah di negari lain. Dan mungkin saat itu tanaman cengkeh di Nusantara ini hanya tinggal beberapa glintir. Berjalannya waktu, varietas cengkeh yang pernah di ambil dan dibudidayakan di negeri lain oleh penjajah, kemudian diambil dan dibudidayakan lagi di bumi pertiwi ini. Inilah sejarah singkat tanaman cengkeh yang fenomenal. Jelasnya, tanaman cengkeh adalah tanaman asli Nusantara, dan banyak literatur yang menuliskan dari daerah Maluku cengkeh yang kuwalitasnya sangat bagus. <\/p>\n\n\n\n Data Statistik Perkebunan Indonesia 2015-2017 menunjukkan perkebunan tembakau tersebar di 15 Provinsi dan perkebunan cengkeh terdapat 30 provinsi yang tersebar di bumi pertiwi ini. Dari perkebunan tembakau dan cengkeh tersebut, 93% terserap untuk bahan baku rokok kretek. Adanya cengkeh ini sebagai pembeda dengan rokok produk luar. Rokok produk luar bahan bakunya hanya memakai tembakau. Populer dengan sebutan \u201crokok putihan\u201d, sedang rokok asli Indonesia ditambahkan cengkeh yang akhirnya disebut \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n Rokok kretek, awalnya di temukan H. Djamhari untuk pengobatan alternatif dan kemudian diproduksi masal oleh Nitisemito, keduanya putra bangsa dari Kudus Kota Kretek. Belakangan banyak berdiri industri rokok kretek milik putra bangsa di beberapa daerah, dengan karyawan dari asal daerah tersebut. Hitungan kumulatif, sekitar ada 6.1 juta jiwa penyerapan tenaga kerja dari hulu hingga hilir. <\/p>\n\n\n\n Rokok kretek ditemukan putra bangsa, di produksi putra bangsa, industriya milik bumiputera, bahan bakunya diperoleh dari petani lokal, keuntungan dari penjualan sebagian besar masuk kas Negara untuk pembangunan, yang dinikmati semua kalangan bahkan yang tidak merokok dan benci rokok sekalipun. Lalu alasan apalagi hingga tak merokok kretek? Mari kita sama-sama mencintai produk dalam negeri, agar kita menjadi bangsa yang kuat. Banyak orang salah menalar saat membaca data sajian Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas). Jika baca datanya aja sudah salah, pastinya logika secara otomatis akan ikut keliru. Siapapun dia, harus hati-hati jika membaca data tersebut. Begitu keliru baca datanya, bias sesatkan pikiran si pembaca, bahkan bisa menyesatkan pikiran orang lain. Untuk itu mari kita sama-sama belajar baca data Susenas, agar tidak sesat dan menyesatkan pikiran banyak orang, seperti yang telah dilakukan salah satu juru bicara Presiden.<\/p>\n\n\n\n Kemarin ada seorang teman yang mengirim link tautan media sosial salah seorang juru bicara Presiden yang membahas \u201crokok\u201d menjadi sebab kemiskinan kedua setelah beras. Sang Juru Bicara tersebut menulis, \u201ctidaklah lebih baik kita menghentikan konsumsi rokok kini?\u201d.<\/p>\n\n\n\n Seseorang ini tidak usah disebutkan namanya ya, sebab tak baik, ntar yang ada hanya perselisian dan pertengkaran. Karena ia ini kasihan menjadi salah satu korban dari ketidaktahuan, sayangnya ia tidak mau belajar dan cari tahu dahulu. Memang data Susenas dibuat seperti itu, sehingga banyak orang terjebak, bahkan di tahun-tahun sebelumnya ada salah satu pejabat Susenas membaca datanya pun demikian, dengan memojokkan rokok kretek akibatnya sesat dan menyesatkan banyak orang.<\/p>\n\n\n\n Baca: Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin<\/a><\/p>\n\n\n\n Sederhananya begini, penduduk di Indonesia ini banyakan mana yang merokok dan yang tidak merokok?. Jawaban pertanyaan ini harus clear<\/em> dulu. Pastinya jawaban sesuai fakta adalah banyak yang tidak merokok . Ya iyalah, penduduk di Indonesian ini kan jumlahnya didominasi kaum hawa dan mereka banyak yang tidak merokok. Belum lagi anak-anak, remaja yang masih sekolah belum boleh merokok sesuai aturan kebijakan pemerintah. Bahkan di kalangan kaum adam pun banyak yang tidak merokok, iya kan? Lalu logikanya gimana ya, perokok itu kaum minoritas tapi penyumbang kemiskinan nomor dua setelah beras. Mungkin begini penjelasannya, karena harga rokok terlalu mahal akibat pungutan pajak pemerintah berupa cukai terlalu gede. Jadi wajar kalau pengeluaran untuk rokok kretek filter ikut gede pula. Sebab pajak yang dipungut untuk rokok kretek filter paling gede dibanding rokok kretek non filter. Nah ketahuan, rokok menjadi penyumbang kemiskinan kedua setelah beras akibat dari pungutan pajak pemerintah terlalu tinggi, begitulah alurnya.<\/p>\n\n\n\n Dibawah ini, sajian data Sesenas supaya lebih mudah dan lebih jelas:<\/p>\n\n\n\n Pada tabel di atas, ada 13 item makanan dan 8 item non makanan penyumbang kemiskinan di Indonesia sesuai data Susenas. Dilihat per item penyumbang kemiskinan tersebut mayoritas menjadi kebutuhan primer masyarakat. Bahkan menjadi kebutuhan sehari-hari sebagai mahluk hidup butuh makan dan perlindungan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Tembakau yang Paling Laris di Pasar Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Data Susenas tersebut seharusnya menjadi pertimbangan pemerintah dalam rangka pengentasan kemiskinan. Artinya pemerintah harusnya berupaya agar harga komuditas dan kebutuhan disesuai daya beli masyarakat. Ambil contoh pajak cukai rokok khususnya kretek filter jangan terlalu tinggi. Merokok kretek filter dan non filter sudah menjadi tradisi masyarakat Nusantara sudah ratusan tahun. Apalagi meracik rokok menjadi salah satu warisan nenek moyang. Tak berhenti disitu, aktifitas merokok tidak hanya sebuah tradisi tanpa makna. Merokok sebagai media relaksasi, rekreasi bahkan sampai sebagai media pengobatan. Jika menengok sejarah adanya rokok kretek khas Indonesia, dahulu kali pertama muncul rokok kretek untuk mengobati sakit bengek. Selanjutnya banyak riset yang mengatakan bahwa konten atau bahan dasar rokok kretek sangat dibutuhkan tubuh manusis. Hasil riset ini silahkan dibaca lagi pada