\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Masa panen adalah saat yang dinanti-nanti petani tembakau. Tentunya harapan petani, tanaman tembakaunaya tumbuh dengan baik, kualitas bagus dan jumlahnya banyak, serta harganya bagus. Di saat tanaman tembakaunya bagus, baik kualitas dan kuantitasnya, biasanya diikuti dengan harga bagus pula. Namun tidak bisa dipastikan, karena masalah harga tidak bisa petani serta merta yang menentukan, ada faktor yang sanagat kompleks. Yaitu situasi dan kondisi sektor pertembakauan di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Inilah pengakuan Mbah Sholeh, ternyata wajah yang bersih berseri, awet muda, fisiknya kuat dan energik, salah satu rahasinya adalah berbahagia dan giat. Agar bahagia dan giat ia selalu mengkonsumsi rokok kretek dan meninggalkan makanan dengan penyedap rasa.   
<\/p>\n","post_title":"Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bikin-awet-muda-dan-energik-rahasia-di-balik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-30 10:40:00","post_modified_gmt":"2019-09-30 03:40:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6112","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6101,"post_author":"877","post_date":"2019-09-26 10:08:08","post_date_gmt":"2019-09-26 03:08:08","post_content":"\n

Masa panen adalah saat yang dinanti-nanti petani tembakau. Tentunya harapan petani, tanaman tembakaunaya tumbuh dengan baik, kualitas bagus dan jumlahnya banyak, serta harganya bagus. Di saat tanaman tembakaunya bagus, baik kualitas dan kuantitasnya, biasanya diikuti dengan harga bagus pula. Namun tidak bisa dipastikan, karena masalah harga tidak bisa petani serta merta yang menentukan, ada faktor yang sanagat kompleks. Yaitu situasi dan kondisi sektor pertembakauan di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Celetukan tersebut disikapi Mbah Sholeh  dengan senyuman dan sambil mengeluarkan asap rokok kretek dari mulutnya dan hidupnya. Kemudian aku bertanya lagi, kenapa Mbah merokok?. Ia pun tersenyum sambil menyedot kembali rokok kreteknya dengan menjawab, kalau merokok kretek membuat ia bahagia, dengan kondisi bahagia ini orang jadi awet muda. Kalau merokok membuat semangat, dengan semangat orang jadi giat dan kuat. Ia juga menceritakan memulai merokok kretek saat sudah Islam. Kata Islam disini bukan berarti saat masuk Islam, akan tetapi yang dimaksud saat sudah khitan atau usia baliq. Dahulu setelah ia dikhitan, bapaknya menyuruhnya merokok sebagai tanda sudah dewasa. <\/p>\n\n\n\n

Inilah pengakuan Mbah Sholeh, ternyata wajah yang bersih berseri, awet muda, fisiknya kuat dan energik, salah satu rahasinya adalah berbahagia dan giat. Agar bahagia dan giat ia selalu mengkonsumsi rokok kretek dan meninggalkan makanan dengan penyedap rasa.   
<\/p>\n","post_title":"Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bikin-awet-muda-dan-energik-rahasia-di-balik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-30 10:40:00","post_modified_gmt":"2019-09-30 03:40:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6112","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6101,"post_author":"877","post_date":"2019-09-26 10:08:08","post_date_gmt":"2019-09-26 03:08:08","post_content":"\n

Masa panen adalah saat yang dinanti-nanti petani tembakau. Tentunya harapan petani, tanaman tembakaunaya tumbuh dengan baik, kualitas bagus dan jumlahnya banyak, serta harganya bagus. Di saat tanaman tembakaunya bagus, baik kualitas dan kuantitasnya, biasanya diikuti dengan harga bagus pula. Namun tidak bisa dipastikan, karena masalah harga tidak bisa petani serta merta yang menentukan, ada faktor yang sanagat kompleks. Yaitu situasi dan kondisi sektor pertembakauan di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Akhirnya akupun penasaran, dan kembali bertanya. Mbah apa resepnya kok masih terlihat muda?. Ia pun menjawab, jauhi makanan yang ada obat penyedap rasanya, makananlah bahan alami seperti daun-daunan. Sampai detik ini ia mengaku tidak makan makanan yang ada penyedap rasanya, kalau ditawari atau ada suguhan di depannya, ia memilih tidak akan memakannya. Juga kalau ditawari dan disuguhi minuman yang bergula. Ia pun demikian menghindari. Kata masyarakat lainnya yang ikut ngobrol, Mbah Sholeh itu hidup sehat.<\/p>\n\n\n\n

