\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

<\/p>\n","post_title":"Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tidak-perlu-menaikkan-cukai-begini-cara-menguranangi-angka-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-15 12:51:44","post_modified_gmt":"2019-09-15 05:51:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6065","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Untuk Bu Sri dan Pak Darmin, kalo memang  niatnya mengurangi perokok, dorong saja Presiden untuk melarang masyarakat menanam tembakau serta cengkeh dan menutup semua pabrik rokok di negeri ini. Gitu baru keren!<\/em><\/p>\n\n\n\n

<\/p>\n","post_title":"Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tidak-perlu-menaikkan-cukai-begini-cara-menguranangi-angka-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-15 12:51:44","post_modified_gmt":"2019-09-15 05:51:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6065","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Rasa-rasanya pemerintah ini hanya punya daya pikir pendek. Mereka tidak mampu berpikir panjang untuk menjaga hasil pendapatan negara ini. Bukan malah membunuh pelan-pelan dan hanya  memikirkan bagaimana pada periode kepempinannya dapat menjalankan program-program dan mengumpulkan uang untuk negara, meski rakyatnya dicekik setiap saat.<\/p>\n\n\n\n

Untuk Bu Sri dan Pak Darmin, kalo memang  niatnya mengurangi perokok, dorong saja Presiden untuk melarang masyarakat menanam tembakau serta cengkeh dan menutup semua pabrik rokok di negeri ini. Gitu baru keren!<\/em><\/p>\n\n\n\n

<\/p>\n","post_title":"Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tidak-perlu-menaikkan-cukai-begini-cara-menguranangi-angka-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-15 12:51:44","post_modified_gmt":"2019-09-15 05:51:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6065","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Namun menjadi rancu, di satu sisi pemerintah ingin menurunkan jumlah perokok. Artinya pemerintah ingin masyarakat  tidak membeli rokok. Di sisi yang lain pemerintah ingin mendapatkan setoran besar dari industri ini. Tak tanggung-tanggung, Sri Mulyani menargetkan dapat mengeruk Rp 173 triliun di 2020.<\/p>\n\n\n\n

Rasa-rasanya pemerintah ini hanya punya daya pikir pendek. Mereka tidak mampu berpikir panjang untuk menjaga hasil pendapatan negara ini. Bukan malah membunuh pelan-pelan dan hanya  memikirkan bagaimana pada periode kepempinannya dapat menjalankan program-program dan mengumpulkan uang untuk negara, meski rakyatnya dicekik setiap saat.<\/p>\n\n\n\n

Untuk Bu Sri dan Pak Darmin, kalo memang  niatnya mengurangi perokok, dorong saja Presiden untuk melarang masyarakat menanam tembakau serta cengkeh dan menutup semua pabrik rokok di negeri ini. Gitu baru keren!<\/em><\/p>\n\n\n\n

<\/p>\n","post_title":"Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tidak-perlu-menaikkan-cukai-begini-cara-menguranangi-angka-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-15 12:51:44","post_modified_gmt":"2019-09-15 05:51:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6065","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Alasan ketiga inilah yang mungkin agak masuk akal. Pemerintah perlu  menaikkan cukai setinggi-tingginya karena pemerintah butuh banyak uang untuk menjalankan program-program. Untuk membangung dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Namun menjadi rancu, di satu sisi pemerintah ingin menurunkan jumlah perokok. Artinya pemerintah ingin masyarakat  tidak membeli rokok. Di sisi yang lain pemerintah ingin mendapatkan setoran besar dari industri ini. Tak tanggung-tanggung, Sri Mulyani menargetkan dapat mengeruk Rp 173 triliun di 2020.<\/p>\n\n\n\n

Rasa-rasanya pemerintah ini hanya punya daya pikir pendek. Mereka tidak mampu berpikir panjang untuk menjaga hasil pendapatan negara ini. Bukan malah membunuh pelan-pelan dan hanya  memikirkan bagaimana pada periode kepempinannya dapat menjalankan program-program dan mengumpulkan uang untuk negara, meski rakyatnya dicekik setiap saat.<\/p>\n\n\n\n

Untuk Bu Sri dan Pak Darmin, kalo memang  niatnya mengurangi perokok, dorong saja Presiden untuk melarang masyarakat menanam tembakau serta cengkeh dan menutup semua pabrik rokok di negeri ini. Gitu baru keren!<\/em><\/p>\n\n\n\n

<\/p>\n","post_title":"Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tidak-perlu-menaikkan-cukai-begini-cara-menguranangi-angka-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-15 12:51:44","post_modified_gmt":"2019-09-15 05:51:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6065","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ketiga, urusan  penerimaan negara. Pemerintah meyakini kenaikan cukai akan mengdongkrak penerimaan negara. Hal ini dinilai penting karena pemerintah membutuhkan banyak dana untuk pembiayaan anggaran di APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Alasan ketiga inilah yang mungkin agak masuk akal. Pemerintah perlu  menaikkan cukai setinggi-tingginya karena pemerintah butuh banyak uang untuk menjalankan program-program. Untuk membangung dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Namun menjadi rancu, di satu sisi pemerintah ingin menurunkan jumlah perokok. Artinya pemerintah ingin masyarakat  tidak membeli rokok. Di sisi yang lain pemerintah ingin mendapatkan setoran besar dari industri ini. Tak tanggung-tanggung, Sri Mulyani menargetkan dapat mengeruk Rp 173 triliun di 2020.<\/p>\n\n\n\n

Rasa-rasanya pemerintah ini hanya punya daya pikir pendek. Mereka tidak mampu berpikir panjang untuk menjaga hasil pendapatan negara ini. Bukan malah membunuh pelan-pelan dan hanya  memikirkan bagaimana pada periode kepempinannya dapat menjalankan program-program dan mengumpulkan uang untuk negara, meski rakyatnya dicekik setiap saat.<\/p>\n\n\n\n

Untuk Bu Sri dan Pak Darmin, kalo memang  niatnya mengurangi perokok, dorong saja Presiden untuk melarang masyarakat menanam tembakau serta cengkeh dan menutup semua pabrik rokok di negeri ini. Gitu baru keren!<\/em><\/p>\n\n\n\n

<\/p>\n","post_title":"Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tidak-perlu-menaikkan-cukai-begini-cara-menguranangi-angka-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-15 12:51:44","post_modified_gmt":"2019-09-15 05:51:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6065","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kedua, menurunkan konsumsi rokok masyarakat Indonesia. Logika ini sama persis yang digunakan Sri Mulyani.<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, urusan  penerimaan negara. Pemerintah meyakini kenaikan cukai akan mengdongkrak penerimaan negara. Hal ini dinilai penting karena pemerintah membutuhkan banyak dana untuk pembiayaan anggaran di APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Alasan ketiga inilah yang mungkin agak masuk akal. Pemerintah perlu  menaikkan cukai setinggi-tingginya karena pemerintah butuh banyak uang untuk menjalankan program-program. Untuk membangung dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Namun menjadi rancu, di satu sisi pemerintah ingin menurunkan jumlah perokok. Artinya pemerintah ingin masyarakat  tidak membeli rokok. Di sisi yang lain pemerintah ingin mendapatkan setoran besar dari industri ini. Tak tanggung-tanggung, Sri Mulyani menargetkan dapat mengeruk Rp 173 triliun di 2020.<\/p>\n\n\n\n

Rasa-rasanya pemerintah ini hanya punya daya pikir pendek. Mereka tidak mampu berpikir panjang untuk menjaga hasil pendapatan negara ini. Bukan malah membunuh pelan-pelan dan hanya  memikirkan bagaimana pada periode kepempinannya dapat menjalankan program-program dan mengumpulkan uang untuk negara, meski rakyatnya dicekik setiap saat.<\/p>\n\n\n\n

Untuk Bu Sri dan Pak Darmin, kalo memang  niatnya mengurangi perokok, dorong saja Presiden untuk melarang masyarakat menanam tembakau serta cengkeh dan menutup semua pabrik rokok di negeri ini. Gitu baru keren!<\/em><\/p>\n\n\n\n

<\/p>\n","post_title":"Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tidak-perlu-menaikkan-cukai-begini-cara-menguranangi-angka-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-15 12:51:44","post_modified_gmt":"2019-09-15 05:51:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6065","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Publik bisa saja menilai, tidak naiknya cukai tahun 2019 lantaran pada tahun itu adalah tahun politik. Semua calon tentu saja  ingin mendapat dukungan dari petani tembakau, buruh pabrik rokok dan jutaan orang lainnya yang menggantungkan hidup dari industri hasil tembakau. Toh pada keputusan tersebut, Sri Mulyani tidak memberikan alasan yang jelas, kenapa cukai tidak naik. (Baca: Pemerintah Tidak Naikkan Cukai Rokok Tahun 2019<\/a>)<\/p>\n\n\n\n

Kedua, menurunkan konsumsi rokok masyarakat Indonesia. Logika ini sama persis yang digunakan Sri Mulyani.<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, urusan  penerimaan negara. Pemerintah meyakini kenaikan cukai akan mengdongkrak penerimaan negara. Hal ini dinilai penting karena pemerintah membutuhkan banyak dana untuk pembiayaan anggaran di APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Alasan ketiga inilah yang mungkin agak masuk akal. Pemerintah perlu  menaikkan cukai setinggi-tingginya karena pemerintah butuh banyak uang untuk menjalankan program-program. Untuk membangung dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Namun menjadi rancu, di satu sisi pemerintah ingin menurunkan jumlah perokok. Artinya pemerintah ingin masyarakat  tidak membeli rokok. Di sisi yang lain pemerintah ingin mendapatkan setoran besar dari industri ini. Tak tanggung-tanggung, Sri Mulyani menargetkan dapat mengeruk Rp 173 triliun di 2020.<\/p>\n\n\n\n

Rasa-rasanya pemerintah ini hanya punya daya pikir pendek. Mereka tidak mampu berpikir panjang untuk menjaga hasil pendapatan negara ini. Bukan malah membunuh pelan-pelan dan hanya  memikirkan bagaimana pada periode kepempinannya dapat menjalankan program-program dan mengumpulkan uang untuk negara, meski rakyatnya dicekik setiap saat.<\/p>\n\n\n\n

Untuk Bu Sri dan Pak Darmin, kalo memang  niatnya mengurangi perokok, dorong saja Presiden untuk melarang masyarakat menanam tembakau serta cengkeh dan menutup semua pabrik rokok di negeri ini. Gitu baru keren!<\/em><\/p>\n\n\n\n

<\/p>\n","post_title":"Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tidak-perlu-menaikkan-cukai-begini-cara-menguranangi-angka-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-15 12:51:44","post_modified_gmt":"2019-09-15 05:51:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6065","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tahun 2019 memang pemerintah tidak menaikkan cukai. Tetapi apakah ini kemudian dapat dijadikan alasan kenaikan cukai 2020. Tentu saja masih bisa dipertanyakan. <\/p>\n\n\n\n

Publik bisa saja menilai, tidak naiknya cukai tahun 2019 lantaran pada tahun itu adalah tahun politik. Semua calon tentu saja  ingin mendapat dukungan dari petani tembakau, buruh pabrik rokok dan jutaan orang lainnya yang menggantungkan hidup dari industri hasil tembakau. Toh pada keputusan tersebut, Sri Mulyani tidak memberikan alasan yang jelas, kenapa cukai tidak naik. (Baca: Pemerintah Tidak Naikkan Cukai Rokok Tahun 2019<\/a>)<\/p>\n\n\n\n

Kedua, menurunkan konsumsi rokok masyarakat Indonesia. Logika ini sama persis yang digunakan Sri Mulyani.<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, urusan  penerimaan negara. Pemerintah meyakini kenaikan cukai akan mengdongkrak penerimaan negara. Hal ini dinilai penting karena pemerintah membutuhkan banyak dana untuk pembiayaan anggaran di APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Alasan ketiga inilah yang mungkin agak masuk akal. Pemerintah perlu  menaikkan cukai setinggi-tingginya karena pemerintah butuh banyak uang untuk menjalankan program-program. Untuk membangung dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Namun menjadi rancu, di satu sisi pemerintah ingin menurunkan jumlah perokok. Artinya pemerintah ingin masyarakat  tidak membeli rokok. Di sisi yang lain pemerintah ingin mendapatkan setoran besar dari industri ini. Tak tanggung-tanggung, Sri Mulyani menargetkan dapat mengeruk Rp 173 triliun di 2020.<\/p>\n\n\n\n

Rasa-rasanya pemerintah ini hanya punya daya pikir pendek. Mereka tidak mampu berpikir panjang untuk menjaga hasil pendapatan negara ini. Bukan malah membunuh pelan-pelan dan hanya  memikirkan bagaimana pada periode kepempinannya dapat menjalankan program-program dan mengumpulkan uang untuk negara, meski rakyatnya dicekik setiap saat.<\/p>\n\n\n\n

Untuk Bu Sri dan Pak Darmin, kalo memang  niatnya mengurangi perokok, dorong saja Presiden untuk melarang masyarakat menanam tembakau serta cengkeh dan menutup semua pabrik rokok di negeri ini. Gitu baru keren!<\/em><\/p>\n\n\n\n

<\/p>\n","post_title":"Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tidak-perlu-menaikkan-cukai-begini-cara-menguranangi-angka-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-15 12:51:44","post_modified_gmt":"2019-09-15 05:51:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6065","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cTahun lalu tidak naik. Sehingga ya naiknya wajar kalau lebih banyak, lebih besar,\" ujarnya. [Kompas.com]<\/p>\n\n\n\n

Tahun 2019 memang pemerintah tidak menaikkan cukai. Tetapi apakah ini kemudian dapat dijadikan alasan kenaikan cukai 2020. Tentu saja masih bisa dipertanyakan. <\/p>\n\n\n\n

Publik bisa saja menilai, tidak naiknya cukai tahun 2019 lantaran pada tahun itu adalah tahun politik. Semua calon tentu saja  ingin mendapat dukungan dari petani tembakau, buruh pabrik rokok dan jutaan orang lainnya yang menggantungkan hidup dari industri hasil tembakau. Toh pada keputusan tersebut, Sri Mulyani tidak memberikan alasan yang jelas, kenapa cukai tidak naik. (Baca: Pemerintah Tidak Naikkan Cukai Rokok Tahun 2019<\/a>)<\/p>\n\n\n\n

Kedua, menurunkan konsumsi rokok masyarakat Indonesia. Logika ini sama persis yang digunakan Sri Mulyani.<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, urusan  penerimaan negara. Pemerintah meyakini kenaikan cukai akan mengdongkrak penerimaan negara. Hal ini dinilai penting karena pemerintah membutuhkan banyak dana untuk pembiayaan anggaran di APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Alasan ketiga inilah yang mungkin agak masuk akal. Pemerintah perlu  menaikkan cukai setinggi-tingginya karena pemerintah butuh banyak uang untuk menjalankan program-program. Untuk membangung dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Namun menjadi rancu, di satu sisi pemerintah ingin menurunkan jumlah perokok. Artinya pemerintah ingin masyarakat  tidak membeli rokok. Di sisi yang lain pemerintah ingin mendapatkan setoran besar dari industri ini. Tak tanggung-tanggung, Sri Mulyani menargetkan dapat mengeruk Rp 173 triliun di 2020.<\/p>\n\n\n\n

Rasa-rasanya pemerintah ini hanya punya daya pikir pendek. Mereka tidak mampu berpikir panjang untuk menjaga hasil pendapatan negara ini. Bukan malah membunuh pelan-pelan dan hanya  memikirkan bagaimana pada periode kepempinannya dapat menjalankan program-program dan mengumpulkan uang untuk negara, meski rakyatnya dicekik setiap saat.<\/p>\n\n\n\n

Untuk Bu Sri dan Pak Darmin, kalo memang  niatnya mengurangi perokok, dorong saja Presiden untuk melarang masyarakat menanam tembakau serta cengkeh dan menutup semua pabrik rokok di negeri ini. Gitu baru keren!<\/em><\/p>\n\n\n\n

<\/p>\n","post_title":"Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tidak-perlu-menaikkan-cukai-begini-cara-menguranangi-angka-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-15 12:51:44","post_modified_gmt":"2019-09-15 05:51:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6065","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Hampir mirip  dengan Sri, Menteri Koordinator Perokonomian Darmin Nasution mengungkapkan, setidaknya ada 3 hal kenapa cukai rokok tahun ini naik sebesar 23 persen.  Pertama, tahun 2019 pemerintah tidak menaikkan cukai rokok, maka menjadi wajar jika tahun 2020 naiknya lebih besar. <\/p>\n\n\n\n

\u201cTahun lalu tidak naik. Sehingga ya naiknya wajar kalau lebih banyak, lebih besar,\" ujarnya. [Kompas.com]<\/p>\n\n\n\n

Tahun 2019 memang pemerintah tidak menaikkan cukai. Tetapi apakah ini kemudian dapat dijadikan alasan kenaikan cukai 2020. Tentu saja masih bisa dipertanyakan. <\/p>\n\n\n\n

Publik bisa saja menilai, tidak naiknya cukai tahun 2019 lantaran pada tahun itu adalah tahun politik. Semua calon tentu saja  ingin mendapat dukungan dari petani tembakau, buruh pabrik rokok dan jutaan orang lainnya yang menggantungkan hidup dari industri hasil tembakau. Toh pada keputusan tersebut, Sri Mulyani tidak memberikan alasan yang jelas, kenapa cukai tidak naik. (Baca: Pemerintah Tidak Naikkan Cukai Rokok Tahun 2019<\/a>)<\/p>\n\n\n\n

Kedua, menurunkan konsumsi rokok masyarakat Indonesia. Logika ini sama persis yang digunakan Sri Mulyani.<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, urusan  penerimaan negara. Pemerintah meyakini kenaikan cukai akan mengdongkrak penerimaan negara. Hal ini dinilai penting karena pemerintah membutuhkan banyak dana untuk pembiayaan anggaran di APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Alasan ketiga inilah yang mungkin agak masuk akal. Pemerintah perlu  menaikkan cukai setinggi-tingginya karena pemerintah butuh banyak uang untuk menjalankan program-program. Untuk membangung dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Namun menjadi rancu, di satu sisi pemerintah ingin menurunkan jumlah perokok. Artinya pemerintah ingin masyarakat  tidak membeli rokok. Di sisi yang lain pemerintah ingin mendapatkan setoran besar dari industri ini. Tak tanggung-tanggung, Sri Mulyani menargetkan dapat mengeruk Rp 173 triliun di 2020.<\/p>\n\n\n\n

Rasa-rasanya pemerintah ini hanya punya daya pikir pendek. Mereka tidak mampu berpikir panjang untuk menjaga hasil pendapatan negara ini. Bukan malah membunuh pelan-pelan dan hanya  memikirkan bagaimana pada periode kepempinannya dapat menjalankan program-program dan mengumpulkan uang untuk negara, meski rakyatnya dicekik setiap saat.<\/p>\n\n\n\n

Untuk Bu Sri dan Pak Darmin, kalo memang  niatnya mengurangi perokok, dorong saja Presiden untuk melarang masyarakat menanam tembakau serta cengkeh dan menutup semua pabrik rokok di negeri ini. Gitu baru keren!<\/em><\/p>\n\n\n\n

<\/p>\n","post_title":"Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tidak-perlu-menaikkan-cukai-begini-cara-menguranangi-angka-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-15 12:51:44","post_modified_gmt":"2019-09-15 05:51:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6065","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Anggapan ini  jelas keliru. Mau rokok naik setinggi apapun, loyalitas perokok terhadap lintingan emas hijau ini tidak akan pudar. Jika tak mampu membeli rokok pabrikan, maka perokok masih bisa melinting sendiri untuk menikmatinya.<\/p>\n\n\n\n

Hampir mirip  dengan Sri, Menteri Koordinator Perokonomian Darmin Nasution mengungkapkan, setidaknya ada 3 hal kenapa cukai rokok tahun ini naik sebesar 23 persen.  Pertama, tahun 2019 pemerintah tidak menaikkan cukai rokok, maka menjadi wajar jika tahun 2020 naiknya lebih besar. <\/p>\n\n\n\n

\u201cTahun lalu tidak naik. Sehingga ya naiknya wajar kalau lebih banyak, lebih besar,\" ujarnya. [Kompas.com]<\/p>\n\n\n\n

Tahun 2019 memang pemerintah tidak menaikkan cukai. Tetapi apakah ini kemudian dapat dijadikan alasan kenaikan cukai 2020. Tentu saja masih bisa dipertanyakan. <\/p>\n\n\n\n

Publik bisa saja menilai, tidak naiknya cukai tahun 2019 lantaran pada tahun itu adalah tahun politik. Semua calon tentu saja  ingin mendapat dukungan dari petani tembakau, buruh pabrik rokok dan jutaan orang lainnya yang menggantungkan hidup dari industri hasil tembakau. Toh pada keputusan tersebut, Sri Mulyani tidak memberikan alasan yang jelas, kenapa cukai tidak naik. (Baca: Pemerintah Tidak Naikkan Cukai Rokok Tahun 2019<\/a>)<\/p>\n\n\n\n

Kedua, menurunkan konsumsi rokok masyarakat Indonesia. Logika ini sama persis yang digunakan Sri Mulyani.<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, urusan  penerimaan negara. Pemerintah meyakini kenaikan cukai akan mengdongkrak penerimaan negara. Hal ini dinilai penting karena pemerintah membutuhkan banyak dana untuk pembiayaan anggaran di APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Alasan ketiga inilah yang mungkin agak masuk akal. Pemerintah perlu  menaikkan cukai setinggi-tingginya karena pemerintah butuh banyak uang untuk menjalankan program-program. Untuk membangung dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Namun menjadi rancu, di satu sisi pemerintah ingin menurunkan jumlah perokok. Artinya pemerintah ingin masyarakat  tidak membeli rokok. Di sisi yang lain pemerintah ingin mendapatkan setoran besar dari industri ini. Tak tanggung-tanggung, Sri Mulyani menargetkan dapat mengeruk Rp 173 triliun di 2020.<\/p>\n\n\n\n

Rasa-rasanya pemerintah ini hanya punya daya pikir pendek. Mereka tidak mampu berpikir panjang untuk menjaga hasil pendapatan negara ini. Bukan malah membunuh pelan-pelan dan hanya  memikirkan bagaimana pada periode kepempinannya dapat menjalankan program-program dan mengumpulkan uang untuk negara, meski rakyatnya dicekik setiap saat.<\/p>\n\n\n\n

Untuk Bu Sri dan Pak Darmin, kalo memang  niatnya mengurangi perokok, dorong saja Presiden untuk melarang masyarakat menanam tembakau serta cengkeh dan menutup semua pabrik rokok di negeri ini. Gitu baru keren!<\/em><\/p>\n\n\n\n

<\/p>\n","post_title":"Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tidak-perlu-menaikkan-cukai-begini-cara-menguranangi-angka-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-15 12:51:44","post_modified_gmt":"2019-09-15 05:51:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6065","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sri Mulyani menganggap, dengan pemerintah menaikkan cukai, maka secara otomatis angka perokok akan turun. Asumsinya sangat sederhana,  dengan cukai naik otomatis harga jual rokok juga naik. Maka masyarakat tidak akan bisa membeli rokok. Pemerintah sukses, Indonesia lebih sehat karena semakin sedikit  orang yang merokok. <\/p>\n\n\n\n

Anggapan ini  jelas keliru. Mau rokok naik setinggi apapun, loyalitas perokok terhadap lintingan emas hijau ini tidak akan pudar. Jika tak mampu membeli rokok pabrikan, maka perokok masih bisa melinting sendiri untuk menikmatinya.<\/p>\n\n\n\n

Hampir mirip  dengan Sri, Menteri Koordinator Perokonomian Darmin Nasution mengungkapkan, setidaknya ada 3 hal kenapa cukai rokok tahun ini naik sebesar 23 persen.  Pertama, tahun 2019 pemerintah tidak menaikkan cukai rokok, maka menjadi wajar jika tahun 2020 naiknya lebih besar. <\/p>\n\n\n\n

\u201cTahun lalu tidak naik. Sehingga ya naiknya wajar kalau lebih banyak, lebih besar,\" ujarnya. [Kompas.com]<\/p>\n\n\n\n

Tahun 2019 memang pemerintah tidak menaikkan cukai. Tetapi apakah ini kemudian dapat dijadikan alasan kenaikan cukai 2020. Tentu saja masih bisa dipertanyakan. <\/p>\n\n\n\n

Publik bisa saja menilai, tidak naiknya cukai tahun 2019 lantaran pada tahun itu adalah tahun politik. Semua calon tentu saja  ingin mendapat dukungan dari petani tembakau, buruh pabrik rokok dan jutaan orang lainnya yang menggantungkan hidup dari industri hasil tembakau. Toh pada keputusan tersebut, Sri Mulyani tidak memberikan alasan yang jelas, kenapa cukai tidak naik. (Baca: Pemerintah Tidak Naikkan Cukai Rokok Tahun 2019<\/a>)<\/p>\n\n\n\n

Kedua, menurunkan konsumsi rokok masyarakat Indonesia. Logika ini sama persis yang digunakan Sri Mulyani.<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, urusan  penerimaan negara. Pemerintah meyakini kenaikan cukai akan mengdongkrak penerimaan negara. Hal ini dinilai penting karena pemerintah membutuhkan banyak dana untuk pembiayaan anggaran di APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Alasan ketiga inilah yang mungkin agak masuk akal. Pemerintah perlu  menaikkan cukai setinggi-tingginya karena pemerintah butuh banyak uang untuk menjalankan program-program. Untuk membangung dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Namun menjadi rancu, di satu sisi pemerintah ingin menurunkan jumlah perokok. Artinya pemerintah ingin masyarakat  tidak membeli rokok. Di sisi yang lain pemerintah ingin mendapatkan setoran besar dari industri ini. Tak tanggung-tanggung, Sri Mulyani menargetkan dapat mengeruk Rp 173 triliun di 2020.<\/p>\n\n\n\n

Rasa-rasanya pemerintah ini hanya punya daya pikir pendek. Mereka tidak mampu berpikir panjang untuk menjaga hasil pendapatan negara ini. Bukan malah membunuh pelan-pelan dan hanya  memikirkan bagaimana pada periode kepempinannya dapat menjalankan program-program dan mengumpulkan uang untuk negara, meski rakyatnya dicekik setiap saat.<\/p>\n\n\n\n

Untuk Bu Sri dan Pak Darmin, kalo memang  niatnya mengurangi perokok, dorong saja Presiden untuk melarang masyarakat menanam tembakau serta cengkeh dan menutup semua pabrik rokok di negeri ini. Gitu baru keren!<\/em><\/p>\n\n\n\n

<\/p>\n","post_title":"Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tidak-perlu-menaikkan-cukai-begini-cara-menguranangi-angka-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-15 12:51:44","post_modified_gmt":"2019-09-15 05:51:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6065","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Yakni bagaimana kebijakan cukai rokok bisa mengurangi konsumsi rokok. Bagaimana dia bisa mengatur industrinya dan yang ketiga tetap menjaga penerimaan negara,\" kata Sri Mulyani di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat (13\/9).<\/p>\n\n\n\n

Sri Mulyani menganggap, dengan pemerintah menaikkan cukai, maka secara otomatis angka perokok akan turun. Asumsinya sangat sederhana,  dengan cukai naik otomatis harga jual rokok juga naik. Maka masyarakat tidak akan bisa membeli rokok. Pemerintah sukses, Indonesia lebih sehat karena semakin sedikit  orang yang merokok. <\/p>\n\n\n\n

Anggapan ini  jelas keliru. Mau rokok naik setinggi apapun, loyalitas perokok terhadap lintingan emas hijau ini tidak akan pudar. Jika tak mampu membeli rokok pabrikan, maka perokok masih bisa melinting sendiri untuk menikmatinya.<\/p>\n\n\n\n

Hampir mirip  dengan Sri, Menteri Koordinator Perokonomian Darmin Nasution mengungkapkan, setidaknya ada 3 hal kenapa cukai rokok tahun ini naik sebesar 23 persen.  Pertama, tahun 2019 pemerintah tidak menaikkan cukai rokok, maka menjadi wajar jika tahun 2020 naiknya lebih besar. <\/p>\n\n\n\n

\u201cTahun lalu tidak naik. Sehingga ya naiknya wajar kalau lebih banyak, lebih besar,\" ujarnya. [Kompas.com]<\/p>\n\n\n\n

Tahun 2019 memang pemerintah tidak menaikkan cukai. Tetapi apakah ini kemudian dapat dijadikan alasan kenaikan cukai 2020. Tentu saja masih bisa dipertanyakan. <\/p>\n\n\n\n

Publik bisa saja menilai, tidak naiknya cukai tahun 2019 lantaran pada tahun itu adalah tahun politik. Semua calon tentu saja  ingin mendapat dukungan dari petani tembakau, buruh pabrik rokok dan jutaan orang lainnya yang menggantungkan hidup dari industri hasil tembakau. Toh pada keputusan tersebut, Sri Mulyani tidak memberikan alasan yang jelas, kenapa cukai tidak naik. (Baca: Pemerintah Tidak Naikkan Cukai Rokok Tahun 2019<\/a>)<\/p>\n\n\n\n

Kedua, menurunkan konsumsi rokok masyarakat Indonesia. Logika ini sama persis yang digunakan Sri Mulyani.<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, urusan  penerimaan negara. Pemerintah meyakini kenaikan cukai akan mengdongkrak penerimaan negara. Hal ini dinilai penting karena pemerintah membutuhkan banyak dana untuk pembiayaan anggaran di APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Alasan ketiga inilah yang mungkin agak masuk akal. Pemerintah perlu  menaikkan cukai setinggi-tingginya karena pemerintah butuh banyak uang untuk menjalankan program-program. Untuk membangung dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Namun menjadi rancu, di satu sisi pemerintah ingin menurunkan jumlah perokok. Artinya pemerintah ingin masyarakat  tidak membeli rokok. Di sisi yang lain pemerintah ingin mendapatkan setoran besar dari industri ini. Tak tanggung-tanggung, Sri Mulyani menargetkan dapat mengeruk Rp 173 triliun di 2020.<\/p>\n\n\n\n

Rasa-rasanya pemerintah ini hanya punya daya pikir pendek. Mereka tidak mampu berpikir panjang untuk menjaga hasil pendapatan negara ini. Bukan malah membunuh pelan-pelan dan hanya  memikirkan bagaimana pada periode kepempinannya dapat menjalankan program-program dan mengumpulkan uang untuk negara, meski rakyatnya dicekik setiap saat.<\/p>\n\n\n\n

Untuk Bu Sri dan Pak Darmin, kalo memang  niatnya mengurangi perokok, dorong saja Presiden untuk melarang masyarakat menanam tembakau serta cengkeh dan menutup semua pabrik rokok di negeri ini. Gitu baru keren!<\/em><\/p>\n\n\n\n

<\/p>\n","post_title":"Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tidak-perlu-menaikkan-cukai-begini-cara-menguranangi-angka-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-15 12:51:44","post_modified_gmt":"2019-09-15 05:51:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6065","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Menteri Keuangan Sri Mulyani,  seperti yang dikutip Kumparan.com<\/em><\/a>, menjelaskan salah satu pertimbangan kenaikan cukai karena ingin mengurangi jumlah perokok. Harga yang naik tentu akan menyulitkan para perokok hingga mencegah peningkatan konsumsi rokok di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\"Yakni bagaimana kebijakan cukai rokok bisa mengurangi konsumsi rokok. Bagaimana dia bisa mengatur industrinya dan yang ketiga tetap menjaga penerimaan negara,\" kata Sri Mulyani di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat (13\/9).<\/p>\n\n\n\n

Sri Mulyani menganggap, dengan pemerintah menaikkan cukai, maka secara otomatis angka perokok akan turun. Asumsinya sangat sederhana,  dengan cukai naik otomatis harga jual rokok juga naik. Maka masyarakat tidak akan bisa membeli rokok. Pemerintah sukses, Indonesia lebih sehat karena semakin sedikit  orang yang merokok. <\/p>\n\n\n\n

Anggapan ini  jelas keliru. Mau rokok naik setinggi apapun, loyalitas perokok terhadap lintingan emas hijau ini tidak akan pudar. Jika tak mampu membeli rokok pabrikan, maka perokok masih bisa melinting sendiri untuk menikmatinya.<\/p>\n\n\n\n

Hampir mirip  dengan Sri, Menteri Koordinator Perokonomian Darmin Nasution mengungkapkan, setidaknya ada 3 hal kenapa cukai rokok tahun ini naik sebesar 23 persen.  Pertama, tahun 2019 pemerintah tidak menaikkan cukai rokok, maka menjadi wajar jika tahun 2020 naiknya lebih besar. <\/p>\n\n\n\n

\u201cTahun lalu tidak naik. Sehingga ya naiknya wajar kalau lebih banyak, lebih besar,\" ujarnya. [Kompas.com]<\/p>\n\n\n\n

Tahun 2019 memang pemerintah tidak menaikkan cukai. Tetapi apakah ini kemudian dapat dijadikan alasan kenaikan cukai 2020. Tentu saja masih bisa dipertanyakan. <\/p>\n\n\n\n

Publik bisa saja menilai, tidak naiknya cukai tahun 2019 lantaran pada tahun itu adalah tahun politik. Semua calon tentu saja  ingin mendapat dukungan dari petani tembakau, buruh pabrik rokok dan jutaan orang lainnya yang menggantungkan hidup dari industri hasil tembakau. Toh pada keputusan tersebut, Sri Mulyani tidak memberikan alasan yang jelas, kenapa cukai tidak naik. (Baca: Pemerintah Tidak Naikkan Cukai Rokok Tahun 2019<\/a>)<\/p>\n\n\n\n

Kedua, menurunkan konsumsi rokok masyarakat Indonesia. Logika ini sama persis yang digunakan Sri Mulyani.<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, urusan  penerimaan negara. Pemerintah meyakini kenaikan cukai akan mengdongkrak penerimaan negara. Hal ini dinilai penting karena pemerintah membutuhkan banyak dana untuk pembiayaan anggaran di APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Alasan ketiga inilah yang mungkin agak masuk akal. Pemerintah perlu  menaikkan cukai setinggi-tingginya karena pemerintah butuh banyak uang untuk menjalankan program-program. Untuk membangung dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Namun menjadi rancu, di satu sisi pemerintah ingin menurunkan jumlah perokok. Artinya pemerintah ingin masyarakat  tidak membeli rokok. Di sisi yang lain pemerintah ingin mendapatkan setoran besar dari industri ini. Tak tanggung-tanggung, Sri Mulyani menargetkan dapat mengeruk Rp 173 triliun di 2020.<\/p>\n\n\n\n

Rasa-rasanya pemerintah ini hanya punya daya pikir pendek. Mereka tidak mampu berpikir panjang untuk menjaga hasil pendapatan negara ini. Bukan malah membunuh pelan-pelan dan hanya  memikirkan bagaimana pada periode kepempinannya dapat menjalankan program-program dan mengumpulkan uang untuk negara, meski rakyatnya dicekik setiap saat.<\/p>\n\n\n\n

Untuk Bu Sri dan Pak Darmin, kalo memang  niatnya mengurangi perokok, dorong saja Presiden untuk melarang masyarakat menanam tembakau serta cengkeh dan menutup semua pabrik rokok di negeri ini. Gitu baru keren!<\/em><\/p>\n\n\n\n

<\/p>\n","post_title":"Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tidak-perlu-menaikkan-cukai-begini-cara-menguranangi-angka-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-15 12:51:44","post_modified_gmt":"2019-09-15 05:51:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6065","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Presiden Joko Widodo(Jokowi) sepakat untuk menaikkan tarif cukai sebesar 23 persen tahun depan. Kenaikan tarif cukai membuat rata-rata harga jual eceran rokok diperkirakan meningkat 35 persen dari harga jual saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Menteri Keuangan Sri Mulyani,  seperti yang dikutip Kumparan.com<\/em><\/a>, menjelaskan salah satu pertimbangan kenaikan cukai karena ingin mengurangi jumlah perokok. Harga yang naik tentu akan menyulitkan para perokok hingga mencegah peningkatan konsumsi rokok di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\"Yakni bagaimana kebijakan cukai rokok bisa mengurangi konsumsi rokok. Bagaimana dia bisa mengatur industrinya dan yang ketiga tetap menjaga penerimaan negara,\" kata Sri Mulyani di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat (13\/9).<\/p>\n\n\n\n

Sri Mulyani menganggap, dengan pemerintah menaikkan cukai, maka secara otomatis angka perokok akan turun. Asumsinya sangat sederhana,  dengan cukai naik otomatis harga jual rokok juga naik. Maka masyarakat tidak akan bisa membeli rokok. Pemerintah sukses, Indonesia lebih sehat karena semakin sedikit  orang yang merokok. <\/p>\n\n\n\n

Anggapan ini  jelas keliru. Mau rokok naik setinggi apapun, loyalitas perokok terhadap lintingan emas hijau ini tidak akan pudar. Jika tak mampu membeli rokok pabrikan, maka perokok masih bisa melinting sendiri untuk menikmatinya.<\/p>\n\n\n\n

Hampir mirip  dengan Sri, Menteri Koordinator Perokonomian Darmin Nasution mengungkapkan, setidaknya ada 3 hal kenapa cukai rokok tahun ini naik sebesar 23 persen.  Pertama, tahun 2019 pemerintah tidak menaikkan cukai rokok, maka menjadi wajar jika tahun 2020 naiknya lebih besar. <\/p>\n\n\n\n

\u201cTahun lalu tidak naik. Sehingga ya naiknya wajar kalau lebih banyak, lebih besar,\" ujarnya. [Kompas.com]<\/p>\n\n\n\n

Tahun 2019 memang pemerintah tidak menaikkan cukai. Tetapi apakah ini kemudian dapat dijadikan alasan kenaikan cukai 2020. Tentu saja masih bisa dipertanyakan. <\/p>\n\n\n\n

Publik bisa saja menilai, tidak naiknya cukai tahun 2019 lantaran pada tahun itu adalah tahun politik. Semua calon tentu saja  ingin mendapat dukungan dari petani tembakau, buruh pabrik rokok dan jutaan orang lainnya yang menggantungkan hidup dari industri hasil tembakau. Toh pada keputusan tersebut, Sri Mulyani tidak memberikan alasan yang jelas, kenapa cukai tidak naik. (Baca: Pemerintah Tidak Naikkan Cukai Rokok Tahun 2019<\/a>)<\/p>\n\n\n\n

Kedua, menurunkan konsumsi rokok masyarakat Indonesia. Logika ini sama persis yang digunakan Sri Mulyani.<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, urusan  penerimaan negara. Pemerintah meyakini kenaikan cukai akan mengdongkrak penerimaan negara. Hal ini dinilai penting karena pemerintah membutuhkan banyak dana untuk pembiayaan anggaran di APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Alasan ketiga inilah yang mungkin agak masuk akal. Pemerintah perlu  menaikkan cukai setinggi-tingginya karena pemerintah butuh banyak uang untuk menjalankan program-program. Untuk membangung dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Namun menjadi rancu, di satu sisi pemerintah ingin menurunkan jumlah perokok. Artinya pemerintah ingin masyarakat  tidak membeli rokok. Di sisi yang lain pemerintah ingin mendapatkan setoran besar dari industri ini. Tak tanggung-tanggung, Sri Mulyani menargetkan dapat mengeruk Rp 173 triliun di 2020.<\/p>\n\n\n\n

Rasa-rasanya pemerintah ini hanya punya daya pikir pendek. Mereka tidak mampu berpikir panjang untuk menjaga hasil pendapatan negara ini. Bukan malah membunuh pelan-pelan dan hanya  memikirkan bagaimana pada periode kepempinannya dapat menjalankan program-program dan mengumpulkan uang untuk negara, meski rakyatnya dicekik setiap saat.<\/p>\n\n\n\n

Untuk Bu Sri dan Pak Darmin, kalo memang  niatnya mengurangi perokok, dorong saja Presiden untuk melarang masyarakat menanam tembakau serta cengkeh dan menutup semua pabrik rokok di negeri ini. Gitu baru keren!<\/em><\/p>\n\n\n\n

<\/p>\n","post_title":"Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tidak-perlu-menaikkan-cukai-begini-cara-menguranangi-angka-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-15 12:51:44","post_modified_gmt":"2019-09-15 05:51:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6065","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selamat Hari Tani Nasional. Jaya di darat, laut dan akhirat!
<\/p>\n","post_title":"Petani Adalah Pondasi Negeri","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-adalah-pondasi-negeri","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-24 11:26:45","post_modified_gmt":"2019-09-24 04:26:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6095","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6065,"post_author":"855","post_date":"2019-09-15 12:44:34","post_date_gmt":"2019-09-15 05:44:34","post_content":"\n

Presiden Joko Widodo(Jokowi) sepakat untuk menaikkan tarif cukai sebesar 23 persen tahun depan. Kenaikan tarif cukai membuat rata-rata harga jual eceran rokok diperkirakan meningkat 35 persen dari harga jual saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Menteri Keuangan Sri Mulyani,  seperti yang dikutip Kumparan.com<\/em><\/a>, menjelaskan salah satu pertimbangan kenaikan cukai karena ingin mengurangi jumlah perokok. Harga yang naik tentu akan menyulitkan para perokok hingga mencegah peningkatan konsumsi rokok di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\"Yakni bagaimana kebijakan cukai rokok bisa mengurangi konsumsi rokok. Bagaimana dia bisa mengatur industrinya dan yang ketiga tetap menjaga penerimaan negara,\" kata Sri Mulyani di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat (13\/9).<\/p>\n\n\n\n

Sri Mulyani menganggap, dengan pemerintah menaikkan cukai, maka secara otomatis angka perokok akan turun. Asumsinya sangat sederhana,  dengan cukai naik otomatis harga jual rokok juga naik. Maka masyarakat tidak akan bisa membeli rokok. Pemerintah sukses, Indonesia lebih sehat karena semakin sedikit  orang yang merokok. <\/p>\n\n\n\n