tulisan terdahulu yang telah diterbitkan pada web boleh merokok yang berjudul \u201cTernyata Tubuh Manusia Membutuhkan Zat Yang Terkandung Dalam Sebatang Rokok Kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n Jadi rokok kretek asli Indonesia tak hanya menyumbang kas negara, tetapi juga bermanfaat bagi tubuh manusia. Jika ada informasi bahwa rokok penyumbang kemiskinan kedua setelah beras, jangan ditelan mentah-mentah, harus ditelusuri dahulu minimal dilihat akar penyebabnya, jangan asal menjustis. Tadi sudah dijelasin di atas ya. Asal tahu aja, kalau masyarakat dilarang merokok rokok kretek filter sebenarnya yang paling rugi itu pemerintah, pendapatan kas Negara akan berkurang. Perusahaan rokok kretek bisa beralih ke profisi lain, sedangkan hasil pertanian tembakau dan cengkeh tetap akan dikonsumsi masyarakat dengan melinting sendiri \u201cTingwe\u201d. <\/p>\n\n\n\n Logika lain, jika rokok kretek filter penyumbang kemiskinan kedua setelah beras, dan harus ditinggalkan dengan dalih supaya masyarakat tidak miskin. Berarti komoditas dan kebutuhan yang lain, terutama beras yang paling besar sumbangannya terhadap kemiskinan\u00a0 harus ditinggalkan, agar masyarakat lebih sejahtera?. Pastinya hal tersebut bukan solusi yang baik. Masak kebutuhan pokok ditinggalkan. Disinilah Pemerintah harus mengambil kebijakan yang solutif agar masyarakat tetap bisa memenuhi kebutuhan pokoknya dan tetap sejahtera.\u00a0\u00a0 Bisa jadi memang tanaman tembakau ada dimana-mana dan awalnya tumbuh liar termasuk di bumi Nusantara ini, hanya sebutannya yang beda. Juga bisa jadi dahulu orang-orang terdahulu sudah tau ada tanaman tersebut, tapi tak mengerti namanya, akhirnya mengikuti nama populernya.<\/p>\n\n\n\n Terlepas beda pendapat tentang tembakau, ada laporan yang menarik yang ditulis oleh P. De Kat Angelino dalam Voorstenlandsche Tabaksenquete tahun 1929, mengungkapkan bahwa kalaupun tanaman tembakau bukan tanaman asli Indonesia, sejak diperkenalkan sudah memiliki pertalian khusus dengan tanah Indonesia. Tembakau tak hanya menjadi komoditas utama pemerintah kolonial, tetapi juga telah mengubah kehidupan sosial ekonomi masyarakat bumiputera. <\/p>\n\n\n\n Lain halnya tembakau, ada buah cengkeh. Kalau ini sudah tidak diragukan lagi, sebagai tanaman asli bumi pertiwi. Walaupun banyak juga anak bangsa yang menganggap tanaman cengkeh itu bukan tanaman asli Nusantara. Anggapan itu sangat keliru, tapi juga tidak bisa di salahkan. Karena memang sejarah tanaman cengkeh di Nusantara ini pernah habis dibakar penjajah yang kemudian di budidaya penjajah di negari lain. Dan mungkin saat itu tanaman cengkeh di Nusantara ini hanya tinggal beberapa glintir. Berjalannya waktu, varietas cengkeh yang pernah di ambil dan dibudidayakan di negeri lain oleh penjajah, kemudian diambil dan dibudidayakan lagi di bumi pertiwi ini. Inilah sejarah singkat tanaman cengkeh yang fenomenal. Jelasnya, tanaman cengkeh adalah tanaman asli Nusantara, dan banyak literatur yang menuliskan dari daerah Maluku cengkeh yang kuwalitasnya sangat bagus. <\/p>\n\n\n\n Data Statistik Perkebunan Indonesia 2015-2017 menunjukkan perkebunan tembakau tersebar di 15 Provinsi dan perkebunan cengkeh terdapat 30 provinsi yang tersebar di bumi pertiwi ini. Dari perkebunan tembakau dan cengkeh tersebut, 93% terserap untuk bahan baku rokok kretek. Adanya cengkeh ini sebagai pembeda dengan rokok produk luar. Rokok produk luar bahan bakunya hanya memakai tembakau. Populer dengan sebutan \u201crokok putihan\u201d, sedang rokok asli Indonesia ditambahkan cengkeh yang akhirnya disebut \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n Rokok kretek, awalnya di temukan H. Djamhari untuk pengobatan alternatif dan kemudian diproduksi masal oleh Nitisemito, keduanya putra bangsa dari Kudus Kota Kretek. Belakangan banyak berdiri industri rokok kretek milik putra bangsa di beberapa daerah, dengan karyawan dari asal daerah tersebut. Hitungan kumulatif, sekitar ada 6.1 juta jiwa penyerapan tenaga kerja dari hulu hingga hilir. <\/p>\n\n\n\n Rokok kretek ditemukan putra bangsa, di produksi putra bangsa, industriya milik bumiputera, bahan bakunya diperoleh dari petani lokal, keuntungan dari penjualan sebagian besar masuk kas Negara untuk pembangunan, yang dinikmati semua kalangan bahkan yang tidak merokok dan benci rokok sekalipun. Lalu alasan apalagi hingga tak merokok kretek? Mari kita sama-sama mencintai produk dalam negeri, agar kita menjadi bangsa yang kuat. Banyak orang salah menalar saat membaca data sajian Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas). Jika baca datanya aja sudah salah, pastinya logika secara otomatis akan ikut keliru. Siapapun dia, harus hati-hati jika membaca data tersebut. Begitu keliru baca datanya, bias sesatkan pikiran si pembaca, bahkan bisa menyesatkan pikiran orang lain. Untuk itu mari kita sama-sama belajar baca data Susenas, agar tidak sesat dan menyesatkan pikiran banyak orang, seperti yang telah dilakukan salah satu juru bicara Presiden.<\/p>\n\n\n\n Kemarin ada seorang teman yang mengirim link tautan media sosial salah seorang juru bicara Presiden yang membahas \u201crokok\u201d menjadi sebab kemiskinan kedua setelah beras. Sang Juru Bicara tersebut menulis, \u201ctidaklah lebih baik kita menghentikan konsumsi rokok kini?\u201d.<\/p>\n\n\n\n Seseorang ini tidak usah disebutkan namanya ya, sebab tak baik, ntar yang ada hanya perselisian dan pertengkaran. Karena ia ini kasihan menjadi salah satu korban dari ketidaktahuan, sayangnya ia tidak mau belajar dan cari tahu dahulu. Memang data Susenas dibuat seperti itu, sehingga banyak orang terjebak, bahkan di tahun-tahun sebelumnya ada salah satu pejabat Susenas membaca datanya pun demikian, dengan memojokkan rokok kretek akibatnya sesat dan menyesatkan banyak orang.