Celetukan tersebut disikapi Mbah Sholeh  dengan senyuman dan sambil mengeluarkan asap rokok kretek dari mulutnya dan hidupnya. Kemudian aku bertanya lagi, kenapa Mbah merokok?. Ia pun tersenyum sambil menyedot kembali rokok kreteknya dengan menjawab, kalau merokok kretek membuat ia bahagia, dengan kondisi bahagia ini orang jadi awet muda. Kalau merokok membuat semangat, dengan semangat orang jadi giat dan kuat. Ia juga menceritakan memulai merokok kretek saat sudah Islam. Kata Islam disini bukan berarti saat masuk Islam, akan tetapi yang dimaksud saat sudah khitan atau usia baliq. Dahulu setelah ia dikhitan, bapaknya menyuruhnya merokok sebagai tanda sudah dewasa. <\/p>\n\n\n\n

Inilah pengakuan Mbah Sholeh, ternyata wajah yang bersih berseri, awet muda, fisiknya kuat dan energik, salah satu rahasinya adalah berbahagia dan giat. Agar bahagia dan giat ia selalu mengkonsumsi rokok kretek dan meninggalkan makanan dengan penyedap rasa.   
<\/p>\n","post_title":"Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bikin-awet-muda-dan-energik-rahasia-di-balik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-30 10:40:00","post_modified_gmt":"2019-09-30 03:40:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6112","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6101,"post_author":"877","post_date":"2019-09-26 10:08:08","post_date_gmt":"2019-09-26 03:08:08","post_content":"\n

Masa panen adalah saat yang dinanti-nanti petani tembakau. Tentunya harapan petani, tanaman tembakaunaya tumbuh dengan baik, kualitas bagus dan jumlahnya banyak, serta harganya bagus. Di saat tanaman tembakaunya bagus, baik kualitas dan kuantitasnya, biasanya diikuti dengan harga bagus pula. Namun tidak bisa dipastikan, karena masalah harga tidak bisa petani serta merta yang menentukan, ada faktor yang sanagat kompleks. Yaitu situasi dan kondisi sektor pertembakauan di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saat menjawab, akupun terkaget, karena prediksiku umur sekitaran 50an. Raup wajahnya bersih, badannya terlihat sehat dan terlihat energik, tidak mau kalah dengan bapak-bapak lainnya yang saat itu ikut ngobrol yang rata-rata umur 48-60 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Akhirnya akupun penasaran, dan kembali bertanya. Mbah apa resepnya kok masih terlihat muda?. Ia pun menjawab, jauhi makanan yang ada obat penyedap rasanya, makananlah bahan alami seperti daun-daunan. Sampai detik ini ia mengaku tidak makan makanan yang ada penyedap rasanya, kalau ditawari atau ada suguhan di depannya, ia memilih tidak akan memakannya. Juga kalau ditawari dan disuguhi minuman yang bergula. Ia pun demikian menghindari. Kata masyarakat lainnya yang ikut ngobrol, Mbah Sholeh itu hidup sehat.<\/p>\n\n\n\n

Celetukan tersebut disikapi Mbah Sholeh  dengan senyuman dan sambil mengeluarkan asap rokok kretek dari mulutnya dan hidupnya. Kemudian aku bertanya lagi, kenapa Mbah merokok?. Ia pun tersenyum sambil menyedot kembali rokok kreteknya dengan menjawab, kalau merokok kretek membuat ia bahagia, dengan kondisi bahagia ini orang jadi awet muda. Kalau merokok membuat semangat, dengan semangat orang jadi giat dan kuat. Ia juga menceritakan memulai merokok kretek saat sudah Islam. Kata Islam disini bukan berarti saat masuk Islam, akan tetapi yang dimaksud saat sudah khitan atau usia baliq. Dahulu setelah ia dikhitan, bapaknya menyuruhnya merokok sebagai tanda sudah dewasa. <\/p>\n\n\n\n