Anggapan ini  jelas keliru. Mau rokok naik setinggi apapun, loyalitas perokok terhadap lintingan emas hijau ini tidak akan pudar. Jika tak mampu membeli rokok pabrikan, maka perokok masih bisa melinting sendiri untuk menikmatinya.<\/p>\n\n\n\n

Hampir mirip  dengan Sri, Menteri Koordinator Perokonomian Darmin Nasution mengungkapkan, setidaknya ada 3 hal kenapa cukai rokok tahun ini naik sebesar 23 persen.  Pertama, tahun 2019 pemerintah tidak menaikkan cukai rokok, maka menjadi wajar jika tahun 2020 naiknya lebih besar. <\/p>\n\n\n\n

\u201cTahun lalu tidak naik. Sehingga ya naiknya wajar kalau lebih banyak, lebih besar,\" ujarnya. [Kompas.com]<\/p>\n\n\n\n

Tahun 2019 memang pemerintah tidak menaikkan cukai. Tetapi apakah ini kemudian dapat dijadikan alasan kenaikan cukai 2020. Tentu saja masih bisa dipertanyakan. <\/p>\n\n\n\n

Publik bisa saja menilai, tidak naiknya cukai tahun 2019 lantaran pada tahun itu adalah tahun politik. Semua calon tentu saja  ingin mendapat dukungan dari petani tembakau, buruh pabrik rokok dan jutaan orang lainnya yang menggantungkan hidup dari industri hasil tembakau. Toh pada keputusan tersebut, Sri Mulyani tidak memberikan alasan yang jelas, kenapa cukai tidak naik. (Baca: Pemerintah Tidak Naikkan Cukai Rokok Tahun 2019<\/a>)<\/p>\n\n\n\n

Kedua, menurunkan konsumsi rokok masyarakat Indonesia. Logika ini sama persis yang digunakan Sri Mulyani.<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, urusan  penerimaan negara. Pemerintah meyakini kenaikan cukai akan mengdongkrak penerimaan negara. Hal ini dinilai penting karena pemerintah membutuhkan banyak dana untuk pembiayaan anggaran di APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Alasan ketiga inilah yang mungkin agak masuk akal. Pemerintah perlu  menaikkan cukai setinggi-tingginya karena pemerintah butuh banyak uang untuk menjalankan program-program. Untuk membangung dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Namun menjadi rancu, di satu sisi pemerintah ingin menurunkan jumlah perokok. Artinya pemerintah ingin masyarakat  tidak membeli rokok. Di sisi yang lain pemerintah ingin mendapatkan setoran besar dari industri ini. Tak tanggung-tanggung, Sri Mulyani menargetkan dapat mengeruk Rp 173 triliun di 2020.<\/p>\n\n\n\n

Rasa-rasanya pemerintah ini hanya punya daya pikir pendek. Mereka tidak mampu berpikir panjang untuk menjaga hasil pendapatan negara ini. Bukan malah membunuh pelan-pelan dan hanya  memikirkan bagaimana pada periode kepempinannya dapat menjalankan program-program dan mengumpulkan uang untuk negara, meski rakyatnya dicekik setiap saat.<\/p>\n\n\n\n

Untuk Bu Sri dan Pak Darmin, kalo memang  niatnya mengurangi perokok, dorong saja Presiden untuk melarang masyarakat menanam tembakau serta cengkeh dan menutup semua pabrik rokok di negeri ini. Gitu baru keren!<\/em><\/p>\n\n\n\n

<\/p>\n","post_title":"Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tidak-perlu-menaikkan-cukai-begini-cara-menguranangi-angka-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-15 12:51:44","post_modified_gmt":"2019-09-15 05:51:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6065","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jika pembesar-pembesar itu masih rakus, selama itu juga kesejahteraan hanya punya mereka yang berelasi kuat dengan para elit pemangku kebijakan. Petani, entah bagaimana nasibnya.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Tani Nasional. Jaya di darat, laut dan akhirat!
<\/p>\n","post_title":"Petani Adalah Pondasi Negeri","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-adalah-pondasi-negeri","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-24 11:26:45","post_modified_gmt":"2019-09-24 04:26:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6095","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6065,"post_author":"855","post_date":"2019-09-15 12:44:34","post_date_gmt":"2019-09-15 05:44:34","post_content":"\n

Presiden Joko Widodo(Jokowi) sepakat untuk menaikkan tarif cukai sebesar 23 persen tahun depan. Kenaikan tarif cukai membuat rata-rata harga jual eceran rokok diperkirakan meningkat 35 persen dari harga jual saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Menteri Keuangan Sri Mulyani,  seperti yang dikutip Kumparan.com<\/em><\/a>, menjelaskan salah satu pertimbangan kenaikan cukai karena ingin mengurangi jumlah perokok. Harga yang naik tentu akan menyulitkan para perokok hingga mencegah peningkatan konsumsi rokok di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\"Yakni bagaimana kebijakan cukai rokok bisa mengurangi konsumsi rokok. Bagaimana dia bisa mengatur industrinya dan yang ketiga tetap menjaga penerimaan negara,\" kata Sri Mulyani di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat (13\/9).<\/p>\n\n\n\n

Sri Mulyani menganggap, dengan pemerintah menaikkan cukai, maka secara otomatis angka perokok akan turun. Asumsinya sangat sederhana,  dengan cukai naik otomatis harga jual rokok juga naik. Maka masyarakat tidak akan bisa membeli rokok. Pemerintah sukses, Indonesia lebih sehat karena semakin sedikit  orang yang merokok. <\/p>\n\n\n\n

Anggapan ini  jelas keliru. Mau rokok naik setinggi apapun, loyalitas perokok terhadap lintingan emas hijau ini tidak akan pudar. Jika tak mampu membeli rokok pabrikan, maka perokok masih bisa melinting sendiri untuk menikmatinya.<\/p>\n\n\n\n

Hampir mirip  dengan Sri, Menteri Koordinator Perokonomian Darmin Nasution mengungkapkan, setidaknya ada 3 hal kenapa cukai rokok tahun ini naik sebesar 23 persen.  Pertama, tahun 2019 pemerintah tidak menaikkan cukai rokok, maka menjadi wajar jika tahun 2020 naiknya lebih besar. <\/p>\n\n\n\n

\u201cTahun lalu tidak naik. Sehingga ya naiknya wajar kalau lebih banyak, lebih besar,\" ujarnya. [Kompas.com]<\/p>\n\n\n\n

Tahun 2019 memang pemerintah tidak menaikkan cukai. Tetapi apakah ini kemudian dapat dijadikan alasan kenaikan cukai 2020. Tentu saja masih bisa dipertanyakan. <\/p>\n\n\n\n

Publik bisa saja menilai, tidak naiknya cukai tahun 2019 lantaran pada tahun itu adalah tahun politik. Semua calon tentu saja  ingin mendapat dukungan dari petani tembakau, buruh pabrik rokok dan jutaan orang lainnya yang menggantungkan hidup dari industri hasil tembakau. Toh pada keputusan tersebut, Sri Mulyani tidak memberikan alasan yang jelas, kenapa cukai tidak naik. (Baca: Pemerintah Tidak Naikkan Cukai Rokok Tahun 2019<\/a>)<\/p>\n\n\n\n

Kedua, menurunkan konsumsi rokok masyarakat Indonesia. Logika ini sama persis yang digunakan Sri Mulyani.<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, urusan  penerimaan negara. Pemerintah meyakini kenaikan cukai akan mengdongkrak penerimaan negara. Hal ini dinilai penting karena pemerintah membutuhkan banyak dana untuk pembiayaan anggaran di APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Alasan ketiga inilah yang mungkin agak masuk akal. Pemerintah perlu  menaikkan cukai setinggi-tingginya karena pemerintah butuh banyak uang untuk menjalankan program-program. Untuk membangung dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Namun menjadi rancu, di satu sisi pemerintah ingin menurunkan jumlah perokok. Artinya pemerintah ingin masyarakat  tidak membeli rokok. Di sisi yang lain pemerintah ingin mendapatkan setoran besar dari industri ini. Tak tanggung-tanggung, Sri Mulyani menargetkan dapat mengeruk Rp 173 triliun di 2020.<\/p>\n\n\n\n

Rasa-rasanya pemerintah ini hanya punya daya pikir pendek. Mereka tidak mampu berpikir panjang untuk menjaga hasil pendapatan negara ini. Bukan malah membunuh pelan-pelan dan hanya  memikirkan bagaimana pada periode kepempinannya dapat menjalankan program-program dan mengumpulkan uang untuk negara, meski rakyatnya dicekik setiap saat.<\/p>\n\n\n\n

Untuk Bu Sri dan Pak Darmin, kalo memang  niatnya mengurangi perokok, dorong saja Presiden untuk melarang masyarakat menanam tembakau serta cengkeh dan menutup semua pabrik rokok di negeri ini. Gitu baru keren!<\/em><\/p>\n\n\n\n

<\/p>\n","post_title":"Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tidak-perlu-menaikkan-cukai-begini-cara-menguranangi-angka-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-15 12:51:44","post_modified_gmt":"2019-09-15 05:51:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6065","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Benar yang tertulis dalam kitab Itkhafu\u2019Sadah Al-Muttaqien I\/52, teraturnya agama atau negara adalah bergantung pada teraturnya dunia. Teraturnya dunia bergantung pada uang. Uang itu terkumpul dari rakyat. Sedangkan teraturnya hidup rakyat adalah bergantung pada sikap pembesar-pembesarnya yang adil.
<\/p>\n\n\n\n

Jika pembesar-pembesar itu masih rakus, selama itu juga kesejahteraan hanya punya mereka yang berelasi kuat dengan para elit pemangku kebijakan. Petani, entah bagaimana nasibnya.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Tani Nasional. Jaya di darat, laut dan akhirat!
<\/p>\n","post_title":"Petani Adalah Pondasi Negeri","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-adalah-pondasi-negeri","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-24 11:26:45","post_modified_gmt":"2019-09-24 04:26:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6095","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6065,"post_author":"855","post_date":"2019-09-15 12:44:34","post_date_gmt":"2019-09-15 05:44:34","post_content":"\n

Presiden Joko Widodo(Jokowi) sepakat untuk menaikkan tarif cukai sebesar 23 persen tahun depan. Kenaikan tarif cukai membuat rata-rata harga jual eceran rokok diperkirakan meningkat 35 persen dari harga jual saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Menteri Keuangan Sri Mulyani,  seperti yang dikutip Kumparan.com<\/em><\/a>, menjelaskan salah satu pertimbangan kenaikan cukai karena ingin mengurangi jumlah perokok. Harga yang naik tentu akan menyulitkan para perokok hingga mencegah peningkatan konsumsi rokok di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\"Yakni bagaimana kebijakan cukai rokok bisa mengurangi konsumsi rokok. Bagaimana dia bisa mengatur industrinya dan yang ketiga tetap menjaga penerimaan negara,\" kata Sri Mulyani di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat (13\/9).<\/p>\n\n\n\n

Sri Mulyani menganggap, dengan pemerintah menaikkan cukai, maka secara otomatis angka perokok akan turun. Asumsinya sangat sederhana,  dengan cukai naik otomatis harga jual rokok juga naik. Maka masyarakat tidak akan bisa membeli rokok. Pemerintah sukses, Indonesia lebih sehat karena semakin sedikit  orang yang merokok. <\/p>\n\n\n\n

Anggapan ini  jelas keliru. Mau rokok naik setinggi apapun, loyalitas perokok terhadap lintingan emas hijau ini tidak akan pudar. Jika tak mampu membeli rokok pabrikan, maka perokok masih bisa melinting sendiri untuk menikmatinya.<\/p>\n\n\n\n

Hampir mirip  dengan Sri, Menteri Koordinator Perokonomian Darmin Nasution mengungkapkan, setidaknya ada 3 hal kenapa cukai rokok tahun ini naik sebesar 23 persen.  Pertama, tahun 2019 pemerintah tidak menaikkan cukai rokok, maka menjadi wajar jika tahun 2020 naiknya lebih besar. <\/p>\n\n\n\n

\u201cTahun lalu tidak naik. Sehingga ya naiknya wajar kalau lebih banyak, lebih besar,\" ujarnya. [Kompas.com]<\/p>\n\n\n\n

Tahun 2019 memang pemerintah tidak menaikkan cukai. Tetapi apakah ini kemudian dapat dijadikan alasan kenaikan cukai 2020. Tentu saja masih bisa dipertanyakan. <\/p>\n\n\n\n

Publik bisa saja menilai, tidak naiknya cukai tahun 2019 lantaran pada tahun itu adalah tahun politik. Semua calon tentu saja  ingin mendapat dukungan dari petani tembakau, buruh pabrik rokok dan jutaan orang lainnya yang menggantungkan hidup dari industri hasil tembakau. Toh pada keputusan tersebut, Sri Mulyani tidak memberikan alasan yang jelas, kenapa cukai tidak naik. (Baca: Pemerintah Tidak Naikkan Cukai Rokok Tahun 2019<\/a>)<\/p>\n\n\n\n

Kedua, menurunkan konsumsi rokok masyarakat Indonesia. Logika ini sama persis yang digunakan Sri Mulyani.<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, urusan  penerimaan negara. Pemerintah meyakini kenaikan cukai akan mengdongkrak penerimaan negara. Hal ini dinilai penting karena pemerintah membutuhkan banyak dana untuk pembiayaan anggaran di APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Alasan ketiga inilah yang mungkin agak masuk akal. Pemerintah perlu  menaikkan cukai setinggi-tingginya karena pemerintah butuh banyak uang untuk menjalankan program-program. Untuk membangung dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Namun menjadi rancu, di satu sisi pemerintah ingin menurunkan jumlah perokok. Artinya pemerintah ingin masyarakat  tidak membeli rokok. Di sisi yang lain pemerintah ingin mendapatkan setoran besar dari industri ini. Tak tanggung-tanggung, Sri Mulyani menargetkan dapat mengeruk Rp 173 triliun di 2020.<\/p>\n\n\n\n

Rasa-rasanya pemerintah ini hanya punya daya pikir pendek. Mereka tidak mampu berpikir panjang untuk menjaga hasil pendapatan negara ini. Bukan malah membunuh pelan-pelan dan hanya  memikirkan bagaimana pada periode kepempinannya dapat menjalankan program-program dan mengumpulkan uang untuk negara, meski rakyatnya dicekik setiap saat.<\/p>\n\n\n\n

Untuk Bu Sri dan Pak Darmin, kalo memang  niatnya mengurangi perokok, dorong saja Presiden untuk melarang masyarakat menanam tembakau serta cengkeh dan menutup semua pabrik rokok di negeri ini. Gitu baru keren!<\/em><\/p>\n\n\n\n

<\/p>\n","post_title":"Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tidak-perlu-menaikkan-cukai-begini-cara-menguranangi-angka-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-15 12:51:44","post_modified_gmt":"2019-09-15 05:51:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6065","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Belum lagi payahnya seorang petani menghadapi tak menentunya iklim, hama, dan seabrek permasalahan teknis pertanian, pemerintah sering menambah beban mereka dengan kebijakan-kebijakan yang hanya menguntungkan beberapa pihak saja. Petani seperti bukan masyarakat yang juga wajib dijaga kesejahteraan hidupnya. Petani hanya dijadikan sumber rupiah untuk negara, tentu saja juga untuk para pejabat yang mendapat gaji darinya.
<\/p>\n\n\n\n

Benar yang tertulis dalam kitab Itkhafu\u2019Sadah Al-Muttaqien I\/52, teraturnya agama atau negara adalah bergantung pada teraturnya dunia. Teraturnya dunia bergantung pada uang. Uang itu terkumpul dari rakyat. Sedangkan teraturnya hidup rakyat adalah bergantung pada sikap pembesar-pembesarnya yang adil.
<\/p>\n\n\n\n

Jika pembesar-pembesar itu masih rakus, selama itu juga kesejahteraan hanya punya mereka yang berelasi kuat dengan para elit pemangku kebijakan. Petani, entah bagaimana nasibnya.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Tani Nasional. Jaya di darat, laut dan akhirat!
<\/p>\n","post_title":"Petani Adalah Pondasi Negeri","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-adalah-pondasi-negeri","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-24 11:26:45","post_modified_gmt":"2019-09-24 04:26:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6095","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6065,"post_author":"855","post_date":"2019-09-15 12:44:34","post_date_gmt":"2019-09-15 05:44:34","post_content":"\n

Presiden Joko Widodo(Jokowi) sepakat untuk menaikkan tarif cukai sebesar 23 persen tahun depan. Kenaikan tarif cukai membuat rata-rata harga jual eceran rokok diperkirakan meningkat 35 persen dari harga jual saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Menteri Keuangan Sri Mulyani,  seperti yang dikutip Kumparan.com<\/em><\/a>, menjelaskan salah satu pertimbangan kenaikan cukai karena ingin mengurangi jumlah perokok. Harga yang naik tentu akan menyulitkan para perokok hingga mencegah peningkatan konsumsi rokok di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\"Yakni bagaimana kebijakan cukai rokok bisa mengurangi konsumsi rokok. Bagaimana dia bisa mengatur industrinya dan yang ketiga tetap menjaga penerimaan negara,\" kata Sri Mulyani di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat (13\/9).<\/p>\n\n\n\n

Sri Mulyani menganggap, dengan pemerintah menaikkan cukai, maka secara otomatis angka perokok akan turun. Asumsinya sangat sederhana,  dengan cukai naik otomatis harga jual rokok juga naik. Maka masyarakat tidak akan bisa membeli rokok. Pemerintah sukses, Indonesia lebih sehat karena semakin sedikit  orang yang merokok. <\/p>\n\n\n\n

Anggapan ini  jelas keliru. Mau rokok naik setinggi apapun, loyalitas perokok terhadap lintingan emas hijau ini tidak akan pudar. Jika tak mampu membeli rokok pabrikan, maka perokok masih bisa melinting sendiri untuk menikmatinya.<\/p>\n\n\n\n

Hampir mirip  dengan Sri, Menteri Koordinator Perokonomian Darmin Nasution mengungkapkan, setidaknya ada 3 hal kenapa cukai rokok tahun ini naik sebesar 23 persen.  Pertama, tahun 2019 pemerintah tidak menaikkan cukai rokok, maka menjadi wajar jika tahun 2020 naiknya lebih besar. <\/p>\n\n\n\n

\u201cTahun lalu tidak naik. Sehingga ya naiknya wajar kalau lebih banyak, lebih besar,\" ujarnya. [Kompas.com]<\/p>\n\n\n\n

Tahun 2019 memang pemerintah tidak menaikkan cukai. Tetapi apakah ini kemudian dapat dijadikan alasan kenaikan cukai 2020. Tentu saja masih bisa dipertanyakan. <\/p>\n\n\n\n

Publik bisa saja menilai, tidak naiknya cukai tahun 2019 lantaran pada tahun itu adalah tahun politik. Semua calon tentu saja  ingin mendapat dukungan dari petani tembakau, buruh pabrik rokok dan jutaan orang lainnya yang menggantungkan hidup dari industri hasil tembakau. Toh pada keputusan tersebut, Sri Mulyani tidak memberikan alasan yang jelas, kenapa cukai tidak naik. (Baca: Pemerintah Tidak Naikkan Cukai Rokok Tahun 2019<\/a>)<\/p>\n\n\n\n

Kedua, menurunkan konsumsi rokok masyarakat Indonesia. Logika ini sama persis yang digunakan Sri Mulyani.<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, urusan  penerimaan negara. Pemerintah meyakini kenaikan cukai akan mengdongkrak penerimaan negara. Hal ini dinilai penting karena pemerintah membutuhkan banyak dana untuk pembiayaan anggaran di APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Alasan ketiga inilah yang mungkin agak masuk akal. Pemerintah perlu  menaikkan cukai setinggi-tingginya karena pemerintah butuh banyak uang untuk menjalankan program-program. Untuk membangung dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Namun menjadi rancu, di satu sisi pemerintah ingin menurunkan jumlah perokok. Artinya pemerintah ingin masyarakat  tidak membeli rokok. Di sisi yang lain pemerintah ingin mendapatkan setoran besar dari industri ini. Tak tanggung-tanggung, Sri Mulyani menargetkan dapat mengeruk Rp 173 triliun di 2020.<\/p>\n\n\n\n

Rasa-rasanya pemerintah ini hanya punya daya pikir pendek. Mereka tidak mampu berpikir panjang untuk menjaga hasil pendapatan negara ini. Bukan malah membunuh pelan-pelan dan hanya  memikirkan bagaimana pada periode kepempinannya dapat menjalankan program-program dan mengumpulkan uang untuk negara, meski rakyatnya dicekik setiap saat.<\/p>\n\n\n\n

Untuk Bu Sri dan Pak Darmin, kalo memang  niatnya mengurangi perokok, dorong saja Presiden untuk melarang masyarakat menanam tembakau serta cengkeh dan menutup semua pabrik rokok di negeri ini. Gitu baru keren!<\/em><\/p>\n\n\n\n

<\/p>\n","post_title":"Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tidak-perlu-menaikkan-cukai-begini-cara-menguranangi-angka-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-15 12:51:44","post_modified_gmt":"2019-09-15 05:51:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6065","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/a><\/p>\n\n\n\n

Belum lagi payahnya seorang petani menghadapi tak menentunya iklim, hama, dan seabrek permasalahan teknis pertanian, pemerintah sering menambah beban mereka dengan kebijakan-kebijakan yang hanya menguntungkan beberapa pihak saja. Petani seperti bukan masyarakat yang juga wajib dijaga kesejahteraan hidupnya. Petani hanya dijadikan sumber rupiah untuk negara, tentu saja juga untuk para pejabat yang mendapat gaji darinya.
<\/p>\n\n\n\n

Benar yang tertulis dalam kitab Itkhafu\u2019Sadah Al-Muttaqien I\/52, teraturnya agama atau negara adalah bergantung pada teraturnya dunia. Teraturnya dunia bergantung pada uang. Uang itu terkumpul dari rakyat. Sedangkan teraturnya hidup rakyat adalah bergantung pada sikap pembesar-pembesarnya yang adil.
<\/p>\n\n\n\n

Jika pembesar-pembesar itu masih rakus, selama itu juga kesejahteraan hanya punya mereka yang berelasi kuat dengan para elit pemangku kebijakan. Petani, entah bagaimana nasibnya.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Tani Nasional. Jaya di darat, laut dan akhirat!
<\/p>\n","post_title":"Petani Adalah Pondasi Negeri","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-adalah-pondasi-negeri","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-24 11:26:45","post_modified_gmt":"2019-09-24 04:26:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6095","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6065,"post_author":"855","post_date":"2019-09-15 12:44:34","post_date_gmt":"2019-09-15 05:44:34","post_content":"\n

Presiden Joko Widodo(Jokowi) sepakat untuk menaikkan tarif cukai sebesar 23 persen tahun depan. Kenaikan tarif cukai membuat rata-rata harga jual eceran rokok diperkirakan meningkat 35 persen dari harga jual saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Menteri Keuangan Sri Mulyani,  seperti yang dikutip Kumparan.com<\/em><\/a>, menjelaskan salah satu pertimbangan kenaikan cukai karena ingin mengurangi jumlah perokok. Harga yang naik tentu akan menyulitkan para perokok hingga mencegah peningkatan konsumsi rokok di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\"Yakni bagaimana kebijakan cukai rokok bisa mengurangi konsumsi rokok. Bagaimana dia bisa mengatur industrinya dan yang ketiga tetap menjaga penerimaan negara,\" kata Sri Mulyani di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat (13\/9).<\/p>\n\n\n\n

Sri Mulyani menganggap, dengan pemerintah menaikkan cukai, maka secara otomatis angka perokok akan turun. Asumsinya sangat sederhana,  dengan cukai naik otomatis harga jual rokok juga naik. Maka masyarakat tidak akan bisa membeli rokok. Pemerintah sukses, Indonesia lebih sehat karena semakin sedikit  orang yang merokok. <\/p>\n\n\n\n

Anggapan ini  jelas keliru. Mau rokok naik setinggi apapun, loyalitas perokok terhadap lintingan emas hijau ini tidak akan pudar. Jika tak mampu membeli rokok pabrikan, maka perokok masih bisa melinting sendiri untuk menikmatinya.<\/p>\n\n\n\n

Hampir mirip  dengan Sri, Menteri Koordinator Perokonomian Darmin Nasution mengungkapkan, setidaknya ada 3 hal kenapa cukai rokok tahun ini naik sebesar 23 persen.  Pertama, tahun 2019 pemerintah tidak menaikkan cukai rokok, maka menjadi wajar jika tahun 2020 naiknya lebih besar. <\/p>\n\n\n\n

\u201cTahun lalu tidak naik. Sehingga ya naiknya wajar kalau lebih banyak, lebih besar,\" ujarnya. [Kompas.com]<\/p>\n\n\n\n

Tahun 2019 memang pemerintah tidak menaikkan cukai. Tetapi apakah ini kemudian dapat dijadikan alasan kenaikan cukai 2020. Tentu saja masih bisa dipertanyakan. <\/p>\n\n\n\n

Publik bisa saja menilai, tidak naiknya cukai tahun 2019 lantaran pada tahun itu adalah tahun politik. Semua calon tentu saja  ingin mendapat dukungan dari petani tembakau, buruh pabrik rokok dan jutaan orang lainnya yang menggantungkan hidup dari industri hasil tembakau. Toh pada keputusan tersebut, Sri Mulyani tidak memberikan alasan yang jelas, kenapa cukai tidak naik. (Baca: Pemerintah Tidak Naikkan Cukai Rokok Tahun 2019<\/a>)<\/p>\n\n\n\n

Kedua, menurunkan konsumsi rokok masyarakat Indonesia. Logika ini sama persis yang digunakan Sri Mulyani.<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, urusan  penerimaan negara. Pemerintah meyakini kenaikan cukai akan mengdongkrak penerimaan negara. Hal ini dinilai penting karena pemerintah membutuhkan banyak dana untuk pembiayaan anggaran di APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Alasan ketiga inilah yang mungkin agak masuk akal. Pemerintah perlu  menaikkan cukai setinggi-tingginya karena pemerintah butuh banyak uang untuk menjalankan program-program. Untuk membangung dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Namun menjadi rancu, di satu sisi pemerintah ingin menurunkan jumlah perokok. Artinya pemerintah ingin masyarakat  tidak membeli rokok. Di sisi yang lain pemerintah ingin mendapatkan setoran besar dari industri ini. Tak tanggung-tanggung, Sri Mulyani menargetkan dapat mengeruk Rp 173 triliun di 2020.<\/p>\n\n\n\n

Rasa-rasanya pemerintah ini hanya punya daya pikir pendek. Mereka tidak mampu berpikir panjang untuk menjaga hasil pendapatan negara ini. Bukan malah membunuh pelan-pelan dan hanya  memikirkan bagaimana pada periode kepempinannya dapat menjalankan program-program dan mengumpulkan uang untuk negara, meski rakyatnya dicekik setiap saat.<\/p>\n\n\n\n

Untuk Bu Sri dan Pak Darmin, kalo memang  niatnya mengurangi perokok, dorong saja Presiden untuk melarang masyarakat menanam tembakau serta cengkeh dan menutup semua pabrik rokok di negeri ini. Gitu baru keren!<\/em><\/p>\n\n\n\n

<\/p>\n","post_title":"Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tidak-perlu-menaikkan-cukai-begini-cara-menguranangi-angka-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-15 12:51:44","post_modified_gmt":"2019-09-15 05:51:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6065","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Hak-hak petani dikebiri. Banyak berita mengabarkan petani diintimidasi. Tanah-tanah mereka setiap waktu bisa saja dicuri oleh para makelar yang tak punya nurani, digantikan pabrik-pabrik menjulang tinggi. Kesejahteraan hidup mereka tidak pernah dipedulikan, yang hanya adalah kalimat-kalimat manis datang dari para pemangku kebijakan negeri, itupun hanya ketika datang Pemilu kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/a><\/p>\n\n\n\n

Belum lagi payahnya seorang petani menghadapi tak menentunya iklim, hama, dan seabrek permasalahan teknis pertanian, pemerintah sering menambah beban mereka dengan kebijakan-kebijakan yang hanya menguntungkan beberapa pihak saja. Petani seperti bukan masyarakat yang juga wajib dijaga kesejahteraan hidupnya. Petani hanya dijadikan sumber rupiah untuk negara, tentu saja juga untuk para pejabat yang mendapat gaji darinya.
<\/p>\n\n\n\n

Benar yang tertulis dalam kitab Itkhafu\u2019Sadah Al-Muttaqien I\/52, teraturnya agama atau negara adalah bergantung pada teraturnya dunia. Teraturnya dunia bergantung pada uang. Uang itu terkumpul dari rakyat. Sedangkan teraturnya hidup rakyat adalah bergantung pada sikap pembesar-pembesarnya yang adil.
<\/p>\n\n\n\n

Jika pembesar-pembesar itu masih rakus, selama itu juga kesejahteraan hanya punya mereka yang berelasi kuat dengan para elit pemangku kebijakan. Petani, entah bagaimana nasibnya.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Tani Nasional. Jaya di darat, laut dan akhirat!
<\/p>\n","post_title":"Petani Adalah Pondasi Negeri","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-adalah-pondasi-negeri","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-24 11:26:45","post_modified_gmt":"2019-09-24 04:26:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6095","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6065,"post_author":"855","post_date":"2019-09-15 12:44:34","post_date_gmt":"2019-09-15 05:44:34","post_content":"\n

Presiden Joko Widodo(Jokowi) sepakat untuk menaikkan tarif cukai sebesar 23 persen tahun depan. Kenaikan tarif cukai membuat rata-rata harga jual eceran rokok diperkirakan meningkat 35 persen dari harga jual saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Menteri Keuangan Sri Mulyani,  seperti yang dikutip Kumparan.com<\/em><\/a>, menjelaskan salah satu pertimbangan kenaikan cukai karena ingin mengurangi jumlah perokok. Harga yang naik tentu akan menyulitkan para perokok hingga mencegah peningkatan konsumsi rokok di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\"Yakni bagaimana kebijakan cukai rokok bisa mengurangi konsumsi rokok. Bagaimana dia bisa mengatur industrinya dan yang ketiga tetap menjaga penerimaan negara,\" kata Sri Mulyani di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat (13\/9).<\/p>\n\n\n\n

Sri Mulyani menganggap, dengan pemerintah menaikkan cukai, maka secara otomatis angka perokok akan turun. Asumsinya sangat sederhana,  dengan cukai naik otomatis harga jual rokok juga naik. Maka masyarakat tidak akan bisa membeli rokok. Pemerintah sukses, Indonesia lebih sehat karena semakin sedikit  orang yang merokok. <\/p>\n\n\n\n

Anggapan ini  jelas keliru. Mau rokok naik setinggi apapun, loyalitas perokok terhadap lintingan emas hijau ini tidak akan pudar. Jika tak mampu membeli rokok pabrikan, maka perokok masih bisa melinting sendiri untuk menikmatinya.<\/p>\n\n\n\n

Hampir mirip  dengan Sri, Menteri Koordinator Perokonomian Darmin Nasution mengungkapkan, setidaknya ada 3 hal kenapa cukai rokok tahun ini naik sebesar 23 persen.  Pertama, tahun 2019 pemerintah tidak menaikkan cukai rokok, maka menjadi wajar jika tahun 2020 naiknya lebih besar. <\/p>\n\n\n\n

\u201cTahun lalu tidak naik. Sehingga ya naiknya wajar kalau lebih banyak, lebih besar,\" ujarnya. [Kompas.com]<\/p>\n\n\n\n

Tahun 2019 memang pemerintah tidak menaikkan cukai. Tetapi apakah ini kemudian dapat dijadikan alasan kenaikan cukai 2020. Tentu saja masih bisa dipertanyakan. <\/p>\n\n\n\n

Publik bisa saja menilai, tidak naiknya cukai tahun 2019 lantaran pada tahun itu adalah tahun politik. Semua calon tentu saja  ingin mendapat dukungan dari petani tembakau, buruh pabrik rokok dan jutaan orang lainnya yang menggantungkan hidup dari industri hasil tembakau. Toh pada keputusan tersebut, Sri Mulyani tidak memberikan alasan yang jelas, kenapa cukai tidak naik. (Baca: Pemerintah Tidak Naikkan Cukai Rokok Tahun 2019<\/a>)<\/p>\n\n\n\n

Kedua, menurunkan konsumsi rokok masyarakat Indonesia. Logika ini sama persis yang digunakan Sri Mulyani.<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, urusan  penerimaan negara. Pemerintah meyakini kenaikan cukai akan mengdongkrak penerimaan negara. Hal ini dinilai penting karena pemerintah membutuhkan banyak dana untuk pembiayaan anggaran di APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Alasan ketiga inilah yang mungkin agak masuk akal. Pemerintah perlu  menaikkan cukai setinggi-tingginya karena pemerintah butuh banyak uang untuk menjalankan program-program. Untuk membangung dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Namun menjadi rancu, di satu sisi pemerintah ingin menurunkan jumlah perokok. Artinya pemerintah ingin masyarakat  tidak membeli rokok. Di sisi yang lain pemerintah ingin mendapatkan setoran besar dari industri ini. Tak tanggung-tanggung, Sri Mulyani menargetkan dapat mengeruk Rp 173 triliun di 2020.<\/p>\n\n\n\n

Rasa-rasanya pemerintah ini hanya punya daya pikir pendek. Mereka tidak mampu berpikir panjang untuk menjaga hasil pendapatan negara ini. Bukan malah membunuh pelan-pelan dan hanya  memikirkan bagaimana pada periode kepempinannya dapat menjalankan program-program dan mengumpulkan uang untuk negara, meski rakyatnya dicekik setiap saat.<\/p>\n\n\n\n

Untuk Bu Sri dan Pak Darmin, kalo memang  niatnya mengurangi perokok, dorong saja Presiden untuk melarang masyarakat menanam tembakau serta cengkeh dan menutup semua pabrik rokok di negeri ini. Gitu baru keren!<\/em><\/p>\n\n\n\n

<\/p>\n","post_title":"Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tidak-perlu-menaikkan-cukai-begini-cara-menguranangi-angka-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-15 12:51:44","post_modified_gmt":"2019-09-15 05:51:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6065","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tetapi nahas, hingga kini petani masih dipandang sebelah mata. Nasib dan kesejahteraannya dianggap fana. Padahal petani juga bekerja untuk  bangsa dan negara.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Hak-hak petani dikebiri. Banyak berita mengabarkan petani diintimidasi. Tanah-tanah mereka setiap waktu bisa saja dicuri oleh para makelar yang tak punya nurani, digantikan pabrik-pabrik menjulang tinggi. Kesejahteraan hidup mereka tidak pernah dipedulikan, yang hanya adalah kalimat-kalimat manis datang dari para pemangku kebijakan negeri, itupun hanya ketika datang Pemilu kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/a><\/p>\n\n\n\n

Belum lagi payahnya seorang petani menghadapi tak menentunya iklim, hama, dan seabrek permasalahan teknis pertanian, pemerintah sering menambah beban mereka dengan kebijakan-kebijakan yang hanya menguntungkan beberapa pihak saja. Petani seperti bukan masyarakat yang juga wajib dijaga kesejahteraan hidupnya. Petani hanya dijadikan sumber rupiah untuk negara, tentu saja juga untuk para pejabat yang mendapat gaji darinya.
<\/p>\n\n\n\n

Benar yang tertulis dalam kitab Itkhafu\u2019Sadah Al-Muttaqien I\/52, teraturnya agama atau negara adalah bergantung pada teraturnya dunia. Teraturnya dunia bergantung pada uang. Uang itu terkumpul dari rakyat. Sedangkan teraturnya hidup rakyat adalah bergantung pada sikap pembesar-pembesarnya yang adil.
<\/p>\n\n\n\n

Jika pembesar-pembesar itu masih rakus, selama itu juga kesejahteraan hanya punya mereka yang berelasi kuat dengan para elit pemangku kebijakan. Petani, entah bagaimana nasibnya.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Tani Nasional. Jaya di darat, laut dan akhirat!
<\/p>\n","post_title":"Petani Adalah Pondasi Negeri","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-adalah-pondasi-negeri","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-24 11:26:45","post_modified_gmt":"2019-09-24 04:26:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6095","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6065,"post_author":"855","post_date":"2019-09-15 12:44:34","post_date_gmt":"2019-09-15 05:44:34","post_content":"\n

Presiden Joko Widodo(Jokowi) sepakat untuk menaikkan tarif cukai sebesar 23 persen tahun depan. Kenaikan tarif cukai membuat rata-rata harga jual eceran rokok diperkirakan meningkat 35 persen dari harga jual saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Menteri Keuangan Sri Mulyani,  seperti yang dikutip Kumparan.com<\/em><\/a>, menjelaskan salah satu pertimbangan kenaikan cukai karena ingin mengurangi jumlah perokok. Harga yang naik tentu akan menyulitkan para perokok hingga mencegah peningkatan konsumsi rokok di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\"Yakni bagaimana kebijakan cukai rokok bisa mengurangi konsumsi rokok. Bagaimana dia bisa mengatur industrinya dan yang ketiga tetap menjaga penerimaan negara,\" kata Sri Mulyani di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat (13\/9).<\/p>\n\n\n\n

Sri Mulyani menganggap, dengan pemerintah menaikkan cukai, maka secara otomatis angka perokok akan turun. Asumsinya sangat sederhana,  dengan cukai naik otomatis harga jual rokok juga naik. Maka masyarakat tidak akan bisa membeli rokok. Pemerintah sukses, Indonesia lebih sehat karena semakin sedikit  orang yang merokok. <\/p>\n\n\n\n

Anggapan ini  jelas keliru. Mau rokok naik setinggi apapun, loyalitas perokok terhadap lintingan emas hijau ini tidak akan pudar. Jika tak mampu membeli rokok pabrikan, maka perokok masih bisa melinting sendiri untuk menikmatinya.<\/p>\n\n\n\n

Hampir mirip  dengan Sri, Menteri Koordinator Perokonomian Darmin Nasution mengungkapkan, setidaknya ada 3 hal kenapa cukai rokok tahun ini naik sebesar 23 persen.  Pertama, tahun 2019 pemerintah tidak menaikkan cukai rokok, maka menjadi wajar jika tahun 2020 naiknya lebih besar. <\/p>\n\n\n\n

\u201cTahun lalu tidak naik. Sehingga ya naiknya wajar kalau lebih banyak, lebih besar,\" ujarnya. [Kompas.com]<\/p>\n\n\n\n

Tahun 2019 memang pemerintah tidak menaikkan cukai. Tetapi apakah ini kemudian dapat dijadikan alasan kenaikan cukai 2020. Tentu saja masih bisa dipertanyakan. <\/p>\n\n\n\n

Publik bisa saja menilai, tidak naiknya cukai tahun 2019 lantaran pada tahun itu adalah tahun politik. Semua calon tentu saja  ingin mendapat dukungan dari petani tembakau, buruh pabrik rokok dan jutaan orang lainnya yang menggantungkan hidup dari industri hasil tembakau. Toh pada keputusan tersebut, Sri Mulyani tidak memberikan alasan yang jelas, kenapa cukai tidak naik. (Baca: Pemerintah Tidak Naikkan Cukai Rokok Tahun 2019<\/a>)<\/p>\n\n\n\n

Kedua, menurunkan konsumsi rokok masyarakat Indonesia. Logika ini sama persis yang digunakan Sri Mulyani.<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, urusan  penerimaan negara. Pemerintah meyakini kenaikan cukai akan mengdongkrak penerimaan negara. Hal ini dinilai penting karena pemerintah membutuhkan banyak dana untuk pembiayaan anggaran di APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Alasan ketiga inilah yang mungkin agak masuk akal. Pemerintah perlu  menaikkan cukai setinggi-tingginya karena pemerintah butuh banyak uang untuk menjalankan program-program. Untuk membangung dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Namun menjadi rancu, di satu sisi pemerintah ingin menurunkan jumlah perokok. Artinya pemerintah ingin masyarakat  tidak membeli rokok. Di sisi yang lain pemerintah ingin mendapatkan setoran besar dari industri ini. Tak tanggung-tanggung, Sri Mulyani menargetkan dapat mengeruk Rp 173 triliun di 2020.<\/p>\n\n\n\n

Rasa-rasanya pemerintah ini hanya punya daya pikir pendek. Mereka tidak mampu berpikir panjang untuk menjaga hasil pendapatan negara ini. Bukan malah membunuh pelan-pelan dan hanya  memikirkan bagaimana pada periode kepempinannya dapat menjalankan program-program dan mengumpulkan uang untuk negara, meski rakyatnya dicekik setiap saat.<\/p>\n\n\n\n

Untuk Bu Sri dan Pak Darmin, kalo memang  niatnya mengurangi perokok, dorong saja Presiden untuk melarang masyarakat menanam tembakau serta cengkeh dan menutup semua pabrik rokok di negeri ini. Gitu baru keren!<\/em><\/p>\n\n\n\n

<\/p>\n","post_title":"Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tidak-perlu-menaikkan-cukai-begini-cara-menguranangi-angka-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-15 12:51:44","post_modified_gmt":"2019-09-15 05:51:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6065","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Petani bagi Mbah Hasyim adalah seorang yang setiap waktu mendapat pahala. Sebagaimana yang beliau nukil dari riwayat Muslim, \u201ctidak ada seorang Muslim menanam tanaman dan tidak pula mencocokkan tumbuh-tumbuhan, kemudian dimakan orang daripadanya, atau binatang atau lainnya, melainkan itu menjadi shadaqah baginya.\u201d (Muslim I\/678).
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi nahas, hingga kini petani masih dipandang sebelah mata. Nasib dan kesejahteraannya dianggap fana. Padahal petani juga bekerja untuk  bangsa dan negara.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Hak-hak petani dikebiri. Banyak berita mengabarkan petani diintimidasi. Tanah-tanah mereka setiap waktu bisa saja dicuri oleh para makelar yang tak punya nurani, digantikan pabrik-pabrik menjulang tinggi. Kesejahteraan hidup mereka tidak pernah dipedulikan, yang hanya adalah kalimat-kalimat manis datang dari para pemangku kebijakan negeri, itupun hanya ketika datang Pemilu kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/a><\/p>\n\n\n\n

