Kalau memang mereka bersiteguh dengan pendapat bahwa rokok tak boleh ikut campur urusan olahraga sok saja atuh minta kepada industri farmasi untuk masuk membina atlet muda kita. Selama ini kok saya kira jarang melihat perusahaan farmasi mau capek ikut membangun olahraga di Indonesia. Bukannya industri farmasi adalah sesuatu yang menyehatkan dan menjadi pahlawan bagi masyarakat Indonesia yang katanya sedang sakit gara-gara rokok. Sudah saatnya kan perusahaan-perusahaan farmasi yang besar itu ikut menyehatkan bangsa kita dan memajukan olahraga tanah air.
<\/p>\n\n\n\n
Ayo KPAI dan antirokok, minta industri farmasi bergerak, bukankah kalian yang memang mengaku paling cinta tanah air dan mau melindungi bangsa ini dari penyakit?<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dukung KPAI dan Antirokok Mendorong Perusahaan Farmasi Memajukan Olahraga Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dukung-kpai-dan-antirokok-mendorong-perusahaan-farmasi-memajukan-olahraga-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-11 10:18:07","post_modified_gmt":"2019-09-11 03:18:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6050","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Baca: Tuduhan Keterlaluan Yayasan Lentera Anak Terhadap Djarum Foundation<\/a><\/p>\n\n\n\n Kalau memang mereka bersiteguh dengan pendapat bahwa rokok tak boleh ikut campur urusan olahraga sok saja atuh minta kepada industri farmasi untuk masuk membina atlet muda kita. Selama ini kok saya kira jarang melihat perusahaan farmasi mau capek ikut membangun olahraga di Indonesia. Bukannya industri farmasi adalah sesuatu yang menyehatkan dan menjadi pahlawan bagi masyarakat Indonesia yang katanya sedang sakit gara-gara rokok. Sudah saatnya kan perusahaan-perusahaan farmasi yang besar itu ikut menyehatkan bangsa kita dan memajukan olahraga tanah air. Ayo KPAI dan antirokok, minta industri farmasi bergerak, bukankah kalian yang memang mengaku paling cinta tanah air dan mau melindungi bangsa ini dari penyakit?<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dukung KPAI dan Antirokok Mendorong Perusahaan Farmasi Memajukan Olahraga Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dukung-kpai-dan-antirokok-mendorong-perusahaan-farmasi-memajukan-olahraga-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-11 10:18:07","post_modified_gmt":"2019-09-11 03:18:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6050","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Oke, anggap saja PB Djarum tak akan lagi melakukan audisi atau lebih buruknya mereka berhenti total. Sekarang pertanyaan yang sangat umum ada di pikiran masyarakat, siapa yang akan melanjutkan pembinaan olahraga khususnya Badminton di Indonesia? Seorang Menteri Pemuda dan Olahraga saja mengakui bahwa pemerintah tak bisa berdiri sendiri melakukannya. Para pembela KPAI dan antirokok juga harus memberikan solusi kongkrit atas ego yang mereka usung dalam penghentian PB Djarum.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Tuduhan Keterlaluan Yayasan Lentera Anak Terhadap Djarum Foundation<\/a><\/p>\n\n\n\n Kalau memang mereka bersiteguh dengan pendapat bahwa rokok tak boleh ikut campur urusan olahraga sok saja atuh minta kepada industri farmasi untuk masuk membina atlet muda kita. Selama ini kok saya kira jarang melihat perusahaan farmasi mau capek ikut membangun olahraga di Indonesia. Bukannya industri farmasi adalah sesuatu yang menyehatkan dan menjadi pahlawan bagi masyarakat Indonesia yang katanya sedang sakit gara-gara rokok. Sudah saatnya kan perusahaan-perusahaan farmasi yang besar itu ikut menyehatkan bangsa kita dan memajukan olahraga tanah air. Ayo KPAI dan antirokok, minta industri farmasi bergerak, bukankah kalian yang memang mengaku paling cinta tanah air dan mau melindungi bangsa ini dari penyakit?<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dukung KPAI dan Antirokok Mendorong Perusahaan Farmasi Memajukan Olahraga Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dukung-kpai-dan-antirokok-mendorong-perusahaan-farmasi-memajukan-olahraga-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-11 10:18:07","post_modified_gmt":"2019-09-11 03:18:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6050","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Kini ramai-ramai publik dihebohkan dengan keputusan PB Djarum untuk menghentikan audisi. Kebijakan itu mereka ambil tepat di tahun ke-50 mengabdi pada Indonesia. Alasannnya menghentikan audisi dipilih karena tak ingin melanggar regulasi. Sebenarnya tak ada kesalahan yang dilakukan oleh PB Djarum karena secara hukum mereka berbeda dengan PT Djarum yang merupakan perusahaan rokok. Lagian, BWF selaku otoritas tertinggi olahraga Badminton di dunia selama ini tak melihat PB Djarum melanggar aturan. Oke, anggap saja PB Djarum tak akan lagi melakukan audisi atau lebih buruknya mereka berhenti total. Sekarang pertanyaan yang sangat umum ada di pikiran masyarakat, siapa yang akan melanjutkan pembinaan olahraga khususnya Badminton di Indonesia? Seorang Menteri Pemuda dan Olahraga saja mengakui bahwa pemerintah tak bisa berdiri sendiri melakukannya. Para pembela KPAI dan antirokok juga harus memberikan solusi kongkrit atas ego yang mereka usung dalam penghentian PB Djarum.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Tuduhan Keterlaluan Yayasan Lentera Anak Terhadap Djarum Foundation<\/a><\/p>\n\n\n\n Kalau memang mereka bersiteguh dengan pendapat bahwa rokok tak boleh ikut campur urusan olahraga sok saja atuh minta kepada industri farmasi untuk masuk membina atlet muda kita. Selama ini kok saya kira jarang melihat perusahaan farmasi mau capek ikut membangun olahraga di Indonesia. Bukannya industri farmasi adalah sesuatu yang menyehatkan dan menjadi pahlawan bagi masyarakat Indonesia yang katanya sedang sakit gara-gara rokok. Sudah saatnya kan perusahaan-perusahaan farmasi yang besar itu ikut menyehatkan bangsa kita dan memajukan olahraga tanah air. Ayo KPAI dan antirokok, minta industri farmasi bergerak, bukankah kalian yang memang mengaku paling cinta tanah air dan mau melindungi bangsa ini dari penyakit?<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dukung KPAI dan Antirokok Mendorong Perusahaan Farmasi Memajukan Olahraga Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dukung-kpai-dan-antirokok-mendorong-perusahaan-farmasi-memajukan-olahraga-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-11 10:18:07","post_modified_gmt":"2019-09-11 03:18:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6050","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Para antirokok selalu mengedepankan moralitas yang menjadi pendirian teguh mereka menentang segala upaya baik yang dilakukan industri rokok. Alasannya, rokok tidak menyehatkan dan tidak boleh cawe-cawe di urusan olahraga. Ya kalau begitu alasannya kenapa mereka juga tidak bertindak tegas kepada perusahaan-perusahaan besar yang telah merusak alam, membiarkan kepunahan suku adat di daerah tertentu, dan hal buruk-buruk lainnya? Sungguhlah saya masih dibuat bingung oleh tindakan mereka. Kini ramai-ramai publik dihebohkan dengan keputusan PB Djarum untuk menghentikan audisi. Kebijakan itu mereka ambil tepat di tahun ke-50 mengabdi pada Indonesia. Alasannnya menghentikan audisi dipilih karena tak ingin melanggar regulasi. Sebenarnya tak ada kesalahan yang dilakukan oleh PB Djarum karena secara hukum mereka berbeda dengan PT Djarum yang merupakan perusahaan rokok. Lagian, BWF selaku otoritas tertinggi olahraga Badminton di dunia selama ini tak melihat PB Djarum melanggar aturan. Oke, anggap saja PB Djarum tak akan lagi melakukan audisi atau lebih buruknya mereka berhenti total. Sekarang pertanyaan yang sangat umum ada di pikiran masyarakat, siapa yang akan melanjutkan pembinaan olahraga khususnya Badminton di Indonesia? Seorang Menteri Pemuda dan Olahraga saja mengakui bahwa pemerintah tak bisa berdiri sendiri melakukannya. Para pembela KPAI dan antirokok juga harus memberikan solusi kongkrit atas ego yang mereka usung dalam penghentian PB Djarum.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Tuduhan Keterlaluan Yayasan Lentera Anak Terhadap Djarum Foundation<\/a><\/p>\n\n\n\n Kalau memang mereka bersiteguh dengan pendapat bahwa rokok tak boleh ikut campur urusan olahraga sok saja atuh minta kepada industri farmasi untuk masuk membina atlet muda kita. Selama ini kok saya kira jarang melihat perusahaan farmasi mau capek ikut membangun olahraga di Indonesia. Bukannya industri farmasi adalah sesuatu yang menyehatkan dan menjadi pahlawan bagi masyarakat Indonesia yang katanya sedang sakit gara-gara rokok. Sudah saatnya kan perusahaan-perusahaan farmasi yang besar itu ikut menyehatkan bangsa kita dan memajukan olahraga tanah air. Ayo KPAI dan antirokok, minta industri farmasi bergerak, bukankah kalian yang memang mengaku paling cinta tanah air dan mau melindungi bangsa ini dari penyakit?<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dukung KPAI dan Antirokok Mendorong Perusahaan Farmasi Memajukan Olahraga Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dukung-kpai-dan-antirokok-mendorong-perusahaan-farmasi-memajukan-olahraga-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-11 10:18:07","post_modified_gmt":"2019-09-11 03:18:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6050","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Baca: KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab<\/a><\/p>\n\n\n\n Para antirokok selalu mengedepankan moralitas yang menjadi pendirian teguh mereka menentang segala upaya baik yang dilakukan industri rokok. Alasannya, rokok tidak menyehatkan dan tidak boleh cawe-cawe di urusan olahraga. Ya kalau begitu alasannya kenapa mereka juga tidak bertindak tegas kepada perusahaan-perusahaan besar yang telah merusak alam, membiarkan kepunahan suku adat di daerah tertentu, dan hal buruk-buruk lainnya? Sungguhlah saya masih dibuat bingung oleh tindakan mereka. Kini ramai-ramai publik dihebohkan dengan keputusan PB Djarum untuk menghentikan audisi. Kebijakan itu mereka ambil tepat di tahun ke-50 mengabdi pada Indonesia. Alasannnya menghentikan audisi dipilih karena tak ingin melanggar regulasi. Sebenarnya tak ada kesalahan yang dilakukan oleh PB Djarum karena secara hukum mereka berbeda dengan PT Djarum yang merupakan perusahaan rokok. Lagian, BWF selaku otoritas tertinggi olahraga Badminton di dunia selama ini tak melihat PB Djarum melanggar aturan. Oke, anggap saja PB Djarum tak akan lagi melakukan audisi atau lebih buruknya mereka berhenti total. Sekarang pertanyaan yang sangat umum ada di pikiran masyarakat, siapa yang akan melanjutkan pembinaan olahraga khususnya Badminton di Indonesia? Seorang Menteri Pemuda dan Olahraga saja mengakui bahwa pemerintah tak bisa berdiri sendiri melakukannya. Para pembela KPAI dan antirokok juga harus memberikan solusi kongkrit atas ego yang mereka usung dalam penghentian PB Djarum.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Tuduhan Keterlaluan Yayasan Lentera Anak Terhadap Djarum Foundation<\/a><\/p>\n\n\n\n Kalau memang mereka bersiteguh dengan pendapat bahwa rokok tak boleh ikut campur urusan olahraga sok saja atuh minta kepada industri farmasi untuk masuk membina atlet muda kita. Selama ini kok saya kira jarang melihat perusahaan farmasi mau capek ikut membangun olahraga di Indonesia. Bukannya industri farmasi adalah sesuatu yang menyehatkan dan menjadi pahlawan bagi masyarakat Indonesia yang katanya sedang sakit gara-gara rokok. Sudah saatnya kan perusahaan-perusahaan farmasi yang besar itu ikut menyehatkan bangsa kita dan memajukan olahraga tanah air. Ayo KPAI dan antirokok, minta industri farmasi bergerak, bukankah kalian yang memang mengaku paling cinta tanah air dan mau melindungi bangsa ini dari penyakit?<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dukung KPAI dan Antirokok Mendorong Perusahaan Farmasi Memajukan Olahraga Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dukung-kpai-dan-antirokok-mendorong-perusahaan-farmasi-memajukan-olahraga-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-11 10:18:07","post_modified_gmt":"2019-09-11 03:18:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6050","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Saya masih melihat bahwa industri apapun harus memiliki andil terhadap kemajuan masyarakat di suatu bangsa. Umumnya menggunakan dana corporate social responsibility atau yang familiar disebut CSR. Toh juga CSR juga sudah diatur dalam undang-undang yang mewajibkan seluruh perusahaan di Indonesia wajib mengeluarkan dana untuk kemajuan masyarakat. Lantas mengapa perusahaan rokok yang juga melakukan kewajiban memenuhi undang-undang selalu mendapatkan perlakuan yang negatif?<\/p>\n\n\n\n Baca: KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab<\/a><\/p>\n\n\n\n Para antirokok selalu mengedepankan moralitas yang menjadi pendirian teguh mereka menentang segala upaya baik yang dilakukan industri rokok. Alasannya, rokok tidak menyehatkan dan tidak boleh cawe-cawe di urusan olahraga. Ya kalau begitu alasannya kenapa mereka juga tidak bertindak tegas kepada perusahaan-perusahaan besar yang telah merusak alam, membiarkan kepunahan suku adat di daerah tertentu, dan hal buruk-buruk lainnya? Sungguhlah saya masih dibuat bingung oleh tindakan mereka. Kini ramai-ramai publik dihebohkan dengan keputusan PB Djarum untuk menghentikan audisi. Kebijakan itu mereka ambil tepat di tahun ke-50 mengabdi pada Indonesia. Alasannnya menghentikan audisi dipilih karena tak ingin melanggar regulasi. Sebenarnya tak ada kesalahan yang dilakukan oleh PB Djarum karena secara hukum mereka berbeda dengan PT Djarum yang merupakan perusahaan rokok. Lagian, BWF selaku otoritas tertinggi olahraga Badminton di dunia selama ini tak melihat PB Djarum melanggar aturan. Oke, anggap saja PB Djarum tak akan lagi melakukan audisi atau lebih buruknya mereka berhenti total. Sekarang pertanyaan yang sangat umum ada di pikiran masyarakat, siapa yang akan melanjutkan pembinaan olahraga khususnya Badminton di Indonesia? Seorang Menteri Pemuda dan Olahraga saja mengakui bahwa pemerintah tak bisa berdiri sendiri melakukannya. Para pembela KPAI dan antirokok juga harus memberikan solusi kongkrit atas ego yang mereka usung dalam penghentian PB Djarum.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Tuduhan Keterlaluan Yayasan Lentera Anak Terhadap Djarum Foundation<\/a><\/p>\n\n\n\n Kalau memang mereka bersiteguh dengan pendapat bahwa rokok tak boleh ikut campur urusan olahraga sok saja atuh minta kepada industri farmasi untuk masuk membina atlet muda kita. Selama ini kok saya kira jarang melihat perusahaan farmasi mau capek ikut membangun olahraga di Indonesia. Bukannya industri farmasi adalah sesuatu yang menyehatkan dan menjadi pahlawan bagi masyarakat Indonesia yang katanya sedang sakit gara-gara rokok. Sudah saatnya kan perusahaan-perusahaan farmasi yang besar itu ikut menyehatkan bangsa kita dan memajukan olahraga tanah air. Ayo KPAI dan antirokok, minta industri farmasi bergerak, bukankah kalian yang memang mengaku paling cinta tanah air dan mau melindungi bangsa ini dari penyakit?<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dukung KPAI dan Antirokok Mendorong Perusahaan Farmasi Memajukan Olahraga Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dukung-kpai-dan-antirokok-mendorong-perusahaan-farmasi-memajukan-olahraga-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-11 10:18:07","post_modified_gmt":"2019-09-11 03:18:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6050","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Akibat adanya peraturan yang mengharamkan industri rokok mencampuri urusan olahraga, nampaknya ada sedikit kemunduran di dunia tersebut. Sekali lagi saya memberi contoh dari dunia sepak bola, masuk final dan menjadi raja di Asia Tenggara saja susahnya minta ampun. Selain itu liga kita juga kerap bergonta-ganti operator serta sponsor. Liga 1 yang sudah berjalan dua musim misalnya, di awal kehadirannya ia disponsori oleh Gojek dan Traveloka lalu cabut dan digantikan oleh Shopee. Masalah terakhir ini sebenarnya bisa kita tarik kesimpulan sederhana bahwa tak banyak perusahaan yang mau total membina olahraga apalagi dengan gelontoran dana yang besar. Saya masih melihat bahwa industri apapun harus memiliki andil terhadap kemajuan masyarakat di suatu bangsa. Umumnya menggunakan dana corporate social responsibility atau yang familiar disebut CSR. Toh juga CSR juga sudah diatur dalam undang-undang yang mewajibkan seluruh perusahaan di Indonesia wajib mengeluarkan dana untuk kemajuan masyarakat. Lantas mengapa perusahaan rokok yang juga melakukan kewajiban memenuhi undang-undang selalu mendapatkan perlakuan yang negatif?<\/p>\n\n\n\n Baca: KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab<\/a><\/p>\n\n\n\n Para antirokok selalu mengedepankan moralitas yang menjadi pendirian teguh mereka menentang segala upaya baik yang dilakukan industri rokok. Alasannya, rokok tidak menyehatkan dan tidak boleh cawe-cawe di urusan olahraga. Ya kalau begitu alasannya kenapa mereka juga tidak bertindak tegas kepada perusahaan-perusahaan besar yang telah merusak alam, membiarkan kepunahan suku adat di daerah tertentu, dan hal buruk-buruk lainnya? Sungguhlah saya masih dibuat bingung oleh tindakan mereka. Kini ramai-ramai publik dihebohkan dengan keputusan PB Djarum untuk menghentikan audisi. Kebijakan itu mereka ambil tepat di tahun ke-50 mengabdi pada Indonesia. Alasannnya menghentikan audisi dipilih karena tak ingin melanggar regulasi. Sebenarnya tak ada kesalahan yang dilakukan oleh PB Djarum karena secara hukum mereka berbeda dengan PT Djarum yang merupakan perusahaan rokok. Lagian, BWF selaku otoritas tertinggi olahraga Badminton di dunia selama ini tak melihat PB Djarum melanggar aturan. Oke, anggap saja PB Djarum tak akan lagi melakukan audisi atau lebih buruknya mereka berhenti total. Sekarang pertanyaan yang sangat umum ada di pikiran masyarakat, siapa yang akan melanjutkan pembinaan olahraga khususnya Badminton di Indonesia? Seorang Menteri Pemuda dan Olahraga saja mengakui bahwa pemerintah tak bisa berdiri sendiri melakukannya. Para pembela KPAI dan antirokok juga harus memberikan solusi kongkrit atas ego yang mereka usung dalam penghentian PB Djarum.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Tuduhan Keterlaluan Yayasan Lentera Anak Terhadap Djarum Foundation<\/a><\/p>\n\n\n\n Kalau memang mereka bersiteguh dengan pendapat bahwa rokok tak boleh ikut campur urusan olahraga sok saja atuh minta kepada industri farmasi untuk masuk membina atlet muda kita. Selama ini kok saya kira jarang melihat perusahaan farmasi mau capek ikut membangun olahraga di Indonesia. Bukannya industri farmasi adalah sesuatu yang menyehatkan dan menjadi pahlawan bagi masyarakat Indonesia yang katanya sedang sakit gara-gara rokok. Sudah saatnya kan perusahaan-perusahaan farmasi yang besar itu ikut menyehatkan bangsa kita dan memajukan olahraga tanah air. Ayo KPAI dan antirokok, minta industri farmasi bergerak, bukankah kalian yang memang mengaku paling cinta tanah air dan mau melindungi bangsa ini dari penyakit?<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dukung KPAI dan Antirokok Mendorong Perusahaan Farmasi Memajukan Olahraga Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dukung-kpai-dan-antirokok-mendorong-perusahaan-farmasi-memajukan-olahraga-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-11 10:18:07","post_modified_gmt":"2019-09-11 03:18:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6050","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Saya sudah terbiasa menyaksikan berbagai perusahaan rokok menjadi dinamo penggerak kemajuan olahraga di Indonesia. Kita pernah tahu dulu ada Dunhill, Kansas, Djarum, bahkan Dji Sam Soe yang menjadi sponsor besar liga sepak bola Tanah Air. Sebelum PP 109 hadir dan ada aturan keras industri rokok merambah ke dunia olahraga, saya rasa sepak bola Indonesia berjalan baik dan menghasilkan Timnas yang berkualitas pula. Akibat adanya peraturan yang mengharamkan industri rokok mencampuri urusan olahraga, nampaknya ada sedikit kemunduran di dunia tersebut. Sekali lagi saya memberi contoh dari dunia sepak bola, masuk final dan menjadi raja di Asia Tenggara saja susahnya minta ampun. Selain itu liga kita juga kerap bergonta-ganti operator serta sponsor. Liga 1 yang sudah berjalan dua musim misalnya, di awal kehadirannya ia disponsori oleh Gojek dan Traveloka lalu cabut dan digantikan oleh Shopee. Masalah terakhir ini sebenarnya bisa kita tarik kesimpulan sederhana bahwa tak banyak perusahaan yang mau total membina olahraga apalagi dengan gelontoran dana yang besar. Saya masih melihat bahwa industri apapun harus memiliki andil terhadap kemajuan masyarakat di suatu bangsa. Umumnya menggunakan dana corporate social responsibility atau yang familiar disebut CSR. Toh juga CSR juga sudah diatur dalam undang-undang yang mewajibkan seluruh perusahaan di Indonesia wajib mengeluarkan dana untuk kemajuan masyarakat. Lantas mengapa perusahaan rokok yang juga melakukan kewajiban memenuhi undang-undang selalu mendapatkan perlakuan yang negatif?<\/p>\n\n\n\n Baca: KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab<\/a><\/p>\n\n\n\n Para antirokok selalu mengedepankan moralitas yang menjadi pendirian teguh mereka menentang segala upaya baik yang dilakukan industri rokok. Alasannya, rokok tidak menyehatkan dan tidak boleh cawe-cawe di urusan olahraga. Ya kalau begitu alasannya kenapa mereka juga tidak bertindak tegas kepada perusahaan-perusahaan besar yang telah merusak alam, membiarkan kepunahan suku adat di daerah tertentu, dan hal buruk-buruk lainnya? Sungguhlah saya masih dibuat bingung oleh tindakan mereka. Kini ramai-ramai publik dihebohkan dengan keputusan PB Djarum untuk menghentikan audisi. Kebijakan itu mereka ambil tepat di tahun ke-50 mengabdi pada Indonesia. Alasannnya menghentikan audisi dipilih karena tak ingin melanggar regulasi. Sebenarnya tak ada kesalahan yang dilakukan oleh PB Djarum karena secara hukum mereka berbeda dengan PT Djarum yang merupakan perusahaan rokok. Lagian, BWF selaku otoritas tertinggi olahraga Badminton di dunia selama ini tak melihat PB Djarum melanggar aturan. Oke, anggap saja PB Djarum tak akan lagi melakukan audisi atau lebih buruknya mereka berhenti total. Sekarang pertanyaan yang sangat umum ada di pikiran masyarakat, siapa yang akan melanjutkan pembinaan olahraga khususnya Badminton di Indonesia? Seorang Menteri Pemuda dan Olahraga saja mengakui bahwa pemerintah tak bisa berdiri sendiri melakukannya. Para pembela KPAI dan antirokok juga harus memberikan solusi kongkrit atas ego yang mereka usung dalam penghentian PB Djarum.