Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia.
<\/p>\n\n\n\n
Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong> Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia. Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia. AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong> Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia. Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia. Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS. AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong> Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia. Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia. Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS. AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong> Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia. Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia. Berdasarkan data di tahun 1960-2017 produksi daun tembakau dunia meningkat dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata sebesar 1,21 persen per tahun. Sejalan dengan itu, produksi rokok dalam kurun waktu yang sama juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,72 persen per tahun.<\/p>\n\n\n\n Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS. AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong> Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia. Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia. Pertanian tembakau dan industri rokok telah lama berkembang pesat dan tersebar hampir merata di seluruh penjuru dunia. Perkembangan kinerja industri ini ditunjukkan oleh perkembangan dalam produksi dan konsumsi tembakau maupun rokok dalam rentang waktu 50-an tahun terakhir. Berdasarkan data di tahun 1960-2017 produksi daun tembakau dunia meningkat dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata sebesar 1,21 persen per tahun. Sejalan dengan itu, produksi rokok dalam kurun waktu yang sama juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,72 persen per tahun.<\/p>\n\n\n\n Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS. AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong> Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia. Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebuah negara, maka posisinya akan menduduki peringkat ke-23 terbesar di dunia dalam hal produk domestik bruto (PDB), melebihi PDB dari negara-negara seperti Norwegia dan Arab Saudi. Pertanian tembakau dan industri rokok telah lama berkembang pesat dan tersebar hampir merata di seluruh penjuru dunia. Perkembangan kinerja industri ini ditunjukkan oleh perkembangan dalam produksi dan konsumsi tembakau maupun rokok dalam rentang waktu 50-an tahun terakhir. Berdasarkan data di tahun 1960-2017 produksi daun tembakau dunia meningkat dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata sebesar 1,21 persen per tahun. Sejalan dengan itu, produksi rokok dalam kurun waktu yang sama juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,72 persen per tahun.<\/p>\n\n\n\n Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS. AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong> Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia. Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia. Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebuah negara, maka posisinya akan menduduki peringkat ke-23 terbesar di dunia dalam hal produk domestik bruto (PDB), melebihi PDB dari negara-negara seperti Norwegia dan Arab Saudi. Pertanian tembakau dan industri rokok telah lama berkembang pesat dan tersebar hampir merata di seluruh penjuru dunia. Perkembangan kinerja industri ini ditunjukkan oleh perkembangan dalam produksi dan konsumsi tembakau maupun rokok dalam rentang waktu 50-an tahun terakhir. Berdasarkan data di tahun 1960-2017 produksi daun tembakau dunia meningkat dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata sebesar 1,21 persen per tahun. Sejalan dengan itu, produksi rokok dalam kurun waktu yang sama juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,72 persen per tahun.<\/p>\n\n\n\n Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS. AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong> Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia. Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia. Secara keseluruhan pasar tembakau global bernilai 378 milyar dollar AS, dan bertumbuh sebesar 4,6 persen pada tahun 2007. Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau global diproyeksikan meningkat 23 persen lagi, mencapai 464,4 milyar dollar AS.<\/p>\n\n\n\n Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebuah negara, maka posisinya akan menduduki peringkat ke-23 terbesar di dunia dalam hal produk domestik bruto (PDB), melebihi PDB dari negara-negara seperti Norwegia dan Arab Saudi. Pertanian tembakau dan industri rokok telah lama berkembang pesat dan tersebar hampir merata di seluruh penjuru dunia. Perkembangan kinerja industri ini ditunjukkan oleh perkembangan dalam produksi dan konsumsi tembakau maupun rokok dalam rentang waktu 50-an tahun terakhir. Berdasarkan data di tahun 1960-2017 produksi daun tembakau dunia meningkat dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata sebesar 1,21 persen per tahun. Sejalan dengan itu, produksi rokok dalam kurun waktu yang sama juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,72 persen per tahun.<\/p>\n\n\n\n Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS. AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong> Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia. Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia. Tembakau dan produk tembakau memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ekonomi dan perdagangan dunia. Komoditi tembakau merupakan bisnis besar dalam perdagangan internasional. Industri ini berperan besar dalam menyediakan kesempatan kerja dan sumber pendapatan bagi masyarakat dunia. Tak hanya itu, industri tembakau dan rokok telah memberikan sumbangan besar terhadap pendapatan negara, baik negara maju maupun negara berkembang. Secara keseluruhan pasar tembakau global bernilai 378 milyar dollar AS, dan bertumbuh sebesar 4,6 persen pada tahun 2007. Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau global diproyeksikan meningkat 23 persen lagi, mencapai 464,4 milyar dollar AS.<\/p>\n\n\n\n Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebuah negara, maka posisinya akan menduduki peringkat ke-23 terbesar di dunia dalam hal produk domestik bruto (PDB), melebihi PDB dari negara-negara seperti Norwegia dan Arab Saudi. Pertanian tembakau dan industri rokok telah lama berkembang pesat dan tersebar hampir merata di seluruh penjuru dunia. Perkembangan kinerja industri ini ditunjukkan oleh perkembangan dalam produksi dan konsumsi tembakau maupun rokok dalam rentang waktu 50-an tahun terakhir. Berdasarkan data di tahun 1960-2017 produksi daun tembakau dunia meningkat dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata sebesar 1,21 persen per tahun. Sejalan dengan itu, produksi rokok dalam kurun waktu yang sama juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,72 persen per tahun.<\/p>\n\n\n\n Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS. AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong> Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia. Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia. Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut. Tembakau dan produk tembakau memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ekonomi dan perdagangan dunia. Komoditi tembakau merupakan bisnis besar dalam perdagangan internasional. Industri ini berperan besar dalam menyediakan kesempatan kerja dan sumber pendapatan bagi masyarakat dunia. Tak hanya itu, industri tembakau dan rokok telah memberikan sumbangan besar terhadap pendapatan negara, baik negara maju maupun negara berkembang. Secara keseluruhan pasar tembakau global bernilai 378 milyar dollar AS, dan bertumbuh sebesar 4,6 persen pada tahun 2007. Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau global diproyeksikan meningkat 23 persen lagi, mencapai 464,4 milyar dollar AS.<\/p>\n\n\n\n Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebuah negara, maka posisinya akan menduduki peringkat ke-23 terbesar di dunia dalam hal produk domestik bruto (PDB), melebihi PDB dari negara-negara seperti Norwegia dan Arab Saudi. Pertanian tembakau dan industri rokok telah lama berkembang pesat dan tersebar hampir merata di seluruh penjuru dunia. Perkembangan kinerja industri ini ditunjukkan oleh perkembangan dalam produksi dan konsumsi tembakau maupun rokok dalam rentang waktu 50-an tahun terakhir. Berdasarkan data di tahun 1960-2017 produksi daun tembakau dunia meningkat dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata sebesar 1,21 persen per tahun. Sejalan dengan itu, produksi rokok dalam kurun waktu yang sama juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,72 persen per tahun.<\/p>\n\n\n\n Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS. AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong> Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia. Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia. \u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin. Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut. Tembakau dan produk tembakau memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ekonomi dan perdagangan dunia. Komoditi tembakau merupakan bisnis besar dalam perdagangan internasional. Industri ini berperan besar dalam menyediakan kesempatan kerja dan sumber pendapatan bagi masyarakat dunia. Tak hanya itu, industri tembakau dan rokok telah memberikan sumbangan besar terhadap pendapatan negara, baik negara maju maupun negara berkembang. Secara keseluruhan pasar tembakau global bernilai 378 milyar dollar AS, dan bertumbuh sebesar 4,6 persen pada tahun 2007. Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau global diproyeksikan meningkat 23 persen lagi, mencapai 464,4 milyar dollar AS.<\/p>\n\n\n\n Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebuah negara, maka posisinya akan menduduki peringkat ke-23 terbesar di dunia dalam hal produk domestik bruto (PDB), melebihi PDB dari negara-negara seperti Norwegia dan Arab Saudi. Pertanian tembakau dan industri rokok telah lama berkembang pesat dan tersebar hampir merata di seluruh penjuru dunia. Perkembangan kinerja industri ini ditunjukkan oleh perkembangan dalam produksi dan konsumsi tembakau maupun rokok dalam rentang waktu 50-an tahun terakhir. Berdasarkan data di tahun 1960-2017 produksi daun tembakau dunia meningkat dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata sebesar 1,21 persen per tahun. Sejalan dengan itu, produksi rokok dalam kurun waktu yang sama juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,72 persen per tahun.<\/p>\n\n\n\n Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS. AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong> Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia. Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia. Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya. \u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin. Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut. Tembakau dan produk tembakau memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ekonomi dan perdagangan dunia. Komoditi tembakau merupakan bisnis besar dalam perdagangan internasional. Industri ini berperan besar dalam menyediakan kesempatan kerja dan sumber pendapatan bagi masyarakat dunia. Tak hanya itu, industri tembakau dan rokok telah memberikan sumbangan besar terhadap pendapatan negara, baik negara maju maupun negara berkembang. Secara keseluruhan pasar tembakau global bernilai 378 milyar dollar AS, dan bertumbuh sebesar 4,6 persen pada tahun 2007. Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau global diproyeksikan meningkat 23 persen lagi, mencapai 464,4 milyar dollar AS.<\/p>\n\n\n\n Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebuah negara, maka posisinya akan menduduki peringkat ke-23 terbesar di dunia dalam hal produk domestik bruto (PDB), melebihi PDB dari negara-negara seperti Norwegia dan Arab Saudi. Pertanian tembakau dan industri rokok telah lama berkembang pesat dan tersebar hampir merata di seluruh penjuru dunia. Perkembangan kinerja industri ini ditunjukkan oleh perkembangan dalam produksi dan konsumsi tembakau maupun rokok dalam rentang waktu 50-an tahun terakhir. Berdasarkan data di tahun 1960-2017 produksi daun tembakau dunia meningkat dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata sebesar 1,21 persen per tahun. Sejalan dengan itu, produksi rokok dalam kurun waktu yang sama juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,72 persen per tahun.<\/p>\n\n\n\n Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS. AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong> Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia. Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia. Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan. Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya. \u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin. Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut. Tembakau dan produk tembakau memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ekonomi dan perdagangan dunia. Komoditi tembakau merupakan bisnis besar dalam perdagangan internasional. Industri ini berperan besar dalam menyediakan kesempatan kerja dan sumber pendapatan bagi masyarakat dunia. Tak hanya itu, industri tembakau dan rokok telah memberikan sumbangan besar terhadap pendapatan negara, baik negara maju maupun negara berkembang. Secara keseluruhan pasar tembakau global bernilai 378 milyar dollar AS, dan bertumbuh sebesar 4,6 persen pada tahun 2007. Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau global diproyeksikan meningkat 23 persen lagi, mencapai 464,4 milyar dollar AS.<\/p>\n\n\n\n Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebuah negara, maka posisinya akan menduduki peringkat ke-23 terbesar di dunia dalam hal produk domestik bruto (PDB), melebihi PDB dari negara-negara seperti Norwegia dan Arab Saudi. Pertanian tembakau dan industri rokok telah lama berkembang pesat dan tersebar hampir merata di seluruh penjuru dunia. Perkembangan kinerja industri ini ditunjukkan oleh perkembangan dalam produksi dan konsumsi tembakau maupun rokok dalam rentang waktu 50-an tahun terakhir. Berdasarkan data di tahun 1960-2017 produksi daun tembakau dunia meningkat dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata sebesar 1,21 persen per tahun. Sejalan dengan itu, produksi rokok dalam kurun waktu yang sama juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,72 persen per tahun.<\/p>\n\n\n\n Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS. AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong> Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia. Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia. \u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin. Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan. Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya. \u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin. Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut. Tembakau dan produk tembakau memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ekonomi dan perdagangan dunia. Komoditi tembakau merupakan bisnis besar dalam perdagangan internasional. Industri ini berperan besar dalam menyediakan kesempatan kerja dan sumber pendapatan bagi masyarakat dunia. Tak hanya itu, industri tembakau dan rokok telah memberikan sumbangan besar terhadap pendapatan negara, baik negara maju maupun negara berkembang. Secara keseluruhan pasar tembakau global bernilai 378 milyar dollar AS, dan bertumbuh sebesar 4,6 persen pada tahun 2007. Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau global diproyeksikan meningkat 23 persen lagi, mencapai 464,4 milyar dollar AS.<\/p>\n\n\n\n Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebuah negara, maka posisinya akan menduduki peringkat ke-23 terbesar di dunia dalam hal produk domestik bruto (PDB), melebihi PDB dari negara-negara seperti Norwegia dan Arab Saudi. Pertanian tembakau dan industri rokok telah lama berkembang pesat dan tersebar hampir merata di seluruh penjuru dunia. Perkembangan kinerja industri ini ditunjukkan oleh perkembangan dalam produksi dan konsumsi tembakau maupun rokok dalam rentang waktu 50-an tahun terakhir. Berdasarkan data di tahun 1960-2017 produksi daun tembakau dunia meningkat dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata sebesar 1,21 persen per tahun. Sejalan dengan itu, produksi rokok dalam kurun waktu yang sama juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,72 persen per tahun.<\/p>\n\n\n\n Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS. AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong> Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia. Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia. Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan. \u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin. Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan. Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya. \u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin. Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut. Tembakau dan produk tembakau memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ekonomi dan perdagangan dunia. Komoditi tembakau merupakan bisnis besar dalam perdagangan internasional. Industri ini berperan besar dalam menyediakan kesempatan kerja dan sumber pendapatan bagi masyarakat dunia. Tak hanya itu, industri tembakau dan rokok telah memberikan sumbangan besar terhadap pendapatan negara, baik negara maju maupun negara berkembang. Secara keseluruhan pasar tembakau global bernilai 378 milyar dollar AS, dan bertumbuh sebesar 4,6 persen pada tahun 2007. Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau global diproyeksikan meningkat 23 persen lagi, mencapai 464,4 milyar dollar AS.<\/p>\n\n\n\n Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebuah negara, maka posisinya akan menduduki peringkat ke-23 terbesar di dunia dalam hal produk domestik bruto (PDB), melebihi PDB dari negara-negara seperti Norwegia dan Arab Saudi. Pertanian tembakau dan industri rokok telah lama berkembang pesat dan tersebar hampir merata di seluruh penjuru dunia. Perkembangan kinerja industri ini ditunjukkan oleh perkembangan dalam produksi dan konsumsi tembakau maupun rokok dalam rentang waktu 50-an tahun terakhir. Berdasarkan data di tahun 1960-2017 produksi daun tembakau dunia meningkat dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata sebesar 1,21 persen per tahun. Sejalan dengan itu, produksi rokok dalam kurun waktu yang sama juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,72 persen per tahun.<\/p>\n\n\n\n Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS. AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong> Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia. Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia. Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin. Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan. \u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin. Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan. Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya. \u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin. Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut. Tembakau dan produk tembakau memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ekonomi dan perdagangan dunia. Komoditi tembakau merupakan bisnis besar dalam perdagangan internasional. Industri ini berperan besar dalam menyediakan kesempatan kerja dan sumber pendapatan bagi masyarakat dunia. Tak hanya itu, industri tembakau dan rokok telah memberikan sumbangan besar terhadap pendapatan negara, baik negara maju maupun negara berkembang. Secara keseluruhan pasar tembakau global bernilai 378 milyar dollar AS, dan bertumbuh sebesar 4,6 persen pada tahun 2007. Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau global diproyeksikan meningkat 23 persen lagi, mencapai 464,4 milyar dollar AS.<\/p>\n\n\n\n Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebuah negara, maka posisinya akan menduduki peringkat ke-23 terbesar di dunia dalam hal produk domestik bruto (PDB), melebihi PDB dari negara-negara seperti Norwegia dan Arab Saudi. Pertanian tembakau dan industri rokok telah lama berkembang pesat dan tersebar hampir merata di seluruh penjuru dunia. Perkembangan kinerja industri ini ditunjukkan oleh perkembangan dalam produksi dan konsumsi tembakau maupun rokok dalam rentang waktu 50-an tahun terakhir. Berdasarkan data di tahun 1960-2017 produksi daun tembakau dunia meningkat dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata sebesar 1,21 persen per tahun. Sejalan dengan itu, produksi rokok dalam kurun waktu yang sama juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,72 persen per tahun.<\/p>\n\n\n\n Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS. AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong> Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia. Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia. Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin. Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan. \u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin. Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan. Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya. \u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin. Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut. Tembakau dan produk tembakau memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ekonomi dan perdagangan dunia. Komoditi tembakau merupakan bisnis besar dalam perdagangan internasional. Industri ini berperan besar dalam menyediakan kesempatan kerja dan sumber pendapatan bagi masyarakat dunia. Tak hanya itu, industri tembakau dan rokok telah memberikan sumbangan besar terhadap pendapatan negara, baik negara maju maupun negara berkembang. Secara keseluruhan pasar tembakau global bernilai 378 milyar dollar AS, dan bertumbuh sebesar 4,6 persen pada tahun 2007. Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau global diproyeksikan meningkat 23 persen lagi, mencapai 464,4 milyar dollar AS.<\/p>\n\n\n\n Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebuah negara, maka posisinya akan menduduki peringkat ke-23 terbesar di dunia dalam hal produk domestik bruto (PDB), melebihi PDB dari negara-negara seperti Norwegia dan Arab Saudi. Pertanian tembakau dan industri rokok telah lama berkembang pesat dan tersebar hampir merata di seluruh penjuru dunia. Perkembangan kinerja industri ini ditunjukkan oleh perkembangan dalam produksi dan konsumsi tembakau maupun rokok dalam rentang waktu 50-an tahun terakhir. Berdasarkan data di tahun 1960-2017 produksi daun tembakau dunia meningkat dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata sebesar 1,21 persen per tahun. Sejalan dengan itu, produksi rokok dalam kurun waktu yang sama juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,72 persen per tahun.<\/p>\n\n\n\n Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS. AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong> Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia. Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia. Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin. Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan. \u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin. Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan. Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya. \u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin. Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut. Tembakau dan produk tembakau memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ekonomi dan perdagangan dunia. Komoditi tembakau merupakan bisnis besar dalam perdagangan internasional. Industri ini berperan besar dalam menyediakan kesempatan kerja dan sumber pendapatan bagi masyarakat dunia. Tak hanya itu, industri tembakau dan rokok telah memberikan sumbangan besar terhadap pendapatan negara, baik negara maju maupun negara berkembang. Secara keseluruhan pasar tembakau global bernilai 378 milyar dollar AS, dan bertumbuh sebesar 4,6 persen pada tahun 2007. Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau global diproyeksikan meningkat 23 persen lagi, mencapai 464,4 milyar dollar AS.<\/p>\n\n\n\n Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebuah negara, maka posisinya akan menduduki peringkat ke-23 terbesar di dunia dalam hal produk domestik bruto (PDB), melebihi PDB dari negara-negara seperti Norwegia dan Arab Saudi. Pertanian tembakau dan industri rokok telah lama berkembang pesat dan tersebar hampir merata di seluruh penjuru dunia. Perkembangan kinerja industri ini ditunjukkan oleh perkembangan dalam produksi dan konsumsi tembakau maupun rokok dalam rentang waktu 50-an tahun terakhir. Berdasarkan data di tahun 1960-2017 produksi daun tembakau dunia meningkat dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata sebesar 1,21 persen per tahun. Sejalan dengan itu, produksi rokok dalam kurun waktu yang sama juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,72 persen per tahun.<\/p>\n\n\n\n Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS. AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong> Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia. Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia. Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi. Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin. Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan. \u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin. Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan. Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya. \u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin. Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut. Tembakau dan produk tembakau memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ekonomi dan perdagangan dunia. Komoditi tembakau merupakan bisnis besar dalam perdagangan internasional. Industri ini berperan besar dalam menyediakan kesempatan kerja dan sumber pendapatan bagi masyarakat dunia. Tak hanya itu, industri tembakau dan rokok telah memberikan sumbangan besar terhadap pendapatan negara, baik negara maju maupun negara berkembang. Secara keseluruhan pasar tembakau global bernilai 378 milyar dollar AS, dan bertumbuh sebesar 4,6 persen pada tahun 2007. Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau global diproyeksikan meningkat 23 persen lagi, mencapai 464,4 milyar dollar AS.<\/p>\n\n\n\n Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebuah negara, maka posisinya akan menduduki peringkat ke-23 terbesar di dunia dalam hal produk domestik bruto (PDB), melebihi PDB dari negara-negara seperti Norwegia dan Arab Saudi. Pertanian tembakau dan industri rokok telah lama berkembang pesat dan tersebar hampir merata di seluruh penjuru dunia. Perkembangan kinerja industri ini ditunjukkan oleh perkembangan dalam produksi dan konsumsi tembakau maupun rokok dalam rentang waktu 50-an tahun terakhir. Berdasarkan data di tahun 1960-2017 produksi daun tembakau dunia meningkat dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata sebesar 1,21 persen per tahun. Sejalan dengan itu, produksi rokok dalam kurun waktu yang sama juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,72 persen per tahun.<\/p>\n\n\n\n Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS. AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong> Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia. Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia. \u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin. Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi. Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin. Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan. \u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin. Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan. Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya. \u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin. Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut. Tembakau dan produk tembakau memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ekonomi dan perdagangan dunia. Komoditi tembakau merupakan bisnis besar dalam perdagangan internasional. Industri ini berperan besar dalam menyediakan kesempatan kerja dan sumber pendapatan bagi masyarakat dunia. Tak hanya itu, industri tembakau dan rokok telah memberikan sumbangan besar terhadap pendapatan negara, baik negara maju maupun negara berkembang. Secara keseluruhan pasar tembakau global bernilai 378 milyar dollar AS, dan bertumbuh sebesar 4,6 persen pada tahun 2007. Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau global diproyeksikan meningkat 23 persen lagi, mencapai 464,4 milyar dollar AS.<\/p>\n\n\n\n Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebuah negara, maka posisinya akan menduduki peringkat ke-23 terbesar di dunia dalam hal produk domestik bruto (PDB), melebihi PDB dari negara-negara seperti Norwegia dan Arab Saudi. Pertanian tembakau dan industri rokok telah lama berkembang pesat dan tersebar hampir merata di seluruh penjuru dunia. Perkembangan kinerja industri ini ditunjukkan oleh perkembangan dalam produksi dan konsumsi tembakau maupun rokok dalam rentang waktu 50-an tahun terakhir. Berdasarkan data di tahun 1960-2017 produksi daun tembakau dunia meningkat dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata sebesar 1,21 persen per tahun. Sejalan dengan itu, produksi rokok dalam kurun waktu yang sama juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,72 persen per tahun.<\/p>\n\n\n\n Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS. AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong> Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia. Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia. Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut. \u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin. Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi. Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin. Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan. \u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin. Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan. Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya. \u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin. Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut. Tembakau dan produk tembakau memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ekonomi dan perdagangan dunia. Komoditi tembakau merupakan bisnis besar dalam perdagangan internasional. Industri ini berperan besar dalam menyediakan kesempatan kerja dan sumber pendapatan bagi masyarakat dunia. Tak hanya itu, industri tembakau dan rokok telah memberikan sumbangan besar terhadap pendapatan negara, baik negara maju maupun negara berkembang. Secara keseluruhan pasar tembakau global bernilai 378 milyar dollar AS, dan bertumbuh sebesar 4,6 persen pada tahun 2007. Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau global diproyeksikan meningkat 23 persen lagi, mencapai 464,4 milyar dollar AS.