<\/p>\n\n\n\n Baca: Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin<\/a><\/p>\n\n\n\n Sederhananya begini, penduduk di Indonesia ini banyakan mana yang merokok dan yang tidak merokok?. Jawaban pertanyaan ini harus clear<\/em> dulu. Pastinya jawaban sesuai fakta adalah banyak yang tidak merokok . Ya iyalah, penduduk di Indonesian ini kan jumlahnya didominasi kaum hawa dan mereka banyak yang tidak merokok. Belum lagi anak-anak, remaja yang masih sekolah belum boleh merokok sesuai aturan kebijakan pemerintah. Bahkan di kalangan kaum adam pun banyak yang tidak merokok, iya kan? Lalu logikanya gimana ya, perokok itu kaum minoritas tapi penyumbang kemiskinan nomor dua setelah beras. Mungkin begini penjelasannya, karena harga rokok terlalu mahal akibat pungutan pajak pemerintah berupa cukai terlalu gede. Jadi wajar kalau pengeluaran untuk rokok kretek filter ikut gede pula. Sebab pajak yang dipungut untuk rokok kretek filter paling gede dibanding rokok kretek non filter. Nah ketahuan, rokok menjadi penyumbang kemiskinan kedua setelah beras akibat dari pungutan pajak pemerintah terlalu tinggi, begitulah alurnya.<\/p>\n\n\n\n Dibawah ini, sajian data Sesenas supaya lebih mudah dan lebih jelas:<\/p>\n\n\n\n Pada tabel di atas, ada 13 item makanan dan 8 item non makanan penyumbang kemiskinan di Indonesia sesuai data Susenas. Dilihat per item penyumbang kemiskinan tersebut mayoritas menjadi kebutuhan primer masyarakat. Bahkan menjadi kebutuhan sehari-hari sebagai mahluk hidup butuh makan dan perlindungan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Tembakau yang Paling Laris di Pasar Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Data Susenas tersebut seharusnya menjadi pertimbangan pemerintah dalam rangka pengentasan kemiskinan. Artinya pemerintah harusnya berupaya agar harga komuditas dan kebutuhan disesuai daya beli masyarakat. Ambil contoh pajak cukai rokok khususnya kretek filter jangan terlalu tinggi. Merokok kretek filter dan non filter sudah menjadi tradisi masyarakat Nusantara sudah ratusan tahun. Apalagi meracik rokok menjadi salah satu warisan nenek moyang. Tak berhenti disitu, aktifitas merokok tidak hanya sebuah tradisi tanpa makna. Merokok sebagai media relaksasi, rekreasi bahkan sampai sebagai media pengobatan. Jika menengok sejarah adanya rokok kretek khas Indonesia, dahulu kali pertama muncul rokok kretek untuk mengobati sakit bengek. Selanjutnya banyak riset yang mengatakan bahwa konten atau bahan dasar rokok kretek sangat dibutuhkan tubuh manusis. Hasil riset ini silahkan dibaca lagi pada tulisan terdahulu yang telah diterbitkan pada web boleh merokok yang berjudul \u201cTernyata Tubuh Manusia Membutuhkan Zat Yang Terkandung Dalam Sebatang Rokok Kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n Jadi rokok kretek asli Indonesia tak hanya menyumbang kas negara, tetapi juga bermanfaat bagi tubuh manusia. Jika ada informasi bahwa rokok penyumbang kemiskinan kedua setelah beras, jangan ditelan mentah-mentah, harus ditelusuri dahulu minimal dilihat akar penyebabnya, jangan asal menjustis. Tadi sudah dijelasin di atas ya. Asal tahu aja, kalau masyarakat dilarang merokok rokok kretek filter sebenarnya yang paling rugi itu pemerintah, pendapatan kas Negara akan berkurang. Perusahaan rokok kretek bisa beralih ke profisi lain, sedangkan hasil pertanian tembakau dan cengkeh tetap akan dikonsumsi masyarakat dengan melinting sendiri \u201cTingwe\u201d. <\/p>\n\n\n\n Logika lain, jika rokok kretek filter penyumbang kemiskinan kedua setelah beras, dan harus ditinggalkan dengan dalih supaya masyarakat tidak miskin. Berarti komoditas dan kebutuhan yang lain, terutama beras yang paling besar sumbangannya terhadap kemiskinan\u00a0 harus ditinggalkan, agar masyarakat lebih sejahtera?. Pastinya hal tersebut bukan solusi yang baik. Masak kebutuhan pokok ditinggalkan. Disinilah Pemerintah harus mengambil kebijakan yang solutif agar masyarakat tetap bisa memenuhi kebutuhan pokoknya dan tetap sejahtera.\u00a0\u00a0 Bisa jadi memang tanaman tembakau ada dimana-mana dan awalnya tumbuh liar termasuk di bumi Nusantara ini, hanya sebutannya yang beda. Juga bisa jadi dahulu orang-orang terdahulu sudah tau ada tanaman tersebut, tapi tak mengerti namanya, akhirnya mengikuti nama populernya.<\/p>\n\n\n\n Terlepas beda pendapat tentang tembakau, ada laporan yang menarik yang ditulis oleh P. De Kat Angelino dalam Voorstenlandsche Tabaksenquete tahun 1929, mengungkapkan bahwa kalaupun tanaman tembakau bukan tanaman asli Indonesia, sejak diperkenalkan sudah memiliki pertalian khusus dengan tanah Indonesia. Tembakau tak hanya menjadi komoditas utama pemerintah kolonial, tetapi juga telah mengubah kehidupan sosial ekonomi masyarakat bumiputera. <\/p>\n\n\n\n Lain halnya tembakau, ada buah cengkeh. Kalau ini sudah tidak diragukan lagi, sebagai tanaman asli bumi pertiwi. Walaupun banyak juga anak bangsa yang menganggap tanaman cengkeh itu bukan tanaman asli Nusantara. Anggapan itu sangat keliru, tapi juga tidak bisa di salahkan. Karena memang sejarah tanaman cengkeh di Nusantara ini pernah habis dibakar penjajah yang kemudian di budidaya penjajah di negari lain. Dan mungkin saat itu tanaman cengkeh di Nusantara ini hanya tinggal beberapa glintir. Berjalannya waktu, varietas cengkeh yang pernah di ambil dan dibudidayakan di negeri lain oleh penjajah, kemudian diambil dan dibudidayakan lagi di bumi pertiwi ini. Inilah sejarah singkat tanaman cengkeh yang fenomenal. Jelasnya, tanaman cengkeh adalah tanaman asli Nusantara, dan banyak literatur yang menuliskan dari daerah Maluku cengkeh yang kuwalitasnya sangat bagus. <\/p>\n\n\n\n Data Statistik Perkebunan Indonesia 2015-2017 menunjukkan perkebunan tembakau tersebar di 15 Provinsi dan perkebunan cengkeh terdapat 30 provinsi