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Tuduhan Keterlaluan Yayasan Lentera Anak Terhadap Djarum Foundation<\/a><\/p>\n\n\n\n Kalau memang mereka bersiteguh dengan pendapat bahwa rokok tak boleh ikut campur urusan olahraga sok saja atuh minta kepada industri farmasi untuk masuk membina atlet muda kita. Selama ini kok saya kira jarang melihat perusahaan farmasi mau capek ikut membangun olahraga di Indonesia. Bukannya industri farmasi adalah sesuatu yang menyehatkan dan menjadi pahlawan bagi masyarakat Indonesia yang katanya sedang sakit gara-gara rokok. Sudah saatnya kan perusahaan-perusahaan farmasi yang besar itu ikut menyehatkan bangsa kita dan memajukan olahraga tanah air. Ayo KPAI dan antirokok, minta industri farmasi bergerak, bukankah kalian yang memang mengaku paling cinta tanah air dan mau melindungi bangsa ini dari penyakit?<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dukung KPAI dan Antirokok Mendorong Perusahaan Farmasi Memajukan Olahraga Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dukung-kpai-dan-antirokok-mendorong-perusahaan-farmasi-memajukan-olahraga-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-11 10:18:07","post_modified_gmt":"2019-09-11 03:18:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6050","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saya sudah terbiasa menyaksikan berbagai perusahaan rokok menjadi dinamo penggerak kemajuan olahraga di Indonesia. Kita pernah tahu dulu ada Dunhill, Kansas, Djarum, bahkan Dji Sam Soe yang menjadi sponsor besar liga sepak bola Tanah Air. Sebelum PP 109 hadir dan ada aturan keras industri rokok merambah ke dunia olahraga, saya rasa sepak bola Indonesia berjalan baik dan menghasilkan Timnas yang berkualitas pula. Akibat adanya peraturan yang mengharamkan industri rokok mencampuri urusan olahraga, nampaknya ada sedikit kemunduran di dunia tersebut. Sekali lagi saya memberi contoh dari dunia sepak bola, masuk final dan menjadi raja di Asia Tenggara saja susahnya minta ampun. Selain itu liga kita juga kerap bergonta-ganti operator serta sponsor. Liga 1 yang sudah berjalan dua musim misalnya, di awal kehadirannya ia disponsori oleh Gojek dan Traveloka lalu cabut dan digantikan oleh Shopee. Masalah terakhir ini sebenarnya bisa kita tarik kesimpulan sederhana bahwa tak banyak perusahaan yang mau total membina olahraga apalagi dengan gelontoran dana yang besar. Saya masih melihat bahwa industri apapun harus memiliki andil terhadap kemajuan masyarakat di suatu bangsa. Umumnya menggunakan dana corporate social responsibility atau yang familiar disebut CSR. Toh juga CSR juga sudah diatur dalam undang-undang yang mewajibkan seluruh perusahaan di Indonesia wajib mengeluarkan dana untuk kemajuan masyarakat. Lantas mengapa perusahaan rokok yang juga melakukan kewajiban memenuhi undang-undang selalu mendapatkan perlakuan yang negatif?<\/p>\n\n\n\n Baca: KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab<\/a><\/p>\n\n\n\n Para antirokok selalu mengedepankan moralitas yang menjadi pendirian teguh mereka menentang segala upaya baik yang dilakukan industri rokok. Alasannya, rokok tidak menyehatkan dan tidak boleh cawe-cawe di urusan olahraga. Ya kalau begitu alasannya kenapa mereka juga tidak bertindak tegas kepada perusahaan-perusahaan besar yang telah merusak alam, membiarkan kepunahan suku adat di daerah tertentu, dan hal buruk-buruk lainnya? Sungguhlah saya masih dibuat bingung oleh tindakan mereka. Kini ramai-ramai publik dihebohkan dengan keputusan PB Djarum untuk menghentikan audisi. Kebijakan itu mereka ambil tepat di tahun ke-50 mengabdi pada Indonesia. Alasannnya menghentikan audisi dipilih karena tak ingin melanggar regulasi. Sebenarnya tak ada kesalahan yang dilakukan oleh PB Djarum karena secara hukum mereka berbeda dengan PT Djarum yang merupakan perusahaan rokok. Lagian, BWF selaku otoritas tertinggi olahraga Badminton di dunia selama ini tak melihat PB Djarum melanggar aturan. Oke, anggap saja PB Djarum tak akan lagi melakukan audisi atau lebih buruknya mereka berhenti total. Sekarang pertanyaan yang sangat umum ada di pikiran masyarakat, siapa yang akan melanjutkan pembinaan olahraga khususnya Badminton di Indonesia? Seorang Menteri Pemuda dan Olahraga saja mengakui bahwa pemerintah tak bisa berdiri sendiri melakukannya. Para pembela KPAI dan antirokok juga harus memberikan solusi kongkrit atas ego yang mereka usung dalam penghentian PB Djarum.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Tuduhan Keterlaluan Yayasan Lentera Anak Terhadap Djarum Foundation<\/a><\/p>\n\n\n\n Kalau memang mereka bersiteguh dengan pendapat bahwa rokok tak boleh ikut campur urusan olahraga sok saja atuh minta kepada industri farmasi untuk masuk membina atlet muda kita. Selama ini kok saya kira jarang melihat perusahaan farmasi mau capek ikut membangun olahraga di Indonesia. Bukannya industri farmasi adalah sesuatu yang menyehatkan dan menjadi pahlawan bagi masyarakat Indonesia yang katanya sedang sakit gara-gara rokok. Sudah saatnya kan perusahaan-perusahaan farmasi yang besar itu ikut menyehatkan bangsa kita dan memajukan olahraga tanah air. Ayo KPAI dan antirokok, minta industri farmasi bergerak, bukankah kalian yang memang mengaku paling cinta tanah air dan mau melindungi bangsa ini dari penyakit?<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dukung KPAI dan Antirokok Mendorong Perusahaan Farmasi Memajukan Olahraga Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dukung-kpai-dan-antirokok-mendorong-perusahaan-farmasi-memajukan-olahraga-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-11 10:18:07","post_modified_gmt":"2019-09-11 03:18:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6050","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saya sudah terbiasa menyaksikan berbagai perusahaan rokok menjadi dinamo penggerak kemajuan olahraga di Indonesia. Kita pernah tahu dulu ada Dunhill, Kansas, Djarum, bahkan Dji Sam Soe yang menjadi sponsor besar liga sepak bola Tanah Air. Sebelum PP 109 hadir dan ada aturan keras industri rokok merambah ke dunia olahraga, saya rasa sepak bola Indonesia berjalan baik dan menghasilkan Timnas yang berkualitas pula. Akibat adanya peraturan yang mengharamkan industri rokok mencampuri urusan olahraga, nampaknya ada sedikit kemunduran di dunia tersebut. Sekali lagi saya memberi contoh dari dunia sepak bola, masuk final dan menjadi raja di Asia Tenggara saja susahnya minta ampun. Selain itu liga kita juga kerap bergonta-ganti operator serta sponsor. Liga 1 yang sudah berjalan dua musim misalnya, di awal kehadirannya ia disponsori oleh Gojek dan Traveloka lalu cabut dan digantikan oleh Shopee. Masalah terakhir ini sebenarnya bisa kita tarik kesimpulan sederhana bahwa tak banyak perusahaan yang mau total membina olahraga apalagi dengan gelontoran dana yang besar. Saya masih melihat bahwa industri apapun harus memiliki andil terhadap kemajuan masyarakat di suatu bangsa. Umumnya menggunakan dana corporate social responsibility atau yang familiar disebut CSR. Toh juga CSR juga sudah diatur dalam undang-undang yang mewajibkan seluruh perusahaan di Indonesia wajib mengeluarkan dana untuk kemajuan masyarakat. Lantas mengapa perusahaan rokok yang juga melakukan kewajiban memenuhi undang-undang selalu mendapatkan perlakuan yang negatif?<\/p>\n\n\n\n Baca: KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab<\/a><\/p>\n\n\n\n Para antirokok selalu mengedepankan moralitas yang menjadi pendirian teguh mereka menentang segala upaya baik yang dilakukan industri rokok. Alasannya, rokok tidak menyehatkan dan tidak boleh cawe-cawe di urusan olahraga. Ya kalau begitu alasannya kenapa mereka juga tidak bertindak tegas kepada perusahaan-perusahaan besar yang telah merusak alam, membiarkan kepunahan suku adat di daerah tertentu, dan hal buruk-buruk lainnya? Sungguhlah saya masih dibuat bingung oleh tindakan mereka. Kini ramai-ramai publik dihebohkan dengan keputusan PB Djarum untuk menghentikan audisi. Kebijakan itu mereka ambil tepat di tahun ke-50 mengabdi pada Indonesia. Alasannnya menghentikan audisi dipilih karena tak ingin melanggar regulasi. Sebenarnya tak ada kesalahan yang dilakukan oleh PB Djarum karena secara hukum mereka berbeda dengan PT Djarum yang merupakan perusahaan rokok. Lagian, BWF selaku otoritas tertinggi olahraga Badminton di dunia selama ini tak melihat PB Djarum melanggar aturan. Oke, anggap saja PB Djarum tak akan lagi melakukan audisi atau lebih buruknya mereka berhenti total. Sekarang pertanyaan yang sangat umum ada di pikiran masyarakat, siapa yang akan melanjutkan pembinaan olahraga khususnya Badminton di Indonesia? Seorang Menteri Pemuda dan Olahraga saja mengakui bahwa pemerintah tak bisa berdiri sendiri melakukannya. Para pembela KPAI dan antirokok juga harus memberikan solusi kongkrit atas ego yang mereka usung dalam penghentian PB Djarum.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Tuduhan Keterlaluan Yayasan Lentera Anak Terhadap Djarum Foundation<\/a><\/p>\n\n\n\n Kalau memang mereka bersiteguh dengan pendapat bahwa rokok tak boleh ikut campur urusan olahraga sok saja atuh minta kepada industri farmasi untuk masuk membina atlet muda kita. Selama ini kok saya kira jarang melihat perusahaan farmasi mau capek ikut membangun olahraga di Indonesia. Bukannya industri farmasi adalah sesuatu yang menyehatkan dan menjadi pahlawan bagi masyarakat Indonesia yang katanya sedang sakit gara-gara rokok. Sudah saatnya kan perusahaan-perusahaan farmasi yang besar itu ikut menyehatkan bangsa kita dan memajukan olahraga tanah air. Ayo KPAI dan antirokok, minta industri farmasi bergerak, bukankah kalian yang memang mengaku paling cinta tanah air dan mau melindungi bangsa ini dari penyakit?<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dukung KPAI dan Antirokok Mendorong Perusahaan Farmasi Memajukan Olahraga Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dukung-kpai-dan-antirokok-mendorong-perusahaan-farmasi-memajukan-olahraga-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-11 10:18:07","post_modified_gmt":"2019-09-11 03:18:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6050","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saya sudah terbiasa menyaksikan berbagai perusahaan rokok menjadi dinamo penggerak kemajuan olahraga di Indonesia. Kita pernah tahu dulu ada Dunhill, Kansas, Djarum, bahkan Dji Sam Soe yang menjadi sponsor besar liga sepak bola Tanah Air. Sebelum PP 109 hadir dan ada aturan keras industri rokok merambah ke dunia olahraga, saya rasa sepak bola Indonesia berjalan baik dan menghasilkan Timnas yang berkualitas pula. Akibat adanya peraturan yang mengharamkan industri rokok mencampuri urusan olahraga, nampaknya ada sedikit kemunduran di dunia tersebut. Sekali lagi saya memberi contoh dari dunia sepak bola, masuk final dan menjadi raja di Asia Tenggara saja susahnya minta ampun. Selain itu liga kita juga kerap bergonta-ganti operator serta sponsor. Liga 1 yang sudah berjalan dua musim misalnya, di awal kehadirannya ia disponsori oleh Gojek dan Traveloka lalu cabut dan digantikan oleh Shopee. Masalah terakhir ini sebenarnya bisa kita tarik kesimpulan sederhana bahwa tak banyak perusahaan yang mau total membina olahraga apalagi dengan gelontoran dana yang besar. Saya masih melihat bahwa industri apapun harus memiliki andil terhadap kemajuan masyarakat di suatu bangsa. Umumnya menggunakan dana corporate social responsibility atau yang familiar disebut CSR. Toh juga CSR juga sudah diatur dalam undang-undang yang mewajibkan seluruh perusahaan di Indonesia wajib mengeluarkan dana untuk kemajuan masyarakat. Lantas mengapa perusahaan rokok yang juga melakukan kewajiban memenuhi undang-undang selalu mendapatkan perlakuan yang negatif?<\/p>\n\n\n\n Baca: KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab<\/a><\/p>\n\n\n\n Para antirokok selalu mengedepankan moralitas yang menjadi pendirian teguh mereka menentang segala upaya baik yang dilakukan industri rokok. Alasannya, rokok tidak menyehatkan dan tidak boleh cawe-cawe di urusan olahraga. Ya kalau begitu alasannya kenapa mereka juga tidak bertindak tegas kepada perusahaan-perusahaan besar yang telah merusak alam, membiarkan kepunahan suku adat di daerah tertentu, dan hal buruk-buruk lainnya? Sungguhlah saya masih dibuat bingung oleh tindakan mereka. Kini ramai-ramai publik dihebohkan dengan keputusan PB Djarum untuk menghentikan audisi. Kebijakan itu mereka ambil tepat di tahun ke-50 mengabdi pada Indonesia. Alasannnya menghentikan audisi dipilih karena tak ingin melanggar regulasi. Sebenarnya tak ada kesalahan yang dilakukan oleh PB Djarum karena secara hukum mereka berbeda dengan PT Djarum yang merupakan perusahaan rokok. Lagian, BWF selaku otoritas tertinggi olahraga Badminton di dunia selama ini tak melihat PB Djarum melanggar aturan. Oke, anggap saja PB Djarum tak akan lagi melakukan audisi atau lebih buruknya mereka berhenti total. Sekarang pertanyaan yang sangat umum ada di pikiran masyarakat, siapa yang akan melanjutkan pembinaan olahraga khususnya Badminton di Indonesia? Seorang Menteri Pemuda dan Olahraga saja mengakui bahwa pemerintah tak bisa berdiri sendiri melakukannya. Para pembela KPAI dan antirokok juga harus memberikan solusi kongkrit atas ego yang mereka usung dalam penghentian PB Djarum.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Tuduhan Keterlaluan Yayasan Lentera Anak Terhadap Djarum Foundation<\/a><\/p>\n\n\n\n Kalau memang mereka bersiteguh dengan pendapat bahwa rokok tak boleh ikut campur urusan olahraga sok saja atuh minta kepada industri farmasi untuk masuk membina atlet muda kita. Selama ini kok saya kira jarang melihat perusahaan farmasi mau capek ikut membangun olahraga di Indonesia. Bukannya industri farmasi adalah sesuatu yang menyehatkan dan menjadi pahlawan bagi masyarakat Indonesia yang katanya sedang sakit gara-gara rokok. Sudah saatnya kan perusahaan-perusahaan farmasi yang besar itu ikut menyehatkan bangsa kita dan memajukan olahraga tanah air. Ayo KPAI dan antirokok, minta industri farmasi bergerak, bukankah kalian yang memang mengaku paling cinta tanah air dan mau melindungi bangsa ini dari penyakit?<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dukung KPAI dan Antirokok Mendorong Perusahaan Farmasi Memajukan Olahraga Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dukung-kpai-dan-antirokok-mendorong-perusahaan-farmasi-memajukan-olahraga-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-11 10:18:07","post_modified_gmt":"2019-09-11 03:18:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6050","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saya sudah terbiasa menyaksikan berbagai perusahaan rokok menjadi dinamo penggerak kemajuan olahraga di Indonesia. Kita pernah tahu dulu ada Dunhill, Kansas, Djarum, bahkan Dji Sam Soe yang menjadi sponsor besar liga sepak bola Tanah Air. Sebelum PP 109 hadir dan ada aturan keras industri rokok merambah ke dunia olahraga, saya rasa sepak bola Indonesia berjalan baik dan menghasilkan Timnas yang berkualitas pula. Akibat adanya peraturan yang mengharamkan industri rokok mencampuri urusan olahraga, nampaknya ada sedikit kemunduran di dunia tersebut. Sekali lagi saya memberi contoh dari dunia sepak bola, masuk final dan menjadi raja di Asia Tenggara saja susahnya minta ampun. Selain itu liga kita juga kerap bergonta-ganti operator serta sponsor. Liga 1 yang sudah berjalan dua musim misalnya, di awal kehadirannya ia disponsori oleh Gojek dan Traveloka lalu cabut dan digantikan oleh Shopee. Masalah terakhir ini sebenarnya bisa kita tarik kesimpulan sederhana bahwa tak banyak perusahaan yang mau total membina olahraga apalagi dengan gelontoran dana yang besar. Saya masih melihat bahwa industri apapun harus memiliki andil terhadap kemajuan masyarakat di suatu bangsa. Umumnya menggunakan dana corporate social responsibility atau yang familiar disebut CSR. Toh juga CSR juga sudah diatur dalam undang-undang yang mewajibkan seluruh perusahaan di Indonesia wajib mengeluarkan dana untuk kemajuan masyarakat. Lantas mengapa perusahaan rokok yang juga melakukan kewajiban memenuhi undang-undang selalu mendapatkan perlakuan yang negatif?<\/p>\n\n\n\n Baca: KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab<\/a><\/p>\n\n\n\n Para antirokok selalu mengedepankan moralitas yang menjadi pendirian teguh mereka menentang segala upaya baik yang dilakukan industri rokok. Alasannya, rokok tidak menyehatkan dan tidak boleh cawe-cawe di urusan olahraga. Ya kalau begitu alasannya kenapa mereka juga tidak bertindak tegas kepada perusahaan-perusahaan besar yang telah merusak alam, membiarkan kepunahan suku adat di daerah tertentu, dan hal buruk-buruk lainnya? Sungguhlah saya masih dibuat bingung oleh tindakan mereka. Kini ramai-ramai publik dihebohkan dengan keputusan PB Djarum untuk menghentikan audisi. Kebijakan itu mereka ambil tepat di tahun ke-50 mengabdi pada Indonesia. Alasannnya menghentikan audisi dipilih karena tak ingin melanggar regulasi. Sebenarnya tak ada kesalahan yang dilakukan oleh PB Djarum karena secara hukum mereka berbeda dengan PT Djarum yang merupakan perusahaan rokok. Lagian, BWF selaku otoritas tertinggi olahraga Badminton di dunia selama ini tak melihat PB Djarum melanggar aturan. Oke, anggap saja PB Djarum tak akan lagi melakukan audisi atau lebih buruknya mereka berhenti total. Sekarang pertanyaan yang sangat umum ada di pikiran masyarakat, siapa yang akan melanjutkan pembinaan olahraga khususnya Badminton di Indonesia? Seorang Menteri Pemuda dan Olahraga saja mengakui bahwa pemerintah tak bisa berdiri sendiri melakukannya. Para pembela KPAI dan antirokok juga harus memberikan solusi kongkrit atas ego yang mereka usung dalam penghentian PB Djarum.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Tuduhan Keterlaluan Yayasan Lentera Anak Terhadap Djarum Foundation<\/a><\/p>\n\n\n\n Kalau memang mereka bersiteguh dengan pendapat bahwa rokok tak boleh ikut campur urusan olahraga sok saja atuh minta kepada industri farmasi untuk masuk membina atlet muda kita. Selama ini kok saya kira jarang melihat perusahaan farmasi mau capek ikut membangun olahraga di Indonesia. Bukannya industri farmasi adalah sesuatu yang menyehatkan dan menjadi pahlawan bagi masyarakat Indonesia yang katanya sedang sakit gara-gara rokok. Sudah saatnya kan perusahaan-perusahaan farmasi yang besar itu ikut menyehatkan bangsa kita dan memajukan olahraga tanah air. Ayo KPAI dan antirokok, minta industri farmasi bergerak, bukankah kalian yang memang mengaku paling cinta tanah air dan mau melindungi bangsa ini dari penyakit?<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dukung KPAI dan Antirokok Mendorong Perusahaan Farmasi Memajukan Olahraga Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dukung-kpai-dan-antirokok-mendorong-perusahaan-farmasi-memajukan-olahraga-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-11 10:18:07","post_modified_gmt":"2019-09-11 03:18:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6050","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saya sudah terbiasa menyaksikan berbagai perusahaan rokok menjadi dinamo penggerak kemajuan olahraga di Indonesia. Kita pernah tahu dulu ada Dunhill, Kansas, Djarum, bahkan Dji Sam Soe yang menjadi sponsor besar liga sepak bola Tanah Air. Sebelum PP 109 hadir dan ada aturan keras industri rokok merambah ke dunia olahraga, saya rasa sepak bola Indonesia berjalan baik dan menghasilkan Timnas yang berkualitas pula. Akibat adanya peraturan yang mengharamkan industri rokok mencampuri urusan olahraga, nampaknya ada sedikit kemunduran di dunia tersebut. Sekali lagi saya memberi contoh dari dunia sepak bola, masuk final dan menjadi raja di Asia Tenggara saja susahnya minta ampun. Selain itu liga kita juga kerap bergonta-ganti operator serta sponsor. Liga 1 yang sudah berjalan dua musim misalnya, di awal kehadirannya ia disponsori oleh Gojek dan Traveloka lalu cabut dan digantikan oleh Shopee. Masalah terakhir ini sebenarnya bisa kita tarik kesimpulan sederhana bahwa tak banyak perusahaan yang mau total membina olahraga apalagi dengan gelontoran dana yang besar. Saya masih melihat bahwa industri apapun harus memiliki andil terhadap kemajuan masyarakat di suatu bangsa. Umumnya menggunakan dana corporate social responsibility atau yang familiar disebut CSR. Toh juga CSR juga sudah diatur dalam undang-undang yang mewajibkan seluruh perusahaan di Indonesia wajib mengeluarkan dana untuk kemajuan masyarakat. Lantas mengapa perusahaan rokok yang juga melakukan kewajiban memenuhi undang-undang selalu mendapatkan perlakuan yang negatif?<\/p>\n\n\n\n Baca: KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab<\/a><\/p>\n\n\n\n Para antirokok selalu mengedepankan moralitas yang menjadi pendirian teguh mereka menentang segala upaya baik yang dilakukan industri rokok. Alasannya, rokok tidak menyehatkan dan tidak boleh cawe-cawe di urusan olahraga. Ya kalau begitu alasannya kenapa mereka juga tidak bertindak tegas kepada perusahaan-perusahaan besar yang telah merusak alam, membiarkan kepunahan suku adat di daerah tertentu, dan hal buruk-buruk lainnya? Sungguhlah saya masih dibuat bingung oleh tindakan mereka. Kini ramai-ramai publik dihebohkan dengan keputusan PB Djarum untuk menghentikan audisi. Kebijakan itu mereka ambil tepat di tahun ke-50 mengabdi pada Indonesia. Alasannnya menghentikan audisi dipilih karena tak ingin melanggar regulasi. Sebenarnya tak ada kesalahan yang dilakukan oleh PB Djarum karena secara hukum mereka berbeda dengan PT Djarum yang merupakan perusahaan rokok. Lagian, BWF selaku otoritas tertinggi olahraga Badminton di dunia selama ini tak melihat PB Djarum melanggar aturan. Oke, anggap saja PB Djarum tak akan lagi melakukan audisi atau lebih buruknya mereka berhenti total. Sekarang pertanyaan yang sangat umum ada di pikiran masyarakat, siapa yang akan melanjutkan pembinaan olahraga khususnya Badminton di Indonesia? Seorang Menteri Pemuda dan Olahraga saja mengakui bahwa pemerintah tak bisa berdiri sendiri melakukannya. Para pembela KPAI dan antirokok juga harus memberikan solusi kongkrit atas ego yang mereka usung dalam penghentian PB Djarum.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Tuduhan Keterlaluan Yayasan Lentera Anak Terhadap Djarum Foundation<\/a><\/p>\n\n\n\n Kalau memang mereka bersiteguh dengan pendapat bahwa rokok tak boleh ikut campur urusan olahraga sok saja atuh minta kepada industri farmasi untuk masuk membina atlet muda kita. Selama ini kok saya kira jarang melihat perusahaan farmasi mau capek ikut membangun olahraga di Indonesia. Bukannya industri farmasi adalah sesuatu yang menyehatkan dan menjadi pahlawan bagi masyarakat Indonesia yang katanya sedang sakit gara-gara rokok. Sudah saatnya kan perusahaan-perusahaan farmasi yang besar itu ikut menyehatkan bangsa kita dan memajukan olahraga tanah air. Ayo KPAI dan antirokok, minta industri farmasi bergerak, bukankah kalian yang memang mengaku paling cinta tanah air dan mau melindungi bangsa ini dari penyakit?