Inilah pengakuan Mbah Sholeh, ternyata wajah yang bersih berseri, awet muda, fisiknya kuat dan energik, salah satu rahasinya adalah berbahagia dan giat. Agar bahagia dan giat ia selalu mengkonsumsi rokok kretek dan meninggalkan makanan dengan penyedap rasa.   
<\/p>\n","post_title":"Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bikin-awet-muda-dan-energik-rahasia-di-balik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-30 10:40:00","post_modified_gmt":"2019-09-30 03:40:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6112","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6101,"post_author":"877","post_date":"2019-09-26 10:08:08","post_date_gmt":"2019-09-26 03:08:08","post_content":"\n

Masa panen adalah saat yang dinanti-nanti petani tembakau. Tentunya harapan petani, tanaman tembakaunaya tumbuh dengan baik, kualitas bagus dan jumlahnya banyak, serta harganya bagus. Di saat tanaman tembakaunya bagus, baik kualitas dan kuantitasnya, biasanya diikuti dengan harga bagus pula. Namun tidak bisa dipastikan, karena masalah harga tidak bisa petani serta merta yang menentukan, ada faktor yang sanagat kompleks. Yaitu situasi dan kondisi sektor pertembakauan di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kebetulan posisiku duduk bersebelahan dengan salah satu tokoh juga Ulama\u2019 Prawoto. Umurnya sudah tergolong dapat bonus 16 tahun dati Tuhan. Itulah jawabannya saat aku tanya usianya berapa. Karena pingin tau, aku tanya kembali persisnya usia berapa, beliau menjawab diatas rata-rata umumnya usia manusia (60 tahun) yaitu 76 tahun. Ia menjawab sambil tersenyum dan memegang rokok kretek yang telah disulut, ia adalah Mbah Sholeh (nama samara).<\/p>\n\n\n\n

Saat menjawab, akupun terkaget, karena prediksiku umur sekitaran 50an. Raup wajahnya bersih, badannya terlihat sehat dan terlihat energik, tidak mau kalah dengan bapak-bapak lainnya yang saat itu ikut ngobrol yang rata-rata umur 48-60 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Akhirnya akupun penasaran, dan kembali bertanya. Mbah apa resepnya kok masih terlihat muda?. Ia pun menjawab, jauhi makanan yang ada obat penyedap rasanya, makananlah bahan alami seperti daun-daunan. Sampai detik ini ia mengaku tidak makan makanan yang ada penyedap rasanya, kalau ditawari atau ada suguhan di depannya, ia memilih tidak akan memakannya. Juga kalau ditawari dan disuguhi minuman yang bergula. Ia pun demikian menghindari. Kata masyarakat lainnya yang ikut ngobrol, Mbah Sholeh itu hidup sehat.<\/p>\n\n\n\n

Celetukan tersebut disikapi Mbah Sholeh  dengan senyuman dan sambil mengeluarkan asap rokok kretek dari mulutnya dan hidupnya. Kemudian aku bertanya lagi, kenapa Mbah merokok?. Ia pun tersenyum sambil menyedot kembali rokok kreteknya dengan menjawab, kalau merokok kretek membuat ia bahagia, dengan kondisi bahagia ini orang jadi awet muda. Kalau merokok membuat semangat, dengan semangat orang jadi giat dan kuat. Ia juga menceritakan memulai merokok kretek saat sudah Islam. Kata Islam disini bukan berarti saat masuk Islam, akan tetapi yang dimaksud saat sudah khitan atau usia baliq. Dahulu setelah ia dikhitan, bapaknya menyuruhnya merokok sebagai tanda sudah dewasa. <\/p>\n\n\n\n

Inilah pengakuan Mbah Sholeh, ternyata wajah yang bersih berseri, awet muda, fisiknya kuat dan energik, salah satu rahasinya adalah berbahagia dan giat. Agar bahagia dan giat ia selalu mengkonsumsi rokok kretek dan meninggalkan makanan dengan penyedap rasa.   
<\/p>\n","post_title":"Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bikin-awet-muda-dan-energik-rahasia-di-balik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-30 10:40:00","post_modified_gmt":"2019-09-30 03:40:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6112","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6101,"post_author":"877","post_date":"2019-09-26 10:08:08","post_date_gmt":"2019-09-26 03:08:08","post_content":"\n

