Ia tak berkomentar pedas akan hal itu. Lebih memilih diam dan terkesan menyetujui maraknya penjualan tanah di kampung. Namun, Ia tetap melawan secara mandiri, dengan tidak mau menjual lahan pertaniannya meskipun berkali-kali dirayu investor dengan harga mahal karena lokasinya strategis. Ia juga menyabotase akses masuk ke lokasi perumahan yang jika lewat lahan miliknya, lebih strategis dan mudah terakses. Namun karena perlawanannya dengan cara tak mau menjual lahan miliknya meskipun sedikit saja untuk jalan, akses jalan menuju perumahan itu harus sedikit memutar. Perlawanan khas Scottian.<\/p>\n\n\n\n
Saya kira, apa yang dilakukan Mbah Gimin, patut pula dicontoh untuk gerakan melawan kenaikan harga rokok. Ya sudah, mau apa lagi, terima saja dulu, biar saja. Tapi kita cukupkan saja dengan persetujuan itu, cukup. Tidak usah beli rokok lagi, dan bersetia pada tingwe.<\/p>\n","post_title":"Perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perlawanan-scottian-ala-mbah-gimin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-23 10:03:11","post_modified_gmt":"2020-01-23 03:03:11","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6399","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Selain kasus cukai rokok ini, perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin juga sudah saya dengar kemasyhurannya jauh-jauh hari, lewat perlawanan Mbah Gimin terhadap maraknya investasi di kampung yang mengubah lahan pertanian menjadi perumahan-perumahan kluster. Ia tak melawan secara frontal, tidak juga menyalahkan petani lain yang melepas lahannya untuk dibeli pemborong perumahan. <\/p>\n\n\n\n
Ia tak berkomentar pedas akan hal itu. Lebih memilih diam dan terkesan menyetujui maraknya penjualan tanah di kampung. Namun, Ia tetap melawan secara mandiri, dengan tidak mau menjual lahan pertaniannya meskipun berkali-kali dirayu investor dengan harga mahal karena lokasinya strategis. Ia juga menyabotase akses masuk ke lokasi perumahan yang jika lewat lahan miliknya, lebih strategis dan mudah terakses. Namun karena perlawanannya dengan cara tak mau menjual lahan miliknya meskipun sedikit saja untuk jalan, akses jalan menuju perumahan itu harus sedikit memutar. Perlawanan khas Scottian.<\/p>\n\n\n\n
Saya kira, apa yang dilakukan Mbah Gimin, patut pula dicontoh untuk gerakan melawan kenaikan harga rokok. Ya sudah, mau apa lagi, terima saja dulu, biar saja. Tapi kita cukupkan saja dengan persetujuan itu, cukup. Tidak usah beli rokok lagi, dan bersetia pada tingwe.<\/p>\n","post_title":"Perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perlawanan-scottian-ala-mbah-gimin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-23 10:03:11","post_modified_gmt":"2020-01-23 03:03:11","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6399","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Komentar Mbah Gimin mengingatkan saya pada buku karya James C. Scott berjudul Weapon of the Weak. Dari James C. Scott itulah kemudian muncul teori perlawanan kaum tani yang kerap disebut teori Scottian. Melawan meskipun kalah. Melawan dengan cara khas petani. Main belakang, seakan mengiyakan dan menyetujui, tetapi diam-diam melawan. <\/p>\n\n\n\n
Selain kasus cukai rokok ini, perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin juga sudah saya dengar kemasyhurannya jauh-jauh hari, lewat perlawanan Mbah Gimin terhadap maraknya investasi di kampung yang mengubah lahan pertanian menjadi perumahan-perumahan kluster. Ia tak melawan secara frontal, tidak juga menyalahkan petani lain yang melepas lahannya untuk dibeli pemborong perumahan. <\/p>\n\n\n\n
Ia tak berkomentar pedas akan hal itu. Lebih memilih diam dan terkesan menyetujui maraknya penjualan tanah di kampung. Namun, Ia tetap melawan secara mandiri, dengan tidak mau menjual lahan pertaniannya meskipun berkali-kali dirayu investor dengan harga mahal karena lokasinya strategis. Ia juga menyabotase akses masuk ke lokasi perumahan yang jika lewat lahan miliknya, lebih strategis dan mudah terakses. Namun karena perlawanannya dengan cara tak mau menjual lahan miliknya meskipun sedikit saja untuk jalan, akses jalan menuju perumahan itu harus sedikit memutar. Perlawanan khas Scottian.<\/p>\n\n\n\n
Saya kira, apa yang dilakukan Mbah Gimin, patut pula dicontoh untuk gerakan melawan kenaikan harga rokok. Ya sudah, mau apa lagi, terima saja dulu, biar saja. Tapi kita cukupkan saja dengan persetujuan itu, cukup. Tidak usah beli rokok lagi, dan bersetia pada tingwe.<\/p>\n","post_title":"Perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perlawanan-scottian-ala-mbah-gimin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-23 10:03:11","post_modified_gmt":"2020-01-23 03:03:11","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6399","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\"Mungkin itu untuk kebaikan pemerintah, jadi rokok harganya naik. Ya moga-moga petani juga dapat untung dari situ.\"<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
Komentar Mbah Gimin mengingatkan saya pada buku karya James C. Scott berjudul Weapon of the Weak. Dari James C. Scott itulah kemudian muncul teori perlawanan kaum tani yang kerap disebut teori Scottian. Melawan meskipun kalah. Melawan dengan cara khas petani. Main belakang, seakan mengiyakan dan menyetujui, tetapi diam-diam melawan. <\/p>\n\n\n\n
Selain kasus cukai rokok ini, perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin juga sudah saya dengar kemasyhurannya jauh-jauh hari, lewat perlawanan Mbah Gimin terhadap maraknya investasi di kampung yang mengubah lahan pertanian menjadi perumahan-perumahan kluster. Ia tak melawan secara frontal, tidak juga menyalahkan petani lain yang melepas lahannya untuk dibeli pemborong perumahan. <\/p>\n\n\n\n
Ia tak berkomentar pedas akan hal itu. Lebih memilih diam dan terkesan menyetujui maraknya penjualan tanah di kampung. Namun, Ia tetap melawan secara mandiri, dengan tidak mau menjual lahan pertaniannya meskipun berkali-kali dirayu investor dengan harga mahal karena lokasinya strategis. Ia juga menyabotase akses masuk ke lokasi perumahan yang jika lewat lahan miliknya, lebih strategis dan mudah terakses. Namun karena perlawanannya dengan cara tak mau menjual lahan miliknya meskipun sedikit saja untuk jalan, akses jalan menuju perumahan itu harus sedikit memutar. Perlawanan khas Scottian.<\/p>\n\n\n\n
Saya kira, apa yang dilakukan Mbah Gimin, patut pula dicontoh untuk gerakan melawan kenaikan harga rokok. Ya sudah, mau apa lagi, terima saja dulu, biar saja. Tapi kita cukupkan saja dengan persetujuan itu, cukup. Tidak usah beli rokok lagi, dan bersetia pada tingwe.<\/p>\n","post_title":"Perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perlawanan-scottian-ala-mbah-gimin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-23 10:03:11","post_modified_gmt":"2020-01-23 03:03:11","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6399","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\nKetika saya menginformasikan perihal kembali semaraknya orang-orang memilih rokok tingwe, dan menjadikan itu sebagai protes perlawanan akibat kenaikan cukai dan kenaikan harga rokok pabrikan, Mbah Gimin tersenyum, kemudian berujar, <\/p>\n\n\n\n
\"Mungkin itu untuk kebaikan pemerintah, jadi rokok harganya naik. Ya moga-moga petani juga dapat untung dari situ.\"<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
Komentar Mbah Gimin mengingatkan saya pada buku karya James C. Scott berjudul Weapon of the Weak. Dari James C. Scott itulah kemudian muncul teori perlawanan kaum tani yang kerap disebut teori Scottian. Melawan meskipun kalah. Melawan dengan cara khas petani. Main belakang, seakan mengiyakan dan menyetujui, tetapi diam-diam melawan. <\/p>\n\n\n\n
Selain kasus cukai rokok ini, perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin juga sudah saya dengar kemasyhurannya jauh-jauh hari, lewat perlawanan Mbah Gimin terhadap maraknya investasi di kampung yang mengubah lahan pertanian menjadi perumahan-perumahan kluster. Ia tak melawan secara frontal, tidak juga menyalahkan petani lain yang melepas lahannya untuk dibeli pemborong perumahan. <\/p>\n\n\n\n
Ia tak berkomentar pedas akan hal itu. Lebih memilih diam dan terkesan menyetujui maraknya penjualan tanah di kampung. Namun, Ia tetap melawan secara mandiri, dengan tidak mau menjual lahan pertaniannya meskipun berkali-kali dirayu investor dengan harga mahal karena lokasinya strategis. Ia juga menyabotase akses masuk ke lokasi perumahan yang jika lewat lahan miliknya, lebih strategis dan mudah terakses. Namun karena perlawanannya dengan cara tak mau menjual lahan miliknya meskipun sedikit saja untuk jalan, akses jalan menuju perumahan itu harus sedikit memutar. Perlawanan khas Scottian.<\/p>\n\n\n\n
Saya kira, apa yang dilakukan Mbah Gimin, patut pula dicontoh untuk gerakan melawan kenaikan harga rokok. Ya sudah, mau apa lagi, terima saja dulu, biar saja. Tapi kita cukupkan saja dengan persetujuan itu, cukup. Tidak usah beli rokok lagi, dan bersetia pada tingwe.<\/p>\n","post_title":"Perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perlawanan-scottian-ala-mbah-gimin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-23 10:03:11","post_modified_gmt":"2020-01-23 03:03:11","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6399","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\nBeberapa waktu belakangan, rokok tingwe kembali populer. Setelah sebelumnya dicap sebagai selera kolot, kini banyak anak muda yang menjadikan rokok tingwe sebagai keseharian gaya hidup, meninggalkan rokok pabrikan yang banyak beredar di pasaran. Lebih lagi usai harga rokok naik setelah cukai rokok dikerek naik dengan drastis oleh pemerintah. Membicarakan rokok tingwe, tentu saja saya teringat Mbah Gimin yang lama bersetia pada rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n
Ketika saya menginformasikan perihal kembali semaraknya orang-orang memilih rokok tingwe, dan menjadikan itu sebagai protes perlawanan akibat kenaikan cukai dan kenaikan harga rokok pabrikan, Mbah Gimin tersenyum, kemudian berujar, <\/p>\n\n\n\n
\"Mungkin itu untuk kebaikan pemerintah, jadi rokok harganya naik. Ya moga-moga petani juga dapat untung dari situ.\"<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
Komentar Mbah Gimin mengingatkan saya pada buku karya James C. Scott berjudul Weapon of the Weak. Dari James C. Scott itulah kemudian muncul teori perlawanan kaum tani yang kerap disebut teori Scottian. Melawan meskipun kalah. Melawan dengan cara khas petani. Main belakang, seakan mengiyakan dan menyetujui, tetapi diam-diam melawan. <\/p>\n\n\n\n
Selain kasus cukai rokok ini, perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin juga sudah saya dengar kemasyhurannya jauh-jauh hari, lewat perlawanan Mbah Gimin terhadap maraknya investasi di kampung yang mengubah lahan pertanian menjadi perumahan-perumahan kluster. Ia tak melawan secara frontal, tidak juga menyalahkan petani lain yang melepas lahannya untuk dibeli pemborong perumahan. <\/p>\n\n\n\n
Ia tak berkomentar pedas akan hal itu. Lebih memilih diam dan terkesan menyetujui maraknya penjualan tanah di kampung. Namun, Ia tetap melawan secara mandiri, dengan tidak mau menjual lahan pertaniannya meskipun berkali-kali dirayu investor dengan harga mahal karena lokasinya strategis. Ia juga menyabotase akses masuk ke lokasi perumahan yang jika lewat lahan miliknya, lebih strategis dan mudah terakses. Namun karena perlawanannya dengan cara tak mau menjual lahan miliknya meskipun sedikit saja untuk jalan, akses jalan menuju perumahan itu harus sedikit memutar. Perlawanan khas Scottian.<\/p>\n\n\n\n
Saya kira, apa yang dilakukan Mbah Gimin, patut pula dicontoh untuk gerakan melawan kenaikan harga rokok. Ya sudah, mau apa lagi, terima saja dulu, biar saja. Tapi kita cukupkan saja dengan persetujuan itu, cukup. Tidak usah beli rokok lagi, dan bersetia pada tingwe.<\/p>\n","post_title":"Perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perlawanan-scottian-ala-mbah-gimin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-23 10:03:11","post_modified_gmt":"2020-01-23 03:03:11","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6399","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\nBaca: Sejarah Singkat Perkembangan Cukai Rokok dan DBHCHT di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n
Beberapa waktu belakangan, rokok tingwe kembali populer. Setelah sebelumnya dicap sebagai selera kolot, kini banyak anak muda yang menjadikan rokok tingwe sebagai keseharian gaya hidup, meninggalkan rokok pabrikan yang banyak beredar di pasaran. Lebih lagi usai harga rokok naik setelah cukai rokok dikerek naik dengan drastis oleh pemerintah. Membicarakan rokok tingwe, tentu saja saya teringat Mbah Gimin yang lama bersetia pada rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n
Ketika saya menginformasikan perihal kembali semaraknya orang-orang memilih rokok tingwe, dan menjadikan itu sebagai protes perlawanan akibat kenaikan cukai dan kenaikan harga rokok pabrikan, Mbah Gimin tersenyum, kemudian berujar, <\/p>\n\n\n\n
\"Mungkin itu untuk kebaikan pemerintah, jadi rokok harganya naik. Ya moga-moga petani juga dapat untung dari situ.\"<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
Komentar Mbah Gimin mengingatkan saya pada buku karya James C. Scott berjudul Weapon of the Weak. Dari James C. Scott itulah kemudian muncul teori perlawanan kaum tani yang kerap disebut teori Scottian. Melawan meskipun kalah. Melawan dengan cara khas petani. Main belakang, seakan mengiyakan dan menyetujui, tetapi diam-diam melawan. <\/p>\n\n\n\n
Selain kasus cukai rokok ini, perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin juga sudah saya dengar kemasyhurannya jauh-jauh hari, lewat perlawanan Mbah Gimin terhadap maraknya investasi di kampung yang mengubah lahan pertanian menjadi perumahan-perumahan kluster. Ia tak melawan secara frontal, tidak juga menyalahkan petani lain yang melepas lahannya untuk dibeli pemborong perumahan. <\/p>\n\n\n\n
Ia tak berkomentar pedas akan hal itu. Lebih memilih diam dan terkesan menyetujui maraknya penjualan tanah di kampung. Namun, Ia tetap melawan secara mandiri, dengan tidak mau menjual lahan pertaniannya meskipun berkali-kali dirayu investor dengan harga mahal karena lokasinya strategis. Ia juga menyabotase akses masuk ke lokasi perumahan yang jika lewat lahan miliknya, lebih strategis dan mudah terakses. Namun karena perlawanannya dengan cara tak mau menjual lahan miliknya meskipun sedikit saja untuk jalan, akses jalan menuju perumahan itu harus sedikit memutar. Perlawanan khas Scottian.<\/p>\n\n\n\n
Saya kira, apa yang dilakukan Mbah Gimin, patut pula dicontoh untuk gerakan melawan kenaikan harga rokok. Ya sudah, mau apa lagi, terima saja dulu, biar saja. Tapi kita cukupkan saja dengan persetujuan itu, cukup. Tidak usah beli rokok lagi, dan bersetia pada tingwe.<\/p>\n","post_title":"Perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perlawanan-scottian-ala-mbah-gimin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-23 10:03:11","post_modified_gmt":"2020-01-23 03:03:11","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6399","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\n\"Sesekali pernah. Tapi rasanya nggak ada yang pas.\"<\/p>\n\n\n\n
Baca: Sejarah Singkat Perkembangan Cukai Rokok dan DBHCHT di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n
Beberapa waktu belakangan, rokok tingwe kembali populer. Setelah sebelumnya dicap sebagai selera kolot, kini banyak anak muda yang menjadikan rokok tingwe sebagai keseharian gaya hidup, meninggalkan rokok pabrikan yang banyak beredar di pasaran. Lebih lagi usai harga rokok naik setelah cukai rokok dikerek naik dengan drastis oleh pemerintah. Membicarakan rokok tingwe, tentu saja saya teringat Mbah Gimin yang lama bersetia pada rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n
Ketika saya menginformasikan perihal kembali semaraknya orang-orang memilih rokok tingwe, dan menjadikan itu sebagai protes perlawanan akibat kenaikan cukai dan kenaikan harga rokok pabrikan, Mbah Gimin tersenyum, kemudian berujar, <\/p>\n\n\n\n
\"Mungkin itu untuk kebaikan pemerintah, jadi rokok harganya naik. Ya moga-moga petani juga dapat untung dari situ.\"<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
Komentar Mbah Gimin mengingatkan saya pada buku karya James C. Scott berjudul Weapon of the Weak. Dari James C. Scott itulah kemudian muncul teori perlawanan kaum tani yang kerap disebut teori Scottian. Melawan meskipun kalah. Melawan dengan cara khas petani. Main belakang, seakan mengiyakan dan menyetujui, tetapi diam-diam melawan. <\/p>\n\n\n\n
Selain kasus cukai rokok ini, perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin juga sudah saya dengar kemasyhurannya jauh-jauh hari, lewat perlawanan Mbah Gimin terhadap maraknya investasi di kampung yang mengubah lahan pertanian menjadi perumahan-perumahan kluster. Ia tak melawan secara frontal, tidak juga menyalahkan petani lain yang melepas lahannya untuk dibeli pemborong perumahan. <\/p>\n\n\n\n
Ia tak berkomentar pedas akan hal itu. Lebih memilih diam dan terkesan menyetujui maraknya penjualan tanah di kampung. Namun, Ia tetap melawan secara mandiri, dengan tidak mau menjual lahan pertaniannya meskipun berkali-kali dirayu investor dengan harga mahal karena lokasinya strategis. Ia juga menyabotase akses masuk ke lokasi perumahan yang jika lewat lahan miliknya, lebih strategis dan mudah terakses. Namun karena perlawanannya dengan cara tak mau menjual lahan miliknya meskipun sedikit saja untuk jalan, akses jalan menuju perumahan itu harus sedikit memutar. Perlawanan khas Scottian.<\/p>\n\n\n\n
Saya kira, apa yang dilakukan Mbah Gimin, patut pula dicontoh untuk gerakan melawan kenaikan harga rokok. Ya sudah, mau apa lagi, terima saja dulu, biar saja. Tapi kita cukupkan saja dengan persetujuan itu, cukup. Tidak usah beli rokok lagi, dan bersetia pada tingwe.<\/p>\n","post_title":"Perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perlawanan-scottian-ala-mbah-gimin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-23 10:03:11","post_modified_gmt":"2020-01-23 03:03:11","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6399","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\n\"Nggak pernah coba rokok pabrikan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Sesekali pernah. Tapi rasanya nggak ada yang pas.\"<\/p>\n\n\n\n
Baca: Sejarah Singkat Perkembangan Cukai Rokok dan DBHCHT di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n
Beberapa waktu belakangan, rokok tingwe kembali populer. Setelah sebelumnya dicap sebagai selera kolot, kini banyak anak muda yang menjadikan rokok tingwe sebagai keseharian gaya hidup, meninggalkan rokok pabrikan yang banyak beredar di pasaran. Lebih lagi usai harga rokok naik setelah cukai rokok dikerek naik dengan drastis oleh pemerintah. Membicarakan rokok tingwe, tentu saja saya teringat Mbah Gimin yang lama bersetia pada rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n
Ketika saya menginformasikan perihal kembali semaraknya orang-orang memilih rokok tingwe, dan menjadikan itu sebagai protes perlawanan akibat kenaikan cukai dan kenaikan harga rokok pabrikan, Mbah Gimin tersenyum, kemudian berujar, <\/p>\n\n\n\n
\"Mungkin itu untuk kebaikan pemerintah, jadi rokok harganya naik. Ya moga-moga petani juga dapat untung dari situ.\"<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
Komentar Mbah Gimin mengingatkan saya pada buku karya James C. Scott berjudul Weapon of the Weak. Dari James C. Scott itulah kemudian muncul teori perlawanan kaum tani yang kerap disebut teori Scottian. Melawan meskipun kalah. Melawan dengan cara khas petani. Main belakang, seakan mengiyakan dan menyetujui, tetapi diam-diam melawan. <\/p>\n\n\n\n
Selain kasus cukai rokok ini, perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin juga sudah saya dengar kemasyhurannya jauh-jauh hari, lewat perlawanan Mbah Gimin terhadap maraknya investasi di kampung yang mengubah lahan pertanian menjadi perumahan-perumahan kluster. Ia tak melawan secara frontal, tidak juga menyalahkan petani lain yang melepas lahannya untuk dibeli pemborong perumahan. <\/p>\n\n\n\n
Ia tak berkomentar pedas akan hal itu. Lebih memilih diam dan terkesan menyetujui maraknya penjualan tanah di kampung. Namun, Ia tetap melawan secara mandiri, dengan tidak mau menjual lahan pertaniannya meskipun berkali-kali dirayu investor dengan harga mahal karena lokasinya strategis. Ia juga menyabotase akses masuk ke lokasi perumahan yang jika lewat lahan miliknya, lebih strategis dan mudah terakses. Namun karena perlawanannya dengan cara tak mau menjual lahan miliknya meskipun sedikit saja untuk jalan, akses jalan menuju perumahan itu harus sedikit memutar. Perlawanan khas Scottian.<\/p>\n\n\n\n
Saya kira, apa yang dilakukan Mbah Gimin, patut pula dicontoh untuk gerakan melawan kenaikan harga rokok. Ya sudah, mau apa lagi, terima saja dulu, biar saja. Tapi kita cukupkan saja dengan persetujuan itu, cukup. Tidak usah beli rokok lagi, dan bersetia pada tingwe.<\/p>\n","post_title":"Perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perlawanan-scottian-ala-mbah-gimin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-23 10:03:11","post_modified_gmt":"2020-01-23 03:03:11","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6399","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\n\"Wah, sudah lama. Ya sejak mulai merokok.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Nggak pernah coba rokok pabrikan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Sesekali pernah. Tapi rasanya nggak ada yang pas.\"<\/p>\n\n\n\n
Baca: Sejarah Singkat Perkembangan Cukai Rokok dan DBHCHT di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n
Beberapa waktu belakangan, rokok tingwe kembali populer. Setelah sebelumnya dicap sebagai selera kolot, kini banyak anak muda yang menjadikan rokok tingwe sebagai keseharian gaya hidup, meninggalkan rokok pabrikan yang banyak beredar di pasaran. Lebih lagi usai harga rokok naik setelah cukai rokok dikerek naik dengan drastis oleh pemerintah. Membicarakan rokok tingwe, tentu saja saya teringat Mbah Gimin yang lama bersetia pada rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n
Ketika saya menginformasikan perihal kembali semaraknya orang-orang memilih rokok tingwe, dan menjadikan itu sebagai protes perlawanan akibat kenaikan cukai dan kenaikan harga rokok pabrikan, Mbah Gimin tersenyum, kemudian berujar, <\/p>\n\n\n\n
\"Mungkin itu untuk kebaikan pemerintah, jadi rokok harganya naik. Ya moga-moga petani juga dapat untung dari situ.\"<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
Komentar Mbah Gimin mengingatkan saya pada buku karya James C. Scott berjudul Weapon of the Weak. Dari James C. Scott itulah kemudian muncul teori perlawanan kaum tani yang kerap disebut teori Scottian. Melawan meskipun kalah. Melawan dengan cara khas petani. Main belakang, seakan mengiyakan dan menyetujui, tetapi diam-diam melawan. <\/p>\n\n\n\n
Selain kasus cukai rokok ini, perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin juga sudah saya dengar kemasyhurannya jauh-jauh hari, lewat perlawanan Mbah Gimin terhadap maraknya investasi di kampung yang mengubah lahan pertanian menjadi perumahan-perumahan kluster. Ia tak melawan secara frontal, tidak juga menyalahkan petani lain yang melepas lahannya untuk dibeli pemborong perumahan. <\/p>\n\n\n\n
Ia tak berkomentar pedas akan hal itu. Lebih memilih diam dan terkesan menyetujui maraknya penjualan tanah di kampung. Namun, Ia tetap melawan secara mandiri, dengan tidak mau menjual lahan pertaniannya meskipun berkali-kali dirayu investor dengan harga mahal karena lokasinya strategis. Ia juga menyabotase akses masuk ke lokasi perumahan yang jika lewat lahan miliknya, lebih strategis dan mudah terakses. Namun karena perlawanannya dengan cara tak mau menjual lahan miliknya meskipun sedikit saja untuk jalan, akses jalan menuju perumahan itu harus sedikit memutar. Perlawanan khas Scottian.<\/p>\n\n\n\n
Saya kira, apa yang dilakukan Mbah Gimin, patut pula dicontoh untuk gerakan melawan kenaikan harga rokok. Ya sudah, mau apa lagi, terima saja dulu, biar saja. Tapi kita cukupkan saja dengan persetujuan itu, cukup. Tidak usah beli rokok lagi, dan bersetia pada tingwe.<\/p>\n","post_title":"Perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perlawanan-scottian-ala-mbah-gimin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-23 10:03:11","post_modified_gmt":"2020-01-23 03:03:11","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6399","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\n\"Mbah sejak kapan merokok tingwe?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Wah, sudah lama. Ya sejak mulai merokok.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Nggak pernah coba rokok pabrikan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Sesekali pernah. Tapi rasanya nggak ada yang pas.\"<\/p>\n\n\n\n
Baca: Sejarah Singkat Perkembangan Cukai Rokok dan DBHCHT di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n
Beberapa waktu belakangan, rokok tingwe kembali populer. Setelah sebelumnya dicap sebagai selera kolot, kini banyak anak muda yang menjadikan rokok tingwe sebagai keseharian gaya hidup, meninggalkan rokok pabrikan yang banyak beredar di pasaran. Lebih lagi usai harga rokok naik setelah cukai rokok dikerek naik dengan drastis oleh pemerintah. Membicarakan rokok tingwe, tentu saja saya teringat Mbah Gimin yang lama bersetia pada rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n
Ketika saya menginformasikan perihal kembali semaraknya orang-orang memilih rokok tingwe, dan menjadikan itu sebagai protes perlawanan akibat kenaikan cukai dan kenaikan harga rokok pabrikan, Mbah Gimin tersenyum, kemudian berujar, <\/p>\n\n\n\n
\"Mungkin itu untuk kebaikan pemerintah, jadi rokok harganya naik. Ya moga-moga petani juga dapat untung dari situ.\"<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
Komentar Mbah Gimin mengingatkan saya pada buku karya James C. Scott berjudul Weapon of the Weak. Dari James C. Scott itulah kemudian muncul teori perlawanan kaum tani yang kerap disebut teori Scottian. Melawan meskipun kalah. Melawan dengan cara khas petani. Main belakang, seakan mengiyakan dan menyetujui, tetapi diam-diam melawan. <\/p>\n\n\n\n
Selain kasus cukai rokok ini, perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin juga sudah saya dengar kemasyhurannya jauh-jauh hari, lewat perlawanan Mbah Gimin terhadap maraknya investasi di kampung yang mengubah lahan pertanian menjadi perumahan-perumahan kluster. Ia tak melawan secara frontal, tidak juga menyalahkan petani lain yang melepas lahannya untuk dibeli pemborong perumahan. <\/p>\n\n\n\n
Ia tak berkomentar pedas akan hal itu. Lebih memilih diam dan terkesan menyetujui maraknya penjualan tanah di kampung. Namun, Ia tetap melawan secara mandiri, dengan tidak mau menjual lahan pertaniannya meskipun berkali-kali dirayu investor dengan harga mahal karena lokasinya strategis. Ia juga menyabotase akses masuk ke lokasi perumahan yang jika lewat lahan miliknya, lebih strategis dan mudah terakses. Namun karena perlawanannya dengan cara tak mau menjual lahan miliknya meskipun sedikit saja untuk jalan, akses jalan menuju perumahan itu harus sedikit memutar. Perlawanan khas Scottian.<\/p>\n\n\n\n
Saya kira, apa yang dilakukan Mbah Gimin, patut pula dicontoh untuk gerakan melawan kenaikan harga rokok. Ya sudah, mau apa lagi, terima saja dulu, biar saja. Tapi kita cukupkan saja dengan persetujuan itu, cukup. Tidak usah beli rokok lagi, dan bersetia pada tingwe.<\/p>\n","post_title":"Perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perlawanan-scottian-ala-mbah-gimin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-23 10:03:11","post_modified_gmt":"2020-01-23 03:03:11","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6399","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\n\"Wajar itu. Senang ya wajar. Takut dan khawatir ya wajar. Jadi ya tenang saja. Apalagi ini anak pertamakan. Wajar.\" Ujar Mbah Gimin, lantas mengisap rokok tingwe lalu menghembuskan asap dengan santai dari mulut dan hidung.<\/p>\n\n\n\n
\"Mbah sejak kapan merokok tingwe?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Wah, sudah lama. Ya sejak mulai merokok.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Nggak pernah coba rokok pabrikan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Sesekali pernah. Tapi rasanya nggak ada yang pas.\"<\/p>\n\n\n\n
Baca: Sejarah Singkat Perkembangan Cukai Rokok dan DBHCHT di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n
Beberapa waktu belakangan, rokok tingwe kembali populer. Setelah sebelumnya dicap sebagai selera kolot, kini banyak anak muda yang menjadikan rokok tingwe sebagai keseharian gaya hidup, meninggalkan rokok pabrikan yang banyak beredar di pasaran. Lebih lagi usai harga rokok naik setelah cukai rokok dikerek naik dengan drastis oleh pemerintah. Membicarakan rokok tingwe, tentu saja saya teringat Mbah Gimin yang lama bersetia pada rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n
Ketika saya menginformasikan perihal kembali semaraknya orang-orang memilih rokok tingwe, dan menjadikan itu sebagai protes perlawanan akibat kenaikan cukai dan kenaikan harga rokok pabrikan, Mbah Gimin tersenyum, kemudian berujar, <\/p>\n\n\n\n
\"Mungkin itu untuk kebaikan pemerintah, jadi rokok harganya naik. Ya moga-moga petani juga dapat untung dari situ.\"<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
Komentar Mbah Gimin mengingatkan saya pada buku karya James C. Scott berjudul Weapon of the Weak. Dari James C. Scott itulah kemudian muncul teori perlawanan kaum tani yang kerap disebut teori Scottian. Melawan meskipun kalah. Melawan dengan cara khas petani. Main belakang, seakan mengiyakan dan menyetujui, tetapi diam-diam melawan. <\/p>\n\n\n\n
Selain kasus cukai rokok ini, perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin juga sudah saya dengar kemasyhurannya jauh-jauh hari, lewat perlawanan Mbah Gimin terhadap maraknya investasi di kampung yang mengubah lahan pertanian menjadi perumahan-perumahan kluster. Ia tak melawan secara frontal, tidak juga menyalahkan petani lain yang melepas lahannya untuk dibeli pemborong perumahan. <\/p>\n\n\n\n
Ia tak berkomentar pedas akan hal itu. Lebih memilih diam dan terkesan menyetujui maraknya penjualan tanah di kampung. Namun, Ia tetap melawan secara mandiri, dengan tidak mau menjual lahan pertaniannya meskipun berkali-kali dirayu investor dengan harga mahal karena lokasinya strategis. Ia juga menyabotase akses masuk ke lokasi perumahan yang jika lewat lahan miliknya, lebih strategis dan mudah terakses. Namun karena perlawanannya dengan cara tak mau menjual lahan miliknya meskipun sedikit saja untuk jalan, akses jalan menuju perumahan itu harus sedikit memutar. Perlawanan khas Scottian.<\/p>\n\n\n\n
Saya kira, apa yang dilakukan Mbah Gimin, patut pula dicontoh untuk gerakan melawan kenaikan harga rokok. Ya sudah, mau apa lagi, terima saja dulu, biar saja. Tapi kita cukupkan saja dengan persetujuan itu, cukup. Tidak usah beli rokok lagi, dan bersetia pada tingwe.<\/p>\n","post_title":"Perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perlawanan-scottian-ala-mbah-gimin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-23 10:03:11","post_modified_gmt":"2020-01-23 03:03:11","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6399","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\nMbah Gimin hidup seorang diri di kampung. Dua orang istrinya sudah lama meninggal. Tidak, Mbah Gimin tidak poligami. Mbah Gimin menikah enam tahun usai istri pertamanya meninggal. Tiga tahun kemudian, istri keduanya meninggal dunia. Bersama istri pertama, lahir dua orang anak, keduanya tinggal bersama suami mereka di luar kampung. Satu di Gunung Kidul, satu lagi di Klaten. Dengan istri kedua, tidak ada anak.<\/p>\n\n\n\n
\"Wajar itu. Senang ya wajar. Takut dan khawatir ya wajar. Jadi ya tenang saja. Apalagi ini anak pertamakan. Wajar.\" Ujar Mbah Gimin, lantas mengisap rokok tingwe lalu menghembuskan asap dengan santai dari mulut dan hidung.<\/p>\n\n\n\n
\"Mbah sejak kapan merokok tingwe?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Wah, sudah lama. Ya sejak mulai merokok.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Nggak pernah coba rokok pabrikan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Sesekali pernah. Tapi rasanya nggak ada yang pas.\"<\/p>\n\n\n\n
Baca: Sejarah Singkat Perkembangan Cukai Rokok dan DBHCHT di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n
Beberapa waktu belakangan, rokok tingwe kembali populer. Setelah sebelumnya dicap sebagai selera kolot, kini banyak anak muda yang menjadikan rokok tingwe sebagai keseharian gaya hidup, meninggalkan rokok pabrikan yang banyak beredar di pasaran. Lebih lagi usai harga rokok naik setelah cukai rokok dikerek naik dengan drastis oleh pemerintah. Membicarakan rokok tingwe, tentu saja saya teringat Mbah Gimin yang lama bersetia pada rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n
Ketika saya menginformasikan perihal kembali semaraknya orang-orang memilih rokok tingwe, dan menjadikan itu sebagai protes perlawanan akibat kenaikan cukai dan kenaikan harga rokok pabrikan, Mbah Gimin tersenyum, kemudian berujar, <\/p>\n\n\n\n
\"Mungkin itu untuk kebaikan pemerintah, jadi rokok harganya naik. Ya moga-moga petani juga dapat untung dari situ.\"<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
Komentar Mbah Gimin mengingatkan saya pada buku karya James C. Scott berjudul Weapon of the Weak. Dari James C. Scott itulah kemudian muncul teori perlawanan kaum tani yang kerap disebut teori Scottian. Melawan meskipun kalah. Melawan dengan cara khas petani. Main belakang, seakan mengiyakan dan menyetujui, tetapi diam-diam melawan. <\/p>\n\n\n\n
Selain kasus cukai rokok ini, perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin juga sudah saya dengar kemasyhurannya jauh-jauh hari, lewat perlawanan Mbah Gimin terhadap maraknya investasi di kampung yang mengubah lahan pertanian menjadi perumahan-perumahan kluster. Ia tak melawan secara frontal, tidak juga menyalahkan petani lain yang melepas lahannya untuk dibeli pemborong perumahan. <\/p>\n\n\n\n
Ia tak berkomentar pedas akan hal itu. Lebih memilih diam dan terkesan menyetujui maraknya penjualan tanah di kampung. Namun, Ia tetap melawan secara mandiri, dengan tidak mau menjual lahan pertaniannya meskipun berkali-kali dirayu investor dengan harga mahal karena lokasinya strategis. Ia juga menyabotase akses masuk ke lokasi perumahan yang jika lewat lahan miliknya, lebih strategis dan mudah terakses. Namun karena perlawanannya dengan cara tak mau menjual lahan miliknya meskipun sedikit saja untuk jalan, akses jalan menuju perumahan itu harus sedikit memutar. Perlawanan khas Scottian.<\/p>\n\n\n\n
Saya kira, apa yang dilakukan Mbah Gimin, patut pula dicontoh untuk gerakan melawan kenaikan harga rokok. Ya sudah, mau apa lagi, terima saja dulu, biar saja. Tapi kita cukupkan saja dengan persetujuan itu, cukup. Tidak usah beli rokok lagi, dan bersetia pada tingwe.<\/p>\n","post_title":"Perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perlawanan-scottian-ala-mbah-gimin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-23 10:03:11","post_modified_gmt":"2020-01-23 03:03:11","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6399","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\nKami berbincang perihal apa saja. Yang paling sering, tentang kampung tempat kami tinggal dan keseharian Mbah Gimin di masa lampau hingga kini. Sekali dua, Mbah Gimin juga kerap mengantar hasil bumi ke rumah saya. Beras, ketela, cabai, dan beberapa jenis sayur yang Ia tanam. <\/p>\n\n\n\n
Mbah Gimin hidup seorang diri di kampung. Dua orang istrinya sudah lama meninggal. Tidak, Mbah Gimin tidak poligami. Mbah Gimin menikah enam tahun usai istri pertamanya meninggal. Tiga tahun kemudian, istri keduanya meninggal dunia. Bersama istri pertama, lahir dua orang anak, keduanya tinggal bersama suami mereka di luar kampung. Satu di Gunung Kidul, satu lagi di Klaten. Dengan istri kedua, tidak ada anak.<\/p>\n\n\n\n
\"Wajar itu. Senang ya wajar. Takut dan khawatir ya wajar. Jadi ya tenang saja. Apalagi ini anak pertamakan. Wajar.\" Ujar Mbah Gimin, lantas mengisap rokok tingwe lalu menghembuskan asap dengan santai dari mulut dan hidung.<\/p>\n\n\n\n
\"Mbah sejak kapan merokok tingwe?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Wah, sudah lama. Ya sejak mulai merokok.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Nggak pernah coba rokok pabrikan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Sesekali pernah. Tapi rasanya nggak ada yang pas.\"<\/p>\n\n\n\n
Baca: Sejarah Singkat Perkembangan Cukai Rokok dan DBHCHT di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n
Beberapa waktu belakangan, rokok tingwe kembali populer. Setelah sebelumnya dicap sebagai selera kolot, kini banyak anak muda yang menjadikan rokok tingwe sebagai keseharian gaya hidup, meninggalkan rokok pabrikan yang banyak beredar di pasaran. Lebih lagi usai harga rokok naik setelah cukai rokok dikerek naik dengan drastis oleh pemerintah. Membicarakan rokok tingwe, tentu saja saya teringat Mbah Gimin yang lama bersetia pada rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n
Ketika saya menginformasikan perihal kembali semaraknya orang-orang memilih rokok tingwe, dan menjadikan itu sebagai protes perlawanan akibat kenaikan cukai dan kenaikan harga rokok pabrikan, Mbah Gimin tersenyum, kemudian berujar, <\/p>\n\n\n\n
\"Mungkin itu untuk kebaikan pemerintah, jadi rokok harganya naik. Ya moga-moga petani juga dapat untung dari situ.\"<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
Komentar Mbah Gimin mengingatkan saya pada buku karya James C. Scott berjudul Weapon of the Weak. Dari James C. Scott itulah kemudian muncul teori perlawanan kaum tani yang kerap disebut teori Scottian. Melawan meskipun kalah. Melawan dengan cara khas petani. Main belakang, seakan mengiyakan dan menyetujui, tetapi diam-diam melawan. <\/p>\n\n\n\n
Selain kasus cukai rokok ini, perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin juga sudah saya dengar kemasyhurannya jauh-jauh hari, lewat perlawanan Mbah Gimin terhadap maraknya investasi di kampung yang mengubah lahan pertanian menjadi perumahan-perumahan kluster. Ia tak melawan secara frontal, tidak juga menyalahkan petani lain yang melepas lahannya untuk dibeli pemborong perumahan. <\/p>\n\n\n\n
Ia tak berkomentar pedas akan hal itu. Lebih memilih diam dan terkesan menyetujui maraknya penjualan tanah di kampung. Namun, Ia tetap melawan secara mandiri, dengan tidak mau menjual lahan pertaniannya meskipun berkali-kali dirayu investor dengan harga mahal karena lokasinya strategis. Ia juga menyabotase akses masuk ke lokasi perumahan yang jika lewat lahan miliknya, lebih strategis dan mudah terakses. Namun karena perlawanannya dengan cara tak mau menjual lahan miliknya meskipun sedikit saja untuk jalan, akses jalan menuju perumahan itu harus sedikit memutar. Perlawanan khas Scottian.<\/p>\n\n\n\n
Saya kira, apa yang dilakukan Mbah Gimin, patut pula dicontoh untuk gerakan melawan kenaikan harga rokok. Ya sudah, mau apa lagi, terima saja dulu, biar saja. Tapi kita cukupkan saja dengan persetujuan itu, cukup. Tidak usah beli rokok lagi, dan bersetia pada tingwe.<\/p>\n","post_title":"Perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perlawanan-scottian-ala-mbah-gimin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-23 10:03:11","post_modified_gmt":"2020-01-23 03:03:11","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6399","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\nBaca: Cukai rokok: Dari perokok, oleh perokok dan untuk perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n
Kami berbincang perihal apa saja. Yang paling sering, tentang kampung tempat kami tinggal dan keseharian Mbah Gimin di masa lampau hingga kini. Sekali dua, Mbah Gimin juga kerap mengantar hasil bumi ke rumah saya. Beras, ketela, cabai, dan beberapa jenis sayur yang Ia tanam. <\/p>\n\n\n\n
Mbah Gimin hidup seorang diri di kampung. Dua orang istrinya sudah lama meninggal. Tidak, Mbah Gimin tidak poligami. Mbah Gimin menikah enam tahun usai istri pertamanya meninggal. Tiga tahun kemudian, istri keduanya meninggal dunia. Bersama istri pertama, lahir dua orang anak, keduanya tinggal bersama suami mereka di luar kampung. Satu di Gunung Kidul, satu lagi di Klaten. Dengan istri kedua, tidak ada anak.<\/p>\n\n\n\n
\"Wajar itu. Senang ya wajar. Takut dan khawatir ya wajar. Jadi ya tenang saja. Apalagi ini anak pertamakan. Wajar.\" Ujar Mbah Gimin, lantas mengisap rokok tingwe lalu menghembuskan asap dengan santai dari mulut dan hidung.<\/p>\n\n\n\n
\"Mbah sejak kapan merokok tingwe?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Wah, sudah lama. Ya sejak mulai merokok.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Nggak pernah coba rokok pabrikan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Sesekali pernah. Tapi rasanya nggak ada yang pas.\"<\/p>\n\n\n\n
Baca: Sejarah Singkat Perkembangan Cukai Rokok dan DBHCHT di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n
Beberapa waktu belakangan, rokok tingwe kembali populer. Setelah sebelumnya dicap sebagai selera kolot, kini banyak anak muda yang menjadikan rokok tingwe sebagai keseharian gaya hidup, meninggalkan rokok pabrikan yang banyak beredar di pasaran. Lebih lagi usai harga rokok naik setelah cukai rokok dikerek naik dengan drastis oleh pemerintah. Membicarakan rokok tingwe, tentu saja saya teringat Mbah Gimin yang lama bersetia pada rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n
Ketika saya menginformasikan perihal kembali semaraknya orang-orang memilih rokok tingwe, dan menjadikan itu sebagai protes perlawanan akibat kenaikan cukai dan kenaikan harga rokok pabrikan, Mbah Gimin tersenyum, kemudian berujar, <\/p>\n\n\n\n
\"Mungkin itu untuk kebaikan pemerintah, jadi rokok harganya naik. Ya moga-moga petani juga dapat untung dari situ.\"<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
Komentar Mbah Gimin mengingatkan saya pada buku karya James C. Scott berjudul Weapon of the Weak. Dari James C. Scott itulah kemudian muncul teori perlawanan kaum tani yang kerap disebut teori Scottian. Melawan meskipun kalah. Melawan dengan cara khas petani. Main belakang, seakan mengiyakan dan menyetujui, tetapi diam-diam melawan. <\/p>\n\n\n\n
Selain kasus cukai rokok ini, perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin juga sudah saya dengar kemasyhurannya jauh-jauh hari, lewat perlawanan Mbah Gimin terhadap maraknya investasi di kampung yang mengubah lahan pertanian menjadi perumahan-perumahan kluster. Ia tak melawan secara frontal, tidak juga menyalahkan petani lain yang melepas lahannya untuk dibeli pemborong perumahan. <\/p>\n\n\n\n
Ia tak berkomentar pedas akan hal itu. Lebih memilih diam dan terkesan menyetujui maraknya penjualan tanah di kampung. Namun, Ia tetap melawan secara mandiri, dengan tidak mau menjual lahan pertaniannya meskipun berkali-kali dirayu investor dengan harga mahal karena lokasinya strategis. Ia juga menyabotase akses masuk ke lokasi perumahan yang jika lewat lahan miliknya, lebih strategis dan mudah terakses. Namun karena perlawanannya dengan cara tak mau menjual lahan miliknya meskipun sedikit saja untuk jalan, akses jalan menuju perumahan itu harus sedikit memutar. Perlawanan khas Scottian.<\/p>\n\n\n\n
Saya kira, apa yang dilakukan Mbah Gimin, patut pula dicontoh untuk gerakan melawan kenaikan harga rokok. Ya sudah, mau apa lagi, terima saja dulu, biar saja. Tapi kita cukupkan saja dengan persetujuan itu, cukup. Tidak usah beli rokok lagi, dan bersetia pada tingwe.<\/p>\n","post_title":"Perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perlawanan-scottian-ala-mbah-gimin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-23 10:03:11","post_modified_gmt":"2020-01-23 03:03:11","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6399","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\nSepanjang empat tahun tinggal di kampung ini, dengan Mbah Gimin saya paling sering berbincang di luar dengan Pak RT yang juga pemilik rumah yang saya sewa selama empat tahun belakangan. Sekali dua kami berbincang di halaman masjid kampung, pernah juga di sawah yang sedang ia garap, paling sering, di halaman rumah saya, seperti beberapa malam lalu ketika Jogja sedang panas-panasnya padahal semestinya ini puncak musim hujan.<\/p>\n\n\n\n
Baca: Cukai rokok: Dari perokok, oleh perokok dan untuk perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n
Kami berbincang perihal apa saja. Yang paling sering, tentang kampung tempat kami tinggal dan keseharian Mbah Gimin di masa lampau hingga kini. Sekali dua, Mbah Gimin juga kerap mengantar hasil bumi ke rumah saya. Beras, ketela, cabai, dan beberapa jenis sayur yang Ia tanam. <\/p>\n\n\n\n
Mbah Gimin hidup seorang diri di kampung. Dua orang istrinya sudah lama meninggal. Tidak, Mbah Gimin tidak poligami. Mbah Gimin menikah enam tahun usai istri pertamanya meninggal. Tiga tahun kemudian, istri keduanya meninggal dunia. Bersama istri pertama, lahir dua orang anak, keduanya tinggal bersama suami mereka di luar kampung. Satu di Gunung Kidul, satu lagi di Klaten. Dengan istri kedua, tidak ada anak.<\/p>\n\n\n\n
\"Wajar itu. Senang ya wajar. Takut dan khawatir ya wajar. Jadi ya tenang saja. Apalagi ini anak pertamakan. Wajar.\" Ujar Mbah Gimin, lantas mengisap rokok tingwe lalu menghembuskan asap dengan santai dari mulut dan hidung.<\/p>\n\n\n\n
\"Mbah sejak kapan merokok tingwe?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Wah, sudah lama. Ya sejak mulai merokok.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Nggak pernah coba rokok pabrikan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Sesekali pernah. Tapi rasanya nggak ada yang pas.\"<\/p>\n\n\n\n
Baca: Sejarah Singkat Perkembangan Cukai Rokok dan DBHCHT di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n
Beberapa waktu belakangan, rokok tingwe kembali populer. Setelah sebelumnya dicap sebagai selera kolot, kini banyak anak muda yang menjadikan rokok tingwe sebagai keseharian gaya hidup, meninggalkan rokok pabrikan yang banyak beredar di pasaran. Lebih lagi usai harga rokok naik setelah cukai rokok dikerek naik dengan drastis oleh pemerintah. Membicarakan rokok tingwe, tentu saja saya teringat Mbah Gimin yang lama bersetia pada rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n
Ketika saya menginformasikan perihal kembali semaraknya orang-orang memilih rokok tingwe, dan menjadikan itu sebagai protes perlawanan akibat kenaikan cukai dan kenaikan harga rokok pabrikan, Mbah Gimin tersenyum, kemudian berujar, <\/p>\n\n\n\n
\"Mungkin itu untuk kebaikan pemerintah, jadi rokok harganya naik. Ya moga-moga petani juga dapat untung dari situ.\"<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
Komentar Mbah Gimin mengingatkan saya pada buku karya James C. Scott berjudul Weapon of the Weak. Dari James C. Scott itulah kemudian muncul teori perlawanan kaum tani yang kerap disebut teori Scottian. Melawan meskipun kalah. Melawan dengan cara khas petani. Main belakang, seakan mengiyakan dan menyetujui, tetapi diam-diam melawan. <\/p>\n\n\n\n
Selain kasus cukai rokok ini, perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin juga sudah saya dengar kemasyhurannya jauh-jauh hari, lewat perlawanan Mbah Gimin terhadap maraknya investasi di kampung yang mengubah lahan pertanian menjadi perumahan-perumahan kluster. Ia tak melawan secara frontal, tidak juga menyalahkan petani lain yang melepas lahannya untuk dibeli pemborong perumahan. <\/p>\n\n\n\n
Ia tak berkomentar pedas akan hal itu. Lebih memilih diam dan terkesan menyetujui maraknya penjualan tanah di kampung. Namun, Ia tetap melawan secara mandiri, dengan tidak mau menjual lahan pertaniannya meskipun berkali-kali dirayu investor dengan harga mahal karena lokasinya strategis. Ia juga menyabotase akses masuk ke lokasi perumahan yang jika lewat lahan miliknya, lebih strategis dan mudah terakses. Namun karena perlawanannya dengan cara tak mau menjual lahan miliknya meskipun sedikit saja untuk jalan, akses jalan menuju perumahan itu harus sedikit memutar. Perlawanan khas Scottian.<\/p>\n\n\n\n
Saya kira, apa yang dilakukan Mbah Gimin, patut pula dicontoh untuk gerakan melawan kenaikan harga rokok. Ya sudah, mau apa lagi, terima saja dulu, biar saja. Tapi kita cukupkan saja dengan persetujuan itu, cukup. Tidak usah beli rokok lagi, dan bersetia pada tingwe.<\/p>\n","post_title":"Perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perlawanan-scottian-ala-mbah-gimin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-23 10:03:11","post_modified_gmt":"2020-01-23 03:03:11","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6399","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\n\"Kabar saya baik, Mbah. Rasanya punya anak? Ya senang, Mbah. Tapi ada juga banyak ketakutan yang datang dan kekhawatiran yang timbul setelah saya punya anak.\"<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
Sepanjang empat tahun tinggal di kampung ini, dengan Mbah Gimin saya paling sering berbincang di luar dengan Pak RT yang juga pemilik rumah yang saya sewa selama empat tahun belakangan. Sekali dua kami berbincang di halaman masjid kampung, pernah juga di sawah yang sedang ia garap, paling sering, di halaman rumah saya, seperti beberapa malam lalu ketika Jogja sedang panas-panasnya padahal semestinya ini puncak musim hujan.<\/p>\n\n\n\n