yang tersebar di bumi pertiwi ini. Dari perkebunan tembakau dan cengkeh tersebut, 93% terserap untuk bahan baku rokok kretek. Adanya cengkeh ini sebagai pembeda dengan rokok produk luar. Rokok produk luar bahan bakunya hanya memakai tembakau. Populer dengan sebutan \u201crokok putihan\u201d, sedang rokok asli Indonesia ditambahkan cengkeh yang akhirnya disebut \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n Rokok kretek, awalnya di temukan H. Djamhari untuk pengobatan alternatif dan kemudian diproduksi masal oleh Nitisemito, keduanya putra bangsa dari Kudus Kota Kretek. Belakangan banyak berdiri industri rokok kretek milik putra bangsa di beberapa daerah, dengan karyawan dari asal daerah tersebut. Hitungan kumulatif, sekitar ada 6.1 juta jiwa penyerapan tenaga kerja dari hulu hingga hilir. <\/p>\n\n\n\n Rokok kretek ditemukan putra bangsa, di produksi putra bangsa, industriya milik bumiputera, bahan bakunya diperoleh dari petani lokal, keuntungan dari penjualan sebagian besar masuk kas Negara untuk pembangunan, yang dinikmati semua kalangan bahkan yang tidak merokok dan benci rokok sekalipun. Lalu alasan apalagi hingga tak merokok kretek? Mari kita sama-sama mencintai produk dalam negeri, agar kita menjadi bangsa yang kuat. Banyak orang salah menalar saat membaca data sajian Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas). Jika baca datanya aja sudah salah, pastinya logika secara otomatis akan ikut keliru. Siapapun dia, harus hati-hati jika membaca data tersebut. Begitu keliru baca datanya, bias sesatkan pikiran si pembaca, bahkan bisa menyesatkan pikiran orang lain. Untuk itu mari kita sama-sama belajar baca data Susenas, agar tidak sesat dan menyesatkan pikiran banyak orang, seperti yang telah dilakukan salah satu juru bicara Presiden.<\/p>\n\n\n\n Kemarin ada seorang teman yang mengirim link tautan media sosial salah seorang juru bicara Presiden yang membahas \u201crokok\u201d menjadi sebab kemiskinan kedua setelah beras. Sang Juru Bicara tersebut menulis, \u201ctidaklah lebih baik kita menghentikan konsumsi rokok kini?\u201d.<\/p>\n\n\n\n Seseorang ini tidak usah disebutkan namanya ya, sebab tak baik, ntar yang ada hanya perselisian dan pertengkaran. Karena ia ini kasihan menjadi salah satu korban dari ketidaktahuan, sayangnya ia tidak mau belajar dan cari tahu dahulu. Memang data Susenas dibuat seperti itu, sehingga banyak orang terjebak, bahkan di tahun-tahun sebelumnya ada salah satu pejabat Susenas membaca datanya pun demikian, dengan memojokkan rokok kretek akibatnya sesat dan menyesatkan banyak orang.<\/p>\n\n\n\n Baca: Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin<\/a><\/p>\n\n\n\n Sederhananya begini, penduduk di Indonesia ini banyakan mana yang merokok dan yang tidak merokok?. Jawaban pertanyaan ini harus clear<\/em> dulu. Pastinya jawaban sesuai fakta adalah banyak yang tidak merokok . Ya iyalah, penduduk di Indonesian ini kan jumlahnya didominasi kaum hawa dan mereka banyak yang tidak merokok. Belum lagi anak-anak, remaja yang masih sekolah belum boleh merokok sesuai aturan kebijakan pemerintah. Bahkan di kalangan kaum adam pun banyak yang tidak merokok, iya kan? Lalu logikanya gimana ya, perokok itu kaum minoritas tapi penyumbang kemiskinan nomor dua setelah beras. Mungkin begini penjelasannya, karena harga rokok terlalu mahal akibat pungutan pajak pemerintah berupa cukai terlalu gede. Jadi wajar kalau pengeluaran untuk rokok kretek filter ikut gede pula. Sebab pajak yang dipungut untuk rokok kretek filter paling gede dibanding rokok kretek non filter. Nah ketahuan, rokok menjadi penyumbang kemiskinan kedua setelah beras akibat dari pungutan pajak pemerintah terlalu tinggi, begitulah alurnya.<\/p>\n\n\n\n Dibawah ini, sajian data Sesenas supaya lebih mudah dan lebih jelas:<\/p>\n\n\n\n Pada tabel di atas, ada 13 item makanan dan 8 item non makanan penyumbang kemiskinan di Indonesia sesuai data Susenas. Dilihat per item penyumbang kemiskinan tersebut mayoritas menjadi kebutuhan primer masyarakat. Bahkan menjadi kebutuhan sehari-hari sebagai mahluk hidup butuh makan dan perlindungan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Tembakau yang Paling Laris di Pasar Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Data Susenas tersebut seharusnya menjadi pertimbangan pemerintah dalam rangka pengentasan kemiskinan. Artinya pemerintah harusnya berupaya agar harga komuditas dan kebutuhan disesuai daya beli masyarakat. Ambil contoh pajak cukai rokok khususnya kretek filter jangan terlalu tinggi. Merokok kretek filter dan non filter sudah menjadi tradisi masyarakat Nusantara sudah ratusan tahun. Apalagi meracik rokok menjadi salah satu warisan nenek moyang. Tak berhenti disitu, aktifitas merokok tidak hanya sebuah tradisi tanpa makna. Merokok sebagai media relaksasi, rekreasi bahkan sampai sebagai media pengobatan. Jika menengok sejarah adanya rokok kretek khas Indonesia, dahulu kali pertama muncul rokok kretek untuk mengobati sakit bengek. Selanjutnya banyak riset yang mengatakan bahwa konten atau bahan dasar rokok kretek sangat dibutuhkan tubuh manusis. Hasil riset ini silahkan dibaca lagi pada tulisan terdahulu yang telah diterbitkan pada web boleh merokok yang berjudul \u201cTernyata Tubuh Manusia Membutuhkan Zat Yang Terkandung Dalam Sebatang Rokok Kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n Jadi rokok kretek asli Indonesia tak hanya menyumbang kas negara, tetapi juga bermanfaat bagi tubuh manusia. Jika ada informasi bahwa rokok penyumbang kemiskinan kedua setelah beras, jangan ditelan mentah-mentah, harus ditelusuri dahulu minimal dilihat akar penyebabnya, jangan asal menjustis. Tadi sudah dijelasin di atas ya. Asal tahu aja, kalau masyarakat dilarang merokok rokok kretek filter sebenarnya yang paling rugi itu pemerintah, pendapatan kas Negara akan berkurang. Perusahaan rokok kretek bisa beralih ke profisi lain, sedangkan hasil pertanian tembakau dan cengkeh tetap akan dikonsumsi masyarakat dengan melinting sendiri \u201cTingwe\u201d. <\/p>\n\n\n\n Logika lain, jika rokok kretek filter penyumbang kemiskinan kedua setelah beras, dan harus ditinggalkan dengan dalih supaya masyarakat tidak miskin. Berarti komoditas dan kebutuhan yang lain, terutama beras yang paling besar sumbangannya terhadap kemiskinan\u00a0 harus ditinggalkan, agar masyarakat lebih sejahtera?. Pastinya hal tersebut bukan solusi yang baik. Masak kebutuhan pokok ditinggalkan. Disinilah Pemerintah harus mengambil kebijakan yang solutif agar masyarakat tetap bisa memenuhi kebutuhan pokoknya dan tetap sejahtera.