Belum lagi payahnya seorang petani menghadapi tak menentunya iklim, hama, dan seabrek permasalahan teknis pertanian, pemerintah sering menambah beban mereka dengan kebijakan-kebijakan yang hanya menguntungkan beberapa pihak saja. Petani seperti bukan masyarakat yang juga wajib dijaga kesejahteraan hidupnya. Petani hanya dijadikan sumber rupiah untuk negara, tentu saja juga untuk para pejabat yang mendapat gaji darinya.
<\/p>\n\n\n\n

Benar yang tertulis dalam kitab Itkhafu\u2019Sadah Al-Muttaqien I\/52, teraturnya agama atau negara adalah bergantung pada teraturnya dunia. Teraturnya dunia bergantung pada uang. Uang itu terkumpul dari rakyat. Sedangkan teraturnya hidup rakyat adalah bergantung pada sikap pembesar-pembesarnya yang adil.
<\/p>\n\n\n\n

Jika pembesar-pembesar itu masih rakus, selama itu juga kesejahteraan hanya punya mereka yang berelasi kuat dengan para elit pemangku kebijakan. Petani, entah bagaimana nasibnya.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Tani Nasional. Jaya di darat, laut dan akhirat!
<\/p>\n","post_title":"Petani Adalah Pondasi Negeri","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-adalah-pondasi-negeri","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-24 11:26:45","post_modified_gmt":"2019-09-24 04:26:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6095","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6065,"post_author":"855","post_date":"2019-09-15 12:44:34","post_date_gmt":"2019-09-15 05:44:34","post_content":"\n

Presiden Joko Widodo(Jokowi) sepakat untuk menaikkan tarif cukai sebesar 23 persen tahun depan. Kenaikan tarif cukai membuat rata-rata harga jual eceran rokok diperkirakan meningkat 35 persen dari harga jual saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Menteri Keuangan Sri Mulyani,  seperti yang dikutip Kumparan.com<\/em><\/a>, menjelaskan salah satu pertimbangan kenaikan cukai karena ingin mengurangi jumlah perokok. Harga yang naik tentu akan menyulitkan para perokok hingga mencegah peningkatan konsumsi rokok di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\"Yakni bagaimana kebijakan cukai rokok bisa mengurangi konsumsi rokok. Bagaimana dia bisa mengatur industrinya dan yang ketiga tetap menjaga penerimaan negara,\" kata Sri Mulyani di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat (13\/9).<\/p>\n\n\n\n

Sri Mulyani menganggap, dengan pemerintah menaikkan cukai, maka secara otomatis angka perokok akan turun. Asumsinya sangat sederhana,  dengan cukai naik otomatis harga jual rokok juga naik. Maka masyarakat tidak akan bisa membeli rokok. Pemerintah sukses, Indonesia lebih sehat karena semakin sedikit  orang yang merokok. <\/p>\n\n\n\n

Anggapan ini  jelas keliru. Mau rokok naik setinggi apapun, loyalitas perokok terhadap lintingan emas hijau ini tidak akan pudar. Jika tak mampu membeli rokok pabrikan, maka perokok masih bisa melinting sendiri untuk menikmatinya.<\/p>\n\n\n\n

Hampir mirip  dengan Sri, Menteri Koordinator Perokonomian Darmin Nasution mengungkapkan, setidaknya ada 3 hal kenapa cukai rokok tahun ini naik sebesar 23 persen.  Pertama, tahun 2019 pemerintah tidak menaikkan cukai rokok, maka menjadi wajar jika tahun 2020 naiknya lebih besar. <\/p>\n\n\n\n

\u201cTahun lalu tidak naik. Sehingga ya naiknya wajar kalau lebih banyak, lebih besar,\" ujarnya. [Kompas.com]<\/p>\n\n\n\n

Tahun 2019 memang pemerintah tidak menaikkan cukai. Tetapi apakah ini kemudian dapat dijadikan alasan kenaikan cukai 2020. Tentu saja masih bisa dipertanyakan. <\/p>\n\n\n\n

Publik bisa saja menilai, tidak naiknya cukai tahun 2019 lantaran pada tahun itu adalah tahun politik. Semua calon tentu saja  ingin mendapat dukungan dari petani tembakau, buruh pabrik rokok dan jutaan orang lainnya yang menggantungkan hidup dari industri hasil tembakau. Toh pada keputusan tersebut, Sri Mulyani tidak memberikan alasan yang jelas, kenapa cukai tidak naik. (Baca: Pemerintah Tidak Naikkan Cukai Rokok Tahun 2019<\/a>)<\/p>\n\n\n\n

Kedua, menurunkan konsumsi rokok masyarakat Indonesia. Logika ini sama persis yang digunakan Sri Mulyani.<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, urusan  penerimaan negara. Pemerintah meyakini kenaikan cukai akan mengdongkrak penerimaan negara. Hal ini dinilai penting karena pemerintah membutuhkan banyak dana untuk pembiayaan anggaran di APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Alasan ketiga inilah yang mungkin agak masuk akal. Pemerintah perlu  menaikkan cukai setinggi-tingginya karena pemerintah butuh banyak uang untuk menjalankan program-program. Untuk membangung dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Namun menjadi rancu, di satu sisi pemerintah ingin menurunkan jumlah perokok. Artinya pemerintah ingin masyarakat  tidak membeli rokok. Di sisi yang lain pemerintah ingin mendapatkan setoran besar dari industri ini. Tak tanggung-tanggung, Sri Mulyani menargetkan dapat mengeruk Rp 173 triliun di 2020.<\/p>\n\n\n\n

Rasa-rasanya pemerintah ini hanya punya daya pikir pendek. Mereka tidak mampu berpikir panjang untuk menjaga hasil pendapatan negara ini. Bukan malah membunuh pelan-pelan dan hanya  memikirkan bagaimana pada periode kepempinannya dapat menjalankan program-program dan mengumpulkan uang untuk negara, meski rakyatnya dicekik setiap saat.<\/p>\n\n\n\n

Untuk Bu Sri dan Pak Darmin, kalo memang  niatnya mengurangi perokok, dorong saja Presiden untuk melarang masyarakat menanam tembakau serta cengkeh dan menutup semua pabrik rokok di negeri ini. Gitu baru keren!<\/em><\/p>\n\n\n\n

<\/p>\n","post_title":"Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tidak-perlu-menaikkan-cukai-begini-cara-menguranangi-angka-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-15 12:51:44","post_modified_gmt":"2019-09-15 05:51:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6065","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Petani bagi Mbah Hasyim adalah seorang yang setiap waktu mendapat pahala. Sebagaimana yang beliau nukil dari riwayat Muslim, \u201ctidak ada seorang Muslim menanam tanaman dan tidak pula mencocokkan tumbuh-tumbuhan, kemudian dimakan orang daripadanya, atau binatang atau lainnya, melainkan itu menjadi shadaqah baginya.\u201d (Muslim I\/678).
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi nahas, hingga kini petani masih dipandang sebelah mata. Nasib dan kesejahteraannya dianggap fana. Padahal petani juga bekerja untuk  bangsa dan negara.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Hak-hak petani dikebiri. Banyak berita mengabarkan petani diintimidasi. Tanah-tanah mereka setiap waktu bisa saja dicuri oleh para makelar yang tak punya nurani, digantikan pabrik-pabrik menjulang tinggi. Kesejahteraan hidup mereka tidak pernah dipedulikan, yang hanya adalah kalimat-kalimat manis datang dari para pemangku kebijakan negeri, itupun hanya ketika datang Pemilu kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/a><\/p>\n\n\n\n

Belum lagi payahnya seorang petani menghadapi tak menentunya iklim, hama, dan seabrek permasalahan teknis pertanian, pemerintah sering menambah beban mereka dengan kebijakan-kebijakan yang hanya menguntungkan beberapa pihak saja. Petani seperti bukan masyarakat yang juga wajib dijaga kesejahteraan hidupnya. Petani hanya dijadikan sumber rupiah untuk negara, tentu saja juga untuk para pejabat yang mendapat gaji darinya.
<\/p>\n\n\n\n

Benar yang tertulis dalam kitab Itkhafu\u2019Sadah Al-Muttaqien I\/52, teraturnya agama atau negara adalah bergantung pada teraturnya dunia. Teraturnya dunia bergantung pada uang. Uang itu terkumpul dari rakyat. Sedangkan teraturnya hidup rakyat adalah bergantung pada sikap pembesar-pembesarnya yang adil.
<\/p>\n\n\n\n

Jika pembesar-pembesar itu masih rakus, selama itu juga kesejahteraan hanya punya mereka yang berelasi kuat dengan para elit pemangku kebijakan. Petani, entah bagaimana nasibnya.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Tani Nasional. Jaya di darat, laut dan akhirat!
<\/p>\n","post_title":"Petani Adalah Pondasi Negeri","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-adalah-pondasi-negeri","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-24 11:26:45","post_modified_gmt":"2019-09-24 04:26:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6095","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6065,"post_author":"855","post_date":"2019-09-15 12:44:34","post_date_gmt":"2019-09-15 05:44:34","post_content":"\n

Presiden Joko Widodo(Jokowi) sepakat untuk menaikkan tarif cukai sebesar 23 persen tahun depan. Kenaikan tarif cukai membuat rata-rata harga jual eceran rokok diperkirakan meningkat 35 persen dari harga jual saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Menteri Keuangan Sri Mulyani,  seperti yang dikutip Kumparan.com<\/em><\/a>, menjelaskan salah satu pertimbangan kenaikan cukai karena ingin mengurangi jumlah perokok. Harga yang naik tentu akan menyulitkan para perokok hingga mencegah peningkatan konsumsi rokok di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\"Yakni bagaimana kebijakan cukai rokok bisa mengurangi konsumsi rokok. Bagaimana dia bisa mengatur industrinya dan yang ketiga tetap menjaga penerimaan negara,\" kata Sri Mulyani di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat (13\/9).<\/p>\n\n\n\n

Sri Mulyani menganggap, dengan pemerintah menaikkan cukai, maka secara otomatis angka perokok akan turun. Asumsinya sangat sederhana,  dengan cukai naik otomatis harga jual rokok juga naik. Maka masyarakat tidak akan bisa membeli rokok. Pemerintah sukses, Indonesia lebih sehat karena semakin sedikit  orang yang merokok. <\/p>\n\n\n\n

Anggapan ini  jelas keliru. Mau rokok naik setinggi apapun, loyalitas perokok terhadap lintingan emas hijau ini tidak akan pudar. Jika tak mampu membeli rokok pabrikan, maka perokok masih bisa melinting sendiri untuk menikmatinya.<\/p>\n\n\n\n

Hampir mirip  dengan Sri, Menteri Koordinator Perokonomian Darmin Nasution mengungkapkan, setidaknya ada 3 hal kenapa cukai rokok tahun ini naik sebesar 23 persen.  Pertama, tahun 2019 pemerintah tidak menaikkan cukai rokok, maka menjadi wajar jika tahun 2020 naiknya lebih besar. <\/p>\n\n\n\n

\u201cTahun lalu tidak naik. Sehingga ya naiknya wajar kalau lebih banyak, lebih besar,\" ujarnya. [Kompas.com]<\/p>\n\n\n\n

Tahun 2019 memang pemerintah tidak menaikkan cukai. Tetapi apakah ini kemudian dapat dijadikan alasan kenaikan cukai 2020. Tentu saja masih bisa dipertanyakan. <\/p>\n\n\n\n

Publik bisa saja menilai, tidak naiknya cukai tahun 2019 lantaran pada tahun itu adalah tahun politik. Semua calon tentu saja  ingin mendapat dukungan dari petani tembakau, buruh pabrik rokok dan jutaan orang lainnya yang menggantungkan hidup dari industri hasil tembakau. Toh pada keputusan tersebut, Sri Mulyani tidak memberikan alasan yang jelas, kenapa cukai tidak naik. (Baca: Pemerintah Tidak Naikkan Cukai Rokok Tahun 2019<\/a>)<\/p>\n\n\n\n

Kedua, menurunkan konsumsi rokok masyarakat Indonesia. Logika ini sama persis yang digunakan Sri Mulyani.<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, urusan  penerimaan negara. Pemerintah meyakini kenaikan cukai akan mengdongkrak penerimaan negara. Hal ini dinilai penting karena pemerintah membutuhkan banyak dana untuk pembiayaan anggaran di APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Alasan ketiga inilah yang mungkin agak masuk akal. Pemerintah perlu  menaikkan cukai setinggi-tingginya karena pemerintah butuh banyak uang untuk menjalankan program-program. Untuk membangung dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Namun menjadi rancu, di satu sisi pemerintah ingin menurunkan jumlah perokok. Artinya pemerintah ingin masyarakat  tidak membeli rokok. Di sisi yang lain pemerintah ingin mendapatkan setoran besar dari industri ini. Tak tanggung-tanggung, Sri Mulyani menargetkan dapat mengeruk Rp 173 triliun di 2020.<\/p>\n\n\n\n

Rasa-rasanya pemerintah ini hanya punya daya pikir pendek. Mereka tidak mampu berpikir panjang untuk menjaga hasil pendapatan negara ini. Bukan malah membunuh pelan-pelan dan hanya  memikirkan bagaimana pada periode kepempinannya dapat menjalankan program-program dan mengumpulkan uang untuk negara, meski rakyatnya dicekik setiap saat.<\/p>\n\n\n\n

Untuk Bu Sri dan Pak Darmin, kalo memang  niatnya mengurangi perokok, dorong saja Presiden untuk melarang masyarakat menanam tembakau serta cengkeh dan menutup semua pabrik rokok di negeri ini. Gitu baru keren!<\/em><\/p>\n\n\n\n

<\/p>\n","post_title":"Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tidak-perlu-menaikkan-cukai-begini-cara-menguranangi-angka-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-15 12:51:44","post_modified_gmt":"2019-09-15 05:51:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6065","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cPak Tani adalah gudang kekayaan. Darinya negeri mengeluarkan belanja bagi segala keperluan. Pak Tani itulah penolong negeri apabila keperluan menghendakinya dan di waktu orang-orang mencari pertolongan. Pak Tani itulah pembantu negeri yang boleh dipercaya untuk mengerjakan sekalian keperluan negeri, yaitu pada waktunya orang berbalik punggung (tidak sudi menolong) pada negeri; dan Pak Tani itu menjadi sendi tempat di mana negeri di sandarkan,\u201d tulis Mbah Hasyim.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Petani bagi Mbah Hasyim adalah seorang yang setiap waktu mendapat pahala. Sebagaimana yang beliau nukil dari riwayat Muslim, \u201ctidak ada seorang Muslim menanam tanaman dan tidak pula mencocokkan tumbuh-tumbuhan, kemudian dimakan orang daripadanya, atau binatang atau lainnya, melainkan itu menjadi shadaqah baginya.\u201d (Muslim I\/678).
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi nahas, hingga kini petani masih dipandang sebelah mata. Nasib dan kesejahteraannya dianggap fana. Padahal petani juga bekerja untuk  bangsa dan negara.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Hak-hak petani dikebiri. Banyak berita mengabarkan petani diintimidasi. Tanah-tanah mereka setiap waktu bisa saja dicuri oleh para makelar yang tak punya nurani, digantikan pabrik-pabrik menjulang tinggi. Kesejahteraan hidup mereka tidak pernah dipedulikan, yang hanya adalah kalimat-kalimat manis datang dari para pemangku kebijakan negeri, itupun hanya ketika datang Pemilu kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/a><\/p>\n\n\n\n

Belum lagi payahnya seorang petani menghadapi tak menentunya iklim, hama, dan seabrek permasalahan teknis pertanian, pemerintah sering menambah beban mereka dengan kebijakan-kebijakan yang hanya menguntungkan beberapa pihak saja. Petani seperti bukan masyarakat yang juga wajib dijaga kesejahteraan hidupnya. Petani hanya dijadikan sumber rupiah untuk negara, tentu saja juga untuk para pejabat yang mendapat gaji darinya.
<\/p>\n\n\n\n

Benar yang tertulis dalam kitab Itkhafu\u2019Sadah Al-Muttaqien I\/52, teraturnya agama atau negara adalah bergantung pada teraturnya dunia. Teraturnya dunia bergantung pada uang. Uang itu terkumpul dari rakyat. Sedangkan teraturnya hidup rakyat adalah bergantung pada sikap pembesar-pembesarnya yang adil.
<\/p>\n\n\n\n

Jika pembesar-pembesar itu masih rakus, selama itu juga kesejahteraan hanya punya mereka yang berelasi kuat dengan para elit pemangku kebijakan. Petani, entah bagaimana nasibnya.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Tani Nasional. Jaya di darat, laut dan akhirat!
<\/p>\n","post_title":"Petani Adalah Pondasi Negeri","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-adalah-pondasi-negeri","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-24 11:26:45","post_modified_gmt":"2019-09-24 04:26:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6095","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6065,"post_author":"855","post_date":"2019-09-15 12:44:34","post_date_gmt":"2019-09-15 05:44:34","post_content":"\n

Presiden Joko Widodo(Jokowi) sepakat untuk menaikkan tarif cukai sebesar 23 persen tahun depan. Kenaikan tarif cukai membuat rata-rata harga jual eceran rokok diperkirakan meningkat 35 persen dari harga jual saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Menteri Keuangan Sri Mulyani,  seperti yang dikutip Kumparan.com<\/em><\/a>, menjelaskan salah satu pertimbangan kenaikan cukai karena ingin mengurangi jumlah perokok. Harga yang naik tentu akan menyulitkan para perokok hingga mencegah peningkatan konsumsi rokok di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\"Yakni bagaimana kebijakan cukai rokok bisa mengurangi konsumsi rokok. Bagaimana dia bisa mengatur industrinya dan yang ketiga tetap menjaga penerimaan negara,\" kata Sri Mulyani di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat (13\/9).<\/p>\n\n\n\n

Sri Mulyani menganggap, dengan pemerintah menaikkan cukai, maka secara otomatis angka perokok akan turun. Asumsinya sangat sederhana,  dengan cukai naik otomatis harga jual rokok juga naik. Maka masyarakat tidak akan bisa membeli rokok. Pemerintah sukses, Indonesia lebih sehat karena semakin sedikit  orang yang merokok. <\/p>\n\n\n\n

Anggapan ini  jelas keliru. Mau rokok naik setinggi apapun, loyalitas perokok terhadap lintingan emas hijau ini tidak akan pudar. Jika tak mampu membeli rokok pabrikan, maka perokok masih bisa melinting sendiri untuk menikmatinya.<\/p>\n\n\n\n

Hampir mirip  dengan Sri, Menteri Koordinator Perokonomian Darmin Nasution mengungkapkan, setidaknya ada 3 hal kenapa cukai rokok tahun ini naik sebesar 23 persen.  Pertama, tahun 2019 pemerintah tidak menaikkan cukai rokok, maka menjadi wajar jika tahun 2020 naiknya lebih besar. <\/p>\n\n\n\n

\u201cTahun lalu tidak naik. Sehingga ya naiknya wajar kalau lebih banyak, lebih besar,\" ujarnya. [Kompas.com]<\/p>\n\n\n\n

Tahun 2019 memang pemerintah tidak menaikkan cukai. Tetapi apakah ini kemudian dapat dijadikan alasan kenaikan cukai 2020. Tentu saja masih bisa dipertanyakan. <\/p>\n\n\n\n

Publik bisa saja menilai, tidak naiknya cukai tahun 2019 lantaran pada tahun itu adalah tahun politik. Semua calon tentu saja  ingin mendapat dukungan dari petani tembakau, buruh pabrik rokok dan jutaan orang lainnya yang menggantungkan hidup dari industri hasil tembakau. Toh pada keputusan tersebut, Sri Mulyani tidak memberikan alasan yang jelas, kenapa cukai tidak naik. (Baca: Pemerintah Tidak Naikkan Cukai Rokok Tahun 2019<\/a>)<\/p>\n\n\n\n

Kedua, menurunkan konsumsi rokok masyarakat Indonesia. Logika ini sama persis yang digunakan Sri Mulyani.<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, urusan  penerimaan negara. Pemerintah meyakini kenaikan cukai akan mengdongkrak penerimaan negara. Hal ini dinilai penting karena pemerintah membutuhkan banyak dana untuk pembiayaan anggaran di APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Alasan ketiga inilah yang mungkin agak masuk akal. Pemerintah perlu  menaikkan cukai setinggi-tingginya karena pemerintah butuh banyak uang untuk menjalankan program-program. Untuk membangung dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Namun menjadi rancu, di satu sisi pemerintah ingin menurunkan jumlah perokok. Artinya pemerintah ingin masyarakat  tidak membeli rokok. Di sisi yang lain pemerintah ingin mendapatkan setoran besar dari industri ini. Tak tanggung-tanggung, Sri Mulyani menargetkan dapat mengeruk Rp 173 triliun di 2020.<\/p>\n\n\n\n

Rasa-rasanya pemerintah ini hanya punya daya pikir pendek. Mereka tidak mampu berpikir panjang untuk menjaga hasil pendapatan negara ini. Bukan malah membunuh pelan-pelan dan hanya  memikirkan bagaimana pada periode kepempinannya dapat menjalankan program-program dan mengumpulkan uang untuk negara, meski rakyatnya dicekik setiap saat.<\/p>\n\n\n\n

Untuk Bu Sri dan Pak Darmin, kalo memang  niatnya mengurangi perokok, dorong saja Presiden untuk melarang masyarakat menanam tembakau serta cengkeh dan menutup semua pabrik rokok di negeri ini. Gitu baru keren!<\/em><\/p>\n\n\n\n

<\/p>\n","post_title":"Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tidak-perlu-menaikkan-cukai-begini-cara-menguranangi-angka-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-15 12:51:44","post_modified_gmt":"2019-09-15 05:51:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6065","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cTak ada seorang Muslim yang menanam tanaman atau mencocokkan tumbuhan-tumbuhan, kemudian tanaman itu dimakan burung atau manusia atau binatang, melainkan dihitung menjadi shadaqah (sedekah) baginya.\u201d<\/strong> (Bukhari II\/30)
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Tani adalah gudang kekayaan. Darinya negeri mengeluarkan belanja bagi segala keperluan. Pak Tani itulah penolong negeri apabila keperluan menghendakinya dan di waktu orang-orang mencari pertolongan. Pak Tani itulah pembantu negeri yang boleh dipercaya untuk mengerjakan sekalian keperluan negeri, yaitu pada waktunya orang berbalik punggung (tidak sudi menolong) pada negeri; dan Pak Tani itu menjadi sendi tempat di mana negeri di sandarkan,\u201d tulis Mbah Hasyim.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Petani bagi Mbah Hasyim adalah seorang yang setiap waktu mendapat pahala. Sebagaimana yang beliau nukil dari riwayat Muslim, \u201ctidak ada seorang Muslim menanam tanaman dan tidak pula mencocokkan tumbuh-tumbuhan, kemudian dimakan orang daripadanya, atau binatang atau lainnya, melainkan itu menjadi shadaqah baginya.\u201d (Muslim I\/678).
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi nahas, hingga kini petani masih dipandang sebelah mata. Nasib dan kesejahteraannya dianggap fana. Padahal petani juga bekerja untuk  bangsa dan negara.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Hak-hak petani dikebiri. Banyak berita mengabarkan petani diintimidasi. Tanah-tanah mereka setiap waktu bisa saja dicuri oleh para makelar yang tak punya nurani, digantikan pabrik-pabrik menjulang tinggi. Kesejahteraan hidup mereka tidak pernah dipedulikan, yang hanya adalah kalimat-kalimat manis datang dari para pemangku kebijakan negeri, itupun hanya ketika datang Pemilu kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/a><\/p>\n\n\n\n

Belum lagi payahnya seorang petani menghadapi tak menentunya iklim, hama, dan seabrek permasalahan teknis pertanian, pemerintah sering menambah beban mereka dengan kebijakan-kebijakan yang hanya menguntungkan beberapa pihak saja. Petani seperti bukan masyarakat yang juga wajib dijaga kesejahteraan hidupnya. Petani hanya dijadikan sumber rupiah untuk negara, tentu saja juga untuk para pejabat yang mendapat gaji darinya.
<\/p>\n\n\n\n

Benar yang tertulis dalam kitab Itkhafu\u2019Sadah Al-Muttaqien I\/52, teraturnya agama atau negara adalah bergantung pada teraturnya dunia. Teraturnya dunia bergantung pada uang. Uang itu terkumpul dari rakyat. Sedangkan teraturnya hidup rakyat adalah bergantung pada sikap pembesar-pembesarnya yang adil.
<\/p>\n\n\n\n

Jika pembesar-pembesar itu masih rakus, selama itu juga kesejahteraan hanya punya mereka yang berelasi kuat dengan para elit pemangku kebijakan. Petani, entah bagaimana nasibnya.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Tani Nasional. Jaya di darat, laut dan akhirat!
<\/p>\n","post_title":"Petani Adalah Pondasi Negeri","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-adalah-pondasi-negeri","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-24 11:26:45","post_modified_gmt":"2019-09-24 04:26:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6095","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6065,"post_author":"855","post_date":"2019-09-15 12:44:34","post_date_gmt":"2019-09-15 05:44:34","post_content":"\n

Presiden Joko Widodo(Jokowi) sepakat untuk menaikkan tarif cukai sebesar 23 persen tahun depan. Kenaikan tarif cukai membuat rata-rata harga jual eceran rokok diperkirakan meningkat 35 persen dari harga jual saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Menteri Keuangan Sri Mulyani,  seperti yang dikutip Kumparan.com<\/em><\/a>, menjelaskan salah satu pertimbangan kenaikan cukai karena ingin mengurangi jumlah perokok. Harga yang naik tentu akan menyulitkan para perokok hingga mencegah peningkatan konsumsi rokok di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\"Yakni bagaimana kebijakan cukai rokok bisa mengurangi konsumsi rokok. Bagaimana dia bisa mengatur industrinya dan yang ketiga tetap menjaga penerimaan negara,\" kata Sri Mulyani di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat (13\/9).<\/p>\n\n\n\n

Sri Mulyani menganggap, dengan pemerintah menaikkan cukai, maka secara otomatis angka perokok akan turun. Asumsinya sangat sederhana,  dengan cukai naik otomatis harga jual rokok juga naik. Maka masyarakat tidak akan bisa membeli rokok. Pemerintah sukses, Indonesia lebih sehat karena semakin sedikit  orang yang merokok. <\/p>\n\n\n\n

Anggapan ini  jelas keliru. Mau rokok naik setinggi apapun, loyalitas perokok terhadap lintingan emas hijau ini tidak akan pudar. Jika tak mampu membeli rokok pabrikan, maka perokok masih bisa melinting sendiri untuk menikmatinya.<\/p>\n\n\n\n

Hampir mirip  dengan Sri, Menteri Koordinator Perokonomian Darmin Nasution mengungkapkan, setidaknya ada 3 hal kenapa cukai rokok tahun ini naik sebesar 23 persen.  Pertama, tahun 2019 pemerintah tidak menaikkan cukai rokok, maka menjadi wajar jika tahun 2020 naiknya lebih besar. <\/p>\n\n\n\n

\u201cTahun lalu tidak naik. Sehingga ya naiknya wajar kalau lebih banyak, lebih besar,\" ujarnya. [Kompas.com]<\/p>\n\n\n\n

Tahun 2019 memang pemerintah tidak menaikkan cukai. Tetapi apakah ini kemudian dapat dijadikan alasan kenaikan cukai 2020. Tentu saja masih bisa dipertanyakan. <\/p>\n\n\n\n

Publik bisa saja menilai, tidak naiknya cukai tahun 2019 lantaran pada tahun itu adalah tahun politik. Semua calon tentu saja  ingin mendapat dukungan dari petani tembakau, buruh pabrik rokok dan jutaan orang lainnya yang menggantungkan hidup dari industri hasil tembakau. Toh pada keputusan tersebut, Sri Mulyani tidak memberikan alasan yang jelas, kenapa cukai tidak naik. (Baca: Pemerintah Tidak Naikkan Cukai Rokok Tahun 2019<\/a>)<\/p>\n\n\n\n

Kedua, menurunkan konsumsi rokok masyarakat Indonesia. Logika ini sama persis yang digunakan Sri Mulyani.<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, urusan  penerimaan negara. Pemerintah meyakini kenaikan cukai akan mengdongkrak penerimaan negara. Hal ini dinilai penting karena pemerintah membutuhkan banyak dana untuk pembiayaan anggaran di APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Alasan ketiga inilah yang mungkin agak masuk akal. Pemerintah perlu  menaikkan cukai setinggi-tingginya karena pemerintah butuh banyak uang untuk menjalankan program-program. Untuk membangung dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Namun menjadi rancu, di satu sisi pemerintah ingin menurunkan jumlah perokok. Artinya pemerintah ingin masyarakat  tidak membeli rokok. Di sisi yang lain pemerintah ingin mendapatkan setoran besar dari industri ini. Tak tanggung-tanggung, Sri Mulyani menargetkan dapat mengeruk Rp 173 triliun di 2020.<\/p>\n\n\n\n

Rasa-rasanya pemerintah ini hanya punya daya pikir pendek. Mereka tidak mampu berpikir panjang untuk menjaga hasil pendapatan negara ini. Bukan malah membunuh pelan-pelan dan hanya  memikirkan bagaimana pada periode kepempinannya dapat menjalankan program-program dan mengumpulkan uang untuk negara, meski rakyatnya dicekik setiap saat.<\/p>\n\n\n\n

Untuk Bu Sri dan Pak Darmin, kalo memang  niatnya mengurangi perokok, dorong saja Presiden untuk melarang masyarakat menanam tembakau serta cengkeh dan menutup semua pabrik rokok di negeri ini. Gitu baru keren!<\/em><\/p>\n\n\n\n

<\/p>\n","post_title":"Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tidak-perlu-menaikkan-cukai-begini-cara-menguranangi-angka-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-15 12:51:44","post_modified_gmt":"2019-09-15 05:51:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6065","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Menurut Mbah Hasyim, sebagaimana yang beliau nukil dari Muntahaa amaali\u2019l Khutabaa\u2019, petani adalah seorang yang setiap waktu bersedekah. Keuletan menghadapi segala persoalan dunia, jerih payahnya, tidak hanya untuk dirinya sendiri, melainkan juga untuk bangsa dan negara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTak ada seorang Muslim yang menanam tanaman atau mencocokkan tumbuhan-tumbuhan, kemudian tanaman itu dimakan burung atau manusia atau binatang, melainkan dihitung menjadi shadaqah (sedekah) baginya.\u201d<\/strong> (Bukhari II\/30)
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Tani adalah gudang kekayaan. Darinya negeri mengeluarkan belanja bagi segala keperluan. Pak Tani itulah penolong negeri apabila keperluan menghendakinya dan di waktu orang-orang mencari pertolongan. Pak Tani itulah pembantu negeri yang boleh dipercaya untuk mengerjakan sekalian keperluan negeri, yaitu pada waktunya orang berbalik punggung (tidak sudi menolong) pada negeri; dan Pak Tani itu menjadi sendi tempat di mana negeri di sandarkan,\u201d tulis Mbah Hasyim.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Petani bagi Mbah Hasyim adalah seorang yang setiap waktu mendapat pahala. Sebagaimana yang beliau nukil dari riwayat Muslim, \u201ctidak ada seorang Muslim menanam tanaman dan tidak pula mencocokkan tumbuh-tumbuhan, kemudian dimakan orang daripadanya, atau binatang atau lainnya, melainkan itu menjadi shadaqah baginya.\u201d (Muslim I\/678).
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi nahas, hingga kini petani masih dipandang sebelah mata. Nasib dan kesejahteraannya dianggap fana. Padahal petani juga bekerja untuk  bangsa dan negara.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Hak-hak petani dikebiri. Banyak berita mengabarkan petani diintimidasi. Tanah-tanah mereka setiap waktu bisa saja dicuri oleh para makelar yang tak punya nurani, digantikan pabrik-pabrik menjulang tinggi. Kesejahteraan hidup mereka tidak pernah dipedulikan, yang hanya adalah kalimat-kalimat manis datang dari para pemangku kebijakan negeri, itupun hanya ketika datang Pemilu kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/a><\/p>\n\n\n\n

Belum lagi payahnya seorang petani menghadapi tak menentunya iklim, hama, dan seabrek permasalahan teknis pertanian, pemerintah sering menambah beban mereka dengan kebijakan-kebijakan yang hanya menguntungkan beberapa pihak saja. Petani seperti bukan masyarakat yang juga wajib dijaga kesejahteraan hidupnya. Petani hanya dijadikan sumber rupiah untuk negara, tentu saja juga untuk para pejabat yang mendapat gaji darinya.
<\/p>\n\n\n\n

Benar yang tertulis dalam kitab Itkhafu\u2019Sadah Al-Muttaqien I\/52, teraturnya agama atau negara adalah bergantung pada teraturnya dunia. Teraturnya dunia bergantung pada uang. Uang itu terkumpul dari rakyat. Sedangkan teraturnya hidup rakyat adalah bergantung pada sikap pembesar-pembesarnya yang adil.
<\/p>\n\n\n\n

Jika pembesar-pembesar itu masih rakus, selama itu juga kesejahteraan hanya punya mereka yang berelasi kuat dengan para elit pemangku kebijakan. Petani, entah bagaimana nasibnya.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Tani Nasional. Jaya di darat, laut dan akhirat!
<\/p>\n","post_title":"Petani Adalah Pondasi Negeri","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-adalah-pondasi-negeri","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-24 11:26:45","post_modified_gmt":"2019-09-24 04:26:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6095","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6065,"post_author":"855","post_date":"2019-09-15 12:44:34","post_date_gmt":"2019-09-15 05:44:34","post_content":"\n

Presiden Joko Widodo(Jokowi) sepakat untuk menaikkan tarif cukai sebesar 23 persen tahun depan. Kenaikan tarif cukai membuat rata-rata harga jual eceran rokok diperkirakan meningkat 35 persen dari harga jual saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Menteri Keuangan Sri Mulyani,  seperti yang dikutip Kumparan.com<\/em><\/a>, menjelaskan salah satu pertimbangan kenaikan cukai karena ingin mengurangi jumlah perokok. Harga yang naik tentu akan menyulitkan para perokok hingga mencegah peningkatan konsumsi rokok di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\"Yakni bagaimana kebijakan cukai rokok bisa mengurangi konsumsi rokok. Bagaimana dia bisa mengatur industrinya dan yang ketiga tetap menjaga penerimaan negara,\" kata Sri Mulyani di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat (13\/9).<\/p>\n\n\n\n

Sri Mulyani menganggap, dengan pemerintah menaikkan cukai, maka secara otomatis angka perokok akan turun. Asumsinya sangat sederhana,  dengan cukai naik otomatis harga jual rokok juga naik. Maka masyarakat tidak akan bisa membeli rokok. Pemerintah sukses, Indonesia lebih sehat karena semakin sedikit  orang yang merokok. <\/p>\n\n\n\n

Anggapan ini  jelas keliru. Mau rokok naik setinggi apapun, loyalitas perokok terhadap lintingan emas hijau ini tidak akan pudar. Jika tak mampu membeli rokok pabrikan, maka perokok masih bisa melinting sendiri untuk menikmatinya.<\/p>\n\n\n\n

Hampir mirip  dengan Sri, Menteri Koordinator Perokonomian Darmin Nasution mengungkapkan, setidaknya ada 3 hal kenapa cukai rokok tahun ini naik sebesar 23 persen.  Pertama, tahun 2019 pemerintah tidak menaikkan cukai rokok, maka menjadi wajar jika tahun 2020 naiknya lebih besar. <\/p>\n\n\n\n

\u201cTahun lalu tidak naik. Sehingga ya naiknya wajar kalau lebih banyak, lebih besar,\" ujarnya. [Kompas.com]<\/p>\n\n\n\n

Tahun 2019 memang pemerintah tidak menaikkan cukai. Tetapi apakah ini kemudian dapat dijadikan alasan kenaikan cukai 2020. Tentu saja masih bisa dipertanyakan. <\/p>\n\n\n\n

Publik bisa saja menilai, tidak naiknya cukai tahun 2019 lantaran pada tahun itu adalah tahun politik. Semua calon tentu saja  ingin mendapat dukungan dari petani tembakau, buruh pabrik rokok dan jutaan orang lainnya yang menggantungkan hidup dari industri hasil tembakau. Toh pada keputusan tersebut, Sri Mulyani tidak memberikan alasan yang jelas, kenapa cukai tidak naik. (Baca: Pemerintah Tidak Naikkan Cukai Rokok Tahun 2019<\/a>)<\/p>\n\n\n\n

Kedua, menurunkan konsumsi rokok masyarakat Indonesia. Logika ini sama persis yang digunakan Sri Mulyani.<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, urusan  penerimaan negara. Pemerintah meyakini kenaikan cukai akan mengdongkrak penerimaan negara. Hal ini dinilai penting karena pemerintah membutuhkan banyak dana untuk pembiayaan anggaran di APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Alasan ketiga inilah yang mungkin agak masuk akal. Pemerintah perlu  menaikkan cukai setinggi-tingginya karena pemerintah butuh banyak uang untuk menjalankan program-program. Untuk membangung dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Namun menjadi rancu, di satu sisi pemerintah ingin menurunkan jumlah perokok. Artinya pemerintah ingin masyarakat  tidak membeli rokok. Di sisi yang lain pemerintah ingin mendapatkan setoran besar dari industri ini. Tak tanggung-tanggung, Sri Mulyani menargetkan dapat mengeruk Rp 173 triliun di 2020.<\/p>\n\n\n\n

Rasa-rasanya pemerintah ini hanya punya daya pikir pendek. Mereka tidak mampu berpikir panjang untuk menjaga hasil pendapatan negara ini. Bukan malah membunuh pelan-pelan dan hanya  memikirkan bagaimana pada periode kepempinannya dapat menjalankan program-program dan mengumpulkan uang untuk negara, meski rakyatnya dicekik setiap saat.<\/p>\n\n\n\n

Untuk Bu Sri dan Pak Darmin, kalo memang  niatnya mengurangi perokok, dorong saja Presiden untuk melarang masyarakat menanam tembakau serta cengkeh dan menutup semua pabrik rokok di negeri ini. Gitu baru keren!<\/em><\/p>\n\n\n\n

<\/p>\n","post_title":"Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tidak-perlu-menaikkan-cukai-begini-cara-menguranangi-angka-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-15 12:51:44","post_modified_gmt":"2019-09-15 05:51:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6065","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

14 Januari 1944, Majalah Soeara Moeslimin, menerbitkan tulisan KH. Hasyim Asy'ari\u00a0 berjudul \u201cKeoetamaan Bertjojok Tanam dan Bertani\u201d. Tulisan itu lebih besar membahas posisi petani dalam berbangsa dan bernegara.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Hasyim, sebagaimana yang beliau nukil dari Muntahaa amaali\u2019l Khutabaa\u2019, petani adalah seorang yang setiap waktu bersedekah. Keuletan menghadapi segala persoalan dunia, jerih payahnya, tidak hanya untuk dirinya sendiri, melainkan juga untuk bangsa dan negara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTak ada seorang Muslim yang menanam tanaman atau mencocokkan tumbuhan-tumbuhan, kemudian tanaman itu dimakan burung atau manusia atau binatang, melainkan dihitung menjadi shadaqah (sedekah) baginya.\u201d<\/strong> (Bukhari II\/30)
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Tani adalah gudang kekayaan. Darinya negeri mengeluarkan belanja bagi segala keperluan. Pak Tani itulah penolong negeri apabila keperluan menghendakinya dan di waktu orang-orang mencari pertolongan. Pak Tani itulah pembantu negeri yang boleh dipercaya untuk mengerjakan sekalian keperluan negeri, yaitu pada waktunya orang berbalik punggung (tidak sudi menolong) pada negeri; dan Pak Tani itu menjadi sendi tempat di mana negeri di sandarkan,\u201d tulis Mbah Hasyim.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Petani bagi Mbah Hasyim adalah seorang yang setiap waktu mendapat pahala. Sebagaimana yang beliau nukil dari riwayat Muslim, \u201ctidak ada seorang Muslim menanam tanaman dan tidak pula mencocokkan tumbuh-tumbuhan, kemudian dimakan orang daripadanya, atau binatang atau lainnya, melainkan itu menjadi shadaqah baginya.\u201d (Muslim I\/678).
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi nahas, hingga kini petani masih dipandang sebelah mata. Nasib dan kesejahteraannya dianggap fana. Padahal petani juga bekerja untuk  bangsa dan negara.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Hak-hak petani dikebiri. Banyak berita mengabarkan petani diintimidasi. Tanah-tanah mereka setiap waktu bisa saja dicuri oleh para makelar yang tak punya nurani, digantikan pabrik-pabrik menjulang tinggi. Kesejahteraan hidup mereka tidak pernah dipedulikan, yang hanya adalah kalimat-kalimat manis datang dari para pemangku kebijakan negeri, itupun hanya ketika datang Pemilu kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/a><\/p>\n\n\n\n

Belum lagi payahnya seorang petani menghadapi tak menentunya iklim, hama, dan seabrek permasalahan teknis pertanian, pemerintah sering menambah beban mereka dengan kebijakan-kebijakan yang hanya menguntungkan beberapa pihak saja. Petani seperti bukan masyarakat yang juga wajib dijaga kesejahteraan hidupnya. Petani hanya dijadikan sumber rupiah untuk negara, tentu saja juga untuk para pejabat yang mendapat gaji darinya.
<\/p>\n\n\n\n

Benar yang tertulis dalam kitab Itkhafu\u2019Sadah Al-Muttaqien I\/52, teraturnya agama atau negara adalah bergantung pada teraturnya dunia. Teraturnya dunia bergantung pada uang. Uang itu terkumpul dari rakyat. Sedangkan teraturnya hidup rakyat adalah bergantung pada sikap pembesar-pembesarnya yang adil.
<\/p>\n\n\n\n