Baca: Cukai rokok: Dari perokok, oleh perokok dan untuk perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n
Kami berbincang perihal apa saja. Yang paling sering, tentang kampung tempat kami tinggal dan keseharian Mbah Gimin di masa lampau hingga kini. Sekali dua, Mbah Gimin juga kerap mengantar hasil bumi ke rumah saya. Beras, ketela, cabai, dan beberapa jenis sayur yang Ia tanam. <\/p>\n\n\n\n
Mbah Gimin hidup seorang diri di kampung. Dua orang istrinya sudah lama meninggal. Tidak, Mbah Gimin tidak poligami. Mbah Gimin menikah enam tahun usai istri pertamanya meninggal. Tiga tahun kemudian, istri keduanya meninggal dunia. Bersama istri pertama, lahir dua orang anak, keduanya tinggal bersama suami mereka di luar kampung. Satu di Gunung Kidul, satu lagi di Klaten. Dengan istri kedua, tidak ada anak.<\/p>\n\n\n\n
\"Wajar itu. Senang ya wajar. Takut dan khawatir ya wajar. Jadi ya tenang saja. Apalagi ini anak pertamakan. Wajar.\" Ujar Mbah Gimin, lantas mengisap rokok tingwe lalu menghembuskan asap dengan santai dari mulut dan hidung.<\/p>\n\n\n\n
\"Mbah sejak kapan merokok tingwe?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Wah, sudah lama. Ya sejak mulai merokok.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Nggak pernah coba rokok pabrikan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Sesekali pernah. Tapi rasanya nggak ada yang pas.\"<\/p>\n\n\n\n
Baca: Sejarah Singkat Perkembangan Cukai Rokok dan DBHCHT di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n
Beberapa waktu belakangan, rokok tingwe kembali populer. Setelah sebelumnya dicap sebagai selera kolot, kini banyak anak muda yang menjadikan rokok tingwe sebagai keseharian gaya hidup, meninggalkan rokok pabrikan yang banyak beredar di pasaran. Lebih lagi usai harga rokok naik setelah cukai rokok dikerek naik dengan drastis oleh pemerintah. Membicarakan rokok tingwe, tentu saja saya teringat Mbah Gimin yang lama bersetia pada rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n
Ketika saya menginformasikan perihal kembali semaraknya orang-orang memilih rokok tingwe, dan menjadikan itu sebagai protes perlawanan akibat kenaikan cukai dan kenaikan harga rokok pabrikan, Mbah Gimin tersenyum, kemudian berujar, <\/p>\n\n\n\n
\"Mungkin itu untuk kebaikan pemerintah, jadi rokok harganya naik. Ya moga-moga petani juga dapat untung dari situ.\"<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
Komentar Mbah Gimin mengingatkan saya pada buku karya James C. Scott berjudul Weapon of the Weak. Dari James C. Scott itulah kemudian muncul teori perlawanan kaum tani yang kerap disebut teori Scottian. Melawan meskipun kalah. Melawan dengan cara khas petani. Main belakang, seakan mengiyakan dan menyetujui, tetapi diam-diam melawan. <\/p>\n\n\n\n
Selain kasus cukai rokok ini, perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin juga sudah saya dengar kemasyhurannya jauh-jauh hari, lewat perlawanan Mbah Gimin terhadap maraknya investasi di kampung yang mengubah lahan pertanian menjadi perumahan-perumahan kluster. Ia tak melawan secara frontal, tidak juga menyalahkan petani lain yang melepas lahannya untuk dibeli pemborong perumahan. <\/p>\n\n\n\n
Ia tak berkomentar pedas akan hal itu. Lebih memilih diam dan terkesan menyetujui maraknya penjualan tanah di kampung. Namun, Ia tetap melawan secara mandiri, dengan tidak mau menjual lahan pertaniannya meskipun berkali-kali dirayu investor dengan harga mahal karena lokasinya strategis. Ia juga menyabotase akses masuk ke lokasi perumahan yang jika lewat lahan miliknya, lebih strategis dan mudah terakses. Namun karena perlawanannya dengan cara tak mau menjual lahan miliknya meskipun sedikit saja untuk jalan, akses jalan menuju perumahan itu harus sedikit memutar. Perlawanan khas Scottian.<\/p>\n\n\n\n
Saya kira, apa yang dilakukan Mbah Gimin, patut pula dicontoh untuk gerakan melawan kenaikan harga rokok. Ya sudah, mau apa lagi, terima saja dulu, biar saja. Tapi kita cukupkan saja dengan persetujuan itu, cukup. Tidak usah beli rokok lagi, dan bersetia pada tingwe.<\/p>\n","post_title":"Perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perlawanan-scottian-ala-mbah-gimin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-23 10:03:11","post_modified_gmt":"2020-01-23 03:03:11","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6399","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\nSepengetahuan saya, Mbah Gimin orang paling sepuh di kampung, beberapa warga yang menginformasikan hal itu. Seluruh rambutnya sudah memutih. Sehari-hari, penampilannya selalu sama, berkemeja berwarna lusuh, dengan kain sarung yang selalu menutup bagian pinggang hingga betis. Mbah Gimin masih rutin bekerja di sawah. Menanam padi di musim tanam padi, dan palawija di musim lainnya. Ia juga masih ngarit, mencari rumput untuk makan dua ekor kambing peliharaannya.<\/p>\n\n\n\n
\"Kabar saya baik, Mbah. Rasanya punya anak? Ya senang, Mbah. Tapi ada juga banyak ketakutan yang datang dan kekhawatiran yang timbul setelah saya punya anak.\"<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
Sepanjang empat tahun tinggal di kampung ini, dengan Mbah Gimin saya paling sering berbincang di luar dengan Pak RT yang juga pemilik rumah yang saya sewa selama empat tahun belakangan. Sekali dua kami berbincang di halaman masjid kampung, pernah juga di sawah yang sedang ia garap, paling sering, di halaman rumah saya, seperti beberapa malam lalu ketika Jogja sedang panas-panasnya padahal semestinya ini puncak musim hujan.<\/p>\n\n\n\n
Baca: Cukai rokok: Dari perokok, oleh perokok dan untuk perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n
Kami berbincang perihal apa saja. Yang paling sering, tentang kampung tempat kami tinggal dan keseharian Mbah Gimin di masa lampau hingga kini. Sekali dua, Mbah Gimin juga kerap mengantar hasil bumi ke rumah saya. Beras, ketela, cabai, dan beberapa jenis sayur yang Ia tanam. <\/p>\n\n\n\n
Mbah Gimin hidup seorang diri di kampung. Dua orang istrinya sudah lama meninggal. Tidak, Mbah Gimin tidak poligami. Mbah Gimin menikah enam tahun usai istri pertamanya meninggal. Tiga tahun kemudian, istri keduanya meninggal dunia. Bersama istri pertama, lahir dua orang anak, keduanya tinggal bersama suami mereka di luar kampung. Satu di Gunung Kidul, satu lagi di Klaten. Dengan istri kedua, tidak ada anak.<\/p>\n\n\n\n
\"Wajar itu. Senang ya wajar. Takut dan khawatir ya wajar. Jadi ya tenang saja. Apalagi ini anak pertamakan. Wajar.\" Ujar Mbah Gimin, lantas mengisap rokok tingwe lalu menghembuskan asap dengan santai dari mulut dan hidung.<\/p>\n\n\n\n
\"Mbah sejak kapan merokok tingwe?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Wah, sudah lama. Ya sejak mulai merokok.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Nggak pernah coba rokok pabrikan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Sesekali pernah. Tapi rasanya nggak ada yang pas.\"<\/p>\n\n\n\n
Baca: Sejarah Singkat Perkembangan Cukai Rokok dan DBHCHT di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n
Beberapa waktu belakangan, rokok tingwe kembali populer. Setelah sebelumnya dicap sebagai selera kolot, kini banyak anak muda yang menjadikan rokok tingwe sebagai keseharian gaya hidup, meninggalkan rokok pabrikan yang banyak beredar di pasaran. Lebih lagi usai harga rokok naik setelah cukai rokok dikerek naik dengan drastis oleh pemerintah. Membicarakan rokok tingwe, tentu saja saya teringat Mbah Gimin yang lama bersetia pada rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n
Ketika saya menginformasikan perihal kembali semaraknya orang-orang memilih rokok tingwe, dan menjadikan itu sebagai protes perlawanan akibat kenaikan cukai dan kenaikan harga rokok pabrikan, Mbah Gimin tersenyum, kemudian berujar, <\/p>\n\n\n\n
\"Mungkin itu untuk kebaikan pemerintah, jadi rokok harganya naik. Ya moga-moga petani juga dapat untung dari situ.\"<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
Komentar Mbah Gimin mengingatkan saya pada buku karya James C. Scott berjudul Weapon of the Weak. Dari James C. Scott itulah kemudian muncul teori perlawanan kaum tani yang kerap disebut teori Scottian. Melawan meskipun kalah. Melawan dengan cara khas petani. Main belakang, seakan mengiyakan dan menyetujui, tetapi diam-diam melawan. <\/p>\n\n\n\n
Selain kasus cukai rokok ini, perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin juga sudah saya dengar kemasyhurannya jauh-jauh hari, lewat perlawanan Mbah Gimin terhadap maraknya investasi di kampung yang mengubah lahan pertanian menjadi perumahan-perumahan kluster. Ia tak melawan secara frontal, tidak juga menyalahkan petani lain yang melepas lahannya untuk dibeli pemborong perumahan. <\/p>\n\n\n\n
Ia tak berkomentar pedas akan hal itu. Lebih memilih diam dan terkesan menyetujui maraknya penjualan tanah di kampung. Namun, Ia tetap melawan secara mandiri, dengan tidak mau menjual lahan pertaniannya meskipun berkali-kali dirayu investor dengan harga mahal karena lokasinya strategis. Ia juga menyabotase akses masuk ke lokasi perumahan yang jika lewat lahan miliknya, lebih strategis dan mudah terakses. Namun karena perlawanannya dengan cara tak mau menjual lahan miliknya meskipun sedikit saja untuk jalan, akses jalan menuju perumahan itu harus sedikit memutar. Perlawanan khas Scottian.<\/p>\n\n\n\n
Saya kira, apa yang dilakukan Mbah Gimin, patut pula dicontoh untuk gerakan melawan kenaikan harga rokok. Ya sudah, mau apa lagi, terima saja dulu, biar saja. Tapi kita cukupkan saja dengan persetujuan itu, cukup. Tidak usah beli rokok lagi, dan bersetia pada tingwe.<\/p>\n","post_title":"Perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perlawanan-scottian-ala-mbah-gimin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-23 10:03:11","post_modified_gmt":"2020-01-23 03:03:11","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6399","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\nDi kampung, tak ada yang tahu usia Mbah Gimin. Saat saya tanyakan langsung usianya, Mbah Gimin menjawab, \"Mbuh, Le!\" Lantas tertawa. Saya ikut tertawa. Sejak pertama kali berjumpa dengan Mbah Gimin sekira empat tahun lalu, Mbah Gimin tak pernah lepas dari ritual melinting tembakau. Slepennya juga yang itu-itu saja, tak pernah berganti. Jika ada yang berubah dari ritual melinting rokok Mbah Gimin, itu adalah hilangnya kemenyan dari racikan tembakau tingwe miliknya. Hilangnya kemenyan terjadi usai Lala, istri saya, protes kepada Mbah Gimin karena bagi Lala, aroma rokok tingwe bercampur kemenyan milik Mbah Gimin menimbulkan suasana horor dan menyeramkan.<\/p>\n\n\n\n
Sepengetahuan saya, Mbah Gimin orang paling sepuh di kampung, beberapa warga yang menginformasikan hal itu. Seluruh rambutnya sudah memutih. Sehari-hari, penampilannya selalu sama, berkemeja berwarna lusuh, dengan kain sarung yang selalu menutup bagian pinggang hingga betis. Mbah Gimin masih rutin bekerja di sawah. Menanam padi di musim tanam padi, dan palawija di musim lainnya. Ia juga masih ngarit, mencari rumput untuk makan dua ekor kambing peliharaannya.<\/p>\n\n\n\n
\"Kabar saya baik, Mbah. Rasanya punya anak? Ya senang, Mbah. Tapi ada juga banyak ketakutan yang datang dan kekhawatiran yang timbul setelah saya punya anak.\"<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
Sepanjang empat tahun tinggal di kampung ini, dengan Mbah Gimin saya paling sering berbincang di luar dengan Pak RT yang juga pemilik rumah yang saya sewa selama empat tahun belakangan. Sekali dua kami berbincang di halaman masjid kampung, pernah juga di sawah yang sedang ia garap, paling sering, di halaman rumah saya, seperti beberapa malam lalu ketika Jogja sedang panas-panasnya padahal semestinya ini puncak musim hujan.<\/p>\n\n\n\n
Baca: Cukai rokok: Dari perokok, oleh perokok dan untuk perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n
Kami berbincang perihal apa saja. Yang paling sering, tentang kampung tempat kami tinggal dan keseharian Mbah Gimin di masa lampau hingga kini. Sekali dua, Mbah Gimin juga kerap mengantar hasil bumi ke rumah saya. Beras, ketela, cabai, dan beberapa jenis sayur yang Ia tanam. <\/p>\n\n\n\n
Mbah Gimin hidup seorang diri di kampung. Dua orang istrinya sudah lama meninggal. Tidak, Mbah Gimin tidak poligami. Mbah Gimin menikah enam tahun usai istri pertamanya meninggal. Tiga tahun kemudian, istri keduanya meninggal dunia. Bersama istri pertama, lahir dua orang anak, keduanya tinggal bersama suami mereka di luar kampung. Satu di Gunung Kidul, satu lagi di Klaten. Dengan istri kedua, tidak ada anak.<\/p>\n\n\n\n
\"Wajar itu. Senang ya wajar. Takut dan khawatir ya wajar. Jadi ya tenang saja. Apalagi ini anak pertamakan. Wajar.\" Ujar Mbah Gimin, lantas mengisap rokok tingwe lalu menghembuskan asap dengan santai dari mulut dan hidung.<\/p>\n\n\n\n
\"Mbah sejak kapan merokok tingwe?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Wah, sudah lama. Ya sejak mulai merokok.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Nggak pernah coba rokok pabrikan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Sesekali pernah. Tapi rasanya nggak ada yang pas.\"<\/p>\n\n\n\n
Baca: Sejarah Singkat Perkembangan Cukai Rokok dan DBHCHT di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n
Beberapa waktu belakangan, rokok tingwe kembali populer. Setelah sebelumnya dicap sebagai selera kolot, kini banyak anak muda yang menjadikan rokok tingwe sebagai keseharian gaya hidup, meninggalkan rokok pabrikan yang banyak beredar di pasaran. Lebih lagi usai harga rokok naik setelah cukai rokok dikerek naik dengan drastis oleh pemerintah. Membicarakan rokok tingwe, tentu saja saya teringat Mbah Gimin yang lama bersetia pada rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n
Ketika saya menginformasikan perihal kembali semaraknya orang-orang memilih rokok tingwe, dan menjadikan itu sebagai protes perlawanan akibat kenaikan cukai dan kenaikan harga rokok pabrikan, Mbah Gimin tersenyum, kemudian berujar, <\/p>\n\n\n\n
\"Mungkin itu untuk kebaikan pemerintah, jadi rokok harganya naik. Ya moga-moga petani juga dapat untung dari situ.\"<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
Komentar Mbah Gimin mengingatkan saya pada buku karya James C. Scott berjudul Weapon of the Weak. Dari James C. Scott itulah kemudian muncul teori perlawanan kaum tani yang kerap disebut teori Scottian. Melawan meskipun kalah. Melawan dengan cara khas petani. Main belakang, seakan mengiyakan dan menyetujui, tetapi diam-diam melawan. <\/p>\n\n\n\n
Selain kasus cukai rokok ini, perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin juga sudah saya dengar kemasyhurannya jauh-jauh hari, lewat perlawanan Mbah Gimin terhadap maraknya investasi di kampung yang mengubah lahan pertanian menjadi perumahan-perumahan kluster. Ia tak melawan secara frontal, tidak juga menyalahkan petani lain yang melepas lahannya untuk dibeli pemborong perumahan. <\/p>\n\n\n\n
Ia tak berkomentar pedas akan hal itu. Lebih memilih diam dan terkesan menyetujui maraknya penjualan tanah di kampung. Namun, Ia tetap melawan secara mandiri, dengan tidak mau menjual lahan pertaniannya meskipun berkali-kali dirayu investor dengan harga mahal karena lokasinya strategis. Ia juga menyabotase akses masuk ke lokasi perumahan yang jika lewat lahan miliknya, lebih strategis dan mudah terakses. Namun karena perlawanannya dengan cara tak mau menjual lahan miliknya meskipun sedikit saja untuk jalan, akses jalan menuju perumahan itu harus sedikit memutar. Perlawanan khas Scottian.<\/p>\n\n\n\n
Saya kira, apa yang dilakukan Mbah Gimin, patut pula dicontoh untuk gerakan melawan kenaikan harga rokok. Ya sudah, mau apa lagi, terima saja dulu, biar saja. Tapi kita cukupkan saja dengan persetujuan itu, cukup. Tidak usah beli rokok lagi, dan bersetia pada tingwe.<\/p>\n","post_title":"Perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perlawanan-scottian-ala-mbah-gimin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-23 10:03:11","post_modified_gmt":"2020-01-23 03:03:11","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6399","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\nBaca: Meluruskan Nalar Baca Data Susenas September 2019<\/a><\/p>\n\n\n\n
Di kampung, tak ada yang tahu usia Mbah Gimin. Saat saya tanyakan langsung usianya, Mbah Gimin menjawab, \"Mbuh, Le!\" Lantas tertawa. Saya ikut tertawa. Sejak pertama kali berjumpa dengan Mbah Gimin sekira empat tahun lalu, Mbah Gimin tak pernah lepas dari ritual melinting tembakau. Slepennya juga yang itu-itu saja, tak pernah berganti. Jika ada yang berubah dari ritual melinting rokok Mbah Gimin, itu adalah hilangnya kemenyan dari racikan tembakau tingwe miliknya. Hilangnya kemenyan terjadi usai Lala, istri saya, protes kepada Mbah Gimin karena bagi Lala, aroma rokok tingwe bercampur kemenyan milik Mbah Gimin menimbulkan suasana horor dan menyeramkan.<\/p>\n\n\n\n
Sepengetahuan saya, Mbah Gimin orang paling sepuh di kampung, beberapa warga yang menginformasikan hal itu. Seluruh rambutnya sudah memutih. Sehari-hari, penampilannya selalu sama, berkemeja berwarna lusuh, dengan kain sarung yang selalu menutup bagian pinggang hingga betis. Mbah Gimin masih rutin bekerja di sawah. Menanam padi di musim tanam padi, dan palawija di musim lainnya. Ia juga masih ngarit, mencari rumput untuk makan dua ekor kambing peliharaannya.<\/p>\n\n\n\n
\"Kabar saya baik, Mbah. Rasanya punya anak? Ya senang, Mbah. Tapi ada juga banyak ketakutan yang datang dan kekhawatiran yang timbul setelah saya punya anak.\"<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
Sepanjang empat tahun tinggal di kampung ini, dengan Mbah Gimin saya paling sering berbincang di luar dengan Pak RT yang juga pemilik rumah yang saya sewa selama empat tahun belakangan. Sekali dua kami berbincang di halaman masjid kampung, pernah juga di sawah yang sedang ia garap, paling sering, di halaman rumah saya, seperti beberapa malam lalu ketika Jogja sedang panas-panasnya padahal semestinya ini puncak musim hujan.<\/p>\n\n\n\n
Baca: Cukai rokok: Dari perokok, oleh perokok dan untuk perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n
Kami berbincang perihal apa saja. Yang paling sering, tentang kampung tempat kami tinggal dan keseharian Mbah Gimin di masa lampau hingga kini. Sekali dua, Mbah Gimin juga kerap mengantar hasil bumi ke rumah saya. Beras, ketela, cabai, dan beberapa jenis sayur yang Ia tanam. <\/p>\n\n\n\n
Mbah Gimin hidup seorang diri di kampung. Dua orang istrinya sudah lama meninggal. Tidak, Mbah Gimin tidak poligami. Mbah Gimin menikah enam tahun usai istri pertamanya meninggal. Tiga tahun kemudian, istri keduanya meninggal dunia. Bersama istri pertama, lahir dua orang anak, keduanya tinggal bersama suami mereka di luar kampung. Satu di Gunung Kidul, satu lagi di Klaten. Dengan istri kedua, tidak ada anak.<\/p>\n\n\n\n
\"Wajar itu. Senang ya wajar. Takut dan khawatir ya wajar. Jadi ya tenang saja. Apalagi ini anak pertamakan. Wajar.\" Ujar Mbah Gimin, lantas mengisap rokok tingwe lalu menghembuskan asap dengan santai dari mulut dan hidung.<\/p>\n\n\n\n
\"Mbah sejak kapan merokok tingwe?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Wah, sudah lama. Ya sejak mulai merokok.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Nggak pernah coba rokok pabrikan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Sesekali pernah. Tapi rasanya nggak ada yang pas.\"<\/p>\n\n\n\n
Baca: Sejarah Singkat Perkembangan Cukai Rokok dan DBHCHT di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n
Beberapa waktu belakangan, rokok tingwe kembali populer. Setelah sebelumnya dicap sebagai selera kolot, kini banyak anak muda yang menjadikan rokok tingwe sebagai keseharian gaya hidup, meninggalkan rokok pabrikan yang banyak beredar di pasaran. Lebih lagi usai harga rokok naik setelah cukai rokok dikerek naik dengan drastis oleh pemerintah. Membicarakan rokok tingwe, tentu saja saya teringat Mbah Gimin yang lama bersetia pada rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n
Ketika saya menginformasikan perihal kembali semaraknya orang-orang memilih rokok tingwe, dan menjadikan itu sebagai protes perlawanan akibat kenaikan cukai dan kenaikan harga rokok pabrikan, Mbah Gimin tersenyum, kemudian berujar, <\/p>\n\n\n\n
\"Mungkin itu untuk kebaikan pemerintah, jadi rokok harganya naik. Ya moga-moga petani juga dapat untung dari situ.\"<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
Komentar Mbah Gimin mengingatkan saya pada buku karya James C. Scott berjudul Weapon of the Weak. Dari James C. Scott itulah kemudian muncul teori perlawanan kaum tani yang kerap disebut teori Scottian. Melawan meskipun kalah. Melawan dengan cara khas petani. Main belakang, seakan mengiyakan dan menyetujui, tetapi diam-diam melawan. <\/p>\n\n\n\n
Selain kasus cukai rokok ini, perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin juga sudah saya dengar kemasyhurannya jauh-jauh hari, lewat perlawanan Mbah Gimin terhadap maraknya investasi di kampung yang mengubah lahan pertanian menjadi perumahan-perumahan kluster. Ia tak melawan secara frontal, tidak juga menyalahkan petani lain yang melepas lahannya untuk dibeli pemborong perumahan. <\/p>\n\n\n\n
Ia tak berkomentar pedas akan hal itu. Lebih memilih diam dan terkesan menyetujui maraknya penjualan tanah di kampung. Namun, Ia tetap melawan secara mandiri, dengan tidak mau menjual lahan pertaniannya meskipun berkali-kali dirayu investor dengan harga mahal karena lokasinya strategis. Ia juga menyabotase akses masuk ke lokasi perumahan yang jika lewat lahan miliknya, lebih strategis dan mudah terakses. Namun karena perlawanannya dengan cara tak mau menjual lahan miliknya meskipun sedikit saja untuk jalan, akses jalan menuju perumahan itu harus sedikit memutar. Perlawanan khas Scottian.<\/p>\n\n\n\n
Saya kira, apa yang dilakukan Mbah Gimin, patut pula dicontoh untuk gerakan melawan kenaikan harga rokok. Ya sudah, mau apa lagi, terima saja dulu, biar saja. Tapi kita cukupkan saja dengan persetujuan itu, cukup. Tidak usah beli rokok lagi, dan bersetia pada tingwe.<\/p>\n","post_title":"Perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perlawanan-scottian-ala-mbah-gimin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-23 10:03:11","post_modified_gmt":"2020-01-23 03:03:11","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6399","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\nMbah Gimin tak bicara sepanjang proses melinting itu. Usai mengulum ujung lintingan sisi lebih kecil, Mbah Gimin mengambil geretan kayu dari sakunya, menyalakan sebatang geretan dengan pemantik yang ada di kedua sisi kotak geretan, membakar ujung lintingan bagian besar, menyedot asap hasil pembakaran, menghembuskannya beberapa kali, baru kemudian Ia berbicara kepada saya yang sedari tadi duduk di hadapannya memperhatikan Ia yang sedang melinting, \"Bagaimana kabarmu, Le, bagaimana rasanya punya anak?\"<\/p>\n\n\n\n
Baca: Meluruskan Nalar Baca Data Susenas September 2019<\/a><\/p>\n\n\n\n
Di kampung, tak ada yang tahu usia Mbah Gimin. Saat saya tanyakan langsung usianya, Mbah Gimin menjawab, \"Mbuh, Le!\" Lantas tertawa. Saya ikut tertawa. Sejak pertama kali berjumpa dengan Mbah Gimin sekira empat tahun lalu, Mbah Gimin tak pernah lepas dari ritual melinting tembakau. Slepennya juga yang itu-itu saja, tak pernah berganti. Jika ada yang berubah dari ritual melinting rokok Mbah Gimin, itu adalah hilangnya kemenyan dari racikan tembakau tingwe miliknya. Hilangnya kemenyan terjadi usai Lala, istri saya, protes kepada Mbah Gimin karena bagi Lala, aroma rokok tingwe bercampur kemenyan milik Mbah Gimin menimbulkan suasana horor dan menyeramkan.<\/p>\n\n\n\n
Sepengetahuan saya, Mbah Gimin orang paling sepuh di kampung, beberapa warga yang menginformasikan hal itu. Seluruh rambutnya sudah memutih. Sehari-hari, penampilannya selalu sama, berkemeja berwarna lusuh, dengan kain sarung yang selalu menutup bagian pinggang hingga betis. Mbah Gimin masih rutin bekerja di sawah. Menanam padi di musim tanam padi, dan palawija di musim lainnya. Ia juga masih ngarit, mencari rumput untuk makan dua ekor kambing peliharaannya.<\/p>\n\n\n\n
\"Kabar saya baik, Mbah. Rasanya punya anak? Ya senang, Mbah. Tapi ada juga banyak ketakutan yang datang dan kekhawatiran yang timbul setelah saya punya anak.\"<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
Sepanjang empat tahun tinggal di kampung ini, dengan Mbah Gimin saya paling sering berbincang di luar dengan Pak RT yang juga pemilik rumah yang saya sewa selama empat tahun belakangan. Sekali dua kami berbincang di halaman masjid kampung, pernah juga di sawah yang sedang ia garap, paling sering, di halaman rumah saya, seperti beberapa malam lalu ketika Jogja sedang panas-panasnya padahal semestinya ini puncak musim hujan.<\/p>\n\n\n\n
Baca: Cukai rokok: Dari perokok, oleh perokok dan untuk perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n
Kami berbincang perihal apa saja. Yang paling sering, tentang kampung tempat kami tinggal dan keseharian Mbah Gimin di masa lampau hingga kini. Sekali dua, Mbah Gimin juga kerap mengantar hasil bumi ke rumah saya. Beras, ketela, cabai, dan beberapa jenis sayur yang Ia tanam. <\/p>\n\n\n\n
Mbah Gimin hidup seorang diri di kampung. Dua orang istrinya sudah lama meninggal. Tidak, Mbah Gimin tidak poligami. Mbah Gimin menikah enam tahun usai istri pertamanya meninggal. Tiga tahun kemudian, istri keduanya meninggal dunia. Bersama istri pertama, lahir dua orang anak, keduanya tinggal bersama suami mereka di luar kampung. Satu di Gunung Kidul, satu lagi di Klaten. Dengan istri kedua, tidak ada anak.<\/p>\n\n\n\n
\"Wajar itu. Senang ya wajar. Takut dan khawatir ya wajar. Jadi ya tenang saja. Apalagi ini anak pertamakan. Wajar.\" Ujar Mbah Gimin, lantas mengisap rokok tingwe lalu menghembuskan asap dengan santai dari mulut dan hidung.<\/p>\n\n\n\n
\"Mbah sejak kapan merokok tingwe?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Wah, sudah lama. Ya sejak mulai merokok.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Nggak pernah coba rokok pabrikan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Sesekali pernah. Tapi rasanya nggak ada yang pas.\"<\/p>\n\n\n\n
Baca: Sejarah Singkat Perkembangan Cukai Rokok dan DBHCHT di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n
Beberapa waktu belakangan, rokok tingwe kembali populer. Setelah sebelumnya dicap sebagai selera kolot, kini banyak anak muda yang menjadikan rokok tingwe sebagai keseharian gaya hidup, meninggalkan rokok pabrikan yang banyak beredar di pasaran. Lebih lagi usai harga rokok naik setelah cukai rokok dikerek naik dengan drastis oleh pemerintah. Membicarakan rokok tingwe, tentu saja saya teringat Mbah Gimin yang lama bersetia pada rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n
Ketika saya menginformasikan perihal kembali semaraknya orang-orang memilih rokok tingwe, dan menjadikan itu sebagai protes perlawanan akibat kenaikan cukai dan kenaikan harga rokok pabrikan, Mbah Gimin tersenyum, kemudian berujar, <\/p>\n\n\n\n
\"Mungkin itu untuk kebaikan pemerintah, jadi rokok harganya naik. Ya moga-moga petani juga dapat untung dari situ.\"<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
Komentar Mbah Gimin mengingatkan saya pada buku karya James C. Scott berjudul Weapon of the Weak. Dari James C. Scott itulah kemudian muncul teori perlawanan kaum tani yang kerap disebut teori Scottian. Melawan meskipun kalah. Melawan dengan cara khas petani. Main belakang, seakan mengiyakan dan menyetujui, tetapi diam-diam melawan. <\/p>\n\n\n\n
Selain kasus cukai rokok ini, perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin juga sudah saya dengar kemasyhurannya jauh-jauh hari, lewat perlawanan Mbah Gimin terhadap maraknya investasi di kampung yang mengubah lahan pertanian menjadi perumahan-perumahan kluster. Ia tak melawan secara frontal, tidak juga menyalahkan petani lain yang melepas lahannya untuk dibeli pemborong perumahan. <\/p>\n\n\n\n
Ia tak berkomentar pedas akan hal itu. Lebih memilih diam dan terkesan menyetujui maraknya penjualan tanah di kampung. Namun, Ia tetap melawan secara mandiri, dengan tidak mau menjual lahan pertaniannya meskipun berkali-kali dirayu investor dengan harga mahal karena lokasinya strategis. Ia juga menyabotase akses masuk ke lokasi perumahan yang jika lewat lahan miliknya, lebih strategis dan mudah terakses. Namun karena perlawanannya dengan cara tak mau menjual lahan miliknya meskipun sedikit saja untuk jalan, akses jalan menuju perumahan itu harus sedikit memutar. Perlawanan khas Scottian.<\/p>\n\n\n\n
Saya kira, apa yang dilakukan Mbah Gimin, patut pula dicontoh untuk gerakan melawan kenaikan harga rokok. Ya sudah, mau apa lagi, terima saja dulu, biar saja. Tapi kita cukupkan saja dengan persetujuan itu, cukup. Tidak usah beli rokok lagi, dan bersetia pada tingwe.<\/p>\n","post_title":"Perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perlawanan-scottian-ala-mbah-gimin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-23 10:03:11","post_modified_gmt":"2020-01-23 03:03:11","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6399","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\nUsai memberi salam lantas duduk di kursi kayu di halaman depan rumah kontrakan saya, Mbah Gimin mengeluarkan slepen (wadah tembakau rajangan) dari saku kemeja di dada kirinya, membuka slepen, mengeluarkan kertas linting dari dalamnya, membuka lebar-lebar kertas linting, mengambil sejumput tembakau lalu Ia taruh di atas kertas linting, menaburi beberapa butir cengkeh kering di atas tembakau, lantas menggulung kertas linting itu menjadi bentuk kerucut. <\/p>\n\n\n\n
Mbah Gimin tak bicara sepanjang proses melinting itu. Usai mengulum ujung lintingan sisi lebih kecil, Mbah Gimin mengambil geretan kayu dari sakunya, menyalakan sebatang geretan dengan pemantik yang ada di kedua sisi kotak geretan, membakar ujung lintingan bagian besar, menyedot asap hasil pembakaran, menghembuskannya beberapa kali, baru kemudian Ia berbicara kepada saya yang sedari tadi duduk di hadapannya memperhatikan Ia yang sedang melinting, \"Bagaimana kabarmu, Le, bagaimana rasanya punya anak?\"<\/p>\n\n\n\n
Baca: Meluruskan Nalar Baca Data Susenas September 2019<\/a><\/p>\n\n\n\n
Di kampung, tak ada yang tahu usia Mbah Gimin. Saat saya tanyakan langsung usianya, Mbah Gimin menjawab, \"Mbuh, Le!\" Lantas tertawa. Saya ikut tertawa. Sejak pertama kali berjumpa dengan Mbah Gimin sekira empat tahun lalu, Mbah Gimin tak pernah lepas dari ritual melinting tembakau. Slepennya juga yang itu-itu saja, tak pernah berganti. Jika ada yang berubah dari ritual melinting rokok Mbah Gimin, itu adalah hilangnya kemenyan dari racikan tembakau tingwe miliknya. Hilangnya kemenyan terjadi usai Lala, istri saya, protes kepada Mbah Gimin karena bagi Lala, aroma rokok tingwe bercampur kemenyan milik Mbah Gimin menimbulkan suasana horor dan menyeramkan.<\/p>\n\n\n\n
Sepengetahuan saya, Mbah Gimin orang paling sepuh di kampung, beberapa warga yang menginformasikan hal itu. Seluruh rambutnya sudah memutih. Sehari-hari, penampilannya selalu sama, berkemeja berwarna lusuh, dengan kain sarung yang selalu menutup bagian pinggang hingga betis. Mbah Gimin masih rutin bekerja di sawah. Menanam padi di musim tanam padi, dan palawija di musim lainnya. Ia juga masih ngarit, mencari rumput untuk makan dua ekor kambing peliharaannya.<\/p>\n\n\n\n
\"Kabar saya baik, Mbah. Rasanya punya anak? Ya senang, Mbah. Tapi ada juga banyak ketakutan yang datang dan kekhawatiran yang timbul setelah saya punya anak.\"<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
Sepanjang empat tahun tinggal di kampung ini, dengan Mbah Gimin saya paling sering berbincang di luar dengan Pak RT yang juga pemilik rumah yang saya sewa selama empat tahun belakangan. Sekali dua kami berbincang di halaman masjid kampung, pernah juga di sawah yang sedang ia garap, paling sering, di halaman rumah saya, seperti beberapa malam lalu ketika Jogja sedang panas-panasnya padahal semestinya ini puncak musim hujan.<\/p>\n\n\n\n
Baca: Cukai rokok: Dari perokok, oleh perokok dan untuk perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n
Kami berbincang perihal apa saja. Yang paling sering, tentang kampung tempat kami tinggal dan keseharian Mbah Gimin di masa lampau hingga kini. Sekali dua, Mbah Gimin juga kerap mengantar hasil bumi ke rumah saya. Beras, ketela, cabai, dan beberapa jenis sayur yang Ia tanam. <\/p>\n\n\n\n
Mbah Gimin hidup seorang diri di kampung. Dua orang istrinya sudah lama meninggal. Tidak, Mbah Gimin tidak poligami. Mbah Gimin menikah enam tahun usai istri pertamanya meninggal. Tiga tahun kemudian, istri keduanya meninggal dunia. Bersama istri pertama, lahir dua orang anak, keduanya tinggal bersama suami mereka di luar kampung. Satu di Gunung Kidul, satu lagi di Klaten. Dengan istri kedua, tidak ada anak.<\/p>\n\n\n\n
\"Wajar itu. Senang ya wajar. Takut dan khawatir ya wajar. Jadi ya tenang saja. Apalagi ini anak pertamakan. Wajar.\" Ujar Mbah Gimin, lantas mengisap rokok tingwe lalu menghembuskan asap dengan santai dari mulut dan hidung.<\/p>\n\n\n\n
\"Mbah sejak kapan merokok tingwe?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Wah, sudah lama. Ya sejak mulai merokok.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Nggak pernah coba rokok pabrikan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Sesekali pernah. Tapi rasanya nggak ada yang pas.\"<\/p>\n\n\n\n
Baca: Sejarah Singkat Perkembangan Cukai Rokok dan DBHCHT di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n
Beberapa waktu belakangan, rokok tingwe kembali populer. Setelah sebelumnya dicap sebagai selera kolot, kini banyak anak muda yang menjadikan rokok tingwe sebagai keseharian gaya hidup, meninggalkan rokok pabrikan yang banyak beredar di pasaran. Lebih lagi usai harga rokok naik setelah cukai rokok dikerek naik dengan drastis oleh pemerintah. Membicarakan rokok tingwe, tentu saja saya teringat Mbah Gimin yang lama bersetia pada rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n
Ketika saya menginformasikan perihal kembali semaraknya orang-orang memilih rokok tingwe, dan menjadikan itu sebagai protes perlawanan akibat kenaikan cukai dan kenaikan harga rokok pabrikan, Mbah Gimin tersenyum, kemudian berujar, <\/p>\n\n\n\n
\"Mungkin itu untuk kebaikan pemerintah, jadi rokok harganya naik. Ya moga-moga petani juga dapat untung dari situ.\"<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
Komentar Mbah Gimin mengingatkan saya pada buku karya James C. Scott berjudul Weapon of the Weak. Dari James C. Scott itulah kemudian muncul teori perlawanan kaum tani yang kerap disebut teori Scottian. Melawan meskipun kalah. Melawan dengan cara khas petani. Main belakang, seakan mengiyakan dan menyetujui, tetapi diam-diam melawan. <\/p>\n\n\n\n
Selain kasus cukai rokok ini, perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin juga sudah saya dengar kemasyhurannya jauh-jauh hari, lewat perlawanan Mbah Gimin terhadap maraknya investasi di kampung yang mengubah lahan pertanian menjadi perumahan-perumahan kluster. Ia tak melawan secara frontal, tidak juga menyalahkan petani lain yang melepas lahannya untuk dibeli pemborong perumahan. <\/p>\n\n\n\n
Ia tak berkomentar pedas akan hal itu. Lebih memilih diam dan terkesan menyetujui maraknya penjualan tanah di kampung. Namun, Ia tetap melawan secara mandiri, dengan tidak mau menjual lahan pertaniannya meskipun berkali-kali dirayu investor dengan harga mahal karena lokasinya strategis. Ia juga menyabotase akses masuk ke lokasi perumahan yang jika lewat lahan miliknya, lebih strategis dan mudah terakses. Namun karena perlawanannya dengan cara tak mau menjual lahan miliknya meskipun sedikit saja untuk jalan, akses jalan menuju perumahan itu harus sedikit memutar. Perlawanan khas Scottian.<\/p>\n\n\n\n
Saya kira, apa yang dilakukan Mbah Gimin, patut pula dicontoh untuk gerakan melawan kenaikan harga rokok. Ya sudah, mau apa lagi, terima saja dulu, biar saja. Tapi kita cukupkan saja dengan persetujuan itu, cukup. Tidak usah beli rokok lagi, dan bersetia pada tingwe.<\/p>\n","post_title":"Perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perlawanan-scottian-ala-mbah-gimin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-23 10:03:11","post_modified_gmt":"2020-01-23 03:03:11","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6399","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\nBeberapa waktu lalu, beredar berita perihal subsidi yang diterima perusahaan sawit dari negara. Tak tanggung-tanggung, subsidi yang digelontorkan berjumlah tak kurang dari 7,5 trilyun. Sebuah angka yang fantastis.
\nYang lebih mengejutkan lagi, subsidi sebanyak 7,5 trilyun itu diterima hanya oleh 5 perusahaan sawit saja. Dari sini jelas terlihat betapa negara begitu memanjakan perusahaan sawit yang setiap tahun tak pernah absen dalam partisipasi pembakaran hutan di beberapa wilayah di negeri ini.
\nSalah satu alasan penggelontoran subsidi sebanyak itu adalah untuk pengembangan pengolahan hasil perkebunan sawit menjadi biodisel. Selanjutnya, biodisel hasil kembangan itu akan diserap oleh Pertamina dan PLN sebagai konsumennya. Oleh Pertamina, biodisel tersebut akan dipasarka melalui SPBU-SPBU yang tersebar di penjuru negeri, sedang PLN menggunakan biodisel tersebut sebagai bahan bakar pembangkit-pembangkit listrik milik mereka.
\nJadi, selain penggelontoran subsidi, pemerintah juga sudah menjamin serapan hasil kembangan perusahaan sawit di bidang biodisel. Sebuah kenyamanan yang membikin iri banyak bidang lainnya terutama sektor pertanian dan perkebunan lain yang selama ini tak terlalu diperhatikan pemerintah.
\nAngka subsidi yang digelontorkan pemerintah kepada lima perusahaan sawit tersebut, angkanya jauh lebih tinggi dibanding pendapatan yang diterima pemerintah dari pajak perusahaan sawit itu. Sudah bukan rahasia lagi, kebocoran penerimaan pajak dari sektor perkebunan sawit membikin negara merugi trilyunan rupiah setiap tahunnya.
\nDi tengah kondisi semacam itu, pengemplangan pajak yang rutin dilakukan oleh perusahaan sawit, negara tetap dengan baik hati memberi subsidi yang tak sedikit untuk mereka. Tak pelak lagi, sawit menjadi anak emas dalam sektor pertanian dan perkebunan di negeri ini.
\nLantas, mari kita bandingkan dengan sektor pertanian dan perkebunan yang setiap tahun rutin memberikan pemasukan tak sedikit bagi negara. Bidang pertanian dan perkebunan yang sepenuhnya dijalankan oleh anak-anak negeri, yang sesungguhnya bisa dibanggakan oleh negara karena selain pajak dan cukai dari hasil olahannya yang memberikan pemasukan begitu melimpah kepada negara, sektor ini juga sangat potensial menjadi produk kebanggan nasional karena dari hulu hingga hilir hampir seluruhnya diproduksi dan dikonsumsi oleh anak-anak bangsa. Itu adalah sektor pertembakauan dan perkebunan cengkeh dengan hasil olahannya berupa rokok kretek.
\nAda sekira enam juta manusia yang terlibat langsung dalam perkebunan tembakau dan cengkeh di negeri ini. Dua juta di sektor tembakau, dan empat juta di sektor cengkeh. Dari dua sektor itu yang lantas menghasilkan produk bernama rokok kretek, setiap tahunnya negara menerima pemasukan dari cukai tak kurang dari 140 trilyun, setidaknya selama 10 tahun terakhir.
\nTetapi, apakah mereka para petani di dua sektor perkebunan itu mendapat subsidi yang selayaknya dari negara? Subsidi itu ada, dalam bentuk Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) yang besarannya dibagi berdasarkan wilayah per kabupaten, yang angkanya tentu saja tak se-fantastis subsidi cuma-cuma yang diterima perusahaan sawit.
\nLalu untuk apa alokasi DBHCHT di sektor pertanian tembakau dan cengkeh itu? Berbeda dengan subsidi yang diterima perusahaan sawit yang sepenuhnya digunakan untuk pengembangan industri di hilir, DBHCHT untuk sektor tembakau dan cengkeh malah digunakan sebaliknya, untuk menghancurkan sektor perkebunan yang semestinya menjadi sektor perkebunan strategis nasional ini.
\nDengan alasan kesehatan, dana yang semestinya digunakan untuk mengembangkan perkebunan tembakau dan cengkeh supaya lebih maju lagi, malah digunakan untuk memberangus dua perkebunan itu. Dana itu digunakan sebagian besarnya untuk penyuluhan-penyuluhan kepada para petani agar mengganti usaha perkebunan tembakau dan cengkeh mereka ke komoditas pertanian dan perkebunan lainnya. Sebuah ironi yang menyedihkan.
\nDi luar itu, dana DBHCHT yang sumber utama pemasukannya dari dua komoditas itu, juga digunakan untuk menggembosi rokok kretek yang merupakan hasil turunan dari sektor tembakau dan cengkeh. Bayangkan, tanpa diberikan subsidi, tetapi menggunakan uang cukai yang dihasilkan dua sektor perkebunan itu, dana itu digunakan malahan untuk menggembosi dua sektor perkebunan itu.
\nDari sini, bisa kita lihat, jika perkebunan sawit menjadi anak emas negara, sebaliknya, perkebunan tembakau dan cengkeh dijadikan anak tiri oleh negara yang terus menerus digembosi. Keuntungannya diambil banyak oleh negara, sebagian keuntungan itu, digunakan secara tak langsung untuk menghancurkan sektor perkebunan tembakau dan cengkeh.
\nPerkebunan tembakau dan cengkeh, yang keduanya semestinya menjadi komoditas strategis nasional, malah dinistakan oleh negara yang sesungguhnya mengambil banyak keuntungan dari sana. Paradoks yang memuakkan.<\/p>\n","post_title":"Tembakau dan Cengkeh, Komoditas Perkebunan Strategis Nasional yang Dinistakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-dan-cengkeh-komoditas-perkebunan-strategis-nasional-yang-dinistakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-01 11:08:51","post_modified_gmt":"2020-02-01 04:08:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6399,"post_author":"878","post_date":"2020-01-23 10:03:09","post_date_gmt":"2020-01-23 03:03:09","post_content":"\nUsai memberi salam lantas duduk di kursi kayu di halaman depan rumah kontrakan saya, Mbah Gimin mengeluarkan slepen (wadah tembakau rajangan) dari saku kemeja di dada kirinya, membuka slepen, mengeluarkan kertas linting dari dalamnya, membuka lebar-lebar kertas linting, mengambil sejumput tembakau lalu Ia taruh di atas kertas linting, menaburi beberapa butir cengkeh kering di atas tembakau, lantas menggulung kertas linting itu menjadi bentuk kerucut. <\/p>\n\n\n\n
Mbah Gimin tak bicara sepanjang proses melinting itu. Usai mengulum ujung lintingan sisi lebih kecil, Mbah Gimin mengambil geretan kayu dari sakunya, menyalakan sebatang geretan dengan pemantik yang ada di kedua sisi kotak geretan, membakar ujung lintingan bagian besar, menyedot asap hasil pembakaran, menghembuskannya beberapa kali, baru kemudian Ia berbicara kepada saya yang sedari tadi duduk di hadapannya memperhatikan Ia yang sedang melinting, \"Bagaimana kabarmu, Le, bagaimana rasanya punya anak?\"<\/p>\n\n\n\n
Baca: Meluruskan Nalar Baca Data Susenas September 2019<\/a><\/p>\n\n\n\n
Di kampung, tak ada yang tahu usia Mbah Gimin. Saat saya tanyakan langsung usianya, Mbah Gimin menjawab, \"Mbuh, Le!\" Lantas tertawa. Saya ikut tertawa. Sejak pertama kali berjumpa dengan Mbah Gimin sekira empat tahun lalu, Mbah Gimin tak pernah lepas dari ritual melinting tembakau. Slepennya juga yang itu-itu saja, tak pernah berganti. Jika ada yang berubah dari ritual melinting rokok Mbah Gimin, itu adalah hilangnya kemenyan dari racikan tembakau tingwe miliknya. Hilangnya kemenyan terjadi usai Lala, istri saya, protes kepada Mbah Gimin karena bagi Lala, aroma rokok tingwe bercampur kemenyan milik Mbah Gimin menimbulkan suasana horor dan menyeramkan.<\/p>\n\n\n\n
Sepengetahuan saya, Mbah Gimin orang paling sepuh di kampung, beberapa warga yang menginformasikan hal itu. Seluruh rambutnya sudah memutih. Sehari-hari, penampilannya selalu sama, berkemeja berwarna lusuh, dengan kain sarung yang selalu menutup bagian pinggang hingga betis. Mbah Gimin masih rutin bekerja di sawah. Menanam padi di musim tanam padi, dan palawija di musim lainnya. Ia juga masih ngarit, mencari rumput untuk makan dua ekor kambing peliharaannya.<\/p>\n\n\n\n
\"Kabar saya baik, Mbah. Rasanya punya anak? Ya senang, Mbah. Tapi ada juga banyak ketakutan yang datang dan kekhawatiran yang timbul setelah saya punya anak.\"<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
Sepanjang empat tahun tinggal di kampung ini, dengan Mbah Gimin saya paling sering berbincang di luar dengan Pak RT yang juga pemilik rumah yang saya sewa selama empat tahun belakangan. Sekali dua kami berbincang di halaman masjid kampung, pernah juga di sawah yang sedang ia garap, paling sering, di halaman rumah saya, seperti beberapa malam lalu ketika Jogja sedang panas-panasnya padahal semestinya ini puncak musim hujan.<\/p>\n\n\n\n
Baca: Cukai rokok: Dari perokok, oleh perokok dan untuk perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n
Kami berbincang perihal apa saja. Yang paling sering, tentang kampung tempat kami tinggal dan keseharian Mbah Gimin di masa lampau hingga kini. Sekali dua, Mbah Gimin juga kerap mengantar hasil bumi ke rumah saya. Beras, ketela, cabai, dan beberapa jenis sayur yang Ia tanam. <\/p>\n\n\n\n
Mbah Gimin hidup seorang diri di kampung. Dua orang istrinya sudah lama meninggal. Tidak, Mbah Gimin tidak poligami. Mbah Gimin menikah enam tahun usai istri pertamanya meninggal. Tiga tahun kemudian, istri keduanya meninggal dunia. Bersama istri pertama, lahir dua orang anak, keduanya tinggal bersama suami mereka di luar kampung. Satu di Gunung Kidul, satu lagi di Klaten. Dengan istri kedua, tidak ada anak.<\/p>\n\n\n\n
\"Wajar itu. Senang ya wajar. Takut dan khawatir ya wajar. Jadi ya tenang saja. Apalagi ini anak pertamakan. Wajar.\" Ujar Mbah Gimin, lantas mengisap rokok tingwe lalu menghembuskan asap dengan santai dari mulut dan hidung.<\/p>\n\n\n\n
\"Mbah sejak kapan merokok tingwe?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Wah, sudah lama. Ya sejak mulai merokok.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Nggak pernah coba rokok pabrikan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Sesekali pernah. Tapi rasanya nggak ada yang pas.\"<\/p>\n\n\n\n
Baca: Sejarah Singkat Perkembangan Cukai Rokok dan DBHCHT di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n
Beberapa waktu belakangan, rokok tingwe kembali populer. Setelah sebelumnya dicap sebagai selera kolot, kini banyak anak muda yang menjadikan rokok tingwe sebagai keseharian gaya hidup, meninggalkan rokok pabrikan yang banyak beredar di pasaran. Lebih lagi usai harga rokok naik setelah cukai rokok dikerek naik dengan drastis oleh pemerintah. Membicarakan rokok tingwe, tentu saja saya teringat Mbah Gimin yang lama bersetia pada rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n
Ketika saya menginformasikan perihal kembali semaraknya orang-orang memilih rokok tingwe, dan menjadikan itu sebagai protes perlawanan akibat kenaikan cukai dan kenaikan harga rokok pabrikan, Mbah Gimin tersenyum, kemudian berujar, <\/p>\n\n\n\n
\"Mungkin itu untuk kebaikan pemerintah, jadi rokok harganya naik. Ya moga-moga petani juga dapat untung dari situ.\"<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
Komentar Mbah Gimin mengingatkan saya pada buku karya James C. Scott berjudul Weapon of the Weak. Dari James C. Scott itulah kemudian muncul teori perlawanan kaum tani yang kerap disebut teori Scottian. Melawan meskipun kalah. Melawan dengan cara khas petani. Main belakang, seakan mengiyakan dan menyetujui, tetapi diam-diam melawan. <\/p>\n\n\n\n
Selain kasus cukai rokok ini, perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin juga sudah saya dengar kemasyhurannya jauh-jauh hari, lewat perlawanan Mbah Gimin terhadap maraknya investasi di kampung yang mengubah lahan pertanian menjadi perumahan-perumahan kluster. Ia tak melawan secara frontal, tidak juga menyalahkan petani lain yang melepas lahannya untuk dibeli pemborong perumahan. <\/p>\n\n\n\n
Ia tak berkomentar pedas akan hal itu. Lebih memilih diam dan terkesan menyetujui maraknya penjualan tanah di kampung. Namun, Ia tetap melawan secara mandiri, dengan tidak mau menjual lahan pertaniannya meskipun berkali-kali dirayu investor dengan harga mahal karena lokasinya strategis. Ia juga menyabotase akses masuk ke lokasi perumahan yang jika lewat lahan miliknya, lebih strategis dan mudah terakses. Namun karena perlawanannya dengan cara tak mau menjual lahan miliknya meskipun sedikit saja untuk jalan, akses jalan menuju perumahan itu harus sedikit memutar. Perlawanan khas Scottian.<\/p>\n\n\n\n
Saya kira, apa yang dilakukan Mbah Gimin, patut pula dicontoh untuk gerakan melawan kenaikan harga rokok. Ya sudah, mau apa lagi, terima saja dulu, biar saja. Tapi kita cukupkan saja dengan persetujuan itu, cukup. Tidak usah beli rokok lagi, dan bersetia pada tingwe.<\/p>\n","post_title":"Perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perlawanan-scottian-ala-mbah-gimin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-23 10:03:11","post_modified_gmt":"2020-01-23 03:03:11","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6399","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\nDi tengah gempuran pasar global yang seakan tak memiliki batas, dengan produk-produk impor yang menjejali negeri ini, juga ekspansi industri-industri besar multinasional yang membangun pabrik-pabrik mereka di Indonesia, apakah masih ada industri skala besar nasional yang masih mampu mengharumkan nama Indonesia sebagai produsen utamanya? Jawabannya ada, namun sedikit.