\u00a0\u00a0 Memperkuat hipotesa Budayawan asal Yogyakarta tersebut, di Kudus tepatnya di Desa Colo Kecamatan Dawe, tembakau tumbuh liar di bebatuan. Anehnya tanaman tersebut ketika dibersihkan dan dicabut, akan tumbuh lagi disekitaran tempat itu, cerita Masrukin. Ada lagi kejadian di Desa Gribig Kecamatan Gebog sebelah timur makam Sunan Kedu, tembakau tumbuh di sela-sela dinding batu bata salah satu rumah warga. Kalau dicabut selang beberapa hari tumbuh lagi begitu seterusnya. Rasa gregetan, karena menurutnya tumbuh tak sewajarnya dan tak memperindah pandangan rumahnya, akhirnya baru dua tahun ini dinding rumah tersebut di keraskan memakai semen, cerita Nur Cholis warga setempat.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Bisa jadi memang tanaman tembakau ada dimana-mana dan awalnya tumbuh liar termasuk di bumi Nusantara ini, hanya sebutannya yang beda. Juga bisa jadi dahulu orang-orang terdahulu sudah tau ada tanaman tersebut, tapi tak mengerti namanya, akhirnya mengikuti nama populernya.<\/p>\n\n\n\n Terlepas beda pendapat tentang tembakau, ada laporan yang menarik yang ditulis oleh P. De Kat Angelino dalam Voorstenlandsche Tabaksenquete tahun 1929, mengungkapkan bahwa kalaupun tanaman tembakau bukan tanaman asli Indonesia, sejak diperkenalkan sudah memiliki pertalian khusus dengan tanah Indonesia. Tembakau tak hanya menjadi komoditas utama pemerintah kolonial, tetapi juga telah mengubah kehidupan sosial ekonomi masyarakat bumiputera. <\/p>\n\n\n\n Lain halnya tembakau, ada buah cengkeh. Kalau ini sudah tidak diragukan lagi, sebagai tanaman asli bumi pertiwi. Walaupun banyak juga anak bangsa yang menganggap tanaman cengkeh itu bukan tanaman asli Nusantara. Anggapan itu sangat keliru, tapi juga tidak bisa di salahkan. Karena memang sejarah tanaman cengkeh di Nusantara ini pernah habis dibakar penjajah yang kemudian di budidaya penjajah di negari lain. Dan mungkin saat itu tanaman cengkeh di Nusantara ini hanya tinggal beberapa glintir. Berjalannya waktu, varietas cengkeh yang pernah di ambil dan dibudidayakan di negeri lain oleh penjajah, kemudian diambil dan dibudidayakan lagi di bumi pertiwi ini. Inilah sejarah singkat tanaman cengkeh yang fenomenal. Jelasnya, tanaman cengkeh adalah tanaman asli Nusantara, dan banyak literatur yang menuliskan dari daerah Maluku cengkeh yang kuwalitasnya sangat bagus. <\/p>\n\n\n\n Data Statistik Perkebunan Indonesia 2015-2017 menunjukkan perkebunan tembakau tersebar di 15 Provinsi dan perkebunan cengkeh terdapat 30 provinsi yang tersebar di bumi pertiwi ini. Dari perkebunan tembakau dan cengkeh tersebut, 93% terserap untuk bahan baku rokok kretek. Adanya cengkeh ini sebagai pembeda dengan rokok produk luar. Rokok produk luar bahan bakunya hanya memakai tembakau. Populer dengan sebutan \u201crokok putihan\u201d, sedang rokok asli Indonesia ditambahkan cengkeh yang akhirnya disebut \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n Rokok kretek, awalnya di temukan H. Djamhari untuk pengobatan alternatif dan kemudian diproduksi masal oleh Nitisemito, keduanya putra bangsa dari Kudus Kota Kretek. Belakangan banyak berdiri industri rokok kretek milik putra bangsa di beberapa daerah, dengan karyawan dari asal daerah tersebut. Hitungan kumulatif, sekitar ada 6.1 juta jiwa penyerapan tenaga kerja dari hulu hingga hilir. <\/p>\n\n\n\n Rokok kretek ditemukan putra bangsa, di produksi putra bangsa, industriya milik bumiputera, bahan bakunya diperoleh dari petani lokal, keuntungan dari penjualan sebagian besar masuk kas Negara untuk pembangunan, yang dinikmati semua kalangan bahkan yang tidak merokok dan benci rokok sekalipun. Lalu alasan apalagi hingga tak merokok kretek? Mari kita sama-sama mencintai produk dalam negeri, agar kita menjadi bangsa yang kuat. Banyak orang salah menalar saat membaca data sajian Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas). Jika baca datanya aja sudah salah, pastinya logika secara otomatis akan ikut keliru. Siapapun dia, harus hati-hati jika membaca data tersebut. Begitu keliru baca datanya, bias sesatkan pikiran si pembaca, bahkan bisa menyesatkan pikiran orang lain. Untuk itu mari kita sama-sama belajar baca data Susenas, agar tidak sesat dan menyesatkan pikiran banyak orang, seperti yang telah dilakukan salah satu juru bicara Presiden.<\/p>\n\n\n\n Kemarin ada seorang teman yang mengirim link tautan media sosial salah seorang juru bicara Presiden yang membahas \u201crokok\u201d menjadi sebab kemiskinan kedua setelah beras. Sang Juru Bicara tersebut menulis, \u201ctidaklah lebih baik kita menghentikan konsumsi rokok kini?\u201d.<\/p>\n\n\n\n Seseorang ini tidak usah disebutkan namanya ya, sebab tak baik, ntar yang ada hanya perselisian dan pertengkaran. Karena ia ini kasihan menjadi salah satu korban dari ketidaktahuan, sayangnya ia tidak mau belajar dan cari tahu dahulu. Memang data Susenas dibuat seperti itu, sehingga banyak orang terjebak, bahkan di tahun-tahun sebelumnya ada salah satu pejabat Susenas membaca datanya pun demikian, dengan memojokkan rokok kretek akibatnya sesat dan menyesatkan banyak orang.