Jika pembesar-pembesar itu masih rakus, selama itu juga kesejahteraan hanya punya mereka yang berelasi kuat dengan para elit pemangku kebijakan. Petani, entah bagaimana nasibnya.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Tani Nasional. Jaya di darat, laut dan akhirat!
<\/p>\n","post_title":"Petani Adalah Pondasi Negeri","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-adalah-pondasi-negeri","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-24 11:26:45","post_modified_gmt":"2019-09-24 04:26:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6095","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6065,"post_author":"855","post_date":"2019-09-15 12:44:34","post_date_gmt":"2019-09-15 05:44:34","post_content":"\n

Presiden Joko Widodo(Jokowi) sepakat untuk menaikkan tarif cukai sebesar 23 persen tahun depan. Kenaikan tarif cukai membuat rata-rata harga jual eceran rokok diperkirakan meningkat 35 persen dari harga jual saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Menteri Keuangan Sri Mulyani,  seperti yang dikutip Kumparan.com<\/em><\/a>, menjelaskan salah satu pertimbangan kenaikan cukai karena ingin mengurangi jumlah perokok. Harga yang naik tentu akan menyulitkan para perokok hingga mencegah peningkatan konsumsi rokok di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\"Yakni bagaimana kebijakan cukai rokok bisa mengurangi konsumsi rokok. Bagaimana dia bisa mengatur industrinya dan yang ketiga tetap menjaga penerimaan negara,\" kata Sri Mulyani di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat (13\/9).<\/p>\n\n\n\n

Sri Mulyani menganggap, dengan pemerintah menaikkan cukai, maka secara otomatis angka perokok akan turun. Asumsinya sangat sederhana,  dengan cukai naik otomatis harga jual rokok juga naik. Maka masyarakat tidak akan bisa membeli rokok. Pemerintah sukses, Indonesia lebih sehat karena semakin sedikit  orang yang merokok. <\/p>\n\n\n\n

Anggapan ini  jelas keliru. Mau rokok naik setinggi apapun, loyalitas perokok terhadap lintingan emas hijau ini tidak akan pudar. Jika tak mampu membeli rokok pabrikan, maka perokok masih bisa melinting sendiri untuk menikmatinya.<\/p>\n\n\n\n

Hampir mirip  dengan Sri, Menteri Koordinator Perokonomian Darmin Nasution mengungkapkan, setidaknya ada 3 hal kenapa cukai rokok tahun ini naik sebesar 23 persen.  Pertama, tahun 2019 pemerintah tidak menaikkan cukai rokok, maka menjadi wajar jika tahun 2020 naiknya lebih besar. <\/p>\n\n\n\n

\u201cTahun lalu tidak naik. Sehingga ya naiknya wajar kalau lebih banyak, lebih besar,\" ujarnya. [Kompas.com]<\/p>\n\n\n\n

Tahun 2019 memang pemerintah tidak menaikkan cukai. Tetapi apakah ini kemudian dapat dijadikan alasan kenaikan cukai 2020. Tentu saja masih bisa dipertanyakan. <\/p>\n\n\n\n

Publik bisa saja menilai, tidak naiknya cukai tahun 2019 lantaran pada tahun itu adalah tahun politik. Semua calon tentu saja  ingin mendapat dukungan dari petani tembakau, buruh pabrik rokok dan jutaan orang lainnya yang menggantungkan hidup dari industri hasil tembakau. Toh pada keputusan tersebut, Sri Mulyani tidak memberikan alasan yang jelas, kenapa cukai tidak naik. (Baca: Pemerintah Tidak Naikkan Cukai Rokok Tahun 2019<\/a>)<\/p>\n\n\n\n

Kedua, menurunkan konsumsi rokok masyarakat Indonesia. Logika ini sama persis yang digunakan Sri Mulyani.<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, urusan  penerimaan negara. Pemerintah meyakini kenaikan cukai akan mengdongkrak penerimaan negara. Hal ini dinilai penting karena pemerintah membutuhkan banyak dana untuk pembiayaan anggaran di APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Alasan ketiga inilah yang mungkin agak masuk akal. Pemerintah perlu  menaikkan cukai setinggi-tingginya karena pemerintah butuh banyak uang untuk menjalankan program-program. Untuk membangung dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Namun menjadi rancu, di satu sisi pemerintah ingin menurunkan jumlah perokok. Artinya pemerintah ingin masyarakat  tidak membeli rokok. Di sisi yang lain pemerintah ingin mendapatkan setoran besar dari industri ini. Tak tanggung-tanggung, Sri Mulyani menargetkan dapat mengeruk Rp 173 triliun di 2020.<\/p>\n\n\n\n

Rasa-rasanya pemerintah ini hanya punya daya pikir pendek. Mereka tidak mampu berpikir panjang untuk menjaga hasil pendapatan negara ini. Bukan malah membunuh pelan-pelan dan hanya  memikirkan bagaimana pada periode kepempinannya dapat menjalankan program-program dan mengumpulkan uang untuk negara, meski rakyatnya dicekik setiap saat.<\/p>\n\n\n\n

Untuk Bu Sri dan Pak Darmin, kalo memang  niatnya mengurangi perokok, dorong saja Presiden untuk melarang masyarakat menanam tembakau serta cengkeh dan menutup semua pabrik rokok di negeri ini. Gitu baru keren!<\/em><\/p>\n\n\n\n

<\/p>\n","post_title":"Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tidak-perlu-menaikkan-cukai-begini-cara-menguranangi-angka-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-15 12:51:44","post_modified_gmt":"2019-09-15 05:51:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6065","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kita semua sama-sama tau, bagaimana antirokok bermain. Mereka seringkali membungkus sesuatu dengan kemulian, padahal sejatinya ada agenda-agenda terselubung yang sedang mereka usahakan capai. Mana pernah mereka memikirkan nasib petani, buruh rokok dan semua orang yang menggantungkan hidupnya pada industri hasil tembakau. <\/p>\n","post_title":"Peserta APCAT Harusnya Sadar, Tembakau Menghidupi Masyarakat Bukan Membunuh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peserta-apcat-harusnya-sadar-tembakau-menghidupi-masyarakat-bukan-membunuh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-27 12:27:38","post_modified_gmt":"2019-09-27 05:27:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6104","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6095,"post_author":"855","post_date":"2019-09-24 11:15:17","post_date_gmt":"2019-09-24 04:15:17","post_content":"\n

14 Januari 1944, Majalah Soeara Moeslimin, menerbitkan tulisan KH. Hasyim Asy'ari\u00a0 berjudul \u201cKeoetamaan Bertjojok Tanam dan Bertani\u201d. Tulisan itu lebih besar membahas posisi petani dalam berbangsa dan bernegara.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Hasyim, sebagaimana yang beliau nukil dari Muntahaa amaali\u2019l Khutabaa\u2019, petani adalah seorang yang setiap waktu bersedekah. Keuletan menghadapi segala persoalan dunia, jerih payahnya, tidak hanya untuk dirinya sendiri, melainkan juga untuk bangsa dan negara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTak ada seorang Muslim yang menanam tanaman atau mencocokkan tumbuhan-tumbuhan, kemudian tanaman itu dimakan burung atau manusia atau binatang, melainkan dihitung menjadi shadaqah (sedekah) baginya.\u201d<\/strong> (Bukhari II\/30)
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Tani adalah gudang kekayaan. Darinya negeri mengeluarkan belanja bagi segala keperluan. Pak Tani itulah penolong negeri apabila keperluan menghendakinya dan di waktu orang-orang mencari pertolongan. Pak Tani itulah pembantu negeri yang boleh dipercaya untuk mengerjakan sekalian keperluan negeri, yaitu pada waktunya orang berbalik punggung (tidak sudi menolong) pada negeri; dan Pak Tani itu menjadi sendi tempat di mana negeri di sandarkan,\u201d tulis Mbah Hasyim.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Petani bagi Mbah Hasyim adalah seorang yang setiap waktu mendapat pahala. Sebagaimana yang beliau nukil dari riwayat Muslim, \u201ctidak ada seorang Muslim menanam tanaman dan tidak pula mencocokkan tumbuh-tumbuhan, kemudian dimakan orang daripadanya, atau binatang atau lainnya, melainkan itu menjadi shadaqah baginya.\u201d (Muslim I\/678).
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi nahas, hingga kini petani masih dipandang sebelah mata. Nasib dan kesejahteraannya dianggap fana. Padahal petani juga bekerja untuk  bangsa dan negara.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Hak-hak petani dikebiri. Banyak berita mengabarkan petani diintimidasi. Tanah-tanah mereka setiap waktu bisa saja dicuri oleh para makelar yang tak punya nurani, digantikan pabrik-pabrik menjulang tinggi. Kesejahteraan hidup mereka tidak pernah dipedulikan, yang hanya adalah kalimat-kalimat manis datang dari para pemangku kebijakan negeri, itupun hanya ketika datang Pemilu kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/a><\/p>\n\n\n\n

Belum lagi payahnya seorang petani menghadapi tak menentunya iklim, hama, dan seabrek permasalahan teknis pertanian, pemerintah sering menambah beban mereka dengan kebijakan-kebijakan yang hanya menguntungkan beberapa pihak saja. Petani seperti bukan masyarakat yang juga wajib dijaga kesejahteraan hidupnya. Petani hanya dijadikan sumber rupiah untuk negara, tentu saja juga untuk para pejabat yang mendapat gaji darinya.
<\/p>\n\n\n\n

Benar yang tertulis dalam kitab Itkhafu\u2019Sadah Al-Muttaqien I\/52, teraturnya agama atau negara adalah bergantung pada teraturnya dunia. Teraturnya dunia bergantung pada uang. Uang itu terkumpul dari rakyat. Sedangkan teraturnya hidup rakyat adalah bergantung pada sikap pembesar-pembesarnya yang adil.
<\/p>\n\n\n\n

Jika pembesar-pembesar itu masih rakus, selama itu juga kesejahteraan hanya punya mereka yang berelasi kuat dengan para elit pemangku kebijakan. Petani, entah bagaimana nasibnya.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Tani Nasional. Jaya di darat, laut dan akhirat!
<\/p>\n","post_title":"Petani Adalah Pondasi Negeri","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-adalah-pondasi-negeri","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-24 11:26:45","post_modified_gmt":"2019-09-24 04:26:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6095","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6065,"post_author":"855","post_date":"2019-09-15 12:44:34","post_date_gmt":"2019-09-15 05:44:34","post_content":"\n

Presiden Joko Widodo(Jokowi) sepakat untuk menaikkan tarif cukai sebesar 23 persen tahun depan. Kenaikan tarif cukai membuat rata-rata harga jual eceran rokok diperkirakan meningkat 35 persen dari harga jual saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Menteri Keuangan Sri Mulyani,  seperti yang dikutip Kumparan.com<\/em><\/a>, menjelaskan salah satu pertimbangan kenaikan cukai karena ingin mengurangi jumlah perokok. Harga yang naik tentu akan menyulitkan para perokok hingga mencegah peningkatan konsumsi rokok di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\"Yakni bagaimana kebijakan cukai rokok bisa mengurangi konsumsi rokok. Bagaimana dia bisa mengatur industrinya dan yang ketiga tetap menjaga penerimaan negara,\" kata Sri Mulyani di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat (13\/9).<\/p>\n\n\n\n

Sri Mulyani menganggap, dengan pemerintah menaikkan cukai, maka secara otomatis angka perokok akan turun. Asumsinya sangat sederhana,  dengan cukai naik otomatis harga jual rokok juga naik. Maka masyarakat tidak akan bisa membeli rokok. Pemerintah sukses, Indonesia lebih sehat karena semakin sedikit  orang yang merokok. <\/p>\n\n\n\n

Anggapan ini  jelas keliru. Mau rokok naik setinggi apapun, loyalitas perokok terhadap lintingan emas hijau ini tidak akan pudar. Jika tak mampu membeli rokok pabrikan, maka perokok masih bisa melinting sendiri untuk menikmatinya.<\/p>\n\n\n\n

Hampir mirip  dengan Sri, Menteri Koordinator Perokonomian Darmin Nasution mengungkapkan, setidaknya ada 3 hal kenapa cukai rokok tahun ini naik sebesar 23 persen.  Pertama, tahun 2019 pemerintah tidak menaikkan cukai rokok, maka menjadi wajar jika tahun 2020 naiknya lebih besar. <\/p>\n\n\n\n

\u201cTahun lalu tidak naik. Sehingga ya naiknya wajar kalau lebih banyak, lebih besar,\" ujarnya. [Kompas.com]<\/p>\n\n\n\n

Tahun 2019 memang pemerintah tidak menaikkan cukai. Tetapi apakah ini kemudian dapat dijadikan alasan kenaikan cukai 2020. Tentu saja masih bisa dipertanyakan. <\/p>\n\n\n\n

Publik bisa saja menilai, tidak naiknya cukai tahun 2019 lantaran pada tahun itu adalah tahun politik. Semua calon tentu saja  ingin mendapat dukungan dari petani tembakau, buruh pabrik rokok dan jutaan orang lainnya yang menggantungkan hidup dari industri hasil tembakau. Toh pada keputusan tersebut, Sri Mulyani tidak memberikan alasan yang jelas, kenapa cukai tidak naik. (Baca: Pemerintah Tidak Naikkan Cukai Rokok Tahun 2019<\/a>)<\/p>\n\n\n\n

Kedua, menurunkan konsumsi rokok masyarakat Indonesia. Logika ini sama persis yang digunakan Sri Mulyani.<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, urusan  penerimaan negara. Pemerintah meyakini kenaikan cukai akan mengdongkrak penerimaan negara. Hal ini dinilai penting karena pemerintah membutuhkan banyak dana untuk pembiayaan anggaran di APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Alasan ketiga inilah yang mungkin agak masuk akal. Pemerintah perlu  menaikkan cukai setinggi-tingginya karena pemerintah butuh banyak uang untuk menjalankan program-program. Untuk membangung dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Namun menjadi rancu, di satu sisi pemerintah ingin menurunkan jumlah perokok. Artinya pemerintah ingin masyarakat  tidak membeli rokok. Di sisi yang lain pemerintah ingin mendapatkan setoran besar dari industri ini. Tak tanggung-tanggung, Sri Mulyani menargetkan dapat mengeruk Rp 173 triliun di 2020.<\/p>\n\n\n\n

Rasa-rasanya pemerintah ini hanya punya daya pikir pendek. Mereka tidak mampu berpikir panjang untuk menjaga hasil pendapatan negara ini. Bukan malah membunuh pelan-pelan dan hanya  memikirkan bagaimana pada periode kepempinannya dapat menjalankan program-program dan mengumpulkan uang untuk negara, meski rakyatnya dicekik setiap saat.<\/p>\n\n\n\n

Untuk Bu Sri dan Pak Darmin, kalo memang  niatnya mengurangi perokok, dorong saja Presiden untuk melarang masyarakat menanam tembakau serta cengkeh dan menutup semua pabrik rokok di negeri ini. Gitu baru keren!<\/em><\/p>\n\n\n\n

<\/p>\n","post_title":"Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tidak-perlu-menaikkan-cukai-begini-cara-menguranangi-angka-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-15 12:51:44","post_modified_gmt":"2019-09-15 05:51:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6065","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Perlu Gan Quan tau, jika tak ada tembakau di negeri ini, bukan malah menjadikan masyarakat sehat sebaliknya malah menjadi petaka untuk bangsa Indonesia.
<\/h2>\n\n\n\n

Kita semua sama-sama tau, bagaimana antirokok bermain. Mereka seringkali membungkus sesuatu dengan kemulian, padahal sejatinya ada agenda-agenda terselubung yang sedang mereka usahakan capai. Mana pernah mereka memikirkan nasib petani, buruh rokok dan semua orang yang menggantungkan hidupnya pada industri hasil tembakau. <\/p>\n","post_title":"Peserta APCAT Harusnya Sadar, Tembakau Menghidupi Masyarakat Bukan Membunuh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peserta-apcat-harusnya-sadar-tembakau-menghidupi-masyarakat-bukan-membunuh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-27 12:27:38","post_modified_gmt":"2019-09-27 05:27:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6104","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6095,"post_author":"855","post_date":"2019-09-24 11:15:17","post_date_gmt":"2019-09-24 04:15:17","post_content":"\n

14 Januari 1944, Majalah Soeara Moeslimin, menerbitkan tulisan KH. Hasyim Asy'ari\u00a0 berjudul \u201cKeoetamaan Bertjojok Tanam dan Bertani\u201d. Tulisan itu lebih besar membahas posisi petani dalam berbangsa dan bernegara.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Hasyim, sebagaimana yang beliau nukil dari Muntahaa amaali\u2019l Khutabaa\u2019, petani adalah seorang yang setiap waktu bersedekah. Keuletan menghadapi segala persoalan dunia, jerih payahnya, tidak hanya untuk dirinya sendiri, melainkan juga untuk bangsa dan negara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTak ada seorang Muslim yang menanam tanaman atau mencocokkan tumbuhan-tumbuhan, kemudian tanaman itu dimakan burung atau manusia atau binatang, melainkan dihitung menjadi shadaqah (sedekah) baginya.\u201d<\/strong> (Bukhari II\/30)
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Tani adalah gudang kekayaan. Darinya negeri mengeluarkan belanja bagi segala keperluan. Pak Tani itulah penolong negeri apabila keperluan menghendakinya dan di waktu orang-orang mencari pertolongan. Pak Tani itulah pembantu negeri yang boleh dipercaya untuk mengerjakan sekalian keperluan negeri, yaitu pada waktunya orang berbalik punggung (tidak sudi menolong) pada negeri; dan Pak Tani itu menjadi sendi tempat di mana negeri di sandarkan,\u201d tulis Mbah Hasyim.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Petani bagi Mbah Hasyim adalah seorang yang setiap waktu mendapat pahala. Sebagaimana yang beliau nukil dari riwayat Muslim, \u201ctidak ada seorang Muslim menanam tanaman dan tidak pula mencocokkan tumbuh-tumbuhan, kemudian dimakan orang daripadanya, atau binatang atau lainnya, melainkan itu menjadi shadaqah baginya.\u201d (Muslim I\/678).
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi nahas, hingga kini petani masih dipandang sebelah mata. Nasib dan kesejahteraannya dianggap fana. Padahal petani juga bekerja untuk  bangsa dan negara.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Hak-hak petani dikebiri. Banyak berita mengabarkan petani diintimidasi. Tanah-tanah mereka setiap waktu bisa saja dicuri oleh para makelar yang tak punya nurani, digantikan pabrik-pabrik menjulang tinggi. Kesejahteraan hidup mereka tidak pernah dipedulikan, yang hanya adalah kalimat-kalimat manis datang dari para pemangku kebijakan negeri, itupun hanya ketika datang Pemilu kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/a><\/p>\n\n\n\n

Belum lagi payahnya seorang petani menghadapi tak menentunya iklim, hama, dan seabrek permasalahan teknis pertanian, pemerintah sering menambah beban mereka dengan kebijakan-kebijakan yang hanya menguntungkan beberapa pihak saja. Petani seperti bukan masyarakat yang juga wajib dijaga kesejahteraan hidupnya. Petani hanya dijadikan sumber rupiah untuk negara, tentu saja juga untuk para pejabat yang mendapat gaji darinya.
<\/p>\n\n\n\n

Benar yang tertulis dalam kitab Itkhafu\u2019Sadah Al-Muttaqien I\/52, teraturnya agama atau negara adalah bergantung pada teraturnya dunia. Teraturnya dunia bergantung pada uang. Uang itu terkumpul dari rakyat. Sedangkan teraturnya hidup rakyat adalah bergantung pada sikap pembesar-pembesarnya yang adil.
<\/p>\n\n\n\n

Jika pembesar-pembesar itu masih rakus, selama itu juga kesejahteraan hanya punya mereka yang berelasi kuat dengan para elit pemangku kebijakan. Petani, entah bagaimana nasibnya.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Tani Nasional. Jaya di darat, laut dan akhirat!
<\/p>\n","post_title":"Petani Adalah Pondasi Negeri","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-adalah-pondasi-negeri","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-24 11:26:45","post_modified_gmt":"2019-09-24 04:26:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6095","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6065,"post_author":"855","post_date":"2019-09-15 12:44:34","post_date_gmt":"2019-09-15 05:44:34","post_content":"\n

Presiden Joko Widodo(Jokowi) sepakat untuk menaikkan tarif cukai sebesar 23 persen tahun depan. Kenaikan tarif cukai membuat rata-rata harga jual eceran rokok diperkirakan meningkat 35 persen dari harga jual saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Menteri Keuangan Sri Mulyani,  seperti yang dikutip Kumparan.com<\/em><\/a>, menjelaskan salah satu pertimbangan kenaikan cukai karena ingin mengurangi jumlah perokok. Harga yang naik tentu akan menyulitkan para perokok hingga mencegah peningkatan konsumsi rokok di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\"Yakni bagaimana kebijakan cukai rokok bisa mengurangi konsumsi rokok. Bagaimana dia bisa mengatur industrinya dan yang ketiga tetap menjaga penerimaan negara,\" kata Sri Mulyani di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat (13\/9).<\/p>\n\n\n\n

Sri Mulyani menganggap, dengan pemerintah menaikkan cukai, maka secara otomatis angka perokok akan turun. Asumsinya sangat sederhana,  dengan cukai naik otomatis harga jual rokok juga naik. Maka masyarakat tidak akan bisa membeli rokok. Pemerintah sukses, Indonesia lebih sehat karena semakin sedikit  orang yang merokok. <\/p>\n\n\n\n

Anggapan ini  jelas keliru. Mau rokok naik setinggi apapun, loyalitas perokok terhadap lintingan emas hijau ini tidak akan pudar. Jika tak mampu membeli rokok pabrikan, maka perokok masih bisa melinting sendiri untuk menikmatinya.<\/p>\n\n\n\n

Hampir mirip  dengan Sri, Menteri Koordinator Perokonomian Darmin Nasution mengungkapkan, setidaknya ada 3 hal kenapa cukai rokok tahun ini naik sebesar 23 persen.  Pertama, tahun 2019 pemerintah tidak menaikkan cukai rokok, maka menjadi wajar jika tahun 2020 naiknya lebih besar. <\/p>\n\n\n\n

\u201cTahun lalu tidak naik. Sehingga ya naiknya wajar kalau lebih banyak, lebih besar,\" ujarnya. [Kompas.com]<\/p>\n\n\n\n

Tahun 2019 memang pemerintah tidak menaikkan cukai. Tetapi apakah ini kemudian dapat dijadikan alasan kenaikan cukai 2020. Tentu saja masih bisa dipertanyakan. <\/p>\n\n\n\n

Publik bisa saja menilai, tidak naiknya cukai tahun 2019 lantaran pada tahun itu adalah tahun politik. Semua calon tentu saja  ingin mendapat dukungan dari petani tembakau, buruh pabrik rokok dan jutaan orang lainnya yang menggantungkan hidup dari industri hasil tembakau. Toh pada keputusan tersebut, Sri Mulyani tidak memberikan alasan yang jelas, kenapa cukai tidak naik. (Baca: Pemerintah Tidak Naikkan Cukai Rokok Tahun 2019<\/a>)<\/p>\n\n\n\n

Kedua, menurunkan konsumsi rokok masyarakat Indonesia. Logika ini sama persis yang digunakan Sri Mulyani.<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, urusan  penerimaan negara. Pemerintah meyakini kenaikan cukai akan mengdongkrak penerimaan negara. Hal ini dinilai penting karena pemerintah membutuhkan banyak dana untuk pembiayaan anggaran di APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Alasan ketiga inilah yang mungkin agak masuk akal. Pemerintah perlu  menaikkan cukai setinggi-tingginya karena pemerintah butuh banyak uang untuk menjalankan program-program. Untuk membangung dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Namun menjadi rancu, di satu sisi pemerintah ingin menurunkan jumlah perokok. Artinya pemerintah ingin masyarakat  tidak membeli rokok. Di sisi yang lain pemerintah ingin mendapatkan setoran besar dari industri ini. Tak tanggung-tanggung, Sri Mulyani menargetkan dapat mengeruk Rp 173 triliun di 2020.<\/p>\n\n\n\n

Rasa-rasanya pemerintah ini hanya punya daya pikir pendek. Mereka tidak mampu berpikir panjang untuk menjaga hasil pendapatan negara ini. Bukan malah membunuh pelan-pelan dan hanya  memikirkan bagaimana pada periode kepempinannya dapat menjalankan program-program dan mengumpulkan uang untuk negara, meski rakyatnya dicekik setiap saat.<\/p>\n\n\n\n

Untuk Bu Sri dan Pak Darmin, kalo memang  niatnya mengurangi perokok, dorong saja Presiden untuk melarang masyarakat menanam tembakau serta cengkeh dan menutup semua pabrik rokok di negeri ini. Gitu baru keren!<\/em><\/p>\n\n\n\n

<\/p>\n","post_title":"Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tidak-perlu-menaikkan-cukai-begini-cara-menguranangi-angka-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-15 12:51:44","post_modified_gmt":"2019-09-15 05:51:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6065","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di sektor manufaktur dan perdagangan menyerap 600.000 karyawan pabrik dan 2 juta pedagang ritel (off farm). Totalnya 6,1 juta tenaga kerja yang bergantung langsung terhadap industri ini. Dari total serapan tenaga kerja yang terlibat secara on farm dan off farm, baik langsung maupun tidak langsung, di dalam IHT dapat memberi penghidupan kepada 30,5 juta orang.
<\/p>\n\n\n\n

Perlu Gan Quan tau, jika tak ada tembakau di negeri ini, bukan malah menjadikan masyarakat sehat sebaliknya malah menjadi petaka untuk bangsa Indonesia.
<\/h2>\n\n\n\n

Kita semua sama-sama tau, bagaimana antirokok bermain. Mereka seringkali membungkus sesuatu dengan kemulian, padahal sejatinya ada agenda-agenda terselubung yang sedang mereka usahakan capai. Mana pernah mereka memikirkan nasib petani, buruh rokok dan semua orang yang menggantungkan hidupnya pada industri hasil tembakau. <\/p>\n","post_title":"Peserta APCAT Harusnya Sadar, Tembakau Menghidupi Masyarakat Bukan Membunuh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peserta-apcat-harusnya-sadar-tembakau-menghidupi-masyarakat-bukan-membunuh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-27 12:27:38","post_modified_gmt":"2019-09-27 05:27:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6104","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6095,"post_author":"855","post_date":"2019-09-24 11:15:17","post_date_gmt":"2019-09-24 04:15:17","post_content":"\n

14 Januari 1944, Majalah Soeara Moeslimin, menerbitkan tulisan KH. Hasyim Asy'ari\u00a0 berjudul \u201cKeoetamaan Bertjojok Tanam dan Bertani\u201d. Tulisan itu lebih besar membahas posisi petani dalam berbangsa dan bernegara.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Hasyim, sebagaimana yang beliau nukil dari Muntahaa amaali\u2019l Khutabaa\u2019, petani adalah seorang yang setiap waktu bersedekah. Keuletan menghadapi segala persoalan dunia, jerih payahnya, tidak hanya untuk dirinya sendiri, melainkan juga untuk bangsa dan negara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTak ada seorang Muslim yang menanam tanaman atau mencocokkan tumbuhan-tumbuhan, kemudian tanaman itu dimakan burung atau manusia atau binatang, melainkan dihitung menjadi shadaqah (sedekah) baginya.\u201d<\/strong> (Bukhari II\/30)
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Tani adalah gudang kekayaan. Darinya negeri mengeluarkan belanja bagi segala keperluan. Pak Tani itulah penolong negeri apabila keperluan menghendakinya dan di waktu orang-orang mencari pertolongan. Pak Tani itulah pembantu negeri yang boleh dipercaya untuk mengerjakan sekalian keperluan negeri, yaitu pada waktunya orang berbalik punggung (tidak sudi menolong) pada negeri; dan Pak Tani itu menjadi sendi tempat di mana negeri di sandarkan,\u201d tulis Mbah Hasyim.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Petani bagi Mbah Hasyim adalah seorang yang setiap waktu mendapat pahala. Sebagaimana yang beliau nukil dari riwayat Muslim, \u201ctidak ada seorang Muslim menanam tanaman dan tidak pula mencocokkan tumbuh-tumbuhan, kemudian dimakan orang daripadanya, atau binatang atau lainnya, melainkan itu menjadi shadaqah baginya.\u201d (Muslim I\/678).
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi nahas, hingga kini petani masih dipandang sebelah mata. Nasib dan kesejahteraannya dianggap fana. Padahal petani juga bekerja untuk  bangsa dan negara.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Hak-hak petani dikebiri. Banyak berita mengabarkan petani diintimidasi. Tanah-tanah mereka setiap waktu bisa saja dicuri oleh para makelar yang tak punya nurani, digantikan pabrik-pabrik menjulang tinggi. Kesejahteraan hidup mereka tidak pernah dipedulikan, yang hanya adalah kalimat-kalimat manis datang dari para pemangku kebijakan negeri, itupun hanya ketika datang Pemilu kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/a><\/p>\n\n\n\n

Belum lagi payahnya seorang petani menghadapi tak menentunya iklim, hama, dan seabrek permasalahan teknis pertanian, pemerintah sering menambah beban mereka dengan kebijakan-kebijakan yang hanya menguntungkan beberapa pihak saja. Petani seperti bukan masyarakat yang juga wajib dijaga kesejahteraan hidupnya. Petani hanya dijadikan sumber rupiah untuk negara, tentu saja juga untuk para pejabat yang mendapat gaji darinya.
<\/p>\n\n\n\n

Benar yang tertulis dalam kitab Itkhafu\u2019Sadah Al-Muttaqien I\/52, teraturnya agama atau negara adalah bergantung pada teraturnya dunia. Teraturnya dunia bergantung pada uang. Uang itu terkumpul dari rakyat. Sedangkan teraturnya hidup rakyat adalah bergantung pada sikap pembesar-pembesarnya yang adil.
<\/p>\n\n\n\n

Jika pembesar-pembesar itu masih rakus, selama itu juga kesejahteraan hanya punya mereka yang berelasi kuat dengan para elit pemangku kebijakan. Petani, entah bagaimana nasibnya.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Tani Nasional. Jaya di darat, laut dan akhirat!
<\/p>\n","post_title":"Petani Adalah Pondasi Negeri","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-adalah-pondasi-negeri","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-24 11:26:45","post_modified_gmt":"2019-09-24 04:26:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6095","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6065,"post_author":"855","post_date":"2019-09-15 12:44:34","post_date_gmt":"2019-09-15 05:44:34","post_content":"\n

Presiden Joko Widodo(Jokowi) sepakat untuk menaikkan tarif cukai sebesar 23 persen tahun depan. Kenaikan tarif cukai membuat rata-rata harga jual eceran rokok diperkirakan meningkat 35 persen dari harga jual saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Menteri Keuangan Sri Mulyani,  seperti yang dikutip Kumparan.com<\/em><\/a>, menjelaskan salah satu pertimbangan kenaikan cukai karena ingin mengurangi jumlah perokok. Harga yang naik tentu akan menyulitkan para perokok hingga mencegah peningkatan konsumsi rokok di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\"Yakni bagaimana kebijakan cukai rokok bisa mengurangi konsumsi rokok. Bagaimana dia bisa mengatur industrinya dan yang ketiga tetap menjaga penerimaan negara,\" kata Sri Mulyani di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat (13\/9).<\/p>\n\n\n\n

Sri Mulyani menganggap, dengan pemerintah menaikkan cukai, maka secara otomatis angka perokok akan turun. Asumsinya sangat sederhana,  dengan cukai naik otomatis harga jual rokok juga naik. Maka masyarakat tidak akan bisa membeli rokok. Pemerintah sukses, Indonesia lebih sehat karena semakin sedikit  orang yang merokok. <\/p>\n\n\n\n

Anggapan ini  jelas keliru. Mau rokok naik setinggi apapun, loyalitas perokok terhadap lintingan emas hijau ini tidak akan pudar. Jika tak mampu membeli rokok pabrikan, maka perokok masih bisa melinting sendiri untuk menikmatinya.<\/p>\n\n\n\n

Hampir mirip  dengan Sri, Menteri Koordinator Perokonomian Darmin Nasution mengungkapkan, setidaknya ada 3 hal kenapa cukai rokok tahun ini naik sebesar 23 persen.  Pertama, tahun 2019 pemerintah tidak menaikkan cukai rokok, maka menjadi wajar jika tahun 2020 naiknya lebih besar. <\/p>\n\n\n\n

\u201cTahun lalu tidak naik. Sehingga ya naiknya wajar kalau lebih banyak, lebih besar,\" ujarnya. [Kompas.com]<\/p>\n\n\n\n

Tahun 2019 memang pemerintah tidak menaikkan cukai. Tetapi apakah ini kemudian dapat dijadikan alasan kenaikan cukai 2020. Tentu saja masih bisa dipertanyakan. <\/p>\n\n\n\n

Publik bisa saja menilai, tidak naiknya cukai tahun 2019 lantaran pada tahun itu adalah tahun politik. Semua calon tentu saja  ingin mendapat dukungan dari petani tembakau, buruh pabrik rokok dan jutaan orang lainnya yang menggantungkan hidup dari industri hasil tembakau. Toh pada keputusan tersebut, Sri Mulyani tidak memberikan alasan yang jelas, kenapa cukai tidak naik. (Baca: Pemerintah Tidak Naikkan Cukai Rokok Tahun 2019<\/a>)<\/p>\n\n\n\n

Kedua, menurunkan konsumsi rokok masyarakat Indonesia. Logika ini sama persis yang digunakan Sri Mulyani.<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, urusan  penerimaan negara. Pemerintah meyakini kenaikan cukai akan mengdongkrak penerimaan negara. Hal ini dinilai penting karena pemerintah membutuhkan banyak dana untuk pembiayaan anggaran di APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Alasan ketiga inilah yang mungkin agak masuk akal. Pemerintah perlu  menaikkan cukai setinggi-tingginya karena pemerintah butuh banyak uang untuk menjalankan program-program. Untuk membangung dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Namun menjadi rancu, di satu sisi pemerintah ingin menurunkan jumlah perokok. Artinya pemerintah ingin masyarakat  tidak membeli rokok. Di sisi yang lain pemerintah ingin mendapatkan setoran besar dari industri ini. Tak tanggung-tanggung, Sri Mulyani menargetkan dapat mengeruk Rp 173 triliun di 2020.<\/p>\n\n\n\n

Rasa-rasanya pemerintah ini hanya punya daya pikir pendek. Mereka tidak mampu berpikir panjang untuk menjaga hasil pendapatan negara ini. Bukan malah membunuh pelan-pelan dan hanya  memikirkan bagaimana pada periode kepempinannya dapat menjalankan program-program dan mengumpulkan uang untuk negara, meski rakyatnya dicekik setiap saat.<\/p>\n\n\n\n

Untuk Bu Sri dan Pak Darmin, kalo memang  niatnya mengurangi perokok, dorong saja Presiden untuk melarang masyarakat menanam tembakau serta cengkeh dan menutup semua pabrik rokok di negeri ini. Gitu baru keren!<\/em><\/p>\n\n\n\n

<\/p>\n","post_title":"Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tidak-perlu-menaikkan-cukai-begini-cara-menguranangi-angka-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-15 12:51:44","post_modified_gmt":"2019-09-15 05:51:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6065","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Pembelaan Gus Dur pada Sektor Industri Hasil Tembakau (IHT)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sektor manufaktur dan perdagangan menyerap 600.000 karyawan pabrik dan 2 juta pedagang ritel (off farm). Totalnya 6,1 juta tenaga kerja yang bergantung langsung terhadap industri ini. Dari total serapan tenaga kerja yang terlibat secara on farm dan off farm, baik langsung maupun tidak langsung, di dalam IHT dapat memberi penghidupan kepada 30,5 juta orang.
<\/p>\n\n\n\n

Perlu Gan Quan tau, jika tak ada tembakau di negeri ini, bukan malah menjadikan masyarakat sehat sebaliknya malah menjadi petaka untuk bangsa Indonesia.
<\/h2>\n\n\n\n

Kita semua sama-sama tau, bagaimana antirokok bermain. Mereka seringkali membungkus sesuatu dengan kemulian, padahal sejatinya ada agenda-agenda terselubung yang sedang mereka usahakan capai. Mana pernah mereka memikirkan nasib petani, buruh rokok dan semua orang yang menggantungkan hidupnya pada industri hasil tembakau. <\/p>\n","post_title":"Peserta APCAT Harusnya Sadar, Tembakau Menghidupi Masyarakat Bukan Membunuh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peserta-apcat-harusnya-sadar-tembakau-menghidupi-masyarakat-bukan-membunuh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-27 12:27:38","post_modified_gmt":"2019-09-27 05:27:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6104","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6095,"post_author":"855","post_date":"2019-09-24 11:15:17","post_date_gmt":"2019-09-24 04:15:17","post_content":"\n

14 Januari 1944, Majalah Soeara Moeslimin, menerbitkan tulisan KH. Hasyim Asy'ari\u00a0 berjudul \u201cKeoetamaan Bertjojok Tanam dan Bertani\u201d. Tulisan itu lebih besar membahas posisi petani dalam berbangsa dan bernegara.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Hasyim, sebagaimana yang beliau nukil dari Muntahaa amaali\u2019l Khutabaa\u2019, petani adalah seorang yang setiap waktu bersedekah. Keuletan menghadapi segala persoalan dunia, jerih payahnya, tidak hanya untuk dirinya sendiri, melainkan juga untuk bangsa dan negara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTak ada seorang Muslim yang menanam tanaman atau mencocokkan tumbuhan-tumbuhan, kemudian tanaman itu dimakan burung atau manusia atau binatang, melainkan dihitung menjadi shadaqah (sedekah) baginya.\u201d<\/strong> (Bukhari II\/30)
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Tani adalah gudang kekayaan. Darinya negeri mengeluarkan belanja bagi segala keperluan. Pak Tani itulah penolong negeri apabila keperluan menghendakinya dan di waktu orang-orang mencari pertolongan. Pak Tani itulah pembantu negeri yang boleh dipercaya untuk mengerjakan sekalian keperluan negeri, yaitu pada waktunya orang berbalik punggung (tidak sudi menolong) pada negeri; dan Pak Tani itu menjadi sendi tempat di mana negeri di sandarkan,\u201d tulis Mbah Hasyim.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Petani bagi Mbah Hasyim adalah seorang yang setiap waktu mendapat pahala. Sebagaimana yang beliau nukil dari riwayat Muslim, \u201ctidak ada seorang Muslim menanam tanaman dan tidak pula mencocokkan tumbuh-tumbuhan, kemudian dimakan orang daripadanya, atau binatang atau lainnya, melainkan itu menjadi shadaqah baginya.\u201d (Muslim I\/678).
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi nahas, hingga kini petani masih dipandang sebelah mata. Nasib dan kesejahteraannya dianggap fana. Padahal petani juga bekerja untuk  bangsa dan negara.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Hak-hak petani dikebiri. Banyak berita mengabarkan petani diintimidasi. Tanah-tanah mereka setiap waktu bisa saja dicuri oleh para makelar yang tak punya nurani, digantikan pabrik-pabrik menjulang tinggi. Kesejahteraan hidup mereka tidak pernah dipedulikan, yang hanya adalah kalimat-kalimat manis datang dari para pemangku kebijakan negeri, itupun hanya ketika datang Pemilu kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/a><\/p>\n\n\n\n

Belum lagi payahnya seorang petani menghadapi tak menentunya iklim, hama, dan seabrek permasalahan teknis pertanian, pemerintah sering menambah beban mereka dengan kebijakan-kebijakan yang hanya menguntungkan beberapa pihak saja. Petani seperti bukan masyarakat yang juga wajib dijaga kesejahteraan hidupnya. Petani hanya dijadikan sumber rupiah untuk negara, tentu saja juga untuk para pejabat yang mendapat gaji darinya.
<\/p>\n\n\n\n

Benar yang tertulis dalam kitab Itkhafu\u2019Sadah Al-Muttaqien I\/52, teraturnya agama atau negara adalah bergantung pada teraturnya dunia. Teraturnya dunia bergantung pada uang. Uang itu terkumpul dari rakyat. Sedangkan teraturnya hidup rakyat adalah bergantung pada sikap pembesar-pembesarnya yang adil.
<\/p>\n\n\n\n

Jika pembesar-pembesar itu masih rakus, selama itu juga kesejahteraan hanya punya mereka yang berelasi kuat dengan para elit pemangku kebijakan. Petani, entah bagaimana nasibnya.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Tani Nasional. Jaya di darat, laut dan akhirat!
<\/p>\n","post_title":"Petani Adalah Pondasi Negeri","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-adalah-pondasi-negeri","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-24 11:26:45","post_modified_gmt":"2019-09-24 04:26:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6095","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6065,"post_author":"855","post_date":"2019-09-15 12:44:34","post_date_gmt":"2019-09-15 05:44:34","post_content":"\n

Presiden Joko Widodo(Jokowi) sepakat untuk menaikkan tarif cukai sebesar 23 persen tahun depan. Kenaikan tarif cukai membuat rata-rata harga jual eceran rokok diperkirakan meningkat 35 persen dari harga jual saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Menteri Keuangan Sri Mulyani,  seperti yang dikutip Kumparan.com<\/em><\/a>, menjelaskan salah satu pertimbangan kenaikan cukai karena ingin mengurangi jumlah perokok. Harga yang naik tentu akan menyulitkan para perokok hingga mencegah peningkatan konsumsi rokok di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\"Yakni bagaimana kebijakan cukai rokok bisa mengurangi konsumsi rokok. Bagaimana dia bisa mengatur industrinya dan yang ketiga tetap menjaga penerimaan negara,\" kata Sri Mulyani di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat (13\/9).<\/p>\n\n\n\n

Sri Mulyani menganggap, dengan pemerintah menaikkan cukai, maka secara otomatis angka perokok akan turun. Asumsinya sangat sederhana,  dengan cukai naik otomatis harga jual rokok juga naik. Maka masyarakat tidak akan bisa membeli rokok. Pemerintah sukses, Indonesia lebih sehat karena semakin sedikit  orang yang merokok. <\/p>\n\n\n\n

