\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Fakta dilapangan demikian, tulisan ini hanya mengingatkan pada capres dan cawapres bahwa ada hak petani tembakau, petani cengkeh, buruh rokok, dan industri rokok yang harus dilindungi. Ingat, mereka semua adalah warga Negara yang baik, mandiri dalam ekonomi dan berdaulat. Mereka adalah pembayar pajak yang taat, dan telah teruji hasil uang dari mereka telah menyehatkan masyarakat Indonesia melalui pembayaran defisit BPJS.  
<\/p>\n","post_title":"Menantang Capres-Cawapres Terang-terangan Membela Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menantang-capres-cawapres-terang-terangan-membela-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-13 08:31:38","post_modified_gmt":"2019-03-13 01:31:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5539","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Akan tetapi jika suara mereka mewakili suara capres sepenuhnya, maka ke depan bisa dipastikan menjadi bumerang bagi para capres. Akan terjadi banyak orang yang bergerak dalam bidang pertembakauan apatis terhadap pilpres pemilu 2019. Mereka merasa terciderai, tidak ada perlindungan bagi mereka. <\/p>\n\n\n\n

Fakta dilapangan demikian, tulisan ini hanya mengingatkan pada capres dan cawapres bahwa ada hak petani tembakau, petani cengkeh, buruh rokok, dan industri rokok yang harus dilindungi. Ingat, mereka semua adalah warga Negara yang baik, mandiri dalam ekonomi dan berdaulat. Mereka adalah pembayar pajak yang taat, dan telah teruji hasil uang dari mereka telah menyehatkan masyarakat Indonesia melalui pembayaran defisit BPJS.  
<\/p>\n","post_title":"Menantang Capres-Cawapres Terang-terangan Membela Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menantang-capres-cawapres-terang-terangan-membela-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-13 08:31:38","post_modified_gmt":"2019-03-13 01:31:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5539","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baik Hermawan Saputra  atau Hasbullah Thabrany, kedua-duanya apakah yang mereka katakan mewakili suara capres? Sepenuhnya belum diketahui lebih jelas. Kalau dicermati, keduanya adalah orang-orang antirokok yang sengaja berkata demikian. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi jika suara mereka mewakili suara capres sepenuhnya, maka ke depan bisa dipastikan menjadi bumerang bagi para capres. Akan terjadi banyak orang yang bergerak dalam bidang pertembakauan apatis terhadap pilpres pemilu 2019. Mereka merasa terciderai, tidak ada perlindungan bagi mereka. <\/p>\n\n\n\n

Fakta dilapangan demikian, tulisan ini hanya mengingatkan pada capres dan cawapres bahwa ada hak petani tembakau, petani cengkeh, buruh rokok, dan industri rokok yang harus dilindungi. Ingat, mereka semua adalah warga Negara yang baik, mandiri dalam ekonomi dan berdaulat. Mereka adalah pembayar pajak yang taat, dan telah teruji hasil uang dari mereka telah menyehatkan masyarakat Indonesia melalui pembayaran defisit BPJS.  
<\/p>\n","post_title":"Menantang Capres-Cawapres Terang-terangan Membela Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menantang-capres-cawapres-terang-terangan-membela-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-13 08:31:38","post_modified_gmt":"2019-03-13 01:31:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5539","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cHarga cukai rokok di Indonesia merupakan yang paling terendah di dunia. Ia mencontohkan, cukai rokok di Singapura mencapai 90 persen dan Thailand 84 persen. Kita targetkan di pemerintahan ke depan jika Jokowi dan Ma'ruf terpilih, cukai rokok kita naikkan di atas 57 persen,\" ujar Hasbullah saat diskusi polemik bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" jelang debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).<\/p>\n\n\n\n

Baik Hermawan Saputra  atau Hasbullah Thabrany, kedua-duanya apakah yang mereka katakan mewakili suara capres? Sepenuhnya belum diketahui lebih jelas. Kalau dicermati, keduanya adalah orang-orang antirokok yang sengaja berkata demikian. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi jika suara mereka mewakili suara capres sepenuhnya, maka ke depan bisa dipastikan menjadi bumerang bagi para capres. Akan terjadi banyak orang yang bergerak dalam bidang pertembakauan apatis terhadap pilpres pemilu 2019. Mereka merasa terciderai, tidak ada perlindungan bagi mereka. <\/p>\n\n\n\n

Fakta dilapangan demikian, tulisan ini hanya mengingatkan pada capres dan cawapres bahwa ada hak petani tembakau, petani cengkeh, buruh rokok, dan industri rokok yang harus dilindungi. Ingat, mereka semua adalah warga Negara yang baik, mandiri dalam ekonomi dan berdaulat. Mereka adalah pembayar pajak yang taat, dan telah teruji hasil uang dari mereka telah menyehatkan masyarakat Indonesia melalui pembayaran defisit BPJS.  
<\/p>\n","post_title":"Menantang Capres-Cawapres Terang-terangan Membela Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menantang-capres-cawapres-terang-terangan-membela-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-13 08:31:38","post_modified_gmt":"2019-03-13 01:31:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5539","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Begitu juga dilansir dari tribunnews.com<\/em> bahwa Hasbullah Thabrany  orang yang mengatasnamakan Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, mengatakan;  jika terpilih dalam Pilpres 2019<\/a>, Jokowi-Ma'ruf akan menaikkan cukai rokok untuk menurunkan angka pengguna rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHarga cukai rokok di Indonesia merupakan yang paling terendah di dunia. Ia mencontohkan, cukai rokok di Singapura mencapai 90 persen dan Thailand 84 persen. Kita targetkan di pemerintahan ke depan jika Jokowi dan Ma'ruf terpilih, cukai rokok kita naikkan di atas 57 persen,\" ujar Hasbullah saat diskusi polemik bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" jelang debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).<\/p>\n\n\n\n

Baik Hermawan Saputra  atau Hasbullah Thabrany, kedua-duanya apakah yang mereka katakan mewakili suara capres? Sepenuhnya belum diketahui lebih jelas. Kalau dicermati, keduanya adalah orang-orang antirokok yang sengaja berkata demikian. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi jika suara mereka mewakili suara capres sepenuhnya, maka ke depan bisa dipastikan menjadi bumerang bagi para capres. Akan terjadi banyak orang yang bergerak dalam bidang pertembakauan apatis terhadap pilpres pemilu 2019. Mereka merasa terciderai, tidak ada perlindungan bagi mereka. <\/p>\n\n\n\n

Fakta dilapangan demikian, tulisan ini hanya mengingatkan pada capres dan cawapres bahwa ada hak petani tembakau, petani cengkeh, buruh rokok, dan industri rokok yang harus dilindungi. Ingat, mereka semua adalah warga Negara yang baik, mandiri dalam ekonomi dan berdaulat. Mereka adalah pembayar pajak yang taat, dan telah teruji hasil uang dari mereka telah menyehatkan masyarakat Indonesia melalui pembayaran defisit BPJS.  
<\/p>\n","post_title":"Menantang Capres-Cawapres Terang-terangan Membela Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menantang-capres-cawapres-terang-terangan-membela-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-13 08:31:38","post_modified_gmt":"2019-03-13 01:31:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5539","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Kita naikkan cukai pun, tapi selama budaya dan perilaku masyarakat merokok tidak berubah serta petani yang menggantungkan diri di tembakau, ya tidak akan selesai. Meskipun tidak mudah, Hermawan meyakini Prabowo-Sandiaga memiliki kemauan politik yang kuat agar pengguna rokok bisa menurun. Dia mengatakan, tim kesehatan BPN sudah membuat rencana dan merancang program kesehatan yang bisa dipaparkan Sandiaga saat debat ketiga, \"ujar Hermawan saat ditemui dalam sebuah diskusi bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" menuju debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga dilansir dari tribunnews.com<\/em> bahwa Hasbullah Thabrany  orang yang mengatasnamakan Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, mengatakan;  jika terpilih dalam Pilpres 2019<\/a>, Jokowi-Ma'ruf akan menaikkan cukai rokok untuk menurunkan angka pengguna rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHarga cukai rokok di Indonesia merupakan yang paling terendah di dunia. Ia mencontohkan, cukai rokok di Singapura mencapai 90 persen dan Thailand 84 persen. Kita targetkan di pemerintahan ke depan jika Jokowi dan Ma'ruf terpilih, cukai rokok kita naikkan di atas 57 persen,\" ujar Hasbullah saat diskusi polemik bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" jelang debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).<\/p>\n\n\n\n

Baik Hermawan Saputra  atau Hasbullah Thabrany, kedua-duanya apakah yang mereka katakan mewakili suara capres? Sepenuhnya belum diketahui lebih jelas. Kalau dicermati, keduanya adalah orang-orang antirokok yang sengaja berkata demikian. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi jika suara mereka mewakili suara capres sepenuhnya, maka ke depan bisa dipastikan menjadi bumerang bagi para capres. Akan terjadi banyak orang yang bergerak dalam bidang pertembakauan apatis terhadap pilpres pemilu 2019. Mereka merasa terciderai, tidak ada perlindungan bagi mereka. <\/p>\n\n\n\n

Fakta dilapangan demikian, tulisan ini hanya mengingatkan pada capres dan cawapres bahwa ada hak petani tembakau, petani cengkeh, buruh rokok, dan industri rokok yang harus dilindungi. Ingat, mereka semua adalah warga Negara yang baik, mandiri dalam ekonomi dan berdaulat. Mereka adalah pembayar pajak yang taat, dan telah teruji hasil uang dari mereka telah menyehatkan masyarakat Indonesia melalui pembayaran defisit BPJS.  
<\/p>\n","post_title":"Menantang Capres-Cawapres Terang-terangan Membela Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menantang-capres-cawapres-terang-terangan-membela-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-13 08:31:38","post_modified_gmt":"2019-03-13 01:31:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5539","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya <\/a><\/h2>\n\n\n\n

\"Kita naikkan cukai pun, tapi selama budaya dan perilaku masyarakat merokok tidak berubah serta petani yang menggantungkan diri di tembakau, ya tidak akan selesai. Meskipun tidak mudah, Hermawan meyakini Prabowo-Sandiaga memiliki kemauan politik yang kuat agar pengguna rokok bisa menurun. Dia mengatakan, tim kesehatan BPN sudah membuat rencana dan merancang program kesehatan yang bisa dipaparkan Sandiaga saat debat ketiga, \"ujar Hermawan saat ditemui dalam sebuah diskusi bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" menuju debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga dilansir dari tribunnews.com<\/em> bahwa Hasbullah Thabrany  orang yang mengatasnamakan Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, mengatakan;  jika terpilih dalam Pilpres 2019<\/a>, Jokowi-Ma'ruf akan menaikkan cukai rokok untuk menurunkan angka pengguna rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHarga cukai rokok di Indonesia merupakan yang paling terendah di dunia. Ia mencontohkan, cukai rokok di Singapura mencapai 90 persen dan Thailand 84 persen. Kita targetkan di pemerintahan ke depan jika Jokowi dan Ma'ruf terpilih, cukai rokok kita naikkan di atas 57 persen,\" ujar Hasbullah saat diskusi polemik bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" jelang debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).<\/p>\n\n\n\n

Baik Hermawan Saputra  atau Hasbullah Thabrany, kedua-duanya apakah yang mereka katakan mewakili suara capres? Sepenuhnya belum diketahui lebih jelas. Kalau dicermati, keduanya adalah orang-orang antirokok yang sengaja berkata demikian. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi jika suara mereka mewakili suara capres sepenuhnya, maka ke depan bisa dipastikan menjadi bumerang bagi para capres. Akan terjadi banyak orang yang bergerak dalam bidang pertembakauan apatis terhadap pilpres pemilu 2019. Mereka merasa terciderai, tidak ada perlindungan bagi mereka. <\/p>\n\n\n\n

Fakta dilapangan demikian, tulisan ini hanya mengingatkan pada capres dan cawapres bahwa ada hak petani tembakau, petani cengkeh, buruh rokok, dan industri rokok yang harus dilindungi. Ingat, mereka semua adalah warga Negara yang baik, mandiri dalam ekonomi dan berdaulat. Mereka adalah pembayar pajak yang taat, dan telah teruji hasil uang dari mereka telah menyehatkan masyarakat Indonesia melalui pembayaran defisit BPJS.  
<\/p>\n","post_title":"Menantang Capres-Cawapres Terang-terangan Membela Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menantang-capres-cawapres-terang-terangan-membela-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-13 08:31:38","post_modified_gmt":"2019-03-13 01:31:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5539","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Capres-Cawapres tahun 2019 ini, seakan-akan tidak memperdulikan nasib keberadaan sektor pertembakauan. Yang ada justru bertindak ikut-ikutan seperti halnya antirokok, itu pun yang berbicara adalah perwakilan dan bukan capresnya sendiri. <\/strong>Dilansir dari nasional.kompas.com<\/em>, bahwa salah satu anggota tim kesehatan Badan Pemenangan Nasional (BPN), bernama Hermawan Saputra, mengungkapkan, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno akan memberikan solusi agar pengguna rokok di Indonesia bisa menurun. Menurut dia, yang perlu dibereskan adalah hulu masalah industri rokok, yaitu mendorong petani tembakau untuk beralih profesi di bidang lain.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya <\/a><\/h2>\n\n\n\n

\"Kita naikkan cukai pun, tapi selama budaya dan perilaku masyarakat merokok tidak berubah serta petani yang menggantungkan diri di tembakau, ya tidak akan selesai. Meskipun tidak mudah, Hermawan meyakini Prabowo-Sandiaga memiliki kemauan politik yang kuat agar pengguna rokok bisa menurun. Dia mengatakan, tim kesehatan BPN sudah membuat rencana dan merancang program kesehatan yang bisa dipaparkan Sandiaga saat debat ketiga, \"ujar Hermawan saat ditemui dalam sebuah diskusi bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" menuju debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga dilansir dari tribunnews.com<\/em> bahwa Hasbullah Thabrany  orang yang mengatasnamakan Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, mengatakan;  jika terpilih dalam Pilpres 2019<\/a>, Jokowi-Ma'ruf akan menaikkan cukai rokok untuk menurunkan angka pengguna rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHarga cukai rokok di Indonesia merupakan yang paling terendah di dunia. Ia mencontohkan, cukai rokok di Singapura mencapai 90 persen dan Thailand 84 persen. Kita targetkan di pemerintahan ke depan jika Jokowi dan Ma'ruf terpilih, cukai rokok kita naikkan di atas 57 persen,\" ujar Hasbullah saat diskusi polemik bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" jelang debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).<\/p>\n\n\n\n

Baik Hermawan Saputra  atau Hasbullah Thabrany, kedua-duanya apakah yang mereka katakan mewakili suara capres? Sepenuhnya belum diketahui lebih jelas. Kalau dicermati, keduanya adalah orang-orang antirokok yang sengaja berkata demikian. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi jika suara mereka mewakili suara capres sepenuhnya, maka ke depan bisa dipastikan menjadi bumerang bagi para capres. Akan terjadi banyak orang yang bergerak dalam bidang pertembakauan apatis terhadap pilpres pemilu 2019. Mereka merasa terciderai, tidak ada perlindungan bagi mereka. <\/p>\n\n\n\n

Fakta dilapangan demikian, tulisan ini hanya mengingatkan pada capres dan cawapres bahwa ada hak petani tembakau, petani cengkeh, buruh rokok, dan industri rokok yang harus dilindungi. Ingat, mereka semua adalah warga Negara yang baik, mandiri dalam ekonomi dan berdaulat. Mereka adalah pembayar pajak yang taat, dan telah teruji hasil uang dari mereka telah menyehatkan masyarakat Indonesia melalui pembayaran defisit BPJS.  
<\/p>\n","post_title":"Menantang Capres-Cawapres Terang-terangan Membela Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menantang-capres-cawapres-terang-terangan-membela-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-13 08:31:38","post_modified_gmt":"2019-03-13 01:31:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5539","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Apakah keadaan ini semua dinafikan oleh Negara? Berapa besar keuntungan Negara dari hasil pajak rokok? Berapa besar manfaat uang cukai dalam menyehatkan masyarakat melalui pembayaran defisit BPJS? Kenapa para kandidat presiden tidak berani terang-terang membela sektor pertembakauan yang jelas-jelas bermanfaat bagi masyarakat kecil, bagi seluruh masyarakat bangsa dan membantu penerimaan uang kas Negara. <\/p>\n\n\n\n

Capres-Cawapres tahun 2019 ini, seakan-akan tidak memperdulikan nasib keberadaan sektor pertembakauan. Yang ada justru bertindak ikut-ikutan seperti halnya antirokok, itu pun yang berbicara adalah perwakilan dan bukan capresnya sendiri. <\/strong>Dilansir dari nasional.kompas.com<\/em>, bahwa salah satu anggota tim kesehatan Badan Pemenangan Nasional (BPN), bernama Hermawan Saputra, mengungkapkan, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno akan memberikan solusi agar pengguna rokok di Indonesia bisa menurun. Menurut dia, yang perlu dibereskan adalah hulu masalah industri rokok, yaitu mendorong petani tembakau untuk beralih profesi di bidang lain.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya <\/a><\/h2>\n\n\n\n

\"Kita naikkan cukai pun, tapi selama budaya dan perilaku masyarakat merokok tidak berubah serta petani yang menggantungkan diri di tembakau, ya tidak akan selesai. Meskipun tidak mudah, Hermawan meyakini Prabowo-Sandiaga memiliki kemauan politik yang kuat agar pengguna rokok bisa menurun. Dia mengatakan, tim kesehatan BPN sudah membuat rencana dan merancang program kesehatan yang bisa dipaparkan Sandiaga saat debat ketiga, \"ujar Hermawan saat ditemui dalam sebuah diskusi bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" menuju debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga dilansir dari tribunnews.com<\/em> bahwa Hasbullah Thabrany  orang yang mengatasnamakan Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, mengatakan;  jika terpilih dalam Pilpres 2019<\/a>, Jokowi-Ma'ruf akan menaikkan cukai rokok untuk menurunkan angka pengguna rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHarga cukai rokok di Indonesia merupakan yang paling terendah di dunia. Ia mencontohkan, cukai rokok di Singapura mencapai 90 persen dan Thailand 84 persen. Kita targetkan di pemerintahan ke depan jika Jokowi dan Ma'ruf terpilih, cukai rokok kita naikkan di atas 57 persen,\" ujar Hasbullah saat diskusi polemik bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" jelang debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).<\/p>\n\n\n\n

Baik Hermawan Saputra  atau Hasbullah Thabrany, kedua-duanya apakah yang mereka katakan mewakili suara capres? Sepenuhnya belum diketahui lebih jelas. Kalau dicermati, keduanya adalah orang-orang antirokok yang sengaja berkata demikian. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi jika suara mereka mewakili suara capres sepenuhnya, maka ke depan bisa dipastikan menjadi bumerang bagi para capres. Akan terjadi banyak orang yang bergerak dalam bidang pertembakauan apatis terhadap pilpres pemilu 2019. Mereka merasa terciderai, tidak ada perlindungan bagi mereka. <\/p>\n\n\n\n

Fakta dilapangan demikian, tulisan ini hanya mengingatkan pada capres dan cawapres bahwa ada hak petani tembakau, petani cengkeh, buruh rokok, dan industri rokok yang harus dilindungi. Ingat, mereka semua adalah warga Negara yang baik, mandiri dalam ekonomi dan berdaulat. Mereka adalah pembayar pajak yang taat, dan telah teruji hasil uang dari mereka telah menyehatkan masyarakat Indonesia melalui pembayaran defisit BPJS.  
<\/p>\n","post_title":"Menantang Capres-Cawapres Terang-terangan Membela Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menantang-capres-cawapres-terang-terangan-membela-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-13 08:31:38","post_modified_gmt":"2019-03-13 01:31:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5539","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sebagai buruh pabrik rokok, mereka ibu ibu rumah tangga sangat bahagia dapat membantu dan meringankan beban suami untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Mayoritas pekerja pabrik rokok kretek di Indonesia adalah wanita atau ibu rumah tangga, dan tidak ada pekerjaan lain yang bisa ia kerjakan yang bisa menghasilkan uang. Konsumen rokok dan industri rokok, adalah warga Negara yang taat akan pajak. Sebelum dinikmati, tiap batang rokok kretek yang telah dibeli sudah otomatis membayar pajak. Begitu juga, sebelum terjual, pabrik terbebani pajak dobel yang harus dibayar di muka, yaitu pungutan cukai, pungutan restribusi daerah dan talangan pajak konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Apakah keadaan ini semua dinafikan oleh Negara? Berapa besar keuntungan Negara dari hasil pajak rokok? Berapa besar manfaat uang cukai dalam menyehatkan masyarakat melalui pembayaran defisit BPJS? Kenapa para kandidat presiden tidak berani terang-terang membela sektor pertembakauan yang jelas-jelas bermanfaat bagi masyarakat kecil, bagi seluruh masyarakat bangsa dan membantu penerimaan uang kas Negara. <\/p>\n\n\n\n

Capres-Cawapres tahun 2019 ini, seakan-akan tidak memperdulikan nasib keberadaan sektor pertembakauan. Yang ada justru bertindak ikut-ikutan seperti halnya antirokok, itu pun yang berbicara adalah perwakilan dan bukan capresnya sendiri. <\/strong>Dilansir dari nasional.kompas.com<\/em>, bahwa salah satu anggota tim kesehatan Badan Pemenangan Nasional (BPN), bernama Hermawan Saputra, mengungkapkan, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno akan memberikan solusi agar pengguna rokok di Indonesia bisa menurun. Menurut dia, yang perlu dibereskan adalah hulu masalah industri rokok, yaitu mendorong petani tembakau untuk beralih profesi di bidang lain.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya <\/a><\/h2>\n\n\n\n

\"Kita naikkan cukai pun, tapi selama budaya dan perilaku masyarakat merokok tidak berubah serta petani yang menggantungkan diri di tembakau, ya tidak akan selesai. Meskipun tidak mudah, Hermawan meyakini Prabowo-Sandiaga memiliki kemauan politik yang kuat agar pengguna rokok bisa menurun. Dia mengatakan, tim kesehatan BPN sudah membuat rencana dan merancang program kesehatan yang bisa dipaparkan Sandiaga saat debat ketiga, \"ujar Hermawan saat ditemui dalam sebuah diskusi bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" menuju debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga dilansir dari tribunnews.com<\/em> bahwa Hasbullah Thabrany  orang yang mengatasnamakan Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, mengatakan;  jika terpilih dalam Pilpres 2019<\/a>, Jokowi-Ma'ruf akan menaikkan cukai rokok untuk menurunkan angka pengguna rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHarga cukai rokok di Indonesia merupakan yang paling terendah di dunia. Ia mencontohkan, cukai rokok di Singapura mencapai 90 persen dan Thailand 84 persen. Kita targetkan di pemerintahan ke depan jika Jokowi dan Ma'ruf terpilih, cukai rokok kita naikkan di atas 57 persen,\" ujar Hasbullah saat diskusi polemik bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" jelang debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).<\/p>\n\n\n\n

Baik Hermawan Saputra  atau Hasbullah Thabrany, kedua-duanya apakah yang mereka katakan mewakili suara capres? Sepenuhnya belum diketahui lebih jelas. Kalau dicermati, keduanya adalah orang-orang antirokok yang sengaja berkata demikian. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi jika suara mereka mewakili suara capres sepenuhnya, maka ke depan bisa dipastikan menjadi bumerang bagi para capres. Akan terjadi banyak orang yang bergerak dalam bidang pertembakauan apatis terhadap pilpres pemilu 2019. Mereka merasa terciderai, tidak ada perlindungan bagi mereka. <\/p>\n\n\n\n

Fakta dilapangan demikian, tulisan ini hanya mengingatkan pada capres dan cawapres bahwa ada hak petani tembakau, petani cengkeh, buruh rokok, dan industri rokok yang harus dilindungi. Ingat, mereka semua adalah warga Negara yang baik, mandiri dalam ekonomi dan berdaulat. Mereka adalah pembayar pajak yang taat, dan telah teruji hasil uang dari mereka telah menyehatkan masyarakat Indonesia melalui pembayaran defisit BPJS.  
<\/p>\n","post_title":"Menantang Capres-Cawapres Terang-terangan Membela Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menantang-capres-cawapres-terang-terangan-membela-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-13 08:31:38","post_modified_gmt":"2019-03-13 01:31:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5539","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Fakta empiris tersebut, hampir dilakukan semua petani tembakau dan cengkeh. Mereka bukannya tidak menanam selain tembakau atau cengkeh, akan tetapi kedua tanaman tersebut lebih bisa menopang kebutuhan-kebutuhan yang memerlukan biaya besar. Petani tembakau, selama Desember sampai April menanam selain tembakau. Tidak sedikit petani cengkeh menanam selain cengkeh di lahan lain atau di sela-sela tanaman cengeh. Ini menunjukkan adanya tanaman tembakau dan cengkeh hasilnya lebih besar dibanding tanaman lain. Dan keduanya merupakan tanaman agung anugerah Tuhan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai buruh pabrik rokok, mereka ibu ibu rumah tangga sangat bahagia dapat membantu dan meringankan beban suami untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Mayoritas pekerja pabrik rokok kretek di Indonesia adalah wanita atau ibu rumah tangga, dan tidak ada pekerjaan lain yang bisa ia kerjakan yang bisa menghasilkan uang. Konsumen rokok dan industri rokok, adalah warga Negara yang taat akan pajak. Sebelum dinikmati, tiap batang rokok kretek yang telah dibeli sudah otomatis membayar pajak. Begitu juga, sebelum terjual, pabrik terbebani pajak dobel yang harus dibayar di muka, yaitu pungutan cukai, pungutan restribusi daerah dan talangan pajak konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Apakah keadaan ini semua dinafikan oleh Negara? Berapa besar keuntungan Negara dari hasil pajak rokok? Berapa besar manfaat uang cukai dalam menyehatkan masyarakat melalui pembayaran defisit BPJS? Kenapa para kandidat presiden tidak berani terang-terang membela sektor pertembakauan yang jelas-jelas bermanfaat bagi masyarakat kecil, bagi seluruh masyarakat bangsa dan membantu penerimaan uang kas Negara. <\/p>\n\n\n\n

Capres-Cawapres tahun 2019 ini, seakan-akan tidak memperdulikan nasib keberadaan sektor pertembakauan. Yang ada justru bertindak ikut-ikutan seperti halnya antirokok, itu pun yang berbicara adalah perwakilan dan bukan capresnya sendiri. <\/strong>Dilansir dari nasional.kompas.com<\/em>, bahwa salah satu anggota tim kesehatan Badan Pemenangan Nasional (BPN), bernama Hermawan Saputra, mengungkapkan, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno akan memberikan solusi agar pengguna rokok di Indonesia bisa menurun. Menurut dia, yang perlu dibereskan adalah hulu masalah industri rokok, yaitu mendorong petani tembakau untuk beralih profesi di bidang lain.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya <\/a><\/h2>\n\n\n\n

\"Kita naikkan cukai pun, tapi selama budaya dan perilaku masyarakat merokok tidak berubah serta petani yang menggantungkan diri di tembakau, ya tidak akan selesai. Meskipun tidak mudah, Hermawan meyakini Prabowo-Sandiaga memiliki kemauan politik yang kuat agar pengguna rokok bisa menurun. Dia mengatakan, tim kesehatan BPN sudah membuat rencana dan merancang program kesehatan yang bisa dipaparkan Sandiaga saat debat ketiga, \"ujar Hermawan saat ditemui dalam sebuah diskusi bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" menuju debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga dilansir dari tribunnews.com<\/em> bahwa Hasbullah Thabrany  orang yang mengatasnamakan Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, mengatakan;  jika terpilih dalam Pilpres 2019<\/a>, Jokowi-Ma'ruf akan menaikkan cukai rokok untuk menurunkan angka pengguna rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHarga cukai rokok di Indonesia merupakan yang paling terendah di dunia. Ia mencontohkan, cukai rokok di Singapura mencapai 90 persen dan Thailand 84 persen. Kita targetkan di pemerintahan ke depan jika Jokowi dan Ma'ruf terpilih, cukai rokok kita naikkan di atas 57 persen,\" ujar Hasbullah saat diskusi polemik bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" jelang debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).<\/p>\n\n\n\n

Baik Hermawan Saputra  atau Hasbullah Thabrany, kedua-duanya apakah yang mereka katakan mewakili suara capres? Sepenuhnya belum diketahui lebih jelas. Kalau dicermati, keduanya adalah orang-orang antirokok yang sengaja berkata demikian. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi jika suara mereka mewakili suara capres sepenuhnya, maka ke depan bisa dipastikan menjadi bumerang bagi para capres. Akan terjadi banyak orang yang bergerak dalam bidang pertembakauan apatis terhadap pilpres pemilu 2019. Mereka merasa terciderai, tidak ada perlindungan bagi mereka. <\/p>\n\n\n\n

Fakta dilapangan demikian, tulisan ini hanya mengingatkan pada capres dan cawapres bahwa ada hak petani tembakau, petani cengkeh, buruh rokok, dan industri rokok yang harus dilindungi. Ingat, mereka semua adalah warga Negara yang baik, mandiri dalam ekonomi dan berdaulat. Mereka adalah pembayar pajak yang taat, dan telah teruji hasil uang dari mereka telah menyehatkan masyarakat Indonesia melalui pembayaran defisit BPJS.  
<\/p>\n","post_title":"Menantang Capres-Cawapres Terang-terangan Membela Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menantang-capres-cawapres-terang-terangan-membela-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-13 08:31:38","post_modified_gmt":"2019-03-13 01:31:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5539","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fakta empiris tersebut, hampir dilakukan semua petani tembakau dan cengkeh. Mereka bukannya tidak menanam selain tembakau atau cengkeh, akan tetapi kedua tanaman tersebut lebih bisa menopang kebutuhan-kebutuhan yang memerlukan biaya besar. Petani tembakau, selama Desember sampai April menanam selain tembakau. Tidak sedikit petani cengkeh menanam selain cengkeh di lahan lain atau di sela-sela tanaman cengeh. Ini menunjukkan adanya tanaman tembakau dan cengkeh hasilnya lebih besar dibanding tanaman lain. Dan keduanya merupakan tanaman agung anugerah Tuhan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai buruh pabrik rokok, mereka ibu ibu rumah tangga sangat bahagia dapat membantu dan meringankan beban suami untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Mayoritas pekerja pabrik rokok kretek di Indonesia adalah wanita atau ibu rumah tangga, dan tidak ada pekerjaan lain yang bisa ia kerjakan yang bisa menghasilkan uang. Konsumen rokok dan industri rokok, adalah warga Negara yang taat akan pajak. Sebelum dinikmati, tiap batang rokok kretek yang telah dibeli sudah otomatis membayar pajak. Begitu juga, sebelum terjual, pabrik terbebani pajak dobel yang harus dibayar di muka, yaitu pungutan cukai, pungutan restribusi daerah dan talangan pajak konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Apakah keadaan ini semua dinafikan oleh Negara? Berapa besar keuntungan Negara dari hasil pajak rokok? Berapa besar manfaat uang cukai dalam menyehatkan masyarakat melalui pembayaran defisit BPJS? Kenapa para kandidat presiden tidak berani terang-terang membela sektor pertembakauan yang jelas-jelas bermanfaat bagi masyarakat kecil, bagi seluruh masyarakat bangsa dan membantu penerimaan uang kas Negara. <\/p>\n\n\n\n

Capres-Cawapres tahun 2019 ini, seakan-akan tidak memperdulikan nasib keberadaan sektor pertembakauan. Yang ada justru bertindak ikut-ikutan seperti halnya antirokok, itu pun yang berbicara adalah perwakilan dan bukan capresnya sendiri. <\/strong>Dilansir dari nasional.kompas.com<\/em>, bahwa salah satu anggota tim kesehatan Badan Pemenangan Nasional (BPN), bernama Hermawan Saputra, mengungkapkan, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno akan memberikan solusi agar pengguna rokok di Indonesia bisa menurun. Menurut dia, yang perlu dibereskan adalah hulu masalah industri rokok, yaitu mendorong petani tembakau untuk beralih profesi di bidang lain.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya <\/a><\/h2>\n\n\n\n

\"Kita naikkan cukai pun, tapi selama budaya dan perilaku masyarakat merokok tidak berubah serta petani yang menggantungkan diri di tembakau, ya tidak akan selesai. Meskipun tidak mudah, Hermawan meyakini Prabowo-Sandiaga memiliki kemauan politik yang kuat agar pengguna rokok bisa menurun. Dia mengatakan, tim kesehatan BPN sudah membuat rencana dan merancang program kesehatan yang bisa dipaparkan Sandiaga saat debat ketiga, \"ujar Hermawan saat ditemui dalam sebuah diskusi bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" menuju debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga dilansir dari tribunnews.com<\/em> bahwa Hasbullah Thabrany  orang yang mengatasnamakan Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, mengatakan;  jika terpilih dalam Pilpres 2019<\/a>, Jokowi-Ma'ruf akan menaikkan cukai rokok untuk menurunkan angka pengguna rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHarga cukai rokok di Indonesia merupakan yang paling terendah di dunia. Ia mencontohkan, cukai rokok di Singapura mencapai 90 persen dan Thailand 84 persen. Kita targetkan di pemerintahan ke depan jika Jokowi dan Ma'ruf terpilih, cukai rokok kita naikkan di atas 57 persen,\" ujar Hasbullah saat diskusi polemik bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" jelang debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).<\/p>\n\n\n\n

Baik Hermawan Saputra  atau Hasbullah Thabrany, kedua-duanya apakah yang mereka katakan mewakili suara capres? Sepenuhnya belum diketahui lebih jelas. Kalau dicermati, keduanya adalah orang-orang antirokok yang sengaja berkata demikian. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi jika suara mereka mewakili suara capres sepenuhnya, maka ke depan bisa dipastikan menjadi bumerang bagi para capres. Akan terjadi banyak orang yang bergerak dalam bidang pertembakauan apatis terhadap pilpres pemilu 2019. Mereka merasa terciderai, tidak ada perlindungan bagi mereka. <\/p>\n\n\n\n

Fakta dilapangan demikian, tulisan ini hanya mengingatkan pada capres dan cawapres bahwa ada hak petani tembakau, petani cengkeh, buruh rokok, dan industri rokok yang harus dilindungi. Ingat, mereka semua adalah warga Negara yang baik, mandiri dalam ekonomi dan berdaulat. Mereka adalah pembayar pajak yang taat, dan telah teruji hasil uang dari mereka telah menyehatkan masyarakat Indonesia melalui pembayaran defisit BPJS.  
<\/p>\n","post_title":"Menantang Capres-Cawapres Terang-terangan Membela Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menantang-capres-cawapres-terang-terangan-membela-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-13 08:31:38","post_modified_gmt":"2019-03-13 01:31:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5539","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Karena kearifan lokal, lahan yang dimiliki petani tembakau, tidak ada tanaman yang lebih menguntungkan secara ekonomi, selain tanaman tembakau. Begitu juga yang terjadi pada petani cengkeh, mereka dapat menyekolahkan anak keperguruan tinggi, dapat membangun rumah, dapat membeli barang berharga dari hasil penjualan cengkeh. Petani tembakau dan cengkeh hidup sejahtera di saat pertaniannya berhasil. Bahkan tidak sedikit, mereka akan melakukan khajatnya setelah panen tiba. Ambil contoh, mau menikahkan atau mengkhitankan anaknya setelah panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fakta empiris tersebut, hampir dilakukan semua petani tembakau dan cengkeh. Mereka bukannya tidak menanam selain tembakau atau cengkeh, akan tetapi kedua tanaman tersebut lebih bisa menopang kebutuhan-kebutuhan yang memerlukan biaya besar. Petani tembakau, selama Desember sampai April menanam selain tembakau. Tidak sedikit petani cengkeh menanam selain cengkeh di lahan lain atau di sela-sela tanaman cengeh. Ini menunjukkan adanya tanaman tembakau dan cengkeh hasilnya lebih besar dibanding tanaman lain. Dan keduanya merupakan tanaman agung anugerah Tuhan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai buruh pabrik rokok, mereka ibu ibu rumah tangga sangat bahagia dapat membantu dan meringankan beban suami untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Mayoritas pekerja pabrik rokok kretek di Indonesia adalah wanita atau ibu rumah tangga, dan tidak ada pekerjaan lain yang bisa ia kerjakan yang bisa menghasilkan uang. Konsumen rokok dan industri rokok, adalah warga Negara yang taat akan pajak. Sebelum dinikmati, tiap batang rokok kretek yang telah dibeli sudah otomatis membayar pajak. Begitu juga, sebelum terjual, pabrik terbebani pajak dobel yang harus dibayar di muka, yaitu pungutan cukai, pungutan restribusi daerah dan talangan pajak konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Apakah keadaan ini semua dinafikan oleh Negara? Berapa besar keuntungan Negara dari hasil pajak rokok? Berapa besar manfaat uang cukai dalam menyehatkan masyarakat melalui pembayaran defisit BPJS? Kenapa para kandidat presiden tidak berani terang-terang membela sektor pertembakauan yang jelas-jelas bermanfaat bagi masyarakat kecil, bagi seluruh masyarakat bangsa dan membantu penerimaan uang kas Negara. <\/p>\n\n\n\n

Capres-Cawapres tahun 2019 ini, seakan-akan tidak memperdulikan nasib keberadaan sektor pertembakauan. Yang ada justru bertindak ikut-ikutan seperti halnya antirokok, itu pun yang berbicara adalah perwakilan dan bukan capresnya sendiri. <\/strong>Dilansir dari nasional.kompas.com<\/em>, bahwa salah satu anggota tim kesehatan Badan Pemenangan Nasional (BPN), bernama Hermawan Saputra, mengungkapkan, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno akan memberikan solusi agar pengguna rokok di Indonesia bisa menurun. Menurut dia, yang perlu dibereskan adalah hulu masalah industri rokok, yaitu mendorong petani tembakau untuk beralih profesi di bidang lain.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya <\/a><\/h2>\n\n\n\n

\"Kita naikkan cukai pun, tapi selama budaya dan perilaku masyarakat merokok tidak berubah serta petani yang menggantungkan diri di tembakau, ya tidak akan selesai. Meskipun tidak mudah, Hermawan meyakini Prabowo-Sandiaga memiliki kemauan politik yang kuat agar pengguna rokok bisa menurun. Dia mengatakan, tim kesehatan BPN sudah membuat rencana dan merancang program kesehatan yang bisa dipaparkan Sandiaga saat debat ketiga, \"ujar Hermawan saat ditemui dalam sebuah diskusi bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" menuju debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga dilansir dari tribunnews.com<\/em> bahwa Hasbullah Thabrany  orang yang mengatasnamakan Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, mengatakan;  jika terpilih dalam Pilpres 2019<\/a>, Jokowi-Ma'ruf akan menaikkan cukai rokok untuk menurunkan angka pengguna rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHarga cukai rokok di Indonesia merupakan yang paling terendah di dunia. Ia mencontohkan, cukai rokok di Singapura mencapai 90 persen dan Thailand 84 persen. Kita targetkan di pemerintahan ke depan jika Jokowi dan Ma'ruf terpilih, cukai rokok kita naikkan di atas 57 persen,\" ujar Hasbullah saat diskusi polemik bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" jelang debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).<\/p>\n\n\n\n

Baik Hermawan Saputra  atau Hasbullah Thabrany, kedua-duanya apakah yang mereka katakan mewakili suara capres? Sepenuhnya belum diketahui lebih jelas. Kalau dicermati, keduanya adalah orang-orang antirokok yang sengaja berkata demikian. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi jika suara mereka mewakili suara capres sepenuhnya, maka ke depan bisa dipastikan menjadi bumerang bagi para capres. Akan terjadi banyak orang yang bergerak dalam bidang pertembakauan apatis terhadap pilpres pemilu 2019. Mereka merasa terciderai, tidak ada perlindungan bagi mereka. <\/p>\n\n\n\n

Fakta dilapangan demikian, tulisan ini hanya mengingatkan pada capres dan cawapres bahwa ada hak petani tembakau, petani cengkeh, buruh rokok, dan industri rokok yang harus dilindungi. Ingat, mereka semua adalah warga Negara yang baik, mandiri dalam ekonomi dan berdaulat. Mereka adalah pembayar pajak yang taat, dan telah teruji hasil uang dari mereka telah menyehatkan masyarakat Indonesia melalui pembayaran defisit BPJS.  
<\/p>\n","post_title":"Menantang Capres-Cawapres Terang-terangan Membela Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menantang-capres-cawapres-terang-terangan-membela-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-13 08:31:38","post_modified_gmt":"2019-03-13 01:31:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5539","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baik capres-cawapres nomor urut 01 dan no urut 02, sepertinya keduanya belum pernah berstatement<\/em> dengan tegas untuk membela petani tembakau, petani cengkeh, buruh industri rokok, dan hak konsumen rokok. Setidaknya perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, perkebunan cengkeh tersebar di 30 provinsi, dan menyerap tenaga kerja dari hulu hingga hilir mencapai 6,1 juta jiwa. Selama ini, mereka hidup bergantung pada sektor pertembakauan, berupa kretek asli produk Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Karena kearifan lokal, lahan yang dimiliki petani tembakau, tidak ada tanaman yang lebih menguntungkan secara ekonomi, selain tanaman tembakau. Begitu juga yang terjadi pada petani cengkeh, mereka dapat menyekolahkan anak keperguruan tinggi, dapat membangun rumah, dapat membeli barang berharga dari hasil penjualan cengkeh. Petani tembakau dan cengkeh hidup sejahtera di saat pertaniannya berhasil. Bahkan tidak sedikit, mereka akan melakukan khajatnya setelah panen tiba. Ambil contoh, mau menikahkan atau mengkhitankan anaknya setelah panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fakta empiris tersebut, hampir dilakukan semua petani tembakau dan cengkeh. Mereka bukannya tidak menanam selain tembakau atau cengkeh, akan tetapi kedua tanaman tersebut lebih bisa menopang kebutuhan-kebutuhan yang memerlukan biaya besar. Petani tembakau, selama Desember sampai April menanam selain tembakau. Tidak sedikit petani cengkeh menanam selain cengkeh di lahan lain atau di sela-sela tanaman cengeh. Ini menunjukkan adanya tanaman tembakau dan cengkeh hasilnya lebih besar dibanding tanaman lain. Dan keduanya merupakan tanaman agung anugerah Tuhan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai buruh pabrik rokok, mereka ibu ibu rumah tangga sangat bahagia dapat membantu dan meringankan beban suami untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Mayoritas pekerja pabrik rokok kretek di Indonesia adalah wanita atau ibu rumah tangga, dan tidak ada pekerjaan lain yang bisa ia kerjakan yang bisa menghasilkan uang. Konsumen rokok dan industri rokok, adalah warga Negara yang taat akan pajak. Sebelum dinikmati, tiap batang rokok kretek yang telah dibeli sudah otomatis membayar pajak. Begitu juga, sebelum terjual, pabrik terbebani pajak dobel yang harus dibayar di muka, yaitu pungutan cukai, pungutan restribusi daerah dan talangan pajak konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Apakah keadaan ini semua dinafikan oleh Negara? Berapa besar keuntungan Negara dari hasil pajak rokok? Berapa besar manfaat uang cukai dalam menyehatkan masyarakat melalui pembayaran defisit BPJS? Kenapa para kandidat presiden tidak berani terang-terang membela sektor pertembakauan yang jelas-jelas bermanfaat bagi masyarakat kecil, bagi seluruh masyarakat bangsa dan membantu penerimaan uang kas Negara. <\/p>\n\n\n\n

Capres-Cawapres tahun 2019 ini, seakan-akan tidak memperdulikan nasib keberadaan sektor pertembakauan. Yang ada justru bertindak ikut-ikutan seperti halnya antirokok, itu pun yang berbicara adalah perwakilan dan bukan capresnya sendiri. <\/strong>Dilansir dari nasional.kompas.com<\/em>, bahwa salah satu anggota tim kesehatan Badan Pemenangan Nasional (BPN), bernama Hermawan Saputra, mengungkapkan, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno akan memberikan solusi agar pengguna rokok di Indonesia bisa menurun. Menurut dia, yang perlu dibereskan adalah hulu masalah industri rokok, yaitu mendorong petani tembakau untuk beralih profesi di bidang lain.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya <\/a><\/h2>\n\n\n\n

\"Kita naikkan cukai pun, tapi selama budaya dan perilaku masyarakat merokok tidak berubah serta petani yang menggantungkan diri di tembakau, ya tidak akan selesai. Meskipun tidak mudah, Hermawan meyakini Prabowo-Sandiaga memiliki kemauan politik yang kuat agar pengguna rokok bisa menurun. Dia mengatakan, tim kesehatan BPN sudah membuat rencana dan merancang program kesehatan yang bisa dipaparkan Sandiaga saat debat ketiga, \"ujar Hermawan saat ditemui dalam sebuah diskusi bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" menuju debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga dilansir dari tribunnews.com<\/em> bahwa Hasbullah Thabrany  orang yang mengatasnamakan Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, mengatakan;  jika terpilih dalam Pilpres 2019<\/a>, Jokowi-Ma'ruf akan menaikkan cukai rokok untuk menurunkan angka pengguna rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHarga cukai rokok di Indonesia merupakan yang paling terendah di dunia. Ia mencontohkan, cukai rokok di Singapura mencapai 90 persen dan Thailand 84 persen. Kita targetkan di pemerintahan ke depan jika Jokowi dan Ma'ruf terpilih, cukai rokok kita naikkan di atas 57 persen,\" ujar Hasbullah saat diskusi polemik bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" jelang debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).<\/p>\n\n\n\n

Baik Hermawan Saputra  atau Hasbullah Thabrany, kedua-duanya apakah yang mereka katakan mewakili suara capres? Sepenuhnya belum diketahui lebih jelas. Kalau dicermati, keduanya adalah orang-orang antirokok yang sengaja berkata demikian. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi jika suara mereka mewakili suara capres sepenuhnya, maka ke depan bisa dipastikan menjadi bumerang bagi para capres. Akan terjadi banyak orang yang bergerak dalam bidang pertembakauan apatis terhadap pilpres pemilu 2019. Mereka merasa terciderai, tidak ada perlindungan bagi mereka. <\/p>\n\n\n\n

Fakta dilapangan demikian, tulisan ini hanya mengingatkan pada capres dan cawapres bahwa ada hak petani tembakau, petani cengkeh, buruh rokok, dan industri rokok yang harus dilindungi. Ingat, mereka semua adalah warga Negara yang baik, mandiri dalam ekonomi dan berdaulat. Mereka adalah pembayar pajak yang taat, dan telah teruji hasil uang dari mereka telah menyehatkan masyarakat Indonesia melalui pembayaran defisit BPJS.  
<\/p>\n","post_title":"Menantang Capres-Cawapres Terang-terangan Membela Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menantang-capres-cawapres-terang-terangan-membela-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-13 08:31:38","post_modified_gmt":"2019-03-13 01:31:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5539","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5539,"post_author":"877","post_date":"2019-03-13 08:31:30","post_date_gmt":"2019-03-13 01:31:30","post_content":"\n

Baik capres-cawapres nomor urut 01 dan no urut 02, sepertinya keduanya belum pernah berstatement<\/em> dengan tegas untuk membela petani tembakau, petani cengkeh, buruh industri rokok, dan hak konsumen rokok. Setidaknya perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, perkebunan cengkeh tersebar di 30 provinsi, dan menyerap tenaga kerja dari hulu hingga hilir mencapai 6,1 juta jiwa. Selama ini, mereka hidup bergantung pada sektor pertembakauan, berupa kretek asli produk Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Karena kearifan lokal, lahan yang dimiliki petani tembakau, tidak ada tanaman yang lebih menguntungkan secara ekonomi, selain tanaman tembakau. Begitu juga yang terjadi pada petani cengkeh, mereka dapat menyekolahkan anak keperguruan tinggi, dapat membangun rumah, dapat membeli barang berharga dari hasil penjualan cengkeh. Petani tembakau dan cengkeh hidup sejahtera di saat pertaniannya berhasil. Bahkan tidak sedikit, mereka akan melakukan khajatnya setelah panen tiba. Ambil contoh, mau menikahkan atau mengkhitankan anaknya setelah panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fakta empiris tersebut, hampir dilakukan semua petani tembakau dan cengkeh. Mereka bukannya tidak menanam selain tembakau atau cengkeh, akan tetapi kedua tanaman tersebut lebih bisa menopang kebutuhan-kebutuhan yang memerlukan biaya besar. Petani tembakau, selama Desember sampai April menanam selain tembakau. Tidak sedikit petani cengkeh menanam selain cengkeh di lahan lain atau di sela-sela tanaman cengeh. Ini menunjukkan adanya tanaman tembakau dan cengkeh hasilnya lebih besar dibanding tanaman lain. Dan keduanya merupakan tanaman agung anugerah Tuhan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai buruh pabrik rokok, mereka ibu ibu rumah tangga sangat bahagia dapat membantu dan meringankan beban suami untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Mayoritas pekerja pabrik rokok kretek di Indonesia adalah wanita atau ibu rumah tangga, dan tidak ada pekerjaan lain yang bisa ia kerjakan yang bisa menghasilkan uang. Konsumen rokok dan industri rokok, adalah warga Negara yang taat akan pajak. Sebelum dinikmati, tiap batang rokok kretek yang telah dibeli sudah otomatis membayar pajak. Begitu juga, sebelum terjual, pabrik terbebani pajak dobel yang harus dibayar di muka, yaitu pungutan cukai, pungutan restribusi daerah dan talangan pajak konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Apakah keadaan ini semua dinafikan oleh Negara? Berapa besar keuntungan Negara dari hasil pajak rokok? Berapa besar manfaat uang cukai dalam menyehatkan masyarakat melalui pembayaran defisit BPJS? Kenapa para kandidat presiden tidak berani terang-terang membela sektor pertembakauan yang jelas-jelas bermanfaat bagi masyarakat kecil, bagi seluruh masyarakat bangsa dan membantu penerimaan uang kas Negara. <\/p>\n\n\n\n

Capres-Cawapres tahun 2019 ini, seakan-akan tidak memperdulikan nasib keberadaan sektor pertembakauan. Yang ada justru bertindak ikut-ikutan seperti halnya antirokok, itu pun yang berbicara adalah perwakilan dan bukan capresnya sendiri. <\/strong>Dilansir dari nasional.kompas.com<\/em>, bahwa salah satu anggota tim kesehatan Badan Pemenangan Nasional (BPN), bernama Hermawan Saputra, mengungkapkan, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno akan memberikan solusi agar pengguna rokok di Indonesia bisa menurun. Menurut dia, yang perlu dibereskan adalah hulu masalah industri rokok, yaitu mendorong petani tembakau untuk beralih profesi di bidang lain.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya <\/a><\/h2>\n\n\n\n

\"Kita naikkan cukai pun, tapi selama budaya dan perilaku masyarakat merokok tidak berubah serta petani yang menggantungkan diri di tembakau, ya tidak akan selesai. Meskipun tidak mudah, Hermawan meyakini Prabowo-Sandiaga memiliki kemauan politik yang kuat agar pengguna rokok bisa menurun. Dia mengatakan, tim kesehatan BPN sudah membuat rencana dan merancang program kesehatan yang bisa dipaparkan Sandiaga saat debat ketiga, \"ujar Hermawan saat ditemui dalam sebuah diskusi bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" menuju debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga dilansir dari tribunnews.com<\/em> bahwa Hasbullah Thabrany  orang yang mengatasnamakan Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, mengatakan;  jika terpilih dalam Pilpres 2019<\/a>, Jokowi-Ma'ruf akan menaikkan cukai rokok untuk menurunkan angka pengguna rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHarga cukai rokok di Indonesia merupakan yang paling terendah di dunia. Ia mencontohkan, cukai rokok di Singapura mencapai 90 persen dan Thailand 84 persen. Kita targetkan di pemerintahan ke depan jika Jokowi dan Ma'ruf terpilih, cukai rokok kita naikkan di atas 57 persen,\" ujar Hasbullah saat diskusi polemik bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" jelang debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).<\/p>\n\n\n\n

Baik Hermawan Saputra  atau Hasbullah Thabrany, kedua-duanya apakah yang mereka katakan mewakili suara capres? Sepenuhnya belum diketahui lebih jelas. Kalau dicermati, keduanya adalah orang-orang antirokok yang sengaja berkata demikian. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi jika suara mereka mewakili suara capres sepenuhnya, maka ke depan bisa dipastikan menjadi bumerang bagi para capres. Akan terjadi banyak orang yang bergerak dalam bidang pertembakauan apatis terhadap pilpres pemilu 2019. Mereka merasa terciderai, tidak ada perlindungan bagi mereka. <\/p>\n\n\n\n

Fakta dilapangan demikian, tulisan ini hanya mengingatkan pada capres dan cawapres bahwa ada hak petani tembakau, petani cengkeh, buruh rokok, dan industri rokok yang harus dilindungi. Ingat, mereka semua adalah warga Negara yang baik, mandiri dalam ekonomi dan berdaulat. Mereka adalah pembayar pajak yang taat, dan telah teruji hasil uang dari mereka telah menyehatkan masyarakat Indonesia melalui pembayaran defisit BPJS.  
<\/p>\n","post_title":"Menantang Capres-Cawapres Terang-terangan Membela Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menantang-capres-cawapres-terang-terangan-membela-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-13 08:31:38","post_modified_gmt":"2019-03-13 01:31:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5539","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5539,"post_author":"877","post_date":"2019-03-13 08:31:30","post_date_gmt":"2019-03-13 01:31:30","post_content":"\n

Baik capres-cawapres nomor urut 01 dan no urut 02, sepertinya keduanya belum pernah berstatement<\/em> dengan tegas untuk membela petani tembakau, petani cengkeh, buruh industri rokok, dan hak konsumen rokok. Setidaknya perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, perkebunan cengkeh tersebar di 30 provinsi, dan menyerap tenaga kerja dari hulu hingga hilir mencapai 6,1 juta jiwa. Selama ini, mereka hidup bergantung pada sektor pertembakauan, berupa kretek asli produk Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Karena kearifan lokal, lahan yang dimiliki petani tembakau, tidak ada tanaman yang lebih menguntungkan secara ekonomi, selain tanaman tembakau. Begitu juga yang terjadi pada petani cengkeh, mereka dapat menyekolahkan anak keperguruan tinggi, dapat membangun rumah, dapat membeli barang berharga dari hasil penjualan cengkeh. Petani tembakau dan cengkeh hidup sejahtera di saat pertaniannya berhasil. Bahkan tidak sedikit, mereka akan melakukan khajatnya setelah panen tiba. Ambil contoh, mau menikahkan atau mengkhitankan anaknya setelah panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fakta empiris tersebut, hampir dilakukan semua petani tembakau dan cengkeh. Mereka bukannya tidak menanam selain tembakau atau cengkeh, akan tetapi kedua tanaman tersebut lebih bisa menopang kebutuhan-kebutuhan yang memerlukan biaya besar. Petani tembakau, selama Desember sampai April menanam selain tembakau. Tidak sedikit petani cengkeh menanam selain cengkeh di lahan lain atau di sela-sela tanaman cengeh. Ini menunjukkan adanya tanaman tembakau dan cengkeh hasilnya lebih besar dibanding tanaman lain. Dan keduanya merupakan tanaman agung anugerah Tuhan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai buruh pabrik rokok, mereka ibu ibu rumah tangga sangat bahagia dapat membantu dan meringankan beban suami untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Mayoritas pekerja pabrik rokok kretek di Indonesia adalah wanita atau ibu rumah tangga, dan tidak ada pekerjaan lain yang bisa ia kerjakan yang bisa menghasilkan uang. Konsumen rokok dan industri rokok, adalah warga Negara yang taat akan pajak. Sebelum dinikmati, tiap batang rokok kretek yang telah dibeli sudah otomatis membayar pajak. Begitu juga, sebelum terjual, pabrik terbebani pajak dobel yang harus dibayar di muka, yaitu pungutan cukai, pungutan restribusi daerah dan talangan pajak konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Apakah keadaan ini semua dinafikan oleh Negara? Berapa besar keuntungan Negara dari hasil pajak rokok? Berapa besar manfaat uang cukai dalam menyehatkan masyarakat melalui pembayaran defisit BPJS? Kenapa para kandidat presiden tidak berani terang-terang membela sektor pertembakauan yang jelas-jelas bermanfaat bagi masyarakat kecil, bagi seluruh masyarakat bangsa dan membantu penerimaan uang kas Negara. <\/p>\n\n\n\n

Capres-Cawapres tahun 2019 ini, seakan-akan tidak memperdulikan nasib keberadaan sektor pertembakauan. Yang ada justru bertindak ikut-ikutan seperti halnya antirokok, itu pun yang berbicara adalah perwakilan dan bukan capresnya sendiri. <\/strong>Dilansir dari nasional.kompas.com<\/em>, bahwa salah satu anggota tim kesehatan Badan Pemenangan Nasional (BPN), bernama Hermawan Saputra, mengungkapkan, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno akan memberikan solusi agar pengguna rokok di Indonesia bisa menurun. Menurut dia, yang perlu dibereskan adalah hulu masalah industri rokok, yaitu mendorong petani tembakau untuk beralih profesi di bidang lain.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya <\/a><\/h2>\n\n\n\n

\"Kita naikkan cukai pun, tapi selama budaya dan perilaku masyarakat merokok tidak berubah serta petani yang menggantungkan diri di tembakau, ya tidak akan selesai. Meskipun tidak mudah, Hermawan meyakini Prabowo-Sandiaga memiliki kemauan politik yang kuat agar pengguna rokok bisa menurun. Dia mengatakan, tim kesehatan BPN sudah membuat rencana dan merancang program kesehatan yang bisa dipaparkan Sandiaga saat debat ketiga, \"ujar Hermawan saat ditemui dalam sebuah diskusi bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" menuju debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga dilansir dari tribunnews.com<\/em> bahwa Hasbullah Thabrany  orang yang mengatasnamakan Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, mengatakan;  jika terpilih dalam Pilpres 2019<\/a>, Jokowi-Ma'ruf akan menaikkan cukai rokok untuk menurunkan angka pengguna rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHarga cukai rokok di Indonesia merupakan yang paling terendah di dunia. Ia mencontohkan, cukai rokok di Singapura mencapai 90 persen dan Thailand 84 persen. Kita targetkan di pemerintahan ke depan jika Jokowi dan Ma'ruf terpilih, cukai rokok kita naikkan di atas 57 persen,\" ujar Hasbullah saat diskusi polemik bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" jelang debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).<\/p>\n\n\n\n

Baik Hermawan Saputra  atau Hasbullah Thabrany, kedua-duanya apakah yang mereka katakan mewakili suara capres? Sepenuhnya belum diketahui lebih jelas. Kalau dicermati, keduanya adalah orang-orang antirokok yang sengaja berkata demikian. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi jika suara mereka mewakili suara capres sepenuhnya, maka ke depan bisa dipastikan menjadi bumerang bagi para capres. Akan terjadi banyak orang yang bergerak dalam bidang pertembakauan apatis terhadap pilpres pemilu 2019. Mereka merasa terciderai, tidak ada perlindungan bagi mereka. <\/p>\n\n\n\n

Fakta dilapangan demikian, tulisan ini hanya mengingatkan pada capres dan cawapres bahwa ada hak petani tembakau, petani cengkeh, buruh rokok, dan industri rokok yang harus dilindungi. Ingat, mereka semua adalah warga Negara yang baik, mandiri dalam ekonomi dan berdaulat. Mereka adalah pembayar pajak yang taat, dan telah teruji hasil uang dari mereka telah menyehatkan masyarakat Indonesia melalui pembayaran defisit BPJS.  
<\/p>\n","post_title":"Menantang Capres-Cawapres Terang-terangan Membela Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menantang-capres-cawapres-terang-terangan-membela-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-13 08:31:38","post_modified_gmt":"2019-03-13 01:31:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5539","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5539,"post_author":"877","post_date":"2019-03-13 08:31:30","post_date_gmt":"2019-03-13 01:31:30","post_content":"\n

Baik capres-cawapres nomor urut 01 dan no urut 02, sepertinya keduanya belum pernah berstatement<\/em> dengan tegas untuk membela petani tembakau, petani cengkeh, buruh industri rokok, dan hak konsumen rokok. Setidaknya perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, perkebunan cengkeh tersebar di 30 provinsi, dan menyerap tenaga kerja dari hulu hingga hilir mencapai 6,1 juta jiwa. Selama ini, mereka hidup bergantung pada sektor pertembakauan, berupa kretek asli produk Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Karena kearifan lokal, lahan yang dimiliki petani tembakau, tidak ada tanaman yang lebih menguntungkan secara ekonomi, selain tanaman tembakau. Begitu juga yang terjadi pada petani cengkeh, mereka dapat menyekolahkan anak keperguruan tinggi, dapat membangun rumah, dapat membeli barang berharga dari hasil penjualan cengkeh. Petani tembakau dan cengkeh hidup sejahtera di saat pertaniannya berhasil. Bahkan tidak sedikit, mereka akan melakukan khajatnya setelah panen tiba. Ambil contoh, mau menikahkan atau mengkhitankan anaknya setelah panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fakta empiris tersebut, hampir dilakukan semua petani tembakau dan cengkeh. Mereka bukannya tidak menanam selain tembakau atau cengkeh, akan tetapi kedua tanaman tersebut lebih bisa menopang kebutuhan-kebutuhan yang memerlukan biaya besar. Petani tembakau, selama Desember sampai April menanam selain tembakau. Tidak sedikit petani cengkeh menanam selain cengkeh di lahan lain atau di sela-sela tanaman cengeh. Ini menunjukkan adanya tanaman tembakau dan cengkeh hasilnya lebih besar dibanding tanaman lain. Dan keduanya merupakan tanaman agung anugerah Tuhan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai buruh pabrik rokok, mereka ibu ibu rumah tangga sangat bahagia dapat membantu dan meringankan beban suami untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Mayoritas pekerja pabrik rokok kretek di Indonesia adalah wanita atau ibu rumah tangga, dan tidak ada pekerjaan lain yang bisa ia kerjakan yang bisa menghasilkan uang. Konsumen rokok dan industri rokok, adalah warga Negara yang taat akan pajak. Sebelum dinikmati, tiap batang rokok kretek yang telah dibeli sudah otomatis membayar pajak. Begitu juga, sebelum terjual, pabrik terbebani pajak dobel yang harus dibayar di muka, yaitu pungutan cukai, pungutan restribusi daerah dan talangan pajak konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Apakah keadaan ini semua dinafikan oleh Negara? Berapa besar keuntungan Negara dari hasil pajak rokok? Berapa besar manfaat uang cukai dalam menyehatkan masyarakat melalui pembayaran defisit BPJS? Kenapa para kandidat presiden tidak berani terang-terang membela sektor pertembakauan yang jelas-jelas bermanfaat bagi masyarakat kecil, bagi seluruh masyarakat bangsa dan membantu penerimaan uang kas Negara. <\/p>\n\n\n\n

Capres-Cawapres tahun 2019 ini, seakan-akan tidak memperdulikan nasib keberadaan sektor pertembakauan. Yang ada justru bertindak ikut-ikutan seperti halnya antirokok, itu pun yang berbicara adalah perwakilan dan bukan capresnya sendiri. <\/strong>Dilansir dari nasional.kompas.com<\/em>, bahwa salah satu anggota tim kesehatan Badan Pemenangan Nasional (BPN), bernama Hermawan Saputra, mengungkapkan, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno akan memberikan solusi agar pengguna rokok di Indonesia bisa menurun. Menurut dia, yang perlu dibereskan adalah hulu masalah industri rokok, yaitu mendorong petani tembakau untuk beralih profesi di bidang lain.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya <\/a><\/h2>\n\n\n\n

\"Kita naikkan cukai pun, tapi selama budaya dan perilaku masyarakat merokok tidak berubah serta petani yang menggantungkan diri di tembakau, ya tidak akan selesai. Meskipun tidak mudah, Hermawan meyakini Prabowo-Sandiaga memiliki kemauan politik yang kuat agar pengguna rokok bisa menurun. Dia mengatakan, tim kesehatan BPN sudah membuat rencana dan merancang program kesehatan yang bisa dipaparkan Sandiaga saat debat ketiga, \"ujar Hermawan saat ditemui dalam sebuah diskusi bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" menuju debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga dilansir dari tribunnews.com<\/em> bahwa Hasbullah Thabrany  orang yang mengatasnamakan Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, mengatakan;  jika terpilih dalam Pilpres 2019<\/a>, Jokowi-Ma'ruf akan menaikkan cukai rokok untuk menurunkan angka pengguna rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHarga cukai rokok di Indonesia merupakan yang paling terendah di dunia. Ia mencontohkan, cukai rokok di Singapura mencapai 90 persen dan Thailand 84 persen. Kita targetkan di pemerintahan ke depan jika Jokowi dan Ma'ruf terpilih, cukai rokok kita naikkan di atas 57 persen,\" ujar Hasbullah saat diskusi polemik bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" jelang debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).<\/p>\n\n\n\n

Baik Hermawan Saputra  atau Hasbullah Thabrany, kedua-duanya apakah yang mereka katakan mewakili suara capres? Sepenuhnya belum diketahui lebih jelas. Kalau dicermati, keduanya adalah orang-orang antirokok yang sengaja berkata demikian. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi jika suara mereka mewakili suara capres sepenuhnya, maka ke depan bisa dipastikan menjadi bumerang bagi para capres. Akan terjadi banyak orang yang bergerak dalam bidang pertembakauan apatis terhadap pilpres pemilu 2019. Mereka merasa terciderai, tidak ada perlindungan bagi mereka. <\/p>\n\n\n\n

Fakta dilapangan demikian, tulisan ini hanya mengingatkan pada capres dan cawapres bahwa ada hak petani tembakau, petani cengkeh, buruh rokok, dan industri rokok yang harus dilindungi. Ingat, mereka semua adalah warga Negara yang baik, mandiri dalam ekonomi dan berdaulat. Mereka adalah pembayar pajak yang taat, dan telah teruji hasil uang dari mereka telah menyehatkan masyarakat Indonesia melalui pembayaran defisit BPJS.  
<\/p>\n","post_title":"Menantang Capres-Cawapres Terang-terangan Membela Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menantang-capres-cawapres-terang-terangan-membela-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-13 08:31:38","post_modified_gmt":"2019-03-13 01:31:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5539","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5539,"post_author":"877","post_date":"2019-03-13 08:31:30","post_date_gmt":"2019-03-13 01:31:30","post_content":"\n

Baik capres-cawapres nomor urut 01 dan no urut 02, sepertinya keduanya belum pernah berstatement<\/em> dengan tegas untuk membela petani tembakau, petani cengkeh, buruh industri rokok, dan hak konsumen rokok. Setidaknya perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, perkebunan cengkeh tersebar di 30 provinsi, dan menyerap tenaga kerja dari hulu hingga hilir mencapai 6,1 juta jiwa. Selama ini, mereka hidup bergantung pada sektor pertembakauan, berupa kretek asli produk Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Karena kearifan lokal, lahan yang dimiliki petani tembakau, tidak ada tanaman yang lebih menguntungkan secara ekonomi, selain tanaman tembakau. Begitu juga yang terjadi pada petani cengkeh, mereka dapat menyekolahkan anak keperguruan tinggi, dapat membangun rumah, dapat membeli barang berharga dari hasil penjualan cengkeh. Petani tembakau dan cengkeh hidup sejahtera di saat pertaniannya berhasil. Bahkan tidak sedikit, mereka akan melakukan khajatnya setelah panen tiba. Ambil contoh, mau menikahkan atau mengkhitankan anaknya setelah panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fakta empiris tersebut, hampir dilakukan semua petani tembakau dan cengkeh. Mereka bukannya tidak menanam selain tembakau atau cengkeh, akan tetapi kedua tanaman tersebut lebih bisa menopang kebutuhan-kebutuhan yang memerlukan biaya besar. Petani tembakau, selama Desember sampai April menanam selain tembakau. Tidak sedikit petani cengkeh menanam selain cengkeh di lahan lain atau di sela-sela tanaman cengeh. Ini menunjukkan adanya tanaman tembakau dan cengkeh hasilnya lebih besar dibanding tanaman lain. Dan keduanya merupakan tanaman agung anugerah Tuhan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai buruh pabrik rokok, mereka ibu ibu rumah tangga sangat bahagia dapat membantu dan meringankan beban suami untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Mayoritas pekerja pabrik rokok kretek di Indonesia adalah wanita atau ibu rumah tangga, dan tidak ada pekerjaan lain yang bisa ia kerjakan yang bisa menghasilkan uang. Konsumen rokok dan industri rokok, adalah warga Negara yang taat akan pajak. Sebelum dinikmati, tiap batang rokok kretek yang telah dibeli sudah otomatis membayar pajak. Begitu juga, sebelum terjual, pabrik terbebani pajak dobel yang harus dibayar di muka, yaitu pungutan cukai, pungutan restribusi daerah dan talangan pajak konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Apakah keadaan ini semua dinafikan oleh Negara? Berapa besar keuntungan Negara dari hasil pajak rokok? Berapa besar manfaat uang cukai dalam menyehatkan masyarakat melalui pembayaran defisit BPJS? Kenapa para kandidat presiden tidak berani terang-terang membela sektor pertembakauan yang jelas-jelas bermanfaat bagi masyarakat kecil, bagi seluruh masyarakat bangsa dan membantu penerimaan uang kas Negara. <\/p>\n\n\n\n