<\/p>\n\n\n\n Baca: Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin<\/a><\/p>\n\n\n\n Sederhananya begini, penduduk di Indonesia ini banyakan mana yang merokok dan yang tidak merokok?. Jawaban pertanyaan ini harus clear<\/em> dulu. Pastinya jawaban sesuai fakta adalah banyak yang tidak merokok . Ya iyalah, penduduk di Indonesian ini kan jumlahnya didominasi kaum hawa dan mereka banyak yang tidak merokok. Belum lagi anak-anak, remaja yang masih sekolah belum boleh merokok sesuai aturan kebijakan pemerintah. Bahkan di kalangan kaum adam pun banyak yang tidak merokok, iya kan? Lalu logikanya gimana ya, perokok itu kaum minoritas tapi penyumbang kemiskinan nomor dua setelah beras. Mungkin begini penjelasannya, karena harga rokok terlalu mahal akibat pungutan pajak pemerintah berupa cukai terlalu gede. Jadi wajar kalau pengeluaran untuk rokok kretek filter ikut gede pula. Sebab pajak yang dipungut untuk rokok kretek filter paling gede dibanding rokok kretek non filter. Nah ketahuan, rokok menjadi penyumbang kemiskinan kedua setelah beras akibat dari pungutan pajak pemerintah terlalu tinggi, begitulah alurnya.<\/p>\n\n\n\n Dibawah ini, sajian data Sesenas supaya lebih mudah dan lebih jelas:<\/p>\n\n\n\n Pada tabel di atas, ada 13 item makanan dan 8 item non makanan penyumbang kemiskinan di Indonesia sesuai data Susenas. Dilihat per item penyumbang kemiskinan tersebut mayoritas menjadi kebutuhan primer masyarakat. Bahkan menjadi kebutuhan sehari-hari sebagai mahluk hidup butuh makan dan perlindungan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Tembakau yang Paling Laris di Pasar Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Data Susenas tersebut seharusnya menjadi pertimbangan pemerintah dalam rangka pengentasan kemiskinan. Artinya pemerintah harusnya berupaya agar harga komuditas dan kebutuhan disesuai daya beli masyarakat. Ambil contoh pajak cukai rokok khususnya kretek filter jangan terlalu tinggi. Merokok kretek filter dan non filter sudah menjadi tradisi masyarakat Nusantara sudah ratusan tahun. Apalagi meracik rokok menjadi salah satu warisan nenek moyang. Tak berhenti disitu, aktifitas merokok tidak hanya sebuah tradisi tanpa makna. Merokok sebagai media relaksasi, rekreasi bahkan sampai sebagai media pengobatan. Jika menengok sejarah adanya rokok kretek khas Indonesia, dahulu kali pertama muncul rokok kretek untuk mengobati sakit bengek. Selanjutnya banyak riset yang mengatakan bahwa konten atau bahan dasar rokok kretek sangat dibutuhkan tubuh manusis. Hasil riset ini silahkan dibaca lagi pada tulisan terdahulu yang telah diterbitkan pada web boleh merokok yang berjudul \u201cTernyata Tubuh Manusia Membutuhkan Zat Yang Terkandung Dalam Sebatang Rokok Kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n Jadi rokok kretek asli Indonesia tak hanya menyumbang kas negara, tetapi juga bermanfaat bagi tubuh manusia. Jika ada informasi bahwa rokok penyumbang kemiskinan kedua setelah beras, jangan ditelan mentah-mentah, harus ditelusuri dahulu minimal dilihat akar penyebabnya, jangan asal menjustis. Tadi sudah dijelasin di atas ya. Asal tahu aja, kalau masyarakat dilarang merokok rokok kretek filter sebenarnya yang paling rugi itu pemerintah, pendapatan kas Negara akan berkurang. Perusahaan rokok kretek bisa beralih ke profisi lain, sedangkan hasil pertanian tembakau dan cengkeh tetap akan dikonsumsi masyarakat dengan melinting sendiri \u201cTingwe\u201d. <\/p>\n\n\n\n Logika lain, jika rokok kretek filter penyumbang kemiskinan kedua setelah beras, dan harus ditinggalkan dengan dalih supaya masyarakat tidak miskin. Berarti komoditas dan kebutuhan yang lain, terutama beras yang paling besar sumbangannya terhadap kemiskinan\u00a0 harus ditinggalkan, agar masyarakat lebih sejahtera?. Pastinya hal tersebut bukan solusi yang baik. Masak kebutuhan pokok ditinggalkan. Disinilah Pemerintah harus mengambil kebijakan yang solutif agar masyarakat tetap bisa memenuhi kebutuhan pokoknya dan tetap sejahtera.\u00a0\u00a0 Beda lagi pernyataan Jadul Maula, seorang budayawan asal Yogyakarta. Melalui pendekatan bahasa, tanaman tembakau sudah ada sejak dulu, tumbuh dan berkembang dengan sendiri di bumi pertiwi ini. Ia menggambarkan secara kedaerahan, contoh di daerah Temanggung, orang sering mengatakan \u201csotho\u201d sebutan untuk tembakau. Tembakau sebutan kerennya, dan sotho nama aslinya. Sebutan sotho dan tembakau gak ada miripnya, kalau \u201cbako\u201d \u201ctembakau\u201d \u201ctobacco\u201d dan \u201c tumbacco\u201d hampir mirip pelafalannya. Jadi hipotesa yang dibangun mas Jadul, apa yang disebut tembakau itu bisa jadi sebetulnya tanaman yang disemua negara ada termasuk Indonesia. Namun karena saat itu orang Portugis lebih mempopulerkan dengan sebutan \u201ctobacco\u201d atau \u201ctumbacco\u201d dan orang Indonesia kesulitan melafalkannya, sehingga menyebutnya \u201ctembakau\u201d atau \u201cbako\u201d. <\/p>\n\n\n\n Memperkuat hipotesa Budayawan asal Yogyakarta tersebut, di Kudus tepatnya di Desa Colo Kecamatan Dawe, tembakau tumbuh liar di bebatuan. Anehnya tanaman tersebut ketika dibersihkan dan dicabut, akan tumbuh lagi disekitaran tempat itu, cerita Masrukin. Ada lagi kejadian di Desa Gribig Kecamatan Gebog sebelah timur makam Sunan Kedu, tembakau tumbuh di sela-sela dinding batu bata salah satu rumah warga. Kalau dicabut selang beberapa hari tumbuh lagi begitu seterusnya. Rasa gregetan, karena menurutnya tumbuh tak sewajarnya dan tak memperindah pandangan rumahnya, akhirnya baru dua tahun ini dinding rumah tersebut di keraskan memakai semen, cerita Nur Cholis warga setempat.