Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik. Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n
Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik. Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong> Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh. Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya. Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik. Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong> Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh. Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya. Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik. Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong> Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh. Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya. Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik. Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong> Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh. Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya. Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik. Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong> Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh. Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya. Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik. Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong> Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini. Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh. Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya. Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik. Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong> Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan. Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini. Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh. Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya. Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik. Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong> Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya. Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan. Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini. Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh. Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya. Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik. Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong> Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta. Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya. Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan. Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini. Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh. Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya. Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik. Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong> Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta. Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya. Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan. Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini. Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh. Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya. Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik. Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong> Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com) Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta. Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya. Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan. Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini. Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh. Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya. Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik. Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong> Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com) Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta. Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya. Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan. Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini. Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh. Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya. Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik. Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong> Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com) Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta. Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya. Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan. Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini. Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh. Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya. Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik. Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong> Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com) Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com) Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta. Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya. Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan. Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini. Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh. Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya. Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik. Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong> Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com) Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com) Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta. Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya. Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan. Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini. Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh. Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya. Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik. Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong> Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com) Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com) Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta. Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya. Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan. Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini. Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh. Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya. Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik. Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong> Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com) Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com) Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta. Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya. Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan. Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini. Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh. Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya. Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik. Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong> Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb. Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com) Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com) Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta. Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya. Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan. Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini. Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh. Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya. Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik. Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong> Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara. Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb. Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com) Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com) Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta. Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya. Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan. Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini. Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh. Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya. Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik. Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong> Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir. Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara. Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb. Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com) Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com) Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta. Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya. Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan. Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini. Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh. Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya. Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik. Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong> Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a> Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir. Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara. Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb. Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com) Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com) Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta. Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya. Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan. Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini. Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\nAntitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nAntitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nAntitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nAntitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nAntitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nAntitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nAntitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nAntitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nAntitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nAntitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nAntitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nAntitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nAntitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nAntitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nAntitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nAntitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n