Capres-Cawapres tahun 2019 ini, seakan-akan tidak memperdulikan nasib keberadaan sektor pertembakauan. Yang ada justru bertindak ikut-ikutan seperti halnya antirokok, itu pun yang berbicara adalah perwakilan dan bukan capresnya sendiri. <\/strong>Dilansir dari nasional.kompas.com<\/em>, bahwa salah satu anggota tim kesehatan Badan Pemenangan Nasional (BPN), bernama Hermawan Saputra, mengungkapkan, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno akan memberikan solusi agar pengguna rokok di Indonesia bisa menurun. Menurut dia, yang perlu dibereskan adalah hulu masalah industri rokok, yaitu mendorong petani tembakau untuk beralih profesi di bidang lain.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya <\/a><\/h2>\n\n\n\n

\"Kita naikkan cukai pun, tapi selama budaya dan perilaku masyarakat merokok tidak berubah serta petani yang menggantungkan diri di tembakau, ya tidak akan selesai. Meskipun tidak mudah, Hermawan meyakini Prabowo-Sandiaga memiliki kemauan politik yang kuat agar pengguna rokok bisa menurun. Dia mengatakan, tim kesehatan BPN sudah membuat rencana dan merancang program kesehatan yang bisa dipaparkan Sandiaga saat debat ketiga, \"ujar Hermawan saat ditemui dalam sebuah diskusi bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" menuju debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga dilansir dari tribunnews.com<\/em> bahwa Hasbullah Thabrany  orang yang mengatasnamakan Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, mengatakan;  jika terpilih dalam Pilpres 2019<\/a>, Jokowi-Ma'ruf akan menaikkan cukai rokok untuk menurunkan angka pengguna rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHarga cukai rokok di Indonesia merupakan yang paling terendah di dunia. Ia mencontohkan, cukai rokok di Singapura mencapai 90 persen dan Thailand 84 persen. Kita targetkan di pemerintahan ke depan jika Jokowi dan Ma'ruf terpilih, cukai rokok kita naikkan di atas 57 persen,\" ujar Hasbullah saat diskusi polemik bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" jelang debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).<\/p>\n\n\n\n

Baik Hermawan Saputra  atau Hasbullah Thabrany, kedua-duanya apakah yang mereka katakan mewakili suara capres? Sepenuhnya belum diketahui lebih jelas. Kalau dicermati, keduanya adalah orang-orang antirokok yang sengaja berkata demikian. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi jika suara mereka mewakili suara capres sepenuhnya, maka ke depan bisa dipastikan menjadi bumerang bagi para capres. Akan terjadi banyak orang yang bergerak dalam bidang pertembakauan apatis terhadap pilpres pemilu 2019. Mereka merasa terciderai, tidak ada perlindungan bagi mereka. <\/p>\n\n\n\n

Fakta dilapangan demikian, tulisan ini hanya mengingatkan pada capres dan cawapres bahwa ada hak petani tembakau, petani cengkeh, buruh rokok, dan industri rokok yang harus dilindungi. Ingat, mereka semua adalah warga Negara yang baik, mandiri dalam ekonomi dan berdaulat. Mereka adalah pembayar pajak yang taat, dan telah teruji hasil uang dari mereka telah menyehatkan masyarakat Indonesia melalui pembayaran defisit BPJS.  
<\/p>\n","post_title":"Menantang Capres-Cawapres Terang-terangan Membela Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menantang-capres-cawapres-terang-terangan-membela-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-13 08:31:38","post_modified_gmt":"2019-03-13 01:31:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5539","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5539,"post_author":"877","post_date":"2019-03-13 08:31:30","post_date_gmt":"2019-03-13 01:31:30","post_content":"\n

Baik capres-cawapres nomor urut 01 dan no urut 02, sepertinya keduanya belum pernah berstatement<\/em> dengan tegas untuk membela petani tembakau, petani cengkeh, buruh industri rokok, dan hak konsumen rokok. Setidaknya perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, perkebunan cengkeh tersebar di 30 provinsi, dan menyerap tenaga kerja dari hulu hingga hilir mencapai 6,1 juta jiwa. Selama ini, mereka hidup bergantung pada sektor pertembakauan, berupa kretek asli produk Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Karena kearifan lokal, lahan yang dimiliki petani tembakau, tidak ada tanaman yang lebih menguntungkan secara ekonomi, selain tanaman tembakau. Begitu juga yang terjadi pada petani cengkeh, mereka dapat menyekolahkan anak keperguruan tinggi, dapat membangun rumah, dapat membeli barang berharga dari hasil penjualan cengkeh. Petani tembakau dan cengkeh hidup sejahtera di saat pertaniannya berhasil. Bahkan tidak sedikit, mereka akan melakukan khajatnya setelah panen tiba. Ambil contoh, mau menikahkan atau mengkhitankan anaknya setelah panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fakta empiris tersebut, hampir dilakukan semua petani tembakau dan cengkeh. Mereka bukannya tidak menanam selain tembakau atau cengkeh, akan tetapi kedua tanaman tersebut lebih bisa menopang kebutuhan-kebutuhan yang memerlukan biaya besar. Petani tembakau, selama Desember sampai April menanam selain tembakau. Tidak sedikit petani cengkeh menanam selain cengkeh di lahan lain atau di sela-sela tanaman cengeh. Ini menunjukkan adanya tanaman tembakau dan cengkeh hasilnya lebih besar dibanding tanaman lain. Dan keduanya merupakan tanaman agung anugerah Tuhan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai buruh pabrik rokok, mereka ibu ibu rumah tangga sangat bahagia dapat membantu dan meringankan beban suami untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Mayoritas pekerja pabrik rokok kretek di Indonesia adalah wanita atau ibu rumah tangga, dan tidak ada pekerjaan lain yang bisa ia kerjakan yang bisa menghasilkan uang. Konsumen rokok dan industri rokok, adalah warga Negara yang taat akan pajak. Sebelum dinikmati, tiap batang rokok kretek yang telah dibeli sudah otomatis membayar pajak. Begitu juga, sebelum terjual, pabrik terbebani pajak dobel yang harus dibayar di muka, yaitu pungutan cukai, pungutan restribusi daerah dan talangan pajak konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Apakah keadaan ini semua dinafikan oleh Negara? Berapa besar keuntungan Negara dari hasil pajak rokok? Berapa besar manfaat uang cukai dalam menyehatkan masyarakat melalui pembayaran defisit BPJS? Kenapa para kandidat presiden tidak berani terang-terang membela sektor pertembakauan yang jelas-jelas bermanfaat bagi masyarakat kecil, bagi seluruh masyarakat bangsa dan membantu penerimaan uang kas Negara. <\/p>\n\n\n\n

Capres-Cawapres tahun 2019 ini, seakan-akan tidak memperdulikan nasib keberadaan sektor pertembakauan. Yang ada justru bertindak ikut-ikutan seperti halnya antirokok, itu pun yang berbicara adalah perwakilan dan bukan capresnya sendiri. <\/strong>Dilansir dari nasional.kompas.com<\/em>, bahwa salah satu anggota tim kesehatan Badan Pemenangan Nasional (BPN), bernama Hermawan Saputra, mengungkapkan, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno akan memberikan solusi agar pengguna rokok di Indonesia bisa menurun. Menurut dia, yang perlu dibereskan adalah hulu masalah industri rokok, yaitu mendorong petani tembakau untuk beralih profesi di bidang lain.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya <\/a><\/h2>\n\n\n\n

\"Kita naikkan cukai pun, tapi selama budaya dan perilaku masyarakat merokok tidak berubah serta petani yang menggantungkan diri di tembakau, ya tidak akan selesai. Meskipun tidak mudah, Hermawan meyakini Prabowo-Sandiaga memiliki kemauan politik yang kuat agar pengguna rokok bisa menurun. Dia mengatakan, tim kesehatan BPN sudah membuat rencana dan merancang program kesehatan yang bisa dipaparkan Sandiaga saat debat ketiga, \"ujar Hermawan saat ditemui dalam sebuah diskusi bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" menuju debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga dilansir dari tribunnews.com<\/em> bahwa Hasbullah Thabrany  orang yang mengatasnamakan Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, mengatakan;  jika terpilih dalam Pilpres 2019<\/a>, Jokowi-Ma'ruf akan menaikkan cukai rokok untuk menurunkan angka pengguna rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHarga cukai rokok di Indonesia merupakan yang paling terendah di dunia. Ia mencontohkan, cukai rokok di Singapura mencapai 90 persen dan Thailand 84 persen. Kita targetkan di pemerintahan ke depan jika Jokowi dan Ma'ruf terpilih, cukai rokok kita naikkan di atas 57 persen,\" ujar Hasbullah saat diskusi polemik bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" jelang debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).<\/p>\n\n\n\n

Baik Hermawan Saputra  atau Hasbullah Thabrany, kedua-duanya apakah yang mereka katakan mewakili suara capres? Sepenuhnya belum diketahui lebih jelas. Kalau dicermati, keduanya adalah orang-orang antirokok yang sengaja berkata demikian. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi jika suara mereka mewakili suara capres sepenuhnya, maka ke depan bisa dipastikan menjadi bumerang bagi para capres. Akan terjadi banyak orang yang bergerak dalam bidang pertembakauan apatis terhadap pilpres pemilu 2019. Mereka merasa terciderai, tidak ada perlindungan bagi mereka. <\/p>\n\n\n\n

Fakta dilapangan demikian, tulisan ini hanya mengingatkan pada capres dan cawapres bahwa ada hak petani tembakau, petani cengkeh, buruh rokok, dan industri rokok yang harus dilindungi. Ingat, mereka semua adalah warga Negara yang baik, mandiri dalam ekonomi dan berdaulat. Mereka adalah pembayar pajak yang taat, dan telah teruji hasil uang dari mereka telah menyehatkan masyarakat Indonesia melalui pembayaran defisit BPJS.  
<\/p>\n","post_title":"Menantang Capres-Cawapres Terang-terangan Membela Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menantang-capres-cawapres-terang-terangan-membela-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-13 08:31:38","post_modified_gmt":"2019-03-13 01:31:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5539","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5539,"post_author":"877","post_date":"2019-03-13 08:31:30","post_date_gmt":"2019-03-13 01:31:30","post_content":"\n

Baik capres-cawapres nomor urut 01 dan no urut 02, sepertinya keduanya belum pernah berstatement<\/em> dengan tegas untuk membela petani tembakau, petani cengkeh, buruh industri rokok, dan hak konsumen rokok. Setidaknya perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, perkebunan cengkeh tersebar di 30 provinsi, dan menyerap tenaga kerja dari hulu hingga hilir mencapai 6,1 juta jiwa. Selama ini, mereka hidup bergantung pada sektor pertembakauan, berupa kretek asli produk Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Karena kearifan lokal, lahan yang dimiliki petani tembakau, tidak ada tanaman yang lebih menguntungkan secara ekonomi, selain tanaman tembakau. Begitu juga yang terjadi pada petani cengkeh, mereka dapat menyekolahkan anak keperguruan tinggi, dapat membangun rumah, dapat membeli barang berharga dari hasil penjualan cengkeh. Petani tembakau dan cengkeh hidup sejahtera di saat pertaniannya berhasil. Bahkan tidak sedikit, mereka akan melakukan khajatnya setelah panen tiba. Ambil contoh, mau menikahkan atau mengkhitankan anaknya setelah panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fakta empiris tersebut, hampir dilakukan semua petani tembakau dan cengkeh. Mereka bukannya tidak menanam selain tembakau atau cengkeh, akan tetapi kedua tanaman tersebut lebih bisa menopang kebutuhan-kebutuhan yang memerlukan biaya besar. Petani tembakau, selama Desember sampai April menanam selain tembakau. Tidak sedikit petani cengkeh menanam selain cengkeh di lahan lain atau di sela-sela tanaman cengeh. Ini menunjukkan adanya tanaman tembakau dan cengkeh hasilnya lebih besar dibanding tanaman lain. Dan keduanya merupakan tanaman agung anugerah Tuhan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai buruh pabrik rokok, mereka ibu ibu rumah tangga sangat bahagia dapat membantu dan meringankan beban suami untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Mayoritas pekerja pabrik rokok kretek di Indonesia adalah wanita atau ibu rumah tangga, dan tidak ada pekerjaan lain yang bisa ia kerjakan yang bisa menghasilkan uang. Konsumen rokok dan industri rokok, adalah warga Negara yang taat akan pajak. Sebelum dinikmati, tiap batang rokok kretek yang telah dibeli sudah otomatis membayar pajak. Begitu juga, sebelum terjual, pabrik terbebani pajak dobel yang harus dibayar di muka, yaitu pungutan cukai, pungutan restribusi daerah dan talangan pajak konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Apakah keadaan ini semua dinafikan oleh Negara? Berapa besar keuntungan Negara dari hasil pajak rokok? Berapa besar manfaat uang cukai dalam menyehatkan masyarakat melalui pembayaran defisit BPJS? Kenapa para kandidat presiden tidak berani terang-terang membela sektor pertembakauan yang jelas-jelas bermanfaat bagi masyarakat kecil, bagi seluruh masyarakat bangsa dan membantu penerimaan uang kas Negara. <\/p>\n\n\n\n

Capres-Cawapres tahun 2019 ini, seakan-akan tidak memperdulikan nasib keberadaan sektor pertembakauan. Yang ada justru bertindak ikut-ikutan seperti halnya antirokok, itu pun yang berbicara adalah perwakilan dan bukan capresnya sendiri. <\/strong>Dilansir dari nasional.kompas.com<\/em>, bahwa salah satu anggota tim kesehatan Badan Pemenangan Nasional (BPN), bernama Hermawan Saputra, mengungkapkan, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno akan memberikan solusi agar pengguna rokok di Indonesia bisa menurun. Menurut dia, yang perlu dibereskan adalah hulu masalah industri rokok, yaitu mendorong petani tembakau untuk beralih profesi di bidang lain.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya <\/a><\/h2>\n\n\n\n

\"Kita naikkan cukai pun, tapi selama budaya dan perilaku masyarakat merokok tidak berubah serta petani yang menggantungkan diri di tembakau, ya tidak akan selesai. Meskipun tidak mudah, Hermawan meyakini Prabowo-Sandiaga memiliki kemauan politik yang kuat agar pengguna rokok bisa menurun. Dia mengatakan, tim kesehatan BPN sudah membuat rencana dan merancang program kesehatan yang bisa dipaparkan Sandiaga saat debat ketiga, \"ujar Hermawan saat ditemui dalam sebuah diskusi bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" menuju debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga dilansir dari tribunnews.com<\/em> bahwa Hasbullah Thabrany  orang yang mengatasnamakan Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, mengatakan;  jika terpilih dalam Pilpres 2019<\/a>, Jokowi-Ma'ruf akan menaikkan cukai rokok untuk menurunkan angka pengguna rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHarga cukai rokok di Indonesia merupakan yang paling terendah di dunia. Ia mencontohkan, cukai rokok di Singapura mencapai 90 persen dan Thailand 84 persen. Kita targetkan di pemerintahan ke depan jika Jokowi dan Ma'ruf terpilih, cukai rokok kita naikkan di atas 57 persen,\" ujar Hasbullah saat diskusi polemik bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" jelang debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).<\/p>\n\n\n\n

Baik Hermawan Saputra  atau Hasbullah Thabrany, kedua-duanya apakah yang mereka katakan mewakili suara capres? Sepenuhnya belum diketahui lebih jelas. Kalau dicermati, keduanya adalah orang-orang antirokok yang sengaja berkata demikian. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi jika suara mereka mewakili suara capres sepenuhnya, maka ke depan bisa dipastikan menjadi bumerang bagi para capres. Akan terjadi banyak orang yang bergerak dalam bidang pertembakauan apatis terhadap pilpres pemilu 2019. Mereka merasa terciderai, tidak ada perlindungan bagi mereka. <\/p>\n\n\n\n

Fakta dilapangan demikian, tulisan ini hanya mengingatkan pada capres dan cawapres bahwa ada hak petani tembakau, petani cengkeh, buruh rokok, dan industri rokok yang harus dilindungi. Ingat, mereka semua adalah warga Negara yang baik, mandiri dalam ekonomi dan berdaulat. Mereka adalah pembayar pajak yang taat, dan telah teruji hasil uang dari mereka telah menyehatkan masyarakat Indonesia melalui pembayaran defisit BPJS.  
<\/p>\n","post_title":"Menantang Capres-Cawapres Terang-terangan Membela Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menantang-capres-cawapres-terang-terangan-membela-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-13 08:31:38","post_modified_gmt":"2019-03-13 01:31:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5539","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5539,"post_author":"877","post_date":"2019-03-13 08:31:30","post_date_gmt":"2019-03-13 01:31:30","post_content":"\n

Baik capres-cawapres nomor urut 01 dan no urut 02, sepertinya keduanya belum pernah berstatement<\/em> dengan tegas untuk membela petani tembakau, petani cengkeh, buruh industri rokok, dan hak konsumen rokok. Setidaknya perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, perkebunan cengkeh tersebar di 30 provinsi, dan menyerap tenaga kerja dari hulu hingga hilir mencapai 6,1 juta jiwa. Selama ini, mereka hidup bergantung pada sektor pertembakauan, berupa kretek asli produk Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Karena kearifan lokal, lahan yang dimiliki petani tembakau, tidak ada tanaman yang lebih menguntungkan secara ekonomi, selain tanaman tembakau. Begitu juga yang terjadi pada petani cengkeh, mereka dapat menyekolahkan anak keperguruan tinggi, dapat membangun rumah, dapat membeli barang berharga dari hasil penjualan cengkeh. Petani tembakau dan cengkeh hidup sejahtera di saat pertaniannya berhasil. Bahkan tidak sedikit, mereka akan melakukan khajatnya setelah panen tiba. Ambil contoh, mau menikahkan atau mengkhitankan anaknya setelah panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fakta empiris tersebut, hampir dilakukan semua petani tembakau dan cengkeh. Mereka bukannya tidak menanam selain tembakau atau cengkeh, akan tetapi kedua tanaman tersebut lebih bisa menopang kebutuhan-kebutuhan yang memerlukan biaya besar. Petani tembakau, selama Desember sampai April menanam selain tembakau. Tidak sedikit petani cengkeh menanam selain cengkeh di lahan lain atau di sela-sela tanaman cengeh. Ini menunjukkan adanya tanaman tembakau dan cengkeh hasilnya lebih besar dibanding tanaman lain. Dan keduanya merupakan tanaman agung anugerah Tuhan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai buruh pabrik rokok, mereka ibu ibu rumah tangga sangat bahagia dapat membantu dan meringankan beban suami untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Mayoritas pekerja pabrik rokok kretek di Indonesia adalah wanita atau ibu rumah tangga, dan tidak ada pekerjaan lain yang bisa ia kerjakan yang bisa menghasilkan uang. Konsumen rokok dan industri rokok, adalah warga Negara yang taat akan pajak. Sebelum dinikmati, tiap batang rokok kretek yang telah dibeli sudah otomatis membayar pajak. Begitu juga, sebelum terjual, pabrik terbebani pajak dobel yang harus dibayar di muka, yaitu pungutan cukai, pungutan restribusi daerah dan talangan pajak konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Apakah keadaan ini semua dinafikan oleh Negara? Berapa besar keuntungan Negara dari hasil pajak rokok? Berapa besar manfaat uang cukai dalam menyehatkan masyarakat melalui pembayaran defisit BPJS? Kenapa para kandidat presiden tidak berani terang-terang membela sektor pertembakauan yang jelas-jelas bermanfaat bagi masyarakat kecil, bagi seluruh masyarakat bangsa dan membantu penerimaan uang kas Negara. <\/p>\n\n\n\n

Capres-Cawapres tahun 2019 ini, seakan-akan tidak memperdulikan nasib keberadaan sektor pertembakauan. Yang ada justru bertindak ikut-ikutan seperti halnya antirokok, itu pun yang berbicara adalah perwakilan dan bukan capresnya sendiri. <\/strong>Dilansir dari nasional.kompas.com<\/em>, bahwa salah satu anggota tim kesehatan Badan Pemenangan Nasional (BPN), bernama Hermawan Saputra, mengungkapkan, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno akan memberikan solusi agar pengguna rokok di Indonesia bisa menurun. Menurut dia, yang perlu dibereskan adalah hulu masalah industri rokok, yaitu mendorong petani tembakau untuk beralih profesi di bidang lain.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya <\/a><\/h2>\n\n\n\n

\"Kita naikkan cukai pun, tapi selama budaya dan perilaku masyarakat merokok tidak berubah serta petani yang menggantungkan diri di tembakau, ya tidak akan selesai. Meskipun tidak mudah, Hermawan meyakini Prabowo-Sandiaga memiliki kemauan politik yang kuat agar pengguna rokok bisa menurun. Dia mengatakan, tim kesehatan BPN sudah membuat rencana dan merancang program kesehatan yang bisa dipaparkan Sandiaga saat debat ketiga, \"ujar Hermawan saat ditemui dalam sebuah diskusi bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" menuju debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga dilansir dari tribunnews.com<\/em> bahwa Hasbullah Thabrany  orang yang mengatasnamakan Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, mengatakan;  jika terpilih dalam Pilpres 2019<\/a>, Jokowi-Ma'ruf akan menaikkan cukai rokok untuk menurunkan angka pengguna rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHarga cukai rokok di Indonesia merupakan yang paling terendah di dunia. Ia mencontohkan, cukai rokok di Singapura mencapai 90 persen dan Thailand 84 persen. Kita targetkan di pemerintahan ke depan jika Jokowi dan Ma'ruf terpilih, cukai rokok kita naikkan di atas 57 persen,\" ujar Hasbullah saat diskusi polemik bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" jelang debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).<\/p>\n\n\n\n

Baik Hermawan Saputra  atau Hasbullah Thabrany, kedua-duanya apakah yang mereka katakan mewakili suara capres? Sepenuhnya belum diketahui lebih jelas. Kalau dicermati, keduanya adalah orang-orang antirokok yang sengaja berkata demikian. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi jika suara mereka mewakili suara capres sepenuhnya, maka ke depan bisa dipastikan menjadi bumerang bagi para capres. Akan terjadi banyak orang yang bergerak dalam bidang pertembakauan apatis terhadap pilpres pemilu 2019. Mereka merasa terciderai, tidak ada perlindungan bagi mereka. <\/p>\n\n\n\n

Fakta dilapangan demikian, tulisan ini hanya mengingatkan pada capres dan cawapres bahwa ada hak petani tembakau, petani cengkeh, buruh rokok, dan industri rokok yang harus dilindungi. Ingat, mereka semua adalah warga Negara yang baik, mandiri dalam ekonomi dan berdaulat. Mereka adalah pembayar pajak yang taat, dan telah teruji hasil uang dari mereka telah menyehatkan masyarakat Indonesia melalui pembayaran defisit BPJS.  
<\/p>\n","post_title":"Menantang Capres-Cawapres Terang-terangan Membela Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menantang-capres-cawapres-terang-terangan-membela-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-13 08:31:38","post_modified_gmt":"2019-03-13 01:31:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5539","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5539,"post_author":"877","post_date":"2019-03-13 08:31:30","post_date_gmt":"2019-03-13 01:31:30","post_content":"\n

Baik capres-cawapres nomor urut 01 dan no urut 02, sepertinya keduanya belum pernah berstatement<\/em> dengan tegas untuk membela petani tembakau, petani cengkeh, buruh industri rokok, dan hak konsumen rokok. Setidaknya perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, perkebunan cengkeh tersebar di 30 provinsi, dan menyerap tenaga kerja dari hulu hingga hilir mencapai 6,1 juta jiwa. Selama ini, mereka hidup bergantung pada sektor pertembakauan, berupa kretek asli produk Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Karena kearifan lokal, lahan yang dimiliki petani tembakau, tidak ada tanaman yang lebih menguntungkan secara ekonomi, selain tanaman tembakau. Begitu juga yang terjadi pada petani cengkeh, mereka dapat menyekolahkan anak keperguruan tinggi, dapat membangun rumah, dapat membeli barang berharga dari hasil penjualan cengkeh. Petani tembakau dan cengkeh hidup sejahtera di saat pertaniannya berhasil. Bahkan tidak sedikit, mereka akan melakukan khajatnya setelah panen tiba. Ambil contoh, mau menikahkan atau mengkhitankan anaknya setelah panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fakta empiris tersebut, hampir dilakukan semua petani tembakau dan cengkeh. Mereka bukannya tidak menanam selain tembakau atau cengkeh, akan tetapi kedua tanaman tersebut lebih bisa menopang kebutuhan-kebutuhan yang memerlukan biaya besar. Petani tembakau, selama Desember sampai April menanam selain tembakau. Tidak sedikit petani cengkeh menanam selain cengkeh di lahan lain atau di sela-sela tanaman cengeh. Ini menunjukkan adanya tanaman tembakau dan cengkeh hasilnya lebih besar dibanding tanaman lain. Dan keduanya merupakan tanaman agung anugerah Tuhan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai buruh pabrik rokok, mereka ibu ibu rumah tangga sangat bahagia dapat membantu dan meringankan beban suami untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Mayoritas pekerja pabrik rokok kretek di Indonesia adalah wanita atau ibu rumah tangga, dan tidak ada pekerjaan lain yang bisa ia kerjakan yang bisa menghasilkan uang. Konsumen rokok dan industri rokok, adalah warga Negara yang taat akan pajak. Sebelum dinikmati, tiap batang rokok kretek yang telah dibeli sudah otomatis membayar pajak. Begitu juga, sebelum terjual, pabrik terbebani pajak dobel yang harus dibayar di muka, yaitu pungutan cukai, pungutan restribusi daerah dan talangan pajak konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Apakah keadaan ini semua dinafikan oleh Negara? Berapa besar keuntungan Negara dari hasil pajak rokok? Berapa besar manfaat uang cukai dalam menyehatkan masyarakat melalui pembayaran defisit BPJS? Kenapa para kandidat presiden tidak berani terang-terang membela sektor pertembakauan yang jelas-jelas bermanfaat bagi masyarakat kecil, bagi seluruh masyarakat bangsa dan membantu penerimaan uang kas Negara. <\/p>\n\n\n\n

Capres-Cawapres tahun 2019 ini, seakan-akan tidak memperdulikan nasib keberadaan sektor pertembakauan. Yang ada justru bertindak ikut-ikutan seperti halnya antirokok, itu pun yang berbicara adalah perwakilan dan bukan capresnya sendiri. <\/strong>Dilansir dari nasional.kompas.com<\/em>, bahwa salah satu anggota tim kesehatan Badan Pemenangan Nasional (BPN), bernama Hermawan Saputra, mengungkapkan, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno akan memberikan solusi agar pengguna rokok di Indonesia bisa menurun. Menurut dia, yang perlu dibereskan adalah hulu masalah industri rokok, yaitu mendorong petani tembakau untuk beralih profesi di bidang lain.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya <\/a><\/h2>\n\n\n\n

\"Kita naikkan cukai pun, tapi selama budaya dan perilaku masyarakat merokok tidak berubah serta petani yang menggantungkan diri di tembakau, ya tidak akan selesai. Meskipun tidak mudah, Hermawan meyakini Prabowo-Sandiaga memiliki kemauan politik yang kuat agar pengguna rokok bisa menurun. Dia mengatakan, tim kesehatan BPN sudah membuat rencana dan merancang program kesehatan yang bisa dipaparkan Sandiaga saat debat ketiga, \"ujar Hermawan saat ditemui dalam sebuah diskusi bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" menuju debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga dilansir dari tribunnews.com<\/em> bahwa Hasbullah Thabrany  orang yang mengatasnamakan Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, mengatakan;  jika terpilih dalam Pilpres 2019<\/a>, Jokowi-Ma'ruf akan menaikkan cukai rokok untuk menurunkan angka pengguna rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHarga cukai rokok di Indonesia merupakan yang paling terendah di dunia. Ia mencontohkan, cukai rokok di Singapura mencapai 90 persen dan Thailand 84 persen. Kita targetkan di pemerintahan ke depan jika Jokowi dan Ma'ruf terpilih, cukai rokok kita naikkan di atas 57 persen,\" ujar Hasbullah saat diskusi polemik bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" jelang debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).<\/p>\n\n\n\n

Baik Hermawan Saputra  atau Hasbullah Thabrany, kedua-duanya apakah yang mereka katakan mewakili suara capres? Sepenuhnya belum diketahui lebih jelas. Kalau dicermati, keduanya adalah orang-orang antirokok yang sengaja berkata demikian. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi jika suara mereka mewakili suara capres sepenuhnya, maka ke depan bisa dipastikan menjadi bumerang bagi para capres. Akan terjadi banyak orang yang bergerak dalam bidang pertembakauan apatis terhadap pilpres pemilu 2019. Mereka merasa terciderai, tidak ada perlindungan bagi mereka. <\/p>\n\n\n\n

Fakta dilapangan demikian, tulisan ini hanya mengingatkan pada capres dan cawapres bahwa ada hak petani tembakau, petani cengkeh, buruh rokok, dan industri rokok yang harus dilindungi. Ingat, mereka semua adalah warga Negara yang baik, mandiri dalam ekonomi dan berdaulat. Mereka adalah pembayar pajak yang taat, dan telah teruji hasil uang dari mereka telah menyehatkan masyarakat Indonesia melalui pembayaran defisit BPJS.  
<\/p>\n","post_title":"Menantang Capres-Cawapres Terang-terangan Membela Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menantang-capres-cawapres-terang-terangan-membela-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-13 08:31:38","post_modified_gmt":"2019-03-13 01:31:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5539","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5539,"post_author":"877","post_date":"2019-03-13 08:31:30","post_date_gmt":"2019-03-13 01:31:30","post_content":"\n

Baik capres-cawapres nomor urut 01 dan no urut 02, sepertinya keduanya belum pernah berstatement<\/em> dengan tegas untuk membela petani tembakau, petani cengkeh, buruh industri rokok, dan hak konsumen rokok. Setidaknya perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, perkebunan cengkeh tersebar di 30 provinsi, dan menyerap tenaga kerja dari hulu hingga hilir mencapai 6,1 juta jiwa. Selama ini, mereka hidup bergantung pada sektor pertembakauan, berupa kretek asli produk Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Karena kearifan lokal, lahan yang dimiliki petani tembakau, tidak ada tanaman yang lebih menguntungkan secara ekonomi, selain tanaman tembakau. Begitu juga yang terjadi pada petani cengkeh, mereka dapat menyekolahkan anak keperguruan tinggi, dapat membangun rumah, dapat membeli barang berharga dari hasil penjualan cengkeh. Petani tembakau dan cengkeh hidup sejahtera di saat pertaniannya berhasil. Bahkan tidak sedikit, mereka akan melakukan khajatnya setelah panen tiba. Ambil contoh, mau menikahkan atau mengkhitankan anaknya setelah panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fakta empiris tersebut, hampir dilakukan semua petani tembakau dan cengkeh. Mereka bukannya tidak menanam selain tembakau atau cengkeh, akan tetapi kedua tanaman tersebut lebih bisa menopang kebutuhan-kebutuhan yang memerlukan biaya besar. Petani tembakau, selama Desember sampai April menanam selain tembakau. Tidak sedikit petani cengkeh menanam selain cengkeh di lahan lain atau di sela-sela tanaman cengeh. Ini menunjukkan adanya tanaman tembakau dan cengkeh hasilnya lebih besar dibanding tanaman lain. Dan keduanya merupakan tanaman agung anugerah Tuhan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai buruh pabrik rokok, mereka ibu ibu rumah tangga sangat bahagia dapat membantu dan meringankan beban suami untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Mayoritas pekerja pabrik rokok kretek di Indonesia adalah wanita atau ibu rumah tangga, dan tidak ada pekerjaan lain yang bisa ia kerjakan yang bisa menghasilkan uang. Konsumen rokok dan industri rokok, adalah warga Negara yang taat akan pajak. Sebelum dinikmati, tiap batang rokok kretek yang telah dibeli sudah otomatis membayar pajak. Begitu juga, sebelum terjual, pabrik terbebani pajak dobel yang harus dibayar di muka, yaitu pungutan cukai, pungutan restribusi daerah dan talangan pajak konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Apakah keadaan ini semua dinafikan oleh Negara? Berapa besar keuntungan Negara dari hasil pajak rokok? Berapa besar manfaat uang cukai dalam menyehatkan masyarakat melalui pembayaran defisit BPJS? Kenapa para kandidat presiden tidak berani terang-terang membela sektor pertembakauan yang jelas-jelas bermanfaat bagi masyarakat kecil, bagi seluruh masyarakat bangsa dan membantu penerimaan uang kas Negara. <\/p>\n\n\n\n

Capres-Cawapres tahun 2019 ini, seakan-akan tidak memperdulikan nasib keberadaan sektor pertembakauan. Yang ada justru bertindak ikut-ikutan seperti halnya antirokok, itu pun yang berbicara adalah perwakilan dan bukan capresnya sendiri. <\/strong>Dilansir dari nasional.kompas.com<\/em>, bahwa salah satu anggota tim kesehatan Badan Pemenangan Nasional (BPN), bernama Hermawan Saputra, mengungkapkan, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno akan memberikan solusi agar pengguna rokok di Indonesia bisa menurun. Menurut dia, yang perlu dibereskan adalah hulu masalah industri rokok, yaitu mendorong petani tembakau untuk beralih profesi di bidang lain.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya <\/a><\/h2>\n\n\n\n

\"Kita naikkan cukai pun, tapi selama budaya dan perilaku masyarakat merokok tidak berubah serta petani yang menggantungkan diri di tembakau, ya tidak akan selesai. Meskipun tidak mudah, Hermawan meyakini Prabowo-Sandiaga memiliki kemauan politik yang kuat agar pengguna rokok bisa menurun. Dia mengatakan, tim kesehatan BPN sudah membuat rencana dan merancang program kesehatan yang bisa dipaparkan Sandiaga saat debat ketiga, \"ujar Hermawan saat ditemui dalam sebuah diskusi bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" menuju debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga dilansir dari tribunnews.com<\/em> bahwa Hasbullah Thabrany  orang yang mengatasnamakan Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, mengatakan;  jika terpilih dalam Pilpres 2019<\/a>, Jokowi-Ma'ruf akan menaikkan cukai rokok untuk menurunkan angka pengguna rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHarga cukai rokok di Indonesia merupakan yang paling terendah di dunia. Ia mencontohkan, cukai rokok di Singapura mencapai 90 persen dan Thailand 84 persen. Kita targetkan di pemerintahan ke depan jika Jokowi dan Ma'ruf terpilih, cukai rokok kita naikkan di atas 57 persen,\" ujar Hasbullah saat diskusi polemik bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" jelang debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).<\/p>\n\n\n\n

Baik Hermawan Saputra  atau Hasbullah Thabrany, kedua-duanya apakah yang mereka katakan mewakili suara capres? Sepenuhnya belum diketahui lebih jelas. Kalau dicermati, keduanya adalah orang-orang antirokok yang sengaja berkata demikian. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi jika suara mereka mewakili suara capres sepenuhnya, maka ke depan bisa dipastikan menjadi bumerang bagi para capres. Akan terjadi banyak orang yang bergerak dalam bidang pertembakauan apatis terhadap pilpres pemilu 2019. Mereka merasa terciderai, tidak ada perlindungan bagi mereka. <\/p>\n\n\n\n

Fakta dilapangan demikian, tulisan ini hanya mengingatkan pada capres dan cawapres bahwa ada hak petani tembakau, petani cengkeh, buruh rokok, dan industri rokok yang harus dilindungi. Ingat, mereka semua adalah warga Negara yang baik, mandiri dalam ekonomi dan berdaulat. Mereka adalah pembayar pajak yang taat, dan telah teruji hasil uang dari mereka telah menyehatkan masyarakat Indonesia melalui pembayaran defisit BPJS.  
<\/p>\n","post_title":"Menantang Capres-Cawapres Terang-terangan Membela Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menantang-capres-cawapres-terang-terangan-membela-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-13 08:31:38","post_modified_gmt":"2019-03-13 01:31:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5539","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5539,"post_author":"877","post_date":"2019-03-13 08:31:30","post_date_gmt":"2019-03-13 01:31:30","post_content":"\n

Baik capres-cawapres nomor urut 01 dan no urut 02, sepertinya keduanya belum pernah berstatement<\/em> dengan tegas untuk membela petani tembakau, petani cengkeh, buruh industri rokok, dan hak konsumen rokok. Setidaknya perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, perkebunan cengkeh tersebar di 30 provinsi, dan menyerap tenaga kerja dari hulu hingga hilir mencapai 6,1 juta jiwa. Selama ini, mereka hidup bergantung pada sektor pertembakauan, berupa kretek asli produk Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Karena kearifan lokal, lahan yang dimiliki petani tembakau, tidak ada tanaman yang lebih menguntungkan secara ekonomi, selain tanaman tembakau. Begitu juga yang terjadi pada petani cengkeh, mereka dapat menyekolahkan anak keperguruan tinggi, dapat membangun rumah, dapat membeli barang berharga dari hasil penjualan cengkeh. Petani tembakau dan cengkeh hidup sejahtera di saat pertaniannya berhasil. Bahkan tidak sedikit, mereka akan melakukan khajatnya setelah panen tiba. Ambil contoh, mau menikahkan atau mengkhitankan anaknya setelah panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fakta empiris tersebut, hampir dilakukan semua petani tembakau dan cengkeh. Mereka bukannya tidak menanam selain tembakau atau cengkeh, akan tetapi kedua tanaman tersebut lebih bisa menopang kebutuhan-kebutuhan yang memerlukan biaya besar. Petani tembakau, selama Desember sampai April menanam selain tembakau. Tidak sedikit petani cengkeh menanam selain cengkeh di lahan lain atau di sela-sela tanaman cengeh. Ini menunjukkan adanya tanaman tembakau dan cengkeh hasilnya lebih besar dibanding tanaman lain. Dan keduanya merupakan tanaman agung anugerah Tuhan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai buruh pabrik rokok, mereka ibu ibu rumah tangga sangat bahagia dapat membantu dan meringankan beban suami untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Mayoritas pekerja pabrik rokok kretek di Indonesia adalah wanita atau ibu rumah tangga, dan tidak ada pekerjaan lain yang bisa ia kerjakan yang bisa menghasilkan uang. Konsumen rokok dan industri rokok, adalah warga Negara yang taat akan pajak. Sebelum dinikmati, tiap batang rokok kretek yang telah dibeli sudah otomatis membayar pajak. Begitu juga, sebelum terjual, pabrik terbebani pajak dobel yang harus dibayar di muka, yaitu pungutan cukai, pungutan restribusi daerah dan talangan pajak konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Apakah keadaan ini semua dinafikan oleh Negara? Berapa besar keuntungan Negara dari hasil pajak rokok? Berapa besar manfaat uang cukai dalam menyehatkan masyarakat melalui pembayaran defisit BPJS? Kenapa para kandidat presiden tidak berani terang-terang membela sektor pertembakauan yang jelas-jelas bermanfaat bagi masyarakat kecil, bagi seluruh masyarakat bangsa dan membantu penerimaan uang kas Negara. <\/p>\n\n\n\n

Capres-Cawapres tahun 2019 ini, seakan-akan tidak memperdulikan nasib keberadaan sektor pertembakauan. Yang ada justru bertindak ikut-ikutan seperti halnya antirokok, itu pun yang berbicara adalah perwakilan dan bukan capresnya sendiri. <\/strong>Dilansir dari nasional.kompas.com<\/em>, bahwa salah satu anggota tim kesehatan Badan Pemenangan Nasional (BPN), bernama Hermawan Saputra, mengungkapkan, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno akan memberikan solusi agar pengguna rokok di Indonesia bisa menurun. Menurut dia, yang perlu dibereskan adalah hulu masalah industri rokok, yaitu mendorong petani tembakau untuk beralih profesi di bidang lain.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya <\/a><\/h2>\n\n\n\n

\"Kita naikkan cukai pun, tapi selama budaya dan perilaku masyarakat merokok tidak berubah serta petani yang menggantungkan diri di tembakau, ya tidak akan selesai. Meskipun tidak mudah, Hermawan meyakini Prabowo-Sandiaga memiliki kemauan politik yang kuat agar pengguna rokok bisa menurun. Dia mengatakan, tim kesehatan BPN sudah membuat rencana dan merancang program kesehatan yang bisa dipaparkan Sandiaga saat debat ketiga, \"ujar Hermawan saat ditemui dalam sebuah diskusi bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" menuju debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga dilansir dari tribunnews.com<\/em> bahwa Hasbullah Thabrany  orang yang mengatasnamakan Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, mengatakan;  jika terpilih dalam Pilpres 2019<\/a>, Jokowi-Ma'ruf akan menaikkan cukai rokok untuk menurunkan angka pengguna rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHarga cukai rokok di Indonesia merupakan yang paling terendah di dunia. Ia mencontohkan, cukai rokok di Singapura mencapai 90 persen dan Thailand 84 persen. Kita targetkan di pemerintahan ke depan jika Jokowi dan Ma'ruf terpilih, cukai rokok kita naikkan di atas 57 persen,\" ujar Hasbullah saat diskusi polemik bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" jelang debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).<\/p>\n\n\n\n

Baik Hermawan Saputra  atau Hasbullah Thabrany, kedua-duanya apakah yang mereka katakan mewakili suara capres? Sepenuhnya belum diketahui lebih jelas. Kalau dicermati, keduanya adalah orang-orang antirokok yang sengaja berkata demikian. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi jika suara mereka mewakili suara capres sepenuhnya, maka ke depan bisa dipastikan menjadi bumerang bagi para capres. Akan terjadi banyak orang yang bergerak dalam bidang pertembakauan apatis terhadap pilpres pemilu 2019. Mereka merasa terciderai, tidak ada perlindungan bagi mereka. <\/p>\n\n\n\n

Fakta dilapangan demikian, tulisan ini hanya mengingatkan pada capres dan cawapres bahwa ada hak petani tembakau, petani cengkeh, buruh rokok, dan industri rokok yang harus dilindungi. Ingat, mereka semua adalah warga Negara yang baik, mandiri dalam ekonomi dan berdaulat. Mereka adalah pembayar pajak yang taat, dan telah teruji hasil uang dari mereka telah menyehatkan masyarakat Indonesia melalui pembayaran defisit BPJS.  
<\/p>\n","post_title":"Menantang Capres-Cawapres Terang-terangan Membela Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menantang-capres-cawapres-terang-terangan-membela-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-13 08:31:38","post_modified_gmt":"2019-03-13 01:31:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5539","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5539,"post_author":"877","post_date":"2019-03-13 08:31:30","post_date_gmt":"2019-03-13 01:31:30","post_content":"\n

Baik capres-cawapres nomor urut 01 dan no urut 02, sepertinya keduanya belum pernah berstatement<\/em> dengan tegas untuk membela petani tembakau, petani cengkeh, buruh industri rokok, dan hak konsumen rokok. Setidaknya perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, perkebunan cengkeh tersebar di 30 provinsi, dan menyerap tenaga kerja dari hulu hingga hilir mencapai 6,1 juta jiwa. Selama ini, mereka hidup bergantung pada sektor pertembakauan, berupa kretek asli produk Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Karena kearifan lokal, lahan yang dimiliki petani tembakau, tidak ada tanaman yang lebih menguntungkan secara ekonomi, selain tanaman tembakau. Begitu juga yang terjadi pada petani cengkeh, mereka dapat menyekolahkan anak keperguruan tinggi, dapat membangun rumah, dapat membeli barang berharga dari hasil penjualan cengkeh. Petani tembakau dan cengkeh hidup sejahtera di saat pertaniannya berhasil. Bahkan tidak sedikit, mereka akan melakukan khajatnya setelah panen tiba. Ambil contoh, mau menikahkan atau mengkhitankan anaknya setelah panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fakta empiris tersebut, hampir dilakukan semua petani tembakau dan cengkeh. Mereka bukannya tidak menanam selain tembakau atau cengkeh, akan tetapi kedua tanaman tersebut lebih bisa menopang kebutuhan-kebutuhan yang memerlukan biaya besar. Petani tembakau, selama Desember sampai April menanam selain tembakau. Tidak sedikit petani cengkeh menanam selain cengkeh di lahan lain atau di sela-sela tanaman cengeh. Ini menunjukkan adanya tanaman tembakau dan cengkeh hasilnya lebih besar dibanding tanaman lain. Dan keduanya merupakan tanaman agung anugerah Tuhan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai buruh pabrik rokok, mereka ibu ibu rumah tangga sangat bahagia dapat membantu dan meringankan beban suami untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Mayoritas pekerja pabrik rokok kretek di Indonesia adalah wanita atau ibu rumah tangga, dan tidak ada pekerjaan lain yang bisa ia kerjakan yang bisa menghasilkan uang. Konsumen rokok dan industri rokok, adalah warga Negara yang taat akan pajak. Sebelum dinikmati, tiap batang rokok kretek yang telah dibeli sudah otomatis membayar pajak. Begitu juga, sebelum terjual, pabrik terbebani pajak dobel yang harus dibayar di muka, yaitu pungutan cukai, pungutan restribusi daerah dan talangan pajak konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Apakah keadaan ini semua dinafikan oleh Negara? Berapa besar keuntungan Negara dari hasil pajak rokok? Berapa besar manfaat uang cukai dalam menyehatkan masyarakat melalui pembayaran defisit BPJS? Kenapa para kandidat presiden tidak berani terang-terang membela sektor pertembakauan yang jelas-jelas bermanfaat bagi masyarakat kecil, bagi seluruh masyarakat bangsa dan membantu penerimaan uang kas Negara. <\/p>\n\n\n\n

Capres-Cawapres tahun 2019 ini, seakan-akan tidak memperdulikan nasib keberadaan sektor pertembakauan. Yang ada justru bertindak ikut-ikutan seperti halnya antirokok, itu pun yang berbicara adalah perwakilan dan bukan capresnya sendiri. <\/strong>Dilansir dari nasional.kompas.com<\/em>, bahwa salah satu anggota tim kesehatan Badan Pemenangan Nasional (BPN), bernama Hermawan Saputra, mengungkapkan, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno akan memberikan solusi agar pengguna rokok di Indonesia bisa menurun. Menurut dia, yang perlu dibereskan adalah hulu masalah industri rokok, yaitu mendorong petani tembakau untuk beralih profesi di bidang lain.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya <\/a><\/h2>\n\n\n\n

\"Kita naikkan cukai pun, tapi selama budaya dan perilaku masyarakat merokok tidak berubah serta petani yang menggantungkan diri di tembakau, ya tidak akan selesai. Meskipun tidak mudah, Hermawan meyakini Prabowo-Sandiaga memiliki kemauan politik yang kuat agar pengguna rokok bisa menurun. Dia mengatakan, tim kesehatan BPN sudah membuat rencana dan merancang program kesehatan yang bisa dipaparkan Sandiaga saat debat ketiga, \"ujar Hermawan saat ditemui dalam sebuah diskusi bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" menuju debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga dilansir dari tribunnews.com<\/em> bahwa Hasbullah Thabrany  orang yang mengatasnamakan Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, mengatakan;  jika terpilih dalam Pilpres 2019<\/a>, Jokowi-Ma'ruf akan menaikkan cukai rokok untuk menurunkan angka pengguna rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHarga cukai rokok di Indonesia merupakan yang paling terendah di dunia. Ia mencontohkan, cukai rokok di Singapura mencapai 90 persen dan Thailand 84 persen. Kita targetkan di pemerintahan ke depan jika Jokowi dan Ma'ruf terpilih, cukai rokok kita naikkan di atas 57 persen,\" ujar Hasbullah saat diskusi polemik bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" jelang debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).<\/p>\n\n\n\n

Baik Hermawan Saputra  atau Hasbullah Thabrany, kedua-duanya apakah yang mereka katakan mewakili suara capres? Sepenuhnya belum diketahui lebih jelas. Kalau dicermati, keduanya adalah orang-orang antirokok yang sengaja berkata demikian. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi jika suara mereka mewakili suara capres sepenuhnya, maka ke depan bisa dipastikan menjadi bumerang bagi para capres. Akan terjadi banyak orang yang bergerak dalam bidang pertembakauan apatis terhadap pilpres pemilu 2019. Mereka merasa terciderai, tidak ada perlindungan bagi mereka. <\/p>\n\n\n\n

Fakta dilapangan demikian, tulisan ini hanya mengingatkan pada capres dan cawapres bahwa ada hak petani tembakau, petani cengkeh, buruh rokok, dan industri rokok yang harus dilindungi. Ingat, mereka semua adalah warga Negara yang baik, mandiri dalam ekonomi dan berdaulat. Mereka adalah pembayar pajak yang taat, dan telah teruji hasil uang dari mereka telah menyehatkan masyarakat Indonesia melalui pembayaran defisit BPJS.  
<\/p>\n","post_title":"Menantang Capres-Cawapres Terang-terangan Membela Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menantang-capres-cawapres-terang-terangan-membela-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-13 08:31:38","post_modified_gmt":"2019-03-13 01:31:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5539","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5539,"post_author":"877","post_date":"2019-03-13 08:31:30","post_date_gmt":"2019-03-13 01:31:30","post_content":"\n

Baik capres-cawapres nomor urut 01 dan no urut 02, sepertinya keduanya belum pernah berstatement<\/em> dengan tegas untuk membela petani tembakau, petani cengkeh, buruh industri rokok, dan hak konsumen rokok. Setidaknya perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, perkebunan cengkeh tersebar di 30 provinsi, dan menyerap tenaga kerja dari hulu hingga hilir mencapai 6,1 juta jiwa. Selama ini, mereka hidup bergantung pada sektor pertembakauan, berupa kretek asli produk Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Karena kearifan lokal, lahan yang dimiliki petani tembakau, tidak ada tanaman yang lebih menguntungkan secara ekonomi, selain tanaman tembakau. Begitu juga yang terjadi pada petani cengkeh, mereka dapat menyekolahkan anak keperguruan tinggi, dapat membangun rumah, dapat membeli barang berharga dari hasil penjualan cengkeh. Petani tembakau dan cengkeh hidup sejahtera di saat pertaniannya berhasil. Bahkan tidak sedikit, mereka akan melakukan khajatnya setelah panen tiba. Ambil contoh, mau menikahkan atau mengkhitankan anaknya setelah panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fakta empiris tersebut, hampir dilakukan semua petani tembakau dan cengkeh. Mereka bukannya tidak menanam selain tembakau atau cengkeh, akan tetapi kedua tanaman tersebut lebih bisa menopang kebutuhan-kebutuhan yang memerlukan biaya besar. Petani tembakau, selama Desember sampai April menanam selain tembakau. Tidak sedikit petani cengkeh menanam selain cengkeh di lahan lain atau di sela-sela tanaman cengeh. Ini menunjukkan adanya tanaman tembakau dan cengkeh hasilnya lebih besar dibanding tanaman lain. Dan keduanya merupakan tanaman agung anugerah Tuhan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai buruh pabrik rokok, mereka ibu ibu rumah tangga sangat bahagia dapat membantu dan meringankan beban suami untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Mayoritas pekerja pabrik rokok kretek di Indonesia adalah wanita atau ibu rumah tangga, dan tidak ada pekerjaan lain yang bisa ia kerjakan yang bisa menghasilkan uang. Konsumen rokok dan industri rokok, adalah warga Negara yang taat akan pajak. Sebelum dinikmati, tiap batang rokok kretek yang telah dibeli sudah otomatis membayar pajak. Begitu juga, sebelum terjual, pabrik terbebani pajak dobel yang harus dibayar di muka, yaitu pungutan cukai, pungutan restribusi daerah dan talangan pajak konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Apakah keadaan ini semua dinafikan oleh Negara? Berapa besar keuntungan Negara dari hasil pajak rokok? Berapa besar manfaat uang cukai dalam menyehatkan masyarakat melalui pembayaran defisit BPJS? Kenapa para kandidat presiden tidak berani terang-terang membela sektor pertembakauan yang jelas-jelas bermanfaat bagi masyarakat kecil, bagi seluruh masyarakat bangsa dan membantu penerimaan uang kas Negara. <\/p>\n\n\n\n

Capres-Cawapres tahun 2019 ini, seakan-akan tidak memperdulikan nasib keberadaan sektor pertembakauan. Yang ada justru bertindak ikut-ikutan seperti halnya antirokok, itu pun yang berbicara adalah perwakilan dan bukan capresnya sendiri. <\/strong>Dilansir dari nasional.kompas.com<\/em>, bahwa salah satu anggota tim kesehatan Badan Pemenangan Nasional (BPN), bernama Hermawan Saputra, mengungkapkan, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno akan memberikan solusi agar pengguna rokok di Indonesia bisa menurun. Menurut dia, yang perlu dibereskan adalah hulu masalah industri rokok, yaitu mendorong petani tembakau untuk beralih profesi di bidang lain.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya <\/a><\/h2>\n\n\n\n

\"Kita naikkan cukai pun, tapi selama budaya dan perilaku masyarakat merokok tidak berubah serta petani yang menggantungkan diri di tembakau, ya tidak akan selesai. Meskipun tidak mudah, Hermawan meyakini Prabowo-Sandiaga memiliki kemauan politik yang kuat agar pengguna rokok bisa menurun. Dia mengatakan, tim kesehatan BPN sudah membuat rencana dan merancang program kesehatan yang bisa dipaparkan Sandiaga saat debat ketiga, \"ujar Hermawan saat ditemui dalam sebuah diskusi bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" menuju debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga dilansir dari tribunnews.com<\/em> bahwa Hasbullah Thabrany  orang yang mengatasnamakan Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, mengatakan;  jika terpilih dalam Pilpres 2019<\/a>, Jokowi-Ma'ruf akan menaikkan cukai rokok untuk menurunkan angka pengguna rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHarga cukai rokok di Indonesia merupakan yang paling terendah di dunia. Ia mencontohkan, cukai rokok di Singapura mencapai 90 persen dan Thailand 84 persen. Kita targetkan di pemerintahan ke depan jika Jokowi dan Ma'ruf terpilih, cukai rokok kita naikkan di atas 57 persen,\" ujar Hasbullah saat diskusi polemik bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" jelang debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).<\/p>\n\n\n\n

Baik Hermawan Saputra  atau Hasbullah Thabrany, kedua-duanya apakah yang mereka katakan mewakili suara capres? Sepenuhnya belum diketahui lebih jelas. Kalau dicermati, keduanya adalah orang-orang antirokok yang sengaja berkata demikian. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi jika suara mereka mewakili suara capres sepenuhnya, maka ke depan bisa dipastikan menjadi bumerang bagi para capres. Akan terjadi banyak orang yang bergerak dalam bidang pertembakauan apatis terhadap pilpres pemilu 2019. Mereka merasa terciderai, tidak ada perlindungan bagi mereka. <\/p>\n\n\n\n

Fakta dilapangan demikian, tulisan ini hanya mengingatkan pada capres dan cawapres bahwa ada hak petani tembakau, petani cengkeh, buruh rokok, dan industri rokok yang harus dilindungi. Ingat, mereka semua adalah warga Negara yang baik, mandiri dalam ekonomi dan berdaulat. Mereka adalah pembayar pajak yang taat, dan telah teruji hasil uang dari mereka telah menyehatkan masyarakat Indonesia melalui pembayaran defisit BPJS.  
<\/p>\n","post_title":"Menantang Capres-Cawapres Terang-terangan Membela Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menantang-capres-cawapres-terang-terangan-membela-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-13 08:31:38","post_modified_gmt":"2019-03-13 01:31:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5539","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5539,"post_author":"877","post_date":"2019-03-13 08:31:30","post_date_gmt":"2019-03-13 01:31:30","post_content":"\n

Baik capres-cawapres nomor urut 01 dan no urut 02, sepertinya keduanya belum pernah berstatement<\/em> dengan tegas untuk membela petani tembakau, petani cengkeh, buruh industri rokok, dan hak konsumen rokok. Setidaknya perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, perkebunan cengkeh tersebar di 30 provinsi, dan menyerap tenaga kerja dari hulu hingga hilir mencapai 6,1 juta jiwa. Selama ini, mereka hidup bergantung pada sektor pertembakauan, berupa kretek asli produk Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Karena kearifan lokal, lahan yang dimiliki petani tembakau, tidak ada tanaman yang lebih menguntungkan secara ekonomi, selain tanaman tembakau. Begitu juga yang terjadi pada petani cengkeh, mereka dapat menyekolahkan anak keperguruan tinggi, dapat membangun rumah, dapat membeli barang berharga dari hasil penjualan cengkeh. Petani tembakau dan cengkeh hidup sejahtera di saat pertaniannya berhasil. Bahkan tidak sedikit, mereka akan melakukan khajatnya setelah panen tiba. Ambil contoh, mau menikahkan atau mengkhitankan anaknya setelah panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fakta empiris tersebut, hampir dilakukan semua petani tembakau dan cengkeh. Mereka bukannya tidak menanam selain tembakau atau cengkeh, akan tetapi kedua tanaman tersebut lebih bisa menopang kebutuhan-kebutuhan yang memerlukan biaya besar. Petani tembakau, selama Desember sampai April menanam selain tembakau. Tidak sedikit petani cengkeh menanam selain cengkeh di lahan lain atau di sela-sela tanaman cengeh. Ini menunjukkan adanya tanaman tembakau dan cengkeh hasilnya lebih besar dibanding tanaman lain. Dan keduanya merupakan tanaman agung anugerah Tuhan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai buruh pabrik rokok, mereka ibu ibu rumah tangga sangat bahagia dapat membantu dan meringankan beban suami untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Mayoritas pekerja pabrik rokok kretek di Indonesia adalah wanita atau ibu rumah tangga, dan tidak ada pekerjaan lain yang bisa ia kerjakan yang bisa menghasilkan uang. Konsumen rokok dan industri rokok, adalah warga Negara yang taat akan pajak. Sebelum dinikmati, tiap batang rokok kretek yang telah dibeli sudah otomatis membayar pajak. Begitu juga, sebelum terjual, pabrik terbebani pajak dobel yang harus dibayar di muka, yaitu pungutan cukai, pungutan restribusi daerah dan talangan pajak konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Apakah keadaan ini semua dinafikan oleh Negara? Berapa besar keuntungan Negara dari hasil pajak rokok? Berapa besar manfaat uang cukai dalam menyehatkan masyarakat melalui pembayaran defisit BPJS? Kenapa para kandidat presiden tidak berani terang-terang membela sektor pertembakauan yang jelas-jelas bermanfaat bagi masyarakat kecil, bagi seluruh masyarakat bangsa dan membantu penerimaan uang kas Negara. <\/p>\n\n\n\n

Capres-Cawapres tahun 2019 ini, seakan-akan tidak memperdulikan nasib keberadaan sektor pertembakauan. Yang ada justru bertindak ikut-ikutan seperti halnya antirokok, itu pun yang berbicara adalah perwakilan dan bukan capresnya sendiri. <\/strong>Dilansir dari nasional.kompas.com<\/em>, bahwa salah satu anggota tim kesehatan Badan Pemenangan Nasional (BPN), bernama Hermawan Saputra, mengungkapkan, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno akan memberikan solusi agar pengguna rokok di Indonesia bisa menurun. Menurut dia, yang perlu dibereskan adalah hulu masalah industri rokok, yaitu mendorong petani tembakau untuk beralih profesi di bidang lain.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya <\/a><\/h2>\n\n\n\n

\"Kita naikkan cukai pun, tapi selama budaya dan perilaku masyarakat merokok tidak berubah serta petani yang menggantungkan diri di tembakau, ya tidak akan selesai. Meskipun tidak mudah, Hermawan meyakini Prabowo-Sandiaga memiliki kemauan politik yang kuat agar pengguna rokok bisa menurun. Dia mengatakan, tim kesehatan BPN sudah membuat rencana dan merancang program kesehatan yang bisa dipaparkan Sandiaga saat debat ketiga, \"ujar Hermawan saat ditemui dalam sebuah diskusi bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" menuju debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga dilansir dari tribunnews.com<\/em> bahwa Hasbullah Thabrany  orang yang mengatasnamakan Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, mengatakan;  jika terpilih dalam Pilpres 2019<\/a>, Jokowi-Ma'ruf akan menaikkan cukai rokok untuk menurunkan angka pengguna rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHarga cukai rokok di Indonesia merupakan yang paling terendah di dunia. Ia mencontohkan, cukai rokok di Singapura mencapai 90 persen dan Thailand 84 persen. Kita targetkan di pemerintahan ke depan jika Jokowi dan Ma'ruf terpilih, cukai rokok kita naikkan di atas 57 persen,\" ujar Hasbullah saat diskusi polemik bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" jelang debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).<\/p>\n\n\n\n

Baik Hermawan Saputra  atau Hasbullah Thabrany, kedua-duanya apakah yang mereka katakan mewakili suara capres? Sepenuhnya belum diketahui lebih jelas. Kalau dicermati, keduanya adalah orang-orang antirokok yang sengaja berkata demikian. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi jika suara mereka mewakili suara capres sepenuhnya, maka ke depan bisa dipastikan menjadi bumerang bagi para capres. Akan terjadi banyak orang yang bergerak dalam bidang pertembakauan apatis terhadap pilpres pemilu 2019. Mereka merasa terciderai, tidak ada perlindungan bagi mereka. <\/p>\n\n\n\n

Fakta dilapangan demikian, tulisan ini hanya mengingatkan pada capres dan cawapres bahwa ada hak petani tembakau, petani cengkeh, buruh rokok, dan industri rokok yang harus dilindungi. Ingat, mereka semua adalah warga Negara yang baik, mandiri dalam ekonomi dan berdaulat. Mereka adalah pembayar pajak yang taat, dan telah teruji hasil uang dari mereka telah menyehatkan masyarakat Indonesia melalui pembayaran defisit BPJS.  
<\/p>\n","post_title":"Menantang Capres-Cawapres Terang-terangan Membela Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menantang-capres-cawapres-terang-terangan-membela-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-13 08:31:38","post_modified_gmt":"2019-03-13 01:31:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5539","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Banyaknya merek-merek kretek yang berbeda-beda, merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan kota lainnya di Indonesia. Hal ini menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung diera modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-cerminan-kedaulatan-ekonomi-dan-tradisi-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-18 09:30:24","post_modified_gmt":"2019-03-18 02:30:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5553","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5539,"post_author":"877","post_date":"2019-03-13 08:31:30","post_date_gmt":"2019-03-13 01:31:30","post_content":"\n

Baik capres-cawapres nomor urut 01 dan no urut 02, sepertinya keduanya belum pernah berstatement<\/em> dengan tegas untuk membela petani tembakau, petani cengkeh, buruh industri rokok, dan hak konsumen rokok. Setidaknya perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, perkebunan cengkeh tersebar di 30 provinsi, dan menyerap tenaga kerja dari hulu hingga hilir mencapai 6,1 juta jiwa. Selama ini, mereka hidup bergantung pada sektor pertembakauan, berupa kretek asli produk Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Karena kearifan lokal, lahan yang dimiliki petani tembakau, tidak ada tanaman yang lebih menguntungkan secara ekonomi, selain tanaman tembakau. Begitu juga yang terjadi pada petani cengkeh, mereka dapat menyekolahkan anak keperguruan tinggi, dapat membangun rumah, dapat membeli barang berharga dari hasil penjualan cengkeh. Petani tembakau dan cengkeh hidup sejahtera di saat pertaniannya berhasil. Bahkan tidak sedikit, mereka akan melakukan khajatnya setelah panen tiba. Ambil contoh, mau menikahkan atau mengkhitankan anaknya setelah panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fakta empiris tersebut, hampir dilakukan semua petani tembakau dan cengkeh. Mereka bukannya tidak menanam selain tembakau atau cengkeh, akan tetapi kedua tanaman tersebut lebih bisa menopang kebutuhan-kebutuhan yang memerlukan biaya besar. Petani tembakau, selama Desember sampai April menanam selain tembakau. Tidak sedikit petani cengkeh menanam selain cengkeh di lahan lain atau di sela-sela tanaman cengeh. Ini menunjukkan adanya tanaman tembakau dan cengkeh hasilnya lebih besar dibanding tanaman lain. Dan keduanya merupakan tanaman agung anugerah Tuhan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai buruh pabrik rokok, mereka ibu ibu rumah tangga sangat bahagia dapat membantu dan meringankan beban suami untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Mayoritas pekerja pabrik rokok kretek di Indonesia adalah wanita atau ibu rumah tangga, dan tidak ada pekerjaan lain yang bisa ia kerjakan yang bisa menghasilkan uang. Konsumen rokok dan industri rokok, adalah warga Negara yang taat akan pajak. Sebelum dinikmati, tiap batang rokok kretek yang telah dibeli sudah otomatis membayar pajak. Begitu juga, sebelum terjual, pabrik terbebani pajak dobel yang harus dibayar di muka, yaitu pungutan cukai, pungutan restribusi daerah dan talangan pajak konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Apakah keadaan ini semua dinafikan oleh Negara? Berapa besar keuntungan Negara dari hasil pajak rokok? Berapa besar manfaat uang cukai dalam menyehatkan masyarakat melalui pembayaran defisit BPJS? Kenapa para kandidat presiden tidak berani terang-terang membela sektor pertembakauan yang jelas-jelas bermanfaat bagi masyarakat kecil, bagi seluruh masyarakat bangsa dan membantu penerimaan uang kas Negara. <\/p>\n\n\n\n

Capres-Cawapres tahun 2019 ini, seakan-akan tidak memperdulikan nasib keberadaan sektor pertembakauan. Yang ada justru bertindak ikut-ikutan seperti halnya antirokok, itu pun yang berbicara adalah perwakilan dan bukan capresnya sendiri. <\/strong>Dilansir dari nasional.kompas.com<\/em>, bahwa salah satu anggota tim kesehatan Badan Pemenangan Nasional (BPN), bernama Hermawan Saputra, mengungkapkan, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno akan memberikan solusi agar pengguna rokok di Indonesia bisa menurun. Menurut dia, yang perlu dibereskan adalah hulu masalah industri rokok, yaitu mendorong petani tembakau untuk beralih profesi di bidang lain.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya <\/a><\/h2>\n\n\n\n

\"Kita naikkan cukai pun, tapi selama budaya dan perilaku masyarakat merokok tidak berubah serta petani yang menggantungkan diri di tembakau, ya tidak akan selesai. Meskipun tidak mudah, Hermawan meyakini Prabowo-Sandiaga memiliki kemauan politik yang kuat agar pengguna rokok bisa menurun. Dia mengatakan, tim kesehatan BPN sudah membuat rencana dan merancang program kesehatan yang bisa dipaparkan Sandiaga saat debat ketiga, \"ujar Hermawan saat ditemui dalam sebuah diskusi bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" menuju debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga dilansir dari tribunnews.com<\/em> bahwa Hasbullah Thabrany  orang yang mengatasnamakan Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, mengatakan;  jika terpilih dalam Pilpres 2019<\/a>, Jokowi-Ma'ruf akan menaikkan cukai rokok untuk menurunkan angka pengguna rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHarga cukai rokok di Indonesia merupakan yang paling terendah di dunia. Ia mencontohkan, cukai rokok di Singapura mencapai 90 persen dan Thailand 84 persen. Kita targetkan di pemerintahan ke depan jika Jokowi dan Ma'ruf terpilih, cukai rokok kita naikkan di atas 57 persen,\" ujar Hasbullah saat diskusi polemik bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" jelang debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).<\/p>\n\n\n\n

Baik Hermawan Saputra  atau Hasbullah Thabrany, kedua-duanya apakah yang mereka katakan mewakili suara capres? Sepenuhnya belum diketahui lebih jelas. Kalau dicermati, keduanya adalah orang-orang antirokok yang sengaja berkata demikian. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi jika suara mereka mewakili suara capres sepenuhnya, maka ke depan bisa dipastikan menjadi bumerang bagi para capres. Akan terjadi banyak orang yang bergerak dalam bidang pertembakauan apatis terhadap pilpres pemilu 2019. Mereka merasa terciderai, tidak ada perlindungan bagi mereka. <\/p>\n\n\n\n

Fakta dilapangan demikian, tulisan ini hanya mengingatkan pada capres dan cawapres bahwa ada hak petani tembakau, petani cengkeh, buruh rokok, dan industri rokok yang harus dilindungi. Ingat, mereka semua adalah warga Negara yang baik, mandiri dalam ekonomi dan berdaulat. Mereka adalah pembayar pajak yang taat, dan telah teruji hasil uang dari mereka telah menyehatkan masyarakat Indonesia melalui pembayaran defisit BPJS.  
<\/p>\n","post_title":"Menantang Capres-Cawapres Terang-terangan Membela Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menantang-capres-cawapres-terang-terangan-membela-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-13 08:31:38","post_modified_gmt":"2019-03-13 01:31:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5539","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Rokok kretek dalam konteks budaya Indonesia bukan hanya digunakan untuk menjalin keakraban sosial antara individu maupun kelompok, tetapi juga sebagai sarana untuk laku spiritual dan aktivitas religiusitas. Mulai dari sisi filosofis, historis dan sosial -antropologis bisa dibuktikan bahwa  rokok kretek memang beda dengan rokok-rokok konvensional, utamanya dengan rokok-rokok asing.
<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Banyaknya merek-merek kretek yang berbeda-beda, merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan kota lainnya di Indonesia. Hal ini menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung diera modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-cerminan-kedaulatan-ekonomi-dan-tradisi-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-18 09:30:24","post_modified_gmt":"2019-03-18 02:30:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5553","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5539,"post_author":"877","post_date":"2019-03-13 08:31:30","post_date_gmt":"2019-03-13 01:31:30","post_content":"\n