Masa panen adalah saat yang dinanti-nanti petani tembakau. Tentunya harapan petani, tanaman tembakaunaya tumbuh dengan baik, kualitas bagus dan jumlahnya banyak, serta harganya bagus. Di saat tanaman tembakaunya bagus, baik kualitas dan kuantitasnya, biasanya diikuti dengan harga bagus pula. Namun tidak bisa dipastikan, karena masalah harga tidak bisa petani serta merta yang menentukan, ada faktor yang sanagat kompleks. Yaitu situasi dan kondisi sektor pertembakauan di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Disaat-saat senggang tersebut, aku manfaatkan ngobrol dengan penduduk dan tokoh Ulama\u2019 setempat. Ternyata mereka selain punya warisan seni ketoprak juga punya kebudayaan menghisap rokok kretek. Selain rokok kretek mereka tidak mau. Karena budaya merokok kretek diyakini warisan leluhurnya. Jarang sekali orang-orang tua yang tidak merokok, terlihat tidak memegang dan membawa rokok kretek kebanyakan anak-anak usia sekolah. Sambil ngobrol mengupas sedikit sejarah Sunan Prawoto kita merokok kretek bersama. Dengan merokok kretek suasana santai dan keakraban terbentuk di serambi masjid Sunan Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Kebetulan posisiku duduk bersebelahan dengan salah satu tokoh juga Ulama\u2019 Prawoto. Umurnya sudah tergolong dapat bonus 16 tahun dati Tuhan. Itulah jawabannya saat aku tanya usianya berapa. Karena pingin tau, aku tanya kembali persisnya usia berapa, beliau menjawab diatas rata-rata umumnya usia manusia (60 tahun) yaitu 76 tahun. Ia menjawab sambil tersenyum dan memegang rokok kretek yang telah disulut, ia adalah Mbah Sholeh (nama samara).<\/p>\n\n\n\n

Saat menjawab, akupun terkaget, karena prediksiku umur sekitaran 50an. Raup wajahnya bersih, badannya terlihat sehat dan terlihat energik, tidak mau kalah dengan bapak-bapak lainnya yang saat itu ikut ngobrol yang rata-rata umur 48-60 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Akhirnya akupun penasaran, dan kembali bertanya. Mbah apa resepnya kok masih terlihat muda?. Ia pun menjawab, jauhi makanan yang ada obat penyedap rasanya, makananlah bahan alami seperti daun-daunan. Sampai detik ini ia mengaku tidak makan makanan yang ada penyedap rasanya, kalau ditawari atau ada suguhan di depannya, ia memilih tidak akan memakannya. Juga kalau ditawari dan disuguhi minuman yang bergula. Ia pun demikian menghindari. Kata masyarakat lainnya yang ikut ngobrol, Mbah Sholeh itu hidup sehat.<\/p>\n\n\n\n

Celetukan tersebut disikapi Mbah Sholeh  dengan senyuman dan sambil mengeluarkan asap rokok kretek dari mulutnya dan hidupnya. Kemudian aku bertanya lagi, kenapa Mbah merokok?. Ia pun tersenyum sambil menyedot kembali rokok kreteknya dengan menjawab, kalau merokok kretek membuat ia bahagia, dengan kondisi bahagia ini orang jadi awet muda. Kalau merokok membuat semangat, dengan semangat orang jadi giat dan kuat. Ia juga menceritakan memulai merokok kretek saat sudah Islam. Kata Islam disini bukan berarti saat masuk Islam, akan tetapi yang dimaksud saat sudah khitan atau usia baliq. Dahulu setelah ia dikhitan, bapaknya menyuruhnya merokok sebagai tanda sudah dewasa. <\/p>\n\n\n\n