<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dukung KPAI dan Antirokok Mendorong Perusahaan Farmasi Memajukan Olahraga Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dukung-kpai-dan-antirokok-mendorong-perusahaan-farmasi-memajukan-olahraga-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-11 10:18:07","post_modified_gmt":"2019-09-11 03:18:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6050","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saya sudah terbiasa menyaksikan berbagai perusahaan rokok menjadi dinamo penggerak kemajuan olahraga di Indonesia. Kita pernah tahu dulu ada Dunhill, Kansas, Djarum, bahkan Dji Sam Soe yang menjadi sponsor besar liga sepak bola Tanah Air. Sebelum PP 109 hadir dan ada aturan keras industri rokok merambah ke dunia olahraga, saya rasa sepak bola Indonesia berjalan baik dan menghasilkan Timnas yang berkualitas pula. Akibat adanya peraturan yang mengharamkan industri rokok mencampuri urusan olahraga, nampaknya ada sedikit kemunduran di dunia tersebut. Sekali lagi saya memberi contoh dari dunia sepak bola, masuk final dan menjadi raja di Asia Tenggara saja susahnya minta ampun. Selain itu liga kita juga kerap bergonta-ganti operator serta sponsor. Liga 1 yang sudah berjalan dua musim misalnya, di awal kehadirannya ia disponsori oleh Gojek dan Traveloka lalu cabut dan digantikan oleh Shopee. Masalah terakhir ini sebenarnya bisa kita tarik kesimpulan sederhana bahwa tak banyak perusahaan yang mau total membina olahraga apalagi dengan gelontoran dana yang besar. Saya masih melihat bahwa industri apapun harus memiliki andil terhadap kemajuan masyarakat di suatu bangsa. Umumnya menggunakan dana corporate social responsibility atau yang familiar disebut CSR. Toh juga CSR juga sudah diatur dalam undang-undang yang mewajibkan seluruh perusahaan di Indonesia wajib mengeluarkan dana untuk kemajuan masyarakat. Lantas mengapa perusahaan rokok yang juga melakukan kewajiban memenuhi undang-undang selalu mendapatkan perlakuan yang negatif?<\/p>\n\n\n\n Baca: KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab<\/a><\/p>\n\n\n\n Para antirokok selalu mengedepankan moralitas yang menjadi pendirian teguh mereka menentang segala upaya baik yang dilakukan industri rokok. Alasannya, rokok tidak menyehatkan dan tidak boleh cawe-cawe di urusan olahraga. Ya kalau begitu alasannya kenapa mereka juga tidak bertindak tegas kepada perusahaan-perusahaan besar yang telah merusak alam, membiarkan kepunahan suku adat di daerah tertentu, dan hal buruk-buruk lainnya? Sungguhlah saya masih dibuat bingung oleh tindakan mereka. Kini ramai-ramai publik dihebohkan dengan keputusan PB Djarum untuk menghentikan audisi. Kebijakan itu mereka ambil tepat di tahun ke-50 mengabdi pada Indonesia. Alasannnya menghentikan audisi dipilih karena tak ingin melanggar regulasi. Sebenarnya tak ada kesalahan yang dilakukan oleh PB Djarum karena secara hukum mereka berbeda dengan PT Djarum yang merupakan perusahaan rokok. Lagian, BWF selaku otoritas tertinggi olahraga Badminton di dunia selama ini tak melihat PB Djarum melanggar aturan. Oke, anggap saja PB Djarum tak akan lagi melakukan audisi atau lebih buruknya mereka berhenti total. Sekarang pertanyaan yang sangat umum ada di pikiran masyarakat, siapa yang akan melanjutkan pembinaan olahraga khususnya Badminton di Indonesia? Seorang Menteri Pemuda dan Olahraga saja mengakui bahwa pemerintah tak bisa berdiri sendiri melakukannya. Para pembela KPAI dan antirokok juga harus memberikan solusi kongkrit atas ego yang mereka usung dalam penghentian PB Djarum.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Tuduhan Keterlaluan Yayasan Lentera Anak Terhadap Djarum Foundation<\/a><\/p>\n\n\n\n Kalau memang mereka bersiteguh dengan pendapat bahwa rokok tak boleh ikut campur urusan olahraga sok saja atuh minta kepada industri farmasi untuk masuk membina atlet muda kita. Selama ini kok saya kira jarang melihat perusahaan farmasi mau capek ikut membangun olahraga di Indonesia. Bukannya industri farmasi adalah sesuatu yang menyehatkan dan menjadi pahlawan bagi masyarakat Indonesia yang katanya sedang sakit gara-gara rokok. Sudah saatnya kan perusahaan-perusahaan farmasi yang besar itu ikut menyehatkan bangsa kita dan memajukan olahraga tanah air. Ayo KPAI dan antirokok, minta industri farmasi bergerak, bukankah kalian yang memang mengaku paling cinta tanah air dan mau melindungi bangsa ini dari penyakit?<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dukung KPAI dan Antirokok Mendorong Perusahaan Farmasi Memajukan Olahraga Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dukung-kpai-dan-antirokok-mendorong-perusahaan-farmasi-memajukan-olahraga-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-11 10:18:07","post_modified_gmt":"2019-09-11 03:18:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6050","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saya sudah terbiasa menyaksikan berbagai perusahaan rokok menjadi dinamo penggerak kemajuan olahraga di Indonesia. Kita pernah tahu dulu ada Dunhill, Kansas, Djarum, bahkan Dji Sam Soe yang menjadi sponsor besar liga sepak bola Tanah Air. Sebelum PP 109 hadir dan ada aturan keras industri rokok merambah ke dunia olahraga, saya rasa sepak bola Indonesia berjalan baik dan menghasilkan Timnas yang berkualitas pula. Akibat adanya peraturan yang mengharamkan industri rokok mencampuri urusan olahraga, nampaknya ada sedikit kemunduran di dunia tersebut. Sekali lagi saya memberi contoh dari dunia sepak bola, masuk final dan menjadi raja di Asia Tenggara saja susahnya minta ampun. Selain itu liga kita juga kerap bergonta-ganti operator serta sponsor. Liga 1 yang sudah berjalan dua musim misalnya, di awal kehadirannya ia disponsori oleh Gojek dan Traveloka lalu cabut dan digantikan oleh Shopee. Masalah terakhir ini sebenarnya bisa kita tarik kesimpulan sederhana bahwa tak banyak perusahaan yang mau total membina olahraga apalagi dengan gelontoran dana yang besar. Saya masih melihat bahwa industri apapun harus memiliki andil terhadap kemajuan masyarakat di suatu bangsa. Umumnya menggunakan dana corporate social responsibility atau yang familiar disebut CSR. Toh juga CSR juga sudah diatur dalam undang-undang yang mewajibkan seluruh perusahaan di Indonesia wajib mengeluarkan dana untuk kemajuan masyarakat. Lantas mengapa perusahaan rokok yang juga melakukan kewajiban memenuhi undang-undang selalu mendapatkan perlakuan yang negatif?<\/p>\n\n\n\n Baca: KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab<\/a><\/p>\n\n\n\n Para antirokok selalu mengedepankan moralitas yang menjadi pendirian teguh mereka menentang segala upaya baik yang dilakukan industri rokok. Alasannya, rokok tidak menyehatkan dan tidak boleh cawe-cawe di urusan olahraga. Ya kalau begitu alasannya kenapa mereka juga tidak bertindak tegas kepada perusahaan-perusahaan besar yang telah merusak alam, membiarkan kepunahan suku adat di daerah tertentu, dan hal buruk-buruk lainnya? Sungguhlah saya masih dibuat bingung oleh tindakan mereka. Kini ramai-ramai publik dihebohkan dengan keputusan PB Djarum untuk menghentikan audisi. Kebijakan itu mereka ambil tepat di tahun ke-50 mengabdi pada Indonesia. Alasannnya menghentikan audisi dipilih karena tak ingin melanggar regulasi. Sebenarnya tak ada kesalahan yang dilakukan oleh PB Djarum karena secara hukum mereka berbeda dengan PT Djarum yang merupakan perusahaan rokok. Lagian, BWF selaku otoritas tertinggi olahraga Badminton di dunia selama ini tak melihat PB Djarum melanggar aturan. Oke, anggap saja PB Djarum tak akan lagi melakukan audisi atau lebih buruknya mereka berhenti total. Sekarang pertanyaan yang sangat umum ada di pikiran masyarakat, siapa yang akan melanjutkan pembinaan olahraga khususnya Badminton di Indonesia? Seorang Menteri Pemuda dan Olahraga saja mengakui bahwa pemerintah tak bisa berdiri sendiri melakukannya. Para pembela KPAI dan antirokok juga harus memberikan solusi kongkrit atas ego yang mereka usung dalam penghentian PB Djarum.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Tuduhan Keterlaluan Yayasan Lentera Anak Terhadap Djarum Foundation<\/a><\/p>\n\n\n\n Kalau memang mereka bersiteguh dengan pendapat bahwa rokok tak boleh ikut campur urusan olahraga sok saja atuh minta kepada industri farmasi untuk masuk membina atlet muda kita. Selama ini kok saya kira jarang melihat perusahaan farmasi mau capek ikut membangun olahraga di Indonesia. Bukannya industri farmasi adalah sesuatu yang menyehatkan dan menjadi pahlawan bagi masyarakat Indonesia yang katanya sedang sakit gara-gara rokok. Sudah saatnya kan perusahaan-perusahaan farmasi yang besar itu ikut menyehatkan bangsa kita dan memajukan olahraga tanah air. Ayo KPAI dan antirokok, minta industri farmasi bergerak, bukankah kalian yang memang mengaku paling cinta tanah air dan mau melindungi bangsa ini dari penyakit?<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dukung KPAI dan Antirokok Mendorong Perusahaan Farmasi Memajukan Olahraga Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dukung-kpai-dan-antirokok-mendorong-perusahaan-farmasi-memajukan-olahraga-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-11 10:18:07","post_modified_gmt":"2019-09-11 03:18:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6050","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saya sudah terbiasa menyaksikan berbagai perusahaan rokok menjadi dinamo penggerak kemajuan olahraga di Indonesia. Kita pernah tahu dulu ada Dunhill, Kansas, Djarum, bahkan Dji Sam Soe yang menjadi sponsor besar liga sepak bola Tanah Air. Sebelum PP 109 hadir dan ada aturan keras industri rokok merambah ke dunia olahraga, saya rasa sepak bola Indonesia berjalan baik dan menghasilkan Timnas yang berkualitas pula. Akibat adanya peraturan yang mengharamkan industri rokok mencampuri urusan olahraga, nampaknya ada sedikit kemunduran di dunia tersebut. Sekali lagi saya memberi contoh dari dunia sepak bola, masuk final dan menjadi raja di Asia Tenggara saja susahnya minta ampun. Selain itu liga kita juga kerap bergonta-ganti operator serta sponsor. Liga 1 yang sudah berjalan dua musim misalnya, di awal kehadirannya ia disponsori oleh Gojek dan Traveloka lalu cabut dan digantikan oleh Shopee. Masalah terakhir ini sebenarnya bisa kita tarik kesimpulan sederhana bahwa tak banyak perusahaan yang mau total membina olahraga apalagi dengan gelontoran dana yang besar. Saya masih melihat bahwa industri apapun harus memiliki andil terhadap kemajuan masyarakat di suatu bangsa. Umumnya menggunakan dana corporate social responsibility atau yang familiar disebut CSR. Toh juga CSR juga sudah diatur dalam undang-undang yang mewajibkan seluruh perusahaan di Indonesia wajib mengeluarkan dana untuk kemajuan masyarakat. Lantas mengapa perusahaan rokok yang juga melakukan kewajiban memenuhi undang-undang selalu mendapatkan perlakuan yang negatif?<\/p>\n\n\n\n Baca: KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab<\/a><\/p>\n\n\n\n Para antirokok selalu mengedepankan moralitas yang menjadi pendirian teguh mereka menentang segala upaya baik yang dilakukan industri rokok. Alasannya, rokok tidak menyehatkan dan tidak boleh cawe-cawe di urusan olahraga. Ya kalau begitu alasannya kenapa mereka juga tidak bertindak tegas kepada perusahaan-perusahaan besar yang telah merusak alam, membiarkan kepunahan suku adat di daerah tertentu, dan hal buruk-buruk lainnya? Sungguhlah saya masih dibuat bingung oleh tindakan mereka. Kini ramai-ramai publik dihebohkan dengan keputusan PB Djarum untuk menghentikan audisi. Kebijakan itu mereka ambil tepat di tahun ke-50 mengabdi pada Indonesia. Alasannnya menghentikan audisi dipilih karena tak ingin melanggar regulasi. Sebenarnya tak ada kesalahan yang dilakukan oleh PB Djarum karena secara hukum mereka berbeda dengan PT Djarum yang merupakan perusahaan rokok. Lagian, BWF selaku otoritas tertinggi olahraga Badminton di dunia selama ini tak melihat PB Djarum melanggar aturan. Oke, anggap saja PB Djarum tak akan lagi melakukan audisi atau lebih buruknya mereka berhenti total. Sekarang pertanyaan yang sangat umum ada di pikiran masyarakat, siapa yang akan melanjutkan pembinaan olahraga khususnya Badminton di Indonesia? Seorang Menteri Pemuda dan Olahraga saja mengakui bahwa pemerintah tak bisa berdiri sendiri melakukannya. Para pembela KPAI dan antirokok juga harus memberikan solusi kongkrit atas ego yang mereka usung dalam penghentian PB Djarum.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Tuduhan Keterlaluan Yayasan Lentera Anak Terhadap Djarum Foundation<\/a><\/p>\n\n\n\n Kalau memang mereka bersiteguh dengan pendapat bahwa rokok tak boleh ikut campur urusan olahraga sok saja atuh minta kepada industri farmasi untuk masuk membina atlet muda kita. Selama ini kok saya kira jarang melihat perusahaan farmasi mau capek ikut membangun olahraga di Indonesia. Bukannya industri farmasi adalah sesuatu yang menyehatkan dan menjadi pahlawan bagi masyarakat Indonesia yang katanya sedang sakit gara-gara rokok. Sudah saatnya kan perusahaan-perusahaan farmasi yang besar itu ikut menyehatkan bangsa kita dan memajukan olahraga tanah air. Ayo KPAI dan antirokok, minta industri farmasi bergerak, bukankah kalian yang memang mengaku paling cinta tanah air dan mau melindungi bangsa ini dari penyakit?<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dukung KPAI dan Antirokok Mendorong Perusahaan Farmasi Memajukan Olahraga Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dukung-kpai-dan-antirokok-mendorong-perusahaan-farmasi-memajukan-olahraga-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-11 10:18:07","post_modified_gmt":"2019-09-11 03:18:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6050","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saya sudah terbiasa menyaksikan berbagai perusahaan rokok menjadi dinamo penggerak kemajuan olahraga di Indonesia. Kita pernah tahu dulu ada Dunhill, Kansas, Djarum, bahkan Dji Sam Soe yang menjadi sponsor besar liga sepak bola Tanah Air. Sebelum PP 109 hadir dan ada aturan keras industri rokok merambah ke dunia olahraga, saya rasa sepak bola Indonesia berjalan baik dan menghasilkan Timnas yang berkualitas pula. Akibat adanya peraturan yang mengharamkan industri rokok mencampuri urusan olahraga, nampaknya ada sedikit kemunduran di dunia tersebut. Sekali lagi saya memberi contoh dari dunia sepak bola, masuk final dan menjadi raja di Asia Tenggara saja susahnya minta ampun. Selain itu liga kita juga kerap bergonta-ganti operator serta sponsor. Liga 1 yang sudah berjalan dua musim misalnya, di awal kehadirannya ia disponsori oleh Gojek dan Traveloka lalu cabut dan digantikan oleh Shopee. Masalah terakhir ini sebenarnya bisa kita tarik kesimpulan sederhana bahwa tak banyak perusahaan yang mau total membina olahraga apalagi dengan gelontoran dana yang besar. Saya masih melihat bahwa industri apapun harus memiliki andil terhadap kemajuan masyarakat di suatu bangsa. Umumnya menggunakan dana corporate social responsibility atau yang familiar disebut CSR. Toh juga CSR juga sudah diatur dalam undang-undang yang mewajibkan seluruh perusahaan di Indonesia wajib mengeluarkan dana untuk kemajuan masyarakat. Lantas mengapa perusahaan rokok yang juga melakukan kewajiban memenuhi undang-undang selalu mendapatkan perlakuan yang negatif?<\/p>\n\n\n\n Baca: KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab<\/a><\/p>\n\n\n\n Para antirokok selalu mengedepankan moralitas yang menjadi pendirian teguh mereka menentang segala upaya baik yang dilakukan industri rokok. Alasannya, rokok tidak menyehatkan dan tidak boleh cawe-cawe di urusan olahraga. Ya kalau begitu alasannya kenapa mereka juga tidak bertindak tegas kepada perusahaan-perusahaan besar yang telah merusak alam, membiarkan kepunahan suku adat di daerah tertentu, dan hal buruk-buruk lainnya? Sungguhlah saya masih dibuat bingung oleh tindakan mereka. Kini ramai-ramai publik dihebohkan dengan keputusan PB Djarum untuk menghentikan audisi. Kebijakan itu mereka ambil tepat di tahun ke-50 mengabdi pada Indonesia. Alasannnya menghentikan audisi dipilih karena tak ingin melanggar regulasi. Sebenarnya tak ada kesalahan yang dilakukan oleh PB Djarum karena secara hukum mereka berbeda dengan PT Djarum yang merupakan perusahaan rokok. Lagian, BWF selaku otoritas tertinggi olahraga Badminton di dunia selama ini tak melihat PB Djarum melanggar aturan. Oke, anggap saja PB Djarum tak akan lagi melakukan audisi atau lebih buruknya mereka berhenti total. Sekarang pertanyaan yang sangat umum ada di pikiran masyarakat, siapa yang akan melanjutkan pembinaan olahraga khususnya Badminton di Indonesia? Seorang Menteri Pemuda dan Olahraga saja mengakui bahwa pemerintah tak bisa berdiri sendiri melakukannya. Para pembela KPAI dan antirokok juga harus memberikan solusi kongkrit atas ego yang mereka usung dalam penghentian PB Djarum.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Tuduhan Keterlaluan Yayasan Lentera Anak Terhadap Djarum Foundation<\/a><\/p>\n\n\n\n Kalau memang mereka bersiteguh dengan pendapat bahwa rokok tak boleh ikut campur urusan olahraga sok saja atuh minta kepada industri farmasi untuk masuk membina atlet muda kita. Selama ini kok saya kira jarang melihat perusahaan farmasi mau capek ikut membangun olahraga di Indonesia. Bukannya industri farmasi adalah sesuatu yang menyehatkan dan menjadi pahlawan bagi masyarakat Indonesia yang katanya sedang sakit gara-gara rokok. Sudah saatnya kan perusahaan-perusahaan farmasi yang besar itu ikut menyehatkan bangsa kita dan memajukan olahraga tanah air. Ayo KPAI dan antirokok, minta industri farmasi bergerak, bukankah kalian yang memang mengaku paling cinta tanah air dan mau melindungi bangsa ini dari penyakit?<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dukung KPAI dan Antirokok Mendorong Perusahaan Farmasi Memajukan Olahraga Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dukung-kpai-dan-antirokok-mendorong-perusahaan-farmasi-memajukan-olahraga-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-11 10:18:07","post_modified_gmt":"2019-09-11 03:18:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6050","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau. Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saya sudah terbiasa menyaksikan berbagai perusahaan rokok menjadi dinamo penggerak kemajuan olahraga di Indonesia. Kita pernah tahu dulu ada Dunhill, Kansas, Djarum, bahkan Dji Sam Soe yang menjadi sponsor besar liga sepak bola Tanah Air. Sebelum PP 109 hadir dan ada aturan keras industri rokok merambah ke dunia olahraga, saya rasa sepak bola Indonesia berjalan baik dan menghasilkan Timnas yang berkualitas pula. Akibat adanya peraturan yang mengharamkan industri rokok mencampuri urusan olahraga, nampaknya ada sedikit kemunduran di dunia tersebut. Sekali lagi saya memberi contoh dari dunia sepak bola, masuk final dan menjadi raja di Asia Tenggara saja susahnya minta ampun. Selain itu liga kita juga kerap bergonta-ganti operator serta sponsor. Liga 1 yang sudah berjalan dua musim misalnya, di awal kehadirannya ia disponsori oleh Gojek dan Traveloka lalu cabut dan digantikan oleh Shopee. Masalah terakhir ini sebenarnya bisa kita tarik kesimpulan sederhana bahwa tak banyak perusahaan yang mau total membina olahraga apalagi dengan gelontoran dana yang besar. Saya masih melihat bahwa industri apapun harus memiliki andil terhadap kemajuan masyarakat di suatu bangsa. Umumnya menggunakan dana corporate social responsibility atau yang familiar disebut CSR. Toh juga CSR juga sudah diatur dalam undang-undang yang mewajibkan seluruh perusahaan di Indonesia wajib mengeluarkan dana untuk kemajuan masyarakat. Lantas mengapa perusahaan rokok yang juga melakukan kewajiban memenuhi undang-undang selalu mendapatkan perlakuan yang negatif?<\/p>\n\n\n\n Baca: KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab<\/a><\/p>\n\n\n\n Para antirokok selalu mengedepankan moralitas yang menjadi pendirian teguh mereka menentang segala upaya baik yang dilakukan industri rokok. Alasannya, rokok tidak menyehatkan dan tidak boleh cawe-cawe di urusan olahraga. Ya kalau begitu alasannya kenapa mereka juga tidak bertindak tegas kepada perusahaan-perusahaan besar yang telah merusak alam, membiarkan kepunahan suku adat di daerah tertentu, dan hal buruk-buruk lainnya? Sungguhlah saya masih dibuat bingung oleh tindakan mereka. Kini ramai-ramai publik dihebohkan dengan keputusan PB Djarum untuk menghentikan audisi. Kebijakan itu mereka ambil tepat di tahun ke-50 mengabdi pada Indonesia. Alasannnya menghentikan audisi dipilih karena tak ingin melanggar regulasi. Sebenarnya tak ada kesalahan yang dilakukan oleh PB Djarum karena secara hukum mereka berbeda dengan PT Djarum yang merupakan perusahaan rokok. Lagian, BWF selaku otoritas tertinggi olahraga Badminton di dunia selama ini tak melihat PB Djarum melanggar aturan. Oke, anggap saja PB Djarum tak akan lagi melakukan audisi atau lebih buruknya mereka berhenti total. Sekarang pertanyaan yang sangat umum ada di pikiran masyarakat, siapa yang akan melanjutkan pembinaan olahraga khususnya Badminton di Indonesia? Seorang Menteri Pemuda dan Olahraga saja mengakui bahwa pemerintah tak bisa berdiri sendiri melakukannya. Para pembela KPAI dan antirokok juga harus memberikan solusi kongkrit atas ego yang mereka usung dalam penghentian PB Djarum.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Tuduhan Keterlaluan Yayasan Lentera Anak Terhadap Djarum Foundation<\/a><\/p>\n\n\n\n Kalau memang mereka bersiteguh dengan pendapat bahwa rokok tak boleh ikut campur urusan olahraga sok saja atuh minta kepada industri farmasi untuk masuk membina atlet muda kita. Selama ini kok saya kira jarang melihat perusahaan farmasi mau capek ikut membangun olahraga di Indonesia. Bukannya industri farmasi adalah sesuatu yang menyehatkan dan menjadi pahlawan bagi masyarakat Indonesia yang katanya sedang sakit gara-gara rokok. Sudah saatnya kan perusahaan-perusahaan farmasi yang besar itu ikut menyehatkan bangsa kita dan memajukan olahraga tanah air. Ayo KPAI dan antirokok, minta industri farmasi bergerak, bukankah kalian yang memang mengaku paling cinta tanah air dan mau melindungi bangsa ini dari penyakit?<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dukung KPAI dan Antirokok Mendorong Perusahaan Farmasi Memajukan Olahraga Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dukung-kpai-dan-antirokok-mendorong-perusahaan-farmasi-memajukan-olahraga-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-11 10:18:07","post_modified_gmt":"2019-09-11 03:18:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6050","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau. Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saya sudah terbiasa menyaksikan berbagai perusahaan rokok menjadi dinamo penggerak kemajuan olahraga di Indonesia. Kita pernah tahu dulu ada Dunhill, Kansas, Djarum, bahkan Dji Sam Soe yang menjadi sponsor besar liga sepak bola Tanah Air. Sebelum PP 109 hadir dan ada aturan keras industri rokok merambah ke dunia olahraga, saya rasa sepak bola Indonesia berjalan baik dan menghasilkan Timnas yang berkualitas pula. Akibat adanya peraturan yang mengharamkan industri rokok mencampuri urusan olahraga, nampaknya ada sedikit kemunduran di dunia tersebut. Sekali lagi saya memberi contoh dari dunia sepak bola, masuk final dan menjadi raja di Asia Tenggara saja susahnya minta ampun. Selain itu liga kita juga kerap bergonta-ganti operator serta sponsor. Liga 1 yang sudah berjalan dua musim misalnya, di awal kehadirannya ia disponsori oleh Gojek dan Traveloka lalu cabut dan digantikan oleh Shopee. Masalah terakhir ini sebenarnya bisa kita tarik kesimpulan sederhana bahwa tak banyak perusahaan yang mau total membina olahraga apalagi dengan gelontoran dana yang besar. Saya masih melihat bahwa industri apapun harus memiliki andil terhadap kemajuan masyarakat di suatu bangsa. Umumnya menggunakan dana corporate social responsibility atau yang familiar disebut CSR. Toh juga CSR juga sudah diatur dalam undang-undang yang mewajibkan seluruh perusahaan di Indonesia wajib mengeluarkan dana untuk kemajuan masyarakat. Lantas mengapa perusahaan rokok yang juga melakukan kewajiban memenuhi undang-undang selalu mendapatkan perlakuan yang negatif?