Baik capres-cawapres nomor urut 01 dan no urut 02, sepertinya keduanya belum pernah berstatement<\/em> dengan tegas untuk membela petani tembakau, petani cengkeh, buruh industri rokok, dan hak konsumen rokok. Setidaknya perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, perkebunan cengkeh tersebar di 30 provinsi, dan menyerap tenaga kerja dari hulu hingga hilir mencapai 6,1 juta jiwa. Selama ini, mereka hidup bergantung pada sektor pertembakauan, berupa kretek asli produk Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Karena kearifan lokal, lahan yang dimiliki petani tembakau, tidak ada tanaman yang lebih menguntungkan secara ekonomi, selain tanaman tembakau. Begitu juga yang terjadi pada petani cengkeh, mereka dapat menyekolahkan anak keperguruan tinggi, dapat membangun rumah, dapat membeli barang berharga dari hasil penjualan cengkeh. Petani tembakau dan cengkeh hidup sejahtera di saat pertaniannya berhasil. Bahkan tidak sedikit, mereka akan melakukan khajatnya setelah panen tiba. Ambil contoh, mau menikahkan atau mengkhitankan anaknya setelah panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fakta empiris tersebut, hampir dilakukan semua petani tembakau dan cengkeh. Mereka bukannya tidak menanam selain tembakau atau cengkeh, akan tetapi kedua tanaman tersebut lebih bisa menopang kebutuhan-kebutuhan yang memerlukan biaya besar. Petani tembakau, selama Desember sampai April menanam selain tembakau. Tidak sedikit petani cengkeh menanam selain cengkeh di lahan lain atau di sela-sela tanaman cengeh. Ini menunjukkan adanya tanaman tembakau dan cengkeh hasilnya lebih besar dibanding tanaman lain. Dan keduanya merupakan tanaman agung anugerah Tuhan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai buruh pabrik rokok, mereka ibu ibu rumah tangga sangat bahagia dapat membantu dan meringankan beban suami untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Mayoritas pekerja pabrik rokok kretek di Indonesia adalah wanita atau ibu rumah tangga, dan tidak ada pekerjaan lain yang bisa ia kerjakan yang bisa menghasilkan uang. Konsumen rokok dan industri rokok, adalah warga Negara yang taat akan pajak. Sebelum dinikmati, tiap batang rokok kretek yang telah dibeli sudah otomatis membayar pajak. Begitu juga, sebelum terjual, pabrik terbebani pajak dobel yang harus dibayar di muka, yaitu pungutan cukai, pungutan restribusi daerah dan talangan pajak konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Apakah keadaan ini semua dinafikan oleh Negara? Berapa besar keuntungan Negara dari hasil pajak rokok? Berapa besar manfaat uang cukai dalam menyehatkan masyarakat melalui pembayaran defisit BPJS? Kenapa para kandidat presiden tidak berani terang-terang membela sektor pertembakauan yang jelas-jelas bermanfaat bagi masyarakat kecil, bagi seluruh masyarakat bangsa dan membantu penerimaan uang kas Negara. <\/p>\n\n\n\n

Capres-Cawapres tahun 2019 ini, seakan-akan tidak memperdulikan nasib keberadaan sektor pertembakauan. Yang ada justru bertindak ikut-ikutan seperti halnya antirokok, itu pun yang berbicara adalah perwakilan dan bukan capresnya sendiri. <\/strong>Dilansir dari nasional.kompas.com<\/em>, bahwa salah satu anggota tim kesehatan Badan Pemenangan Nasional (BPN), bernama Hermawan Saputra, mengungkapkan, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno akan memberikan solusi agar pengguna rokok di Indonesia bisa menurun. Menurut dia, yang perlu dibereskan adalah hulu masalah industri rokok, yaitu mendorong petani tembakau untuk beralih profesi di bidang lain.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya <\/a><\/h2>\n\n\n\n

\"Kita naikkan cukai pun, tapi selama budaya dan perilaku masyarakat merokok tidak berubah serta petani yang menggantungkan diri di tembakau, ya tidak akan selesai. Meskipun tidak mudah, Hermawan meyakini Prabowo-Sandiaga memiliki kemauan politik yang kuat agar pengguna rokok bisa menurun. Dia mengatakan, tim kesehatan BPN sudah membuat rencana dan merancang program kesehatan yang bisa dipaparkan Sandiaga saat debat ketiga, \"ujar Hermawan saat ditemui dalam sebuah diskusi bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" menuju debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga dilansir dari tribunnews.com<\/em> bahwa Hasbullah Thabrany  orang yang mengatasnamakan Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, mengatakan;  jika terpilih dalam Pilpres 2019<\/a>, Jokowi-Ma'ruf akan menaikkan cukai rokok untuk menurunkan angka pengguna rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHarga cukai rokok di Indonesia merupakan yang paling terendah di dunia. Ia mencontohkan, cukai rokok di Singapura mencapai 90 persen dan Thailand 84 persen. Kita targetkan di pemerintahan ke depan jika Jokowi dan Ma'ruf terpilih, cukai rokok kita naikkan di atas 57 persen,\" ujar Hasbullah saat diskusi polemik bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" jelang debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).<\/p>\n\n\n\n

Baik Hermawan Saputra  atau Hasbullah Thabrany, kedua-duanya apakah yang mereka katakan mewakili suara capres? Sepenuhnya belum diketahui lebih jelas. Kalau dicermati, keduanya adalah orang-orang antirokok yang sengaja berkata demikian. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi jika suara mereka mewakili suara capres sepenuhnya, maka ke depan bisa dipastikan menjadi bumerang bagi para capres. Akan terjadi banyak orang yang bergerak dalam bidang pertembakauan apatis terhadap pilpres pemilu 2019. Mereka merasa terciderai, tidak ada perlindungan bagi mereka. <\/p>\n\n\n\n

Fakta dilapangan demikian, tulisan ini hanya mengingatkan pada capres dan cawapres bahwa ada hak petani tembakau, petani cengkeh, buruh rokok, dan industri rokok yang harus dilindungi. Ingat, mereka semua adalah warga Negara yang baik, mandiri dalam ekonomi dan berdaulat. Mereka adalah pembayar pajak yang taat, dan telah teruji hasil uang dari mereka telah menyehatkan masyarakat Indonesia melalui pembayaran defisit BPJS.  
<\/p>\n","post_title":"Menantang Capres-Cawapres Terang-terangan Membela Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menantang-capres-cawapres-terang-terangan-membela-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-13 08:31:38","post_modified_gmt":"2019-03-13 01:31:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5539","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sangat wajar kalau rokok kretek kemudian muncul sebagai ikon budaya Indonesia. Karena keberadaannya memang sudah mentradisi dan menyatu dengan kehidupan rakyat Indonesia. Rokok kretek sebagai bagian kultur masyarakat Indonesia ini bergerak di berbagai ranah, dari ranah sosial hingga ke ranah spiritual. Rokok kretek juga menjadi simbol budaya dan identitas Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek dalam konteks budaya Indonesia bukan hanya digunakan untuk menjalin keakraban sosial antara individu maupun kelompok, tetapi juga sebagai sarana untuk laku spiritual dan aktivitas religiusitas. Mulai dari sisi filosofis, historis dan sosial -antropologis bisa dibuktikan bahwa  rokok kretek memang beda dengan rokok-rokok konvensional, utamanya dengan rokok-rokok asing.
<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Banyaknya merek-merek kretek yang berbeda-beda, merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan kota lainnya di Indonesia. Hal ini menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung diera modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-cerminan-kedaulatan-ekonomi-dan-tradisi-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-18 09:30:24","post_modified_gmt":"2019-03-18 02:30:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5553","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5539,"post_author":"877","post_date":"2019-03-13 08:31:30","post_date_gmt":"2019-03-13 01:31:30","post_content":"\n

Baik capres-cawapres nomor urut 01 dan no urut 02, sepertinya keduanya belum pernah berstatement<\/em> dengan tegas untuk membela petani tembakau, petani cengkeh, buruh industri rokok, dan hak konsumen rokok. Setidaknya perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, perkebunan cengkeh tersebar di 30 provinsi, dan menyerap tenaga kerja dari hulu hingga hilir mencapai 6,1 juta jiwa. Selama ini, mereka hidup bergantung pada sektor pertembakauan, berupa kretek asli produk Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Karena kearifan lokal, lahan yang dimiliki petani tembakau, tidak ada tanaman yang lebih menguntungkan secara ekonomi, selain tanaman tembakau. Begitu juga yang terjadi pada petani cengkeh, mereka dapat menyekolahkan anak keperguruan tinggi, dapat membangun rumah, dapat membeli barang berharga dari hasil penjualan cengkeh. Petani tembakau dan cengkeh hidup sejahtera di saat pertaniannya berhasil. Bahkan tidak sedikit, mereka akan melakukan khajatnya setelah panen tiba. Ambil contoh, mau menikahkan atau mengkhitankan anaknya setelah panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fakta empiris tersebut, hampir dilakukan semua petani tembakau dan cengkeh. Mereka bukannya tidak menanam selain tembakau atau cengkeh, akan tetapi kedua tanaman tersebut lebih bisa menopang kebutuhan-kebutuhan yang memerlukan biaya besar. Petani tembakau, selama Desember sampai April menanam selain tembakau. Tidak sedikit petani cengkeh menanam selain cengkeh di lahan lain atau di sela-sela tanaman cengeh. Ini menunjukkan adanya tanaman tembakau dan cengkeh hasilnya lebih besar dibanding tanaman lain. Dan keduanya merupakan tanaman agung anugerah Tuhan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai buruh pabrik rokok, mereka ibu ibu rumah tangga sangat bahagia dapat membantu dan meringankan beban suami untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Mayoritas pekerja pabrik rokok kretek di Indonesia adalah wanita atau ibu rumah tangga, dan tidak ada pekerjaan lain yang bisa ia kerjakan yang bisa menghasilkan uang. Konsumen rokok dan industri rokok, adalah warga Negara yang taat akan pajak. Sebelum dinikmati, tiap batang rokok kretek yang telah dibeli sudah otomatis membayar pajak. Begitu juga, sebelum terjual, pabrik terbebani pajak dobel yang harus dibayar di muka, yaitu pungutan cukai, pungutan restribusi daerah dan talangan pajak konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Apakah keadaan ini semua dinafikan oleh Negara? Berapa besar keuntungan Negara dari hasil pajak rokok? Berapa besar manfaat uang cukai dalam menyehatkan masyarakat melalui pembayaran defisit BPJS? Kenapa para kandidat presiden tidak berani terang-terang membela sektor pertembakauan yang jelas-jelas bermanfaat bagi masyarakat kecil, bagi seluruh masyarakat bangsa dan membantu penerimaan uang kas Negara. <\/p>\n\n\n\n

Capres-Cawapres tahun 2019 ini, seakan-akan tidak memperdulikan nasib keberadaan sektor pertembakauan. Yang ada justru bertindak ikut-ikutan seperti halnya antirokok, itu pun yang berbicara adalah perwakilan dan bukan capresnya sendiri. <\/strong>Dilansir dari nasional.kompas.com<\/em>, bahwa salah satu anggota tim kesehatan Badan Pemenangan Nasional (BPN), bernama Hermawan Saputra, mengungkapkan, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno akan memberikan solusi agar pengguna rokok di Indonesia bisa menurun. Menurut dia, yang perlu dibereskan adalah hulu masalah industri rokok, yaitu mendorong petani tembakau untuk beralih profesi di bidang lain.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya <\/a><\/h2>\n\n\n\n

\"Kita naikkan cukai pun, tapi selama budaya dan perilaku masyarakat merokok tidak berubah serta petani yang menggantungkan diri di tembakau, ya tidak akan selesai. Meskipun tidak mudah, Hermawan meyakini Prabowo-Sandiaga memiliki kemauan politik yang kuat agar pengguna rokok bisa menurun. Dia mengatakan, tim kesehatan BPN sudah membuat rencana dan merancang program kesehatan yang bisa dipaparkan Sandiaga saat debat ketiga, \"ujar Hermawan saat ditemui dalam sebuah diskusi bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" menuju debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga dilansir dari tribunnews.com<\/em> bahwa Hasbullah Thabrany  orang yang mengatasnamakan Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, mengatakan;  jika terpilih dalam Pilpres 2019<\/a>, Jokowi-Ma'ruf akan menaikkan cukai rokok untuk menurunkan angka pengguna rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHarga cukai rokok di Indonesia merupakan yang paling terendah di dunia. Ia mencontohkan, cukai rokok di Singapura mencapai 90 persen dan Thailand 84 persen. Kita targetkan di pemerintahan ke depan jika Jokowi dan Ma'ruf terpilih, cukai rokok kita naikkan di atas 57 persen,\" ujar Hasbullah saat diskusi polemik bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" jelang debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).<\/p>\n\n\n\n

Baik Hermawan Saputra  atau Hasbullah Thabrany, kedua-duanya apakah yang mereka katakan mewakili suara capres? Sepenuhnya belum diketahui lebih jelas. Kalau dicermati, keduanya adalah orang-orang antirokok yang sengaja berkata demikian. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi jika suara mereka mewakili suara capres sepenuhnya, maka ke depan bisa dipastikan menjadi bumerang bagi para capres. Akan terjadi banyak orang yang bergerak dalam bidang pertembakauan apatis terhadap pilpres pemilu 2019. Mereka merasa terciderai, tidak ada perlindungan bagi mereka. <\/p>\n\n\n\n

Fakta dilapangan demikian, tulisan ini hanya mengingatkan pada capres dan cawapres bahwa ada hak petani tembakau, petani cengkeh, buruh rokok, dan industri rokok yang harus dilindungi. Ingat, mereka semua adalah warga Negara yang baik, mandiri dalam ekonomi dan berdaulat. Mereka adalah pembayar pajak yang taat, dan telah teruji hasil uang dari mereka telah menyehatkan masyarakat Indonesia melalui pembayaran defisit BPJS.  
<\/p>\n","post_title":"Menantang Capres-Cawapres Terang-terangan Membela Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menantang-capres-cawapres-terang-terangan-membela-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-13 08:31:38","post_modified_gmt":"2019-03-13 01:31:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5539","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kreatifitas masyarakat Kudus dalam mencampurkan cengkeh dan tembakau itu tergolong penemuan luar biasa. Rokok  yang bahanya cengkeh dengan tembakau itu kemudian segera dikenal dengan istilah kretek <\/em>yang merujuk pada bunyi kemretek, <\/em>saat rokok itu disulut akibat bunyi cengkeh. Ketika rokok kretek ini mulai muncul maka rokok ini hanya diperuntukkan rokok dalam memakai bahasa Belanda, strootje. <\/em>Sementara rokok klobot <\/em>saat itu dikenal dengan rokok yang tanpa cengkeh. Namun pada tahap perkembangannya hingga sekarang,  rokok klobot juga mengandung cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Sangat wajar kalau rokok kretek kemudian muncul sebagai ikon budaya Indonesia. Karena keberadaannya memang sudah mentradisi dan menyatu dengan kehidupan rakyat Indonesia. Rokok kretek sebagai bagian kultur masyarakat Indonesia ini bergerak di berbagai ranah, dari ranah sosial hingga ke ranah spiritual. Rokok kretek juga menjadi simbol budaya dan identitas Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek dalam konteks budaya Indonesia bukan hanya digunakan untuk menjalin keakraban sosial antara individu maupun kelompok, tetapi juga sebagai sarana untuk laku spiritual dan aktivitas religiusitas. Mulai dari sisi filosofis, historis dan sosial -antropologis bisa dibuktikan bahwa  rokok kretek memang beda dengan rokok-rokok konvensional, utamanya dengan rokok-rokok asing.
<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Banyaknya merek-merek kretek yang berbeda-beda, merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan kota lainnya di Indonesia. Hal ini menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung diera modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-cerminan-kedaulatan-ekonomi-dan-tradisi-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-18 09:30:24","post_modified_gmt":"2019-03-18 02:30:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5553","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5539,"post_author":"877","post_date":"2019-03-13 08:31:30","post_date_gmt":"2019-03-13 01:31:30","post_content":"\n

Baik capres-cawapres nomor urut 01 dan no urut 02, sepertinya keduanya belum pernah berstatement<\/em> dengan tegas untuk membela petani tembakau, petani cengkeh, buruh industri rokok, dan hak konsumen rokok. Setidaknya perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, perkebunan cengkeh tersebar di 30 provinsi, dan menyerap tenaga kerja dari hulu hingga hilir mencapai 6,1 juta jiwa. Selama ini, mereka hidup bergantung pada sektor pertembakauan, berupa kretek asli produk Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Karena kearifan lokal, lahan yang dimiliki petani tembakau, tidak ada tanaman yang lebih menguntungkan secara ekonomi, selain tanaman tembakau. Begitu juga yang terjadi pada petani cengkeh, mereka dapat menyekolahkan anak keperguruan tinggi, dapat membangun rumah, dapat membeli barang berharga dari hasil penjualan cengkeh. Petani tembakau dan cengkeh hidup sejahtera di saat pertaniannya berhasil. Bahkan tidak sedikit, mereka akan melakukan khajatnya setelah panen tiba. Ambil contoh, mau menikahkan atau mengkhitankan anaknya setelah panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fakta empiris tersebut, hampir dilakukan semua petani tembakau dan cengkeh. Mereka bukannya tidak menanam selain tembakau atau cengkeh, akan tetapi kedua tanaman tersebut lebih bisa menopang kebutuhan-kebutuhan yang memerlukan biaya besar. Petani tembakau, selama Desember sampai April menanam selain tembakau. Tidak sedikit petani cengkeh menanam selain cengkeh di lahan lain atau di sela-sela tanaman cengeh. Ini menunjukkan adanya tanaman tembakau dan cengkeh hasilnya lebih besar dibanding tanaman lain. Dan keduanya merupakan tanaman agung anugerah Tuhan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai buruh pabrik rokok, mereka ibu ibu rumah tangga sangat bahagia dapat membantu dan meringankan beban suami untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Mayoritas pekerja pabrik rokok kretek di Indonesia adalah wanita atau ibu rumah tangga, dan tidak ada pekerjaan lain yang bisa ia kerjakan yang bisa menghasilkan uang. Konsumen rokok dan industri rokok, adalah warga Negara yang taat akan pajak. Sebelum dinikmati, tiap batang rokok kretek yang telah dibeli sudah otomatis membayar pajak. Begitu juga, sebelum terjual, pabrik terbebani pajak dobel yang harus dibayar di muka, yaitu pungutan cukai, pungutan restribusi daerah dan talangan pajak konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Apakah keadaan ini semua dinafikan oleh Negara? Berapa besar keuntungan Negara dari hasil pajak rokok? Berapa besar manfaat uang cukai dalam menyehatkan masyarakat melalui pembayaran defisit BPJS? Kenapa para kandidat presiden tidak berani terang-terang membela sektor pertembakauan yang jelas-jelas bermanfaat bagi masyarakat kecil, bagi seluruh masyarakat bangsa dan membantu penerimaan uang kas Negara. <\/p>\n\n\n\n

Capres-Cawapres tahun 2019 ini, seakan-akan tidak memperdulikan nasib keberadaan sektor pertembakauan. Yang ada justru bertindak ikut-ikutan seperti halnya antirokok, itu pun yang berbicara adalah perwakilan dan bukan capresnya sendiri. <\/strong>Dilansir dari nasional.kompas.com<\/em>, bahwa salah satu anggota tim kesehatan Badan Pemenangan Nasional (BPN), bernama Hermawan Saputra, mengungkapkan, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno akan memberikan solusi agar pengguna rokok di Indonesia bisa menurun. Menurut dia, yang perlu dibereskan adalah hulu masalah industri rokok, yaitu mendorong petani tembakau untuk beralih profesi di bidang lain.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya <\/a><\/h2>\n\n\n\n

\"Kita naikkan cukai pun, tapi selama budaya dan perilaku masyarakat merokok tidak berubah serta petani yang menggantungkan diri di tembakau, ya tidak akan selesai. Meskipun tidak mudah, Hermawan meyakini Prabowo-Sandiaga memiliki kemauan politik yang kuat agar pengguna rokok bisa menurun. Dia mengatakan, tim kesehatan BPN sudah membuat rencana dan merancang program kesehatan yang bisa dipaparkan Sandiaga saat debat ketiga, \"ujar Hermawan saat ditemui dalam sebuah diskusi bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" menuju debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga dilansir dari tribunnews.com<\/em> bahwa Hasbullah Thabrany  orang yang mengatasnamakan Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, mengatakan;  jika terpilih dalam Pilpres 2019<\/a>, Jokowi-Ma'ruf akan menaikkan cukai rokok untuk menurunkan angka pengguna rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHarga cukai rokok di Indonesia merupakan yang paling terendah di dunia. Ia mencontohkan, cukai rokok di Singapura mencapai 90 persen dan Thailand 84 persen. Kita targetkan di pemerintahan ke depan jika Jokowi dan Ma'ruf terpilih, cukai rokok kita naikkan di atas 57 persen,\" ujar Hasbullah saat diskusi polemik bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" jelang debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).<\/p>\n\n\n\n

Baik Hermawan Saputra  atau Hasbullah Thabrany, kedua-duanya apakah yang mereka katakan mewakili suara capres? Sepenuhnya belum diketahui lebih jelas. Kalau dicermati, keduanya adalah orang-orang antirokok yang sengaja berkata demikian. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi jika suara mereka mewakili suara capres sepenuhnya, maka ke depan bisa dipastikan menjadi bumerang bagi para capres. Akan terjadi banyak orang yang bergerak dalam bidang pertembakauan apatis terhadap pilpres pemilu 2019. Mereka merasa terciderai, tidak ada perlindungan bagi mereka. <\/p>\n\n\n\n

Fakta dilapangan demikian, tulisan ini hanya mengingatkan pada capres dan cawapres bahwa ada hak petani tembakau, petani cengkeh, buruh rokok, dan industri rokok yang harus dilindungi. Ingat, mereka semua adalah warga Negara yang baik, mandiri dalam ekonomi dan berdaulat. Mereka adalah pembayar pajak yang taat, dan telah teruji hasil uang dari mereka telah menyehatkan masyarakat Indonesia melalui pembayaran defisit BPJS.  
<\/p>\n","post_title":"Menantang Capres-Cawapres Terang-terangan Membela Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menantang-capres-cawapres-terang-terangan-membela-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-13 08:31:38","post_modified_gmt":"2019-03-13 01:31:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5539","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada saat yang sama, tepatnya pada tahun 1880,  masyarakat kudus kemudian mulai mencampurkan cengkeh dengan tembakau. Ini merupakan fenomena baru dalam dunia rokok. Hal yang demikian itu kemudian membuat klobot <\/em>yang berisi cengkeh dan tembakau itu dirduksi dalam skala besar. Ketika cengkeh pertama kali dicampur dengan tembakau dan dibungkus kulit jagung yang dilakukan oleh masyarakat Kudus tersebut, maka rokok itu disebut dengan rokok cengkeh. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kreatifitas masyarakat Kudus dalam mencampurkan cengkeh dan tembakau itu tergolong penemuan luar biasa. Rokok  yang bahanya cengkeh dengan tembakau itu kemudian segera dikenal dengan istilah kretek <\/em>yang merujuk pada bunyi kemretek, <\/em>saat rokok itu disulut akibat bunyi cengkeh. Ketika rokok kretek ini mulai muncul maka rokok ini hanya diperuntukkan rokok dalam memakai bahasa Belanda, strootje. <\/em>Sementara rokok klobot <\/em>saat itu dikenal dengan rokok yang tanpa cengkeh. Namun pada tahap perkembangannya hingga sekarang,  rokok klobot juga mengandung cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Sangat wajar kalau rokok kretek kemudian muncul sebagai ikon budaya Indonesia. Karena keberadaannya memang sudah mentradisi dan menyatu dengan kehidupan rakyat Indonesia. Rokok kretek sebagai bagian kultur masyarakat Indonesia ini bergerak di berbagai ranah, dari ranah sosial hingga ke ranah spiritual. Rokok kretek juga menjadi simbol budaya dan identitas Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek dalam konteks budaya Indonesia bukan hanya digunakan untuk menjalin keakraban sosial antara individu maupun kelompok, tetapi juga sebagai sarana untuk laku spiritual dan aktivitas religiusitas. Mulai dari sisi filosofis, historis dan sosial -antropologis bisa dibuktikan bahwa  rokok kretek memang beda dengan rokok-rokok konvensional, utamanya dengan rokok-rokok asing.
<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Banyaknya merek-merek kretek yang berbeda-beda, merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan kota lainnya di Indonesia. Hal ini menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung diera modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-cerminan-kedaulatan-ekonomi-dan-tradisi-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-18 09:30:24","post_modified_gmt":"2019-03-18 02:30:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5553","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5539,"post_author":"877","post_date":"2019-03-13 08:31:30","post_date_gmt":"2019-03-13 01:31:30","post_content":"\n

Baik capres-cawapres nomor urut 01 dan no urut 02, sepertinya keduanya belum pernah berstatement<\/em> dengan tegas untuk membela petani tembakau, petani cengkeh, buruh industri rokok, dan hak konsumen rokok. Setidaknya perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, perkebunan cengkeh tersebar di 30 provinsi, dan menyerap tenaga kerja dari hulu hingga hilir mencapai 6,1 juta jiwa. Selama ini, mereka hidup bergantung pada sektor pertembakauan, berupa kretek asli produk Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Karena kearifan lokal, lahan yang dimiliki petani tembakau, tidak ada tanaman yang lebih menguntungkan secara ekonomi, selain tanaman tembakau. Begitu juga yang terjadi pada petani cengkeh, mereka dapat menyekolahkan anak keperguruan tinggi, dapat membangun rumah, dapat membeli barang berharga dari hasil penjualan cengkeh. Petani tembakau dan cengkeh hidup sejahtera di saat pertaniannya berhasil. Bahkan tidak sedikit, mereka akan melakukan khajatnya setelah panen tiba. Ambil contoh, mau menikahkan atau mengkhitankan anaknya setelah panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fakta empiris tersebut, hampir dilakukan semua petani tembakau dan cengkeh. Mereka bukannya tidak menanam selain tembakau atau cengkeh, akan tetapi kedua tanaman tersebut lebih bisa menopang kebutuhan-kebutuhan yang memerlukan biaya besar. Petani tembakau, selama Desember sampai April menanam selain tembakau. Tidak sedikit petani cengkeh menanam selain cengkeh di lahan lain atau di sela-sela tanaman cengeh. Ini menunjukkan adanya tanaman tembakau dan cengkeh hasilnya lebih besar dibanding tanaman lain. Dan keduanya merupakan tanaman agung anugerah Tuhan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai buruh pabrik rokok, mereka ibu ibu rumah tangga sangat bahagia dapat membantu dan meringankan beban suami untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Mayoritas pekerja pabrik rokok kretek di Indonesia adalah wanita atau ibu rumah tangga, dan tidak ada pekerjaan lain yang bisa ia kerjakan yang bisa menghasilkan uang. Konsumen rokok dan industri rokok, adalah warga Negara yang taat akan pajak. Sebelum dinikmati, tiap batang rokok kretek yang telah dibeli sudah otomatis membayar pajak. Begitu juga, sebelum terjual, pabrik terbebani pajak dobel yang harus dibayar di muka, yaitu pungutan cukai, pungutan restribusi daerah dan talangan pajak konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Apakah keadaan ini semua dinafikan oleh Negara? Berapa besar keuntungan Negara dari hasil pajak rokok? Berapa besar manfaat uang cukai dalam menyehatkan masyarakat melalui pembayaran defisit BPJS? Kenapa para kandidat presiden tidak berani terang-terang membela sektor pertembakauan yang jelas-jelas bermanfaat bagi masyarakat kecil, bagi seluruh masyarakat bangsa dan membantu penerimaan uang kas Negara. <\/p>\n\n\n\n

Capres-Cawapres tahun 2019 ini, seakan-akan tidak memperdulikan nasib keberadaan sektor pertembakauan. Yang ada justru bertindak ikut-ikutan seperti halnya antirokok, itu pun yang berbicara adalah perwakilan dan bukan capresnya sendiri. <\/strong>Dilansir dari nasional.kompas.com<\/em>, bahwa salah satu anggota tim kesehatan Badan Pemenangan Nasional (BPN), bernama Hermawan Saputra, mengungkapkan, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno akan memberikan solusi agar pengguna rokok di Indonesia bisa menurun. Menurut dia, yang perlu dibereskan adalah hulu masalah industri rokok, yaitu mendorong petani tembakau untuk beralih profesi di bidang lain.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya <\/a><\/h2>\n\n\n\n

\"Kita naikkan cukai pun, tapi selama budaya dan perilaku masyarakat merokok tidak berubah serta petani yang menggantungkan diri di tembakau, ya tidak akan selesai. Meskipun tidak mudah, Hermawan meyakini Prabowo-Sandiaga memiliki kemauan politik yang kuat agar pengguna rokok bisa menurun. Dia mengatakan, tim kesehatan BPN sudah membuat rencana dan merancang program kesehatan yang bisa dipaparkan Sandiaga saat debat ketiga, \"ujar Hermawan saat ditemui dalam sebuah diskusi bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" menuju debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga dilansir dari tribunnews.com<\/em> bahwa Hasbullah Thabrany  orang yang mengatasnamakan Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, mengatakan;  jika terpilih dalam Pilpres 2019<\/a>, Jokowi-Ma'ruf akan menaikkan cukai rokok untuk menurunkan angka pengguna rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHarga cukai rokok di Indonesia merupakan yang paling terendah di dunia. Ia mencontohkan, cukai rokok di Singapura mencapai 90 persen dan Thailand 84 persen. Kita targetkan di pemerintahan ke depan jika Jokowi dan Ma'ruf terpilih, cukai rokok kita naikkan di atas 57 persen,\" ujar Hasbullah saat diskusi polemik bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" jelang debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).<\/p>\n\n\n\n

Baik Hermawan Saputra  atau Hasbullah Thabrany, kedua-duanya apakah yang mereka katakan mewakili suara capres? Sepenuhnya belum diketahui lebih jelas. Kalau dicermati, keduanya adalah orang-orang antirokok yang sengaja berkata demikian. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi jika suara mereka mewakili suara capres sepenuhnya, maka ke depan bisa dipastikan menjadi bumerang bagi para capres. Akan terjadi banyak orang yang bergerak dalam bidang pertembakauan apatis terhadap pilpres pemilu 2019. Mereka merasa terciderai, tidak ada perlindungan bagi mereka. <\/p>\n\n\n\n

Fakta dilapangan demikian, tulisan ini hanya mengingatkan pada capres dan cawapres bahwa ada hak petani tembakau, petani cengkeh, buruh rokok, dan industri rokok yang harus dilindungi. Ingat, mereka semua adalah warga Negara yang baik, mandiri dalam ekonomi dan berdaulat. Mereka adalah pembayar pajak yang taat, dan telah teruji hasil uang dari mereka telah menyehatkan masyarakat Indonesia melalui pembayaran defisit BPJS.  
<\/p>\n","post_title":"Menantang Capres-Cawapres Terang-terangan Membela Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menantang-capres-cawapres-terang-terangan-membela-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-13 08:31:38","post_modified_gmt":"2019-03-13 01:31:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5539","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selanjutnya pada abad ke -19, istilah bungkus <\/em>kemudian menunjukkan produk tembakau yang dibungkus di dalam klobot<\/em> atau kulit jagung. Pada perkembangan selanjutnya, istilah bungkus itu menjadi semakin tereduksi seiring dengan munculnya dua nama baru di dalam produk rokok. Nama baru tersebut adalah strootje <\/em>yang juga merupakan bahasa Belanda dan satunya lagi klobot <\/em> yang berasal dari bahasa Jawa.  Di tahun 1850-an baik strootje <\/em>maupun kelobot <\/em> yang menjadi produksi rumah tangga, tetapi di akhir abad itu, produk rokok yang dibungkus dengan kulit jagung (klobot) itu pertama kali mulai dijual di pasar.
<\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang sama, tepatnya pada tahun 1880,  masyarakat kudus kemudian mulai mencampurkan cengkeh dengan tembakau. Ini merupakan fenomena baru dalam dunia rokok. Hal yang demikian itu kemudian membuat klobot <\/em>yang berisi cengkeh dan tembakau itu dirduksi dalam skala besar. Ketika cengkeh pertama kali dicampur dengan tembakau dan dibungkus kulit jagung yang dilakukan oleh masyarakat Kudus tersebut, maka rokok itu disebut dengan rokok cengkeh. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kreatifitas masyarakat Kudus dalam mencampurkan cengkeh dan tembakau itu tergolong penemuan luar biasa. Rokok  yang bahanya cengkeh dengan tembakau itu kemudian segera dikenal dengan istilah kretek <\/em>yang merujuk pada bunyi kemretek, <\/em>saat rokok itu disulut akibat bunyi cengkeh. Ketika rokok kretek ini mulai muncul maka rokok ini hanya diperuntukkan rokok dalam memakai bahasa Belanda, strootje. <\/em>Sementara rokok klobot <\/em>saat itu dikenal dengan rokok yang tanpa cengkeh. Namun pada tahap perkembangannya hingga sekarang,  rokok klobot juga mengandung cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Sangat wajar kalau rokok kretek kemudian muncul sebagai ikon budaya Indonesia. Karena keberadaannya memang sudah mentradisi dan menyatu dengan kehidupan rakyat Indonesia. Rokok kretek sebagai bagian kultur masyarakat Indonesia ini bergerak di berbagai ranah, dari ranah sosial hingga ke ranah spiritual. Rokok kretek juga menjadi simbol budaya dan identitas Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek dalam konteks budaya Indonesia bukan hanya digunakan untuk menjalin keakraban sosial antara individu maupun kelompok, tetapi juga sebagai sarana untuk laku spiritual dan aktivitas religiusitas. Mulai dari sisi filosofis, historis dan sosial -antropologis bisa dibuktikan bahwa  rokok kretek memang beda dengan rokok-rokok konvensional, utamanya dengan rokok-rokok asing.
<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Banyaknya merek-merek kretek yang berbeda-beda, merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan kota lainnya di Indonesia. Hal ini menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung diera modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-cerminan-kedaulatan-ekonomi-dan-tradisi-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-18 09:30:24","post_modified_gmt":"2019-03-18 02:30:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5553","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5539,"post_author":"877","post_date":"2019-03-13 08:31:30","post_date_gmt":"2019-03-13 01:31:30","post_content":"\n

Baik capres-cawapres nomor urut 01 dan no urut 02, sepertinya keduanya belum pernah berstatement<\/em> dengan tegas untuk membela petani tembakau, petani cengkeh, buruh industri rokok, dan hak konsumen rokok. Setidaknya perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, perkebunan cengkeh tersebar di 30 provinsi, dan menyerap tenaga kerja dari hulu hingga hilir mencapai 6,1 juta jiwa. Selama ini, mereka hidup bergantung pada sektor pertembakauan, berupa kretek asli produk Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Karena kearifan lokal, lahan yang dimiliki petani tembakau, tidak ada tanaman yang lebih menguntungkan secara ekonomi, selain tanaman tembakau. Begitu juga yang terjadi pada petani cengkeh, mereka dapat menyekolahkan anak keperguruan tinggi, dapat membangun rumah, dapat membeli barang berharga dari hasil penjualan cengkeh. Petani tembakau dan cengkeh hidup sejahtera di saat pertaniannya berhasil. Bahkan tidak sedikit, mereka akan melakukan khajatnya setelah panen tiba. Ambil contoh, mau menikahkan atau mengkhitankan anaknya setelah panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fakta empiris tersebut, hampir dilakukan semua petani tembakau dan cengkeh. Mereka bukannya tidak menanam selain tembakau atau cengkeh, akan tetapi kedua tanaman tersebut lebih bisa menopang kebutuhan-kebutuhan yang memerlukan biaya besar. Petani tembakau, selama Desember sampai April menanam selain tembakau. Tidak sedikit petani cengkeh menanam selain cengkeh di lahan lain atau di sela-sela tanaman cengeh. Ini menunjukkan adanya tanaman tembakau dan cengkeh hasilnya lebih besar dibanding tanaman lain. Dan keduanya merupakan tanaman agung anugerah Tuhan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai buruh pabrik rokok, mereka ibu ibu rumah tangga sangat bahagia dapat membantu dan meringankan beban suami untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Mayoritas pekerja pabrik rokok kretek di Indonesia adalah wanita atau ibu rumah tangga, dan tidak ada pekerjaan lain yang bisa ia kerjakan yang bisa menghasilkan uang. Konsumen rokok dan industri rokok, adalah warga Negara yang taat akan pajak. Sebelum dinikmati, tiap batang rokok kretek yang telah dibeli sudah otomatis membayar pajak. Begitu juga, sebelum terjual, pabrik terbebani pajak dobel yang harus dibayar di muka, yaitu pungutan cukai, pungutan restribusi daerah dan talangan pajak konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Apakah keadaan ini semua dinafikan oleh Negara? Berapa besar keuntungan Negara dari hasil pajak rokok? Berapa besar manfaat uang cukai dalam menyehatkan masyarakat melalui pembayaran defisit BPJS? Kenapa para kandidat presiden tidak berani terang-terang membela sektor pertembakauan yang jelas-jelas bermanfaat bagi masyarakat kecil, bagi seluruh masyarakat bangsa dan membantu penerimaan uang kas Negara. <\/p>\n\n\n\n

Capres-Cawapres tahun 2019 ini, seakan-akan tidak memperdulikan nasib keberadaan sektor pertembakauan. Yang ada justru bertindak ikut-ikutan seperti halnya antirokok, itu pun yang berbicara adalah perwakilan dan bukan capresnya sendiri. <\/strong>Dilansir dari nasional.kompas.com<\/em>, bahwa salah satu anggota tim kesehatan Badan Pemenangan Nasional (BPN), bernama Hermawan Saputra, mengungkapkan, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno akan memberikan solusi agar pengguna rokok di Indonesia bisa menurun. Menurut dia, yang perlu dibereskan adalah hulu masalah industri rokok, yaitu mendorong petani tembakau untuk beralih profesi di bidang lain.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya <\/a><\/h2>\n\n\n\n

\"Kita naikkan cukai pun, tapi selama budaya dan perilaku masyarakat merokok tidak berubah serta petani yang menggantungkan diri di tembakau, ya tidak akan selesai. Meskipun tidak mudah, Hermawan meyakini Prabowo-Sandiaga memiliki kemauan politik yang kuat agar pengguna rokok bisa menurun. Dia mengatakan, tim kesehatan BPN sudah membuat rencana dan merancang program kesehatan yang bisa dipaparkan Sandiaga saat debat ketiga, \"ujar Hermawan saat ditemui dalam sebuah diskusi bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" menuju debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga dilansir dari tribunnews.com<\/em> bahwa Hasbullah Thabrany  orang yang mengatasnamakan Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, mengatakan;  jika terpilih dalam Pilpres 2019<\/a>, Jokowi-Ma'ruf akan menaikkan cukai rokok untuk menurunkan angka pengguna rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHarga cukai rokok di Indonesia merupakan yang paling terendah di dunia. Ia mencontohkan, cukai rokok di Singapura mencapai 90 persen dan Thailand 84 persen. Kita targetkan di pemerintahan ke depan jika Jokowi dan Ma'ruf terpilih, cukai rokok kita naikkan di atas 57 persen,\" ujar Hasbullah saat diskusi polemik bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" jelang debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).<\/p>\n\n\n\n

Baik Hermawan Saputra  atau Hasbullah Thabrany, kedua-duanya apakah yang mereka katakan mewakili suara capres? Sepenuhnya belum diketahui lebih jelas. Kalau dicermati, keduanya adalah orang-orang antirokok yang sengaja berkata demikian. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi jika suara mereka mewakili suara capres sepenuhnya, maka ke depan bisa dipastikan menjadi bumerang bagi para capres. Akan terjadi banyak orang yang bergerak dalam bidang pertembakauan apatis terhadap pilpres pemilu 2019. Mereka merasa terciderai, tidak ada perlindungan bagi mereka. <\/p>\n\n\n\n

Fakta dilapangan demikian, tulisan ini hanya mengingatkan pada capres dan cawapres bahwa ada hak petani tembakau, petani cengkeh, buruh rokok, dan industri rokok yang harus dilindungi. Ingat, mereka semua adalah warga Negara yang baik, mandiri dalam ekonomi dan berdaulat. Mereka adalah pembayar pajak yang taat, dan telah teruji hasil uang dari mereka telah menyehatkan masyarakat Indonesia melalui pembayaran defisit BPJS.  
<\/p>\n","post_title":"Menantang Capres-Cawapres Terang-terangan Membela Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menantang-capres-cawapres-terang-terangan-membela-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-13 08:31:38","post_modified_gmt":"2019-03-13 01:31:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5539","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pola mengkonsumsi tembakau di dalam masyarakat Indonesia itu kemudian melahirkan beragam produk tembakau termasuk rokok. Menurut Hanusz  produk tembakau pribumi pertama kali muncul di pertengahan abad ke-17 dan disebut dengan bungkus<\/em>.  Bungkus <\/em>yang khas (the typical bungkus) <\/em>diisi dengan tembakau lokal yang pada tahap selanjutnya kemudian dikemas dengan kulit jagung (kelobot) dan daun pisang dan diikat dengan seutas benang.
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya pada abad ke -19, istilah bungkus <\/em>kemudian menunjukkan produk tembakau yang dibungkus di dalam klobot<\/em> atau kulit jagung. Pada perkembangan selanjutnya, istilah bungkus itu menjadi semakin tereduksi seiring dengan munculnya dua nama baru di dalam produk rokok. Nama baru tersebut adalah strootje <\/em>yang juga merupakan bahasa Belanda dan satunya lagi klobot <\/em> yang berasal dari bahasa Jawa.  Di tahun 1850-an baik strootje <\/em>maupun kelobot <\/em> yang menjadi produksi rumah tangga, tetapi di akhir abad itu, produk rokok yang dibungkus dengan kulit jagung (klobot) itu pertama kali mulai dijual di pasar.
<\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang sama, tepatnya pada tahun 1880,  masyarakat kudus kemudian mulai mencampurkan cengkeh dengan tembakau. Ini merupakan fenomena baru dalam dunia rokok. Hal yang demikian itu kemudian membuat klobot <\/em>yang berisi cengkeh dan tembakau itu dirduksi dalam skala besar. Ketika cengkeh pertama kali dicampur dengan tembakau dan dibungkus kulit jagung yang dilakukan oleh masyarakat Kudus tersebut, maka rokok itu disebut dengan rokok cengkeh. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kreatifitas masyarakat Kudus dalam mencampurkan cengkeh dan tembakau itu tergolong penemuan luar biasa. Rokok  yang bahanya cengkeh dengan tembakau itu kemudian segera dikenal dengan istilah kretek <\/em>yang merujuk pada bunyi kemretek, <\/em>saat rokok itu disulut akibat bunyi cengkeh. Ketika rokok kretek ini mulai muncul maka rokok ini hanya diperuntukkan rokok dalam memakai bahasa Belanda, strootje. <\/em>Sementara rokok klobot <\/em>saat itu dikenal dengan rokok yang tanpa cengkeh. Namun pada tahap perkembangannya hingga sekarang,  rokok klobot juga mengandung cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Sangat wajar kalau rokok kretek kemudian muncul sebagai ikon budaya Indonesia. Karena keberadaannya memang sudah mentradisi dan menyatu dengan kehidupan rakyat Indonesia. Rokok kretek sebagai bagian kultur masyarakat Indonesia ini bergerak di berbagai ranah, dari ranah sosial hingga ke ranah spiritual. Rokok kretek juga menjadi simbol budaya dan identitas Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek dalam konteks budaya Indonesia bukan hanya digunakan untuk menjalin keakraban sosial antara individu maupun kelompok, tetapi juga sebagai sarana untuk laku spiritual dan aktivitas religiusitas. Mulai dari sisi filosofis, historis dan sosial -antropologis bisa dibuktikan bahwa  rokok kretek memang beda dengan rokok-rokok konvensional, utamanya dengan rokok-rokok asing.
<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Banyaknya merek-merek kretek yang berbeda-beda, merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan kota lainnya di Indonesia. Hal ini menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung diera modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-cerminan-kedaulatan-ekonomi-dan-tradisi-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-18 09:30:24","post_modified_gmt":"2019-03-18 02:30:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5553","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5539,"post_author":"877","post_date":"2019-03-13 08:31:30","post_date_gmt":"2019-03-13 01:31:30","post_content":"\n

Baik capres-cawapres nomor urut 01 dan no urut 02, sepertinya keduanya belum pernah berstatement<\/em> dengan tegas untuk membela petani tembakau, petani cengkeh, buruh industri rokok, dan hak konsumen rokok. Setidaknya perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, perkebunan cengkeh tersebar di 30 provinsi, dan menyerap tenaga kerja dari hulu hingga hilir mencapai 6,1 juta jiwa. Selama ini, mereka hidup bergantung pada sektor pertembakauan, berupa kretek asli produk Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Karena kearifan lokal, lahan yang dimiliki petani tembakau, tidak ada tanaman yang lebih menguntungkan secara ekonomi, selain tanaman tembakau. Begitu juga yang terjadi pada petani cengkeh, mereka dapat menyekolahkan anak keperguruan tinggi, dapat membangun rumah, dapat membeli barang berharga dari hasil penjualan cengkeh. Petani tembakau dan cengkeh hidup sejahtera di saat pertaniannya berhasil. Bahkan tidak sedikit, mereka akan melakukan khajatnya setelah panen tiba. Ambil contoh, mau menikahkan atau mengkhitankan anaknya setelah panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fakta empiris tersebut, hampir dilakukan semua petani tembakau dan cengkeh. Mereka bukannya tidak menanam selain tembakau atau cengkeh, akan tetapi kedua tanaman tersebut lebih bisa menopang kebutuhan-kebutuhan yang memerlukan biaya besar. Petani tembakau, selama Desember sampai April menanam selain tembakau. Tidak sedikit petani cengkeh menanam selain cengkeh di lahan lain atau di sela-sela tanaman cengeh. Ini menunjukkan adanya tanaman tembakau dan cengkeh hasilnya lebih besar dibanding tanaman lain. Dan keduanya merupakan tanaman agung anugerah Tuhan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai buruh pabrik rokok, mereka ibu ibu rumah tangga sangat bahagia dapat membantu dan meringankan beban suami untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Mayoritas pekerja pabrik rokok kretek di Indonesia adalah wanita atau ibu rumah tangga, dan tidak ada pekerjaan lain yang bisa ia kerjakan yang bisa menghasilkan uang. Konsumen rokok dan industri rokok, adalah warga Negara yang taat akan pajak. Sebelum dinikmati, tiap batang rokok kretek yang telah dibeli sudah otomatis membayar pajak. Begitu juga, sebelum terjual, pabrik terbebani pajak dobel yang harus dibayar di muka, yaitu pungutan cukai, pungutan restribusi daerah dan talangan pajak konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Apakah keadaan ini semua dinafikan oleh Negara? Berapa besar keuntungan Negara dari hasil pajak rokok? Berapa besar manfaat uang cukai dalam menyehatkan masyarakat melalui pembayaran defisit BPJS? Kenapa para kandidat presiden tidak berani terang-terang membela sektor pertembakauan yang jelas-jelas bermanfaat bagi masyarakat kecil, bagi seluruh masyarakat bangsa dan membantu penerimaan uang kas Negara. <\/p>\n\n\n\n

Capres-Cawapres tahun 2019 ini, seakan-akan tidak memperdulikan nasib keberadaan sektor pertembakauan. Yang ada justru bertindak ikut-ikutan seperti halnya antirokok, itu pun yang berbicara adalah perwakilan dan bukan capresnya sendiri. <\/strong>Dilansir dari nasional.kompas.com<\/em>, bahwa salah satu anggota tim kesehatan Badan Pemenangan Nasional (BPN), bernama Hermawan Saputra, mengungkapkan, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno akan memberikan solusi agar pengguna rokok di Indonesia bisa menurun. Menurut dia, yang perlu dibereskan adalah hulu masalah industri rokok, yaitu mendorong petani tembakau untuk beralih profesi di bidang lain.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya <\/a><\/h2>\n\n\n\n

\"Kita naikkan cukai pun, tapi selama budaya dan perilaku masyarakat merokok tidak berubah serta petani yang menggantungkan diri di tembakau, ya tidak akan selesai. Meskipun tidak mudah, Hermawan meyakini Prabowo-Sandiaga memiliki kemauan politik yang kuat agar pengguna rokok bisa menurun. Dia mengatakan, tim kesehatan BPN sudah membuat rencana dan merancang program kesehatan yang bisa dipaparkan Sandiaga saat debat ketiga, \"ujar Hermawan saat ditemui dalam sebuah diskusi bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" menuju debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga dilansir dari tribunnews.com<\/em> bahwa Hasbullah Thabrany  orang yang mengatasnamakan Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, mengatakan;  jika terpilih dalam Pilpres 2019<\/a>, Jokowi-Ma'ruf akan menaikkan cukai rokok untuk menurunkan angka pengguna rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHarga cukai rokok di Indonesia merupakan yang paling terendah di dunia. Ia mencontohkan, cukai rokok di Singapura mencapai 90 persen dan Thailand 84 persen. Kita targetkan di pemerintahan ke depan jika Jokowi dan Ma'ruf terpilih, cukai rokok kita naikkan di atas 57 persen,\" ujar Hasbullah saat diskusi polemik bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" jelang debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).<\/p>\n\n\n\n

Baik Hermawan Saputra  atau Hasbullah Thabrany, kedua-duanya apakah yang mereka katakan mewakili suara capres? Sepenuhnya belum diketahui lebih jelas. Kalau dicermati, keduanya adalah orang-orang antirokok yang sengaja berkata demikian. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi jika suara mereka mewakili suara capres sepenuhnya, maka ke depan bisa dipastikan menjadi bumerang bagi para capres. Akan terjadi banyak orang yang bergerak dalam bidang pertembakauan apatis terhadap pilpres pemilu 2019. Mereka merasa terciderai, tidak ada perlindungan bagi mereka. <\/p>\n\n\n\n

Fakta dilapangan demikian, tulisan ini hanya mengingatkan pada capres dan cawapres bahwa ada hak petani tembakau, petani cengkeh, buruh rokok, dan industri rokok yang harus dilindungi. Ingat, mereka semua adalah warga Negara yang baik, mandiri dalam ekonomi dan berdaulat. Mereka adalah pembayar pajak yang taat, dan telah teruji hasil uang dari mereka telah menyehatkan masyarakat Indonesia melalui pembayaran defisit BPJS.  
<\/p>\n","post_title":"Menantang Capres-Cawapres Terang-terangan Membela Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menantang-capres-cawapres-terang-terangan-membela-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-13 08:31:38","post_modified_gmt":"2019-03-13 01:31:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5539","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tentu saja kalau ditelisik secara lebih jauh sebelum kretek lahir, masyarakat Indonesia sudah terbiasa merokok. Aktivitas ini, warisan turun menurun, dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.  Lahirnya kretek memberikan warna lain dalam perkembangan rokok Nusantara. Dengan ramuan barunya yang berbeda dengan rokok-rokok sebelumnya, kretek kemudian menciptakan sejarah baru dalam dunia rokok di Nusantara.
<\/p>\n\n\n\n

Pola mengkonsumsi tembakau di dalam masyarakat Indonesia itu kemudian melahirkan beragam produk tembakau termasuk rokok. Menurut Hanusz  produk tembakau pribumi pertama kali muncul di pertengahan abad ke-17 dan disebut dengan bungkus<\/em>.  Bungkus <\/em>yang khas (the typical bungkus) <\/em>diisi dengan tembakau lokal yang pada tahap selanjutnya kemudian dikemas dengan kulit jagung (kelobot) dan daun pisang dan diikat dengan seutas benang.
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya pada abad ke -19, istilah bungkus <\/em>kemudian menunjukkan produk tembakau yang dibungkus di dalam klobot<\/em> atau kulit jagung. Pada perkembangan selanjutnya, istilah bungkus itu menjadi semakin tereduksi seiring dengan munculnya dua nama baru di dalam produk rokok. Nama baru tersebut adalah strootje <\/em>yang juga merupakan bahasa Belanda dan satunya lagi klobot <\/em> yang berasal dari bahasa Jawa.  Di tahun 1850-an baik strootje <\/em>maupun kelobot <\/em> yang menjadi produksi rumah tangga, tetapi di akhir abad itu, produk rokok yang dibungkus dengan kulit jagung (klobot) itu pertama kali mulai dijual di pasar.
<\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang sama, tepatnya pada tahun 1880,  masyarakat kudus kemudian mulai mencampurkan cengkeh dengan tembakau. Ini merupakan fenomena baru dalam dunia rokok. Hal yang demikian itu kemudian membuat klobot <\/em>yang berisi cengkeh dan tembakau itu dirduksi dalam skala besar. Ketika cengkeh pertama kali dicampur dengan tembakau dan dibungkus kulit jagung yang dilakukan oleh masyarakat Kudus tersebut, maka rokok itu disebut dengan rokok cengkeh. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kreatifitas masyarakat Kudus dalam mencampurkan cengkeh dan tembakau itu tergolong penemuan luar biasa. Rokok  yang bahanya cengkeh dengan tembakau itu kemudian segera dikenal dengan istilah kretek <\/em>yang merujuk pada bunyi kemretek, <\/em>saat rokok itu disulut akibat bunyi cengkeh. Ketika rokok kretek ini mulai muncul maka rokok ini hanya diperuntukkan rokok dalam memakai bahasa Belanda, strootje. <\/em>Sementara rokok klobot <\/em>saat itu dikenal dengan rokok yang tanpa cengkeh. Namun pada tahap perkembangannya hingga sekarang,  rokok klobot juga mengandung cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Sangat wajar kalau rokok kretek kemudian muncul sebagai ikon budaya Indonesia. Karena keberadaannya memang sudah mentradisi dan menyatu dengan kehidupan rakyat Indonesia. Rokok kretek sebagai bagian kultur masyarakat Indonesia ini bergerak di berbagai ranah, dari ranah sosial hingga ke ranah spiritual. Rokok kretek juga menjadi simbol budaya dan identitas Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek dalam konteks budaya Indonesia bukan hanya digunakan untuk menjalin keakraban sosial antara individu maupun kelompok, tetapi juga sebagai sarana untuk laku spiritual dan aktivitas religiusitas. Mulai dari sisi filosofis, historis dan sosial -antropologis bisa dibuktikan bahwa  rokok kretek memang beda dengan rokok-rokok konvensional, utamanya dengan rokok-rokok asing.
<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Banyaknya merek-merek kretek yang berbeda-beda, merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan kota lainnya di Indonesia. Hal ini menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung diera modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-cerminan-kedaulatan-ekonomi-dan-tradisi-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-18 09:30:24","post_modified_gmt":"2019-03-18 02:30:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5553","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5539,"post_author":"877","post_date":"2019-03-13 08:31:30","post_date_gmt":"2019-03-13 01:31:30","post_content":"\n

Baik capres-cawapres nomor urut 01 dan no urut 02, sepertinya keduanya belum pernah berstatement<\/em> dengan tegas untuk membela petani tembakau, petani cengkeh, buruh industri rokok, dan hak konsumen rokok. Setidaknya perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, perkebunan cengkeh tersebar di 30 provinsi, dan menyerap tenaga kerja dari hulu hingga hilir mencapai 6,1 juta jiwa. Selama ini, mereka hidup bergantung pada sektor pertembakauan, berupa kretek asli produk Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Karena kearifan lokal, lahan yang dimiliki petani tembakau, tidak ada tanaman yang lebih menguntungkan secara ekonomi, selain tanaman tembakau. Begitu juga yang terjadi pada petani cengkeh, mereka dapat menyekolahkan anak keperguruan tinggi, dapat membangun rumah, dapat membeli barang berharga dari hasil penjualan cengkeh. Petani tembakau dan cengkeh hidup sejahtera di saat pertaniannya berhasil. Bahkan tidak sedikit, mereka akan melakukan khajatnya setelah panen tiba. Ambil contoh, mau menikahkan atau mengkhitankan anaknya setelah panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fakta empiris tersebut, hampir dilakukan semua petani tembakau dan cengkeh. Mereka bukannya tidak menanam selain tembakau atau cengkeh, akan tetapi kedua tanaman tersebut lebih bisa menopang kebutuhan-kebutuhan yang memerlukan biaya besar. Petani tembakau, selama Desember sampai April menanam selain tembakau. Tidak sedikit petani cengkeh menanam selain cengkeh di lahan lain atau di sela-sela tanaman cengeh. Ini menunjukkan adanya tanaman tembakau dan cengkeh hasilnya lebih besar dibanding tanaman lain. Dan keduanya merupakan tanaman agung anugerah Tuhan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai buruh pabrik rokok, mereka ibu ibu rumah tangga sangat bahagia dapat membantu dan meringankan beban suami untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Mayoritas pekerja pabrik rokok kretek di Indonesia adalah wanita atau ibu rumah tangga, dan tidak ada pekerjaan lain yang bisa ia kerjakan yang bisa menghasilkan uang. Konsumen rokok dan industri rokok, adalah warga Negara yang taat akan pajak. Sebelum dinikmati, tiap batang rokok kretek yang telah dibeli sudah otomatis membayar pajak. Begitu juga, sebelum terjual, pabrik terbebani pajak dobel yang harus dibayar di muka, yaitu pungutan cukai, pungutan restribusi daerah dan talangan pajak konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Apakah keadaan ini semua dinafikan oleh Negara? Berapa besar keuntungan Negara dari hasil pajak rokok? Berapa besar manfaat uang cukai dalam menyehatkan masyarakat melalui pembayaran defisit BPJS? Kenapa para kandidat presiden tidak berani terang-terang membela sektor pertembakauan yang jelas-jelas bermanfaat bagi masyarakat kecil, bagi seluruh masyarakat bangsa dan membantu penerimaan uang kas Negara. <\/p>\n\n\n\n

Capres-Cawapres tahun 2019 ini, seakan-akan tidak memperdulikan nasib keberadaan sektor pertembakauan. Yang ada justru bertindak ikut-ikutan seperti halnya antirokok, itu pun yang berbicara adalah perwakilan dan bukan capresnya sendiri. <\/strong>Dilansir dari nasional.kompas.com<\/em>, bahwa salah satu anggota tim kesehatan Badan Pemenangan Nasional (BPN), bernama Hermawan Saputra, mengungkapkan, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno akan memberikan solusi agar pengguna rokok di Indonesia bisa menurun. Menurut dia, yang perlu dibereskan adalah hulu masalah industri rokok, yaitu mendorong petani tembakau untuk beralih profesi di bidang lain.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya <\/a><\/h2>\n\n\n\n

\"Kita naikkan cukai pun, tapi selama budaya dan perilaku masyarakat merokok tidak berubah serta petani yang menggantungkan diri di tembakau, ya tidak akan selesai. Meskipun tidak mudah, Hermawan meyakini Prabowo-Sandiaga memiliki kemauan politik yang kuat agar pengguna rokok bisa menurun. Dia mengatakan, tim kesehatan BPN sudah membuat rencana dan merancang program kesehatan yang bisa dipaparkan Sandiaga saat debat ketiga, \"ujar Hermawan saat ditemui dalam sebuah diskusi bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" menuju debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga dilansir dari tribunnews.com<\/em> bahwa Hasbullah Thabrany  orang yang mengatasnamakan Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, mengatakan;  jika terpilih dalam Pilpres 2019<\/a>, Jokowi-Ma'ruf akan menaikkan cukai rokok untuk menurunkan angka pengguna rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHarga cukai rokok di Indonesia merupakan yang paling terendah di dunia. Ia mencontohkan, cukai rokok di Singapura mencapai 90 persen dan Thailand 84 persen. Kita targetkan di pemerintahan ke depan jika Jokowi dan Ma'ruf terpilih, cukai rokok kita naikkan di atas 57 persen,\" ujar Hasbullah saat diskusi polemik bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" jelang debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).<\/p>\n\n\n\n

Baik Hermawan Saputra  atau Hasbullah Thabrany, kedua-duanya apakah yang mereka katakan mewakili suara capres? Sepenuhnya belum diketahui lebih jelas. Kalau dicermati, keduanya adalah orang-orang antirokok yang sengaja berkata demikian. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi jika suara mereka mewakili suara capres sepenuhnya, maka ke depan bisa dipastikan menjadi bumerang bagi para capres. Akan terjadi banyak orang yang bergerak dalam bidang pertembakauan apatis terhadap pilpres pemilu 2019. Mereka merasa terciderai, tidak ada perlindungan bagi mereka. <\/p>\n\n\n\n

Fakta dilapangan demikian, tulisan ini hanya mengingatkan pada capres dan cawapres bahwa ada hak petani tembakau, petani cengkeh, buruh rokok, dan industri rokok yang harus dilindungi. Ingat, mereka semua adalah warga Negara yang baik, mandiri dalam ekonomi dan berdaulat. Mereka adalah pembayar pajak yang taat, dan telah teruji hasil uang dari mereka telah menyehatkan masyarakat Indonesia melalui pembayaran defisit BPJS.  
<\/p>\n","post_title":"Menantang Capres-Cawapres Terang-terangan Membela Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menantang-capres-cawapres-terang-terangan-membela-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-13 08:31:38","post_modified_gmt":"2019-03-13 01:31:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5539","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas <\/a>
<\/h3>\n\n\n\n

Tentu saja kalau ditelisik secara lebih jauh sebelum kretek lahir, masyarakat Indonesia sudah terbiasa merokok. Aktivitas ini, warisan turun menurun, dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.  Lahirnya kretek memberikan warna lain dalam perkembangan rokok Nusantara. Dengan ramuan barunya yang berbeda dengan rokok-rokok sebelumnya, kretek kemudian menciptakan sejarah baru dalam dunia rokok di Nusantara.
<\/p>\n\n\n\n

Pola mengkonsumsi tembakau di dalam masyarakat Indonesia itu kemudian melahirkan beragam produk tembakau termasuk rokok. Menurut Hanusz  produk tembakau pribumi pertama kali muncul di pertengahan abad ke-17 dan disebut dengan bungkus<\/em>.  Bungkus <\/em>yang khas (the typical bungkus) <\/em>diisi dengan tembakau lokal yang pada tahap selanjutnya kemudian dikemas dengan kulit jagung (kelobot) dan daun pisang dan diikat dengan seutas benang.
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya pada abad ke -19, istilah bungkus <\/em>kemudian menunjukkan produk tembakau yang dibungkus di dalam klobot<\/em> atau kulit jagung. Pada perkembangan selanjutnya, istilah bungkus itu menjadi semakin tereduksi seiring dengan munculnya dua nama baru di dalam produk rokok. Nama baru tersebut adalah strootje <\/em>yang juga merupakan bahasa Belanda dan satunya lagi klobot <\/em> yang berasal dari bahasa Jawa.  Di tahun 1850-an baik strootje <\/em>maupun kelobot <\/em> yang menjadi produksi rumah tangga, tetapi di akhir abad itu, produk rokok yang dibungkus dengan kulit jagung (klobot) itu pertama kali mulai dijual di pasar.
<\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang sama, tepatnya pada tahun 1880,  masyarakat kudus kemudian mulai mencampurkan cengkeh dengan tembakau. Ini merupakan fenomena baru dalam dunia rokok. Hal yang demikian itu kemudian membuat klobot <\/em>yang berisi cengkeh dan tembakau itu dirduksi dalam skala besar. Ketika cengkeh pertama kali dicampur dengan tembakau dan dibungkus kulit jagung yang dilakukan oleh masyarakat Kudus tersebut, maka rokok itu disebut dengan rokok cengkeh. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kreatifitas masyarakat Kudus dalam mencampurkan cengkeh dan tembakau itu tergolong penemuan luar biasa. Rokok  yang bahanya cengkeh dengan tembakau itu kemudian segera dikenal dengan istilah kretek <\/em>yang merujuk pada bunyi kemretek, <\/em>saat rokok itu disulut akibat bunyi cengkeh. Ketika rokok kretek ini mulai muncul maka rokok ini hanya diperuntukkan rokok dalam memakai bahasa Belanda, strootje. <\/em>Sementara rokok klobot <\/em>saat itu dikenal dengan rokok yang tanpa cengkeh. Namun pada tahap perkembangannya hingga sekarang,  rokok klobot juga mengandung cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Sangat wajar kalau rokok kretek kemudian muncul sebagai ikon budaya Indonesia. Karena keberadaannya memang sudah mentradisi dan menyatu dengan kehidupan rakyat Indonesia. Rokok kretek sebagai bagian kultur masyarakat Indonesia ini bergerak di berbagai ranah, dari ranah sosial hingga ke ranah spiritual. Rokok kretek juga menjadi simbol budaya dan identitas Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek dalam konteks budaya Indonesia bukan hanya digunakan untuk menjalin keakraban sosial antara individu maupun kelompok, tetapi juga sebagai sarana untuk laku spiritual dan aktivitas religiusitas. Mulai dari sisi filosofis, historis dan sosial -antropologis bisa dibuktikan bahwa  rokok kretek memang beda dengan rokok-rokok konvensional, utamanya dengan rokok-rokok asing.
<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Banyaknya merek-merek kretek yang berbeda-beda, merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan kota lainnya di Indonesia. Hal ini menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung diera modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-cerminan-kedaulatan-ekonomi-dan-tradisi-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-18 09:30:24","post_modified_gmt":"2019-03-18 02:30:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5553","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5539,"post_author":"877","post_date":"2019-03-13 08:31:30","post_date_gmt":"2019-03-13 01:31:30","post_content":"\n

Baik capres-cawapres nomor urut 01 dan no urut 02, sepertinya keduanya belum pernah berstatement<\/em> dengan tegas untuk membela petani tembakau, petani cengkeh, buruh industri rokok, dan hak konsumen rokok. Setidaknya perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, perkebunan cengkeh tersebar di 30 provinsi, dan menyerap tenaga kerja dari hulu hingga hilir mencapai 6,1 juta jiwa. Selama ini, mereka hidup bergantung pada sektor pertembakauan, berupa kretek asli produk Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Karena kearifan lokal, lahan yang dimiliki petani tembakau, tidak ada tanaman yang lebih menguntungkan secara ekonomi, selain tanaman tembakau. Begitu juga yang terjadi pada petani cengkeh, mereka dapat menyekolahkan anak keperguruan tinggi, dapat membangun rumah, dapat membeli barang berharga dari hasil penjualan cengkeh. Petani tembakau dan cengkeh hidup sejahtera di saat pertaniannya berhasil. Bahkan tidak sedikit, mereka akan melakukan khajatnya setelah panen tiba. Ambil contoh, mau menikahkan atau mengkhitankan anaknya setelah panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fakta empiris tersebut, hampir dilakukan semua petani tembakau dan cengkeh. Mereka bukannya tidak menanam selain tembakau atau cengkeh, akan tetapi kedua tanaman tersebut lebih bisa menopang kebutuhan-kebutuhan yang memerlukan biaya besar. Petani tembakau, selama Desember sampai April menanam selain tembakau. Tidak sedikit petani cengkeh menanam selain cengkeh di lahan lain atau di sela-sela tanaman cengeh. Ini menunjukkan adanya tanaman tembakau dan cengkeh hasilnya lebih besar dibanding tanaman lain. Dan keduanya merupakan tanaman agung anugerah Tuhan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai buruh pabrik rokok, mereka ibu ibu rumah tangga sangat bahagia dapat membantu dan meringankan beban suami untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Mayoritas pekerja pabrik rokok kretek di Indonesia adalah wanita atau ibu rumah tangga, dan tidak ada pekerjaan lain yang bisa ia kerjakan yang bisa menghasilkan uang. Konsumen rokok dan industri rokok, adalah warga Negara yang taat akan pajak. Sebelum dinikmati, tiap batang rokok kretek yang telah dibeli sudah otomatis membayar pajak. Begitu juga, sebelum terjual, pabrik terbebani pajak dobel yang harus dibayar di muka, yaitu pungutan cukai, pungutan restribusi daerah dan talangan pajak konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Apakah keadaan ini semua dinafikan oleh Negara? Berapa besar keuntungan Negara dari hasil pajak rokok? Berapa besar manfaat uang cukai dalam menyehatkan masyarakat melalui pembayaran defisit BPJS? Kenapa para kandidat presiden tidak berani terang-terang membela sektor pertembakauan yang jelas-jelas bermanfaat bagi masyarakat kecil, bagi seluruh masyarakat bangsa dan membantu penerimaan uang kas Negara. <\/p>\n\n\n\n

Capres-Cawapres tahun 2019 ini, seakan-akan tidak memperdulikan nasib keberadaan sektor pertembakauan. Yang ada justru bertindak ikut-ikutan seperti halnya antirokok, itu pun yang berbicara adalah perwakilan dan bukan capresnya sendiri. <\/strong>Dilansir dari nasional.kompas.com<\/em>, bahwa salah satu anggota tim kesehatan Badan Pemenangan Nasional (BPN), bernama Hermawan Saputra, mengungkapkan, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno akan memberikan solusi agar pengguna rokok di Indonesia bisa menurun. Menurut dia, yang perlu dibereskan adalah hulu masalah industri rokok, yaitu mendorong petani tembakau untuk beralih profesi di bidang lain.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya <\/a><\/h2>\n\n\n\n

