Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n
Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n
Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n
Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n
Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n
Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n
Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong> Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri. Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM. Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara. Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT. Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas. Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong> Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri. Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM. Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara. Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT. Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting. Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas. Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong> Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri. Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM. Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara. Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT. Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan. Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting. Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas. Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong> Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri. Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM. Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara. Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT. Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia? Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan. Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting. Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas. Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong> Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri. Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM. Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara. Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT. Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini. Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia? Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan. Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting. Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas. Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong> Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri. Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM. Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara. Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT. Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja. Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini. Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia? Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan. Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting. Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas. Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong> Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri. Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM. Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara. Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT. Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja. Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini. Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia? Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan. Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting. Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas. Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong> Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri. Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM. Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara. Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT. IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara. Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja. Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini. Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia? Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan. Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting. Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas. Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong> Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri. Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM. Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara. Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT. Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu. IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara. Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja. Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini. Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia? Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan. Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting. Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas. Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong> Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri. Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM. Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara. Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT. Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural. Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu. IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara. Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja. Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini. Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia? Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan. Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting. Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas. Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong> Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri. Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM. Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara. Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT. Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa. <\/p>\n\n\n\n Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural. Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu. IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara. Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja. Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini. Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia? Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan. Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting. Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas. Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong> Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri. Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM. Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara. Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT. Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa. <\/p>\n\n\n\n Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural. Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu. IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara. Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja. Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini. Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia? Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan. Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting. Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas. Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong> Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri. Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM. Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara. Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT. Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa. <\/p>\n\n\n\n Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural. Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu. IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara. Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja. Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini. Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia? Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan. Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting. Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas. Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong> Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri. Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM. Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara. Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT. Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa. <\/p>\n\n\n\n Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural. Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu. IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara. Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja. Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini. Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia? Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan. Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting. Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas. Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong> Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri. Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM. Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara. Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT. Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya. <\/p>\n\n\n\n Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa. <\/p>\n\n\n\n Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural. Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu. IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara. Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja. Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini. Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia? Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan. Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting. Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas. Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong> Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri. Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM. Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara. Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT. Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya. <\/p>\n\n\n\n Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa. <\/p>\n\n\n\n Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural. Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu. IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara. Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja. Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini. Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia? Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan. Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting. Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas. Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong> Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri. Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM. Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara. Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT. Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya. <\/p>\n\n\n\n Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa. <\/p>\n\n\n\n Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural. Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu. IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara. Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja. Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini. Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia? Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan. Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting. Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas. Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong> Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri. Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM. Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara. Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT. Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya. <\/p>\n\n\n\n Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa. <\/p>\n\n\n\n Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural. Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu. IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara. Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja. Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini. Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia? Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan. Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting. Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas. Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong> Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri. Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM. Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara. Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT. Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya. <\/p>\n\n\n\n Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa. <\/p>\n\n\n\n Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural. Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu. IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara. Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja. Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini. Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia? Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan. Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting. Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas. Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong> Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri. Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM. Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara. Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT. Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya. <\/p>\n\n\n\n Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa. <\/p>\n\n\n\n Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural. Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu. IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara. Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja. Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini. Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia? Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan. Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting. Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas. Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong> Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri. Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM. Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara. Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT. \u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya. <\/p>\n\n\n\n Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa. <\/p>\n\n\n\n Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural. Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu. IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara. Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja. Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini. Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia? Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan. Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting. Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas. Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong> Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri. Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM. Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara. Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT. Fakta dilapangan demikian, tulisan ini hanya mengingatkan pada capres dan cawapres bahwa ada hak petani tembakau, petani cengkeh, buruh rokok, dan industri rokok yang harus dilindungi. Ingat, mereka semua adalah warga Negara yang baik, mandiri dalam ekonomi dan berdaulat. Mereka adalah pembayar pajak yang taat, dan telah teruji hasil uang dari mereka telah menyehatkan masyarakat Indonesia melalui pembayaran defisit BPJS. \u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya. <\/p>\n\n\n\n Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa. <\/p>\n\n\n\n Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural. Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu. IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara. Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja. Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini. Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia? Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan. Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting. Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas. Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong> Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri. Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM. Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara. Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT. Akan tetapi jika suara mereka mewakili suara capres sepenuhnya, maka ke depan bisa dipastikan menjadi bumerang bagi para capres. Akan terjadi banyak orang yang bergerak dalam bidang pertembakauan apatis terhadap pilpres pemilu 2019. Mereka merasa terciderai, tidak ada perlindungan bagi mereka. <\/p>\n\n\n\n Fakta dilapangan demikian, tulisan ini hanya mengingatkan pada capres dan cawapres bahwa ada hak petani tembakau, petani cengkeh, buruh rokok, dan industri rokok yang harus dilindungi. Ingat, mereka semua adalah warga Negara yang baik, mandiri dalam ekonomi dan berdaulat. Mereka adalah pembayar pajak yang taat, dan telah teruji hasil uang dari mereka telah menyehatkan masyarakat Indonesia melalui pembayaran defisit BPJS. \u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya. <\/p>\n\n\n\n Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa. <\/p>\n\n\n\n Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural. Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu. IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara. Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja. Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini. Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia? Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan. Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting. Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas. Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong> Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri. Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM. Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara. Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT. Baik Hermawan Saputra atau Hasbullah Thabrany, kedua-duanya apakah yang mereka katakan mewakili suara capres? Sepenuhnya belum diketahui lebih jelas. Kalau dicermati, keduanya adalah orang-orang antirokok yang sengaja berkata demikian. <\/strong><\/p>\n\n\n\n Akan tetapi jika suara mereka mewakili suara capres sepenuhnya, maka ke depan bisa dipastikan menjadi bumerang bagi para capres. Akan terjadi banyak orang yang bergerak dalam bidang pertembakauan apatis terhadap pilpres pemilu 2019. Mereka merasa terciderai, tidak ada perlindungan bagi mereka. <\/p>\n\n\n\n Fakta dilapangan demikian, tulisan ini hanya mengingatkan pada capres dan cawapres bahwa ada hak petani tembakau, petani cengkeh, buruh rokok, dan industri rokok yang harus dilindungi. Ingat, mereka semua adalah warga Negara yang baik, mandiri dalam ekonomi dan berdaulat. Mereka adalah pembayar pajak yang taat, dan telah teruji hasil uang dari mereka telah menyehatkan masyarakat Indonesia melalui pembayaran defisit BPJS. \u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya. <\/p>\n\n\n\n Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa. <\/p>\n\n\n\n Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural. Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu. IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara. Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja. Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini. Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia? Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan. Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting. Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas. Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong> Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri. Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM. Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara. Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\nApakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nApakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nApakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nApakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nApakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nApakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nApakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nApakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nApakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nApakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nApakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n
Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nApakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n
Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nApakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n
Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nApakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Menantang Capres-Cawapres Terang-terangan Membela Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menantang-capres-cawapres-terang-terangan-membela-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-13 08:31:38","post_modified_gmt":"2019-03-13 01:31:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5539","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\nBaca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n
Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nApakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Menantang Capres-Cawapres Terang-terangan Membela Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menantang-capres-cawapres-terang-terangan-membela-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-13 08:31:38","post_modified_gmt":"2019-03-13 01:31:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5539","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\nBaca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n
Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nApakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Menantang Capres-Cawapres Terang-terangan Membela Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menantang-capres-cawapres-terang-terangan-membela-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-13 08:31:38","post_modified_gmt":"2019-03-13 01:31:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5539","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\nBaca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n
Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nApakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};