Satu dari yang sedikit itu, tak lain dan tak bukan adalah industri rokok kretek yang ada di negeri ini. Mulanya, rokok kretek ditemukan secara tak sengaja oleh Haji Djamhari di Kudus pada periode akhir abad 19. Selanjutnya, lewat tangan dingin Nitisemito dengan brand pabrik rokok Tjap Bal Tiga miliknya, rokok kretek kemudian masuk produk skala industri. Perlahan tapi pasti, rokok kretek kemudian berhasil menguasai pasar rokok nasional, mengambil alih besarnya permintaan konsumen rokok yang sebelumnya dikuasai produk rokok putihan.
Bahwasanya pasar industri rokok kretek juga ikut disasar pabrikan-pabrikan multinasional, itu tak bisa dimungkiri karena kue keuntungan dari industri ini memang begitu menjanjikan. Namun, hingga hari ini, industri rokok kretek masih dikuasai oleh pabrikan dalam negeri.
Lebih dari itu, mulai dari bahan baku berupa tembakau dan cengkeh juga dipasok dari sektor perkebunan nasional. Besarnya industri ini, juga menyerap tenaga kerja mendekati enam juta jiwa. Jumlah enam juta jiwa itu meliputi pekerja mulai dari hulu di perkebunan hingga pekerja-pekerja di pabrik-pabrik rokok. Jika ditambah dengan pedagang asongan dan pedagang rokok skala kecil, jumlah enam juta jiwa akan bertambah kian banyak.
Dua bahan baku utama industri kretek, berupa tembakau dan cengkeh, hampir seluruhnya dipasok dari sektor perkebunan nasional. Cengkeh untuk kretek sepenuhnya diambil dari sektor perkebunan nasional. Ini wajar karena Indonesia hingga hari ini menduduki peringkat pertama produsen cengkeh di dunia. Industri kretek menyerap sekitar 94 persen dari produksi cengkeh nasional setiap tahunnya.
Untuk sektor tembakau, memang ada bahan baku yang didapat dari hasil impor. Ini terjadi lebih karena kurangnya produksi tahunan tembakau untuk memenuhi kebutuhan industri rokok kretek nasional. Padahal sejauh ini Indonesia menduduki peringkat enam penghasil tembakau di dunia.
Tanaman cengkeh mulanya adalah tanaman endemik dari beberapa pulau di Kepulauan Maluku. Selepas berakhirnya monopoli cengkeh yang dilakukan penjajah Belanda, tanaman cengkeh menyebar ke pulau-pulau lain di Indonesia. Tanaman cengkeh selanjutnya dibawa ke luar negeri dan ditanam di beberapa negara dengam kondisi cuaca mirip Indonesia. Yang paling terkenal, cengkeh yang ditanam di Zanzibar, Afrika. Namun begitu, hingga hari ini, Indonesia masih menjadi produsen utama dan terbesar cengkeh di dunia.
Dari sekira 561 ribu hektar luas lahan perkebunan cengkeh nasional, setiap tahunnya produksi cengkeh kering berkisar antara 100 ribu hingga 150 ribu ton. Lebih dari 90 persen produksi cengkeh nasional kemudian diserap oleh industri kretek nasional. Sisanya menjadi komoditas ekspor dengan Arab Saudi, India, dan Sudan menjadi negara tujuan ekspor cengkeh.
Dalam satu tahun, permintaan tembakau dari pabrikan-pabrikan rokok yang ada di Indonesia berkisar antara 300 ribu hingga 350 ribu ton. Sejauh ini, sektor perkebunan tembakau nasional memiliki angka produksi fluktuatif tergantung cuaca, mencapai antara 100 ribu hingga 200 ribu ton. Jumlah itu dihasilkan dari luasan lahan mencapai 250 ribu hektar yang tersebar di 15 provinsi.
Belum selesai sampai di situ. Selain bahan baku dan para pekerja yang membikin geliat industri kretek nasional bergairah, pangsa pasar hasil industri ini juga begitu menjanjikan dalam menjalankan roda ekonomi nasional. Konsumen produk rokok kretek nasional adalah konsumen terbesar di Indonesia. Lebih dari 90 persen pasar rokok nasional dikuasai rokok kretek. Dari sana, negara mendapat keuntungan tak sedikit lewat cukai rokok. Tak kurang setiap tahunnya hasil cukai rokok berada pada angka Rp140 trilyun, setidaknya sepanjang 10 tahun belakangan.
Dari sini, tak bisa dibantah bahwasanya produk kretek bisa dibanggakan oleh negara ini, nasonalisme lewat produk kretek sejatinya bisa dibangun karena produk ini mulai dari hulu hingga hilir digerakkan oleh anak-anak negeri, dan memberikan keuntungan ekonomi yang tak sedikit pada negara. Nasionalisme dalam sebatang kretek.
Bahan baku utamanya diproduksi di dalam negeri oleh petani-petani kita, pekerja di pabrik-pabrik kretek juga orang asli Indonesia, pemilik pabriknya, juga orang Indonesia, lantas yang terakhir, konsumennya juga orang Indonesia, begitulah sejatinya industri nasional yang mesti dibanggakan. Maka, tak salah jika kita mendeklarasikan diri bahwa: Indonesia Republik Kretek.<\/p>\n","post_title":"Indonesia Republik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-republik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-04 09:47:16","post_modified_gmt":"2020-02-04 02:47:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6435","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6425,"post_author":"878","post_date":"2020-02-01 11:08:43","post_date_gmt":"2020-02-01 04:08:43","post_content":"\nBeberapa waktu lalu, beredar berita perihal subsidi yang diterima perusahaan sawit dari negara. Tak tanggung-tanggung, subsidi yang digelontorkan berjumlah tak kurang dari 7,5 trilyun. Sebuah angka yang fantastis.
\nYang lebih mengejutkan lagi, subsidi sebanyak 7,5 trilyun itu diterima hanya oleh 5 perusahaan sawit saja. Dari sini jelas terlihat betapa negara begitu memanjakan perusahaan sawit yang setiap tahun tak pernah absen dalam partisipasi pembakaran hutan di beberapa wilayah di negeri ini.
\nSalah satu alasan penggelontoran subsidi sebanyak itu adalah untuk pengembangan pengolahan hasil perkebunan sawit menjadi biodisel. Selanjutnya, biodisel hasil kembangan itu akan diserap oleh Pertamina dan PLN sebagai konsumennya. Oleh Pertamina, biodisel tersebut akan dipasarka melalui SPBU-SPBU yang tersebar di penjuru negeri, sedang PLN menggunakan biodisel tersebut sebagai bahan bakar pembangkit-pembangkit listrik milik mereka.
\nJadi, selain penggelontoran subsidi, pemerintah juga sudah menjamin serapan hasil kembangan perusahaan sawit di bidang biodisel. Sebuah kenyamanan yang membikin iri banyak bidang lainnya terutama sektor pertanian dan perkebunan lain yang selama ini tak terlalu diperhatikan pemerintah.
\nAngka subsidi yang digelontorkan pemerintah kepada lima perusahaan sawit tersebut, angkanya jauh lebih tinggi dibanding pendapatan yang diterima pemerintah dari pajak perusahaan sawit itu. Sudah bukan rahasia lagi, kebocoran penerimaan pajak dari sektor perkebunan sawit membikin negara merugi trilyunan rupiah setiap tahunnya.
\nDi tengah kondisi semacam itu, pengemplangan pajak yang rutin dilakukan oleh perusahaan sawit, negara tetap dengan baik hati memberi subsidi yang tak sedikit untuk mereka. Tak pelak lagi, sawit menjadi anak emas dalam sektor pertanian dan perkebunan di negeri ini.
\nLantas, mari kita bandingkan dengan sektor pertanian dan perkebunan yang setiap tahun rutin memberikan pemasukan tak sedikit bagi negara. Bidang pertanian dan perkebunan yang sepenuhnya dijalankan oleh anak-anak negeri, yang sesungguhnya bisa dibanggakan oleh negara karena selain pajak dan cukai dari hasil olahannya yang memberikan pemasukan begitu melimpah kepada negara, sektor ini juga sangat potensial menjadi produk kebanggan nasional karena dari hulu hingga hilir hampir seluruhnya diproduksi dan dikonsumsi oleh anak-anak bangsa. Itu adalah sektor pertembakauan dan perkebunan cengkeh dengan hasil olahannya berupa rokok kretek.
\nAda sekira enam juta manusia yang terlibat langsung dalam perkebunan tembakau dan cengkeh di negeri ini. Dua juta di sektor tembakau, dan empat juta di sektor cengkeh. Dari dua sektor itu yang lantas menghasilkan produk bernama rokok kretek, setiap tahunnya negara menerima pemasukan dari cukai tak kurang dari 140 trilyun, setidaknya selama 10 tahun terakhir.
\nTetapi, apakah mereka para petani di dua sektor perkebunan itu mendapat subsidi yang selayaknya dari negara? Subsidi itu ada, dalam bentuk Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) yang besarannya dibagi berdasarkan wilayah per kabupaten, yang angkanya tentu saja tak se-fantastis subsidi cuma-cuma yang diterima perusahaan sawit.
\nLalu untuk apa alokasi DBHCHT di sektor pertanian tembakau dan cengkeh itu? Berbeda dengan subsidi yang diterima perusahaan sawit yang sepenuhnya digunakan untuk pengembangan industri di hilir, DBHCHT untuk sektor tembakau dan cengkeh malah digunakan sebaliknya, untuk menghancurkan sektor perkebunan yang semestinya menjadi sektor perkebunan strategis nasional ini.
\nDengan alasan kesehatan, dana yang semestinya digunakan untuk mengembangkan perkebunan tembakau dan cengkeh supaya lebih maju lagi, malah digunakan untuk memberangus dua perkebunan itu. Dana itu digunakan sebagian besarnya untuk penyuluhan-penyuluhan kepada para petani agar mengganti usaha perkebunan tembakau dan cengkeh mereka ke komoditas pertanian dan perkebunan lainnya. Sebuah ironi yang menyedihkan.
\nDi luar itu, dana DBHCHT yang sumber utama pemasukannya dari dua komoditas itu, juga digunakan untuk menggembosi rokok kretek yang merupakan hasil turunan dari sektor tembakau dan cengkeh. Bayangkan, tanpa diberikan subsidi, tetapi menggunakan uang cukai yang dihasilkan dua sektor perkebunan itu, dana itu digunakan malahan untuk menggembosi dua sektor perkebunan itu.
\nDari sini, bisa kita lihat, jika perkebunan sawit menjadi anak emas negara, sebaliknya, perkebunan tembakau dan cengkeh dijadikan anak tiri oleh negara yang terus menerus digembosi. Keuntungannya diambil banyak oleh negara, sebagian keuntungan itu, digunakan secara tak langsung untuk menghancurkan sektor perkebunan tembakau dan cengkeh.
\nPerkebunan tembakau dan cengkeh, yang keduanya semestinya menjadi komoditas strategis nasional, malah dinistakan oleh negara yang sesungguhnya mengambil banyak keuntungan dari sana. Paradoks yang memuakkan.<\/p>\n","post_title":"Tembakau dan Cengkeh, Komoditas Perkebunan Strategis Nasional yang Dinistakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-dan-cengkeh-komoditas-perkebunan-strategis-nasional-yang-dinistakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-01 11:08:51","post_modified_gmt":"2020-02-01 04:08:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6399,"post_author":"878","post_date":"2020-01-23 10:03:09","post_date_gmt":"2020-01-23 03:03:09","post_content":"\nUsai memberi salam lantas duduk di kursi kayu di halaman depan rumah kontrakan saya, Mbah Gimin mengeluarkan slepen (wadah tembakau rajangan) dari saku kemeja di dada kirinya, membuka slepen, mengeluarkan kertas linting dari dalamnya, membuka lebar-lebar kertas linting, mengambil sejumput tembakau lalu Ia taruh di atas kertas linting, menaburi beberapa butir cengkeh kering di atas tembakau, lantas menggulung kertas linting itu menjadi bentuk kerucut. <\/p>\n\n\n\n
Mbah Gimin tak bicara sepanjang proses melinting itu. Usai mengulum ujung lintingan sisi lebih kecil, Mbah Gimin mengambil geretan kayu dari sakunya, menyalakan sebatang geretan dengan pemantik yang ada di kedua sisi kotak geretan, membakar ujung lintingan bagian besar, menyedot asap hasil pembakaran, menghembuskannya beberapa kali, baru kemudian Ia berbicara kepada saya yang sedari tadi duduk di hadapannya memperhatikan Ia yang sedang melinting, \"Bagaimana kabarmu, Le, bagaimana rasanya punya anak?\"<\/p>\n\n\n\n
Baca: Meluruskan Nalar Baca Data Susenas September 2019<\/a><\/p>\n\n\n\n
Di kampung, tak ada yang tahu usia Mbah Gimin. Saat saya tanyakan langsung usianya, Mbah Gimin menjawab, \"Mbuh, Le!\" Lantas tertawa. Saya ikut tertawa. Sejak pertama kali berjumpa dengan Mbah Gimin sekira empat tahun lalu, Mbah Gimin tak pernah lepas dari ritual melinting tembakau. Slepennya juga yang itu-itu saja, tak pernah berganti. Jika ada yang berubah dari ritual melinting rokok Mbah Gimin, itu adalah hilangnya kemenyan dari racikan tembakau tingwe miliknya. Hilangnya kemenyan terjadi usai Lala, istri saya, protes kepada Mbah Gimin karena bagi Lala, aroma rokok tingwe bercampur kemenyan milik Mbah Gimin menimbulkan suasana horor dan menyeramkan.<\/p>\n\n\n\n
Sepengetahuan saya, Mbah Gimin orang paling sepuh di kampung, beberapa warga yang menginformasikan hal itu. Seluruh rambutnya sudah memutih. Sehari-hari, penampilannya selalu sama, berkemeja berwarna lusuh, dengan kain sarung yang selalu menutup bagian pinggang hingga betis. Mbah Gimin masih rutin bekerja di sawah. Menanam padi di musim tanam padi, dan palawija di musim lainnya. Ia juga masih ngarit, mencari rumput untuk makan dua ekor kambing peliharaannya.<\/p>\n\n\n\n
\"Kabar saya baik, Mbah. Rasanya punya anak? Ya senang, Mbah. Tapi ada juga banyak ketakutan yang datang dan kekhawatiran yang timbul setelah saya punya anak.\"<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
Sepanjang empat tahun tinggal di kampung ini, dengan Mbah Gimin saya paling sering berbincang di luar dengan Pak RT yang juga pemilik rumah yang saya sewa selama empat tahun belakangan. Sekali dua kami berbincang di halaman masjid kampung, pernah juga di sawah yang sedang ia garap, paling sering, di halaman rumah saya, seperti beberapa malam lalu ketika Jogja sedang panas-panasnya padahal semestinya ini puncak musim hujan.<\/p>\n\n\n\n
Baca: Cukai rokok: Dari perokok, oleh perokok dan untuk perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n
Kami berbincang perihal apa saja. Yang paling sering, tentang kampung tempat kami tinggal dan keseharian Mbah Gimin di masa lampau hingga kini. Sekali dua, Mbah Gimin juga kerap mengantar hasil bumi ke rumah saya. Beras, ketela, cabai, dan beberapa jenis sayur yang Ia tanam. <\/p>\n\n\n\n
Mbah Gimin hidup seorang diri di kampung. Dua orang istrinya sudah lama meninggal. Tidak, Mbah Gimin tidak poligami. Mbah Gimin menikah enam tahun usai istri pertamanya meninggal. Tiga tahun kemudian, istri keduanya meninggal dunia. Bersama istri pertama, lahir dua orang anak, keduanya tinggal bersama suami mereka di luar kampung. Satu di Gunung Kidul, satu lagi di Klaten. Dengan istri kedua, tidak ada anak.<\/p>\n\n\n\n
\"Wajar itu. Senang ya wajar. Takut dan khawatir ya wajar. Jadi ya tenang saja. Apalagi ini anak pertamakan. Wajar.\" Ujar Mbah Gimin, lantas mengisap rokok tingwe lalu menghembuskan asap dengan santai dari mulut dan hidung.<\/p>\n\n\n\n
\"Mbah sejak kapan merokok tingwe?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Wah, sudah lama. Ya sejak mulai merokok.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Nggak pernah coba rokok pabrikan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Sesekali pernah. Tapi rasanya nggak ada yang pas.\"<\/p>\n\n\n\n
Baca: Sejarah Singkat Perkembangan Cukai Rokok dan DBHCHT di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n
Beberapa waktu belakangan, rokok tingwe kembali populer. Setelah sebelumnya dicap sebagai selera kolot, kini banyak anak muda yang menjadikan rokok tingwe sebagai keseharian gaya hidup, meninggalkan rokok pabrikan yang banyak beredar di pasaran. Lebih lagi usai harga rokok naik setelah cukai rokok dikerek naik dengan drastis oleh pemerintah. Membicarakan rokok tingwe, tentu saja saya teringat Mbah Gimin yang lama bersetia pada rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n
Ketika saya menginformasikan perihal kembali semaraknya orang-orang memilih rokok tingwe, dan menjadikan itu sebagai protes perlawanan akibat kenaikan cukai dan kenaikan harga rokok pabrikan, Mbah Gimin tersenyum, kemudian berujar, <\/p>\n\n\n\n
\"Mungkin itu untuk kebaikan pemerintah, jadi rokok harganya naik. Ya moga-moga petani juga dapat untung dari situ.\"<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
Komentar Mbah Gimin mengingatkan saya pada buku karya James C. Scott berjudul Weapon of the Weak. Dari James C. Scott itulah kemudian muncul teori perlawanan kaum tani yang kerap disebut teori Scottian. Melawan meskipun kalah. Melawan dengan cara khas petani. Main belakang, seakan mengiyakan dan menyetujui, tetapi diam-diam melawan. <\/p>\n\n\n\n
Selain kasus cukai rokok ini, perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin juga sudah saya dengar kemasyhurannya jauh-jauh hari, lewat perlawanan Mbah Gimin terhadap maraknya investasi di kampung yang mengubah lahan pertanian menjadi perumahan-perumahan kluster. Ia tak melawan secara frontal, tidak juga menyalahkan petani lain yang melepas lahannya untuk dibeli pemborong perumahan. <\/p>\n\n\n\n
Ia tak berkomentar pedas akan hal itu. Lebih memilih diam dan terkesan menyetujui maraknya penjualan tanah di kampung. Namun, Ia tetap melawan secara mandiri, dengan tidak mau menjual lahan pertaniannya meskipun berkali-kali dirayu investor dengan harga mahal karena lokasinya strategis. Ia juga menyabotase akses masuk ke lokasi perumahan yang jika lewat lahan miliknya, lebih strategis dan mudah terakses. Namun karena perlawanannya dengan cara tak mau menjual lahan miliknya meskipun sedikit saja untuk jalan, akses jalan menuju perumahan itu harus sedikit memutar. Perlawanan khas Scottian.<\/p>\n\n\n\n
Saya kira, apa yang dilakukan Mbah Gimin, patut pula dicontoh untuk gerakan melawan kenaikan harga rokok. Ya sudah, mau apa lagi, terima saja dulu, biar saja. Tapi kita cukupkan saja dengan persetujuan itu, cukup. Tidak usah beli rokok lagi, dan bersetia pada tingwe.<\/p>\n","post_title":"Perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perlawanan-scottian-ala-mbah-gimin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-23 10:03:11","post_modified_gmt":"2020-01-23 03:03:11","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6399","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6445","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6435,"post_author":"878","post_date":"2020-02-04 09:47:07","post_date_gmt":"2020-02-04 02:47:07","post_content":"\nDi tengah gempuran pasar global yang seakan tak memiliki batas, dengan produk-produk impor yang menjejali negeri ini, juga ekspansi industri-industri besar multinasional yang membangun pabrik-pabrik mereka di Indonesia, apakah masih ada industri skala besar nasional yang masih mampu mengharumkan nama Indonesia sebagai produsen utamanya? Jawabannya ada, namun sedikit.
Satu dari yang sedikit itu, tak lain dan tak bukan adalah industri rokok kretek yang ada di negeri ini. Mulanya, rokok kretek ditemukan secara tak sengaja oleh Haji Djamhari di Kudus pada periode akhir abad 19. Selanjutnya, lewat tangan dingin Nitisemito dengan brand pabrik rokok Tjap Bal Tiga miliknya, rokok kretek kemudian masuk produk skala industri. Perlahan tapi pasti, rokok kretek kemudian berhasil menguasai pasar rokok nasional, mengambil alih besarnya permintaan konsumen rokok yang sebelumnya dikuasai produk rokok putihan.
Bahwasanya pasar industri rokok kretek juga ikut disasar pabrikan-pabrikan multinasional, itu tak bisa dimungkiri karena kue keuntungan dari industri ini memang begitu menjanjikan. Namun, hingga hari ini, industri rokok kretek masih dikuasai oleh pabrikan dalam negeri.
Lebih dari itu, mulai dari bahan baku berupa tembakau dan cengkeh juga dipasok dari sektor perkebunan nasional. Besarnya industri ini, juga menyerap tenaga kerja mendekati enam juta jiwa. Jumlah enam juta jiwa itu meliputi pekerja mulai dari hulu di perkebunan hingga pekerja-pekerja di pabrik-pabrik rokok. Jika ditambah dengan pedagang asongan dan pedagang rokok skala kecil, jumlah enam juta jiwa akan bertambah kian banyak.
Dua bahan baku utama industri kretek, berupa tembakau dan cengkeh, hampir seluruhnya dipasok dari sektor perkebunan nasional. Cengkeh untuk kretek sepenuhnya diambil dari sektor perkebunan nasional. Ini wajar karena Indonesia hingga hari ini menduduki peringkat pertama produsen cengkeh di dunia. Industri kretek menyerap sekitar 94 persen dari produksi cengkeh nasional setiap tahunnya.
Untuk sektor tembakau, memang ada bahan baku yang didapat dari hasil impor. Ini terjadi lebih karena kurangnya produksi tahunan tembakau untuk memenuhi kebutuhan industri rokok kretek nasional. Padahal sejauh ini Indonesia menduduki peringkat enam penghasil tembakau di dunia.
Tanaman cengkeh mulanya adalah tanaman endemik dari beberapa pulau di Kepulauan Maluku. Selepas berakhirnya monopoli cengkeh yang dilakukan penjajah Belanda, tanaman cengkeh menyebar ke pulau-pulau lain di Indonesia. Tanaman cengkeh selanjutnya dibawa ke luar negeri dan ditanam di beberapa negara dengam kondisi cuaca mirip Indonesia. Yang paling terkenal, cengkeh yang ditanam di Zanzibar, Afrika. Namun begitu, hingga hari ini, Indonesia masih menjadi produsen utama dan terbesar cengkeh di dunia.
Dari sekira 561 ribu hektar luas lahan perkebunan cengkeh nasional, setiap tahunnya produksi cengkeh kering berkisar antara 100 ribu hingga 150 ribu ton. Lebih dari 90 persen produksi cengkeh nasional kemudian diserap oleh industri kretek nasional. Sisanya menjadi komoditas ekspor dengan Arab Saudi, India, dan Sudan menjadi negara tujuan ekspor cengkeh.
Dalam satu tahun, permintaan tembakau dari pabrikan-pabrikan rokok yang ada di Indonesia berkisar antara 300 ribu hingga 350 ribu ton. Sejauh ini, sektor perkebunan tembakau nasional memiliki angka produksi fluktuatif tergantung cuaca, mencapai antara 100 ribu hingga 200 ribu ton. Jumlah itu dihasilkan dari luasan lahan mencapai 250 ribu hektar yang tersebar di 15 provinsi.
Belum selesai sampai di situ. Selain bahan baku dan para pekerja yang membikin geliat industri kretek nasional bergairah, pangsa pasar hasil industri ini juga begitu menjanjikan dalam menjalankan roda ekonomi nasional. Konsumen produk rokok kretek nasional adalah konsumen terbesar di Indonesia. Lebih dari 90 persen pasar rokok nasional dikuasai rokok kretek. Dari sana, negara mendapat keuntungan tak sedikit lewat cukai rokok. Tak kurang setiap tahunnya hasil cukai rokok berada pada angka Rp140 trilyun, setidaknya sepanjang 10 tahun belakangan.
Dari sini, tak bisa dibantah bahwasanya produk kretek bisa dibanggakan oleh negara ini, nasonalisme lewat produk kretek sejatinya bisa dibangun karena produk ini mulai dari hulu hingga hilir digerakkan oleh anak-anak negeri, dan memberikan keuntungan ekonomi yang tak sedikit pada negara. Nasionalisme dalam sebatang kretek.
Bahan baku utamanya diproduksi di dalam negeri oleh petani-petani kita, pekerja di pabrik-pabrik kretek juga orang asli Indonesia, pemilik pabriknya, juga orang Indonesia, lantas yang terakhir, konsumennya juga orang Indonesia, begitulah sejatinya industri nasional yang mesti dibanggakan. Maka, tak salah jika kita mendeklarasikan diri bahwa: Indonesia Republik Kretek.<\/p>\n","post_title":"Indonesia Republik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-republik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-04 09:47:16","post_modified_gmt":"2020-02-04 02:47:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6435","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6425,"post_author":"878","post_date":"2020-02-01 11:08:43","post_date_gmt":"2020-02-01 04:08:43","post_content":"\nBeberapa waktu lalu, beredar berita perihal subsidi yang diterima perusahaan sawit dari negara. Tak tanggung-tanggung, subsidi yang digelontorkan berjumlah tak kurang dari 7,5 trilyun. Sebuah angka yang fantastis.
\nYang lebih mengejutkan lagi, subsidi sebanyak 7,5 trilyun itu diterima hanya oleh 5 perusahaan sawit saja. Dari sini jelas terlihat betapa negara begitu memanjakan perusahaan sawit yang setiap tahun tak pernah absen dalam partisipasi pembakaran hutan di beberapa wilayah di negeri ini.
\nSalah satu alasan penggelontoran subsidi sebanyak itu adalah untuk pengembangan pengolahan hasil perkebunan sawit menjadi biodisel. Selanjutnya, biodisel hasil kembangan itu akan diserap oleh Pertamina dan PLN sebagai konsumennya. Oleh Pertamina, biodisel tersebut akan dipasarka melalui SPBU-SPBU yang tersebar di penjuru negeri, sedang PLN menggunakan biodisel tersebut sebagai bahan bakar pembangkit-pembangkit listrik milik mereka.
\nJadi, selain penggelontoran subsidi, pemerintah juga sudah menjamin serapan hasil kembangan perusahaan sawit di bidang biodisel. Sebuah kenyamanan yang membikin iri banyak bidang lainnya terutama sektor pertanian dan perkebunan lain yang selama ini tak terlalu diperhatikan pemerintah.
\nAngka subsidi yang digelontorkan pemerintah kepada lima perusahaan sawit tersebut, angkanya jauh lebih tinggi dibanding pendapatan yang diterima pemerintah dari pajak perusahaan sawit itu. Sudah bukan rahasia lagi, kebocoran penerimaan pajak dari sektor perkebunan sawit membikin negara merugi trilyunan rupiah setiap tahunnya.
\nDi tengah kondisi semacam itu, pengemplangan pajak yang rutin dilakukan oleh perusahaan sawit, negara tetap dengan baik hati memberi subsidi yang tak sedikit untuk mereka. Tak pelak lagi, sawit menjadi anak emas dalam sektor pertanian dan perkebunan di negeri ini.
\nLantas, mari kita bandingkan dengan sektor pertanian dan perkebunan yang setiap tahun rutin memberikan pemasukan tak sedikit bagi negara. Bidang pertanian dan perkebunan yang sepenuhnya dijalankan oleh anak-anak negeri, yang sesungguhnya bisa dibanggakan oleh negara karena selain pajak dan cukai dari hasil olahannya yang memberikan pemasukan begitu melimpah kepada negara, sektor ini juga sangat potensial menjadi produk kebanggan nasional karena dari hulu hingga hilir hampir seluruhnya diproduksi dan dikonsumsi oleh anak-anak bangsa. Itu adalah sektor pertembakauan dan perkebunan cengkeh dengan hasil olahannya berupa rokok kretek.
\nAda sekira enam juta manusia yang terlibat langsung dalam perkebunan tembakau dan cengkeh di negeri ini. Dua juta di sektor tembakau, dan empat juta di sektor cengkeh. Dari dua sektor itu yang lantas menghasilkan produk bernama rokok kretek, setiap tahunnya negara menerima pemasukan dari cukai tak kurang dari 140 trilyun, setidaknya selama 10 tahun terakhir.
\nTetapi, apakah mereka para petani di dua sektor perkebunan itu mendapat subsidi yang selayaknya dari negara? Subsidi itu ada, dalam bentuk Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) yang besarannya dibagi berdasarkan wilayah per kabupaten, yang angkanya tentu saja tak se-fantastis subsidi cuma-cuma yang diterima perusahaan sawit.
\nLalu untuk apa alokasi DBHCHT di sektor pertanian tembakau dan cengkeh itu? Berbeda dengan subsidi yang diterima perusahaan sawit yang sepenuhnya digunakan untuk pengembangan industri di hilir, DBHCHT untuk sektor tembakau dan cengkeh malah digunakan sebaliknya, untuk menghancurkan sektor perkebunan yang semestinya menjadi sektor perkebunan strategis nasional ini.
\nDengan alasan kesehatan, dana yang semestinya digunakan untuk mengembangkan perkebunan tembakau dan cengkeh supaya lebih maju lagi, malah digunakan untuk memberangus dua perkebunan itu. Dana itu digunakan sebagian besarnya untuk penyuluhan-penyuluhan kepada para petani agar mengganti usaha perkebunan tembakau dan cengkeh mereka ke komoditas pertanian dan perkebunan lainnya. Sebuah ironi yang menyedihkan.
\nDi luar itu, dana DBHCHT yang sumber utama pemasukannya dari dua komoditas itu, juga digunakan untuk menggembosi rokok kretek yang merupakan hasil turunan dari sektor tembakau dan cengkeh. Bayangkan, tanpa diberikan subsidi, tetapi menggunakan uang cukai yang dihasilkan dua sektor perkebunan itu, dana itu digunakan malahan untuk menggembosi dua sektor perkebunan itu.
\nDari sini, bisa kita lihat, jika perkebunan sawit menjadi anak emas negara, sebaliknya, perkebunan tembakau dan cengkeh dijadikan anak tiri oleh negara yang terus menerus digembosi. Keuntungannya diambil banyak oleh negara, sebagian keuntungan itu, digunakan secara tak langsung untuk menghancurkan sektor perkebunan tembakau dan cengkeh.
\nPerkebunan tembakau dan cengkeh, yang keduanya semestinya menjadi komoditas strategis nasional, malah dinistakan oleh negara yang sesungguhnya mengambil banyak keuntungan dari sana. Paradoks yang memuakkan.<\/p>\n","post_title":"Tembakau dan Cengkeh, Komoditas Perkebunan Strategis Nasional yang Dinistakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-dan-cengkeh-komoditas-perkebunan-strategis-nasional-yang-dinistakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-01 11:08:51","post_modified_gmt":"2020-02-01 04:08:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6399,"post_author":"878","post_date":"2020-01-23 10:03:09","post_date_gmt":"2020-01-23 03:03:09","post_content":"\nUsai memberi salam lantas duduk di kursi kayu di halaman depan rumah kontrakan saya, Mbah Gimin mengeluarkan slepen (wadah tembakau rajangan) dari saku kemeja di dada kirinya, membuka slepen, mengeluarkan kertas linting dari dalamnya, membuka lebar-lebar kertas linting, mengambil sejumput tembakau lalu Ia taruh di atas kertas linting, menaburi beberapa butir cengkeh kering di atas tembakau, lantas menggulung kertas linting itu menjadi bentuk kerucut. <\/p>\n\n\n\n
Mbah Gimin tak bicara sepanjang proses melinting itu. Usai mengulum ujung lintingan sisi lebih kecil, Mbah Gimin mengambil geretan kayu dari sakunya, menyalakan sebatang geretan dengan pemantik yang ada di kedua sisi kotak geretan, membakar ujung lintingan bagian besar, menyedot asap hasil pembakaran, menghembuskannya beberapa kali, baru kemudian Ia berbicara kepada saya yang sedari tadi duduk di hadapannya memperhatikan Ia yang sedang melinting, \"Bagaimana kabarmu, Le, bagaimana rasanya punya anak?\"<\/p>\n\n\n\n
Baca: Meluruskan Nalar Baca Data Susenas September 2019<\/a><\/p>\n\n\n\n
Di kampung, tak ada yang tahu usia Mbah Gimin. Saat saya tanyakan langsung usianya, Mbah Gimin menjawab, \"Mbuh, Le!\" Lantas tertawa. Saya ikut tertawa. Sejak pertama kali berjumpa dengan Mbah Gimin sekira empat tahun lalu, Mbah Gimin tak pernah lepas dari ritual melinting tembakau. Slepennya juga yang itu-itu saja, tak pernah berganti. Jika ada yang berubah dari ritual melinting rokok Mbah Gimin, itu adalah hilangnya kemenyan dari racikan tembakau tingwe miliknya. Hilangnya kemenyan terjadi usai Lala, istri saya, protes kepada Mbah Gimin karena bagi Lala, aroma rokok tingwe bercampur kemenyan milik Mbah Gimin menimbulkan suasana horor dan menyeramkan.<\/p>\n\n\n\n
Sepengetahuan saya, Mbah Gimin orang paling sepuh di kampung, beberapa warga yang menginformasikan hal itu. Seluruh rambutnya sudah memutih. Sehari-hari, penampilannya selalu sama, berkemeja berwarna lusuh, dengan kain sarung yang selalu menutup bagian pinggang hingga betis. Mbah Gimin masih rutin bekerja di sawah. Menanam padi di musim tanam padi, dan palawija di musim lainnya. Ia juga masih ngarit, mencari rumput untuk makan dua ekor kambing peliharaannya.<\/p>\n\n\n\n
\"Kabar saya baik, Mbah. Rasanya punya anak? Ya senang, Mbah. Tapi ada juga banyak ketakutan yang datang dan kekhawatiran yang timbul setelah saya punya anak.\"<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
Sepanjang empat tahun tinggal di kampung ini, dengan Mbah Gimin saya paling sering berbincang di luar dengan Pak RT yang juga pemilik rumah yang saya sewa selama empat tahun belakangan. Sekali dua kami berbincang di halaman masjid kampung, pernah juga di sawah yang sedang ia garap, paling sering, di halaman rumah saya, seperti beberapa malam lalu ketika Jogja sedang panas-panasnya padahal semestinya ini puncak musim hujan.<\/p>\n\n\n\n
Baca: Cukai rokok: Dari perokok, oleh perokok dan untuk perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n
Kami berbincang perihal apa saja. Yang paling sering, tentang kampung tempat kami tinggal dan keseharian Mbah Gimin di masa lampau hingga kini. Sekali dua, Mbah Gimin juga kerap mengantar hasil bumi ke rumah saya. Beras, ketela, cabai, dan beberapa jenis sayur yang Ia tanam. <\/p>\n\n\n\n
Mbah Gimin hidup seorang diri di kampung. Dua orang istrinya sudah lama meninggal. Tidak, Mbah Gimin tidak poligami. Mbah Gimin menikah enam tahun usai istri pertamanya meninggal. Tiga tahun kemudian, istri keduanya meninggal dunia. Bersama istri pertama, lahir dua orang anak, keduanya tinggal bersama suami mereka di luar kampung. Satu di Gunung Kidul, satu lagi di Klaten. Dengan istri kedua, tidak ada anak.<\/p>\n\n\n\n
\"Wajar itu. Senang ya wajar. Takut dan khawatir ya wajar. Jadi ya tenang saja. Apalagi ini anak pertamakan. Wajar.\" Ujar Mbah Gimin, lantas mengisap rokok tingwe lalu menghembuskan asap dengan santai dari mulut dan hidung.<\/p>\n\n\n\n
\"Mbah sejak kapan merokok tingwe?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Wah, sudah lama. Ya sejak mulai merokok.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Nggak pernah coba rokok pabrikan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Sesekali pernah. Tapi rasanya nggak ada yang pas.\"<\/p>\n\n\n\n
Baca: Sejarah Singkat Perkembangan Cukai Rokok dan DBHCHT di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n
Beberapa waktu belakangan, rokok tingwe kembali populer. Setelah sebelumnya dicap sebagai selera kolot, kini banyak anak muda yang menjadikan rokok tingwe sebagai keseharian gaya hidup, meninggalkan rokok pabrikan yang banyak beredar di pasaran. Lebih lagi usai harga rokok naik setelah cukai rokok dikerek naik dengan drastis oleh pemerintah. Membicarakan rokok tingwe, tentu saja saya teringat Mbah Gimin yang lama bersetia pada rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n
Ketika saya menginformasikan perihal kembali semaraknya orang-orang memilih rokok tingwe, dan menjadikan itu sebagai protes perlawanan akibat kenaikan cukai dan kenaikan harga rokok pabrikan, Mbah Gimin tersenyum, kemudian berujar, <\/p>\n\n\n\n
\"Mungkin itu untuk kebaikan pemerintah, jadi rokok harganya naik. Ya moga-moga petani juga dapat untung dari situ.\"<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
Komentar Mbah Gimin mengingatkan saya pada buku karya James C. Scott berjudul Weapon of the Weak. Dari James C. Scott itulah kemudian muncul teori perlawanan kaum tani yang kerap disebut teori Scottian. Melawan meskipun kalah. Melawan dengan cara khas petani. Main belakang, seakan mengiyakan dan menyetujui, tetapi diam-diam melawan. <\/p>\n\n\n\n
Selain kasus cukai rokok ini, perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin juga sudah saya dengar kemasyhurannya jauh-jauh hari, lewat perlawanan Mbah Gimin terhadap maraknya investasi di kampung yang mengubah lahan pertanian menjadi perumahan-perumahan kluster. Ia tak melawan secara frontal, tidak juga menyalahkan petani lain yang melepas lahannya untuk dibeli pemborong perumahan. <\/p>\n\n\n\n
Ia tak berkomentar pedas akan hal itu. Lebih memilih diam dan terkesan menyetujui maraknya penjualan tanah di kampung. Namun, Ia tetap melawan secara mandiri, dengan tidak mau menjual lahan pertaniannya meskipun berkali-kali dirayu investor dengan harga mahal karena lokasinya strategis. Ia juga menyabotase akses masuk ke lokasi perumahan yang jika lewat lahan miliknya, lebih strategis dan mudah terakses. Namun karena perlawanannya dengan cara tak mau menjual lahan miliknya meskipun sedikit saja untuk jalan, akses jalan menuju perumahan itu harus sedikit memutar. Perlawanan khas Scottian.<\/p>\n\n\n\n
Saya kira, apa yang dilakukan Mbah Gimin, patut pula dicontoh untuk gerakan melawan kenaikan harga rokok. Ya sudah, mau apa lagi, terima saja dulu, biar saja. Tapi kita cukupkan saja dengan persetujuan itu, cukup. Tidak usah beli rokok lagi, dan bersetia pada tingwe.<\/p>\n","post_title":"Perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perlawanan-scottian-ala-mbah-gimin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-23 10:03:11","post_modified_gmt":"2020-01-23 03:03:11","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6399","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6445","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6435,"post_author":"878","post_date":"2020-02-04 09:47:07","post_date_gmt":"2020-02-04 02:47:07","post_content":"\nDi tengah gempuran pasar global yang seakan tak memiliki batas, dengan produk-produk impor yang menjejali negeri ini, juga ekspansi industri-industri besar multinasional yang membangun pabrik-pabrik mereka di Indonesia, apakah masih ada industri skala besar nasional yang masih mampu mengharumkan nama Indonesia sebagai produsen utamanya? Jawabannya ada, namun sedikit.
Satu dari yang sedikit itu, tak lain dan tak bukan adalah industri rokok kretek yang ada di negeri ini. Mulanya, rokok kretek ditemukan secara tak sengaja oleh Haji Djamhari di Kudus pada periode akhir abad 19. Selanjutnya, lewat tangan dingin Nitisemito dengan brand pabrik rokok Tjap Bal Tiga miliknya, rokok kretek kemudian masuk produk skala industri. Perlahan tapi pasti, rokok kretek kemudian berhasil menguasai pasar rokok nasional, mengambil alih besarnya permintaan konsumen rokok yang sebelumnya dikuasai produk rokok putihan.
Bahwasanya pasar industri rokok kretek juga ikut disasar pabrikan-pabrikan multinasional, itu tak bisa dimungkiri karena kue keuntungan dari industri ini memang begitu menjanjikan. Namun, hingga hari ini, industri rokok kretek masih dikuasai oleh pabrikan dalam negeri.
Lebih dari itu, mulai dari bahan baku berupa tembakau dan cengkeh juga dipasok dari sektor perkebunan nasional. Besarnya industri ini, juga menyerap tenaga kerja mendekati enam juta jiwa. Jumlah enam juta jiwa itu meliputi pekerja mulai dari hulu di perkebunan hingga pekerja-pekerja di pabrik-pabrik rokok. Jika ditambah dengan pedagang asongan dan pedagang rokok skala kecil, jumlah enam juta jiwa akan bertambah kian banyak.
Dua bahan baku utama industri kretek, berupa tembakau dan cengkeh, hampir seluruhnya dipasok dari sektor perkebunan nasional. Cengkeh untuk kretek sepenuhnya diambil dari sektor perkebunan nasional. Ini wajar karena Indonesia hingga hari ini menduduki peringkat pertama produsen cengkeh di dunia. Industri kretek menyerap sekitar 94 persen dari produksi cengkeh nasional setiap tahunnya.
Untuk sektor tembakau, memang ada bahan baku yang didapat dari hasil impor. Ini terjadi lebih karena kurangnya produksi tahunan tembakau untuk memenuhi kebutuhan industri rokok kretek nasional. Padahal sejauh ini Indonesia menduduki peringkat enam penghasil tembakau di dunia.
Tanaman cengkeh mulanya adalah tanaman endemik dari beberapa pulau di Kepulauan Maluku. Selepas berakhirnya monopoli cengkeh yang dilakukan penjajah Belanda, tanaman cengkeh menyebar ke pulau-pulau lain di Indonesia. Tanaman cengkeh selanjutnya dibawa ke luar negeri dan ditanam di beberapa negara dengam kondisi cuaca mirip Indonesia. Yang paling terkenal, cengkeh yang ditanam di Zanzibar, Afrika. Namun begitu, hingga hari ini, Indonesia masih menjadi produsen utama dan terbesar cengkeh di dunia.
Dari sekira 561 ribu hektar luas lahan perkebunan cengkeh nasional, setiap tahunnya produksi cengkeh kering berkisar antara 100 ribu hingga 150 ribu ton. Lebih dari 90 persen produksi cengkeh nasional kemudian diserap oleh industri kretek nasional. Sisanya menjadi komoditas ekspor dengan Arab Saudi, India, dan Sudan menjadi negara tujuan ekspor cengkeh.
Dalam satu tahun, permintaan tembakau dari pabrikan-pabrikan rokok yang ada di Indonesia berkisar antara 300 ribu hingga 350 ribu ton. Sejauh ini, sektor perkebunan tembakau nasional memiliki angka produksi fluktuatif tergantung cuaca, mencapai antara 100 ribu hingga 200 ribu ton. Jumlah itu dihasilkan dari luasan lahan mencapai 250 ribu hektar yang tersebar di 15 provinsi.
Belum selesai sampai di situ. Selain bahan baku dan para pekerja yang membikin geliat industri kretek nasional bergairah, pangsa pasar hasil industri ini juga begitu menjanjikan dalam menjalankan roda ekonomi nasional. Konsumen produk rokok kretek nasional adalah konsumen terbesar di Indonesia. Lebih dari 90 persen pasar rokok nasional dikuasai rokok kretek. Dari sana, negara mendapat keuntungan tak sedikit lewat cukai rokok. Tak kurang setiap tahunnya hasil cukai rokok berada pada angka Rp140 trilyun, setidaknya sepanjang 10 tahun belakangan.
Dari sini, tak bisa dibantah bahwasanya produk kretek bisa dibanggakan oleh negara ini, nasonalisme lewat produk kretek sejatinya bisa dibangun karena produk ini mulai dari hulu hingga hilir digerakkan oleh anak-anak negeri, dan memberikan keuntungan ekonomi yang tak sedikit pada negara. Nasionalisme dalam sebatang kretek.
Bahan baku utamanya diproduksi di dalam negeri oleh petani-petani kita, pekerja di pabrik-pabrik kretek juga orang asli Indonesia, pemilik pabriknya, juga orang Indonesia, lantas yang terakhir, konsumennya juga orang Indonesia, begitulah sejatinya industri nasional yang mesti dibanggakan. Maka, tak salah jika kita mendeklarasikan diri bahwa: Indonesia Republik Kretek.<\/p>\n","post_title":"Indonesia Republik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-republik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-04 09:47:16","post_modified_gmt":"2020-02-04 02:47:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6435","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6425,"post_author":"878","post_date":"2020-02-01 11:08:43","post_date_gmt":"2020-02-01 04:08:43","post_content":"\nBeberapa waktu lalu, beredar berita perihal subsidi yang diterima perusahaan sawit dari negara. Tak tanggung-tanggung, subsidi yang digelontorkan berjumlah tak kurang dari 7,5 trilyun. Sebuah angka yang fantastis.
\nYang lebih mengejutkan lagi, subsidi sebanyak 7,5 trilyun itu diterima hanya oleh 5 perusahaan sawit saja. Dari sini jelas terlihat betapa negara begitu memanjakan perusahaan sawit yang setiap tahun tak pernah absen dalam partisipasi pembakaran hutan di beberapa wilayah di negeri ini.
\nSalah satu alasan penggelontoran subsidi sebanyak itu adalah untuk pengembangan pengolahan hasil perkebunan sawit menjadi biodisel. Selanjutnya, biodisel hasil kembangan itu akan diserap oleh Pertamina dan PLN sebagai konsumennya. Oleh Pertamina, biodisel tersebut akan dipasarka melalui SPBU-SPBU yang tersebar di penjuru negeri, sedang PLN menggunakan biodisel tersebut sebagai bahan bakar pembangkit-pembangkit listrik milik mereka.
\nJadi, selain penggelontoran subsidi, pemerintah juga sudah menjamin serapan hasil kembangan perusahaan sawit di bidang biodisel. Sebuah kenyamanan yang membikin iri banyak bidang lainnya terutama sektor pertanian dan perkebunan lain yang selama ini tak terlalu diperhatikan pemerintah.
\nAngka subsidi yang digelontorkan pemerintah kepada lima perusahaan sawit tersebut, angkanya jauh lebih tinggi dibanding pendapatan yang diterima pemerintah dari pajak perusahaan sawit itu. Sudah bukan rahasia lagi, kebocoran penerimaan pajak dari sektor perkebunan sawit membikin negara merugi trilyunan rupiah setiap tahunnya.
\nDi tengah kondisi semacam itu, pengemplangan pajak yang rutin dilakukan oleh perusahaan sawit, negara tetap dengan baik hati memberi subsidi yang tak sedikit untuk mereka. Tak pelak lagi, sawit menjadi anak emas dalam sektor pertanian dan perkebunan di negeri ini.
\nLantas, mari kita bandingkan dengan sektor pertanian dan perkebunan yang setiap tahun rutin memberikan pemasukan tak sedikit bagi negara. Bidang pertanian dan perkebunan yang sepenuhnya dijalankan oleh anak-anak negeri, yang sesungguhnya bisa dibanggakan oleh negara karena selain pajak dan cukai dari hasil olahannya yang memberikan pemasukan begitu melimpah kepada negara, sektor ini juga sangat potensial menjadi produk kebanggan nasional karena dari hulu hingga hilir hampir seluruhnya diproduksi dan dikonsumsi oleh anak-anak bangsa. Itu adalah sektor pertembakauan dan perkebunan cengkeh dengan hasil olahannya berupa rokok kretek.
\nAda sekira enam juta manusia yang terlibat langsung dalam perkebunan tembakau dan cengkeh di negeri ini. Dua juta di sektor tembakau, dan empat juta di sektor cengkeh. Dari dua sektor itu yang lantas menghasilkan produk bernama rokok kretek, setiap tahunnya negara menerima pemasukan dari cukai tak kurang dari 140 trilyun, setidaknya selama 10 tahun terakhir.
\nTetapi, apakah mereka para petani di dua sektor perkebunan itu mendapat subsidi yang selayaknya dari negara? Subsidi itu ada, dalam bentuk Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) yang besarannya dibagi berdasarkan wilayah per kabupaten, yang angkanya tentu saja tak se-fantastis subsidi cuma-cuma yang diterima perusahaan sawit.
\nLalu untuk apa alokasi DBHCHT di sektor pertanian tembakau dan cengkeh itu? Berbeda dengan subsidi yang diterima perusahaan sawit yang sepenuhnya digunakan untuk pengembangan industri di hilir, DBHCHT untuk sektor tembakau dan cengkeh malah digunakan sebaliknya, untuk menghancurkan sektor perkebunan yang semestinya menjadi sektor perkebunan strategis nasional ini.
\nDengan alasan kesehatan, dana yang semestinya digunakan untuk mengembangkan perkebunan tembakau dan cengkeh supaya lebih maju lagi, malah digunakan untuk memberangus dua perkebunan itu. Dana itu digunakan sebagian besarnya untuk penyuluhan-penyuluhan kepada para petani agar mengganti usaha perkebunan tembakau dan cengkeh mereka ke komoditas pertanian dan perkebunan lainnya. Sebuah ironi yang menyedihkan.
\nDi luar itu, dana DBHCHT yang sumber utama pemasukannya dari dua komoditas itu, juga digunakan untuk menggembosi rokok kretek yang merupakan hasil turunan dari sektor tembakau dan cengkeh. Bayangkan, tanpa diberikan subsidi, tetapi menggunakan uang cukai yang dihasilkan dua sektor perkebunan itu, dana itu digunakan malahan untuk menggembosi dua sektor perkebunan itu.
\nDari sini, bisa kita lihat, jika perkebunan sawit menjadi anak emas negara, sebaliknya, perkebunan tembakau dan cengkeh dijadikan anak tiri oleh negara yang terus menerus digembosi. Keuntungannya diambil banyak oleh negara, sebagian keuntungan itu, digunakan secara tak langsung untuk menghancurkan sektor perkebunan tembakau dan cengkeh.