Anggapan ini  jelas keliru. Mau rokok naik setinggi apapun, loyalitas perokok terhadap lintingan emas hijau ini tidak akan pudar. Jika tak mampu membeli rokok pabrikan, maka perokok masih bisa melinting sendiri untuk menikmatinya.<\/p>\n\n\n\n

Hampir mirip  dengan Sri, Menteri Koordinator Perokonomian Darmin Nasution mengungkapkan, setidaknya ada 3 hal kenapa cukai rokok tahun ini naik sebesar 23 persen.  Pertama, tahun 2019 pemerintah tidak menaikkan cukai rokok, maka menjadi wajar jika tahun 2020 naiknya lebih besar. <\/p>\n\n\n\n

\u201cTahun lalu tidak naik. Sehingga ya naiknya wajar kalau lebih banyak, lebih besar,\" ujarnya. [Kompas.com]<\/p>\n\n\n\n

Tahun 2019 memang pemerintah tidak menaikkan cukai. Tetapi apakah ini kemudian dapat dijadikan alasan kenaikan cukai 2020. Tentu saja masih bisa dipertanyakan. <\/p>\n\n\n\n

Publik bisa saja menilai, tidak naiknya cukai tahun 2019 lantaran pada tahun itu adalah tahun politik. Semua calon tentu saja  ingin mendapat dukungan dari petani tembakau, buruh pabrik rokok dan jutaan orang lainnya yang menggantungkan hidup dari industri hasil tembakau. Toh pada keputusan tersebut, Sri Mulyani tidak memberikan alasan yang jelas, kenapa cukai tidak naik. (Baca: Pemerintah Tidak Naikkan Cukai Rokok Tahun 2019<\/a>)<\/p>\n\n\n\n

Kedua, menurunkan konsumsi rokok masyarakat Indonesia. Logika ini sama persis yang digunakan Sri Mulyani.<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, urusan  penerimaan negara. Pemerintah meyakini kenaikan cukai akan mengdongkrak penerimaan negara. Hal ini dinilai penting karena pemerintah membutuhkan banyak dana untuk pembiayaan anggaran di APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Alasan ketiga inilah yang mungkin agak masuk akal. Pemerintah perlu  menaikkan cukai setinggi-tingginya karena pemerintah butuh banyak uang untuk menjalankan program-program. Untuk membangung dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Namun menjadi rancu, di satu sisi pemerintah ingin menurunkan jumlah perokok. Artinya pemerintah ingin masyarakat  tidak membeli rokok. Di sisi yang lain pemerintah ingin mendapatkan setoran besar dari industri ini. Tak tanggung-tanggung, Sri Mulyani menargetkan dapat mengeruk Rp 173 triliun di 2020.<\/p>\n\n\n\n

Rasa-rasanya pemerintah ini hanya punya daya pikir pendek. Mereka tidak mampu berpikir panjang untuk menjaga hasil pendapatan negara ini. Bukan malah membunuh pelan-pelan dan hanya  memikirkan bagaimana pada periode kepempinannya dapat menjalankan program-program dan mengumpulkan uang untuk negara, meski rakyatnya dicekik setiap saat.<\/p>\n\n\n\n

Untuk Bu Sri dan Pak Darmin, kalo memang  niatnya mengurangi perokok, dorong saja Presiden untuk melarang masyarakat menanam tembakau serta cengkeh dan menutup semua pabrik rokok di negeri ini. Gitu baru keren!<\/em><\/p>\n\n\n\n

<\/p>\n","post_title":"Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tidak-perlu-menaikkan-cukai-begini-cara-menguranangi-angka-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-15 12:51:44","post_modified_gmt":"2019-09-15 05:51:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6065","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Gan Quan mungkin juga mainnya kurang jauh, di Indonesia tembakau malah bisa menghidupi jutaan orang.  Keberadaan IHT memberi sumbangsih besar pada penyerapan tenaga kerja mulai dari hulu sampai hilir. Di sektor perkebunan menyerap 2 juta petani tembakau dan 1,5 juta petani cengkeh (on farm). Belum termasuk serapan tenaga kerja tidak langsung, karena di sektor hulu terdapat ragam pekerjaan lain17. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Pembelaan Gus Dur pada Sektor Industri Hasil Tembakau (IHT)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sektor manufaktur dan perdagangan menyerap 600.000 karyawan pabrik dan 2 juta pedagang ritel (off farm). Totalnya 6,1 juta tenaga kerja yang bergantung langsung terhadap industri ini. Dari total serapan tenaga kerja yang terlibat secara on farm dan off farm, baik langsung maupun tidak langsung, di dalam IHT dapat memberi penghidupan kepada 30,5 juta orang.
<\/p>\n\n\n\n

Perlu Gan Quan tau, jika tak ada tembakau di negeri ini, bukan malah menjadikan masyarakat sehat sebaliknya malah menjadi petaka untuk bangsa Indonesia.
<\/h2>\n\n\n\n

Kita semua sama-sama tau, bagaimana antirokok bermain. Mereka seringkali membungkus sesuatu dengan kemulian, padahal sejatinya ada agenda-agenda terselubung yang sedang mereka usahakan capai. Mana pernah mereka memikirkan nasib petani, buruh rokok dan semua orang yang menggantungkan hidupnya pada industri hasil tembakau. <\/p>\n","post_title":"Peserta APCAT Harusnya Sadar, Tembakau Menghidupi Masyarakat Bukan Membunuh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peserta-apcat-harusnya-sadar-tembakau-menghidupi-masyarakat-bukan-membunuh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-27 12:27:38","post_modified_gmt":"2019-09-27 05:27:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6104","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6095,"post_author":"855","post_date":"2019-09-24 11:15:17","post_date_gmt":"2019-09-24 04:15:17","post_content":"\n

14 Januari 1944, Majalah Soeara Moeslimin, menerbitkan tulisan KH. Hasyim Asy'ari\u00a0 berjudul \u201cKeoetamaan Bertjojok Tanam dan Bertani\u201d. Tulisan itu lebih besar membahas posisi petani dalam berbangsa dan bernegara.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Hasyim, sebagaimana yang beliau nukil dari Muntahaa amaali\u2019l Khutabaa\u2019, petani adalah seorang yang setiap waktu bersedekah. Keuletan menghadapi segala persoalan dunia, jerih payahnya, tidak hanya untuk dirinya sendiri, melainkan juga untuk bangsa dan negara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTak ada seorang Muslim yang menanam tanaman atau mencocokkan tumbuhan-tumbuhan, kemudian tanaman itu dimakan burung atau manusia atau binatang, melainkan dihitung menjadi shadaqah (sedekah) baginya.\u201d<\/strong> (Bukhari II\/30)
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Tani adalah gudang kekayaan. Darinya negeri mengeluarkan belanja bagi segala keperluan. Pak Tani itulah penolong negeri apabila keperluan menghendakinya dan di waktu orang-orang mencari pertolongan. Pak Tani itulah pembantu negeri yang boleh dipercaya untuk mengerjakan sekalian keperluan negeri, yaitu pada waktunya orang berbalik punggung (tidak sudi menolong) pada negeri; dan Pak Tani itu menjadi sendi tempat di mana negeri di sandarkan,\u201d tulis Mbah Hasyim.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Petani bagi Mbah Hasyim adalah seorang yang setiap waktu mendapat pahala. Sebagaimana yang beliau nukil dari riwayat Muslim, \u201ctidak ada seorang Muslim menanam tanaman dan tidak pula mencocokkan tumbuh-tumbuhan, kemudian dimakan orang daripadanya, atau binatang atau lainnya, melainkan itu menjadi shadaqah baginya.\u201d (Muslim I\/678).
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi nahas, hingga kini petani masih dipandang sebelah mata. Nasib dan kesejahteraannya dianggap fana. Padahal petani juga bekerja untuk  bangsa dan negara.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Hak-hak petani dikebiri. Banyak berita mengabarkan petani diintimidasi. Tanah-tanah mereka setiap waktu bisa saja dicuri oleh para makelar yang tak punya nurani, digantikan pabrik-pabrik menjulang tinggi. Kesejahteraan hidup mereka tidak pernah dipedulikan, yang hanya adalah kalimat-kalimat manis datang dari para pemangku kebijakan negeri, itupun hanya ketika datang Pemilu kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/a><\/p>\n\n\n\n

Belum lagi payahnya seorang petani menghadapi tak menentunya iklim, hama, dan seabrek permasalahan teknis pertanian, pemerintah sering menambah beban mereka dengan kebijakan-kebijakan yang hanya menguntungkan beberapa pihak saja. Petani seperti bukan masyarakat yang juga wajib dijaga kesejahteraan hidupnya. Petani hanya dijadikan sumber rupiah untuk negara, tentu saja juga untuk para pejabat yang mendapat gaji darinya.
<\/p>\n\n\n\n

Benar yang tertulis dalam kitab Itkhafu\u2019Sadah Al-Muttaqien I\/52, teraturnya agama atau negara adalah bergantung pada teraturnya dunia. Teraturnya dunia bergantung pada uang. Uang itu terkumpul dari rakyat. Sedangkan teraturnya hidup rakyat adalah bergantung pada sikap pembesar-pembesarnya yang adil.
<\/p>\n\n\n\n

Jika pembesar-pembesar itu masih rakus, selama itu juga kesejahteraan hanya punya mereka yang berelasi kuat dengan para elit pemangku kebijakan. Petani, entah bagaimana nasibnya.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Tani Nasional. Jaya di darat, laut dan akhirat!
<\/p>\n","post_title":"Petani Adalah Pondasi Negeri","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-adalah-pondasi-negeri","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-24 11:26:45","post_modified_gmt":"2019-09-24 04:26:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6095","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6065,"post_author":"855","post_date":"2019-09-15 12:44:34","post_date_gmt":"2019-09-15 05:44:34","post_content":"\n

Presiden Joko Widodo(Jokowi) sepakat untuk menaikkan tarif cukai sebesar 23 persen tahun depan. Kenaikan tarif cukai membuat rata-rata harga jual eceran rokok diperkirakan meningkat 35 persen dari harga jual saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Menteri Keuangan Sri Mulyani,  seperti yang dikutip Kumparan.com<\/em><\/a>, menjelaskan salah satu pertimbangan kenaikan cukai karena ingin mengurangi jumlah perokok. Harga yang naik tentu akan menyulitkan para perokok hingga mencegah peningkatan konsumsi rokok di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\"Yakni bagaimana kebijakan cukai rokok bisa mengurangi konsumsi rokok. Bagaimana dia bisa mengatur industrinya dan yang ketiga tetap menjaga penerimaan negara,\" kata Sri Mulyani di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat (13\/9).<\/p>\n\n\n\n

Sri Mulyani menganggap, dengan pemerintah menaikkan cukai, maka secara otomatis angka perokok akan turun. Asumsinya sangat sederhana,  dengan cukai naik otomatis harga jual rokok juga naik. Maka masyarakat tidak akan bisa membeli rokok. Pemerintah sukses, Indonesia lebih sehat karena semakin sedikit  orang yang merokok. <\/p>\n\n\n\n

Anggapan ini  jelas keliru. Mau rokok naik setinggi apapun, loyalitas perokok terhadap lintingan emas hijau ini tidak akan pudar. Jika tak mampu membeli rokok pabrikan, maka perokok masih bisa melinting sendiri untuk menikmatinya.<\/p>\n\n\n\n

Hampir mirip  dengan Sri, Menteri Koordinator Perokonomian Darmin Nasution mengungkapkan, setidaknya ada 3 hal kenapa cukai rokok tahun ini naik sebesar 23 persen.  Pertama, tahun 2019 pemerintah tidak menaikkan cukai rokok, maka menjadi wajar jika tahun 2020 naiknya lebih besar. <\/p>\n\n\n\n

\u201cTahun lalu tidak naik. Sehingga ya naiknya wajar kalau lebih banyak, lebih besar,\" ujarnya. [Kompas.com]<\/p>\n\n\n\n

Tahun 2019 memang pemerintah tidak menaikkan cukai. Tetapi apakah ini kemudian dapat dijadikan alasan kenaikan cukai 2020. Tentu saja masih bisa dipertanyakan. <\/p>\n\n\n\n

Publik bisa saja menilai, tidak naiknya cukai tahun 2019 lantaran pada tahun itu adalah tahun politik. Semua calon tentu saja  ingin mendapat dukungan dari petani tembakau, buruh pabrik rokok dan jutaan orang lainnya yang menggantungkan hidup dari industri hasil tembakau. Toh pada keputusan tersebut, Sri Mulyani tidak memberikan alasan yang jelas, kenapa cukai tidak naik. (Baca: Pemerintah Tidak Naikkan Cukai Rokok Tahun 2019<\/a>)<\/p>\n\n\n\n

Kedua, menurunkan konsumsi rokok masyarakat Indonesia. Logika ini sama persis yang digunakan Sri Mulyani.<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, urusan  penerimaan negara. Pemerintah meyakini kenaikan cukai akan mengdongkrak penerimaan negara. Hal ini dinilai penting karena pemerintah membutuhkan banyak dana untuk pembiayaan anggaran di APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Alasan ketiga inilah yang mungkin agak masuk akal. Pemerintah perlu  menaikkan cukai setinggi-tingginya karena pemerintah butuh banyak uang untuk menjalankan program-program. Untuk membangung dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Namun menjadi rancu, di satu sisi pemerintah ingin menurunkan jumlah perokok. Artinya pemerintah ingin masyarakat  tidak membeli rokok. Di sisi yang lain pemerintah ingin mendapatkan setoran besar dari industri ini. Tak tanggung-tanggung, Sri Mulyani menargetkan dapat mengeruk Rp 173 triliun di 2020.<\/p>\n\n\n\n

Rasa-rasanya pemerintah ini hanya punya daya pikir pendek. Mereka tidak mampu berpikir panjang untuk menjaga hasil pendapatan negara ini. Bukan malah membunuh pelan-pelan dan hanya  memikirkan bagaimana pada periode kepempinannya dapat menjalankan program-program dan mengumpulkan uang untuk negara, meski rakyatnya dicekik setiap saat.<\/p>\n\n\n\n

Untuk Bu Sri dan Pak Darmin, kalo memang  niatnya mengurangi perokok, dorong saja Presiden untuk melarang masyarakat menanam tembakau serta cengkeh dan menutup semua pabrik rokok di negeri ini. Gitu baru keren!<\/em><\/p>\n\n\n\n

<\/p>\n","post_title":"Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tidak-perlu-menaikkan-cukai-begini-cara-menguranangi-angka-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-15 12:51:44","post_modified_gmt":"2019-09-15 05:51:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6065","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lebih jauh, di dalam daun tembakau juga terdapat vitamin C atau asam askorbat yang menjadi antioksidan dan dapat bereaksi dengan antiradikal bebeas dengan cara memberikan proteksi sel. Di dalam tembakau juga terdapat zinc (Zn) yang berguna dalam pembentukan struktur enzim dan protein yang bermanfaat bagi tubuh. Juga mengandung minyak atsiri yang dapat digunakan sebagai antibakteri dan antiseptik. (okezone.com)
<\/p>\n\n\n\n

Gan Quan mungkin juga mainnya kurang jauh, di Indonesia tembakau malah bisa menghidupi jutaan orang.  Keberadaan IHT memberi sumbangsih besar pada penyerapan tenaga kerja mulai dari hulu sampai hilir. Di sektor perkebunan menyerap 2 juta petani tembakau dan 1,5 juta petani cengkeh (on farm). Belum termasuk serapan tenaga kerja tidak langsung, karena di sektor hulu terdapat ragam pekerjaan lain17. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Pembelaan Gus Dur pada Sektor Industri Hasil Tembakau (IHT)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sektor manufaktur dan perdagangan menyerap 600.000 karyawan pabrik dan 2 juta pedagang ritel (off farm). Totalnya 6,1 juta tenaga kerja yang bergantung langsung terhadap industri ini. Dari total serapan tenaga kerja yang terlibat secara on farm dan off farm, baik langsung maupun tidak langsung, di dalam IHT dapat memberi penghidupan kepada 30,5 juta orang.
<\/p>\n\n\n\n

Perlu Gan Quan tau, jika tak ada tembakau di negeri ini, bukan malah menjadikan masyarakat sehat sebaliknya malah menjadi petaka untuk bangsa Indonesia.
<\/h2>\n\n\n\n

Kita semua sama-sama tau, bagaimana antirokok bermain. Mereka seringkali membungkus sesuatu dengan kemulian, padahal sejatinya ada agenda-agenda terselubung yang sedang mereka usahakan capai. Mana pernah mereka memikirkan nasib petani, buruh rokok dan semua orang yang menggantungkan hidupnya pada industri hasil tembakau. <\/p>\n","post_title":"Peserta APCAT Harusnya Sadar, Tembakau Menghidupi Masyarakat Bukan Membunuh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peserta-apcat-harusnya-sadar-tembakau-menghidupi-masyarakat-bukan-membunuh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-27 12:27:38","post_modified_gmt":"2019-09-27 05:27:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6104","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6095,"post_author":"855","post_date":"2019-09-24 11:15:17","post_date_gmt":"2019-09-24 04:15:17","post_content":"\n

14 Januari 1944, Majalah Soeara Moeslimin, menerbitkan tulisan KH. Hasyim Asy'ari\u00a0 berjudul \u201cKeoetamaan Bertjojok Tanam dan Bertani\u201d. Tulisan itu lebih besar membahas posisi petani dalam berbangsa dan bernegara.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Hasyim, sebagaimana yang beliau nukil dari Muntahaa amaali\u2019l Khutabaa\u2019, petani adalah seorang yang setiap waktu bersedekah. Keuletan menghadapi segala persoalan dunia, jerih payahnya, tidak hanya untuk dirinya sendiri, melainkan juga untuk bangsa dan negara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTak ada seorang Muslim yang menanam tanaman atau mencocokkan tumbuhan-tumbuhan, kemudian tanaman itu dimakan burung atau manusia atau binatang, melainkan dihitung menjadi shadaqah (sedekah) baginya.\u201d<\/strong> (Bukhari II\/30)
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Tani adalah gudang kekayaan. Darinya negeri mengeluarkan belanja bagi segala keperluan. Pak Tani itulah penolong negeri apabila keperluan menghendakinya dan di waktu orang-orang mencari pertolongan. Pak Tani itulah pembantu negeri yang boleh dipercaya untuk mengerjakan sekalian keperluan negeri, yaitu pada waktunya orang berbalik punggung (tidak sudi menolong) pada negeri; dan Pak Tani itu menjadi sendi tempat di mana negeri di sandarkan,\u201d tulis Mbah Hasyim.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Petani bagi Mbah Hasyim adalah seorang yang setiap waktu mendapat pahala. Sebagaimana yang beliau nukil dari riwayat Muslim, \u201ctidak ada seorang Muslim menanam tanaman dan tidak pula mencocokkan tumbuh-tumbuhan, kemudian dimakan orang daripadanya, atau binatang atau lainnya, melainkan itu menjadi shadaqah baginya.\u201d (Muslim I\/678).
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi nahas, hingga kini petani masih dipandang sebelah mata. Nasib dan kesejahteraannya dianggap fana. Padahal petani juga bekerja untuk  bangsa dan negara.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Hak-hak petani dikebiri. Banyak berita mengabarkan petani diintimidasi. Tanah-tanah mereka setiap waktu bisa saja dicuri oleh para makelar yang tak punya nurani, digantikan pabrik-pabrik menjulang tinggi. Kesejahteraan hidup mereka tidak pernah dipedulikan, yang hanya adalah kalimat-kalimat manis datang dari para pemangku kebijakan negeri, itupun hanya ketika datang Pemilu kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/a><\/p>\n\n\n\n

Belum lagi payahnya seorang petani menghadapi tak menentunya iklim, hama, dan seabrek permasalahan teknis pertanian, pemerintah sering menambah beban mereka dengan kebijakan-kebijakan yang hanya menguntungkan beberapa pihak saja. Petani seperti bukan masyarakat yang juga wajib dijaga kesejahteraan hidupnya. Petani hanya dijadikan sumber rupiah untuk negara, tentu saja juga untuk para pejabat yang mendapat gaji darinya.
<\/p>\n\n\n\n

Benar yang tertulis dalam kitab Itkhafu\u2019Sadah Al-Muttaqien I\/52, teraturnya agama atau negara adalah bergantung pada teraturnya dunia. Teraturnya dunia bergantung pada uang. Uang itu terkumpul dari rakyat. Sedangkan teraturnya hidup rakyat adalah bergantung pada sikap pembesar-pembesarnya yang adil.
<\/p>\n\n\n\n

Jika pembesar-pembesar itu masih rakus, selama itu juga kesejahteraan hanya punya mereka yang berelasi kuat dengan para elit pemangku kebijakan. Petani, entah bagaimana nasibnya.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Tani Nasional. Jaya di darat, laut dan akhirat!
<\/p>\n","post_title":"Petani Adalah Pondasi Negeri","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-adalah-pondasi-negeri","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-24 11:26:45","post_modified_gmt":"2019-09-24 04:26:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6095","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6065,"post_author":"855","post_date":"2019-09-15 12:44:34","post_date_gmt":"2019-09-15 05:44:34","post_content":"\n

Presiden Joko Widodo(Jokowi) sepakat untuk menaikkan tarif cukai sebesar 23 persen tahun depan. Kenaikan tarif cukai membuat rata-rata harga jual eceran rokok diperkirakan meningkat 35 persen dari harga jual saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Menteri Keuangan Sri Mulyani,  seperti yang dikutip Kumparan.com<\/em><\/a>, menjelaskan salah satu pertimbangan kenaikan cukai karena ingin mengurangi jumlah perokok. Harga yang naik tentu akan menyulitkan para perokok hingga mencegah peningkatan konsumsi rokok di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\"Yakni bagaimana kebijakan cukai rokok bisa mengurangi konsumsi rokok. Bagaimana dia bisa mengatur industrinya dan yang ketiga tetap menjaga penerimaan negara,\" kata Sri Mulyani di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat (13\/9).<\/p>\n\n\n\n

Sri Mulyani menganggap, dengan pemerintah menaikkan cukai, maka secara otomatis angka perokok akan turun. Asumsinya sangat sederhana,  dengan cukai naik otomatis harga jual rokok juga naik. Maka masyarakat tidak akan bisa membeli rokok. Pemerintah sukses, Indonesia lebih sehat karena semakin sedikit  orang yang merokok. <\/p>\n\n\n\n

Anggapan ini  jelas keliru. Mau rokok naik setinggi apapun, loyalitas perokok terhadap lintingan emas hijau ini tidak akan pudar. Jika tak mampu membeli rokok pabrikan, maka perokok masih bisa melinting sendiri untuk menikmatinya.<\/p>\n\n\n\n

Hampir mirip  dengan Sri, Menteri Koordinator Perokonomian Darmin Nasution mengungkapkan, setidaknya ada 3 hal kenapa cukai rokok tahun ini naik sebesar 23 persen.  Pertama, tahun 2019 pemerintah tidak menaikkan cukai rokok, maka menjadi wajar jika tahun 2020 naiknya lebih besar. <\/p>\n\n\n\n

\u201cTahun lalu tidak naik. Sehingga ya naiknya wajar kalau lebih banyak, lebih besar,\" ujarnya. [Kompas.com]<\/p>\n\n\n\n

Tahun 2019 memang pemerintah tidak menaikkan cukai. Tetapi apakah ini kemudian dapat dijadikan alasan kenaikan cukai 2020. Tentu saja masih bisa dipertanyakan. <\/p>\n\n\n\n

Publik bisa saja menilai, tidak naiknya cukai tahun 2019 lantaran pada tahun itu adalah tahun politik. Semua calon tentu saja  ingin mendapat dukungan dari petani tembakau, buruh pabrik rokok dan jutaan orang lainnya yang menggantungkan hidup dari industri hasil tembakau. Toh pada keputusan tersebut, Sri Mulyani tidak memberikan alasan yang jelas, kenapa cukai tidak naik. (Baca: Pemerintah Tidak Naikkan Cukai Rokok Tahun 2019<\/a>)<\/p>\n\n\n\n

Kedua, menurunkan konsumsi rokok masyarakat Indonesia. Logika ini sama persis yang digunakan Sri Mulyani.<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, urusan  penerimaan negara. Pemerintah meyakini kenaikan cukai akan mengdongkrak penerimaan negara. Hal ini dinilai penting karena pemerintah membutuhkan banyak dana untuk pembiayaan anggaran di APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Alasan ketiga inilah yang mungkin agak masuk akal. Pemerintah perlu  menaikkan cukai setinggi-tingginya karena pemerintah butuh banyak uang untuk menjalankan program-program. Untuk membangung dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Namun menjadi rancu, di satu sisi pemerintah ingin menurunkan jumlah perokok. Artinya pemerintah ingin masyarakat  tidak membeli rokok. Di sisi yang lain pemerintah ingin mendapatkan setoran besar dari industri ini. Tak tanggung-tanggung, Sri Mulyani menargetkan dapat mengeruk Rp 173 triliun di 2020.<\/p>\n\n\n\n

Rasa-rasanya pemerintah ini hanya punya daya pikir pendek. Mereka tidak mampu berpikir panjang untuk menjaga hasil pendapatan negara ini. Bukan malah membunuh pelan-pelan dan hanya  memikirkan bagaimana pada periode kepempinannya dapat menjalankan program-program dan mengumpulkan uang untuk negara, meski rakyatnya dicekik setiap saat.<\/p>\n\n\n\n

Untuk Bu Sri dan Pak Darmin, kalo memang  niatnya mengurangi perokok, dorong saja Presiden untuk melarang masyarakat menanam tembakau serta cengkeh dan menutup semua pabrik rokok di negeri ini. Gitu baru keren!<\/em><\/p>\n\n\n\n

<\/p>\n","post_title":"Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tidak-perlu-menaikkan-cukai-begini-cara-menguranangi-angka-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-15 12:51:44","post_modified_gmt":"2019-09-15 05:51:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6065","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kebanyakan tidak pernah menyinggung faktor lain, misalnya asap kendaraan atau sebab lainnya secara adil. Peneliti Universitas Gadjah Mada, Dr Ttot Sudargo, pernah mengungkap bahwa dalam daun tembakau terdapat senyawa bio aktif seperti flavonid dan fenol. Dua senyawa itu menjadi antioksidan yang dapat mencegah penyakit kardiovaskuler.
<\/p>\n\n\n\n

Lebih jauh, di dalam daun tembakau juga terdapat vitamin C atau asam askorbat yang menjadi antioksidan dan dapat bereaksi dengan antiradikal bebeas dengan cara memberikan proteksi sel. Di dalam tembakau juga terdapat zinc (Zn) yang berguna dalam pembentukan struktur enzim dan protein yang bermanfaat bagi tubuh. Juga mengandung minyak atsiri yang dapat digunakan sebagai antibakteri dan antiseptik. (okezone.com)
<\/p>\n\n\n\n

Gan Quan mungkin juga mainnya kurang jauh, di Indonesia tembakau malah bisa menghidupi jutaan orang.  Keberadaan IHT memberi sumbangsih besar pada penyerapan tenaga kerja mulai dari hulu sampai hilir. Di sektor perkebunan menyerap 2 juta petani tembakau dan 1,5 juta petani cengkeh (on farm). Belum termasuk serapan tenaga kerja tidak langsung, karena di sektor hulu terdapat ragam pekerjaan lain17. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Pembelaan Gus Dur pada Sektor Industri Hasil Tembakau (IHT)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sektor manufaktur dan perdagangan menyerap 600.000 karyawan pabrik dan 2 juta pedagang ritel (off farm). Totalnya 6,1 juta tenaga kerja yang bergantung langsung terhadap industri ini. Dari total serapan tenaga kerja yang terlibat secara on farm dan off farm, baik langsung maupun tidak langsung, di dalam IHT dapat memberi penghidupan kepada 30,5 juta orang.
<\/p>\n\n\n\n

Perlu Gan Quan tau, jika tak ada tembakau di negeri ini, bukan malah menjadikan masyarakat sehat sebaliknya malah menjadi petaka untuk bangsa Indonesia.
<\/h2>\n\n\n\n

Kita semua sama-sama tau, bagaimana antirokok bermain. Mereka seringkali membungkus sesuatu dengan kemulian, padahal sejatinya ada agenda-agenda terselubung yang sedang mereka usahakan capai. Mana pernah mereka memikirkan nasib petani, buruh rokok dan semua orang yang menggantungkan hidupnya pada industri hasil tembakau. <\/p>\n","post_title":"Peserta APCAT Harusnya Sadar, Tembakau Menghidupi Masyarakat Bukan Membunuh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peserta-apcat-harusnya-sadar-tembakau-menghidupi-masyarakat-bukan-membunuh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-27 12:27:38","post_modified_gmt":"2019-09-27 05:27:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6104","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6095,"post_author":"855","post_date":"2019-09-24 11:15:17","post_date_gmt":"2019-09-24 04:15:17","post_content":"\n

14 Januari 1944, Majalah Soeara Moeslimin, menerbitkan tulisan KH. Hasyim Asy'ari\u00a0 berjudul \u201cKeoetamaan Bertjojok Tanam dan Bertani\u201d. Tulisan itu lebih besar membahas posisi petani dalam berbangsa dan bernegara.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Hasyim, sebagaimana yang beliau nukil dari Muntahaa amaali\u2019l Khutabaa\u2019, petani adalah seorang yang setiap waktu bersedekah. Keuletan menghadapi segala persoalan dunia, jerih payahnya, tidak hanya untuk dirinya sendiri, melainkan juga untuk bangsa dan negara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTak ada seorang Muslim yang menanam tanaman atau mencocokkan tumbuhan-tumbuhan, kemudian tanaman itu dimakan burung atau manusia atau binatang, melainkan dihitung menjadi shadaqah (sedekah) baginya.\u201d<\/strong> (Bukhari II\/30)
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Tani adalah gudang kekayaan. Darinya negeri mengeluarkan belanja bagi segala keperluan. Pak Tani itulah penolong negeri apabila keperluan menghendakinya dan di waktu orang-orang mencari pertolongan. Pak Tani itulah pembantu negeri yang boleh dipercaya untuk mengerjakan sekalian keperluan negeri, yaitu pada waktunya orang berbalik punggung (tidak sudi menolong) pada negeri; dan Pak Tani itu menjadi sendi tempat di mana negeri di sandarkan,\u201d tulis Mbah Hasyim.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Petani bagi Mbah Hasyim adalah seorang yang setiap waktu mendapat pahala. Sebagaimana yang beliau nukil dari riwayat Muslim, \u201ctidak ada seorang Muslim menanam tanaman dan tidak pula mencocokkan tumbuh-tumbuhan, kemudian dimakan orang daripadanya, atau binatang atau lainnya, melainkan itu menjadi shadaqah baginya.\u201d (Muslim I\/678).
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi nahas, hingga kini petani masih dipandang sebelah mata. Nasib dan kesejahteraannya dianggap fana. Padahal petani juga bekerja untuk  bangsa dan negara.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Hak-hak petani dikebiri. Banyak berita mengabarkan petani diintimidasi. Tanah-tanah mereka setiap waktu bisa saja dicuri oleh para makelar yang tak punya nurani, digantikan pabrik-pabrik menjulang tinggi. Kesejahteraan hidup mereka tidak pernah dipedulikan, yang hanya adalah kalimat-kalimat manis datang dari para pemangku kebijakan negeri, itupun hanya ketika datang Pemilu kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/a><\/p>\n\n\n\n

Belum lagi payahnya seorang petani menghadapi tak menentunya iklim, hama, dan seabrek permasalahan teknis pertanian, pemerintah sering menambah beban mereka dengan kebijakan-kebijakan yang hanya menguntungkan beberapa pihak saja. Petani seperti bukan masyarakat yang juga wajib dijaga kesejahteraan hidupnya. Petani hanya dijadikan sumber rupiah untuk negara, tentu saja juga untuk para pejabat yang mendapat gaji darinya.
<\/p>\n\n\n\n

Benar yang tertulis dalam kitab Itkhafu\u2019Sadah Al-Muttaqien I\/52, teraturnya agama atau negara adalah bergantung pada teraturnya dunia. Teraturnya dunia bergantung pada uang. Uang itu terkumpul dari rakyat. Sedangkan teraturnya hidup rakyat adalah bergantung pada sikap pembesar-pembesarnya yang adil.
<\/p>\n\n\n\n

Jika pembesar-pembesar itu masih rakus, selama itu juga kesejahteraan hanya punya mereka yang berelasi kuat dengan para elit pemangku kebijakan. Petani, entah bagaimana nasibnya.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Tani Nasional. Jaya di darat, laut dan akhirat!
<\/p>\n","post_title":"Petani Adalah Pondasi Negeri","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-adalah-pondasi-negeri","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-24 11:26:45","post_modified_gmt":"2019-09-24 04:26:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6095","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6065,"post_author":"855","post_date":"2019-09-15 12:44:34","post_date_gmt":"2019-09-15 05:44:34","post_content":"\n

Presiden Joko Widodo(Jokowi) sepakat untuk menaikkan tarif cukai sebesar 23 persen tahun depan. Kenaikan tarif cukai membuat rata-rata harga jual eceran rokok diperkirakan meningkat 35 persen dari harga jual saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Menteri Keuangan Sri Mulyani,  seperti yang dikutip Kumparan.com<\/em><\/a>, menjelaskan salah satu pertimbangan kenaikan cukai karena ingin mengurangi jumlah perokok. Harga yang naik tentu akan menyulitkan para perokok hingga mencegah peningkatan konsumsi rokok di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\"Yakni bagaimana kebijakan cukai rokok bisa mengurangi konsumsi rokok. Bagaimana dia bisa mengatur industrinya dan yang ketiga tetap menjaga penerimaan negara,\" kata Sri Mulyani di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat (13\/9).<\/p>\n\n\n\n

Sri Mulyani menganggap, dengan pemerintah menaikkan cukai, maka secara otomatis angka perokok akan turun. Asumsinya sangat sederhana,  dengan cukai naik otomatis harga jual rokok juga naik. Maka masyarakat tidak akan bisa membeli rokok. Pemerintah sukses, Indonesia lebih sehat karena semakin sedikit  orang yang merokok. <\/p>\n\n\n\n

Anggapan ini  jelas keliru. Mau rokok naik setinggi apapun, loyalitas perokok terhadap lintingan emas hijau ini tidak akan pudar. Jika tak mampu membeli rokok pabrikan, maka perokok masih bisa melinting sendiri untuk menikmatinya.<\/p>\n\n\n\n

Hampir mirip  dengan Sri, Menteri Koordinator Perokonomian Darmin Nasution mengungkapkan, setidaknya ada 3 hal kenapa cukai rokok tahun ini naik sebesar 23 persen.  Pertama, tahun 2019 pemerintah tidak menaikkan cukai rokok, maka menjadi wajar jika tahun 2020 naiknya lebih besar. <\/p>\n\n\n\n

\u201cTahun lalu tidak naik. Sehingga ya naiknya wajar kalau lebih banyak, lebih besar,\" ujarnya. [Kompas.com]<\/p>\n\n\n\n

Tahun 2019 memang pemerintah tidak menaikkan cukai. Tetapi apakah ini kemudian dapat dijadikan alasan kenaikan cukai 2020. Tentu saja masih bisa dipertanyakan. <\/p>\n\n\n\n

Publik bisa saja menilai, tidak naiknya cukai tahun 2019 lantaran pada tahun itu adalah tahun politik. Semua calon tentu saja  ingin mendapat dukungan dari petani tembakau, buruh pabrik rokok dan jutaan orang lainnya yang menggantungkan hidup dari industri hasil tembakau. Toh pada keputusan tersebut, Sri Mulyani tidak memberikan alasan yang jelas, kenapa cukai tidak naik. (Baca: Pemerintah Tidak Naikkan Cukai Rokok Tahun 2019<\/a>)<\/p>\n\n\n\n

Kedua, menurunkan konsumsi rokok masyarakat Indonesia. Logika ini sama persis yang digunakan Sri Mulyani.<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, urusan  penerimaan negara. Pemerintah meyakini kenaikan cukai akan mengdongkrak penerimaan negara. Hal ini dinilai penting karena pemerintah membutuhkan banyak dana untuk pembiayaan anggaran di APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Alasan ketiga inilah yang mungkin agak masuk akal. Pemerintah perlu  menaikkan cukai setinggi-tingginya karena pemerintah butuh banyak uang untuk menjalankan program-program. Untuk membangung dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Namun menjadi rancu, di satu sisi pemerintah ingin menurunkan jumlah perokok. Artinya pemerintah ingin masyarakat  tidak membeli rokok. Di sisi yang lain pemerintah ingin mendapatkan setoran besar dari industri ini. Tak tanggung-tanggung, Sri Mulyani menargetkan dapat mengeruk Rp 173 triliun di 2020.<\/p>\n\n\n\n

Rasa-rasanya pemerintah ini hanya punya daya pikir pendek. Mereka tidak mampu berpikir panjang untuk menjaga hasil pendapatan negara ini. Bukan malah membunuh pelan-pelan dan hanya  memikirkan bagaimana pada periode kepempinannya dapat menjalankan program-program dan mengumpulkan uang untuk negara, meski rakyatnya dicekik setiap saat.<\/p>\n\n\n\n

Untuk Bu Sri dan Pak Darmin, kalo memang  niatnya mengurangi perokok, dorong saja Presiden untuk melarang masyarakat menanam tembakau serta cengkeh dan menutup semua pabrik rokok di negeri ini. Gitu baru keren!<\/em><\/p>\n\n\n\n

<\/p>\n","post_title":"Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tidak-perlu-menaikkan-cukai-begini-cara-menguranangi-angka-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-15 12:51:44","post_modified_gmt":"2019-09-15 05:51:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6065","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sejauh ini, tidak ada satu pun dokter atau lembaga kesehatan yang berani menyatakan bahwa delapan juta (versi The Union) atau 6 juta (versi WHO) tersebut murni disebabkan oleh tembakau atau produk tembakau. Yang ada, dokter atau lembaga kesehatan hanya bermain-main di awang-awang. Bahkan dalam praktiknya mereka selalu mengklaim apapun penyakitnya disebabkan oleh rokok. Kalo kebetulan yang terserang penyakit tidak merokok, maka akan dibilang perokok pasif.
<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan tidak pernah menyinggung faktor lain, misalnya asap kendaraan atau sebab lainnya secara adil. Peneliti Universitas Gadjah Mada, Dr Ttot Sudargo, pernah mengungkap bahwa dalam daun tembakau terdapat senyawa bio aktif seperti flavonid dan fenol. Dua senyawa itu menjadi antioksidan yang dapat mencegah penyakit kardiovaskuler.
<\/p>\n\n\n\n

Lebih jauh, di dalam daun tembakau juga terdapat vitamin C atau asam askorbat yang menjadi antioksidan dan dapat bereaksi dengan antiradikal bebeas dengan cara memberikan proteksi sel. Di dalam tembakau juga terdapat zinc (Zn) yang berguna dalam pembentukan struktur enzim dan protein yang bermanfaat bagi tubuh. Juga mengandung minyak atsiri yang dapat digunakan sebagai antibakteri dan antiseptik. (okezone.com)
<\/p>\n\n\n\n

Gan Quan mungkin juga mainnya kurang jauh, di Indonesia tembakau malah bisa menghidupi jutaan orang.  Keberadaan IHT memberi sumbangsih besar pada penyerapan tenaga kerja mulai dari hulu sampai hilir. Di sektor perkebunan menyerap 2 juta petani tembakau dan 1,5 juta petani cengkeh (on farm). Belum termasuk serapan tenaga kerja tidak langsung, karena di sektor hulu terdapat ragam pekerjaan lain17. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Pembelaan Gus Dur pada Sektor Industri Hasil Tembakau (IHT)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sektor manufaktur dan perdagangan menyerap 600.000 karyawan pabrik dan 2 juta pedagang ritel (off farm). Totalnya 6,1 juta tenaga kerja yang bergantung langsung terhadap industri ini. Dari total serapan tenaga kerja yang terlibat secara on farm dan off farm, baik langsung maupun tidak langsung, di dalam IHT dapat memberi penghidupan kepada 30,5 juta orang.
<\/p>\n\n\n\n

Perlu Gan Quan tau, jika tak ada tembakau di negeri ini, bukan malah menjadikan masyarakat sehat sebaliknya malah menjadi petaka untuk bangsa Indonesia.
<\/h2>\n\n\n\n

Kita semua sama-sama tau, bagaimana antirokok bermain. Mereka seringkali membungkus sesuatu dengan kemulian, padahal sejatinya ada agenda-agenda terselubung yang sedang mereka usahakan capai. Mana pernah mereka memikirkan nasib petani, buruh rokok dan semua orang yang menggantungkan hidupnya pada industri hasil tembakau. <\/p>\n","post_title":"Peserta APCAT Harusnya Sadar, Tembakau Menghidupi Masyarakat Bukan Membunuh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peserta-apcat-harusnya-sadar-tembakau-menghidupi-masyarakat-bukan-membunuh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-27 12:27:38","post_modified_gmt":"2019-09-27 05:27:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6104","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6095,"post_author":"855","post_date":"2019-09-24 11:15:17","post_date_gmt":"2019-09-24 04:15:17","post_content":"\n