\"Kita naikkan cukai pun, tapi selama budaya dan perilaku masyarakat merokok tidak berubah serta petani yang menggantungkan diri di tembakau, ya tidak akan selesai. Meskipun tidak mudah, Hermawan meyakini Prabowo-Sandiaga memiliki kemauan politik yang kuat agar pengguna rokok bisa menurun. Dia mengatakan, tim kesehatan BPN sudah membuat rencana dan merancang program kesehatan yang bisa dipaparkan Sandiaga saat debat ketiga, \"ujar Hermawan saat ditemui dalam sebuah diskusi bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" menuju debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga dilansir dari tribunnews.com<\/em> bahwa Hasbullah Thabrany  orang yang mengatasnamakan Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, mengatakan;  jika terpilih dalam Pilpres 2019<\/a>, Jokowi-Ma'ruf akan menaikkan cukai rokok untuk menurunkan angka pengguna rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHarga cukai rokok di Indonesia merupakan yang paling terendah di dunia. Ia mencontohkan, cukai rokok di Singapura mencapai 90 persen dan Thailand 84 persen. Kita targetkan di pemerintahan ke depan jika Jokowi dan Ma'ruf terpilih, cukai rokok kita naikkan di atas 57 persen,\" ujar Hasbullah saat diskusi polemik bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" jelang debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).<\/p>\n\n\n\n

Baik Hermawan Saputra  atau Hasbullah Thabrany, kedua-duanya apakah yang mereka katakan mewakili suara capres? Sepenuhnya belum diketahui lebih jelas. Kalau dicermati, keduanya adalah orang-orang antirokok yang sengaja berkata demikian. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi jika suara mereka mewakili suara capres sepenuhnya, maka ke depan bisa dipastikan menjadi bumerang bagi para capres. Akan terjadi banyak orang yang bergerak dalam bidang pertembakauan apatis terhadap pilpres pemilu 2019. Mereka merasa terciderai, tidak ada perlindungan bagi mereka. <\/p>\n\n\n\n

Fakta dilapangan demikian, tulisan ini hanya mengingatkan pada capres dan cawapres bahwa ada hak petani tembakau, petani cengkeh, buruh rokok, dan industri rokok yang harus dilindungi. Ingat, mereka semua adalah warga Negara yang baik, mandiri dalam ekonomi dan berdaulat. Mereka adalah pembayar pajak yang taat, dan telah teruji hasil uang dari mereka telah menyehatkan masyarakat Indonesia melalui pembayaran defisit BPJS.  
<\/p>\n","post_title":"Menantang Capres-Cawapres Terang-terangan Membela Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menantang-capres-cawapres-terang-terangan-membela-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-13 08:31:38","post_modified_gmt":"2019-03-13 01:31:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5539","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selanjutnya, dari sisi historis, lahirnya rokok kretek justru dilatarbelakangi oleh aktivitas pengobatan. Kretek diciptakan dalam sejarahnya, untuk menjadi obat asma atau sesak nafas. Penemunya adalah Haji jamhari asal Kudus. Disini terlihat jelas, bahwa asal muasal kretek sebenarnya berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Kalau rokok non-kretek umumnya diciptakan untuk sekedar motif ekonomi, sedangkan rokok kretek diciptakan \u00a0justru dalam rangka mengatasi masalah kesehatan. Melalui perjalanan sejarahnya yang panjang dan kompleks, rokok kretek yang ditemukan oleh Haji Jamhari itu kini berkembang pesat dengan berbagai nama Industri dan merek. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas <\/a>
<\/h3>\n\n\n\n

Tentu saja kalau ditelisik secara lebih jauh sebelum kretek lahir, masyarakat Indonesia sudah terbiasa merokok. Aktivitas ini, warisan turun menurun, dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.  Lahirnya kretek memberikan warna lain dalam perkembangan rokok Nusantara. Dengan ramuan barunya yang berbeda dengan rokok-rokok sebelumnya, kretek kemudian menciptakan sejarah baru dalam dunia rokok di Nusantara.
<\/p>\n\n\n\n

Pola mengkonsumsi tembakau di dalam masyarakat Indonesia itu kemudian melahirkan beragam produk tembakau termasuk rokok. Menurut Hanusz  produk tembakau pribumi pertama kali muncul di pertengahan abad ke-17 dan disebut dengan bungkus<\/em>.  Bungkus <\/em>yang khas (the typical bungkus) <\/em>diisi dengan tembakau lokal yang pada tahap selanjutnya kemudian dikemas dengan kulit jagung (kelobot) dan daun pisang dan diikat dengan seutas benang.
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya pada abad ke -19, istilah bungkus <\/em>kemudian menunjukkan produk tembakau yang dibungkus di dalam klobot<\/em> atau kulit jagung. Pada perkembangan selanjutnya, istilah bungkus itu menjadi semakin tereduksi seiring dengan munculnya dua nama baru di dalam produk rokok. Nama baru tersebut adalah strootje <\/em>yang juga merupakan bahasa Belanda dan satunya lagi klobot <\/em> yang berasal dari bahasa Jawa.  Di tahun 1850-an baik strootje <\/em>maupun kelobot <\/em> yang menjadi produksi rumah tangga, tetapi di akhir abad itu, produk rokok yang dibungkus dengan kulit jagung (klobot) itu pertama kali mulai dijual di pasar.
<\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang sama, tepatnya pada tahun 1880,  masyarakat kudus kemudian mulai mencampurkan cengkeh dengan tembakau. Ini merupakan fenomena baru dalam dunia rokok. Hal yang demikian itu kemudian membuat klobot <\/em>yang berisi cengkeh dan tembakau itu dirduksi dalam skala besar. Ketika cengkeh pertama kali dicampur dengan tembakau dan dibungkus kulit jagung yang dilakukan oleh masyarakat Kudus tersebut, maka rokok itu disebut dengan rokok cengkeh. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kreatifitas masyarakat Kudus dalam mencampurkan cengkeh dan tembakau itu tergolong penemuan luar biasa. Rokok  yang bahanya cengkeh dengan tembakau itu kemudian segera dikenal dengan istilah kretek <\/em>yang merujuk pada bunyi kemretek, <\/em>saat rokok itu disulut akibat bunyi cengkeh. Ketika rokok kretek ini mulai muncul maka rokok ini hanya diperuntukkan rokok dalam memakai bahasa Belanda, strootje. <\/em>Sementara rokok klobot <\/em>saat itu dikenal dengan rokok yang tanpa cengkeh. Namun pada tahap perkembangannya hingga sekarang,  rokok klobot juga mengandung cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Sangat wajar kalau rokok kretek kemudian muncul sebagai ikon budaya Indonesia. Karena keberadaannya memang sudah mentradisi dan menyatu dengan kehidupan rakyat Indonesia. Rokok kretek sebagai bagian kultur masyarakat Indonesia ini bergerak di berbagai ranah, dari ranah sosial hingga ke ranah spiritual. Rokok kretek juga menjadi simbol budaya dan identitas Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek dalam konteks budaya Indonesia bukan hanya digunakan untuk menjalin keakraban sosial antara individu maupun kelompok, tetapi juga sebagai sarana untuk laku spiritual dan aktivitas religiusitas. Mulai dari sisi filosofis, historis dan sosial -antropologis bisa dibuktikan bahwa  rokok kretek memang beda dengan rokok-rokok konvensional, utamanya dengan rokok-rokok asing.
<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Banyaknya merek-merek kretek yang berbeda-beda, merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan kota lainnya di Indonesia. Hal ini menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung diera modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-cerminan-kedaulatan-ekonomi-dan-tradisi-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-18 09:30:24","post_modified_gmt":"2019-03-18 02:30:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5553","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5539,"post_author":"877","post_date":"2019-03-13 08:31:30","post_date_gmt":"2019-03-13 01:31:30","post_content":"\n

Baik capres-cawapres nomor urut 01 dan no urut 02, sepertinya keduanya belum pernah berstatement<\/em> dengan tegas untuk membela petani tembakau, petani cengkeh, buruh industri rokok, dan hak konsumen rokok. Setidaknya perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, perkebunan cengkeh tersebar di 30 provinsi, dan menyerap tenaga kerja dari hulu hingga hilir mencapai 6,1 juta jiwa. Selama ini, mereka hidup bergantung pada sektor pertembakauan, berupa kretek asli produk Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Karena kearifan lokal, lahan yang dimiliki petani tembakau, tidak ada tanaman yang lebih menguntungkan secara ekonomi, selain tanaman tembakau. Begitu juga yang terjadi pada petani cengkeh, mereka dapat menyekolahkan anak keperguruan tinggi, dapat membangun rumah, dapat membeli barang berharga dari hasil penjualan cengkeh. Petani tembakau dan cengkeh hidup sejahtera di saat pertaniannya berhasil. Bahkan tidak sedikit, mereka akan melakukan khajatnya setelah panen tiba. Ambil contoh, mau menikahkan atau mengkhitankan anaknya setelah panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fakta empiris tersebut, hampir dilakukan semua petani tembakau dan cengkeh. Mereka bukannya tidak menanam selain tembakau atau cengkeh, akan tetapi kedua tanaman tersebut lebih bisa menopang kebutuhan-kebutuhan yang memerlukan biaya besar. Petani tembakau, selama Desember sampai April menanam selain tembakau. Tidak sedikit petani cengkeh menanam selain cengkeh di lahan lain atau di sela-sela tanaman cengeh. Ini menunjukkan adanya tanaman tembakau dan cengkeh hasilnya lebih besar dibanding tanaman lain. Dan keduanya merupakan tanaman agung anugerah Tuhan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai buruh pabrik rokok, mereka ibu ibu rumah tangga sangat bahagia dapat membantu dan meringankan beban suami untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Mayoritas pekerja pabrik rokok kretek di Indonesia adalah wanita atau ibu rumah tangga, dan tidak ada pekerjaan lain yang bisa ia kerjakan yang bisa menghasilkan uang. Konsumen rokok dan industri rokok, adalah warga Negara yang taat akan pajak. Sebelum dinikmati, tiap batang rokok kretek yang telah dibeli sudah otomatis membayar pajak. Begitu juga, sebelum terjual, pabrik terbebani pajak dobel yang harus dibayar di muka, yaitu pungutan cukai, pungutan restribusi daerah dan talangan pajak konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Apakah keadaan ini semua dinafikan oleh Negara? Berapa besar keuntungan Negara dari hasil pajak rokok? Berapa besar manfaat uang cukai dalam menyehatkan masyarakat melalui pembayaran defisit BPJS? Kenapa para kandidat presiden tidak berani terang-terang membela sektor pertembakauan yang jelas-jelas bermanfaat bagi masyarakat kecil, bagi seluruh masyarakat bangsa dan membantu penerimaan uang kas Negara. <\/p>\n\n\n\n

Capres-Cawapres tahun 2019 ini, seakan-akan tidak memperdulikan nasib keberadaan sektor pertembakauan. Yang ada justru bertindak ikut-ikutan seperti halnya antirokok, itu pun yang berbicara adalah perwakilan dan bukan capresnya sendiri. <\/strong>Dilansir dari nasional.kompas.com<\/em>, bahwa salah satu anggota tim kesehatan Badan Pemenangan Nasional (BPN), bernama Hermawan Saputra, mengungkapkan, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno akan memberikan solusi agar pengguna rokok di Indonesia bisa menurun. Menurut dia, yang perlu dibereskan adalah hulu masalah industri rokok, yaitu mendorong petani tembakau untuk beralih profesi di bidang lain.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya <\/a><\/h2>\n\n\n\n

\"Kita naikkan cukai pun, tapi selama budaya dan perilaku masyarakat merokok tidak berubah serta petani yang menggantungkan diri di tembakau, ya tidak akan selesai. Meskipun tidak mudah, Hermawan meyakini Prabowo-Sandiaga memiliki kemauan politik yang kuat agar pengguna rokok bisa menurun. Dia mengatakan, tim kesehatan BPN sudah membuat rencana dan merancang program kesehatan yang bisa dipaparkan Sandiaga saat debat ketiga, \"ujar Hermawan saat ditemui dalam sebuah diskusi bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" menuju debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga dilansir dari tribunnews.com<\/em> bahwa Hasbullah Thabrany  orang yang mengatasnamakan Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, mengatakan;  jika terpilih dalam Pilpres 2019<\/a>, Jokowi-Ma'ruf akan menaikkan cukai rokok untuk menurunkan angka pengguna rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHarga cukai rokok di Indonesia merupakan yang paling terendah di dunia. Ia mencontohkan, cukai rokok di Singapura mencapai 90 persen dan Thailand 84 persen. Kita targetkan di pemerintahan ke depan jika Jokowi dan Ma'ruf terpilih, cukai rokok kita naikkan di atas 57 persen,\" ujar Hasbullah saat diskusi polemik bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" jelang debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).<\/p>\n\n\n\n

Baik Hermawan Saputra  atau Hasbullah Thabrany, kedua-duanya apakah yang mereka katakan mewakili suara capres? Sepenuhnya belum diketahui lebih jelas. Kalau dicermati, keduanya adalah orang-orang antirokok yang sengaja berkata demikian. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi jika suara mereka mewakili suara capres sepenuhnya, maka ke depan bisa dipastikan menjadi bumerang bagi para capres. Akan terjadi banyak orang yang bergerak dalam bidang pertembakauan apatis terhadap pilpres pemilu 2019. Mereka merasa terciderai, tidak ada perlindungan bagi mereka. <\/p>\n\n\n\n

Fakta dilapangan demikian, tulisan ini hanya mengingatkan pada capres dan cawapres bahwa ada hak petani tembakau, petani cengkeh, buruh rokok, dan industri rokok yang harus dilindungi. Ingat, mereka semua adalah warga Negara yang baik, mandiri dalam ekonomi dan berdaulat. Mereka adalah pembayar pajak yang taat, dan telah teruji hasil uang dari mereka telah menyehatkan masyarakat Indonesia melalui pembayaran defisit BPJS.  
<\/p>\n","post_title":"Menantang Capres-Cawapres Terang-terangan Membela Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menantang-capres-cawapres-terang-terangan-membela-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-13 08:31:38","post_modified_gmt":"2019-03-13 01:31:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5539","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Benar apa yang telah dikatakan Prameodya Ananta Toer bahwa kretek merupakan bagian penting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah mengeruk pajak yang signifikan dari industri kretek dan penjualnya. Tidak diragukan lagi bahwa rokok kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi.  Jadi di snilah kita melihat bahwa kreatifitas tangan masyarakat Indonesia bisa menghasilkan produk yang berdampak besar bagi perubahan masyarakat Indonesia. Kretek sebagai hasil kreatifitas masyarakat Indonesia bukan hanya sekedar produk rokok, melainkan juga mencerminkan tradisi dan budaya Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, dari sisi historis, lahirnya rokok kretek justru dilatarbelakangi oleh aktivitas pengobatan. Kretek diciptakan dalam sejarahnya, untuk menjadi obat asma atau sesak nafas. Penemunya adalah Haji jamhari asal Kudus. Disini terlihat jelas, bahwa asal muasal kretek sebenarnya berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Kalau rokok non-kretek umumnya diciptakan untuk sekedar motif ekonomi, sedangkan rokok kretek diciptakan \u00a0justru dalam rangka mengatasi masalah kesehatan. Melalui perjalanan sejarahnya yang panjang dan kompleks, rokok kretek yang ditemukan oleh Haji Jamhari itu kini berkembang pesat dengan berbagai nama Industri dan merek. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas <\/a>
<\/h3>\n\n\n\n

Tentu saja kalau ditelisik secara lebih jauh sebelum kretek lahir, masyarakat Indonesia sudah terbiasa merokok. Aktivitas ini, warisan turun menurun, dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.  Lahirnya kretek memberikan warna lain dalam perkembangan rokok Nusantara. Dengan ramuan barunya yang berbeda dengan rokok-rokok sebelumnya, kretek kemudian menciptakan sejarah baru dalam dunia rokok di Nusantara.
<\/p>\n\n\n\n

Pola mengkonsumsi tembakau di dalam masyarakat Indonesia itu kemudian melahirkan beragam produk tembakau termasuk rokok. Menurut Hanusz  produk tembakau pribumi pertama kali muncul di pertengahan abad ke-17 dan disebut dengan bungkus<\/em>.  Bungkus <\/em>yang khas (the typical bungkus) <\/em>diisi dengan tembakau lokal yang pada tahap selanjutnya kemudian dikemas dengan kulit jagung (kelobot) dan daun pisang dan diikat dengan seutas benang.
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya pada abad ke -19, istilah bungkus <\/em>kemudian menunjukkan produk tembakau yang dibungkus di dalam klobot<\/em> atau kulit jagung. Pada perkembangan selanjutnya, istilah bungkus itu menjadi semakin tereduksi seiring dengan munculnya dua nama baru di dalam produk rokok. Nama baru tersebut adalah strootje <\/em>yang juga merupakan bahasa Belanda dan satunya lagi klobot <\/em> yang berasal dari bahasa Jawa.  Di tahun 1850-an baik strootje <\/em>maupun kelobot <\/em> yang menjadi produksi rumah tangga, tetapi di akhir abad itu, produk rokok yang dibungkus dengan kulit jagung (klobot) itu pertama kali mulai dijual di pasar.
<\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang sama, tepatnya pada tahun 1880,  masyarakat kudus kemudian mulai mencampurkan cengkeh dengan tembakau. Ini merupakan fenomena baru dalam dunia rokok. Hal yang demikian itu kemudian membuat klobot <\/em>yang berisi cengkeh dan tembakau itu dirduksi dalam skala besar. Ketika cengkeh pertama kali dicampur dengan tembakau dan dibungkus kulit jagung yang dilakukan oleh masyarakat Kudus tersebut, maka rokok itu disebut dengan rokok cengkeh. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kreatifitas masyarakat Kudus dalam mencampurkan cengkeh dan tembakau itu tergolong penemuan luar biasa. Rokok  yang bahanya cengkeh dengan tembakau itu kemudian segera dikenal dengan istilah kretek <\/em>yang merujuk pada bunyi kemretek, <\/em>saat rokok itu disulut akibat bunyi cengkeh. Ketika rokok kretek ini mulai muncul maka rokok ini hanya diperuntukkan rokok dalam memakai bahasa Belanda, strootje. <\/em>Sementara rokok klobot <\/em>saat itu dikenal dengan rokok yang tanpa cengkeh. Namun pada tahap perkembangannya hingga sekarang,  rokok klobot juga mengandung cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Sangat wajar kalau rokok kretek kemudian muncul sebagai ikon budaya Indonesia. Karena keberadaannya memang sudah mentradisi dan menyatu dengan kehidupan rakyat Indonesia. Rokok kretek sebagai bagian kultur masyarakat Indonesia ini bergerak di berbagai ranah, dari ranah sosial hingga ke ranah spiritual. Rokok kretek juga menjadi simbol budaya dan identitas Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek dalam konteks budaya Indonesia bukan hanya digunakan untuk menjalin keakraban sosial antara individu maupun kelompok, tetapi juga sebagai sarana untuk laku spiritual dan aktivitas religiusitas. Mulai dari sisi filosofis, historis dan sosial -antropologis bisa dibuktikan bahwa  rokok kretek memang beda dengan rokok-rokok konvensional, utamanya dengan rokok-rokok asing.
<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Banyaknya merek-merek kretek yang berbeda-beda, merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan kota lainnya di Indonesia. Hal ini menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung diera modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-cerminan-kedaulatan-ekonomi-dan-tradisi-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-18 09:30:24","post_modified_gmt":"2019-03-18 02:30:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5553","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5539,"post_author":"877","post_date":"2019-03-13 08:31:30","post_date_gmt":"2019-03-13 01:31:30","post_content":"\n

Baik capres-cawapres nomor urut 01 dan no urut 02, sepertinya keduanya belum pernah berstatement<\/em> dengan tegas untuk membela petani tembakau, petani cengkeh, buruh industri rokok, dan hak konsumen rokok. Setidaknya perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, perkebunan cengkeh tersebar di 30 provinsi, dan menyerap tenaga kerja dari hulu hingga hilir mencapai 6,1 juta jiwa. Selama ini, mereka hidup bergantung pada sektor pertembakauan, berupa kretek asli produk Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Karena kearifan lokal, lahan yang dimiliki petani tembakau, tidak ada tanaman yang lebih menguntungkan secara ekonomi, selain tanaman tembakau. Begitu juga yang terjadi pada petani cengkeh, mereka dapat menyekolahkan anak keperguruan tinggi, dapat membangun rumah, dapat membeli barang berharga dari hasil penjualan cengkeh. Petani tembakau dan cengkeh hidup sejahtera di saat pertaniannya berhasil. Bahkan tidak sedikit, mereka akan melakukan khajatnya setelah panen tiba. Ambil contoh, mau menikahkan atau mengkhitankan anaknya setelah panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fakta empiris tersebut, hampir dilakukan semua petani tembakau dan cengkeh. Mereka bukannya tidak menanam selain tembakau atau cengkeh, akan tetapi kedua tanaman tersebut lebih bisa menopang kebutuhan-kebutuhan yang memerlukan biaya besar. Petani tembakau, selama Desember sampai April menanam selain tembakau. Tidak sedikit petani cengkeh menanam selain cengkeh di lahan lain atau di sela-sela tanaman cengeh. Ini menunjukkan adanya tanaman tembakau dan cengkeh hasilnya lebih besar dibanding tanaman lain. Dan keduanya merupakan tanaman agung anugerah Tuhan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai buruh pabrik rokok, mereka ibu ibu rumah tangga sangat bahagia dapat membantu dan meringankan beban suami untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Mayoritas pekerja pabrik rokok kretek di Indonesia adalah wanita atau ibu rumah tangga, dan tidak ada pekerjaan lain yang bisa ia kerjakan yang bisa menghasilkan uang. Konsumen rokok dan industri rokok, adalah warga Negara yang taat akan pajak. Sebelum dinikmati, tiap batang rokok kretek yang telah dibeli sudah otomatis membayar pajak. Begitu juga, sebelum terjual, pabrik terbebani pajak dobel yang harus dibayar di muka, yaitu pungutan cukai, pungutan restribusi daerah dan talangan pajak konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Apakah keadaan ini semua dinafikan oleh Negara? Berapa besar keuntungan Negara dari hasil pajak rokok? Berapa besar manfaat uang cukai dalam menyehatkan masyarakat melalui pembayaran defisit BPJS? Kenapa para kandidat presiden tidak berani terang-terang membela sektor pertembakauan yang jelas-jelas bermanfaat bagi masyarakat kecil, bagi seluruh masyarakat bangsa dan membantu penerimaan uang kas Negara. <\/p>\n\n\n\n

Capres-Cawapres tahun 2019 ini, seakan-akan tidak memperdulikan nasib keberadaan sektor pertembakauan. Yang ada justru bertindak ikut-ikutan seperti halnya antirokok, itu pun yang berbicara adalah perwakilan dan bukan capresnya sendiri. <\/strong>Dilansir dari nasional.kompas.com<\/em>, bahwa salah satu anggota tim kesehatan Badan Pemenangan Nasional (BPN), bernama Hermawan Saputra, mengungkapkan, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno akan memberikan solusi agar pengguna rokok di Indonesia bisa menurun. Menurut dia, yang perlu dibereskan adalah hulu masalah industri rokok, yaitu mendorong petani tembakau untuk beralih profesi di bidang lain.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya <\/a><\/h2>\n\n\n\n

\"Kita naikkan cukai pun, tapi selama budaya dan perilaku masyarakat merokok tidak berubah serta petani yang menggantungkan diri di tembakau, ya tidak akan selesai. Meskipun tidak mudah, Hermawan meyakini Prabowo-Sandiaga memiliki kemauan politik yang kuat agar pengguna rokok bisa menurun. Dia mengatakan, tim kesehatan BPN sudah membuat rencana dan merancang program kesehatan yang bisa dipaparkan Sandiaga saat debat ketiga, \"ujar Hermawan saat ditemui dalam sebuah diskusi bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" menuju debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga dilansir dari tribunnews.com<\/em> bahwa Hasbullah Thabrany  orang yang mengatasnamakan Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, mengatakan;  jika terpilih dalam Pilpres 2019<\/a>, Jokowi-Ma'ruf akan menaikkan cukai rokok untuk menurunkan angka pengguna rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHarga cukai rokok di Indonesia merupakan yang paling terendah di dunia. Ia mencontohkan, cukai rokok di Singapura mencapai 90 persen dan Thailand 84 persen. Kita targetkan di pemerintahan ke depan jika Jokowi dan Ma'ruf terpilih, cukai rokok kita naikkan di atas 57 persen,\" ujar Hasbullah saat diskusi polemik bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" jelang debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).<\/p>\n\n\n\n

Baik Hermawan Saputra  atau Hasbullah Thabrany, kedua-duanya apakah yang mereka katakan mewakili suara capres? Sepenuhnya belum diketahui lebih jelas. Kalau dicermati, keduanya adalah orang-orang antirokok yang sengaja berkata demikian. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi jika suara mereka mewakili suara capres sepenuhnya, maka ke depan bisa dipastikan menjadi bumerang bagi para capres. Akan terjadi banyak orang yang bergerak dalam bidang pertembakauan apatis terhadap pilpres pemilu 2019. Mereka merasa terciderai, tidak ada perlindungan bagi mereka. <\/p>\n\n\n\n

Fakta dilapangan demikian, tulisan ini hanya mengingatkan pada capres dan cawapres bahwa ada hak petani tembakau, petani cengkeh, buruh rokok, dan industri rokok yang harus dilindungi. Ingat, mereka semua adalah warga Negara yang baik, mandiri dalam ekonomi dan berdaulat. Mereka adalah pembayar pajak yang taat, dan telah teruji hasil uang dari mereka telah menyehatkan masyarakat Indonesia melalui pembayaran defisit BPJS.  
<\/p>\n","post_title":"Menantang Capres-Cawapres Terang-terangan Membela Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menantang-capres-cawapres-terang-terangan-membela-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-13 08:31:38","post_modified_gmt":"2019-03-13 01:31:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5539","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Rokok di belahan dunia sangat berbeda dengan rokok di Indonesia. Istilah rokok kretek, adalah ramuan antara tembakau dan cengkeh. Inilah yang membedakan rokok kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang  paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income<\/em> terbesar kepada negara.
<\/p>\n\n\n\n

Benar apa yang telah dikatakan Prameodya Ananta Toer bahwa kretek merupakan bagian penting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah mengeruk pajak yang signifikan dari industri kretek dan penjualnya. Tidak diragukan lagi bahwa rokok kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi.  Jadi di snilah kita melihat bahwa kreatifitas tangan masyarakat Indonesia bisa menghasilkan produk yang berdampak besar bagi perubahan masyarakat Indonesia. Kretek sebagai hasil kreatifitas masyarakat Indonesia bukan hanya sekedar produk rokok, melainkan juga mencerminkan tradisi dan budaya Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, dari sisi historis, lahirnya rokok kretek justru dilatarbelakangi oleh aktivitas pengobatan. Kretek diciptakan dalam sejarahnya, untuk menjadi obat asma atau sesak nafas. Penemunya adalah Haji jamhari asal Kudus. Disini terlihat jelas, bahwa asal muasal kretek sebenarnya berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Kalau rokok non-kretek umumnya diciptakan untuk sekedar motif ekonomi, sedangkan rokok kretek diciptakan \u00a0justru dalam rangka mengatasi masalah kesehatan. Melalui perjalanan sejarahnya yang panjang dan kompleks, rokok kretek yang ditemukan oleh Haji Jamhari itu kini berkembang pesat dengan berbagai nama Industri dan merek. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas <\/a>
<\/h3>\n\n\n\n

Tentu saja kalau ditelisik secara lebih jauh sebelum kretek lahir, masyarakat Indonesia sudah terbiasa merokok. Aktivitas ini, warisan turun menurun, dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.  Lahirnya kretek memberikan warna lain dalam perkembangan rokok Nusantara. Dengan ramuan barunya yang berbeda dengan rokok-rokok sebelumnya, kretek kemudian menciptakan sejarah baru dalam dunia rokok di Nusantara.
<\/p>\n\n\n\n

Pola mengkonsumsi tembakau di dalam masyarakat Indonesia itu kemudian melahirkan beragam produk tembakau termasuk rokok. Menurut Hanusz  produk tembakau pribumi pertama kali muncul di pertengahan abad ke-17 dan disebut dengan bungkus<\/em>.  Bungkus <\/em>yang khas (the typical bungkus) <\/em>diisi dengan tembakau lokal yang pada tahap selanjutnya kemudian dikemas dengan kulit jagung (kelobot) dan daun pisang dan diikat dengan seutas benang.
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya pada abad ke -19, istilah bungkus <\/em>kemudian menunjukkan produk tembakau yang dibungkus di dalam klobot<\/em> atau kulit jagung. Pada perkembangan selanjutnya, istilah bungkus itu menjadi semakin tereduksi seiring dengan munculnya dua nama baru di dalam produk rokok. Nama baru tersebut adalah strootje <\/em>yang juga merupakan bahasa Belanda dan satunya lagi klobot <\/em> yang berasal dari bahasa Jawa.  Di tahun 1850-an baik strootje <\/em>maupun kelobot <\/em> yang menjadi produksi rumah tangga, tetapi di akhir abad itu, produk rokok yang dibungkus dengan kulit jagung (klobot) itu pertama kali mulai dijual di pasar.
<\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang sama, tepatnya pada tahun 1880,  masyarakat kudus kemudian mulai mencampurkan cengkeh dengan tembakau. Ini merupakan fenomena baru dalam dunia rokok. Hal yang demikian itu kemudian membuat klobot <\/em>yang berisi cengkeh dan tembakau itu dirduksi dalam skala besar. Ketika cengkeh pertama kali dicampur dengan tembakau dan dibungkus kulit jagung yang dilakukan oleh masyarakat Kudus tersebut, maka rokok itu disebut dengan rokok cengkeh. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kreatifitas masyarakat Kudus dalam mencampurkan cengkeh dan tembakau itu tergolong penemuan luar biasa. Rokok  yang bahanya cengkeh dengan tembakau itu kemudian segera dikenal dengan istilah kretek <\/em>yang merujuk pada bunyi kemretek, <\/em>saat rokok itu disulut akibat bunyi cengkeh. Ketika rokok kretek ini mulai muncul maka rokok ini hanya diperuntukkan rokok dalam memakai bahasa Belanda, strootje. <\/em>Sementara rokok klobot <\/em>saat itu dikenal dengan rokok yang tanpa cengkeh. Namun pada tahap perkembangannya hingga sekarang,  rokok klobot juga mengandung cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Sangat wajar kalau rokok kretek kemudian muncul sebagai ikon budaya Indonesia. Karena keberadaannya memang sudah mentradisi dan menyatu dengan kehidupan rakyat Indonesia. Rokok kretek sebagai bagian kultur masyarakat Indonesia ini bergerak di berbagai ranah, dari ranah sosial hingga ke ranah spiritual. Rokok kretek juga menjadi simbol budaya dan identitas Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek dalam konteks budaya Indonesia bukan hanya digunakan untuk menjalin keakraban sosial antara individu maupun kelompok, tetapi juga sebagai sarana untuk laku spiritual dan aktivitas religiusitas. Mulai dari sisi filosofis, historis dan sosial -antropologis bisa dibuktikan bahwa  rokok kretek memang beda dengan rokok-rokok konvensional, utamanya dengan rokok-rokok asing.
<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Banyaknya merek-merek kretek yang berbeda-beda, merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan kota lainnya di Indonesia. Hal ini menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung diera modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-cerminan-kedaulatan-ekonomi-dan-tradisi-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-18 09:30:24","post_modified_gmt":"2019-03-18 02:30:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5553","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5539,"post_author":"877","post_date":"2019-03-13 08:31:30","post_date_gmt":"2019-03-13 01:31:30","post_content":"\n

Baik capres-cawapres nomor urut 01 dan no urut 02, sepertinya keduanya belum pernah berstatement<\/em> dengan tegas untuk membela petani tembakau, petani cengkeh, buruh industri rokok, dan hak konsumen rokok. Setidaknya perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, perkebunan cengkeh tersebar di 30 provinsi, dan menyerap tenaga kerja dari hulu hingga hilir mencapai 6,1 juta jiwa. Selama ini, mereka hidup bergantung pada sektor pertembakauan, berupa kretek asli produk Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Karena kearifan lokal, lahan yang dimiliki petani tembakau, tidak ada tanaman yang lebih menguntungkan secara ekonomi, selain tanaman tembakau. Begitu juga yang terjadi pada petani cengkeh, mereka dapat menyekolahkan anak keperguruan tinggi, dapat membangun rumah, dapat membeli barang berharga dari hasil penjualan cengkeh. Petani tembakau dan cengkeh hidup sejahtera di saat pertaniannya berhasil. Bahkan tidak sedikit, mereka akan melakukan khajatnya setelah panen tiba. Ambil contoh, mau menikahkan atau mengkhitankan anaknya setelah panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fakta empiris tersebut, hampir dilakukan semua petani tembakau dan cengkeh. Mereka bukannya tidak menanam selain tembakau atau cengkeh, akan tetapi kedua tanaman tersebut lebih bisa menopang kebutuhan-kebutuhan yang memerlukan biaya besar. Petani tembakau, selama Desember sampai April menanam selain tembakau. Tidak sedikit petani cengkeh menanam selain cengkeh di lahan lain atau di sela-sela tanaman cengeh. Ini menunjukkan adanya tanaman tembakau dan cengkeh hasilnya lebih besar dibanding tanaman lain. Dan keduanya merupakan tanaman agung anugerah Tuhan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai buruh pabrik rokok, mereka ibu ibu rumah tangga sangat bahagia dapat membantu dan meringankan beban suami untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Mayoritas pekerja pabrik rokok kretek di Indonesia adalah wanita atau ibu rumah tangga, dan tidak ada pekerjaan lain yang bisa ia kerjakan yang bisa menghasilkan uang. Konsumen rokok dan industri rokok, adalah warga Negara yang taat akan pajak. Sebelum dinikmati, tiap batang rokok kretek yang telah dibeli sudah otomatis membayar pajak. Begitu juga, sebelum terjual, pabrik terbebani pajak dobel yang harus dibayar di muka, yaitu pungutan cukai, pungutan restribusi daerah dan talangan pajak konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Apakah keadaan ini semua dinafikan oleh Negara? Berapa besar keuntungan Negara dari hasil pajak rokok? Berapa besar manfaat uang cukai dalam menyehatkan masyarakat melalui pembayaran defisit BPJS? Kenapa para kandidat presiden tidak berani terang-terang membela sektor pertembakauan yang jelas-jelas bermanfaat bagi masyarakat kecil, bagi seluruh masyarakat bangsa dan membantu penerimaan uang kas Negara. <\/p>\n\n\n\n

Capres-Cawapres tahun 2019 ini, seakan-akan tidak memperdulikan nasib keberadaan sektor pertembakauan. Yang ada justru bertindak ikut-ikutan seperti halnya antirokok, itu pun yang berbicara adalah perwakilan dan bukan capresnya sendiri. <\/strong>Dilansir dari nasional.kompas.com<\/em>, bahwa salah satu anggota tim kesehatan Badan Pemenangan Nasional (BPN), bernama Hermawan Saputra, mengungkapkan, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno akan memberikan solusi agar pengguna rokok di Indonesia bisa menurun. Menurut dia, yang perlu dibereskan adalah hulu masalah industri rokok, yaitu mendorong petani tembakau untuk beralih profesi di bidang lain.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya <\/a><\/h2>\n\n\n\n

\"Kita naikkan cukai pun, tapi selama budaya dan perilaku masyarakat merokok tidak berubah serta petani yang menggantungkan diri di tembakau, ya tidak akan selesai. Meskipun tidak mudah, Hermawan meyakini Prabowo-Sandiaga memiliki kemauan politik yang kuat agar pengguna rokok bisa menurun. Dia mengatakan, tim kesehatan BPN sudah membuat rencana dan merancang program kesehatan yang bisa dipaparkan Sandiaga saat debat ketiga, \"ujar Hermawan saat ditemui dalam sebuah diskusi bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" menuju debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga dilansir dari tribunnews.com<\/em> bahwa Hasbullah Thabrany  orang yang mengatasnamakan Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, mengatakan;  jika terpilih dalam Pilpres 2019<\/a>, Jokowi-Ma'ruf akan menaikkan cukai rokok untuk menurunkan angka pengguna rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHarga cukai rokok di Indonesia merupakan yang paling terendah di dunia. Ia mencontohkan, cukai rokok di Singapura mencapai 90 persen dan Thailand 84 persen. Kita targetkan di pemerintahan ke depan jika Jokowi dan Ma'ruf terpilih, cukai rokok kita naikkan di atas 57 persen,\" ujar Hasbullah saat diskusi polemik bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" jelang debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).<\/p>\n\n\n\n

Baik Hermawan Saputra  atau Hasbullah Thabrany, kedua-duanya apakah yang mereka katakan mewakili suara capres? Sepenuhnya belum diketahui lebih jelas. Kalau dicermati, keduanya adalah orang-orang antirokok yang sengaja berkata demikian. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi jika suara mereka mewakili suara capres sepenuhnya, maka ke depan bisa dipastikan menjadi bumerang bagi para capres. Akan terjadi banyak orang yang bergerak dalam bidang pertembakauan apatis terhadap pilpres pemilu 2019. Mereka merasa terciderai, tidak ada perlindungan bagi mereka. <\/p>\n\n\n\n

Fakta dilapangan demikian, tulisan ini hanya mengingatkan pada capres dan cawapres bahwa ada hak petani tembakau, petani cengkeh, buruh rokok, dan industri rokok yang harus dilindungi. Ingat, mereka semua adalah warga Negara yang baik, mandiri dalam ekonomi dan berdaulat. Mereka adalah pembayar pajak yang taat, dan telah teruji hasil uang dari mereka telah menyehatkan masyarakat Indonesia melalui pembayaran defisit BPJS.  
<\/p>\n","post_title":"Menantang Capres-Cawapres Terang-terangan Membela Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menantang-capres-cawapres-terang-terangan-membela-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-13 08:31:38","post_modified_gmt":"2019-03-13 01:31:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5539","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: \u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya<\/a> <\/h3>\n\n\n\n

Rokok di belahan dunia sangat berbeda dengan rokok di Indonesia. Istilah rokok kretek, adalah ramuan antara tembakau dan cengkeh. Inilah yang membedakan rokok kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang  paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income<\/em> terbesar kepada negara.
<\/p>\n\n\n\n

Benar apa yang telah dikatakan Prameodya Ananta Toer bahwa kretek merupakan bagian penting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah mengeruk pajak yang signifikan dari industri kretek dan penjualnya. Tidak diragukan lagi bahwa rokok kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi.  Jadi di snilah kita melihat bahwa kreatifitas tangan masyarakat Indonesia bisa menghasilkan produk yang berdampak besar bagi perubahan masyarakat Indonesia. Kretek sebagai hasil kreatifitas masyarakat Indonesia bukan hanya sekedar produk rokok, melainkan juga mencerminkan tradisi dan budaya Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, dari sisi historis, lahirnya rokok kretek justru dilatarbelakangi oleh aktivitas pengobatan. Kretek diciptakan dalam sejarahnya, untuk menjadi obat asma atau sesak nafas. Penemunya adalah Haji jamhari asal Kudus. Disini terlihat jelas, bahwa asal muasal kretek sebenarnya berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Kalau rokok non-kretek umumnya diciptakan untuk sekedar motif ekonomi, sedangkan rokok kretek diciptakan \u00a0justru dalam rangka mengatasi masalah kesehatan. Melalui perjalanan sejarahnya yang panjang dan kompleks, rokok kretek yang ditemukan oleh Haji Jamhari itu kini berkembang pesat dengan berbagai nama Industri dan merek. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas <\/a>
<\/h3>\n\n\n\n

Tentu saja kalau ditelisik secara lebih jauh sebelum kretek lahir, masyarakat Indonesia sudah terbiasa merokok. Aktivitas ini, warisan turun menurun, dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.  Lahirnya kretek memberikan warna lain dalam perkembangan rokok Nusantara. Dengan ramuan barunya yang berbeda dengan rokok-rokok sebelumnya, kretek kemudian menciptakan sejarah baru dalam dunia rokok di Nusantara.
<\/p>\n\n\n\n

Pola mengkonsumsi tembakau di dalam masyarakat Indonesia itu kemudian melahirkan beragam produk tembakau termasuk rokok. Menurut Hanusz  produk tembakau pribumi pertama kali muncul di pertengahan abad ke-17 dan disebut dengan bungkus<\/em>.  Bungkus <\/em>yang khas (the typical bungkus) <\/em>diisi dengan tembakau lokal yang pada tahap selanjutnya kemudian dikemas dengan kulit jagung (kelobot) dan daun pisang dan diikat dengan seutas benang.
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya pada abad ke -19, istilah bungkus <\/em>kemudian menunjukkan produk tembakau yang dibungkus di dalam klobot<\/em> atau kulit jagung. Pada perkembangan selanjutnya, istilah bungkus itu menjadi semakin tereduksi seiring dengan munculnya dua nama baru di dalam produk rokok. Nama baru tersebut adalah strootje <\/em>yang juga merupakan bahasa Belanda dan satunya lagi klobot <\/em> yang berasal dari bahasa Jawa.  Di tahun 1850-an baik strootje <\/em>maupun kelobot <\/em> yang menjadi produksi rumah tangga, tetapi di akhir abad itu, produk rokok yang dibungkus dengan kulit jagung (klobot) itu pertama kali mulai dijual di pasar.
<\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang sama, tepatnya pada tahun 1880,  masyarakat kudus kemudian mulai mencampurkan cengkeh dengan tembakau. Ini merupakan fenomena baru dalam dunia rokok. Hal yang demikian itu kemudian membuat klobot <\/em>yang berisi cengkeh dan tembakau itu dirduksi dalam skala besar. Ketika cengkeh pertama kali dicampur dengan tembakau dan dibungkus kulit jagung yang dilakukan oleh masyarakat Kudus tersebut, maka rokok itu disebut dengan rokok cengkeh. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kreatifitas masyarakat Kudus dalam mencampurkan cengkeh dan tembakau itu tergolong penemuan luar biasa. Rokok  yang bahanya cengkeh dengan tembakau itu kemudian segera dikenal dengan istilah kretek <\/em>yang merujuk pada bunyi kemretek, <\/em>saat rokok itu disulut akibat bunyi cengkeh. Ketika rokok kretek ini mulai muncul maka rokok ini hanya diperuntukkan rokok dalam memakai bahasa Belanda, strootje. <\/em>Sementara rokok klobot <\/em>saat itu dikenal dengan rokok yang tanpa cengkeh. Namun pada tahap perkembangannya hingga sekarang,  rokok klobot juga mengandung cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Sangat wajar kalau rokok kretek kemudian muncul sebagai ikon budaya Indonesia. Karena keberadaannya memang sudah mentradisi dan menyatu dengan kehidupan rakyat Indonesia. Rokok kretek sebagai bagian kultur masyarakat Indonesia ini bergerak di berbagai ranah, dari ranah sosial hingga ke ranah spiritual. Rokok kretek juga menjadi simbol budaya dan identitas Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek dalam konteks budaya Indonesia bukan hanya digunakan untuk menjalin keakraban sosial antara individu maupun kelompok, tetapi juga sebagai sarana untuk laku spiritual dan aktivitas religiusitas. Mulai dari sisi filosofis, historis dan sosial -antropologis bisa dibuktikan bahwa  rokok kretek memang beda dengan rokok-rokok konvensional, utamanya dengan rokok-rokok asing.
<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Banyaknya merek-merek kretek yang berbeda-beda, merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan kota lainnya di Indonesia. Hal ini menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung diera modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-cerminan-kedaulatan-ekonomi-dan-tradisi-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-18 09:30:24","post_modified_gmt":"2019-03-18 02:30:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5553","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5539,"post_author":"877","post_date":"2019-03-13 08:31:30","post_date_gmt":"2019-03-13 01:31:30","post_content":"\n

Baik capres-cawapres nomor urut 01 dan no urut 02, sepertinya keduanya belum pernah berstatement<\/em> dengan tegas untuk membela petani tembakau, petani cengkeh, buruh industri rokok, dan hak konsumen rokok. Setidaknya perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, perkebunan cengkeh tersebar di 30 provinsi, dan menyerap tenaga kerja dari hulu hingga hilir mencapai 6,1 juta jiwa. Selama ini, mereka hidup bergantung pada sektor pertembakauan, berupa kretek asli produk Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Karena kearifan lokal, lahan yang dimiliki petani tembakau, tidak ada tanaman yang lebih menguntungkan secara ekonomi, selain tanaman tembakau. Begitu juga yang terjadi pada petani cengkeh, mereka dapat menyekolahkan anak keperguruan tinggi, dapat membangun rumah, dapat membeli barang berharga dari hasil penjualan cengkeh. Petani tembakau dan cengkeh hidup sejahtera di saat pertaniannya berhasil. Bahkan tidak sedikit, mereka akan melakukan khajatnya setelah panen tiba. Ambil contoh, mau menikahkan atau mengkhitankan anaknya setelah panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fakta empiris tersebut, hampir dilakukan semua petani tembakau dan cengkeh. Mereka bukannya tidak menanam selain tembakau atau cengkeh, akan tetapi kedua tanaman tersebut lebih bisa menopang kebutuhan-kebutuhan yang memerlukan biaya besar. Petani tembakau, selama Desember sampai April menanam selain tembakau. Tidak sedikit petani cengkeh menanam selain cengkeh di lahan lain atau di sela-sela tanaman cengeh. Ini menunjukkan adanya tanaman tembakau dan cengkeh hasilnya lebih besar dibanding tanaman lain. Dan keduanya merupakan tanaman agung anugerah Tuhan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai buruh pabrik rokok, mereka ibu ibu rumah tangga sangat bahagia dapat membantu dan meringankan beban suami untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Mayoritas pekerja pabrik rokok kretek di Indonesia adalah wanita atau ibu rumah tangga, dan tidak ada pekerjaan lain yang bisa ia kerjakan yang bisa menghasilkan uang. Konsumen rokok dan industri rokok, adalah warga Negara yang taat akan pajak. Sebelum dinikmati, tiap batang rokok kretek yang telah dibeli sudah otomatis membayar pajak. Begitu juga, sebelum terjual, pabrik terbebani pajak dobel yang harus dibayar di muka, yaitu pungutan cukai, pungutan restribusi daerah dan talangan pajak konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Apakah keadaan ini semua dinafikan oleh Negara? Berapa besar keuntungan Negara dari hasil pajak rokok? Berapa besar manfaat uang cukai dalam menyehatkan masyarakat melalui pembayaran defisit BPJS? Kenapa para kandidat presiden tidak berani terang-terang membela sektor pertembakauan yang jelas-jelas bermanfaat bagi masyarakat kecil, bagi seluruh masyarakat bangsa dan membantu penerimaan uang kas Negara. <\/p>\n\n\n\n

Capres-Cawapres tahun 2019 ini, seakan-akan tidak memperdulikan nasib keberadaan sektor pertembakauan. Yang ada justru bertindak ikut-ikutan seperti halnya antirokok, itu pun yang berbicara adalah perwakilan dan bukan capresnya sendiri. <\/strong>Dilansir dari nasional.kompas.com<\/em>, bahwa salah satu anggota tim kesehatan Badan Pemenangan Nasional (BPN), bernama Hermawan Saputra, mengungkapkan, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno akan memberikan solusi agar pengguna rokok di Indonesia bisa menurun. Menurut dia, yang perlu dibereskan adalah hulu masalah industri rokok, yaitu mendorong petani tembakau untuk beralih profesi di bidang lain.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya <\/a><\/h2>\n\n\n\n

\"Kita naikkan cukai pun, tapi selama budaya dan perilaku masyarakat merokok tidak berubah serta petani yang menggantungkan diri di tembakau, ya tidak akan selesai. Meskipun tidak mudah, Hermawan meyakini Prabowo-Sandiaga memiliki kemauan politik yang kuat agar pengguna rokok bisa menurun. Dia mengatakan, tim kesehatan BPN sudah membuat rencana dan merancang program kesehatan yang bisa dipaparkan Sandiaga saat debat ketiga, \"ujar Hermawan saat ditemui dalam sebuah diskusi bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" menuju debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga dilansir dari tribunnews.com<\/em> bahwa Hasbullah Thabrany  orang yang mengatasnamakan Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, mengatakan;  jika terpilih dalam Pilpres 2019<\/a>, Jokowi-Ma'ruf akan menaikkan cukai rokok untuk menurunkan angka pengguna rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHarga cukai rokok di Indonesia merupakan yang paling terendah di dunia. Ia mencontohkan, cukai rokok di Singapura mencapai 90 persen dan Thailand 84 persen. Kita targetkan di pemerintahan ke depan jika Jokowi dan Ma'ruf terpilih, cukai rokok kita naikkan di atas 57 persen,\" ujar Hasbullah saat diskusi polemik bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" jelang debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).<\/p>\n\n\n\n

Baik Hermawan Saputra  atau Hasbullah Thabrany, kedua-duanya apakah yang mereka katakan mewakili suara capres? Sepenuhnya belum diketahui lebih jelas. Kalau dicermati, keduanya adalah orang-orang antirokok yang sengaja berkata demikian. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi jika suara mereka mewakili suara capres sepenuhnya, maka ke depan bisa dipastikan menjadi bumerang bagi para capres. Akan terjadi banyak orang yang bergerak dalam bidang pertembakauan apatis terhadap pilpres pemilu 2019. Mereka merasa terciderai, tidak ada perlindungan bagi mereka. <\/p>\n\n\n\n

Fakta dilapangan demikian, tulisan ini hanya mengingatkan pada capres dan cawapres bahwa ada hak petani tembakau, petani cengkeh, buruh rokok, dan industri rokok yang harus dilindungi. Ingat, mereka semua adalah warga Negara yang baik, mandiri dalam ekonomi dan berdaulat. Mereka adalah pembayar pajak yang taat, dan telah teruji hasil uang dari mereka telah menyehatkan masyarakat Indonesia melalui pembayaran defisit BPJS.  
<\/p>\n","post_title":"Menantang Capres-Cawapres Terang-terangan Membela Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menantang-capres-cawapres-terang-terangan-membela-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-13 08:31:38","post_modified_gmt":"2019-03-13 01:31:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5539","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kretek sebagai produk budaya adiluhung bangsa tak akan pernah memunculkan percikan konflik sosial. Tetapi kretek yang berkembang sebagai komoditas industri yang berorientasi kapital, tentu menyimpan potensi gesekan sosial politik. Kretek bukanlah penyulut konflik, hanya kepentingan ekonomi dan persaingan dagang yang menimbulkan kompetisi yang keras dan tajam. Sebagai produk budaya yang adiluhung, kretek justru menjadi medium pemersatu, yang mendamaikan kemajemukan budaya Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya<\/a> <\/h3>\n\n\n\n

Rokok di belahan dunia sangat berbeda dengan rokok di Indonesia. Istilah rokok kretek, adalah ramuan antara tembakau dan cengkeh. Inilah yang membedakan rokok kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang  paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income<\/em> terbesar kepada negara.
<\/p>\n\n\n\n

Benar apa yang telah dikatakan Prameodya Ananta Toer bahwa kretek merupakan bagian penting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah mengeruk pajak yang signifikan dari industri kretek dan penjualnya. Tidak diragukan lagi bahwa rokok kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi.  Jadi di snilah kita melihat bahwa kreatifitas tangan masyarakat Indonesia bisa menghasilkan produk yang berdampak besar bagi perubahan masyarakat Indonesia. Kretek sebagai hasil kreatifitas masyarakat Indonesia bukan hanya sekedar produk rokok, melainkan juga mencerminkan tradisi dan budaya Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, dari sisi historis, lahirnya rokok kretek justru dilatarbelakangi oleh aktivitas pengobatan. Kretek diciptakan dalam sejarahnya, untuk menjadi obat asma atau sesak nafas. Penemunya adalah Haji jamhari asal Kudus. Disini terlihat jelas, bahwa asal muasal kretek sebenarnya berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Kalau rokok non-kretek umumnya diciptakan untuk sekedar motif ekonomi, sedangkan rokok kretek diciptakan \u00a0justru dalam rangka mengatasi masalah kesehatan. Melalui perjalanan sejarahnya yang panjang dan kompleks, rokok kretek yang ditemukan oleh Haji Jamhari itu kini berkembang pesat dengan berbagai nama Industri dan merek. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas <\/a>
<\/h3>\n\n\n\n

Tentu saja kalau ditelisik secara lebih jauh sebelum kretek lahir, masyarakat Indonesia sudah terbiasa merokok. Aktivitas ini, warisan turun menurun, dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.  Lahirnya kretek memberikan warna lain dalam perkembangan rokok Nusantara. Dengan ramuan barunya yang berbeda dengan rokok-rokok sebelumnya, kretek kemudian menciptakan sejarah baru dalam dunia rokok di Nusantara.
<\/p>\n\n\n\n

Pola mengkonsumsi tembakau di dalam masyarakat Indonesia itu kemudian melahirkan beragam produk tembakau termasuk rokok. Menurut Hanusz  produk tembakau pribumi pertama kali muncul di pertengahan abad ke-17 dan disebut dengan bungkus<\/em>.  Bungkus <\/em>yang khas (the typical bungkus) <\/em>diisi dengan tembakau lokal yang pada tahap selanjutnya kemudian dikemas dengan kulit jagung (kelobot) dan daun pisang dan diikat dengan seutas benang.
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya pada abad ke -19, istilah bungkus <\/em>kemudian menunjukkan produk tembakau yang dibungkus di dalam klobot<\/em> atau kulit jagung. Pada perkembangan selanjutnya, istilah bungkus itu menjadi semakin tereduksi seiring dengan munculnya dua nama baru di dalam produk rokok. Nama baru tersebut adalah strootje <\/em>yang juga merupakan bahasa Belanda dan satunya lagi klobot <\/em> yang berasal dari bahasa Jawa.  Di tahun 1850-an baik strootje <\/em>maupun kelobot <\/em> yang menjadi produksi rumah tangga, tetapi di akhir abad itu, produk rokok yang dibungkus dengan kulit jagung (klobot) itu pertama kali mulai dijual di pasar.
<\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang sama, tepatnya pada tahun 1880,  masyarakat kudus kemudian mulai mencampurkan cengkeh dengan tembakau. Ini merupakan fenomena baru dalam dunia rokok. Hal yang demikian itu kemudian membuat klobot <\/em>yang berisi cengkeh dan tembakau itu dirduksi dalam skala besar. Ketika cengkeh pertama kali dicampur dengan tembakau dan dibungkus kulit jagung yang dilakukan oleh masyarakat Kudus tersebut, maka rokok itu disebut dengan rokok cengkeh. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kreatifitas masyarakat Kudus dalam mencampurkan cengkeh dan tembakau itu tergolong penemuan luar biasa. Rokok  yang bahanya cengkeh dengan tembakau itu kemudian segera dikenal dengan istilah kretek <\/em>yang merujuk pada bunyi kemretek, <\/em>saat rokok itu disulut akibat bunyi cengkeh. Ketika rokok kretek ini mulai muncul maka rokok ini hanya diperuntukkan rokok dalam memakai bahasa Belanda, strootje. <\/em>Sementara rokok klobot <\/em>saat itu dikenal dengan rokok yang tanpa cengkeh. Namun pada tahap perkembangannya hingga sekarang,  rokok klobot juga mengandung cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Sangat wajar kalau rokok kretek kemudian muncul sebagai ikon budaya Indonesia. Karena keberadaannya memang sudah mentradisi dan menyatu dengan kehidupan rakyat Indonesia. Rokok kretek sebagai bagian kultur masyarakat Indonesia ini bergerak di berbagai ranah, dari ranah sosial hingga ke ranah spiritual. Rokok kretek juga menjadi simbol budaya dan identitas Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek dalam konteks budaya Indonesia bukan hanya digunakan untuk menjalin keakraban sosial antara individu maupun kelompok, tetapi juga sebagai sarana untuk laku spiritual dan aktivitas religiusitas. Mulai dari sisi filosofis, historis dan sosial -antropologis bisa dibuktikan bahwa  rokok kretek memang beda dengan rokok-rokok konvensional, utamanya dengan rokok-rokok asing.
<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Banyaknya merek-merek kretek yang berbeda-beda, merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan kota lainnya di Indonesia. Hal ini menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung diera modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-cerminan-kedaulatan-ekonomi-dan-tradisi-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-18 09:30:24","post_modified_gmt":"2019-03-18 02:30:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5553","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5539,"post_author":"877","post_date":"2019-03-13 08:31:30","post_date_gmt":"2019-03-13 01:31:30","post_content":"\n

Baik capres-cawapres nomor urut 01 dan no urut 02, sepertinya keduanya belum pernah berstatement<\/em> dengan tegas untuk membela petani tembakau, petani cengkeh, buruh industri rokok, dan hak konsumen rokok. Setidaknya perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, perkebunan cengkeh tersebar di 30 provinsi, dan menyerap tenaga kerja dari hulu hingga hilir mencapai 6,1 juta jiwa. Selama ini, mereka hidup bergantung pada sektor pertembakauan, berupa kretek asli produk Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Karena kearifan lokal, lahan yang dimiliki petani tembakau, tidak ada tanaman yang lebih menguntungkan secara ekonomi, selain tanaman tembakau. Begitu juga yang terjadi pada petani cengkeh, mereka dapat menyekolahkan anak keperguruan tinggi, dapat membangun rumah, dapat membeli barang berharga dari hasil penjualan cengkeh. Petani tembakau dan cengkeh hidup sejahtera di saat pertaniannya berhasil. Bahkan tidak sedikit, mereka akan melakukan khajatnya setelah panen tiba. Ambil contoh, mau menikahkan atau mengkhitankan anaknya setelah panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fakta empiris tersebut, hampir dilakukan semua petani tembakau dan cengkeh. Mereka bukannya tidak menanam selain tembakau atau cengkeh, akan tetapi kedua tanaman tersebut lebih bisa menopang kebutuhan-kebutuhan yang memerlukan biaya besar. Petani tembakau, selama Desember sampai April menanam selain tembakau. Tidak sedikit petani cengkeh menanam selain cengkeh di lahan lain atau di sela-sela tanaman cengeh. Ini menunjukkan adanya tanaman tembakau dan cengkeh hasilnya lebih besar dibanding tanaman lain. Dan keduanya merupakan tanaman agung anugerah Tuhan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai buruh pabrik rokok, mereka ibu ibu rumah tangga sangat bahagia dapat membantu dan meringankan beban suami untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Mayoritas pekerja pabrik rokok kretek di Indonesia adalah wanita atau ibu rumah tangga, dan tidak ada pekerjaan lain yang bisa ia kerjakan yang bisa menghasilkan uang. Konsumen rokok dan industri rokok, adalah warga Negara yang taat akan pajak. Sebelum dinikmati, tiap batang rokok kretek yang telah dibeli sudah otomatis membayar pajak. Begitu juga, sebelum terjual, pabrik terbebani pajak dobel yang harus dibayar di muka, yaitu pungutan cukai, pungutan restribusi daerah dan talangan pajak konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Apakah keadaan ini semua dinafikan oleh Negara? Berapa besar keuntungan Negara dari hasil pajak rokok? Berapa besar manfaat uang cukai dalam menyehatkan masyarakat melalui pembayaran defisit BPJS? Kenapa para kandidat presiden tidak berani terang-terang membela sektor pertembakauan yang jelas-jelas bermanfaat bagi masyarakat kecil, bagi seluruh masyarakat bangsa dan membantu penerimaan uang kas Negara. <\/p>\n\n\n\n

Capres-Cawapres tahun 2019 ini, seakan-akan tidak memperdulikan nasib keberadaan sektor pertembakauan. Yang ada justru bertindak ikut-ikutan seperti halnya antirokok, itu pun yang berbicara adalah perwakilan dan bukan capresnya sendiri. <\/strong>Dilansir dari nasional.kompas.com<\/em>, bahwa salah satu anggota tim kesehatan Badan Pemenangan Nasional (BPN), bernama Hermawan Saputra, mengungkapkan, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno akan memberikan solusi agar pengguna rokok di Indonesia bisa menurun. Menurut dia, yang perlu dibereskan adalah hulu masalah industri rokok, yaitu mendorong petani tembakau untuk beralih profesi di bidang lain.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya <\/a><\/h2>\n\n\n\n

\"Kita naikkan cukai pun, tapi selama budaya dan perilaku masyarakat merokok tidak berubah serta petani yang menggantungkan diri di tembakau, ya tidak akan selesai. Meskipun tidak mudah, Hermawan meyakini Prabowo-Sandiaga memiliki kemauan politik yang kuat agar pengguna rokok bisa menurun. Dia mengatakan, tim kesehatan BPN sudah membuat rencana dan merancang program kesehatan yang bisa dipaparkan Sandiaga saat debat ketiga, \"ujar Hermawan saat ditemui dalam sebuah diskusi bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" menuju debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga dilansir dari tribunnews.com<\/em> bahwa Hasbullah Thabrany  orang yang mengatasnamakan Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, mengatakan;  jika terpilih dalam Pilpres 2019<\/a>, Jokowi-Ma'ruf akan menaikkan cukai rokok untuk menurunkan angka pengguna rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHarga cukai rokok di Indonesia merupakan yang paling terendah di dunia. Ia mencontohkan, cukai rokok di Singapura mencapai 90 persen dan Thailand 84 persen. Kita targetkan di pemerintahan ke depan jika Jokowi dan Ma'ruf terpilih, cukai rokok kita naikkan di atas 57 persen,\" ujar Hasbullah saat diskusi polemik bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" jelang debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).<\/p>\n\n\n\n

Baik Hermawan Saputra  atau Hasbullah Thabrany, kedua-duanya apakah yang mereka katakan mewakili suara capres? Sepenuhnya belum diketahui lebih jelas. Kalau dicermati, keduanya adalah orang-orang antirokok yang sengaja berkata demikian. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi jika suara mereka mewakili suara capres sepenuhnya, maka ke depan bisa dipastikan menjadi bumerang bagi para capres. Akan terjadi banyak orang yang bergerak dalam bidang pertembakauan apatis terhadap pilpres pemilu 2019. Mereka merasa terciderai, tidak ada perlindungan bagi mereka. <\/p>\n\n\n\n

Fakta dilapangan demikian, tulisan ini hanya mengingatkan pada capres dan cawapres bahwa ada hak petani tembakau, petani cengkeh, buruh rokok, dan industri rokok yang harus dilindungi. Ingat, mereka semua adalah warga Negara yang baik, mandiri dalam ekonomi dan berdaulat. Mereka adalah pembayar pajak yang taat, dan telah teruji hasil uang dari mereka telah menyehatkan masyarakat Indonesia melalui pembayaran defisit BPJS.  
<\/p>\n","post_title":"Menantang Capres-Cawapres Terang-terangan Membela Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menantang-capres-cawapres-terang-terangan-membela-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-13 08:31:38","post_modified_gmt":"2019-03-13 01:31:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5539","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai produk budaya adiluhung bangsa tak akan pernah memunculkan percikan konflik sosial. Tetapi kretek yang berkembang sebagai komoditas industri yang berorientasi kapital, tentu menyimpan potensi gesekan sosial politik. Kretek bukanlah penyulut konflik, hanya kepentingan ekonomi dan persaingan dagang yang menimbulkan kompetisi yang keras dan tajam. Sebagai produk budaya yang adiluhung, kretek justru menjadi medium pemersatu, yang mendamaikan kemajemukan budaya Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya<\/a> <\/h3>\n\n\n\n

Rokok di belahan dunia sangat berbeda dengan rokok di Indonesia. Istilah rokok kretek, adalah ramuan antara tembakau dan cengkeh. Inilah yang membedakan rokok kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang  paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income<\/em> terbesar kepada negara.
<\/p>\n\n\n\n

Benar apa yang telah dikatakan Prameodya Ananta Toer bahwa kretek merupakan bagian penting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah mengeruk pajak yang signifikan dari industri kretek dan penjualnya. Tidak diragukan lagi bahwa rokok kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi.  Jadi di snilah kita melihat bahwa kreatifitas tangan masyarakat Indonesia bisa menghasilkan produk yang berdampak besar bagi perubahan masyarakat Indonesia. Kretek sebagai hasil kreatifitas masyarakat Indonesia bukan hanya sekedar produk rokok, melainkan juga mencerminkan tradisi dan budaya Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, dari sisi historis, lahirnya rokok kretek justru dilatarbelakangi oleh aktivitas pengobatan. Kretek diciptakan dalam sejarahnya, untuk menjadi obat asma atau sesak nafas. Penemunya adalah Haji jamhari asal Kudus. Disini terlihat jelas, bahwa asal muasal kretek sebenarnya berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Kalau rokok non-kretek umumnya diciptakan untuk sekedar motif ekonomi, sedangkan rokok kretek diciptakan \u00a0justru dalam rangka mengatasi masalah kesehatan. Melalui perjalanan sejarahnya yang panjang dan kompleks, rokok kretek yang ditemukan oleh Haji Jamhari itu kini berkembang pesat dengan berbagai nama Industri dan merek. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas <\/a>
<\/h3>\n\n\n\n

Tentu saja kalau ditelisik secara lebih jauh sebelum kretek lahir, masyarakat Indonesia sudah terbiasa merokok. Aktivitas ini, warisan turun menurun, dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.  Lahirnya kretek memberikan warna lain dalam perkembangan rokok Nusantara. Dengan ramuan barunya yang berbeda dengan rokok-rokok sebelumnya, kretek kemudian menciptakan sejarah baru dalam dunia rokok di Nusantara.
<\/p>\n\n\n\n

Pola mengkonsumsi tembakau di dalam masyarakat Indonesia itu kemudian melahirkan beragam produk tembakau termasuk rokok. Menurut Hanusz  produk tembakau pribumi pertama kali muncul di pertengahan abad ke-17 dan disebut dengan bungkus<\/em>.  Bungkus <\/em>yang khas (the typical bungkus) <\/em>diisi dengan tembakau lokal yang pada tahap selanjutnya kemudian dikemas dengan kulit jagung (kelobot) dan daun pisang dan diikat dengan seutas benang.
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya pada abad ke -19, istilah bungkus <\/em>kemudian menunjukkan produk tembakau yang dibungkus di dalam klobot<\/em> atau kulit jagung. Pada perkembangan selanjutnya, istilah bungkus itu menjadi semakin tereduksi seiring dengan munculnya dua nama baru di dalam produk rokok. Nama baru tersebut adalah strootje <\/em>yang juga merupakan bahasa Belanda dan satunya lagi klobot <\/em> yang berasal dari bahasa Jawa.  Di tahun 1850-an baik strootje <\/em>maupun kelobot <\/em> yang menjadi produksi rumah tangga, tetapi di akhir abad itu, produk rokok yang dibungkus dengan kulit jagung (klobot) itu pertama kali mulai dijual di pasar.
<\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang sama, tepatnya pada tahun 1880,  masyarakat kudus kemudian mulai mencampurkan cengkeh dengan tembakau. Ini merupakan fenomena baru dalam dunia rokok. Hal yang demikian itu kemudian membuat klobot <\/em>yang berisi cengkeh dan tembakau itu dirduksi dalam skala besar. Ketika cengkeh pertama kali dicampur dengan tembakau dan dibungkus kulit jagung yang dilakukan oleh masyarakat Kudus tersebut, maka rokok itu disebut dengan rokok cengkeh. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kreatifitas masyarakat Kudus dalam mencampurkan cengkeh dan tembakau itu tergolong penemuan luar biasa. Rokok  yang bahanya cengkeh dengan tembakau itu kemudian segera dikenal dengan istilah kretek <\/em>yang merujuk pada bunyi kemretek, <\/em>saat rokok itu disulut akibat bunyi cengkeh. Ketika rokok kretek ini mulai muncul maka rokok ini hanya diperuntukkan rokok dalam memakai bahasa Belanda, strootje. <\/em>Sementara rokok klobot <\/em>saat itu dikenal dengan rokok yang tanpa cengkeh. Namun pada tahap perkembangannya hingga sekarang,  rokok klobot juga mengandung cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Sangat wajar kalau rokok kretek kemudian muncul sebagai ikon budaya Indonesia. Karena keberadaannya memang sudah mentradisi dan menyatu dengan kehidupan rakyat Indonesia. Rokok kretek sebagai bagian kultur masyarakat Indonesia ini bergerak di berbagai ranah, dari ranah sosial hingga ke ranah spiritual. Rokok kretek juga menjadi simbol budaya dan identitas Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek dalam konteks budaya Indonesia bukan hanya digunakan untuk menjalin keakraban sosial antara individu maupun kelompok, tetapi juga sebagai sarana untuk laku spiritual dan aktivitas religiusitas. Mulai dari sisi filosofis, historis dan sosial -antropologis bisa dibuktikan bahwa  rokok kretek memang beda dengan rokok-rokok konvensional, utamanya dengan rokok-rokok asing.
<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Banyaknya merek-merek kretek yang berbeda-beda, merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan kota lainnya di Indonesia. Hal ini menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung diera modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-cerminan-kedaulatan-ekonomi-dan-tradisi-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-18 09:30:24","post_modified_gmt":"2019-03-18 02:30:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5553","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5539,"post_author":"877","post_date":"2019-03-13 08:31:30","post_date_gmt":"2019-03-13 01:31:30","post_content":"\n