\nPerkebunan tembakau dan cengkeh, yang keduanya semestinya menjadi komoditas strategis nasional, malah dinistakan oleh negara yang sesungguhnya mengambil banyak keuntungan dari sana. Paradoks yang memuakkan.<\/p>\n","post_title":"Tembakau dan Cengkeh, Komoditas Perkebunan Strategis Nasional yang Dinistakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-dan-cengkeh-komoditas-perkebunan-strategis-nasional-yang-dinistakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-01 11:08:51","post_modified_gmt":"2020-02-01 04:08:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6399,"post_author":"878","post_date":"2020-01-23 10:03:09","post_date_gmt":"2020-01-23 03:03:09","post_content":"\nUsai memberi salam lantas duduk di kursi kayu di halaman depan rumah kontrakan saya, Mbah Gimin mengeluarkan slepen (wadah tembakau rajangan) dari saku kemeja di dada kirinya, membuka slepen, mengeluarkan kertas linting dari dalamnya, membuka lebar-lebar kertas linting, mengambil sejumput tembakau lalu Ia taruh di atas kertas linting, menaburi beberapa butir cengkeh kering di atas tembakau, lantas menggulung kertas linting itu menjadi bentuk kerucut. <\/p>\n\n\n\n
Mbah Gimin tak bicara sepanjang proses melinting itu. Usai mengulum ujung lintingan sisi lebih kecil, Mbah Gimin mengambil geretan kayu dari sakunya, menyalakan sebatang geretan dengan pemantik yang ada di kedua sisi kotak geretan, membakar ujung lintingan bagian besar, menyedot asap hasil pembakaran, menghembuskannya beberapa kali, baru kemudian Ia berbicara kepada saya yang sedari tadi duduk di hadapannya memperhatikan Ia yang sedang melinting, \"Bagaimana kabarmu, Le, bagaimana rasanya punya anak?\"<\/p>\n\n\n\n
Baca: Meluruskan Nalar Baca Data Susenas September 2019<\/a><\/p>\n\n\n\n
Di kampung, tak ada yang tahu usia Mbah Gimin. Saat saya tanyakan langsung usianya, Mbah Gimin menjawab, \"Mbuh, Le!\" Lantas tertawa. Saya ikut tertawa. Sejak pertama kali berjumpa dengan Mbah Gimin sekira empat tahun lalu, Mbah Gimin tak pernah lepas dari ritual melinting tembakau. Slepennya juga yang itu-itu saja, tak pernah berganti. Jika ada yang berubah dari ritual melinting rokok Mbah Gimin, itu adalah hilangnya kemenyan dari racikan tembakau tingwe miliknya. Hilangnya kemenyan terjadi usai Lala, istri saya, protes kepada Mbah Gimin karena bagi Lala, aroma rokok tingwe bercampur kemenyan milik Mbah Gimin menimbulkan suasana horor dan menyeramkan.<\/p>\n\n\n\n
Sepengetahuan saya, Mbah Gimin orang paling sepuh di kampung, beberapa warga yang menginformasikan hal itu. Seluruh rambutnya sudah memutih. Sehari-hari, penampilannya selalu sama, berkemeja berwarna lusuh, dengan kain sarung yang selalu menutup bagian pinggang hingga betis. Mbah Gimin masih rutin bekerja di sawah. Menanam padi di musim tanam padi, dan palawija di musim lainnya. Ia juga masih ngarit, mencari rumput untuk makan dua ekor kambing peliharaannya.<\/p>\n\n\n\n
\"Kabar saya baik, Mbah. Rasanya punya anak? Ya senang, Mbah. Tapi ada juga banyak ketakutan yang datang dan kekhawatiran yang timbul setelah saya punya anak.\"<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
Sepanjang empat tahun tinggal di kampung ini, dengan Mbah Gimin saya paling sering berbincang di luar dengan Pak RT yang juga pemilik rumah yang saya sewa selama empat tahun belakangan. Sekali dua kami berbincang di halaman masjid kampung, pernah juga di sawah yang sedang ia garap, paling sering, di halaman rumah saya, seperti beberapa malam lalu ketika Jogja sedang panas-panasnya padahal semestinya ini puncak musim hujan.<\/p>\n\n\n\n
Baca: Cukai rokok: Dari perokok, oleh perokok dan untuk perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n
Kami berbincang perihal apa saja. Yang paling sering, tentang kampung tempat kami tinggal dan keseharian Mbah Gimin di masa lampau hingga kini. Sekali dua, Mbah Gimin juga kerap mengantar hasil bumi ke rumah saya. Beras, ketela, cabai, dan beberapa jenis sayur yang Ia tanam. <\/p>\n\n\n\n
Mbah Gimin hidup seorang diri di kampung. Dua orang istrinya sudah lama meninggal. Tidak, Mbah Gimin tidak poligami. Mbah Gimin menikah enam tahun usai istri pertamanya meninggal. Tiga tahun kemudian, istri keduanya meninggal dunia. Bersama istri pertama, lahir dua orang anak, keduanya tinggal bersama suami mereka di luar kampung. Satu di Gunung Kidul, satu lagi di Klaten. Dengan istri kedua, tidak ada anak.<\/p>\n\n\n\n
\"Wajar itu. Senang ya wajar. Takut dan khawatir ya wajar. Jadi ya tenang saja. Apalagi ini anak pertamakan. Wajar.\" Ujar Mbah Gimin, lantas mengisap rokok tingwe lalu menghembuskan asap dengan santai dari mulut dan hidung.<\/p>\n\n\n\n
\"Mbah sejak kapan merokok tingwe?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Wah, sudah lama. Ya sejak mulai merokok.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Nggak pernah coba rokok pabrikan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Sesekali pernah. Tapi rasanya nggak ada yang pas.\"<\/p>\n\n\n\n
Baca: Sejarah Singkat Perkembangan Cukai Rokok dan DBHCHT di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n
Beberapa waktu belakangan, rokok tingwe kembali populer. Setelah sebelumnya dicap sebagai selera kolot, kini banyak anak muda yang menjadikan rokok tingwe sebagai keseharian gaya hidup, meninggalkan rokok pabrikan yang banyak beredar di pasaran. Lebih lagi usai harga rokok naik setelah cukai rokok dikerek naik dengan drastis oleh pemerintah. Membicarakan rokok tingwe, tentu saja saya teringat Mbah Gimin yang lama bersetia pada rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n
Ketika saya menginformasikan perihal kembali semaraknya orang-orang memilih rokok tingwe, dan menjadikan itu sebagai protes perlawanan akibat kenaikan cukai dan kenaikan harga rokok pabrikan, Mbah Gimin tersenyum, kemudian berujar, <\/p>\n\n\n\n
\"Mungkin itu untuk kebaikan pemerintah, jadi rokok harganya naik. Ya moga-moga petani juga dapat untung dari situ.\"<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
Komentar Mbah Gimin mengingatkan saya pada buku karya James C. Scott berjudul Weapon of the Weak. Dari James C. Scott itulah kemudian muncul teori perlawanan kaum tani yang kerap disebut teori Scottian. Melawan meskipun kalah. Melawan dengan cara khas petani. Main belakang, seakan mengiyakan dan menyetujui, tetapi diam-diam melawan. <\/p>\n\n\n\n
Selain kasus cukai rokok ini, perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin juga sudah saya dengar kemasyhurannya jauh-jauh hari, lewat perlawanan Mbah Gimin terhadap maraknya investasi di kampung yang mengubah lahan pertanian menjadi perumahan-perumahan kluster. Ia tak melawan secara frontal, tidak juga menyalahkan petani lain yang melepas lahannya untuk dibeli pemborong perumahan. <\/p>\n\n\n\n
Ia tak berkomentar pedas akan hal itu. Lebih memilih diam dan terkesan menyetujui maraknya penjualan tanah di kampung. Namun, Ia tetap melawan secara mandiri, dengan tidak mau menjual lahan pertaniannya meskipun berkali-kali dirayu investor dengan harga mahal karena lokasinya strategis. Ia juga menyabotase akses masuk ke lokasi perumahan yang jika lewat lahan miliknya, lebih strategis dan mudah terakses. Namun karena perlawanannya dengan cara tak mau menjual lahan miliknya meskipun sedikit saja untuk jalan, akses jalan menuju perumahan itu harus sedikit memutar. Perlawanan khas Scottian.<\/p>\n\n\n\n
Saya kira, apa yang dilakukan Mbah Gimin, patut pula dicontoh untuk gerakan melawan kenaikan harga rokok. Ya sudah, mau apa lagi, terima saja dulu, biar saja. Tapi kita cukupkan saja dengan persetujuan itu, cukup. Tidak usah beli rokok lagi, dan bersetia pada tingwe.<\/p>\n","post_title":"Perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perlawanan-scottian-ala-mbah-gimin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-23 10:03:11","post_modified_gmt":"2020-01-23 03:03:11","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6399","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6445","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6435,"post_author":"878","post_date":"2020-02-04 09:47:07","post_date_gmt":"2020-02-04 02:47:07","post_content":"\nDi tengah gempuran pasar global yang seakan tak memiliki batas, dengan produk-produk impor yang menjejali negeri ini, juga ekspansi industri-industri besar multinasional yang membangun pabrik-pabrik mereka di Indonesia, apakah masih ada industri skala besar nasional yang masih mampu mengharumkan nama Indonesia sebagai produsen utamanya? Jawabannya ada, namun sedikit.
Satu dari yang sedikit itu, tak lain dan tak bukan adalah industri rokok kretek yang ada di negeri ini. Mulanya, rokok kretek ditemukan secara tak sengaja oleh Haji Djamhari di Kudus pada periode akhir abad 19. Selanjutnya, lewat tangan dingin Nitisemito dengan brand pabrik rokok Tjap Bal Tiga miliknya, rokok kretek kemudian masuk produk skala industri. Perlahan tapi pasti, rokok kretek kemudian berhasil menguasai pasar rokok nasional, mengambil alih besarnya permintaan konsumen rokok yang sebelumnya dikuasai produk rokok putihan.
Bahwasanya pasar industri rokok kretek juga ikut disasar pabrikan-pabrikan multinasional, itu tak bisa dimungkiri karena kue keuntungan dari industri ini memang begitu menjanjikan. Namun, hingga hari ini, industri rokok kretek masih dikuasai oleh pabrikan dalam negeri.
Lebih dari itu, mulai dari bahan baku berupa tembakau dan cengkeh juga dipasok dari sektor perkebunan nasional. Besarnya industri ini, juga menyerap tenaga kerja mendekati enam juta jiwa. Jumlah enam juta jiwa itu meliputi pekerja mulai dari hulu di perkebunan hingga pekerja-pekerja di pabrik-pabrik rokok. Jika ditambah dengan pedagang asongan dan pedagang rokok skala kecil, jumlah enam juta jiwa akan bertambah kian banyak.
Dua bahan baku utama industri kretek, berupa tembakau dan cengkeh, hampir seluruhnya dipasok dari sektor perkebunan nasional. Cengkeh untuk kretek sepenuhnya diambil dari sektor perkebunan nasional. Ini wajar karena Indonesia hingga hari ini menduduki peringkat pertama produsen cengkeh di dunia. Industri kretek menyerap sekitar 94 persen dari produksi cengkeh nasional setiap tahunnya.
Untuk sektor tembakau, memang ada bahan baku yang didapat dari hasil impor. Ini terjadi lebih karena kurangnya produksi tahunan tembakau untuk memenuhi kebutuhan industri rokok kretek nasional. Padahal sejauh ini Indonesia menduduki peringkat enam penghasil tembakau di dunia.
Tanaman cengkeh mulanya adalah tanaman endemik dari beberapa pulau di Kepulauan Maluku. Selepas berakhirnya monopoli cengkeh yang dilakukan penjajah Belanda, tanaman cengkeh menyebar ke pulau-pulau lain di Indonesia. Tanaman cengkeh selanjutnya dibawa ke luar negeri dan ditanam di beberapa negara dengam kondisi cuaca mirip Indonesia. Yang paling terkenal, cengkeh yang ditanam di Zanzibar, Afrika. Namun begitu, hingga hari ini, Indonesia masih menjadi produsen utama dan terbesar cengkeh di dunia.
Dari sekira 561 ribu hektar luas lahan perkebunan cengkeh nasional, setiap tahunnya produksi cengkeh kering berkisar antara 100 ribu hingga 150 ribu ton. Lebih dari 90 persen produksi cengkeh nasional kemudian diserap oleh industri kretek nasional. Sisanya menjadi komoditas ekspor dengan Arab Saudi, India, dan Sudan menjadi negara tujuan ekspor cengkeh.
Dalam satu tahun, permintaan tembakau dari pabrikan-pabrikan rokok yang ada di Indonesia berkisar antara 300 ribu hingga 350 ribu ton. Sejauh ini, sektor perkebunan tembakau nasional memiliki angka produksi fluktuatif tergantung cuaca, mencapai antara 100 ribu hingga 200 ribu ton. Jumlah itu dihasilkan dari luasan lahan mencapai 250 ribu hektar yang tersebar di 15 provinsi.
Belum selesai sampai di situ. Selain bahan baku dan para pekerja yang membikin geliat industri kretek nasional bergairah, pangsa pasar hasil industri ini juga begitu menjanjikan dalam menjalankan roda ekonomi nasional. Konsumen produk rokok kretek nasional adalah konsumen terbesar di Indonesia. Lebih dari 90 persen pasar rokok nasional dikuasai rokok kretek. Dari sana, negara mendapat keuntungan tak sedikit lewat cukai rokok. Tak kurang setiap tahunnya hasil cukai rokok berada pada angka Rp140 trilyun, setidaknya sepanjang 10 tahun belakangan.
Dari sini, tak bisa dibantah bahwasanya produk kretek bisa dibanggakan oleh negara ini, nasonalisme lewat produk kretek sejatinya bisa dibangun karena produk ini mulai dari hulu hingga hilir digerakkan oleh anak-anak negeri, dan memberikan keuntungan ekonomi yang tak sedikit pada negara. Nasionalisme dalam sebatang kretek.
Bahan baku utamanya diproduksi di dalam negeri oleh petani-petani kita, pekerja di pabrik-pabrik kretek juga orang asli Indonesia, pemilik pabriknya, juga orang Indonesia, lantas yang terakhir, konsumennya juga orang Indonesia, begitulah sejatinya industri nasional yang mesti dibanggakan. Maka, tak salah jika kita mendeklarasikan diri bahwa: Indonesia Republik Kretek.<\/p>\n","post_title":"Indonesia Republik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-republik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-04 09:47:16","post_modified_gmt":"2020-02-04 02:47:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6435","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6425,"post_author":"878","post_date":"2020-02-01 11:08:43","post_date_gmt":"2020-02-01 04:08:43","post_content":"\nBeberapa waktu lalu, beredar berita perihal subsidi yang diterima perusahaan sawit dari negara. Tak tanggung-tanggung, subsidi yang digelontorkan berjumlah tak kurang dari 7,5 trilyun. Sebuah angka yang fantastis.
\nYang lebih mengejutkan lagi, subsidi sebanyak 7,5 trilyun itu diterima hanya oleh 5 perusahaan sawit saja. Dari sini jelas terlihat betapa negara begitu memanjakan perusahaan sawit yang setiap tahun tak pernah absen dalam partisipasi pembakaran hutan di beberapa wilayah di negeri ini.
\nSalah satu alasan penggelontoran subsidi sebanyak itu adalah untuk pengembangan pengolahan hasil perkebunan sawit menjadi biodisel. Selanjutnya, biodisel hasil kembangan itu akan diserap oleh Pertamina dan PLN sebagai konsumennya. Oleh Pertamina, biodisel tersebut akan dipasarka melalui SPBU-SPBU yang tersebar di penjuru negeri, sedang PLN menggunakan biodisel tersebut sebagai bahan bakar pembangkit-pembangkit listrik milik mereka.
\nJadi, selain penggelontoran subsidi, pemerintah juga sudah menjamin serapan hasil kembangan perusahaan sawit di bidang biodisel. Sebuah kenyamanan yang membikin iri banyak bidang lainnya terutama sektor pertanian dan perkebunan lain yang selama ini tak terlalu diperhatikan pemerintah.
\nAngka subsidi yang digelontorkan pemerintah kepada lima perusahaan sawit tersebut, angkanya jauh lebih tinggi dibanding pendapatan yang diterima pemerintah dari pajak perusahaan sawit itu. Sudah bukan rahasia lagi, kebocoran penerimaan pajak dari sektor perkebunan sawit membikin negara merugi trilyunan rupiah setiap tahunnya.
\nDi tengah kondisi semacam itu, pengemplangan pajak yang rutin dilakukan oleh perusahaan sawit, negara tetap dengan baik hati memberi subsidi yang tak sedikit untuk mereka. Tak pelak lagi, sawit menjadi anak emas dalam sektor pertanian dan perkebunan di negeri ini.
\nLantas, mari kita bandingkan dengan sektor pertanian dan perkebunan yang setiap tahun rutin memberikan pemasukan tak sedikit bagi negara. Bidang pertanian dan perkebunan yang sepenuhnya dijalankan oleh anak-anak negeri, yang sesungguhnya bisa dibanggakan oleh negara karena selain pajak dan cukai dari hasil olahannya yang memberikan pemasukan begitu melimpah kepada negara, sektor ini juga sangat potensial menjadi produk kebanggan nasional karena dari hulu hingga hilir hampir seluruhnya diproduksi dan dikonsumsi oleh anak-anak bangsa. Itu adalah sektor pertembakauan dan perkebunan cengkeh dengan hasil olahannya berupa rokok kretek.
\nAda sekira enam juta manusia yang terlibat langsung dalam perkebunan tembakau dan cengkeh di negeri ini. Dua juta di sektor tembakau, dan empat juta di sektor cengkeh. Dari dua sektor itu yang lantas menghasilkan produk bernama rokok kretek, setiap tahunnya negara menerima pemasukan dari cukai tak kurang dari 140 trilyun, setidaknya selama 10 tahun terakhir.
\nTetapi, apakah mereka para petani di dua sektor perkebunan itu mendapat subsidi yang selayaknya dari negara? Subsidi itu ada, dalam bentuk Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) yang besarannya dibagi berdasarkan wilayah per kabupaten, yang angkanya tentu saja tak se-fantastis subsidi cuma-cuma yang diterima perusahaan sawit.
\nLalu untuk apa alokasi DBHCHT di sektor pertanian tembakau dan cengkeh itu? Berbeda dengan subsidi yang diterima perusahaan sawit yang sepenuhnya digunakan untuk pengembangan industri di hilir, DBHCHT untuk sektor tembakau dan cengkeh malah digunakan sebaliknya, untuk menghancurkan sektor perkebunan yang semestinya menjadi sektor perkebunan strategis nasional ini.
\nDengan alasan kesehatan, dana yang semestinya digunakan untuk mengembangkan perkebunan tembakau dan cengkeh supaya lebih maju lagi, malah digunakan untuk memberangus dua perkebunan itu. Dana itu digunakan sebagian besarnya untuk penyuluhan-penyuluhan kepada para petani agar mengganti usaha perkebunan tembakau dan cengkeh mereka ke komoditas pertanian dan perkebunan lainnya. Sebuah ironi yang menyedihkan.
\nDi luar itu, dana DBHCHT yang sumber utama pemasukannya dari dua komoditas itu, juga digunakan untuk menggembosi rokok kretek yang merupakan hasil turunan dari sektor tembakau dan cengkeh. Bayangkan, tanpa diberikan subsidi, tetapi menggunakan uang cukai yang dihasilkan dua sektor perkebunan itu, dana itu digunakan malahan untuk menggembosi dua sektor perkebunan itu.
\nDari sini, bisa kita lihat, jika perkebunan sawit menjadi anak emas negara, sebaliknya, perkebunan tembakau dan cengkeh dijadikan anak tiri oleh negara yang terus menerus digembosi. Keuntungannya diambil banyak oleh negara, sebagian keuntungan itu, digunakan secara tak langsung untuk menghancurkan sektor perkebunan tembakau dan cengkeh.
\nPerkebunan tembakau dan cengkeh, yang keduanya semestinya menjadi komoditas strategis nasional, malah dinistakan oleh negara yang sesungguhnya mengambil banyak keuntungan dari sana. Paradoks yang memuakkan.<\/p>\n","post_title":"Tembakau dan Cengkeh, Komoditas Perkebunan Strategis Nasional yang Dinistakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-dan-cengkeh-komoditas-perkebunan-strategis-nasional-yang-dinistakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-01 11:08:51","post_modified_gmt":"2020-02-01 04:08:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6399,"post_author":"878","post_date":"2020-01-23 10:03:09","post_date_gmt":"2020-01-23 03:03:09","post_content":"\nUsai memberi salam lantas duduk di kursi kayu di halaman depan rumah kontrakan saya, Mbah Gimin mengeluarkan slepen (wadah tembakau rajangan) dari saku kemeja di dada kirinya, membuka slepen, mengeluarkan kertas linting dari dalamnya, membuka lebar-lebar kertas linting, mengambil sejumput tembakau lalu Ia taruh di atas kertas linting, menaburi beberapa butir cengkeh kering di atas tembakau, lantas menggulung kertas linting itu menjadi bentuk kerucut. <\/p>\n\n\n\n
Mbah Gimin tak bicara sepanjang proses melinting itu. Usai mengulum ujung lintingan sisi lebih kecil, Mbah Gimin mengambil geretan kayu dari sakunya, menyalakan sebatang geretan dengan pemantik yang ada di kedua sisi kotak geretan, membakar ujung lintingan bagian besar, menyedot asap hasil pembakaran, menghembuskannya beberapa kali, baru kemudian Ia berbicara kepada saya yang sedari tadi duduk di hadapannya memperhatikan Ia yang sedang melinting, \"Bagaimana kabarmu, Le, bagaimana rasanya punya anak?\"<\/p>\n\n\n\n
Baca: Meluruskan Nalar Baca Data Susenas September 2019<\/a><\/p>\n\n\n\n
Di kampung, tak ada yang tahu usia Mbah Gimin. Saat saya tanyakan langsung usianya, Mbah Gimin menjawab, \"Mbuh, Le!\" Lantas tertawa. Saya ikut tertawa. Sejak pertama kali berjumpa dengan Mbah Gimin sekira empat tahun lalu, Mbah Gimin tak pernah lepas dari ritual melinting tembakau. Slepennya juga yang itu-itu saja, tak pernah berganti. Jika ada yang berubah dari ritual melinting rokok Mbah Gimin, itu adalah hilangnya kemenyan dari racikan tembakau tingwe miliknya. Hilangnya kemenyan terjadi usai Lala, istri saya, protes kepada Mbah Gimin karena bagi Lala, aroma rokok tingwe bercampur kemenyan milik Mbah Gimin menimbulkan suasana horor dan menyeramkan.<\/p>\n\n\n\n
Sepengetahuan saya, Mbah Gimin orang paling sepuh di kampung, beberapa warga yang menginformasikan hal itu. Seluruh rambutnya sudah memutih. Sehari-hari, penampilannya selalu sama, berkemeja berwarna lusuh, dengan kain sarung yang selalu menutup bagian pinggang hingga betis. Mbah Gimin masih rutin bekerja di sawah. Menanam padi di musim tanam padi, dan palawija di musim lainnya. Ia juga masih ngarit, mencari rumput untuk makan dua ekor kambing peliharaannya.<\/p>\n\n\n\n
\"Kabar saya baik, Mbah. Rasanya punya anak? Ya senang, Mbah. Tapi ada juga banyak ketakutan yang datang dan kekhawatiran yang timbul setelah saya punya anak.\"<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
Sepanjang empat tahun tinggal di kampung ini, dengan Mbah Gimin saya paling sering berbincang di luar dengan Pak RT yang juga pemilik rumah yang saya sewa selama empat tahun belakangan. Sekali dua kami berbincang di halaman masjid kampung, pernah juga di sawah yang sedang ia garap, paling sering, di halaman rumah saya, seperti beberapa malam lalu ketika Jogja sedang panas-panasnya padahal semestinya ini puncak musim hujan.<\/p>\n\n\n\n
Baca: Cukai rokok: Dari perokok, oleh perokok dan untuk perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n
Kami berbincang perihal apa saja. Yang paling sering, tentang kampung tempat kami tinggal dan keseharian Mbah Gimin di masa lampau hingga kini. Sekali dua, Mbah Gimin juga kerap mengantar hasil bumi ke rumah saya. Beras, ketela, cabai, dan beberapa jenis sayur yang Ia tanam. <\/p>\n\n\n\n
Mbah Gimin hidup seorang diri di kampung. Dua orang istrinya sudah lama meninggal. Tidak, Mbah Gimin tidak poligami. Mbah Gimin menikah enam tahun usai istri pertamanya meninggal. Tiga tahun kemudian, istri keduanya meninggal dunia. Bersama istri pertama, lahir dua orang anak, keduanya tinggal bersama suami mereka di luar kampung. Satu di Gunung Kidul, satu lagi di Klaten. Dengan istri kedua, tidak ada anak.<\/p>\n\n\n\n
\"Wajar itu. Senang ya wajar. Takut dan khawatir ya wajar. Jadi ya tenang saja. Apalagi ini anak pertamakan. Wajar.\" Ujar Mbah Gimin, lantas mengisap rokok tingwe lalu menghembuskan asap dengan santai dari mulut dan hidung.<\/p>\n\n\n\n
\"Mbah sejak kapan merokok tingwe?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Wah, sudah lama. Ya sejak mulai merokok.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Nggak pernah coba rokok pabrikan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Sesekali pernah. Tapi rasanya nggak ada yang pas.\"<\/p>\n\n\n\n
Baca: Sejarah Singkat Perkembangan Cukai Rokok dan DBHCHT di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n
Beberapa waktu belakangan, rokok tingwe kembali populer. Setelah sebelumnya dicap sebagai selera kolot, kini banyak anak muda yang menjadikan rokok tingwe sebagai keseharian gaya hidup, meninggalkan rokok pabrikan yang banyak beredar di pasaran. Lebih lagi usai harga rokok naik setelah cukai rokok dikerek naik dengan drastis oleh pemerintah. Membicarakan rokok tingwe, tentu saja saya teringat Mbah Gimin yang lama bersetia pada rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n
Ketika saya menginformasikan perihal kembali semaraknya orang-orang memilih rokok tingwe, dan menjadikan itu sebagai protes perlawanan akibat kenaikan cukai dan kenaikan harga rokok pabrikan, Mbah Gimin tersenyum, kemudian berujar, <\/p>\n\n\n\n
\"Mungkin itu untuk kebaikan pemerintah, jadi rokok harganya naik. Ya moga-moga petani juga dapat untung dari situ.\"<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
Komentar Mbah Gimin mengingatkan saya pada buku karya James C. Scott berjudul Weapon of the Weak. Dari James C. Scott itulah kemudian muncul teori perlawanan kaum tani yang kerap disebut teori Scottian. Melawan meskipun kalah. Melawan dengan cara khas petani. Main belakang, seakan mengiyakan dan menyetujui, tetapi diam-diam melawan. <\/p>\n\n\n\n
Selain kasus cukai rokok ini, perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin juga sudah saya dengar kemasyhurannya jauh-jauh hari, lewat perlawanan Mbah Gimin terhadap maraknya investasi di kampung yang mengubah lahan pertanian menjadi perumahan-perumahan kluster. Ia tak melawan secara frontal, tidak juga menyalahkan petani lain yang melepas lahannya untuk dibeli pemborong perumahan. <\/p>\n\n\n\n
Ia tak berkomentar pedas akan hal itu. Lebih memilih diam dan terkesan menyetujui maraknya penjualan tanah di kampung. Namun, Ia tetap melawan secara mandiri, dengan tidak mau menjual lahan pertaniannya meskipun berkali-kali dirayu investor dengan harga mahal karena lokasinya strategis. Ia juga menyabotase akses masuk ke lokasi perumahan yang jika lewat lahan miliknya, lebih strategis dan mudah terakses. Namun karena perlawanannya dengan cara tak mau menjual lahan miliknya meskipun sedikit saja untuk jalan, akses jalan menuju perumahan itu harus sedikit memutar. Perlawanan khas Scottian.<\/p>\n\n\n\n
Saya kira, apa yang dilakukan Mbah Gimin, patut pula dicontoh untuk gerakan melawan kenaikan harga rokok. Ya sudah, mau apa lagi, terima saja dulu, biar saja. Tapi kita cukupkan saja dengan persetujuan itu, cukup. Tidak usah beli rokok lagi, dan bersetia pada tingwe.<\/p>\n","post_title":"Perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perlawanan-scottian-ala-mbah-gimin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-23 10:03:11","post_modified_gmt":"2020-01-23 03:03:11","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6399","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6445","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6435,"post_author":"878","post_date":"2020-02-04 09:47:07","post_date_gmt":"2020-02-04 02:47:07","post_content":"\nDi tengah gempuran pasar global yang seakan tak memiliki batas, dengan produk-produk impor yang menjejali negeri ini, juga ekspansi industri-industri besar multinasional yang membangun pabrik-pabrik mereka di Indonesia, apakah masih ada industri skala besar nasional yang masih mampu mengharumkan nama Indonesia sebagai produsen utamanya? Jawabannya ada, namun sedikit.
Satu dari yang sedikit itu, tak lain dan tak bukan adalah industri rokok kretek yang ada di negeri ini. Mulanya, rokok kretek ditemukan secara tak sengaja oleh Haji Djamhari di Kudus pada periode akhir abad 19. Selanjutnya, lewat tangan dingin Nitisemito dengan brand pabrik rokok Tjap Bal Tiga miliknya, rokok kretek kemudian masuk produk skala industri. Perlahan tapi pasti, rokok kretek kemudian berhasil menguasai pasar rokok nasional, mengambil alih besarnya permintaan konsumen rokok yang sebelumnya dikuasai produk rokok putihan.
Bahwasanya pasar industri rokok kretek juga ikut disasar pabrikan-pabrikan multinasional, itu tak bisa dimungkiri karena kue keuntungan dari industri ini memang begitu menjanjikan. Namun, hingga hari ini, industri rokok kretek masih dikuasai oleh pabrikan dalam negeri.
Lebih dari itu, mulai dari bahan baku berupa tembakau dan cengkeh juga dipasok dari sektor perkebunan nasional. Besarnya industri ini, juga menyerap tenaga kerja mendekati enam juta jiwa. Jumlah enam juta jiwa itu meliputi pekerja mulai dari hulu di perkebunan hingga pekerja-pekerja di pabrik-pabrik rokok. Jika ditambah dengan pedagang asongan dan pedagang rokok skala kecil, jumlah enam juta jiwa akan bertambah kian banyak.
Dua bahan baku utama industri kretek, berupa tembakau dan cengkeh, hampir seluruhnya dipasok dari sektor perkebunan nasional. Cengkeh untuk kretek sepenuhnya diambil dari sektor perkebunan nasional. Ini wajar karena Indonesia hingga hari ini menduduki peringkat pertama produsen cengkeh di dunia. Industri kretek menyerap sekitar 94 persen dari produksi cengkeh nasional setiap tahunnya.
Untuk sektor tembakau, memang ada bahan baku yang didapat dari hasil impor. Ini terjadi lebih karena kurangnya produksi tahunan tembakau untuk memenuhi kebutuhan industri rokok kretek nasional. Padahal sejauh ini Indonesia menduduki peringkat enam penghasil tembakau di dunia.
Tanaman cengkeh mulanya adalah tanaman endemik dari beberapa pulau di Kepulauan Maluku. Selepas berakhirnya monopoli cengkeh yang dilakukan penjajah Belanda, tanaman cengkeh menyebar ke pulau-pulau lain di Indonesia. Tanaman cengkeh selanjutnya dibawa ke luar negeri dan ditanam di beberapa negara dengam kondisi cuaca mirip Indonesia. Yang paling terkenal, cengkeh yang ditanam di Zanzibar, Afrika. Namun begitu, hingga hari ini, Indonesia masih menjadi produsen utama dan terbesar cengkeh di dunia.
Dari sekira 561 ribu hektar luas lahan perkebunan cengkeh nasional, setiap tahunnya produksi cengkeh kering berkisar antara 100 ribu hingga 150 ribu ton. Lebih dari 90 persen produksi cengkeh nasional kemudian diserap oleh industri kretek nasional. Sisanya menjadi komoditas ekspor dengan Arab Saudi, India, dan Sudan menjadi negara tujuan ekspor cengkeh.
Dalam satu tahun, permintaan tembakau dari pabrikan-pabrikan rokok yang ada di Indonesia berkisar antara 300 ribu hingga 350 ribu ton. Sejauh ini, sektor perkebunan tembakau nasional memiliki angka produksi fluktuatif tergantung cuaca, mencapai antara 100 ribu hingga 200 ribu ton. Jumlah itu dihasilkan dari luasan lahan mencapai 250 ribu hektar yang tersebar di 15 provinsi.
Belum selesai sampai di situ. Selain bahan baku dan para pekerja yang membikin geliat industri kretek nasional bergairah, pangsa pasar hasil industri ini juga begitu menjanjikan dalam menjalankan roda ekonomi nasional. Konsumen produk rokok kretek nasional adalah konsumen terbesar di Indonesia. Lebih dari 90 persen pasar rokok nasional dikuasai rokok kretek. Dari sana, negara mendapat keuntungan tak sedikit lewat cukai rokok. Tak kurang setiap tahunnya hasil cukai rokok berada pada angka Rp140 trilyun, setidaknya sepanjang 10 tahun belakangan.
Dari sini, tak bisa dibantah bahwasanya produk kretek bisa dibanggakan oleh negara ini, nasonalisme lewat produk kretek sejatinya bisa dibangun karena produk ini mulai dari hulu hingga hilir digerakkan oleh anak-anak negeri, dan memberikan keuntungan ekonomi yang tak sedikit pada negara. Nasionalisme dalam sebatang kretek.
Bahan baku utamanya diproduksi di dalam negeri oleh petani-petani kita, pekerja di pabrik-pabrik kretek juga orang asli Indonesia, pemilik pabriknya, juga orang Indonesia, lantas yang terakhir, konsumennya juga orang Indonesia, begitulah sejatinya industri nasional yang mesti dibanggakan. Maka, tak salah jika kita mendeklarasikan diri bahwa: Indonesia Republik Kretek.<\/p>\n","post_title":"Indonesia Republik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-republik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-04 09:47:16","post_modified_gmt":"2020-02-04 02:47:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6435","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6425,"post_author":"878","post_date":"2020-02-01 11:08:43","post_date_gmt":"2020-02-01 04:08:43","post_content":"\nBeberapa waktu lalu, beredar berita perihal subsidi yang diterima perusahaan sawit dari negara. Tak tanggung-tanggung, subsidi yang digelontorkan berjumlah tak kurang dari 7,5 trilyun. Sebuah angka yang fantastis.
\nYang lebih mengejutkan lagi, subsidi sebanyak 7,5 trilyun itu diterima hanya oleh 5 perusahaan sawit saja. Dari sini jelas terlihat betapa negara begitu memanjakan perusahaan sawit yang setiap tahun tak pernah absen dalam partisipasi pembakaran hutan di beberapa wilayah di negeri ini.
\nSalah satu alasan penggelontoran subsidi sebanyak itu adalah untuk pengembangan pengolahan hasil perkebunan sawit menjadi biodisel. Selanjutnya, biodisel hasil kembangan itu akan diserap oleh Pertamina dan PLN sebagai konsumennya. Oleh Pertamina, biodisel tersebut akan dipasarka melalui SPBU-SPBU yang tersebar di penjuru negeri, sedang PLN menggunakan biodisel tersebut sebagai bahan bakar pembangkit-pembangkit listrik milik mereka.
\nJadi, selain penggelontoran subsidi, pemerintah juga sudah menjamin serapan hasil kembangan perusahaan sawit di bidang biodisel. Sebuah kenyamanan yang membikin iri banyak bidang lainnya terutama sektor pertanian dan perkebunan lain yang selama ini tak terlalu diperhatikan pemerintah.
\nAngka subsidi yang digelontorkan pemerintah kepada lima perusahaan sawit tersebut, angkanya jauh lebih tinggi dibanding pendapatan yang diterima pemerintah dari pajak perusahaan sawit itu. Sudah bukan rahasia lagi, kebocoran penerimaan pajak dari sektor perkebunan sawit membikin negara merugi trilyunan rupiah setiap tahunnya.
\nDi tengah kondisi semacam itu, pengemplangan pajak yang rutin dilakukan oleh perusahaan sawit, negara tetap dengan baik hati memberi subsidi yang tak sedikit untuk mereka. Tak pelak lagi, sawit menjadi anak emas dalam sektor pertanian dan perkebunan di negeri ini.
\nLantas, mari kita bandingkan dengan sektor pertanian dan perkebunan yang setiap tahun rutin memberikan pemasukan tak sedikit bagi negara. Bidang pertanian dan perkebunan yang sepenuhnya dijalankan oleh anak-anak negeri, yang sesungguhnya bisa dibanggakan oleh negara karena selain pajak dan cukai dari hasil olahannya yang memberikan pemasukan begitu melimpah kepada negara, sektor ini juga sangat potensial menjadi produk kebanggan nasional karena dari hulu hingga hilir hampir seluruhnya diproduksi dan dikonsumsi oleh anak-anak bangsa. Itu adalah sektor pertembakauan dan perkebunan cengkeh dengan hasil olahannya berupa rokok kretek.
\nAda sekira enam juta manusia yang terlibat langsung dalam perkebunan tembakau dan cengkeh di negeri ini. Dua juta di sektor tembakau, dan empat juta di sektor cengkeh. Dari dua sektor itu yang lantas menghasilkan produk bernama rokok kretek, setiap tahunnya negara menerima pemasukan dari cukai tak kurang dari 140 trilyun, setidaknya selama 10 tahun terakhir.
\nTetapi, apakah mereka para petani di dua sektor perkebunan itu mendapat subsidi yang selayaknya dari negara? Subsidi itu ada, dalam bentuk Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) yang besarannya dibagi berdasarkan wilayah per kabupaten, yang angkanya tentu saja tak se-fantastis subsidi cuma-cuma yang diterima perusahaan sawit.
\nLalu untuk apa alokasi DBHCHT di sektor pertanian tembakau dan cengkeh itu? Berbeda dengan subsidi yang diterima perusahaan sawit yang sepenuhnya digunakan untuk pengembangan industri di hilir, DBHCHT untuk sektor tembakau dan cengkeh malah digunakan sebaliknya, untuk menghancurkan sektor perkebunan yang semestinya menjadi sektor perkebunan strategis nasional ini.
\nDengan alasan kesehatan, dana yang semestinya digunakan untuk mengembangkan perkebunan tembakau dan cengkeh supaya lebih maju lagi, malah digunakan untuk memberangus dua perkebunan itu. Dana itu digunakan sebagian besarnya untuk penyuluhan-penyuluhan kepada para petani agar mengganti usaha perkebunan tembakau dan cengkeh mereka ke komoditas pertanian dan perkebunan lainnya. Sebuah ironi yang menyedihkan.
\nDi luar itu, dana DBHCHT yang sumber utama pemasukannya dari dua komoditas itu, juga digunakan untuk menggembosi rokok kretek yang merupakan hasil turunan dari sektor tembakau dan cengkeh. Bayangkan, tanpa diberikan subsidi, tetapi menggunakan uang cukai yang dihasilkan dua sektor perkebunan itu, dana itu digunakan malahan untuk menggembosi dua sektor perkebunan itu.
\nDari sini, bisa kita lihat, jika perkebunan sawit menjadi anak emas negara, sebaliknya, perkebunan tembakau dan cengkeh dijadikan anak tiri oleh negara yang terus menerus digembosi. Keuntungannya diambil banyak oleh negara, sebagian keuntungan itu, digunakan secara tak langsung untuk menghancurkan sektor perkebunan tembakau dan cengkeh.
\nPerkebunan tembakau dan cengkeh, yang keduanya semestinya menjadi komoditas strategis nasional, malah dinistakan oleh negara yang sesungguhnya mengambil banyak keuntungan dari sana. Paradoks yang memuakkan.<\/p>\n","post_title":"Tembakau dan Cengkeh, Komoditas Perkebunan Strategis Nasional yang Dinistakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-dan-cengkeh-komoditas-perkebunan-strategis-nasional-yang-dinistakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-01 11:08:51","post_modified_gmt":"2020-02-01 04:08:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6399,"post_author":"878","post_date":"2020-01-23 10:03:09","post_date_gmt":"2020-01-23 03:03:09","post_content":"\nUsai memberi salam lantas duduk di kursi kayu di halaman depan rumah kontrakan saya, Mbah Gimin mengeluarkan slepen (wadah tembakau rajangan) dari saku kemeja di dada kirinya, membuka slepen, mengeluarkan kertas linting dari dalamnya, membuka lebar-lebar kertas linting, mengambil sejumput tembakau lalu Ia taruh di atas kertas linting, menaburi beberapa butir cengkeh kering di atas tembakau, lantas menggulung kertas linting itu menjadi bentuk kerucut. <\/p>\n\n\n\n
Mbah Gimin tak bicara sepanjang proses melinting itu. Usai mengulum ujung lintingan sisi lebih kecil, Mbah Gimin mengambil geretan kayu dari sakunya, menyalakan sebatang geretan dengan pemantik yang ada di kedua sisi kotak geretan, membakar ujung lintingan bagian besar, menyedot asap hasil pembakaran, menghembuskannya beberapa kali, baru kemudian Ia berbicara kepada saya yang sedari tadi duduk di hadapannya memperhatikan Ia yang sedang melinting, \"Bagaimana kabarmu, Le, bagaimana rasanya punya anak?\"<\/p>\n\n\n\n
Baca: Meluruskan Nalar Baca Data Susenas September 2019<\/a><\/p>\n\n\n\n
Di kampung, tak ada yang tahu usia Mbah Gimin. Saat saya tanyakan langsung usianya, Mbah Gimin menjawab, \"Mbuh, Le!\" Lantas tertawa. Saya ikut tertawa. Sejak pertama kali berjumpa dengan Mbah Gimin sekira empat tahun lalu, Mbah Gimin tak pernah lepas dari ritual melinting tembakau. Slepennya juga yang itu-itu saja, tak pernah berganti. Jika ada yang berubah dari ritual melinting rokok Mbah Gimin, itu adalah hilangnya kemenyan dari racikan tembakau tingwe miliknya. Hilangnya kemenyan terjadi usai Lala, istri saya, protes kepada Mbah Gimin karena bagi Lala, aroma rokok tingwe bercampur kemenyan milik Mbah Gimin menimbulkan suasana horor dan menyeramkan.<\/p>\n\n\n\n
Sepengetahuan saya, Mbah Gimin orang paling sepuh di kampung, beberapa warga yang menginformasikan hal itu. Seluruh rambutnya sudah memutih. Sehari-hari, penampilannya selalu sama, berkemeja berwarna lusuh, dengan kain sarung yang selalu menutup bagian pinggang hingga betis. Mbah Gimin masih rutin bekerja di sawah. Menanam padi di musim tanam padi, dan palawija di musim lainnya. Ia juga masih ngarit, mencari rumput untuk makan dua ekor kambing peliharaannya.<\/p>\n\n\n\n
\"Kabar saya baik, Mbah. Rasanya punya anak? Ya senang, Mbah. Tapi ada juga banyak ketakutan yang datang dan kekhawatiran yang timbul setelah saya punya anak.\"<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
Sepanjang empat tahun tinggal di kampung ini, dengan Mbah Gimin saya paling sering berbincang di luar dengan Pak RT yang juga pemilik rumah yang saya sewa selama empat tahun belakangan. Sekali dua kami berbincang di halaman masjid kampung, pernah juga di sawah yang sedang ia garap, paling sering, di halaman rumah saya, seperti beberapa malam lalu ketika Jogja sedang panas-panasnya padahal semestinya ini puncak musim hujan.<\/p>\n\n\n\n
Baca: Cukai rokok: Dari perokok, oleh perokok dan untuk perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n
Kami berbincang perihal apa saja. Yang paling sering, tentang kampung tempat kami tinggal dan keseharian Mbah Gimin di masa lampau hingga kini. Sekali dua, Mbah Gimin juga kerap mengantar hasil bumi ke rumah saya. Beras, ketela, cabai, dan beberapa jenis sayur yang Ia tanam. <\/p>\n\n\n\n
Mbah Gimin hidup seorang diri di kampung. Dua orang istrinya sudah lama meninggal. Tidak, Mbah Gimin tidak poligami. Mbah Gimin menikah enam tahun usai istri pertamanya meninggal. Tiga tahun kemudian, istri keduanya meninggal dunia. Bersama istri pertama, lahir dua orang anak, keduanya tinggal bersama suami mereka di luar kampung. Satu di Gunung Kidul, satu lagi di Klaten. Dengan istri kedua, tidak ada anak.<\/p>\n\n\n\n
\"Wajar itu. Senang ya wajar. Takut dan khawatir ya wajar. Jadi ya tenang saja. Apalagi ini anak pertamakan. Wajar.\" Ujar Mbah Gimin, lantas mengisap rokok tingwe lalu menghembuskan asap dengan santai dari mulut dan hidung.<\/p>\n\n\n\n
\"Mbah sejak kapan merokok tingwe?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Wah, sudah lama. Ya sejak mulai merokok.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Nggak pernah coba rokok pabrikan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Sesekali pernah. Tapi rasanya nggak ada yang pas.\"<\/p>\n\n\n\n
Baca: Sejarah Singkat Perkembangan Cukai Rokok dan DBHCHT di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n
Beberapa waktu belakangan, rokok tingwe kembali populer. Setelah sebelumnya dicap sebagai selera kolot, kini banyak anak muda yang menjadikan rokok tingwe sebagai keseharian gaya hidup, meninggalkan rokok pabrikan yang banyak beredar di pasaran. Lebih lagi usai harga rokok naik setelah cukai rokok dikerek naik dengan drastis oleh pemerintah. Membicarakan rokok tingwe, tentu saja saya teringat Mbah Gimin yang lama bersetia pada rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n
Ketika saya menginformasikan perihal kembali semaraknya orang-orang memilih rokok tingwe, dan menjadikan itu sebagai protes perlawanan akibat kenaikan cukai dan kenaikan harga rokok pabrikan, Mbah Gimin tersenyum, kemudian berujar, <\/p>\n\n\n\n
\"Mungkin itu untuk kebaikan pemerintah, jadi rokok harganya naik. Ya moga-moga petani juga dapat untung dari situ.\"<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
Komentar Mbah Gimin mengingatkan saya pada buku karya James C. Scott berjudul Weapon of the Weak. Dari James C. Scott itulah kemudian muncul teori perlawanan kaum tani yang kerap disebut teori Scottian. Melawan meskipun kalah. Melawan dengan cara khas petani. Main belakang, seakan mengiyakan dan menyetujui, tetapi diam-diam melawan. <\/p>\n\n\n\n
Selain kasus cukai rokok ini, perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin juga sudah saya dengar kemasyhurannya jauh-jauh hari, lewat perlawanan Mbah Gimin terhadap maraknya investasi di kampung yang mengubah lahan pertanian menjadi perumahan-perumahan kluster. Ia tak melawan secara frontal, tidak juga menyalahkan petani lain yang melepas lahannya untuk dibeli pemborong perumahan. <\/p>\n\n\n\n
Ia tak berkomentar pedas akan hal itu. Lebih memilih diam dan terkesan menyetujui maraknya penjualan tanah di kampung. Namun, Ia tetap melawan secara mandiri, dengan tidak mau menjual lahan pertaniannya meskipun berkali-kali dirayu investor dengan harga mahal karena lokasinya strategis. Ia juga menyabotase akses masuk ke lokasi perumahan yang jika lewat lahan miliknya, lebih strategis dan mudah terakses. Namun karena perlawanannya dengan cara tak mau menjual lahan miliknya meskipun sedikit saja untuk jalan, akses jalan menuju perumahan itu harus sedikit memutar. Perlawanan khas Scottian.<\/p>\n\n\n\n
Saya kira, apa yang dilakukan Mbah Gimin, patut pula dicontoh untuk gerakan melawan kenaikan harga rokok. Ya sudah, mau apa lagi, terima saja dulu, biar saja. Tapi kita cukupkan saja dengan persetujuan itu, cukup. Tidak usah beli rokok lagi, dan bersetia pada tingwe.<\/p>\n","post_title":"Perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perlawanan-scottian-ala-mbah-gimin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-23 10:03:11","post_modified_gmt":"2020-01-23 03:03:11","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6399","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6445","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6435,"post_author":"878","post_date":"2020-02-04 09:47:07","post_date_gmt":"2020-02-04 02:47:07","post_content":"\nDi tengah gempuran pasar global yang seakan tak memiliki batas, dengan produk-produk impor yang menjejali negeri ini, juga ekspansi industri-industri besar multinasional yang membangun pabrik-pabrik mereka di Indonesia, apakah masih ada industri skala besar nasional yang masih mampu mengharumkan nama Indonesia sebagai produsen utamanya? Jawabannya ada, namun sedikit.
Satu dari yang sedikit itu, tak lain dan tak bukan adalah industri rokok kretek yang ada di negeri ini. Mulanya, rokok kretek ditemukan secara tak sengaja oleh Haji Djamhari di Kudus pada periode akhir abad 19. Selanjutnya, lewat tangan dingin Nitisemito dengan brand pabrik rokok Tjap Bal Tiga miliknya, rokok kretek kemudian masuk produk skala industri. Perlahan tapi pasti, rokok kretek kemudian berhasil menguasai pasar rokok nasional, mengambil alih besarnya permintaan konsumen rokok yang sebelumnya dikuasai produk rokok putihan.
Bahwasanya pasar industri rokok kretek juga ikut disasar pabrikan-pabrikan multinasional, itu tak bisa dimungkiri karena kue keuntungan dari industri ini memang begitu menjanjikan. Namun, hingga hari ini, industri rokok kretek masih dikuasai oleh pabrikan dalam negeri.
Lebih dari itu, mulai dari bahan baku berupa tembakau dan cengkeh juga dipasok dari sektor perkebunan nasional. Besarnya industri ini, juga menyerap tenaga kerja mendekati enam juta jiwa. Jumlah enam juta jiwa itu meliputi pekerja mulai dari hulu di perkebunan hingga pekerja-pekerja di pabrik-pabrik rokok. Jika ditambah dengan pedagang asongan dan pedagang rokok skala kecil, jumlah enam juta jiwa akan bertambah kian banyak.
Dua bahan baku utama industri kretek, berupa tembakau dan cengkeh, hampir seluruhnya dipasok dari sektor perkebunan nasional. Cengkeh untuk kretek sepenuhnya diambil dari sektor perkebunan nasional. Ini wajar karena Indonesia hingga hari ini menduduki peringkat pertama produsen cengkeh di dunia. Industri kretek menyerap sekitar 94 persen dari produksi cengkeh nasional setiap tahunnya.
Untuk sektor tembakau, memang ada bahan baku yang didapat dari hasil impor. Ini terjadi lebih karena kurangnya produksi tahunan tembakau untuk memenuhi kebutuhan industri rokok kretek nasional. Padahal sejauh ini Indonesia menduduki peringkat enam penghasil tembakau di dunia.
Tanaman cengkeh mulanya adalah tanaman endemik dari beberapa pulau di Kepulauan Maluku. Selepas berakhirnya monopoli cengkeh yang dilakukan penjajah Belanda, tanaman cengkeh menyebar ke pulau-pulau lain di Indonesia. Tanaman cengkeh selanjutnya dibawa ke luar negeri dan ditanam di beberapa negara dengam kondisi cuaca mirip Indonesia. Yang paling terkenal, cengkeh yang ditanam di Zanzibar, Afrika. Namun begitu, hingga hari ini, Indonesia masih menjadi produsen utama dan terbesar cengkeh di dunia.
Dari sekira 561 ribu hektar luas lahan perkebunan cengkeh nasional, setiap tahunnya produksi cengkeh kering berkisar antara 100 ribu hingga 150 ribu ton. Lebih dari 90 persen produksi cengkeh nasional kemudian diserap oleh industri kretek nasional. Sisanya menjadi komoditas ekspor dengan Arab Saudi, India, dan Sudan menjadi negara tujuan ekspor cengkeh.
Dalam satu tahun, permintaan tembakau dari pabrikan-pabrikan rokok yang ada di Indonesia berkisar antara 300 ribu hingga 350 ribu ton. Sejauh ini, sektor perkebunan tembakau nasional memiliki angka produksi fluktuatif tergantung cuaca, mencapai antara 100 ribu hingga 200 ribu ton. Jumlah itu dihasilkan dari luasan lahan mencapai 250 ribu hektar yang tersebar di 15 provinsi.
Belum selesai sampai di situ. Selain bahan baku dan para pekerja yang membikin geliat industri kretek nasional bergairah, pangsa pasar hasil industri ini juga begitu menjanjikan dalam menjalankan roda ekonomi nasional. Konsumen produk rokok kretek nasional adalah konsumen terbesar di Indonesia. Lebih dari 90 persen pasar rokok nasional dikuasai rokok kretek. Dari sana, negara mendapat keuntungan tak sedikit lewat cukai rokok. Tak kurang setiap tahunnya hasil cukai rokok berada pada angka Rp140 trilyun, setidaknya sepanjang 10 tahun belakangan.
Dari sini, tak bisa dibantah bahwasanya produk kretek bisa dibanggakan oleh negara ini, nasonalisme lewat produk kretek sejatinya bisa dibangun karena produk ini mulai dari hulu hingga hilir digerakkan oleh anak-anak negeri, dan memberikan keuntungan ekonomi yang tak sedikit pada negara. Nasionalisme dalam sebatang kretek.