<\/p>\n\n\n\n Baca: KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab<\/a><\/p>\n\n\n\n Para antirokok selalu mengedepankan moralitas yang menjadi pendirian teguh mereka menentang segala upaya baik yang dilakukan industri rokok. Alasannya, rokok tidak menyehatkan dan tidak boleh cawe-cawe di urusan olahraga. Ya kalau begitu alasannya kenapa mereka juga tidak bertindak tegas kepada perusahaan-perusahaan besar yang telah merusak alam, membiarkan kepunahan suku adat di daerah tertentu, dan hal buruk-buruk lainnya? Sungguhlah saya masih dibuat bingung oleh tindakan mereka. Kini ramai-ramai publik dihebohkan dengan keputusan PB Djarum untuk menghentikan audisi. Kebijakan itu mereka ambil tepat di tahun ke-50 mengabdi pada Indonesia. Alasannnya menghentikan audisi dipilih karena tak ingin melanggar regulasi. Sebenarnya tak ada kesalahan yang dilakukan oleh PB Djarum karena secara hukum mereka berbeda dengan PT Djarum yang merupakan perusahaan rokok. Lagian, BWF selaku otoritas tertinggi olahraga Badminton di dunia selama ini tak melihat PB Djarum melanggar aturan. Oke, anggap saja PB Djarum tak akan lagi melakukan audisi atau lebih buruknya mereka berhenti total. Sekarang pertanyaan yang sangat umum ada di pikiran masyarakat, siapa yang akan melanjutkan pembinaan olahraga khususnya Badminton di Indonesia? Seorang Menteri Pemuda dan Olahraga saja mengakui bahwa pemerintah tak bisa berdiri sendiri melakukannya. Para pembela KPAI dan antirokok juga harus memberikan solusi kongkrit atas ego yang mereka usung dalam penghentian PB Djarum.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Tuduhan Keterlaluan Yayasan Lentera Anak Terhadap Djarum Foundation<\/a><\/p>\n\n\n\n Kalau memang mereka bersiteguh dengan pendapat bahwa rokok tak boleh ikut campur urusan olahraga sok saja atuh minta kepada industri farmasi untuk masuk membina atlet muda kita. Selama ini kok saya kira jarang melihat perusahaan farmasi mau capek ikut membangun olahraga di Indonesia. Bukannya industri farmasi adalah sesuatu yang menyehatkan dan menjadi pahlawan bagi masyarakat Indonesia yang katanya sedang sakit gara-gara rokok. Sudah saatnya kan perusahaan-perusahaan farmasi yang besar itu ikut menyehatkan bangsa kita dan memajukan olahraga tanah air. Ayo KPAI dan antirokok, minta industri farmasi bergerak, bukankah kalian yang memang mengaku paling cinta tanah air dan mau melindungi bangsa ini dari penyakit?<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dukung KPAI dan Antirokok Mendorong Perusahaan Farmasi Memajukan Olahraga Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dukung-kpai-dan-antirokok-mendorong-perusahaan-farmasi-memajukan-olahraga-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-11 10:18:07","post_modified_gmt":"2019-09-11 03:18:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6050","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau. Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saya sudah terbiasa menyaksikan berbagai perusahaan rokok menjadi dinamo penggerak kemajuan olahraga di Indonesia. Kita pernah tahu dulu ada Dunhill, Kansas, Djarum, bahkan Dji Sam Soe yang menjadi sponsor besar liga sepak bola Tanah Air. Sebelum PP 109 hadir dan ada aturan keras industri rokok merambah ke dunia olahraga, saya rasa sepak bola Indonesia berjalan baik dan menghasilkan Timnas yang berkualitas pula. Akibat adanya peraturan yang mengharamkan industri rokok mencampuri urusan olahraga, nampaknya ada sedikit kemunduran di dunia tersebut. Sekali lagi saya memberi contoh dari dunia sepak bola, masuk final dan menjadi raja di Asia Tenggara saja susahnya minta ampun. Selain itu liga kita juga kerap bergonta-ganti operator serta sponsor. Liga 1 yang sudah berjalan dua musim misalnya, di awal kehadirannya ia disponsori oleh Gojek dan Traveloka lalu cabut dan digantikan oleh Shopee. Masalah terakhir ini sebenarnya bisa kita tarik kesimpulan sederhana bahwa tak banyak perusahaan yang mau total membina olahraga apalagi dengan gelontoran dana yang besar. Saya masih melihat bahwa industri apapun harus memiliki andil terhadap kemajuan masyarakat di suatu bangsa. Umumnya menggunakan dana corporate social responsibility atau yang familiar disebut CSR. Toh juga CSR juga sudah diatur dalam undang-undang yang mewajibkan seluruh perusahaan di Indonesia wajib mengeluarkan dana untuk kemajuan masyarakat. Lantas mengapa perusahaan rokok yang juga melakukan kewajiban memenuhi undang-undang selalu mendapatkan perlakuan yang negatif?<\/p>\n\n\n\n Baca: KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab<\/a><\/p>\n\n\n\n Para antirokok selalu mengedepankan moralitas yang menjadi pendirian teguh mereka menentang segala upaya baik yang dilakukan industri rokok. Alasannya, rokok tidak menyehatkan dan tidak boleh cawe-cawe di urusan olahraga. Ya kalau begitu alasannya kenapa mereka juga tidak bertindak tegas kepada perusahaan-perusahaan besar yang telah merusak alam, membiarkan kepunahan suku adat di daerah tertentu, dan hal buruk-buruk lainnya? Sungguhlah saya masih dibuat bingung oleh tindakan mereka. Kini ramai-ramai publik dihebohkan dengan keputusan PB Djarum untuk menghentikan audisi. Kebijakan itu mereka ambil tepat di tahun ke-50 mengabdi pada Indonesia. Alasannnya menghentikan audisi dipilih karena tak ingin melanggar regulasi. Sebenarnya tak ada kesalahan yang dilakukan oleh PB Djarum karena secara hukum mereka berbeda dengan PT Djarum yang merupakan perusahaan rokok. Lagian, BWF selaku otoritas tertinggi olahraga Badminton di dunia selama ini tak melihat PB Djarum melanggar aturan. Oke, anggap saja PB Djarum tak akan lagi melakukan audisi atau lebih buruknya mereka berhenti total. Sekarang pertanyaan yang sangat umum ada di pikiran masyarakat, siapa yang akan melanjutkan pembinaan olahraga khususnya Badminton di Indonesia? Seorang Menteri Pemuda dan Olahraga saja mengakui bahwa pemerintah tak bisa berdiri sendiri melakukannya. Para pembela KPAI dan antirokok juga harus memberikan solusi kongkrit atas ego yang mereka usung dalam penghentian PB Djarum.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Tuduhan Keterlaluan Yayasan Lentera Anak Terhadap Djarum Foundation<\/a><\/p>\n\n\n\n Kalau memang mereka bersiteguh dengan pendapat bahwa rokok tak boleh ikut campur urusan olahraga sok saja atuh minta kepada industri farmasi untuk masuk membina atlet muda kita. Selama ini kok saya kira jarang melihat perusahaan farmasi mau capek ikut membangun olahraga di Indonesia. Bukannya industri farmasi adalah sesuatu yang menyehatkan dan menjadi pahlawan bagi masyarakat Indonesia yang katanya sedang sakit gara-gara rokok. Sudah saatnya kan perusahaan-perusahaan farmasi yang besar itu ikut menyehatkan bangsa kita dan memajukan olahraga tanah air. Ayo KPAI dan antirokok, minta industri farmasi bergerak, bukankah kalian yang memang mengaku paling cinta tanah air dan mau melindungi bangsa ini dari penyakit?<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dukung KPAI dan Antirokok Mendorong Perusahaan Farmasi Memajukan Olahraga Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dukung-kpai-dan-antirokok-mendorong-perusahaan-farmasi-memajukan-olahraga-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-11 10:18:07","post_modified_gmt":"2019-09-11 03:18:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6050","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau. Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saya sudah terbiasa menyaksikan berbagai perusahaan rokok menjadi dinamo penggerak kemajuan olahraga di Indonesia. Kita pernah tahu dulu ada Dunhill, Kansas, Djarum, bahkan Dji Sam Soe yang menjadi sponsor besar liga sepak bola Tanah Air. Sebelum PP 109 hadir dan ada aturan keras industri rokok merambah ke dunia olahraga, saya rasa sepak bola Indonesia berjalan baik dan menghasilkan Timnas yang berkualitas pula. Akibat adanya peraturan yang mengharamkan industri rokok mencampuri urusan olahraga, nampaknya ada sedikit kemunduran di dunia tersebut. Sekali lagi saya memberi contoh dari dunia sepak bola, masuk final dan menjadi raja di Asia Tenggara saja susahnya minta ampun. Selain itu liga kita juga kerap bergonta-ganti operator serta sponsor. Liga 1 yang sudah berjalan dua musim misalnya, di awal kehadirannya ia disponsori oleh Gojek dan Traveloka lalu cabut dan digantikan oleh Shopee. Masalah terakhir ini sebenarnya bisa kita tarik kesimpulan sederhana bahwa tak banyak perusahaan yang mau total membina olahraga apalagi dengan gelontoran dana yang besar. Saya masih melihat bahwa industri apapun harus memiliki andil terhadap kemajuan masyarakat di suatu bangsa. Umumnya menggunakan dana corporate social responsibility atau yang familiar disebut CSR. Toh juga CSR juga sudah diatur dalam undang-undang yang mewajibkan seluruh perusahaan di Indonesia wajib mengeluarkan dana untuk kemajuan masyarakat. Lantas mengapa perusahaan rokok yang juga melakukan kewajiban memenuhi undang-undang selalu mendapatkan perlakuan yang negatif?<\/p>\n\n\n\n Baca: KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab<\/a><\/p>\n\n\n\n Para antirokok selalu mengedepankan moralitas yang menjadi pendirian teguh mereka menentang segala upaya baik yang dilakukan industri rokok. Alasannya, rokok tidak menyehatkan dan tidak boleh cawe-cawe di urusan olahraga. Ya kalau begitu alasannya kenapa mereka juga tidak bertindak tegas kepada perusahaan-perusahaan besar yang telah merusak alam, membiarkan kepunahan suku adat di daerah tertentu, dan hal buruk-buruk lainnya? Sungguhlah saya masih dibuat bingung oleh tindakan mereka. Kini ramai-ramai publik dihebohkan dengan keputusan PB Djarum untuk menghentikan audisi. Kebijakan itu mereka ambil tepat di tahun ke-50 mengabdi pada Indonesia. Alasannnya menghentikan audisi dipilih karena tak ingin melanggar regulasi. Sebenarnya tak ada kesalahan yang dilakukan oleh PB Djarum karena secara hukum mereka berbeda dengan PT Djarum yang merupakan perusahaan rokok. Lagian, BWF selaku otoritas tertinggi olahraga Badminton di dunia selama ini tak melihat PB Djarum melanggar aturan. Oke, anggap saja PB Djarum tak akan lagi melakukan audisi atau lebih buruknya mereka berhenti total. Sekarang pertanyaan yang sangat umum ada di pikiran masyarakat, siapa yang akan melanjutkan pembinaan olahraga khususnya Badminton di Indonesia? Seorang Menteri Pemuda dan Olahraga saja mengakui bahwa pemerintah tak bisa berdiri sendiri melakukannya. Para pembela KPAI dan antirokok juga harus memberikan solusi kongkrit atas ego yang mereka usung dalam penghentian PB Djarum.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Tuduhan Keterlaluan Yayasan Lentera Anak Terhadap Djarum Foundation<\/a><\/p>\n\n\n\n Kalau memang mereka bersiteguh dengan pendapat bahwa rokok tak boleh ikut campur urusan olahraga sok saja atuh minta kepada industri farmasi untuk masuk membina atlet muda kita. Selama ini kok saya kira jarang melihat perusahaan farmasi mau capek ikut membangun olahraga di Indonesia. Bukannya industri farmasi adalah sesuatu yang menyehatkan dan menjadi pahlawan bagi masyarakat Indonesia yang katanya sedang sakit gara-gara rokok. Sudah saatnya kan perusahaan-perusahaan farmasi yang besar itu ikut menyehatkan bangsa kita dan memajukan olahraga tanah air. Ayo KPAI dan antirokok, minta industri farmasi bergerak, bukankah kalian yang memang mengaku paling cinta tanah air dan mau melindungi bangsa ini dari penyakit?<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dukung KPAI dan Antirokok Mendorong Perusahaan Farmasi Memajukan Olahraga Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dukung-kpai-dan-antirokok-mendorong-perusahaan-farmasi-memajukan-olahraga-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-11 10:18:07","post_modified_gmt":"2019-09-11 03:18:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6050","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau. Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saya sudah terbiasa menyaksikan berbagai perusahaan rokok menjadi dinamo penggerak kemajuan olahraga di Indonesia. Kita pernah tahu dulu ada Dunhill, Kansas, Djarum, bahkan Dji Sam Soe yang menjadi sponsor besar liga sepak bola Tanah Air. Sebelum PP 109 hadir dan ada aturan keras industri rokok merambah ke dunia olahraga, saya rasa sepak bola Indonesia berjalan baik dan menghasilkan Timnas yang berkualitas pula. Akibat adanya peraturan yang mengharamkan industri rokok mencampuri urusan olahraga, nampaknya ada sedikit kemunduran di dunia tersebut. Sekali lagi saya memberi contoh dari dunia sepak bola, masuk final dan menjadi raja di Asia Tenggara saja susahnya minta ampun. Selain itu liga kita juga kerap bergonta-ganti operator serta sponsor. Liga 1 yang sudah berjalan dua musim misalnya, di awal kehadirannya ia disponsori oleh Gojek dan Traveloka lalu cabut dan digantikan oleh Shopee. Masalah terakhir ini sebenarnya bisa kita tarik kesimpulan sederhana bahwa tak banyak perusahaan yang mau total membina olahraga apalagi dengan gelontoran dana yang besar. Saya masih melihat bahwa industri apapun harus memiliki andil terhadap kemajuan masyarakat di suatu bangsa. Umumnya menggunakan dana corporate social responsibility atau yang familiar disebut CSR. Toh juga CSR juga sudah diatur dalam undang-undang yang mewajibkan seluruh perusahaan di Indonesia wajib mengeluarkan dana untuk kemajuan masyarakat. Lantas mengapa perusahaan rokok yang juga melakukan kewajiban memenuhi undang-undang selalu mendapatkan perlakuan yang negatif?<\/p>\n\n\n\n Baca: KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab<\/a><\/p>\n\n\n\n Para antirokok selalu mengedepankan moralitas yang menjadi pendirian teguh mereka menentang segala upaya baik yang dilakukan industri rokok. Alasannya, rokok tidak menyehatkan dan tidak boleh cawe-cawe di urusan olahraga. Ya kalau begitu alasannya kenapa mereka juga tidak bertindak tegas kepada perusahaan-perusahaan besar yang telah merusak alam, membiarkan kepunahan suku adat di daerah tertentu, dan hal buruk-buruk lainnya? Sungguhlah saya masih dibuat bingung oleh tindakan mereka. Kini ramai-ramai publik dihebohkan dengan keputusan PB Djarum untuk menghentikan audisi. Kebijakan itu mereka ambil tepat di tahun ke-50 mengabdi pada Indonesia. Alasannnya menghentikan audisi dipilih karena tak ingin melanggar regulasi. Sebenarnya tak ada kesalahan yang dilakukan oleh PB Djarum karena secara hukum mereka berbeda dengan PT Djarum yang merupakan perusahaan rokok. Lagian, BWF selaku otoritas tertinggi olahraga Badminton di dunia selama ini tak melihat PB Djarum melanggar aturan. Oke, anggap saja PB Djarum tak akan lagi melakukan audisi atau lebih buruknya mereka berhenti total. Sekarang pertanyaan yang sangat umum ada di pikiran masyarakat, siapa yang akan melanjutkan pembinaan olahraga khususnya Badminton di Indonesia? Seorang Menteri Pemuda dan Olahraga saja mengakui bahwa pemerintah tak bisa berdiri sendiri melakukannya. Para pembela KPAI dan antirokok juga harus memberikan solusi kongkrit atas ego yang mereka usung dalam penghentian PB Djarum.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Tuduhan Keterlaluan Yayasan Lentera Anak Terhadap Djarum Foundation<\/a><\/p>\n\n\n\n Kalau memang mereka bersiteguh dengan pendapat bahwa rokok tak boleh ikut campur urusan olahraga sok saja atuh minta kepada industri farmasi untuk masuk membina atlet muda kita. Selama ini kok saya kira jarang melihat perusahaan farmasi mau capek ikut membangun olahraga di Indonesia. Bukannya industri farmasi adalah sesuatu yang menyehatkan dan menjadi pahlawan bagi masyarakat Indonesia yang katanya sedang sakit gara-gara rokok. Sudah saatnya kan perusahaan-perusahaan farmasi yang besar itu ikut menyehatkan bangsa kita dan memajukan olahraga tanah air. Ayo KPAI dan antirokok, minta industri farmasi bergerak, bukankah kalian yang memang mengaku paling cinta tanah air dan mau melindungi bangsa ini dari penyakit?<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dukung KPAI dan Antirokok Mendorong Perusahaan Farmasi Memajukan Olahraga Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dukung-kpai-dan-antirokok-mendorong-perusahaan-farmasi-memajukan-olahraga-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-11 10:18:07","post_modified_gmt":"2019-09-11 03:18:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6050","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau. Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saya sudah terbiasa menyaksikan berbagai perusahaan rokok menjadi dinamo penggerak kemajuan olahraga di Indonesia. Kita pernah tahu dulu ada Dunhill, Kansas, Djarum, bahkan Dji Sam Soe yang menjadi sponsor besar liga sepak bola Tanah Air. Sebelum PP 109 hadir dan ada aturan keras industri rokok merambah ke dunia olahraga, saya rasa sepak bola Indonesia berjalan baik dan menghasilkan Timnas yang berkualitas pula. Akibat adanya peraturan yang mengharamkan industri rokok mencampuri urusan olahraga, nampaknya ada sedikit kemunduran di dunia tersebut. Sekali lagi saya memberi contoh dari dunia sepak bola, masuk final dan menjadi raja di Asia Tenggara saja susahnya minta ampun. Selain itu liga kita juga kerap bergonta-ganti operator serta sponsor. Liga 1 yang sudah berjalan dua musim misalnya, di awal kehadirannya ia disponsori oleh Gojek dan Traveloka lalu cabut dan digantikan oleh Shopee. Masalah terakhir ini sebenarnya bisa kita tarik kesimpulan sederhana bahwa tak banyak perusahaan yang mau total membina olahraga apalagi dengan gelontoran dana yang besar. Saya masih melihat bahwa industri apapun harus memiliki andil terhadap kemajuan masyarakat di suatu bangsa. Umumnya menggunakan dana corporate social responsibility atau yang familiar disebut CSR. Toh juga CSR juga sudah diatur dalam undang-undang yang mewajibkan seluruh perusahaan di Indonesia wajib mengeluarkan dana untuk kemajuan masyarakat. Lantas mengapa perusahaan rokok yang juga melakukan kewajiban memenuhi undang-undang selalu mendapatkan perlakuan yang negatif?<\/p>\n\n\n\n Baca: KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab<\/a><\/p>\n\n\n\n Para antirokok selalu mengedepankan moralitas yang menjadi pendirian teguh mereka menentang segala upaya baik yang dilakukan industri rokok. Alasannya, rokok tidak menyehatkan dan tidak boleh cawe-cawe di urusan olahraga. Ya kalau begitu alasannya kenapa mereka juga tidak bertindak tegas kepada perusahaan-perusahaan besar yang telah merusak alam, membiarkan kepunahan suku adat di daerah tertentu, dan hal buruk-buruk lainnya? Sungguhlah saya masih dibuat bingung oleh tindakan mereka. Kini ramai-ramai publik dihebohkan dengan keputusan PB Djarum untuk menghentikan audisi. Kebijakan itu mereka ambil tepat di tahun ke-50 mengabdi pada Indonesia. Alasannnya menghentikan audisi dipilih karena tak ingin melanggar regulasi. Sebenarnya tak ada kesalahan yang dilakukan oleh PB Djarum karena secara hukum mereka berbeda dengan PT Djarum yang merupakan perusahaan rokok. Lagian, BWF selaku otoritas tertinggi olahraga Badminton di dunia selama ini tak melihat PB Djarum melanggar aturan. Oke, anggap saja PB Djarum tak akan lagi melakukan audisi atau lebih buruknya mereka berhenti total. Sekarang pertanyaan yang sangat umum ada di pikiran masyarakat, siapa yang akan melanjutkan pembinaan olahraga khususnya Badminton di Indonesia? Seorang Menteri Pemuda dan Olahraga saja mengakui bahwa pemerintah tak bisa berdiri sendiri melakukannya. Para pembela KPAI dan antirokok juga harus memberikan solusi kongkrit atas ego yang mereka usung dalam penghentian PB Djarum.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Tuduhan Keterlaluan Yayasan Lentera Anak Terhadap Djarum Foundation<\/a><\/p>\n\n\n\n Kalau memang mereka bersiteguh dengan pendapat bahwa rokok tak boleh ikut campur urusan olahraga sok saja atuh minta kepada industri farmasi untuk masuk membina atlet muda kita. Selama ini kok saya kira jarang melihat perusahaan farmasi mau capek ikut membangun olahraga di Indonesia. Bukannya industri farmasi adalah sesuatu yang menyehatkan dan menjadi pahlawan bagi masyarakat Indonesia yang katanya sedang sakit gara-gara rokok. Sudah saatnya kan perusahaan-perusahaan farmasi yang besar itu ikut menyehatkan bangsa kita dan memajukan olahraga tanah air. Ayo KPAI dan antirokok, minta industri farmasi bergerak, bukankah kalian yang memang mengaku paling cinta tanah air dan mau melindungi bangsa ini dari penyakit?<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dukung KPAI dan Antirokok Mendorong Perusahaan Farmasi Memajukan Olahraga Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dukung-kpai-dan-antirokok-mendorong-perusahaan-farmasi-memajukan-olahraga-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-11 10:18:07","post_modified_gmt":"2019-09-11 03:18:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6050","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau. Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saya sudah terbiasa menyaksikan berbagai perusahaan rokok menjadi dinamo penggerak kemajuan olahraga di Indonesia. Kita pernah tahu dulu ada Dunhill, Kansas, Djarum, bahkan Dji Sam Soe yang menjadi sponsor besar liga sepak bola Tanah Air. Sebelum PP 109 hadir dan ada aturan keras industri rokok merambah ke dunia olahraga, saya rasa sepak bola Indonesia berjalan baik dan menghasilkan Timnas yang berkualitas pula. Akibat adanya peraturan yang mengharamkan industri rokok mencampuri urusan olahraga, nampaknya ada sedikit kemunduran di dunia tersebut. Sekali lagi saya memberi contoh dari dunia sepak bola, masuk final dan menjadi raja di Asia Tenggara saja susahnya minta ampun. Selain itu liga kita juga kerap bergonta-ganti operator serta sponsor. Liga 1 yang sudah berjalan dua musim misalnya, di awal kehadirannya ia disponsori oleh Gojek dan Traveloka lalu cabut dan digantikan oleh Shopee. Masalah terakhir ini sebenarnya bisa kita tarik kesimpulan sederhana bahwa tak banyak perusahaan yang mau total membina olahraga apalagi dengan gelontoran dana yang besar. Saya masih melihat bahwa industri apapun harus memiliki andil terhadap kemajuan masyarakat di suatu bangsa. Umumnya menggunakan dana corporate social responsibility atau yang familiar disebut CSR. Toh juga CSR juga sudah diatur dalam undang-undang yang mewajibkan seluruh perusahaan di Indonesia wajib mengeluarkan dana untuk kemajuan masyarakat. Lantas mengapa perusahaan rokok yang juga melakukan kewajiban memenuhi undang-undang selalu mendapatkan perlakuan yang negatif?