Baik capres-cawapres nomor urut 01 dan no urut 02, sepertinya keduanya belum pernah berstatement<\/em> dengan tegas untuk membela petani tembakau, petani cengkeh, buruh industri rokok, dan hak konsumen rokok. Setidaknya perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, perkebunan cengkeh tersebar di 30 provinsi, dan menyerap tenaga kerja dari hulu hingga hilir mencapai 6,1 juta jiwa. Selama ini, mereka hidup bergantung pada sektor pertembakauan, berupa kretek asli produk Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Karena kearifan lokal, lahan yang dimiliki petani tembakau, tidak ada tanaman yang lebih menguntungkan secara ekonomi, selain tanaman tembakau. Begitu juga yang terjadi pada petani cengkeh, mereka dapat menyekolahkan anak keperguruan tinggi, dapat membangun rumah, dapat membeli barang berharga dari hasil penjualan cengkeh. Petani tembakau dan cengkeh hidup sejahtera di saat pertaniannya berhasil. Bahkan tidak sedikit, mereka akan melakukan khajatnya setelah panen tiba. Ambil contoh, mau menikahkan atau mengkhitankan anaknya setelah panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fakta empiris tersebut, hampir dilakukan semua petani tembakau dan cengkeh. Mereka bukannya tidak menanam selain tembakau atau cengkeh, akan tetapi kedua tanaman tersebut lebih bisa menopang kebutuhan-kebutuhan yang memerlukan biaya besar. Petani tembakau, selama Desember sampai April menanam selain tembakau. Tidak sedikit petani cengkeh menanam selain cengkeh di lahan lain atau di sela-sela tanaman cengeh. Ini menunjukkan adanya tanaman tembakau dan cengkeh hasilnya lebih besar dibanding tanaman lain. Dan keduanya merupakan tanaman agung anugerah Tuhan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai buruh pabrik rokok, mereka ibu ibu rumah tangga sangat bahagia dapat membantu dan meringankan beban suami untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Mayoritas pekerja pabrik rokok kretek di Indonesia adalah wanita atau ibu rumah tangga, dan tidak ada pekerjaan lain yang bisa ia kerjakan yang bisa menghasilkan uang. Konsumen rokok dan industri rokok, adalah warga Negara yang taat akan pajak. Sebelum dinikmati, tiap batang rokok kretek yang telah dibeli sudah otomatis membayar pajak. Begitu juga, sebelum terjual, pabrik terbebani pajak dobel yang harus dibayar di muka, yaitu pungutan cukai, pungutan restribusi daerah dan talangan pajak konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Apakah keadaan ini semua dinafikan oleh Negara? Berapa besar keuntungan Negara dari hasil pajak rokok? Berapa besar manfaat uang cukai dalam menyehatkan masyarakat melalui pembayaran defisit BPJS? Kenapa para kandidat presiden tidak berani terang-terang membela sektor pertembakauan yang jelas-jelas bermanfaat bagi masyarakat kecil, bagi seluruh masyarakat bangsa dan membantu penerimaan uang kas Negara. <\/p>\n\n\n\n

Capres-Cawapres tahun 2019 ini, seakan-akan tidak memperdulikan nasib keberadaan sektor pertembakauan. Yang ada justru bertindak ikut-ikutan seperti halnya antirokok, itu pun yang berbicara adalah perwakilan dan bukan capresnya sendiri. <\/strong>Dilansir dari nasional.kompas.com<\/em>, bahwa salah satu anggota tim kesehatan Badan Pemenangan Nasional (BPN), bernama Hermawan Saputra, mengungkapkan, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno akan memberikan solusi agar pengguna rokok di Indonesia bisa menurun. Menurut dia, yang perlu dibereskan adalah hulu masalah industri rokok, yaitu mendorong petani tembakau untuk beralih profesi di bidang lain.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya <\/a><\/h2>\n\n\n\n

\"Kita naikkan cukai pun, tapi selama budaya dan perilaku masyarakat merokok tidak berubah serta petani yang menggantungkan diri di tembakau, ya tidak akan selesai. Meskipun tidak mudah, Hermawan meyakini Prabowo-Sandiaga memiliki kemauan politik yang kuat agar pengguna rokok bisa menurun. Dia mengatakan, tim kesehatan BPN sudah membuat rencana dan merancang program kesehatan yang bisa dipaparkan Sandiaga saat debat ketiga, \"ujar Hermawan saat ditemui dalam sebuah diskusi bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" menuju debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga dilansir dari tribunnews.com<\/em> bahwa Hasbullah Thabrany  orang yang mengatasnamakan Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, mengatakan;  jika terpilih dalam Pilpres 2019<\/a>, Jokowi-Ma'ruf akan menaikkan cukai rokok untuk menurunkan angka pengguna rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHarga cukai rokok di Indonesia merupakan yang paling terendah di dunia. Ia mencontohkan, cukai rokok di Singapura mencapai 90 persen dan Thailand 84 persen. Kita targetkan di pemerintahan ke depan jika Jokowi dan Ma'ruf terpilih, cukai rokok kita naikkan di atas 57 persen,\" ujar Hasbullah saat diskusi polemik bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" jelang debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).<\/p>\n\n\n\n

Baik Hermawan Saputra  atau Hasbullah Thabrany, kedua-duanya apakah yang mereka katakan mewakili suara capres? Sepenuhnya belum diketahui lebih jelas. Kalau dicermati, keduanya adalah orang-orang antirokok yang sengaja berkata demikian. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi jika suara mereka mewakili suara capres sepenuhnya, maka ke depan bisa dipastikan menjadi bumerang bagi para capres. Akan terjadi banyak orang yang bergerak dalam bidang pertembakauan apatis terhadap pilpres pemilu 2019. Mereka merasa terciderai, tidak ada perlindungan bagi mereka. <\/p>\n\n\n\n

Fakta dilapangan demikian, tulisan ini hanya mengingatkan pada capres dan cawapres bahwa ada hak petani tembakau, petani cengkeh, buruh rokok, dan industri rokok yang harus dilindungi. Ingat, mereka semua adalah warga Negara yang baik, mandiri dalam ekonomi dan berdaulat. Mereka adalah pembayar pajak yang taat, dan telah teruji hasil uang dari mereka telah menyehatkan masyarakat Indonesia melalui pembayaran defisit BPJS.  
<\/p>\n","post_title":"Menantang Capres-Cawapres Terang-terangan Membela Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menantang-capres-cawapres-terang-terangan-membela-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-13 08:31:38","post_modified_gmt":"2019-03-13 01:31:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5539","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5553,"post_author":"877","post_date":"2019-03-18 09:27:57","post_date_gmt":"2019-03-18 02:27:57","post_content":"\n

Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai produk budaya adiluhung bangsa tak akan pernah memunculkan percikan konflik sosial. Tetapi kretek yang berkembang sebagai komoditas industri yang berorientasi kapital, tentu menyimpan potensi gesekan sosial politik. Kretek bukanlah penyulut konflik, hanya kepentingan ekonomi dan persaingan dagang yang menimbulkan kompetisi yang keras dan tajam. Sebagai produk budaya yang adiluhung, kretek justru menjadi medium pemersatu, yang mendamaikan kemajemukan budaya Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya<\/a> <\/h3>\n\n\n\n

Rokok di belahan dunia sangat berbeda dengan rokok di Indonesia. Istilah rokok kretek, adalah ramuan antara tembakau dan cengkeh. Inilah yang membedakan rokok kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang  paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income<\/em> terbesar kepada negara.
<\/p>\n\n\n\n

Benar apa yang telah dikatakan Prameodya Ananta Toer bahwa kretek merupakan bagian penting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah mengeruk pajak yang signifikan dari industri kretek dan penjualnya. Tidak diragukan lagi bahwa rokok kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi.  Jadi di snilah kita melihat bahwa kreatifitas tangan masyarakat Indonesia bisa menghasilkan produk yang berdampak besar bagi perubahan masyarakat Indonesia. Kretek sebagai hasil kreatifitas masyarakat Indonesia bukan hanya sekedar produk rokok, melainkan juga mencerminkan tradisi dan budaya Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, dari sisi historis, lahirnya rokok kretek justru dilatarbelakangi oleh aktivitas pengobatan. Kretek diciptakan dalam sejarahnya, untuk menjadi obat asma atau sesak nafas. Penemunya adalah Haji jamhari asal Kudus. Disini terlihat jelas, bahwa asal muasal kretek sebenarnya berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Kalau rokok non-kretek umumnya diciptakan untuk sekedar motif ekonomi, sedangkan rokok kretek diciptakan \u00a0justru dalam rangka mengatasi masalah kesehatan. Melalui perjalanan sejarahnya yang panjang dan kompleks, rokok kretek yang ditemukan oleh Haji Jamhari itu kini berkembang pesat dengan berbagai nama Industri dan merek. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas <\/a>
<\/h3>\n\n\n\n

Tentu saja kalau ditelisik secara lebih jauh sebelum kretek lahir, masyarakat Indonesia sudah terbiasa merokok. Aktivitas ini, warisan turun menurun, dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.  Lahirnya kretek memberikan warna lain dalam perkembangan rokok Nusantara. Dengan ramuan barunya yang berbeda dengan rokok-rokok sebelumnya, kretek kemudian menciptakan sejarah baru dalam dunia rokok di Nusantara.
<\/p>\n\n\n\n

Pola mengkonsumsi tembakau di dalam masyarakat Indonesia itu kemudian melahirkan beragam produk tembakau termasuk rokok. Menurut Hanusz  produk tembakau pribumi pertama kali muncul di pertengahan abad ke-17 dan disebut dengan bungkus<\/em>.  Bungkus <\/em>yang khas (the typical bungkus) <\/em>diisi dengan tembakau lokal yang pada tahap selanjutnya kemudian dikemas dengan kulit jagung (kelobot) dan daun pisang dan diikat dengan seutas benang.
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya pada abad ke -19, istilah bungkus <\/em>kemudian menunjukkan produk tembakau yang dibungkus di dalam klobot<\/em> atau kulit jagung. Pada perkembangan selanjutnya, istilah bungkus itu menjadi semakin tereduksi seiring dengan munculnya dua nama baru di dalam produk rokok. Nama baru tersebut adalah strootje <\/em>yang juga merupakan bahasa Belanda dan satunya lagi klobot <\/em> yang berasal dari bahasa Jawa.  Di tahun 1850-an baik strootje <\/em>maupun kelobot <\/em> yang menjadi produksi rumah tangga, tetapi di akhir abad itu, produk rokok yang dibungkus dengan kulit jagung (klobot) itu pertama kali mulai dijual di pasar.
<\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang sama, tepatnya pada tahun 1880,  masyarakat kudus kemudian mulai mencampurkan cengkeh dengan tembakau. Ini merupakan fenomena baru dalam dunia rokok. Hal yang demikian itu kemudian membuat klobot <\/em>yang berisi cengkeh dan tembakau itu dirduksi dalam skala besar. Ketika cengkeh pertama kali dicampur dengan tembakau dan dibungkus kulit jagung yang dilakukan oleh masyarakat Kudus tersebut, maka rokok itu disebut dengan rokok cengkeh. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kreatifitas masyarakat Kudus dalam mencampurkan cengkeh dan tembakau itu tergolong penemuan luar biasa. Rokok  yang bahanya cengkeh dengan tembakau itu kemudian segera dikenal dengan istilah kretek <\/em>yang merujuk pada bunyi kemretek, <\/em>saat rokok itu disulut akibat bunyi cengkeh. Ketika rokok kretek ini mulai muncul maka rokok ini hanya diperuntukkan rokok dalam memakai bahasa Belanda, strootje. <\/em>Sementara rokok klobot <\/em>saat itu dikenal dengan rokok yang tanpa cengkeh. Namun pada tahap perkembangannya hingga sekarang,  rokok klobot juga mengandung cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Sangat wajar kalau rokok kretek kemudian muncul sebagai ikon budaya Indonesia. Karena keberadaannya memang sudah mentradisi dan menyatu dengan kehidupan rakyat Indonesia. Rokok kretek sebagai bagian kultur masyarakat Indonesia ini bergerak di berbagai ranah, dari ranah sosial hingga ke ranah spiritual. Rokok kretek juga menjadi simbol budaya dan identitas Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek dalam konteks budaya Indonesia bukan hanya digunakan untuk menjalin keakraban sosial antara individu maupun kelompok, tetapi juga sebagai sarana untuk laku spiritual dan aktivitas religiusitas. Mulai dari sisi filosofis, historis dan sosial -antropologis bisa dibuktikan bahwa  rokok kretek memang beda dengan rokok-rokok konvensional, utamanya dengan rokok-rokok asing.
<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Banyaknya merek-merek kretek yang berbeda-beda, merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan kota lainnya di Indonesia. Hal ini menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung diera modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-cerminan-kedaulatan-ekonomi-dan-tradisi-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-18 09:30:24","post_modified_gmt":"2019-03-18 02:30:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5553","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5539,"post_author":"877","post_date":"2019-03-13 08:31:30","post_date_gmt":"2019-03-13 01:31:30","post_content":"\n

Baik capres-cawapres nomor urut 01 dan no urut 02, sepertinya keduanya belum pernah berstatement<\/em> dengan tegas untuk membela petani tembakau, petani cengkeh, buruh industri rokok, dan hak konsumen rokok. Setidaknya perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, perkebunan cengkeh tersebar di 30 provinsi, dan menyerap tenaga kerja dari hulu hingga hilir mencapai 6,1 juta jiwa. Selama ini, mereka hidup bergantung pada sektor pertembakauan, berupa kretek asli produk Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Karena kearifan lokal, lahan yang dimiliki petani tembakau, tidak ada tanaman yang lebih menguntungkan secara ekonomi, selain tanaman tembakau. Begitu juga yang terjadi pada petani cengkeh, mereka dapat menyekolahkan anak keperguruan tinggi, dapat membangun rumah, dapat membeli barang berharga dari hasil penjualan cengkeh. Petani tembakau dan cengkeh hidup sejahtera di saat pertaniannya berhasil. Bahkan tidak sedikit, mereka akan melakukan khajatnya setelah panen tiba. Ambil contoh, mau menikahkan atau mengkhitankan anaknya setelah panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fakta empiris tersebut, hampir dilakukan semua petani tembakau dan cengkeh. Mereka bukannya tidak menanam selain tembakau atau cengkeh, akan tetapi kedua tanaman tersebut lebih bisa menopang kebutuhan-kebutuhan yang memerlukan biaya besar. Petani tembakau, selama Desember sampai April menanam selain tembakau. Tidak sedikit petani cengkeh menanam selain cengkeh di lahan lain atau di sela-sela tanaman cengeh. Ini menunjukkan adanya tanaman tembakau dan cengkeh hasilnya lebih besar dibanding tanaman lain. Dan keduanya merupakan tanaman agung anugerah Tuhan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai buruh pabrik rokok, mereka ibu ibu rumah tangga sangat bahagia dapat membantu dan meringankan beban suami untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Mayoritas pekerja pabrik rokok kretek di Indonesia adalah wanita atau ibu rumah tangga, dan tidak ada pekerjaan lain yang bisa ia kerjakan yang bisa menghasilkan uang. Konsumen rokok dan industri rokok, adalah warga Negara yang taat akan pajak. Sebelum dinikmati, tiap batang rokok kretek yang telah dibeli sudah otomatis membayar pajak. Begitu juga, sebelum terjual, pabrik terbebani pajak dobel yang harus dibayar di muka, yaitu pungutan cukai, pungutan restribusi daerah dan talangan pajak konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Apakah keadaan ini semua dinafikan oleh Negara? Berapa besar keuntungan Negara dari hasil pajak rokok? Berapa besar manfaat uang cukai dalam menyehatkan masyarakat melalui pembayaran defisit BPJS? Kenapa para kandidat presiden tidak berani terang-terang membela sektor pertembakauan yang jelas-jelas bermanfaat bagi masyarakat kecil, bagi seluruh masyarakat bangsa dan membantu penerimaan uang kas Negara. <\/p>\n\n\n\n

Capres-Cawapres tahun 2019 ini, seakan-akan tidak memperdulikan nasib keberadaan sektor pertembakauan. Yang ada justru bertindak ikut-ikutan seperti halnya antirokok, itu pun yang berbicara adalah perwakilan dan bukan capresnya sendiri. <\/strong>Dilansir dari nasional.kompas.com<\/em>, bahwa salah satu anggota tim kesehatan Badan Pemenangan Nasional (BPN), bernama Hermawan Saputra, mengungkapkan, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno akan memberikan solusi agar pengguna rokok di Indonesia bisa menurun. Menurut dia, yang perlu dibereskan adalah hulu masalah industri rokok, yaitu mendorong petani tembakau untuk beralih profesi di bidang lain.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya <\/a><\/h2>\n\n\n\n

\"Kita naikkan cukai pun, tapi selama budaya dan perilaku masyarakat merokok tidak berubah serta petani yang menggantungkan diri di tembakau, ya tidak akan selesai. Meskipun tidak mudah, Hermawan meyakini Prabowo-Sandiaga memiliki kemauan politik yang kuat agar pengguna rokok bisa menurun. Dia mengatakan, tim kesehatan BPN sudah membuat rencana dan merancang program kesehatan yang bisa dipaparkan Sandiaga saat debat ketiga, \"ujar Hermawan saat ditemui dalam sebuah diskusi bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" menuju debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga dilansir dari tribunnews.com<\/em> bahwa Hasbullah Thabrany  orang yang mengatasnamakan Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, mengatakan;  jika terpilih dalam Pilpres 2019<\/a>, Jokowi-Ma'ruf akan menaikkan cukai rokok untuk menurunkan angka pengguna rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHarga cukai rokok di Indonesia merupakan yang paling terendah di dunia. Ia mencontohkan, cukai rokok di Singapura mencapai 90 persen dan Thailand 84 persen. Kita targetkan di pemerintahan ke depan jika Jokowi dan Ma'ruf terpilih, cukai rokok kita naikkan di atas 57 persen,\" ujar Hasbullah saat diskusi polemik bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" jelang debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).<\/p>\n\n\n\n

Baik Hermawan Saputra  atau Hasbullah Thabrany, kedua-duanya apakah yang mereka katakan mewakili suara capres? Sepenuhnya belum diketahui lebih jelas. Kalau dicermati, keduanya adalah orang-orang antirokok yang sengaja berkata demikian. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi jika suara mereka mewakili suara capres sepenuhnya, maka ke depan bisa dipastikan menjadi bumerang bagi para capres. Akan terjadi banyak orang yang bergerak dalam bidang pertembakauan apatis terhadap pilpres pemilu 2019. Mereka merasa terciderai, tidak ada perlindungan bagi mereka. <\/p>\n\n\n\n

Fakta dilapangan demikian, tulisan ini hanya mengingatkan pada capres dan cawapres bahwa ada hak petani tembakau, petani cengkeh, buruh rokok, dan industri rokok yang harus dilindungi. Ingat, mereka semua adalah warga Negara yang baik, mandiri dalam ekonomi dan berdaulat. Mereka adalah pembayar pajak yang taat, dan telah teruji hasil uang dari mereka telah menyehatkan masyarakat Indonesia melalui pembayaran defisit BPJS.  
<\/p>\n","post_title":"Menantang Capres-Cawapres Terang-terangan Membela Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menantang-capres-cawapres-terang-terangan-membela-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-13 08:31:38","post_modified_gmt":"2019-03-13 01:31:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5539","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5553,"post_author":"877","post_date":"2019-03-18 09:27:57","post_date_gmt":"2019-03-18 02:27:57","post_content":"\n

Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai produk budaya adiluhung bangsa tak akan pernah memunculkan percikan konflik sosial. Tetapi kretek yang berkembang sebagai komoditas industri yang berorientasi kapital, tentu menyimpan potensi gesekan sosial politik. Kretek bukanlah penyulut konflik, hanya kepentingan ekonomi dan persaingan dagang yang menimbulkan kompetisi yang keras dan tajam. Sebagai produk budaya yang adiluhung, kretek justru menjadi medium pemersatu, yang mendamaikan kemajemukan budaya Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya<\/a> <\/h3>\n\n\n\n

Rokok di belahan dunia sangat berbeda dengan rokok di Indonesia. Istilah rokok kretek, adalah ramuan antara tembakau dan cengkeh. Inilah yang membedakan rokok kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang  paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income<\/em> terbesar kepada negara.
<\/p>\n\n\n\n

Benar apa yang telah dikatakan Prameodya Ananta Toer bahwa kretek merupakan bagian penting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah mengeruk pajak yang signifikan dari industri kretek dan penjualnya. Tidak diragukan lagi bahwa rokok kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi.  Jadi di snilah kita melihat bahwa kreatifitas tangan masyarakat Indonesia bisa menghasilkan produk yang berdampak besar bagi perubahan masyarakat Indonesia. Kretek sebagai hasil kreatifitas masyarakat Indonesia bukan hanya sekedar produk rokok, melainkan juga mencerminkan tradisi dan budaya Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, dari sisi historis, lahirnya rokok kretek justru dilatarbelakangi oleh aktivitas pengobatan. Kretek diciptakan dalam sejarahnya, untuk menjadi obat asma atau sesak nafas. Penemunya adalah Haji jamhari asal Kudus. Disini terlihat jelas, bahwa asal muasal kretek sebenarnya berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Kalau rokok non-kretek umumnya diciptakan untuk sekedar motif ekonomi, sedangkan rokok kretek diciptakan \u00a0justru dalam rangka mengatasi masalah kesehatan. Melalui perjalanan sejarahnya yang panjang dan kompleks, rokok kretek yang ditemukan oleh Haji Jamhari itu kini berkembang pesat dengan berbagai nama Industri dan merek. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas <\/a>
<\/h3>\n\n\n\n

Tentu saja kalau ditelisik secara lebih jauh sebelum kretek lahir, masyarakat Indonesia sudah terbiasa merokok. Aktivitas ini, warisan turun menurun, dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.  Lahirnya kretek memberikan warna lain dalam perkembangan rokok Nusantara. Dengan ramuan barunya yang berbeda dengan rokok-rokok sebelumnya, kretek kemudian menciptakan sejarah baru dalam dunia rokok di Nusantara.
<\/p>\n\n\n\n

Pola mengkonsumsi tembakau di dalam masyarakat Indonesia itu kemudian melahirkan beragam produk tembakau termasuk rokok. Menurut Hanusz  produk tembakau pribumi pertama kali muncul di pertengahan abad ke-17 dan disebut dengan bungkus<\/em>.  Bungkus <\/em>yang khas (the typical bungkus) <\/em>diisi dengan tembakau lokal yang pada tahap selanjutnya kemudian dikemas dengan kulit jagung (kelobot) dan daun pisang dan diikat dengan seutas benang.
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya pada abad ke -19, istilah bungkus <\/em>kemudian menunjukkan produk tembakau yang dibungkus di dalam klobot<\/em> atau kulit jagung. Pada perkembangan selanjutnya, istilah bungkus itu menjadi semakin tereduksi seiring dengan munculnya dua nama baru di dalam produk rokok. Nama baru tersebut adalah strootje <\/em>yang juga merupakan bahasa Belanda dan satunya lagi klobot <\/em> yang berasal dari bahasa Jawa.  Di tahun 1850-an baik strootje <\/em>maupun kelobot <\/em> yang menjadi produksi rumah tangga, tetapi di akhir abad itu, produk rokok yang dibungkus dengan kulit jagung (klobot) itu pertama kali mulai dijual di pasar.
<\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang sama, tepatnya pada tahun 1880,  masyarakat kudus kemudian mulai mencampurkan cengkeh dengan tembakau. Ini merupakan fenomena baru dalam dunia rokok. Hal yang demikian itu kemudian membuat klobot <\/em>yang berisi cengkeh dan tembakau itu dirduksi dalam skala besar. Ketika cengkeh pertama kali dicampur dengan tembakau dan dibungkus kulit jagung yang dilakukan oleh masyarakat Kudus tersebut, maka rokok itu disebut dengan rokok cengkeh. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kreatifitas masyarakat Kudus dalam mencampurkan cengkeh dan tembakau itu tergolong penemuan luar biasa. Rokok  yang bahanya cengkeh dengan tembakau itu kemudian segera dikenal dengan istilah kretek <\/em>yang merujuk pada bunyi kemretek, <\/em>saat rokok itu disulut akibat bunyi cengkeh. Ketika rokok kretek ini mulai muncul maka rokok ini hanya diperuntukkan rokok dalam memakai bahasa Belanda, strootje. <\/em>Sementara rokok klobot <\/em>saat itu dikenal dengan rokok yang tanpa cengkeh. Namun pada tahap perkembangannya hingga sekarang,  rokok klobot juga mengandung cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Sangat wajar kalau rokok kretek kemudian muncul sebagai ikon budaya Indonesia. Karena keberadaannya memang sudah mentradisi dan menyatu dengan kehidupan rakyat Indonesia. Rokok kretek sebagai bagian kultur masyarakat Indonesia ini bergerak di berbagai ranah, dari ranah sosial hingga ke ranah spiritual. Rokok kretek juga menjadi simbol budaya dan identitas Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek dalam konteks budaya Indonesia bukan hanya digunakan untuk menjalin keakraban sosial antara individu maupun kelompok, tetapi juga sebagai sarana untuk laku spiritual dan aktivitas religiusitas. Mulai dari sisi filosofis, historis dan sosial -antropologis bisa dibuktikan bahwa  rokok kretek memang beda dengan rokok-rokok konvensional, utamanya dengan rokok-rokok asing.
<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Banyaknya merek-merek kretek yang berbeda-beda, merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan kota lainnya di Indonesia. Hal ini menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung diera modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-cerminan-kedaulatan-ekonomi-dan-tradisi-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-18 09:30:24","post_modified_gmt":"2019-03-18 02:30:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5553","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5539,"post_author":"877","post_date":"2019-03-13 08:31:30","post_date_gmt":"2019-03-13 01:31:30","post_content":"\n

Baik capres-cawapres nomor urut 01 dan no urut 02, sepertinya keduanya belum pernah berstatement<\/em> dengan tegas untuk membela petani tembakau, petani cengkeh, buruh industri rokok, dan hak konsumen rokok. Setidaknya perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, perkebunan cengkeh tersebar di 30 provinsi, dan menyerap tenaga kerja dari hulu hingga hilir mencapai 6,1 juta jiwa. Selama ini, mereka hidup bergantung pada sektor pertembakauan, berupa kretek asli produk Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Karena kearifan lokal, lahan yang dimiliki petani tembakau, tidak ada tanaman yang lebih menguntungkan secara ekonomi, selain tanaman tembakau. Begitu juga yang terjadi pada petani cengkeh, mereka dapat menyekolahkan anak keperguruan tinggi, dapat membangun rumah, dapat membeli barang berharga dari hasil penjualan cengkeh. Petani tembakau dan cengkeh hidup sejahtera di saat pertaniannya berhasil. Bahkan tidak sedikit, mereka akan melakukan khajatnya setelah panen tiba. Ambil contoh, mau menikahkan atau mengkhitankan anaknya setelah panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fakta empiris tersebut, hampir dilakukan semua petani tembakau dan cengkeh. Mereka bukannya tidak menanam selain tembakau atau cengkeh, akan tetapi kedua tanaman tersebut lebih bisa menopang kebutuhan-kebutuhan yang memerlukan biaya besar. Petani tembakau, selama Desember sampai April menanam selain tembakau. Tidak sedikit petani cengkeh menanam selain cengkeh di lahan lain atau di sela-sela tanaman cengeh. Ini menunjukkan adanya tanaman tembakau dan cengkeh hasilnya lebih besar dibanding tanaman lain. Dan keduanya merupakan tanaman agung anugerah Tuhan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai buruh pabrik rokok, mereka ibu ibu rumah tangga sangat bahagia dapat membantu dan meringankan beban suami untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Mayoritas pekerja pabrik rokok kretek di Indonesia adalah wanita atau ibu rumah tangga, dan tidak ada pekerjaan lain yang bisa ia kerjakan yang bisa menghasilkan uang. Konsumen rokok dan industri rokok, adalah warga Negara yang taat akan pajak. Sebelum dinikmati, tiap batang rokok kretek yang telah dibeli sudah otomatis membayar pajak. Begitu juga, sebelum terjual, pabrik terbebani pajak dobel yang harus dibayar di muka, yaitu pungutan cukai, pungutan restribusi daerah dan talangan pajak konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Apakah keadaan ini semua dinafikan oleh Negara? Berapa besar keuntungan Negara dari hasil pajak rokok? Berapa besar manfaat uang cukai dalam menyehatkan masyarakat melalui pembayaran defisit BPJS? Kenapa para kandidat presiden tidak berani terang-terang membela sektor pertembakauan yang jelas-jelas bermanfaat bagi masyarakat kecil, bagi seluruh masyarakat bangsa dan membantu penerimaan uang kas Negara. <\/p>\n\n\n\n

Capres-Cawapres tahun 2019 ini, seakan-akan tidak memperdulikan nasib keberadaan sektor pertembakauan. Yang ada justru bertindak ikut-ikutan seperti halnya antirokok, itu pun yang berbicara adalah perwakilan dan bukan capresnya sendiri. <\/strong>Dilansir dari nasional.kompas.com<\/em>, bahwa salah satu anggota tim kesehatan Badan Pemenangan Nasional (BPN), bernama Hermawan Saputra, mengungkapkan, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno akan memberikan solusi agar pengguna rokok di Indonesia bisa menurun. Menurut dia, yang perlu dibereskan adalah hulu masalah industri rokok, yaitu mendorong petani tembakau untuk beralih profesi di bidang lain.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya <\/a><\/h2>\n\n\n\n

\"Kita naikkan cukai pun, tapi selama budaya dan perilaku masyarakat merokok tidak berubah serta petani yang menggantungkan diri di tembakau, ya tidak akan selesai. Meskipun tidak mudah, Hermawan meyakini Prabowo-Sandiaga memiliki kemauan politik yang kuat agar pengguna rokok bisa menurun. Dia mengatakan, tim kesehatan BPN sudah membuat rencana dan merancang program kesehatan yang bisa dipaparkan Sandiaga saat debat ketiga, \"ujar Hermawan saat ditemui dalam sebuah diskusi bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" menuju debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga dilansir dari tribunnews.com<\/em> bahwa Hasbullah Thabrany  orang yang mengatasnamakan Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, mengatakan;  jika terpilih dalam Pilpres 2019<\/a>, Jokowi-Ma'ruf akan menaikkan cukai rokok untuk menurunkan angka pengguna rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHarga cukai rokok di Indonesia merupakan yang paling terendah di dunia. Ia mencontohkan, cukai rokok di Singapura mencapai 90 persen dan Thailand 84 persen. Kita targetkan di pemerintahan ke depan jika Jokowi dan Ma'ruf terpilih, cukai rokok kita naikkan di atas 57 persen,\" ujar Hasbullah saat diskusi polemik bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" jelang debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).<\/p>\n\n\n\n

Baik Hermawan Saputra  atau Hasbullah Thabrany, kedua-duanya apakah yang mereka katakan mewakili suara capres? Sepenuhnya belum diketahui lebih jelas. Kalau dicermati, keduanya adalah orang-orang antirokok yang sengaja berkata demikian. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi jika suara mereka mewakili suara capres sepenuhnya, maka ke depan bisa dipastikan menjadi bumerang bagi para capres. Akan terjadi banyak orang yang bergerak dalam bidang pertembakauan apatis terhadap pilpres pemilu 2019. Mereka merasa terciderai, tidak ada perlindungan bagi mereka. <\/p>\n\n\n\n

Fakta dilapangan demikian, tulisan ini hanya mengingatkan pada capres dan cawapres bahwa ada hak petani tembakau, petani cengkeh, buruh rokok, dan industri rokok yang harus dilindungi. Ingat, mereka semua adalah warga Negara yang baik, mandiri dalam ekonomi dan berdaulat. Mereka adalah pembayar pajak yang taat, dan telah teruji hasil uang dari mereka telah menyehatkan masyarakat Indonesia melalui pembayaran defisit BPJS.  
<\/p>\n","post_title":"Menantang Capres-Cawapres Terang-terangan Membela Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menantang-capres-cawapres-terang-terangan-membela-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-13 08:31:38","post_modified_gmt":"2019-03-13 01:31:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5539","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5553,"post_author":"877","post_date":"2019-03-18 09:27:57","post_date_gmt":"2019-03-18 02:27:57","post_content":"\n

Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai produk budaya adiluhung bangsa tak akan pernah memunculkan percikan konflik sosial. Tetapi kretek yang berkembang sebagai komoditas industri yang berorientasi kapital, tentu menyimpan potensi gesekan sosial politik. Kretek bukanlah penyulut konflik, hanya kepentingan ekonomi dan persaingan dagang yang menimbulkan kompetisi yang keras dan tajam. Sebagai produk budaya yang adiluhung, kretek justru menjadi medium pemersatu, yang mendamaikan kemajemukan budaya Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya<\/a> <\/h3>\n\n\n\n

Rokok di belahan dunia sangat berbeda dengan rokok di Indonesia. Istilah rokok kretek, adalah ramuan antara tembakau dan cengkeh. Inilah yang membedakan rokok kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang  paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income<\/em> terbesar kepada negara.
<\/p>\n\n\n\n

Benar apa yang telah dikatakan Prameodya Ananta Toer bahwa kretek merupakan bagian penting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah mengeruk pajak yang signifikan dari industri kretek dan penjualnya. Tidak diragukan lagi bahwa rokok kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi.  Jadi di snilah kita melihat bahwa kreatifitas tangan masyarakat Indonesia bisa menghasilkan produk yang berdampak besar bagi perubahan masyarakat Indonesia. Kretek sebagai hasil kreatifitas masyarakat Indonesia bukan hanya sekedar produk rokok, melainkan juga mencerminkan tradisi dan budaya Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, dari sisi historis, lahirnya rokok kretek justru dilatarbelakangi oleh aktivitas pengobatan. Kretek diciptakan dalam sejarahnya, untuk menjadi obat asma atau sesak nafas. Penemunya adalah Haji jamhari asal Kudus. Disini terlihat jelas, bahwa asal muasal kretek sebenarnya berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Kalau rokok non-kretek umumnya diciptakan untuk sekedar motif ekonomi, sedangkan rokok kretek diciptakan \u00a0justru dalam rangka mengatasi masalah kesehatan. Melalui perjalanan sejarahnya yang panjang dan kompleks, rokok kretek yang ditemukan oleh Haji Jamhari itu kini berkembang pesat dengan berbagai nama Industri dan merek. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas <\/a>
<\/h3>\n\n\n\n

Tentu saja kalau ditelisik secara lebih jauh sebelum kretek lahir, masyarakat Indonesia sudah terbiasa merokok. Aktivitas ini, warisan turun menurun, dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.  Lahirnya kretek memberikan warna lain dalam perkembangan rokok Nusantara. Dengan ramuan barunya yang berbeda dengan rokok-rokok sebelumnya, kretek kemudian menciptakan sejarah baru dalam dunia rokok di Nusantara.
<\/p>\n\n\n\n

Pola mengkonsumsi tembakau di dalam masyarakat Indonesia itu kemudian melahirkan beragam produk tembakau termasuk rokok. Menurut Hanusz  produk tembakau pribumi pertama kali muncul di pertengahan abad ke-17 dan disebut dengan bungkus<\/em>.  Bungkus <\/em>yang khas (the typical bungkus) <\/em>diisi dengan tembakau lokal yang pada tahap selanjutnya kemudian dikemas dengan kulit jagung (kelobot) dan daun pisang dan diikat dengan seutas benang.
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya pada abad ke -19, istilah bungkus <\/em>kemudian menunjukkan produk tembakau yang dibungkus di dalam klobot<\/em> atau kulit jagung. Pada perkembangan selanjutnya, istilah bungkus itu menjadi semakin tereduksi seiring dengan munculnya dua nama baru di dalam produk rokok. Nama baru tersebut adalah strootje <\/em>yang juga merupakan bahasa Belanda dan satunya lagi klobot <\/em> yang berasal dari bahasa Jawa.  Di tahun 1850-an baik strootje <\/em>maupun kelobot <\/em> yang menjadi produksi rumah tangga, tetapi di akhir abad itu, produk rokok yang dibungkus dengan kulit jagung (klobot) itu pertama kali mulai dijual di pasar.
<\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang sama, tepatnya pada tahun 1880,  masyarakat kudus kemudian mulai mencampurkan cengkeh dengan tembakau. Ini merupakan fenomena baru dalam dunia rokok. Hal yang demikian itu kemudian membuat klobot <\/em>yang berisi cengkeh dan tembakau itu dirduksi dalam skala besar. Ketika cengkeh pertama kali dicampur dengan tembakau dan dibungkus kulit jagung yang dilakukan oleh masyarakat Kudus tersebut, maka rokok itu disebut dengan rokok cengkeh. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kreatifitas masyarakat Kudus dalam mencampurkan cengkeh dan tembakau itu tergolong penemuan luar biasa. Rokok  yang bahanya cengkeh dengan tembakau itu kemudian segera dikenal dengan istilah kretek <\/em>yang merujuk pada bunyi kemretek, <\/em>saat rokok itu disulut akibat bunyi cengkeh. Ketika rokok kretek ini mulai muncul maka rokok ini hanya diperuntukkan rokok dalam memakai bahasa Belanda, strootje. <\/em>Sementara rokok klobot <\/em>saat itu dikenal dengan rokok yang tanpa cengkeh. Namun pada tahap perkembangannya hingga sekarang,  rokok klobot juga mengandung cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Sangat wajar kalau rokok kretek kemudian muncul sebagai ikon budaya Indonesia. Karena keberadaannya memang sudah mentradisi dan menyatu dengan kehidupan rakyat Indonesia. Rokok kretek sebagai bagian kultur masyarakat Indonesia ini bergerak di berbagai ranah, dari ranah sosial hingga ke ranah spiritual. Rokok kretek juga menjadi simbol budaya dan identitas Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek dalam konteks budaya Indonesia bukan hanya digunakan untuk menjalin keakraban sosial antara individu maupun kelompok, tetapi juga sebagai sarana untuk laku spiritual dan aktivitas religiusitas. Mulai dari sisi filosofis, historis dan sosial -antropologis bisa dibuktikan bahwa  rokok kretek memang beda dengan rokok-rokok konvensional, utamanya dengan rokok-rokok asing.
<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Banyaknya merek-merek kretek yang berbeda-beda, merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan kota lainnya di Indonesia. Hal ini menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung diera modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-cerminan-kedaulatan-ekonomi-dan-tradisi-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-18 09:30:24","post_modified_gmt":"2019-03-18 02:30:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5553","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5539,"post_author":"877","post_date":"2019-03-13 08:31:30","post_date_gmt":"2019-03-13 01:31:30","post_content":"\n

Baik capres-cawapres nomor urut 01 dan no urut 02, sepertinya keduanya belum pernah berstatement<\/em> dengan tegas untuk membela petani tembakau, petani cengkeh, buruh industri rokok, dan hak konsumen rokok. Setidaknya perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, perkebunan cengkeh tersebar di 30 provinsi, dan menyerap tenaga kerja dari hulu hingga hilir mencapai 6,1 juta jiwa. Selama ini, mereka hidup bergantung pada sektor pertembakauan, berupa kretek asli produk Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Karena kearifan lokal, lahan yang dimiliki petani tembakau, tidak ada tanaman yang lebih menguntungkan secara ekonomi, selain tanaman tembakau. Begitu juga yang terjadi pada petani cengkeh, mereka dapat menyekolahkan anak keperguruan tinggi, dapat membangun rumah, dapat membeli barang berharga dari hasil penjualan cengkeh. Petani tembakau dan cengkeh hidup sejahtera di saat pertaniannya berhasil. Bahkan tidak sedikit, mereka akan melakukan khajatnya setelah panen tiba. Ambil contoh, mau menikahkan atau mengkhitankan anaknya setelah panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fakta empiris tersebut, hampir dilakukan semua petani tembakau dan cengkeh. Mereka bukannya tidak menanam selain tembakau atau cengkeh, akan tetapi kedua tanaman tersebut lebih bisa menopang kebutuhan-kebutuhan yang memerlukan biaya besar. Petani tembakau, selama Desember sampai April menanam selain tembakau. Tidak sedikit petani cengkeh menanam selain cengkeh di lahan lain atau di sela-sela tanaman cengeh. Ini menunjukkan adanya tanaman tembakau dan cengkeh hasilnya lebih besar dibanding tanaman lain. Dan keduanya merupakan tanaman agung anugerah Tuhan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai buruh pabrik rokok, mereka ibu ibu rumah tangga sangat bahagia dapat membantu dan meringankan beban suami untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Mayoritas pekerja pabrik rokok kretek di Indonesia adalah wanita atau ibu rumah tangga, dan tidak ada pekerjaan lain yang bisa ia kerjakan yang bisa menghasilkan uang. Konsumen rokok dan industri rokok, adalah warga Negara yang taat akan pajak. Sebelum dinikmati, tiap batang rokok kretek yang telah dibeli sudah otomatis membayar pajak. Begitu juga, sebelum terjual, pabrik terbebani pajak dobel yang harus dibayar di muka, yaitu pungutan cukai, pungutan restribusi daerah dan talangan pajak konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Apakah keadaan ini semua dinafikan oleh Negara? Berapa besar keuntungan Negara dari hasil pajak rokok? Berapa besar manfaat uang cukai dalam menyehatkan masyarakat melalui pembayaran defisit BPJS? Kenapa para kandidat presiden tidak berani terang-terang membela sektor pertembakauan yang jelas-jelas bermanfaat bagi masyarakat kecil, bagi seluruh masyarakat bangsa dan membantu penerimaan uang kas Negara. <\/p>\n\n\n\n

Capres-Cawapres tahun 2019 ini, seakan-akan tidak memperdulikan nasib keberadaan sektor pertembakauan. Yang ada justru bertindak ikut-ikutan seperti halnya antirokok, itu pun yang berbicara adalah perwakilan dan bukan capresnya sendiri. <\/strong>Dilansir dari nasional.kompas.com<\/em>, bahwa salah satu anggota tim kesehatan Badan Pemenangan Nasional (BPN), bernama Hermawan Saputra, mengungkapkan, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno akan memberikan solusi agar pengguna rokok di Indonesia bisa menurun. Menurut dia, yang perlu dibereskan adalah hulu masalah industri rokok, yaitu mendorong petani tembakau untuk beralih profesi di bidang lain.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya <\/a><\/h2>\n\n\n\n

\"Kita naikkan cukai pun, tapi selama budaya dan perilaku masyarakat merokok tidak berubah serta petani yang menggantungkan diri di tembakau, ya tidak akan selesai. Meskipun tidak mudah, Hermawan meyakini Prabowo-Sandiaga memiliki kemauan politik yang kuat agar pengguna rokok bisa menurun. Dia mengatakan, tim kesehatan BPN sudah membuat rencana dan merancang program kesehatan yang bisa dipaparkan Sandiaga saat debat ketiga, \"ujar Hermawan saat ditemui dalam sebuah diskusi bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" menuju debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga dilansir dari tribunnews.com<\/em> bahwa Hasbullah Thabrany  orang yang mengatasnamakan Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, mengatakan;  jika terpilih dalam Pilpres 2019<\/a>, Jokowi-Ma'ruf akan menaikkan cukai rokok untuk menurunkan angka pengguna rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHarga cukai rokok di Indonesia merupakan yang paling terendah di dunia. Ia mencontohkan, cukai rokok di Singapura mencapai 90 persen dan Thailand 84 persen. Kita targetkan di pemerintahan ke depan jika Jokowi dan Ma'ruf terpilih, cukai rokok kita naikkan di atas 57 persen,\" ujar Hasbullah saat diskusi polemik bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" jelang debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).<\/p>\n\n\n\n

Baik Hermawan Saputra  atau Hasbullah Thabrany, kedua-duanya apakah yang mereka katakan mewakili suara capres? Sepenuhnya belum diketahui lebih jelas. Kalau dicermati, keduanya adalah orang-orang antirokok yang sengaja berkata demikian. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi jika suara mereka mewakili suara capres sepenuhnya, maka ke depan bisa dipastikan menjadi bumerang bagi para capres. Akan terjadi banyak orang yang bergerak dalam bidang pertembakauan apatis terhadap pilpres pemilu 2019. Mereka merasa terciderai, tidak ada perlindungan bagi mereka. <\/p>\n\n\n\n

Fakta dilapangan demikian, tulisan ini hanya mengingatkan pada capres dan cawapres bahwa ada hak petani tembakau, petani cengkeh, buruh rokok, dan industri rokok yang harus dilindungi. Ingat, mereka semua adalah warga Negara yang baik, mandiri dalam ekonomi dan berdaulat. Mereka adalah pembayar pajak yang taat, dan telah teruji hasil uang dari mereka telah menyehatkan masyarakat Indonesia melalui pembayaran defisit BPJS.  
<\/p>\n","post_title":"Menantang Capres-Cawapres Terang-terangan Membela Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menantang-capres-cawapres-terang-terangan-membela-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-13 08:31:38","post_modified_gmt":"2019-03-13 01:31:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5539","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5553,"post_author":"877","post_date":"2019-03-18 09:27:57","post_date_gmt":"2019-03-18 02:27:57","post_content":"\n

Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai produk budaya adiluhung bangsa tak akan pernah memunculkan percikan konflik sosial. Tetapi kretek yang berkembang sebagai komoditas industri yang berorientasi kapital, tentu menyimpan potensi gesekan sosial politik. Kretek bukanlah penyulut konflik, hanya kepentingan ekonomi dan persaingan dagang yang menimbulkan kompetisi yang keras dan tajam. Sebagai produk budaya yang adiluhung, kretek justru menjadi medium pemersatu, yang mendamaikan kemajemukan budaya Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya<\/a> <\/h3>\n\n\n\n

Rokok di belahan dunia sangat berbeda dengan rokok di Indonesia. Istilah rokok kretek, adalah ramuan antara tembakau dan cengkeh. Inilah yang membedakan rokok kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang  paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income<\/em> terbesar kepada negara.
<\/p>\n\n\n\n

Benar apa yang telah dikatakan Prameodya Ananta Toer bahwa kretek merupakan bagian penting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah mengeruk pajak yang signifikan dari industri kretek dan penjualnya. Tidak diragukan lagi bahwa rokok kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi.  Jadi di snilah kita melihat bahwa kreatifitas tangan masyarakat Indonesia bisa menghasilkan produk yang berdampak besar bagi perubahan masyarakat Indonesia. Kretek sebagai hasil kreatifitas masyarakat Indonesia bukan hanya sekedar produk rokok, melainkan juga mencerminkan tradisi dan budaya Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, dari sisi historis, lahirnya rokok kretek justru dilatarbelakangi oleh aktivitas pengobatan. Kretek diciptakan dalam sejarahnya, untuk menjadi obat asma atau sesak nafas. Penemunya adalah Haji jamhari asal Kudus. Disini terlihat jelas, bahwa asal muasal kretek sebenarnya berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Kalau rokok non-kretek umumnya diciptakan untuk sekedar motif ekonomi, sedangkan rokok kretek diciptakan \u00a0justru dalam rangka mengatasi masalah kesehatan. Melalui perjalanan sejarahnya yang panjang dan kompleks, rokok kretek yang ditemukan oleh Haji Jamhari itu kini berkembang pesat dengan berbagai nama Industri dan merek. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas <\/a>
<\/h3>\n\n\n\n

Tentu saja kalau ditelisik secara lebih jauh sebelum kretek lahir, masyarakat Indonesia sudah terbiasa merokok. Aktivitas ini, warisan turun menurun, dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.  Lahirnya kretek memberikan warna lain dalam perkembangan rokok Nusantara. Dengan ramuan barunya yang berbeda dengan rokok-rokok sebelumnya, kretek kemudian menciptakan sejarah baru dalam dunia rokok di Nusantara.
<\/p>\n\n\n\n

Pola mengkonsumsi tembakau di dalam masyarakat Indonesia itu kemudian melahirkan beragam produk tembakau termasuk rokok. Menurut Hanusz  produk tembakau pribumi pertama kali muncul di pertengahan abad ke-17 dan disebut dengan bungkus<\/em>.  Bungkus <\/em>yang khas (the typical bungkus) <\/em>diisi dengan tembakau lokal yang pada tahap selanjutnya kemudian dikemas dengan kulit jagung (kelobot) dan daun pisang dan diikat dengan seutas benang.
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya pada abad ke -19, istilah bungkus <\/em>kemudian menunjukkan produk tembakau yang dibungkus di dalam klobot<\/em> atau kulit jagung. Pada perkembangan selanjutnya, istilah bungkus itu menjadi semakin tereduksi seiring dengan munculnya dua nama baru di dalam produk rokok. Nama baru tersebut adalah strootje <\/em>yang juga merupakan bahasa Belanda dan satunya lagi klobot <\/em> yang berasal dari bahasa Jawa.  Di tahun 1850-an baik strootje <\/em>maupun kelobot <\/em> yang menjadi produksi rumah tangga, tetapi di akhir abad itu, produk rokok yang dibungkus dengan kulit jagung (klobot) itu pertama kali mulai dijual di pasar.
<\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang sama, tepatnya pada tahun 1880,  masyarakat kudus kemudian mulai mencampurkan cengkeh dengan tembakau. Ini merupakan fenomena baru dalam dunia rokok. Hal yang demikian itu kemudian membuat klobot <\/em>yang berisi cengkeh dan tembakau itu dirduksi dalam skala besar. Ketika cengkeh pertama kali dicampur dengan tembakau dan dibungkus kulit jagung yang dilakukan oleh masyarakat Kudus tersebut, maka rokok itu disebut dengan rokok cengkeh. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kreatifitas masyarakat Kudus dalam mencampurkan cengkeh dan tembakau itu tergolong penemuan luar biasa. Rokok  yang bahanya cengkeh dengan tembakau itu kemudian segera dikenal dengan istilah kretek <\/em>yang merujuk pada bunyi kemretek, <\/em>saat rokok itu disulut akibat bunyi cengkeh. Ketika rokok kretek ini mulai muncul maka rokok ini hanya diperuntukkan rokok dalam memakai bahasa Belanda, strootje. <\/em>Sementara rokok klobot <\/em>saat itu dikenal dengan rokok yang tanpa cengkeh. Namun pada tahap perkembangannya hingga sekarang,  rokok klobot juga mengandung cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Sangat wajar kalau rokok kretek kemudian muncul sebagai ikon budaya Indonesia. Karena keberadaannya memang sudah mentradisi dan menyatu dengan kehidupan rakyat Indonesia. Rokok kretek sebagai bagian kultur masyarakat Indonesia ini bergerak di berbagai ranah, dari ranah sosial hingga ke ranah spiritual. Rokok kretek juga menjadi simbol budaya dan identitas Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek dalam konteks budaya Indonesia bukan hanya digunakan untuk menjalin keakraban sosial antara individu maupun kelompok, tetapi juga sebagai sarana untuk laku spiritual dan aktivitas religiusitas. Mulai dari sisi filosofis, historis dan sosial -antropologis bisa dibuktikan bahwa  rokok kretek memang beda dengan rokok-rokok konvensional, utamanya dengan rokok-rokok asing.
<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Banyaknya merek-merek kretek yang berbeda-beda, merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan kota lainnya di Indonesia. Hal ini menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung diera modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-cerminan-kedaulatan-ekonomi-dan-tradisi-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-18 09:30:24","post_modified_gmt":"2019-03-18 02:30:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5553","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5539,"post_author":"877","post_date":"2019-03-13 08:31:30","post_date_gmt":"2019-03-13 01:31:30","post_content":"\n

Baik capres-cawapres nomor urut 01 dan no urut 02, sepertinya keduanya belum pernah berstatement<\/em> dengan tegas untuk membela petani tembakau, petani cengkeh, buruh industri rokok, dan hak konsumen rokok. Setidaknya perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, perkebunan cengkeh tersebar di 30 provinsi, dan menyerap tenaga kerja dari hulu hingga hilir mencapai 6,1 juta jiwa. Selama ini, mereka hidup bergantung pada sektor pertembakauan, berupa kretek asli produk Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Karena kearifan lokal, lahan yang dimiliki petani tembakau, tidak ada tanaman yang lebih menguntungkan secara ekonomi, selain tanaman tembakau. Begitu juga yang terjadi pada petani cengkeh, mereka dapat menyekolahkan anak keperguruan tinggi, dapat membangun rumah, dapat membeli barang berharga dari hasil penjualan cengkeh. Petani tembakau dan cengkeh hidup sejahtera di saat pertaniannya berhasil. Bahkan tidak sedikit, mereka akan melakukan khajatnya setelah panen tiba. Ambil contoh, mau menikahkan atau mengkhitankan anaknya setelah panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fakta empiris tersebut, hampir dilakukan semua petani tembakau dan cengkeh. Mereka bukannya tidak menanam selain tembakau atau cengkeh, akan tetapi kedua tanaman tersebut lebih bisa menopang kebutuhan-kebutuhan yang memerlukan biaya besar. Petani tembakau, selama Desember sampai April menanam selain tembakau. Tidak sedikit petani cengkeh menanam selain cengkeh di lahan lain atau di sela-sela tanaman cengeh. Ini menunjukkan adanya tanaman tembakau dan cengkeh hasilnya lebih besar dibanding tanaman lain. Dan keduanya merupakan tanaman agung anugerah Tuhan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai buruh pabrik rokok, mereka ibu ibu rumah tangga sangat bahagia dapat membantu dan meringankan beban suami untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Mayoritas pekerja pabrik rokok kretek di Indonesia adalah wanita atau ibu rumah tangga, dan tidak ada pekerjaan lain yang bisa ia kerjakan yang bisa menghasilkan uang. Konsumen rokok dan industri rokok, adalah warga Negara yang taat akan pajak. Sebelum dinikmati, tiap batang rokok kretek yang telah dibeli sudah otomatis membayar pajak. Begitu juga, sebelum terjual, pabrik terbebani pajak dobel yang harus dibayar di muka, yaitu pungutan cukai, pungutan restribusi daerah dan talangan pajak konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Apakah keadaan ini semua dinafikan oleh Negara? Berapa besar keuntungan Negara dari hasil pajak rokok? Berapa besar manfaat uang cukai dalam menyehatkan masyarakat melalui pembayaran defisit BPJS? Kenapa para kandidat presiden tidak berani terang-terang membela sektor pertembakauan yang jelas-jelas bermanfaat bagi masyarakat kecil, bagi seluruh masyarakat bangsa dan membantu penerimaan uang kas Negara. <\/p>\n\n\n\n

Capres-Cawapres tahun 2019 ini, seakan-akan tidak memperdulikan nasib keberadaan sektor pertembakauan. Yang ada justru bertindak ikut-ikutan seperti halnya antirokok, itu pun yang berbicara adalah perwakilan dan bukan capresnya sendiri. <\/strong>Dilansir dari nasional.kompas.com<\/em>, bahwa salah satu anggota tim kesehatan Badan Pemenangan Nasional (BPN), bernama Hermawan Saputra, mengungkapkan, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno akan memberikan solusi agar pengguna rokok di Indonesia bisa menurun. Menurut dia, yang perlu dibereskan adalah hulu masalah industri rokok, yaitu mendorong petani tembakau untuk beralih profesi di bidang lain.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya <\/a><\/h2>\n\n\n\n

\"Kita naikkan cukai pun, tapi selama budaya dan perilaku masyarakat merokok tidak berubah serta petani yang menggantungkan diri di tembakau, ya tidak akan selesai. Meskipun tidak mudah, Hermawan meyakini Prabowo-Sandiaga memiliki kemauan politik yang kuat agar pengguna rokok bisa menurun. Dia mengatakan, tim kesehatan BPN sudah membuat rencana dan merancang program kesehatan yang bisa dipaparkan Sandiaga saat debat ketiga, \"ujar Hermawan saat ditemui dalam sebuah diskusi bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" menuju debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga dilansir dari tribunnews.com<\/em> bahwa Hasbullah Thabrany  orang yang mengatasnamakan Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, mengatakan;  jika terpilih dalam Pilpres 2019<\/a>, Jokowi-Ma'ruf akan menaikkan cukai rokok untuk menurunkan angka pengguna rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHarga cukai rokok di Indonesia merupakan yang paling terendah di dunia. Ia mencontohkan, cukai rokok di Singapura mencapai 90 persen dan Thailand 84 persen. Kita targetkan di pemerintahan ke depan jika Jokowi dan Ma'ruf terpilih, cukai rokok kita naikkan di atas 57 persen,\" ujar Hasbullah saat diskusi polemik bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" jelang debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).<\/p>\n\n\n\n

Baik Hermawan Saputra  atau Hasbullah Thabrany, kedua-duanya apakah yang mereka katakan mewakili suara capres? Sepenuhnya belum diketahui lebih jelas. Kalau dicermati, keduanya adalah orang-orang antirokok yang sengaja berkata demikian. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi jika suara mereka mewakili suara capres sepenuhnya, maka ke depan bisa dipastikan menjadi bumerang bagi para capres. Akan terjadi banyak orang yang bergerak dalam bidang pertembakauan apatis terhadap pilpres pemilu 2019. Mereka merasa terciderai, tidak ada perlindungan bagi mereka. <\/p>\n\n\n\n

Fakta dilapangan demikian, tulisan ini hanya mengingatkan pada capres dan cawapres bahwa ada hak petani tembakau, petani cengkeh, buruh rokok, dan industri rokok yang harus dilindungi. Ingat, mereka semua adalah warga Negara yang baik, mandiri dalam ekonomi dan berdaulat. Mereka adalah pembayar pajak yang taat, dan telah teruji hasil uang dari mereka telah menyehatkan masyarakat Indonesia melalui pembayaran defisit BPJS.  
<\/p>\n","post_title":"Menantang Capres-Cawapres Terang-terangan Membela Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menantang-capres-cawapres-terang-terangan-membela-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-13 08:31:38","post_modified_gmt":"2019-03-13 01:31:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5539","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5553,"post_author":"877","post_date":"2019-03-18 09:27:57","post_date_gmt":"2019-03-18 02:27:57","post_content":"\n

Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai produk budaya adiluhung bangsa tak akan pernah memunculkan percikan konflik sosial. Tetapi kretek yang berkembang sebagai komoditas industri yang berorientasi kapital, tentu menyimpan potensi gesekan sosial politik. Kretek bukanlah penyulut konflik, hanya kepentingan ekonomi dan persaingan dagang yang menimbulkan kompetisi yang keras dan tajam. Sebagai produk budaya yang adiluhung, kretek justru menjadi medium pemersatu, yang mendamaikan kemajemukan budaya Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya<\/a> <\/h3>\n\n\n\n

Rokok di belahan dunia sangat berbeda dengan rokok di Indonesia. Istilah rokok kretek, adalah ramuan antara tembakau dan cengkeh. Inilah yang membedakan rokok kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang  paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income<\/em> terbesar kepada negara.
<\/p>\n\n\n\n

Benar apa yang telah dikatakan Prameodya Ananta Toer bahwa kretek merupakan bagian penting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah mengeruk pajak yang signifikan dari industri kretek dan penjualnya. Tidak diragukan lagi bahwa rokok kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi.  Jadi di snilah kita melihat bahwa kreatifitas tangan masyarakat Indonesia bisa menghasilkan produk yang berdampak besar bagi perubahan masyarakat Indonesia. Kretek sebagai hasil kreatifitas masyarakat Indonesia bukan hanya sekedar produk rokok, melainkan juga mencerminkan tradisi dan budaya Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, dari sisi historis, lahirnya rokok kretek justru dilatarbelakangi oleh aktivitas pengobatan. Kretek diciptakan dalam sejarahnya, untuk menjadi obat asma atau sesak nafas. Penemunya adalah Haji jamhari asal Kudus. Disini terlihat jelas, bahwa asal muasal kretek sebenarnya berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Kalau rokok non-kretek umumnya diciptakan untuk sekedar motif ekonomi, sedangkan rokok kretek diciptakan \u00a0justru dalam rangka mengatasi masalah kesehatan. Melalui perjalanan sejarahnya yang panjang dan kompleks, rokok kretek yang ditemukan oleh Haji Jamhari itu kini berkembang pesat dengan berbagai nama Industri dan merek. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas <\/a>
<\/h3>\n\n\n\n

Tentu saja kalau ditelisik secara lebih jauh sebelum kretek lahir, masyarakat Indonesia sudah terbiasa merokok. Aktivitas ini, warisan turun menurun, dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.  Lahirnya kretek memberikan warna lain dalam perkembangan rokok Nusantara. Dengan ramuan barunya yang berbeda dengan rokok-rokok sebelumnya, kretek kemudian menciptakan sejarah baru dalam dunia rokok di Nusantara.
<\/p>\n\n\n\n

Pola mengkonsumsi tembakau di dalam masyarakat Indonesia itu kemudian melahirkan beragam produk tembakau termasuk rokok. Menurut Hanusz  produk tembakau pribumi pertama kali muncul di pertengahan abad ke-17 dan disebut dengan bungkus<\/em>.  Bungkus <\/em>yang khas (the typical bungkus) <\/em>diisi dengan tembakau lokal yang pada tahap selanjutnya kemudian dikemas dengan kulit jagung (kelobot) dan daun pisang dan diikat dengan seutas benang.
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya pada abad ke -19, istilah bungkus <\/em>kemudian menunjukkan produk tembakau yang dibungkus di dalam klobot<\/em> atau kulit jagung. Pada perkembangan selanjutnya, istilah bungkus itu menjadi semakin tereduksi seiring dengan munculnya dua nama baru di dalam produk rokok. Nama baru tersebut adalah strootje <\/em>yang juga merupakan bahasa Belanda dan satunya lagi klobot <\/em> yang berasal dari bahasa Jawa.  Di tahun 1850-an baik strootje <\/em>maupun kelobot <\/em> yang menjadi produksi rumah tangga, tetapi di akhir abad itu, produk rokok yang dibungkus dengan kulit jagung (klobot) itu pertama kali mulai dijual di pasar.
<\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang sama, tepatnya pada tahun 1880,  masyarakat kudus kemudian mulai mencampurkan cengkeh dengan tembakau. Ini merupakan fenomena baru dalam dunia rokok. Hal yang demikian itu kemudian membuat klobot <\/em>yang berisi cengkeh dan tembakau itu dirduksi dalam skala besar. Ketika cengkeh pertama kali dicampur dengan tembakau dan dibungkus kulit jagung yang dilakukan oleh masyarakat Kudus tersebut, maka rokok itu disebut dengan rokok cengkeh. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kreatifitas masyarakat Kudus dalam mencampurkan cengkeh dan tembakau itu tergolong penemuan luar biasa. Rokok  yang bahanya cengkeh dengan tembakau itu kemudian segera dikenal dengan istilah kretek <\/em>yang merujuk pada bunyi kemretek, <\/em>saat rokok itu disulut akibat bunyi cengkeh. Ketika rokok kretek ini mulai muncul maka rokok ini hanya diperuntukkan rokok dalam memakai bahasa Belanda, strootje. <\/em>Sementara rokok klobot <\/em>saat itu dikenal dengan rokok yang tanpa cengkeh. Namun pada tahap perkembangannya hingga sekarang,  rokok klobot juga mengandung cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Sangat wajar kalau rokok kretek kemudian muncul sebagai ikon budaya Indonesia. Karena keberadaannya memang sudah mentradisi dan menyatu dengan kehidupan rakyat Indonesia. Rokok kretek sebagai bagian kultur masyarakat Indonesia ini bergerak di berbagai ranah, dari ranah sosial hingga ke ranah spiritual. Rokok kretek juga menjadi simbol budaya dan identitas Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek dalam konteks budaya Indonesia bukan hanya digunakan untuk menjalin keakraban sosial antara individu maupun kelompok, tetapi juga sebagai sarana untuk laku spiritual dan aktivitas religiusitas. Mulai dari sisi filosofis, historis dan sosial -antropologis bisa dibuktikan bahwa  rokok kretek memang beda dengan rokok-rokok konvensional, utamanya dengan rokok-rokok asing.
<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Banyaknya merek-merek kretek yang berbeda-beda, merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan kota lainnya di Indonesia. Hal ini menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung diera modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-cerminan-kedaulatan-ekonomi-dan-tradisi-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-18 09:30:24","post_modified_gmt":"2019-03-18 02:30:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5553","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5539,"post_author":"877","post_date":"2019-03-13 08:31:30","post_date_gmt":"2019-03-13 01:31:30","post_content":"\n

Baik capres-cawapres nomor urut 01 dan no urut 02, sepertinya keduanya belum pernah berstatement<\/em> dengan tegas untuk membela petani tembakau, petani cengkeh, buruh industri rokok, dan hak konsumen rokok. Setidaknya perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, perkebunan cengkeh tersebar di 30 provinsi, dan menyerap tenaga kerja dari hulu hingga hilir mencapai 6,1 juta jiwa. Selama ini, mereka hidup bergantung pada sektor pertembakauan, berupa kretek asli produk Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Karena kearifan lokal, lahan yang dimiliki petani tembakau, tidak ada tanaman yang lebih menguntungkan secara ekonomi, selain tanaman tembakau. Begitu juga yang terjadi pada petani cengkeh, mereka dapat menyekolahkan anak keperguruan tinggi, dapat membangun rumah, dapat membeli barang berharga dari hasil penjualan cengkeh. Petani tembakau dan cengkeh hidup sejahtera di saat pertaniannya berhasil. Bahkan tidak sedikit, mereka akan melakukan khajatnya setelah panen tiba. Ambil contoh, mau menikahkan atau mengkhitankan anaknya setelah panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fakta empiris tersebut, hampir dilakukan semua petani tembakau dan cengkeh. Mereka bukannya tidak menanam selain tembakau atau cengkeh, akan tetapi kedua tanaman tersebut lebih bisa menopang kebutuhan-kebutuhan yang memerlukan biaya besar. Petani tembakau, selama Desember sampai April menanam selain tembakau. Tidak sedikit petani cengkeh menanam selain cengkeh di lahan lain atau di sela-sela tanaman cengeh. Ini menunjukkan adanya tanaman tembakau dan cengkeh hasilnya lebih besar dibanding tanaman lain. Dan keduanya merupakan tanaman agung anugerah Tuhan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai buruh pabrik rokok, mereka ibu ibu rumah tangga sangat bahagia dapat membantu dan meringankan beban suami untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Mayoritas pekerja pabrik rokok kretek di Indonesia adalah wanita atau ibu rumah tangga, dan tidak ada pekerjaan lain yang bisa ia kerjakan yang bisa menghasilkan uang. Konsumen rokok dan industri rokok, adalah warga Negara yang taat akan pajak. Sebelum dinikmati, tiap batang rokok kretek yang telah dibeli sudah otomatis membayar pajak. Begitu juga, sebelum terjual, pabrik terbebani pajak dobel yang harus dibayar di muka, yaitu pungutan cukai, pungutan restribusi daerah dan talangan pajak konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Apakah keadaan ini semua dinafikan oleh Negara? Berapa besar keuntungan Negara dari hasil pajak rokok? Berapa besar manfaat uang cukai dalam menyehatkan masyarakat melalui pembayaran defisit BPJS? Kenapa para kandidat presiden tidak berani terang-terang membela sektor pertembakauan yang jelas-jelas bermanfaat bagi masyarakat kecil, bagi seluruh masyarakat bangsa dan membantu penerimaan uang kas Negara. <\/p>\n\n\n\n

Capres-Cawapres tahun 2019 ini, seakan-akan tidak memperdulikan nasib keberadaan sektor pertembakauan. Yang ada justru bertindak ikut-ikutan seperti halnya antirokok, itu pun yang berbicara adalah perwakilan dan bukan capresnya sendiri. <\/strong>Dilansir dari nasional.kompas.com<\/em>, bahwa salah satu anggota tim kesehatan Badan Pemenangan Nasional (BPN), bernama Hermawan Saputra, mengungkapkan, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno akan memberikan solusi agar pengguna rokok di Indonesia bisa menurun. Menurut dia, yang perlu dibereskan adalah hulu masalah industri rokok, yaitu mendorong petani tembakau untuk beralih profesi di bidang lain.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya <\/a><\/h2>\n\n\n\n

\"Kita naikkan cukai pun, tapi selama budaya dan perilaku masyarakat merokok tidak berubah serta petani yang menggantungkan diri di tembakau, ya tidak akan selesai. Meskipun tidak mudah, Hermawan meyakini Prabowo-Sandiaga memiliki kemauan politik yang kuat agar pengguna rokok bisa menurun. Dia mengatakan, tim kesehatan BPN sudah membuat rencana dan merancang program kesehatan yang bisa dipaparkan Sandiaga saat debat ketiga, \"ujar Hermawan saat ditemui dalam sebuah diskusi bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" menuju debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga dilansir dari tribunnews.com<\/em> bahwa Hasbullah Thabrany  orang yang mengatasnamakan Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, mengatakan;  jika terpilih dalam Pilpres 2019<\/a>, Jokowi-Ma'ruf akan menaikkan cukai rokok untuk menurunkan angka pengguna rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHarga cukai rokok di Indonesia merupakan yang paling terendah di dunia. Ia mencontohkan, cukai rokok di Singapura mencapai 90 persen dan Thailand 84 persen. Kita targetkan di pemerintahan ke depan jika Jokowi dan Ma'ruf terpilih, cukai rokok kita naikkan di atas 57 persen,\" ujar Hasbullah saat diskusi polemik bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" jelang debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).<\/p>\n\n\n\n