Bahan baku utamanya diproduksi di dalam negeri oleh petani-petani kita, pekerja di pabrik-pabrik kretek juga orang asli Indonesia, pemilik pabriknya, juga orang Indonesia, lantas yang terakhir, konsumennya juga orang Indonesia, begitulah sejatinya industri nasional yang mesti dibanggakan. Maka, tak salah jika kita mendeklarasikan diri bahwa: Indonesia Republik Kretek.<\/p>\n","post_title":"Indonesia Republik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-republik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-04 09:47:16","post_modified_gmt":"2020-02-04 02:47:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6435","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6425,"post_author":"878","post_date":"2020-02-01 11:08:43","post_date_gmt":"2020-02-01 04:08:43","post_content":"\nBeberapa waktu lalu, beredar berita perihal subsidi yang diterima perusahaan sawit dari negara. Tak tanggung-tanggung, subsidi yang digelontorkan berjumlah tak kurang dari 7,5 trilyun. Sebuah angka yang fantastis.
\nYang lebih mengejutkan lagi, subsidi sebanyak 7,5 trilyun itu diterima hanya oleh 5 perusahaan sawit saja. Dari sini jelas terlihat betapa negara begitu memanjakan perusahaan sawit yang setiap tahun tak pernah absen dalam partisipasi pembakaran hutan di beberapa wilayah di negeri ini.
\nSalah satu alasan penggelontoran subsidi sebanyak itu adalah untuk pengembangan pengolahan hasil perkebunan sawit menjadi biodisel. Selanjutnya, biodisel hasil kembangan itu akan diserap oleh Pertamina dan PLN sebagai konsumennya. Oleh Pertamina, biodisel tersebut akan dipasarka melalui SPBU-SPBU yang tersebar di penjuru negeri, sedang PLN menggunakan biodisel tersebut sebagai bahan bakar pembangkit-pembangkit listrik milik mereka.
\nJadi, selain penggelontoran subsidi, pemerintah juga sudah menjamin serapan hasil kembangan perusahaan sawit di bidang biodisel. Sebuah kenyamanan yang membikin iri banyak bidang lainnya terutama sektor pertanian dan perkebunan lain yang selama ini tak terlalu diperhatikan pemerintah.
\nAngka subsidi yang digelontorkan pemerintah kepada lima perusahaan sawit tersebut, angkanya jauh lebih tinggi dibanding pendapatan yang diterima pemerintah dari pajak perusahaan sawit itu. Sudah bukan rahasia lagi, kebocoran penerimaan pajak dari sektor perkebunan sawit membikin negara merugi trilyunan rupiah setiap tahunnya.
\nDi tengah kondisi semacam itu, pengemplangan pajak yang rutin dilakukan oleh perusahaan sawit, negara tetap dengan baik hati memberi subsidi yang tak sedikit untuk mereka. Tak pelak lagi, sawit menjadi anak emas dalam sektor pertanian dan perkebunan di negeri ini.
\nLantas, mari kita bandingkan dengan sektor pertanian dan perkebunan yang setiap tahun rutin memberikan pemasukan tak sedikit bagi negara. Bidang pertanian dan perkebunan yang sepenuhnya dijalankan oleh anak-anak negeri, yang sesungguhnya bisa dibanggakan oleh negara karena selain pajak dan cukai dari hasil olahannya yang memberikan pemasukan begitu melimpah kepada negara, sektor ini juga sangat potensial menjadi produk kebanggan nasional karena dari hulu hingga hilir hampir seluruhnya diproduksi dan dikonsumsi oleh anak-anak bangsa. Itu adalah sektor pertembakauan dan perkebunan cengkeh dengan hasil olahannya berupa rokok kretek.
\nAda sekira enam juta manusia yang terlibat langsung dalam perkebunan tembakau dan cengkeh di negeri ini. Dua juta di sektor tembakau, dan empat juta di sektor cengkeh. Dari dua sektor itu yang lantas menghasilkan produk bernama rokok kretek, setiap tahunnya negara menerima pemasukan dari cukai tak kurang dari 140 trilyun, setidaknya selama 10 tahun terakhir.
\nTetapi, apakah mereka para petani di dua sektor perkebunan itu mendapat subsidi yang selayaknya dari negara? Subsidi itu ada, dalam bentuk Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) yang besarannya dibagi berdasarkan wilayah per kabupaten, yang angkanya tentu saja tak se-fantastis subsidi cuma-cuma yang diterima perusahaan sawit.
\nLalu untuk apa alokasi DBHCHT di sektor pertanian tembakau dan cengkeh itu? Berbeda dengan subsidi yang diterima perusahaan sawit yang sepenuhnya digunakan untuk pengembangan industri di hilir, DBHCHT untuk sektor tembakau dan cengkeh malah digunakan sebaliknya, untuk menghancurkan sektor perkebunan yang semestinya menjadi sektor perkebunan strategis nasional ini.
\nDengan alasan kesehatan, dana yang semestinya digunakan untuk mengembangkan perkebunan tembakau dan cengkeh supaya lebih maju lagi, malah digunakan untuk memberangus dua perkebunan itu. Dana itu digunakan sebagian besarnya untuk penyuluhan-penyuluhan kepada para petani agar mengganti usaha perkebunan tembakau dan cengkeh mereka ke komoditas pertanian dan perkebunan lainnya. Sebuah ironi yang menyedihkan.
\nDi luar itu, dana DBHCHT yang sumber utama pemasukannya dari dua komoditas itu, juga digunakan untuk menggembosi rokok kretek yang merupakan hasil turunan dari sektor tembakau dan cengkeh. Bayangkan, tanpa diberikan subsidi, tetapi menggunakan uang cukai yang dihasilkan dua sektor perkebunan itu, dana itu digunakan malahan untuk menggembosi dua sektor perkebunan itu.
\nDari sini, bisa kita lihat, jika perkebunan sawit menjadi anak emas negara, sebaliknya, perkebunan tembakau dan cengkeh dijadikan anak tiri oleh negara yang terus menerus digembosi. Keuntungannya diambil banyak oleh negara, sebagian keuntungan itu, digunakan secara tak langsung untuk menghancurkan sektor perkebunan tembakau dan cengkeh.
\nPerkebunan tembakau dan cengkeh, yang keduanya semestinya menjadi komoditas strategis nasional, malah dinistakan oleh negara yang sesungguhnya mengambil banyak keuntungan dari sana. Paradoks yang memuakkan.<\/p>\n","post_title":"Tembakau dan Cengkeh, Komoditas Perkebunan Strategis Nasional yang Dinistakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-dan-cengkeh-komoditas-perkebunan-strategis-nasional-yang-dinistakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-01 11:08:51","post_modified_gmt":"2020-02-01 04:08:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6399,"post_author":"878","post_date":"2020-01-23 10:03:09","post_date_gmt":"2020-01-23 03:03:09","post_content":"\nUsai memberi salam lantas duduk di kursi kayu di halaman depan rumah kontrakan saya, Mbah Gimin mengeluarkan slepen (wadah tembakau rajangan) dari saku kemeja di dada kirinya, membuka slepen, mengeluarkan kertas linting dari dalamnya, membuka lebar-lebar kertas linting, mengambil sejumput tembakau lalu Ia taruh di atas kertas linting, menaburi beberapa butir cengkeh kering di atas tembakau, lantas menggulung kertas linting itu menjadi bentuk kerucut. <\/p>\n\n\n\n
Mbah Gimin tak bicara sepanjang proses melinting itu. Usai mengulum ujung lintingan sisi lebih kecil, Mbah Gimin mengambil geretan kayu dari sakunya, menyalakan sebatang geretan dengan pemantik yang ada di kedua sisi kotak geretan, membakar ujung lintingan bagian besar, menyedot asap hasil pembakaran, menghembuskannya beberapa kali, baru kemudian Ia berbicara kepada saya yang sedari tadi duduk di hadapannya memperhatikan Ia yang sedang melinting, \"Bagaimana kabarmu, Le, bagaimana rasanya punya anak?\"<\/p>\n\n\n\n
Baca: Meluruskan Nalar Baca Data Susenas September 2019<\/a><\/p>\n\n\n\n
Di kampung, tak ada yang tahu usia Mbah Gimin. Saat saya tanyakan langsung usianya, Mbah Gimin menjawab, \"Mbuh, Le!\" Lantas tertawa. Saya ikut tertawa. Sejak pertama kali berjumpa dengan Mbah Gimin sekira empat tahun lalu, Mbah Gimin tak pernah lepas dari ritual melinting tembakau. Slepennya juga yang itu-itu saja, tak pernah berganti. Jika ada yang berubah dari ritual melinting rokok Mbah Gimin, itu adalah hilangnya kemenyan dari racikan tembakau tingwe miliknya. Hilangnya kemenyan terjadi usai Lala, istri saya, protes kepada Mbah Gimin karena bagi Lala, aroma rokok tingwe bercampur kemenyan milik Mbah Gimin menimbulkan suasana horor dan menyeramkan.<\/p>\n\n\n\n
Sepengetahuan saya, Mbah Gimin orang paling sepuh di kampung, beberapa warga yang menginformasikan hal itu. Seluruh rambutnya sudah memutih. Sehari-hari, penampilannya selalu sama, berkemeja berwarna lusuh, dengan kain sarung yang selalu menutup bagian pinggang hingga betis. Mbah Gimin masih rutin bekerja di sawah. Menanam padi di musim tanam padi, dan palawija di musim lainnya. Ia juga masih ngarit, mencari rumput untuk makan dua ekor kambing peliharaannya.<\/p>\n\n\n\n
\"Kabar saya baik, Mbah. Rasanya punya anak? Ya senang, Mbah. Tapi ada juga banyak ketakutan yang datang dan kekhawatiran yang timbul setelah saya punya anak.\"<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
Sepanjang empat tahun tinggal di kampung ini, dengan Mbah Gimin saya paling sering berbincang di luar dengan Pak RT yang juga pemilik rumah yang saya sewa selama empat tahun belakangan. Sekali dua kami berbincang di halaman masjid kampung, pernah juga di sawah yang sedang ia garap, paling sering, di halaman rumah saya, seperti beberapa malam lalu ketika Jogja sedang panas-panasnya padahal semestinya ini puncak musim hujan.<\/p>\n\n\n\n
Baca: Cukai rokok: Dari perokok, oleh perokok dan untuk perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n
Kami berbincang perihal apa saja. Yang paling sering, tentang kampung tempat kami tinggal dan keseharian Mbah Gimin di masa lampau hingga kini. Sekali dua, Mbah Gimin juga kerap mengantar hasil bumi ke rumah saya. Beras, ketela, cabai, dan beberapa jenis sayur yang Ia tanam. <\/p>\n\n\n\n
Mbah Gimin hidup seorang diri di kampung. Dua orang istrinya sudah lama meninggal. Tidak, Mbah Gimin tidak poligami. Mbah Gimin menikah enam tahun usai istri pertamanya meninggal. Tiga tahun kemudian, istri keduanya meninggal dunia. Bersama istri pertama, lahir dua orang anak, keduanya tinggal bersama suami mereka di luar kampung. Satu di Gunung Kidul, satu lagi di Klaten. Dengan istri kedua, tidak ada anak.<\/p>\n\n\n\n
\"Wajar itu. Senang ya wajar. Takut dan khawatir ya wajar. Jadi ya tenang saja. Apalagi ini anak pertamakan. Wajar.\" Ujar Mbah Gimin, lantas mengisap rokok tingwe lalu menghembuskan asap dengan santai dari mulut dan hidung.<\/p>\n\n\n\n
\"Mbah sejak kapan merokok tingwe?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Wah, sudah lama. Ya sejak mulai merokok.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Nggak pernah coba rokok pabrikan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Sesekali pernah. Tapi rasanya nggak ada yang pas.\"<\/p>\n\n\n\n
Baca: Sejarah Singkat Perkembangan Cukai Rokok dan DBHCHT di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n
Beberapa waktu belakangan, rokok tingwe kembali populer. Setelah sebelumnya dicap sebagai selera kolot, kini banyak anak muda yang menjadikan rokok tingwe sebagai keseharian gaya hidup, meninggalkan rokok pabrikan yang banyak beredar di pasaran. Lebih lagi usai harga rokok naik setelah cukai rokok dikerek naik dengan drastis oleh pemerintah. Membicarakan rokok tingwe, tentu saja saya teringat Mbah Gimin yang lama bersetia pada rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n
Ketika saya menginformasikan perihal kembali semaraknya orang-orang memilih rokok tingwe, dan menjadikan itu sebagai protes perlawanan akibat kenaikan cukai dan kenaikan harga rokok pabrikan, Mbah Gimin tersenyum, kemudian berujar, <\/p>\n\n\n\n
\"Mungkin itu untuk kebaikan pemerintah, jadi rokok harganya naik. Ya moga-moga petani juga dapat untung dari situ.\"<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
Komentar Mbah Gimin mengingatkan saya pada buku karya James C. Scott berjudul Weapon of the Weak. Dari James C. Scott itulah kemudian muncul teori perlawanan kaum tani yang kerap disebut teori Scottian. Melawan meskipun kalah. Melawan dengan cara khas petani. Main belakang, seakan mengiyakan dan menyetujui, tetapi diam-diam melawan. <\/p>\n\n\n\n
Selain kasus cukai rokok ini, perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin juga sudah saya dengar kemasyhurannya jauh-jauh hari, lewat perlawanan Mbah Gimin terhadap maraknya investasi di kampung yang mengubah lahan pertanian menjadi perumahan-perumahan kluster. Ia tak melawan secara frontal, tidak juga menyalahkan petani lain yang melepas lahannya untuk dibeli pemborong perumahan. <\/p>\n\n\n\n
Ia tak berkomentar pedas akan hal itu. Lebih memilih diam dan terkesan menyetujui maraknya penjualan tanah di kampung. Namun, Ia tetap melawan secara mandiri, dengan tidak mau menjual lahan pertaniannya meskipun berkali-kali dirayu investor dengan harga mahal karena lokasinya strategis. Ia juga menyabotase akses masuk ke lokasi perumahan yang jika lewat lahan miliknya, lebih strategis dan mudah terakses. Namun karena perlawanannya dengan cara tak mau menjual lahan miliknya meskipun sedikit saja untuk jalan, akses jalan menuju perumahan itu harus sedikit memutar. Perlawanan khas Scottian.<\/p>\n\n\n\n
Saya kira, apa yang dilakukan Mbah Gimin, patut pula dicontoh untuk gerakan melawan kenaikan harga rokok. Ya sudah, mau apa lagi, terima saja dulu, biar saja. Tapi kita cukupkan saja dengan persetujuan itu, cukup. Tidak usah beli rokok lagi, dan bersetia pada tingwe.<\/p>\n","post_title":"Perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perlawanan-scottian-ala-mbah-gimin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-23 10:03:11","post_modified_gmt":"2020-01-23 03:03:11","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6399","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6445","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6435,"post_author":"878","post_date":"2020-02-04 09:47:07","post_date_gmt":"2020-02-04 02:47:07","post_content":"\nDi tengah gempuran pasar global yang seakan tak memiliki batas, dengan produk-produk impor yang menjejali negeri ini, juga ekspansi industri-industri besar multinasional yang membangun pabrik-pabrik mereka di Indonesia, apakah masih ada industri skala besar nasional yang masih mampu mengharumkan nama Indonesia sebagai produsen utamanya? Jawabannya ada, namun sedikit.
Satu dari yang sedikit itu, tak lain dan tak bukan adalah industri rokok kretek yang ada di negeri ini. Mulanya, rokok kretek ditemukan secara tak sengaja oleh Haji Djamhari di Kudus pada periode akhir abad 19. Selanjutnya, lewat tangan dingin Nitisemito dengan brand pabrik rokok Tjap Bal Tiga miliknya, rokok kretek kemudian masuk produk skala industri. Perlahan tapi pasti, rokok kretek kemudian berhasil menguasai pasar rokok nasional, mengambil alih besarnya permintaan konsumen rokok yang sebelumnya dikuasai produk rokok putihan.
Bahwasanya pasar industri rokok kretek juga ikut disasar pabrikan-pabrikan multinasional, itu tak bisa dimungkiri karena kue keuntungan dari industri ini memang begitu menjanjikan. Namun, hingga hari ini, industri rokok kretek masih dikuasai oleh pabrikan dalam negeri.
Lebih dari itu, mulai dari bahan baku berupa tembakau dan cengkeh juga dipasok dari sektor perkebunan nasional. Besarnya industri ini, juga menyerap tenaga kerja mendekati enam juta jiwa. Jumlah enam juta jiwa itu meliputi pekerja mulai dari hulu di perkebunan hingga pekerja-pekerja di pabrik-pabrik rokok. Jika ditambah dengan pedagang asongan dan pedagang rokok skala kecil, jumlah enam juta jiwa akan bertambah kian banyak.
Dua bahan baku utama industri kretek, berupa tembakau dan cengkeh, hampir seluruhnya dipasok dari sektor perkebunan nasional. Cengkeh untuk kretek sepenuhnya diambil dari sektor perkebunan nasional. Ini wajar karena Indonesia hingga hari ini menduduki peringkat pertama produsen cengkeh di dunia. Industri kretek menyerap sekitar 94 persen dari produksi cengkeh nasional setiap tahunnya.
Untuk sektor tembakau, memang ada bahan baku yang didapat dari hasil impor. Ini terjadi lebih karena kurangnya produksi tahunan tembakau untuk memenuhi kebutuhan industri rokok kretek nasional. Padahal sejauh ini Indonesia menduduki peringkat enam penghasil tembakau di dunia.
Tanaman cengkeh mulanya adalah tanaman endemik dari beberapa pulau di Kepulauan Maluku. Selepas berakhirnya monopoli cengkeh yang dilakukan penjajah Belanda, tanaman cengkeh menyebar ke pulau-pulau lain di Indonesia. Tanaman cengkeh selanjutnya dibawa ke luar negeri dan ditanam di beberapa negara dengam kondisi cuaca mirip Indonesia. Yang paling terkenal, cengkeh yang ditanam di Zanzibar, Afrika. Namun begitu, hingga hari ini, Indonesia masih menjadi produsen utama dan terbesar cengkeh di dunia.
Dari sekira 561 ribu hektar luas lahan perkebunan cengkeh nasional, setiap tahunnya produksi cengkeh kering berkisar antara 100 ribu hingga 150 ribu ton. Lebih dari 90 persen produksi cengkeh nasional kemudian diserap oleh industri kretek nasional. Sisanya menjadi komoditas ekspor dengan Arab Saudi, India, dan Sudan menjadi negara tujuan ekspor cengkeh.
Dalam satu tahun, permintaan tembakau dari pabrikan-pabrikan rokok yang ada di Indonesia berkisar antara 300 ribu hingga 350 ribu ton. Sejauh ini, sektor perkebunan tembakau nasional memiliki angka produksi fluktuatif tergantung cuaca, mencapai antara 100 ribu hingga 200 ribu ton. Jumlah itu dihasilkan dari luasan lahan mencapai 250 ribu hektar yang tersebar di 15 provinsi.
Belum selesai sampai di situ. Selain bahan baku dan para pekerja yang membikin geliat industri kretek nasional bergairah, pangsa pasar hasil industri ini juga begitu menjanjikan dalam menjalankan roda ekonomi nasional. Konsumen produk rokok kretek nasional adalah konsumen terbesar di Indonesia. Lebih dari 90 persen pasar rokok nasional dikuasai rokok kretek. Dari sana, negara mendapat keuntungan tak sedikit lewat cukai rokok. Tak kurang setiap tahunnya hasil cukai rokok berada pada angka Rp140 trilyun, setidaknya sepanjang 10 tahun belakangan.
Dari sini, tak bisa dibantah bahwasanya produk kretek bisa dibanggakan oleh negara ini, nasonalisme lewat produk kretek sejatinya bisa dibangun karena produk ini mulai dari hulu hingga hilir digerakkan oleh anak-anak negeri, dan memberikan keuntungan ekonomi yang tak sedikit pada negara. Nasionalisme dalam sebatang kretek.
Bahan baku utamanya diproduksi di dalam negeri oleh petani-petani kita, pekerja di pabrik-pabrik kretek juga orang asli Indonesia, pemilik pabriknya, juga orang Indonesia, lantas yang terakhir, konsumennya juga orang Indonesia, begitulah sejatinya industri nasional yang mesti dibanggakan. Maka, tak salah jika kita mendeklarasikan diri bahwa: Indonesia Republik Kretek.<\/p>\n","post_title":"Indonesia Republik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-republik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-04 09:47:16","post_modified_gmt":"2020-02-04 02:47:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6435","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6425,"post_author":"878","post_date":"2020-02-01 11:08:43","post_date_gmt":"2020-02-01 04:08:43","post_content":"\nBeberapa waktu lalu, beredar berita perihal subsidi yang diterima perusahaan sawit dari negara. Tak tanggung-tanggung, subsidi yang digelontorkan berjumlah tak kurang dari 7,5 trilyun. Sebuah angka yang fantastis.
\nYang lebih mengejutkan lagi, subsidi sebanyak 7,5 trilyun itu diterima hanya oleh 5 perusahaan sawit saja. Dari sini jelas terlihat betapa negara begitu memanjakan perusahaan sawit yang setiap tahun tak pernah absen dalam partisipasi pembakaran hutan di beberapa wilayah di negeri ini.
\nSalah satu alasan penggelontoran subsidi sebanyak itu adalah untuk pengembangan pengolahan hasil perkebunan sawit menjadi biodisel. Selanjutnya, biodisel hasil kembangan itu akan diserap oleh Pertamina dan PLN sebagai konsumennya. Oleh Pertamina, biodisel tersebut akan dipasarka melalui SPBU-SPBU yang tersebar di penjuru negeri, sedang PLN menggunakan biodisel tersebut sebagai bahan bakar pembangkit-pembangkit listrik milik mereka.
\nJadi, selain penggelontoran subsidi, pemerintah juga sudah menjamin serapan hasil kembangan perusahaan sawit di bidang biodisel. Sebuah kenyamanan yang membikin iri banyak bidang lainnya terutama sektor pertanian dan perkebunan lain yang selama ini tak terlalu diperhatikan pemerintah.
\nAngka subsidi yang digelontorkan pemerintah kepada lima perusahaan sawit tersebut, angkanya jauh lebih tinggi dibanding pendapatan yang diterima pemerintah dari pajak perusahaan sawit itu. Sudah bukan rahasia lagi, kebocoran penerimaan pajak dari sektor perkebunan sawit membikin negara merugi trilyunan rupiah setiap tahunnya.
\nDi tengah kondisi semacam itu, pengemplangan pajak yang rutin dilakukan oleh perusahaan sawit, negara tetap dengan baik hati memberi subsidi yang tak sedikit untuk mereka. Tak pelak lagi, sawit menjadi anak emas dalam sektor pertanian dan perkebunan di negeri ini.
\nLantas, mari kita bandingkan dengan sektor pertanian dan perkebunan yang setiap tahun rutin memberikan pemasukan tak sedikit bagi negara. Bidang pertanian dan perkebunan yang sepenuhnya dijalankan oleh anak-anak negeri, yang sesungguhnya bisa dibanggakan oleh negara karena selain pajak dan cukai dari hasil olahannya yang memberikan pemasukan begitu melimpah kepada negara, sektor ini juga sangat potensial menjadi produk kebanggan nasional karena dari hulu hingga hilir hampir seluruhnya diproduksi dan dikonsumsi oleh anak-anak bangsa. Itu adalah sektor pertembakauan dan perkebunan cengkeh dengan hasil olahannya berupa rokok kretek.
\nAda sekira enam juta manusia yang terlibat langsung dalam perkebunan tembakau dan cengkeh di negeri ini. Dua juta di sektor tembakau, dan empat juta di sektor cengkeh. Dari dua sektor itu yang lantas menghasilkan produk bernama rokok kretek, setiap tahunnya negara menerima pemasukan dari cukai tak kurang dari 140 trilyun, setidaknya selama 10 tahun terakhir.
\nTetapi, apakah mereka para petani di dua sektor perkebunan itu mendapat subsidi yang selayaknya dari negara? Subsidi itu ada, dalam bentuk Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) yang besarannya dibagi berdasarkan wilayah per kabupaten, yang angkanya tentu saja tak se-fantastis subsidi cuma-cuma yang diterima perusahaan sawit.
\nLalu untuk apa alokasi DBHCHT di sektor pertanian tembakau dan cengkeh itu? Berbeda dengan subsidi yang diterima perusahaan sawit yang sepenuhnya digunakan untuk pengembangan industri di hilir, DBHCHT untuk sektor tembakau dan cengkeh malah digunakan sebaliknya, untuk menghancurkan sektor perkebunan yang semestinya menjadi sektor perkebunan strategis nasional ini.
\nDengan alasan kesehatan, dana yang semestinya digunakan untuk mengembangkan perkebunan tembakau dan cengkeh supaya lebih maju lagi, malah digunakan untuk memberangus dua perkebunan itu. Dana itu digunakan sebagian besarnya untuk penyuluhan-penyuluhan kepada para petani agar mengganti usaha perkebunan tembakau dan cengkeh mereka ke komoditas pertanian dan perkebunan lainnya. Sebuah ironi yang menyedihkan.
\nDi luar itu, dana DBHCHT yang sumber utama pemasukannya dari dua komoditas itu, juga digunakan untuk menggembosi rokok kretek yang merupakan hasil turunan dari sektor tembakau dan cengkeh. Bayangkan, tanpa diberikan subsidi, tetapi menggunakan uang cukai yang dihasilkan dua sektor perkebunan itu, dana itu digunakan malahan untuk menggembosi dua sektor perkebunan itu.
\nDari sini, bisa kita lihat, jika perkebunan sawit menjadi anak emas negara, sebaliknya, perkebunan tembakau dan cengkeh dijadikan anak tiri oleh negara yang terus menerus digembosi. Keuntungannya diambil banyak oleh negara, sebagian keuntungan itu, digunakan secara tak langsung untuk menghancurkan sektor perkebunan tembakau dan cengkeh.
\nPerkebunan tembakau dan cengkeh, yang keduanya semestinya menjadi komoditas strategis nasional, malah dinistakan oleh negara yang sesungguhnya mengambil banyak keuntungan dari sana. Paradoks yang memuakkan.<\/p>\n","post_title":"Tembakau dan Cengkeh, Komoditas Perkebunan Strategis Nasional yang Dinistakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-dan-cengkeh-komoditas-perkebunan-strategis-nasional-yang-dinistakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-01 11:08:51","post_modified_gmt":"2020-02-01 04:08:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6399,"post_author":"878","post_date":"2020-01-23 10:03:09","post_date_gmt":"2020-01-23 03:03:09","post_content":"\nUsai memberi salam lantas duduk di kursi kayu di halaman depan rumah kontrakan saya, Mbah Gimin mengeluarkan slepen (wadah tembakau rajangan) dari saku kemeja di dada kirinya, membuka slepen, mengeluarkan kertas linting dari dalamnya, membuka lebar-lebar kertas linting, mengambil sejumput tembakau lalu Ia taruh di atas kertas linting, menaburi beberapa butir cengkeh kering di atas tembakau, lantas menggulung kertas linting itu menjadi bentuk kerucut. <\/p>\n\n\n\n
Mbah Gimin tak bicara sepanjang proses melinting itu. Usai mengulum ujung lintingan sisi lebih kecil, Mbah Gimin mengambil geretan kayu dari sakunya, menyalakan sebatang geretan dengan pemantik yang ada di kedua sisi kotak geretan, membakar ujung lintingan bagian besar, menyedot asap hasil pembakaran, menghembuskannya beberapa kali, baru kemudian Ia berbicara kepada saya yang sedari tadi duduk di hadapannya memperhatikan Ia yang sedang melinting, \"Bagaimana kabarmu, Le, bagaimana rasanya punya anak?\"<\/p>\n\n\n\n
Baca: Meluruskan Nalar Baca Data Susenas September 2019<\/a><\/p>\n\n\n\n
Di kampung, tak ada yang tahu usia Mbah Gimin. Saat saya tanyakan langsung usianya, Mbah Gimin menjawab, \"Mbuh, Le!\" Lantas tertawa. Saya ikut tertawa. Sejak pertama kali berjumpa dengan Mbah Gimin sekira empat tahun lalu, Mbah Gimin tak pernah lepas dari ritual melinting tembakau. Slepennya juga yang itu-itu saja, tak pernah berganti. Jika ada yang berubah dari ritual melinting rokok Mbah Gimin, itu adalah hilangnya kemenyan dari racikan tembakau tingwe miliknya. Hilangnya kemenyan terjadi usai Lala, istri saya, protes kepada Mbah Gimin karena bagi Lala, aroma rokok tingwe bercampur kemenyan milik Mbah Gimin menimbulkan suasana horor dan menyeramkan.<\/p>\n\n\n\n
Sepengetahuan saya, Mbah Gimin orang paling sepuh di kampung, beberapa warga yang menginformasikan hal itu. Seluruh rambutnya sudah memutih. Sehari-hari, penampilannya selalu sama, berkemeja berwarna lusuh, dengan kain sarung yang selalu menutup bagian pinggang hingga betis. Mbah Gimin masih rutin bekerja di sawah. Menanam padi di musim tanam padi, dan palawija di musim lainnya. Ia juga masih ngarit, mencari rumput untuk makan dua ekor kambing peliharaannya.<\/p>\n\n\n\n
\"Kabar saya baik, Mbah. Rasanya punya anak? Ya senang, Mbah. Tapi ada juga banyak ketakutan yang datang dan kekhawatiran yang timbul setelah saya punya anak.\"<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
Sepanjang empat tahun tinggal di kampung ini, dengan Mbah Gimin saya paling sering berbincang di luar dengan Pak RT yang juga pemilik rumah yang saya sewa selama empat tahun belakangan. Sekali dua kami berbincang di halaman masjid kampung, pernah juga di sawah yang sedang ia garap, paling sering, di halaman rumah saya, seperti beberapa malam lalu ketika Jogja sedang panas-panasnya padahal semestinya ini puncak musim hujan.<\/p>\n\n\n\n
Baca: Cukai rokok: Dari perokok, oleh perokok dan untuk perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n
Kami berbincang perihal apa saja. Yang paling sering, tentang kampung tempat kami tinggal dan keseharian Mbah Gimin di masa lampau hingga kini. Sekali dua, Mbah Gimin juga kerap mengantar hasil bumi ke rumah saya. Beras, ketela, cabai, dan beberapa jenis sayur yang Ia tanam. <\/p>\n\n\n\n
Mbah Gimin hidup seorang diri di kampung. Dua orang istrinya sudah lama meninggal. Tidak, Mbah Gimin tidak poligami. Mbah Gimin menikah enam tahun usai istri pertamanya meninggal. Tiga tahun kemudian, istri keduanya meninggal dunia. Bersama istri pertama, lahir dua orang anak, keduanya tinggal bersama suami mereka di luar kampung. Satu di Gunung Kidul, satu lagi di Klaten. Dengan istri kedua, tidak ada anak.<\/p>\n\n\n\n
\"Wajar itu. Senang ya wajar. Takut dan khawatir ya wajar. Jadi ya tenang saja. Apalagi ini anak pertamakan. Wajar.\" Ujar Mbah Gimin, lantas mengisap rokok tingwe lalu menghembuskan asap dengan santai dari mulut dan hidung.<\/p>\n\n\n\n
\"Mbah sejak kapan merokok tingwe?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Wah, sudah lama. Ya sejak mulai merokok.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Nggak pernah coba rokok pabrikan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Sesekali pernah. Tapi rasanya nggak ada yang pas.\"<\/p>\n\n\n\n
Baca: Sejarah Singkat Perkembangan Cukai Rokok dan DBHCHT di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n
Beberapa waktu belakangan, rokok tingwe kembali populer. Setelah sebelumnya dicap sebagai selera kolot, kini banyak anak muda yang menjadikan rokok tingwe sebagai keseharian gaya hidup, meninggalkan rokok pabrikan yang banyak beredar di pasaran. Lebih lagi usai harga rokok naik setelah cukai rokok dikerek naik dengan drastis oleh pemerintah. Membicarakan rokok tingwe, tentu saja saya teringat Mbah Gimin yang lama bersetia pada rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n
Ketika saya menginformasikan perihal kembali semaraknya orang-orang memilih rokok tingwe, dan menjadikan itu sebagai protes perlawanan akibat kenaikan cukai dan kenaikan harga rokok pabrikan, Mbah Gimin tersenyum, kemudian berujar, <\/p>\n\n\n\n
\"Mungkin itu untuk kebaikan pemerintah, jadi rokok harganya naik. Ya moga-moga petani juga dapat untung dari situ.\"<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
Komentar Mbah Gimin mengingatkan saya pada buku karya James C. Scott berjudul Weapon of the Weak. Dari James C. Scott itulah kemudian muncul teori perlawanan kaum tani yang kerap disebut teori Scottian. Melawan meskipun kalah. Melawan dengan cara khas petani. Main belakang, seakan mengiyakan dan menyetujui, tetapi diam-diam melawan. <\/p>\n\n\n\n
Selain kasus cukai rokok ini, perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin juga sudah saya dengar kemasyhurannya jauh-jauh hari, lewat perlawanan Mbah Gimin terhadap maraknya investasi di kampung yang mengubah lahan pertanian menjadi perumahan-perumahan kluster. Ia tak melawan secara frontal, tidak juga menyalahkan petani lain yang melepas lahannya untuk dibeli pemborong perumahan. <\/p>\n\n\n\n
Ia tak berkomentar pedas akan hal itu. Lebih memilih diam dan terkesan menyetujui maraknya penjualan tanah di kampung. Namun, Ia tetap melawan secara mandiri, dengan tidak mau menjual lahan pertaniannya meskipun berkali-kali dirayu investor dengan harga mahal karena lokasinya strategis. Ia juga menyabotase akses masuk ke lokasi perumahan yang jika lewat lahan miliknya, lebih strategis dan mudah terakses. Namun karena perlawanannya dengan cara tak mau menjual lahan miliknya meskipun sedikit saja untuk jalan, akses jalan menuju perumahan itu harus sedikit memutar. Perlawanan khas Scottian.<\/p>\n\n\n\n
Saya kira, apa yang dilakukan Mbah Gimin, patut pula dicontoh untuk gerakan melawan kenaikan harga rokok. Ya sudah, mau apa lagi, terima saja dulu, biar saja. Tapi kita cukupkan saja dengan persetujuan itu, cukup. Tidak usah beli rokok lagi, dan bersetia pada tingwe.<\/p>\n","post_title":"Perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perlawanan-scottian-ala-mbah-gimin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-23 10:03:11","post_modified_gmt":"2020-01-23 03:03:11","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6399","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6445","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6435,"post_author":"878","post_date":"2020-02-04 09:47:07","post_date_gmt":"2020-02-04 02:47:07","post_content":"\nDi tengah gempuran pasar global yang seakan tak memiliki batas, dengan produk-produk impor yang menjejali negeri ini, juga ekspansi industri-industri besar multinasional yang membangun pabrik-pabrik mereka di Indonesia, apakah masih ada industri skala besar nasional yang masih mampu mengharumkan nama Indonesia sebagai produsen utamanya? Jawabannya ada, namun sedikit.
Satu dari yang sedikit itu, tak lain dan tak bukan adalah industri rokok kretek yang ada di negeri ini. Mulanya, rokok kretek ditemukan secara tak sengaja oleh Haji Djamhari di Kudus pada periode akhir abad 19. Selanjutnya, lewat tangan dingin Nitisemito dengan brand pabrik rokok Tjap Bal Tiga miliknya, rokok kretek kemudian masuk produk skala industri. Perlahan tapi pasti, rokok kretek kemudian berhasil menguasai pasar rokok nasional, mengambil alih besarnya permintaan konsumen rokok yang sebelumnya dikuasai produk rokok putihan.
Bahwasanya pasar industri rokok kretek juga ikut disasar pabrikan-pabrikan multinasional, itu tak bisa dimungkiri karena kue keuntungan dari industri ini memang begitu menjanjikan. Namun, hingga hari ini, industri rokok kretek masih dikuasai oleh pabrikan dalam negeri.
Lebih dari itu, mulai dari bahan baku berupa tembakau dan cengkeh juga dipasok dari sektor perkebunan nasional. Besarnya industri ini, juga menyerap tenaga kerja mendekati enam juta jiwa. Jumlah enam juta jiwa itu meliputi pekerja mulai dari hulu di perkebunan hingga pekerja-pekerja di pabrik-pabrik rokok. Jika ditambah dengan pedagang asongan dan pedagang rokok skala kecil, jumlah enam juta jiwa akan bertambah kian banyak.
Dua bahan baku utama industri kretek, berupa tembakau dan cengkeh, hampir seluruhnya dipasok dari sektor perkebunan nasional. Cengkeh untuk kretek sepenuhnya diambil dari sektor perkebunan nasional. Ini wajar karena Indonesia hingga hari ini menduduki peringkat pertama produsen cengkeh di dunia. Industri kretek menyerap sekitar 94 persen dari produksi cengkeh nasional setiap tahunnya.
Untuk sektor tembakau, memang ada bahan baku yang didapat dari hasil impor. Ini terjadi lebih karena kurangnya produksi tahunan tembakau untuk memenuhi kebutuhan industri rokok kretek nasional. Padahal sejauh ini Indonesia menduduki peringkat enam penghasil tembakau di dunia.
Tanaman cengkeh mulanya adalah tanaman endemik dari beberapa pulau di Kepulauan Maluku. Selepas berakhirnya monopoli cengkeh yang dilakukan penjajah Belanda, tanaman cengkeh menyebar ke pulau-pulau lain di Indonesia. Tanaman cengkeh selanjutnya dibawa ke luar negeri dan ditanam di beberapa negara dengam kondisi cuaca mirip Indonesia. Yang paling terkenal, cengkeh yang ditanam di Zanzibar, Afrika. Namun begitu, hingga hari ini, Indonesia masih menjadi produsen utama dan terbesar cengkeh di dunia.
Dari sekira 561 ribu hektar luas lahan perkebunan cengkeh nasional, setiap tahunnya produksi cengkeh kering berkisar antara 100 ribu hingga 150 ribu ton. Lebih dari 90 persen produksi cengkeh nasional kemudian diserap oleh industri kretek nasional. Sisanya menjadi komoditas ekspor dengan Arab Saudi, India, dan Sudan menjadi negara tujuan ekspor cengkeh.
Dalam satu tahun, permintaan tembakau dari pabrikan-pabrikan rokok yang ada di Indonesia berkisar antara 300 ribu hingga 350 ribu ton. Sejauh ini, sektor perkebunan tembakau nasional memiliki angka produksi fluktuatif tergantung cuaca, mencapai antara 100 ribu hingga 200 ribu ton. Jumlah itu dihasilkan dari luasan lahan mencapai 250 ribu hektar yang tersebar di 15 provinsi.
Belum selesai sampai di situ. Selain bahan baku dan para pekerja yang membikin geliat industri kretek nasional bergairah, pangsa pasar hasil industri ini juga begitu menjanjikan dalam menjalankan roda ekonomi nasional. Konsumen produk rokok kretek nasional adalah konsumen terbesar di Indonesia. Lebih dari 90 persen pasar rokok nasional dikuasai rokok kretek. Dari sana, negara mendapat keuntungan tak sedikit lewat cukai rokok. Tak kurang setiap tahunnya hasil cukai rokok berada pada angka Rp140 trilyun, setidaknya sepanjang 10 tahun belakangan.
Dari sini, tak bisa dibantah bahwasanya produk kretek bisa dibanggakan oleh negara ini, nasonalisme lewat produk kretek sejatinya bisa dibangun karena produk ini mulai dari hulu hingga hilir digerakkan oleh anak-anak negeri, dan memberikan keuntungan ekonomi yang tak sedikit pada negara. Nasionalisme dalam sebatang kretek.
Bahan baku utamanya diproduksi di dalam negeri oleh petani-petani kita, pekerja di pabrik-pabrik kretek juga orang asli Indonesia, pemilik pabriknya, juga orang Indonesia, lantas yang terakhir, konsumennya juga orang Indonesia, begitulah sejatinya industri nasional yang mesti dibanggakan. Maka, tak salah jika kita mendeklarasikan diri bahwa: Indonesia Republik Kretek.<\/p>\n","post_title":"Indonesia Republik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-republik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-04 09:47:16","post_modified_gmt":"2020-02-04 02:47:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6435","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6425,"post_author":"878","post_date":"2020-02-01 11:08:43","post_date_gmt":"2020-02-01 04:08:43","post_content":"\nBeberapa waktu lalu, beredar berita perihal subsidi yang diterima perusahaan sawit dari negara. Tak tanggung-tanggung, subsidi yang digelontorkan berjumlah tak kurang dari 7,5 trilyun. Sebuah angka yang fantastis.
\nYang lebih mengejutkan lagi, subsidi sebanyak 7,5 trilyun itu diterima hanya oleh 5 perusahaan sawit saja. Dari sini jelas terlihat betapa negara begitu memanjakan perusahaan sawit yang setiap tahun tak pernah absen dalam partisipasi pembakaran hutan di beberapa wilayah di negeri ini.
\nSalah satu alasan penggelontoran subsidi sebanyak itu adalah untuk pengembangan pengolahan hasil perkebunan sawit menjadi biodisel. Selanjutnya, biodisel hasil kembangan itu akan diserap oleh Pertamina dan PLN sebagai konsumennya. Oleh Pertamina, biodisel tersebut akan dipasarka melalui SPBU-SPBU yang tersebar di penjuru negeri, sedang PLN menggunakan biodisel tersebut sebagai bahan bakar pembangkit-pembangkit listrik milik mereka.
\nJadi, selain penggelontoran subsidi, pemerintah juga sudah menjamin serapan hasil kembangan perusahaan sawit di bidang biodisel. Sebuah kenyamanan yang membikin iri banyak bidang lainnya terutama sektor pertanian dan perkebunan lain yang selama ini tak terlalu diperhatikan pemerintah.
\nAngka subsidi yang digelontorkan pemerintah kepada lima perusahaan sawit tersebut, angkanya jauh lebih tinggi dibanding pendapatan yang diterima pemerintah dari pajak perusahaan sawit itu. Sudah bukan rahasia lagi, kebocoran penerimaan pajak dari sektor perkebunan sawit membikin negara merugi trilyunan rupiah setiap tahunnya.
\nDi tengah kondisi semacam itu, pengemplangan pajak yang rutin dilakukan oleh perusahaan sawit, negara tetap dengan baik hati memberi subsidi yang tak sedikit untuk mereka. Tak pelak lagi, sawit menjadi anak emas dalam sektor pertanian dan perkebunan di negeri ini.
\nLantas, mari kita bandingkan dengan sektor pertanian dan perkebunan yang setiap tahun rutin memberikan pemasukan tak sedikit bagi negara. Bidang pertanian dan perkebunan yang sepenuhnya dijalankan oleh anak-anak negeri, yang sesungguhnya bisa dibanggakan oleh negara karena selain pajak dan cukai dari hasil olahannya yang memberikan pemasukan begitu melimpah kepada negara, sektor ini juga sangat potensial menjadi produk kebanggan nasional karena dari hulu hingga hilir hampir seluruhnya diproduksi dan dikonsumsi oleh anak-anak bangsa. Itu adalah sektor pertembakauan dan perkebunan cengkeh dengan hasil olahannya berupa rokok kretek.
\nAda sekira enam juta manusia yang terlibat langsung dalam perkebunan tembakau dan cengkeh di negeri ini. Dua juta di sektor tembakau, dan empat juta di sektor cengkeh. Dari dua sektor itu yang lantas menghasilkan produk bernama rokok kretek, setiap tahunnya negara menerima pemasukan dari cukai tak kurang dari 140 trilyun, setidaknya selama 10 tahun terakhir.
\nTetapi, apakah mereka para petani di dua sektor perkebunan itu mendapat subsidi yang selayaknya dari negara? Subsidi itu ada, dalam bentuk Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) yang besarannya dibagi berdasarkan wilayah per kabupaten, yang angkanya tentu saja tak se-fantastis subsidi cuma-cuma yang diterima perusahaan sawit.
\nLalu untuk apa alokasi DBHCHT di sektor pertanian tembakau dan cengkeh itu? Berbeda dengan subsidi yang diterima perusahaan sawit yang sepenuhnya digunakan untuk pengembangan industri di hilir, DBHCHT untuk sektor tembakau dan cengkeh malah digunakan sebaliknya, untuk menghancurkan sektor perkebunan yang semestinya menjadi sektor perkebunan strategis nasional ini.
\nDengan alasan kesehatan, dana yang semestinya digunakan untuk mengembangkan perkebunan tembakau dan cengkeh supaya lebih maju lagi, malah digunakan untuk memberangus dua perkebunan itu. Dana itu digunakan sebagian besarnya untuk penyuluhan-penyuluhan kepada para petani agar mengganti usaha perkebunan tembakau dan cengkeh mereka ke komoditas pertanian dan perkebunan lainnya. Sebuah ironi yang menyedihkan.
\nDi luar itu, dana DBHCHT yang sumber utama pemasukannya dari dua komoditas itu, juga digunakan untuk menggembosi rokok kretek yang merupakan hasil turunan dari sektor tembakau dan cengkeh. Bayangkan, tanpa diberikan subsidi, tetapi menggunakan uang cukai yang dihasilkan dua sektor perkebunan itu, dana itu digunakan malahan untuk menggembosi dua sektor perkebunan itu.
\nDari sini, bisa kita lihat, jika perkebunan sawit menjadi anak emas negara, sebaliknya, perkebunan tembakau dan cengkeh dijadikan anak tiri oleh negara yang terus menerus digembosi. Keuntungannya diambil banyak oleh negara, sebagian keuntungan itu, digunakan secara tak langsung untuk menghancurkan sektor perkebunan tembakau dan cengkeh.
\nPerkebunan tembakau dan cengkeh, yang keduanya semestinya menjadi komoditas strategis nasional, malah dinistakan oleh negara yang sesungguhnya mengambil banyak keuntungan dari sana. Paradoks yang memuakkan.<\/p>\n","post_title":"Tembakau dan Cengkeh, Komoditas Perkebunan Strategis Nasional yang Dinistakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-dan-cengkeh-komoditas-perkebunan-strategis-nasional-yang-dinistakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-01 11:08:51","post_modified_gmt":"2020-02-01 04:08:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6399,"post_author":"878","post_date":"2020-01-23 10:03:09","post_date_gmt":"2020-01-23 03:03:09","post_content":"\nUsai memberi salam lantas duduk di kursi kayu di halaman depan rumah kontrakan saya, Mbah Gimin mengeluarkan slepen (wadah tembakau rajangan) dari saku kemeja di dada kirinya, membuka slepen, mengeluarkan kertas linting dari dalamnya, membuka lebar-lebar kertas linting, mengambil sejumput tembakau lalu Ia taruh di atas kertas linting, menaburi beberapa butir cengkeh kering di atas tembakau, lantas menggulung kertas linting itu menjadi bentuk kerucut. <\/p>\n\n\n\n
Mbah Gimin tak bicara sepanjang proses melinting itu. Usai mengulum ujung lintingan sisi lebih kecil, Mbah Gimin mengambil geretan kayu dari sakunya, menyalakan sebatang geretan dengan pemantik yang ada di kedua sisi kotak geretan, membakar ujung lintingan bagian besar, menyedot asap hasil pembakaran, menghembuskannya beberapa kali, baru kemudian Ia berbicara kepada saya yang sedari tadi duduk di hadapannya memperhatikan Ia yang sedang melinting, \"Bagaimana kabarmu, Le, bagaimana rasanya punya anak?\"<\/p>\n\n\n\n
Baca: Meluruskan Nalar Baca Data Susenas September 2019<\/a><\/p>\n\n\n\n
Di kampung, tak ada yang tahu usia Mbah Gimin. Saat saya tanyakan langsung usianya, Mbah Gimin menjawab, \"Mbuh, Le!\" Lantas tertawa. Saya ikut tertawa. Sejak pertama kali berjumpa dengan Mbah Gimin sekira empat tahun lalu, Mbah Gimin tak pernah lepas dari ritual melinting tembakau. Slepennya juga yang itu-itu saja, tak pernah berganti. Jika ada yang berubah dari ritual melinting rokok Mbah Gimin, itu adalah hilangnya kemenyan dari racikan tembakau tingwe miliknya. Hilangnya kemenyan terjadi usai Lala, istri saya, protes kepada Mbah Gimin karena bagi Lala, aroma rokok tingwe bercampur kemenyan milik Mbah Gimin menimbulkan suasana horor dan menyeramkan.<\/p>\n\n\n\n
Sepengetahuan saya, Mbah Gimin orang paling sepuh di kampung, beberapa warga yang menginformasikan hal itu. Seluruh rambutnya sudah memutih. Sehari-hari, penampilannya selalu sama, berkemeja berwarna lusuh, dengan kain sarung yang selalu menutup bagian pinggang hingga betis. Mbah Gimin masih rutin bekerja di sawah. Menanam padi di musim tanam padi, dan palawija di musim lainnya. Ia juga masih ngarit, mencari rumput untuk makan dua ekor kambing peliharaannya.<\/p>\n\n\n\n
\"Kabar saya baik, Mbah. Rasanya punya anak? Ya senang, Mbah. Tapi ada juga banyak ketakutan yang datang dan kekhawatiran yang timbul setelah saya punya anak.\"<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
Sepanjang empat tahun tinggal di kampung ini, dengan Mbah Gimin saya paling sering berbincang di luar dengan Pak RT yang juga pemilik rumah yang saya sewa selama empat tahun belakangan. Sekali dua kami berbincang di halaman masjid kampung, pernah juga di sawah yang sedang ia garap, paling sering, di halaman rumah saya, seperti beberapa malam lalu ketika Jogja sedang panas-panasnya padahal semestinya ini puncak musim hujan.<\/p>\n\n\n\n
Baca: Cukai rokok: Dari perokok, oleh perokok dan untuk perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n
Kami berbincang perihal apa saja. Yang paling sering, tentang kampung tempat kami tinggal dan keseharian Mbah Gimin di masa lampau hingga kini. Sekali dua, Mbah Gimin juga kerap mengantar hasil bumi ke rumah saya. Beras, ketela, cabai, dan beberapa jenis sayur yang Ia tanam. <\/p>\n\n\n\n
Mbah Gimin hidup seorang diri di kampung. Dua orang istrinya sudah lama meninggal. Tidak, Mbah Gimin tidak poligami. Mbah Gimin menikah enam tahun usai istri pertamanya meninggal. Tiga tahun kemudian, istri keduanya meninggal dunia. Bersama istri pertama, lahir dua orang anak, keduanya tinggal bersama suami mereka di luar kampung. Satu di Gunung Kidul, satu lagi di Klaten. Dengan istri kedua, tidak ada anak.<\/p>\n\n\n\n
\"Wajar itu. Senang ya wajar. Takut dan khawatir ya wajar. Jadi ya tenang saja. Apalagi ini anak pertamakan. Wajar.\" Ujar Mbah Gimin, lantas mengisap rokok tingwe lalu menghembuskan asap dengan santai dari mulut dan hidung.<\/p>\n\n\n\n
\"Mbah sejak kapan merokok tingwe?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Wah, sudah lama. Ya sejak mulai merokok.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Nggak pernah coba rokok pabrikan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Sesekali pernah. Tapi rasanya nggak ada yang pas.\"<\/p>\n\n\n\n
Baca: Sejarah Singkat Perkembangan Cukai Rokok dan DBHCHT di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n
Beberapa waktu belakangan, rokok tingwe kembali populer. Setelah sebelumnya dicap sebagai selera kolot, kini banyak anak muda yang menjadikan rokok tingwe sebagai keseharian gaya hidup, meninggalkan rokok pabrikan yang banyak beredar di pasaran. Lebih lagi usai harga rokok naik setelah cukai rokok dikerek naik dengan drastis oleh pemerintah. Membicarakan rokok tingwe, tentu saja saya teringat Mbah Gimin yang lama bersetia pada rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n
Ketika saya menginformasikan perihal kembali semaraknya orang-orang memilih rokok tingwe, dan menjadikan itu sebagai protes perlawanan akibat kenaikan cukai dan kenaikan harga rokok pabrikan, Mbah Gimin tersenyum, kemudian berujar, <\/p>\n\n\n\n
\"Mungkin itu untuk kebaikan pemerintah, jadi rokok harganya naik. Ya moga-moga petani juga dapat untung dari situ.\"<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
Komentar Mbah Gimin mengingatkan saya pada buku karya James C. Scott berjudul Weapon of the Weak. Dari James C. Scott itulah kemudian muncul teori perlawanan kaum tani yang kerap disebut teori Scottian. Melawan meskipun kalah. Melawan dengan cara khas petani. Main belakang, seakan mengiyakan dan menyetujui, tetapi diam-diam melawan. <\/p>\n\n\n\n
Selain kasus cukai rokok ini, perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin juga sudah saya dengar kemasyhurannya jauh-jauh hari, lewat perlawanan Mbah Gimin terhadap maraknya investasi di kampung yang mengubah lahan pertanian menjadi perumahan-perumahan kluster. Ia tak melawan secara frontal, tidak juga menyalahkan petani lain yang melepas lahannya untuk dibeli pemborong perumahan. <\/p>\n\n\n\n
Ia tak berkomentar pedas akan hal itu. Lebih memilih diam dan terkesan menyetujui maraknya penjualan tanah di kampung. Namun, Ia tetap melawan secara mandiri, dengan tidak mau menjual lahan pertaniannya meskipun berkali-kali dirayu investor dengan harga mahal karena lokasinya strategis. Ia juga menyabotase akses masuk ke lokasi perumahan yang jika lewat lahan miliknya, lebih strategis dan mudah terakses. Namun karena perlawanannya dengan cara tak mau menjual lahan miliknya meskipun sedikit saja untuk jalan, akses jalan menuju perumahan itu harus sedikit memutar. Perlawanan khas Scottian.<\/p>\n\n\n\n
Saya kira, apa yang dilakukan Mbah Gimin, patut pula dicontoh untuk gerakan melawan kenaikan harga rokok. Ya sudah, mau apa lagi, terima saja dulu, biar saja. Tapi kita cukupkan saja dengan persetujuan itu, cukup. Tidak usah beli rokok lagi, dan bersetia pada tingwe.<\/p>\n","post_title":"Perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perlawanan-scottian-ala-mbah-gimin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-23 10:03:11","post_modified_gmt":"2020-01-23 03:03:11","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6399","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6445","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6435,"post_author":"878","post_date":"2020-02-04 09:47:07","post_date_gmt":"2020-02-04 02:47:07","post_content":"\nDi tengah gempuran pasar global yang seakan tak memiliki batas, dengan produk-produk impor yang menjejali negeri ini, juga ekspansi industri-industri besar multinasional yang membangun pabrik-pabrik mereka di Indonesia, apakah masih ada industri skala besar nasional yang masih mampu mengharumkan nama Indonesia sebagai produsen utamanya? Jawabannya ada, namun sedikit.