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Bisa jadi memang tanaman tembakau ada dimana-mana dan awalnya tumbuh liar termasuk di bumi Nusantara ini, hanya sebutannya yang beda. Juga bisa jadi dahulu orang-orang terdahulu sudah tau ada tanaman tersebut, tapi tak mengerti namanya, akhirnya mengikuti nama populernya.<\/p>\n\n\n\n Terlepas beda pendapat tentang tembakau, ada laporan yang menarik yang ditulis oleh P. De Kat Angelino dalam Voorstenlandsche Tabaksenquete tahun 1929, mengungkapkan bahwa kalaupun tanaman tembakau bukan tanaman asli Indonesia, sejak diperkenalkan sudah memiliki pertalian khusus dengan tanah Indonesia. Tembakau tak hanya menjadi komoditas utama pemerintah kolonial, tetapi juga telah mengubah kehidupan sosial ekonomi masyarakat bumiputera. <\/p>\n\n\n\n Lain halnya tembakau, ada buah cengkeh. Kalau ini sudah tidak diragukan lagi, sebagai tanaman asli bumi pertiwi. Walaupun banyak juga anak bangsa yang menganggap tanaman cengkeh itu bukan tanaman asli Nusantara. Anggapan itu sangat keliru, tapi juga tidak bisa di salahkan. Karena memang sejarah tanaman cengkeh di Nusantara ini pernah habis dibakar penjajah yang kemudian di budidaya penjajah di negari lain. Dan mungkin saat itu tanaman cengkeh di Nusantara ini hanya tinggal beberapa glintir. Berjalannya waktu, varietas cengkeh yang pernah di ambil dan dibudidayakan di negeri lain oleh penjajah, kemudian diambil dan dibudidayakan lagi di bumi pertiwi ini. Inilah sejarah singkat tanaman cengkeh yang fenomenal. Jelasnya, tanaman cengkeh adalah tanaman asli Nusantara, dan banyak literatur yang menuliskan dari daerah Maluku cengkeh yang kuwalitasnya sangat bagus. <\/p>\n\n\n\n Data Statistik Perkebunan Indonesia 2015-2017 menunjukkan perkebunan tembakau tersebar di 15 Provinsi dan perkebunan cengkeh terdapat 30 provinsi yang tersebar di bumi pertiwi ini. Dari perkebunan tembakau dan cengkeh tersebut, 93% terserap untuk bahan baku rokok kretek. Adanya cengkeh ini sebagai pembeda dengan rokok produk luar. Rokok produk luar bahan bakunya hanya memakai tembakau. Populer dengan sebutan \u201crokok putihan\u201d, sedang rokok asli Indonesia ditambahkan cengkeh yang akhirnya disebut \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n Rokok kretek, awalnya di temukan H. Djamhari untuk pengobatan alternatif dan kemudian diproduksi masal oleh Nitisemito, keduanya putra bangsa dari Kudus Kota Kretek. Belakangan banyak berdiri industri rokok kretek milik putra bangsa di beberapa daerah, dengan karyawan dari asal daerah tersebut. Hitungan kumulatif, sekitar ada 6.1 juta jiwa penyerapan tenaga kerja dari hulu hingga hilir. <\/p>\n\n\n\n Rokok kretek ditemukan putra bangsa, di produksi putra bangsa, industriya milik bumiputera, bahan bakunya diperoleh dari petani lokal, keuntungan dari penjualan sebagian besar masuk kas Negara untuk pembangunan, yang dinikmati semua kalangan bahkan yang tidak merokok dan benci rokok sekalipun. Lalu alasan apalagi hingga tak merokok kretek? Mari kita sama-sama mencintai produk dalam negeri, agar kita menjadi bangsa yang kuat. Banyak orang salah menalar saat membaca data sajian Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas). Jika baca datanya aja sudah salah, pastinya logika secara otomatis akan ikut keliru. Siapapun dia, harus hati-hati jika membaca data tersebut. Begitu keliru baca datanya, bias sesatkan pikiran si pembaca, bahkan bisa menyesatkan pikiran orang lain. Untuk itu mari kita sama-sama belajar baca data Susenas, agar tidak sesat dan menyesatkan pikiran banyak orang, seperti yang telah dilakukan salah satu juru bicara Presiden.<\/p>\n\n\n\n Kemarin ada seorang teman yang mengirim link tautan media sosial salah seorang juru bicara Presiden yang membahas \u201crokok\u201d menjadi sebab kemiskinan kedua setelah beras. Sang Juru Bicara tersebut menulis, \u201ctidaklah lebih baik kita menghentikan konsumsi rokok kini?\u201d.<\/p>\n\n\n\n Seseorang ini tidak usah disebutkan namanya ya, sebab tak baik, ntar yang ada hanya perselisian dan pertengkaran. Karena ia ini kasihan menjadi salah satu korban dari ketidaktahuan, sayangnya ia tidak mau belajar dan cari tahu dahulu. Memang data Susenas dibuat seperti itu, sehingga banyak orang terjebak, bahkan di tahun-tahun sebelumnya ada salah satu pejabat Susenas membaca datanya pun demikian, dengan memojokkan rokok kretek akibatnya sesat dan menyesatkan banyak orang.<\/p>\n\n\n\n
<\/figure>\n\n\n\nTembakau Lombok Nusa Tenggara Barat<\/h2>\n\n\n\n
<\/figure>\n\n\n\nTembakau Lombok Nusa Tenggara Barat<\/h2>\n\n\n\n
<\/figure>\n\n\n\nTembakau Lombok Nusa Tenggara Barat<\/h2>\n\n\n\n
<\/figure>\n\n\n\nTembakau Lombok Nusa Tenggara Barat<\/h2>\n\n\n\n
<\/figure>\n\n\n\n
<\/figure>\n\n\n\nTembakau Lombok Nusa Tenggara Barat<\/h2>\n\n\n\n
<\/figure>\n\n\n\nKemlaka Temanggung<\/h2>\n\n\n\n
<\/figure>\n\n\n\nTembakau Lombok Nusa Tenggara Barat<\/h2>\n\n\n\n
<\/figure>\n\n\n\nKemlaka Temanggung<\/h2>\n\n\n\n
<\/figure>\n\n\n\nTembakau Lombok Nusa Tenggara Barat<\/h2>\n\n\n\n
<\/figure>\n\n\n\nKemlaka Temanggung<\/h2>\n\n\n\n
<\/figure>\n\n\n\nTembakau Lombok Nusa Tenggara Barat<\/h2>\n\n\n\n
<\/figure>\n\n\n\n
<\/figure>\n\n\n\nKemlaka Temanggung<\/h2>\n\n\n\n
<\/figure>\n\n\n\nTembakau Lombok Nusa Tenggara Barat<\/h2>\n\n\n\n
<\/figure>\n\n\n\nGayo Hijau Aceh<\/h2>\n\n\n\n
<\/figure>\n\n\n\nKemlaka Temanggung<\/h2>\n\n\n\n
<\/figure>\n\n\n\nTembakau Lombok Nusa Tenggara Barat<\/h2>\n\n\n\n
<\/figure>\n\n\n\nGayo Hijau Aceh<\/h2>\n\n\n\n
<\/figure>\n\n\n\nKemlaka Temanggung<\/h2>\n\n\n\n
<\/figure>\n\n\n\nTembakau Lombok Nusa Tenggara Barat<\/h2>\n\n\n\n
<\/figure>\n\n\n\nGayo Hijau Aceh<\/h2>\n\n\n\n
<\/figure>\n\n\n\nKemlaka Temanggung<\/h2>\n\n\n\n
<\/figure>\n\n\n\nTembakau Lombok Nusa Tenggara Barat<\/h2>\n\n\n\n
