Hati-hati dengan Informasi dari ChatGPT, Termasuk Informasi Tentang Rokok

Hati-hati dengan informasi dari ChatGPT, termasuk tentang rokok Boleh Merokok

Banyak orang menelan mentah-mentah informasi yang diberikan oleh ChatGPT. Tapi saya memilih tidak…

Bagaimanapun, saya kerap takjub dengan perkembangan teknologi kiwari. Seperti Artificial Intelligence (AI). Bagaimana tidak, AI ini bisa mengerjakan banyak hal. Bukan hanya bisa mengerjakan banyak, melainkan bisa mengerjakannya secara cepat. Sesuai kebutuhan dan keinginan.

Tak ayal banyak orang modern yang menggantungkan banyak pekerjaannya kepada AI. Di sisi lain fenomena AI ini menjadi momok tersendiri, mengingat ada berbagai pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh manusia tapi  kini tergantikan oleh AI.

Saya tidak akan memperdebatkan soal itu.  Saya hanya  ingin menyoroti bagaimana kemajuan AI ini tentu tidak bisa ditelan mentah-mentah. Mentang-mentang sudah ada AI, nalar kritis kita menjadi tumpul.

Hal ini mungkin terdengar klise. Tapi hal-hal klise ini memang mesti diulang-ulang terus, karena faktanya banyak orang yang justru mempercayai AI sepenuhnya.

Misalkan dalam konteks ChatGPT. Di mana AI ini belakangan dipakai untuk berbagai hal. Dari mulai membuat copywriting, merangkum materi, menanyakan hal-hal rumit, mengedit foto, hingga dipakai untuk curhat. Yang penting bisa memasukan prompt secara jelas maka AI akan menjawabnya.

Jawaban ChatGPT tentang rokok selalu buruk

Tapi ChatGPT tetaplah sebuah mesin. Dia bekerja berdasarkan informasi atau data yang dijejalkan oleh manusia. Di sinilah saya memilih tidak ikut arus dalam “pemujaan” terhadap ChatGPT.

Ini bermula manakala saya mencoba mengorek infomrasi tentang rokok terhadap ChatGPT. Setiap kali memasukkan pertanyaan soal rokok, pasti jawaban yang ChatGPT berikan selalu mengarah kepada konotasi buruk.

Hanya itu. Padahal, di internet, tidak sedikit pula informasi berkonotasi positif tentang produk legal yang didiskriminasi ini. Tapi suplai data atau informasi yang masuk ke ChatGPT justru menganulir sisi-sisi positif tersebut, lantas hanya memasukkan sisi buruk–yang sejatinya pun diragukan kebenarannya.

AI bisa salah…

Belakangan, CEO OpenAI, Sam Altman, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap tren meningkatnya kepercayaan publik terhadap ChatGPT, chatbot berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dikembangkan perusahaannya.

Dalam wawancaranya, Altman mengatakan banyak orang justru cenderung menerima jawaban dari ChatGPT tanpa mempertanyakan kebenarannya. Padahal mereka mengetahui bahwa AI tersebut masih bisa membuat kesalahan atau bahkan memberikan informasi yang belum/tidak akurat. Altman mengatakan kalau hal semacam itu termasuk “halusinasi”.

“Yang membuat saya khawatir adalah banyak orang percaya sepenuhnya pada ChatGPT, padahal kami selalu mengingatkan bahwa teknologi ini belum sempurna,” ujar Altman.

Lebih lanjut Altman menyebut bahwa hal semacam ini sebagai paradoks. Pasalnya,  masyarakat tahu bahwa AI bisa salah. Namun karena jawaban ChatGPT yang begitu lancar dan meyakinkan, sering kali membuat pengguna AI akhirnya terbuai dan menganggapnya sebagai sosok ahli dan pasti benar.

Juru Bicara Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), Khoirul Atfifudin

BACA JUGA: Agen Bisnis di Balik Kampanye Berhenti Merokok, Merokok yang Awalnya Hal Biasa Dicap bikin Candu

 

 

Artikel Lain