<\/p>\n\n\n\n Baca: KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab<\/a><\/p>\n\n\n\n Para antirokok selalu mengedepankan moralitas yang menjadi pendirian teguh mereka menentang segala upaya baik yang dilakukan industri rokok. Alasannya, rokok tidak menyehatkan dan tidak boleh cawe-cawe di urusan olahraga. Ya kalau begitu alasannya kenapa mereka juga tidak bertindak tegas kepada perusahaan-perusahaan besar yang telah merusak alam, membiarkan kepunahan suku adat di daerah tertentu, dan hal buruk-buruk lainnya? Sungguhlah saya masih dibuat bingung oleh tindakan mereka. Kini ramai-ramai publik dihebohkan dengan keputusan PB Djarum untuk menghentikan audisi. Kebijakan itu mereka ambil tepat di tahun ke-50 mengabdi pada Indonesia. Alasannnya menghentikan audisi dipilih karena tak ingin melanggar regulasi. Sebenarnya tak ada kesalahan yang dilakukan oleh PB Djarum karena secara hukum mereka berbeda dengan PT Djarum yang merupakan perusahaan rokok. Lagian, BWF selaku otoritas tertinggi olahraga Badminton di dunia selama ini tak melihat PB Djarum melanggar aturan. Oke, anggap saja PB Djarum tak akan lagi melakukan audisi atau lebih buruknya mereka berhenti total. Sekarang pertanyaan yang sangat umum ada di pikiran masyarakat, siapa yang akan melanjutkan pembinaan olahraga khususnya Badminton di Indonesia? Seorang Menteri Pemuda dan Olahraga saja mengakui bahwa pemerintah tak bisa berdiri sendiri melakukannya. Para pembela KPAI dan antirokok juga harus memberikan solusi kongkrit atas ego yang mereka usung dalam penghentian PB Djarum.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Tuduhan Keterlaluan Yayasan Lentera Anak Terhadap Djarum Foundation<\/a><\/p>\n\n\n\n Kalau memang mereka bersiteguh dengan pendapat bahwa rokok tak boleh ikut campur urusan olahraga sok saja atuh minta kepada industri farmasi untuk masuk membina atlet muda kita. Selama ini kok saya kira jarang melihat perusahaan farmasi mau capek ikut membangun olahraga di Indonesia. Bukannya industri farmasi adalah sesuatu yang menyehatkan dan menjadi pahlawan bagi masyarakat Indonesia yang katanya sedang sakit gara-gara rokok. Sudah saatnya kan perusahaan-perusahaan farmasi yang besar itu ikut menyehatkan bangsa kita dan memajukan olahraga tanah air. Ayo KPAI dan antirokok, minta industri farmasi bergerak, bukankah kalian yang memang mengaku paling cinta tanah air dan mau melindungi bangsa ini dari penyakit?<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dukung KPAI dan Antirokok Mendorong Perusahaan Farmasi Memajukan Olahraga Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dukung-kpai-dan-antirokok-mendorong-perusahaan-farmasi-memajukan-olahraga-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-11 10:18:07","post_modified_gmt":"2019-09-11 03:18:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6050","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Pada suatu kesempatan, Mbah Mus (KH. Ahmad Mustofa Bisri) ditanya perihal merokok. Begini pertanyaannya; Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau. Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saya sudah terbiasa menyaksikan berbagai perusahaan rokok menjadi dinamo penggerak kemajuan olahraga di Indonesia. Kita pernah tahu dulu ada Dunhill, Kansas, Djarum, bahkan Dji Sam Soe yang menjadi sponsor besar liga sepak bola Tanah Air. Sebelum PP 109 hadir dan ada aturan keras industri rokok merambah ke dunia olahraga, saya rasa sepak bola Indonesia berjalan baik dan menghasilkan Timnas yang berkualitas pula. Akibat adanya peraturan yang mengharamkan industri rokok mencampuri urusan olahraga, nampaknya ada sedikit kemunduran di dunia tersebut. Sekali lagi saya memberi contoh dari dunia sepak bola, masuk final dan menjadi raja di Asia Tenggara saja susahnya minta ampun. Selain itu liga kita juga kerap bergonta-ganti operator serta sponsor. Liga 1 yang sudah berjalan dua musim misalnya, di awal kehadirannya ia disponsori oleh Gojek dan Traveloka lalu cabut dan digantikan oleh Shopee. Masalah terakhir ini sebenarnya bisa kita tarik kesimpulan sederhana bahwa tak banyak perusahaan yang mau total membina olahraga apalagi dengan gelontoran dana yang besar. Saya masih melihat bahwa industri apapun harus memiliki andil terhadap kemajuan masyarakat di suatu bangsa. Umumnya menggunakan dana corporate social responsibility atau yang familiar disebut CSR. Toh juga CSR juga sudah diatur dalam undang-undang yang mewajibkan seluruh perusahaan di Indonesia wajib mengeluarkan dana untuk kemajuan masyarakat. Lantas mengapa perusahaan rokok yang juga melakukan kewajiban memenuhi undang-undang selalu mendapatkan perlakuan yang negatif?<\/p>\n\n\n\n Baca: KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab<\/a><\/p>\n\n\n\n Para antirokok selalu mengedepankan moralitas yang menjadi pendirian teguh mereka menentang segala upaya baik yang dilakukan industri rokok. Alasannya, rokok tidak menyehatkan dan tidak boleh cawe-cawe di urusan olahraga. Ya kalau begitu alasannya kenapa mereka juga tidak bertindak tegas kepada perusahaan-perusahaan besar yang telah merusak alam, membiarkan kepunahan suku adat di daerah tertentu, dan hal buruk-buruk lainnya? Sungguhlah saya masih dibuat bingung oleh tindakan mereka. Kini ramai-ramai publik dihebohkan dengan keputusan PB Djarum untuk menghentikan audisi. Kebijakan itu mereka ambil tepat di tahun ke-50 mengabdi pada Indonesia. Alasannnya menghentikan audisi dipilih karena tak ingin melanggar regulasi. Sebenarnya tak ada kesalahan yang dilakukan oleh PB Djarum karena secara hukum mereka berbeda dengan PT Djarum yang merupakan perusahaan rokok. Lagian, BWF selaku otoritas tertinggi olahraga Badminton di dunia selama ini tak melihat PB Djarum melanggar aturan. Oke, anggap saja PB Djarum tak akan lagi melakukan audisi atau lebih buruknya mereka berhenti total. Sekarang pertanyaan yang sangat umum ada di pikiran masyarakat, siapa yang akan melanjutkan pembinaan olahraga khususnya Badminton di Indonesia? Seorang Menteri Pemuda dan Olahraga saja mengakui bahwa pemerintah tak bisa berdiri sendiri melakukannya. Para pembela KPAI dan antirokok juga harus memberikan solusi kongkrit atas ego yang mereka usung dalam penghentian PB Djarum.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Tuduhan Keterlaluan Yayasan Lentera Anak Terhadap Djarum Foundation<\/a><\/p>\n\n\n\n Kalau memang mereka bersiteguh dengan pendapat bahwa rokok tak boleh ikut campur urusan olahraga sok saja atuh minta kepada industri farmasi untuk masuk membina atlet muda kita. Selama ini kok saya kira jarang melihat perusahaan farmasi mau capek ikut membangun olahraga di Indonesia. Bukannya industri farmasi adalah sesuatu yang menyehatkan dan menjadi pahlawan bagi masyarakat Indonesia yang katanya sedang sakit gara-gara rokok. Sudah saatnya kan perusahaan-perusahaan farmasi yang besar itu ikut menyehatkan bangsa kita dan memajukan olahraga tanah air. Ayo KPAI dan antirokok, minta industri farmasi bergerak, bukankah kalian yang memang mengaku paling cinta tanah air dan mau melindungi bangsa ini dari penyakit?<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dukung KPAI dan Antirokok Mendorong Perusahaan Farmasi Memajukan Olahraga Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dukung-kpai-dan-antirokok-mendorong-perusahaan-farmasi-memajukan-olahraga-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-11 10:18:07","post_modified_gmt":"2019-09-11 03:18:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6050","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek. Pada suatu kesempatan, Mbah Mus (KH. Ahmad Mustofa Bisri) ditanya perihal merokok. Begini pertanyaannya; Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau. Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saya sudah terbiasa menyaksikan berbagai perusahaan rokok menjadi dinamo penggerak kemajuan olahraga di Indonesia. Kita pernah tahu dulu ada Dunhill, Kansas, Djarum, bahkan Dji Sam Soe yang menjadi sponsor besar liga sepak bola Tanah Air. Sebelum PP 109 hadir dan ada aturan keras industri rokok merambah ke dunia olahraga, saya rasa sepak bola Indonesia berjalan baik dan menghasilkan Timnas yang berkualitas pula. Akibat adanya peraturan yang mengharamkan industri rokok mencampuri urusan olahraga, nampaknya ada sedikit kemunduran di dunia tersebut. Sekali lagi saya memberi contoh dari dunia sepak bola, masuk final dan menjadi raja di Asia Tenggara saja susahnya minta ampun. Selain itu liga kita juga kerap bergonta-ganti operator serta sponsor. Liga 1 yang sudah berjalan dua musim misalnya, di awal kehadirannya ia disponsori oleh Gojek dan Traveloka lalu cabut dan digantikan oleh Shopee. Masalah terakhir ini sebenarnya bisa kita tarik kesimpulan sederhana bahwa tak banyak perusahaan yang mau total membina olahraga apalagi dengan gelontoran dana yang besar. Saya masih melihat bahwa industri apapun harus memiliki andil terhadap kemajuan masyarakat di suatu bangsa. Umumnya menggunakan dana corporate social responsibility atau yang familiar disebut CSR. Toh juga CSR juga sudah diatur dalam undang-undang yang mewajibkan seluruh perusahaan di Indonesia wajib mengeluarkan dana untuk kemajuan masyarakat. Lantas mengapa perusahaan rokok yang juga melakukan kewajiban memenuhi undang-undang selalu mendapatkan perlakuan yang negatif?<\/p>\n\n\n\n Baca: KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab<\/a><\/p>\n\n\n\n Para antirokok selalu mengedepankan moralitas yang menjadi pendirian teguh mereka menentang segala upaya baik yang dilakukan industri rokok. Alasannya, rokok tidak menyehatkan dan tidak boleh cawe-cawe di urusan olahraga. Ya kalau begitu alasannya kenapa mereka juga tidak bertindak tegas kepada perusahaan-perusahaan besar yang telah merusak alam, membiarkan kepunahan suku adat di daerah tertentu, dan hal buruk-buruk lainnya? Sungguhlah saya masih dibuat bingung oleh tindakan mereka. Kini ramai-ramai publik dihebohkan dengan keputusan PB Djarum untuk menghentikan audisi. Kebijakan itu mereka ambil tepat di tahun ke-50 mengabdi pada Indonesia. Alasannnya menghentikan audisi dipilih karena tak ingin melanggar regulasi. Sebenarnya tak ada kesalahan yang dilakukan oleh PB Djarum karena secara hukum mereka berbeda dengan PT Djarum yang merupakan perusahaan rokok. Lagian, BWF selaku otoritas tertinggi olahraga Badminton di dunia selama ini tak melihat PB Djarum melanggar aturan. Oke, anggap saja PB Djarum tak akan lagi melakukan audisi atau lebih buruknya mereka berhenti total. Sekarang pertanyaan yang sangat umum ada di pikiran masyarakat, siapa yang akan melanjutkan pembinaan olahraga khususnya Badminton di Indonesia? Seorang Menteri Pemuda dan Olahraga saja mengakui bahwa pemerintah tak bisa berdiri sendiri melakukannya. Para pembela KPAI dan antirokok juga harus memberikan solusi kongkrit atas ego yang mereka usung dalam penghentian PB Djarum.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Tuduhan Keterlaluan Yayasan Lentera Anak Terhadap Djarum Foundation<\/a><\/p>\n\n\n\n Kalau memang mereka bersiteguh dengan pendapat bahwa rokok tak boleh ikut campur urusan olahraga sok saja atuh minta kepada industri farmasi untuk masuk membina atlet muda kita. Selama ini kok saya kira jarang melihat perusahaan farmasi mau capek ikut membangun olahraga di Indonesia. Bukannya industri farmasi adalah sesuatu yang menyehatkan dan menjadi pahlawan bagi masyarakat Indonesia yang katanya sedang sakit gara-gara rokok. Sudah saatnya kan perusahaan-perusahaan farmasi yang besar itu ikut menyehatkan bangsa kita dan memajukan olahraga tanah air. Ayo KPAI dan antirokok, minta industri farmasi bergerak, bukankah kalian yang memang mengaku paling cinta tanah air dan mau melindungi bangsa ini dari penyakit?<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dukung KPAI dan Antirokok Mendorong Perusahaan Farmasi Memajukan Olahraga Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dukung-kpai-dan-antirokok-mendorong-perusahaan-farmasi-memajukan-olahraga-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-11 10:18:07","post_modified_gmt":"2019-09-11 03:18:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6050","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek. Pada suatu kesempatan, Mbah Mus (KH. Ahmad Mustofa Bisri) ditanya perihal merokok. Begini pertanyaannya; Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau. Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saya sudah terbiasa menyaksikan berbagai perusahaan rokok menjadi dinamo penggerak kemajuan olahraga di Indonesia. Kita pernah tahu dulu ada Dunhill, Kansas, Djarum, bahkan Dji Sam Soe yang menjadi sponsor besar liga sepak bola Tanah Air. Sebelum PP 109 hadir dan ada aturan keras industri rokok merambah ke dunia olahraga, saya rasa sepak bola Indonesia berjalan baik dan menghasilkan Timnas yang berkualitas pula. Akibat adanya peraturan yang mengharamkan industri rokok mencampuri urusan olahraga, nampaknya ada sedikit kemunduran di dunia tersebut. Sekali lagi saya memberi contoh dari dunia sepak bola, masuk final dan menjadi raja di Asia Tenggara saja susahnya minta ampun. Selain itu liga kita juga kerap bergonta-ganti operator serta sponsor. Liga 1 yang sudah berjalan dua musim misalnya, di awal kehadirannya ia disponsori oleh Gojek dan Traveloka lalu cabut dan digantikan oleh Shopee. Masalah terakhir ini sebenarnya bisa kita tarik kesimpulan sederhana bahwa tak banyak perusahaan yang mau total membina olahraga apalagi dengan gelontoran dana yang besar. Saya masih melihat bahwa industri apapun harus memiliki andil terhadap kemajuan masyarakat di suatu bangsa. Umumnya menggunakan dana corporate social responsibility atau yang familiar disebut CSR. Toh juga CSR juga sudah diatur dalam undang-undang yang mewajibkan seluruh perusahaan di Indonesia wajib mengeluarkan dana untuk kemajuan masyarakat. Lantas mengapa perusahaan rokok yang juga melakukan kewajiban memenuhi undang-undang selalu mendapatkan perlakuan yang negatif?<\/p>\n\n\n\n Baca: KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab<\/a><\/p>\n\n\n\n Para antirokok selalu mengedepankan moralitas yang menjadi pendirian teguh mereka menentang segala upaya baik yang dilakukan industri rokok. Alasannya, rokok tidak menyehatkan dan tidak boleh cawe-cawe di urusan olahraga. Ya kalau begitu alasannya kenapa mereka juga tidak bertindak tegas kepada perusahaan-perusahaan besar yang telah merusak alam, membiarkan kepunahan suku adat di daerah tertentu, dan hal buruk-buruk lainnya? Sungguhlah saya masih dibuat bingung oleh tindakan mereka. Kini ramai-ramai publik dihebohkan dengan keputusan PB Djarum untuk menghentikan audisi. Kebijakan itu mereka ambil tepat di tahun ke-50 mengabdi pada Indonesia. Alasannnya menghentikan audisi dipilih karena tak ingin melanggar regulasi. Sebenarnya tak ada kesalahan yang dilakukan oleh PB Djarum karena secara hukum mereka berbeda dengan PT Djarum yang merupakan perusahaan rokok. Lagian, BWF selaku otoritas tertinggi olahraga Badminton di dunia selama ini tak melihat PB Djarum melanggar aturan. Oke, anggap saja PB Djarum tak akan lagi melakukan audisi atau lebih buruknya mereka berhenti total. Sekarang pertanyaan yang sangat umum ada di pikiran masyarakat, siapa yang akan melanjutkan pembinaan olahraga khususnya Badminton di Indonesia? Seorang Menteri Pemuda dan Olahraga saja mengakui bahwa pemerintah tak bisa berdiri sendiri melakukannya. Para pembela KPAI dan antirokok juga harus memberikan solusi kongkrit atas ego yang mereka usung dalam penghentian PB Djarum.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Tuduhan Keterlaluan Yayasan Lentera Anak Terhadap Djarum Foundation<\/a><\/p>\n\n\n\n Kalau memang mereka bersiteguh dengan pendapat bahwa rokok tak boleh ikut campur urusan olahraga sok saja atuh minta kepada industri farmasi untuk masuk membina atlet muda kita. Selama ini kok saya kira jarang melihat perusahaan farmasi mau capek ikut membangun olahraga di Indonesia. Bukannya industri farmasi adalah sesuatu yang menyehatkan dan menjadi pahlawan bagi masyarakat Indonesia yang katanya sedang sakit gara-gara rokok. Sudah saatnya kan perusahaan-perusahaan farmasi yang besar itu ikut menyehatkan bangsa kita dan memajukan olahraga tanah air. Ayo KPAI dan antirokok, minta industri farmasi bergerak, bukankah kalian yang memang mengaku paling cinta tanah air dan mau melindungi bangsa ini dari penyakit?<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dukung KPAI dan Antirokok Mendorong Perusahaan Farmasi Memajukan Olahraga Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dukung-kpai-dan-antirokok-mendorong-perusahaan-farmasi-memajukan-olahraga-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-11 10:18:07","post_modified_gmt":"2019-09-11 03:18:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6050","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek. Pada suatu kesempatan, Mbah Mus (KH. Ahmad Mustofa Bisri) ditanya perihal merokok. Begini pertanyaannya; Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau. Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saya sudah terbiasa menyaksikan berbagai perusahaan rokok menjadi dinamo penggerak kemajuan olahraga di Indonesia. Kita pernah tahu dulu ada Dunhill, Kansas, Djarum, bahkan Dji Sam Soe yang menjadi sponsor besar liga sepak bola Tanah Air. Sebelum PP 109 hadir dan ada aturan keras industri rokok merambah ke dunia olahraga, saya rasa sepak bola Indonesia berjalan baik dan menghasilkan Timnas yang berkualitas pula. Akibat adanya peraturan yang mengharamkan industri rokok mencampuri urusan olahraga, nampaknya ada sedikit kemunduran di dunia tersebut. Sekali lagi saya memberi contoh dari dunia sepak bola, masuk final dan menjadi raja di Asia Tenggara saja susahnya minta ampun. Selain itu liga kita juga kerap bergonta-ganti operator serta sponsor. Liga 1 yang sudah berjalan dua musim misalnya, di awal kehadirannya ia disponsori oleh Gojek dan Traveloka lalu cabut dan digantikan oleh Shopee. Masalah terakhir ini sebenarnya bisa kita tarik kesimpulan sederhana bahwa tak banyak perusahaan yang mau total membina olahraga apalagi dengan gelontoran dana yang besar. Saya masih melihat bahwa industri apapun harus memiliki andil terhadap kemajuan masyarakat di suatu bangsa. Umumnya menggunakan dana corporate social responsibility atau yang familiar disebut CSR. Toh juga CSR juga sudah diatur dalam undang-undang yang mewajibkan seluruh perusahaan di Indonesia wajib mengeluarkan dana untuk kemajuan masyarakat. Lantas mengapa perusahaan rokok yang juga melakukan kewajiban memenuhi undang-undang selalu mendapatkan perlakuan yang negatif?<\/p>\n\n\n\n Baca: KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab<\/a><\/p>\n\n\n\n Para antirokok selalu mengedepankan moralitas yang menjadi pendirian teguh mereka menentang segala upaya baik yang dilakukan industri rokok. Alasannya, rokok tidak menyehatkan dan tidak boleh cawe-cawe di urusan olahraga. Ya kalau begitu alasannya kenapa mereka juga tidak bertindak tegas kepada perusahaan-perusahaan besar yang telah merusak alam, membiarkan kepunahan suku adat di daerah tertentu, dan hal buruk-buruk lainnya? Sungguhlah saya masih dibuat bingung oleh tindakan mereka. Kini ramai-ramai publik dihebohkan dengan keputusan PB Djarum untuk menghentikan audisi. Kebijakan itu mereka ambil tepat di tahun ke-50 mengabdi pada Indonesia. Alasannnya menghentikan audisi dipilih karena tak ingin melanggar regulasi. Sebenarnya tak ada kesalahan yang dilakukan oleh PB Djarum karena secara hukum mereka berbeda dengan PT Djarum yang merupakan perusahaan rokok. Lagian, BWF selaku otoritas tertinggi olahraga Badminton di dunia selama ini tak melihat PB Djarum melanggar aturan. Oke, anggap saja PB Djarum tak akan lagi melakukan audisi atau lebih buruknya mereka berhenti total. Sekarang pertanyaan yang sangat umum ada di pikiran masyarakat, siapa yang akan melanjutkan pembinaan olahraga khususnya Badminton di Indonesia? Seorang Menteri Pemuda dan Olahraga saja mengakui bahwa pemerintah tak bisa berdiri sendiri melakukannya. Para pembela KPAI dan antirokok juga harus memberikan solusi kongkrit atas ego yang mereka usung dalam penghentian PB Djarum.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Tuduhan Keterlaluan Yayasan Lentera Anak Terhadap Djarum Foundation<\/a><\/p>\n\n\n\n Kalau memang mereka bersiteguh dengan pendapat bahwa rokok tak boleh ikut campur urusan olahraga sok saja atuh minta kepada industri farmasi untuk masuk membina atlet muda kita. Selama ini kok saya kira jarang melihat perusahaan farmasi mau capek ikut membangun olahraga di Indonesia. Bukannya industri farmasi adalah sesuatu yang menyehatkan dan menjadi pahlawan bagi masyarakat Indonesia yang katanya sedang sakit gara-gara rokok. Sudah saatnya kan perusahaan-perusahaan farmasi yang besar itu ikut menyehatkan bangsa kita dan memajukan olahraga tanah air. Ayo KPAI dan antirokok, minta industri farmasi bergerak, bukankah kalian yang memang mengaku paling cinta tanah air dan mau melindungi bangsa ini dari penyakit?<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dukung KPAI dan Antirokok Mendorong Perusahaan Farmasi Memajukan Olahraga Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dukung-kpai-dan-antirokok-mendorong-perusahaan-farmasi-memajukan-olahraga-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-11 10:18:07","post_modified_gmt":"2019-09-11 03:18:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6050","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek. Pada suatu kesempatan, Mbah Mus (KH. Ahmad Mustofa Bisri) ditanya perihal merokok. Begini pertanyaannya; Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau. Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saya sudah terbiasa menyaksikan berbagai perusahaan rokok menjadi dinamo penggerak kemajuan olahraga di Indonesia. Kita pernah tahu dulu ada Dunhill, Kansas, Djarum, bahkan Dji Sam Soe yang menjadi sponsor besar liga sepak bola Tanah Air. Sebelum PP 109 hadir dan ada aturan keras industri rokok merambah ke dunia olahraga, saya rasa sepak bola Indonesia berjalan baik dan menghasilkan Timnas yang berkualitas pula. Akibat adanya peraturan yang mengharamkan industri rokok mencampuri urusan olahraga, nampaknya ada sedikit kemunduran di dunia tersebut. Sekali lagi saya memberi contoh dari dunia sepak bola, masuk final dan menjadi raja di Asia Tenggara saja susahnya minta ampun. Selain itu liga kita juga kerap bergonta-ganti operator serta sponsor. Liga 1 yang sudah berjalan dua musim misalnya, di awal kehadirannya ia disponsori oleh Gojek dan Traveloka lalu cabut dan digantikan oleh Shopee. Masalah terakhir ini sebenarnya bisa kita tarik kesimpulan sederhana bahwa tak banyak perusahaan yang mau total membina olahraga apalagi dengan gelontoran dana yang besar. Saya masih melihat bahwa industri apapun harus memiliki andil terhadap kemajuan masyarakat di suatu bangsa. Umumnya menggunakan dana corporate social responsibility atau yang familiar disebut CSR. Toh juga CSR juga sudah diatur dalam undang-undang yang mewajibkan seluruh perusahaan di Indonesia wajib mengeluarkan dana untuk kemajuan masyarakat. Lantas mengapa perusahaan rokok yang juga melakukan kewajiban memenuhi undang-undang selalu mendapatkan perlakuan yang negatif?