Inilah pengakuan Mbah Sholeh, ternyata wajah yang bersih berseri, awet muda, fisiknya kuat dan energik, salah satu rahasinya adalah berbahagia dan giat. Agar bahagia dan giat ia selalu mengkonsumsi rokok kretek dan meninggalkan makanan dengan penyedap rasa.   
<\/p>\n","post_title":"Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bikin-awet-muda-dan-energik-rahasia-di-balik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-30 10:40:00","post_modified_gmt":"2019-09-30 03:40:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6112","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6101,"post_author":"877","post_date":"2019-09-26 10:08:08","post_date_gmt":"2019-09-26 03:08:08","post_content":"\n

Masa panen adalah saat yang dinanti-nanti petani tembakau. Tentunya harapan petani, tanaman tembakaunaya tumbuh dengan baik, kualitas bagus dan jumlahnya banyak, serta harganya bagus. Di saat tanaman tembakaunya bagus, baik kualitas dan kuantitasnya, biasanya diikuti dengan harga bagus pula. Namun tidak bisa dipastikan, karena masalah harga tidak bisa petani serta merta yang menentukan, ada faktor yang sanagat kompleks. Yaitu situasi dan kondisi sektor pertembakauan di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kembali ke undangan, setelah aku baca, ternyata undangan tersebut sekaligus perintah dari pengurus YM3SK untuk mewakili datang di acara Haul Sunan Prawoto yang dilaksanakan di hari dan tanggal itu juga jam 19.00 WIB. Walaupun terkesan mendadak tidak seperti biasa jauh-jauh hari sudah ada pemberitahuan, seperti saat acara haul Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Ampel. Akhirnya tetap datang di acara haul Sunan Prawoto dengan berkoordinasi dan mengajak dengan teman-teman di dekat desa Prawoto. Berangkat sehabis sholat isya\u2019, sampai di desa Prawoto jam 19.45 WIB acara dbelum di mulai menunggu group rebana dari bapak-bapak polisi Polres Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Disaat-saat senggang tersebut, aku manfaatkan ngobrol dengan penduduk dan tokoh Ulama\u2019 setempat. Ternyata mereka selain punya warisan seni ketoprak juga punya kebudayaan menghisap rokok kretek. Selain rokok kretek mereka tidak mau. Karena budaya merokok kretek diyakini warisan leluhurnya. Jarang sekali orang-orang tua yang tidak merokok, terlihat tidak memegang dan membawa rokok kretek kebanyakan anak-anak usia sekolah. Sambil ngobrol mengupas sedikit sejarah Sunan Prawoto kita merokok kretek bersama. Dengan merokok kretek suasana santai dan keakraban terbentuk di serambi masjid Sunan Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Kebetulan posisiku duduk bersebelahan dengan salah satu tokoh juga Ulama\u2019 Prawoto. Umurnya sudah tergolong dapat bonus 16 tahun dati Tuhan. Itulah jawabannya saat aku tanya usianya berapa. Karena pingin tau, aku tanya kembali persisnya usia berapa, beliau menjawab diatas rata-rata umumnya usia manusia (60 tahun) yaitu 76 tahun. Ia menjawab sambil tersenyum dan memegang rokok kretek yang telah disulut, ia adalah Mbah Sholeh (nama samara).<\/p>\n\n\n\n

Saat menjawab, akupun terkaget, karena prediksiku umur sekitaran 50an. Raup wajahnya bersih, badannya terlihat sehat dan terlihat energik, tidak mau kalah dengan bapak-bapak lainnya yang saat itu ikut ngobrol yang rata-rata umur 48-60 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Akhirnya akupun penasaran, dan kembali bertanya. Mbah apa resepnya kok masih terlihat muda?. Ia pun menjawab, jauhi makanan yang ada obat penyedap rasanya, makananlah bahan alami seperti daun-daunan. Sampai detik ini ia mengaku tidak makan makanan yang ada penyedap rasanya, kalau ditawari atau ada suguhan di depannya, ia memilih tidak akan memakannya. Juga kalau ditawari dan disuguhi minuman yang bergula. Ia pun demikian menghindari. Kata masyarakat lainnya yang ikut ngobrol, Mbah Sholeh itu hidup sehat.<\/p>\n\n\n\n