<\/figure>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n<\/figure>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n<\/figure>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n<\/figure>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n<\/figure>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n<\/figure>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n<\/figure>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n<\/figure>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kretek, Rokok Khas Indonesia yang Hulu hingga Hilirnya Dikuasai Rakyat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-rokok-khas-indonesia-yang-hulu-hingga-hilirnya-dikuasai-rakyat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-27 08:27:44","post_modified_gmt":"2020-01-27 01:27:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6414","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6396,"post_author":"877","post_date":"2020-01-22 09:09:51","post_date_gmt":"2020-01-22 02:09:51","post_content":"\n<\/figure>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kretek, Rokok Khas Indonesia yang Hulu hingga Hilirnya Dikuasai Rakyat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-rokok-khas-indonesia-yang-hulu-hingga-hilirnya-dikuasai-rakyat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-27 08:27:44","post_modified_gmt":"2020-01-27 01:27:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6414","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6396,"post_author":"877","post_date":"2020-01-22 09:09:51","post_date_gmt":"2020-01-22 02:09:51","post_content":"\n<\/figure>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kretek, Rokok Khas Indonesia yang Hulu hingga Hilirnya Dikuasai Rakyat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-rokok-khas-indonesia-yang-hulu-hingga-hilirnya-dikuasai-rakyat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-27 08:27:44","post_modified_gmt":"2020-01-27 01:27:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6414","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6396,"post_author":"877","post_date":"2020-01-22 09:09:51","post_date_gmt":"2020-01-22 02:09:51","post_content":"\n<\/figure>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kretek, Rokok Khas Indonesia yang Hulu hingga Hilirnya Dikuasai Rakyat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-rokok-khas-indonesia-yang-hulu-hingga-hilirnya-dikuasai-rakyat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-27 08:27:44","post_modified_gmt":"2020-01-27 01:27:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6414","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6396,"post_author":"877","post_date":"2020-01-22 09:09:51","post_date_gmt":"2020-01-22 02:09:51","post_content":"\n<\/figure>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kretek, Rokok Khas Indonesia yang Hulu hingga Hilirnya Dikuasai Rakyat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-rokok-khas-indonesia-yang-hulu-hingga-hilirnya-dikuasai-rakyat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-27 08:27:44","post_modified_gmt":"2020-01-27 01:27:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6414","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6396,"post_author":"877","post_date":"2020-01-22 09:09:51","post_date_gmt":"2020-01-22 02:09:51","post_content":"\n<\/figure>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kretek, Rokok Khas Indonesia yang Hulu hingga Hilirnya Dikuasai Rakyat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-rokok-khas-indonesia-yang-hulu-hingga-hilirnya-dikuasai-rakyat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-27 08:27:44","post_modified_gmt":"2020-01-27 01:27:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6414","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6396,"post_author":"877","post_date":"2020-01-22 09:09:51","post_date_gmt":"2020-01-22 02:09:51","post_content":"\n<\/figure>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/figure>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kretek, Rokok Khas Indonesia yang Hulu hingga Hilirnya Dikuasai Rakyat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-rokok-khas-indonesia-yang-hulu-hingga-hilirnya-dikuasai-rakyat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-27 08:27:44","post_modified_gmt":"2020-01-27 01:27:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6414","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6396,"post_author":"877","post_date":"2020-01-22 09:09:51","post_date_gmt":"2020-01-22 02:09:51","post_content":"\n<\/figure>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/figure>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kretek, Rokok Khas Indonesia yang Hulu hingga Hilirnya Dikuasai Rakyat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-rokok-khas-indonesia-yang-hulu-hingga-hilirnya-dikuasai-rakyat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-27 08:27:44","post_modified_gmt":"2020-01-27 01:27:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6414","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6396,"post_author":"877","post_date":"2020-01-22 09:09:51","post_date_gmt":"2020-01-22 02:09:51","post_content":"\n<\/figure>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/figure>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kretek, Rokok Khas Indonesia yang Hulu hingga Hilirnya Dikuasai Rakyat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-rokok-khas-indonesia-yang-hulu-hingga-hilirnya-dikuasai-rakyat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-27 08:27:44","post_modified_gmt":"2020-01-27 01:27:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6414","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6396,"post_author":"877","post_date":"2020-01-22 09:09:51","post_date_gmt":"2020-01-22 02:09:51","post_content":"\n