14 Januari 1944, Majalah Soeara Moeslimin, menerbitkan tulisan KH. Hasyim Asy'ari\u00a0 berjudul \u201cKeoetamaan Bertjojok Tanam dan Bertani\u201d. Tulisan itu lebih besar membahas posisi petani dalam berbangsa dan bernegara.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Hasyim, sebagaimana yang beliau nukil dari Muntahaa amaali\u2019l Khutabaa\u2019, petani adalah seorang yang setiap waktu bersedekah. Keuletan menghadapi segala persoalan dunia, jerih payahnya, tidak hanya untuk dirinya sendiri, melainkan juga untuk bangsa dan negara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTak ada seorang Muslim yang menanam tanaman atau mencocokkan tumbuhan-tumbuhan, kemudian tanaman itu dimakan burung atau manusia atau binatang, melainkan dihitung menjadi shadaqah (sedekah) baginya.\u201d<\/strong> (Bukhari II\/30)
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Tani adalah gudang kekayaan. Darinya negeri mengeluarkan belanja bagi segala keperluan. Pak Tani itulah penolong negeri apabila keperluan menghendakinya dan di waktu orang-orang mencari pertolongan. Pak Tani itulah pembantu negeri yang boleh dipercaya untuk mengerjakan sekalian keperluan negeri, yaitu pada waktunya orang berbalik punggung (tidak sudi menolong) pada negeri; dan Pak Tani itu menjadi sendi tempat di mana negeri di sandarkan,\u201d tulis Mbah Hasyim.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Petani bagi Mbah Hasyim adalah seorang yang setiap waktu mendapat pahala. Sebagaimana yang beliau nukil dari riwayat Muslim, \u201ctidak ada seorang Muslim menanam tanaman dan tidak pula mencocokkan tumbuh-tumbuhan, kemudian dimakan orang daripadanya, atau binatang atau lainnya, melainkan itu menjadi shadaqah baginya.\u201d (Muslim I\/678).
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi nahas, hingga kini petani masih dipandang sebelah mata. Nasib dan kesejahteraannya dianggap fana. Padahal petani juga bekerja untuk  bangsa dan negara.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Hak-hak petani dikebiri. Banyak berita mengabarkan petani diintimidasi. Tanah-tanah mereka setiap waktu bisa saja dicuri oleh para makelar yang tak punya nurani, digantikan pabrik-pabrik menjulang tinggi. Kesejahteraan hidup mereka tidak pernah dipedulikan, yang hanya adalah kalimat-kalimat manis datang dari para pemangku kebijakan negeri, itupun hanya ketika datang Pemilu kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/a><\/p>\n\n\n\n

Belum lagi payahnya seorang petani menghadapi tak menentunya iklim, hama, dan seabrek permasalahan teknis pertanian, pemerintah sering menambah beban mereka dengan kebijakan-kebijakan yang hanya menguntungkan beberapa pihak saja. Petani seperti bukan masyarakat yang juga wajib dijaga kesejahteraan hidupnya. Petani hanya dijadikan sumber rupiah untuk negara, tentu saja juga untuk para pejabat yang mendapat gaji darinya.
<\/p>\n\n\n\n

Benar yang tertulis dalam kitab Itkhafu\u2019Sadah Al-Muttaqien I\/52, teraturnya agama atau negara adalah bergantung pada teraturnya dunia. Teraturnya dunia bergantung pada uang. Uang itu terkumpul dari rakyat. Sedangkan teraturnya hidup rakyat adalah bergantung pada sikap pembesar-pembesarnya yang adil.
<\/p>\n\n\n\n

Jika pembesar-pembesar itu masih rakus, selama itu juga kesejahteraan hanya punya mereka yang berelasi kuat dengan para elit pemangku kebijakan. Petani, entah bagaimana nasibnya.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Tani Nasional. Jaya di darat, laut dan akhirat!
<\/p>\n","post_title":"Petani Adalah Pondasi Negeri","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-adalah-pondasi-negeri","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-24 11:26:45","post_modified_gmt":"2019-09-24 04:26:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6095","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6065,"post_author":"855","post_date":"2019-09-15 12:44:34","post_date_gmt":"2019-09-15 05:44:34","post_content":"\n

Presiden Joko Widodo(Jokowi) sepakat untuk menaikkan tarif cukai sebesar 23 persen tahun depan. Kenaikan tarif cukai membuat rata-rata harga jual eceran rokok diperkirakan meningkat 35 persen dari harga jual saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Menteri Keuangan Sri Mulyani,  seperti yang dikutip Kumparan.com<\/em><\/a>, menjelaskan salah satu pertimbangan kenaikan cukai karena ingin mengurangi jumlah perokok. Harga yang naik tentu akan menyulitkan para perokok hingga mencegah peningkatan konsumsi rokok di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\"Yakni bagaimana kebijakan cukai rokok bisa mengurangi konsumsi rokok. Bagaimana dia bisa mengatur industrinya dan yang ketiga tetap menjaga penerimaan negara,\" kata Sri Mulyani di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat (13\/9).<\/p>\n\n\n\n

Sri Mulyani menganggap, dengan pemerintah menaikkan cukai, maka secara otomatis angka perokok akan turun. Asumsinya sangat sederhana,  dengan cukai naik otomatis harga jual rokok juga naik. Maka masyarakat tidak akan bisa membeli rokok. Pemerintah sukses, Indonesia lebih sehat karena semakin sedikit  orang yang merokok. <\/p>\n\n\n\n

Anggapan ini  jelas keliru. Mau rokok naik setinggi apapun, loyalitas perokok terhadap lintingan emas hijau ini tidak akan pudar. Jika tak mampu membeli rokok pabrikan, maka perokok masih bisa melinting sendiri untuk menikmatinya.<\/p>\n\n\n\n

Hampir mirip  dengan Sri, Menteri Koordinator Perokonomian Darmin Nasution mengungkapkan, setidaknya ada 3 hal kenapa cukai rokok tahun ini naik sebesar 23 persen.  Pertama, tahun 2019 pemerintah tidak menaikkan cukai rokok, maka menjadi wajar jika tahun 2020 naiknya lebih besar. <\/p>\n\n\n\n

\u201cTahun lalu tidak naik. Sehingga ya naiknya wajar kalau lebih banyak, lebih besar,\" ujarnya. [Kompas.com]<\/p>\n\n\n\n

Tahun 2019 memang pemerintah tidak menaikkan cukai. Tetapi apakah ini kemudian dapat dijadikan alasan kenaikan cukai 2020. Tentu saja masih bisa dipertanyakan. <\/p>\n\n\n\n

Publik bisa saja menilai, tidak naiknya cukai tahun 2019 lantaran pada tahun itu adalah tahun politik. Semua calon tentu saja  ingin mendapat dukungan dari petani tembakau, buruh pabrik rokok dan jutaan orang lainnya yang menggantungkan hidup dari industri hasil tembakau. Toh pada keputusan tersebut, Sri Mulyani tidak memberikan alasan yang jelas, kenapa cukai tidak naik. (Baca: Pemerintah Tidak Naikkan Cukai Rokok Tahun 2019<\/a>)<\/p>\n\n\n\n

Kedua, menurunkan konsumsi rokok masyarakat Indonesia. Logika ini sama persis yang digunakan Sri Mulyani.<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, urusan  penerimaan negara. Pemerintah meyakini kenaikan cukai akan mengdongkrak penerimaan negara. Hal ini dinilai penting karena pemerintah membutuhkan banyak dana untuk pembiayaan anggaran di APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Alasan ketiga inilah yang mungkin agak masuk akal. Pemerintah perlu  menaikkan cukai setinggi-tingginya karena pemerintah butuh banyak uang untuk menjalankan program-program. Untuk membangung dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Namun menjadi rancu, di satu sisi pemerintah ingin menurunkan jumlah perokok. Artinya pemerintah ingin masyarakat  tidak membeli rokok. Di sisi yang lain pemerintah ingin mendapatkan setoran besar dari industri ini. Tak tanggung-tanggung, Sri Mulyani menargetkan dapat mengeruk Rp 173 triliun di 2020.<\/p>\n\n\n\n

Rasa-rasanya pemerintah ini hanya punya daya pikir pendek. Mereka tidak mampu berpikir panjang untuk menjaga hasil pendapatan negara ini. Bukan malah membunuh pelan-pelan dan hanya  memikirkan bagaimana pada periode kepempinannya dapat menjalankan program-program dan mengumpulkan uang untuk negara, meski rakyatnya dicekik setiap saat.<\/p>\n\n\n\n

Untuk Bu Sri dan Pak Darmin, kalo memang  niatnya mengurangi perokok, dorong saja Presiden untuk melarang masyarakat menanam tembakau serta cengkeh dan menutup semua pabrik rokok di negeri ini. Gitu baru keren!<\/em><\/p>\n\n\n\n

<\/p>\n","post_title":"Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tidak-perlu-menaikkan-cukai-begini-cara-menguranangi-angka-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-15 12:51:44","post_modified_gmt":"2019-09-15 05:51:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6065","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pendapat ini hampir-hampir mirip yang dirilis oleh WHO (World Healt Organization), yang mengklaim bahwa tembakau telah membunuh hampir enam juta orang setiap tahun. Bisa dibilang, tembakau menjadi pembunuh nomor satu di dunia. Tapi apakah tuduhan itu benar?
<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, tidak ada satu pun dokter atau lembaga kesehatan yang berani menyatakan bahwa delapan juta (versi The Union) atau 6 juta (versi WHO) tersebut murni disebabkan oleh tembakau atau produk tembakau. Yang ada, dokter atau lembaga kesehatan hanya bermain-main di awang-awang. Bahkan dalam praktiknya mereka selalu mengklaim apapun penyakitnya disebabkan oleh rokok. Kalo kebetulan yang terserang penyakit tidak merokok, maka akan dibilang perokok pasif.
<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan tidak pernah menyinggung faktor lain, misalnya asap kendaraan atau sebab lainnya secara adil. Peneliti Universitas Gadjah Mada, Dr Ttot Sudargo, pernah mengungkap bahwa dalam daun tembakau terdapat senyawa bio aktif seperti flavonid dan fenol. Dua senyawa itu menjadi antioksidan yang dapat mencegah penyakit kardiovaskuler.
<\/p>\n\n\n\n

Lebih jauh, di dalam daun tembakau juga terdapat vitamin C atau asam askorbat yang menjadi antioksidan dan dapat bereaksi dengan antiradikal bebeas dengan cara memberikan proteksi sel. Di dalam tembakau juga terdapat zinc (Zn) yang berguna dalam pembentukan struktur enzim dan protein yang bermanfaat bagi tubuh. Juga mengandung minyak atsiri yang dapat digunakan sebagai antibakteri dan antiseptik. (okezone.com)
<\/p>\n\n\n\n

Gan Quan mungkin juga mainnya kurang jauh, di Indonesia tembakau malah bisa menghidupi jutaan orang.  Keberadaan IHT memberi sumbangsih besar pada penyerapan tenaga kerja mulai dari hulu sampai hilir. Di sektor perkebunan menyerap 2 juta petani tembakau dan 1,5 juta petani cengkeh (on farm). Belum termasuk serapan tenaga kerja tidak langsung, karena di sektor hulu terdapat ragam pekerjaan lain17. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Pembelaan Gus Dur pada Sektor Industri Hasil Tembakau (IHT)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sektor manufaktur dan perdagangan menyerap 600.000 karyawan pabrik dan 2 juta pedagang ritel (off farm). Totalnya 6,1 juta tenaga kerja yang bergantung langsung terhadap industri ini. Dari total serapan tenaga kerja yang terlibat secara on farm dan off farm, baik langsung maupun tidak langsung, di dalam IHT dapat memberi penghidupan kepada 30,5 juta orang.
<\/p>\n\n\n\n

Perlu Gan Quan tau, jika tak ada tembakau di negeri ini, bukan malah menjadikan masyarakat sehat sebaliknya malah menjadi petaka untuk bangsa Indonesia.
<\/h2>\n\n\n\n

Kita semua sama-sama tau, bagaimana antirokok bermain. Mereka seringkali membungkus sesuatu dengan kemulian, padahal sejatinya ada agenda-agenda terselubung yang sedang mereka usahakan capai. Mana pernah mereka memikirkan nasib petani, buruh rokok dan semua orang yang menggantungkan hidupnya pada industri hasil tembakau. <\/p>\n","post_title":"Peserta APCAT Harusnya Sadar, Tembakau Menghidupi Masyarakat Bukan Membunuh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peserta-apcat-harusnya-sadar-tembakau-menghidupi-masyarakat-bukan-membunuh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-27 12:27:38","post_modified_gmt":"2019-09-27 05:27:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6104","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6095,"post_author":"855","post_date":"2019-09-24 11:15:17","post_date_gmt":"2019-09-24 04:15:17","post_content":"\n

14 Januari 1944, Majalah Soeara Moeslimin, menerbitkan tulisan KH. Hasyim Asy'ari\u00a0 berjudul \u201cKeoetamaan Bertjojok Tanam dan Bertani\u201d. Tulisan itu lebih besar membahas posisi petani dalam berbangsa dan bernegara.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Hasyim, sebagaimana yang beliau nukil dari Muntahaa amaali\u2019l Khutabaa\u2019, petani adalah seorang yang setiap waktu bersedekah. Keuletan menghadapi segala persoalan dunia, jerih payahnya, tidak hanya untuk dirinya sendiri, melainkan juga untuk bangsa dan negara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTak ada seorang Muslim yang menanam tanaman atau mencocokkan tumbuhan-tumbuhan, kemudian tanaman itu dimakan burung atau manusia atau binatang, melainkan dihitung menjadi shadaqah (sedekah) baginya.\u201d<\/strong> (Bukhari II\/30)
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Tani adalah gudang kekayaan. Darinya negeri mengeluarkan belanja bagi segala keperluan. Pak Tani itulah penolong negeri apabila keperluan menghendakinya dan di waktu orang-orang mencari pertolongan. Pak Tani itulah pembantu negeri yang boleh dipercaya untuk mengerjakan sekalian keperluan negeri, yaitu pada waktunya orang berbalik punggung (tidak sudi menolong) pada negeri; dan Pak Tani itu menjadi sendi tempat di mana negeri di sandarkan,\u201d tulis Mbah Hasyim.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Petani bagi Mbah Hasyim adalah seorang yang setiap waktu mendapat pahala. Sebagaimana yang beliau nukil dari riwayat Muslim, \u201ctidak ada seorang Muslim menanam tanaman dan tidak pula mencocokkan tumbuh-tumbuhan, kemudian dimakan orang daripadanya, atau binatang atau lainnya, melainkan itu menjadi shadaqah baginya.\u201d (Muslim I\/678).
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi nahas, hingga kini petani masih dipandang sebelah mata. Nasib dan kesejahteraannya dianggap fana. Padahal petani juga bekerja untuk  bangsa dan negara.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Hak-hak petani dikebiri. Banyak berita mengabarkan petani diintimidasi. Tanah-tanah mereka setiap waktu bisa saja dicuri oleh para makelar yang tak punya nurani, digantikan pabrik-pabrik menjulang tinggi. Kesejahteraan hidup mereka tidak pernah dipedulikan, yang hanya adalah kalimat-kalimat manis datang dari para pemangku kebijakan negeri, itupun hanya ketika datang Pemilu kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/a><\/p>\n\n\n\n

Belum lagi payahnya seorang petani menghadapi tak menentunya iklim, hama, dan seabrek permasalahan teknis pertanian, pemerintah sering menambah beban mereka dengan kebijakan-kebijakan yang hanya menguntungkan beberapa pihak saja. Petani seperti bukan masyarakat yang juga wajib dijaga kesejahteraan hidupnya. Petani hanya dijadikan sumber rupiah untuk negara, tentu saja juga untuk para pejabat yang mendapat gaji darinya.
<\/p>\n\n\n\n

Benar yang tertulis dalam kitab Itkhafu\u2019Sadah Al-Muttaqien I\/52, teraturnya agama atau negara adalah bergantung pada teraturnya dunia. Teraturnya dunia bergantung pada uang. Uang itu terkumpul dari rakyat. Sedangkan teraturnya hidup rakyat adalah bergantung pada sikap pembesar-pembesarnya yang adil.
<\/p>\n\n\n\n

Jika pembesar-pembesar itu masih rakus, selama itu juga kesejahteraan hanya punya mereka yang berelasi kuat dengan para elit pemangku kebijakan. Petani, entah bagaimana nasibnya.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Tani Nasional. Jaya di darat, laut dan akhirat!
<\/p>\n","post_title":"Petani Adalah Pondasi Negeri","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-adalah-pondasi-negeri","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-24 11:26:45","post_modified_gmt":"2019-09-24 04:26:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6095","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6065,"post_author":"855","post_date":"2019-09-15 12:44:34","post_date_gmt":"2019-09-15 05:44:34","post_content":"\n

Presiden Joko Widodo(Jokowi) sepakat untuk menaikkan tarif cukai sebesar 23 persen tahun depan. Kenaikan tarif cukai membuat rata-rata harga jual eceran rokok diperkirakan meningkat 35 persen dari harga jual saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Menteri Keuangan Sri Mulyani,  seperti yang dikutip Kumparan.com<\/em><\/a>, menjelaskan salah satu pertimbangan kenaikan cukai karena ingin mengurangi jumlah perokok. Harga yang naik tentu akan menyulitkan para perokok hingga mencegah peningkatan konsumsi rokok di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\"Yakni bagaimana kebijakan cukai rokok bisa mengurangi konsumsi rokok. Bagaimana dia bisa mengatur industrinya dan yang ketiga tetap menjaga penerimaan negara,\" kata Sri Mulyani di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat (13\/9).<\/p>\n\n\n\n

Sri Mulyani menganggap, dengan pemerintah menaikkan cukai, maka secara otomatis angka perokok akan turun. Asumsinya sangat sederhana,  dengan cukai naik otomatis harga jual rokok juga naik. Maka masyarakat tidak akan bisa membeli rokok. Pemerintah sukses, Indonesia lebih sehat karena semakin sedikit  orang yang merokok. <\/p>\n\n\n\n

Anggapan ini  jelas keliru. Mau rokok naik setinggi apapun, loyalitas perokok terhadap lintingan emas hijau ini tidak akan pudar. Jika tak mampu membeli rokok pabrikan, maka perokok masih bisa melinting sendiri untuk menikmatinya.<\/p>\n\n\n\n

Hampir mirip  dengan Sri, Menteri Koordinator Perokonomian Darmin Nasution mengungkapkan, setidaknya ada 3 hal kenapa cukai rokok tahun ini naik sebesar 23 persen.  Pertama, tahun 2019 pemerintah tidak menaikkan cukai rokok, maka menjadi wajar jika tahun 2020 naiknya lebih besar. <\/p>\n\n\n\n

\u201cTahun lalu tidak naik. Sehingga ya naiknya wajar kalau lebih banyak, lebih besar,\" ujarnya. [Kompas.com]<\/p>\n\n\n\n

Tahun 2019 memang pemerintah tidak menaikkan cukai. Tetapi apakah ini kemudian dapat dijadikan alasan kenaikan cukai 2020. Tentu saja masih bisa dipertanyakan. <\/p>\n\n\n\n

Publik bisa saja menilai, tidak naiknya cukai tahun 2019 lantaran pada tahun itu adalah tahun politik. Semua calon tentu saja  ingin mendapat dukungan dari petani tembakau, buruh pabrik rokok dan jutaan orang lainnya yang menggantungkan hidup dari industri hasil tembakau. Toh pada keputusan tersebut, Sri Mulyani tidak memberikan alasan yang jelas, kenapa cukai tidak naik. (Baca: Pemerintah Tidak Naikkan Cukai Rokok Tahun 2019<\/a>)<\/p>\n\n\n\n

Kedua, menurunkan konsumsi rokok masyarakat Indonesia. Logika ini sama persis yang digunakan Sri Mulyani.<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, urusan  penerimaan negara. Pemerintah meyakini kenaikan cukai akan mengdongkrak penerimaan negara. Hal ini dinilai penting karena pemerintah membutuhkan banyak dana untuk pembiayaan anggaran di APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Alasan ketiga inilah yang mungkin agak masuk akal. Pemerintah perlu  menaikkan cukai setinggi-tingginya karena pemerintah butuh banyak uang untuk menjalankan program-program. Untuk membangung dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Namun menjadi rancu, di satu sisi pemerintah ingin menurunkan jumlah perokok. Artinya pemerintah ingin masyarakat  tidak membeli rokok. Di sisi yang lain pemerintah ingin mendapatkan setoran besar dari industri ini. Tak tanggung-tanggung, Sri Mulyani menargetkan dapat mengeruk Rp 173 triliun di 2020.<\/p>\n\n\n\n

Rasa-rasanya pemerintah ini hanya punya daya pikir pendek. Mereka tidak mampu berpikir panjang untuk menjaga hasil pendapatan negara ini. Bukan malah membunuh pelan-pelan dan hanya  memikirkan bagaimana pada periode kepempinannya dapat menjalankan program-program dan mengumpulkan uang untuk negara, meski rakyatnya dicekik setiap saat.<\/p>\n\n\n\n

Untuk Bu Sri dan Pak Darmin, kalo memang  niatnya mengurangi perokok, dorong saja Presiden untuk melarang masyarakat menanam tembakau serta cengkeh dan menutup semua pabrik rokok di negeri ini. Gitu baru keren!<\/em><\/p>\n\n\n\n

<\/p>\n","post_title":"Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tidak-perlu-menaikkan-cukai-begini-cara-menguranangi-angka-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-15 12:51:44","post_modified_gmt":"2019-09-15 05:51:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6065","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ada yang menarik dari agenda tersebut. Direktur Pengendalian Tembakau pada International Union Againts Tuberculosis and Lung Disease (The Union), Gan Quan, menganggap tembakau sebagai faktor pembunuh terhadap lebih dari delapan juta orang setiap tahunnya secara global. Sebuah angka kematian yang sangat fantastis. (Media Indonesia)
<\/p>\n\n\n\n

Pendapat ini hampir-hampir mirip yang dirilis oleh WHO (World Healt Organization), yang mengklaim bahwa tembakau telah membunuh hampir enam juta orang setiap tahun. Bisa dibilang, tembakau menjadi pembunuh nomor satu di dunia. Tapi apakah tuduhan itu benar?
<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, tidak ada satu pun dokter atau lembaga kesehatan yang berani menyatakan bahwa delapan juta (versi The Union) atau 6 juta (versi WHO) tersebut murni disebabkan oleh tembakau atau produk tembakau. Yang ada, dokter atau lembaga kesehatan hanya bermain-main di awang-awang. Bahkan dalam praktiknya mereka selalu mengklaim apapun penyakitnya disebabkan oleh rokok. Kalo kebetulan yang terserang penyakit tidak merokok, maka akan dibilang perokok pasif.
<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan tidak pernah menyinggung faktor lain, misalnya asap kendaraan atau sebab lainnya secara adil. Peneliti Universitas Gadjah Mada, Dr Ttot Sudargo, pernah mengungkap bahwa dalam daun tembakau terdapat senyawa bio aktif seperti flavonid dan fenol. Dua senyawa itu menjadi antioksidan yang dapat mencegah penyakit kardiovaskuler.
<\/p>\n\n\n\n

Lebih jauh, di dalam daun tembakau juga terdapat vitamin C atau asam askorbat yang menjadi antioksidan dan dapat bereaksi dengan antiradikal bebeas dengan cara memberikan proteksi sel. Di dalam tembakau juga terdapat zinc (Zn) yang berguna dalam pembentukan struktur enzim dan protein yang bermanfaat bagi tubuh. Juga mengandung minyak atsiri yang dapat digunakan sebagai antibakteri dan antiseptik. (okezone.com)
<\/p>\n\n\n\n

Gan Quan mungkin juga mainnya kurang jauh, di Indonesia tembakau malah bisa menghidupi jutaan orang.  Keberadaan IHT memberi sumbangsih besar pada penyerapan tenaga kerja mulai dari hulu sampai hilir. Di sektor perkebunan menyerap 2 juta petani tembakau dan 1,5 juta petani cengkeh (on farm). Belum termasuk serapan tenaga kerja tidak langsung, karena di sektor hulu terdapat ragam pekerjaan lain17. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Pembelaan Gus Dur pada Sektor Industri Hasil Tembakau (IHT)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sektor manufaktur dan perdagangan menyerap 600.000 karyawan pabrik dan 2 juta pedagang ritel (off farm). Totalnya 6,1 juta tenaga kerja yang bergantung langsung terhadap industri ini. Dari total serapan tenaga kerja yang terlibat secara on farm dan off farm, baik langsung maupun tidak langsung, di dalam IHT dapat memberi penghidupan kepada 30,5 juta orang.
<\/p>\n\n\n\n

Perlu Gan Quan tau, jika tak ada tembakau di negeri ini, bukan malah menjadikan masyarakat sehat sebaliknya malah menjadi petaka untuk bangsa Indonesia.
<\/h2>\n\n\n\n

Kita semua sama-sama tau, bagaimana antirokok bermain. Mereka seringkali membungkus sesuatu dengan kemulian, padahal sejatinya ada agenda-agenda terselubung yang sedang mereka usahakan capai. Mana pernah mereka memikirkan nasib petani, buruh rokok dan semua orang yang menggantungkan hidupnya pada industri hasil tembakau. <\/p>\n","post_title":"Peserta APCAT Harusnya Sadar, Tembakau Menghidupi Masyarakat Bukan Membunuh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peserta-apcat-harusnya-sadar-tembakau-menghidupi-masyarakat-bukan-membunuh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-27 12:27:38","post_modified_gmt":"2019-09-27 05:27:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6104","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6095,"post_author":"855","post_date":"2019-09-24 11:15:17","post_date_gmt":"2019-09-24 04:15:17","post_content":"\n

14 Januari 1944, Majalah Soeara Moeslimin, menerbitkan tulisan KH. Hasyim Asy'ari\u00a0 berjudul \u201cKeoetamaan Bertjojok Tanam dan Bertani\u201d. Tulisan itu lebih besar membahas posisi petani dalam berbangsa dan bernegara.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Hasyim, sebagaimana yang beliau nukil dari Muntahaa amaali\u2019l Khutabaa\u2019, petani adalah seorang yang setiap waktu bersedekah. Keuletan menghadapi segala persoalan dunia, jerih payahnya, tidak hanya untuk dirinya sendiri, melainkan juga untuk bangsa dan negara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTak ada seorang Muslim yang menanam tanaman atau mencocokkan tumbuhan-tumbuhan, kemudian tanaman itu dimakan burung atau manusia atau binatang, melainkan dihitung menjadi shadaqah (sedekah) baginya.\u201d<\/strong> (Bukhari II\/30)
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Tani adalah gudang kekayaan. Darinya negeri mengeluarkan belanja bagi segala keperluan. Pak Tani itulah penolong negeri apabila keperluan menghendakinya dan di waktu orang-orang mencari pertolongan. Pak Tani itulah pembantu negeri yang boleh dipercaya untuk mengerjakan sekalian keperluan negeri, yaitu pada waktunya orang berbalik punggung (tidak sudi menolong) pada negeri; dan Pak Tani itu menjadi sendi tempat di mana negeri di sandarkan,\u201d tulis Mbah Hasyim.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Petani bagi Mbah Hasyim adalah seorang yang setiap waktu mendapat pahala. Sebagaimana yang beliau nukil dari riwayat Muslim, \u201ctidak ada seorang Muslim menanam tanaman dan tidak pula mencocokkan tumbuh-tumbuhan, kemudian dimakan orang daripadanya, atau binatang atau lainnya, melainkan itu menjadi shadaqah baginya.\u201d (Muslim I\/678).
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi nahas, hingga kini petani masih dipandang sebelah mata. Nasib dan kesejahteraannya dianggap fana. Padahal petani juga bekerja untuk  bangsa dan negara.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Hak-hak petani dikebiri. Banyak berita mengabarkan petani diintimidasi. Tanah-tanah mereka setiap waktu bisa saja dicuri oleh para makelar yang tak punya nurani, digantikan pabrik-pabrik menjulang tinggi. Kesejahteraan hidup mereka tidak pernah dipedulikan, yang hanya adalah kalimat-kalimat manis datang dari para pemangku kebijakan negeri, itupun hanya ketika datang Pemilu kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/a><\/p>\n\n\n\n

Belum lagi payahnya seorang petani menghadapi tak menentunya iklim, hama, dan seabrek permasalahan teknis pertanian, pemerintah sering menambah beban mereka dengan kebijakan-kebijakan yang hanya menguntungkan beberapa pihak saja. Petani seperti bukan masyarakat yang juga wajib dijaga kesejahteraan hidupnya. Petani hanya dijadikan sumber rupiah untuk negara, tentu saja juga untuk para pejabat yang mendapat gaji darinya.
<\/p>\n\n\n\n

Benar yang tertulis dalam kitab Itkhafu\u2019Sadah Al-Muttaqien I\/52, teraturnya agama atau negara adalah bergantung pada teraturnya dunia. Teraturnya dunia bergantung pada uang. Uang itu terkumpul dari rakyat. Sedangkan teraturnya hidup rakyat adalah bergantung pada sikap pembesar-pembesarnya yang adil.
<\/p>\n\n\n\n

Jika pembesar-pembesar itu masih rakus, selama itu juga kesejahteraan hanya punya mereka yang berelasi kuat dengan para elit pemangku kebijakan. Petani, entah bagaimana nasibnya.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Tani Nasional. Jaya di darat, laut dan akhirat!
<\/p>\n","post_title":"Petani Adalah Pondasi Negeri","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-adalah-pondasi-negeri","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-24 11:26:45","post_modified_gmt":"2019-09-24 04:26:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6095","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6065,"post_author":"855","post_date":"2019-09-15 12:44:34","post_date_gmt":"2019-09-15 05:44:34","post_content":"\n

Presiden Joko Widodo(Jokowi) sepakat untuk menaikkan tarif cukai sebesar 23 persen tahun depan. Kenaikan tarif cukai membuat rata-rata harga jual eceran rokok diperkirakan meningkat 35 persen dari harga jual saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Menteri Keuangan Sri Mulyani,  seperti yang dikutip Kumparan.com<\/em><\/a>, menjelaskan salah satu pertimbangan kenaikan cukai karena ingin mengurangi jumlah perokok. Harga yang naik tentu akan menyulitkan para perokok hingga mencegah peningkatan konsumsi rokok di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\"Yakni bagaimana kebijakan cukai rokok bisa mengurangi konsumsi rokok. Bagaimana dia bisa mengatur industrinya dan yang ketiga tetap menjaga penerimaan negara,\" kata Sri Mulyani di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat (13\/9).<\/p>\n\n\n\n

Sri Mulyani menganggap, dengan pemerintah menaikkan cukai, maka secara otomatis angka perokok akan turun. Asumsinya sangat sederhana,  dengan cukai naik otomatis harga jual rokok juga naik. Maka masyarakat tidak akan bisa membeli rokok. Pemerintah sukses, Indonesia lebih sehat karena semakin sedikit  orang yang merokok. <\/p>\n\n\n\n

Anggapan ini  jelas keliru. Mau rokok naik setinggi apapun, loyalitas perokok terhadap lintingan emas hijau ini tidak akan pudar. Jika tak mampu membeli rokok pabrikan, maka perokok masih bisa melinting sendiri untuk menikmatinya.<\/p>\n\n\n\n

Hampir mirip  dengan Sri, Menteri Koordinator Perokonomian Darmin Nasution mengungkapkan, setidaknya ada 3 hal kenapa cukai rokok tahun ini naik sebesar 23 persen.  Pertama, tahun 2019 pemerintah tidak menaikkan cukai rokok, maka menjadi wajar jika tahun 2020 naiknya lebih besar. <\/p>\n\n\n\n

\u201cTahun lalu tidak naik. Sehingga ya naiknya wajar kalau lebih banyak, lebih besar,\" ujarnya. [Kompas.com]<\/p>\n\n\n\n

Tahun 2019 memang pemerintah tidak menaikkan cukai. Tetapi apakah ini kemudian dapat dijadikan alasan kenaikan cukai 2020. Tentu saja masih bisa dipertanyakan. <\/p>\n\n\n\n

Publik bisa saja menilai, tidak naiknya cukai tahun 2019 lantaran pada tahun itu adalah tahun politik. Semua calon tentu saja  ingin mendapat dukungan dari petani tembakau, buruh pabrik rokok dan jutaan orang lainnya yang menggantungkan hidup dari industri hasil tembakau. Toh pada keputusan tersebut, Sri Mulyani tidak memberikan alasan yang jelas, kenapa cukai tidak naik. (Baca: Pemerintah Tidak Naikkan Cukai Rokok Tahun 2019<\/a>)<\/p>\n\n\n\n

Kedua, menurunkan konsumsi rokok masyarakat Indonesia. Logika ini sama persis yang digunakan Sri Mulyani.<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, urusan  penerimaan negara. Pemerintah meyakini kenaikan cukai akan mengdongkrak penerimaan negara. Hal ini dinilai penting karena pemerintah membutuhkan banyak dana untuk pembiayaan anggaran di APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Alasan ketiga inilah yang mungkin agak masuk akal. Pemerintah perlu  menaikkan cukai setinggi-tingginya karena pemerintah butuh banyak uang untuk menjalankan program-program. Untuk membangung dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Namun menjadi rancu, di satu sisi pemerintah ingin menurunkan jumlah perokok. Artinya pemerintah ingin masyarakat  tidak membeli rokok. Di sisi yang lain pemerintah ingin mendapatkan setoran besar dari industri ini. Tak tanggung-tanggung, Sri Mulyani menargetkan dapat mengeruk Rp 173 triliun di 2020.<\/p>\n\n\n\n

Rasa-rasanya pemerintah ini hanya punya daya pikir pendek. Mereka tidak mampu berpikir panjang untuk menjaga hasil pendapatan negara ini. Bukan malah membunuh pelan-pelan dan hanya  memikirkan bagaimana pada periode kepempinannya dapat menjalankan program-program dan mengumpulkan uang untuk negara, meski rakyatnya dicekik setiap saat.<\/p>\n\n\n\n

Untuk Bu Sri dan Pak Darmin, kalo memang  niatnya mengurangi perokok, dorong saja Presiden untuk melarang masyarakat menanam tembakau serta cengkeh dan menutup semua pabrik rokok di negeri ini. Gitu baru keren!<\/em><\/p>\n\n\n\n

<\/p>\n","post_title":"Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tidak-perlu-menaikkan-cukai-begini-cara-menguranangi-angka-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-15 12:51:44","post_modified_gmt":"2019-09-15 05:51:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6065","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selain itu, Kota Bogor merupakan kota pertama dalam melakukan pelarangan iklan rokok di ruang publik. Ya meskipun kebijakan ini dinilai mengurangi pendapatan asli daerah, tetap saja kebijakan ini bisa dijual ke dunia sebagai salah satu bentuk kepedulian terhadap berlangsungnya kesehatan bangsa dan negara. 
<\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari agenda tersebut. Direktur Pengendalian Tembakau pada International Union Againts Tuberculosis and Lung Disease (The Union), Gan Quan, menganggap tembakau sebagai faktor pembunuh terhadap lebih dari delapan juta orang setiap tahunnya secara global. Sebuah angka kematian yang sangat fantastis. (Media Indonesia)
<\/p>\n\n\n\n

Pendapat ini hampir-hampir mirip yang dirilis oleh WHO (World Healt Organization), yang mengklaim bahwa tembakau telah membunuh hampir enam juta orang setiap tahun. Bisa dibilang, tembakau menjadi pembunuh nomor satu di dunia. Tapi apakah tuduhan itu benar?
<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, tidak ada satu pun dokter atau lembaga kesehatan yang berani menyatakan bahwa delapan juta (versi The Union) atau 6 juta (versi WHO) tersebut murni disebabkan oleh tembakau atau produk tembakau. Yang ada, dokter atau lembaga kesehatan hanya bermain-main di awang-awang. Bahkan dalam praktiknya mereka selalu mengklaim apapun penyakitnya disebabkan oleh rokok. Kalo kebetulan yang terserang penyakit tidak merokok, maka akan dibilang perokok pasif.
<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan tidak pernah menyinggung faktor lain, misalnya asap kendaraan atau sebab lainnya secara adil. Peneliti Universitas Gadjah Mada, Dr Ttot Sudargo, pernah mengungkap bahwa dalam daun tembakau terdapat senyawa bio aktif seperti flavonid dan fenol. Dua senyawa itu menjadi antioksidan yang dapat mencegah penyakit kardiovaskuler.
<\/p>\n\n\n\n

Lebih jauh, di dalam daun tembakau juga terdapat vitamin C atau asam askorbat yang menjadi antioksidan dan dapat bereaksi dengan antiradikal bebeas dengan cara memberikan proteksi sel. Di dalam tembakau juga terdapat zinc (Zn) yang berguna dalam pembentukan struktur enzim dan protein yang bermanfaat bagi tubuh. Juga mengandung minyak atsiri yang dapat digunakan sebagai antibakteri dan antiseptik. (okezone.com)
<\/p>\n\n\n\n

Gan Quan mungkin juga mainnya kurang jauh, di Indonesia tembakau malah bisa menghidupi jutaan orang.  Keberadaan IHT memberi sumbangsih besar pada penyerapan tenaga kerja mulai dari hulu sampai hilir. Di sektor perkebunan menyerap 2 juta petani tembakau dan 1,5 juta petani cengkeh (on farm). Belum termasuk serapan tenaga kerja tidak langsung, karena di sektor hulu terdapat ragam pekerjaan lain17. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Pembelaan Gus Dur pada Sektor Industri Hasil Tembakau (IHT)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sektor manufaktur dan perdagangan menyerap 600.000 karyawan pabrik dan 2 juta pedagang ritel (off farm). Totalnya 6,1 juta tenaga kerja yang bergantung langsung terhadap industri ini. Dari total serapan tenaga kerja yang terlibat secara on farm dan off farm, baik langsung maupun tidak langsung, di dalam IHT dapat memberi penghidupan kepada 30,5 juta orang.
<\/p>\n\n\n\n

Perlu Gan Quan tau, jika tak ada tembakau di negeri ini, bukan malah menjadikan masyarakat sehat sebaliknya malah menjadi petaka untuk bangsa Indonesia.
<\/h2>\n\n\n\n

Kita semua sama-sama tau, bagaimana antirokok bermain. Mereka seringkali membungkus sesuatu dengan kemulian, padahal sejatinya ada agenda-agenda terselubung yang sedang mereka usahakan capai. Mana pernah mereka memikirkan nasib petani, buruh rokok dan semua orang yang menggantungkan hidupnya pada industri hasil tembakau. <\/p>\n","post_title":"Peserta APCAT Harusnya Sadar, Tembakau Menghidupi Masyarakat Bukan Membunuh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peserta-apcat-harusnya-sadar-tembakau-menghidupi-masyarakat-bukan-membunuh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-27 12:27:38","post_modified_gmt":"2019-09-27 05:27:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6104","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6095,"post_author":"855","post_date":"2019-09-24 11:15:17","post_date_gmt":"2019-09-24 04:15:17","post_content":"\n

14 Januari 1944, Majalah Soeara Moeslimin, menerbitkan tulisan KH. Hasyim Asy'ari\u00a0 berjudul \u201cKeoetamaan Bertjojok Tanam dan Bertani\u201d. Tulisan itu lebih besar membahas posisi petani dalam berbangsa dan bernegara.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Hasyim, sebagaimana yang beliau nukil dari Muntahaa amaali\u2019l Khutabaa\u2019, petani adalah seorang yang setiap waktu bersedekah. Keuletan menghadapi segala persoalan dunia, jerih payahnya, tidak hanya untuk dirinya sendiri, melainkan juga untuk bangsa dan negara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTak ada seorang Muslim yang menanam tanaman atau mencocokkan tumbuhan-tumbuhan, kemudian tanaman itu dimakan burung atau manusia atau binatang, melainkan dihitung menjadi shadaqah (sedekah) baginya.\u201d<\/strong> (Bukhari II\/30)
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Tani adalah gudang kekayaan. Darinya negeri mengeluarkan belanja bagi segala keperluan. Pak Tani itulah penolong negeri apabila keperluan menghendakinya dan di waktu orang-orang mencari pertolongan. Pak Tani itulah pembantu negeri yang boleh dipercaya untuk mengerjakan sekalian keperluan negeri, yaitu pada waktunya orang berbalik punggung (tidak sudi menolong) pada negeri; dan Pak Tani itu menjadi sendi tempat di mana negeri di sandarkan,\u201d tulis Mbah Hasyim.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Petani bagi Mbah Hasyim adalah seorang yang setiap waktu mendapat pahala. Sebagaimana yang beliau nukil dari riwayat Muslim, \u201ctidak ada seorang Muslim menanam tanaman dan tidak pula mencocokkan tumbuh-tumbuhan, kemudian dimakan orang daripadanya, atau binatang atau lainnya, melainkan itu menjadi shadaqah baginya.\u201d (Muslim I\/678).
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi nahas, hingga kini petani masih dipandang sebelah mata. Nasib dan kesejahteraannya dianggap fana. Padahal petani juga bekerja untuk  bangsa dan negara.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Hak-hak petani dikebiri. Banyak berita mengabarkan petani diintimidasi. Tanah-tanah mereka setiap waktu bisa saja dicuri oleh para makelar yang tak punya nurani, digantikan pabrik-pabrik menjulang tinggi. Kesejahteraan hidup mereka tidak pernah dipedulikan, yang hanya adalah kalimat-kalimat manis datang dari para pemangku kebijakan negeri, itupun hanya ketika datang Pemilu kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/a><\/p>\n\n\n\n

Belum lagi payahnya seorang petani menghadapi tak menentunya iklim, hama, dan seabrek permasalahan teknis pertanian, pemerintah sering menambah beban mereka dengan kebijakan-kebijakan yang hanya menguntungkan beberapa pihak saja. Petani seperti bukan masyarakat yang juga wajib dijaga kesejahteraan hidupnya. Petani hanya dijadikan sumber rupiah untuk negara, tentu saja juga untuk para pejabat yang mendapat gaji darinya.
<\/p>\n\n\n\n

Benar yang tertulis dalam kitab Itkhafu\u2019Sadah Al-Muttaqien I\/52, teraturnya agama atau negara adalah bergantung pada teraturnya dunia. Teraturnya dunia bergantung pada uang. Uang itu terkumpul dari rakyat. Sedangkan teraturnya hidup rakyat adalah bergantung pada sikap pembesar-pembesarnya yang adil.
<\/p>\n\n\n\n

Jika pembesar-pembesar itu masih rakus, selama itu juga kesejahteraan hanya punya mereka yang berelasi kuat dengan para elit pemangku kebijakan. Petani, entah bagaimana nasibnya.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Tani Nasional. Jaya di darat, laut dan akhirat!
<\/p>\n","post_title":"Petani Adalah Pondasi Negeri","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-adalah-pondasi-negeri","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-24 11:26:45","post_modified_gmt":"2019-09-24 04:26:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6095","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6065,"post_author":"855","post_date":"2019-09-15 12:44:34","post_date_gmt":"2019-09-15 05:44:34","post_content":"\n