Celetukan tersebut disikapi Mbah Sholeh  dengan senyuman dan sambil mengeluarkan asap rokok kretek dari mulutnya dan hidupnya. Kemudian aku bertanya lagi, kenapa Mbah merokok?. Ia pun tersenyum sambil menyedot kembali rokok kreteknya dengan menjawab, kalau merokok kretek membuat ia bahagia, dengan kondisi bahagia ini orang jadi awet muda. Kalau merokok membuat semangat, dengan semangat orang jadi giat dan kuat. Ia juga menceritakan memulai merokok kretek saat sudah Islam. Kata Islam disini bukan berarti saat masuk Islam, akan tetapi yang dimaksud saat sudah khitan atau usia baliq. Dahulu setelah ia dikhitan, bapaknya menyuruhnya merokok sebagai tanda sudah dewasa. <\/p>\n\n\n\n

Inilah pengakuan Mbah Sholeh, ternyata wajah yang bersih berseri, awet muda, fisiknya kuat dan energik, salah satu rahasinya adalah berbahagia dan giat. Agar bahagia dan giat ia selalu mengkonsumsi rokok kretek dan meninggalkan makanan dengan penyedap rasa.   
<\/p>\n","post_title":"Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bikin-awet-muda-dan-energik-rahasia-di-balik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-30 10:40:00","post_modified_gmt":"2019-09-30 03:40:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6112","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6101,"post_author":"877","post_date":"2019-09-26 10:08:08","post_date_gmt":"2019-09-26 03:08:08","post_content":"\n

Masa panen adalah saat yang dinanti-nanti petani tembakau. Tentunya harapan petani, tanaman tembakaunaya tumbuh dengan baik, kualitas bagus dan jumlahnya banyak, serta harganya bagus. Di saat tanaman tembakaunya bagus, baik kualitas dan kuantitasnya, biasanya diikuti dengan harga bagus pula. Namun tidak bisa dipastikan, karena masalah harga tidak bisa petani serta merta yang menentukan, ada faktor yang sanagat kompleks. Yaitu situasi dan kondisi sektor pertembakauan di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Rerata jenjang pendidikan masyarakat Prawoto maksimal tingkat SMA, hanya ada beberapa glintir yang samapi jenjang sarjana dan ada satu orang menjadi guru besar di UGM, namun sudah lama menetap di Yogyakarta, dan jarang pulang. Anehnya, walaupun rata-rata lulusan jenjang SMA, kemampuan dan skill mereka tak kalah dengan yang sarjana bahkan mentalnya pun demikian. Hal itu dapat dilihat dari cara bicara, cara berorganisasi, dan pola pikir maju seperti halnya sarjana. Itulah sekilah cerita tentang Prawoto.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke undangan, setelah aku baca, ternyata undangan tersebut sekaligus perintah dari pengurus YM3SK untuk mewakili datang di acara Haul Sunan Prawoto yang dilaksanakan di hari dan tanggal itu juga jam 19.00 WIB. Walaupun terkesan mendadak tidak seperti biasa jauh-jauh hari sudah ada pemberitahuan, seperti saat acara haul Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Ampel. Akhirnya tetap datang di acara haul Sunan Prawoto dengan berkoordinasi dan mengajak dengan teman-teman di dekat desa Prawoto. Berangkat sehabis sholat isya\u2019, sampai di desa Prawoto jam 19.45 WIB acara dbelum di mulai menunggu group rebana dari bapak-bapak polisi Polres Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Disaat-saat senggang tersebut, aku manfaatkan ngobrol dengan penduduk dan tokoh Ulama\u2019 setempat. Ternyata mereka selain punya warisan seni ketoprak juga punya kebudayaan menghisap rokok kretek. Selain rokok kretek mereka tidak mau. Karena budaya merokok kretek diyakini warisan leluhurnya. Jarang sekali orang-orang tua yang tidak merokok, terlihat tidak memegang dan membawa rokok kretek kebanyakan anak-anak usia sekolah. Sambil ngobrol mengupas sedikit sejarah Sunan Prawoto kita merokok kretek bersama. Dengan merokok kretek suasana santai dan keakraban terbentuk di serambi masjid Sunan Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Kebetulan posisiku duduk bersebelahan dengan salah satu tokoh juga Ulama\u2019 Prawoto. Umurnya sudah tergolong dapat bonus 16 tahun dati Tuhan. Itulah jawabannya saat aku tanya usianya berapa. Karena pingin tau, aku tanya kembali persisnya usia berapa, beliau menjawab diatas rata-rata umumnya usia manusia (60 tahun) yaitu 76 tahun. Ia menjawab sambil tersenyum dan memegang rokok kretek yang telah disulut, ia adalah Mbah Sholeh (nama samara).<\/p>\n\n\n\n