Baik Hermawan Saputra  atau Hasbullah Thabrany, kedua-duanya apakah yang mereka katakan mewakili suara capres? Sepenuhnya belum diketahui lebih jelas. Kalau dicermati, keduanya adalah orang-orang antirokok yang sengaja berkata demikian. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi jika suara mereka mewakili suara capres sepenuhnya, maka ke depan bisa dipastikan menjadi bumerang bagi para capres. Akan terjadi banyak orang yang bergerak dalam bidang pertembakauan apatis terhadap pilpres pemilu 2019. Mereka merasa terciderai, tidak ada perlindungan bagi mereka. <\/p>\n\n\n\n

Fakta dilapangan demikian, tulisan ini hanya mengingatkan pada capres dan cawapres bahwa ada hak petani tembakau, petani cengkeh, buruh rokok, dan industri rokok yang harus dilindungi. Ingat, mereka semua adalah warga Negara yang baik, mandiri dalam ekonomi dan berdaulat. Mereka adalah pembayar pajak yang taat, dan telah teruji hasil uang dari mereka telah menyehatkan masyarakat Indonesia melalui pembayaran defisit BPJS.  
<\/p>\n","post_title":"Menantang Capres-Cawapres Terang-terangan Membela Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menantang-capres-cawapres-terang-terangan-membela-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-13 08:31:38","post_modified_gmt":"2019-03-13 01:31:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5539","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5553,"post_author":"877","post_date":"2019-03-18 09:27:57","post_date_gmt":"2019-03-18 02:27:57","post_content":"\n

Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai produk budaya adiluhung bangsa tak akan pernah memunculkan percikan konflik sosial. Tetapi kretek yang berkembang sebagai komoditas industri yang berorientasi kapital, tentu menyimpan potensi gesekan sosial politik. Kretek bukanlah penyulut konflik, hanya kepentingan ekonomi dan persaingan dagang yang menimbulkan kompetisi yang keras dan tajam. Sebagai produk budaya yang adiluhung, kretek justru menjadi medium pemersatu, yang mendamaikan kemajemukan budaya Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya<\/a> <\/h3>\n\n\n\n

Rokok di belahan dunia sangat berbeda dengan rokok di Indonesia. Istilah rokok kretek, adalah ramuan antara tembakau dan cengkeh. Inilah yang membedakan rokok kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang  paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income<\/em> terbesar kepada negara.
<\/p>\n\n\n\n

Benar apa yang telah dikatakan Prameodya Ananta Toer bahwa kretek merupakan bagian penting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah mengeruk pajak yang signifikan dari industri kretek dan penjualnya. Tidak diragukan lagi bahwa rokok kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi.  Jadi di snilah kita melihat bahwa kreatifitas tangan masyarakat Indonesia bisa menghasilkan produk yang berdampak besar bagi perubahan masyarakat Indonesia. Kretek sebagai hasil kreatifitas masyarakat Indonesia bukan hanya sekedar produk rokok, melainkan juga mencerminkan tradisi dan budaya Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, dari sisi historis, lahirnya rokok kretek justru dilatarbelakangi oleh aktivitas pengobatan. Kretek diciptakan dalam sejarahnya, untuk menjadi obat asma atau sesak nafas. Penemunya adalah Haji jamhari asal Kudus. Disini terlihat jelas, bahwa asal muasal kretek sebenarnya berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Kalau rokok non-kretek umumnya diciptakan untuk sekedar motif ekonomi, sedangkan rokok kretek diciptakan \u00a0justru dalam rangka mengatasi masalah kesehatan. Melalui perjalanan sejarahnya yang panjang dan kompleks, rokok kretek yang ditemukan oleh Haji Jamhari itu kini berkembang pesat dengan berbagai nama Industri dan merek. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas <\/a>
<\/h3>\n\n\n\n

Tentu saja kalau ditelisik secara lebih jauh sebelum kretek lahir, masyarakat Indonesia sudah terbiasa merokok. Aktivitas ini, warisan turun menurun, dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.  Lahirnya kretek memberikan warna lain dalam perkembangan rokok Nusantara. Dengan ramuan barunya yang berbeda dengan rokok-rokok sebelumnya, kretek kemudian menciptakan sejarah baru dalam dunia rokok di Nusantara.
<\/p>\n\n\n\n

Pola mengkonsumsi tembakau di dalam masyarakat Indonesia itu kemudian melahirkan beragam produk tembakau termasuk rokok. Menurut Hanusz  produk tembakau pribumi pertama kali muncul di pertengahan abad ke-17 dan disebut dengan bungkus<\/em>.  Bungkus <\/em>yang khas (the typical bungkus) <\/em>diisi dengan tembakau lokal yang pada tahap selanjutnya kemudian dikemas dengan kulit jagung (kelobot) dan daun pisang dan diikat dengan seutas benang.
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya pada abad ke -19, istilah bungkus <\/em>kemudian menunjukkan produk tembakau yang dibungkus di dalam klobot<\/em> atau kulit jagung. Pada perkembangan selanjutnya, istilah bungkus itu menjadi semakin tereduksi seiring dengan munculnya dua nama baru di dalam produk rokok. Nama baru tersebut adalah strootje <\/em>yang juga merupakan bahasa Belanda dan satunya lagi klobot <\/em> yang berasal dari bahasa Jawa.  Di tahun 1850-an baik strootje <\/em>maupun kelobot <\/em> yang menjadi produksi rumah tangga, tetapi di akhir abad itu, produk rokok yang dibungkus dengan kulit jagung (klobot) itu pertama kali mulai dijual di pasar.
<\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang sama, tepatnya pada tahun 1880,  masyarakat kudus kemudian mulai mencampurkan cengkeh dengan tembakau. Ini merupakan fenomena baru dalam dunia rokok. Hal yang demikian itu kemudian membuat klobot <\/em>yang berisi cengkeh dan tembakau itu dirduksi dalam skala besar. Ketika cengkeh pertama kali dicampur dengan tembakau dan dibungkus kulit jagung yang dilakukan oleh masyarakat Kudus tersebut, maka rokok itu disebut dengan rokok cengkeh. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kreatifitas masyarakat Kudus dalam mencampurkan cengkeh dan tembakau itu tergolong penemuan luar biasa. Rokok  yang bahanya cengkeh dengan tembakau itu kemudian segera dikenal dengan istilah kretek <\/em>yang merujuk pada bunyi kemretek, <\/em>saat rokok itu disulut akibat bunyi cengkeh. Ketika rokok kretek ini mulai muncul maka rokok ini hanya diperuntukkan rokok dalam memakai bahasa Belanda, strootje. <\/em>Sementara rokok klobot <\/em>saat itu dikenal dengan rokok yang tanpa cengkeh. Namun pada tahap perkembangannya hingga sekarang,  rokok klobot juga mengandung cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Sangat wajar kalau rokok kretek kemudian muncul sebagai ikon budaya Indonesia. Karena keberadaannya memang sudah mentradisi dan menyatu dengan kehidupan rakyat Indonesia. Rokok kretek sebagai bagian kultur masyarakat Indonesia ini bergerak di berbagai ranah, dari ranah sosial hingga ke ranah spiritual. Rokok kretek juga menjadi simbol budaya dan identitas Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek dalam konteks budaya Indonesia bukan hanya digunakan untuk menjalin keakraban sosial antara individu maupun kelompok, tetapi juga sebagai sarana untuk laku spiritual dan aktivitas religiusitas. Mulai dari sisi filosofis, historis dan sosial -antropologis bisa dibuktikan bahwa  rokok kretek memang beda dengan rokok-rokok konvensional, utamanya dengan rokok-rokok asing.
<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Banyaknya merek-merek kretek yang berbeda-beda, merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan kota lainnya di Indonesia. Hal ini menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung diera modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-cerminan-kedaulatan-ekonomi-dan-tradisi-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-18 09:30:24","post_modified_gmt":"2019-03-18 02:30:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5553","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5539,"post_author":"877","post_date":"2019-03-13 08:31:30","post_date_gmt":"2019-03-13 01:31:30","post_content":"\n

Baik capres-cawapres nomor urut 01 dan no urut 02, sepertinya keduanya belum pernah berstatement<\/em> dengan tegas untuk membela petani tembakau, petani cengkeh, buruh industri rokok, dan hak konsumen rokok. Setidaknya perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, perkebunan cengkeh tersebar di 30 provinsi, dan menyerap tenaga kerja dari hulu hingga hilir mencapai 6,1 juta jiwa. Selama ini, mereka hidup bergantung pada sektor pertembakauan, berupa kretek asli produk Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Karena kearifan lokal, lahan yang dimiliki petani tembakau, tidak ada tanaman yang lebih menguntungkan secara ekonomi, selain tanaman tembakau. Begitu juga yang terjadi pada petani cengkeh, mereka dapat menyekolahkan anak keperguruan tinggi, dapat membangun rumah, dapat membeli barang berharga dari hasil penjualan cengkeh. Petani tembakau dan cengkeh hidup sejahtera di saat pertaniannya berhasil. Bahkan tidak sedikit, mereka akan melakukan khajatnya setelah panen tiba. Ambil contoh, mau menikahkan atau mengkhitankan anaknya setelah panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fakta empiris tersebut, hampir dilakukan semua petani tembakau dan cengkeh. Mereka bukannya tidak menanam selain tembakau atau cengkeh, akan tetapi kedua tanaman tersebut lebih bisa menopang kebutuhan-kebutuhan yang memerlukan biaya besar. Petani tembakau, selama Desember sampai April menanam selain tembakau. Tidak sedikit petani cengkeh menanam selain cengkeh di lahan lain atau di sela-sela tanaman cengeh. Ini menunjukkan adanya tanaman tembakau dan cengkeh hasilnya lebih besar dibanding tanaman lain. Dan keduanya merupakan tanaman agung anugerah Tuhan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai buruh pabrik rokok, mereka ibu ibu rumah tangga sangat bahagia dapat membantu dan meringankan beban suami untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Mayoritas pekerja pabrik rokok kretek di Indonesia adalah wanita atau ibu rumah tangga, dan tidak ada pekerjaan lain yang bisa ia kerjakan yang bisa menghasilkan uang. Konsumen rokok dan industri rokok, adalah warga Negara yang taat akan pajak. Sebelum dinikmati, tiap batang rokok kretek yang telah dibeli sudah otomatis membayar pajak. Begitu juga, sebelum terjual, pabrik terbebani pajak dobel yang harus dibayar di muka, yaitu pungutan cukai, pungutan restribusi daerah dan talangan pajak konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Apakah keadaan ini semua dinafikan oleh Negara? Berapa besar keuntungan Negara dari hasil pajak rokok? Berapa besar manfaat uang cukai dalam menyehatkan masyarakat melalui pembayaran defisit BPJS? Kenapa para kandidat presiden tidak berani terang-terang membela sektor pertembakauan yang jelas-jelas bermanfaat bagi masyarakat kecil, bagi seluruh masyarakat bangsa dan membantu penerimaan uang kas Negara. <\/p>\n\n\n\n

Capres-Cawapres tahun 2019 ini, seakan-akan tidak memperdulikan nasib keberadaan sektor pertembakauan. Yang ada justru bertindak ikut-ikutan seperti halnya antirokok, itu pun yang berbicara adalah perwakilan dan bukan capresnya sendiri. <\/strong>Dilansir dari nasional.kompas.com<\/em>, bahwa salah satu anggota tim kesehatan Badan Pemenangan Nasional (BPN), bernama Hermawan Saputra, mengungkapkan, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno akan memberikan solusi agar pengguna rokok di Indonesia bisa menurun. Menurut dia, yang perlu dibereskan adalah hulu masalah industri rokok, yaitu mendorong petani tembakau untuk beralih profesi di bidang lain.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya <\/a><\/h2>\n\n\n\n

\"Kita naikkan cukai pun, tapi selama budaya dan perilaku masyarakat merokok tidak berubah serta petani yang menggantungkan diri di tembakau, ya tidak akan selesai. Meskipun tidak mudah, Hermawan meyakini Prabowo-Sandiaga memiliki kemauan politik yang kuat agar pengguna rokok bisa menurun. Dia mengatakan, tim kesehatan BPN sudah membuat rencana dan merancang program kesehatan yang bisa dipaparkan Sandiaga saat debat ketiga, \"ujar Hermawan saat ditemui dalam sebuah diskusi bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" menuju debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga dilansir dari tribunnews.com<\/em> bahwa Hasbullah Thabrany  orang yang mengatasnamakan Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, mengatakan;  jika terpilih dalam Pilpres 2019<\/a>, Jokowi-Ma'ruf akan menaikkan cukai rokok untuk menurunkan angka pengguna rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHarga cukai rokok di Indonesia merupakan yang paling terendah di dunia. Ia mencontohkan, cukai rokok di Singapura mencapai 90 persen dan Thailand 84 persen. Kita targetkan di pemerintahan ke depan jika Jokowi dan Ma'ruf terpilih, cukai rokok kita naikkan di atas 57 persen,\" ujar Hasbullah saat diskusi polemik bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" jelang debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).<\/p>\n\n\n\n

Baik Hermawan Saputra  atau Hasbullah Thabrany, kedua-duanya apakah yang mereka katakan mewakili suara capres? Sepenuhnya belum diketahui lebih jelas. Kalau dicermati, keduanya adalah orang-orang antirokok yang sengaja berkata demikian. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi jika suara mereka mewakili suara capres sepenuhnya, maka ke depan bisa dipastikan menjadi bumerang bagi para capres. Akan terjadi banyak orang yang bergerak dalam bidang pertembakauan apatis terhadap pilpres pemilu 2019. Mereka merasa terciderai, tidak ada perlindungan bagi mereka. <\/p>\n\n\n\n

Fakta dilapangan demikian, tulisan ini hanya mengingatkan pada capres dan cawapres bahwa ada hak petani tembakau, petani cengkeh, buruh rokok, dan industri rokok yang harus dilindungi. Ingat, mereka semua adalah warga Negara yang baik, mandiri dalam ekonomi dan berdaulat. Mereka adalah pembayar pajak yang taat, dan telah teruji hasil uang dari mereka telah menyehatkan masyarakat Indonesia melalui pembayaran defisit BPJS.  
<\/p>\n","post_title":"Menantang Capres-Cawapres Terang-terangan Membela Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menantang-capres-cawapres-terang-terangan-membela-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-13 08:31:38","post_modified_gmt":"2019-03-13 01:31:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5539","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5553,"post_author":"877","post_date":"2019-03-18 09:27:57","post_date_gmt":"2019-03-18 02:27:57","post_content":"\n

Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai produk budaya adiluhung bangsa tak akan pernah memunculkan percikan konflik sosial. Tetapi kretek yang berkembang sebagai komoditas industri yang berorientasi kapital, tentu menyimpan potensi gesekan sosial politik. Kretek bukanlah penyulut konflik, hanya kepentingan ekonomi dan persaingan dagang yang menimbulkan kompetisi yang keras dan tajam. Sebagai produk budaya yang adiluhung, kretek justru menjadi medium pemersatu, yang mendamaikan kemajemukan budaya Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya<\/a> <\/h3>\n\n\n\n

Rokok di belahan dunia sangat berbeda dengan rokok di Indonesia. Istilah rokok kretek, adalah ramuan antara tembakau dan cengkeh. Inilah yang membedakan rokok kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang  paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income<\/em> terbesar kepada negara.
<\/p>\n\n\n\n

Benar apa yang telah dikatakan Prameodya Ananta Toer bahwa kretek merupakan bagian penting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah mengeruk pajak yang signifikan dari industri kretek dan penjualnya. Tidak diragukan lagi bahwa rokok kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi.  Jadi di snilah kita melihat bahwa kreatifitas tangan masyarakat Indonesia bisa menghasilkan produk yang berdampak besar bagi perubahan masyarakat Indonesia. Kretek sebagai hasil kreatifitas masyarakat Indonesia bukan hanya sekedar produk rokok, melainkan juga mencerminkan tradisi dan budaya Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, dari sisi historis, lahirnya rokok kretek justru dilatarbelakangi oleh aktivitas pengobatan. Kretek diciptakan dalam sejarahnya, untuk menjadi obat asma atau sesak nafas. Penemunya adalah Haji jamhari asal Kudus. Disini terlihat jelas, bahwa asal muasal kretek sebenarnya berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Kalau rokok non-kretek umumnya diciptakan untuk sekedar motif ekonomi, sedangkan rokok kretek diciptakan \u00a0justru dalam rangka mengatasi masalah kesehatan. Melalui perjalanan sejarahnya yang panjang dan kompleks, rokok kretek yang ditemukan oleh Haji Jamhari itu kini berkembang pesat dengan berbagai nama Industri dan merek. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas <\/a>
<\/h3>\n\n\n\n

Tentu saja kalau ditelisik secara lebih jauh sebelum kretek lahir, masyarakat Indonesia sudah terbiasa merokok. Aktivitas ini, warisan turun menurun, dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.  Lahirnya kretek memberikan warna lain dalam perkembangan rokok Nusantara. Dengan ramuan barunya yang berbeda dengan rokok-rokok sebelumnya, kretek kemudian menciptakan sejarah baru dalam dunia rokok di Nusantara.
<\/p>\n\n\n\n

Pola mengkonsumsi tembakau di dalam masyarakat Indonesia itu kemudian melahirkan beragam produk tembakau termasuk rokok. Menurut Hanusz  produk tembakau pribumi pertama kali muncul di pertengahan abad ke-17 dan disebut dengan bungkus<\/em>.  Bungkus <\/em>yang khas (the typical bungkus) <\/em>diisi dengan tembakau lokal yang pada tahap selanjutnya kemudian dikemas dengan kulit jagung (kelobot) dan daun pisang dan diikat dengan seutas benang.
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya pada abad ke -19, istilah bungkus <\/em>kemudian menunjukkan produk tembakau yang dibungkus di dalam klobot<\/em> atau kulit jagung. Pada perkembangan selanjutnya, istilah bungkus itu menjadi semakin tereduksi seiring dengan munculnya dua nama baru di dalam produk rokok. Nama baru tersebut adalah strootje <\/em>yang juga merupakan bahasa Belanda dan satunya lagi klobot <\/em> yang berasal dari bahasa Jawa.  Di tahun 1850-an baik strootje <\/em>maupun kelobot <\/em> yang menjadi produksi rumah tangga, tetapi di akhir abad itu, produk rokok yang dibungkus dengan kulit jagung (klobot) itu pertama kali mulai dijual di pasar.
<\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang sama, tepatnya pada tahun 1880,  masyarakat kudus kemudian mulai mencampurkan cengkeh dengan tembakau. Ini merupakan fenomena baru dalam dunia rokok. Hal yang demikian itu kemudian membuat klobot <\/em>yang berisi cengkeh dan tembakau itu dirduksi dalam skala besar. Ketika cengkeh pertama kali dicampur dengan tembakau dan dibungkus kulit jagung yang dilakukan oleh masyarakat Kudus tersebut, maka rokok itu disebut dengan rokok cengkeh. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kreatifitas masyarakat Kudus dalam mencampurkan cengkeh dan tembakau itu tergolong penemuan luar biasa. Rokok  yang bahanya cengkeh dengan tembakau itu kemudian segera dikenal dengan istilah kretek <\/em>yang merujuk pada bunyi kemretek, <\/em>saat rokok itu disulut akibat bunyi cengkeh. Ketika rokok kretek ini mulai muncul maka rokok ini hanya diperuntukkan rokok dalam memakai bahasa Belanda, strootje. <\/em>Sementara rokok klobot <\/em>saat itu dikenal dengan rokok yang tanpa cengkeh. Namun pada tahap perkembangannya hingga sekarang,  rokok klobot juga mengandung cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Sangat wajar kalau rokok kretek kemudian muncul sebagai ikon budaya Indonesia. Karena keberadaannya memang sudah mentradisi dan menyatu dengan kehidupan rakyat Indonesia. Rokok kretek sebagai bagian kultur masyarakat Indonesia ini bergerak di berbagai ranah, dari ranah sosial hingga ke ranah spiritual. Rokok kretek juga menjadi simbol budaya dan identitas Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek dalam konteks budaya Indonesia bukan hanya digunakan untuk menjalin keakraban sosial antara individu maupun kelompok, tetapi juga sebagai sarana untuk laku spiritual dan aktivitas religiusitas. Mulai dari sisi filosofis, historis dan sosial -antropologis bisa dibuktikan bahwa  rokok kretek memang beda dengan rokok-rokok konvensional, utamanya dengan rokok-rokok asing.
<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Banyaknya merek-merek kretek yang berbeda-beda, merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan kota lainnya di Indonesia. Hal ini menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung diera modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-cerminan-kedaulatan-ekonomi-dan-tradisi-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-18 09:30:24","post_modified_gmt":"2019-03-18 02:30:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5553","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5539,"post_author":"877","post_date":"2019-03-13 08:31:30","post_date_gmt":"2019-03-13 01:31:30","post_content":"\n

Baik capres-cawapres nomor urut 01 dan no urut 02, sepertinya keduanya belum pernah berstatement<\/em> dengan tegas untuk membela petani tembakau, petani cengkeh, buruh industri rokok, dan hak konsumen rokok. Setidaknya perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, perkebunan cengkeh tersebar di 30 provinsi, dan menyerap tenaga kerja dari hulu hingga hilir mencapai 6,1 juta jiwa. Selama ini, mereka hidup bergantung pada sektor pertembakauan, berupa kretek asli produk Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Karena kearifan lokal, lahan yang dimiliki petani tembakau, tidak ada tanaman yang lebih menguntungkan secara ekonomi, selain tanaman tembakau. Begitu juga yang terjadi pada petani cengkeh, mereka dapat menyekolahkan anak keperguruan tinggi, dapat membangun rumah, dapat membeli barang berharga dari hasil penjualan cengkeh. Petani tembakau dan cengkeh hidup sejahtera di saat pertaniannya berhasil. Bahkan tidak sedikit, mereka akan melakukan khajatnya setelah panen tiba. Ambil contoh, mau menikahkan atau mengkhitankan anaknya setelah panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fakta empiris tersebut, hampir dilakukan semua petani tembakau dan cengkeh. Mereka bukannya tidak menanam selain tembakau atau cengkeh, akan tetapi kedua tanaman tersebut lebih bisa menopang kebutuhan-kebutuhan yang memerlukan biaya besar. Petani tembakau, selama Desember sampai April menanam selain tembakau. Tidak sedikit petani cengkeh menanam selain cengkeh di lahan lain atau di sela-sela tanaman cengeh. Ini menunjukkan adanya tanaman tembakau dan cengkeh hasilnya lebih besar dibanding tanaman lain. Dan keduanya merupakan tanaman agung anugerah Tuhan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai buruh pabrik rokok, mereka ibu ibu rumah tangga sangat bahagia dapat membantu dan meringankan beban suami untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Mayoritas pekerja pabrik rokok kretek di Indonesia adalah wanita atau ibu rumah tangga, dan tidak ada pekerjaan lain yang bisa ia kerjakan yang bisa menghasilkan uang. Konsumen rokok dan industri rokok, adalah warga Negara yang taat akan pajak. Sebelum dinikmati, tiap batang rokok kretek yang telah dibeli sudah otomatis membayar pajak. Begitu juga, sebelum terjual, pabrik terbebani pajak dobel yang harus dibayar di muka, yaitu pungutan cukai, pungutan restribusi daerah dan talangan pajak konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Apakah keadaan ini semua dinafikan oleh Negara? Berapa besar keuntungan Negara dari hasil pajak rokok? Berapa besar manfaat uang cukai dalam menyehatkan masyarakat melalui pembayaran defisit BPJS? Kenapa para kandidat presiden tidak berani terang-terang membela sektor pertembakauan yang jelas-jelas bermanfaat bagi masyarakat kecil, bagi seluruh masyarakat bangsa dan membantu penerimaan uang kas Negara. <\/p>\n\n\n\n

Capres-Cawapres tahun 2019 ini, seakan-akan tidak memperdulikan nasib keberadaan sektor pertembakauan. Yang ada justru bertindak ikut-ikutan seperti halnya antirokok, itu pun yang berbicara adalah perwakilan dan bukan capresnya sendiri. <\/strong>Dilansir dari nasional.kompas.com<\/em>, bahwa salah satu anggota tim kesehatan Badan Pemenangan Nasional (BPN), bernama Hermawan Saputra, mengungkapkan, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno akan memberikan solusi agar pengguna rokok di Indonesia bisa menurun. Menurut dia, yang perlu dibereskan adalah hulu masalah industri rokok, yaitu mendorong petani tembakau untuk beralih profesi di bidang lain.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya <\/a><\/h2>\n\n\n\n

\"Kita naikkan cukai pun, tapi selama budaya dan perilaku masyarakat merokok tidak berubah serta petani yang menggantungkan diri di tembakau, ya tidak akan selesai. Meskipun tidak mudah, Hermawan meyakini Prabowo-Sandiaga memiliki kemauan politik yang kuat agar pengguna rokok bisa menurun. Dia mengatakan, tim kesehatan BPN sudah membuat rencana dan merancang program kesehatan yang bisa dipaparkan Sandiaga saat debat ketiga, \"ujar Hermawan saat ditemui dalam sebuah diskusi bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" menuju debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga dilansir dari tribunnews.com<\/em> bahwa Hasbullah Thabrany  orang yang mengatasnamakan Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, mengatakan;  jika terpilih dalam Pilpres 2019<\/a>, Jokowi-Ma'ruf akan menaikkan cukai rokok untuk menurunkan angka pengguna rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHarga cukai rokok di Indonesia merupakan yang paling terendah di dunia. Ia mencontohkan, cukai rokok di Singapura mencapai 90 persen dan Thailand 84 persen. Kita targetkan di pemerintahan ke depan jika Jokowi dan Ma'ruf terpilih, cukai rokok kita naikkan di atas 57 persen,\" ujar Hasbullah saat diskusi polemik bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" jelang debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).<\/p>\n\n\n\n

Baik Hermawan Saputra  atau Hasbullah Thabrany, kedua-duanya apakah yang mereka katakan mewakili suara capres? Sepenuhnya belum diketahui lebih jelas. Kalau dicermati, keduanya adalah orang-orang antirokok yang sengaja berkata demikian. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi jika suara mereka mewakili suara capres sepenuhnya, maka ke depan bisa dipastikan menjadi bumerang bagi para capres. Akan terjadi banyak orang yang bergerak dalam bidang pertembakauan apatis terhadap pilpres pemilu 2019. Mereka merasa terciderai, tidak ada perlindungan bagi mereka. <\/p>\n\n\n\n

Fakta dilapangan demikian, tulisan ini hanya mengingatkan pada capres dan cawapres bahwa ada hak petani tembakau, petani cengkeh, buruh rokok, dan industri rokok yang harus dilindungi. Ingat, mereka semua adalah warga Negara yang baik, mandiri dalam ekonomi dan berdaulat. Mereka adalah pembayar pajak yang taat, dan telah teruji hasil uang dari mereka telah menyehatkan masyarakat Indonesia melalui pembayaran defisit BPJS.  
<\/p>\n","post_title":"Menantang Capres-Cawapres Terang-terangan Membela Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menantang-capres-cawapres-terang-terangan-membela-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-13 08:31:38","post_modified_gmt":"2019-03-13 01:31:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5539","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5553,"post_author":"877","post_date":"2019-03-18 09:27:57","post_date_gmt":"2019-03-18 02:27:57","post_content":"\n

Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai produk budaya adiluhung bangsa tak akan pernah memunculkan percikan konflik sosial. Tetapi kretek yang berkembang sebagai komoditas industri yang berorientasi kapital, tentu menyimpan potensi gesekan sosial politik. Kretek bukanlah penyulut konflik, hanya kepentingan ekonomi dan persaingan dagang yang menimbulkan kompetisi yang keras dan tajam. Sebagai produk budaya yang adiluhung, kretek justru menjadi medium pemersatu, yang mendamaikan kemajemukan budaya Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya<\/a> <\/h3>\n\n\n\n

Rokok di belahan dunia sangat berbeda dengan rokok di Indonesia. Istilah rokok kretek, adalah ramuan antara tembakau dan cengkeh. Inilah yang membedakan rokok kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang  paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income<\/em> terbesar kepada negara.
<\/p>\n\n\n\n

Benar apa yang telah dikatakan Prameodya Ananta Toer bahwa kretek merupakan bagian penting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah mengeruk pajak yang signifikan dari industri kretek dan penjualnya. Tidak diragukan lagi bahwa rokok kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi.  Jadi di snilah kita melihat bahwa kreatifitas tangan masyarakat Indonesia bisa menghasilkan produk yang berdampak besar bagi perubahan masyarakat Indonesia. Kretek sebagai hasil kreatifitas masyarakat Indonesia bukan hanya sekedar produk rokok, melainkan juga mencerminkan tradisi dan budaya Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, dari sisi historis, lahirnya rokok kretek justru dilatarbelakangi oleh aktivitas pengobatan. Kretek diciptakan dalam sejarahnya, untuk menjadi obat asma atau sesak nafas. Penemunya adalah Haji jamhari asal Kudus. Disini terlihat jelas, bahwa asal muasal kretek sebenarnya berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Kalau rokok non-kretek umumnya diciptakan untuk sekedar motif ekonomi, sedangkan rokok kretek diciptakan \u00a0justru dalam rangka mengatasi masalah kesehatan. Melalui perjalanan sejarahnya yang panjang dan kompleks, rokok kretek yang ditemukan oleh Haji Jamhari itu kini berkembang pesat dengan berbagai nama Industri dan merek. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas <\/a>
<\/h3>\n\n\n\n

Tentu saja kalau ditelisik secara lebih jauh sebelum kretek lahir, masyarakat Indonesia sudah terbiasa merokok. Aktivitas ini, warisan turun menurun, dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.  Lahirnya kretek memberikan warna lain dalam perkembangan rokok Nusantara. Dengan ramuan barunya yang berbeda dengan rokok-rokok sebelumnya, kretek kemudian menciptakan sejarah baru dalam dunia rokok di Nusantara.
<\/p>\n\n\n\n

Pola mengkonsumsi tembakau di dalam masyarakat Indonesia itu kemudian melahirkan beragam produk tembakau termasuk rokok. Menurut Hanusz  produk tembakau pribumi pertama kali muncul di pertengahan abad ke-17 dan disebut dengan bungkus<\/em>.  Bungkus <\/em>yang khas (the typical bungkus) <\/em>diisi dengan tembakau lokal yang pada tahap selanjutnya kemudian dikemas dengan kulit jagung (kelobot) dan daun pisang dan diikat dengan seutas benang.
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya pada abad ke -19, istilah bungkus <\/em>kemudian menunjukkan produk tembakau yang dibungkus di dalam klobot<\/em> atau kulit jagung. Pada perkembangan selanjutnya, istilah bungkus itu menjadi semakin tereduksi seiring dengan munculnya dua nama baru di dalam produk rokok. Nama baru tersebut adalah strootje <\/em>yang juga merupakan bahasa Belanda dan satunya lagi klobot <\/em> yang berasal dari bahasa Jawa.  Di tahun 1850-an baik strootje <\/em>maupun kelobot <\/em> yang menjadi produksi rumah tangga, tetapi di akhir abad itu, produk rokok yang dibungkus dengan kulit jagung (klobot) itu pertama kali mulai dijual di pasar.
<\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang sama, tepatnya pada tahun 1880,  masyarakat kudus kemudian mulai mencampurkan cengkeh dengan tembakau. Ini merupakan fenomena baru dalam dunia rokok. Hal yang demikian itu kemudian membuat klobot <\/em>yang berisi cengkeh dan tembakau itu dirduksi dalam skala besar. Ketika cengkeh pertama kali dicampur dengan tembakau dan dibungkus kulit jagung yang dilakukan oleh masyarakat Kudus tersebut, maka rokok itu disebut dengan rokok cengkeh. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kreatifitas masyarakat Kudus dalam mencampurkan cengkeh dan tembakau itu tergolong penemuan luar biasa. Rokok  yang bahanya cengkeh dengan tembakau itu kemudian segera dikenal dengan istilah kretek <\/em>yang merujuk pada bunyi kemretek, <\/em>saat rokok itu disulut akibat bunyi cengkeh. Ketika rokok kretek ini mulai muncul maka rokok ini hanya diperuntukkan rokok dalam memakai bahasa Belanda, strootje. <\/em>Sementara rokok klobot <\/em>saat itu dikenal dengan rokok yang tanpa cengkeh. Namun pada tahap perkembangannya hingga sekarang,  rokok klobot juga mengandung cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Sangat wajar kalau rokok kretek kemudian muncul sebagai ikon budaya Indonesia. Karena keberadaannya memang sudah mentradisi dan menyatu dengan kehidupan rakyat Indonesia. Rokok kretek sebagai bagian kultur masyarakat Indonesia ini bergerak di berbagai ranah, dari ranah sosial hingga ke ranah spiritual. Rokok kretek juga menjadi simbol budaya dan identitas Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek dalam konteks budaya Indonesia bukan hanya digunakan untuk menjalin keakraban sosial antara individu maupun kelompok, tetapi juga sebagai sarana untuk laku spiritual dan aktivitas religiusitas. Mulai dari sisi filosofis, historis dan sosial -antropologis bisa dibuktikan bahwa  rokok kretek memang beda dengan rokok-rokok konvensional, utamanya dengan rokok-rokok asing.
<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Banyaknya merek-merek kretek yang berbeda-beda, merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan kota lainnya di Indonesia. Hal ini menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung diera modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-cerminan-kedaulatan-ekonomi-dan-tradisi-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-18 09:30:24","post_modified_gmt":"2019-03-18 02:30:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5553","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5539,"post_author":"877","post_date":"2019-03-13 08:31:30","post_date_gmt":"2019-03-13 01:31:30","post_content":"\n

Baik capres-cawapres nomor urut 01 dan no urut 02, sepertinya keduanya belum pernah berstatement<\/em> dengan tegas untuk membela petani tembakau, petani cengkeh, buruh industri rokok, dan hak konsumen rokok. Setidaknya perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, perkebunan cengkeh tersebar di 30 provinsi, dan menyerap tenaga kerja dari hulu hingga hilir mencapai 6,1 juta jiwa. Selama ini, mereka hidup bergantung pada sektor pertembakauan, berupa kretek asli produk Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Karena kearifan lokal, lahan yang dimiliki petani tembakau, tidak ada tanaman yang lebih menguntungkan secara ekonomi, selain tanaman tembakau. Begitu juga yang terjadi pada petani cengkeh, mereka dapat menyekolahkan anak keperguruan tinggi, dapat membangun rumah, dapat membeli barang berharga dari hasil penjualan cengkeh. Petani tembakau dan cengkeh hidup sejahtera di saat pertaniannya berhasil. Bahkan tidak sedikit, mereka akan melakukan khajatnya setelah panen tiba. Ambil contoh, mau menikahkan atau mengkhitankan anaknya setelah panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fakta empiris tersebut, hampir dilakukan semua petani tembakau dan cengkeh. Mereka bukannya tidak menanam selain tembakau atau cengkeh, akan tetapi kedua tanaman tersebut lebih bisa menopang kebutuhan-kebutuhan yang memerlukan biaya besar. Petani tembakau, selama Desember sampai April menanam selain tembakau. Tidak sedikit petani cengkeh menanam selain cengkeh di lahan lain atau di sela-sela tanaman cengeh. Ini menunjukkan adanya tanaman tembakau dan cengkeh hasilnya lebih besar dibanding tanaman lain. Dan keduanya merupakan tanaman agung anugerah Tuhan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai buruh pabrik rokok, mereka ibu ibu rumah tangga sangat bahagia dapat membantu dan meringankan beban suami untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Mayoritas pekerja pabrik rokok kretek di Indonesia adalah wanita atau ibu rumah tangga, dan tidak ada pekerjaan lain yang bisa ia kerjakan yang bisa menghasilkan uang. Konsumen rokok dan industri rokok, adalah warga Negara yang taat akan pajak. Sebelum dinikmati, tiap batang rokok kretek yang telah dibeli sudah otomatis membayar pajak. Begitu juga, sebelum terjual, pabrik terbebani pajak dobel yang harus dibayar di muka, yaitu pungutan cukai, pungutan restribusi daerah dan talangan pajak konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Apakah keadaan ini semua dinafikan oleh Negara? Berapa besar keuntungan Negara dari hasil pajak rokok? Berapa besar manfaat uang cukai dalam menyehatkan masyarakat melalui pembayaran defisit BPJS? Kenapa para kandidat presiden tidak berani terang-terang membela sektor pertembakauan yang jelas-jelas bermanfaat bagi masyarakat kecil, bagi seluruh masyarakat bangsa dan membantu penerimaan uang kas Negara. <\/p>\n\n\n\n

Capres-Cawapres tahun 2019 ini, seakan-akan tidak memperdulikan nasib keberadaan sektor pertembakauan. Yang ada justru bertindak ikut-ikutan seperti halnya antirokok, itu pun yang berbicara adalah perwakilan dan bukan capresnya sendiri. <\/strong>Dilansir dari nasional.kompas.com<\/em>, bahwa salah satu anggota tim kesehatan Badan Pemenangan Nasional (BPN), bernama Hermawan Saputra, mengungkapkan, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno akan memberikan solusi agar pengguna rokok di Indonesia bisa menurun. Menurut dia, yang perlu dibereskan adalah hulu masalah industri rokok, yaitu mendorong petani tembakau untuk beralih profesi di bidang lain.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya <\/a><\/h2>\n\n\n\n

\"Kita naikkan cukai pun, tapi selama budaya dan perilaku masyarakat merokok tidak berubah serta petani yang menggantungkan diri di tembakau, ya tidak akan selesai. Meskipun tidak mudah, Hermawan meyakini Prabowo-Sandiaga memiliki kemauan politik yang kuat agar pengguna rokok bisa menurun. Dia mengatakan, tim kesehatan BPN sudah membuat rencana dan merancang program kesehatan yang bisa dipaparkan Sandiaga saat debat ketiga, \"ujar Hermawan saat ditemui dalam sebuah diskusi bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" menuju debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga dilansir dari tribunnews.com<\/em> bahwa Hasbullah Thabrany  orang yang mengatasnamakan Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, mengatakan;  jika terpilih dalam Pilpres 2019<\/a>, Jokowi-Ma'ruf akan menaikkan cukai rokok untuk menurunkan angka pengguna rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHarga cukai rokok di Indonesia merupakan yang paling terendah di dunia. Ia mencontohkan, cukai rokok di Singapura mencapai 90 persen dan Thailand 84 persen. Kita targetkan di pemerintahan ke depan jika Jokowi dan Ma'ruf terpilih, cukai rokok kita naikkan di atas 57 persen,\" ujar Hasbullah saat diskusi polemik bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" jelang debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).<\/p>\n\n\n\n

Baik Hermawan Saputra  atau Hasbullah Thabrany, kedua-duanya apakah yang mereka katakan mewakili suara capres? Sepenuhnya belum diketahui lebih jelas. Kalau dicermati, keduanya adalah orang-orang antirokok yang sengaja berkata demikian. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi jika suara mereka mewakili suara capres sepenuhnya, maka ke depan bisa dipastikan menjadi bumerang bagi para capres. Akan terjadi banyak orang yang bergerak dalam bidang pertembakauan apatis terhadap pilpres pemilu 2019. Mereka merasa terciderai, tidak ada perlindungan bagi mereka. <\/p>\n\n\n\n

Fakta dilapangan demikian, tulisan ini hanya mengingatkan pada capres dan cawapres bahwa ada hak petani tembakau, petani cengkeh, buruh rokok, dan industri rokok yang harus dilindungi. Ingat, mereka semua adalah warga Negara yang baik, mandiri dalam ekonomi dan berdaulat. Mereka adalah pembayar pajak yang taat, dan telah teruji hasil uang dari mereka telah menyehatkan masyarakat Indonesia melalui pembayaran defisit BPJS.  
<\/p>\n","post_title":"Menantang Capres-Cawapres Terang-terangan Membela Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menantang-capres-cawapres-terang-terangan-membela-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-13 08:31:38","post_modified_gmt":"2019-03-13 01:31:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5539","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5553,"post_author":"877","post_date":"2019-03-18 09:27:57","post_date_gmt":"2019-03-18 02:27:57","post_content":"\n

Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai produk budaya adiluhung bangsa tak akan pernah memunculkan percikan konflik sosial. Tetapi kretek yang berkembang sebagai komoditas industri yang berorientasi kapital, tentu menyimpan potensi gesekan sosial politik. Kretek bukanlah penyulut konflik, hanya kepentingan ekonomi dan persaingan dagang yang menimbulkan kompetisi yang keras dan tajam. Sebagai produk budaya yang adiluhung, kretek justru menjadi medium pemersatu, yang mendamaikan kemajemukan budaya Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya<\/a> <\/h3>\n\n\n\n

Rokok di belahan dunia sangat berbeda dengan rokok di Indonesia. Istilah rokok kretek, adalah ramuan antara tembakau dan cengkeh. Inilah yang membedakan rokok kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang  paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income<\/em> terbesar kepada negara.
<\/p>\n\n\n\n

Benar apa yang telah dikatakan Prameodya Ananta Toer bahwa kretek merupakan bagian penting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah mengeruk pajak yang signifikan dari industri kretek dan penjualnya. Tidak diragukan lagi bahwa rokok kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi.  Jadi di snilah kita melihat bahwa kreatifitas tangan masyarakat Indonesia bisa menghasilkan produk yang berdampak besar bagi perubahan masyarakat Indonesia. Kretek sebagai hasil kreatifitas masyarakat Indonesia bukan hanya sekedar produk rokok, melainkan juga mencerminkan tradisi dan budaya Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, dari sisi historis, lahirnya rokok kretek justru dilatarbelakangi oleh aktivitas pengobatan. Kretek diciptakan dalam sejarahnya, untuk menjadi obat asma atau sesak nafas. Penemunya adalah Haji jamhari asal Kudus. Disini terlihat jelas, bahwa asal muasal kretek sebenarnya berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Kalau rokok non-kretek umumnya diciptakan untuk sekedar motif ekonomi, sedangkan rokok kretek diciptakan \u00a0justru dalam rangka mengatasi masalah kesehatan. Melalui perjalanan sejarahnya yang panjang dan kompleks, rokok kretek yang ditemukan oleh Haji Jamhari itu kini berkembang pesat dengan berbagai nama Industri dan merek. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas <\/a>
<\/h3>\n\n\n\n

Tentu saja kalau ditelisik secara lebih jauh sebelum kretek lahir, masyarakat Indonesia sudah terbiasa merokok. Aktivitas ini, warisan turun menurun, dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.  Lahirnya kretek memberikan warna lain dalam perkembangan rokok Nusantara. Dengan ramuan barunya yang berbeda dengan rokok-rokok sebelumnya, kretek kemudian menciptakan sejarah baru dalam dunia rokok di Nusantara.
<\/p>\n\n\n\n

Pola mengkonsumsi tembakau di dalam masyarakat Indonesia itu kemudian melahirkan beragam produk tembakau termasuk rokok. Menurut Hanusz  produk tembakau pribumi pertama kali muncul di pertengahan abad ke-17 dan disebut dengan bungkus<\/em>.  Bungkus <\/em>yang khas (the typical bungkus) <\/em>diisi dengan tembakau lokal yang pada tahap selanjutnya kemudian dikemas dengan kulit jagung (kelobot) dan daun pisang dan diikat dengan seutas benang.
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya pada abad ke -19, istilah bungkus <\/em>kemudian menunjukkan produk tembakau yang dibungkus di dalam klobot<\/em> atau kulit jagung. Pada perkembangan selanjutnya, istilah bungkus itu menjadi semakin tereduksi seiring dengan munculnya dua nama baru di dalam produk rokok. Nama baru tersebut adalah strootje <\/em>yang juga merupakan bahasa Belanda dan satunya lagi klobot <\/em> yang berasal dari bahasa Jawa.  Di tahun 1850-an baik strootje <\/em>maupun kelobot <\/em> yang menjadi produksi rumah tangga, tetapi di akhir abad itu, produk rokok yang dibungkus dengan kulit jagung (klobot) itu pertama kali mulai dijual di pasar.
<\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang sama, tepatnya pada tahun 1880,  masyarakat kudus kemudian mulai mencampurkan cengkeh dengan tembakau. Ini merupakan fenomena baru dalam dunia rokok. Hal yang demikian itu kemudian membuat klobot <\/em>yang berisi cengkeh dan tembakau itu dirduksi dalam skala besar. Ketika cengkeh pertama kali dicampur dengan tembakau dan dibungkus kulit jagung yang dilakukan oleh masyarakat Kudus tersebut, maka rokok itu disebut dengan rokok cengkeh. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kreatifitas masyarakat Kudus dalam mencampurkan cengkeh dan tembakau itu tergolong penemuan luar biasa. Rokok  yang bahanya cengkeh dengan tembakau itu kemudian segera dikenal dengan istilah kretek <\/em>yang merujuk pada bunyi kemretek, <\/em>saat rokok itu disulut akibat bunyi cengkeh. Ketika rokok kretek ini mulai muncul maka rokok ini hanya diperuntukkan rokok dalam memakai bahasa Belanda, strootje. <\/em>Sementara rokok klobot <\/em>saat itu dikenal dengan rokok yang tanpa cengkeh. Namun pada tahap perkembangannya hingga sekarang,  rokok klobot juga mengandung cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Sangat wajar kalau rokok kretek kemudian muncul sebagai ikon budaya Indonesia. Karena keberadaannya memang sudah mentradisi dan menyatu dengan kehidupan rakyat Indonesia. Rokok kretek sebagai bagian kultur masyarakat Indonesia ini bergerak di berbagai ranah, dari ranah sosial hingga ke ranah spiritual. Rokok kretek juga menjadi simbol budaya dan identitas Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek dalam konteks budaya Indonesia bukan hanya digunakan untuk menjalin keakraban sosial antara individu maupun kelompok, tetapi juga sebagai sarana untuk laku spiritual dan aktivitas religiusitas. Mulai dari sisi filosofis, historis dan sosial -antropologis bisa dibuktikan bahwa  rokok kretek memang beda dengan rokok-rokok konvensional, utamanya dengan rokok-rokok asing.
<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Banyaknya merek-merek kretek yang berbeda-beda, merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan kota lainnya di Indonesia. Hal ini menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung diera modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-cerminan-kedaulatan-ekonomi-dan-tradisi-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-18 09:30:24","post_modified_gmt":"2019-03-18 02:30:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5553","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5539,"post_author":"877","post_date":"2019-03-13 08:31:30","post_date_gmt":"2019-03-13 01:31:30","post_content":"\n

Baik capres-cawapres nomor urut 01 dan no urut 02, sepertinya keduanya belum pernah berstatement<\/em> dengan tegas untuk membela petani tembakau, petani cengkeh, buruh industri rokok, dan hak konsumen rokok. Setidaknya perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, perkebunan cengkeh tersebar di 30 provinsi, dan menyerap tenaga kerja dari hulu hingga hilir mencapai 6,1 juta jiwa. Selama ini, mereka hidup bergantung pada sektor pertembakauan, berupa kretek asli produk Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Karena kearifan lokal, lahan yang dimiliki petani tembakau, tidak ada tanaman yang lebih menguntungkan secara ekonomi, selain tanaman tembakau. Begitu juga yang terjadi pada petani cengkeh, mereka dapat menyekolahkan anak keperguruan tinggi, dapat membangun rumah, dapat membeli barang berharga dari hasil penjualan cengkeh. Petani tembakau dan cengkeh hidup sejahtera di saat pertaniannya berhasil. Bahkan tidak sedikit, mereka akan melakukan khajatnya setelah panen tiba. Ambil contoh, mau menikahkan atau mengkhitankan anaknya setelah panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fakta empiris tersebut, hampir dilakukan semua petani tembakau dan cengkeh. Mereka bukannya tidak menanam selain tembakau atau cengkeh, akan tetapi kedua tanaman tersebut lebih bisa menopang kebutuhan-kebutuhan yang memerlukan biaya besar. Petani tembakau, selama Desember sampai April menanam selain tembakau. Tidak sedikit petani cengkeh menanam selain cengkeh di lahan lain atau di sela-sela tanaman cengeh. Ini menunjukkan adanya tanaman tembakau dan cengkeh hasilnya lebih besar dibanding tanaman lain. Dan keduanya merupakan tanaman agung anugerah Tuhan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai buruh pabrik rokok, mereka ibu ibu rumah tangga sangat bahagia dapat membantu dan meringankan beban suami untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Mayoritas pekerja pabrik rokok kretek di Indonesia adalah wanita atau ibu rumah tangga, dan tidak ada pekerjaan lain yang bisa ia kerjakan yang bisa menghasilkan uang. Konsumen rokok dan industri rokok, adalah warga Negara yang taat akan pajak. Sebelum dinikmati, tiap batang rokok kretek yang telah dibeli sudah otomatis membayar pajak. Begitu juga, sebelum terjual, pabrik terbebani pajak dobel yang harus dibayar di muka, yaitu pungutan cukai, pungutan restribusi daerah dan talangan pajak konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Apakah keadaan ini semua dinafikan oleh Negara? Berapa besar keuntungan Negara dari hasil pajak rokok? Berapa besar manfaat uang cukai dalam menyehatkan masyarakat melalui pembayaran defisit BPJS? Kenapa para kandidat presiden tidak berani terang-terang membela sektor pertembakauan yang jelas-jelas bermanfaat bagi masyarakat kecil, bagi seluruh masyarakat bangsa dan membantu penerimaan uang kas Negara. <\/p>\n\n\n\n

Capres-Cawapres tahun 2019 ini, seakan-akan tidak memperdulikan nasib keberadaan sektor pertembakauan. Yang ada justru bertindak ikut-ikutan seperti halnya antirokok, itu pun yang berbicara adalah perwakilan dan bukan capresnya sendiri. <\/strong>Dilansir dari nasional.kompas.com<\/em>, bahwa salah satu anggota tim kesehatan Badan Pemenangan Nasional (BPN), bernama Hermawan Saputra, mengungkapkan, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno akan memberikan solusi agar pengguna rokok di Indonesia bisa menurun. Menurut dia, yang perlu dibereskan adalah hulu masalah industri rokok, yaitu mendorong petani tembakau untuk beralih profesi di bidang lain.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya <\/a><\/h2>\n\n\n\n

\"Kita naikkan cukai pun, tapi selama budaya dan perilaku masyarakat merokok tidak berubah serta petani yang menggantungkan diri di tembakau, ya tidak akan selesai. Meskipun tidak mudah, Hermawan meyakini Prabowo-Sandiaga memiliki kemauan politik yang kuat agar pengguna rokok bisa menurun. Dia mengatakan, tim kesehatan BPN sudah membuat rencana dan merancang program kesehatan yang bisa dipaparkan Sandiaga saat debat ketiga, \"ujar Hermawan saat ditemui dalam sebuah diskusi bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" menuju debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga dilansir dari tribunnews.com<\/em> bahwa Hasbullah Thabrany  orang yang mengatasnamakan Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, mengatakan;  jika terpilih dalam Pilpres 2019<\/a>, Jokowi-Ma'ruf akan menaikkan cukai rokok untuk menurunkan angka pengguna rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHarga cukai rokok di Indonesia merupakan yang paling terendah di dunia. Ia mencontohkan, cukai rokok di Singapura mencapai 90 persen dan Thailand 84 persen. Kita targetkan di pemerintahan ke depan jika Jokowi dan Ma'ruf terpilih, cukai rokok kita naikkan di atas 57 persen,\" ujar Hasbullah saat diskusi polemik bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" jelang debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).<\/p>\n\n\n\n

Baik Hermawan Saputra  atau Hasbullah Thabrany, kedua-duanya apakah yang mereka katakan mewakili suara capres? Sepenuhnya belum diketahui lebih jelas. Kalau dicermati, keduanya adalah orang-orang antirokok yang sengaja berkata demikian. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi jika suara mereka mewakili suara capres sepenuhnya, maka ke depan bisa dipastikan menjadi bumerang bagi para capres. Akan terjadi banyak orang yang bergerak dalam bidang pertembakauan apatis terhadap pilpres pemilu 2019. Mereka merasa terciderai, tidak ada perlindungan bagi mereka. <\/p>\n\n\n\n

Fakta dilapangan demikian, tulisan ini hanya mengingatkan pada capres dan cawapres bahwa ada hak petani tembakau, petani cengkeh, buruh rokok, dan industri rokok yang harus dilindungi. Ingat, mereka semua adalah warga Negara yang baik, mandiri dalam ekonomi dan berdaulat. Mereka adalah pembayar pajak yang taat, dan telah teruji hasil uang dari mereka telah menyehatkan masyarakat Indonesia melalui pembayaran defisit BPJS.  
<\/p>\n","post_title":"Menantang Capres-Cawapres Terang-terangan Membela Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menantang-capres-cawapres-terang-terangan-membela-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-13 08:31:38","post_modified_gmt":"2019-03-13 01:31:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5539","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5553,"post_author":"877","post_date":"2019-03-18 09:27:57","post_date_gmt":"2019-03-18 02:27:57","post_content":"\n

Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai produk budaya adiluhung bangsa tak akan pernah memunculkan percikan konflik sosial. Tetapi kretek yang berkembang sebagai komoditas industri yang berorientasi kapital, tentu menyimpan potensi gesekan sosial politik. Kretek bukanlah penyulut konflik, hanya kepentingan ekonomi dan persaingan dagang yang menimbulkan kompetisi yang keras dan tajam. Sebagai produk budaya yang adiluhung, kretek justru menjadi medium pemersatu, yang mendamaikan kemajemukan budaya Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya<\/a> <\/h3>\n\n\n\n

Rokok di belahan dunia sangat berbeda dengan rokok di Indonesia. Istilah rokok kretek, adalah ramuan antara tembakau dan cengkeh. Inilah yang membedakan rokok kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang  paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income<\/em> terbesar kepada negara.
<\/p>\n\n\n\n

Benar apa yang telah dikatakan Prameodya Ananta Toer bahwa kretek merupakan bagian penting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah mengeruk pajak yang signifikan dari industri kretek dan penjualnya. Tidak diragukan lagi bahwa rokok kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi.  Jadi di snilah kita melihat bahwa kreatifitas tangan masyarakat Indonesia bisa menghasilkan produk yang berdampak besar bagi perubahan masyarakat Indonesia. Kretek sebagai hasil kreatifitas masyarakat Indonesia bukan hanya sekedar produk rokok, melainkan juga mencerminkan tradisi dan budaya Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, dari sisi historis, lahirnya rokok kretek justru dilatarbelakangi oleh aktivitas pengobatan. Kretek diciptakan dalam sejarahnya, untuk menjadi obat asma atau sesak nafas. Penemunya adalah Haji jamhari asal Kudus. Disini terlihat jelas, bahwa asal muasal kretek sebenarnya berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Kalau rokok non-kretek umumnya diciptakan untuk sekedar motif ekonomi, sedangkan rokok kretek diciptakan \u00a0justru dalam rangka mengatasi masalah kesehatan. Melalui perjalanan sejarahnya yang panjang dan kompleks, rokok kretek yang ditemukan oleh Haji Jamhari itu kini berkembang pesat dengan berbagai nama Industri dan merek. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas <\/a>
<\/h3>\n\n\n\n

Tentu saja kalau ditelisik secara lebih jauh sebelum kretek lahir, masyarakat Indonesia sudah terbiasa merokok. Aktivitas ini, warisan turun menurun, dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.  Lahirnya kretek memberikan warna lain dalam perkembangan rokok Nusantara. Dengan ramuan barunya yang berbeda dengan rokok-rokok sebelumnya, kretek kemudian menciptakan sejarah baru dalam dunia rokok di Nusantara.
<\/p>\n\n\n\n

Pola mengkonsumsi tembakau di dalam masyarakat Indonesia itu kemudian melahirkan beragam produk tembakau termasuk rokok. Menurut Hanusz  produk tembakau pribumi pertama kali muncul di pertengahan abad ke-17 dan disebut dengan bungkus<\/em>.  Bungkus <\/em>yang khas (the typical bungkus) <\/em>diisi dengan tembakau lokal yang pada tahap selanjutnya kemudian dikemas dengan kulit jagung (kelobot) dan daun pisang dan diikat dengan seutas benang.
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya pada abad ke -19, istilah bungkus <\/em>kemudian menunjukkan produk tembakau yang dibungkus di dalam klobot<\/em> atau kulit jagung. Pada perkembangan selanjutnya, istilah bungkus itu menjadi semakin tereduksi seiring dengan munculnya dua nama baru di dalam produk rokok. Nama baru tersebut adalah strootje <\/em>yang juga merupakan bahasa Belanda dan satunya lagi klobot <\/em> yang berasal dari bahasa Jawa.  Di tahun 1850-an baik strootje <\/em>maupun kelobot <\/em> yang menjadi produksi rumah tangga, tetapi di akhir abad itu, produk rokok yang dibungkus dengan kulit jagung (klobot) itu pertama kali mulai dijual di pasar.
<\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang sama, tepatnya pada tahun 1880,  masyarakat kudus kemudian mulai mencampurkan cengkeh dengan tembakau. Ini merupakan fenomena baru dalam dunia rokok. Hal yang demikian itu kemudian membuat klobot <\/em>yang berisi cengkeh dan tembakau itu dirduksi dalam skala besar. Ketika cengkeh pertama kali dicampur dengan tembakau dan dibungkus kulit jagung yang dilakukan oleh masyarakat Kudus tersebut, maka rokok itu disebut dengan rokok cengkeh. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kreatifitas masyarakat Kudus dalam mencampurkan cengkeh dan tembakau itu tergolong penemuan luar biasa. Rokok  yang bahanya cengkeh dengan tembakau itu kemudian segera dikenal dengan istilah kretek <\/em>yang merujuk pada bunyi kemretek, <\/em>saat rokok itu disulut akibat bunyi cengkeh. Ketika rokok kretek ini mulai muncul maka rokok ini hanya diperuntukkan rokok dalam memakai bahasa Belanda, strootje. <\/em>Sementara rokok klobot <\/em>saat itu dikenal dengan rokok yang tanpa cengkeh. Namun pada tahap perkembangannya hingga sekarang,  rokok klobot juga mengandung cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Sangat wajar kalau rokok kretek kemudian muncul sebagai ikon budaya Indonesia. Karena keberadaannya memang sudah mentradisi dan menyatu dengan kehidupan rakyat Indonesia. Rokok kretek sebagai bagian kultur masyarakat Indonesia ini bergerak di berbagai ranah, dari ranah sosial hingga ke ranah spiritual. Rokok kretek juga menjadi simbol budaya dan identitas Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek dalam konteks budaya Indonesia bukan hanya digunakan untuk menjalin keakraban sosial antara individu maupun kelompok, tetapi juga sebagai sarana untuk laku spiritual dan aktivitas religiusitas. Mulai dari sisi filosofis, historis dan sosial -antropologis bisa dibuktikan bahwa  rokok kretek memang beda dengan rokok-rokok konvensional, utamanya dengan rokok-rokok asing.
<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Banyaknya merek-merek kretek yang berbeda-beda, merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan kota lainnya di Indonesia. Hal ini menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung diera modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-cerminan-kedaulatan-ekonomi-dan-tradisi-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-18 09:30:24","post_modified_gmt":"2019-03-18 02:30:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5553","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5539,"post_author":"877","post_date":"2019-03-13 08:31:30","post_date_gmt":"2019-03-13 01:31:30","post_content":"\n

Baik capres-cawapres nomor urut 01 dan no urut 02, sepertinya keduanya belum pernah berstatement<\/em> dengan tegas untuk membela petani tembakau, petani cengkeh, buruh industri rokok, dan hak konsumen rokok. Setidaknya perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, perkebunan cengkeh tersebar di 30 provinsi, dan menyerap tenaga kerja dari hulu hingga hilir mencapai 6,1 juta jiwa. Selama ini, mereka hidup bergantung pada sektor pertembakauan, berupa kretek asli produk Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Karena kearifan lokal, lahan yang dimiliki petani tembakau, tidak ada tanaman yang lebih menguntungkan secara ekonomi, selain tanaman tembakau. Begitu juga yang terjadi pada petani cengkeh, mereka dapat menyekolahkan anak keperguruan tinggi, dapat membangun rumah, dapat membeli barang berharga dari hasil penjualan cengkeh. Petani tembakau dan cengkeh hidup sejahtera di saat pertaniannya berhasil. Bahkan tidak sedikit, mereka akan melakukan khajatnya setelah panen tiba. Ambil contoh, mau menikahkan atau mengkhitankan anaknya setelah panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fakta empiris tersebut, hampir dilakukan semua petani tembakau dan cengkeh. Mereka bukannya tidak menanam selain tembakau atau cengkeh, akan tetapi kedua tanaman tersebut lebih bisa menopang kebutuhan-kebutuhan yang memerlukan biaya besar. Petani tembakau, selama Desember sampai April menanam selain tembakau. Tidak sedikit petani cengkeh menanam selain cengkeh di lahan lain atau di sela-sela tanaman cengeh. Ini menunjukkan adanya tanaman tembakau dan cengkeh hasilnya lebih besar dibanding tanaman lain. Dan keduanya merupakan tanaman agung anugerah Tuhan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai buruh pabrik rokok, mereka ibu ibu rumah tangga sangat bahagia dapat membantu dan meringankan beban suami untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Mayoritas pekerja pabrik rokok kretek di Indonesia adalah wanita atau ibu rumah tangga, dan tidak ada pekerjaan lain yang bisa ia kerjakan yang bisa menghasilkan uang. Konsumen rokok dan industri rokok, adalah warga Negara yang taat akan pajak. Sebelum dinikmati, tiap batang rokok kretek yang telah dibeli sudah otomatis membayar pajak. Begitu juga, sebelum terjual, pabrik terbebani pajak dobel yang harus dibayar di muka, yaitu pungutan cukai, pungutan restribusi daerah dan talangan pajak konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Apakah keadaan ini semua dinafikan oleh Negara? Berapa besar keuntungan Negara dari hasil pajak rokok? Berapa besar manfaat uang cukai dalam menyehatkan masyarakat melalui pembayaran defisit BPJS? Kenapa para kandidat presiden tidak berani terang-terang membela sektor pertembakauan yang jelas-jelas bermanfaat bagi masyarakat kecil, bagi seluruh masyarakat bangsa dan membantu penerimaan uang kas Negara. <\/p>\n\n\n\n

Capres-Cawapres tahun 2019 ini, seakan-akan tidak memperdulikan nasib keberadaan sektor pertembakauan. Yang ada justru bertindak ikut-ikutan seperti halnya antirokok, itu pun yang berbicara adalah perwakilan dan bukan capresnya sendiri. <\/strong>Dilansir dari nasional.kompas.com<\/em>, bahwa salah satu anggota tim kesehatan Badan Pemenangan Nasional (BPN), bernama Hermawan Saputra, mengungkapkan, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno akan memberikan solusi agar pengguna rokok di Indonesia bisa menurun. Menurut dia, yang perlu dibereskan adalah hulu masalah industri rokok, yaitu mendorong petani tembakau untuk beralih profesi di bidang lain.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya <\/a><\/h2>\n\n\n\n

\"Kita naikkan cukai pun, tapi selama budaya dan perilaku masyarakat merokok tidak berubah serta petani yang menggantungkan diri di tembakau, ya tidak akan selesai. Meskipun tidak mudah, Hermawan meyakini Prabowo-Sandiaga memiliki kemauan politik yang kuat agar pengguna rokok bisa menurun. Dia mengatakan, tim kesehatan BPN sudah membuat rencana dan merancang program kesehatan yang bisa dipaparkan Sandiaga saat debat ketiga, \"ujar Hermawan saat ditemui dalam sebuah diskusi bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" menuju debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga dilansir dari tribunnews.com<\/em> bahwa Hasbullah Thabrany  orang yang mengatasnamakan Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, mengatakan;  jika terpilih dalam Pilpres 2019<\/a>, Jokowi-Ma'ruf akan menaikkan cukai rokok untuk menurunkan angka pengguna rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHarga cukai rokok di Indonesia merupakan yang paling terendah di dunia. Ia mencontohkan, cukai rokok di Singapura mencapai 90 persen dan Thailand 84 persen. Kita targetkan di pemerintahan ke depan jika Jokowi dan Ma'ruf terpilih, cukai rokok kita naikkan di atas 57 persen,\" ujar Hasbullah saat diskusi polemik bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" jelang debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).<\/p>\n\n\n\n

Baik Hermawan Saputra  atau Hasbullah Thabrany, kedua-duanya apakah yang mereka katakan mewakili suara capres? Sepenuhnya belum diketahui lebih jelas. Kalau dicermati, keduanya adalah orang-orang antirokok yang sengaja berkata demikian. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi jika suara mereka mewakili suara capres sepenuhnya, maka ke depan bisa dipastikan menjadi bumerang bagi para capres. Akan terjadi banyak orang yang bergerak dalam bidang pertembakauan apatis terhadap pilpres pemilu 2019. Mereka merasa terciderai, tidak ada perlindungan bagi mereka. <\/p>\n\n\n\n

Fakta dilapangan demikian, tulisan ini hanya mengingatkan pada capres dan cawapres bahwa ada hak petani tembakau, petani cengkeh, buruh rokok, dan industri rokok yang harus dilindungi. Ingat, mereka semua adalah warga Negara yang baik, mandiri dalam ekonomi dan berdaulat. Mereka adalah pembayar pajak yang taat, dan telah teruji hasil uang dari mereka telah menyehatkan masyarakat Indonesia melalui pembayaran defisit BPJS.  
<\/p>\n","post_title":"Menantang Capres-Cawapres Terang-terangan Membela Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menantang-capres-cawapres-terang-terangan-membela-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-13 08:31:38","post_modified_gmt":"2019-03-13 01:31:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5539","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5553,"post_author":"877","post_date":"2019-03-18 09:27:57","post_date_gmt":"2019-03-18 02:27:57","post_content":"\n

Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai produk budaya adiluhung bangsa tak akan pernah memunculkan percikan konflik sosial. Tetapi kretek yang berkembang sebagai komoditas industri yang berorientasi kapital, tentu menyimpan potensi gesekan sosial politik. Kretek bukanlah penyulut konflik, hanya kepentingan ekonomi dan persaingan dagang yang menimbulkan kompetisi yang keras dan tajam. Sebagai produk budaya yang adiluhung, kretek justru menjadi medium pemersatu, yang mendamaikan kemajemukan budaya Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya<\/a> <\/h3>\n\n\n\n

Rokok di belahan dunia sangat berbeda dengan rokok di Indonesia. Istilah rokok kretek, adalah ramuan antara tembakau dan cengkeh. Inilah yang membedakan rokok kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang  paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income<\/em> terbesar kepada negara.
<\/p>\n\n\n\n

Benar apa yang telah dikatakan Prameodya Ananta Toer bahwa kretek merupakan bagian penting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah mengeruk pajak yang signifikan dari industri kretek dan penjualnya. Tidak diragukan lagi bahwa rokok kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi.  Jadi di snilah kita melihat bahwa kreatifitas tangan masyarakat Indonesia bisa menghasilkan produk yang berdampak besar bagi perubahan masyarakat Indonesia. Kretek sebagai hasil kreatifitas masyarakat Indonesia bukan hanya sekedar produk rokok, melainkan juga mencerminkan tradisi dan budaya Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, dari sisi historis, lahirnya rokok kretek justru dilatarbelakangi oleh aktivitas pengobatan. Kretek diciptakan dalam sejarahnya, untuk menjadi obat asma atau sesak nafas. Penemunya adalah Haji jamhari asal Kudus. Disini terlihat jelas, bahwa asal muasal kretek sebenarnya berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Kalau rokok non-kretek umumnya diciptakan untuk sekedar motif ekonomi, sedangkan rokok kretek diciptakan \u00a0justru dalam rangka mengatasi masalah kesehatan. Melalui perjalanan sejarahnya yang panjang dan kompleks, rokok kretek yang ditemukan oleh Haji Jamhari itu kini berkembang pesat dengan berbagai nama Industri dan merek. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas <\/a>
<\/h3>\n\n\n\n

Tentu saja kalau ditelisik secara lebih jauh sebelum kretek lahir, masyarakat Indonesia sudah terbiasa merokok. Aktivitas ini, warisan turun menurun, dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.  Lahirnya kretek memberikan warna lain dalam perkembangan rokok Nusantara. Dengan ramuan barunya yang berbeda dengan rokok-rokok sebelumnya, kretek kemudian menciptakan sejarah baru dalam dunia rokok di Nusantara.
<\/p>\n\n\n\n