Presiden Joko Widodo(Jokowi) sepakat untuk menaikkan tarif cukai sebesar 23 persen tahun depan. Kenaikan tarif cukai membuat rata-rata harga jual eceran rokok diperkirakan meningkat 35 persen dari harga jual saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Menteri Keuangan Sri Mulyani,  seperti yang dikutip Kumparan.com<\/em><\/a>, menjelaskan salah satu pertimbangan kenaikan cukai karena ingin mengurangi jumlah perokok. Harga yang naik tentu akan menyulitkan para perokok hingga mencegah peningkatan konsumsi rokok di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\"Yakni bagaimana kebijakan cukai rokok bisa mengurangi konsumsi rokok. Bagaimana dia bisa mengatur industrinya dan yang ketiga tetap menjaga penerimaan negara,\" kata Sri Mulyani di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat (13\/9).<\/p>\n\n\n\n

Sri Mulyani menganggap, dengan pemerintah menaikkan cukai, maka secara otomatis angka perokok akan turun. Asumsinya sangat sederhana,  dengan cukai naik otomatis harga jual rokok juga naik. Maka masyarakat tidak akan bisa membeli rokok. Pemerintah sukses, Indonesia lebih sehat karena semakin sedikit  orang yang merokok. <\/p>\n\n\n\n

Anggapan ini  jelas keliru. Mau rokok naik setinggi apapun, loyalitas perokok terhadap lintingan emas hijau ini tidak akan pudar. Jika tak mampu membeli rokok pabrikan, maka perokok masih bisa melinting sendiri untuk menikmatinya.<\/p>\n\n\n\n

Hampir mirip  dengan Sri, Menteri Koordinator Perokonomian Darmin Nasution mengungkapkan, setidaknya ada 3 hal kenapa cukai rokok tahun ini naik sebesar 23 persen.  Pertama, tahun 2019 pemerintah tidak menaikkan cukai rokok, maka menjadi wajar jika tahun 2020 naiknya lebih besar. <\/p>\n\n\n\n

\u201cTahun lalu tidak naik. Sehingga ya naiknya wajar kalau lebih banyak, lebih besar,\" ujarnya. [Kompas.com]<\/p>\n\n\n\n

Tahun 2019 memang pemerintah tidak menaikkan cukai. Tetapi apakah ini kemudian dapat dijadikan alasan kenaikan cukai 2020. Tentu saja masih bisa dipertanyakan. <\/p>\n\n\n\n

Publik bisa saja menilai, tidak naiknya cukai tahun 2019 lantaran pada tahun itu adalah tahun politik. Semua calon tentu saja  ingin mendapat dukungan dari petani tembakau, buruh pabrik rokok dan jutaan orang lainnya yang menggantungkan hidup dari industri hasil tembakau. Toh pada keputusan tersebut, Sri Mulyani tidak memberikan alasan yang jelas, kenapa cukai tidak naik. (Baca: Pemerintah Tidak Naikkan Cukai Rokok Tahun 2019<\/a>)<\/p>\n\n\n\n

Kedua, menurunkan konsumsi rokok masyarakat Indonesia. Logika ini sama persis yang digunakan Sri Mulyani.<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, urusan  penerimaan negara. Pemerintah meyakini kenaikan cukai akan mengdongkrak penerimaan negara. Hal ini dinilai penting karena pemerintah membutuhkan banyak dana untuk pembiayaan anggaran di APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Alasan ketiga inilah yang mungkin agak masuk akal. Pemerintah perlu  menaikkan cukai setinggi-tingginya karena pemerintah butuh banyak uang untuk menjalankan program-program. Untuk membangung dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Namun menjadi rancu, di satu sisi pemerintah ingin menurunkan jumlah perokok. Artinya pemerintah ingin masyarakat  tidak membeli rokok. Di sisi yang lain pemerintah ingin mendapatkan setoran besar dari industri ini. Tak tanggung-tanggung, Sri Mulyani menargetkan dapat mengeruk Rp 173 triliun di 2020.<\/p>\n\n\n\n

Rasa-rasanya pemerintah ini hanya punya daya pikir pendek. Mereka tidak mampu berpikir panjang untuk menjaga hasil pendapatan negara ini. Bukan malah membunuh pelan-pelan dan hanya  memikirkan bagaimana pada periode kepempinannya dapat menjalankan program-program dan mengumpulkan uang untuk negara, meski rakyatnya dicekik setiap saat.<\/p>\n\n\n\n

Untuk Bu Sri dan Pak Darmin, kalo memang  niatnya mengurangi perokok, dorong saja Presiden untuk melarang masyarakat menanam tembakau serta cengkeh dan menutup semua pabrik rokok di negeri ini. Gitu baru keren!<\/em><\/p>\n\n\n\n

<\/p>\n","post_title":"Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tidak-perlu-menaikkan-cukai-begini-cara-menguranangi-angka-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-15 12:51:44","post_modified_gmt":"2019-09-15 05:51:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6065","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kota Bogor dipilih tentu saja karena kota ini yang pertama kali memiliki peraturan daerah tentang kawasan tanpa rokok. Sebuah peraturan yang menjadi payung hukum untuk pengendalian tembakau di kota hujan tersebut. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain itu, Kota Bogor merupakan kota pertama dalam melakukan pelarangan iklan rokok di ruang publik. Ya meskipun kebijakan ini dinilai mengurangi pendapatan asli daerah, tetap saja kebijakan ini bisa dijual ke dunia sebagai salah satu bentuk kepedulian terhadap berlangsungnya kesehatan bangsa dan negara. 
<\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari agenda tersebut. Direktur Pengendalian Tembakau pada International Union Againts Tuberculosis and Lung Disease (The Union), Gan Quan, menganggap tembakau sebagai faktor pembunuh terhadap lebih dari delapan juta orang setiap tahunnya secara global. Sebuah angka kematian yang sangat fantastis. (Media Indonesia)
<\/p>\n\n\n\n

Pendapat ini hampir-hampir mirip yang dirilis oleh WHO (World Healt Organization), yang mengklaim bahwa tembakau telah membunuh hampir enam juta orang setiap tahun. Bisa dibilang, tembakau menjadi pembunuh nomor satu di dunia. Tapi apakah tuduhan itu benar?
<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, tidak ada satu pun dokter atau lembaga kesehatan yang berani menyatakan bahwa delapan juta (versi The Union) atau 6 juta (versi WHO) tersebut murni disebabkan oleh tembakau atau produk tembakau. Yang ada, dokter atau lembaga kesehatan hanya bermain-main di awang-awang. Bahkan dalam praktiknya mereka selalu mengklaim apapun penyakitnya disebabkan oleh rokok. Kalo kebetulan yang terserang penyakit tidak merokok, maka akan dibilang perokok pasif.
<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan tidak pernah menyinggung faktor lain, misalnya asap kendaraan atau sebab lainnya secara adil. Peneliti Universitas Gadjah Mada, Dr Ttot Sudargo, pernah mengungkap bahwa dalam daun tembakau terdapat senyawa bio aktif seperti flavonid dan fenol. Dua senyawa itu menjadi antioksidan yang dapat mencegah penyakit kardiovaskuler.
<\/p>\n\n\n\n

Lebih jauh, di dalam daun tembakau juga terdapat vitamin C atau asam askorbat yang menjadi antioksidan dan dapat bereaksi dengan antiradikal bebeas dengan cara memberikan proteksi sel. Di dalam tembakau juga terdapat zinc (Zn) yang berguna dalam pembentukan struktur enzim dan protein yang bermanfaat bagi tubuh. Juga mengandung minyak atsiri yang dapat digunakan sebagai antibakteri dan antiseptik. (okezone.com)
<\/p>\n\n\n\n

Gan Quan mungkin juga mainnya kurang jauh, di Indonesia tembakau malah bisa menghidupi jutaan orang.  Keberadaan IHT memberi sumbangsih besar pada penyerapan tenaga kerja mulai dari hulu sampai hilir. Di sektor perkebunan menyerap 2 juta petani tembakau dan 1,5 juta petani cengkeh (on farm). Belum termasuk serapan tenaga kerja tidak langsung, karena di sektor hulu terdapat ragam pekerjaan lain17. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Pembelaan Gus Dur pada Sektor Industri Hasil Tembakau (IHT)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sektor manufaktur dan perdagangan menyerap 600.000 karyawan pabrik dan 2 juta pedagang ritel (off farm). Totalnya 6,1 juta tenaga kerja yang bergantung langsung terhadap industri ini. Dari total serapan tenaga kerja yang terlibat secara on farm dan off farm, baik langsung maupun tidak langsung, di dalam IHT dapat memberi penghidupan kepada 30,5 juta orang.
<\/p>\n\n\n\n

Perlu Gan Quan tau, jika tak ada tembakau di negeri ini, bukan malah menjadikan masyarakat sehat sebaliknya malah menjadi petaka untuk bangsa Indonesia.
<\/h2>\n\n\n\n

Kita semua sama-sama tau, bagaimana antirokok bermain. Mereka seringkali membungkus sesuatu dengan kemulian, padahal sejatinya ada agenda-agenda terselubung yang sedang mereka usahakan capai. Mana pernah mereka memikirkan nasib petani, buruh rokok dan semua orang yang menggantungkan hidupnya pada industri hasil tembakau. <\/p>\n","post_title":"Peserta APCAT Harusnya Sadar, Tembakau Menghidupi Masyarakat Bukan Membunuh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peserta-apcat-harusnya-sadar-tembakau-menghidupi-masyarakat-bukan-membunuh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-27 12:27:38","post_modified_gmt":"2019-09-27 05:27:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6104","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6095,"post_author":"855","post_date":"2019-09-24 11:15:17","post_date_gmt":"2019-09-24 04:15:17","post_content":"\n

14 Januari 1944, Majalah Soeara Moeslimin, menerbitkan tulisan KH. Hasyim Asy'ari\u00a0 berjudul \u201cKeoetamaan Bertjojok Tanam dan Bertani\u201d. Tulisan itu lebih besar membahas posisi petani dalam berbangsa dan bernegara.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Hasyim, sebagaimana yang beliau nukil dari Muntahaa amaali\u2019l Khutabaa\u2019, petani adalah seorang yang setiap waktu bersedekah. Keuletan menghadapi segala persoalan dunia, jerih payahnya, tidak hanya untuk dirinya sendiri, melainkan juga untuk bangsa dan negara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTak ada seorang Muslim yang menanam tanaman atau mencocokkan tumbuhan-tumbuhan, kemudian tanaman itu dimakan burung atau manusia atau binatang, melainkan dihitung menjadi shadaqah (sedekah) baginya.\u201d<\/strong> (Bukhari II\/30)
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Tani adalah gudang kekayaan. Darinya negeri mengeluarkan belanja bagi segala keperluan. Pak Tani itulah penolong negeri apabila keperluan menghendakinya dan di waktu orang-orang mencari pertolongan. Pak Tani itulah pembantu negeri yang boleh dipercaya untuk mengerjakan sekalian keperluan negeri, yaitu pada waktunya orang berbalik punggung (tidak sudi menolong) pada negeri; dan Pak Tani itu menjadi sendi tempat di mana negeri di sandarkan,\u201d tulis Mbah Hasyim.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Petani bagi Mbah Hasyim adalah seorang yang setiap waktu mendapat pahala. Sebagaimana yang beliau nukil dari riwayat Muslim, \u201ctidak ada seorang Muslim menanam tanaman dan tidak pula mencocokkan tumbuh-tumbuhan, kemudian dimakan orang daripadanya, atau binatang atau lainnya, melainkan itu menjadi shadaqah baginya.\u201d (Muslim I\/678).
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi nahas, hingga kini petani masih dipandang sebelah mata. Nasib dan kesejahteraannya dianggap fana. Padahal petani juga bekerja untuk  bangsa dan negara.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Hak-hak petani dikebiri. Banyak berita mengabarkan petani diintimidasi. Tanah-tanah mereka setiap waktu bisa saja dicuri oleh para makelar yang tak punya nurani, digantikan pabrik-pabrik menjulang tinggi. Kesejahteraan hidup mereka tidak pernah dipedulikan, yang hanya adalah kalimat-kalimat manis datang dari para pemangku kebijakan negeri, itupun hanya ketika datang Pemilu kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/a><\/p>\n\n\n\n

Belum lagi payahnya seorang petani menghadapi tak menentunya iklim, hama, dan seabrek permasalahan teknis pertanian, pemerintah sering menambah beban mereka dengan kebijakan-kebijakan yang hanya menguntungkan beberapa pihak saja. Petani seperti bukan masyarakat yang juga wajib dijaga kesejahteraan hidupnya. Petani hanya dijadikan sumber rupiah untuk negara, tentu saja juga untuk para pejabat yang mendapat gaji darinya.
<\/p>\n\n\n\n

Benar yang tertulis dalam kitab Itkhafu\u2019Sadah Al-Muttaqien I\/52, teraturnya agama atau negara adalah bergantung pada teraturnya dunia. Teraturnya dunia bergantung pada uang. Uang itu terkumpul dari rakyat. Sedangkan teraturnya hidup rakyat adalah bergantung pada sikap pembesar-pembesarnya yang adil.
<\/p>\n\n\n\n

Jika pembesar-pembesar itu masih rakus, selama itu juga kesejahteraan hanya punya mereka yang berelasi kuat dengan para elit pemangku kebijakan. Petani, entah bagaimana nasibnya.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Tani Nasional. Jaya di darat, laut dan akhirat!
<\/p>\n","post_title":"Petani Adalah Pondasi Negeri","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-adalah-pondasi-negeri","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-24 11:26:45","post_modified_gmt":"2019-09-24 04:26:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6095","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6065,"post_author":"855","post_date":"2019-09-15 12:44:34","post_date_gmt":"2019-09-15 05:44:34","post_content":"\n

Presiden Joko Widodo(Jokowi) sepakat untuk menaikkan tarif cukai sebesar 23 persen tahun depan. Kenaikan tarif cukai membuat rata-rata harga jual eceran rokok diperkirakan meningkat 35 persen dari harga jual saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Menteri Keuangan Sri Mulyani,  seperti yang dikutip Kumparan.com<\/em><\/a>, menjelaskan salah satu pertimbangan kenaikan cukai karena ingin mengurangi jumlah perokok. Harga yang naik tentu akan menyulitkan para perokok hingga mencegah peningkatan konsumsi rokok di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\"Yakni bagaimana kebijakan cukai rokok bisa mengurangi konsumsi rokok. Bagaimana dia bisa mengatur industrinya dan yang ketiga tetap menjaga penerimaan negara,\" kata Sri Mulyani di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat (13\/9).<\/p>\n\n\n\n

Sri Mulyani menganggap, dengan pemerintah menaikkan cukai, maka secara otomatis angka perokok akan turun. Asumsinya sangat sederhana,  dengan cukai naik otomatis harga jual rokok juga naik. Maka masyarakat tidak akan bisa membeli rokok. Pemerintah sukses, Indonesia lebih sehat karena semakin sedikit  orang yang merokok. <\/p>\n\n\n\n

Anggapan ini  jelas keliru. Mau rokok naik setinggi apapun, loyalitas perokok terhadap lintingan emas hijau ini tidak akan pudar. Jika tak mampu membeli rokok pabrikan, maka perokok masih bisa melinting sendiri untuk menikmatinya.<\/p>\n\n\n\n

Hampir mirip  dengan Sri, Menteri Koordinator Perokonomian Darmin Nasution mengungkapkan, setidaknya ada 3 hal kenapa cukai rokok tahun ini naik sebesar 23 persen.  Pertama, tahun 2019 pemerintah tidak menaikkan cukai rokok, maka menjadi wajar jika tahun 2020 naiknya lebih besar. <\/p>\n\n\n\n

\u201cTahun lalu tidak naik. Sehingga ya naiknya wajar kalau lebih banyak, lebih besar,\" ujarnya. [Kompas.com]<\/p>\n\n\n\n

Tahun 2019 memang pemerintah tidak menaikkan cukai. Tetapi apakah ini kemudian dapat dijadikan alasan kenaikan cukai 2020. Tentu saja masih bisa dipertanyakan. <\/p>\n\n\n\n

Publik bisa saja menilai, tidak naiknya cukai tahun 2019 lantaran pada tahun itu adalah tahun politik. Semua calon tentu saja  ingin mendapat dukungan dari petani tembakau, buruh pabrik rokok dan jutaan orang lainnya yang menggantungkan hidup dari industri hasil tembakau. Toh pada keputusan tersebut, Sri Mulyani tidak memberikan alasan yang jelas, kenapa cukai tidak naik. (Baca: Pemerintah Tidak Naikkan Cukai Rokok Tahun 2019<\/a>)<\/p>\n\n\n\n

Kedua, menurunkan konsumsi rokok masyarakat Indonesia. Logika ini sama persis yang digunakan Sri Mulyani.<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, urusan  penerimaan negara. Pemerintah meyakini kenaikan cukai akan mengdongkrak penerimaan negara. Hal ini dinilai penting karena pemerintah membutuhkan banyak dana untuk pembiayaan anggaran di APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Alasan ketiga inilah yang mungkin agak masuk akal. Pemerintah perlu  menaikkan cukai setinggi-tingginya karena pemerintah butuh banyak uang untuk menjalankan program-program. Untuk membangung dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Namun menjadi rancu, di satu sisi pemerintah ingin menurunkan jumlah perokok. Artinya pemerintah ingin masyarakat  tidak membeli rokok. Di sisi yang lain pemerintah ingin mendapatkan setoran besar dari industri ini. Tak tanggung-tanggung, Sri Mulyani menargetkan dapat mengeruk Rp 173 triliun di 2020.<\/p>\n\n\n\n

Rasa-rasanya pemerintah ini hanya punya daya pikir pendek. Mereka tidak mampu berpikir panjang untuk menjaga hasil pendapatan negara ini. Bukan malah membunuh pelan-pelan dan hanya  memikirkan bagaimana pada periode kepempinannya dapat menjalankan program-program dan mengumpulkan uang untuk negara, meski rakyatnya dicekik setiap saat.<\/p>\n\n\n\n

Untuk Bu Sri dan Pak Darmin, kalo memang  niatnya mengurangi perokok, dorong saja Presiden untuk melarang masyarakat menanam tembakau serta cengkeh dan menutup semua pabrik rokok di negeri ini. Gitu baru keren!<\/em><\/p>\n\n\n\n

<\/p>\n","post_title":"Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tidak-perlu-menaikkan-cukai-begini-cara-menguranangi-angka-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-15 12:51:44","post_modified_gmt":"2019-09-15 05:51:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6065","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Perda KTR Kebanggaan Bima Arya Hanyalah Tameng Bagi Segudang Permasalahan Kota Bogor<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kota Bogor dipilih tentu saja karena kota ini yang pertama kali memiliki peraturan daerah tentang kawasan tanpa rokok. Sebuah peraturan yang menjadi payung hukum untuk pengendalian tembakau di kota hujan tersebut. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain itu, Kota Bogor merupakan kota pertama dalam melakukan pelarangan iklan rokok di ruang publik. Ya meskipun kebijakan ini dinilai mengurangi pendapatan asli daerah, tetap saja kebijakan ini bisa dijual ke dunia sebagai salah satu bentuk kepedulian terhadap berlangsungnya kesehatan bangsa dan negara. 
<\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari agenda tersebut. Direktur Pengendalian Tembakau pada International Union Againts Tuberculosis and Lung Disease (The Union), Gan Quan, menganggap tembakau sebagai faktor pembunuh terhadap lebih dari delapan juta orang setiap tahunnya secara global. Sebuah angka kematian yang sangat fantastis. (Media Indonesia)
<\/p>\n\n\n\n

Pendapat ini hampir-hampir mirip yang dirilis oleh WHO (World Healt Organization), yang mengklaim bahwa tembakau telah membunuh hampir enam juta orang setiap tahun. Bisa dibilang, tembakau menjadi pembunuh nomor satu di dunia. Tapi apakah tuduhan itu benar?
<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, tidak ada satu pun dokter atau lembaga kesehatan yang berani menyatakan bahwa delapan juta (versi The Union) atau 6 juta (versi WHO) tersebut murni disebabkan oleh tembakau atau produk tembakau. Yang ada, dokter atau lembaga kesehatan hanya bermain-main di awang-awang. Bahkan dalam praktiknya mereka selalu mengklaim apapun penyakitnya disebabkan oleh rokok. Kalo kebetulan yang terserang penyakit tidak merokok, maka akan dibilang perokok pasif.
<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan tidak pernah menyinggung faktor lain, misalnya asap kendaraan atau sebab lainnya secara adil. Peneliti Universitas Gadjah Mada, Dr Ttot Sudargo, pernah mengungkap bahwa dalam daun tembakau terdapat senyawa bio aktif seperti flavonid dan fenol. Dua senyawa itu menjadi antioksidan yang dapat mencegah penyakit kardiovaskuler.
<\/p>\n\n\n\n

Lebih jauh, di dalam daun tembakau juga terdapat vitamin C atau asam askorbat yang menjadi antioksidan dan dapat bereaksi dengan antiradikal bebeas dengan cara memberikan proteksi sel. Di dalam tembakau juga terdapat zinc (Zn) yang berguna dalam pembentukan struktur enzim dan protein yang bermanfaat bagi tubuh. Juga mengandung minyak atsiri yang dapat digunakan sebagai antibakteri dan antiseptik. (okezone.com)
<\/p>\n\n\n\n

Gan Quan mungkin juga mainnya kurang jauh, di Indonesia tembakau malah bisa menghidupi jutaan orang.  Keberadaan IHT memberi sumbangsih besar pada penyerapan tenaga kerja mulai dari hulu sampai hilir. Di sektor perkebunan menyerap 2 juta petani tembakau dan 1,5 juta petani cengkeh (on farm). Belum termasuk serapan tenaga kerja tidak langsung, karena di sektor hulu terdapat ragam pekerjaan lain17. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Pembelaan Gus Dur pada Sektor Industri Hasil Tembakau (IHT)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sektor manufaktur dan perdagangan menyerap 600.000 karyawan pabrik dan 2 juta pedagang ritel (off farm). Totalnya 6,1 juta tenaga kerja yang bergantung langsung terhadap industri ini. Dari total serapan tenaga kerja yang terlibat secara on farm dan off farm, baik langsung maupun tidak langsung, di dalam IHT dapat memberi penghidupan kepada 30,5 juta orang.
<\/p>\n\n\n\n

Perlu Gan Quan tau, jika tak ada tembakau di negeri ini, bukan malah menjadikan masyarakat sehat sebaliknya malah menjadi petaka untuk bangsa Indonesia.
<\/h2>\n\n\n\n

Kita semua sama-sama tau, bagaimana antirokok bermain. Mereka seringkali membungkus sesuatu dengan kemulian, padahal sejatinya ada agenda-agenda terselubung yang sedang mereka usahakan capai. Mana pernah mereka memikirkan nasib petani, buruh rokok dan semua orang yang menggantungkan hidupnya pada industri hasil tembakau. <\/p>\n","post_title":"Peserta APCAT Harusnya Sadar, Tembakau Menghidupi Masyarakat Bukan Membunuh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peserta-apcat-harusnya-sadar-tembakau-menghidupi-masyarakat-bukan-membunuh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-27 12:27:38","post_modified_gmt":"2019-09-27 05:27:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6104","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6095,"post_author":"855","post_date":"2019-09-24 11:15:17","post_date_gmt":"2019-09-24 04:15:17","post_content":"\n

14 Januari 1944, Majalah Soeara Moeslimin, menerbitkan tulisan KH. Hasyim Asy'ari\u00a0 berjudul \u201cKeoetamaan Bertjojok Tanam dan Bertani\u201d. Tulisan itu lebih besar membahas posisi petani dalam berbangsa dan bernegara.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Hasyim, sebagaimana yang beliau nukil dari Muntahaa amaali\u2019l Khutabaa\u2019, petani adalah seorang yang setiap waktu bersedekah. Keuletan menghadapi segala persoalan dunia, jerih payahnya, tidak hanya untuk dirinya sendiri, melainkan juga untuk bangsa dan negara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTak ada seorang Muslim yang menanam tanaman atau mencocokkan tumbuhan-tumbuhan, kemudian tanaman itu dimakan burung atau manusia atau binatang, melainkan dihitung menjadi shadaqah (sedekah) baginya.\u201d<\/strong> (Bukhari II\/30)
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Tani adalah gudang kekayaan. Darinya negeri mengeluarkan belanja bagi segala keperluan. Pak Tani itulah penolong negeri apabila keperluan menghendakinya dan di waktu orang-orang mencari pertolongan. Pak Tani itulah pembantu negeri yang boleh dipercaya untuk mengerjakan sekalian keperluan negeri, yaitu pada waktunya orang berbalik punggung (tidak sudi menolong) pada negeri; dan Pak Tani itu menjadi sendi tempat di mana negeri di sandarkan,\u201d tulis Mbah Hasyim.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Petani bagi Mbah Hasyim adalah seorang yang setiap waktu mendapat pahala. Sebagaimana yang beliau nukil dari riwayat Muslim, \u201ctidak ada seorang Muslim menanam tanaman dan tidak pula mencocokkan tumbuh-tumbuhan, kemudian dimakan orang daripadanya, atau binatang atau lainnya, melainkan itu menjadi shadaqah baginya.\u201d (Muslim I\/678).
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi nahas, hingga kini petani masih dipandang sebelah mata. Nasib dan kesejahteraannya dianggap fana. Padahal petani juga bekerja untuk  bangsa dan negara.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Hak-hak petani dikebiri. Banyak berita mengabarkan petani diintimidasi. Tanah-tanah mereka setiap waktu bisa saja dicuri oleh para makelar yang tak punya nurani, digantikan pabrik-pabrik menjulang tinggi. Kesejahteraan hidup mereka tidak pernah dipedulikan, yang hanya adalah kalimat-kalimat manis datang dari para pemangku kebijakan negeri, itupun hanya ketika datang Pemilu kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/a><\/p>\n\n\n\n

Belum lagi payahnya seorang petani menghadapi tak menentunya iklim, hama, dan seabrek permasalahan teknis pertanian, pemerintah sering menambah beban mereka dengan kebijakan-kebijakan yang hanya menguntungkan beberapa pihak saja. Petani seperti bukan masyarakat yang juga wajib dijaga kesejahteraan hidupnya. Petani hanya dijadikan sumber rupiah untuk negara, tentu saja juga untuk para pejabat yang mendapat gaji darinya.
<\/p>\n\n\n\n

Benar yang tertulis dalam kitab Itkhafu\u2019Sadah Al-Muttaqien I\/52, teraturnya agama atau negara adalah bergantung pada teraturnya dunia. Teraturnya dunia bergantung pada uang. Uang itu terkumpul dari rakyat. Sedangkan teraturnya hidup rakyat adalah bergantung pada sikap pembesar-pembesarnya yang adil.
<\/p>\n\n\n\n

Jika pembesar-pembesar itu masih rakus, selama itu juga kesejahteraan hanya punya mereka yang berelasi kuat dengan para elit pemangku kebijakan. Petani, entah bagaimana nasibnya.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Tani Nasional. Jaya di darat, laut dan akhirat!
<\/p>\n","post_title":"Petani Adalah Pondasi Negeri","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-adalah-pondasi-negeri","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-24 11:26:45","post_modified_gmt":"2019-09-24 04:26:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6095","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6065,"post_author":"855","post_date":"2019-09-15 12:44:34","post_date_gmt":"2019-09-15 05:44:34","post_content":"\n

Presiden Joko Widodo(Jokowi) sepakat untuk menaikkan tarif cukai sebesar 23 persen tahun depan. Kenaikan tarif cukai membuat rata-rata harga jual eceran rokok diperkirakan meningkat 35 persen dari harga jual saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Menteri Keuangan Sri Mulyani,  seperti yang dikutip Kumparan.com<\/em><\/a>, menjelaskan salah satu pertimbangan kenaikan cukai karena ingin mengurangi jumlah perokok. Harga yang naik tentu akan menyulitkan para perokok hingga mencegah peningkatan konsumsi rokok di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\"Yakni bagaimana kebijakan cukai rokok bisa mengurangi konsumsi rokok. Bagaimana dia bisa mengatur industrinya dan yang ketiga tetap menjaga penerimaan negara,\" kata Sri Mulyani di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat (13\/9).<\/p>\n\n\n\n

Sri Mulyani menganggap, dengan pemerintah menaikkan cukai, maka secara otomatis angka perokok akan turun. Asumsinya sangat sederhana,  dengan cukai naik otomatis harga jual rokok juga naik. Maka masyarakat tidak akan bisa membeli rokok. Pemerintah sukses, Indonesia lebih sehat karena semakin sedikit  orang yang merokok. <\/p>\n\n\n\n

Anggapan ini  jelas keliru. Mau rokok naik setinggi apapun, loyalitas perokok terhadap lintingan emas hijau ini tidak akan pudar. Jika tak mampu membeli rokok pabrikan, maka perokok masih bisa melinting sendiri untuk menikmatinya.<\/p>\n\n\n\n

Hampir mirip  dengan Sri, Menteri Koordinator Perokonomian Darmin Nasution mengungkapkan, setidaknya ada 3 hal kenapa cukai rokok tahun ini naik sebesar 23 persen.  Pertama, tahun 2019 pemerintah tidak menaikkan cukai rokok, maka menjadi wajar jika tahun 2020 naiknya lebih besar. <\/p>\n\n\n\n

\u201cTahun lalu tidak naik. Sehingga ya naiknya wajar kalau lebih banyak, lebih besar,\" ujarnya. [Kompas.com]<\/p>\n\n\n\n

Tahun 2019 memang pemerintah tidak menaikkan cukai. Tetapi apakah ini kemudian dapat dijadikan alasan kenaikan cukai 2020. Tentu saja masih bisa dipertanyakan. <\/p>\n\n\n\n

Publik bisa saja menilai, tidak naiknya cukai tahun 2019 lantaran pada tahun itu adalah tahun politik. Semua calon tentu saja  ingin mendapat dukungan dari petani tembakau, buruh pabrik rokok dan jutaan orang lainnya yang menggantungkan hidup dari industri hasil tembakau. Toh pada keputusan tersebut, Sri Mulyani tidak memberikan alasan yang jelas, kenapa cukai tidak naik. (Baca: Pemerintah Tidak Naikkan Cukai Rokok Tahun 2019<\/a>)<\/p>\n\n\n\n

Kedua, menurunkan konsumsi rokok masyarakat Indonesia. Logika ini sama persis yang digunakan Sri Mulyani.<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, urusan  penerimaan negara. Pemerintah meyakini kenaikan cukai akan mengdongkrak penerimaan negara. Hal ini dinilai penting karena pemerintah membutuhkan banyak dana untuk pembiayaan anggaran di APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Alasan ketiga inilah yang mungkin agak masuk akal. Pemerintah perlu  menaikkan cukai setinggi-tingginya karena pemerintah butuh banyak uang untuk menjalankan program-program. Untuk membangung dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Namun menjadi rancu, di satu sisi pemerintah ingin menurunkan jumlah perokok. Artinya pemerintah ingin masyarakat  tidak membeli rokok. Di sisi yang lain pemerintah ingin mendapatkan setoran besar dari industri ini. Tak tanggung-tanggung, Sri Mulyani menargetkan dapat mengeruk Rp 173 triliun di 2020.<\/p>\n\n\n\n

Rasa-rasanya pemerintah ini hanya punya daya pikir pendek. Mereka tidak mampu berpikir panjang untuk menjaga hasil pendapatan negara ini. Bukan malah membunuh pelan-pelan dan hanya  memikirkan bagaimana pada periode kepempinannya dapat menjalankan program-program dan mengumpulkan uang untuk negara, meski rakyatnya dicekik setiap saat.<\/p>\n\n\n\n

Untuk Bu Sri dan Pak Darmin, kalo memang  niatnya mengurangi perokok, dorong saja Presiden untuk melarang masyarakat menanam tembakau serta cengkeh dan menutup semua pabrik rokok di negeri ini. Gitu baru keren!<\/em><\/p>\n\n\n\n

<\/p>\n","post_title":"Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tidak-perlu-menaikkan-cukai-begini-cara-menguranangi-angka-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-15 12:51:44","post_modified_gmt":"2019-09-15 05:51:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6065","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sebagaimana yang diungkapkan Wali Kota Bogor, Bima Arya, acara tersebut dihadiri wali kota dan bupati dari 12 negara tersebut bertujuan untuk membangun program pengendalian tembakau dan penyakit tidak menular melalui komitmen politik, peluang kemitraan baru, pemanfaatan sumber daya yang berkelanjutan dan efektif, serta kinerja sistem kesehatan publik yang lebih kuat dan efektif.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perda KTR Kebanggaan Bima Arya Hanyalah Tameng Bagi Segudang Permasalahan Kota Bogor<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kota Bogor dipilih tentu saja karena kota ini yang pertama kali memiliki peraturan daerah tentang kawasan tanpa rokok. Sebuah peraturan yang menjadi payung hukum untuk pengendalian tembakau di kota hujan tersebut. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain itu, Kota Bogor merupakan kota pertama dalam melakukan pelarangan iklan rokok di ruang publik. Ya meskipun kebijakan ini dinilai mengurangi pendapatan asli daerah, tetap saja kebijakan ini bisa dijual ke dunia sebagai salah satu bentuk kepedulian terhadap berlangsungnya kesehatan bangsa dan negara. 
<\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari agenda tersebut. Direktur Pengendalian Tembakau pada International Union Againts Tuberculosis and Lung Disease (The Union), Gan Quan, menganggap tembakau sebagai faktor pembunuh terhadap lebih dari delapan juta orang setiap tahunnya secara global. Sebuah angka kematian yang sangat fantastis. (Media Indonesia)
<\/p>\n\n\n\n

Pendapat ini hampir-hampir mirip yang dirilis oleh WHO (World Healt Organization), yang mengklaim bahwa tembakau telah membunuh hampir enam juta orang setiap tahun. Bisa dibilang, tembakau menjadi pembunuh nomor satu di dunia. Tapi apakah tuduhan itu benar?
<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, tidak ada satu pun dokter atau lembaga kesehatan yang berani menyatakan bahwa delapan juta (versi The Union) atau 6 juta (versi WHO) tersebut murni disebabkan oleh tembakau atau produk tembakau. Yang ada, dokter atau lembaga kesehatan hanya bermain-main di awang-awang. Bahkan dalam praktiknya mereka selalu mengklaim apapun penyakitnya disebabkan oleh rokok. Kalo kebetulan yang terserang penyakit tidak merokok, maka akan dibilang perokok pasif.
<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan tidak pernah menyinggung faktor lain, misalnya asap kendaraan atau sebab lainnya secara adil. Peneliti Universitas Gadjah Mada, Dr Ttot Sudargo, pernah mengungkap bahwa dalam daun tembakau terdapat senyawa bio aktif seperti flavonid dan fenol. Dua senyawa itu menjadi antioksidan yang dapat mencegah penyakit kardiovaskuler.
<\/p>\n\n\n\n

Lebih jauh, di dalam daun tembakau juga terdapat vitamin C atau asam askorbat yang menjadi antioksidan dan dapat bereaksi dengan antiradikal bebeas dengan cara memberikan proteksi sel. Di dalam tembakau juga terdapat zinc (Zn) yang berguna dalam pembentukan struktur enzim dan protein yang bermanfaat bagi tubuh. Juga mengandung minyak atsiri yang dapat digunakan sebagai antibakteri dan antiseptik. (okezone.com)
<\/p>\n\n\n\n

Gan Quan mungkin juga mainnya kurang jauh, di Indonesia tembakau malah bisa menghidupi jutaan orang.  Keberadaan IHT memberi sumbangsih besar pada penyerapan tenaga kerja mulai dari hulu sampai hilir. Di sektor perkebunan menyerap 2 juta petani tembakau dan 1,5 juta petani cengkeh (on farm). Belum termasuk serapan tenaga kerja tidak langsung, karena di sektor hulu terdapat ragam pekerjaan lain17. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Pembelaan Gus Dur pada Sektor Industri Hasil Tembakau (IHT)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sektor manufaktur dan perdagangan menyerap 600.000 karyawan pabrik dan 2 juta pedagang ritel (off farm). Totalnya 6,1 juta tenaga kerja yang bergantung langsung terhadap industri ini. Dari total serapan tenaga kerja yang terlibat secara on farm dan off farm, baik langsung maupun tidak langsung, di dalam IHT dapat memberi penghidupan kepada 30,5 juta orang.
<\/p>\n\n\n\n

Perlu Gan Quan tau, jika tak ada tembakau di negeri ini, bukan malah menjadikan masyarakat sehat sebaliknya malah menjadi petaka untuk bangsa Indonesia.
<\/h2>\n\n\n\n

Kita semua sama-sama tau, bagaimana antirokok bermain. Mereka seringkali membungkus sesuatu dengan kemulian, padahal sejatinya ada agenda-agenda terselubung yang sedang mereka usahakan capai. Mana pernah mereka memikirkan nasib petani, buruh rokok dan semua orang yang menggantungkan hidupnya pada industri hasil tembakau. <\/p>\n","post_title":"Peserta APCAT Harusnya Sadar, Tembakau Menghidupi Masyarakat Bukan Membunuh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peserta-apcat-harusnya-sadar-tembakau-menghidupi-masyarakat-bukan-membunuh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-27 12:27:38","post_modified_gmt":"2019-09-27 05:27:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6104","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6095,"post_author":"855","post_date":"2019-09-24 11:15:17","post_date_gmt":"2019-09-24 04:15:17","post_content":"\n

14 Januari 1944, Majalah Soeara Moeslimin, menerbitkan tulisan KH. Hasyim Asy'ari\u00a0 berjudul \u201cKeoetamaan Bertjojok Tanam dan Bertani\u201d. Tulisan itu lebih besar membahas posisi petani dalam berbangsa dan bernegara.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Hasyim, sebagaimana yang beliau nukil dari Muntahaa amaali\u2019l Khutabaa\u2019, petani adalah seorang yang setiap waktu bersedekah. Keuletan menghadapi segala persoalan dunia, jerih payahnya, tidak hanya untuk dirinya sendiri, melainkan juga untuk bangsa dan negara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTak ada seorang Muslim yang menanam tanaman atau mencocokkan tumbuhan-tumbuhan, kemudian tanaman itu dimakan burung atau manusia atau binatang, melainkan dihitung menjadi shadaqah (sedekah) baginya.\u201d<\/strong> (Bukhari II\/30)
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Tani adalah gudang kekayaan. Darinya negeri mengeluarkan belanja bagi segala keperluan. Pak Tani itulah penolong negeri apabila keperluan menghendakinya dan di waktu orang-orang mencari pertolongan. Pak Tani itulah pembantu negeri yang boleh dipercaya untuk mengerjakan sekalian keperluan negeri, yaitu pada waktunya orang berbalik punggung (tidak sudi menolong) pada negeri; dan Pak Tani itu menjadi sendi tempat di mana negeri di sandarkan,\u201d tulis Mbah Hasyim.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Petani bagi Mbah Hasyim adalah seorang yang setiap waktu mendapat pahala. Sebagaimana yang beliau nukil dari riwayat Muslim, \u201ctidak ada seorang Muslim menanam tanaman dan tidak pula mencocokkan tumbuh-tumbuhan, kemudian dimakan orang daripadanya, atau binatang atau lainnya, melainkan itu menjadi shadaqah baginya.\u201d (Muslim I\/678).
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi nahas, hingga kini petani masih dipandang sebelah mata. Nasib dan kesejahteraannya dianggap fana. Padahal petani juga bekerja untuk  bangsa dan negara.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Hak-hak petani dikebiri. Banyak berita mengabarkan petani diintimidasi. Tanah-tanah mereka setiap waktu bisa saja dicuri oleh para makelar yang tak punya nurani, digantikan pabrik-pabrik menjulang tinggi. Kesejahteraan hidup mereka tidak pernah dipedulikan, yang hanya adalah kalimat-kalimat manis datang dari para pemangku kebijakan negeri, itupun hanya ketika datang Pemilu kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/a><\/p>\n\n\n\n

Belum lagi payahnya seorang petani menghadapi tak menentunya iklim, hama, dan seabrek permasalahan teknis pertanian, pemerintah sering menambah beban mereka dengan kebijakan-kebijakan yang hanya menguntungkan beberapa pihak saja. Petani seperti bukan masyarakat yang juga wajib dijaga kesejahteraan hidupnya. Petani hanya dijadikan sumber rupiah untuk negara, tentu saja juga untuk para pejabat yang mendapat gaji darinya.
<\/p>\n\n\n\n

Benar yang tertulis dalam kitab Itkhafu\u2019Sadah Al-Muttaqien I\/52, teraturnya agama atau negara adalah bergantung pada teraturnya dunia. Teraturnya dunia bergantung pada uang. Uang itu terkumpul dari rakyat. Sedangkan teraturnya hidup rakyat adalah bergantung pada sikap pembesar-pembesarnya yang adil.
<\/p>\n\n\n\n

Jika pembesar-pembesar itu masih rakus, selama itu juga kesejahteraan hanya punya mereka yang berelasi kuat dengan para elit pemangku kebijakan. Petani, entah bagaimana nasibnya.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Tani Nasional. Jaya di darat, laut dan akhirat!
<\/p>\n","post_title":"Petani Adalah Pondasi Negeri","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-adalah-pondasi-negeri","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-24 11:26:45","post_modified_gmt":"2019-09-24 04:26:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6095","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6065,"post_author":"855","post_date":"2019-09-15 12:44:34","post_date_gmt":"2019-09-15 05:44:34","post_content":"\n

Presiden Joko Widodo(Jokowi) sepakat untuk menaikkan tarif cukai sebesar 23 persen tahun depan. Kenaikan tarif cukai membuat rata-rata harga jual eceran rokok diperkirakan meningkat 35 persen dari harga jual saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Menteri Keuangan Sri Mulyani,  seperti yang dikutip Kumparan.com<\/em><\/a>, menjelaskan salah satu pertimbangan kenaikan cukai karena ingin mengurangi jumlah perokok. Harga yang naik tentu akan menyulitkan para perokok hingga mencegah peningkatan konsumsi rokok di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\"Yakni bagaimana kebijakan cukai rokok bisa mengurangi konsumsi rokok. Bagaimana dia bisa mengatur industrinya dan yang ketiga tetap menjaga penerimaan negara,\" kata Sri Mulyani di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat (13\/9).<\/p>\n\n\n\n