Satu dari yang sedikit itu, tak lain dan tak bukan adalah industri rokok kretek yang ada di negeri ini. Mulanya, rokok kretek ditemukan secara tak sengaja oleh Haji Djamhari di Kudus pada periode akhir abad 19. Selanjutnya, lewat tangan dingin Nitisemito dengan brand pabrik rokok Tjap Bal Tiga miliknya, rokok kretek kemudian masuk produk skala industri. Perlahan tapi pasti, rokok kretek kemudian berhasil menguasai pasar rokok nasional, mengambil alih besarnya permintaan konsumen rokok yang sebelumnya dikuasai produk rokok putihan.
Bahwasanya pasar industri rokok kretek juga ikut disasar pabrikan-pabrikan multinasional, itu tak bisa dimungkiri karena kue keuntungan dari industri ini memang begitu menjanjikan. Namun, hingga hari ini, industri rokok kretek masih dikuasai oleh pabrikan dalam negeri.
Lebih dari itu, mulai dari bahan baku berupa tembakau dan cengkeh juga dipasok dari sektor perkebunan nasional. Besarnya industri ini, juga menyerap tenaga kerja mendekati enam juta jiwa. Jumlah enam juta jiwa itu meliputi pekerja mulai dari hulu di perkebunan hingga pekerja-pekerja di pabrik-pabrik rokok. Jika ditambah dengan pedagang asongan dan pedagang rokok skala kecil, jumlah enam juta jiwa akan bertambah kian banyak.
Dua bahan baku utama industri kretek, berupa tembakau dan cengkeh, hampir seluruhnya dipasok dari sektor perkebunan nasional. Cengkeh untuk kretek sepenuhnya diambil dari sektor perkebunan nasional. Ini wajar karena Indonesia hingga hari ini menduduki peringkat pertama produsen cengkeh di dunia. Industri kretek menyerap sekitar 94 persen dari produksi cengkeh nasional setiap tahunnya.
Untuk sektor tembakau, memang ada bahan baku yang didapat dari hasil impor. Ini terjadi lebih karena kurangnya produksi tahunan tembakau untuk memenuhi kebutuhan industri rokok kretek nasional. Padahal sejauh ini Indonesia menduduki peringkat enam penghasil tembakau di dunia.
Tanaman cengkeh mulanya adalah tanaman endemik dari beberapa pulau di Kepulauan Maluku. Selepas berakhirnya monopoli cengkeh yang dilakukan penjajah Belanda, tanaman cengkeh menyebar ke pulau-pulau lain di Indonesia. Tanaman cengkeh selanjutnya dibawa ke luar negeri dan ditanam di beberapa negara dengam kondisi cuaca mirip Indonesia. Yang paling terkenal, cengkeh yang ditanam di Zanzibar, Afrika. Namun begitu, hingga hari ini, Indonesia masih menjadi produsen utama dan terbesar cengkeh di dunia.
Dari sekira 561 ribu hektar luas lahan perkebunan cengkeh nasional, setiap tahunnya produksi cengkeh kering berkisar antara 100 ribu hingga 150 ribu ton. Lebih dari 90 persen produksi cengkeh nasional kemudian diserap oleh industri kretek nasional. Sisanya menjadi komoditas ekspor dengan Arab Saudi, India, dan Sudan menjadi negara tujuan ekspor cengkeh.
Dalam satu tahun, permintaan tembakau dari pabrikan-pabrikan rokok yang ada di Indonesia berkisar antara 300 ribu hingga 350 ribu ton. Sejauh ini, sektor perkebunan tembakau nasional memiliki angka produksi fluktuatif tergantung cuaca, mencapai antara 100 ribu hingga 200 ribu ton. Jumlah itu dihasilkan dari luasan lahan mencapai 250 ribu hektar yang tersebar di 15 provinsi.
Belum selesai sampai di situ. Selain bahan baku dan para pekerja yang membikin geliat industri kretek nasional bergairah, pangsa pasar hasil industri ini juga begitu menjanjikan dalam menjalankan roda ekonomi nasional. Konsumen produk rokok kretek nasional adalah konsumen terbesar di Indonesia. Lebih dari 90 persen pasar rokok nasional dikuasai rokok kretek. Dari sana, negara mendapat keuntungan tak sedikit lewat cukai rokok. Tak kurang setiap tahunnya hasil cukai rokok berada pada angka Rp140 trilyun, setidaknya sepanjang 10 tahun belakangan.
Dari sini, tak bisa dibantah bahwasanya produk kretek bisa dibanggakan oleh negara ini, nasonalisme lewat produk kretek sejatinya bisa dibangun karena produk ini mulai dari hulu hingga hilir digerakkan oleh anak-anak negeri, dan memberikan keuntungan ekonomi yang tak sedikit pada negara. Nasionalisme dalam sebatang kretek.
Bahan baku utamanya diproduksi di dalam negeri oleh petani-petani kita, pekerja di pabrik-pabrik kretek juga orang asli Indonesia, pemilik pabriknya, juga orang Indonesia, lantas yang terakhir, konsumennya juga orang Indonesia, begitulah sejatinya industri nasional yang mesti dibanggakan. Maka, tak salah jika kita mendeklarasikan diri bahwa: Indonesia Republik Kretek.<\/p>\n","post_title":"Indonesia Republik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-republik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-04 09:47:16","post_modified_gmt":"2020-02-04 02:47:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6435","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6425,"post_author":"878","post_date":"2020-02-01 11:08:43","post_date_gmt":"2020-02-01 04:08:43","post_content":"\nBeberapa waktu lalu, beredar berita perihal subsidi yang diterima perusahaan sawit dari negara. Tak tanggung-tanggung, subsidi yang digelontorkan berjumlah tak kurang dari 7,5 trilyun. Sebuah angka yang fantastis.
\nYang lebih mengejutkan lagi, subsidi sebanyak 7,5 trilyun itu diterima hanya oleh 5 perusahaan sawit saja. Dari sini jelas terlihat betapa negara begitu memanjakan perusahaan sawit yang setiap tahun tak pernah absen dalam partisipasi pembakaran hutan di beberapa wilayah di negeri ini.
\nSalah satu alasan penggelontoran subsidi sebanyak itu adalah untuk pengembangan pengolahan hasil perkebunan sawit menjadi biodisel. Selanjutnya, biodisel hasil kembangan itu akan diserap oleh Pertamina dan PLN sebagai konsumennya. Oleh Pertamina, biodisel tersebut akan dipasarka melalui SPBU-SPBU yang tersebar di penjuru negeri, sedang PLN menggunakan biodisel tersebut sebagai bahan bakar pembangkit-pembangkit listrik milik mereka.
\nJadi, selain penggelontoran subsidi, pemerintah juga sudah menjamin serapan hasil kembangan perusahaan sawit di bidang biodisel. Sebuah kenyamanan yang membikin iri banyak bidang lainnya terutama sektor pertanian dan perkebunan lain yang selama ini tak terlalu diperhatikan pemerintah.
\nAngka subsidi yang digelontorkan pemerintah kepada lima perusahaan sawit tersebut, angkanya jauh lebih tinggi dibanding pendapatan yang diterima pemerintah dari pajak perusahaan sawit itu. Sudah bukan rahasia lagi, kebocoran penerimaan pajak dari sektor perkebunan sawit membikin negara merugi trilyunan rupiah setiap tahunnya.
\nDi tengah kondisi semacam itu, pengemplangan pajak yang rutin dilakukan oleh perusahaan sawit, negara tetap dengan baik hati memberi subsidi yang tak sedikit untuk mereka. Tak pelak lagi, sawit menjadi anak emas dalam sektor pertanian dan perkebunan di negeri ini.
\nLantas, mari kita bandingkan dengan sektor pertanian dan perkebunan yang setiap tahun rutin memberikan pemasukan tak sedikit bagi negara. Bidang pertanian dan perkebunan yang sepenuhnya dijalankan oleh anak-anak negeri, yang sesungguhnya bisa dibanggakan oleh negara karena selain pajak dan cukai dari hasil olahannya yang memberikan pemasukan begitu melimpah kepada negara, sektor ini juga sangat potensial menjadi produk kebanggan nasional karena dari hulu hingga hilir hampir seluruhnya diproduksi dan dikonsumsi oleh anak-anak bangsa. Itu adalah sektor pertembakauan dan perkebunan cengkeh dengan hasil olahannya berupa rokok kretek.
\nAda sekira enam juta manusia yang terlibat langsung dalam perkebunan tembakau dan cengkeh di negeri ini. Dua juta di sektor tembakau, dan empat juta di sektor cengkeh. Dari dua sektor itu yang lantas menghasilkan produk bernama rokok kretek, setiap tahunnya negara menerima pemasukan dari cukai tak kurang dari 140 trilyun, setidaknya selama 10 tahun terakhir.
\nTetapi, apakah mereka para petani di dua sektor perkebunan itu mendapat subsidi yang selayaknya dari negara? Subsidi itu ada, dalam bentuk Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) yang besarannya dibagi berdasarkan wilayah per kabupaten, yang angkanya tentu saja tak se-fantastis subsidi cuma-cuma yang diterima perusahaan sawit.
\nLalu untuk apa alokasi DBHCHT di sektor pertanian tembakau dan cengkeh itu? Berbeda dengan subsidi yang diterima perusahaan sawit yang sepenuhnya digunakan untuk pengembangan industri di hilir, DBHCHT untuk sektor tembakau dan cengkeh malah digunakan sebaliknya, untuk menghancurkan sektor perkebunan yang semestinya menjadi sektor perkebunan strategis nasional ini.
\nDengan alasan kesehatan, dana yang semestinya digunakan untuk mengembangkan perkebunan tembakau dan cengkeh supaya lebih maju lagi, malah digunakan untuk memberangus dua perkebunan itu. Dana itu digunakan sebagian besarnya untuk penyuluhan-penyuluhan kepada para petani agar mengganti usaha perkebunan tembakau dan cengkeh mereka ke komoditas pertanian dan perkebunan lainnya. Sebuah ironi yang menyedihkan.
\nDi luar itu, dana DBHCHT yang sumber utama pemasukannya dari dua komoditas itu, juga digunakan untuk menggembosi rokok kretek yang merupakan hasil turunan dari sektor tembakau dan cengkeh. Bayangkan, tanpa diberikan subsidi, tetapi menggunakan uang cukai yang dihasilkan dua sektor perkebunan itu, dana itu digunakan malahan untuk menggembosi dua sektor perkebunan itu.
\nDari sini, bisa kita lihat, jika perkebunan sawit menjadi anak emas negara, sebaliknya, perkebunan tembakau dan cengkeh dijadikan anak tiri oleh negara yang terus menerus digembosi. Keuntungannya diambil banyak oleh negara, sebagian keuntungan itu, digunakan secara tak langsung untuk menghancurkan sektor perkebunan tembakau dan cengkeh.
\nPerkebunan tembakau dan cengkeh, yang keduanya semestinya menjadi komoditas strategis nasional, malah dinistakan oleh negara yang sesungguhnya mengambil banyak keuntungan dari sana. Paradoks yang memuakkan.<\/p>\n","post_title":"Tembakau dan Cengkeh, Komoditas Perkebunan Strategis Nasional yang Dinistakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-dan-cengkeh-komoditas-perkebunan-strategis-nasional-yang-dinistakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-01 11:08:51","post_modified_gmt":"2020-02-01 04:08:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6399,"post_author":"878","post_date":"2020-01-23 10:03:09","post_date_gmt":"2020-01-23 03:03:09","post_content":"\nUsai memberi salam lantas duduk di kursi kayu di halaman depan rumah kontrakan saya, Mbah Gimin mengeluarkan slepen (wadah tembakau rajangan) dari saku kemeja di dada kirinya, membuka slepen, mengeluarkan kertas linting dari dalamnya, membuka lebar-lebar kertas linting, mengambil sejumput tembakau lalu Ia taruh di atas kertas linting, menaburi beberapa butir cengkeh kering di atas tembakau, lantas menggulung kertas linting itu menjadi bentuk kerucut. <\/p>\n\n\n\n
Mbah Gimin tak bicara sepanjang proses melinting itu. Usai mengulum ujung lintingan sisi lebih kecil, Mbah Gimin mengambil geretan kayu dari sakunya, menyalakan sebatang geretan dengan pemantik yang ada di kedua sisi kotak geretan, membakar ujung lintingan bagian besar, menyedot asap hasil pembakaran, menghembuskannya beberapa kali, baru kemudian Ia berbicara kepada saya yang sedari tadi duduk di hadapannya memperhatikan Ia yang sedang melinting, \"Bagaimana kabarmu, Le, bagaimana rasanya punya anak?\"<\/p>\n\n\n\n
Baca: Meluruskan Nalar Baca Data Susenas September 2019<\/a><\/p>\n\n\n\n
Di kampung, tak ada yang tahu usia Mbah Gimin. Saat saya tanyakan langsung usianya, Mbah Gimin menjawab, \"Mbuh, Le!\" Lantas tertawa. Saya ikut tertawa. Sejak pertama kali berjumpa dengan Mbah Gimin sekira empat tahun lalu, Mbah Gimin tak pernah lepas dari ritual melinting tembakau. Slepennya juga yang itu-itu saja, tak pernah berganti. Jika ada yang berubah dari ritual melinting rokok Mbah Gimin, itu adalah hilangnya kemenyan dari racikan tembakau tingwe miliknya. Hilangnya kemenyan terjadi usai Lala, istri saya, protes kepada Mbah Gimin karena bagi Lala, aroma rokok tingwe bercampur kemenyan milik Mbah Gimin menimbulkan suasana horor dan menyeramkan.<\/p>\n\n\n\n
Sepengetahuan saya, Mbah Gimin orang paling sepuh di kampung, beberapa warga yang menginformasikan hal itu. Seluruh rambutnya sudah memutih. Sehari-hari, penampilannya selalu sama, berkemeja berwarna lusuh, dengan kain sarung yang selalu menutup bagian pinggang hingga betis. Mbah Gimin masih rutin bekerja di sawah. Menanam padi di musim tanam padi, dan palawija di musim lainnya. Ia juga masih ngarit, mencari rumput untuk makan dua ekor kambing peliharaannya.<\/p>\n\n\n\n
\"Kabar saya baik, Mbah. Rasanya punya anak? Ya senang, Mbah. Tapi ada juga banyak ketakutan yang datang dan kekhawatiran yang timbul setelah saya punya anak.\"<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
Sepanjang empat tahun tinggal di kampung ini, dengan Mbah Gimin saya paling sering berbincang di luar dengan Pak RT yang juga pemilik rumah yang saya sewa selama empat tahun belakangan. Sekali dua kami berbincang di halaman masjid kampung, pernah juga di sawah yang sedang ia garap, paling sering, di halaman rumah saya, seperti beberapa malam lalu ketika Jogja sedang panas-panasnya padahal semestinya ini puncak musim hujan.<\/p>\n\n\n\n
Baca: Cukai rokok: Dari perokok, oleh perokok dan untuk perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n
Kami berbincang perihal apa saja. Yang paling sering, tentang kampung tempat kami tinggal dan keseharian Mbah Gimin di masa lampau hingga kini. Sekali dua, Mbah Gimin juga kerap mengantar hasil bumi ke rumah saya. Beras, ketela, cabai, dan beberapa jenis sayur yang Ia tanam. <\/p>\n\n\n\n
Mbah Gimin hidup seorang diri di kampung. Dua orang istrinya sudah lama meninggal. Tidak, Mbah Gimin tidak poligami. Mbah Gimin menikah enam tahun usai istri pertamanya meninggal. Tiga tahun kemudian, istri keduanya meninggal dunia. Bersama istri pertama, lahir dua orang anak, keduanya tinggal bersama suami mereka di luar kampung. Satu di Gunung Kidul, satu lagi di Klaten. Dengan istri kedua, tidak ada anak.<\/p>\n\n\n\n
\"Wajar itu. Senang ya wajar. Takut dan khawatir ya wajar. Jadi ya tenang saja. Apalagi ini anak pertamakan. Wajar.\" Ujar Mbah Gimin, lantas mengisap rokok tingwe lalu menghembuskan asap dengan santai dari mulut dan hidung.<\/p>\n\n\n\n
\"Mbah sejak kapan merokok tingwe?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Wah, sudah lama. Ya sejak mulai merokok.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Nggak pernah coba rokok pabrikan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Sesekali pernah. Tapi rasanya nggak ada yang pas.\"<\/p>\n\n\n\n
Baca: Sejarah Singkat Perkembangan Cukai Rokok dan DBHCHT di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n
Beberapa waktu belakangan, rokok tingwe kembali populer. Setelah sebelumnya dicap sebagai selera kolot, kini banyak anak muda yang menjadikan rokok tingwe sebagai keseharian gaya hidup, meninggalkan rokok pabrikan yang banyak beredar di pasaran. Lebih lagi usai harga rokok naik setelah cukai rokok dikerek naik dengan drastis oleh pemerintah. Membicarakan rokok tingwe, tentu saja saya teringat Mbah Gimin yang lama bersetia pada rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n
Ketika saya menginformasikan perihal kembali semaraknya orang-orang memilih rokok tingwe, dan menjadikan itu sebagai protes perlawanan akibat kenaikan cukai dan kenaikan harga rokok pabrikan, Mbah Gimin tersenyum, kemudian berujar, <\/p>\n\n\n\n
\"Mungkin itu untuk kebaikan pemerintah, jadi rokok harganya naik. Ya moga-moga petani juga dapat untung dari situ.\"<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
Komentar Mbah Gimin mengingatkan saya pada buku karya James C. Scott berjudul Weapon of the Weak. Dari James C. Scott itulah kemudian muncul teori perlawanan kaum tani yang kerap disebut teori Scottian. Melawan meskipun kalah. Melawan dengan cara khas petani. Main belakang, seakan mengiyakan dan menyetujui, tetapi diam-diam melawan. <\/p>\n\n\n\n
Selain kasus cukai rokok ini, perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin juga sudah saya dengar kemasyhurannya jauh-jauh hari, lewat perlawanan Mbah Gimin terhadap maraknya investasi di kampung yang mengubah lahan pertanian menjadi perumahan-perumahan kluster. Ia tak melawan secara frontal, tidak juga menyalahkan petani lain yang melepas lahannya untuk dibeli pemborong perumahan. <\/p>\n\n\n\n
Ia tak berkomentar pedas akan hal itu. Lebih memilih diam dan terkesan menyetujui maraknya penjualan tanah di kampung. Namun, Ia tetap melawan secara mandiri, dengan tidak mau menjual lahan pertaniannya meskipun berkali-kali dirayu investor dengan harga mahal karena lokasinya strategis. Ia juga menyabotase akses masuk ke lokasi perumahan yang jika lewat lahan miliknya, lebih strategis dan mudah terakses. Namun karena perlawanannya dengan cara tak mau menjual lahan miliknya meskipun sedikit saja untuk jalan, akses jalan menuju perumahan itu harus sedikit memutar. Perlawanan khas Scottian.<\/p>\n\n\n\n
Saya kira, apa yang dilakukan Mbah Gimin, patut pula dicontoh untuk gerakan melawan kenaikan harga rokok. Ya sudah, mau apa lagi, terima saja dulu, biar saja. Tapi kita cukupkan saja dengan persetujuan itu, cukup. Tidak usah beli rokok lagi, dan bersetia pada tingwe.<\/p>\n","post_title":"Perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perlawanan-scottian-ala-mbah-gimin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-23 10:03:11","post_modified_gmt":"2020-01-23 03:03:11","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6399","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6445","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6435,"post_author":"878","post_date":"2020-02-04 09:47:07","post_date_gmt":"2020-02-04 02:47:07","post_content":"\nDi tengah gempuran pasar global yang seakan tak memiliki batas, dengan produk-produk impor yang menjejali negeri ini, juga ekspansi industri-industri besar multinasional yang membangun pabrik-pabrik mereka di Indonesia, apakah masih ada industri skala besar nasional yang masih mampu mengharumkan nama Indonesia sebagai produsen utamanya? Jawabannya ada, namun sedikit.
Satu dari yang sedikit itu, tak lain dan tak bukan adalah industri rokok kretek yang ada di negeri ini. Mulanya, rokok kretek ditemukan secara tak sengaja oleh Haji Djamhari di Kudus pada periode akhir abad 19. Selanjutnya, lewat tangan dingin Nitisemito dengan brand pabrik rokok Tjap Bal Tiga miliknya, rokok kretek kemudian masuk produk skala industri. Perlahan tapi pasti, rokok kretek kemudian berhasil menguasai pasar rokok nasional, mengambil alih besarnya permintaan konsumen rokok yang sebelumnya dikuasai produk rokok putihan.
Bahwasanya pasar industri rokok kretek juga ikut disasar pabrikan-pabrikan multinasional, itu tak bisa dimungkiri karena kue keuntungan dari industri ini memang begitu menjanjikan. Namun, hingga hari ini, industri rokok kretek masih dikuasai oleh pabrikan dalam negeri.
Lebih dari itu, mulai dari bahan baku berupa tembakau dan cengkeh juga dipasok dari sektor perkebunan nasional. Besarnya industri ini, juga menyerap tenaga kerja mendekati enam juta jiwa. Jumlah enam juta jiwa itu meliputi pekerja mulai dari hulu di perkebunan hingga pekerja-pekerja di pabrik-pabrik rokok. Jika ditambah dengan pedagang asongan dan pedagang rokok skala kecil, jumlah enam juta jiwa akan bertambah kian banyak.
Dua bahan baku utama industri kretek, berupa tembakau dan cengkeh, hampir seluruhnya dipasok dari sektor perkebunan nasional. Cengkeh untuk kretek sepenuhnya diambil dari sektor perkebunan nasional. Ini wajar karena Indonesia hingga hari ini menduduki peringkat pertama produsen cengkeh di dunia. Industri kretek menyerap sekitar 94 persen dari produksi cengkeh nasional setiap tahunnya.
Untuk sektor tembakau, memang ada bahan baku yang didapat dari hasil impor. Ini terjadi lebih karena kurangnya produksi tahunan tembakau untuk memenuhi kebutuhan industri rokok kretek nasional. Padahal sejauh ini Indonesia menduduki peringkat enam penghasil tembakau di dunia.
Tanaman cengkeh mulanya adalah tanaman endemik dari beberapa pulau di Kepulauan Maluku. Selepas berakhirnya monopoli cengkeh yang dilakukan penjajah Belanda, tanaman cengkeh menyebar ke pulau-pulau lain di Indonesia. Tanaman cengkeh selanjutnya dibawa ke luar negeri dan ditanam di beberapa negara dengam kondisi cuaca mirip Indonesia. Yang paling terkenal, cengkeh yang ditanam di Zanzibar, Afrika. Namun begitu, hingga hari ini, Indonesia masih menjadi produsen utama dan terbesar cengkeh di dunia.
Dari sekira 561 ribu hektar luas lahan perkebunan cengkeh nasional, setiap tahunnya produksi cengkeh kering berkisar antara 100 ribu hingga 150 ribu ton. Lebih dari 90 persen produksi cengkeh nasional kemudian diserap oleh industri kretek nasional. Sisanya menjadi komoditas ekspor dengan Arab Saudi, India, dan Sudan menjadi negara tujuan ekspor cengkeh.
Dalam satu tahun, permintaan tembakau dari pabrikan-pabrikan rokok yang ada di Indonesia berkisar antara 300 ribu hingga 350 ribu ton. Sejauh ini, sektor perkebunan tembakau nasional memiliki angka produksi fluktuatif tergantung cuaca, mencapai antara 100 ribu hingga 200 ribu ton. Jumlah itu dihasilkan dari luasan lahan mencapai 250 ribu hektar yang tersebar di 15 provinsi.
Belum selesai sampai di situ. Selain bahan baku dan para pekerja yang membikin geliat industri kretek nasional bergairah, pangsa pasar hasil industri ini juga begitu menjanjikan dalam menjalankan roda ekonomi nasional. Konsumen produk rokok kretek nasional adalah konsumen terbesar di Indonesia. Lebih dari 90 persen pasar rokok nasional dikuasai rokok kretek. Dari sana, negara mendapat keuntungan tak sedikit lewat cukai rokok. Tak kurang setiap tahunnya hasil cukai rokok berada pada angka Rp140 trilyun, setidaknya sepanjang 10 tahun belakangan.
Dari sini, tak bisa dibantah bahwasanya produk kretek bisa dibanggakan oleh negara ini, nasonalisme lewat produk kretek sejatinya bisa dibangun karena produk ini mulai dari hulu hingga hilir digerakkan oleh anak-anak negeri, dan memberikan keuntungan ekonomi yang tak sedikit pada negara. Nasionalisme dalam sebatang kretek.
Bahan baku utamanya diproduksi di dalam negeri oleh petani-petani kita, pekerja di pabrik-pabrik kretek juga orang asli Indonesia, pemilik pabriknya, juga orang Indonesia, lantas yang terakhir, konsumennya juga orang Indonesia, begitulah sejatinya industri nasional yang mesti dibanggakan. Maka, tak salah jika kita mendeklarasikan diri bahwa: Indonesia Republik Kretek.<\/p>\n","post_title":"Indonesia Republik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-republik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-04 09:47:16","post_modified_gmt":"2020-02-04 02:47:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6435","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6425,"post_author":"878","post_date":"2020-02-01 11:08:43","post_date_gmt":"2020-02-01 04:08:43","post_content":"\nBeberapa waktu lalu, beredar berita perihal subsidi yang diterima perusahaan sawit dari negara. Tak tanggung-tanggung, subsidi yang digelontorkan berjumlah tak kurang dari 7,5 trilyun. Sebuah angka yang fantastis.
\nYang lebih mengejutkan lagi, subsidi sebanyak 7,5 trilyun itu diterima hanya oleh 5 perusahaan sawit saja. Dari sini jelas terlihat betapa negara begitu memanjakan perusahaan sawit yang setiap tahun tak pernah absen dalam partisipasi pembakaran hutan di beberapa wilayah di negeri ini.
\nSalah satu alasan penggelontoran subsidi sebanyak itu adalah untuk pengembangan pengolahan hasil perkebunan sawit menjadi biodisel. Selanjutnya, biodisel hasil kembangan itu akan diserap oleh Pertamina dan PLN sebagai konsumennya. Oleh Pertamina, biodisel tersebut akan dipasarka melalui SPBU-SPBU yang tersebar di penjuru negeri, sedang PLN menggunakan biodisel tersebut sebagai bahan bakar pembangkit-pembangkit listrik milik mereka.
\nJadi, selain penggelontoran subsidi, pemerintah juga sudah menjamin serapan hasil kembangan perusahaan sawit di bidang biodisel. Sebuah kenyamanan yang membikin iri banyak bidang lainnya terutama sektor pertanian dan perkebunan lain yang selama ini tak terlalu diperhatikan pemerintah.
\nAngka subsidi yang digelontorkan pemerintah kepada lima perusahaan sawit tersebut, angkanya jauh lebih tinggi dibanding pendapatan yang diterima pemerintah dari pajak perusahaan sawit itu. Sudah bukan rahasia lagi, kebocoran penerimaan pajak dari sektor perkebunan sawit membikin negara merugi trilyunan rupiah setiap tahunnya.
\nDi tengah kondisi semacam itu, pengemplangan pajak yang rutin dilakukan oleh perusahaan sawit, negara tetap dengan baik hati memberi subsidi yang tak sedikit untuk mereka. Tak pelak lagi, sawit menjadi anak emas dalam sektor pertanian dan perkebunan di negeri ini.
\nLantas, mari kita bandingkan dengan sektor pertanian dan perkebunan yang setiap tahun rutin memberikan pemasukan tak sedikit bagi negara. Bidang pertanian dan perkebunan yang sepenuhnya dijalankan oleh anak-anak negeri, yang sesungguhnya bisa dibanggakan oleh negara karena selain pajak dan cukai dari hasil olahannya yang memberikan pemasukan begitu melimpah kepada negara, sektor ini juga sangat potensial menjadi produk kebanggan nasional karena dari hulu hingga hilir hampir seluruhnya diproduksi dan dikonsumsi oleh anak-anak bangsa. Itu adalah sektor pertembakauan dan perkebunan cengkeh dengan hasil olahannya berupa rokok kretek.
\nAda sekira enam juta manusia yang terlibat langsung dalam perkebunan tembakau dan cengkeh di negeri ini. Dua juta di sektor tembakau, dan empat juta di sektor cengkeh. Dari dua sektor itu yang lantas menghasilkan produk bernama rokok kretek, setiap tahunnya negara menerima pemasukan dari cukai tak kurang dari 140 trilyun, setidaknya selama 10 tahun terakhir.
\nTetapi, apakah mereka para petani di dua sektor perkebunan itu mendapat subsidi yang selayaknya dari negara? Subsidi itu ada, dalam bentuk Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) yang besarannya dibagi berdasarkan wilayah per kabupaten, yang angkanya tentu saja tak se-fantastis subsidi cuma-cuma yang diterima perusahaan sawit.
\nLalu untuk apa alokasi DBHCHT di sektor pertanian tembakau dan cengkeh itu? Berbeda dengan subsidi yang diterima perusahaan sawit yang sepenuhnya digunakan untuk pengembangan industri di hilir, DBHCHT untuk sektor tembakau dan cengkeh malah digunakan sebaliknya, untuk menghancurkan sektor perkebunan yang semestinya menjadi sektor perkebunan strategis nasional ini.
\nDengan alasan kesehatan, dana yang semestinya digunakan untuk mengembangkan perkebunan tembakau dan cengkeh supaya lebih maju lagi, malah digunakan untuk memberangus dua perkebunan itu. Dana itu digunakan sebagian besarnya untuk penyuluhan-penyuluhan kepada para petani agar mengganti usaha perkebunan tembakau dan cengkeh mereka ke komoditas pertanian dan perkebunan lainnya. Sebuah ironi yang menyedihkan.
\nDi luar itu, dana DBHCHT yang sumber utama pemasukannya dari dua komoditas itu, juga digunakan untuk menggembosi rokok kretek yang merupakan hasil turunan dari sektor tembakau dan cengkeh. Bayangkan, tanpa diberikan subsidi, tetapi menggunakan uang cukai yang dihasilkan dua sektor perkebunan itu, dana itu digunakan malahan untuk menggembosi dua sektor perkebunan itu.
\nDari sini, bisa kita lihat, jika perkebunan sawit menjadi anak emas negara, sebaliknya, perkebunan tembakau dan cengkeh dijadikan anak tiri oleh negara yang terus menerus digembosi. Keuntungannya diambil banyak oleh negara, sebagian keuntungan itu, digunakan secara tak langsung untuk menghancurkan sektor perkebunan tembakau dan cengkeh.
\nPerkebunan tembakau dan cengkeh, yang keduanya semestinya menjadi komoditas strategis nasional, malah dinistakan oleh negara yang sesungguhnya mengambil banyak keuntungan dari sana. Paradoks yang memuakkan.<\/p>\n","post_title":"Tembakau dan Cengkeh, Komoditas Perkebunan Strategis Nasional yang Dinistakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-dan-cengkeh-komoditas-perkebunan-strategis-nasional-yang-dinistakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-01 11:08:51","post_modified_gmt":"2020-02-01 04:08:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6399,"post_author":"878","post_date":"2020-01-23 10:03:09","post_date_gmt":"2020-01-23 03:03:09","post_content":"\nUsai memberi salam lantas duduk di kursi kayu di halaman depan rumah kontrakan saya, Mbah Gimin mengeluarkan slepen (wadah tembakau rajangan) dari saku kemeja di dada kirinya, membuka slepen, mengeluarkan kertas linting dari dalamnya, membuka lebar-lebar kertas linting, mengambil sejumput tembakau lalu Ia taruh di atas kertas linting, menaburi beberapa butir cengkeh kering di atas tembakau, lantas menggulung kertas linting itu menjadi bentuk kerucut. <\/p>\n\n\n\n
Mbah Gimin tak bicara sepanjang proses melinting itu. Usai mengulum ujung lintingan sisi lebih kecil, Mbah Gimin mengambil geretan kayu dari sakunya, menyalakan sebatang geretan dengan pemantik yang ada di kedua sisi kotak geretan, membakar ujung lintingan bagian besar, menyedot asap hasil pembakaran, menghembuskannya beberapa kali, baru kemudian Ia berbicara kepada saya yang sedari tadi duduk di hadapannya memperhatikan Ia yang sedang melinting, \"Bagaimana kabarmu, Le, bagaimana rasanya punya anak?\"<\/p>\n\n\n\n
Baca: Meluruskan Nalar Baca Data Susenas September 2019<\/a><\/p>\n\n\n\n
Di kampung, tak ada yang tahu usia Mbah Gimin. Saat saya tanyakan langsung usianya, Mbah Gimin menjawab, \"Mbuh, Le!\" Lantas tertawa. Saya ikut tertawa. Sejak pertama kali berjumpa dengan Mbah Gimin sekira empat tahun lalu, Mbah Gimin tak pernah lepas dari ritual melinting tembakau. Slepennya juga yang itu-itu saja, tak pernah berganti. Jika ada yang berubah dari ritual melinting rokok Mbah Gimin, itu adalah hilangnya kemenyan dari racikan tembakau tingwe miliknya. Hilangnya kemenyan terjadi usai Lala, istri saya, protes kepada Mbah Gimin karena bagi Lala, aroma rokok tingwe bercampur kemenyan milik Mbah Gimin menimbulkan suasana horor dan menyeramkan.<\/p>\n\n\n\n
Sepengetahuan saya, Mbah Gimin orang paling sepuh di kampung, beberapa warga yang menginformasikan hal itu. Seluruh rambutnya sudah memutih. Sehari-hari, penampilannya selalu sama, berkemeja berwarna lusuh, dengan kain sarung yang selalu menutup bagian pinggang hingga betis. Mbah Gimin masih rutin bekerja di sawah. Menanam padi di musim tanam padi, dan palawija di musim lainnya. Ia juga masih ngarit, mencari rumput untuk makan dua ekor kambing peliharaannya.<\/p>\n\n\n\n
\"Kabar saya baik, Mbah. Rasanya punya anak? Ya senang, Mbah. Tapi ada juga banyak ketakutan yang datang dan kekhawatiran yang timbul setelah saya punya anak.\"<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
Sepanjang empat tahun tinggal di kampung ini, dengan Mbah Gimin saya paling sering berbincang di luar dengan Pak RT yang juga pemilik rumah yang saya sewa selama empat tahun belakangan. Sekali dua kami berbincang di halaman masjid kampung, pernah juga di sawah yang sedang ia garap, paling sering, di halaman rumah saya, seperti beberapa malam lalu ketika Jogja sedang panas-panasnya padahal semestinya ini puncak musim hujan.<\/p>\n\n\n\n
Baca: Cukai rokok: Dari perokok, oleh perokok dan untuk perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n
Kami berbincang perihal apa saja. Yang paling sering, tentang kampung tempat kami tinggal dan keseharian Mbah Gimin di masa lampau hingga kini. Sekali dua, Mbah Gimin juga kerap mengantar hasil bumi ke rumah saya. Beras, ketela, cabai, dan beberapa jenis sayur yang Ia tanam. <\/p>\n\n\n\n
Mbah Gimin hidup seorang diri di kampung. Dua orang istrinya sudah lama meninggal. Tidak, Mbah Gimin tidak poligami. Mbah Gimin menikah enam tahun usai istri pertamanya meninggal. Tiga tahun kemudian, istri keduanya meninggal dunia. Bersama istri pertama, lahir dua orang anak, keduanya tinggal bersama suami mereka di luar kampung. Satu di Gunung Kidul, satu lagi di Klaten. Dengan istri kedua, tidak ada anak.<\/p>\n\n\n\n
\"Wajar itu. Senang ya wajar. Takut dan khawatir ya wajar. Jadi ya tenang saja. Apalagi ini anak pertamakan. Wajar.\" Ujar Mbah Gimin, lantas mengisap rokok tingwe lalu menghembuskan asap dengan santai dari mulut dan hidung.<\/p>\n\n\n\n
\"Mbah sejak kapan merokok tingwe?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Wah, sudah lama. Ya sejak mulai merokok.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Nggak pernah coba rokok pabrikan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Sesekali pernah. Tapi rasanya nggak ada yang pas.\"<\/p>\n\n\n\n
Baca: Sejarah Singkat Perkembangan Cukai Rokok dan DBHCHT di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n
Beberapa waktu belakangan, rokok tingwe kembali populer. Setelah sebelumnya dicap sebagai selera kolot, kini banyak anak muda yang menjadikan rokok tingwe sebagai keseharian gaya hidup, meninggalkan rokok pabrikan yang banyak beredar di pasaran. Lebih lagi usai harga rokok naik setelah cukai rokok dikerek naik dengan drastis oleh pemerintah. Membicarakan rokok tingwe, tentu saja saya teringat Mbah Gimin yang lama bersetia pada rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n
Ketika saya menginformasikan perihal kembali semaraknya orang-orang memilih rokok tingwe, dan menjadikan itu sebagai protes perlawanan akibat kenaikan cukai dan kenaikan harga rokok pabrikan, Mbah Gimin tersenyum, kemudian berujar, <\/p>\n\n\n\n
\"Mungkin itu untuk kebaikan pemerintah, jadi rokok harganya naik. Ya moga-moga petani juga dapat untung dari situ.\"<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
Komentar Mbah Gimin mengingatkan saya pada buku karya James C. Scott berjudul Weapon of the Weak. Dari James C. Scott itulah kemudian muncul teori perlawanan kaum tani yang kerap disebut teori Scottian. Melawan meskipun kalah. Melawan dengan cara khas petani. Main belakang, seakan mengiyakan dan menyetujui, tetapi diam-diam melawan. <\/p>\n\n\n\n
Selain kasus cukai rokok ini, perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin juga sudah saya dengar kemasyhurannya jauh-jauh hari, lewat perlawanan Mbah Gimin terhadap maraknya investasi di kampung yang mengubah lahan pertanian menjadi perumahan-perumahan kluster. Ia tak melawan secara frontal, tidak juga menyalahkan petani lain yang melepas lahannya untuk dibeli pemborong perumahan. <\/p>\n\n\n\n
Ia tak berkomentar pedas akan hal itu. Lebih memilih diam dan terkesan menyetujui maraknya penjualan tanah di kampung. Namun, Ia tetap melawan secara mandiri, dengan tidak mau menjual lahan pertaniannya meskipun berkali-kali dirayu investor dengan harga mahal karena lokasinya strategis. Ia juga menyabotase akses masuk ke lokasi perumahan yang jika lewat lahan miliknya, lebih strategis dan mudah terakses. Namun karena perlawanannya dengan cara tak mau menjual lahan miliknya meskipun sedikit saja untuk jalan, akses jalan menuju perumahan itu harus sedikit memutar. Perlawanan khas Scottian.<\/p>\n\n\n\n
Saya kira, apa yang dilakukan Mbah Gimin, patut pula dicontoh untuk gerakan melawan kenaikan harga rokok. Ya sudah, mau apa lagi, terima saja dulu, biar saja. Tapi kita cukupkan saja dengan persetujuan itu, cukup. Tidak usah beli rokok lagi, dan bersetia pada tingwe.<\/p>\n","post_title":"Perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perlawanan-scottian-ala-mbah-gimin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-23 10:03:11","post_modified_gmt":"2020-01-23 03:03:11","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6399","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6445","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6435,"post_author":"878","post_date":"2020-02-04 09:47:07","post_date_gmt":"2020-02-04 02:47:07","post_content":"\nDi tengah gempuran pasar global yang seakan tak memiliki batas, dengan produk-produk impor yang menjejali negeri ini, juga ekspansi industri-industri besar multinasional yang membangun pabrik-pabrik mereka di Indonesia, apakah masih ada industri skala besar nasional yang masih mampu mengharumkan nama Indonesia sebagai produsen utamanya? Jawabannya ada, namun sedikit.
Satu dari yang sedikit itu, tak lain dan tak bukan adalah industri rokok kretek yang ada di negeri ini. Mulanya, rokok kretek ditemukan secara tak sengaja oleh Haji Djamhari di Kudus pada periode akhir abad 19. Selanjutnya, lewat tangan dingin Nitisemito dengan brand pabrik rokok Tjap Bal Tiga miliknya, rokok kretek kemudian masuk produk skala industri. Perlahan tapi pasti, rokok kretek kemudian berhasil menguasai pasar rokok nasional, mengambil alih besarnya permintaan konsumen rokok yang sebelumnya dikuasai produk rokok putihan.
Bahwasanya pasar industri rokok kretek juga ikut disasar pabrikan-pabrikan multinasional, itu tak bisa dimungkiri karena kue keuntungan dari industri ini memang begitu menjanjikan. Namun, hingga hari ini, industri rokok kretek masih dikuasai oleh pabrikan dalam negeri.
Lebih dari itu, mulai dari bahan baku berupa tembakau dan cengkeh juga dipasok dari sektor perkebunan nasional. Besarnya industri ini, juga menyerap tenaga kerja mendekati enam juta jiwa. Jumlah enam juta jiwa itu meliputi pekerja mulai dari hulu di perkebunan hingga pekerja-pekerja di pabrik-pabrik rokok. Jika ditambah dengan pedagang asongan dan pedagang rokok skala kecil, jumlah enam juta jiwa akan bertambah kian banyak.
Dua bahan baku utama industri kretek, berupa tembakau dan cengkeh, hampir seluruhnya dipasok dari sektor perkebunan nasional. Cengkeh untuk kretek sepenuhnya diambil dari sektor perkebunan nasional. Ini wajar karena Indonesia hingga hari ini menduduki peringkat pertama produsen cengkeh di dunia. Industri kretek menyerap sekitar 94 persen dari produksi cengkeh nasional setiap tahunnya.
Untuk sektor tembakau, memang ada bahan baku yang didapat dari hasil impor. Ini terjadi lebih karena kurangnya produksi tahunan tembakau untuk memenuhi kebutuhan industri rokok kretek nasional. Padahal sejauh ini Indonesia menduduki peringkat enam penghasil tembakau di dunia.
Tanaman cengkeh mulanya adalah tanaman endemik dari beberapa pulau di Kepulauan Maluku. Selepas berakhirnya monopoli cengkeh yang dilakukan penjajah Belanda, tanaman cengkeh menyebar ke pulau-pulau lain di Indonesia. Tanaman cengkeh selanjutnya dibawa ke luar negeri dan ditanam di beberapa negara dengam kondisi cuaca mirip Indonesia. Yang paling terkenal, cengkeh yang ditanam di Zanzibar, Afrika. Namun begitu, hingga hari ini, Indonesia masih menjadi produsen utama dan terbesar cengkeh di dunia.
Dari sekira 561 ribu hektar luas lahan perkebunan cengkeh nasional, setiap tahunnya produksi cengkeh kering berkisar antara 100 ribu hingga 150 ribu ton. Lebih dari 90 persen produksi cengkeh nasional kemudian diserap oleh industri kretek nasional. Sisanya menjadi komoditas ekspor dengan Arab Saudi, India, dan Sudan menjadi negara tujuan ekspor cengkeh.
Dalam satu tahun, permintaan tembakau dari pabrikan-pabrikan rokok yang ada di Indonesia berkisar antara 300 ribu hingga 350 ribu ton. Sejauh ini, sektor perkebunan tembakau nasional memiliki angka produksi fluktuatif tergantung cuaca, mencapai antara 100 ribu hingga 200 ribu ton. Jumlah itu dihasilkan dari luasan lahan mencapai 250 ribu hektar yang tersebar di 15 provinsi.
Belum selesai sampai di situ. Selain bahan baku dan para pekerja yang membikin geliat industri kretek nasional bergairah, pangsa pasar hasil industri ini juga begitu menjanjikan dalam menjalankan roda ekonomi nasional. Konsumen produk rokok kretek nasional adalah konsumen terbesar di Indonesia. Lebih dari 90 persen pasar rokok nasional dikuasai rokok kretek. Dari sana, negara mendapat keuntungan tak sedikit lewat cukai rokok. Tak kurang setiap tahunnya hasil cukai rokok berada pada angka Rp140 trilyun, setidaknya sepanjang 10 tahun belakangan.
Dari sini, tak bisa dibantah bahwasanya produk kretek bisa dibanggakan oleh negara ini, nasonalisme lewat produk kretek sejatinya bisa dibangun karena produk ini mulai dari hulu hingga hilir digerakkan oleh anak-anak negeri, dan memberikan keuntungan ekonomi yang tak sedikit pada negara. Nasionalisme dalam sebatang kretek.
Bahan baku utamanya diproduksi di dalam negeri oleh petani-petani kita, pekerja di pabrik-pabrik kretek juga orang asli Indonesia, pemilik pabriknya, juga orang Indonesia, lantas yang terakhir, konsumennya juga orang Indonesia, begitulah sejatinya industri nasional yang mesti dibanggakan. Maka, tak salah jika kita mendeklarasikan diri bahwa: Indonesia Republik Kretek.<\/p>\n","post_title":"Indonesia Republik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-republik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-04 09:47:16","post_modified_gmt":"2020-02-04 02:47:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6435","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6425,"post_author":"878","post_date":"2020-02-01 11:08:43","post_date_gmt":"2020-02-01 04:08:43","post_content":"\nBeberapa waktu lalu, beredar berita perihal subsidi yang diterima perusahaan sawit dari negara. Tak tanggung-tanggung, subsidi yang digelontorkan berjumlah tak kurang dari 7,5 trilyun. Sebuah angka yang fantastis.
\nYang lebih mengejutkan lagi, subsidi sebanyak 7,5 trilyun itu diterima hanya oleh 5 perusahaan sawit saja. Dari sini jelas terlihat betapa negara begitu memanjakan perusahaan sawit yang setiap tahun tak pernah absen dalam partisipasi pembakaran hutan di beberapa wilayah di negeri ini.
\nSalah satu alasan penggelontoran subsidi sebanyak itu adalah untuk pengembangan pengolahan hasil perkebunan sawit menjadi biodisel. Selanjutnya, biodisel hasil kembangan itu akan diserap oleh Pertamina dan PLN sebagai konsumennya. Oleh Pertamina, biodisel tersebut akan dipasarka melalui SPBU-SPBU yang tersebar di penjuru negeri, sedang PLN menggunakan biodisel tersebut sebagai bahan bakar pembangkit-pembangkit listrik milik mereka.
\nJadi, selain penggelontoran subsidi, pemerintah juga sudah menjamin serapan hasil kembangan perusahaan sawit di bidang biodisel. Sebuah kenyamanan yang membikin iri banyak bidang lainnya terutama sektor pertanian dan perkebunan lain yang selama ini tak terlalu diperhatikan pemerintah.
\nAngka subsidi yang digelontorkan pemerintah kepada lima perusahaan sawit tersebut, angkanya jauh lebih tinggi dibanding pendapatan yang diterima pemerintah dari pajak perusahaan sawit itu. Sudah bukan rahasia lagi, kebocoran penerimaan pajak dari sektor perkebunan sawit membikin negara merugi trilyunan rupiah setiap tahunnya.
\nDi tengah kondisi semacam itu, pengemplangan pajak yang rutin dilakukan oleh perusahaan sawit, negara tetap dengan baik hati memberi subsidi yang tak sedikit untuk mereka. Tak pelak lagi, sawit menjadi anak emas dalam sektor pertanian dan perkebunan di negeri ini.
\nLantas, mari kita bandingkan dengan sektor pertanian dan perkebunan yang setiap tahun rutin memberikan pemasukan tak sedikit bagi negara. Bidang pertanian dan perkebunan yang sepenuhnya dijalankan oleh anak-anak negeri, yang sesungguhnya bisa dibanggakan oleh negara karena selain pajak dan cukai dari hasil olahannya yang memberikan pemasukan begitu melimpah kepada negara, sektor ini juga sangat potensial menjadi produk kebanggan nasional karena dari hulu hingga hilir hampir seluruhnya diproduksi dan dikonsumsi oleh anak-anak bangsa. Itu adalah sektor pertembakauan dan perkebunan cengkeh dengan hasil olahannya berupa rokok kretek.
\nAda sekira enam juta manusia yang terlibat langsung dalam perkebunan tembakau dan cengkeh di negeri ini. Dua juta di sektor tembakau, dan empat juta di sektor cengkeh. Dari dua sektor itu yang lantas menghasilkan produk bernama rokok kretek, setiap tahunnya negara menerima pemasukan dari cukai tak kurang dari 140 trilyun, setidaknya selama 10 tahun terakhir.
\nTetapi, apakah mereka para petani di dua sektor perkebunan itu mendapat subsidi yang selayaknya dari negara? Subsidi itu ada, dalam bentuk Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) yang besarannya dibagi berdasarkan wilayah per kabupaten, yang angkanya tentu saja tak se-fantastis subsidi cuma-cuma yang diterima perusahaan sawit.
\nLalu untuk apa alokasi DBHCHT di sektor pertanian tembakau dan cengkeh itu? Berbeda dengan subsidi yang diterima perusahaan sawit yang sepenuhnya digunakan untuk pengembangan industri di hilir, DBHCHT untuk sektor tembakau dan cengkeh malah digunakan sebaliknya, untuk menghancurkan sektor perkebunan yang semestinya menjadi sektor perkebunan strategis nasional ini.
\nDengan alasan kesehatan, dana yang semestinya digunakan untuk mengembangkan perkebunan tembakau dan cengkeh supaya lebih maju lagi, malah digunakan untuk memberangus dua perkebunan itu. Dana itu digunakan sebagian besarnya untuk penyuluhan-penyuluhan kepada para petani agar mengganti usaha perkebunan tembakau dan cengkeh mereka ke komoditas pertanian dan perkebunan lainnya. Sebuah ironi yang menyedihkan.
\nDi luar itu, dana DBHCHT yang sumber utama pemasukannya dari dua komoditas itu, juga digunakan untuk menggembosi rokok kretek yang merupakan hasil turunan dari sektor tembakau dan cengkeh. Bayangkan, tanpa diberikan subsidi, tetapi menggunakan uang cukai yang dihasilkan dua sektor perkebunan itu, dana itu digunakan malahan untuk menggembosi dua sektor perkebunan itu.
\nDari sini, bisa kita lihat, jika perkebunan sawit menjadi anak emas negara, sebaliknya, perkebunan tembakau dan cengkeh dijadikan anak tiri oleh negara yang terus menerus digembosi. Keuntungannya diambil banyak oleh negara, sebagian keuntungan itu, digunakan secara tak langsung untuk menghancurkan sektor perkebunan tembakau dan cengkeh.