<\/p>\n\n\n\n Baca: KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab<\/a><\/p>\n\n\n\n Para antirokok selalu mengedepankan moralitas yang menjadi pendirian teguh mereka menentang segala upaya baik yang dilakukan industri rokok. Alasannya, rokok tidak menyehatkan dan tidak boleh cawe-cawe di urusan olahraga. Ya kalau begitu alasannya kenapa mereka juga tidak bertindak tegas kepada perusahaan-perusahaan besar yang telah merusak alam, membiarkan kepunahan suku adat di daerah tertentu, dan hal buruk-buruk lainnya? Sungguhlah saya masih dibuat bingung oleh tindakan mereka. Kini ramai-ramai publik dihebohkan dengan keputusan PB Djarum untuk menghentikan audisi. Kebijakan itu mereka ambil tepat di tahun ke-50 mengabdi pada Indonesia. Alasannnya menghentikan audisi dipilih karena tak ingin melanggar regulasi. Sebenarnya tak ada kesalahan yang dilakukan oleh PB Djarum karena secara hukum mereka berbeda dengan PT Djarum yang merupakan perusahaan rokok. Lagian, BWF selaku otoritas tertinggi olahraga Badminton di dunia selama ini tak melihat PB Djarum melanggar aturan. Oke, anggap saja PB Djarum tak akan lagi melakukan audisi atau lebih buruknya mereka berhenti total. Sekarang pertanyaan yang sangat umum ada di pikiran masyarakat, siapa yang akan melanjutkan pembinaan olahraga khususnya Badminton di Indonesia? Seorang Menteri Pemuda dan Olahraga saja mengakui bahwa pemerintah tak bisa berdiri sendiri melakukannya. Para pembela KPAI dan antirokok juga harus memberikan solusi kongkrit atas ego yang mereka usung dalam penghentian PB Djarum.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Tuduhan Keterlaluan Yayasan Lentera Anak Terhadap Djarum Foundation<\/a><\/p>\n\n\n\n Kalau memang mereka bersiteguh dengan pendapat bahwa rokok tak boleh ikut campur urusan olahraga sok saja atuh minta kepada industri farmasi untuk masuk membina atlet muda kita. Selama ini kok saya kira jarang melihat perusahaan farmasi mau capek ikut membangun olahraga di Indonesia. Bukannya industri farmasi adalah sesuatu yang menyehatkan dan menjadi pahlawan bagi masyarakat Indonesia yang katanya sedang sakit gara-gara rokok. Sudah saatnya kan perusahaan-perusahaan farmasi yang besar itu ikut menyehatkan bangsa kita dan memajukan olahraga tanah air. Ayo KPAI dan antirokok, minta industri farmasi bergerak, bukankah kalian yang memang mengaku paling cinta tanah air dan mau melindungi bangsa ini dari penyakit?<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dukung KPAI dan Antirokok Mendorong Perusahaan Farmasi Memajukan Olahraga Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dukung-kpai-dan-antirokok-mendorong-perusahaan-farmasi-memajukan-olahraga-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-11 10:18:07","post_modified_gmt":"2019-09-11 03:18:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6050","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek. Pada suatu kesempatan, Mbah Mus (KH. Ahmad Mustofa Bisri) ditanya perihal merokok. Begini pertanyaannya; Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau. Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saya sudah terbiasa menyaksikan berbagai perusahaan rokok menjadi dinamo penggerak kemajuan olahraga di Indonesia. Kita pernah tahu dulu ada Dunhill, Kansas, Djarum, bahkan Dji Sam Soe yang menjadi sponsor besar liga sepak bola Tanah Air. Sebelum PP 109 hadir dan ada aturan keras industri rokok merambah ke dunia olahraga, saya rasa sepak bola Indonesia berjalan baik dan menghasilkan Timnas yang berkualitas pula. Akibat adanya peraturan yang mengharamkan industri rokok mencampuri urusan olahraga, nampaknya ada sedikit kemunduran di dunia tersebut. Sekali lagi saya memberi contoh dari dunia sepak bola, masuk final dan menjadi raja di Asia Tenggara saja susahnya minta ampun. Selain itu liga kita juga kerap bergonta-ganti operator serta sponsor. Liga 1 yang sudah berjalan dua musim misalnya, di awal kehadirannya ia disponsori oleh Gojek dan Traveloka lalu cabut dan digantikan oleh Shopee. Masalah terakhir ini sebenarnya bisa kita tarik kesimpulan sederhana bahwa tak banyak perusahaan yang mau total membina olahraga apalagi dengan gelontoran dana yang besar. Saya masih melihat bahwa industri apapun harus memiliki andil terhadap kemajuan masyarakat di suatu bangsa. Umumnya menggunakan dana corporate social responsibility atau yang familiar disebut CSR. Toh juga CSR juga sudah diatur dalam undang-undang yang mewajibkan seluruh perusahaan di Indonesia wajib mengeluarkan dana untuk kemajuan masyarakat. Lantas mengapa perusahaan rokok yang juga melakukan kewajiban memenuhi undang-undang selalu mendapatkan perlakuan yang negatif?<\/p>\n\n\n\n Baca: KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab<\/a><\/p>\n\n\n\n Para antirokok selalu mengedepankan moralitas yang menjadi pendirian teguh mereka menentang segala upaya baik yang dilakukan industri rokok. Alasannya, rokok tidak menyehatkan dan tidak boleh cawe-cawe di urusan olahraga. Ya kalau begitu alasannya kenapa mereka juga tidak bertindak tegas kepada perusahaan-perusahaan besar yang telah merusak alam, membiarkan kepunahan suku adat di daerah tertentu, dan hal buruk-buruk lainnya? Sungguhlah saya masih dibuat bingung oleh tindakan mereka. Kini ramai-ramai publik dihebohkan dengan keputusan PB Djarum untuk menghentikan audisi. Kebijakan itu mereka ambil tepat di tahun ke-50 mengabdi pada Indonesia. Alasannnya menghentikan audisi dipilih karena tak ingin melanggar regulasi. Sebenarnya tak ada kesalahan yang dilakukan oleh PB Djarum karena secara hukum mereka berbeda dengan PT Djarum yang merupakan perusahaan rokok. Lagian, BWF selaku otoritas tertinggi olahraga Badminton di dunia selama ini tak melihat PB Djarum melanggar aturan. Oke, anggap saja PB Djarum tak akan lagi melakukan audisi atau lebih buruknya mereka berhenti total. Sekarang pertanyaan yang sangat umum ada di pikiran masyarakat, siapa yang akan melanjutkan pembinaan olahraga khususnya Badminton di Indonesia? Seorang Menteri Pemuda dan Olahraga saja mengakui bahwa pemerintah tak bisa berdiri sendiri melakukannya. Para pembela KPAI dan antirokok juga harus memberikan solusi kongkrit atas ego yang mereka usung dalam penghentian PB Djarum.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Tuduhan Keterlaluan Yayasan Lentera Anak Terhadap Djarum Foundation<\/a><\/p>\n\n\n\n Kalau memang mereka bersiteguh dengan pendapat bahwa rokok tak boleh ikut campur urusan olahraga sok saja atuh minta kepada industri farmasi untuk masuk membina atlet muda kita. Selama ini kok saya kira jarang melihat perusahaan farmasi mau capek ikut membangun olahraga di Indonesia. Bukannya industri farmasi adalah sesuatu yang menyehatkan dan menjadi pahlawan bagi masyarakat Indonesia yang katanya sedang sakit gara-gara rokok. Sudah saatnya kan perusahaan-perusahaan farmasi yang besar itu ikut menyehatkan bangsa kita dan memajukan olahraga tanah air. Ayo KPAI dan antirokok, minta industri farmasi bergerak, bukankah kalian yang memang mengaku paling cinta tanah air dan mau melindungi bangsa ini dari penyakit?<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dukung KPAI dan Antirokok Mendorong Perusahaan Farmasi Memajukan Olahraga Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dukung-kpai-dan-antirokok-mendorong-perusahaan-farmasi-memajukan-olahraga-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-11 10:18:07","post_modified_gmt":"2019-09-11 03:18:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6050","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek. Pada suatu kesempatan, Mbah Mus (KH. Ahmad Mustofa Bisri) ditanya perihal merokok. Begini pertanyaannya; Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau. Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saya sudah terbiasa menyaksikan berbagai perusahaan rokok menjadi dinamo penggerak kemajuan olahraga di Indonesia. Kita pernah tahu dulu ada Dunhill, Kansas, Djarum, bahkan Dji Sam Soe yang menjadi sponsor besar liga sepak bola Tanah Air. Sebelum PP 109 hadir dan ada aturan keras industri rokok merambah ke dunia olahraga, saya rasa sepak bola Indonesia berjalan baik dan menghasilkan Timnas yang berkualitas pula. Akibat adanya peraturan yang mengharamkan industri rokok mencampuri urusan olahraga, nampaknya ada sedikit kemunduran di dunia tersebut. Sekali lagi saya memberi contoh dari dunia sepak bola, masuk final dan menjadi raja di Asia Tenggara saja susahnya minta ampun. Selain itu liga kita juga kerap bergonta-ganti operator serta sponsor. Liga 1 yang sudah berjalan dua musim misalnya, di awal kehadirannya ia disponsori oleh Gojek dan Traveloka lalu cabut dan digantikan oleh Shopee. Masalah terakhir ini sebenarnya bisa kita tarik kesimpulan sederhana bahwa tak banyak perusahaan yang mau total membina olahraga apalagi dengan gelontoran dana yang besar. Saya masih melihat bahwa industri apapun harus memiliki andil terhadap kemajuan masyarakat di suatu bangsa. Umumnya menggunakan dana corporate social responsibility atau yang familiar disebut CSR. Toh juga CSR juga sudah diatur dalam undang-undang yang mewajibkan seluruh perusahaan di Indonesia wajib mengeluarkan dana untuk kemajuan masyarakat. Lantas mengapa perusahaan rokok yang juga melakukan kewajiban memenuhi undang-undang selalu mendapatkan perlakuan yang negatif?<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6050,"post_author":"919","post_date":"2019-09-11 10:18:05","post_date_gmt":"2019-09-11 03:18:05","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6050,"post_author":"919","post_date":"2019-09-11 10:18:05","post_date_gmt":"2019-09-11 03:18:05","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6050,"post_author":"919","post_date":"2019-09-11 10:18:05","post_date_gmt":"2019-09-11 03:18:05","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6050,"post_author":"919","post_date":"2019-09-11 10:18:05","post_date_gmt":"2019-09-11 03:18:05","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6050,"post_author":"919","post_date":"2019-09-11 10:18:05","post_date_gmt":"2019-09-11 03:18:05","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6050,"post_author":"919","post_date":"2019-09-11 10:18:05","post_date_gmt":"2019-09-11 03:18:05","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6050,"post_author":"919","post_date":"2019-09-11 10:18:05","post_date_gmt":"2019-09-11 03:18:05","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6050,"post_author":"919","post_date":"2019-09-11 10:18:05","post_date_gmt":"2019-09-11 03:18:05","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6050,"post_author":"919","post_date":"2019-09-11 10:18:05","post_date_gmt":"2019-09-11 03:18:05","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6050,"post_author":"919","post_date":"2019-09-11 10:18:05","post_date_gmt":"2019-09-11 03:18:05","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6050,"post_author":"919","post_date":"2019-09-11 10:18:05","post_date_gmt":"2019-09-11 03:18:05","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6050,"post_author":"919","post_date":"2019-09-11 10:18:05","post_date_gmt":"2019-09-11 03:18:05","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6050,"post_author":"919","post_date":"2019-09-11 10:18:05","post_date_gmt":"2019-09-11 03:18:05","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6050,"post_author":"919","post_date":"2019-09-11 10:18:05","post_date_gmt":"2019-09-11 03:18:05","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6050,"post_author":"919","post_date":"2019-09-11 10:18:05","post_date_gmt":"2019-09-11 03:18:05","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6050,"post_author":"919","post_date":"2019-09-11 10:18:05","post_date_gmt":"2019-09-11 03:18:05","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
\n\"Mbah Mus yang saya hormati, panjenengan seandainya berhenti merokok bisa atau tidak ya? Mohon maaf Mbah Mus kan sebagai ulama menjadi teladan bagi generasi muda, saya yakin Mbah Mus ingin melihat generasi muda hidup sehat tanpa rokok, apalagi jika Mbah Mus dalam dakwahnya atau puisinya mau mengkampanyekan hidup sehat tanpa rokok.
\nMohon maaf mbah jika pertanyaan saya sangat tidak sopan, terima kasih mbah sudah bersedia membaca.\"
\nLantas sebagai sesepuh bangsa yang petuah dan nasehatnya selalu membuat adem siapa saja, Mbah Mus menjawab dengan cerdas dan bernas.
\n\"Sudah lama (sekitar 9 tahunan) saya berhenti merokok. Dan pendapat saya tetap: hukum merokok itu khilaf. Bacalah kitab tentang Kopi dan Rokok karangan Al-Allamah Syeikh Ihsan Al-Jampesi. Kayaknya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Dari kalangan ahli tembakau pun terdapat khilaf. Ada yang mengatakan madharat ada yang mengatakan tidak. Hanya saja yang berkampanye madharat lebih kuat karena disponsori orang barat yang kuat. Bukti kekuatan kampanye itu antara lain pertanyaanmu ini,\" jawab Mbah Mus.
\nJawaban Mbah Mus tersebut sudah sangat komplit. Kalo ibarat nasi pecel Madiun, sudah lengkap dengan kembang turi dan kemangi yang sepertinya susah ditemui pada warung-warung pecel Madiun di Jakarta.
\nBila dipetakan, setidaknya ada 3 sisi yang terus dikampanyekan antirokok, yaitu agama, kesehatan dan ekonomi. Satu paragraf jawaban Mbah Mus tersebut tentu saja tersirat bermacam bantahan.
\nPertama soal agama. Dalam hal ini hukum dan posisi rokok dalam Islam. Ada yang bilang rokok itu haram, bahkan yang lebih extrim menanam tembakau juga haram. Ada yang mengatakan, hukum merokok tergantung bagaimana kondisi yang mengisapnya. Di antara perdebatan itu, Mbah Mus tegas menjawab, hukum rokok itu khilaf. Ada yang mengatakan madlarat ada yang mengatakan tidak. Semuanya harus dihormati.
\nAsalkan jangan seperti salah satu ulama' tv yang dengan percaya diri menukil hadis \"tembakau terbuat dari kencing iblis\". Kisah ini sempat ramai, padahal hadis ini telah dibahas oleh \"Fatwa al-Lujnah al-Daimah lil buhuth al'ilmiyyah waal iftaa'\" (Lembaga Fatwa Arab Saudi), yang nenyebut hadis tersebut palsu bahkan tak ada asal usulnya. Satu pembohongan yang haram atas nama Nabi Muhammad SAW. haram juga menyebarkan tanpa dijelaskan kedudukannua.
\nSoal pembahasan mendetai mengenai persoalan ini, silahkan kinjungi: https:\/\/bolehmerokok.com\/2018\/04\/dalil-boleh-merokok\/
\nKedua, soal kesehatan. Antirokok atau dalam hal ini pegiat kesehatan, selalu mengatakan rokok adalah pembunuh terdahsyat di dunia ini. WHO bahkan pernah merilis, setiap tahun setidaknya 6 juta orang dipanggil Tuhan karena merokok. Tidak hanya soal itu, ketika Anda periksa ke dokter, tak peduli apapun penyakitnya, akan ditanya, \"bapak merokok?\" Jika merokok, maka dokter akan mengatakan sakitnya sebeb rokok. Tapi jika tidak merokok, tetap saja rokok yang harus salah. Makanya muncul istilah perokok pasif.
\nSaya hanya menemukan beberapa dokter atau pegiatan kesehatan saja yang berani bilang, \"banyak faktor yang memengaruhi kesehatan seseorang. Tidak hanya rokok, tetapi juga asap kendaraan, dan lain sebagainya.\" Kepada mereka, saya angkat topi setinggi-tingginya.
\nParahnya lagi, wacana jaminan kesehatan haram bagi para perokok terus digaungkan. Padahal rokok adalah barang legal dan merokok adalah aktivitas legal yang dilindungi undang-undang. Lagi pula perokok kan juga warga negara yang punya hak dan kewajiban sama dalam berbangsa dan bernegara.
\nApakah berhenti sampai situ? Tidak. Rokok dikatakan oleh antirokok sebagai candu. Tentu saja ini patah oleh jawabnnya Mbah Mus. Sebagai perokok, Mbah Mus berhasil berhenti. Tidak kemudian kecanduan. Atau tak perlu jauh-jauh. Saya adalah perokok berat, tapi tidak kejang-kejang meski tak merokok selama berpuasa. Harusnya antirokok ini mulai menyadari, bahwa yang candu itu manisnya senyummu. Iya kamu.
\nSaya agak curiga nih, keyword yang digunakan antirokok ini cuma \"dampak negatif rokok\", makanya referensinya hanya mengarah kepada keburukan. Coba sesekali memberanikan diri pakai keyword \"dampak positif rokok\" mungkin akan beda cara berargumennya. Meski tetap membenci rokok, setidaknya ada keadilan dalam berpikir dan bersikap.
\nKetiga, soal ekonomi. Ini selalu menjadi isu yang tak akan pernah ada habisnya. Bagi antirokok, rokok adalah barang haram yang membunuh dan membuat miskin. BPS saja sering mengeluarkan survei soal ini. Tolak ukurnya tentu saja daya beli dan nongkrong di mall. Lha gimana mau nongkrong di mall, wong mallnya saja di desa ga ada. Alfamart dan Indomaret saja jauhnya minta ampun. Pulang dari sawah ya nongkrongnya di teras rumah, sambil jedal jedul. Tapi apakah mereka merasa miskin? Tentu saja tidak.
\nHarusnya juga antirokok sadar, sektor hulu dari IHT adalah perkebunan tembakau dan cengkeh. Perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, sementara perkebunan cengkeh ada di 30 provinsi. Mayoritas lahannya milik rakyat dan dibudidayakan sepenuhnya oleh rakyat, yang menunjukkan kemandirian dan kedaulatan ekonomi mereka. Keduanya memang bukan komoditas pangan, tetapi sifat-sifat polikulturnya, membuat keduanya bisa menopang ketahanan pangan.
\nSebesar 93 persen produk IHT adalah kretek. Sisanya adalah cerutu, farmasi, produk makanan, kosmetik, dan lainnya. Dari hulu hingga hilir, IHT menyerap jutaan tenaga kerja. Dengan demikian, IHT telah membantu pemerintah mengentaskan kemiskinan, menekan pengangguran, dan meningkatkan kesejahteraan. Sejarah mencatat IHT sebagai industri strategis nasional adalah sektor perekonomian yang paling tahan di saat krisis.
\nMelalui penerimaan cukai, IHT turut memberikan sumbangan sebesar 8,92 persen terhadap APBN. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan pendapatan pajak dari sektor minyak dan gas (migas) yang hanya 3,03 persen.
\nKeberadaan IHT memberi sumbangsih besar pada penyerapan tenaga kerja mulai dari hulu sampai hilir. Di sektor perkebunan menyerap 2 juta petani tembakau dan 1,5 juta petani cengkeh (on farm). Belum termasuk serapan tenaga kerja tidak langsung, karena di sektor hulu terdapat ragam pekerjaan lain17.
\nDi sektor manufaktur dan perdagangan menyerap 600.000 karyawan pabrik dan 2 juta pedagang ritel (off farm). Totalnya 6,1 juta tenaga kerja yang bergantung langsung terhadap industri ini. Dari total serapan tenaga kerja yang terlibat secara on farm dan off farm, baik langsung maupun tidak langsung, di dalam IHT dapat memberi penghidupan kepada 30,5 juta orang.
\nMungkin sudah menjadi fitrah rokok akan terus dimusuhi, meski hasilnya selalu dirindukan. Benar dhawuhnya Mbah Mus, yang berkampanye madharat lebih kuat karena disponsori orang barat yang kuat. Silahkan baca dan cermati https:\/\/tobaccocontrolgrants.org, di sini panjenengan semua bisa tau lembaga mana penerima dana dan apa agendanya di Indonesia selama tenggat waktu tertentu.
\nSepertinya memang kita harus hidup bersama sebagaimana tembakau dan cengkeh yang diproduksi menjadi kretek, ketika banyak orang melemparinya isu bahaya laten rokok, tetapi ia membalasnya dengan penghasilan negara yang amat besar.<\/p>\n","post_title":"Ketika Gus Mus Ditanya Perihal Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-gus-mus-ditanya-perihal-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-05 07:58:28","post_modified_gmt":"2019-10-05 00:58:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6120","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6050,"post_author":"919","post_date":"2019-09-11 10:18:05","post_date_gmt":"2019-09-11 03:18:05","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6120,"post_author":"855","post_date":"2019-10-05 07:58:20","post_date_gmt":"2019-10-05 00:58:20","post_content":"\n
\n\"Mbah Mus yang saya hormati, panjenengan seandainya berhenti merokok bisa atau tidak ya? Mohon maaf Mbah Mus kan sebagai ulama menjadi teladan bagi generasi muda, saya yakin Mbah Mus ingin melihat generasi muda hidup sehat tanpa rokok, apalagi jika Mbah Mus dalam dakwahnya atau puisinya mau mengkampanyekan hidup sehat tanpa rokok.
\nMohon maaf mbah jika pertanyaan saya sangat tidak sopan, terima kasih mbah sudah bersedia membaca.\"
\nLantas sebagai sesepuh bangsa yang petuah dan nasehatnya selalu membuat adem siapa saja, Mbah Mus menjawab dengan cerdas dan bernas.
\n\"Sudah lama (sekitar 9 tahunan) saya berhenti merokok. Dan pendapat saya tetap: hukum merokok itu khilaf. Bacalah kitab tentang Kopi dan Rokok karangan Al-Allamah Syeikh Ihsan Al-Jampesi. Kayaknya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Dari kalangan ahli tembakau pun terdapat khilaf. Ada yang mengatakan madharat ada yang mengatakan tidak. Hanya saja yang berkampanye madharat lebih kuat karena disponsori orang barat yang kuat. Bukti kekuatan kampanye itu antara lain pertanyaanmu ini,\" jawab Mbah Mus.
\nJawaban Mbah Mus tersebut sudah sangat komplit. Kalo ibarat nasi pecel Madiun, sudah lengkap dengan kembang turi dan kemangi yang sepertinya susah ditemui pada warung-warung pecel Madiun di Jakarta.
\nBila dipetakan, setidaknya ada 3 sisi yang terus dikampanyekan antirokok, yaitu agama, kesehatan dan ekonomi. Satu paragraf jawaban Mbah Mus tersebut tentu saja tersirat bermacam bantahan.
\nPertama soal agama. Dalam hal ini hukum dan posisi rokok dalam Islam. Ada yang bilang rokok itu haram, bahkan yang lebih extrim menanam tembakau juga haram. Ada yang mengatakan, hukum merokok tergantung bagaimana kondisi yang mengisapnya. Di antara perdebatan itu, Mbah Mus tegas menjawab, hukum rokok itu khilaf. Ada yang mengatakan madlarat ada yang mengatakan tidak. Semuanya harus dihormati.
\nAsalkan jangan seperti salah satu ulama' tv yang dengan percaya diri menukil hadis \"tembakau terbuat dari kencing iblis\". Kisah ini sempat ramai, padahal hadis ini telah dibahas oleh \"Fatwa al-Lujnah al-Daimah lil buhuth al'ilmiyyah waal iftaa'\" (Lembaga Fatwa Arab Saudi), yang nenyebut hadis tersebut palsu bahkan tak ada asal usulnya. Satu pembohongan yang haram atas nama Nabi Muhammad SAW. haram juga menyebarkan tanpa dijelaskan kedudukannua.
\nSoal pembahasan mendetai mengenai persoalan ini, silahkan kinjungi: https:\/\/bolehmerokok.com\/2018\/04\/dalil-boleh-merokok\/
\nKedua, soal kesehatan. Antirokok atau dalam hal ini pegiat kesehatan, selalu mengatakan rokok adalah pembunuh terdahsyat di dunia ini. WHO bahkan pernah merilis, setiap tahun setidaknya 6 juta orang dipanggil Tuhan karena merokok. Tidak hanya soal itu, ketika Anda periksa ke dokter, tak peduli apapun penyakitnya, akan ditanya, \"bapak merokok?\" Jika merokok, maka dokter akan mengatakan sakitnya sebeb rokok. Tapi jika tidak merokok, tetap saja rokok yang harus salah. Makanya muncul istilah perokok pasif.
\nSaya hanya menemukan beberapa dokter atau pegiatan kesehatan saja yang berani bilang, \"banyak faktor yang memengaruhi kesehatan seseorang. Tidak hanya rokok, tetapi juga asap kendaraan, dan lain sebagainya.\" Kepada mereka, saya angkat topi setinggi-tingginya.
\nParahnya lagi, wacana jaminan kesehatan haram bagi para perokok terus digaungkan. Padahal rokok adalah barang legal dan merokok adalah aktivitas legal yang dilindungi undang-undang. Lagi pula perokok kan juga warga negara yang punya hak dan kewajiban sama dalam berbangsa dan bernegara.