<\/p>\n\n\n\n Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebuah negara, maka posisinya akan menduduki peringkat ke-23 terbesar di dunia dalam hal produk domestik bruto (PDB), melebihi PDB dari negara-negara seperti Norwegia dan Arab Saudi. Pertanian tembakau dan industri rokok telah lama berkembang pesat dan tersebar hampir merata di seluruh penjuru dunia. Perkembangan kinerja industri ini ditunjukkan oleh perkembangan dalam produksi dan konsumsi tembakau maupun rokok dalam rentang waktu 50-an tahun terakhir. Berdasarkan data di tahun 1960-2017 produksi daun tembakau dunia meningkat dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata sebesar 1,21 persen per tahun. Sejalan dengan itu, produksi rokok dalam kurun waktu yang sama juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,72 persen per tahun.<\/p>\n\n\n\n Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS. AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong> Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia. Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia. Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut. \u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin. Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi. Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin. Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan. \u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin. Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan. Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya. \u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin. Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut. Tembakau dan produk tembakau memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ekonomi dan perdagangan dunia. Komoditi tembakau merupakan bisnis besar dalam perdagangan internasional. Industri ini berperan besar dalam menyediakan kesempatan kerja dan sumber pendapatan bagi masyarakat dunia. Tak hanya itu, industri tembakau dan rokok telah memberikan sumbangan besar terhadap pendapatan negara, baik negara maju maupun negara berkembang. Secara keseluruhan pasar tembakau global bernilai 378 milyar dollar AS, dan bertumbuh sebesar 4,6 persen pada tahun 2007. Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau global diproyeksikan meningkat 23 persen lagi, mencapai 464,4 milyar dollar AS.<\/p>\n\n\n\n Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebuah negara, maka posisinya akan menduduki peringkat ke-23 terbesar di dunia dalam hal produk domestik bruto (PDB), melebihi PDB dari negara-negara seperti Norwegia dan Arab Saudi. Pertanian tembakau dan industri rokok telah lama berkembang pesat dan tersebar hampir merata di seluruh penjuru dunia. Perkembangan kinerja industri ini ditunjukkan oleh perkembangan dalam produksi dan konsumsi tembakau maupun rokok dalam rentang waktu 50-an tahun terakhir. Berdasarkan data di tahun 1960-2017 produksi daun tembakau dunia meningkat dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata sebesar 1,21 persen per tahun. Sejalan dengan itu, produksi rokok dalam kurun waktu yang sama juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,72 persen per tahun.<\/p>\n\n\n\n Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS. AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong> Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia. Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia. Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut. \u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin. Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi. Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin. Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan. \u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin. Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan. Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya. \u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin. Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut. Tembakau dan produk tembakau memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ekonomi dan perdagangan dunia. Komoditi tembakau merupakan bisnis besar dalam perdagangan internasional. Industri ini berperan besar dalam menyediakan kesempatan kerja dan sumber pendapatan bagi masyarakat dunia. Tak hanya itu, industri tembakau dan rokok telah memberikan sumbangan besar terhadap pendapatan negara, baik negara maju maupun negara berkembang. Secara keseluruhan pasar tembakau global bernilai 378 milyar dollar AS, dan bertumbuh sebesar 4,6 persen pada tahun 2007. Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau global diproyeksikan meningkat 23 persen lagi, mencapai 464,4 milyar dollar AS.<\/p>\n\n\n\n Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebuah negara, maka posisinya akan menduduki peringkat ke-23 terbesar di dunia dalam hal produk domestik bruto (PDB), melebihi PDB dari negara-negara seperti Norwegia dan Arab Saudi. Pertanian tembakau dan industri rokok telah lama berkembang pesat dan tersebar hampir merata di seluruh penjuru dunia. Perkembangan kinerja industri ini ditunjukkan oleh perkembangan dalam produksi dan konsumsi tembakau maupun rokok dalam rentang waktu 50-an tahun terakhir. Berdasarkan data di tahun 1960-2017 produksi daun tembakau dunia meningkat dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata sebesar 1,21 persen per tahun. Sejalan dengan itu, produksi rokok dalam kurun waktu yang sama juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,72 persen per tahun.<\/p>\n\n\n\n Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS. AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong> Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia. Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia. Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi. Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut. \u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin. Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi. Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin. Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan. \u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin. Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan. Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya. \u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin. Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut. Tembakau dan produk tembakau memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ekonomi dan perdagangan dunia. Komoditi tembakau merupakan bisnis besar dalam perdagangan internasional. Industri ini berperan besar dalam menyediakan kesempatan kerja dan sumber pendapatan bagi masyarakat dunia. Tak hanya itu, industri tembakau dan rokok telah memberikan sumbangan besar terhadap pendapatan negara, baik negara maju maupun negara berkembang. Secara keseluruhan pasar tembakau global bernilai 378 milyar dollar AS, dan bertumbuh sebesar 4,6 persen pada tahun 2007. Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau global diproyeksikan meningkat 23 persen lagi, mencapai 464,4 milyar dollar AS.<\/p>\n\n\n\n Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebuah negara, maka posisinya akan menduduki peringkat ke-23 terbesar di dunia dalam hal produk domestik bruto (PDB), melebihi PDB dari negara-negara seperti Norwegia dan Arab Saudi. Pertanian tembakau dan industri rokok telah lama berkembang pesat dan tersebar hampir merata di seluruh penjuru dunia. Perkembangan kinerja industri ini ditunjukkan oleh perkembangan dalam produksi dan konsumsi tembakau maupun rokok dalam rentang waktu 50-an tahun terakhir. Berdasarkan data di tahun 1960-2017 produksi daun tembakau dunia meningkat dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata sebesar 1,21 persen per tahun. Sejalan dengan itu, produksi rokok dalam kurun waktu yang sama juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,72 persen per tahun.<\/p>\n\n\n\n Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS. AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong> Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia. Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia. Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan. Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi. Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut. \u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin. Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi. Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin. Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan. \u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin. Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan. Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya. \u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin. Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut. Tembakau dan produk tembakau memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ekonomi dan perdagangan dunia. Komoditi tembakau merupakan bisnis besar dalam perdagangan internasional. Industri ini berperan besar dalam menyediakan kesempatan kerja dan sumber pendapatan bagi masyarakat dunia. Tak hanya itu, industri tembakau dan rokok telah memberikan sumbangan besar terhadap pendapatan negara, baik negara maju maupun negara berkembang. Secara keseluruhan pasar tembakau global bernilai 378 milyar dollar AS, dan bertumbuh sebesar 4,6 persen pada tahun 2007. Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau global diproyeksikan meningkat 23 persen lagi, mencapai 464,4 milyar dollar AS.<\/p>\n\n\n\n Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebuah negara, maka posisinya akan menduduki peringkat ke-23 terbesar di dunia dalam hal produk domestik bruto (PDB), melebihi PDB dari negara-negara seperti Norwegia dan Arab Saudi. Pertanian tembakau dan industri rokok telah lama berkembang pesat dan tersebar hampir merata di seluruh penjuru dunia. Perkembangan kinerja industri ini ditunjukkan oleh perkembangan dalam produksi dan konsumsi tembakau maupun rokok dalam rentang waktu 50-an tahun terakhir. Berdasarkan data di tahun 1960-2017 produksi daun tembakau dunia meningkat dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata sebesar 1,21 persen per tahun. Sejalan dengan itu, produksi rokok dalam kurun waktu yang sama juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,72 persen per tahun.<\/p>\n\n\n\n Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS. AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong> Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia. Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia. Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan. Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi. Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut. \u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin. Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi. Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin. Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan. \u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin. Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan. Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya. \u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin. Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut. Tembakau dan produk tembakau memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ekonomi dan perdagangan dunia. Komoditi tembakau merupakan bisnis besar dalam perdagangan internasional. Industri ini berperan besar dalam menyediakan kesempatan kerja dan sumber pendapatan bagi masyarakat dunia. Tak hanya itu, industri tembakau dan rokok telah memberikan sumbangan besar terhadap pendapatan negara, baik negara maju maupun negara berkembang. Secara keseluruhan pasar tembakau global bernilai 378 milyar dollar AS, dan bertumbuh sebesar 4,6 persen pada tahun 2007. Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau global diproyeksikan meningkat 23 persen lagi, mencapai 464,4 milyar dollar AS.<\/p>\n\n\n\n Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebuah negara, maka posisinya akan menduduki peringkat ke-23 terbesar di dunia dalam hal produk domestik bruto (PDB), melebihi PDB dari negara-negara seperti Norwegia dan Arab Saudi. Pertanian tembakau dan industri rokok telah lama berkembang pesat dan tersebar hampir merata di seluruh penjuru dunia. Perkembangan kinerja industri ini ditunjukkan oleh perkembangan dalam produksi dan konsumsi tembakau maupun rokok dalam rentang waktu 50-an tahun terakhir. Berdasarkan data di tahun 1960-2017 produksi daun tembakau dunia meningkat dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata sebesar 1,21 persen per tahun. Sejalan dengan itu, produksi rokok dalam kurun waktu yang sama juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,72 persen per tahun.<\/p>\n\n\n\n Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS. AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong> Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia. Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia. Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya. Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan. Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi. Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut. \u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin. Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi. Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin. Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan. \u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin. Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan. Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya. \u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin. Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut. Tembakau dan produk tembakau memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ekonomi dan perdagangan dunia. Komoditi tembakau merupakan bisnis besar dalam perdagangan internasional. Industri ini berperan besar dalam menyediakan kesempatan kerja dan sumber pendapatan bagi masyarakat dunia. Tak hanya itu, industri tembakau dan rokok telah memberikan sumbangan besar terhadap pendapatan negara, baik negara maju maupun negara berkembang. Secara keseluruhan pasar tembakau global bernilai 378 milyar dollar AS, dan bertumbuh sebesar 4,6 persen pada tahun 2007. Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau global diproyeksikan meningkat 23 persen lagi, mencapai 464,4 milyar dollar AS.<\/p>\n\n\n\n Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebuah negara, maka posisinya akan menduduki peringkat ke-23 terbesar di dunia dalam hal produk domestik bruto (PDB), melebihi PDB dari negara-negara seperti Norwegia dan Arab Saudi. Pertanian tembakau dan industri rokok telah lama berkembang pesat dan tersebar hampir merata di seluruh penjuru dunia. Perkembangan kinerja industri ini ditunjukkan oleh perkembangan dalam produksi dan konsumsi tembakau maupun rokok dalam rentang waktu 50-an tahun terakhir. Berdasarkan data di tahun 1960-2017 produksi daun tembakau dunia meningkat dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata sebesar 1,21 persen per tahun. Sejalan dengan itu, produksi rokok dalam kurun waktu yang sama juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,72 persen per tahun.<\/p>\n\n\n\n Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS. AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong> Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia. Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia. Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya. Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan. Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi. Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut. \u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin. Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi. Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin. Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan. \u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin. Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan. Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya. \u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin. Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut. Tembakau dan produk tembakau memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ekonomi dan perdagangan dunia. Komoditi tembakau merupakan bisnis besar dalam perdagangan internasional. Industri ini berperan besar dalam menyediakan kesempatan kerja dan sumber pendapatan bagi masyarakat dunia. Tak hanya itu, industri tembakau dan rokok telah memberikan sumbangan besar terhadap pendapatan negara, baik negara maju maupun negara berkembang. Secara keseluruhan pasar tembakau global bernilai 378 milyar dollar AS, dan bertumbuh sebesar 4,6 persen pada tahun 2007. Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau global diproyeksikan meningkat 23 persen lagi, mencapai 464,4 milyar dollar AS.<\/p>\n\n\n\n Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebuah negara, maka posisinya akan menduduki peringkat ke-23 terbesar di dunia dalam hal produk domestik bruto (PDB), melebihi PDB dari negara-negara seperti Norwegia dan Arab Saudi. Pertanian tembakau dan industri rokok telah lama berkembang pesat dan tersebar hampir merata di seluruh penjuru dunia. Perkembangan kinerja industri ini ditunjukkan oleh perkembangan dalam produksi dan konsumsi tembakau maupun rokok dalam rentang waktu 50-an tahun terakhir. Berdasarkan data di tahun 1960-2017 produksi daun tembakau dunia meningkat dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata sebesar 1,21 persen per tahun. Sejalan dengan itu, produksi rokok dalam kurun waktu yang sama juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,72 persen per tahun.<\/p>\n\n\n\n Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS. AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong> Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia. Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia. Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya. Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan. Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi. Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut. \u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin. Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi. Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin. Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan. \u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin. Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan. Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya. \u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin. Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut. Tembakau dan produk tembakau memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ekonomi dan perdagangan dunia. Komoditi tembakau merupakan bisnis besar dalam perdagangan internasional. Industri ini berperan besar dalam menyediakan kesempatan kerja dan sumber pendapatan bagi masyarakat dunia. Tak hanya itu, industri tembakau dan rokok telah memberikan sumbangan besar terhadap pendapatan negara, baik negara maju maupun negara berkembang. Secara keseluruhan pasar tembakau global bernilai 378 milyar dollar AS, dan bertumbuh sebesar 4,6 persen pada tahun 2007. Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau global diproyeksikan meningkat 23 persen lagi, mencapai 464,4 milyar dollar AS.<\/p>\n\n\n\n Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebuah negara, maka posisinya akan menduduki peringkat ke-23 terbesar di dunia dalam hal produk domestik bruto (PDB), melebihi PDB dari negara-negara seperti Norwegia dan Arab Saudi. Pertanian tembakau dan industri rokok telah lama berkembang pesat dan tersebar hampir merata di seluruh penjuru dunia. Perkembangan kinerja industri ini ditunjukkan oleh perkembangan dalam produksi dan konsumsi tembakau maupun rokok dalam rentang waktu 50-an tahun terakhir. Berdasarkan data di tahun 1960-2017 produksi daun tembakau dunia meningkat dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata sebesar 1,21 persen per tahun. Sejalan dengan itu, produksi rokok dalam kurun waktu yang sama juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,72 persen per tahun.<\/p>\n\n\n\n Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS. AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong> Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia. Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia. Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya. Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya. Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan. Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi. Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut. \u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin. Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi. Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin. Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan. \u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin. Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan. Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya. \u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin. Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut. Tembakau dan produk tembakau memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ekonomi dan perdagangan dunia. Komoditi tembakau merupakan bisnis besar dalam perdagangan internasional. Industri ini berperan besar dalam menyediakan kesempatan kerja dan sumber pendapatan bagi masyarakat dunia. Tak hanya itu, industri tembakau dan rokok telah memberikan sumbangan besar terhadap pendapatan negara, baik negara maju maupun negara berkembang. Secara keseluruhan pasar tembakau global bernilai 378 milyar dollar AS, dan bertumbuh sebesar 4,6 persen pada tahun 2007. Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau global diproyeksikan meningkat 23 persen lagi, mencapai 464,4 milyar dollar AS.<\/p>\n\n\n\n Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebuah negara, maka posisinya akan menduduki peringkat ke-23 terbesar di dunia dalam hal produk domestik bruto (PDB), melebihi PDB dari negara-negara seperti Norwegia dan Arab Saudi. Pertanian tembakau dan industri rokok telah lama berkembang pesat dan tersebar hampir merata di seluruh penjuru dunia. Perkembangan kinerja industri ini ditunjukkan oleh perkembangan dalam produksi dan konsumsi tembakau maupun rokok dalam rentang waktu 50-an tahun terakhir. Berdasarkan data di tahun 1960-2017 produksi daun tembakau dunia meningkat dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata sebesar 1,21 persen per tahun. Sejalan dengan itu, produksi rokok dalam kurun waktu yang sama juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,72 persen per tahun.<\/p>\n\n\n\n Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS. AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong> Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia. Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia. Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery. Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya. Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya. Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan. Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi. Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut. \u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin. Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi. Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin. Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan. \u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin. Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan. Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya. \u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin. Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut. Tembakau dan produk tembakau memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ekonomi dan perdagangan dunia. Komoditi tembakau merupakan bisnis besar dalam perdagangan internasional. Industri ini berperan besar dalam menyediakan kesempatan kerja dan sumber pendapatan bagi masyarakat dunia. Tak hanya itu, industri tembakau dan rokok telah memberikan sumbangan besar terhadap pendapatan negara, baik negara maju maupun negara berkembang. Secara keseluruhan pasar tembakau global bernilai 378 milyar dollar AS, dan bertumbuh sebesar 4,6 persen pada tahun 2007. Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau global diproyeksikan meningkat 23 persen lagi, mencapai 464,4 milyar dollar AS.<\/p>\n\n\n\n Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebuah negara, maka posisinya akan menduduki peringkat ke-23 terbesar di dunia dalam hal produk domestik bruto (PDB), melebihi PDB dari negara-negara seperti Norwegia dan Arab Saudi. Pertanian tembakau dan industri rokok telah lama berkembang pesat dan tersebar hampir merata di seluruh penjuru dunia. Perkembangan kinerja industri ini ditunjukkan oleh perkembangan dalam produksi dan konsumsi tembakau maupun rokok dalam rentang waktu 50-an tahun terakhir. Berdasarkan data di tahun 1960-2017 produksi daun tembakau dunia meningkat dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata sebesar 1,21 persen per tahun. Sejalan dengan itu, produksi rokok dalam kurun waktu yang sama juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,72 persen per tahun.<\/p>\n\n\n\n Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS. AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong> Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia. Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia. Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em> Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery. Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya. Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya. Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan. Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi. Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut. \u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin. Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi. Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin. Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan. \u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin. Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan. Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya. \u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin. Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut. Tembakau dan produk tembakau memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ekonomi dan perdagangan dunia. Komoditi tembakau merupakan bisnis besar dalam perdagangan internasional. Industri ini berperan besar dalam menyediakan kesempatan kerja dan sumber pendapatan bagi masyarakat dunia. Tak hanya itu, industri tembakau dan rokok telah memberikan sumbangan besar terhadap pendapatan negara, baik negara maju maupun negara berkembang. Secara keseluruhan pasar tembakau global bernilai 378 milyar dollar AS, dan bertumbuh sebesar 4,6 persen pada tahun 2007. Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau global diproyeksikan meningkat 23 persen lagi, mencapai 464,4 milyar dollar AS.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5631,"post_author":"883","post_date":"2019-04-13 09:12:10","post_date_gmt":"2019-04-13 02:12:10","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5631,"post_author":"883","post_date":"2019-04-13 09:12:10","post_date_gmt":"2019-04-13 02:12:10","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5631,"post_author":"883","post_date":"2019-04-13 09:12:10","post_date_gmt":"2019-04-13 02:12:10","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5631,"post_author":"883","post_date":"2019-04-13 09:12:10","post_date_gmt":"2019-04-13 02:12:10","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5631,"post_author":"883","post_date":"2019-04-13 09:12:10","post_date_gmt":"2019-04-13 02:12:10","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5631,"post_author":"883","post_date":"2019-04-13 09:12:10","post_date_gmt":"2019-04-13 02:12:10","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5631,"post_author":"883","post_date":"2019-04-13 09:12:10","post_date_gmt":"2019-04-13 02:12:10","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5631,"post_author":"883","post_date":"2019-04-13 09:12:10","post_date_gmt":"2019-04-13 02:12:10","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5631,"post_author":"883","post_date":"2019-04-13 09:12:10","post_date_gmt":"2019-04-13 02:12:10","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\nMenolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5631,"post_author":"883","post_date":"2019-04-13 09:12:10","post_date_gmt":"2019-04-13 02:12:10","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nMenolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5631,"post_author":"883","post_date":"2019-04-13 09:12:10","post_date_gmt":"2019-04-13 02:12:10","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nMenolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5631,"post_author":"883","post_date":"2019-04-13 09:12:10","post_date_gmt":"2019-04-13 02:12:10","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nMenolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5631,"post_author":"883","post_date":"2019-04-13 09:12:10","post_date_gmt":"2019-04-13 02:12:10","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nMenolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5631,"post_author":"883","post_date":"2019-04-13 09:12:10","post_date_gmt":"2019-04-13 02:12:10","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nMenolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5631,"post_author":"883","post_date":"2019-04-13 09:12:10","post_date_gmt":"2019-04-13 02:12:10","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nMenolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5631,"post_author":"883","post_date":"2019-04-13 09:12:10","post_date_gmt":"2019-04-13 02:12:10","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nMenolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5631,"post_author":"883","post_date":"2019-04-13 09:12:10","post_date_gmt":"2019-04-13 02:12:10","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nMenolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5631,"post_author":"883","post_date":"2019-04-13 09:12:10","post_date_gmt":"2019-04-13 02:12:10","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nMenolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5631,"post_author":"883","post_date":"2019-04-13 09:12:10","post_date_gmt":"2019-04-13 02:12:10","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nMenolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5631,"post_author":"883","post_date":"2019-04-13 09:12:10","post_date_gmt":"2019-04-13 02:12:10","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nMenolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5631,"post_author":"883","post_date":"2019-04-13 09:12:10","post_date_gmt":"2019-04-13 02:12:10","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nMenolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5631,"post_author":"883","post_date":"2019-04-13 09:12:10","post_date_gmt":"2019-04-13 02:12:10","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nMenolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5631,"post_author":"883","post_date":"2019-04-13 09:12:10","post_date_gmt":"2019-04-13 02:12:10","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n