Pola mengkonsumsi tembakau di dalam masyarakat Indonesia itu kemudian melahirkan beragam produk tembakau termasuk rokok. Menurut Hanusz  produk tembakau pribumi pertama kali muncul di pertengahan abad ke-17 dan disebut dengan bungkus<\/em>.  Bungkus <\/em>yang khas (the typical bungkus) <\/em>diisi dengan tembakau lokal yang pada tahap selanjutnya kemudian dikemas dengan kulit jagung (kelobot) dan daun pisang dan diikat dengan seutas benang.
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya pada abad ke -19, istilah bungkus <\/em>kemudian menunjukkan produk tembakau yang dibungkus di dalam klobot<\/em> atau kulit jagung. Pada perkembangan selanjutnya, istilah bungkus itu menjadi semakin tereduksi seiring dengan munculnya dua nama baru di dalam produk rokok. Nama baru tersebut adalah strootje <\/em>yang juga merupakan bahasa Belanda dan satunya lagi klobot <\/em> yang berasal dari bahasa Jawa.  Di tahun 1850-an baik strootje <\/em>maupun kelobot <\/em> yang menjadi produksi rumah tangga, tetapi di akhir abad itu, produk rokok yang dibungkus dengan kulit jagung (klobot) itu pertama kali mulai dijual di pasar.
<\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang sama, tepatnya pada tahun 1880,  masyarakat kudus kemudian mulai mencampurkan cengkeh dengan tembakau. Ini merupakan fenomena baru dalam dunia rokok. Hal yang demikian itu kemudian membuat klobot <\/em>yang berisi cengkeh dan tembakau itu dirduksi dalam skala besar. Ketika cengkeh pertama kali dicampur dengan tembakau dan dibungkus kulit jagung yang dilakukan oleh masyarakat Kudus tersebut, maka rokok itu disebut dengan rokok cengkeh. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kreatifitas masyarakat Kudus dalam mencampurkan cengkeh dan tembakau itu tergolong penemuan luar biasa. Rokok  yang bahanya cengkeh dengan tembakau itu kemudian segera dikenal dengan istilah kretek <\/em>yang merujuk pada bunyi kemretek, <\/em>saat rokok itu disulut akibat bunyi cengkeh. Ketika rokok kretek ini mulai muncul maka rokok ini hanya diperuntukkan rokok dalam memakai bahasa Belanda, strootje. <\/em>Sementara rokok klobot <\/em>saat itu dikenal dengan rokok yang tanpa cengkeh. Namun pada tahap perkembangannya hingga sekarang,  rokok klobot juga mengandung cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Sangat wajar kalau rokok kretek kemudian muncul sebagai ikon budaya Indonesia. Karena keberadaannya memang sudah mentradisi dan menyatu dengan kehidupan rakyat Indonesia. Rokok kretek sebagai bagian kultur masyarakat Indonesia ini bergerak di berbagai ranah, dari ranah sosial hingga ke ranah spiritual. Rokok kretek juga menjadi simbol budaya dan identitas Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek dalam konteks budaya Indonesia bukan hanya digunakan untuk menjalin keakraban sosial antara individu maupun kelompok, tetapi juga sebagai sarana untuk laku spiritual dan aktivitas religiusitas. Mulai dari sisi filosofis, historis dan sosial -antropologis bisa dibuktikan bahwa  rokok kretek memang beda dengan rokok-rokok konvensional, utamanya dengan rokok-rokok asing.
<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Banyaknya merek-merek kretek yang berbeda-beda, merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan kota lainnya di Indonesia. Hal ini menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung diera modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-cerminan-kedaulatan-ekonomi-dan-tradisi-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-18 09:30:24","post_modified_gmt":"2019-03-18 02:30:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5553","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5539,"post_author":"877","post_date":"2019-03-13 08:31:30","post_date_gmt":"2019-03-13 01:31:30","post_content":"\n

Baik capres-cawapres nomor urut 01 dan no urut 02, sepertinya keduanya belum pernah berstatement<\/em> dengan tegas untuk membela petani tembakau, petani cengkeh, buruh industri rokok, dan hak konsumen rokok. Setidaknya perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, perkebunan cengkeh tersebar di 30 provinsi, dan menyerap tenaga kerja dari hulu hingga hilir mencapai 6,1 juta jiwa. Selama ini, mereka hidup bergantung pada sektor pertembakauan, berupa kretek asli produk Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Karena kearifan lokal, lahan yang dimiliki petani tembakau, tidak ada tanaman yang lebih menguntungkan secara ekonomi, selain tanaman tembakau. Begitu juga yang terjadi pada petani cengkeh, mereka dapat menyekolahkan anak keperguruan tinggi, dapat membangun rumah, dapat membeli barang berharga dari hasil penjualan cengkeh. Petani tembakau dan cengkeh hidup sejahtera di saat pertaniannya berhasil. Bahkan tidak sedikit, mereka akan melakukan khajatnya setelah panen tiba. Ambil contoh, mau menikahkan atau mengkhitankan anaknya setelah panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fakta empiris tersebut, hampir dilakukan semua petani tembakau dan cengkeh. Mereka bukannya tidak menanam selain tembakau atau cengkeh, akan tetapi kedua tanaman tersebut lebih bisa menopang kebutuhan-kebutuhan yang memerlukan biaya besar. Petani tembakau, selama Desember sampai April menanam selain tembakau. Tidak sedikit petani cengkeh menanam selain cengkeh di lahan lain atau di sela-sela tanaman cengeh. Ini menunjukkan adanya tanaman tembakau dan cengkeh hasilnya lebih besar dibanding tanaman lain. Dan keduanya merupakan tanaman agung anugerah Tuhan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai buruh pabrik rokok, mereka ibu ibu rumah tangga sangat bahagia dapat membantu dan meringankan beban suami untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Mayoritas pekerja pabrik rokok kretek di Indonesia adalah wanita atau ibu rumah tangga, dan tidak ada pekerjaan lain yang bisa ia kerjakan yang bisa menghasilkan uang. Konsumen rokok dan industri rokok, adalah warga Negara yang taat akan pajak. Sebelum dinikmati, tiap batang rokok kretek yang telah dibeli sudah otomatis membayar pajak. Begitu juga, sebelum terjual, pabrik terbebani pajak dobel yang harus dibayar di muka, yaitu pungutan cukai, pungutan restribusi daerah dan talangan pajak konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Apakah keadaan ini semua dinafikan oleh Negara? Berapa besar keuntungan Negara dari hasil pajak rokok? Berapa besar manfaat uang cukai dalam menyehatkan masyarakat melalui pembayaran defisit BPJS? Kenapa para kandidat presiden tidak berani terang-terang membela sektor pertembakauan yang jelas-jelas bermanfaat bagi masyarakat kecil, bagi seluruh masyarakat bangsa dan membantu penerimaan uang kas Negara. <\/p>\n\n\n\n

Capres-Cawapres tahun 2019 ini, seakan-akan tidak memperdulikan nasib keberadaan sektor pertembakauan. Yang ada justru bertindak ikut-ikutan seperti halnya antirokok, itu pun yang berbicara adalah perwakilan dan bukan capresnya sendiri. <\/strong>Dilansir dari nasional.kompas.com<\/em>, bahwa salah satu anggota tim kesehatan Badan Pemenangan Nasional (BPN), bernama Hermawan Saputra, mengungkapkan, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno akan memberikan solusi agar pengguna rokok di Indonesia bisa menurun. Menurut dia, yang perlu dibereskan adalah hulu masalah industri rokok, yaitu mendorong petani tembakau untuk beralih profesi di bidang lain.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya <\/a><\/h2>\n\n\n\n

\"Kita naikkan cukai pun, tapi selama budaya dan perilaku masyarakat merokok tidak berubah serta petani yang menggantungkan diri di tembakau, ya tidak akan selesai. Meskipun tidak mudah, Hermawan meyakini Prabowo-Sandiaga memiliki kemauan politik yang kuat agar pengguna rokok bisa menurun. Dia mengatakan, tim kesehatan BPN sudah membuat rencana dan merancang program kesehatan yang bisa dipaparkan Sandiaga saat debat ketiga, \"ujar Hermawan saat ditemui dalam sebuah diskusi bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" menuju debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga dilansir dari tribunnews.com<\/em> bahwa Hasbullah Thabrany  orang yang mengatasnamakan Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, mengatakan;  jika terpilih dalam Pilpres 2019<\/a>, Jokowi-Ma'ruf akan menaikkan cukai rokok untuk menurunkan angka pengguna rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHarga cukai rokok di Indonesia merupakan yang paling terendah di dunia. Ia mencontohkan, cukai rokok di Singapura mencapai 90 persen dan Thailand 84 persen. Kita targetkan di pemerintahan ke depan jika Jokowi dan Ma'ruf terpilih, cukai rokok kita naikkan di atas 57 persen,\" ujar Hasbullah saat diskusi polemik bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" jelang debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).<\/p>\n\n\n\n

Baik Hermawan Saputra  atau Hasbullah Thabrany, kedua-duanya apakah yang mereka katakan mewakili suara capres? Sepenuhnya belum diketahui lebih jelas. Kalau dicermati, keduanya adalah orang-orang antirokok yang sengaja berkata demikian. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi jika suara mereka mewakili suara capres sepenuhnya, maka ke depan bisa dipastikan menjadi bumerang bagi para capres. Akan terjadi banyak orang yang bergerak dalam bidang pertembakauan apatis terhadap pilpres pemilu 2019. Mereka merasa terciderai, tidak ada perlindungan bagi mereka. <\/p>\n\n\n\n

Fakta dilapangan demikian, tulisan ini hanya mengingatkan pada capres dan cawapres bahwa ada hak petani tembakau, petani cengkeh, buruh rokok, dan industri rokok yang harus dilindungi. Ingat, mereka semua adalah warga Negara yang baik, mandiri dalam ekonomi dan berdaulat. Mereka adalah pembayar pajak yang taat, dan telah teruji hasil uang dari mereka telah menyehatkan masyarakat Indonesia melalui pembayaran defisit BPJS.  
<\/p>\n","post_title":"Menantang Capres-Cawapres Terang-terangan Membela Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menantang-capres-cawapres-terang-terangan-membela-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-13 08:31:38","post_modified_gmt":"2019-03-13 01:31:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5539","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5553,"post_author":"877","post_date":"2019-03-18 09:27:57","post_date_gmt":"2019-03-18 02:27:57","post_content":"\n

Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai produk budaya adiluhung bangsa tak akan pernah memunculkan percikan konflik sosial. Tetapi kretek yang berkembang sebagai komoditas industri yang berorientasi kapital, tentu menyimpan potensi gesekan sosial politik. Kretek bukanlah penyulut konflik, hanya kepentingan ekonomi dan persaingan dagang yang menimbulkan kompetisi yang keras dan tajam. Sebagai produk budaya yang adiluhung, kretek justru menjadi medium pemersatu, yang mendamaikan kemajemukan budaya Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya<\/a> <\/h3>\n\n\n\n

Rokok di belahan dunia sangat berbeda dengan rokok di Indonesia. Istilah rokok kretek, adalah ramuan antara tembakau dan cengkeh. Inilah yang membedakan rokok kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang  paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income<\/em> terbesar kepada negara.
<\/p>\n\n\n\n

Benar apa yang telah dikatakan Prameodya Ananta Toer bahwa kretek merupakan bagian penting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah mengeruk pajak yang signifikan dari industri kretek dan penjualnya. Tidak diragukan lagi bahwa rokok kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi.  Jadi di snilah kita melihat bahwa kreatifitas tangan masyarakat Indonesia bisa menghasilkan produk yang berdampak besar bagi perubahan masyarakat Indonesia. Kretek sebagai hasil kreatifitas masyarakat Indonesia bukan hanya sekedar produk rokok, melainkan juga mencerminkan tradisi dan budaya Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, dari sisi historis, lahirnya rokok kretek justru dilatarbelakangi oleh aktivitas pengobatan. Kretek diciptakan dalam sejarahnya, untuk menjadi obat asma atau sesak nafas. Penemunya adalah Haji jamhari asal Kudus. Disini terlihat jelas, bahwa asal muasal kretek sebenarnya berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Kalau rokok non-kretek umumnya diciptakan untuk sekedar motif ekonomi, sedangkan rokok kretek diciptakan \u00a0justru dalam rangka mengatasi masalah kesehatan. Melalui perjalanan sejarahnya yang panjang dan kompleks, rokok kretek yang ditemukan oleh Haji Jamhari itu kini berkembang pesat dengan berbagai nama Industri dan merek. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas <\/a>
<\/h3>\n\n\n\n

Tentu saja kalau ditelisik secara lebih jauh sebelum kretek lahir, masyarakat Indonesia sudah terbiasa merokok. Aktivitas ini, warisan turun menurun, dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.  Lahirnya kretek memberikan warna lain dalam perkembangan rokok Nusantara. Dengan ramuan barunya yang berbeda dengan rokok-rokok sebelumnya, kretek kemudian menciptakan sejarah baru dalam dunia rokok di Nusantara.
<\/p>\n\n\n\n

Pola mengkonsumsi tembakau di dalam masyarakat Indonesia itu kemudian melahirkan beragam produk tembakau termasuk rokok. Menurut Hanusz  produk tembakau pribumi pertama kali muncul di pertengahan abad ke-17 dan disebut dengan bungkus<\/em>.  Bungkus <\/em>yang khas (the typical bungkus) <\/em>diisi dengan tembakau lokal yang pada tahap selanjutnya kemudian dikemas dengan kulit jagung (kelobot) dan daun pisang dan diikat dengan seutas benang.
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya pada abad ke -19, istilah bungkus <\/em>kemudian menunjukkan produk tembakau yang dibungkus di dalam klobot<\/em> atau kulit jagung. Pada perkembangan selanjutnya, istilah bungkus itu menjadi semakin tereduksi seiring dengan munculnya dua nama baru di dalam produk rokok. Nama baru tersebut adalah strootje <\/em>yang juga merupakan bahasa Belanda dan satunya lagi klobot <\/em> yang berasal dari bahasa Jawa.  Di tahun 1850-an baik strootje <\/em>maupun kelobot <\/em> yang menjadi produksi rumah tangga, tetapi di akhir abad itu, produk rokok yang dibungkus dengan kulit jagung (klobot) itu pertama kali mulai dijual di pasar.
<\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang sama, tepatnya pada tahun 1880,  masyarakat kudus kemudian mulai mencampurkan cengkeh dengan tembakau. Ini merupakan fenomena baru dalam dunia rokok. Hal yang demikian itu kemudian membuat klobot <\/em>yang berisi cengkeh dan tembakau itu dirduksi dalam skala besar. Ketika cengkeh pertama kali dicampur dengan tembakau dan dibungkus kulit jagung yang dilakukan oleh masyarakat Kudus tersebut, maka rokok itu disebut dengan rokok cengkeh. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kreatifitas masyarakat Kudus dalam mencampurkan cengkeh dan tembakau itu tergolong penemuan luar biasa. Rokok  yang bahanya cengkeh dengan tembakau itu kemudian segera dikenal dengan istilah kretek <\/em>yang merujuk pada bunyi kemretek, <\/em>saat rokok itu disulut akibat bunyi cengkeh. Ketika rokok kretek ini mulai muncul maka rokok ini hanya diperuntukkan rokok dalam memakai bahasa Belanda, strootje. <\/em>Sementara rokok klobot <\/em>saat itu dikenal dengan rokok yang tanpa cengkeh. Namun pada tahap perkembangannya hingga sekarang,  rokok klobot juga mengandung cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Sangat wajar kalau rokok kretek kemudian muncul sebagai ikon budaya Indonesia. Karena keberadaannya memang sudah mentradisi dan menyatu dengan kehidupan rakyat Indonesia. Rokok kretek sebagai bagian kultur masyarakat Indonesia ini bergerak di berbagai ranah, dari ranah sosial hingga ke ranah spiritual. Rokok kretek juga menjadi simbol budaya dan identitas Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek dalam konteks budaya Indonesia bukan hanya digunakan untuk menjalin keakraban sosial antara individu maupun kelompok, tetapi juga sebagai sarana untuk laku spiritual dan aktivitas religiusitas. Mulai dari sisi filosofis, historis dan sosial -antropologis bisa dibuktikan bahwa  rokok kretek memang beda dengan rokok-rokok konvensional, utamanya dengan rokok-rokok asing.
<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Banyaknya merek-merek kretek yang berbeda-beda, merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan kota lainnya di Indonesia. Hal ini menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung diera modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-cerminan-kedaulatan-ekonomi-dan-tradisi-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-18 09:30:24","post_modified_gmt":"2019-03-18 02:30:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5553","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5539,"post_author":"877","post_date":"2019-03-13 08:31:30","post_date_gmt":"2019-03-13 01:31:30","post_content":"\n

Baik capres-cawapres nomor urut 01 dan no urut 02, sepertinya keduanya belum pernah berstatement<\/em> dengan tegas untuk membela petani tembakau, petani cengkeh, buruh industri rokok, dan hak konsumen rokok. Setidaknya perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, perkebunan cengkeh tersebar di 30 provinsi, dan menyerap tenaga kerja dari hulu hingga hilir mencapai 6,1 juta jiwa. Selama ini, mereka hidup bergantung pada sektor pertembakauan, berupa kretek asli produk Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Karena kearifan lokal, lahan yang dimiliki petani tembakau, tidak ada tanaman yang lebih menguntungkan secara ekonomi, selain tanaman tembakau. Begitu juga yang terjadi pada petani cengkeh, mereka dapat menyekolahkan anak keperguruan tinggi, dapat membangun rumah, dapat membeli barang berharga dari hasil penjualan cengkeh. Petani tembakau dan cengkeh hidup sejahtera di saat pertaniannya berhasil. Bahkan tidak sedikit, mereka akan melakukan khajatnya setelah panen tiba. Ambil contoh, mau menikahkan atau mengkhitankan anaknya setelah panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fakta empiris tersebut, hampir dilakukan semua petani tembakau dan cengkeh. Mereka bukannya tidak menanam selain tembakau atau cengkeh, akan tetapi kedua tanaman tersebut lebih bisa menopang kebutuhan-kebutuhan yang memerlukan biaya besar. Petani tembakau, selama Desember sampai April menanam selain tembakau. Tidak sedikit petani cengkeh menanam selain cengkeh di lahan lain atau di sela-sela tanaman cengeh. Ini menunjukkan adanya tanaman tembakau dan cengkeh hasilnya lebih besar dibanding tanaman lain. Dan keduanya merupakan tanaman agung anugerah Tuhan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai buruh pabrik rokok, mereka ibu ibu rumah tangga sangat bahagia dapat membantu dan meringankan beban suami untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Mayoritas pekerja pabrik rokok kretek di Indonesia adalah wanita atau ibu rumah tangga, dan tidak ada pekerjaan lain yang bisa ia kerjakan yang bisa menghasilkan uang. Konsumen rokok dan industri rokok, adalah warga Negara yang taat akan pajak. Sebelum dinikmati, tiap batang rokok kretek yang telah dibeli sudah otomatis membayar pajak. Begitu juga, sebelum terjual, pabrik terbebani pajak dobel yang harus dibayar di muka, yaitu pungutan cukai, pungutan restribusi daerah dan talangan pajak konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Apakah keadaan ini semua dinafikan oleh Negara? Berapa besar keuntungan Negara dari hasil pajak rokok? Berapa besar manfaat uang cukai dalam menyehatkan masyarakat melalui pembayaran defisit BPJS? Kenapa para kandidat presiden tidak berani terang-terang membela sektor pertembakauan yang jelas-jelas bermanfaat bagi masyarakat kecil, bagi seluruh masyarakat bangsa dan membantu penerimaan uang kas Negara. <\/p>\n\n\n\n

Capres-Cawapres tahun 2019 ini, seakan-akan tidak memperdulikan nasib keberadaan sektor pertembakauan. Yang ada justru bertindak ikut-ikutan seperti halnya antirokok, itu pun yang berbicara adalah perwakilan dan bukan capresnya sendiri. <\/strong>Dilansir dari nasional.kompas.com<\/em>, bahwa salah satu anggota tim kesehatan Badan Pemenangan Nasional (BPN), bernama Hermawan Saputra, mengungkapkan, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno akan memberikan solusi agar pengguna rokok di Indonesia bisa menurun. Menurut dia, yang perlu dibereskan adalah hulu masalah industri rokok, yaitu mendorong petani tembakau untuk beralih profesi di bidang lain.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya <\/a><\/h2>\n\n\n\n

\"Kita naikkan cukai pun, tapi selama budaya dan perilaku masyarakat merokok tidak berubah serta petani yang menggantungkan diri di tembakau, ya tidak akan selesai. Meskipun tidak mudah, Hermawan meyakini Prabowo-Sandiaga memiliki kemauan politik yang kuat agar pengguna rokok bisa menurun. Dia mengatakan, tim kesehatan BPN sudah membuat rencana dan merancang program kesehatan yang bisa dipaparkan Sandiaga saat debat ketiga, \"ujar Hermawan saat ditemui dalam sebuah diskusi bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" menuju debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga dilansir dari tribunnews.com<\/em> bahwa Hasbullah Thabrany  orang yang mengatasnamakan Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, mengatakan;  jika terpilih dalam Pilpres 2019<\/a>, Jokowi-Ma'ruf akan menaikkan cukai rokok untuk menurunkan angka pengguna rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHarga cukai rokok di Indonesia merupakan yang paling terendah di dunia. Ia mencontohkan, cukai rokok di Singapura mencapai 90 persen dan Thailand 84 persen. Kita targetkan di pemerintahan ke depan jika Jokowi dan Ma'ruf terpilih, cukai rokok kita naikkan di atas 57 persen,\" ujar Hasbullah saat diskusi polemik bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" jelang debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).<\/p>\n\n\n\n

Baik Hermawan Saputra  atau Hasbullah Thabrany, kedua-duanya apakah yang mereka katakan mewakili suara capres? Sepenuhnya belum diketahui lebih jelas. Kalau dicermati, keduanya adalah orang-orang antirokok yang sengaja berkata demikian. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi jika suara mereka mewakili suara capres sepenuhnya, maka ke depan bisa dipastikan menjadi bumerang bagi para capres. Akan terjadi banyak orang yang bergerak dalam bidang pertembakauan apatis terhadap pilpres pemilu 2019. Mereka merasa terciderai, tidak ada perlindungan bagi mereka. <\/p>\n\n\n\n

Fakta dilapangan demikian, tulisan ini hanya mengingatkan pada capres dan cawapres bahwa ada hak petani tembakau, petani cengkeh, buruh rokok, dan industri rokok yang harus dilindungi. Ingat, mereka semua adalah warga Negara yang baik, mandiri dalam ekonomi dan berdaulat. Mereka adalah pembayar pajak yang taat, dan telah teruji hasil uang dari mereka telah menyehatkan masyarakat Indonesia melalui pembayaran defisit BPJS.  
<\/p>\n","post_title":"Menantang Capres-Cawapres Terang-terangan Membela Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menantang-capres-cawapres-terang-terangan-membela-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-13 08:31:38","post_modified_gmt":"2019-03-13 01:31:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5539","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5553,"post_author":"877","post_date":"2019-03-18 09:27:57","post_date_gmt":"2019-03-18 02:27:57","post_content":"\n

Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai produk budaya adiluhung bangsa tak akan pernah memunculkan percikan konflik sosial. Tetapi kretek yang berkembang sebagai komoditas industri yang berorientasi kapital, tentu menyimpan potensi gesekan sosial politik. Kretek bukanlah penyulut konflik, hanya kepentingan ekonomi dan persaingan dagang yang menimbulkan kompetisi yang keras dan tajam. Sebagai produk budaya yang adiluhung, kretek justru menjadi medium pemersatu, yang mendamaikan kemajemukan budaya Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya<\/a> <\/h3>\n\n\n\n

Rokok di belahan dunia sangat berbeda dengan rokok di Indonesia. Istilah rokok kretek, adalah ramuan antara tembakau dan cengkeh. Inilah yang membedakan rokok kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang  paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income<\/em> terbesar kepada negara.
<\/p>\n\n\n\n

Benar apa yang telah dikatakan Prameodya Ananta Toer bahwa kretek merupakan bagian penting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah mengeruk pajak yang signifikan dari industri kretek dan penjualnya. Tidak diragukan lagi bahwa rokok kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi.  Jadi di snilah kita melihat bahwa kreatifitas tangan masyarakat Indonesia bisa menghasilkan produk yang berdampak besar bagi perubahan masyarakat Indonesia. Kretek sebagai hasil kreatifitas masyarakat Indonesia bukan hanya sekedar produk rokok, melainkan juga mencerminkan tradisi dan budaya Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, dari sisi historis, lahirnya rokok kretek justru dilatarbelakangi oleh aktivitas pengobatan. Kretek diciptakan dalam sejarahnya, untuk menjadi obat asma atau sesak nafas. Penemunya adalah Haji jamhari asal Kudus. Disini terlihat jelas, bahwa asal muasal kretek sebenarnya berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Kalau rokok non-kretek umumnya diciptakan untuk sekedar motif ekonomi, sedangkan rokok kretek diciptakan \u00a0justru dalam rangka mengatasi masalah kesehatan. Melalui perjalanan sejarahnya yang panjang dan kompleks, rokok kretek yang ditemukan oleh Haji Jamhari itu kini berkembang pesat dengan berbagai nama Industri dan merek. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas <\/a>
<\/h3>\n\n\n\n

Tentu saja kalau ditelisik secara lebih jauh sebelum kretek lahir, masyarakat Indonesia sudah terbiasa merokok. Aktivitas ini, warisan turun menurun, dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.  Lahirnya kretek memberikan warna lain dalam perkembangan rokok Nusantara. Dengan ramuan barunya yang berbeda dengan rokok-rokok sebelumnya, kretek kemudian menciptakan sejarah baru dalam dunia rokok di Nusantara.
<\/p>\n\n\n\n

Pola mengkonsumsi tembakau di dalam masyarakat Indonesia itu kemudian melahirkan beragam produk tembakau termasuk rokok. Menurut Hanusz  produk tembakau pribumi pertama kali muncul di pertengahan abad ke-17 dan disebut dengan bungkus<\/em>.  Bungkus <\/em>yang khas (the typical bungkus) <\/em>diisi dengan tembakau lokal yang pada tahap selanjutnya kemudian dikemas dengan kulit jagung (kelobot) dan daun pisang dan diikat dengan seutas benang.
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya pada abad ke -19, istilah bungkus <\/em>kemudian menunjukkan produk tembakau yang dibungkus di dalam klobot<\/em> atau kulit jagung. Pada perkembangan selanjutnya, istilah bungkus itu menjadi semakin tereduksi seiring dengan munculnya dua nama baru di dalam produk rokok. Nama baru tersebut adalah strootje <\/em>yang juga merupakan bahasa Belanda dan satunya lagi klobot <\/em> yang berasal dari bahasa Jawa.  Di tahun 1850-an baik strootje <\/em>maupun kelobot <\/em> yang menjadi produksi rumah tangga, tetapi di akhir abad itu, produk rokok yang dibungkus dengan kulit jagung (klobot) itu pertama kali mulai dijual di pasar.
<\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang sama, tepatnya pada tahun 1880,  masyarakat kudus kemudian mulai mencampurkan cengkeh dengan tembakau. Ini merupakan fenomena baru dalam dunia rokok. Hal yang demikian itu kemudian membuat klobot <\/em>yang berisi cengkeh dan tembakau itu dirduksi dalam skala besar. Ketika cengkeh pertama kali dicampur dengan tembakau dan dibungkus kulit jagung yang dilakukan oleh masyarakat Kudus tersebut, maka rokok itu disebut dengan rokok cengkeh. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kreatifitas masyarakat Kudus dalam mencampurkan cengkeh dan tembakau itu tergolong penemuan luar biasa. Rokok  yang bahanya cengkeh dengan tembakau itu kemudian segera dikenal dengan istilah kretek <\/em>yang merujuk pada bunyi kemretek, <\/em>saat rokok itu disulut akibat bunyi cengkeh. Ketika rokok kretek ini mulai muncul maka rokok ini hanya diperuntukkan rokok dalam memakai bahasa Belanda, strootje. <\/em>Sementara rokok klobot <\/em>saat itu dikenal dengan rokok yang tanpa cengkeh. Namun pada tahap perkembangannya hingga sekarang,  rokok klobot juga mengandung cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Sangat wajar kalau rokok kretek kemudian muncul sebagai ikon budaya Indonesia. Karena keberadaannya memang sudah mentradisi dan menyatu dengan kehidupan rakyat Indonesia. Rokok kretek sebagai bagian kultur masyarakat Indonesia ini bergerak di berbagai ranah, dari ranah sosial hingga ke ranah spiritual. Rokok kretek juga menjadi simbol budaya dan identitas Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek dalam konteks budaya Indonesia bukan hanya digunakan untuk menjalin keakraban sosial antara individu maupun kelompok, tetapi juga sebagai sarana untuk laku spiritual dan aktivitas religiusitas. Mulai dari sisi filosofis, historis dan sosial -antropologis bisa dibuktikan bahwa  rokok kretek memang beda dengan rokok-rokok konvensional, utamanya dengan rokok-rokok asing.
<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Banyaknya merek-merek kretek yang berbeda-beda, merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan kota lainnya di Indonesia. Hal ini menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung diera modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-cerminan-kedaulatan-ekonomi-dan-tradisi-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-18 09:30:24","post_modified_gmt":"2019-03-18 02:30:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5553","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5539,"post_author":"877","post_date":"2019-03-13 08:31:30","post_date_gmt":"2019-03-13 01:31:30","post_content":"\n

Baik capres-cawapres nomor urut 01 dan no urut 02, sepertinya keduanya belum pernah berstatement<\/em> dengan tegas untuk membela petani tembakau, petani cengkeh, buruh industri rokok, dan hak konsumen rokok. Setidaknya perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, perkebunan cengkeh tersebar di 30 provinsi, dan menyerap tenaga kerja dari hulu hingga hilir mencapai 6,1 juta jiwa. Selama ini, mereka hidup bergantung pada sektor pertembakauan, berupa kretek asli produk Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Karena kearifan lokal, lahan yang dimiliki petani tembakau, tidak ada tanaman yang lebih menguntungkan secara ekonomi, selain tanaman tembakau. Begitu juga yang terjadi pada petani cengkeh, mereka dapat menyekolahkan anak keperguruan tinggi, dapat membangun rumah, dapat membeli barang berharga dari hasil penjualan cengkeh. Petani tembakau dan cengkeh hidup sejahtera di saat pertaniannya berhasil. Bahkan tidak sedikit, mereka akan melakukan khajatnya setelah panen tiba. Ambil contoh, mau menikahkan atau mengkhitankan anaknya setelah panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fakta empiris tersebut, hampir dilakukan semua petani tembakau dan cengkeh. Mereka bukannya tidak menanam selain tembakau atau cengkeh, akan tetapi kedua tanaman tersebut lebih bisa menopang kebutuhan-kebutuhan yang memerlukan biaya besar. Petani tembakau, selama Desember sampai April menanam selain tembakau. Tidak sedikit petani cengkeh menanam selain cengkeh di lahan lain atau di sela-sela tanaman cengeh. Ini menunjukkan adanya tanaman tembakau dan cengkeh hasilnya lebih besar dibanding tanaman lain. Dan keduanya merupakan tanaman agung anugerah Tuhan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai buruh pabrik rokok, mereka ibu ibu rumah tangga sangat bahagia dapat membantu dan meringankan beban suami untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Mayoritas pekerja pabrik rokok kretek di Indonesia adalah wanita atau ibu rumah tangga, dan tidak ada pekerjaan lain yang bisa ia kerjakan yang bisa menghasilkan uang. Konsumen rokok dan industri rokok, adalah warga Negara yang taat akan pajak. Sebelum dinikmati, tiap batang rokok kretek yang telah dibeli sudah otomatis membayar pajak. Begitu juga, sebelum terjual, pabrik terbebani pajak dobel yang harus dibayar di muka, yaitu pungutan cukai, pungutan restribusi daerah dan talangan pajak konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Apakah keadaan ini semua dinafikan oleh Negara? Berapa besar keuntungan Negara dari hasil pajak rokok? Berapa besar manfaat uang cukai dalam menyehatkan masyarakat melalui pembayaran defisit BPJS? Kenapa para kandidat presiden tidak berani terang-terang membela sektor pertembakauan yang jelas-jelas bermanfaat bagi masyarakat kecil, bagi seluruh masyarakat bangsa dan membantu penerimaan uang kas Negara. <\/p>\n\n\n\n

Capres-Cawapres tahun 2019 ini, seakan-akan tidak memperdulikan nasib keberadaan sektor pertembakauan. Yang ada justru bertindak ikut-ikutan seperti halnya antirokok, itu pun yang berbicara adalah perwakilan dan bukan capresnya sendiri. <\/strong>Dilansir dari nasional.kompas.com<\/em>, bahwa salah satu anggota tim kesehatan Badan Pemenangan Nasional (BPN), bernama Hermawan Saputra, mengungkapkan, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno akan memberikan solusi agar pengguna rokok di Indonesia bisa menurun. Menurut dia, yang perlu dibereskan adalah hulu masalah industri rokok, yaitu mendorong petani tembakau untuk beralih profesi di bidang lain.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya <\/a><\/h2>\n\n\n\n

\"Kita naikkan cukai pun, tapi selama budaya dan perilaku masyarakat merokok tidak berubah serta petani yang menggantungkan diri di tembakau, ya tidak akan selesai. Meskipun tidak mudah, Hermawan meyakini Prabowo-Sandiaga memiliki kemauan politik yang kuat agar pengguna rokok bisa menurun. Dia mengatakan, tim kesehatan BPN sudah membuat rencana dan merancang program kesehatan yang bisa dipaparkan Sandiaga saat debat ketiga, \"ujar Hermawan saat ditemui dalam sebuah diskusi bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" menuju debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga dilansir dari tribunnews.com<\/em> bahwa Hasbullah Thabrany  orang yang mengatasnamakan Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, mengatakan;  jika terpilih dalam Pilpres 2019<\/a>, Jokowi-Ma'ruf akan menaikkan cukai rokok untuk menurunkan angka pengguna rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHarga cukai rokok di Indonesia merupakan yang paling terendah di dunia. Ia mencontohkan, cukai rokok di Singapura mencapai 90 persen dan Thailand 84 persen. Kita targetkan di pemerintahan ke depan jika Jokowi dan Ma'ruf terpilih, cukai rokok kita naikkan di atas 57 persen,\" ujar Hasbullah saat diskusi polemik bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" jelang debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).<\/p>\n\n\n\n

Baik Hermawan Saputra  atau Hasbullah Thabrany, kedua-duanya apakah yang mereka katakan mewakili suara capres? Sepenuhnya belum diketahui lebih jelas. Kalau dicermati, keduanya adalah orang-orang antirokok yang sengaja berkata demikian. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi jika suara mereka mewakili suara capres sepenuhnya, maka ke depan bisa dipastikan menjadi bumerang bagi para capres. Akan terjadi banyak orang yang bergerak dalam bidang pertembakauan apatis terhadap pilpres pemilu 2019. Mereka merasa terciderai, tidak ada perlindungan bagi mereka. <\/p>\n\n\n\n

Fakta dilapangan demikian, tulisan ini hanya mengingatkan pada capres dan cawapres bahwa ada hak petani tembakau, petani cengkeh, buruh rokok, dan industri rokok yang harus dilindungi. Ingat, mereka semua adalah warga Negara yang baik, mandiri dalam ekonomi dan berdaulat. Mereka adalah pembayar pajak yang taat, dan telah teruji hasil uang dari mereka telah menyehatkan masyarakat Indonesia melalui pembayaran defisit BPJS.  
<\/p>\n","post_title":"Menantang Capres-Cawapres Terang-terangan Membela Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menantang-capres-cawapres-terang-terangan-membela-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-13 08:31:38","post_modified_gmt":"2019-03-13 01:31:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5539","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5553,"post_author":"877","post_date":"2019-03-18 09:27:57","post_date_gmt":"2019-03-18 02:27:57","post_content":"\n

Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai produk budaya adiluhung bangsa tak akan pernah memunculkan percikan konflik sosial. Tetapi kretek yang berkembang sebagai komoditas industri yang berorientasi kapital, tentu menyimpan potensi gesekan sosial politik. Kretek bukanlah penyulut konflik, hanya kepentingan ekonomi dan persaingan dagang yang menimbulkan kompetisi yang keras dan tajam. Sebagai produk budaya yang adiluhung, kretek justru menjadi medium pemersatu, yang mendamaikan kemajemukan budaya Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya<\/a> <\/h3>\n\n\n\n

Rokok di belahan dunia sangat berbeda dengan rokok di Indonesia. Istilah rokok kretek, adalah ramuan antara tembakau dan cengkeh. Inilah yang membedakan rokok kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang  paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income<\/em> terbesar kepada negara.
<\/p>\n\n\n\n

Benar apa yang telah dikatakan Prameodya Ananta Toer bahwa kretek merupakan bagian penting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah mengeruk pajak yang signifikan dari industri kretek dan penjualnya. Tidak diragukan lagi bahwa rokok kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi.  Jadi di snilah kita melihat bahwa kreatifitas tangan masyarakat Indonesia bisa menghasilkan produk yang berdampak besar bagi perubahan masyarakat Indonesia. Kretek sebagai hasil kreatifitas masyarakat Indonesia bukan hanya sekedar produk rokok, melainkan juga mencerminkan tradisi dan budaya Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, dari sisi historis, lahirnya rokok kretek justru dilatarbelakangi oleh aktivitas pengobatan. Kretek diciptakan dalam sejarahnya, untuk menjadi obat asma atau sesak nafas. Penemunya adalah Haji jamhari asal Kudus. Disini terlihat jelas, bahwa asal muasal kretek sebenarnya berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Kalau rokok non-kretek umumnya diciptakan untuk sekedar motif ekonomi, sedangkan rokok kretek diciptakan \u00a0justru dalam rangka mengatasi masalah kesehatan. Melalui perjalanan sejarahnya yang panjang dan kompleks, rokok kretek yang ditemukan oleh Haji Jamhari itu kini berkembang pesat dengan berbagai nama Industri dan merek. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas <\/a>
<\/h3>\n\n\n\n

Tentu saja kalau ditelisik secara lebih jauh sebelum kretek lahir, masyarakat Indonesia sudah terbiasa merokok. Aktivitas ini, warisan turun menurun, dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.  Lahirnya kretek memberikan warna lain dalam perkembangan rokok Nusantara. Dengan ramuan barunya yang berbeda dengan rokok-rokok sebelumnya, kretek kemudian menciptakan sejarah baru dalam dunia rokok di Nusantara.
<\/p>\n\n\n\n

Pola mengkonsumsi tembakau di dalam masyarakat Indonesia itu kemudian melahirkan beragam produk tembakau termasuk rokok. Menurut Hanusz  produk tembakau pribumi pertama kali muncul di pertengahan abad ke-17 dan disebut dengan bungkus<\/em>.  Bungkus <\/em>yang khas (the typical bungkus) <\/em>diisi dengan tembakau lokal yang pada tahap selanjutnya kemudian dikemas dengan kulit jagung (kelobot) dan daun pisang dan diikat dengan seutas benang.
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya pada abad ke -19, istilah bungkus <\/em>kemudian menunjukkan produk tembakau yang dibungkus di dalam klobot<\/em> atau kulit jagung. Pada perkembangan selanjutnya, istilah bungkus itu menjadi semakin tereduksi seiring dengan munculnya dua nama baru di dalam produk rokok. Nama baru tersebut adalah strootje <\/em>yang juga merupakan bahasa Belanda dan satunya lagi klobot <\/em> yang berasal dari bahasa Jawa.  Di tahun 1850-an baik strootje <\/em>maupun kelobot <\/em> yang menjadi produksi rumah tangga, tetapi di akhir abad itu, produk rokok yang dibungkus dengan kulit jagung (klobot) itu pertama kali mulai dijual di pasar.
<\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang sama, tepatnya pada tahun 1880,  masyarakat kudus kemudian mulai mencampurkan cengkeh dengan tembakau. Ini merupakan fenomena baru dalam dunia rokok. Hal yang demikian itu kemudian membuat klobot <\/em>yang berisi cengkeh dan tembakau itu dirduksi dalam skala besar. Ketika cengkeh pertama kali dicampur dengan tembakau dan dibungkus kulit jagung yang dilakukan oleh masyarakat Kudus tersebut, maka rokok itu disebut dengan rokok cengkeh. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kreatifitas masyarakat Kudus dalam mencampurkan cengkeh dan tembakau itu tergolong penemuan luar biasa. Rokok  yang bahanya cengkeh dengan tembakau itu kemudian segera dikenal dengan istilah kretek <\/em>yang merujuk pada bunyi kemretek, <\/em>saat rokok itu disulut akibat bunyi cengkeh. Ketika rokok kretek ini mulai muncul maka rokok ini hanya diperuntukkan rokok dalam memakai bahasa Belanda, strootje. <\/em>Sementara rokok klobot <\/em>saat itu dikenal dengan rokok yang tanpa cengkeh. Namun pada tahap perkembangannya hingga sekarang,  rokok klobot juga mengandung cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Sangat wajar kalau rokok kretek kemudian muncul sebagai ikon budaya Indonesia. Karena keberadaannya memang sudah mentradisi dan menyatu dengan kehidupan rakyat Indonesia. Rokok kretek sebagai bagian kultur masyarakat Indonesia ini bergerak di berbagai ranah, dari ranah sosial hingga ke ranah spiritual. Rokok kretek juga menjadi simbol budaya dan identitas Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek dalam konteks budaya Indonesia bukan hanya digunakan untuk menjalin keakraban sosial antara individu maupun kelompok, tetapi juga sebagai sarana untuk laku spiritual dan aktivitas religiusitas. Mulai dari sisi filosofis, historis dan sosial -antropologis bisa dibuktikan bahwa  rokok kretek memang beda dengan rokok-rokok konvensional, utamanya dengan rokok-rokok asing.
<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Banyaknya merek-merek kretek yang berbeda-beda, merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan kota lainnya di Indonesia. Hal ini menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung diera modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-cerminan-kedaulatan-ekonomi-dan-tradisi-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-18 09:30:24","post_modified_gmt":"2019-03-18 02:30:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5553","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5539,"post_author":"877","post_date":"2019-03-13 08:31:30","post_date_gmt":"2019-03-13 01:31:30","post_content":"\n

Baik capres-cawapres nomor urut 01 dan no urut 02, sepertinya keduanya belum pernah berstatement<\/em> dengan tegas untuk membela petani tembakau, petani cengkeh, buruh industri rokok, dan hak konsumen rokok. Setidaknya perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, perkebunan cengkeh tersebar di 30 provinsi, dan menyerap tenaga kerja dari hulu hingga hilir mencapai 6,1 juta jiwa. Selama ini, mereka hidup bergantung pada sektor pertembakauan, berupa kretek asli produk Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Karena kearifan lokal, lahan yang dimiliki petani tembakau, tidak ada tanaman yang lebih menguntungkan secara ekonomi, selain tanaman tembakau. Begitu juga yang terjadi pada petani cengkeh, mereka dapat menyekolahkan anak keperguruan tinggi, dapat membangun rumah, dapat membeli barang berharga dari hasil penjualan cengkeh. Petani tembakau dan cengkeh hidup sejahtera di saat pertaniannya berhasil. Bahkan tidak sedikit, mereka akan melakukan khajatnya setelah panen tiba. Ambil contoh, mau menikahkan atau mengkhitankan anaknya setelah panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fakta empiris tersebut, hampir dilakukan semua petani tembakau dan cengkeh. Mereka bukannya tidak menanam selain tembakau atau cengkeh, akan tetapi kedua tanaman tersebut lebih bisa menopang kebutuhan-kebutuhan yang memerlukan biaya besar. Petani tembakau, selama Desember sampai April menanam selain tembakau. Tidak sedikit petani cengkeh menanam selain cengkeh di lahan lain atau di sela-sela tanaman cengeh. Ini menunjukkan adanya tanaman tembakau dan cengkeh hasilnya lebih besar dibanding tanaman lain. Dan keduanya merupakan tanaman agung anugerah Tuhan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai buruh pabrik rokok, mereka ibu ibu rumah tangga sangat bahagia dapat membantu dan meringankan beban suami untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Mayoritas pekerja pabrik rokok kretek di Indonesia adalah wanita atau ibu rumah tangga, dan tidak ada pekerjaan lain yang bisa ia kerjakan yang bisa menghasilkan uang. Konsumen rokok dan industri rokok, adalah warga Negara yang taat akan pajak. Sebelum dinikmati, tiap batang rokok kretek yang telah dibeli sudah otomatis membayar pajak. Begitu juga, sebelum terjual, pabrik terbebani pajak dobel yang harus dibayar di muka, yaitu pungutan cukai, pungutan restribusi daerah dan talangan pajak konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Apakah keadaan ini semua dinafikan oleh Negara? Berapa besar keuntungan Negara dari hasil pajak rokok? Berapa besar manfaat uang cukai dalam menyehatkan masyarakat melalui pembayaran defisit BPJS? Kenapa para kandidat presiden tidak berani terang-terang membela sektor pertembakauan yang jelas-jelas bermanfaat bagi masyarakat kecil, bagi seluruh masyarakat bangsa dan membantu penerimaan uang kas Negara. <\/p>\n\n\n\n

Capres-Cawapres tahun 2019 ini, seakan-akan tidak memperdulikan nasib keberadaan sektor pertembakauan. Yang ada justru bertindak ikut-ikutan seperti halnya antirokok, itu pun yang berbicara adalah perwakilan dan bukan capresnya sendiri. <\/strong>Dilansir dari nasional.kompas.com<\/em>, bahwa salah satu anggota tim kesehatan Badan Pemenangan Nasional (BPN), bernama Hermawan Saputra, mengungkapkan, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno akan memberikan solusi agar pengguna rokok di Indonesia bisa menurun. Menurut dia, yang perlu dibereskan adalah hulu masalah industri rokok, yaitu mendorong petani tembakau untuk beralih profesi di bidang lain.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya <\/a><\/h2>\n\n\n\n

\"Kita naikkan cukai pun, tapi selama budaya dan perilaku masyarakat merokok tidak berubah serta petani yang menggantungkan diri di tembakau, ya tidak akan selesai. Meskipun tidak mudah, Hermawan meyakini Prabowo-Sandiaga memiliki kemauan politik yang kuat agar pengguna rokok bisa menurun. Dia mengatakan, tim kesehatan BPN sudah membuat rencana dan merancang program kesehatan yang bisa dipaparkan Sandiaga saat debat ketiga, \"ujar Hermawan saat ditemui dalam sebuah diskusi bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" menuju debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga dilansir dari tribunnews.com<\/em> bahwa Hasbullah Thabrany  orang yang mengatasnamakan Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, mengatakan;  jika terpilih dalam Pilpres 2019<\/a>, Jokowi-Ma'ruf akan menaikkan cukai rokok untuk menurunkan angka pengguna rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHarga cukai rokok di Indonesia merupakan yang paling terendah di dunia. Ia mencontohkan, cukai rokok di Singapura mencapai 90 persen dan Thailand 84 persen. Kita targetkan di pemerintahan ke depan jika Jokowi dan Ma'ruf terpilih, cukai rokok kita naikkan di atas 57 persen,\" ujar Hasbullah saat diskusi polemik bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" jelang debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).<\/p>\n\n\n\n

Baik Hermawan Saputra  atau Hasbullah Thabrany, kedua-duanya apakah yang mereka katakan mewakili suara capres? Sepenuhnya belum diketahui lebih jelas. Kalau dicermati, keduanya adalah orang-orang antirokok yang sengaja berkata demikian. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi jika suara mereka mewakili suara capres sepenuhnya, maka ke depan bisa dipastikan menjadi bumerang bagi para capres. Akan terjadi banyak orang yang bergerak dalam bidang pertembakauan apatis terhadap pilpres pemilu 2019. Mereka merasa terciderai, tidak ada perlindungan bagi mereka. <\/p>\n\n\n\n

Fakta dilapangan demikian, tulisan ini hanya mengingatkan pada capres dan cawapres bahwa ada hak petani tembakau, petani cengkeh, buruh rokok, dan industri rokok yang harus dilindungi. Ingat, mereka semua adalah warga Negara yang baik, mandiri dalam ekonomi dan berdaulat. Mereka adalah pembayar pajak yang taat, dan telah teruji hasil uang dari mereka telah menyehatkan masyarakat Indonesia melalui pembayaran defisit BPJS.  
<\/p>\n","post_title":"Menantang Capres-Cawapres Terang-terangan Membela Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menantang-capres-cawapres-terang-terangan-membela-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-13 08:31:38","post_modified_gmt":"2019-03-13 01:31:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5539","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5553,"post_author":"877","post_date":"2019-03-18 09:27:57","post_date_gmt":"2019-03-18 02:27:57","post_content":"\n

Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai produk budaya adiluhung bangsa tak akan pernah memunculkan percikan konflik sosial. Tetapi kretek yang berkembang sebagai komoditas industri yang berorientasi kapital, tentu menyimpan potensi gesekan sosial politik. Kretek bukanlah penyulut konflik, hanya kepentingan ekonomi dan persaingan dagang yang menimbulkan kompetisi yang keras dan tajam. Sebagai produk budaya yang adiluhung, kretek justru menjadi medium pemersatu, yang mendamaikan kemajemukan budaya Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya<\/a> <\/h3>\n\n\n\n

Rokok di belahan dunia sangat berbeda dengan rokok di Indonesia. Istilah rokok kretek, adalah ramuan antara tembakau dan cengkeh. Inilah yang membedakan rokok kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang  paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income<\/em> terbesar kepada negara.
<\/p>\n\n\n\n

Benar apa yang telah dikatakan Prameodya Ananta Toer bahwa kretek merupakan bagian penting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah mengeruk pajak yang signifikan dari industri kretek dan penjualnya. Tidak diragukan lagi bahwa rokok kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi.  Jadi di snilah kita melihat bahwa kreatifitas tangan masyarakat Indonesia bisa menghasilkan produk yang berdampak besar bagi perubahan masyarakat Indonesia. Kretek sebagai hasil kreatifitas masyarakat Indonesia bukan hanya sekedar produk rokok, melainkan juga mencerminkan tradisi dan budaya Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, dari sisi historis, lahirnya rokok kretek justru dilatarbelakangi oleh aktivitas pengobatan. Kretek diciptakan dalam sejarahnya, untuk menjadi obat asma atau sesak nafas. Penemunya adalah Haji jamhari asal Kudus. Disini terlihat jelas, bahwa asal muasal kretek sebenarnya berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Kalau rokok non-kretek umumnya diciptakan untuk sekedar motif ekonomi, sedangkan rokok kretek diciptakan \u00a0justru dalam rangka mengatasi masalah kesehatan. Melalui perjalanan sejarahnya yang panjang dan kompleks, rokok kretek yang ditemukan oleh Haji Jamhari itu kini berkembang pesat dengan berbagai nama Industri dan merek. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas <\/a>
<\/h3>\n\n\n\n

Tentu saja kalau ditelisik secara lebih jauh sebelum kretek lahir, masyarakat Indonesia sudah terbiasa merokok. Aktivitas ini, warisan turun menurun, dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.  Lahirnya kretek memberikan warna lain dalam perkembangan rokok Nusantara. Dengan ramuan barunya yang berbeda dengan rokok-rokok sebelumnya, kretek kemudian menciptakan sejarah baru dalam dunia rokok di Nusantara.
<\/p>\n\n\n\n

Pola mengkonsumsi tembakau di dalam masyarakat Indonesia itu kemudian melahirkan beragam produk tembakau termasuk rokok. Menurut Hanusz  produk tembakau pribumi pertama kali muncul di pertengahan abad ke-17 dan disebut dengan bungkus<\/em>.  Bungkus <\/em>yang khas (the typical bungkus) <\/em>diisi dengan tembakau lokal yang pada tahap selanjutnya kemudian dikemas dengan kulit jagung (kelobot) dan daun pisang dan diikat dengan seutas benang.
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya pada abad ke -19, istilah bungkus <\/em>kemudian menunjukkan produk tembakau yang dibungkus di dalam klobot<\/em> atau kulit jagung. Pada perkembangan selanjutnya, istilah bungkus itu menjadi semakin tereduksi seiring dengan munculnya dua nama baru di dalam produk rokok. Nama baru tersebut adalah strootje <\/em>yang juga merupakan bahasa Belanda dan satunya lagi klobot <\/em> yang berasal dari bahasa Jawa.  Di tahun 1850-an baik strootje <\/em>maupun kelobot <\/em> yang menjadi produksi rumah tangga, tetapi di akhir abad itu, produk rokok yang dibungkus dengan kulit jagung (klobot) itu pertama kali mulai dijual di pasar.
<\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang sama, tepatnya pada tahun 1880,  masyarakat kudus kemudian mulai mencampurkan cengkeh dengan tembakau. Ini merupakan fenomena baru dalam dunia rokok. Hal yang demikian itu kemudian membuat klobot <\/em>yang berisi cengkeh dan tembakau itu dirduksi dalam skala besar. Ketika cengkeh pertama kali dicampur dengan tembakau dan dibungkus kulit jagung yang dilakukan oleh masyarakat Kudus tersebut, maka rokok itu disebut dengan rokok cengkeh. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kreatifitas masyarakat Kudus dalam mencampurkan cengkeh dan tembakau itu tergolong penemuan luar biasa. Rokok  yang bahanya cengkeh dengan tembakau itu kemudian segera dikenal dengan istilah kretek <\/em>yang merujuk pada bunyi kemretek, <\/em>saat rokok itu disulut akibat bunyi cengkeh. Ketika rokok kretek ini mulai muncul maka rokok ini hanya diperuntukkan rokok dalam memakai bahasa Belanda, strootje. <\/em>Sementara rokok klobot <\/em>saat itu dikenal dengan rokok yang tanpa cengkeh. Namun pada tahap perkembangannya hingga sekarang,  rokok klobot juga mengandung cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Sangat wajar kalau rokok kretek kemudian muncul sebagai ikon budaya Indonesia. Karena keberadaannya memang sudah mentradisi dan menyatu dengan kehidupan rakyat Indonesia. Rokok kretek sebagai bagian kultur masyarakat Indonesia ini bergerak di berbagai ranah, dari ranah sosial hingga ke ranah spiritual. Rokok kretek juga menjadi simbol budaya dan identitas Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek dalam konteks budaya Indonesia bukan hanya digunakan untuk menjalin keakraban sosial antara individu maupun kelompok, tetapi juga sebagai sarana untuk laku spiritual dan aktivitas religiusitas. Mulai dari sisi filosofis, historis dan sosial -antropologis bisa dibuktikan bahwa  rokok kretek memang beda dengan rokok-rokok konvensional, utamanya dengan rokok-rokok asing.
<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Banyaknya merek-merek kretek yang berbeda-beda, merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan kota lainnya di Indonesia. Hal ini menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung diera modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-cerminan-kedaulatan-ekonomi-dan-tradisi-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-18 09:30:24","post_modified_gmt":"2019-03-18 02:30:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5553","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5539,"post_author":"877","post_date":"2019-03-13 08:31:30","post_date_gmt":"2019-03-13 01:31:30","post_content":"\n

Baik capres-cawapres nomor urut 01 dan no urut 02, sepertinya keduanya belum pernah berstatement<\/em> dengan tegas untuk membela petani tembakau, petani cengkeh, buruh industri rokok, dan hak konsumen rokok. Setidaknya perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, perkebunan cengkeh tersebar di 30 provinsi, dan menyerap tenaga kerja dari hulu hingga hilir mencapai 6,1 juta jiwa. Selama ini, mereka hidup bergantung pada sektor pertembakauan, berupa kretek asli produk Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Karena kearifan lokal, lahan yang dimiliki petani tembakau, tidak ada tanaman yang lebih menguntungkan secara ekonomi, selain tanaman tembakau. Begitu juga yang terjadi pada petani cengkeh, mereka dapat menyekolahkan anak keperguruan tinggi, dapat membangun rumah, dapat membeli barang berharga dari hasil penjualan cengkeh. Petani tembakau dan cengkeh hidup sejahtera di saat pertaniannya berhasil. Bahkan tidak sedikit, mereka akan melakukan khajatnya setelah panen tiba. Ambil contoh, mau menikahkan atau mengkhitankan anaknya setelah panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fakta empiris tersebut, hampir dilakukan semua petani tembakau dan cengkeh. Mereka bukannya tidak menanam selain tembakau atau cengkeh, akan tetapi kedua tanaman tersebut lebih bisa menopang kebutuhan-kebutuhan yang memerlukan biaya besar. Petani tembakau, selama Desember sampai April menanam selain tembakau. Tidak sedikit petani cengkeh menanam selain cengkeh di lahan lain atau di sela-sela tanaman cengeh. Ini menunjukkan adanya tanaman tembakau dan cengkeh hasilnya lebih besar dibanding tanaman lain. Dan keduanya merupakan tanaman agung anugerah Tuhan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai buruh pabrik rokok, mereka ibu ibu rumah tangga sangat bahagia dapat membantu dan meringankan beban suami untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Mayoritas pekerja pabrik rokok kretek di Indonesia adalah wanita atau ibu rumah tangga, dan tidak ada pekerjaan lain yang bisa ia kerjakan yang bisa menghasilkan uang. Konsumen rokok dan industri rokok, adalah warga Negara yang taat akan pajak. Sebelum dinikmati, tiap batang rokok kretek yang telah dibeli sudah otomatis membayar pajak. Begitu juga, sebelum terjual, pabrik terbebani pajak dobel yang harus dibayar di muka, yaitu pungutan cukai, pungutan restribusi daerah dan talangan pajak konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Apakah keadaan ini semua dinafikan oleh Negara? Berapa besar keuntungan Negara dari hasil pajak rokok? Berapa besar manfaat uang cukai dalam menyehatkan masyarakat melalui pembayaran defisit BPJS? Kenapa para kandidat presiden tidak berani terang-terang membela sektor pertembakauan yang jelas-jelas bermanfaat bagi masyarakat kecil, bagi seluruh masyarakat bangsa dan membantu penerimaan uang kas Negara. <\/p>\n\n\n\n

Capres-Cawapres tahun 2019 ini, seakan-akan tidak memperdulikan nasib keberadaan sektor pertembakauan. Yang ada justru bertindak ikut-ikutan seperti halnya antirokok, itu pun yang berbicara adalah perwakilan dan bukan capresnya sendiri. <\/strong>Dilansir dari nasional.kompas.com<\/em>, bahwa salah satu anggota tim kesehatan Badan Pemenangan Nasional (BPN), bernama Hermawan Saputra, mengungkapkan, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno akan memberikan solusi agar pengguna rokok di Indonesia bisa menurun. Menurut dia, yang perlu dibereskan adalah hulu masalah industri rokok, yaitu mendorong petani tembakau untuk beralih profesi di bidang lain.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya <\/a><\/h2>\n\n\n\n

\"Kita naikkan cukai pun, tapi selama budaya dan perilaku masyarakat merokok tidak berubah serta petani yang menggantungkan diri di tembakau, ya tidak akan selesai. Meskipun tidak mudah, Hermawan meyakini Prabowo-Sandiaga memiliki kemauan politik yang kuat agar pengguna rokok bisa menurun. Dia mengatakan, tim kesehatan BPN sudah membuat rencana dan merancang program kesehatan yang bisa dipaparkan Sandiaga saat debat ketiga, \"ujar Hermawan saat ditemui dalam sebuah diskusi bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" menuju debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga dilansir dari tribunnews.com<\/em> bahwa Hasbullah Thabrany  orang yang mengatasnamakan Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, mengatakan;  jika terpilih dalam Pilpres 2019<\/a>, Jokowi-Ma'ruf akan menaikkan cukai rokok untuk menurunkan angka pengguna rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHarga cukai rokok di Indonesia merupakan yang paling terendah di dunia. Ia mencontohkan, cukai rokok di Singapura mencapai 90 persen dan Thailand 84 persen. Kita targetkan di pemerintahan ke depan jika Jokowi dan Ma'ruf terpilih, cukai rokok kita naikkan di atas 57 persen,\" ujar Hasbullah saat diskusi polemik bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" jelang debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).<\/p>\n\n\n\n

Baik Hermawan Saputra  atau Hasbullah Thabrany, kedua-duanya apakah yang mereka katakan mewakili suara capres? Sepenuhnya belum diketahui lebih jelas. Kalau dicermati, keduanya adalah orang-orang antirokok yang sengaja berkata demikian. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi jika suara mereka mewakili suara capres sepenuhnya, maka ke depan bisa dipastikan menjadi bumerang bagi para capres. Akan terjadi banyak orang yang bergerak dalam bidang pertembakauan apatis terhadap pilpres pemilu 2019. Mereka merasa terciderai, tidak ada perlindungan bagi mereka. <\/p>\n\n\n\n

Fakta dilapangan demikian, tulisan ini hanya mengingatkan pada capres dan cawapres bahwa ada hak petani tembakau, petani cengkeh, buruh rokok, dan industri rokok yang harus dilindungi. Ingat, mereka semua adalah warga Negara yang baik, mandiri dalam ekonomi dan berdaulat. Mereka adalah pembayar pajak yang taat, dan telah teruji hasil uang dari mereka telah menyehatkan masyarakat Indonesia melalui pembayaran defisit BPJS.  
<\/p>\n","post_title":"Menantang Capres-Cawapres Terang-terangan Membela Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menantang-capres-cawapres-terang-terangan-membela-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-13 08:31:38","post_modified_gmt":"2019-03-13 01:31:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5539","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5553,"post_author":"877","post_date":"2019-03-18 09:27:57","post_date_gmt":"2019-03-18 02:27:57","post_content":"\n

Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai produk budaya adiluhung bangsa tak akan pernah memunculkan percikan konflik sosial. Tetapi kretek yang berkembang sebagai komoditas industri yang berorientasi kapital, tentu menyimpan potensi gesekan sosial politik. Kretek bukanlah penyulut konflik, hanya kepentingan ekonomi dan persaingan dagang yang menimbulkan kompetisi yang keras dan tajam. Sebagai produk budaya yang adiluhung, kretek justru menjadi medium pemersatu, yang mendamaikan kemajemukan budaya Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya<\/a> <\/h3>\n\n\n\n

Rokok di belahan dunia sangat berbeda dengan rokok di Indonesia. Istilah rokok kretek, adalah ramuan antara tembakau dan cengkeh. Inilah yang membedakan rokok kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang  paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income<\/em> terbesar kepada negara.
<\/p>\n\n\n\n

Benar apa yang telah dikatakan Prameodya Ananta Toer bahwa kretek merupakan bagian penting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah mengeruk pajak yang signifikan dari industri kretek dan penjualnya. Tidak diragukan lagi bahwa rokok kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi.  Jadi di snilah kita melihat bahwa kreatifitas tangan masyarakat Indonesia bisa menghasilkan produk yang berdampak besar bagi perubahan masyarakat Indonesia. Kretek sebagai hasil kreatifitas masyarakat Indonesia bukan hanya sekedar produk rokok, melainkan juga mencerminkan tradisi dan budaya Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, dari sisi historis, lahirnya rokok kretek justru dilatarbelakangi oleh aktivitas pengobatan. Kretek diciptakan dalam sejarahnya, untuk menjadi obat asma atau sesak nafas. Penemunya adalah Haji jamhari asal Kudus. Disini terlihat jelas, bahwa asal muasal kretek sebenarnya berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Kalau rokok non-kretek umumnya diciptakan untuk sekedar motif ekonomi, sedangkan rokok kretek diciptakan \u00a0justru dalam rangka mengatasi masalah kesehatan. Melalui perjalanan sejarahnya yang panjang dan kompleks, rokok kretek yang ditemukan oleh Haji Jamhari itu kini berkembang pesat dengan berbagai nama Industri dan merek. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas <\/a>
<\/h3>\n\n\n\n

Tentu saja kalau ditelisik secara lebih jauh sebelum kretek lahir, masyarakat Indonesia sudah terbiasa merokok. Aktivitas ini, warisan turun menurun, dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.  Lahirnya kretek memberikan warna lain dalam perkembangan rokok Nusantara. Dengan ramuan barunya yang berbeda dengan rokok-rokok sebelumnya, kretek kemudian menciptakan sejarah baru dalam dunia rokok di Nusantara.
<\/p>\n\n\n\n

Pola mengkonsumsi tembakau di dalam masyarakat Indonesia itu kemudian melahirkan beragam produk tembakau termasuk rokok. Menurut Hanusz  produk tembakau pribumi pertama kali muncul di pertengahan abad ke-17 dan disebut dengan bungkus<\/em>.  Bungkus <\/em>yang khas (the typical bungkus) <\/em>diisi dengan tembakau lokal yang pada tahap selanjutnya kemudian dikemas dengan kulit jagung (kelobot) dan daun pisang dan diikat dengan seutas benang.
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya pada abad ke -19, istilah bungkus <\/em>kemudian menunjukkan produk tembakau yang dibungkus di dalam klobot<\/em> atau kulit jagung. Pada perkembangan selanjutnya, istilah bungkus itu menjadi semakin tereduksi seiring dengan munculnya dua nama baru di dalam produk rokok. Nama baru tersebut adalah strootje <\/em>yang juga merupakan bahasa Belanda dan satunya lagi klobot <\/em> yang berasal dari bahasa Jawa.  Di tahun 1850-an baik strootje <\/em>maupun kelobot <\/em> yang menjadi produksi rumah tangga, tetapi di akhir abad itu, produk rokok yang dibungkus dengan kulit jagung (klobot) itu pertama kali mulai dijual di pasar.
<\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang sama, tepatnya pada tahun 1880,  masyarakat kudus kemudian mulai mencampurkan cengkeh dengan tembakau. Ini merupakan fenomena baru dalam dunia rokok. Hal yang demikian itu kemudian membuat klobot <\/em>yang berisi cengkeh dan tembakau itu dirduksi dalam skala besar. Ketika cengkeh pertama kali dicampur dengan tembakau dan dibungkus kulit jagung yang dilakukan oleh masyarakat Kudus tersebut, maka rokok itu disebut dengan rokok cengkeh. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kreatifitas masyarakat Kudus dalam mencampurkan cengkeh dan tembakau itu tergolong penemuan luar biasa. Rokok  yang bahanya cengkeh dengan tembakau itu kemudian segera dikenal dengan istilah kretek <\/em>yang merujuk pada bunyi kemretek, <\/em>saat rokok itu disulut akibat bunyi cengkeh. Ketika rokok kretek ini mulai muncul maka rokok ini hanya diperuntukkan rokok dalam memakai bahasa Belanda, strootje. <\/em>Sementara rokok klobot <\/em>saat itu dikenal dengan rokok yang tanpa cengkeh. Namun pada tahap perkembangannya hingga sekarang,  rokok klobot juga mengandung cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Sangat wajar kalau rokok kretek kemudian muncul sebagai ikon budaya Indonesia. Karena keberadaannya memang sudah mentradisi dan menyatu dengan kehidupan rakyat Indonesia. Rokok kretek sebagai bagian kultur masyarakat Indonesia ini bergerak di berbagai ranah, dari ranah sosial hingga ke ranah spiritual. Rokok kretek juga menjadi simbol budaya dan identitas Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek dalam konteks budaya Indonesia bukan hanya digunakan untuk menjalin keakraban sosial antara individu maupun kelompok, tetapi juga sebagai sarana untuk laku spiritual dan aktivitas religiusitas. Mulai dari sisi filosofis, historis dan sosial -antropologis bisa dibuktikan bahwa  rokok kretek memang beda dengan rokok-rokok konvensional, utamanya dengan rokok-rokok asing.
<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Banyaknya merek-merek kretek yang berbeda-beda, merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan kota lainnya di Indonesia. Hal ini menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung diera modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-cerminan-kedaulatan-ekonomi-dan-tradisi-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-18 09:30:24","post_modified_gmt":"2019-03-18 02:30:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5553","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5539,"post_author":"877","post_date":"2019-03-13 08:31:30","post_date_gmt":"2019-03-13 01:31:30","post_content":"\n

Baik capres-cawapres nomor urut 01 dan no urut 02, sepertinya keduanya belum pernah berstatement<\/em> dengan tegas untuk membela petani tembakau, petani cengkeh, buruh industri rokok, dan hak konsumen rokok. Setidaknya perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, perkebunan cengkeh tersebar di 30 provinsi, dan menyerap tenaga kerja dari hulu hingga hilir mencapai 6,1 juta jiwa. Selama ini, mereka hidup bergantung pada sektor pertembakauan, berupa kretek asli produk Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Karena kearifan lokal, lahan yang dimiliki petani tembakau, tidak ada tanaman yang lebih menguntungkan secara ekonomi, selain tanaman tembakau. Begitu juga yang terjadi pada petani cengkeh, mereka dapat menyekolahkan anak keperguruan tinggi, dapat membangun rumah, dapat membeli barang berharga dari hasil penjualan cengkeh. Petani tembakau dan cengkeh hidup sejahtera di saat pertaniannya berhasil. Bahkan tidak sedikit, mereka akan melakukan khajatnya setelah panen tiba. Ambil contoh, mau menikahkan atau mengkhitankan anaknya setelah panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fakta empiris tersebut, hampir dilakukan semua petani tembakau dan cengkeh. Mereka bukannya tidak menanam selain tembakau atau cengkeh, akan tetapi kedua tanaman tersebut lebih bisa menopang kebutuhan-kebutuhan yang memerlukan biaya besar. Petani tembakau, selama Desember sampai April menanam selain tembakau. Tidak sedikit petani cengkeh menanam selain cengkeh di lahan lain atau di sela-sela tanaman cengeh. Ini menunjukkan adanya tanaman tembakau dan cengkeh hasilnya lebih besar dibanding tanaman lain. Dan keduanya merupakan tanaman agung anugerah Tuhan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai buruh pabrik rokok, mereka ibu ibu rumah tangga sangat bahagia dapat membantu dan meringankan beban suami untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Mayoritas pekerja pabrik rokok kretek di Indonesia adalah wanita atau ibu rumah tangga, dan tidak ada pekerjaan lain yang bisa ia kerjakan yang bisa menghasilkan uang. Konsumen rokok dan industri rokok, adalah warga Negara yang taat akan pajak. Sebelum dinikmati, tiap batang rokok kretek yang telah dibeli sudah otomatis membayar pajak. Begitu juga, sebelum terjual, pabrik terbebani pajak dobel yang harus dibayar di muka, yaitu pungutan cukai, pungutan restribusi daerah dan talangan pajak konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Apakah keadaan ini semua dinafikan oleh Negara? Berapa besar keuntungan Negara dari hasil pajak rokok? Berapa besar manfaat uang cukai dalam menyehatkan masyarakat melalui pembayaran defisit BPJS? Kenapa para kandidat presiden tidak berani terang-terang membela sektor pertembakauan yang jelas-jelas bermanfaat bagi masyarakat kecil, bagi seluruh masyarakat bangsa dan membantu penerimaan uang kas Negara. <\/p>\n\n\n\n