\nApakah berhenti sampai situ? Tidak. Rokok dikatakan oleh antirokok sebagai candu. Tentu saja ini patah oleh jawabnnya Mbah Mus. Sebagai perokok, Mbah Mus berhasil berhenti. Tidak kemudian kecanduan. Atau tak perlu jauh-jauh. Saya adalah perokok berat, tapi tidak kejang-kejang meski tak merokok selama berpuasa. Harusnya antirokok ini mulai menyadari, bahwa yang candu itu manisnya senyummu. Iya kamu.
\nSaya agak curiga nih, keyword yang digunakan antirokok ini cuma \"dampak negatif rokok\", makanya referensinya hanya mengarah kepada keburukan. Coba sesekali memberanikan diri pakai keyword \"dampak positif rokok\" mungkin akan beda cara berargumennya. Meski tetap membenci rokok, setidaknya ada keadilan dalam berpikir dan bersikap.
\nKetiga, soal ekonomi. Ini selalu menjadi isu yang tak akan pernah ada habisnya. Bagi antirokok, rokok adalah barang haram yang membunuh dan membuat miskin. BPS saja sering mengeluarkan survei soal ini. Tolak ukurnya tentu saja daya beli dan nongkrong di mall. Lha gimana mau nongkrong di mall, wong mallnya saja di desa ga ada. Alfamart dan Indomaret saja jauhnya minta ampun. Pulang dari sawah ya nongkrongnya di teras rumah, sambil jedal jedul. Tapi apakah mereka merasa miskin? Tentu saja tidak.
\nHarusnya juga antirokok sadar, sektor hulu dari IHT adalah perkebunan tembakau dan cengkeh. Perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, sementara perkebunan cengkeh ada di 30 provinsi. Mayoritas lahannya milik rakyat dan dibudidayakan sepenuhnya oleh rakyat, yang menunjukkan kemandirian dan kedaulatan ekonomi mereka. Keduanya memang bukan komoditas pangan, tetapi sifat-sifat polikulturnya, membuat keduanya bisa menopang ketahanan pangan.
\nSebesar 93 persen produk IHT adalah kretek. Sisanya adalah cerutu, farmasi, produk makanan, kosmetik, dan lainnya. Dari hulu hingga hilir, IHT menyerap jutaan tenaga kerja. Dengan demikian, IHT telah membantu pemerintah mengentaskan kemiskinan, menekan pengangguran, dan meningkatkan kesejahteraan. Sejarah mencatat IHT sebagai industri strategis nasional adalah sektor perekonomian yang paling tahan di saat krisis.
\nMelalui penerimaan cukai, IHT turut memberikan sumbangan sebesar 8,92 persen terhadap APBN. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan pendapatan pajak dari sektor minyak dan gas (migas) yang hanya 3,03 persen.
\nKeberadaan IHT memberi sumbangsih besar pada penyerapan tenaga kerja mulai dari hulu sampai hilir. Di sektor perkebunan menyerap 2 juta petani tembakau dan 1,5 juta petani cengkeh (on farm). Belum termasuk serapan tenaga kerja tidak langsung, karena di sektor hulu terdapat ragam pekerjaan lain17.
\nDi sektor manufaktur dan perdagangan menyerap 600.000 karyawan pabrik dan 2 juta pedagang ritel (off farm). Totalnya 6,1 juta tenaga kerja yang bergantung langsung terhadap industri ini. Dari total serapan tenaga kerja yang terlibat secara on farm dan off farm, baik langsung maupun tidak langsung, di dalam IHT dapat memberi penghidupan kepada 30,5 juta orang.
\nMungkin sudah menjadi fitrah rokok akan terus dimusuhi, meski hasilnya selalu dirindukan. Benar dhawuhnya Mbah Mus, yang berkampanye madharat lebih kuat karena disponsori orang barat yang kuat. Silahkan baca dan cermati https:\/\/tobaccocontrolgrants.org, di sini panjenengan semua bisa tau lembaga mana penerima dana dan apa agendanya di Indonesia selama tenggat waktu tertentu.
\nSepertinya memang kita harus hidup bersama sebagaimana tembakau dan cengkeh yang diproduksi menjadi kretek, ketika banyak orang melemparinya isu bahaya laten rokok, tetapi ia membalasnya dengan penghasilan negara yang amat besar.<\/p>\n","post_title":"Ketika Gus Mus Ditanya Perihal Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-gus-mus-ditanya-perihal-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-05 07:58:28","post_modified_gmt":"2019-10-05 00:58:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6120","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6050,"post_author":"919","post_date":"2019-09-11 10:18:05","post_date_gmt":"2019-09-11 03:18:05","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6120,"post_author":"855","post_date":"2019-10-05 07:58:20","post_date_gmt":"2019-10-05 00:58:20","post_content":"\n
\n\"Mbah Mus yang saya hormati, panjenengan seandainya berhenti merokok bisa atau tidak ya? Mohon maaf Mbah Mus kan sebagai ulama menjadi teladan bagi generasi muda, saya yakin Mbah Mus ingin melihat generasi muda hidup sehat tanpa rokok, apalagi jika Mbah Mus dalam dakwahnya atau puisinya mau mengkampanyekan hidup sehat tanpa rokok.
\nMohon maaf mbah jika pertanyaan saya sangat tidak sopan, terima kasih mbah sudah bersedia membaca.\"
\nLantas sebagai sesepuh bangsa yang petuah dan nasehatnya selalu membuat adem siapa saja, Mbah Mus menjawab dengan cerdas dan bernas.
\n\"Sudah lama (sekitar 9 tahunan) saya berhenti merokok. Dan pendapat saya tetap: hukum merokok itu khilaf. Bacalah kitab tentang Kopi dan Rokok karangan Al-Allamah Syeikh Ihsan Al-Jampesi. Kayaknya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Dari kalangan ahli tembakau pun terdapat khilaf. Ada yang mengatakan madharat ada yang mengatakan tidak. Hanya saja yang berkampanye madharat lebih kuat karena disponsori orang barat yang kuat. Bukti kekuatan kampanye itu antara lain pertanyaanmu ini,\" jawab Mbah Mus.
\nJawaban Mbah Mus tersebut sudah sangat komplit. Kalo ibarat nasi pecel Madiun, sudah lengkap dengan kembang turi dan kemangi yang sepertinya susah ditemui pada warung-warung pecel Madiun di Jakarta.
\nBila dipetakan, setidaknya ada 3 sisi yang terus dikampanyekan antirokok, yaitu agama, kesehatan dan ekonomi. Satu paragraf jawaban Mbah Mus tersebut tentu saja tersirat bermacam bantahan.
\nPertama soal agama. Dalam hal ini hukum dan posisi rokok dalam Islam. Ada yang bilang rokok itu haram, bahkan yang lebih extrim menanam tembakau juga haram. Ada yang mengatakan, hukum merokok tergantung bagaimana kondisi yang mengisapnya. Di antara perdebatan itu, Mbah Mus tegas menjawab, hukum rokok itu khilaf. Ada yang mengatakan madlarat ada yang mengatakan tidak. Semuanya harus dihormati.
\nAsalkan jangan seperti salah satu ulama' tv yang dengan percaya diri menukil hadis \"tembakau terbuat dari kencing iblis\". Kisah ini sempat ramai, padahal hadis ini telah dibahas oleh \"Fatwa al-Lujnah al-Daimah lil buhuth al'ilmiyyah waal iftaa'\" (Lembaga Fatwa Arab Saudi), yang nenyebut hadis tersebut palsu bahkan tak ada asal usulnya. Satu pembohongan yang haram atas nama Nabi Muhammad SAW. haram juga menyebarkan tanpa dijelaskan kedudukannua.
\nSoal pembahasan mendetai mengenai persoalan ini, silahkan kinjungi: https:\/\/bolehmerokok.com\/2018\/04\/dalil-boleh-merokok\/
\nKedua, soal kesehatan. Antirokok atau dalam hal ini pegiat kesehatan, selalu mengatakan rokok adalah pembunuh terdahsyat di dunia ini. WHO bahkan pernah merilis, setiap tahun setidaknya 6 juta orang dipanggil Tuhan karena merokok. Tidak hanya soal itu, ketika Anda periksa ke dokter, tak peduli apapun penyakitnya, akan ditanya, \"bapak merokok?\" Jika merokok, maka dokter akan mengatakan sakitnya sebeb rokok. Tapi jika tidak merokok, tetap saja rokok yang harus salah. Makanya muncul istilah perokok pasif.
\nSaya hanya menemukan beberapa dokter atau pegiatan kesehatan saja yang berani bilang, \"banyak faktor yang memengaruhi kesehatan seseorang. Tidak hanya rokok, tetapi juga asap kendaraan, dan lain sebagainya.\" Kepada mereka, saya angkat topi setinggi-tingginya.
\nParahnya lagi, wacana jaminan kesehatan haram bagi para perokok terus digaungkan. Padahal rokok adalah barang legal dan merokok adalah aktivitas legal yang dilindungi undang-undang. Lagi pula perokok kan juga warga negara yang punya hak dan kewajiban sama dalam berbangsa dan bernegara.
\nApakah berhenti sampai situ? Tidak. Rokok dikatakan oleh antirokok sebagai candu. Tentu saja ini patah oleh jawabnnya Mbah Mus. Sebagai perokok, Mbah Mus berhasil berhenti. Tidak kemudian kecanduan. Atau tak perlu jauh-jauh. Saya adalah perokok berat, tapi tidak kejang-kejang meski tak merokok selama berpuasa. Harusnya antirokok ini mulai menyadari, bahwa yang candu itu manisnya senyummu. Iya kamu.
\nSaya agak curiga nih, keyword yang digunakan antirokok ini cuma \"dampak negatif rokok\", makanya referensinya hanya mengarah kepada keburukan. Coba sesekali memberanikan diri pakai keyword \"dampak positif rokok\" mungkin akan beda cara berargumennya. Meski tetap membenci rokok, setidaknya ada keadilan dalam berpikir dan bersikap.
\nKetiga, soal ekonomi. Ini selalu menjadi isu yang tak akan pernah ada habisnya. Bagi antirokok, rokok adalah barang haram yang membunuh dan membuat miskin. BPS saja sering mengeluarkan survei soal ini. Tolak ukurnya tentu saja daya beli dan nongkrong di mall. Lha gimana mau nongkrong di mall, wong mallnya saja di desa ga ada. Alfamart dan Indomaret saja jauhnya minta ampun. Pulang dari sawah ya nongkrongnya di teras rumah, sambil jedal jedul. Tapi apakah mereka merasa miskin? Tentu saja tidak.
\nHarusnya juga antirokok sadar, sektor hulu dari IHT adalah perkebunan tembakau dan cengkeh. Perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, sementara perkebunan cengkeh ada di 30 provinsi. Mayoritas lahannya milik rakyat dan dibudidayakan sepenuhnya oleh rakyat, yang menunjukkan kemandirian dan kedaulatan ekonomi mereka. Keduanya memang bukan komoditas pangan, tetapi sifat-sifat polikulturnya, membuat keduanya bisa menopang ketahanan pangan.
\nSebesar 93 persen produk IHT adalah kretek. Sisanya adalah cerutu, farmasi, produk makanan, kosmetik, dan lainnya. Dari hulu hingga hilir, IHT menyerap jutaan tenaga kerja. Dengan demikian, IHT telah membantu pemerintah mengentaskan kemiskinan, menekan pengangguran, dan meningkatkan kesejahteraan. Sejarah mencatat IHT sebagai industri strategis nasional adalah sektor perekonomian yang paling tahan di saat krisis.
\nMelalui penerimaan cukai, IHT turut memberikan sumbangan sebesar 8,92 persen terhadap APBN. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan pendapatan pajak dari sektor minyak dan gas (migas) yang hanya 3,03 persen.
\nKeberadaan IHT memberi sumbangsih besar pada penyerapan tenaga kerja mulai dari hulu sampai hilir. Di sektor perkebunan menyerap 2 juta petani tembakau dan 1,5 juta petani cengkeh (on farm). Belum termasuk serapan tenaga kerja tidak langsung, karena di sektor hulu terdapat ragam pekerjaan lain17.
\nDi sektor manufaktur dan perdagangan menyerap 600.000 karyawan pabrik dan 2 juta pedagang ritel (off farm). Totalnya 6,1 juta tenaga kerja yang bergantung langsung terhadap industri ini. Dari total serapan tenaga kerja yang terlibat secara on farm dan off farm, baik langsung maupun tidak langsung, di dalam IHT dapat memberi penghidupan kepada 30,5 juta orang.
\nMungkin sudah menjadi fitrah rokok akan terus dimusuhi, meski hasilnya selalu dirindukan. Benar dhawuhnya Mbah Mus, yang berkampanye madharat lebih kuat karena disponsori orang barat yang kuat. Silahkan baca dan cermati https:\/\/tobaccocontrolgrants.org, di sini panjenengan semua bisa tau lembaga mana penerima dana dan apa agendanya di Indonesia selama tenggat waktu tertentu.
\nSepertinya memang kita harus hidup bersama sebagaimana tembakau dan cengkeh yang diproduksi menjadi kretek, ketika banyak orang melemparinya isu bahaya laten rokok, tetapi ia membalasnya dengan penghasilan negara yang amat besar.<\/p>\n","post_title":"Ketika Gus Mus Ditanya Perihal Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-gus-mus-ditanya-perihal-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-05 07:58:28","post_modified_gmt":"2019-10-05 00:58:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6120","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6050,"post_author":"919","post_date":"2019-09-11 10:18:05","post_date_gmt":"2019-09-11 03:18:05","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6120,"post_author":"855","post_date":"2019-10-05 07:58:20","post_date_gmt":"2019-10-05 00:58:20","post_content":"\n
\n\"Mbah Mus yang saya hormati, panjenengan seandainya berhenti merokok bisa atau tidak ya? Mohon maaf Mbah Mus kan sebagai ulama menjadi teladan bagi generasi muda, saya yakin Mbah Mus ingin melihat generasi muda hidup sehat tanpa rokok, apalagi jika Mbah Mus dalam dakwahnya atau puisinya mau mengkampanyekan hidup sehat tanpa rokok.
\nMohon maaf mbah jika pertanyaan saya sangat tidak sopan, terima kasih mbah sudah bersedia membaca.\"
\nLantas sebagai sesepuh bangsa yang petuah dan nasehatnya selalu membuat adem siapa saja, Mbah Mus menjawab dengan cerdas dan bernas.
\n\"Sudah lama (sekitar 9 tahunan) saya berhenti merokok. Dan pendapat saya tetap: hukum merokok itu khilaf. Bacalah kitab tentang Kopi dan Rokok karangan Al-Allamah Syeikh Ihsan Al-Jampesi. Kayaknya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Dari kalangan ahli tembakau pun terdapat khilaf. Ada yang mengatakan madharat ada yang mengatakan tidak. Hanya saja yang berkampanye madharat lebih kuat karena disponsori orang barat yang kuat. Bukti kekuatan kampanye itu antara lain pertanyaanmu ini,\" jawab Mbah Mus.
\nJawaban Mbah Mus tersebut sudah sangat komplit. Kalo ibarat nasi pecel Madiun, sudah lengkap dengan kembang turi dan kemangi yang sepertinya susah ditemui pada warung-warung pecel Madiun di Jakarta.
\nBila dipetakan, setidaknya ada 3 sisi yang terus dikampanyekan antirokok, yaitu agama, kesehatan dan ekonomi. Satu paragraf jawaban Mbah Mus tersebut tentu saja tersirat bermacam bantahan.
\nPertama soal agama. Dalam hal ini hukum dan posisi rokok dalam Islam. Ada yang bilang rokok itu haram, bahkan yang lebih extrim menanam tembakau juga haram. Ada yang mengatakan, hukum merokok tergantung bagaimana kondisi yang mengisapnya. Di antara perdebatan itu, Mbah Mus tegas menjawab, hukum rokok itu khilaf. Ada yang mengatakan madlarat ada yang mengatakan tidak. Semuanya harus dihormati.
\nAsalkan jangan seperti salah satu ulama' tv yang dengan percaya diri menukil hadis \"tembakau terbuat dari kencing iblis\". Kisah ini sempat ramai, padahal hadis ini telah dibahas oleh \"Fatwa al-Lujnah al-Daimah lil buhuth al'ilmiyyah waal iftaa'\" (Lembaga Fatwa Arab Saudi), yang nenyebut hadis tersebut palsu bahkan tak ada asal usulnya. Satu pembohongan yang haram atas nama Nabi Muhammad SAW. haram juga menyebarkan tanpa dijelaskan kedudukannua.
\nSoal pembahasan mendetai mengenai persoalan ini, silahkan kinjungi: https:\/\/bolehmerokok.com\/2018\/04\/dalil-boleh-merokok\/
\nKedua, soal kesehatan. Antirokok atau dalam hal ini pegiat kesehatan, selalu mengatakan rokok adalah pembunuh terdahsyat di dunia ini. WHO bahkan pernah merilis, setiap tahun setidaknya 6 juta orang dipanggil Tuhan karena merokok. Tidak hanya soal itu, ketika Anda periksa ke dokter, tak peduli apapun penyakitnya, akan ditanya, \"bapak merokok?\" Jika merokok, maka dokter akan mengatakan sakitnya sebeb rokok. Tapi jika tidak merokok, tetap saja rokok yang harus salah. Makanya muncul istilah perokok pasif.
\nSaya hanya menemukan beberapa dokter atau pegiatan kesehatan saja yang berani bilang, \"banyak faktor yang memengaruhi kesehatan seseorang. Tidak hanya rokok, tetapi juga asap kendaraan, dan lain sebagainya.\" Kepada mereka, saya angkat topi setinggi-tingginya.
\nParahnya lagi, wacana jaminan kesehatan haram bagi para perokok terus digaungkan. Padahal rokok adalah barang legal dan merokok adalah aktivitas legal yang dilindungi undang-undang. Lagi pula perokok kan juga warga negara yang punya hak dan kewajiban sama dalam berbangsa dan bernegara.
\nApakah berhenti sampai situ? Tidak. Rokok dikatakan oleh antirokok sebagai candu. Tentu saja ini patah oleh jawabnnya Mbah Mus. Sebagai perokok, Mbah Mus berhasil berhenti. Tidak kemudian kecanduan. Atau tak perlu jauh-jauh. Saya adalah perokok berat, tapi tidak kejang-kejang meski tak merokok selama berpuasa. Harusnya antirokok ini mulai menyadari, bahwa yang candu itu manisnya senyummu. Iya kamu.
\nSaya agak curiga nih, keyword yang digunakan antirokok ini cuma \"dampak negatif rokok\", makanya referensinya hanya mengarah kepada keburukan. Coba sesekali memberanikan diri pakai keyword \"dampak positif rokok\" mungkin akan beda cara berargumennya. Meski tetap membenci rokok, setidaknya ada keadilan dalam berpikir dan bersikap.
\nKetiga, soal ekonomi. Ini selalu menjadi isu yang tak akan pernah ada habisnya. Bagi antirokok, rokok adalah barang haram yang membunuh dan membuat miskin. BPS saja sering mengeluarkan survei soal ini. Tolak ukurnya tentu saja daya beli dan nongkrong di mall. Lha gimana mau nongkrong di mall, wong mallnya saja di desa ga ada. Alfamart dan Indomaret saja jauhnya minta ampun. Pulang dari sawah ya nongkrongnya di teras rumah, sambil jedal jedul. Tapi apakah mereka merasa miskin? Tentu saja tidak.
\nHarusnya juga antirokok sadar, sektor hulu dari IHT adalah perkebunan tembakau dan cengkeh. Perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, sementara perkebunan cengkeh ada di 30 provinsi. Mayoritas lahannya milik rakyat dan dibudidayakan sepenuhnya oleh rakyat, yang menunjukkan kemandirian dan kedaulatan ekonomi mereka. Keduanya memang bukan komoditas pangan, tetapi sifat-sifat polikulturnya, membuat keduanya bisa menopang ketahanan pangan.
\nSebesar 93 persen produk IHT adalah kretek. Sisanya adalah cerutu, farmasi, produk makanan, kosmetik, dan lainnya. Dari hulu hingga hilir, IHT menyerap jutaan tenaga kerja. Dengan demikian, IHT telah membantu pemerintah mengentaskan kemiskinan, menekan pengangguran, dan meningkatkan kesejahteraan. Sejarah mencatat IHT sebagai industri strategis nasional adalah sektor perekonomian yang paling tahan di saat krisis.
\nMelalui penerimaan cukai, IHT turut memberikan sumbangan sebesar 8,92 persen terhadap APBN. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan pendapatan pajak dari sektor minyak dan gas (migas) yang hanya 3,03 persen.
\nKeberadaan IHT memberi sumbangsih besar pada penyerapan tenaga kerja mulai dari hulu sampai hilir. Di sektor perkebunan menyerap 2 juta petani tembakau dan 1,5 juta petani cengkeh (on farm). Belum termasuk serapan tenaga kerja tidak langsung, karena di sektor hulu terdapat ragam pekerjaan lain17.
\nDi sektor manufaktur dan perdagangan menyerap 600.000 karyawan pabrik dan 2 juta pedagang ritel (off farm). Totalnya 6,1 juta tenaga kerja yang bergantung langsung terhadap industri ini. Dari total serapan tenaga kerja yang terlibat secara on farm dan off farm, baik langsung maupun tidak langsung, di dalam IHT dapat memberi penghidupan kepada 30,5 juta orang.
\nMungkin sudah menjadi fitrah rokok akan terus dimusuhi, meski hasilnya selalu dirindukan. Benar dhawuhnya Mbah Mus, yang berkampanye madharat lebih kuat karena disponsori orang barat yang kuat. Silahkan baca dan cermati https:\/\/tobaccocontrolgrants.org, di sini panjenengan semua bisa tau lembaga mana penerima dana dan apa agendanya di Indonesia selama tenggat waktu tertentu.
\nSepertinya memang kita harus hidup bersama sebagaimana tembakau dan cengkeh yang diproduksi menjadi kretek, ketika banyak orang melemparinya isu bahaya laten rokok, tetapi ia membalasnya dengan penghasilan negara yang amat besar.<\/p>\n","post_title":"Ketika Gus Mus Ditanya Perihal Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-gus-mus-ditanya-perihal-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-05 07:58:28","post_modified_gmt":"2019-10-05 00:58:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6120","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6050,"post_author":"919","post_date":"2019-09-11 10:18:05","post_date_gmt":"2019-09-11 03:18:05","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6120,"post_author":"855","post_date":"2019-10-05 07:58:20","post_date_gmt":"2019-10-05 00:58:20","post_content":"\n
\n\"Mbah Mus yang saya hormati, panjenengan seandainya berhenti merokok bisa atau tidak ya? Mohon maaf Mbah Mus kan sebagai ulama menjadi teladan bagi generasi muda, saya yakin Mbah Mus ingin melihat generasi muda hidup sehat tanpa rokok, apalagi jika Mbah Mus dalam dakwahnya atau puisinya mau mengkampanyekan hidup sehat tanpa rokok.
\nMohon maaf mbah jika pertanyaan saya sangat tidak sopan, terima kasih mbah sudah bersedia membaca.\"
\nLantas sebagai sesepuh bangsa yang petuah dan nasehatnya selalu membuat adem siapa saja, Mbah Mus menjawab dengan cerdas dan bernas.
\n\"Sudah lama (sekitar 9 tahunan) saya berhenti merokok. Dan pendapat saya tetap: hukum merokok itu khilaf. Bacalah kitab tentang Kopi dan Rokok karangan Al-Allamah Syeikh Ihsan Al-Jampesi. Kayaknya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Dari kalangan ahli tembakau pun terdapat khilaf. Ada yang mengatakan madharat ada yang mengatakan tidak. Hanya saja yang berkampanye madharat lebih kuat karena disponsori orang barat yang kuat. Bukti kekuatan kampanye itu antara lain pertanyaanmu ini,\" jawab Mbah Mus.
\nJawaban Mbah Mus tersebut sudah sangat komplit. Kalo ibarat nasi pecel Madiun, sudah lengkap dengan kembang turi dan kemangi yang sepertinya susah ditemui pada warung-warung pecel Madiun di Jakarta.
\nBila dipetakan, setidaknya ada 3 sisi yang terus dikampanyekan antirokok, yaitu agama, kesehatan dan ekonomi. Satu paragraf jawaban Mbah Mus tersebut tentu saja tersirat bermacam bantahan.