\nPerkebunan tembakau dan cengkeh, yang keduanya semestinya menjadi komoditas strategis nasional, malah dinistakan oleh negara yang sesungguhnya mengambil banyak keuntungan dari sana. Paradoks yang memuakkan.<\/p>\n","post_title":"Tembakau dan Cengkeh, Komoditas Perkebunan Strategis Nasional yang Dinistakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-dan-cengkeh-komoditas-perkebunan-strategis-nasional-yang-dinistakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-01 11:08:51","post_modified_gmt":"2020-02-01 04:08:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6399,"post_author":"878","post_date":"2020-01-23 10:03:09","post_date_gmt":"2020-01-23 03:03:09","post_content":"\nUsai memberi salam lantas duduk di kursi kayu di halaman depan rumah kontrakan saya, Mbah Gimin mengeluarkan slepen (wadah tembakau rajangan) dari saku kemeja di dada kirinya, membuka slepen, mengeluarkan kertas linting dari dalamnya, membuka lebar-lebar kertas linting, mengambil sejumput tembakau lalu Ia taruh di atas kertas linting, menaburi beberapa butir cengkeh kering di atas tembakau, lantas menggulung kertas linting itu menjadi bentuk kerucut. <\/p>\n\n\n\n
Mbah Gimin tak bicara sepanjang proses melinting itu. Usai mengulum ujung lintingan sisi lebih kecil, Mbah Gimin mengambil geretan kayu dari sakunya, menyalakan sebatang geretan dengan pemantik yang ada di kedua sisi kotak geretan, membakar ujung lintingan bagian besar, menyedot asap hasil pembakaran, menghembuskannya beberapa kali, baru kemudian Ia berbicara kepada saya yang sedari tadi duduk di hadapannya memperhatikan Ia yang sedang melinting, \"Bagaimana kabarmu, Le, bagaimana rasanya punya anak?\"<\/p>\n\n\n\n
Baca: Meluruskan Nalar Baca Data Susenas September 2019<\/a><\/p>\n\n\n\n
Di kampung, tak ada yang tahu usia Mbah Gimin. Saat saya tanyakan langsung usianya, Mbah Gimin menjawab, \"Mbuh, Le!\" Lantas tertawa. Saya ikut tertawa. Sejak pertama kali berjumpa dengan Mbah Gimin sekira empat tahun lalu, Mbah Gimin tak pernah lepas dari ritual melinting tembakau. Slepennya juga yang itu-itu saja, tak pernah berganti. Jika ada yang berubah dari ritual melinting rokok Mbah Gimin, itu adalah hilangnya kemenyan dari racikan tembakau tingwe miliknya. Hilangnya kemenyan terjadi usai Lala, istri saya, protes kepada Mbah Gimin karena bagi Lala, aroma rokok tingwe bercampur kemenyan milik Mbah Gimin menimbulkan suasana horor dan menyeramkan.<\/p>\n\n\n\n
Sepengetahuan saya, Mbah Gimin orang paling sepuh di kampung, beberapa warga yang menginformasikan hal itu. Seluruh rambutnya sudah memutih. Sehari-hari, penampilannya selalu sama, berkemeja berwarna lusuh, dengan kain sarung yang selalu menutup bagian pinggang hingga betis. Mbah Gimin masih rutin bekerja di sawah. Menanam padi di musim tanam padi, dan palawija di musim lainnya. Ia juga masih ngarit, mencari rumput untuk makan dua ekor kambing peliharaannya.<\/p>\n\n\n\n
\"Kabar saya baik, Mbah. Rasanya punya anak? Ya senang, Mbah. Tapi ada juga banyak ketakutan yang datang dan kekhawatiran yang timbul setelah saya punya anak.\"<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
Sepanjang empat tahun tinggal di kampung ini, dengan Mbah Gimin saya paling sering berbincang di luar dengan Pak RT yang juga pemilik rumah yang saya sewa selama empat tahun belakangan. Sekali dua kami berbincang di halaman masjid kampung, pernah juga di sawah yang sedang ia garap, paling sering, di halaman rumah saya, seperti beberapa malam lalu ketika Jogja sedang panas-panasnya padahal semestinya ini puncak musim hujan.<\/p>\n\n\n\n
Baca: Cukai rokok: Dari perokok, oleh perokok dan untuk perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n
Kami berbincang perihal apa saja. Yang paling sering, tentang kampung tempat kami tinggal dan keseharian Mbah Gimin di masa lampau hingga kini. Sekali dua, Mbah Gimin juga kerap mengantar hasil bumi ke rumah saya. Beras, ketela, cabai, dan beberapa jenis sayur yang Ia tanam. <\/p>\n\n\n\n
Mbah Gimin hidup seorang diri di kampung. Dua orang istrinya sudah lama meninggal. Tidak, Mbah Gimin tidak poligami. Mbah Gimin menikah enam tahun usai istri pertamanya meninggal. Tiga tahun kemudian, istri keduanya meninggal dunia. Bersama istri pertama, lahir dua orang anak, keduanya tinggal bersama suami mereka di luar kampung. Satu di Gunung Kidul, satu lagi di Klaten. Dengan istri kedua, tidak ada anak.<\/p>\n\n\n\n
\"Wajar itu. Senang ya wajar. Takut dan khawatir ya wajar. Jadi ya tenang saja. Apalagi ini anak pertamakan. Wajar.\" Ujar Mbah Gimin, lantas mengisap rokok tingwe lalu menghembuskan asap dengan santai dari mulut dan hidung.<\/p>\n\n\n\n
\"Mbah sejak kapan merokok tingwe?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Wah, sudah lama. Ya sejak mulai merokok.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Nggak pernah coba rokok pabrikan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Sesekali pernah. Tapi rasanya nggak ada yang pas.\"<\/p>\n\n\n\n
Baca: Sejarah Singkat Perkembangan Cukai Rokok dan DBHCHT di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n
Beberapa waktu belakangan, rokok tingwe kembali populer. Setelah sebelumnya dicap sebagai selera kolot, kini banyak anak muda yang menjadikan rokok tingwe sebagai keseharian gaya hidup, meninggalkan rokok pabrikan yang banyak beredar di pasaran. Lebih lagi usai harga rokok naik setelah cukai rokok dikerek naik dengan drastis oleh pemerintah. Membicarakan rokok tingwe, tentu saja saya teringat Mbah Gimin yang lama bersetia pada rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n
Ketika saya menginformasikan perihal kembali semaraknya orang-orang memilih rokok tingwe, dan menjadikan itu sebagai protes perlawanan akibat kenaikan cukai dan kenaikan harga rokok pabrikan, Mbah Gimin tersenyum, kemudian berujar, <\/p>\n\n\n\n
\"Mungkin itu untuk kebaikan pemerintah, jadi rokok harganya naik. Ya moga-moga petani juga dapat untung dari situ.\"<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
Komentar Mbah Gimin mengingatkan saya pada buku karya James C. Scott berjudul Weapon of the Weak. Dari James C. Scott itulah kemudian muncul teori perlawanan kaum tani yang kerap disebut teori Scottian. Melawan meskipun kalah. Melawan dengan cara khas petani. Main belakang, seakan mengiyakan dan menyetujui, tetapi diam-diam melawan. <\/p>\n\n\n\n
Selain kasus cukai rokok ini, perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin juga sudah saya dengar kemasyhurannya jauh-jauh hari, lewat perlawanan Mbah Gimin terhadap maraknya investasi di kampung yang mengubah lahan pertanian menjadi perumahan-perumahan kluster. Ia tak melawan secara frontal, tidak juga menyalahkan petani lain yang melepas lahannya untuk dibeli pemborong perumahan. <\/p>\n\n\n\n
Ia tak berkomentar pedas akan hal itu. Lebih memilih diam dan terkesan menyetujui maraknya penjualan tanah di kampung. Namun, Ia tetap melawan secara mandiri, dengan tidak mau menjual lahan pertaniannya meskipun berkali-kali dirayu investor dengan harga mahal karena lokasinya strategis. Ia juga menyabotase akses masuk ke lokasi perumahan yang jika lewat lahan miliknya, lebih strategis dan mudah terakses. Namun karena perlawanannya dengan cara tak mau menjual lahan miliknya meskipun sedikit saja untuk jalan, akses jalan menuju perumahan itu harus sedikit memutar. Perlawanan khas Scottian.<\/p>\n\n\n\n
Saya kira, apa yang dilakukan Mbah Gimin, patut pula dicontoh untuk gerakan melawan kenaikan harga rokok. Ya sudah, mau apa lagi, terima saja dulu, biar saja. Tapi kita cukupkan saja dengan persetujuan itu, cukup. Tidak usah beli rokok lagi, dan bersetia pada tingwe.<\/p>\n","post_title":"Perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perlawanan-scottian-ala-mbah-gimin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-23 10:03:11","post_modified_gmt":"2020-01-23 03:03:11","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6399","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\r\nSelanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n
Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n
Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n
Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n
Tradisi Kretek<\/h3>\r\n
Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n
Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n
Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n
Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n
Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\nPeran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n
Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n
Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n
Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n
Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6445","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6435,"post_author":"878","post_date":"2020-02-04 09:47:07","post_date_gmt":"2020-02-04 02:47:07","post_content":"\n
Di tengah gempuran pasar global yang seakan tak memiliki batas, dengan produk-produk impor yang menjejali negeri ini, juga ekspansi industri-industri besar multinasional yang membangun pabrik-pabrik mereka di Indonesia, apakah masih ada industri skala besar nasional yang masih mampu mengharumkan nama Indonesia sebagai produsen utamanya? Jawabannya ada, namun sedikit.
Satu dari yang sedikit itu, tak lain dan tak bukan adalah industri rokok kretek yang ada di negeri ini. Mulanya, rokok kretek ditemukan secara tak sengaja oleh Haji Djamhari di Kudus pada periode akhir abad 19. Selanjutnya, lewat tangan dingin Nitisemito dengan brand pabrik rokok Tjap Bal Tiga miliknya, rokok kretek kemudian masuk produk skala industri. Perlahan tapi pasti, rokok kretek kemudian berhasil menguasai pasar rokok nasional, mengambil alih besarnya permintaan konsumen rokok yang sebelumnya dikuasai produk rokok putihan.
Bahwasanya pasar industri rokok kretek juga ikut disasar pabrikan-pabrikan multinasional, itu tak bisa dimungkiri karena kue keuntungan dari industri ini memang begitu menjanjikan. Namun, hingga hari ini, industri rokok kretek masih dikuasai oleh pabrikan dalam negeri.
Lebih dari itu, mulai dari bahan baku berupa tembakau dan cengkeh juga dipasok dari sektor perkebunan nasional. Besarnya industri ini, juga menyerap tenaga kerja mendekati enam juta jiwa. Jumlah enam juta jiwa itu meliputi pekerja mulai dari hulu di perkebunan hingga pekerja-pekerja di pabrik-pabrik rokok. Jika ditambah dengan pedagang asongan dan pedagang rokok skala kecil, jumlah enam juta jiwa akan bertambah kian banyak.
Dua bahan baku utama industri kretek, berupa tembakau dan cengkeh, hampir seluruhnya dipasok dari sektor perkebunan nasional. Cengkeh untuk kretek sepenuhnya diambil dari sektor perkebunan nasional. Ini wajar karena Indonesia hingga hari ini menduduki peringkat pertama produsen cengkeh di dunia. Industri kretek menyerap sekitar 94 persen dari produksi cengkeh nasional setiap tahunnya.
Untuk sektor tembakau, memang ada bahan baku yang didapat dari hasil impor. Ini terjadi lebih karena kurangnya produksi tahunan tembakau untuk memenuhi kebutuhan industri rokok kretek nasional. Padahal sejauh ini Indonesia menduduki peringkat enam penghasil tembakau di dunia.
Tanaman cengkeh mulanya adalah tanaman endemik dari beberapa pulau di Kepulauan Maluku. Selepas berakhirnya monopoli cengkeh yang dilakukan penjajah Belanda, tanaman cengkeh menyebar ke pulau-pulau lain di Indonesia. Tanaman cengkeh selanjutnya dibawa ke luar negeri dan ditanam di beberapa negara dengam kondisi cuaca mirip Indonesia. Yang paling terkenal, cengkeh yang ditanam di Zanzibar, Afrika. Namun begitu, hingga hari ini, Indonesia masih menjadi produsen utama dan terbesar cengkeh di dunia.
Dari sekira 561 ribu hektar luas lahan perkebunan cengkeh nasional, setiap tahunnya produksi cengkeh kering berkisar antara 100 ribu hingga 150 ribu ton. Lebih dari 90 persen produksi cengkeh nasional kemudian diserap oleh industri kretek nasional. Sisanya menjadi komoditas ekspor dengan Arab Saudi, India, dan Sudan menjadi negara tujuan ekspor cengkeh.
Dalam satu tahun, permintaan tembakau dari pabrikan-pabrikan rokok yang ada di Indonesia berkisar antara 300 ribu hingga 350 ribu ton. Sejauh ini, sektor perkebunan tembakau nasional memiliki angka produksi fluktuatif tergantung cuaca, mencapai antara 100 ribu hingga 200 ribu ton. Jumlah itu dihasilkan dari luasan lahan mencapai 250 ribu hektar yang tersebar di 15 provinsi.
Belum selesai sampai di situ. Selain bahan baku dan para pekerja yang membikin geliat industri kretek nasional bergairah, pangsa pasar hasil industri ini juga begitu menjanjikan dalam menjalankan roda ekonomi nasional. Konsumen produk rokok kretek nasional adalah konsumen terbesar di Indonesia. Lebih dari 90 persen pasar rokok nasional dikuasai rokok kretek. Dari sana, negara mendapat keuntungan tak sedikit lewat cukai rokok. Tak kurang setiap tahunnya hasil cukai rokok berada pada angka Rp140 trilyun, setidaknya sepanjang 10 tahun belakangan.
Dari sini, tak bisa dibantah bahwasanya produk kretek bisa dibanggakan oleh negara ini, nasonalisme lewat produk kretek sejatinya bisa dibangun karena produk ini mulai dari hulu hingga hilir digerakkan oleh anak-anak negeri, dan memberikan keuntungan ekonomi yang tak sedikit pada negara. Nasionalisme dalam sebatang kretek.
Bahan baku utamanya diproduksi di dalam negeri oleh petani-petani kita, pekerja di pabrik-pabrik kretek juga orang asli Indonesia, pemilik pabriknya, juga orang Indonesia, lantas yang terakhir, konsumennya juga orang Indonesia, begitulah sejatinya industri nasional yang mesti dibanggakan. Maka, tak salah jika kita mendeklarasikan diri bahwa: Indonesia Republik Kretek.<\/p>\n","post_title":"Indonesia Republik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-republik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-04 09:47:16","post_modified_gmt":"2020-02-04 02:47:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6435","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6425,"post_author":"878","post_date":"2020-02-01 11:08:43","post_date_gmt":"2020-02-01 04:08:43","post_content":"\nBeberapa waktu lalu, beredar berita perihal subsidi yang diterima perusahaan sawit dari negara. Tak tanggung-tanggung, subsidi yang digelontorkan berjumlah tak kurang dari 7,5 trilyun. Sebuah angka yang fantastis.
\nYang lebih mengejutkan lagi, subsidi sebanyak 7,5 trilyun itu diterima hanya oleh 5 perusahaan sawit saja. Dari sini jelas terlihat betapa negara begitu memanjakan perusahaan sawit yang setiap tahun tak pernah absen dalam partisipasi pembakaran hutan di beberapa wilayah di negeri ini.
\nSalah satu alasan penggelontoran subsidi sebanyak itu adalah untuk pengembangan pengolahan hasil perkebunan sawit menjadi biodisel. Selanjutnya, biodisel hasil kembangan itu akan diserap oleh Pertamina dan PLN sebagai konsumennya. Oleh Pertamina, biodisel tersebut akan dipasarka melalui SPBU-SPBU yang tersebar di penjuru negeri, sedang PLN menggunakan biodisel tersebut sebagai bahan bakar pembangkit-pembangkit listrik milik mereka.
\nJadi, selain penggelontoran subsidi, pemerintah juga sudah menjamin serapan hasil kembangan perusahaan sawit di bidang biodisel. Sebuah kenyamanan yang membikin iri banyak bidang lainnya terutama sektor pertanian dan perkebunan lain yang selama ini tak terlalu diperhatikan pemerintah.
\nAngka subsidi yang digelontorkan pemerintah kepada lima perusahaan sawit tersebut, angkanya jauh lebih tinggi dibanding pendapatan yang diterima pemerintah dari pajak perusahaan sawit itu. Sudah bukan rahasia lagi, kebocoran penerimaan pajak dari sektor perkebunan sawit membikin negara merugi trilyunan rupiah setiap tahunnya.
\nDi tengah kondisi semacam itu, pengemplangan pajak yang rutin dilakukan oleh perusahaan sawit, negara tetap dengan baik hati memberi subsidi yang tak sedikit untuk mereka. Tak pelak lagi, sawit menjadi anak emas dalam sektor pertanian dan perkebunan di negeri ini.
\nLantas, mari kita bandingkan dengan sektor pertanian dan perkebunan yang setiap tahun rutin memberikan pemasukan tak sedikit bagi negara. Bidang pertanian dan perkebunan yang sepenuhnya dijalankan oleh anak-anak negeri, yang sesungguhnya bisa dibanggakan oleh negara karena selain pajak dan cukai dari hasil olahannya yang memberikan pemasukan begitu melimpah kepada negara, sektor ini juga sangat potensial menjadi produk kebanggan nasional karena dari hulu hingga hilir hampir seluruhnya diproduksi dan dikonsumsi oleh anak-anak bangsa. Itu adalah sektor pertembakauan dan perkebunan cengkeh dengan hasil olahannya berupa rokok kretek.
\nAda sekira enam juta manusia yang terlibat langsung dalam perkebunan tembakau dan cengkeh di negeri ini. Dua juta di sektor tembakau, dan empat juta di sektor cengkeh. Dari dua sektor itu yang lantas menghasilkan produk bernama rokok kretek, setiap tahunnya negara menerima pemasukan dari cukai tak kurang dari 140 trilyun, setidaknya selama 10 tahun terakhir.
\nTetapi, apakah mereka para petani di dua sektor perkebunan itu mendapat subsidi yang selayaknya dari negara? Subsidi itu ada, dalam bentuk Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) yang besarannya dibagi berdasarkan wilayah per kabupaten, yang angkanya tentu saja tak se-fantastis subsidi cuma-cuma yang diterima perusahaan sawit.
\nLalu untuk apa alokasi DBHCHT di sektor pertanian tembakau dan cengkeh itu? Berbeda dengan subsidi yang diterima perusahaan sawit yang sepenuhnya digunakan untuk pengembangan industri di hilir, DBHCHT untuk sektor tembakau dan cengkeh malah digunakan sebaliknya, untuk menghancurkan sektor perkebunan yang semestinya menjadi sektor perkebunan strategis nasional ini.
\nDengan alasan kesehatan, dana yang semestinya digunakan untuk mengembangkan perkebunan tembakau dan cengkeh supaya lebih maju lagi, malah digunakan untuk memberangus dua perkebunan itu. Dana itu digunakan sebagian besarnya untuk penyuluhan-penyuluhan kepada para petani agar mengganti usaha perkebunan tembakau dan cengkeh mereka ke komoditas pertanian dan perkebunan lainnya. Sebuah ironi yang menyedihkan.
\nDi luar itu, dana DBHCHT yang sumber utama pemasukannya dari dua komoditas itu, juga digunakan untuk menggembosi rokok kretek yang merupakan hasil turunan dari sektor tembakau dan cengkeh. Bayangkan, tanpa diberikan subsidi, tetapi menggunakan uang cukai yang dihasilkan dua sektor perkebunan itu, dana itu digunakan malahan untuk menggembosi dua sektor perkebunan itu.
\nDari sini, bisa kita lihat, jika perkebunan sawit menjadi anak emas negara, sebaliknya, perkebunan tembakau dan cengkeh dijadikan anak tiri oleh negara yang terus menerus digembosi. Keuntungannya diambil banyak oleh negara, sebagian keuntungan itu, digunakan secara tak langsung untuk menghancurkan sektor perkebunan tembakau dan cengkeh.
\nPerkebunan tembakau dan cengkeh, yang keduanya semestinya menjadi komoditas strategis nasional, malah dinistakan oleh negara yang sesungguhnya mengambil banyak keuntungan dari sana. Paradoks yang memuakkan.<\/p>\n","post_title":"Tembakau dan Cengkeh, Komoditas Perkebunan Strategis Nasional yang Dinistakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-dan-cengkeh-komoditas-perkebunan-strategis-nasional-yang-dinistakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-01 11:08:51","post_modified_gmt":"2020-02-01 04:08:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6399,"post_author":"878","post_date":"2020-01-23 10:03:09","post_date_gmt":"2020-01-23 03:03:09","post_content":"\nUsai memberi salam lantas duduk di kursi kayu di halaman depan rumah kontrakan saya, Mbah Gimin mengeluarkan slepen (wadah tembakau rajangan) dari saku kemeja di dada kirinya, membuka slepen, mengeluarkan kertas linting dari dalamnya, membuka lebar-lebar kertas linting, mengambil sejumput tembakau lalu Ia taruh di atas kertas linting, menaburi beberapa butir cengkeh kering di atas tembakau, lantas menggulung kertas linting itu menjadi bentuk kerucut. <\/p>\n\n\n\n
Mbah Gimin tak bicara sepanjang proses melinting itu. Usai mengulum ujung lintingan sisi lebih kecil, Mbah Gimin mengambil geretan kayu dari sakunya, menyalakan sebatang geretan dengan pemantik yang ada di kedua sisi kotak geretan, membakar ujung lintingan bagian besar, menyedot asap hasil pembakaran, menghembuskannya beberapa kali, baru kemudian Ia berbicara kepada saya yang sedari tadi duduk di hadapannya memperhatikan Ia yang sedang melinting, \"Bagaimana kabarmu, Le, bagaimana rasanya punya anak?\"<\/p>\n\n\n\n
Baca: Meluruskan Nalar Baca Data Susenas September 2019<\/a><\/p>\n\n\n\n
Di kampung, tak ada yang tahu usia Mbah Gimin. Saat saya tanyakan langsung usianya, Mbah Gimin menjawab, \"Mbuh, Le!\" Lantas tertawa. Saya ikut tertawa. Sejak pertama kali berjumpa dengan Mbah Gimin sekira empat tahun lalu, Mbah Gimin tak pernah lepas dari ritual melinting tembakau. Slepennya juga yang itu-itu saja, tak pernah berganti. Jika ada yang berubah dari ritual melinting rokok Mbah Gimin, itu adalah hilangnya kemenyan dari racikan tembakau tingwe miliknya. Hilangnya kemenyan terjadi usai Lala, istri saya, protes kepada Mbah Gimin karena bagi Lala, aroma rokok tingwe bercampur kemenyan milik Mbah Gimin menimbulkan suasana horor dan menyeramkan.<\/p>\n\n\n\n
Sepengetahuan saya, Mbah Gimin orang paling sepuh di kampung, beberapa warga yang menginformasikan hal itu. Seluruh rambutnya sudah memutih. Sehari-hari, penampilannya selalu sama, berkemeja berwarna lusuh, dengan kain sarung yang selalu menutup bagian pinggang hingga betis. Mbah Gimin masih rutin bekerja di sawah. Menanam padi di musim tanam padi, dan palawija di musim lainnya. Ia juga masih ngarit, mencari rumput untuk makan dua ekor kambing peliharaannya.<\/p>\n\n\n\n
\"Kabar saya baik, Mbah. Rasanya punya anak? Ya senang, Mbah. Tapi ada juga banyak ketakutan yang datang dan kekhawatiran yang timbul setelah saya punya anak.\"<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
Sepanjang empat tahun tinggal di kampung ini, dengan Mbah Gimin saya paling sering berbincang di luar dengan Pak RT yang juga pemilik rumah yang saya sewa selama empat tahun belakangan. Sekali dua kami berbincang di halaman masjid kampung, pernah juga di sawah yang sedang ia garap, paling sering, di halaman rumah saya, seperti beberapa malam lalu ketika Jogja sedang panas-panasnya padahal semestinya ini puncak musim hujan.<\/p>\n\n\n\n
Baca: Cukai rokok: Dari perokok, oleh perokok dan untuk perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n
Kami berbincang perihal apa saja. Yang paling sering, tentang kampung tempat kami tinggal dan keseharian Mbah Gimin di masa lampau hingga kini. Sekali dua, Mbah Gimin juga kerap mengantar hasil bumi ke rumah saya. Beras, ketela, cabai, dan beberapa jenis sayur yang Ia tanam. <\/p>\n\n\n\n
Mbah Gimin hidup seorang diri di kampung. Dua orang istrinya sudah lama meninggal. Tidak, Mbah Gimin tidak poligami. Mbah Gimin menikah enam tahun usai istri pertamanya meninggal. Tiga tahun kemudian, istri keduanya meninggal dunia. Bersama istri pertama, lahir dua orang anak, keduanya tinggal bersama suami mereka di luar kampung. Satu di Gunung Kidul, satu lagi di Klaten. Dengan istri kedua, tidak ada anak.<\/p>\n\n\n\n
\"Wajar itu. Senang ya wajar. Takut dan khawatir ya wajar. Jadi ya tenang saja. Apalagi ini anak pertamakan. Wajar.\" Ujar Mbah Gimin, lantas mengisap rokok tingwe lalu menghembuskan asap dengan santai dari mulut dan hidung.<\/p>\n\n\n\n
\"Mbah sejak kapan merokok tingwe?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Wah, sudah lama. Ya sejak mulai merokok.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Nggak pernah coba rokok pabrikan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Sesekali pernah. Tapi rasanya nggak ada yang pas.\"<\/p>\n\n\n\n
Baca: Sejarah Singkat Perkembangan Cukai Rokok dan DBHCHT di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n
Beberapa waktu belakangan, rokok tingwe kembali populer. Setelah sebelumnya dicap sebagai selera kolot, kini banyak anak muda yang menjadikan rokok tingwe sebagai keseharian gaya hidup, meninggalkan rokok pabrikan yang banyak beredar di pasaran. Lebih lagi usai harga rokok naik setelah cukai rokok dikerek naik dengan drastis oleh pemerintah. Membicarakan rokok tingwe, tentu saja saya teringat Mbah Gimin yang lama bersetia pada rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n
Ketika saya menginformasikan perihal kembali semaraknya orang-orang memilih rokok tingwe, dan menjadikan itu sebagai protes perlawanan akibat kenaikan cukai dan kenaikan harga rokok pabrikan, Mbah Gimin tersenyum, kemudian berujar, <\/p>\n\n\n\n
\"Mungkin itu untuk kebaikan pemerintah, jadi rokok harganya naik. Ya moga-moga petani juga dapat untung dari situ.\"<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
Komentar Mbah Gimin mengingatkan saya pada buku karya James C. Scott berjudul Weapon of the Weak. Dari James C. Scott itulah kemudian muncul teori perlawanan kaum tani yang kerap disebut teori Scottian. Melawan meskipun kalah. Melawan dengan cara khas petani. Main belakang, seakan mengiyakan dan menyetujui, tetapi diam-diam melawan. <\/p>\n\n\n\n
Selain kasus cukai rokok ini, perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin juga sudah saya dengar kemasyhurannya jauh-jauh hari, lewat perlawanan Mbah Gimin terhadap maraknya investasi di kampung yang mengubah lahan pertanian menjadi perumahan-perumahan kluster. Ia tak melawan secara frontal, tidak juga menyalahkan petani lain yang melepas lahannya untuk dibeli pemborong perumahan. <\/p>\n\n\n\n
Ia tak berkomentar pedas akan hal itu. Lebih memilih diam dan terkesan menyetujui maraknya penjualan tanah di kampung. Namun, Ia tetap melawan secara mandiri, dengan tidak mau menjual lahan pertaniannya meskipun berkali-kali dirayu investor dengan harga mahal karena lokasinya strategis. Ia juga menyabotase akses masuk ke lokasi perumahan yang jika lewat lahan miliknya, lebih strategis dan mudah terakses. Namun karena perlawanannya dengan cara tak mau menjual lahan miliknya meskipun sedikit saja untuk jalan, akses jalan menuju perumahan itu harus sedikit memutar. Perlawanan khas Scottian.<\/p>\n\n\n\n
Saya kira, apa yang dilakukan Mbah Gimin, patut pula dicontoh untuk gerakan melawan kenaikan harga rokok. Ya sudah, mau apa lagi, terima saja dulu, biar saja. Tapi kita cukupkan saja dengan persetujuan itu, cukup. Tidak usah beli rokok lagi, dan bersetia pada tingwe.<\/p>\n","post_title":"Perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perlawanan-scottian-ala-mbah-gimin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-23 10:03:11","post_modified_gmt":"2020-01-23 03:03:11","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6399","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\r\n\r\n\r\nSelanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n
Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n
Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n
Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n
Tradisi Kretek<\/h3>\r\n
Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n
Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n
Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n
Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n
Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\nPeran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n
Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n
Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n
Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n
Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6445","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6435,"post_author":"878","post_date":"2020-02-04 09:47:07","post_date_gmt":"2020-02-04 02:47:07","post_content":"\n
Di tengah gempuran pasar global yang seakan tak memiliki batas, dengan produk-produk impor yang menjejali negeri ini, juga ekspansi industri-industri besar multinasional yang membangun pabrik-pabrik mereka di Indonesia, apakah masih ada industri skala besar nasional yang masih mampu mengharumkan nama Indonesia sebagai produsen utamanya? Jawabannya ada, namun sedikit.
Satu dari yang sedikit itu, tak lain dan tak bukan adalah industri rokok kretek yang ada di negeri ini. Mulanya, rokok kretek ditemukan secara tak sengaja oleh Haji Djamhari di Kudus pada periode akhir abad 19. Selanjutnya, lewat tangan dingin Nitisemito dengan brand pabrik rokok Tjap Bal Tiga miliknya, rokok kretek kemudian masuk produk skala industri. Perlahan tapi pasti, rokok kretek kemudian berhasil menguasai pasar rokok nasional, mengambil alih besarnya permintaan konsumen rokok yang sebelumnya dikuasai produk rokok putihan.
Bahwasanya pasar industri rokok kretek juga ikut disasar pabrikan-pabrikan multinasional, itu tak bisa dimungkiri karena kue keuntungan dari industri ini memang begitu menjanjikan. Namun, hingga hari ini, industri rokok kretek masih dikuasai oleh pabrikan dalam negeri.
Lebih dari itu, mulai dari bahan baku berupa tembakau dan cengkeh juga dipasok dari sektor perkebunan nasional. Besarnya industri ini, juga menyerap tenaga kerja mendekati enam juta jiwa. Jumlah enam juta jiwa itu meliputi pekerja mulai dari hulu di perkebunan hingga pekerja-pekerja di pabrik-pabrik rokok. Jika ditambah dengan pedagang asongan dan pedagang rokok skala kecil, jumlah enam juta jiwa akan bertambah kian banyak.
Dua bahan baku utama industri kretek, berupa tembakau dan cengkeh, hampir seluruhnya dipasok dari sektor perkebunan nasional. Cengkeh untuk kretek sepenuhnya diambil dari sektor perkebunan nasional. Ini wajar karena Indonesia hingga hari ini menduduki peringkat pertama produsen cengkeh di dunia. Industri kretek menyerap sekitar 94 persen dari produksi cengkeh nasional setiap tahunnya.
Untuk sektor tembakau, memang ada bahan baku yang didapat dari hasil impor. Ini terjadi lebih karena kurangnya produksi tahunan tembakau untuk memenuhi kebutuhan industri rokok kretek nasional. Padahal sejauh ini Indonesia menduduki peringkat enam penghasil tembakau di dunia.
Tanaman cengkeh mulanya adalah tanaman endemik dari beberapa pulau di Kepulauan Maluku. Selepas berakhirnya monopoli cengkeh yang dilakukan penjajah Belanda, tanaman cengkeh menyebar ke pulau-pulau lain di Indonesia. Tanaman cengkeh selanjutnya dibawa ke luar negeri dan ditanam di beberapa negara dengam kondisi cuaca mirip Indonesia. Yang paling terkenal, cengkeh yang ditanam di Zanzibar, Afrika. Namun begitu, hingga hari ini, Indonesia masih menjadi produsen utama dan terbesar cengkeh di dunia.
Dari sekira 561 ribu hektar luas lahan perkebunan cengkeh nasional, setiap tahunnya produksi cengkeh kering berkisar antara 100 ribu hingga 150 ribu ton. Lebih dari 90 persen produksi cengkeh nasional kemudian diserap oleh industri kretek nasional. Sisanya menjadi komoditas ekspor dengan Arab Saudi, India, dan Sudan menjadi negara tujuan ekspor cengkeh.
Dalam satu tahun, permintaan tembakau dari pabrikan-pabrikan rokok yang ada di Indonesia berkisar antara 300 ribu hingga 350 ribu ton. Sejauh ini, sektor perkebunan tembakau nasional memiliki angka produksi fluktuatif tergantung cuaca, mencapai antara 100 ribu hingga 200 ribu ton. Jumlah itu dihasilkan dari luasan lahan mencapai 250 ribu hektar yang tersebar di 15 provinsi.
Belum selesai sampai di situ. Selain bahan baku dan para pekerja yang membikin geliat industri kretek nasional bergairah, pangsa pasar hasil industri ini juga begitu menjanjikan dalam menjalankan roda ekonomi nasional. Konsumen produk rokok kretek nasional adalah konsumen terbesar di Indonesia. Lebih dari 90 persen pasar rokok nasional dikuasai rokok kretek. Dari sana, negara mendapat keuntungan tak sedikit lewat cukai rokok. Tak kurang setiap tahunnya hasil cukai rokok berada pada angka Rp140 trilyun, setidaknya sepanjang 10 tahun belakangan.
Dari sini, tak bisa dibantah bahwasanya produk kretek bisa dibanggakan oleh negara ini, nasonalisme lewat produk kretek sejatinya bisa dibangun karena produk ini mulai dari hulu hingga hilir digerakkan oleh anak-anak negeri, dan memberikan keuntungan ekonomi yang tak sedikit pada negara. Nasionalisme dalam sebatang kretek.
Bahan baku utamanya diproduksi di dalam negeri oleh petani-petani kita, pekerja di pabrik-pabrik kretek juga orang asli Indonesia, pemilik pabriknya, juga orang Indonesia, lantas yang terakhir, konsumennya juga orang Indonesia, begitulah sejatinya industri nasional yang mesti dibanggakan. Maka, tak salah jika kita mendeklarasikan diri bahwa: Indonesia Republik Kretek.<\/p>\n","post_title":"Indonesia Republik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-republik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-04 09:47:16","post_modified_gmt":"2020-02-04 02:47:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6435","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6425,"post_author":"878","post_date":"2020-02-01 11:08:43","post_date_gmt":"2020-02-01 04:08:43","post_content":"\nBeberapa waktu lalu, beredar berita perihal subsidi yang diterima perusahaan sawit dari negara. Tak tanggung-tanggung, subsidi yang digelontorkan berjumlah tak kurang dari 7,5 trilyun. Sebuah angka yang fantastis.
\nYang lebih mengejutkan lagi, subsidi sebanyak 7,5 trilyun itu diterima hanya oleh 5 perusahaan sawit saja. Dari sini jelas terlihat betapa negara begitu memanjakan perusahaan sawit yang setiap tahun tak pernah absen dalam partisipasi pembakaran hutan di beberapa wilayah di negeri ini.
\nSalah satu alasan penggelontoran subsidi sebanyak itu adalah untuk pengembangan pengolahan hasil perkebunan sawit menjadi biodisel. Selanjutnya, biodisel hasil kembangan itu akan diserap oleh Pertamina dan PLN sebagai konsumennya. Oleh Pertamina, biodisel tersebut akan dipasarka melalui SPBU-SPBU yang tersebar di penjuru negeri, sedang PLN menggunakan biodisel tersebut sebagai bahan bakar pembangkit-pembangkit listrik milik mereka.
\nJadi, selain penggelontoran subsidi, pemerintah juga sudah menjamin serapan hasil kembangan perusahaan sawit di bidang biodisel. Sebuah kenyamanan yang membikin iri banyak bidang lainnya terutama sektor pertanian dan perkebunan lain yang selama ini tak terlalu diperhatikan pemerintah.
\nAngka subsidi yang digelontorkan pemerintah kepada lima perusahaan sawit tersebut, angkanya jauh lebih tinggi dibanding pendapatan yang diterima pemerintah dari pajak perusahaan sawit itu. Sudah bukan rahasia lagi, kebocoran penerimaan pajak dari sektor perkebunan sawit membikin negara merugi trilyunan rupiah setiap tahunnya.
\nDi tengah kondisi semacam itu, pengemplangan pajak yang rutin dilakukan oleh perusahaan sawit, negara tetap dengan baik hati memberi subsidi yang tak sedikit untuk mereka. Tak pelak lagi, sawit menjadi anak emas dalam sektor pertanian dan perkebunan di negeri ini.
\nLantas, mari kita bandingkan dengan sektor pertanian dan perkebunan yang setiap tahun rutin memberikan pemasukan tak sedikit bagi negara. Bidang pertanian dan perkebunan yang sepenuhnya dijalankan oleh anak-anak negeri, yang sesungguhnya bisa dibanggakan oleh negara karena selain pajak dan cukai dari hasil olahannya yang memberikan pemasukan begitu melimpah kepada negara, sektor ini juga sangat potensial menjadi produk kebanggan nasional karena dari hulu hingga hilir hampir seluruhnya diproduksi dan dikonsumsi oleh anak-anak bangsa. Itu adalah sektor pertembakauan dan perkebunan cengkeh dengan hasil olahannya berupa rokok kretek.
\nAda sekira enam juta manusia yang terlibat langsung dalam perkebunan tembakau dan cengkeh di negeri ini. Dua juta di sektor tembakau, dan empat juta di sektor cengkeh. Dari dua sektor itu yang lantas menghasilkan produk bernama rokok kretek, setiap tahunnya negara menerima pemasukan dari cukai tak kurang dari 140 trilyun, setidaknya selama 10 tahun terakhir.
\nTetapi, apakah mereka para petani di dua sektor perkebunan itu mendapat subsidi yang selayaknya dari negara? Subsidi itu ada, dalam bentuk Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) yang besarannya dibagi berdasarkan wilayah per kabupaten, yang angkanya tentu saja tak se-fantastis subsidi cuma-cuma yang diterima perusahaan sawit.
\nLalu untuk apa alokasi DBHCHT di sektor pertanian tembakau dan cengkeh itu? Berbeda dengan subsidi yang diterima perusahaan sawit yang sepenuhnya digunakan untuk pengembangan industri di hilir, DBHCHT untuk sektor tembakau dan cengkeh malah digunakan sebaliknya, untuk menghancurkan sektor perkebunan yang semestinya menjadi sektor perkebunan strategis nasional ini.
\nDengan alasan kesehatan, dana yang semestinya digunakan untuk mengembangkan perkebunan tembakau dan cengkeh supaya lebih maju lagi, malah digunakan untuk memberangus dua perkebunan itu. Dana itu digunakan sebagian besarnya untuk penyuluhan-penyuluhan kepada para petani agar mengganti usaha perkebunan tembakau dan cengkeh mereka ke komoditas pertanian dan perkebunan lainnya. Sebuah ironi yang menyedihkan.
\nDi luar itu, dana DBHCHT yang sumber utama pemasukannya dari dua komoditas itu, juga digunakan untuk menggembosi rokok kretek yang merupakan hasil turunan dari sektor tembakau dan cengkeh. Bayangkan, tanpa diberikan subsidi, tetapi menggunakan uang cukai yang dihasilkan dua sektor perkebunan itu, dana itu digunakan malahan untuk menggembosi dua sektor perkebunan itu.
\nDari sini, bisa kita lihat, jika perkebunan sawit menjadi anak emas negara, sebaliknya, perkebunan tembakau dan cengkeh dijadikan anak tiri oleh negara yang terus menerus digembosi. Keuntungannya diambil banyak oleh negara, sebagian keuntungan itu, digunakan secara tak langsung untuk menghancurkan sektor perkebunan tembakau dan cengkeh.
\nPerkebunan tembakau dan cengkeh, yang keduanya semestinya menjadi komoditas strategis nasional, malah dinistakan oleh negara yang sesungguhnya mengambil banyak keuntungan dari sana. Paradoks yang memuakkan.<\/p>\n","post_title":"Tembakau dan Cengkeh, Komoditas Perkebunan Strategis Nasional yang Dinistakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-dan-cengkeh-komoditas-perkebunan-strategis-nasional-yang-dinistakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-01 11:08:51","post_modified_gmt":"2020-02-01 04:08:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6399,"post_author":"878","post_date":"2020-01-23 10:03:09","post_date_gmt":"2020-01-23 03:03:09","post_content":"\nUsai memberi salam lantas duduk di kursi kayu di halaman depan rumah kontrakan saya, Mbah Gimin mengeluarkan slepen (wadah tembakau rajangan) dari saku kemeja di dada kirinya, membuka slepen, mengeluarkan kertas linting dari dalamnya, membuka lebar-lebar kertas linting, mengambil sejumput tembakau lalu Ia taruh di atas kertas linting, menaburi beberapa butir cengkeh kering di atas tembakau, lantas menggulung kertas linting itu menjadi bentuk kerucut. <\/p>\n\n\n\n
Mbah Gimin tak bicara sepanjang proses melinting itu. Usai mengulum ujung lintingan sisi lebih kecil, Mbah Gimin mengambil geretan kayu dari sakunya, menyalakan sebatang geretan dengan pemantik yang ada di kedua sisi kotak geretan, membakar ujung lintingan bagian besar, menyedot asap hasil pembakaran, menghembuskannya beberapa kali, baru kemudian Ia berbicara kepada saya yang sedari tadi duduk di hadapannya memperhatikan Ia yang sedang melinting, \"Bagaimana kabarmu, Le, bagaimana rasanya punya anak?\"<\/p>\n\n\n\n
Baca: Meluruskan Nalar Baca Data Susenas September 2019<\/a><\/p>\n\n\n\n
Di kampung, tak ada yang tahu usia Mbah Gimin. Saat saya tanyakan langsung usianya, Mbah Gimin menjawab, \"Mbuh, Le!\" Lantas tertawa. Saya ikut tertawa. Sejak pertama kali berjumpa dengan Mbah Gimin sekira empat tahun lalu, Mbah Gimin tak pernah lepas dari ritual melinting tembakau. Slepennya juga yang itu-itu saja, tak pernah berganti. Jika ada yang berubah dari ritual melinting rokok Mbah Gimin, itu adalah hilangnya kemenyan dari racikan tembakau tingwe miliknya. Hilangnya kemenyan terjadi usai Lala, istri saya, protes kepada Mbah Gimin karena bagi Lala, aroma rokok tingwe bercampur kemenyan milik Mbah Gimin menimbulkan suasana horor dan menyeramkan.<\/p>\n\n\n\n
Sepengetahuan saya, Mbah Gimin orang paling sepuh di kampung, beberapa warga yang menginformasikan hal itu. Seluruh rambutnya sudah memutih. Sehari-hari, penampilannya selalu sama, berkemeja berwarna lusuh, dengan kain sarung yang selalu menutup bagian pinggang hingga betis. Mbah Gimin masih rutin bekerja di sawah. Menanam padi di musim tanam padi, dan palawija di musim lainnya. Ia juga masih ngarit, mencari rumput untuk makan dua ekor kambing peliharaannya.<\/p>\n\n\n\n
\"Kabar saya baik, Mbah. Rasanya punya anak? Ya senang, Mbah. Tapi ada juga banyak ketakutan yang datang dan kekhawatiran yang timbul setelah saya punya anak.\"<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
Sepanjang empat tahun tinggal di kampung ini, dengan Mbah Gimin saya paling sering berbincang di luar dengan Pak RT yang juga pemilik rumah yang saya sewa selama empat tahun belakangan. Sekali dua kami berbincang di halaman masjid kampung, pernah juga di sawah yang sedang ia garap, paling sering, di halaman rumah saya, seperti beberapa malam lalu ketika Jogja sedang panas-panasnya padahal semestinya ini puncak musim hujan.<\/p>\n\n\n\n
Baca: Cukai rokok: Dari perokok, oleh perokok dan untuk perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n
Kami berbincang perihal apa saja. Yang paling sering, tentang kampung tempat kami tinggal dan keseharian Mbah Gimin di masa lampau hingga kini. Sekali dua, Mbah Gimin juga kerap mengantar hasil bumi ke rumah saya. Beras, ketela, cabai, dan beberapa jenis sayur yang Ia tanam. <\/p>\n\n\n\n
Mbah Gimin hidup seorang diri di kampung. Dua orang istrinya sudah lama meninggal. Tidak, Mbah Gimin tidak poligami. Mbah Gimin menikah enam tahun usai istri pertamanya meninggal. Tiga tahun kemudian, istri keduanya meninggal dunia. Bersama istri pertama, lahir dua orang anak, keduanya tinggal bersama suami mereka di luar kampung. Satu di Gunung Kidul, satu lagi di Klaten. Dengan istri kedua, tidak ada anak.<\/p>\n\n\n\n
\"Wajar itu. Senang ya wajar. Takut dan khawatir ya wajar. Jadi ya tenang saja. Apalagi ini anak pertamakan. Wajar.\" Ujar Mbah Gimin, lantas mengisap rokok tingwe lalu menghembuskan asap dengan santai dari mulut dan hidung.<\/p>\n\n\n\n
\"Mbah sejak kapan merokok tingwe?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Wah, sudah lama. Ya sejak mulai merokok.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Nggak pernah coba rokok pabrikan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Sesekali pernah. Tapi rasanya nggak ada yang pas.\"<\/p>\n\n\n\n
Baca: Sejarah Singkat Perkembangan Cukai Rokok dan DBHCHT di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n
Beberapa waktu belakangan, rokok tingwe kembali populer. Setelah sebelumnya dicap sebagai selera kolot, kini banyak anak muda yang menjadikan rokok tingwe sebagai keseharian gaya hidup, meninggalkan rokok pabrikan yang banyak beredar di pasaran. Lebih lagi usai harga rokok naik setelah cukai rokok dikerek naik dengan drastis oleh pemerintah. Membicarakan rokok tingwe, tentu saja saya teringat Mbah Gimin yang lama bersetia pada rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n
Ketika saya menginformasikan perihal kembali semaraknya orang-orang memilih rokok tingwe, dan menjadikan itu sebagai protes perlawanan akibat kenaikan cukai dan kenaikan harga rokok pabrikan, Mbah Gimin tersenyum, kemudian berujar, <\/p>\n\n\n\n
\"Mungkin itu untuk kebaikan pemerintah, jadi rokok harganya naik. Ya moga-moga petani juga dapat untung dari situ.\"<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
Komentar Mbah Gimin mengingatkan saya pada buku karya James C. Scott berjudul Weapon of the Weak. Dari James C. Scott itulah kemudian muncul teori perlawanan kaum tani yang kerap disebut teori Scottian. Melawan meskipun kalah. Melawan dengan cara khas petani. Main belakang, seakan mengiyakan dan menyetujui, tetapi diam-diam melawan. <\/p>\n\n\n\n
Selain kasus cukai rokok ini, perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin juga sudah saya dengar kemasyhurannya jauh-jauh hari, lewat perlawanan Mbah Gimin terhadap maraknya investasi di kampung yang mengubah lahan pertanian menjadi perumahan-perumahan kluster. Ia tak melawan secara frontal, tidak juga menyalahkan petani lain yang melepas lahannya untuk dibeli pemborong perumahan. <\/p>\n\n\n\n
Ia tak berkomentar pedas akan hal itu. Lebih memilih diam dan terkesan menyetujui maraknya penjualan tanah di kampung. Namun, Ia tetap melawan secara mandiri, dengan tidak mau menjual lahan pertaniannya meskipun berkali-kali dirayu investor dengan harga mahal karena lokasinya strategis. Ia juga menyabotase akses masuk ke lokasi perumahan yang jika lewat lahan miliknya, lebih strategis dan mudah terakses. Namun karena perlawanannya dengan cara tak mau menjual lahan miliknya meskipun sedikit saja untuk jalan, akses jalan menuju perumahan itu harus sedikit memutar. Perlawanan khas Scottian.<\/p>\n\n\n\n
Saya kira, apa yang dilakukan Mbah Gimin, patut pula dicontoh untuk gerakan melawan kenaikan harga rokok. Ya sudah, mau apa lagi, terima saja dulu, biar saja. Tapi kita cukupkan saja dengan persetujuan itu, cukup. Tidak usah beli rokok lagi, dan bersetia pada tingwe.<\/p>\n","post_title":"Perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perlawanan-scottian-ala-mbah-gimin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-23 10:03:11","post_modified_gmt":"2020-01-23 03:03:11","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6399","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\r\nKretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\nMulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n
Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n
Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n
Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n
Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n
Tradisi Kretek<\/h3>\r\n
Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n
Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n
Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n
Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n
Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\nPeran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n
Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n
Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n
Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n
Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6445","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6435,"post_author":"878","post_date":"2020-02-04 09:47:07","post_date_gmt":"2020-02-04 02:47:07","post_content":"\n
Di tengah gempuran pasar global yang seakan tak memiliki batas, dengan produk-produk impor yang menjejali negeri ini, juga ekspansi industri-industri besar multinasional yang membangun pabrik-pabrik mereka di Indonesia, apakah masih ada industri skala besar nasional yang masih mampu mengharumkan nama Indonesia sebagai produsen utamanya? Jawabannya ada, namun sedikit.
Satu dari yang sedikit itu, tak lain dan tak bukan adalah industri rokok kretek yang ada di negeri ini. Mulanya, rokok kretek ditemukan secara tak sengaja oleh Haji Djamhari di Kudus pada periode akhir abad 19. Selanjutnya, lewat tangan dingin Nitisemito dengan brand pabrik rokok Tjap Bal Tiga miliknya, rokok kretek kemudian masuk produk skala industri. Perlahan tapi pasti, rokok kretek kemudian berhasil menguasai pasar rokok nasional, mengambil alih besarnya permintaan konsumen rokok yang sebelumnya dikuasai produk rokok putihan.
Bahwasanya pasar industri rokok kretek juga ikut disasar pabrikan-pabrikan multinasional, itu tak bisa dimungkiri karena kue keuntungan dari industri ini memang begitu menjanjikan. Namun, hingga hari ini, industri rokok kretek masih dikuasai oleh pabrikan dalam negeri.
Lebih dari itu, mulai dari bahan baku berupa tembakau dan cengkeh juga dipasok dari sektor perkebunan nasional. Besarnya industri ini, juga menyerap tenaga kerja mendekati enam juta jiwa. Jumlah enam juta jiwa itu meliputi pekerja mulai dari hulu di perkebunan hingga pekerja-pekerja di pabrik-pabrik rokok. Jika ditambah dengan pedagang asongan dan pedagang rokok skala kecil, jumlah enam juta jiwa akan bertambah kian banyak.
Dua bahan baku utama industri kretek, berupa tembakau dan cengkeh, hampir seluruhnya dipasok dari sektor perkebunan nasional. Cengkeh untuk kretek sepenuhnya diambil dari sektor perkebunan nasional. Ini wajar karena Indonesia hingga hari ini menduduki peringkat pertama produsen cengkeh di dunia. Industri kretek menyerap sekitar 94 persen dari produksi cengkeh nasional setiap tahunnya.
Untuk sektor tembakau, memang ada bahan baku yang didapat dari hasil impor. Ini terjadi lebih karena kurangnya produksi tahunan tembakau untuk memenuhi kebutuhan industri rokok kretek nasional. Padahal sejauh ini Indonesia menduduki peringkat enam penghasil tembakau di dunia.
Tanaman cengkeh mulanya adalah tanaman endemik dari beberapa pulau di Kepulauan Maluku. Selepas berakhirnya monopoli cengkeh yang dilakukan penjajah Belanda, tanaman cengkeh menyebar ke pulau-pulau lain di Indonesia. Tanaman cengkeh selanjutnya dibawa ke luar negeri dan ditanam di beberapa negara dengam kondisi cuaca mirip Indonesia. Yang paling terkenal, cengkeh yang ditanam di Zanzibar, Afrika. Namun begitu, hingga hari ini, Indonesia masih menjadi produsen utama dan terbesar cengkeh di dunia.
