Cengkeh adalah tanaman yang punya peran penting dalam sejarah Indonesia. Cengkeh bukan hanya komoditas pertanian, tetapi juga penopang ekonomi rakyat, terutama di Maluku, Sulawesi, Nusa Tenggara, dan sebagian Jawa. Industri rokok kretek, yang menjadi ciri khas Indonesia, sangat bergantung pada cengkeh. Namun di balik peran besarnya itu, ada kenyataan pahit yang jarang dibicarakan.
Daftar Isi
ToggleKenyataan pahit itu adalah luas lahan cengkeh nasional yang terus menyusut dalam lima tahun terakhir. Penyusutan ini tidak terjadi secara tiba-tiba, tidak pula disertai krisis besar yang ramai diberitakan dan dibahas di mana-mana. Penyusutan ini berjalan perlahan, nyaris tanpa sorotan dari siapa pun, tetapi penyusutannya konsisten. Oleh karena itulah hal ini berbahaya.
Luas lahan cengkeh yang menurun tiap tahunnya
Berdasarkan data Statistik Perkebunan Indonesia yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Perkebunan (Kementerian Pertanian) serta data Badan Pusat Statistik (BPS), luas lahan cengkeh nasional dalam lima tahun terakhir menunjukkan tren penurunan yang jelas. Tahun 2021 luas lahan cengkeh 573.836 hektare, tahun 2022 turun menjadi 573.500 hektare, lalu tahun 2023 turun lagi menjadi 572.900 hektare, begitu pun tahun 2024 luas lahan cengkeh tersisa 572.410 hektare, dan pada tahun 2025 luas lahan cengkeh menurun lagi menjadi 572.100 hektare.
Alasan paling mendasar dari penyusutan ini adalah pertimbangan ekonomi petani, karena cengkeh adalah tanaman jangka panjang. Sejak ditanam, pohon cengkeh membutuhkan waktu sekitar 7 hingga 10 tahun untuk mencapai masa produktif. Ini berarti petani harus menunggu sangat lama sebelum mendapatkan hasil. Masalahnya, ketika masa panen tiba, harga cengkeh tidak selalu bersahabat.
Pada saat harga cengkeh turun, biaya produksi seperti pupuk, tenaga kerja, perawatan kebun tidak ikut turun. Akibatnya, margin keuntungan petani makin tipis, bahkan sering kali merugi. Dalam kondisi seperti ini, petani mulai berpikir rasional: “untuk apa mempertahankan cengkeh jika tanaman lain bisa memberi hasil lebih cepat dan lebih pasti?”. Menurut saya keputusan untuk meninggalkan cengkeh bukan keputusan emosional, melainkan keputusan bertahan hidup.
Cengkeh adalah komoditas yang “dianaktirikan”
Masalah berikutnya adalah usia pohon cengkeh. Menurut Ditjen Perkebunan, sebagian besar kebun cengkeh rakyat ditanam pada era 1970–1990-an. Artinya, hari ini banyak pohon cengkeh sudah berusia 30 hingga 50 tahunan. Pohon tua memang masih bisa berbuah, tetapi produktivitasnya menurun. Ia lebih rentan terhadap hama, penyakit, dan perubahan iklim. Idealnya, kondisi ini diatasi dengan peremajaan kebun. Namun pada kenyataannya, peremajaan hampir tidak berjalan karena biaya peremajaan yang mahal, Bibit unggul sulit diakses petani kecil, dan petani harus menunggu bertahun-tahun tanpa penghasilan.
Peremajaan kebun ini jika dilakukan tanpa insentif dan jaminan dari negara, risikonya sangat besar bagi para petani kecil. Akibatnya, kebun cengkeh dibiarkan menua, tidak produktif, lalu perlahan ditinggalkan atau dialihfungsikan. Di beberapa daerah, kebun cengkeh beralih menjadi lahan tanaman pangan, kebun komoditas lain yang lebih cepat panen, dan permukiman. Hal ini terjadi karena negara jarang hadir untuk memberi insentif agar lahan cengkeh tetap dipertahankan. Tidak ada perlindungan khusus seperti yang diberikan pada komoditas strategis lain seperti kelapa sawit dan padi.
Apakah negara masih mau hadir sebelum semuanya benar-benar hilang?
Cengkeh sangat bergantung kepada industri kretek. Sekitar 96% produksi cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek. Ketergantungan yang sangat tinggi ini membuat cengkeh berada dalam posisi rapuh. Ketika konsumsi rokok ditekan oleh regulasi, lalu industri kretek melakukan efisiensi bahan baku, dan impor cengkeh dibuka maka hancurlah para petani. Berbeda dengan beras, sawit, atau bahkan cabai, cengkeh jarang sekali menjadi isu nasional. Tidak ada program besar peremajaan kebun. Tidak ada kebijakan perlindungan harga yang konsisten. Dan, tidak ada narasi kedaulatan cengkeh. Ironisnya, semua ini terjadi di negara yang selama ini dikenal sebagai produsen cengkeh terbesar dunia.
Dari sini bisa kita lihat bahwa luas lahan cengkeh nasional terus menyusut secara konsisten. Penyebabnya bukan satu faktor tunggal, melainkan gabungan beberapa faktor, mulai dari persoalan ekonomi, usia tanaman, kebijakan, dan absennya perlindungan negara. Cengkeh bisa terancam hilang dari negeri asalnya karena petaninya tidak lagi memiliki harapan di sana. Pertanyaannya kini bukan lagi mengapa lahan cengkeh menyusut, melainkan: apakah negara masih mau hadir sebelum semuanya benar-benar terlambat dan hilang?
Penulis: Spahing Aprianto