\nPertama soal agama. Dalam hal ini hukum dan posisi rokok dalam Islam. Ada yang bilang rokok itu haram, bahkan yang lebih extrim menanam tembakau juga haram. Ada yang mengatakan, hukum merokok tergantung bagaimana kondisi yang mengisapnya. Di antara perdebatan itu, Mbah Mus tegas menjawab, hukum rokok itu khilaf. Ada yang mengatakan madlarat ada yang mengatakan tidak. Semuanya harus dihormati.
\nAsalkan jangan seperti salah satu ulama' tv yang dengan percaya diri menukil hadis \"tembakau terbuat dari kencing iblis\". Kisah ini sempat ramai, padahal hadis ini telah dibahas oleh \"Fatwa al-Lujnah al-Daimah lil buhuth al'ilmiyyah waal iftaa'\" (Lembaga Fatwa Arab Saudi), yang nenyebut hadis tersebut palsu bahkan tak ada asal usulnya. Satu pembohongan yang haram atas nama Nabi Muhammad SAW. haram juga menyebarkan tanpa dijelaskan kedudukannua.
\nSoal pembahasan mendetai mengenai persoalan ini, silahkan kinjungi: https:\/\/bolehmerokok.com\/2018\/04\/dalil-boleh-merokok\/
\nKedua, soal kesehatan. Antirokok atau dalam hal ini pegiat kesehatan, selalu mengatakan rokok adalah pembunuh terdahsyat di dunia ini. WHO bahkan pernah merilis, setiap tahun setidaknya 6 juta orang dipanggil Tuhan karena merokok. Tidak hanya soal itu, ketika Anda periksa ke dokter, tak peduli apapun penyakitnya, akan ditanya, \"bapak merokok?\" Jika merokok, maka dokter akan mengatakan sakitnya sebeb rokok. Tapi jika tidak merokok, tetap saja rokok yang harus salah. Makanya muncul istilah perokok pasif.
\nSaya hanya menemukan beberapa dokter atau pegiatan kesehatan saja yang berani bilang, \"banyak faktor yang memengaruhi kesehatan seseorang. Tidak hanya rokok, tetapi juga asap kendaraan, dan lain sebagainya.\" Kepada mereka, saya angkat topi setinggi-tingginya.
\nParahnya lagi, wacana jaminan kesehatan haram bagi para perokok terus digaungkan. Padahal rokok adalah barang legal dan merokok adalah aktivitas legal yang dilindungi undang-undang. Lagi pula perokok kan juga warga negara yang punya hak dan kewajiban sama dalam berbangsa dan bernegara.
\nApakah berhenti sampai situ? Tidak. Rokok dikatakan oleh antirokok sebagai candu. Tentu saja ini patah oleh jawabnnya Mbah Mus. Sebagai perokok, Mbah Mus berhasil berhenti. Tidak kemudian kecanduan. Atau tak perlu jauh-jauh. Saya adalah perokok berat, tapi tidak kejang-kejang meski tak merokok selama berpuasa. Harusnya antirokok ini mulai menyadari, bahwa yang candu itu manisnya senyummu. Iya kamu.
\nSaya agak curiga nih, keyword yang digunakan antirokok ini cuma \"dampak negatif rokok\", makanya referensinya hanya mengarah kepada keburukan. Coba sesekali memberanikan diri pakai keyword \"dampak positif rokok\" mungkin akan beda cara berargumennya. Meski tetap membenci rokok, setidaknya ada keadilan dalam berpikir dan bersikap.
\nKetiga, soal ekonomi. Ini selalu menjadi isu yang tak akan pernah ada habisnya. Bagi antirokok, rokok adalah barang haram yang membunuh dan membuat miskin. BPS saja sering mengeluarkan survei soal ini. Tolak ukurnya tentu saja daya beli dan nongkrong di mall. Lha gimana mau nongkrong di mall, wong mallnya saja di desa ga ada. Alfamart dan Indomaret saja jauhnya minta ampun. Pulang dari sawah ya nongkrongnya di teras rumah, sambil jedal jedul. Tapi apakah mereka merasa miskin? Tentu saja tidak.
\nHarusnya juga antirokok sadar, sektor hulu dari IHT adalah perkebunan tembakau dan cengkeh. Perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, sementara perkebunan cengkeh ada di 30 provinsi. Mayoritas lahannya milik rakyat dan dibudidayakan sepenuhnya oleh rakyat, yang menunjukkan kemandirian dan kedaulatan ekonomi mereka. Keduanya memang bukan komoditas pangan, tetapi sifat-sifat polikulturnya, membuat keduanya bisa menopang ketahanan pangan.
\nSebesar 93 persen produk IHT adalah kretek. Sisanya adalah cerutu, farmasi, produk makanan, kosmetik, dan lainnya. Dari hulu hingga hilir, IHT menyerap jutaan tenaga kerja. Dengan demikian, IHT telah membantu pemerintah mengentaskan kemiskinan, menekan pengangguran, dan meningkatkan kesejahteraan. Sejarah mencatat IHT sebagai industri strategis nasional adalah sektor perekonomian yang paling tahan di saat krisis.
\nMelalui penerimaan cukai, IHT turut memberikan sumbangan sebesar 8,92 persen terhadap APBN. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan pendapatan pajak dari sektor minyak dan gas (migas) yang hanya 3,03 persen.
\nKeberadaan IHT memberi sumbangsih besar pada penyerapan tenaga kerja mulai dari hulu sampai hilir. Di sektor perkebunan menyerap 2 juta petani tembakau dan 1,5 juta petani cengkeh (on farm). Belum termasuk serapan tenaga kerja tidak langsung, karena di sektor hulu terdapat ragam pekerjaan lain17.
\nDi sektor manufaktur dan perdagangan menyerap 600.000 karyawan pabrik dan 2 juta pedagang ritel (off farm). Totalnya 6,1 juta tenaga kerja yang bergantung langsung terhadap industri ini. Dari total serapan tenaga kerja yang terlibat secara on farm dan off farm, baik langsung maupun tidak langsung, di dalam IHT dapat memberi penghidupan kepada 30,5 juta orang.
\nMungkin sudah menjadi fitrah rokok akan terus dimusuhi, meski hasilnya selalu dirindukan. Benar dhawuhnya Mbah Mus, yang berkampanye madharat lebih kuat karena disponsori orang barat yang kuat. Silahkan baca dan cermati https:\/\/tobaccocontrolgrants.org, di sini panjenengan semua bisa tau lembaga mana penerima dana dan apa agendanya di Indonesia selama tenggat waktu tertentu.
\nSepertinya memang kita harus hidup bersama sebagaimana tembakau dan cengkeh yang diproduksi menjadi kretek, ketika banyak orang melemparinya isu bahaya laten rokok, tetapi ia membalasnya dengan penghasilan negara yang amat besar.<\/p>\n","post_title":"Ketika Gus Mus Ditanya Perihal Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-gus-mus-ditanya-perihal-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-05 07:58:28","post_modified_gmt":"2019-10-05 00:58:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6120","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6050,"post_author":"919","post_date":"2019-09-11 10:18:05","post_date_gmt":"2019-09-11 03:18:05","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6120,"post_author":"855","post_date":"2019-10-05 07:58:20","post_date_gmt":"2019-10-05 00:58:20","post_content":"\n
\n\"Mbah Mus yang saya hormati, panjenengan seandainya berhenti merokok bisa atau tidak ya? Mohon maaf Mbah Mus kan sebagai ulama menjadi teladan bagi generasi muda, saya yakin Mbah Mus ingin melihat generasi muda hidup sehat tanpa rokok, apalagi jika Mbah Mus dalam dakwahnya atau puisinya mau mengkampanyekan hidup sehat tanpa rokok.
\nMohon maaf mbah jika pertanyaan saya sangat tidak sopan, terima kasih mbah sudah bersedia membaca.\"
\nLantas sebagai sesepuh bangsa yang petuah dan nasehatnya selalu membuat adem siapa saja, Mbah Mus menjawab dengan cerdas dan bernas.
\n\"Sudah lama (sekitar 9 tahunan) saya berhenti merokok. Dan pendapat saya tetap: hukum merokok itu khilaf. Bacalah kitab tentang Kopi dan Rokok karangan Al-Allamah Syeikh Ihsan Al-Jampesi. Kayaknya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Dari kalangan ahli tembakau pun terdapat khilaf. Ada yang mengatakan madharat ada yang mengatakan tidak. Hanya saja yang berkampanye madharat lebih kuat karena disponsori orang barat yang kuat. Bukti kekuatan kampanye itu antara lain pertanyaanmu ini,\" jawab Mbah Mus.
\nJawaban Mbah Mus tersebut sudah sangat komplit. Kalo ibarat nasi pecel Madiun, sudah lengkap dengan kembang turi dan kemangi yang sepertinya susah ditemui pada warung-warung pecel Madiun di Jakarta.
\nBila dipetakan, setidaknya ada 3 sisi yang terus dikampanyekan antirokok, yaitu agama, kesehatan dan ekonomi. Satu paragraf jawaban Mbah Mus tersebut tentu saja tersirat bermacam bantahan.
\nPertama soal agama. Dalam hal ini hukum dan posisi rokok dalam Islam. Ada yang bilang rokok itu haram, bahkan yang lebih extrim menanam tembakau juga haram. Ada yang mengatakan, hukum merokok tergantung bagaimana kondisi yang mengisapnya. Di antara perdebatan itu, Mbah Mus tegas menjawab, hukum rokok itu khilaf. Ada yang mengatakan madlarat ada yang mengatakan tidak. Semuanya harus dihormati.
\nAsalkan jangan seperti salah satu ulama' tv yang dengan percaya diri menukil hadis \"tembakau terbuat dari kencing iblis\". Kisah ini sempat ramai, padahal hadis ini telah dibahas oleh \"Fatwa al-Lujnah al-Daimah lil buhuth al'ilmiyyah waal iftaa'\" (Lembaga Fatwa Arab Saudi), yang nenyebut hadis tersebut palsu bahkan tak ada asal usulnya. Satu pembohongan yang haram atas nama Nabi Muhammad SAW. haram juga menyebarkan tanpa dijelaskan kedudukannua.
\nSoal pembahasan mendetai mengenai persoalan ini, silahkan kinjungi: https:\/\/bolehmerokok.com\/2018\/04\/dalil-boleh-merokok\/
\nKedua, soal kesehatan. Antirokok atau dalam hal ini pegiat kesehatan, selalu mengatakan rokok adalah pembunuh terdahsyat di dunia ini. WHO bahkan pernah merilis, setiap tahun setidaknya 6 juta orang dipanggil Tuhan karena merokok. Tidak hanya soal itu, ketika Anda periksa ke dokter, tak peduli apapun penyakitnya, akan ditanya, \"bapak merokok?\" Jika merokok, maka dokter akan mengatakan sakitnya sebeb rokok. Tapi jika tidak merokok, tetap saja rokok yang harus salah. Makanya muncul istilah perokok pasif.
\nSaya hanya menemukan beberapa dokter atau pegiatan kesehatan saja yang berani bilang, \"banyak faktor yang memengaruhi kesehatan seseorang. Tidak hanya rokok, tetapi juga asap kendaraan, dan lain sebagainya.\" Kepada mereka, saya angkat topi setinggi-tingginya.
\nParahnya lagi, wacana jaminan kesehatan haram bagi para perokok terus digaungkan. Padahal rokok adalah barang legal dan merokok adalah aktivitas legal yang dilindungi undang-undang. Lagi pula perokok kan juga warga negara yang punya hak dan kewajiban sama dalam berbangsa dan bernegara.
\nApakah berhenti sampai situ? Tidak. Rokok dikatakan oleh antirokok sebagai candu. Tentu saja ini patah oleh jawabnnya Mbah Mus. Sebagai perokok, Mbah Mus berhasil berhenti. Tidak kemudian kecanduan. Atau tak perlu jauh-jauh. Saya adalah perokok berat, tapi tidak kejang-kejang meski tak merokok selama berpuasa. Harusnya antirokok ini mulai menyadari, bahwa yang candu itu manisnya senyummu. Iya kamu.
\nSaya agak curiga nih, keyword yang digunakan antirokok ini cuma \"dampak negatif rokok\", makanya referensinya hanya mengarah kepada keburukan. Coba sesekali memberanikan diri pakai keyword \"dampak positif rokok\" mungkin akan beda cara berargumennya. Meski tetap membenci rokok, setidaknya ada keadilan dalam berpikir dan bersikap.
\nKetiga, soal ekonomi. Ini selalu menjadi isu yang tak akan pernah ada habisnya. Bagi antirokok, rokok adalah barang haram yang membunuh dan membuat miskin. BPS saja sering mengeluarkan survei soal ini. Tolak ukurnya tentu saja daya beli dan nongkrong di mall. Lha gimana mau nongkrong di mall, wong mallnya saja di desa ga ada. Alfamart dan Indomaret saja jauhnya minta ampun. Pulang dari sawah ya nongkrongnya di teras rumah, sambil jedal jedul. Tapi apakah mereka merasa miskin? Tentu saja tidak.
\nHarusnya juga antirokok sadar, sektor hulu dari IHT adalah perkebunan tembakau dan cengkeh. Perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, sementara perkebunan cengkeh ada di 30 provinsi. Mayoritas lahannya milik rakyat dan dibudidayakan sepenuhnya oleh rakyat, yang menunjukkan kemandirian dan kedaulatan ekonomi mereka. Keduanya memang bukan komoditas pangan, tetapi sifat-sifat polikulturnya, membuat keduanya bisa menopang ketahanan pangan.
\nSebesar 93 persen produk IHT adalah kretek. Sisanya adalah cerutu, farmasi, produk makanan, kosmetik, dan lainnya. Dari hulu hingga hilir, IHT menyerap jutaan tenaga kerja. Dengan demikian, IHT telah membantu pemerintah mengentaskan kemiskinan, menekan pengangguran, dan meningkatkan kesejahteraan. Sejarah mencatat IHT sebagai industri strategis nasional adalah sektor perekonomian yang paling tahan di saat krisis.
\nMelalui penerimaan cukai, IHT turut memberikan sumbangan sebesar 8,92 persen terhadap APBN. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan pendapatan pajak dari sektor minyak dan gas (migas) yang hanya 3,03 persen.
\nKeberadaan IHT memberi sumbangsih besar pada penyerapan tenaga kerja mulai dari hulu sampai hilir. Di sektor perkebunan menyerap 2 juta petani tembakau dan 1,5 juta petani cengkeh (on farm). Belum termasuk serapan tenaga kerja tidak langsung, karena di sektor hulu terdapat ragam pekerjaan lain17.
\nDi sektor manufaktur dan perdagangan menyerap 600.000 karyawan pabrik dan 2 juta pedagang ritel (off farm). Totalnya 6,1 juta tenaga kerja yang bergantung langsung terhadap industri ini. Dari total serapan tenaga kerja yang terlibat secara on farm dan off farm, baik langsung maupun tidak langsung, di dalam IHT dapat memberi penghidupan kepada 30,5 juta orang.
\nMungkin sudah menjadi fitrah rokok akan terus dimusuhi, meski hasilnya selalu dirindukan. Benar dhawuhnya Mbah Mus, yang berkampanye madharat lebih kuat karena disponsori orang barat yang kuat. Silahkan baca dan cermati https:\/\/tobaccocontrolgrants.org, di sini panjenengan semua bisa tau lembaga mana penerima dana dan apa agendanya di Indonesia selama tenggat waktu tertentu.
\nSepertinya memang kita harus hidup bersama sebagaimana tembakau dan cengkeh yang diproduksi menjadi kretek, ketika banyak orang melemparinya isu bahaya laten rokok, tetapi ia membalasnya dengan penghasilan negara yang amat besar.<\/p>\n","post_title":"Ketika Gus Mus Ditanya Perihal Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-gus-mus-ditanya-perihal-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-05 07:58:28","post_modified_gmt":"2019-10-05 00:58:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6120","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6050,"post_author":"919","post_date":"2019-09-11 10:18:05","post_date_gmt":"2019-09-11 03:18:05","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6120,"post_author":"855","post_date":"2019-10-05 07:58:20","post_date_gmt":"2019-10-05 00:58:20","post_content":"\n
\n\"Mbah Mus yang saya hormati, panjenengan seandainya berhenti merokok bisa atau tidak ya? Mohon maaf Mbah Mus kan sebagai ulama menjadi teladan bagi generasi muda, saya yakin Mbah Mus ingin melihat generasi muda hidup sehat tanpa rokok, apalagi jika Mbah Mus dalam dakwahnya atau puisinya mau mengkampanyekan hidup sehat tanpa rokok.
\nMohon maaf mbah jika pertanyaan saya sangat tidak sopan, terima kasih mbah sudah bersedia membaca.\"
\nLantas sebagai sesepuh bangsa yang petuah dan nasehatnya selalu membuat adem siapa saja, Mbah Mus menjawab dengan cerdas dan bernas.
\n\"Sudah lama (sekitar 9 tahunan) saya berhenti merokok. Dan pendapat saya tetap: hukum merokok itu khilaf. Bacalah kitab tentang Kopi dan Rokok karangan Al-Allamah Syeikh Ihsan Al-Jampesi. Kayaknya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Dari kalangan ahli tembakau pun terdapat khilaf. Ada yang mengatakan madharat ada yang mengatakan tidak. Hanya saja yang berkampanye madharat lebih kuat karena disponsori orang barat yang kuat. Bukti kekuatan kampanye itu antara lain pertanyaanmu ini,\" jawab Mbah Mus.
\nJawaban Mbah Mus tersebut sudah sangat komplit. Kalo ibarat nasi pecel Madiun, sudah lengkap dengan kembang turi dan kemangi yang sepertinya susah ditemui pada warung-warung pecel Madiun di Jakarta.
\nBila dipetakan, setidaknya ada 3 sisi yang terus dikampanyekan antirokok, yaitu agama, kesehatan dan ekonomi. Satu paragraf jawaban Mbah Mus tersebut tentu saja tersirat bermacam bantahan.
\nPertama soal agama. Dalam hal ini hukum dan posisi rokok dalam Islam. Ada yang bilang rokok itu haram, bahkan yang lebih extrim menanam tembakau juga haram. Ada yang mengatakan, hukum merokok tergantung bagaimana kondisi yang mengisapnya. Di antara perdebatan itu, Mbah Mus tegas menjawab, hukum rokok itu khilaf. Ada yang mengatakan madlarat ada yang mengatakan tidak. Semuanya harus dihormati.
\nAsalkan jangan seperti salah satu ulama' tv yang dengan percaya diri menukil hadis \"tembakau terbuat dari kencing iblis\". Kisah ini sempat ramai, padahal hadis ini telah dibahas oleh \"Fatwa al-Lujnah al-Daimah lil buhuth al'ilmiyyah waal iftaa'\" (Lembaga Fatwa Arab Saudi), yang nenyebut hadis tersebut palsu bahkan tak ada asal usulnya. Satu pembohongan yang haram atas nama Nabi Muhammad SAW. haram juga menyebarkan tanpa dijelaskan kedudukannua.
\nSoal pembahasan mendetai mengenai persoalan ini, silahkan kinjungi: https:\/\/bolehmerokok.com\/2018\/04\/dalil-boleh-merokok\/
\nKedua, soal kesehatan. Antirokok atau dalam hal ini pegiat kesehatan, selalu mengatakan rokok adalah pembunuh terdahsyat di dunia ini. WHO bahkan pernah merilis, setiap tahun setidaknya 6 juta orang dipanggil Tuhan karena merokok. Tidak hanya soal itu, ketika Anda periksa ke dokter, tak peduli apapun penyakitnya, akan ditanya, \"bapak merokok?\" Jika merokok, maka dokter akan mengatakan sakitnya sebeb rokok. Tapi jika tidak merokok, tetap saja rokok yang harus salah. Makanya muncul istilah perokok pasif.
\nSaya hanya menemukan beberapa dokter atau pegiatan kesehatan saja yang berani bilang, \"banyak faktor yang memengaruhi kesehatan seseorang. Tidak hanya rokok, tetapi juga asap kendaraan, dan lain sebagainya.\" Kepada mereka, saya angkat topi setinggi-tingginya.
\nParahnya lagi, wacana jaminan kesehatan haram bagi para perokok terus digaungkan. Padahal rokok adalah barang legal dan merokok adalah aktivitas legal yang dilindungi undang-undang. Lagi pula perokok kan juga warga negara yang punya hak dan kewajiban sama dalam berbangsa dan bernegara.
\nApakah berhenti sampai situ? Tidak. Rokok dikatakan oleh antirokok sebagai candu. Tentu saja ini patah oleh jawabnnya Mbah Mus. Sebagai perokok, Mbah Mus berhasil berhenti. Tidak kemudian kecanduan. Atau tak perlu jauh-jauh. Saya adalah perokok berat, tapi tidak kejang-kejang meski tak merokok selama berpuasa. Harusnya antirokok ini mulai menyadari, bahwa yang candu itu manisnya senyummu. Iya kamu.
\nSaya agak curiga nih, keyword yang digunakan antirokok ini cuma \"dampak negatif rokok\", makanya referensinya hanya mengarah kepada keburukan. Coba sesekali memberanikan diri pakai keyword \"dampak positif rokok\" mungkin akan beda cara berargumennya. Meski tetap membenci rokok, setidaknya ada keadilan dalam berpikir dan bersikap.
\nKetiga, soal ekonomi. Ini selalu menjadi isu yang tak akan pernah ada habisnya. Bagi antirokok, rokok adalah barang haram yang membunuh dan membuat miskin. BPS saja sering mengeluarkan survei soal ini. Tolak ukurnya tentu saja daya beli dan nongkrong di mall. Lha gimana mau nongkrong di mall, wong mallnya saja di desa ga ada. Alfamart dan Indomaret saja jauhnya minta ampun. Pulang dari sawah ya nongkrongnya di teras rumah, sambil jedal jedul. Tapi apakah mereka merasa miskin? Tentu saja tidak.
\nHarusnya juga antirokok sadar, sektor hulu dari IHT adalah perkebunan tembakau dan cengkeh. Perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, sementara perkebunan cengkeh ada di 30 provinsi. Mayoritas lahannya milik rakyat dan dibudidayakan sepenuhnya oleh rakyat, yang menunjukkan kemandirian dan kedaulatan ekonomi mereka. Keduanya memang bukan komoditas pangan, tetapi sifat-sifat polikulturnya, membuat keduanya bisa menopang ketahanan pangan.
\nSebesar 93 persen produk IHT adalah kretek. Sisanya adalah cerutu, farmasi, produk makanan, kosmetik, dan lainnya. Dari hulu hingga hilir, IHT menyerap jutaan tenaga kerja. Dengan demikian, IHT telah membantu pemerintah mengentaskan kemiskinan, menekan pengangguran, dan meningkatkan kesejahteraan. Sejarah mencatat IHT sebagai industri strategis nasional adalah sektor perekonomian yang paling tahan di saat krisis.
\nMelalui penerimaan cukai, IHT turut memberikan sumbangan sebesar 8,92 persen terhadap APBN. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan pendapatan pajak dari sektor minyak dan gas (migas) yang hanya 3,03 persen.
\nKeberadaan IHT memberi sumbangsih besar pada penyerapan tenaga kerja mulai dari hulu sampai hilir. Di sektor perkebunan menyerap 2 juta petani tembakau dan 1,5 juta petani cengkeh (on farm). Belum termasuk serapan tenaga kerja tidak langsung, karena di sektor hulu terdapat ragam pekerjaan lain17.
\nDi sektor manufaktur dan perdagangan menyerap 600.000 karyawan pabrik dan 2 juta pedagang ritel (off farm). Totalnya 6,1 juta tenaga kerja yang bergantung langsung terhadap industri ini. Dari total serapan tenaga kerja yang terlibat secara on farm dan off farm, baik langsung maupun tidak langsung, di dalam IHT dapat memberi penghidupan kepada 30,5 juta orang.
\nMungkin sudah menjadi fitrah rokok akan terus dimusuhi, meski hasilnya selalu dirindukan. Benar dhawuhnya Mbah Mus, yang berkampanye madharat lebih kuat karena disponsori orang barat yang kuat. Silahkan baca dan cermati https:\/\/tobaccocontrolgrants.org, di sini panjenengan semua bisa tau lembaga mana penerima dana dan apa agendanya di Indonesia selama tenggat waktu tertentu.
\nSepertinya memang kita harus hidup bersama sebagaimana tembakau dan cengkeh yang diproduksi menjadi kretek, ketika banyak orang melemparinya isu bahaya laten rokok, tetapi ia membalasnya dengan penghasilan negara yang amat besar.<\/p>\n","post_title":"Ketika Gus Mus Ditanya Perihal Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-gus-mus-ditanya-perihal-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-05 07:58:28","post_modified_gmt":"2019-10-05 00:58:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6120","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6050,"post_author":"919","post_date":"2019-09-11 10:18:05","post_date_gmt":"2019-09-11 03:18:05","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n