Dari sekira 561 ribu hektar luas lahan perkebunan cengkeh nasional, setiap tahunnya produksi cengkeh kering berkisar antara 100 ribu hingga 150 ribu ton. Lebih dari 90 persen produksi cengkeh nasional kemudian diserap oleh industri kretek nasional. Sisanya menjadi komoditas ekspor dengan Arab Saudi, India, dan Sudan menjadi negara tujuan ekspor cengkeh.
Dalam satu tahun, permintaan tembakau dari pabrikan-pabrikan rokok yang ada di Indonesia berkisar antara 300 ribu hingga 350 ribu ton. Sejauh ini, sektor perkebunan tembakau nasional memiliki angka produksi fluktuatif tergantung cuaca, mencapai antara 100 ribu hingga 200 ribu ton. Jumlah itu dihasilkan dari luasan lahan mencapai 250 ribu hektar yang tersebar di 15 provinsi.
Belum selesai sampai di situ. Selain bahan baku dan para pekerja yang membikin geliat industri kretek nasional bergairah, pangsa pasar hasil industri ini juga begitu menjanjikan dalam menjalankan roda ekonomi nasional. Konsumen produk rokok kretek nasional adalah konsumen terbesar di Indonesia. Lebih dari 90 persen pasar rokok nasional dikuasai rokok kretek. Dari sana, negara mendapat keuntungan tak sedikit lewat cukai rokok. Tak kurang setiap tahunnya hasil cukai rokok berada pada angka Rp140 trilyun, setidaknya sepanjang 10 tahun belakangan.
Dari sini, tak bisa dibantah bahwasanya produk kretek bisa dibanggakan oleh negara ini, nasonalisme lewat produk kretek sejatinya bisa dibangun karena produk ini mulai dari hulu hingga hilir digerakkan oleh anak-anak negeri, dan memberikan keuntungan ekonomi yang tak sedikit pada negara. Nasionalisme dalam sebatang kretek.
Bahan baku utamanya diproduksi di dalam negeri oleh petani-petani kita, pekerja di pabrik-pabrik kretek juga orang asli Indonesia, pemilik pabriknya, juga orang Indonesia, lantas yang terakhir, konsumennya juga orang Indonesia, begitulah sejatinya industri nasional yang mesti dibanggakan. Maka, tak salah jika kita mendeklarasikan diri bahwa: Indonesia Republik Kretek.<\/p>\n","post_title":"Indonesia Republik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-republik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-04 09:47:16","post_modified_gmt":"2020-02-04 02:47:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6435","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6425,"post_author":"878","post_date":"2020-02-01 11:08:43","post_date_gmt":"2020-02-01 04:08:43","post_content":"\nBeberapa waktu lalu, beredar berita perihal subsidi yang diterima perusahaan sawit dari negara. Tak tanggung-tanggung, subsidi yang digelontorkan berjumlah tak kurang dari 7,5 trilyun. Sebuah angka yang fantastis.
\nYang lebih mengejutkan lagi, subsidi sebanyak 7,5 trilyun itu diterima hanya oleh 5 perusahaan sawit saja. Dari sini jelas terlihat betapa negara begitu memanjakan perusahaan sawit yang setiap tahun tak pernah absen dalam partisipasi pembakaran hutan di beberapa wilayah di negeri ini.
\nSalah satu alasan penggelontoran subsidi sebanyak itu adalah untuk pengembangan pengolahan hasil perkebunan sawit menjadi biodisel. Selanjutnya, biodisel hasil kembangan itu akan diserap oleh Pertamina dan PLN sebagai konsumennya. Oleh Pertamina, biodisel tersebut akan dipasarka melalui SPBU-SPBU yang tersebar di penjuru negeri, sedang PLN menggunakan biodisel tersebut sebagai bahan bakar pembangkit-pembangkit listrik milik mereka.
\nJadi, selain penggelontoran subsidi, pemerintah juga sudah menjamin serapan hasil kembangan perusahaan sawit di bidang biodisel. Sebuah kenyamanan yang membikin iri banyak bidang lainnya terutama sektor pertanian dan perkebunan lain yang selama ini tak terlalu diperhatikan pemerintah.
\nAngka subsidi yang digelontorkan pemerintah kepada lima perusahaan sawit tersebut, angkanya jauh lebih tinggi dibanding pendapatan yang diterima pemerintah dari pajak perusahaan sawit itu. Sudah bukan rahasia lagi, kebocoran penerimaan pajak dari sektor perkebunan sawit membikin negara merugi trilyunan rupiah setiap tahunnya.
\nDi tengah kondisi semacam itu, pengemplangan pajak yang rutin dilakukan oleh perusahaan sawit, negara tetap dengan baik hati memberi subsidi yang tak sedikit untuk mereka. Tak pelak lagi, sawit menjadi anak emas dalam sektor pertanian dan perkebunan di negeri ini.
\nLantas, mari kita bandingkan dengan sektor pertanian dan perkebunan yang setiap tahun rutin memberikan pemasukan tak sedikit bagi negara. Bidang pertanian dan perkebunan yang sepenuhnya dijalankan oleh anak-anak negeri, yang sesungguhnya bisa dibanggakan oleh negara karena selain pajak dan cukai dari hasil olahannya yang memberikan pemasukan begitu melimpah kepada negara, sektor ini juga sangat potensial menjadi produk kebanggan nasional karena dari hulu hingga hilir hampir seluruhnya diproduksi dan dikonsumsi oleh anak-anak bangsa. Itu adalah sektor pertembakauan dan perkebunan cengkeh dengan hasil olahannya berupa rokok kretek.
\nAda sekira enam juta manusia yang terlibat langsung dalam perkebunan tembakau dan cengkeh di negeri ini. Dua juta di sektor tembakau, dan empat juta di sektor cengkeh. Dari dua sektor itu yang lantas menghasilkan produk bernama rokok kretek, setiap tahunnya negara menerima pemasukan dari cukai tak kurang dari 140 trilyun, setidaknya selama 10 tahun terakhir.
\nTetapi, apakah mereka para petani di dua sektor perkebunan itu mendapat subsidi yang selayaknya dari negara? Subsidi itu ada, dalam bentuk Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) yang besarannya dibagi berdasarkan wilayah per kabupaten, yang angkanya tentu saja tak se-fantastis subsidi cuma-cuma yang diterima perusahaan sawit.
\nLalu untuk apa alokasi DBHCHT di sektor pertanian tembakau dan cengkeh itu? Berbeda dengan subsidi yang diterima perusahaan sawit yang sepenuhnya digunakan untuk pengembangan industri di hilir, DBHCHT untuk sektor tembakau dan cengkeh malah digunakan sebaliknya, untuk menghancurkan sektor perkebunan yang semestinya menjadi sektor perkebunan strategis nasional ini.
\nDengan alasan kesehatan, dana yang semestinya digunakan untuk mengembangkan perkebunan tembakau dan cengkeh supaya lebih maju lagi, malah digunakan untuk memberangus dua perkebunan itu. Dana itu digunakan sebagian besarnya untuk penyuluhan-penyuluhan kepada para petani agar mengganti usaha perkebunan tembakau dan cengkeh mereka ke komoditas pertanian dan perkebunan lainnya. Sebuah ironi yang menyedihkan.
\nDi luar itu, dana DBHCHT yang sumber utama pemasukannya dari dua komoditas itu, juga digunakan untuk menggembosi rokok kretek yang merupakan hasil turunan dari sektor tembakau dan cengkeh. Bayangkan, tanpa diberikan subsidi, tetapi menggunakan uang cukai yang dihasilkan dua sektor perkebunan itu, dana itu digunakan malahan untuk menggembosi dua sektor perkebunan itu.
\nDari sini, bisa kita lihat, jika perkebunan sawit menjadi anak emas negara, sebaliknya, perkebunan tembakau dan cengkeh dijadikan anak tiri oleh negara yang terus menerus digembosi. Keuntungannya diambil banyak oleh negara, sebagian keuntungan itu, digunakan secara tak langsung untuk menghancurkan sektor perkebunan tembakau dan cengkeh.
\nPerkebunan tembakau dan cengkeh, yang keduanya semestinya menjadi komoditas strategis nasional, malah dinistakan oleh negara yang sesungguhnya mengambil banyak keuntungan dari sana. Paradoks yang memuakkan.<\/p>\n","post_title":"Tembakau dan Cengkeh, Komoditas Perkebunan Strategis Nasional yang Dinistakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-dan-cengkeh-komoditas-perkebunan-strategis-nasional-yang-dinistakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-01 11:08:51","post_modified_gmt":"2020-02-01 04:08:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6399,"post_author":"878","post_date":"2020-01-23 10:03:09","post_date_gmt":"2020-01-23 03:03:09","post_content":"\nUsai memberi salam lantas duduk di kursi kayu di halaman depan rumah kontrakan saya, Mbah Gimin mengeluarkan slepen (wadah tembakau rajangan) dari saku kemeja di dada kirinya, membuka slepen, mengeluarkan kertas linting dari dalamnya, membuka lebar-lebar kertas linting, mengambil sejumput tembakau lalu Ia taruh di atas kertas linting, menaburi beberapa butir cengkeh kering di atas tembakau, lantas menggulung kertas linting itu menjadi bentuk kerucut. <\/p>\n\n\n\n
Mbah Gimin tak bicara sepanjang proses melinting itu. Usai mengulum ujung lintingan sisi lebih kecil, Mbah Gimin mengambil geretan kayu dari sakunya, menyalakan sebatang geretan dengan pemantik yang ada di kedua sisi kotak geretan, membakar ujung lintingan bagian besar, menyedot asap hasil pembakaran, menghembuskannya beberapa kali, baru kemudian Ia berbicara kepada saya yang sedari tadi duduk di hadapannya memperhatikan Ia yang sedang melinting, \"Bagaimana kabarmu, Le, bagaimana rasanya punya anak?\"<\/p>\n\n\n\n
Baca: Meluruskan Nalar Baca Data Susenas September 2019<\/a><\/p>\n\n\n\n
Di kampung, tak ada yang tahu usia Mbah Gimin. Saat saya tanyakan langsung usianya, Mbah Gimin menjawab, \"Mbuh, Le!\" Lantas tertawa. Saya ikut tertawa. Sejak pertama kali berjumpa dengan Mbah Gimin sekira empat tahun lalu, Mbah Gimin tak pernah lepas dari ritual melinting tembakau. Slepennya juga yang itu-itu saja, tak pernah berganti. Jika ada yang berubah dari ritual melinting rokok Mbah Gimin, itu adalah hilangnya kemenyan dari racikan tembakau tingwe miliknya. Hilangnya kemenyan terjadi usai Lala, istri saya, protes kepada Mbah Gimin karena bagi Lala, aroma rokok tingwe bercampur kemenyan milik Mbah Gimin menimbulkan suasana horor dan menyeramkan.<\/p>\n\n\n\n
Sepengetahuan saya, Mbah Gimin orang paling sepuh di kampung, beberapa warga yang menginformasikan hal itu. Seluruh rambutnya sudah memutih. Sehari-hari, penampilannya selalu sama, berkemeja berwarna lusuh, dengan kain sarung yang selalu menutup bagian pinggang hingga betis. Mbah Gimin masih rutin bekerja di sawah. Menanam padi di musim tanam padi, dan palawija di musim lainnya. Ia juga masih ngarit, mencari rumput untuk makan dua ekor kambing peliharaannya.<\/p>\n\n\n\n
\"Kabar saya baik, Mbah. Rasanya punya anak? Ya senang, Mbah. Tapi ada juga banyak ketakutan yang datang dan kekhawatiran yang timbul setelah saya punya anak.\"<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
Sepanjang empat tahun tinggal di kampung ini, dengan Mbah Gimin saya paling sering berbincang di luar dengan Pak RT yang juga pemilik rumah yang saya sewa selama empat tahun belakangan. Sekali dua kami berbincang di halaman masjid kampung, pernah juga di sawah yang sedang ia garap, paling sering, di halaman rumah saya, seperti beberapa malam lalu ketika Jogja sedang panas-panasnya padahal semestinya ini puncak musim hujan.<\/p>\n\n\n\n
Baca: Cukai rokok: Dari perokok, oleh perokok dan untuk perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n
Kami berbincang perihal apa saja. Yang paling sering, tentang kampung tempat kami tinggal dan keseharian Mbah Gimin di masa lampau hingga kini. Sekali dua, Mbah Gimin juga kerap mengantar hasil bumi ke rumah saya. Beras, ketela, cabai, dan beberapa jenis sayur yang Ia tanam. <\/p>\n\n\n\n
Mbah Gimin hidup seorang diri di kampung. Dua orang istrinya sudah lama meninggal. Tidak, Mbah Gimin tidak poligami. Mbah Gimin menikah enam tahun usai istri pertamanya meninggal. Tiga tahun kemudian, istri keduanya meninggal dunia. Bersama istri pertama, lahir dua orang anak, keduanya tinggal bersama suami mereka di luar kampung. Satu di Gunung Kidul, satu lagi di Klaten. Dengan istri kedua, tidak ada anak.<\/p>\n\n\n\n
\"Wajar itu. Senang ya wajar. Takut dan khawatir ya wajar. Jadi ya tenang saja. Apalagi ini anak pertamakan. Wajar.\" Ujar Mbah Gimin, lantas mengisap rokok tingwe lalu menghembuskan asap dengan santai dari mulut dan hidung.<\/p>\n\n\n\n
\"Mbah sejak kapan merokok tingwe?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Wah, sudah lama. Ya sejak mulai merokok.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Nggak pernah coba rokok pabrikan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Sesekali pernah. Tapi rasanya nggak ada yang pas.\"<\/p>\n\n\n\n
Baca: Sejarah Singkat Perkembangan Cukai Rokok dan DBHCHT di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n
Beberapa waktu belakangan, rokok tingwe kembali populer. Setelah sebelumnya dicap sebagai selera kolot, kini banyak anak muda yang menjadikan rokok tingwe sebagai keseharian gaya hidup, meninggalkan rokok pabrikan yang banyak beredar di pasaran. Lebih lagi usai harga rokok naik setelah cukai rokok dikerek naik dengan drastis oleh pemerintah. Membicarakan rokok tingwe, tentu saja saya teringat Mbah Gimin yang lama bersetia pada rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n
Ketika saya menginformasikan perihal kembali semaraknya orang-orang memilih rokok tingwe, dan menjadikan itu sebagai protes perlawanan akibat kenaikan cukai dan kenaikan harga rokok pabrikan, Mbah Gimin tersenyum, kemudian berujar, <\/p>\n\n\n\n
\"Mungkin itu untuk kebaikan pemerintah, jadi rokok harganya naik. Ya moga-moga petani juga dapat untung dari situ.\"<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
Komentar Mbah Gimin mengingatkan saya pada buku karya James C. Scott berjudul Weapon of the Weak. Dari James C. Scott itulah kemudian muncul teori perlawanan kaum tani yang kerap disebut teori Scottian. Melawan meskipun kalah. Melawan dengan cara khas petani. Main belakang, seakan mengiyakan dan menyetujui, tetapi diam-diam melawan. <\/p>\n\n\n\n
Selain kasus cukai rokok ini, perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin juga sudah saya dengar kemasyhurannya jauh-jauh hari, lewat perlawanan Mbah Gimin terhadap maraknya investasi di kampung yang mengubah lahan pertanian menjadi perumahan-perumahan kluster. Ia tak melawan secara frontal, tidak juga menyalahkan petani lain yang melepas lahannya untuk dibeli pemborong perumahan. <\/p>\n\n\n\n
Ia tak berkomentar pedas akan hal itu. Lebih memilih diam dan terkesan menyetujui maraknya penjualan tanah di kampung. Namun, Ia tetap melawan secara mandiri, dengan tidak mau menjual lahan pertaniannya meskipun berkali-kali dirayu investor dengan harga mahal karena lokasinya strategis. Ia juga menyabotase akses masuk ke lokasi perumahan yang jika lewat lahan miliknya, lebih strategis dan mudah terakses. Namun karena perlawanannya dengan cara tak mau menjual lahan miliknya meskipun sedikit saja untuk jalan, akses jalan menuju perumahan itu harus sedikit memutar. Perlawanan khas Scottian.<\/p>\n\n\n\n
Saya kira, apa yang dilakukan Mbah Gimin, patut pula dicontoh untuk gerakan melawan kenaikan harga rokok. Ya sudah, mau apa lagi, terima saja dulu, biar saja. Tapi kita cukupkan saja dengan persetujuan itu, cukup. Tidak usah beli rokok lagi, dan bersetia pada tingwe.<\/p>\n","post_title":"Perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perlawanan-scottian-ala-mbah-gimin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-23 10:03:11","post_modified_gmt":"2020-01-23 03:03:11","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6399","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
","post_title":"Mengambil Peran dalam Wujudkan Kretek Sebagai Warisan Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengambil-peran-dalam-wujudkan-kretek-sebagai-warisan-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:58:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:58:55","post_content_filtered":"\r\nKretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\nMulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n
Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n
Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n
Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n
Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n
Tradisi Kretek<\/h3>\r\n
Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n
Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n
Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n
Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n
Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\nPeran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n
Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n
Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n
Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n
Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6445","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6435,"post_author":"878","post_date":"2020-02-04 09:47:07","post_date_gmt":"2020-02-04 02:47:07","post_content":"\n
Di tengah gempuran pasar global yang seakan tak memiliki batas, dengan produk-produk impor yang menjejali negeri ini, juga ekspansi industri-industri besar multinasional yang membangun pabrik-pabrik mereka di Indonesia, apakah masih ada industri skala besar nasional yang masih mampu mengharumkan nama Indonesia sebagai produsen utamanya? Jawabannya ada, namun sedikit.
Satu dari yang sedikit itu, tak lain dan tak bukan adalah industri rokok kretek yang ada di negeri ini. Mulanya, rokok kretek ditemukan secara tak sengaja oleh Haji Djamhari di Kudus pada periode akhir abad 19. Selanjutnya, lewat tangan dingin Nitisemito dengan brand pabrik rokok Tjap Bal Tiga miliknya, rokok kretek kemudian masuk produk skala industri. Perlahan tapi pasti, rokok kretek kemudian berhasil menguasai pasar rokok nasional, mengambil alih besarnya permintaan konsumen rokok yang sebelumnya dikuasai produk rokok putihan.
Bahwasanya pasar industri rokok kretek juga ikut disasar pabrikan-pabrikan multinasional, itu tak bisa dimungkiri karena kue keuntungan dari industri ini memang begitu menjanjikan. Namun, hingga hari ini, industri rokok kretek masih dikuasai oleh pabrikan dalam negeri.
Lebih dari itu, mulai dari bahan baku berupa tembakau dan cengkeh juga dipasok dari sektor perkebunan nasional. Besarnya industri ini, juga menyerap tenaga kerja mendekati enam juta jiwa. Jumlah enam juta jiwa itu meliputi pekerja mulai dari hulu di perkebunan hingga pekerja-pekerja di pabrik-pabrik rokok. Jika ditambah dengan pedagang asongan dan pedagang rokok skala kecil, jumlah enam juta jiwa akan bertambah kian banyak.
Dua bahan baku utama industri kretek, berupa tembakau dan cengkeh, hampir seluruhnya dipasok dari sektor perkebunan nasional. Cengkeh untuk kretek sepenuhnya diambil dari sektor perkebunan nasional. Ini wajar karena Indonesia hingga hari ini menduduki peringkat pertama produsen cengkeh di dunia. Industri kretek menyerap sekitar 94 persen dari produksi cengkeh nasional setiap tahunnya.
Untuk sektor tembakau, memang ada bahan baku yang didapat dari hasil impor. Ini terjadi lebih karena kurangnya produksi tahunan tembakau untuk memenuhi kebutuhan industri rokok kretek nasional. Padahal sejauh ini Indonesia menduduki peringkat enam penghasil tembakau di dunia.
Tanaman cengkeh mulanya adalah tanaman endemik dari beberapa pulau di Kepulauan Maluku. Selepas berakhirnya monopoli cengkeh yang dilakukan penjajah Belanda, tanaman cengkeh menyebar ke pulau-pulau lain di Indonesia. Tanaman cengkeh selanjutnya dibawa ke luar negeri dan ditanam di beberapa negara dengam kondisi cuaca mirip Indonesia. Yang paling terkenal, cengkeh yang ditanam di Zanzibar, Afrika. Namun begitu, hingga hari ini, Indonesia masih menjadi produsen utama dan terbesar cengkeh di dunia.
Dari sekira 561 ribu hektar luas lahan perkebunan cengkeh nasional, setiap tahunnya produksi cengkeh kering berkisar antara 100 ribu hingga 150 ribu ton. Lebih dari 90 persen produksi cengkeh nasional kemudian diserap oleh industri kretek nasional. Sisanya menjadi komoditas ekspor dengan Arab Saudi, India, dan Sudan menjadi negara tujuan ekspor cengkeh.
Dalam satu tahun, permintaan tembakau dari pabrikan-pabrikan rokok yang ada di Indonesia berkisar antara 300 ribu hingga 350 ribu ton. Sejauh ini, sektor perkebunan tembakau nasional memiliki angka produksi fluktuatif tergantung cuaca, mencapai antara 100 ribu hingga 200 ribu ton. Jumlah itu dihasilkan dari luasan lahan mencapai 250 ribu hektar yang tersebar di 15 provinsi.
Belum selesai sampai di situ. Selain bahan baku dan para pekerja yang membikin geliat industri kretek nasional bergairah, pangsa pasar hasil industri ini juga begitu menjanjikan dalam menjalankan roda ekonomi nasional. Konsumen produk rokok kretek nasional adalah konsumen terbesar di Indonesia. Lebih dari 90 persen pasar rokok nasional dikuasai rokok kretek. Dari sana, negara mendapat keuntungan tak sedikit lewat cukai rokok. Tak kurang setiap tahunnya hasil cukai rokok berada pada angka Rp140 trilyun, setidaknya sepanjang 10 tahun belakangan.
Dari sini, tak bisa dibantah bahwasanya produk kretek bisa dibanggakan oleh negara ini, nasonalisme lewat produk kretek sejatinya bisa dibangun karena produk ini mulai dari hulu hingga hilir digerakkan oleh anak-anak negeri, dan memberikan keuntungan ekonomi yang tak sedikit pada negara. Nasionalisme dalam sebatang kretek.
Bahan baku utamanya diproduksi di dalam negeri oleh petani-petani kita, pekerja di pabrik-pabrik kretek juga orang asli Indonesia, pemilik pabriknya, juga orang Indonesia, lantas yang terakhir, konsumennya juga orang Indonesia, begitulah sejatinya industri nasional yang mesti dibanggakan. Maka, tak salah jika kita mendeklarasikan diri bahwa: Indonesia Republik Kretek.<\/p>\n","post_title":"Indonesia Republik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-republik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-04 09:47:16","post_modified_gmt":"2020-02-04 02:47:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6435","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6425,"post_author":"878","post_date":"2020-02-01 11:08:43","post_date_gmt":"2020-02-01 04:08:43","post_content":"\nBeberapa waktu lalu, beredar berita perihal subsidi yang diterima perusahaan sawit dari negara. Tak tanggung-tanggung, subsidi yang digelontorkan berjumlah tak kurang dari 7,5 trilyun. Sebuah angka yang fantastis.
\nYang lebih mengejutkan lagi, subsidi sebanyak 7,5 trilyun itu diterima hanya oleh 5 perusahaan sawit saja. Dari sini jelas terlihat betapa negara begitu memanjakan perusahaan sawit yang setiap tahun tak pernah absen dalam partisipasi pembakaran hutan di beberapa wilayah di negeri ini.
\nSalah satu alasan penggelontoran subsidi sebanyak itu adalah untuk pengembangan pengolahan hasil perkebunan sawit menjadi biodisel. Selanjutnya, biodisel hasil kembangan itu akan diserap oleh Pertamina dan PLN sebagai konsumennya. Oleh Pertamina, biodisel tersebut akan dipasarka melalui SPBU-SPBU yang tersebar di penjuru negeri, sedang PLN menggunakan biodisel tersebut sebagai bahan bakar pembangkit-pembangkit listrik milik mereka.
\nJadi, selain penggelontoran subsidi, pemerintah juga sudah menjamin serapan hasil kembangan perusahaan sawit di bidang biodisel. Sebuah kenyamanan yang membikin iri banyak bidang lainnya terutama sektor pertanian dan perkebunan lain yang selama ini tak terlalu diperhatikan pemerintah.
\nAngka subsidi yang digelontorkan pemerintah kepada lima perusahaan sawit tersebut, angkanya jauh lebih tinggi dibanding pendapatan yang diterima pemerintah dari pajak perusahaan sawit itu. Sudah bukan rahasia lagi, kebocoran penerimaan pajak dari sektor perkebunan sawit membikin negara merugi trilyunan rupiah setiap tahunnya.
\nDi tengah kondisi semacam itu, pengemplangan pajak yang rutin dilakukan oleh perusahaan sawit, negara tetap dengan baik hati memberi subsidi yang tak sedikit untuk mereka. Tak pelak lagi, sawit menjadi anak emas dalam sektor pertanian dan perkebunan di negeri ini.
\nLantas, mari kita bandingkan dengan sektor pertanian dan perkebunan yang setiap tahun rutin memberikan pemasukan tak sedikit bagi negara. Bidang pertanian dan perkebunan yang sepenuhnya dijalankan oleh anak-anak negeri, yang sesungguhnya bisa dibanggakan oleh negara karena selain pajak dan cukai dari hasil olahannya yang memberikan pemasukan begitu melimpah kepada negara, sektor ini juga sangat potensial menjadi produk kebanggan nasional karena dari hulu hingga hilir hampir seluruhnya diproduksi dan dikonsumsi oleh anak-anak bangsa. Itu adalah sektor pertembakauan dan perkebunan cengkeh dengan hasil olahannya berupa rokok kretek.
\nAda sekira enam juta manusia yang terlibat langsung dalam perkebunan tembakau dan cengkeh di negeri ini. Dua juta di sektor tembakau, dan empat juta di sektor cengkeh. Dari dua sektor itu yang lantas menghasilkan produk bernama rokok kretek, setiap tahunnya negara menerima pemasukan dari cukai tak kurang dari 140 trilyun, setidaknya selama 10 tahun terakhir.
\nTetapi, apakah mereka para petani di dua sektor perkebunan itu mendapat subsidi yang selayaknya dari negara? Subsidi itu ada, dalam bentuk Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) yang besarannya dibagi berdasarkan wilayah per kabupaten, yang angkanya tentu saja tak se-fantastis subsidi cuma-cuma yang diterima perusahaan sawit.
\nLalu untuk apa alokasi DBHCHT di sektor pertanian tembakau dan cengkeh itu? Berbeda dengan subsidi yang diterima perusahaan sawit yang sepenuhnya digunakan untuk pengembangan industri di hilir, DBHCHT untuk sektor tembakau dan cengkeh malah digunakan sebaliknya, untuk menghancurkan sektor perkebunan yang semestinya menjadi sektor perkebunan strategis nasional ini.
\nDengan alasan kesehatan, dana yang semestinya digunakan untuk mengembangkan perkebunan tembakau dan cengkeh supaya lebih maju lagi, malah digunakan untuk memberangus dua perkebunan itu. Dana itu digunakan sebagian besarnya untuk penyuluhan-penyuluhan kepada para petani agar mengganti usaha perkebunan tembakau dan cengkeh mereka ke komoditas pertanian dan perkebunan lainnya. Sebuah ironi yang menyedihkan.
\nDi luar itu, dana DBHCHT yang sumber utama pemasukannya dari dua komoditas itu, juga digunakan untuk menggembosi rokok kretek yang merupakan hasil turunan dari sektor tembakau dan cengkeh. Bayangkan, tanpa diberikan subsidi, tetapi menggunakan uang cukai yang dihasilkan dua sektor perkebunan itu, dana itu digunakan malahan untuk menggembosi dua sektor perkebunan itu.
\nDari sini, bisa kita lihat, jika perkebunan sawit menjadi anak emas negara, sebaliknya, perkebunan tembakau dan cengkeh dijadikan anak tiri oleh negara yang terus menerus digembosi. Keuntungannya diambil banyak oleh negara, sebagian keuntungan itu, digunakan secara tak langsung untuk menghancurkan sektor perkebunan tembakau dan cengkeh.
\nPerkebunan tembakau dan cengkeh, yang keduanya semestinya menjadi komoditas strategis nasional, malah dinistakan oleh negara yang sesungguhnya mengambil banyak keuntungan dari sana. Paradoks yang memuakkan.<\/p>\n","post_title":"Tembakau dan Cengkeh, Komoditas Perkebunan Strategis Nasional yang Dinistakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-dan-cengkeh-komoditas-perkebunan-strategis-nasional-yang-dinistakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-01 11:08:51","post_modified_gmt":"2020-02-01 04:08:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6399,"post_author":"878","post_date":"2020-01-23 10:03:09","post_date_gmt":"2020-01-23 03:03:09","post_content":"\nUsai memberi salam lantas duduk di kursi kayu di halaman depan rumah kontrakan saya, Mbah Gimin mengeluarkan slepen (wadah tembakau rajangan) dari saku kemeja di dada kirinya, membuka slepen, mengeluarkan kertas linting dari dalamnya, membuka lebar-lebar kertas linting, mengambil sejumput tembakau lalu Ia taruh di atas kertas linting, menaburi beberapa butir cengkeh kering di atas tembakau, lantas menggulung kertas linting itu menjadi bentuk kerucut. <\/p>\n\n\n\n
Mbah Gimin tak bicara sepanjang proses melinting itu. Usai mengulum ujung lintingan sisi lebih kecil, Mbah Gimin mengambil geretan kayu dari sakunya, menyalakan sebatang geretan dengan pemantik yang ada di kedua sisi kotak geretan, membakar ujung lintingan bagian besar, menyedot asap hasil pembakaran, menghembuskannya beberapa kali, baru kemudian Ia berbicara kepada saya yang sedari tadi duduk di hadapannya memperhatikan Ia yang sedang melinting, \"Bagaimana kabarmu, Le, bagaimana rasanya punya anak?\"<\/p>\n\n\n\n
Baca: Meluruskan Nalar Baca Data Susenas September 2019<\/a><\/p>\n\n\n\n
Di kampung, tak ada yang tahu usia Mbah Gimin. Saat saya tanyakan langsung usianya, Mbah Gimin menjawab, \"Mbuh, Le!\" Lantas tertawa. Saya ikut tertawa. Sejak pertama kali berjumpa dengan Mbah Gimin sekira empat tahun lalu, Mbah Gimin tak pernah lepas dari ritual melinting tembakau. Slepennya juga yang itu-itu saja, tak pernah berganti. Jika ada yang berubah dari ritual melinting rokok Mbah Gimin, itu adalah hilangnya kemenyan dari racikan tembakau tingwe miliknya. Hilangnya kemenyan terjadi usai Lala, istri saya, protes kepada Mbah Gimin karena bagi Lala, aroma rokok tingwe bercampur kemenyan milik Mbah Gimin menimbulkan suasana horor dan menyeramkan.<\/p>\n\n\n\n
Sepengetahuan saya, Mbah Gimin orang paling sepuh di kampung, beberapa warga yang menginformasikan hal itu. Seluruh rambutnya sudah memutih. Sehari-hari, penampilannya selalu sama, berkemeja berwarna lusuh, dengan kain sarung yang selalu menutup bagian pinggang hingga betis. Mbah Gimin masih rutin bekerja di sawah. Menanam padi di musim tanam padi, dan palawija di musim lainnya. Ia juga masih ngarit, mencari rumput untuk makan dua ekor kambing peliharaannya.<\/p>\n\n\n\n
\"Kabar saya baik, Mbah. Rasanya punya anak? Ya senang, Mbah. Tapi ada juga banyak ketakutan yang datang dan kekhawatiran yang timbul setelah saya punya anak.\"<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
Sepanjang empat tahun tinggal di kampung ini, dengan Mbah Gimin saya paling sering berbincang di luar dengan Pak RT yang juga pemilik rumah yang saya sewa selama empat tahun belakangan. Sekali dua kami berbincang di halaman masjid kampung, pernah juga di sawah yang sedang ia garap, paling sering, di halaman rumah saya, seperti beberapa malam lalu ketika Jogja sedang panas-panasnya padahal semestinya ini puncak musim hujan.<\/p>\n\n\n\n
Baca: Cukai rokok: Dari perokok, oleh perokok dan untuk perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n
Kami berbincang perihal apa saja. Yang paling sering, tentang kampung tempat kami tinggal dan keseharian Mbah Gimin di masa lampau hingga kini. Sekali dua, Mbah Gimin juga kerap mengantar hasil bumi ke rumah saya. Beras, ketela, cabai, dan beberapa jenis sayur yang Ia tanam. <\/p>\n\n\n\n
Mbah Gimin hidup seorang diri di kampung. Dua orang istrinya sudah lama meninggal. Tidak, Mbah Gimin tidak poligami. Mbah Gimin menikah enam tahun usai istri pertamanya meninggal. Tiga tahun kemudian, istri keduanya meninggal dunia. Bersama istri pertama, lahir dua orang anak, keduanya tinggal bersama suami mereka di luar kampung. Satu di Gunung Kidul, satu lagi di Klaten. Dengan istri kedua, tidak ada anak.<\/p>\n\n\n\n
\"Wajar itu. Senang ya wajar. Takut dan khawatir ya wajar. Jadi ya tenang saja. Apalagi ini anak pertamakan. Wajar.\" Ujar Mbah Gimin, lantas mengisap rokok tingwe lalu menghembuskan asap dengan santai dari mulut dan hidung.<\/p>\n\n\n\n
\"Mbah sejak kapan merokok tingwe?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Wah, sudah lama. Ya sejak mulai merokok.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Nggak pernah coba rokok pabrikan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Sesekali pernah. Tapi rasanya nggak ada yang pas.\"<\/p>\n\n\n\n
Baca: Sejarah Singkat Perkembangan Cukai Rokok dan DBHCHT di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n
Beberapa waktu belakangan, rokok tingwe kembali populer. Setelah sebelumnya dicap sebagai selera kolot, kini banyak anak muda yang menjadikan rokok tingwe sebagai keseharian gaya hidup, meninggalkan rokok pabrikan yang banyak beredar di pasaran. Lebih lagi usai harga rokok naik setelah cukai rokok dikerek naik dengan drastis oleh pemerintah. Membicarakan rokok tingwe, tentu saja saya teringat Mbah Gimin yang lama bersetia pada rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n
Ketika saya menginformasikan perihal kembali semaraknya orang-orang memilih rokok tingwe, dan menjadikan itu sebagai protes perlawanan akibat kenaikan cukai dan kenaikan harga rokok pabrikan, Mbah Gimin tersenyum, kemudian berujar, <\/p>\n\n\n\n
\"Mungkin itu untuk kebaikan pemerintah, jadi rokok harganya naik. Ya moga-moga petani juga dapat untung dari situ.\"<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
Komentar Mbah Gimin mengingatkan saya pada buku karya James C. Scott berjudul Weapon of the Weak. Dari James C. Scott itulah kemudian muncul teori perlawanan kaum tani yang kerap disebut teori Scottian. Melawan meskipun kalah. Melawan dengan cara khas petani. Main belakang, seakan mengiyakan dan menyetujui, tetapi diam-diam melawan. <\/p>\n\n\n\n
Selain kasus cukai rokok ini, perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin juga sudah saya dengar kemasyhurannya jauh-jauh hari, lewat perlawanan Mbah Gimin terhadap maraknya investasi di kampung yang mengubah lahan pertanian menjadi perumahan-perumahan kluster. Ia tak melawan secara frontal, tidak juga menyalahkan petani lain yang melepas lahannya untuk dibeli pemborong perumahan. <\/p>\n\n\n\n
Ia tak berkomentar pedas akan hal itu. Lebih memilih diam dan terkesan menyetujui maraknya penjualan tanah di kampung. Namun, Ia tetap melawan secara mandiri, dengan tidak mau menjual lahan pertaniannya meskipun berkali-kali dirayu investor dengan harga mahal karena lokasinya strategis. Ia juga menyabotase akses masuk ke lokasi perumahan yang jika lewat lahan miliknya, lebih strategis dan mudah terakses. Namun karena perlawanannya dengan cara tak mau menjual lahan miliknya meskipun sedikit saja untuk jalan, akses jalan menuju perumahan itu harus sedikit memutar. Perlawanan khas Scottian.<\/p>\n\n\n\n
Saya kira, apa yang dilakukan Mbah Gimin, patut pula dicontoh untuk gerakan melawan kenaikan harga rokok. Ya sudah, mau apa lagi, terima saja dulu, biar saja. Tapi kita cukupkan saja dengan persetujuan itu, cukup. Tidak usah beli rokok lagi, dan bersetia pada tingwe.<\/p>\n","post_title":"Perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perlawanan-scottian-ala-mbah-gimin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-23 10:03:11","post_modified_gmt":"2020-01-23 03:03:11","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6399","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\r\n\r\n","post_title":"Mengambil Peran dalam Wujudkan Kretek Sebagai Warisan Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengambil-peran-dalam-wujudkan-kretek-sebagai-warisan-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:58:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:58:55","post_content_filtered":"\r\nKretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\nMulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n
Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n
Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n
Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n
Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n
Tradisi Kretek<\/h3>\r\n
Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n
Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n
Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n
Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n
Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\nPeran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n
Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n
Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n
Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n
Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6445","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6435,"post_author":"878","post_date":"2020-02-04 09:47:07","post_date_gmt":"2020-02-04 02:47:07","post_content":"\n
Di tengah gempuran pasar global yang seakan tak memiliki batas, dengan produk-produk impor yang menjejali negeri ini, juga ekspansi industri-industri besar multinasional yang membangun pabrik-pabrik mereka di Indonesia, apakah masih ada industri skala besar nasional yang masih mampu mengharumkan nama Indonesia sebagai produsen utamanya? Jawabannya ada, namun sedikit.
Satu dari yang sedikit itu, tak lain dan tak bukan adalah industri rokok kretek yang ada di negeri ini. Mulanya, rokok kretek ditemukan secara tak sengaja oleh Haji Djamhari di Kudus pada periode akhir abad 19. Selanjutnya, lewat tangan dingin Nitisemito dengan brand pabrik rokok Tjap Bal Tiga miliknya, rokok kretek kemudian masuk produk skala industri. Perlahan tapi pasti, rokok kretek kemudian berhasil menguasai pasar rokok nasional, mengambil alih besarnya permintaan konsumen rokok yang sebelumnya dikuasai produk rokok putihan.
Bahwasanya pasar industri rokok kretek juga ikut disasar pabrikan-pabrikan multinasional, itu tak bisa dimungkiri karena kue keuntungan dari industri ini memang begitu menjanjikan. Namun, hingga hari ini, industri rokok kretek masih dikuasai oleh pabrikan dalam negeri.
Lebih dari itu, mulai dari bahan baku berupa tembakau dan cengkeh juga dipasok dari sektor perkebunan nasional. Besarnya industri ini, juga menyerap tenaga kerja mendekati enam juta jiwa. Jumlah enam juta jiwa itu meliputi pekerja mulai dari hulu di perkebunan hingga pekerja-pekerja di pabrik-pabrik rokok. Jika ditambah dengan pedagang asongan dan pedagang rokok skala kecil, jumlah enam juta jiwa akan bertambah kian banyak.
Dua bahan baku utama industri kretek, berupa tembakau dan cengkeh, hampir seluruhnya dipasok dari sektor perkebunan nasional. Cengkeh untuk kretek sepenuhnya diambil dari sektor perkebunan nasional. Ini wajar karena Indonesia hingga hari ini menduduki peringkat pertama produsen cengkeh di dunia. Industri kretek menyerap sekitar 94 persen dari produksi cengkeh nasional setiap tahunnya.
Untuk sektor tembakau, memang ada bahan baku yang didapat dari hasil impor. Ini terjadi lebih karena kurangnya produksi tahunan tembakau untuk memenuhi kebutuhan industri rokok kretek nasional. Padahal sejauh ini Indonesia menduduki peringkat enam penghasil tembakau di dunia.
Tanaman cengkeh mulanya adalah tanaman endemik dari beberapa pulau di Kepulauan Maluku. Selepas berakhirnya monopoli cengkeh yang dilakukan penjajah Belanda, tanaman cengkeh menyebar ke pulau-pulau lain di Indonesia. Tanaman cengkeh selanjutnya dibawa ke luar negeri dan ditanam di beberapa negara dengam kondisi cuaca mirip Indonesia. Yang paling terkenal, cengkeh yang ditanam di Zanzibar, Afrika. Namun begitu, hingga hari ini, Indonesia masih menjadi produsen utama dan terbesar cengkeh di dunia.
Dari sekira 561 ribu hektar luas lahan perkebunan cengkeh nasional, setiap tahunnya produksi cengkeh kering berkisar antara 100 ribu hingga 150 ribu ton. Lebih dari 90 persen produksi cengkeh nasional kemudian diserap oleh industri kretek nasional. Sisanya menjadi komoditas ekspor dengan Arab Saudi, India, dan Sudan menjadi negara tujuan ekspor cengkeh.
Dalam satu tahun, permintaan tembakau dari pabrikan-pabrikan rokok yang ada di Indonesia berkisar antara 300 ribu hingga 350 ribu ton. Sejauh ini, sektor perkebunan tembakau nasional memiliki angka produksi fluktuatif tergantung cuaca, mencapai antara 100 ribu hingga 200 ribu ton. Jumlah itu dihasilkan dari luasan lahan mencapai 250 ribu hektar yang tersebar di 15 provinsi.
Belum selesai sampai di situ. Selain bahan baku dan para pekerja yang membikin geliat industri kretek nasional bergairah, pangsa pasar hasil industri ini juga begitu menjanjikan dalam menjalankan roda ekonomi nasional. Konsumen produk rokok kretek nasional adalah konsumen terbesar di Indonesia. Lebih dari 90 persen pasar rokok nasional dikuasai rokok kretek. Dari sana, negara mendapat keuntungan tak sedikit lewat cukai rokok. Tak kurang setiap tahunnya hasil cukai rokok berada pada angka Rp140 trilyun, setidaknya sepanjang 10 tahun belakangan.
Dari sini, tak bisa dibantah bahwasanya produk kretek bisa dibanggakan oleh negara ini, nasonalisme lewat produk kretek sejatinya bisa dibangun karena produk ini mulai dari hulu hingga hilir digerakkan oleh anak-anak negeri, dan memberikan keuntungan ekonomi yang tak sedikit pada negara. Nasionalisme dalam sebatang kretek.
Bahan baku utamanya diproduksi di dalam negeri oleh petani-petani kita, pekerja di pabrik-pabrik kretek juga orang asli Indonesia, pemilik pabriknya, juga orang Indonesia, lantas yang terakhir, konsumennya juga orang Indonesia, begitulah sejatinya industri nasional yang mesti dibanggakan. Maka, tak salah jika kita mendeklarasikan diri bahwa: Indonesia Republik Kretek.<\/p>\n","post_title":"Indonesia Republik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-republik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-04 09:47:16","post_modified_gmt":"2020-02-04 02:47:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6435","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6425,"post_author":"878","post_date":"2020-02-01 11:08:43","post_date_gmt":"2020-02-01 04:08:43","post_content":"\nBeberapa waktu lalu, beredar berita perihal subsidi yang diterima perusahaan sawit dari negara. Tak tanggung-tanggung, subsidi yang digelontorkan berjumlah tak kurang dari 7,5 trilyun. Sebuah angka yang fantastis.
\nYang lebih mengejutkan lagi, subsidi sebanyak 7,5 trilyun itu diterima hanya oleh 5 perusahaan sawit saja. Dari sini jelas terlihat betapa negara begitu memanjakan perusahaan sawit yang setiap tahun tak pernah absen dalam partisipasi pembakaran hutan di beberapa wilayah di negeri ini.
\nSalah satu alasan penggelontoran subsidi sebanyak itu adalah untuk pengembangan pengolahan hasil perkebunan sawit menjadi biodisel. Selanjutnya, biodisel hasil kembangan itu akan diserap oleh Pertamina dan PLN sebagai konsumennya. Oleh Pertamina, biodisel tersebut akan dipasarka melalui SPBU-SPBU yang tersebar di penjuru negeri, sedang PLN menggunakan biodisel tersebut sebagai bahan bakar pembangkit-pembangkit listrik milik mereka.
\nJadi, selain penggelontoran subsidi, pemerintah juga sudah menjamin serapan hasil kembangan perusahaan sawit di bidang biodisel. Sebuah kenyamanan yang membikin iri banyak bidang lainnya terutama sektor pertanian dan perkebunan lain yang selama ini tak terlalu diperhatikan pemerintah.
\nAngka subsidi yang digelontorkan pemerintah kepada lima perusahaan sawit tersebut, angkanya jauh lebih tinggi dibanding pendapatan yang diterima pemerintah dari pajak perusahaan sawit itu. Sudah bukan rahasia lagi, kebocoran penerimaan pajak dari sektor perkebunan sawit membikin negara merugi trilyunan rupiah setiap tahunnya.
\nDi tengah kondisi semacam itu, pengemplangan pajak yang rutin dilakukan oleh perusahaan sawit, negara tetap dengan baik hati memberi subsidi yang tak sedikit untuk mereka. Tak pelak lagi, sawit menjadi anak emas dalam sektor pertanian dan perkebunan di negeri ini.
\nLantas, mari kita bandingkan dengan sektor pertanian dan perkebunan yang setiap tahun rutin memberikan pemasukan tak sedikit bagi negara. Bidang pertanian dan perkebunan yang sepenuhnya dijalankan oleh anak-anak negeri, yang sesungguhnya bisa dibanggakan oleh negara karena selain pajak dan cukai dari hasil olahannya yang memberikan pemasukan begitu melimpah kepada negara, sektor ini juga sangat potensial menjadi produk kebanggan nasional karena dari hulu hingga hilir hampir seluruhnya diproduksi dan dikonsumsi oleh anak-anak bangsa. Itu adalah sektor pertembakauan dan perkebunan cengkeh dengan hasil olahannya berupa rokok kretek.
\nAda sekira enam juta manusia yang terlibat langsung dalam perkebunan tembakau dan cengkeh di negeri ini. Dua juta di sektor tembakau, dan empat juta di sektor cengkeh. Dari dua sektor itu yang lantas menghasilkan produk bernama rokok kretek, setiap tahunnya negara menerima pemasukan dari cukai tak kurang dari 140 trilyun, setidaknya selama 10 tahun terakhir.
\nTetapi, apakah mereka para petani di dua sektor perkebunan itu mendapat subsidi yang selayaknya dari negara? Subsidi itu ada, dalam bentuk Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) yang besarannya dibagi berdasarkan wilayah per kabupaten, yang angkanya tentu saja tak se-fantastis subsidi cuma-cuma yang diterima perusahaan sawit.
\nLalu untuk apa alokasi DBHCHT di sektor pertanian tembakau dan cengkeh itu? Berbeda dengan subsidi yang diterima perusahaan sawit yang sepenuhnya digunakan untuk pengembangan industri di hilir, DBHCHT untuk sektor tembakau dan cengkeh malah digunakan sebaliknya, untuk menghancurkan sektor perkebunan yang semestinya menjadi sektor perkebunan strategis nasional ini.
\nDengan alasan kesehatan, dana yang semestinya digunakan untuk mengembangkan perkebunan tembakau dan cengkeh supaya lebih maju lagi, malah digunakan untuk memberangus dua perkebunan itu. Dana itu digunakan sebagian besarnya untuk penyuluhan-penyuluhan kepada para petani agar mengganti usaha perkebunan tembakau dan cengkeh mereka ke komoditas pertanian dan perkebunan lainnya. Sebuah ironi yang menyedihkan.
\nDi luar itu, dana DBHCHT yang sumber utama pemasukannya dari dua komoditas itu, juga digunakan untuk menggembosi rokok kretek yang merupakan hasil turunan dari sektor tembakau dan cengkeh. Bayangkan, tanpa diberikan subsidi, tetapi menggunakan uang cukai yang dihasilkan dua sektor perkebunan itu, dana itu digunakan malahan untuk menggembosi dua sektor perkebunan itu.
\nDari sini, bisa kita lihat, jika perkebunan sawit menjadi anak emas negara, sebaliknya, perkebunan tembakau dan cengkeh dijadikan anak tiri oleh negara yang terus menerus digembosi. Keuntungannya diambil banyak oleh negara, sebagian keuntungan itu, digunakan secara tak langsung untuk menghancurkan sektor perkebunan tembakau dan cengkeh.
\nPerkebunan tembakau dan cengkeh, yang keduanya semestinya menjadi komoditas strategis nasional, malah dinistakan oleh negara yang sesungguhnya mengambil banyak keuntungan dari sana. Paradoks yang memuakkan.<\/p>\n","post_title":"Tembakau dan Cengkeh, Komoditas Perkebunan Strategis Nasional yang Dinistakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-dan-cengkeh-komoditas-perkebunan-strategis-nasional-yang-dinistakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-01 11:08:51","post_modified_gmt":"2020-02-01 04:08:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6425","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6399,"post_author":"878","post_date":"2020-01-23 10:03:09","post_date_gmt":"2020-01-23 03:03:09","post_content":"\nUsai memberi salam lantas duduk di kursi kayu di halaman depan rumah kontrakan saya, Mbah Gimin mengeluarkan slepen (wadah tembakau rajangan) dari saku kemeja di dada kirinya, membuka slepen, mengeluarkan kertas linting dari dalamnya, membuka lebar-lebar kertas linting, mengambil sejumput tembakau lalu Ia taruh di atas kertas linting, menaburi beberapa butir cengkeh kering di atas tembakau, lantas menggulung kertas linting itu menjadi bentuk kerucut. <\/p>\n\n\n\n
Mbah Gimin tak bicara sepanjang proses melinting itu. Usai mengulum ujung lintingan sisi lebih kecil, Mbah Gimin mengambil geretan kayu dari sakunya, menyalakan sebatang geretan dengan pemantik yang ada di kedua sisi kotak geretan, membakar ujung lintingan bagian besar, menyedot asap hasil pembakaran, menghembuskannya beberapa kali, baru kemudian Ia berbicara kepada saya yang sedari tadi duduk di hadapannya memperhatikan Ia yang sedang melinting, \"Bagaimana kabarmu, Le, bagaimana rasanya punya anak?\"<\/p>\n\n\n\n
Baca: Meluruskan Nalar Baca Data Susenas September 2019<\/a><\/p>\n\n\n\n
Di kampung, tak ada yang tahu usia Mbah Gimin. Saat saya tanyakan langsung usianya, Mbah Gimin menjawab, \"Mbuh, Le!\" Lantas tertawa. Saya ikut tertawa. Sejak pertama kali berjumpa dengan Mbah Gimin sekira empat tahun lalu, Mbah Gimin tak pernah lepas dari ritual melinting tembakau. Slepennya juga yang itu-itu saja, tak pernah berganti. Jika ada yang berubah dari ritual melinting rokok Mbah Gimin, itu adalah hilangnya kemenyan dari racikan tembakau tingwe miliknya. Hilangnya kemenyan terjadi usai Lala, istri saya, protes kepada Mbah Gimin karena bagi Lala, aroma rokok tingwe bercampur kemenyan milik Mbah Gimin menimbulkan suasana horor dan menyeramkan.<\/p>\n\n\n\n
Sepengetahuan saya, Mbah Gimin orang paling sepuh di kampung, beberapa warga yang menginformasikan hal itu. Seluruh rambutnya sudah memutih. Sehari-hari, penampilannya selalu sama, berkemeja berwarna lusuh, dengan kain sarung yang selalu menutup bagian pinggang hingga betis. Mbah Gimin masih rutin bekerja di sawah. Menanam padi di musim tanam padi, dan palawija di musim lainnya. Ia juga masih ngarit, mencari rumput untuk makan dua ekor kambing peliharaannya.<\/p>\n\n\n\n
\"Kabar saya baik, Mbah. Rasanya punya anak? Ya senang, Mbah. Tapi ada juga banyak ketakutan yang datang dan kekhawatiran yang timbul setelah saya punya anak.\"<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n
Sepanjang empat tahun tinggal di kampung ini, dengan Mbah Gimin saya paling sering berbincang di luar dengan Pak RT yang juga pemilik rumah yang saya sewa selama empat tahun belakangan. Sekali dua kami berbincang di halaman masjid kampung, pernah juga di sawah yang sedang ia garap, paling sering, di halaman rumah saya, seperti beberapa malam lalu ketika Jogja sedang panas-panasnya padahal semestinya ini puncak musim hujan.<\/p>\n\n\n\n