Sri Mulyani menganggap, dengan pemerintah menaikkan cukai, maka secara otomatis angka perokok akan turun. Asumsinya sangat sederhana,  dengan cukai naik otomatis harga jual rokok juga naik. Maka masyarakat tidak akan bisa membeli rokok. Pemerintah sukses, Indonesia lebih sehat karena semakin sedikit  orang yang merokok. <\/p>\n\n\n\n

Anggapan ini  jelas keliru. Mau rokok naik setinggi apapun, loyalitas perokok terhadap lintingan emas hijau ini tidak akan pudar. Jika tak mampu membeli rokok pabrikan, maka perokok masih bisa melinting sendiri untuk menikmatinya.<\/p>\n\n\n\n

Hampir mirip  dengan Sri, Menteri Koordinator Perokonomian Darmin Nasution mengungkapkan, setidaknya ada 3 hal kenapa cukai rokok tahun ini naik sebesar 23 persen.  Pertama, tahun 2019 pemerintah tidak menaikkan cukai rokok, maka menjadi wajar jika tahun 2020 naiknya lebih besar. <\/p>\n\n\n\n

\u201cTahun lalu tidak naik. Sehingga ya naiknya wajar kalau lebih banyak, lebih besar,\" ujarnya. [Kompas.com]<\/p>\n\n\n\n

Tahun 2019 memang pemerintah tidak menaikkan cukai. Tetapi apakah ini kemudian dapat dijadikan alasan kenaikan cukai 2020. Tentu saja masih bisa dipertanyakan. <\/p>\n\n\n\n

Publik bisa saja menilai, tidak naiknya cukai tahun 2019 lantaran pada tahun itu adalah tahun politik. Semua calon tentu saja  ingin mendapat dukungan dari petani tembakau, buruh pabrik rokok dan jutaan orang lainnya yang menggantungkan hidup dari industri hasil tembakau. Toh pada keputusan tersebut, Sri Mulyani tidak memberikan alasan yang jelas, kenapa cukai tidak naik. (Baca: Pemerintah Tidak Naikkan Cukai Rokok Tahun 2019<\/a>)<\/p>\n\n\n\n

Kedua, menurunkan konsumsi rokok masyarakat Indonesia. Logika ini sama persis yang digunakan Sri Mulyani.<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, urusan  penerimaan negara. Pemerintah meyakini kenaikan cukai akan mengdongkrak penerimaan negara. Hal ini dinilai penting karena pemerintah membutuhkan banyak dana untuk pembiayaan anggaran di APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Alasan ketiga inilah yang mungkin agak masuk akal. Pemerintah perlu  menaikkan cukai setinggi-tingginya karena pemerintah butuh banyak uang untuk menjalankan program-program. Untuk membangung dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Namun menjadi rancu, di satu sisi pemerintah ingin menurunkan jumlah perokok. Artinya pemerintah ingin masyarakat  tidak membeli rokok. Di sisi yang lain pemerintah ingin mendapatkan setoran besar dari industri ini. Tak tanggung-tanggung, Sri Mulyani menargetkan dapat mengeruk Rp 173 triliun di 2020.<\/p>\n\n\n\n

Rasa-rasanya pemerintah ini hanya punya daya pikir pendek. Mereka tidak mampu berpikir panjang untuk menjaga hasil pendapatan negara ini. Bukan malah membunuh pelan-pelan dan hanya  memikirkan bagaimana pada periode kepempinannya dapat menjalankan program-program dan mengumpulkan uang untuk negara, meski rakyatnya dicekik setiap saat.<\/p>\n\n\n\n

Untuk Bu Sri dan Pak Darmin, kalo memang  niatnya mengurangi perokok, dorong saja Presiden untuk melarang masyarakat menanam tembakau serta cengkeh dan menutup semua pabrik rokok di negeri ini. Gitu baru keren!<\/em><\/p>\n\n\n\n

<\/p>\n","post_title":"Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tidak-perlu-menaikkan-cukai-begini-cara-menguranangi-angka-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-15 12:51:44","post_modified_gmt":"2019-09-15 05:51:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6065","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Aliansi kota Asia Pasifik untuk pengendalian tembakau dan pencegahan penyakit tidak menular (Asia Pacific Cities Alliance for Tobacco control and NCDs Prevention\/APCAT) menggelar konferensi keempatnya di Kota Bogor, 25-26 September 2019.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagaimana yang diungkapkan Wali Kota Bogor, Bima Arya, acara tersebut dihadiri wali kota dan bupati dari 12 negara tersebut bertujuan untuk membangun program pengendalian tembakau dan penyakit tidak menular melalui komitmen politik, peluang kemitraan baru, pemanfaatan sumber daya yang berkelanjutan dan efektif, serta kinerja sistem kesehatan publik yang lebih kuat dan efektif.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perda KTR Kebanggaan Bima Arya Hanyalah Tameng Bagi Segudang Permasalahan Kota Bogor<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kota Bogor dipilih tentu saja karena kota ini yang pertama kali memiliki peraturan daerah tentang kawasan tanpa rokok. Sebuah peraturan yang menjadi payung hukum untuk pengendalian tembakau di kota hujan tersebut. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain itu, Kota Bogor merupakan kota pertama dalam melakukan pelarangan iklan rokok di ruang publik. Ya meskipun kebijakan ini dinilai mengurangi pendapatan asli daerah, tetap saja kebijakan ini bisa dijual ke dunia sebagai salah satu bentuk kepedulian terhadap berlangsungnya kesehatan bangsa dan negara. 
<\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari agenda tersebut. Direktur Pengendalian Tembakau pada International Union Againts Tuberculosis and Lung Disease (The Union), Gan Quan, menganggap tembakau sebagai faktor pembunuh terhadap lebih dari delapan juta orang setiap tahunnya secara global. Sebuah angka kematian yang sangat fantastis. (Media Indonesia)
<\/p>\n\n\n\n

Pendapat ini hampir-hampir mirip yang dirilis oleh WHO (World Healt Organization), yang mengklaim bahwa tembakau telah membunuh hampir enam juta orang setiap tahun. Bisa dibilang, tembakau menjadi pembunuh nomor satu di dunia. Tapi apakah tuduhan itu benar?
<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, tidak ada satu pun dokter atau lembaga kesehatan yang berani menyatakan bahwa delapan juta (versi The Union) atau 6 juta (versi WHO) tersebut murni disebabkan oleh tembakau atau produk tembakau. Yang ada, dokter atau lembaga kesehatan hanya bermain-main di awang-awang. Bahkan dalam praktiknya mereka selalu mengklaim apapun penyakitnya disebabkan oleh rokok. Kalo kebetulan yang terserang penyakit tidak merokok, maka akan dibilang perokok pasif.
<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan tidak pernah menyinggung faktor lain, misalnya asap kendaraan atau sebab lainnya secara adil. Peneliti Universitas Gadjah Mada, Dr Ttot Sudargo, pernah mengungkap bahwa dalam daun tembakau terdapat senyawa bio aktif seperti flavonid dan fenol. Dua senyawa itu menjadi antioksidan yang dapat mencegah penyakit kardiovaskuler.
<\/p>\n\n\n\n

Lebih jauh, di dalam daun tembakau juga terdapat vitamin C atau asam askorbat yang menjadi antioksidan dan dapat bereaksi dengan antiradikal bebeas dengan cara memberikan proteksi sel. Di dalam tembakau juga terdapat zinc (Zn) yang berguna dalam pembentukan struktur enzim dan protein yang bermanfaat bagi tubuh. Juga mengandung minyak atsiri yang dapat digunakan sebagai antibakteri dan antiseptik. (okezone.com)
<\/p>\n\n\n\n

Gan Quan mungkin juga mainnya kurang jauh, di Indonesia tembakau malah bisa menghidupi jutaan orang.  Keberadaan IHT memberi sumbangsih besar pada penyerapan tenaga kerja mulai dari hulu sampai hilir. Di sektor perkebunan menyerap 2 juta petani tembakau dan 1,5 juta petani cengkeh (on farm). Belum termasuk serapan tenaga kerja tidak langsung, karena di sektor hulu terdapat ragam pekerjaan lain17. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Pembelaan Gus Dur pada Sektor Industri Hasil Tembakau (IHT)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sektor manufaktur dan perdagangan menyerap 600.000 karyawan pabrik dan 2 juta pedagang ritel (off farm). Totalnya 6,1 juta tenaga kerja yang bergantung langsung terhadap industri ini. Dari total serapan tenaga kerja yang terlibat secara on farm dan off farm, baik langsung maupun tidak langsung, di dalam IHT dapat memberi penghidupan kepada 30,5 juta orang.
<\/p>\n\n\n\n

Perlu Gan Quan tau, jika tak ada tembakau di negeri ini, bukan malah menjadikan masyarakat sehat sebaliknya malah menjadi petaka untuk bangsa Indonesia.
<\/h2>\n\n\n\n

Kita semua sama-sama tau, bagaimana antirokok bermain. Mereka seringkali membungkus sesuatu dengan kemulian, padahal sejatinya ada agenda-agenda terselubung yang sedang mereka usahakan capai. Mana pernah mereka memikirkan nasib petani, buruh rokok dan semua orang yang menggantungkan hidupnya pada industri hasil tembakau. <\/p>\n","post_title":"Peserta APCAT Harusnya Sadar, Tembakau Menghidupi Masyarakat Bukan Membunuh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peserta-apcat-harusnya-sadar-tembakau-menghidupi-masyarakat-bukan-membunuh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-27 12:27:38","post_modified_gmt":"2019-09-27 05:27:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6104","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6095,"post_author":"855","post_date":"2019-09-24 11:15:17","post_date_gmt":"2019-09-24 04:15:17","post_content":"\n

14 Januari 1944, Majalah Soeara Moeslimin, menerbitkan tulisan KH. Hasyim Asy'ari\u00a0 berjudul \u201cKeoetamaan Bertjojok Tanam dan Bertani\u201d. Tulisan itu lebih besar membahas posisi petani dalam berbangsa dan bernegara.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Hasyim, sebagaimana yang beliau nukil dari Muntahaa amaali\u2019l Khutabaa\u2019, petani adalah seorang yang setiap waktu bersedekah. Keuletan menghadapi segala persoalan dunia, jerih payahnya, tidak hanya untuk dirinya sendiri, melainkan juga untuk bangsa dan negara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTak ada seorang Muslim yang menanam tanaman atau mencocokkan tumbuhan-tumbuhan, kemudian tanaman itu dimakan burung atau manusia atau binatang, melainkan dihitung menjadi shadaqah (sedekah) baginya.\u201d<\/strong> (Bukhari II\/30)
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Tani adalah gudang kekayaan. Darinya negeri mengeluarkan belanja bagi segala keperluan. Pak Tani itulah penolong negeri apabila keperluan menghendakinya dan di waktu orang-orang mencari pertolongan. Pak Tani itulah pembantu negeri yang boleh dipercaya untuk mengerjakan sekalian keperluan negeri, yaitu pada waktunya orang berbalik punggung (tidak sudi menolong) pada negeri; dan Pak Tani itu menjadi sendi tempat di mana negeri di sandarkan,\u201d tulis Mbah Hasyim.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Petani bagi Mbah Hasyim adalah seorang yang setiap waktu mendapat pahala. Sebagaimana yang beliau nukil dari riwayat Muslim, \u201ctidak ada seorang Muslim menanam tanaman dan tidak pula mencocokkan tumbuh-tumbuhan, kemudian dimakan orang daripadanya, atau binatang atau lainnya, melainkan itu menjadi shadaqah baginya.\u201d (Muslim I\/678).
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi nahas, hingga kini petani masih dipandang sebelah mata. Nasib dan kesejahteraannya dianggap fana. Padahal petani juga bekerja untuk  bangsa dan negara.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Hak-hak petani dikebiri. Banyak berita mengabarkan petani diintimidasi. Tanah-tanah mereka setiap waktu bisa saja dicuri oleh para makelar yang tak punya nurani, digantikan pabrik-pabrik menjulang tinggi. Kesejahteraan hidup mereka tidak pernah dipedulikan, yang hanya adalah kalimat-kalimat manis datang dari para pemangku kebijakan negeri, itupun hanya ketika datang Pemilu kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/a><\/p>\n\n\n\n

Belum lagi payahnya seorang petani menghadapi tak menentunya iklim, hama, dan seabrek permasalahan teknis pertanian, pemerintah sering menambah beban mereka dengan kebijakan-kebijakan yang hanya menguntungkan beberapa pihak saja. Petani seperti bukan masyarakat yang juga wajib dijaga kesejahteraan hidupnya. Petani hanya dijadikan sumber rupiah untuk negara, tentu saja juga untuk para pejabat yang mendapat gaji darinya.
<\/p>\n\n\n\n

Benar yang tertulis dalam kitab Itkhafu\u2019Sadah Al-Muttaqien I\/52, teraturnya agama atau negara adalah bergantung pada teraturnya dunia. Teraturnya dunia bergantung pada uang. Uang itu terkumpul dari rakyat. Sedangkan teraturnya hidup rakyat adalah bergantung pada sikap pembesar-pembesarnya yang adil.
<\/p>\n\n\n\n

Jika pembesar-pembesar itu masih rakus, selama itu juga kesejahteraan hanya punya mereka yang berelasi kuat dengan para elit pemangku kebijakan. Petani, entah bagaimana nasibnya.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Tani Nasional. Jaya di darat, laut dan akhirat!
<\/p>\n","post_title":"Petani Adalah Pondasi Negeri","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-adalah-pondasi-negeri","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-24 11:26:45","post_modified_gmt":"2019-09-24 04:26:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6095","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6065,"post_author":"855","post_date":"2019-09-15 12:44:34","post_date_gmt":"2019-09-15 05:44:34","post_content":"\n

Presiden Joko Widodo(Jokowi) sepakat untuk menaikkan tarif cukai sebesar 23 persen tahun depan. Kenaikan tarif cukai membuat rata-rata harga jual eceran rokok diperkirakan meningkat 35 persen dari harga jual saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Menteri Keuangan Sri Mulyani,  seperti yang dikutip Kumparan.com<\/em><\/a>, menjelaskan salah satu pertimbangan kenaikan cukai karena ingin mengurangi jumlah perokok. Harga yang naik tentu akan menyulitkan para perokok hingga mencegah peningkatan konsumsi rokok di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\"Yakni bagaimana kebijakan cukai rokok bisa mengurangi konsumsi rokok. Bagaimana dia bisa mengatur industrinya dan yang ketiga tetap menjaga penerimaan negara,\" kata Sri Mulyani di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat (13\/9).<\/p>\n\n\n\n

Sri Mulyani menganggap, dengan pemerintah menaikkan cukai, maka secara otomatis angka perokok akan turun. Asumsinya sangat sederhana,  dengan cukai naik otomatis harga jual rokok juga naik. Maka masyarakat tidak akan bisa membeli rokok. Pemerintah sukses, Indonesia lebih sehat karena semakin sedikit  orang yang merokok. <\/p>\n\n\n\n

Anggapan ini  jelas keliru. Mau rokok naik setinggi apapun, loyalitas perokok terhadap lintingan emas hijau ini tidak akan pudar. Jika tak mampu membeli rokok pabrikan, maka perokok masih bisa melinting sendiri untuk menikmatinya.<\/p>\n\n\n\n

Hampir mirip  dengan Sri, Menteri Koordinator Perokonomian Darmin Nasution mengungkapkan, setidaknya ada 3 hal kenapa cukai rokok tahun ini naik sebesar 23 persen.  Pertama, tahun 2019 pemerintah tidak menaikkan cukai rokok, maka menjadi wajar jika tahun 2020 naiknya lebih besar. <\/p>\n\n\n\n

\u201cTahun lalu tidak naik. Sehingga ya naiknya wajar kalau lebih banyak, lebih besar,\" ujarnya. [Kompas.com]<\/p>\n\n\n\n

Tahun 2019 memang pemerintah tidak menaikkan cukai. Tetapi apakah ini kemudian dapat dijadikan alasan kenaikan cukai 2020. Tentu saja masih bisa dipertanyakan. <\/p>\n\n\n\n

Publik bisa saja menilai, tidak naiknya cukai tahun 2019 lantaran pada tahun itu adalah tahun politik. Semua calon tentu saja  ingin mendapat dukungan dari petani tembakau, buruh pabrik rokok dan jutaan orang lainnya yang menggantungkan hidup dari industri hasil tembakau. Toh pada keputusan tersebut, Sri Mulyani tidak memberikan alasan yang jelas, kenapa cukai tidak naik. (Baca: Pemerintah Tidak Naikkan Cukai Rokok Tahun 2019<\/a>)<\/p>\n\n\n\n

Kedua, menurunkan konsumsi rokok masyarakat Indonesia. Logika ini sama persis yang digunakan Sri Mulyani.<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, urusan  penerimaan negara. Pemerintah meyakini kenaikan cukai akan mengdongkrak penerimaan negara. Hal ini dinilai penting karena pemerintah membutuhkan banyak dana untuk pembiayaan anggaran di APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Alasan ketiga inilah yang mungkin agak masuk akal. Pemerintah perlu  menaikkan cukai setinggi-tingginya karena pemerintah butuh banyak uang untuk menjalankan program-program. Untuk membangung dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Namun menjadi rancu, di satu sisi pemerintah ingin menurunkan jumlah perokok. Artinya pemerintah ingin masyarakat  tidak membeli rokok. Di sisi yang lain pemerintah ingin mendapatkan setoran besar dari industri ini. Tak tanggung-tanggung, Sri Mulyani menargetkan dapat mengeruk Rp 173 triliun di 2020.<\/p>\n\n\n\n

Rasa-rasanya pemerintah ini hanya punya daya pikir pendek. Mereka tidak mampu berpikir panjang untuk menjaga hasil pendapatan negara ini. Bukan malah membunuh pelan-pelan dan hanya  memikirkan bagaimana pada periode kepempinannya dapat menjalankan program-program dan mengumpulkan uang untuk negara, meski rakyatnya dicekik setiap saat.<\/p>\n\n\n\n

Untuk Bu Sri dan Pak Darmin, kalo memang  niatnya mengurangi perokok, dorong saja Presiden untuk melarang masyarakat menanam tembakau serta cengkeh dan menutup semua pabrik rokok di negeri ini. Gitu baru keren!<\/em><\/p>\n\n\n\n

<\/p>\n","post_title":"Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tidak-perlu-menaikkan-cukai-begini-cara-menguranangi-angka-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-15 12:51:44","post_modified_gmt":"2019-09-15 05:51:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6065","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada suatu kesempatan, Mbah Mus (KH. Ahmad Mustofa Bisri) ditanya perihal merokok. Begini pertanyaannya;

\n\"Mbah Mus yang saya hormati, panjenengan seandainya berhenti merokok bisa atau tidak ya? Mohon maaf Mbah Mus kan sebagai ulama menjadi teladan bagi generasi muda, saya yakin Mbah Mus ingin melihat generasi muda hidup sehat tanpa rokok, apalagi jika Mbah Mus dalam dakwahnya atau puisinya mau mengkampanyekan hidup sehat tanpa rokok.

\nMohon maaf mbah jika pertanyaan saya sangat tidak sopan, terima kasih mbah sudah bersedia membaca.\"

\nLantas sebagai sesepuh bangsa yang petuah dan nasehatnya selalu membuat adem siapa saja, Mbah Mus menjawab dengan cerdas dan bernas.

\n\"Sudah lama (sekitar 9 tahunan) saya berhenti merokok. Dan pendapat saya tetap: hukum merokok itu khilaf. Bacalah kitab tentang Kopi dan Rokok karangan Al-Allamah Syeikh Ihsan Al-Jampesi. Kayaknya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Dari kalangan ahli tembakau pun terdapat khilaf. Ada yang mengatakan madharat ada yang mengatakan tidak. Hanya saja yang berkampanye madharat lebih kuat karena disponsori orang barat yang kuat. Bukti kekuatan kampanye itu antara lain pertanyaanmu ini,\" jawab Mbah Mus.

\nJawaban Mbah Mus tersebut sudah sangat komplit. Kalo ibarat nasi pecel Madiun, sudah lengkap dengan kembang turi dan kemangi yang sepertinya susah ditemui pada warung-warung pecel Madiun di Jakarta.

\nBila dipetakan, setidaknya ada 3 sisi yang terus dikampanyekan antirokok, yaitu agama, kesehatan dan ekonomi. Satu paragraf jawaban Mbah Mus tersebut tentu saja tersirat bermacam bantahan.

\nPertama soal agama. Dalam hal ini hukum dan posisi rokok dalam Islam. Ada yang bilang rokok itu haram, bahkan yang lebih extrim menanam tembakau juga haram. Ada yang mengatakan, hukum merokok tergantung bagaimana kondisi yang mengisapnya. Di antara perdebatan itu, Mbah Mus tegas menjawab, hukum rokok itu khilaf. Ada yang mengatakan madlarat ada yang mengatakan tidak. Semuanya harus dihormati.

\nAsalkan jangan seperti salah satu ulama' tv yang dengan percaya diri menukil hadis \"tembakau terbuat dari kencing iblis\". Kisah ini sempat ramai, padahal hadis ini telah dibahas oleh \"Fatwa al-Lujnah al-Daimah lil buhuth al'ilmiyyah waal iftaa'\" (Lembaga Fatwa Arab Saudi), yang nenyebut hadis tersebut palsu bahkan tak ada asal usulnya. Satu pembohongan yang haram atas nama Nabi Muhammad SAW. haram juga menyebarkan tanpa dijelaskan kedudukannua.

\nSoal pembahasan mendetai mengenai persoalan ini, silahkan kinjungi: https:\/\/bolehmerokok.com\/2018\/04\/dalil-boleh-merokok\/

\nKedua, soal kesehatan. Antirokok atau dalam hal ini pegiat kesehatan, selalu mengatakan rokok adalah pembunuh terdahsyat di dunia ini. WHO bahkan pernah merilis, setiap tahun setidaknya 6 juta orang dipanggil Tuhan karena merokok. Tidak hanya soal itu, ketika Anda periksa ke dokter, tak peduli apapun penyakitnya, akan ditanya, \"bapak merokok?\" Jika merokok, maka dokter akan mengatakan sakitnya sebeb rokok. Tapi jika tidak merokok, tetap saja rokok yang harus salah. Makanya muncul istilah perokok pasif.

\nSaya hanya menemukan beberapa dokter atau pegiatan kesehatan saja yang berani bilang, \"banyak faktor yang memengaruhi kesehatan seseorang. Tidak hanya rokok, tetapi juga asap kendaraan, dan lain sebagainya.\" Kepada mereka, saya angkat topi setinggi-tingginya.

\nParahnya lagi, wacana jaminan kesehatan haram bagi para perokok terus digaungkan. Padahal rokok adalah barang legal dan merokok adalah aktivitas legal yang dilindungi undang-undang. Lagi pula perokok kan juga warga negara yang punya hak dan kewajiban sama dalam berbangsa dan bernegara.

\nApakah berhenti sampai situ? Tidak. Rokok dikatakan oleh antirokok sebagai candu. Tentu saja ini patah oleh jawabnnya Mbah Mus. Sebagai perokok, Mbah Mus berhasil berhenti. Tidak kemudian kecanduan. Atau tak perlu jauh-jauh. Saya adalah perokok berat, tapi tidak kejang-kejang meski tak merokok selama berpuasa. Harusnya antirokok ini mulai menyadari, bahwa yang candu itu manisnya senyummu. Iya kamu.

\nSaya agak curiga nih, keyword yang digunakan antirokok ini cuma \"dampak negatif rokok\", makanya referensinya hanya mengarah kepada keburukan. Coba sesekali memberanikan diri pakai keyword \"dampak positif rokok\" mungkin akan beda cara berargumennya. Meski tetap membenci rokok, setidaknya ada keadilan dalam berpikir dan bersikap.

\nKetiga, soal ekonomi. Ini selalu menjadi isu yang tak akan pernah ada habisnya. Bagi antirokok, rokok adalah barang haram yang membunuh dan membuat miskin. BPS saja sering mengeluarkan survei soal ini. Tolak ukurnya tentu saja daya beli dan nongkrong di mall. Lha gimana mau nongkrong di mall, wong mallnya saja di desa ga ada. Alfamart dan Indomaret saja jauhnya minta ampun. Pulang dari sawah ya nongkrongnya di teras rumah, sambil jedal jedul. Tapi apakah mereka merasa miskin? Tentu saja tidak.

\nHarusnya juga antirokok sadar, sektor hulu dari IHT adalah perkebunan tembakau dan cengkeh. Perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, sementara perkebunan cengkeh ada di 30 provinsi. Mayoritas lahannya milik rakyat dan dibudidayakan sepenuhnya oleh rakyat, yang menunjukkan kemandirian dan kedaulatan ekonomi mereka. Keduanya memang bukan komoditas pangan, tetapi sifat-sifat polikulturnya, membuat keduanya bisa menopang ketahanan pangan. 

\nSebesar 93 persen produk IHT adalah kretek. Sisanya adalah cerutu, farmasi, produk makanan, kosmetik, dan lainnya. Dari hulu hingga hilir, IHT menyerap jutaan tenaga kerja. Dengan demikian, IHT telah membantu pemerintah mengentaskan kemiskinan, menekan pengangguran, dan meningkatkan kesejahteraan. Sejarah mencatat IHT sebagai industri strategis nasional adalah sektor perekonomian yang paling tahan di saat krisis. 

\nMelalui penerimaan cukai, IHT turut memberikan sumbangan sebesar 8,92 persen terhadap APBN. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan pendapatan pajak dari sektor minyak dan gas (migas) yang hanya 3,03 persen.

\nKeberadaan IHT memberi sumbangsih besar pada penyerapan tenaga kerja mulai dari hulu sampai hilir. Di sektor perkebunan menyerap 2 juta petani tembakau dan 1,5 juta petani cengkeh (on farm). Belum termasuk serapan tenaga kerja tidak langsung, karena di sektor hulu terdapat ragam pekerjaan lain17. 

\nDi sektor manufaktur dan perdagangan menyerap 600.000 karyawan pabrik dan 2 juta pedagang ritel (off farm). Totalnya 6,1 juta tenaga kerja yang bergantung langsung terhadap industri ini. Dari total serapan tenaga kerja yang terlibat secara on farm dan off farm, baik langsung maupun tidak langsung, di dalam IHT dapat memberi penghidupan kepada 30,5 juta orang.

\nMungkin sudah menjadi fitrah rokok akan terus dimusuhi, meski hasilnya selalu dirindukan. Benar dhawuhnya Mbah Mus, yang berkampanye madharat lebih kuat karena disponsori orang barat yang kuat. Silahkan baca dan cermati https:\/\/tobaccocontrolgrants.org, di sini panjenengan semua bisa tau lembaga mana penerima dana dan apa agendanya di Indonesia selama tenggat waktu tertentu.

\nSepertinya memang kita harus hidup bersama sebagaimana tembakau dan cengkeh yang diproduksi menjadi kretek, ketika banyak orang melemparinya isu bahaya laten rokok, tetapi ia membalasnya dengan penghasilan negara yang amat besar.<\/p>\n","post_title":"Ketika Gus Mus Ditanya Perihal Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-gus-mus-ditanya-perihal-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-05 07:58:28","post_modified_gmt":"2019-10-05 00:58:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6120","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6104,"post_author":"855","post_date":"2019-09-27 12:24:56","post_date_gmt":"2019-09-27 05:24:56","post_content":"\n

Aliansi kota Asia Pasifik untuk pengendalian tembakau dan pencegahan penyakit tidak menular (Asia Pacific Cities Alliance for Tobacco control and NCDs Prevention\/APCAT) menggelar konferensi keempatnya di Kota Bogor, 25-26 September 2019.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagaimana yang diungkapkan Wali Kota Bogor, Bima Arya, acara tersebut dihadiri wali kota dan bupati dari 12 negara tersebut bertujuan untuk membangun program pengendalian tembakau dan penyakit tidak menular melalui komitmen politik, peluang kemitraan baru, pemanfaatan sumber daya yang berkelanjutan dan efektif, serta kinerja sistem kesehatan publik yang lebih kuat dan efektif.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perda KTR Kebanggaan Bima Arya Hanyalah Tameng Bagi Segudang Permasalahan Kota Bogor<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kota Bogor dipilih tentu saja karena kota ini yang pertama kali memiliki peraturan daerah tentang kawasan tanpa rokok. Sebuah peraturan yang menjadi payung hukum untuk pengendalian tembakau di kota hujan tersebut. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain itu, Kota Bogor merupakan kota pertama dalam melakukan pelarangan iklan rokok di ruang publik. Ya meskipun kebijakan ini dinilai mengurangi pendapatan asli daerah, tetap saja kebijakan ini bisa dijual ke dunia sebagai salah satu bentuk kepedulian terhadap berlangsungnya kesehatan bangsa dan negara. 
<\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari agenda tersebut. Direktur Pengendalian Tembakau pada International Union Againts Tuberculosis and Lung Disease (The Union), Gan Quan, menganggap tembakau sebagai faktor pembunuh terhadap lebih dari delapan juta orang setiap tahunnya secara global. Sebuah angka kematian yang sangat fantastis. (Media Indonesia)
<\/p>\n\n\n\n

Pendapat ini hampir-hampir mirip yang dirilis oleh WHO (World Healt Organization), yang mengklaim bahwa tembakau telah membunuh hampir enam juta orang setiap tahun. Bisa dibilang, tembakau menjadi pembunuh nomor satu di dunia. Tapi apakah tuduhan itu benar?
<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, tidak ada satu pun dokter atau lembaga kesehatan yang berani menyatakan bahwa delapan juta (versi The Union) atau 6 juta (versi WHO) tersebut murni disebabkan oleh tembakau atau produk tembakau. Yang ada, dokter atau lembaga kesehatan hanya bermain-main di awang-awang. Bahkan dalam praktiknya mereka selalu mengklaim apapun penyakitnya disebabkan oleh rokok. Kalo kebetulan yang terserang penyakit tidak merokok, maka akan dibilang perokok pasif.
<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan tidak pernah menyinggung faktor lain, misalnya asap kendaraan atau sebab lainnya secara adil. Peneliti Universitas Gadjah Mada, Dr Ttot Sudargo, pernah mengungkap bahwa dalam daun tembakau terdapat senyawa bio aktif seperti flavonid dan fenol. Dua senyawa itu menjadi antioksidan yang dapat mencegah penyakit kardiovaskuler.
<\/p>\n\n\n\n

Lebih jauh, di dalam daun tembakau juga terdapat vitamin C atau asam askorbat yang menjadi antioksidan dan dapat bereaksi dengan antiradikal bebeas dengan cara memberikan proteksi sel. Di dalam tembakau juga terdapat zinc (Zn) yang berguna dalam pembentukan struktur enzim dan protein yang bermanfaat bagi tubuh. Juga mengandung minyak atsiri yang dapat digunakan sebagai antibakteri dan antiseptik. (okezone.com)
<\/p>\n\n\n\n

Gan Quan mungkin juga mainnya kurang jauh, di Indonesia tembakau malah bisa menghidupi jutaan orang.  Keberadaan IHT memberi sumbangsih besar pada penyerapan tenaga kerja mulai dari hulu sampai hilir. Di sektor perkebunan menyerap 2 juta petani tembakau dan 1,5 juta petani cengkeh (on farm). Belum termasuk serapan tenaga kerja tidak langsung, karena di sektor hulu terdapat ragam pekerjaan lain17. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Pembelaan Gus Dur pada Sektor Industri Hasil Tembakau (IHT)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sektor manufaktur dan perdagangan menyerap 600.000 karyawan pabrik dan 2 juta pedagang ritel (off farm). Totalnya 6,1 juta tenaga kerja yang bergantung langsung terhadap industri ini. Dari total serapan tenaga kerja yang terlibat secara on farm dan off farm, baik langsung maupun tidak langsung, di dalam IHT dapat memberi penghidupan kepada 30,5 juta orang.
<\/p>\n\n\n\n

Perlu Gan Quan tau, jika tak ada tembakau di negeri ini, bukan malah menjadikan masyarakat sehat sebaliknya malah menjadi petaka untuk bangsa Indonesia.
<\/h2>\n\n\n\n

Kita semua sama-sama tau, bagaimana antirokok bermain. Mereka seringkali membungkus sesuatu dengan kemulian, padahal sejatinya ada agenda-agenda terselubung yang sedang mereka usahakan capai. Mana pernah mereka memikirkan nasib petani, buruh rokok dan semua orang yang menggantungkan hidupnya pada industri hasil tembakau. <\/p>\n","post_title":"Peserta APCAT Harusnya Sadar, Tembakau Menghidupi Masyarakat Bukan Membunuh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peserta-apcat-harusnya-sadar-tembakau-menghidupi-masyarakat-bukan-membunuh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-27 12:27:38","post_modified_gmt":"2019-09-27 05:27:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6104","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6095,"post_author":"855","post_date":"2019-09-24 11:15:17","post_date_gmt":"2019-09-24 04:15:17","post_content":"\n

14 Januari 1944, Majalah Soeara Moeslimin, menerbitkan tulisan KH. Hasyim Asy'ari\u00a0 berjudul \u201cKeoetamaan Bertjojok Tanam dan Bertani\u201d. Tulisan itu lebih besar membahas posisi petani dalam berbangsa dan bernegara.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Hasyim, sebagaimana yang beliau nukil dari Muntahaa amaali\u2019l Khutabaa\u2019, petani adalah seorang yang setiap waktu bersedekah. Keuletan menghadapi segala persoalan dunia, jerih payahnya, tidak hanya untuk dirinya sendiri, melainkan juga untuk bangsa dan negara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTak ada seorang Muslim yang menanam tanaman atau mencocokkan tumbuhan-tumbuhan, kemudian tanaman itu dimakan burung atau manusia atau binatang, melainkan dihitung menjadi shadaqah (sedekah) baginya.\u201d<\/strong> (Bukhari II\/30)
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Tani adalah gudang kekayaan. Darinya negeri mengeluarkan belanja bagi segala keperluan. Pak Tani itulah penolong negeri apabila keperluan menghendakinya dan di waktu orang-orang mencari pertolongan. Pak Tani itulah pembantu negeri yang boleh dipercaya untuk mengerjakan sekalian keperluan negeri, yaitu pada waktunya orang berbalik punggung (tidak sudi menolong) pada negeri; dan Pak Tani itu menjadi sendi tempat di mana negeri di sandarkan,\u201d tulis Mbah Hasyim.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Petani bagi Mbah Hasyim adalah seorang yang setiap waktu mendapat pahala. Sebagaimana yang beliau nukil dari riwayat Muslim, \u201ctidak ada seorang Muslim menanam tanaman dan tidak pula mencocokkan tumbuh-tumbuhan, kemudian dimakan orang daripadanya, atau binatang atau lainnya, melainkan itu menjadi shadaqah baginya.\u201d (Muslim I\/678).
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi nahas, hingga kini petani masih dipandang sebelah mata. Nasib dan kesejahteraannya dianggap fana. Padahal petani juga bekerja untuk  bangsa dan negara.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Hak-hak petani dikebiri. Banyak berita mengabarkan petani diintimidasi. Tanah-tanah mereka setiap waktu bisa saja dicuri oleh para makelar yang tak punya nurani, digantikan pabrik-pabrik menjulang tinggi. Kesejahteraan hidup mereka tidak pernah dipedulikan, yang hanya adalah kalimat-kalimat manis datang dari para pemangku kebijakan negeri, itupun hanya ketika datang Pemilu kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/a><\/p>\n\n\n\n

Belum lagi payahnya seorang petani menghadapi tak menentunya iklim, hama, dan seabrek permasalahan teknis pertanian, pemerintah sering menambah beban mereka dengan kebijakan-kebijakan yang hanya menguntungkan beberapa pihak saja. Petani seperti bukan masyarakat yang juga wajib dijaga kesejahteraan hidupnya. Petani hanya dijadikan sumber rupiah untuk negara, tentu saja juga untuk para pejabat yang mendapat gaji darinya.
<\/p>\n\n\n\n

Benar yang tertulis dalam kitab Itkhafu\u2019Sadah Al-Muttaqien I\/52, teraturnya agama atau negara adalah bergantung pada teraturnya dunia. Teraturnya dunia bergantung pada uang. Uang itu terkumpul dari rakyat. Sedangkan teraturnya hidup rakyat adalah bergantung pada sikap pembesar-pembesarnya yang adil.
<\/p>\n\n\n\n

Jika pembesar-pembesar itu masih rakus, selama itu juga kesejahteraan hanya punya mereka yang berelasi kuat dengan para elit pemangku kebijakan. Petani, entah bagaimana nasibnya.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Tani Nasional. Jaya di darat, laut dan akhirat!
<\/p>\n","post_title":"Petani Adalah Pondasi Negeri","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-adalah-pondasi-negeri","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-24 11:26:45","post_modified_gmt":"2019-09-24 04:26:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6095","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6065,"post_author":"855","post_date":"2019-09-15 12:44:34","post_date_gmt":"2019-09-15 05:44:34","post_content":"\n

Presiden Joko Widodo(Jokowi) sepakat untuk menaikkan tarif cukai sebesar 23 persen tahun depan. Kenaikan tarif cukai membuat rata-rata harga jual eceran rokok diperkirakan meningkat 35 persen dari harga jual saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Menteri Keuangan Sri Mulyani,  seperti yang dikutip Kumparan.com<\/em><\/a>, menjelaskan salah satu pertimbangan kenaikan cukai karena ingin mengurangi jumlah perokok. Harga yang naik tentu akan menyulitkan para perokok hingga mencegah peningkatan konsumsi rokok di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\"Yakni bagaimana kebijakan cukai rokok bisa mengurangi konsumsi rokok. Bagaimana dia bisa mengatur industrinya dan yang ketiga tetap menjaga penerimaan negara,\" kata Sri Mulyani di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat (13\/9).<\/p>\n\n\n\n

Sri Mulyani menganggap, dengan pemerintah menaikkan cukai, maka secara otomatis angka perokok akan turun. Asumsinya sangat sederhana,  dengan cukai naik otomatis harga jual rokok juga naik. Maka masyarakat tidak akan bisa membeli rokok. Pemerintah sukses, Indonesia lebih sehat karena semakin sedikit  orang yang merokok. <\/p>\n\n\n\n

Anggapan ini  jelas keliru. Mau rokok naik setinggi apapun, loyalitas perokok terhadap lintingan emas hijau ini tidak akan pudar. Jika tak mampu membeli rokok pabrikan, maka perokok masih bisa melinting sendiri untuk menikmatinya.<\/p>\n\n\n\n

Hampir mirip  dengan Sri, Menteri Koordinator Perokonomian Darmin Nasution mengungkapkan, setidaknya ada 3 hal kenapa cukai rokok tahun ini naik sebesar 23 persen.  Pertama, tahun 2019 pemerintah tidak menaikkan cukai rokok, maka menjadi wajar jika tahun 2020 naiknya lebih besar. <\/p>\n\n\n\n

\u201cTahun lalu tidak naik. Sehingga ya naiknya wajar kalau lebih banyak, lebih besar,\" ujarnya. [Kompas.com]<\/p>\n\n\n\n

Tahun 2019 memang pemerintah tidak menaikkan cukai. Tetapi apakah ini kemudian dapat dijadikan alasan kenaikan cukai 2020. Tentu saja masih bisa dipertanyakan. <\/p>\n\n\n\n

Publik bisa saja menilai, tidak naiknya cukai tahun 2019 lantaran pada tahun itu adalah tahun politik. Semua calon tentu saja  ingin mendapat dukungan dari petani tembakau, buruh pabrik rokok dan jutaan orang lainnya yang menggantungkan hidup dari industri hasil tembakau. Toh pada keputusan tersebut, Sri Mulyani tidak memberikan alasan yang jelas, kenapa cukai tidak naik. (Baca: Pemerintah Tidak Naikkan Cukai Rokok Tahun 2019<\/a>)<\/p>\n\n\n\n

Kedua, menurunkan konsumsi rokok masyarakat Indonesia. Logika ini sama persis yang digunakan Sri Mulyani.<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, urusan  penerimaan negara. Pemerintah meyakini kenaikan cukai akan mengdongkrak penerimaan negara. Hal ini dinilai penting karena pemerintah membutuhkan banyak dana untuk pembiayaan anggaran di APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Alasan ketiga inilah yang mungkin agak masuk akal. Pemerintah perlu  menaikkan cukai setinggi-tingginya karena pemerintah butuh banyak uang untuk menjalankan program-program. Untuk membangung dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Namun menjadi rancu, di satu sisi pemerintah ingin menurunkan jumlah perokok. Artinya pemerintah ingin masyarakat  tidak membeli rokok. Di sisi yang lain pemerintah ingin mendapatkan setoran besar dari industri ini. Tak tanggung-tanggung, Sri Mulyani menargetkan dapat mengeruk Rp 173 triliun di 2020.<\/p>\n\n\n\n

Rasa-rasanya pemerintah ini hanya punya daya pikir pendek. Mereka tidak mampu berpikir panjang untuk menjaga hasil pendapatan negara ini. Bukan malah membunuh pelan-pelan dan hanya  memikirkan bagaimana pada periode kepempinannya dapat menjalankan program-program dan mengumpulkan uang untuk negara, meski rakyatnya dicekik setiap saat.<\/p>\n\n\n\n

Untuk Bu Sri dan Pak Darmin, kalo memang  niatnya mengurangi perokok, dorong saja Presiden untuk melarang masyarakat menanam tembakau serta cengkeh dan menutup semua pabrik rokok di negeri ini. Gitu baru keren!<\/em><\/p>\n\n\n\n

<\/p>\n","post_title":"Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tidak-perlu-menaikkan-cukai-begini-cara-menguranangi-angka-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-15 12:51:44","post_modified_gmt":"2019-09-15 05:51:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6065","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};