Capres-Cawapres tahun 2019 ini, seakan-akan tidak memperdulikan nasib keberadaan sektor pertembakauan. Yang ada justru bertindak ikut-ikutan seperti halnya antirokok, itu pun yang berbicara adalah perwakilan dan bukan capresnya sendiri. <\/strong>Dilansir dari nasional.kompas.com<\/em>, bahwa salah satu anggota tim kesehatan Badan Pemenangan Nasional (BPN), bernama Hermawan Saputra, mengungkapkan, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno akan memberikan solusi agar pengguna rokok di Indonesia bisa menurun. Menurut dia, yang perlu dibereskan adalah hulu masalah industri rokok, yaitu mendorong petani tembakau untuk beralih profesi di bidang lain.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya <\/a><\/h2>\n\n\n\n

\"Kita naikkan cukai pun, tapi selama budaya dan perilaku masyarakat merokok tidak berubah serta petani yang menggantungkan diri di tembakau, ya tidak akan selesai. Meskipun tidak mudah, Hermawan meyakini Prabowo-Sandiaga memiliki kemauan politik yang kuat agar pengguna rokok bisa menurun. Dia mengatakan, tim kesehatan BPN sudah membuat rencana dan merancang program kesehatan yang bisa dipaparkan Sandiaga saat debat ketiga, \"ujar Hermawan saat ditemui dalam sebuah diskusi bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" menuju debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga dilansir dari tribunnews.com<\/em> bahwa Hasbullah Thabrany  orang yang mengatasnamakan Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, mengatakan;  jika terpilih dalam Pilpres 2019<\/a>, Jokowi-Ma'ruf akan menaikkan cukai rokok untuk menurunkan angka pengguna rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHarga cukai rokok di Indonesia merupakan yang paling terendah di dunia. Ia mencontohkan, cukai rokok di Singapura mencapai 90 persen dan Thailand 84 persen. Kita targetkan di pemerintahan ke depan jika Jokowi dan Ma'ruf terpilih, cukai rokok kita naikkan di atas 57 persen,\" ujar Hasbullah saat diskusi polemik bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" jelang debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).<\/p>\n\n\n\n

Baik Hermawan Saputra  atau Hasbullah Thabrany, kedua-duanya apakah yang mereka katakan mewakili suara capres? Sepenuhnya belum diketahui lebih jelas. Kalau dicermati, keduanya adalah orang-orang antirokok yang sengaja berkata demikian. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi jika suara mereka mewakili suara capres sepenuhnya, maka ke depan bisa dipastikan menjadi bumerang bagi para capres. Akan terjadi banyak orang yang bergerak dalam bidang pertembakauan apatis terhadap pilpres pemilu 2019. Mereka merasa terciderai, tidak ada perlindungan bagi mereka. <\/p>\n\n\n\n

Fakta dilapangan demikian, tulisan ini hanya mengingatkan pada capres dan cawapres bahwa ada hak petani tembakau, petani cengkeh, buruh rokok, dan industri rokok yang harus dilindungi. Ingat, mereka semua adalah warga Negara yang baik, mandiri dalam ekonomi dan berdaulat. Mereka adalah pembayar pajak yang taat, dan telah teruji hasil uang dari mereka telah menyehatkan masyarakat Indonesia melalui pembayaran defisit BPJS.  
<\/p>\n","post_title":"Menantang Capres-Cawapres Terang-terangan Membela Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menantang-capres-cawapres-terang-terangan-membela-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-13 08:31:38","post_modified_gmt":"2019-03-13 01:31:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5539","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5553,"post_author":"877","post_date":"2019-03-18 09:27:57","post_date_gmt":"2019-03-18 02:27:57","post_content":"\n

Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai produk budaya adiluhung bangsa tak akan pernah memunculkan percikan konflik sosial. Tetapi kretek yang berkembang sebagai komoditas industri yang berorientasi kapital, tentu menyimpan potensi gesekan sosial politik. Kretek bukanlah penyulut konflik, hanya kepentingan ekonomi dan persaingan dagang yang menimbulkan kompetisi yang keras dan tajam. Sebagai produk budaya yang adiluhung, kretek justru menjadi medium pemersatu, yang mendamaikan kemajemukan budaya Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya<\/a> <\/h3>\n\n\n\n

Rokok di belahan dunia sangat berbeda dengan rokok di Indonesia. Istilah rokok kretek, adalah ramuan antara tembakau dan cengkeh. Inilah yang membedakan rokok kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang  paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income<\/em> terbesar kepada negara.
<\/p>\n\n\n\n

Benar apa yang telah dikatakan Prameodya Ananta Toer bahwa kretek merupakan bagian penting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah mengeruk pajak yang signifikan dari industri kretek dan penjualnya. Tidak diragukan lagi bahwa rokok kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi.  Jadi di snilah kita melihat bahwa kreatifitas tangan masyarakat Indonesia bisa menghasilkan produk yang berdampak besar bagi perubahan masyarakat Indonesia. Kretek sebagai hasil kreatifitas masyarakat Indonesia bukan hanya sekedar produk rokok, melainkan juga mencerminkan tradisi dan budaya Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, dari sisi historis, lahirnya rokok kretek justru dilatarbelakangi oleh aktivitas pengobatan. Kretek diciptakan dalam sejarahnya, untuk menjadi obat asma atau sesak nafas. Penemunya adalah Haji jamhari asal Kudus. Disini terlihat jelas, bahwa asal muasal kretek sebenarnya berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Kalau rokok non-kretek umumnya diciptakan untuk sekedar motif ekonomi, sedangkan rokok kretek diciptakan \u00a0justru dalam rangka mengatasi masalah kesehatan. Melalui perjalanan sejarahnya yang panjang dan kompleks, rokok kretek yang ditemukan oleh Haji Jamhari itu kini berkembang pesat dengan berbagai nama Industri dan merek. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas <\/a>
<\/h3>\n\n\n\n

Tentu saja kalau ditelisik secara lebih jauh sebelum kretek lahir, masyarakat Indonesia sudah terbiasa merokok. Aktivitas ini, warisan turun menurun, dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.  Lahirnya kretek memberikan warna lain dalam perkembangan rokok Nusantara. Dengan ramuan barunya yang berbeda dengan rokok-rokok sebelumnya, kretek kemudian menciptakan sejarah baru dalam dunia rokok di Nusantara.
<\/p>\n\n\n\n

Pola mengkonsumsi tembakau di dalam masyarakat Indonesia itu kemudian melahirkan beragam produk tembakau termasuk rokok. Menurut Hanusz  produk tembakau pribumi pertama kali muncul di pertengahan abad ke-17 dan disebut dengan bungkus<\/em>.  Bungkus <\/em>yang khas (the typical bungkus) <\/em>diisi dengan tembakau lokal yang pada tahap selanjutnya kemudian dikemas dengan kulit jagung (kelobot) dan daun pisang dan diikat dengan seutas benang.
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya pada abad ke -19, istilah bungkus <\/em>kemudian menunjukkan produk tembakau yang dibungkus di dalam klobot<\/em> atau kulit jagung. Pada perkembangan selanjutnya, istilah bungkus itu menjadi semakin tereduksi seiring dengan munculnya dua nama baru di dalam produk rokok. Nama baru tersebut adalah strootje <\/em>yang juga merupakan bahasa Belanda dan satunya lagi klobot <\/em> yang berasal dari bahasa Jawa.  Di tahun 1850-an baik strootje <\/em>maupun kelobot <\/em> yang menjadi produksi rumah tangga, tetapi di akhir abad itu, produk rokok yang dibungkus dengan kulit jagung (klobot) itu pertama kali mulai dijual di pasar.
<\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang sama, tepatnya pada tahun 1880,  masyarakat kudus kemudian mulai mencampurkan cengkeh dengan tembakau. Ini merupakan fenomena baru dalam dunia rokok. Hal yang demikian itu kemudian membuat klobot <\/em>yang berisi cengkeh dan tembakau itu dirduksi dalam skala besar. Ketika cengkeh pertama kali dicampur dengan tembakau dan dibungkus kulit jagung yang dilakukan oleh masyarakat Kudus tersebut, maka rokok itu disebut dengan rokok cengkeh. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kreatifitas masyarakat Kudus dalam mencampurkan cengkeh dan tembakau itu tergolong penemuan luar biasa. Rokok  yang bahanya cengkeh dengan tembakau itu kemudian segera dikenal dengan istilah kretek <\/em>yang merujuk pada bunyi kemretek, <\/em>saat rokok itu disulut akibat bunyi cengkeh. Ketika rokok kretek ini mulai muncul maka rokok ini hanya diperuntukkan rokok dalam memakai bahasa Belanda, strootje. <\/em>Sementara rokok klobot <\/em>saat itu dikenal dengan rokok yang tanpa cengkeh. Namun pada tahap perkembangannya hingga sekarang,  rokok klobot juga mengandung cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Sangat wajar kalau rokok kretek kemudian muncul sebagai ikon budaya Indonesia. Karena keberadaannya memang sudah mentradisi dan menyatu dengan kehidupan rakyat Indonesia. Rokok kretek sebagai bagian kultur masyarakat Indonesia ini bergerak di berbagai ranah, dari ranah sosial hingga ke ranah spiritual. Rokok kretek juga menjadi simbol budaya dan identitas Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek dalam konteks budaya Indonesia bukan hanya digunakan untuk menjalin keakraban sosial antara individu maupun kelompok, tetapi juga sebagai sarana untuk laku spiritual dan aktivitas religiusitas. Mulai dari sisi filosofis, historis dan sosial -antropologis bisa dibuktikan bahwa  rokok kretek memang beda dengan rokok-rokok konvensional, utamanya dengan rokok-rokok asing.
<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Banyaknya merek-merek kretek yang berbeda-beda, merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan kota lainnya di Indonesia. Hal ini menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung diera modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-cerminan-kedaulatan-ekonomi-dan-tradisi-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-18 09:30:24","post_modified_gmt":"2019-03-18 02:30:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5553","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5539,"post_author":"877","post_date":"2019-03-13 08:31:30","post_date_gmt":"2019-03-13 01:31:30","post_content":"\n

Baik capres-cawapres nomor urut 01 dan no urut 02, sepertinya keduanya belum pernah berstatement<\/em> dengan tegas untuk membela petani tembakau, petani cengkeh, buruh industri rokok, dan hak konsumen rokok. Setidaknya perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, perkebunan cengkeh tersebar di 30 provinsi, dan menyerap tenaga kerja dari hulu hingga hilir mencapai 6,1 juta jiwa. Selama ini, mereka hidup bergantung pada sektor pertembakauan, berupa kretek asli produk Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Karena kearifan lokal, lahan yang dimiliki petani tembakau, tidak ada tanaman yang lebih menguntungkan secara ekonomi, selain tanaman tembakau. Begitu juga yang terjadi pada petani cengkeh, mereka dapat menyekolahkan anak keperguruan tinggi, dapat membangun rumah, dapat membeli barang berharga dari hasil penjualan cengkeh. Petani tembakau dan cengkeh hidup sejahtera di saat pertaniannya berhasil. Bahkan tidak sedikit, mereka akan melakukan khajatnya setelah panen tiba. Ambil contoh, mau menikahkan atau mengkhitankan anaknya setelah panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fakta empiris tersebut, hampir dilakukan semua petani tembakau dan cengkeh. Mereka bukannya tidak menanam selain tembakau atau cengkeh, akan tetapi kedua tanaman tersebut lebih bisa menopang kebutuhan-kebutuhan yang memerlukan biaya besar. Petani tembakau, selama Desember sampai April menanam selain tembakau. Tidak sedikit petani cengkeh menanam selain cengkeh di lahan lain atau di sela-sela tanaman cengeh. Ini menunjukkan adanya tanaman tembakau dan cengkeh hasilnya lebih besar dibanding tanaman lain. Dan keduanya merupakan tanaman agung anugerah Tuhan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai buruh pabrik rokok, mereka ibu ibu rumah tangga sangat bahagia dapat membantu dan meringankan beban suami untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Mayoritas pekerja pabrik rokok kretek di Indonesia adalah wanita atau ibu rumah tangga, dan tidak ada pekerjaan lain yang bisa ia kerjakan yang bisa menghasilkan uang. Konsumen rokok dan industri rokok, adalah warga Negara yang taat akan pajak. Sebelum dinikmati, tiap batang rokok kretek yang telah dibeli sudah otomatis membayar pajak. Begitu juga, sebelum terjual, pabrik terbebani pajak dobel yang harus dibayar di muka, yaitu pungutan cukai, pungutan restribusi daerah dan talangan pajak konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Apakah keadaan ini semua dinafikan oleh Negara? Berapa besar keuntungan Negara dari hasil pajak rokok? Berapa besar manfaat uang cukai dalam menyehatkan masyarakat melalui pembayaran defisit BPJS? Kenapa para kandidat presiden tidak berani terang-terang membela sektor pertembakauan yang jelas-jelas bermanfaat bagi masyarakat kecil, bagi seluruh masyarakat bangsa dan membantu penerimaan uang kas Negara. <\/p>\n\n\n\n

Capres-Cawapres tahun 2019 ini, seakan-akan tidak memperdulikan nasib keberadaan sektor pertembakauan. Yang ada justru bertindak ikut-ikutan seperti halnya antirokok, itu pun yang berbicara adalah perwakilan dan bukan capresnya sendiri. <\/strong>Dilansir dari nasional.kompas.com<\/em>, bahwa salah satu anggota tim kesehatan Badan Pemenangan Nasional (BPN), bernama Hermawan Saputra, mengungkapkan, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno akan memberikan solusi agar pengguna rokok di Indonesia bisa menurun. Menurut dia, yang perlu dibereskan adalah hulu masalah industri rokok, yaitu mendorong petani tembakau untuk beralih profesi di bidang lain.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya <\/a><\/h2>\n\n\n\n

\"Kita naikkan cukai pun, tapi selama budaya dan perilaku masyarakat merokok tidak berubah serta petani yang menggantungkan diri di tembakau, ya tidak akan selesai. Meskipun tidak mudah, Hermawan meyakini Prabowo-Sandiaga memiliki kemauan politik yang kuat agar pengguna rokok bisa menurun. Dia mengatakan, tim kesehatan BPN sudah membuat rencana dan merancang program kesehatan yang bisa dipaparkan Sandiaga saat debat ketiga, \"ujar Hermawan saat ditemui dalam sebuah diskusi bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" menuju debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga dilansir dari tribunnews.com<\/em> bahwa Hasbullah Thabrany  orang yang mengatasnamakan Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, mengatakan;  jika terpilih dalam Pilpres 2019<\/a>, Jokowi-Ma'ruf akan menaikkan cukai rokok untuk menurunkan angka pengguna rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHarga cukai rokok di Indonesia merupakan yang paling terendah di dunia. Ia mencontohkan, cukai rokok di Singapura mencapai 90 persen dan Thailand 84 persen. Kita targetkan di pemerintahan ke depan jika Jokowi dan Ma'ruf terpilih, cukai rokok kita naikkan di atas 57 persen,\" ujar Hasbullah saat diskusi polemik bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" jelang debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).<\/p>\n\n\n\n

Baik Hermawan Saputra  atau Hasbullah Thabrany, kedua-duanya apakah yang mereka katakan mewakili suara capres? Sepenuhnya belum diketahui lebih jelas. Kalau dicermati, keduanya adalah orang-orang antirokok yang sengaja berkata demikian. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi jika suara mereka mewakili suara capres sepenuhnya, maka ke depan bisa dipastikan menjadi bumerang bagi para capres. Akan terjadi banyak orang yang bergerak dalam bidang pertembakauan apatis terhadap pilpres pemilu 2019. Mereka merasa terciderai, tidak ada perlindungan bagi mereka. <\/p>\n\n\n\n

Fakta dilapangan demikian, tulisan ini hanya mengingatkan pada capres dan cawapres bahwa ada hak petani tembakau, petani cengkeh, buruh rokok, dan industri rokok yang harus dilindungi. Ingat, mereka semua adalah warga Negara yang baik, mandiri dalam ekonomi dan berdaulat. Mereka adalah pembayar pajak yang taat, dan telah teruji hasil uang dari mereka telah menyehatkan masyarakat Indonesia melalui pembayaran defisit BPJS.  
<\/p>\n","post_title":"Menantang Capres-Cawapres Terang-terangan Membela Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menantang-capres-cawapres-terang-terangan-membela-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-13 08:31:38","post_modified_gmt":"2019-03-13 01:31:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5539","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5553,"post_author":"877","post_date":"2019-03-18 09:27:57","post_date_gmt":"2019-03-18 02:27:57","post_content":"\n

Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai produk budaya adiluhung bangsa tak akan pernah memunculkan percikan konflik sosial. Tetapi kretek yang berkembang sebagai komoditas industri yang berorientasi kapital, tentu menyimpan potensi gesekan sosial politik. Kretek bukanlah penyulut konflik, hanya kepentingan ekonomi dan persaingan dagang yang menimbulkan kompetisi yang keras dan tajam. Sebagai produk budaya yang adiluhung, kretek justru menjadi medium pemersatu, yang mendamaikan kemajemukan budaya Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya<\/a> <\/h3>\n\n\n\n

Rokok di belahan dunia sangat berbeda dengan rokok di Indonesia. Istilah rokok kretek, adalah ramuan antara tembakau dan cengkeh. Inilah yang membedakan rokok kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang  paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income<\/em> terbesar kepada negara.
<\/p>\n\n\n\n

Benar apa yang telah dikatakan Prameodya Ananta Toer bahwa kretek merupakan bagian penting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah mengeruk pajak yang signifikan dari industri kretek dan penjualnya. Tidak diragukan lagi bahwa rokok kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi.  Jadi di snilah kita melihat bahwa kreatifitas tangan masyarakat Indonesia bisa menghasilkan produk yang berdampak besar bagi perubahan masyarakat Indonesia. Kretek sebagai hasil kreatifitas masyarakat Indonesia bukan hanya sekedar produk rokok, melainkan juga mencerminkan tradisi dan budaya Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, dari sisi historis, lahirnya rokok kretek justru dilatarbelakangi oleh aktivitas pengobatan. Kretek diciptakan dalam sejarahnya, untuk menjadi obat asma atau sesak nafas. Penemunya adalah Haji jamhari asal Kudus. Disini terlihat jelas, bahwa asal muasal kretek sebenarnya berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Kalau rokok non-kretek umumnya diciptakan untuk sekedar motif ekonomi, sedangkan rokok kretek diciptakan \u00a0justru dalam rangka mengatasi masalah kesehatan. Melalui perjalanan sejarahnya yang panjang dan kompleks, rokok kretek yang ditemukan oleh Haji Jamhari itu kini berkembang pesat dengan berbagai nama Industri dan merek. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas <\/a>
<\/h3>\n\n\n\n

Tentu saja kalau ditelisik secara lebih jauh sebelum kretek lahir, masyarakat Indonesia sudah terbiasa merokok. Aktivitas ini, warisan turun menurun, dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.  Lahirnya kretek memberikan warna lain dalam perkembangan rokok Nusantara. Dengan ramuan barunya yang berbeda dengan rokok-rokok sebelumnya, kretek kemudian menciptakan sejarah baru dalam dunia rokok di Nusantara.
<\/p>\n\n\n\n

Pola mengkonsumsi tembakau di dalam masyarakat Indonesia itu kemudian melahirkan beragam produk tembakau termasuk rokok. Menurut Hanusz  produk tembakau pribumi pertama kali muncul di pertengahan abad ke-17 dan disebut dengan bungkus<\/em>.  Bungkus <\/em>yang khas (the typical bungkus) <\/em>diisi dengan tembakau lokal yang pada tahap selanjutnya kemudian dikemas dengan kulit jagung (kelobot) dan daun pisang dan diikat dengan seutas benang.
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya pada abad ke -19, istilah bungkus <\/em>kemudian menunjukkan produk tembakau yang dibungkus di dalam klobot<\/em> atau kulit jagung. Pada perkembangan selanjutnya, istilah bungkus itu menjadi semakin tereduksi seiring dengan munculnya dua nama baru di dalam produk rokok. Nama baru tersebut adalah strootje <\/em>yang juga merupakan bahasa Belanda dan satunya lagi klobot <\/em> yang berasal dari bahasa Jawa.  Di tahun 1850-an baik strootje <\/em>maupun kelobot <\/em> yang menjadi produksi rumah tangga, tetapi di akhir abad itu, produk rokok yang dibungkus dengan kulit jagung (klobot) itu pertama kali mulai dijual di pasar.
<\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang sama, tepatnya pada tahun 1880,  masyarakat kudus kemudian mulai mencampurkan cengkeh dengan tembakau. Ini merupakan fenomena baru dalam dunia rokok. Hal yang demikian itu kemudian membuat klobot <\/em>yang berisi cengkeh dan tembakau itu dirduksi dalam skala besar. Ketika cengkeh pertama kali dicampur dengan tembakau dan dibungkus kulit jagung yang dilakukan oleh masyarakat Kudus tersebut, maka rokok itu disebut dengan rokok cengkeh. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kreatifitas masyarakat Kudus dalam mencampurkan cengkeh dan tembakau itu tergolong penemuan luar biasa. Rokok  yang bahanya cengkeh dengan tembakau itu kemudian segera dikenal dengan istilah kretek <\/em>yang merujuk pada bunyi kemretek, <\/em>saat rokok itu disulut akibat bunyi cengkeh. Ketika rokok kretek ini mulai muncul maka rokok ini hanya diperuntukkan rokok dalam memakai bahasa Belanda, strootje. <\/em>Sementara rokok klobot <\/em>saat itu dikenal dengan rokok yang tanpa cengkeh. Namun pada tahap perkembangannya hingga sekarang,  rokok klobot juga mengandung cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Sangat wajar kalau rokok kretek kemudian muncul sebagai ikon budaya Indonesia. Karena keberadaannya memang sudah mentradisi dan menyatu dengan kehidupan rakyat Indonesia. Rokok kretek sebagai bagian kultur masyarakat Indonesia ini bergerak di berbagai ranah, dari ranah sosial hingga ke ranah spiritual. Rokok kretek juga menjadi simbol budaya dan identitas Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek dalam konteks budaya Indonesia bukan hanya digunakan untuk menjalin keakraban sosial antara individu maupun kelompok, tetapi juga sebagai sarana untuk laku spiritual dan aktivitas religiusitas. Mulai dari sisi filosofis, historis dan sosial -antropologis bisa dibuktikan bahwa  rokok kretek memang beda dengan rokok-rokok konvensional, utamanya dengan rokok-rokok asing.
<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Banyaknya merek-merek kretek yang berbeda-beda, merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan kota lainnya di Indonesia. Hal ini menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung diera modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-cerminan-kedaulatan-ekonomi-dan-tradisi-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-18 09:30:24","post_modified_gmt":"2019-03-18 02:30:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5553","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5539,"post_author":"877","post_date":"2019-03-13 08:31:30","post_date_gmt":"2019-03-13 01:31:30","post_content":"\n

Baik capres-cawapres nomor urut 01 dan no urut 02, sepertinya keduanya belum pernah berstatement<\/em> dengan tegas untuk membela petani tembakau, petani cengkeh, buruh industri rokok, dan hak konsumen rokok. Setidaknya perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, perkebunan cengkeh tersebar di 30 provinsi, dan menyerap tenaga kerja dari hulu hingga hilir mencapai 6,1 juta jiwa. Selama ini, mereka hidup bergantung pada sektor pertembakauan, berupa kretek asli produk Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Karena kearifan lokal, lahan yang dimiliki petani tembakau, tidak ada tanaman yang lebih menguntungkan secara ekonomi, selain tanaman tembakau. Begitu juga yang terjadi pada petani cengkeh, mereka dapat menyekolahkan anak keperguruan tinggi, dapat membangun rumah, dapat membeli barang berharga dari hasil penjualan cengkeh. Petani tembakau dan cengkeh hidup sejahtera di saat pertaniannya berhasil. Bahkan tidak sedikit, mereka akan melakukan khajatnya setelah panen tiba. Ambil contoh, mau menikahkan atau mengkhitankan anaknya setelah panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fakta empiris tersebut, hampir dilakukan semua petani tembakau dan cengkeh. Mereka bukannya tidak menanam selain tembakau atau cengkeh, akan tetapi kedua tanaman tersebut lebih bisa menopang kebutuhan-kebutuhan yang memerlukan biaya besar. Petani tembakau, selama Desember sampai April menanam selain tembakau. Tidak sedikit petani cengkeh menanam selain cengkeh di lahan lain atau di sela-sela tanaman cengeh. Ini menunjukkan adanya tanaman tembakau dan cengkeh hasilnya lebih besar dibanding tanaman lain. Dan keduanya merupakan tanaman agung anugerah Tuhan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai buruh pabrik rokok, mereka ibu ibu rumah tangga sangat bahagia dapat membantu dan meringankan beban suami untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Mayoritas pekerja pabrik rokok kretek di Indonesia adalah wanita atau ibu rumah tangga, dan tidak ada pekerjaan lain yang bisa ia kerjakan yang bisa menghasilkan uang. Konsumen rokok dan industri rokok, adalah warga Negara yang taat akan pajak. Sebelum dinikmati, tiap batang rokok kretek yang telah dibeli sudah otomatis membayar pajak. Begitu juga, sebelum terjual, pabrik terbebani pajak dobel yang harus dibayar di muka, yaitu pungutan cukai, pungutan restribusi daerah dan talangan pajak konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Apakah keadaan ini semua dinafikan oleh Negara? Berapa besar keuntungan Negara dari hasil pajak rokok? Berapa besar manfaat uang cukai dalam menyehatkan masyarakat melalui pembayaran defisit BPJS? Kenapa para kandidat presiden tidak berani terang-terang membela sektor pertembakauan yang jelas-jelas bermanfaat bagi masyarakat kecil, bagi seluruh masyarakat bangsa dan membantu penerimaan uang kas Negara. <\/p>\n\n\n\n

Capres-Cawapres tahun 2019 ini, seakan-akan tidak memperdulikan nasib keberadaan sektor pertembakauan. Yang ada justru bertindak ikut-ikutan seperti halnya antirokok, itu pun yang berbicara adalah perwakilan dan bukan capresnya sendiri. <\/strong>Dilansir dari nasional.kompas.com<\/em>, bahwa salah satu anggota tim kesehatan Badan Pemenangan Nasional (BPN), bernama Hermawan Saputra, mengungkapkan, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno akan memberikan solusi agar pengguna rokok di Indonesia bisa menurun. Menurut dia, yang perlu dibereskan adalah hulu masalah industri rokok, yaitu mendorong petani tembakau untuk beralih profesi di bidang lain.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya <\/a><\/h2>\n\n\n\n

\"Kita naikkan cukai pun, tapi selama budaya dan perilaku masyarakat merokok tidak berubah serta petani yang menggantungkan diri di tembakau, ya tidak akan selesai. Meskipun tidak mudah, Hermawan meyakini Prabowo-Sandiaga memiliki kemauan politik yang kuat agar pengguna rokok bisa menurun. Dia mengatakan, tim kesehatan BPN sudah membuat rencana dan merancang program kesehatan yang bisa dipaparkan Sandiaga saat debat ketiga, \"ujar Hermawan saat ditemui dalam sebuah diskusi bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" menuju debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga dilansir dari tribunnews.com<\/em> bahwa Hasbullah Thabrany  orang yang mengatasnamakan Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, mengatakan;  jika terpilih dalam Pilpres 2019<\/a>, Jokowi-Ma'ruf akan menaikkan cukai rokok untuk menurunkan angka pengguna rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHarga cukai rokok di Indonesia merupakan yang paling terendah di dunia. Ia mencontohkan, cukai rokok di Singapura mencapai 90 persen dan Thailand 84 persen. Kita targetkan di pemerintahan ke depan jika Jokowi dan Ma'ruf terpilih, cukai rokok kita naikkan di atas 57 persen,\" ujar Hasbullah saat diskusi polemik bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" jelang debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).<\/p>\n\n\n\n

Baik Hermawan Saputra  atau Hasbullah Thabrany, kedua-duanya apakah yang mereka katakan mewakili suara capres? Sepenuhnya belum diketahui lebih jelas. Kalau dicermati, keduanya adalah orang-orang antirokok yang sengaja berkata demikian. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi jika suara mereka mewakili suara capres sepenuhnya, maka ke depan bisa dipastikan menjadi bumerang bagi para capres. Akan terjadi banyak orang yang bergerak dalam bidang pertembakauan apatis terhadap pilpres pemilu 2019. Mereka merasa terciderai, tidak ada perlindungan bagi mereka. <\/p>\n\n\n\n

Fakta dilapangan demikian, tulisan ini hanya mengingatkan pada capres dan cawapres bahwa ada hak petani tembakau, petani cengkeh, buruh rokok, dan industri rokok yang harus dilindungi. Ingat, mereka semua adalah warga Negara yang baik, mandiri dalam ekonomi dan berdaulat. Mereka adalah pembayar pajak yang taat, dan telah teruji hasil uang dari mereka telah menyehatkan masyarakat Indonesia melalui pembayaran defisit BPJS.  
<\/p>\n","post_title":"Menantang Capres-Cawapres Terang-terangan Membela Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menantang-capres-cawapres-terang-terangan-membela-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-13 08:31:38","post_modified_gmt":"2019-03-13 01:31:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5539","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5553,"post_author":"877","post_date":"2019-03-18 09:27:57","post_date_gmt":"2019-03-18 02:27:57","post_content":"\n

Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai produk budaya adiluhung bangsa tak akan pernah memunculkan percikan konflik sosial. Tetapi kretek yang berkembang sebagai komoditas industri yang berorientasi kapital, tentu menyimpan potensi gesekan sosial politik. Kretek bukanlah penyulut konflik, hanya kepentingan ekonomi dan persaingan dagang yang menimbulkan kompetisi yang keras dan tajam. Sebagai produk budaya yang adiluhung, kretek justru menjadi medium pemersatu, yang mendamaikan kemajemukan budaya Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya<\/a> <\/h3>\n\n\n\n

Rokok di belahan dunia sangat berbeda dengan rokok di Indonesia. Istilah rokok kretek, adalah ramuan antara tembakau dan cengkeh. Inilah yang membedakan rokok kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang  paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income<\/em> terbesar kepada negara.
<\/p>\n\n\n\n

Benar apa yang telah dikatakan Prameodya Ananta Toer bahwa kretek merupakan bagian penting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah mengeruk pajak yang signifikan dari industri kretek dan penjualnya. Tidak diragukan lagi bahwa rokok kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi.  Jadi di snilah kita melihat bahwa kreatifitas tangan masyarakat Indonesia bisa menghasilkan produk yang berdampak besar bagi perubahan masyarakat Indonesia. Kretek sebagai hasil kreatifitas masyarakat Indonesia bukan hanya sekedar produk rokok, melainkan juga mencerminkan tradisi dan budaya Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, dari sisi historis, lahirnya rokok kretek justru dilatarbelakangi oleh aktivitas pengobatan. Kretek diciptakan dalam sejarahnya, untuk menjadi obat asma atau sesak nafas. Penemunya adalah Haji jamhari asal Kudus. Disini terlihat jelas, bahwa asal muasal kretek sebenarnya berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Kalau rokok non-kretek umumnya diciptakan untuk sekedar motif ekonomi, sedangkan rokok kretek diciptakan \u00a0justru dalam rangka mengatasi masalah kesehatan. Melalui perjalanan sejarahnya yang panjang dan kompleks, rokok kretek yang ditemukan oleh Haji Jamhari itu kini berkembang pesat dengan berbagai nama Industri dan merek. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas <\/a>
<\/h3>\n\n\n\n

Tentu saja kalau ditelisik secara lebih jauh sebelum kretek lahir, masyarakat Indonesia sudah terbiasa merokok. Aktivitas ini, warisan turun menurun, dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.  Lahirnya kretek memberikan warna lain dalam perkembangan rokok Nusantara. Dengan ramuan barunya yang berbeda dengan rokok-rokok sebelumnya, kretek kemudian menciptakan sejarah baru dalam dunia rokok di Nusantara.
<\/p>\n\n\n\n

Pola mengkonsumsi tembakau di dalam masyarakat Indonesia itu kemudian melahirkan beragam produk tembakau termasuk rokok. Menurut Hanusz  produk tembakau pribumi pertama kali muncul di pertengahan abad ke-17 dan disebut dengan bungkus<\/em>.  Bungkus <\/em>yang khas (the typical bungkus) <\/em>diisi dengan tembakau lokal yang pada tahap selanjutnya kemudian dikemas dengan kulit jagung (kelobot) dan daun pisang dan diikat dengan seutas benang.
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya pada abad ke -19, istilah bungkus <\/em>kemudian menunjukkan produk tembakau yang dibungkus di dalam klobot<\/em> atau kulit jagung. Pada perkembangan selanjutnya, istilah bungkus itu menjadi semakin tereduksi seiring dengan munculnya dua nama baru di dalam produk rokok. Nama baru tersebut adalah strootje <\/em>yang juga merupakan bahasa Belanda dan satunya lagi klobot <\/em> yang berasal dari bahasa Jawa.  Di tahun 1850-an baik strootje <\/em>maupun kelobot <\/em> yang menjadi produksi rumah tangga, tetapi di akhir abad itu, produk rokok yang dibungkus dengan kulit jagung (klobot) itu pertama kali mulai dijual di pasar.
<\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang sama, tepatnya pada tahun 1880,  masyarakat kudus kemudian mulai mencampurkan cengkeh dengan tembakau. Ini merupakan fenomena baru dalam dunia rokok. Hal yang demikian itu kemudian membuat klobot <\/em>yang berisi cengkeh dan tembakau itu dirduksi dalam skala besar. Ketika cengkeh pertama kali dicampur dengan tembakau dan dibungkus kulit jagung yang dilakukan oleh masyarakat Kudus tersebut, maka rokok itu disebut dengan rokok cengkeh. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kreatifitas masyarakat Kudus dalam mencampurkan cengkeh dan tembakau itu tergolong penemuan luar biasa. Rokok  yang bahanya cengkeh dengan tembakau itu kemudian segera dikenal dengan istilah kretek <\/em>yang merujuk pada bunyi kemretek, <\/em>saat rokok itu disulut akibat bunyi cengkeh. Ketika rokok kretek ini mulai muncul maka rokok ini hanya diperuntukkan rokok dalam memakai bahasa Belanda, strootje. <\/em>Sementara rokok klobot <\/em>saat itu dikenal dengan rokok yang tanpa cengkeh. Namun pada tahap perkembangannya hingga sekarang,  rokok klobot juga mengandung cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Sangat wajar kalau rokok kretek kemudian muncul sebagai ikon budaya Indonesia. Karena keberadaannya memang sudah mentradisi dan menyatu dengan kehidupan rakyat Indonesia. Rokok kretek sebagai bagian kultur masyarakat Indonesia ini bergerak di berbagai ranah, dari ranah sosial hingga ke ranah spiritual. Rokok kretek juga menjadi simbol budaya dan identitas Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek dalam konteks budaya Indonesia bukan hanya digunakan untuk menjalin keakraban sosial antara individu maupun kelompok, tetapi juga sebagai sarana untuk laku spiritual dan aktivitas religiusitas. Mulai dari sisi filosofis, historis dan sosial -antropologis bisa dibuktikan bahwa  rokok kretek memang beda dengan rokok-rokok konvensional, utamanya dengan rokok-rokok asing.
<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Banyaknya merek-merek kretek yang berbeda-beda, merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan kota lainnya di Indonesia. Hal ini menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung diera modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-cerminan-kedaulatan-ekonomi-dan-tradisi-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-18 09:30:24","post_modified_gmt":"2019-03-18 02:30:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5553","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5539,"post_author":"877","post_date":"2019-03-13 08:31:30","post_date_gmt":"2019-03-13 01:31:30","post_content":"\n

Baik capres-cawapres nomor urut 01 dan no urut 02, sepertinya keduanya belum pernah berstatement<\/em> dengan tegas untuk membela petani tembakau, petani cengkeh, buruh industri rokok, dan hak konsumen rokok. Setidaknya perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, perkebunan cengkeh tersebar di 30 provinsi, dan menyerap tenaga kerja dari hulu hingga hilir mencapai 6,1 juta jiwa. Selama ini, mereka hidup bergantung pada sektor pertembakauan, berupa kretek asli produk Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Karena kearifan lokal, lahan yang dimiliki petani tembakau, tidak ada tanaman yang lebih menguntungkan secara ekonomi, selain tanaman tembakau. Begitu juga yang terjadi pada petani cengkeh, mereka dapat menyekolahkan anak keperguruan tinggi, dapat membangun rumah, dapat membeli barang berharga dari hasil penjualan cengkeh. Petani tembakau dan cengkeh hidup sejahtera di saat pertaniannya berhasil. Bahkan tidak sedikit, mereka akan melakukan khajatnya setelah panen tiba. Ambil contoh, mau menikahkan atau mengkhitankan anaknya setelah panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fakta empiris tersebut, hampir dilakukan semua petani tembakau dan cengkeh. Mereka bukannya tidak menanam selain tembakau atau cengkeh, akan tetapi kedua tanaman tersebut lebih bisa menopang kebutuhan-kebutuhan yang memerlukan biaya besar. Petani tembakau, selama Desember sampai April menanam selain tembakau. Tidak sedikit petani cengkeh menanam selain cengkeh di lahan lain atau di sela-sela tanaman cengeh. Ini menunjukkan adanya tanaman tembakau dan cengkeh hasilnya lebih besar dibanding tanaman lain. Dan keduanya merupakan tanaman agung anugerah Tuhan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai buruh pabrik rokok, mereka ibu ibu rumah tangga sangat bahagia dapat membantu dan meringankan beban suami untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Mayoritas pekerja pabrik rokok kretek di Indonesia adalah wanita atau ibu rumah tangga, dan tidak ada pekerjaan lain yang bisa ia kerjakan yang bisa menghasilkan uang. Konsumen rokok dan industri rokok, adalah warga Negara yang taat akan pajak. Sebelum dinikmati, tiap batang rokok kretek yang telah dibeli sudah otomatis membayar pajak. Begitu juga, sebelum terjual, pabrik terbebani pajak dobel yang harus dibayar di muka, yaitu pungutan cukai, pungutan restribusi daerah dan talangan pajak konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Apakah keadaan ini semua dinafikan oleh Negara? Berapa besar keuntungan Negara dari hasil pajak rokok? Berapa besar manfaat uang cukai dalam menyehatkan masyarakat melalui pembayaran defisit BPJS? Kenapa para kandidat presiden tidak berani terang-terang membela sektor pertembakauan yang jelas-jelas bermanfaat bagi masyarakat kecil, bagi seluruh masyarakat bangsa dan membantu penerimaan uang kas Negara. <\/p>\n\n\n\n

Capres-Cawapres tahun 2019 ini, seakan-akan tidak memperdulikan nasib keberadaan sektor pertembakauan. Yang ada justru bertindak ikut-ikutan seperti halnya antirokok, itu pun yang berbicara adalah perwakilan dan bukan capresnya sendiri. <\/strong>Dilansir dari nasional.kompas.com<\/em>, bahwa salah satu anggota tim kesehatan Badan Pemenangan Nasional (BPN), bernama Hermawan Saputra, mengungkapkan, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno akan memberikan solusi agar pengguna rokok di Indonesia bisa menurun. Menurut dia, yang perlu dibereskan adalah hulu masalah industri rokok, yaitu mendorong petani tembakau untuk beralih profesi di bidang lain.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya <\/a><\/h2>\n\n\n\n

\"Kita naikkan cukai pun, tapi selama budaya dan perilaku masyarakat merokok tidak berubah serta petani yang menggantungkan diri di tembakau, ya tidak akan selesai. Meskipun tidak mudah, Hermawan meyakini Prabowo-Sandiaga memiliki kemauan politik yang kuat agar pengguna rokok bisa menurun. Dia mengatakan, tim kesehatan BPN sudah membuat rencana dan merancang program kesehatan yang bisa dipaparkan Sandiaga saat debat ketiga, \"ujar Hermawan saat ditemui dalam sebuah diskusi bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" menuju debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga dilansir dari tribunnews.com<\/em> bahwa Hasbullah Thabrany  orang yang mengatasnamakan Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, mengatakan;  jika terpilih dalam Pilpres 2019<\/a>, Jokowi-Ma'ruf akan menaikkan cukai rokok untuk menurunkan angka pengguna rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHarga cukai rokok di Indonesia merupakan yang paling terendah di dunia. Ia mencontohkan, cukai rokok di Singapura mencapai 90 persen dan Thailand 84 persen. Kita targetkan di pemerintahan ke depan jika Jokowi dan Ma'ruf terpilih, cukai rokok kita naikkan di atas 57 persen,\" ujar Hasbullah saat diskusi polemik bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" jelang debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).<\/p>\n\n\n\n

Baik Hermawan Saputra  atau Hasbullah Thabrany, kedua-duanya apakah yang mereka katakan mewakili suara capres? Sepenuhnya belum diketahui lebih jelas. Kalau dicermati, keduanya adalah orang-orang antirokok yang sengaja berkata demikian. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi jika suara mereka mewakili suara capres sepenuhnya, maka ke depan bisa dipastikan menjadi bumerang bagi para capres. Akan terjadi banyak orang yang bergerak dalam bidang pertembakauan apatis terhadap pilpres pemilu 2019. Mereka merasa terciderai, tidak ada perlindungan bagi mereka. <\/p>\n\n\n\n

Fakta dilapangan demikian, tulisan ini hanya mengingatkan pada capres dan cawapres bahwa ada hak petani tembakau, petani cengkeh, buruh rokok, dan industri rokok yang harus dilindungi. Ingat, mereka semua adalah warga Negara yang baik, mandiri dalam ekonomi dan berdaulat. Mereka adalah pembayar pajak yang taat, dan telah teruji hasil uang dari mereka telah menyehatkan masyarakat Indonesia melalui pembayaran defisit BPJS.  
<\/p>\n","post_title":"Menantang Capres-Cawapres Terang-terangan Membela Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menantang-capres-cawapres-terang-terangan-membela-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-13 08:31:38","post_modified_gmt":"2019-03-13 01:31:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5539","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5553,"post_author":"877","post_date":"2019-03-18 09:27:57","post_date_gmt":"2019-03-18 02:27:57","post_content":"\n

Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai produk budaya adiluhung bangsa tak akan pernah memunculkan percikan konflik sosial. Tetapi kretek yang berkembang sebagai komoditas industri yang berorientasi kapital, tentu menyimpan potensi gesekan sosial politik. Kretek bukanlah penyulut konflik, hanya kepentingan ekonomi dan persaingan dagang yang menimbulkan kompetisi yang keras dan tajam. Sebagai produk budaya yang adiluhung, kretek justru menjadi medium pemersatu, yang mendamaikan kemajemukan budaya Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya<\/a> <\/h3>\n\n\n\n

Rokok di belahan dunia sangat berbeda dengan rokok di Indonesia. Istilah rokok kretek, adalah ramuan antara tembakau dan cengkeh. Inilah yang membedakan rokok kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang  paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income<\/em> terbesar kepada negara.
<\/p>\n\n\n\n

Benar apa yang telah dikatakan Prameodya Ananta Toer bahwa kretek merupakan bagian penting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah mengeruk pajak yang signifikan dari industri kretek dan penjualnya. Tidak diragukan lagi bahwa rokok kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi.  Jadi di snilah kita melihat bahwa kreatifitas tangan masyarakat Indonesia bisa menghasilkan produk yang berdampak besar bagi perubahan masyarakat Indonesia. Kretek sebagai hasil kreatifitas masyarakat Indonesia bukan hanya sekedar produk rokok, melainkan juga mencerminkan tradisi dan budaya Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, dari sisi historis, lahirnya rokok kretek justru dilatarbelakangi oleh aktivitas pengobatan. Kretek diciptakan dalam sejarahnya, untuk menjadi obat asma atau sesak nafas. Penemunya adalah Haji jamhari asal Kudus. Disini terlihat jelas, bahwa asal muasal kretek sebenarnya berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Kalau rokok non-kretek umumnya diciptakan untuk sekedar motif ekonomi, sedangkan rokok kretek diciptakan \u00a0justru dalam rangka mengatasi masalah kesehatan. Melalui perjalanan sejarahnya yang panjang dan kompleks, rokok kretek yang ditemukan oleh Haji Jamhari itu kini berkembang pesat dengan berbagai nama Industri dan merek. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas <\/a>
<\/h3>\n\n\n\n

Tentu saja kalau ditelisik secara lebih jauh sebelum kretek lahir, masyarakat Indonesia sudah terbiasa merokok. Aktivitas ini, warisan turun menurun, dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.  Lahirnya kretek memberikan warna lain dalam perkembangan rokok Nusantara. Dengan ramuan barunya yang berbeda dengan rokok-rokok sebelumnya, kretek kemudian menciptakan sejarah baru dalam dunia rokok di Nusantara.
<\/p>\n\n\n\n

Pola mengkonsumsi tembakau di dalam masyarakat Indonesia itu kemudian melahirkan beragam produk tembakau termasuk rokok. Menurut Hanusz  produk tembakau pribumi pertama kali muncul di pertengahan abad ke-17 dan disebut dengan bungkus<\/em>.  Bungkus <\/em>yang khas (the typical bungkus) <\/em>diisi dengan tembakau lokal yang pada tahap selanjutnya kemudian dikemas dengan kulit jagung (kelobot) dan daun pisang dan diikat dengan seutas benang.
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya pada abad ke -19, istilah bungkus <\/em>kemudian menunjukkan produk tembakau yang dibungkus di dalam klobot<\/em> atau kulit jagung. Pada perkembangan selanjutnya, istilah bungkus itu menjadi semakin tereduksi seiring dengan munculnya dua nama baru di dalam produk rokok. Nama baru tersebut adalah strootje <\/em>yang juga merupakan bahasa Belanda dan satunya lagi klobot <\/em> yang berasal dari bahasa Jawa.  Di tahun 1850-an baik strootje <\/em>maupun kelobot <\/em> yang menjadi produksi rumah tangga, tetapi di akhir abad itu, produk rokok yang dibungkus dengan kulit jagung (klobot) itu pertama kali mulai dijual di pasar.
<\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang sama, tepatnya pada tahun 1880,  masyarakat kudus kemudian mulai mencampurkan cengkeh dengan tembakau. Ini merupakan fenomena baru dalam dunia rokok. Hal yang demikian itu kemudian membuat klobot <\/em>yang berisi cengkeh dan tembakau itu dirduksi dalam skala besar. Ketika cengkeh pertama kali dicampur dengan tembakau dan dibungkus kulit jagung yang dilakukan oleh masyarakat Kudus tersebut, maka rokok itu disebut dengan rokok cengkeh. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kreatifitas masyarakat Kudus dalam mencampurkan cengkeh dan tembakau itu tergolong penemuan luar biasa. Rokok  yang bahanya cengkeh dengan tembakau itu kemudian segera dikenal dengan istilah kretek <\/em>yang merujuk pada bunyi kemretek, <\/em>saat rokok itu disulut akibat bunyi cengkeh. Ketika rokok kretek ini mulai muncul maka rokok ini hanya diperuntukkan rokok dalam memakai bahasa Belanda, strootje. <\/em>Sementara rokok klobot <\/em>saat itu dikenal dengan rokok yang tanpa cengkeh. Namun pada tahap perkembangannya hingga sekarang,  rokok klobot juga mengandung cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Sangat wajar kalau rokok kretek kemudian muncul sebagai ikon budaya Indonesia. Karena keberadaannya memang sudah mentradisi dan menyatu dengan kehidupan rakyat Indonesia. Rokok kretek sebagai bagian kultur masyarakat Indonesia ini bergerak di berbagai ranah, dari ranah sosial hingga ke ranah spiritual. Rokok kretek juga menjadi simbol budaya dan identitas Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek dalam konteks budaya Indonesia bukan hanya digunakan untuk menjalin keakraban sosial antara individu maupun kelompok, tetapi juga sebagai sarana untuk laku spiritual dan aktivitas religiusitas. Mulai dari sisi filosofis, historis dan sosial -antropologis bisa dibuktikan bahwa  rokok kretek memang beda dengan rokok-rokok konvensional, utamanya dengan rokok-rokok asing.
<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Banyaknya merek-merek kretek yang berbeda-beda, merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan kota lainnya di Indonesia. Hal ini menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung diera modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-cerminan-kedaulatan-ekonomi-dan-tradisi-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-18 09:30:24","post_modified_gmt":"2019-03-18 02:30:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5553","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5539,"post_author":"877","post_date":"2019-03-13 08:31:30","post_date_gmt":"2019-03-13 01:31:30","post_content":"\n

Baik capres-cawapres nomor urut 01 dan no urut 02, sepertinya keduanya belum pernah berstatement<\/em> dengan tegas untuk membela petani tembakau, petani cengkeh, buruh industri rokok, dan hak konsumen rokok. Setidaknya perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, perkebunan cengkeh tersebar di 30 provinsi, dan menyerap tenaga kerja dari hulu hingga hilir mencapai 6,1 juta jiwa. Selama ini, mereka hidup bergantung pada sektor pertembakauan, berupa kretek asli produk Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Karena kearifan lokal, lahan yang dimiliki petani tembakau, tidak ada tanaman yang lebih menguntungkan secara ekonomi, selain tanaman tembakau. Begitu juga yang terjadi pada petani cengkeh, mereka dapat menyekolahkan anak keperguruan tinggi, dapat membangun rumah, dapat membeli barang berharga dari hasil penjualan cengkeh. Petani tembakau dan cengkeh hidup sejahtera di saat pertaniannya berhasil. Bahkan tidak sedikit, mereka akan melakukan khajatnya setelah panen tiba. Ambil contoh, mau menikahkan atau mengkhitankan anaknya setelah panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fakta empiris tersebut, hampir dilakukan semua petani tembakau dan cengkeh. Mereka bukannya tidak menanam selain tembakau atau cengkeh, akan tetapi kedua tanaman tersebut lebih bisa menopang kebutuhan-kebutuhan yang memerlukan biaya besar. Petani tembakau, selama Desember sampai April menanam selain tembakau. Tidak sedikit petani cengkeh menanam selain cengkeh di lahan lain atau di sela-sela tanaman cengeh. Ini menunjukkan adanya tanaman tembakau dan cengkeh hasilnya lebih besar dibanding tanaman lain. Dan keduanya merupakan tanaman agung anugerah Tuhan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai buruh pabrik rokok, mereka ibu ibu rumah tangga sangat bahagia dapat membantu dan meringankan beban suami untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Mayoritas pekerja pabrik rokok kretek di Indonesia adalah wanita atau ibu rumah tangga, dan tidak ada pekerjaan lain yang bisa ia kerjakan yang bisa menghasilkan uang. Konsumen rokok dan industri rokok, adalah warga Negara yang taat akan pajak. Sebelum dinikmati, tiap batang rokok kretek yang telah dibeli sudah otomatis membayar pajak. Begitu juga, sebelum terjual, pabrik terbebani pajak dobel yang harus dibayar di muka, yaitu pungutan cukai, pungutan restribusi daerah dan talangan pajak konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Apakah keadaan ini semua dinafikan oleh Negara? Berapa besar keuntungan Negara dari hasil pajak rokok? Berapa besar manfaat uang cukai dalam menyehatkan masyarakat melalui pembayaran defisit BPJS? Kenapa para kandidat presiden tidak berani terang-terang membela sektor pertembakauan yang jelas-jelas bermanfaat bagi masyarakat kecil, bagi seluruh masyarakat bangsa dan membantu penerimaan uang kas Negara. <\/p>\n\n\n\n

Capres-Cawapres tahun 2019 ini, seakan-akan tidak memperdulikan nasib keberadaan sektor pertembakauan. Yang ada justru bertindak ikut-ikutan seperti halnya antirokok, itu pun yang berbicara adalah perwakilan dan bukan capresnya sendiri. <\/strong>Dilansir dari nasional.kompas.com<\/em>, bahwa salah satu anggota tim kesehatan Badan Pemenangan Nasional (BPN), bernama Hermawan Saputra, mengungkapkan, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno akan memberikan solusi agar pengguna rokok di Indonesia bisa menurun. Menurut dia, yang perlu dibereskan adalah hulu masalah industri rokok, yaitu mendorong petani tembakau untuk beralih profesi di bidang lain.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya <\/a><\/h2>\n\n\n\n

\"Kita naikkan cukai pun, tapi selama budaya dan perilaku masyarakat merokok tidak berubah serta petani yang menggantungkan diri di tembakau, ya tidak akan selesai. Meskipun tidak mudah, Hermawan meyakini Prabowo-Sandiaga memiliki kemauan politik yang kuat agar pengguna rokok bisa menurun. Dia mengatakan, tim kesehatan BPN sudah membuat rencana dan merancang program kesehatan yang bisa dipaparkan Sandiaga saat debat ketiga, \"ujar Hermawan saat ditemui dalam sebuah diskusi bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" menuju debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga dilansir dari tribunnews.com<\/em> bahwa Hasbullah Thabrany  orang yang mengatasnamakan Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, mengatakan;  jika terpilih dalam Pilpres 2019<\/a>, Jokowi-Ma'ruf akan menaikkan cukai rokok untuk menurunkan angka pengguna rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHarga cukai rokok di Indonesia merupakan yang paling terendah di dunia. Ia mencontohkan, cukai rokok di Singapura mencapai 90 persen dan Thailand 84 persen. Kita targetkan di pemerintahan ke depan jika Jokowi dan Ma'ruf terpilih, cukai rokok kita naikkan di atas 57 persen,\" ujar Hasbullah saat diskusi polemik bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" jelang debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).<\/p>\n\n\n\n

Baik Hermawan Saputra  atau Hasbullah Thabrany, kedua-duanya apakah yang mereka katakan mewakili suara capres? Sepenuhnya belum diketahui lebih jelas. Kalau dicermati, keduanya adalah orang-orang antirokok yang sengaja berkata demikian. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi jika suara mereka mewakili suara capres sepenuhnya, maka ke depan bisa dipastikan menjadi bumerang bagi para capres. Akan terjadi banyak orang yang bergerak dalam bidang pertembakauan apatis terhadap pilpres pemilu 2019. Mereka merasa terciderai, tidak ada perlindungan bagi mereka. <\/p>\n\n\n\n

Fakta dilapangan demikian, tulisan ini hanya mengingatkan pada capres dan cawapres bahwa ada hak petani tembakau, petani cengkeh, buruh rokok, dan industri rokok yang harus dilindungi. Ingat, mereka semua adalah warga Negara yang baik, mandiri dalam ekonomi dan berdaulat. Mereka adalah pembayar pajak yang taat, dan telah teruji hasil uang dari mereka telah menyehatkan masyarakat Indonesia melalui pembayaran defisit BPJS.  
<\/p>\n","post_title":"Menantang Capres-Cawapres Terang-terangan Membela Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menantang-capres-cawapres-terang-terangan-membela-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-13 08:31:38","post_modified_gmt":"2019-03-13 01:31:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5539","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5553,"post_author":"877","post_date":"2019-03-18 09:27:57","post_date_gmt":"2019-03-18 02:27:57","post_content":"\n

Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai produk budaya adiluhung bangsa tak akan pernah memunculkan percikan konflik sosial. Tetapi kretek yang berkembang sebagai komoditas industri yang berorientasi kapital, tentu menyimpan potensi gesekan sosial politik. Kretek bukanlah penyulut konflik, hanya kepentingan ekonomi dan persaingan dagang yang menimbulkan kompetisi yang keras dan tajam. Sebagai produk budaya yang adiluhung, kretek justru menjadi medium pemersatu, yang mendamaikan kemajemukan budaya Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya<\/a> <\/h3>\n\n\n\n

Rokok di belahan dunia sangat berbeda dengan rokok di Indonesia. Istilah rokok kretek, adalah ramuan antara tembakau dan cengkeh. Inilah yang membedakan rokok kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang  paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income<\/em> terbesar kepada negara.
<\/p>\n\n\n\n

Benar apa yang telah dikatakan Prameodya Ananta Toer bahwa kretek merupakan bagian penting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah mengeruk pajak yang signifikan dari industri kretek dan penjualnya. Tidak diragukan lagi bahwa rokok kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi.  Jadi di snilah kita melihat bahwa kreatifitas tangan masyarakat Indonesia bisa menghasilkan produk yang berdampak besar bagi perubahan masyarakat Indonesia. Kretek sebagai hasil kreatifitas masyarakat Indonesia bukan hanya sekedar produk rokok, melainkan juga mencerminkan tradisi dan budaya Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, dari sisi historis, lahirnya rokok kretek justru dilatarbelakangi oleh aktivitas pengobatan. Kretek diciptakan dalam sejarahnya, untuk menjadi obat asma atau sesak nafas. Penemunya adalah Haji jamhari asal Kudus. Disini terlihat jelas, bahwa asal muasal kretek sebenarnya berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Kalau rokok non-kretek umumnya diciptakan untuk sekedar motif ekonomi, sedangkan rokok kretek diciptakan \u00a0justru dalam rangka mengatasi masalah kesehatan. Melalui perjalanan sejarahnya yang panjang dan kompleks, rokok kretek yang ditemukan oleh Haji Jamhari itu kini berkembang pesat dengan berbagai nama Industri dan merek. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas <\/a>
<\/h3>\n\n\n\n

Tentu saja kalau ditelisik secara lebih jauh sebelum kretek lahir, masyarakat Indonesia sudah terbiasa merokok. Aktivitas ini, warisan turun menurun, dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.  Lahirnya kretek memberikan warna lain dalam perkembangan rokok Nusantara. Dengan ramuan barunya yang berbeda dengan rokok-rokok sebelumnya, kretek kemudian menciptakan sejarah baru dalam dunia rokok di Nusantara.
<\/p>\n\n\n\n

Pola mengkonsumsi tembakau di dalam masyarakat Indonesia itu kemudian melahirkan beragam produk tembakau termasuk rokok. Menurut Hanusz  produk tembakau pribumi pertama kali muncul di pertengahan abad ke-17 dan disebut dengan bungkus<\/em>.  Bungkus <\/em>yang khas (the typical bungkus) <\/em>diisi dengan tembakau lokal yang pada tahap selanjutnya kemudian dikemas dengan kulit jagung (kelobot) dan daun pisang dan diikat dengan seutas benang.
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya pada abad ke -19, istilah bungkus <\/em>kemudian menunjukkan produk tembakau yang dibungkus di dalam klobot<\/em> atau kulit jagung. Pada perkembangan selanjutnya, istilah bungkus itu menjadi semakin tereduksi seiring dengan munculnya dua nama baru di dalam produk rokok. Nama baru tersebut adalah strootje <\/em>yang juga merupakan bahasa Belanda dan satunya lagi klobot <\/em> yang berasal dari bahasa Jawa.  Di tahun 1850-an baik strootje <\/em>maupun kelobot <\/em> yang menjadi produksi rumah tangga, tetapi di akhir abad itu, produk rokok yang dibungkus dengan kulit jagung (klobot) itu pertama kali mulai dijual di pasar.
<\/p>\n\n\n\n

Pada saat yang sama, tepatnya pada tahun 1880,  masyarakat kudus kemudian mulai mencampurkan cengkeh dengan tembakau. Ini merupakan fenomena baru dalam dunia rokok. Hal yang demikian itu kemudian membuat klobot <\/em>yang berisi cengkeh dan tembakau itu dirduksi dalam skala besar. Ketika cengkeh pertama kali dicampur dengan tembakau dan dibungkus kulit jagung yang dilakukan oleh masyarakat Kudus tersebut, maka rokok itu disebut dengan rokok cengkeh. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kreatifitas masyarakat Kudus dalam mencampurkan cengkeh dan tembakau itu tergolong penemuan luar biasa. Rokok  yang bahanya cengkeh dengan tembakau itu kemudian segera dikenal dengan istilah kretek <\/em>yang merujuk pada bunyi kemretek, <\/em>saat rokok itu disulut akibat bunyi cengkeh. Ketika rokok kretek ini mulai muncul maka rokok ini hanya diperuntukkan rokok dalam memakai bahasa Belanda, strootje. <\/em>Sementara rokok klobot <\/em>saat itu dikenal dengan rokok yang tanpa cengkeh. Namun pada tahap perkembangannya hingga sekarang,  rokok klobot juga mengandung cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Sangat wajar kalau rokok kretek kemudian muncul sebagai ikon budaya Indonesia. Karena keberadaannya memang sudah mentradisi dan menyatu dengan kehidupan rakyat Indonesia. Rokok kretek sebagai bagian kultur masyarakat Indonesia ini bergerak di berbagai ranah, dari ranah sosial hingga ke ranah spiritual. Rokok kretek juga menjadi simbol budaya dan identitas Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek dalam konteks budaya Indonesia bukan hanya digunakan untuk menjalin keakraban sosial antara individu maupun kelompok, tetapi juga sebagai sarana untuk laku spiritual dan aktivitas religiusitas. Mulai dari sisi filosofis, historis dan sosial -antropologis bisa dibuktikan bahwa  rokok kretek memang beda dengan rokok-rokok konvensional, utamanya dengan rokok-rokok asing.
<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Banyaknya merek-merek kretek yang berbeda-beda, merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan kota lainnya di Indonesia. Hal ini menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung diera modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-cerminan-kedaulatan-ekonomi-dan-tradisi-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-18 09:30:24","post_modified_gmt":"2019-03-18 02:30:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5553","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5539,"post_author":"877","post_date":"2019-03-13 08:31:30","post_date_gmt":"2019-03-13 01:31:30","post_content":"\n

Baik capres-cawapres nomor urut 01 dan no urut 02, sepertinya keduanya belum pernah berstatement<\/em> dengan tegas untuk membela petani tembakau, petani cengkeh, buruh industri rokok, dan hak konsumen rokok. Setidaknya perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, perkebunan cengkeh tersebar di 30 provinsi, dan menyerap tenaga kerja dari hulu hingga hilir mencapai 6,1 juta jiwa. Selama ini, mereka hidup bergantung pada sektor pertembakauan, berupa kretek asli produk Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Karena kearifan lokal, lahan yang dimiliki petani tembakau, tidak ada tanaman yang lebih menguntungkan secara ekonomi, selain tanaman tembakau. Begitu juga yang terjadi pada petani cengkeh, mereka dapat menyekolahkan anak keperguruan tinggi, dapat membangun rumah, dapat membeli barang berharga dari hasil penjualan cengkeh. Petani tembakau dan cengkeh hidup sejahtera di saat pertaniannya berhasil. Bahkan tidak sedikit, mereka akan melakukan khajatnya setelah panen tiba. Ambil contoh, mau menikahkan atau mengkhitankan anaknya setelah panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Fakta empiris tersebut, hampir dilakukan semua petani tembakau dan cengkeh. Mereka bukannya tidak menanam selain tembakau atau cengkeh, akan tetapi kedua tanaman tersebut lebih bisa menopang kebutuhan-kebutuhan yang memerlukan biaya besar. Petani tembakau, selama Desember sampai April menanam selain tembakau. Tidak sedikit petani cengkeh menanam selain cengkeh di lahan lain atau di sela-sela tanaman cengeh. Ini menunjukkan adanya tanaman tembakau dan cengkeh hasilnya lebih besar dibanding tanaman lain. Dan keduanya merupakan tanaman agung anugerah Tuhan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai buruh pabrik rokok, mereka ibu ibu rumah tangga sangat bahagia dapat membantu dan meringankan beban suami untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Mayoritas pekerja pabrik rokok kretek di Indonesia adalah wanita atau ibu rumah tangga, dan tidak ada pekerjaan lain yang bisa ia kerjakan yang bisa menghasilkan uang. Konsumen rokok dan industri rokok, adalah warga Negara yang taat akan pajak. Sebelum dinikmati, tiap batang rokok kretek yang telah dibeli sudah otomatis membayar pajak. Begitu juga, sebelum terjual, pabrik terbebani pajak dobel yang harus dibayar di muka, yaitu pungutan cukai, pungutan restribusi daerah dan talangan pajak konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Apakah keadaan ini semua dinafikan oleh Negara? Berapa besar keuntungan Negara dari hasil pajak rokok? Berapa besar manfaat uang cukai dalam menyehatkan masyarakat melalui pembayaran defisit BPJS? Kenapa para kandidat presiden tidak berani terang-terang membela sektor pertembakauan yang jelas-jelas bermanfaat bagi masyarakat kecil, bagi seluruh masyarakat bangsa dan membantu penerimaan uang kas Negara. <\/p>\n\n\n\n

Capres-Cawapres tahun 2019 ini, seakan-akan tidak memperdulikan nasib keberadaan sektor pertembakauan. Yang ada justru bertindak ikut-ikutan seperti halnya antirokok, itu pun yang berbicara adalah perwakilan dan bukan capresnya sendiri. <\/strong>Dilansir dari nasional.kompas.com<\/em>, bahwa salah satu anggota tim kesehatan Badan Pemenangan Nasional (BPN), bernama Hermawan Saputra, mengungkapkan, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno akan memberikan solusi agar pengguna rokok di Indonesia bisa menurun. Menurut dia, yang perlu dibereskan adalah hulu masalah industri rokok, yaitu mendorong petani tembakau untuk beralih profesi di bidang lain.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya <\/a><\/h2>\n\n\n\n

\"Kita naikkan cukai pun, tapi selama budaya dan perilaku masyarakat merokok tidak berubah serta petani yang menggantungkan diri di tembakau, ya tidak akan selesai. Meskipun tidak mudah, Hermawan meyakini Prabowo-Sandiaga memiliki kemauan politik yang kuat agar pengguna rokok bisa menurun. Dia mengatakan, tim kesehatan BPN sudah membuat rencana dan merancang program kesehatan yang bisa dipaparkan Sandiaga saat debat ketiga, \"ujar Hermawan saat ditemui dalam sebuah diskusi bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" menuju debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga dilansir dari tribunnews.com<\/em> bahwa Hasbullah Thabrany  orang yang mengatasnamakan Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, mengatakan;  jika terpilih dalam Pilpres 2019<\/a>, Jokowi-Ma'ruf akan menaikkan cukai rokok untuk menurunkan angka pengguna rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHarga cukai rokok di Indonesia merupakan yang paling terendah di dunia. Ia mencontohkan, cukai rokok di Singapura mencapai 90 persen dan Thailand 84 persen. Kita targetkan di pemerintahan ke depan jika Jokowi dan Ma'ruf terpilih, cukai rokok kita naikkan di atas 57 persen,\" ujar Hasbullah saat diskusi polemik bertajuk \"Menakar Visi Kesehatan\" jelang debat ketiga Pilpres 2019 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9\/3\/2019).<\/p>\n\n\n\n

Baik Hermawan Saputra  atau Hasbullah Thabrany, kedua-duanya apakah yang mereka katakan mewakili suara capres? Sepenuhnya belum diketahui lebih jelas. Kalau dicermati, keduanya adalah orang-orang antirokok yang sengaja berkata demikian. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi jika suara mereka mewakili suara capres sepenuhnya, maka ke depan bisa dipastikan menjadi bumerang bagi para capres. Akan terjadi banyak orang yang bergerak dalam bidang pertembakauan apatis terhadap pilpres pemilu 2019. Mereka merasa terciderai, tidak ada perlindungan bagi mereka. <\/p>\n\n\n\n

Fakta dilapangan demikian, tulisan ini hanya mengingatkan pada capres dan cawapres bahwa ada hak petani tembakau, petani cengkeh, buruh rokok, dan industri rokok yang harus dilindungi. Ingat, mereka semua adalah warga Negara yang baik, mandiri dalam ekonomi dan berdaulat. Mereka adalah pembayar pajak yang taat, dan telah teruji hasil uang dari mereka telah menyehatkan masyarakat Indonesia melalui pembayaran defisit BPJS.  
<\/p>\n","post_title":"Menantang Capres-Cawapres Terang-terangan Membela Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menantang-capres-cawapres-terang-terangan-membela-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-13 08:31:38","post_modified_gmt":"2019-03-13 01:31:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5539","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};