Saat menjawab, akupun terkaget, karena prediksiku umur sekitaran 50an. Raup wajahnya bersih, badannya terlihat sehat dan terlihat energik, tidak mau kalah dengan bapak-bapak lainnya yang saat itu ikut ngobrol yang rata-rata umur 48-60 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Akhirnya akupun penasaran, dan kembali bertanya. Mbah apa resepnya kok masih terlihat muda?. Ia pun menjawab, jauhi makanan yang ada obat penyedap rasanya, makananlah bahan alami seperti daun-daunan. Sampai detik ini ia mengaku tidak makan makanan yang ada penyedap rasanya, kalau ditawari atau ada suguhan di depannya, ia memilih tidak akan memakannya. Juga kalau ditawari dan disuguhi minuman yang bergula. Ia pun demikian menghindari. Kata masyarakat lainnya yang ikut ngobrol, Mbah Sholeh itu hidup sehat.<\/p>\n\n\n\n

Celetukan tersebut disikapi Mbah Sholeh  dengan senyuman dan sambil mengeluarkan asap rokok kretek dari mulutnya dan hidupnya. Kemudian aku bertanya lagi, kenapa Mbah merokok?. Ia pun tersenyum sambil menyedot kembali rokok kreteknya dengan menjawab, kalau merokok kretek membuat ia bahagia, dengan kondisi bahagia ini orang jadi awet muda. Kalau merokok membuat semangat, dengan semangat orang jadi giat dan kuat. Ia juga menceritakan memulai merokok kretek saat sudah Islam. Kata Islam disini bukan berarti saat masuk Islam, akan tetapi yang dimaksud saat sudah khitan atau usia baliq. Dahulu setelah ia dikhitan, bapaknya menyuruhnya merokok sebagai tanda sudah dewasa. <\/p>\n\n\n\n

Inilah pengakuan Mbah Sholeh, ternyata wajah yang bersih berseri, awet muda, fisiknya kuat dan energik, salah satu rahasinya adalah berbahagia dan giat. Agar bahagia dan giat ia selalu mengkonsumsi rokok kretek dan meninggalkan makanan dengan penyedap rasa.   
<\/p>\n","post_title":"Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bikin-awet-muda-dan-energik-rahasia-di-balik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-30 10:40:00","post_modified_gmt":"2019-09-30 03:40:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6112","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6101,"post_author":"877","post_date":"2019-09-26 10:08:08","post_date_gmt":"2019-09-26 03:08:08","post_content":"\n

Masa panen adalah saat yang dinanti-nanti petani tembakau. Tentunya harapan petani, tanaman tembakaunaya tumbuh dengan baik, kualitas bagus dan jumlahnya banyak, serta harganya bagus. Di saat tanaman tembakaunya bagus, baik kualitas dan kuantitasnya, biasanya diikuti dengan harga bagus pula. Namun tidak bisa dipastikan, karena masalah harga tidak bisa petani serta merta yang menentukan, ada faktor yang sanagat kompleks. Yaitu situasi dan kondisi sektor pertembakauan di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di Desa Prawoto terdapat dua makam Sunan Prawoto, di daerah bawah dan di daerah atas istilah masyarakat menamainya. Terlepas mana yang benar Makam Sunan Prawoto tergantung keyakinan individu. Menurut arkeolog UGM yang saat itu ikut menjelaskan, bahwa yang dibawah adalah peninggalan situs dan yang di atas dari dulu berupa makam yang dikenal dengan makam Tabek. <\/p>\n\n\n\n

Rerata jenjang pendidikan masyarakat Prawoto maksimal tingkat SMA, hanya ada beberapa glintir yang samapi jenjang sarjana dan ada satu orang menjadi guru besar di UGM, namun sudah lama menetap di Yogyakarta, dan jarang pulang. Anehnya, walaupun rata-rata lulusan jenjang SMA, kemampuan dan skill mereka tak kalah dengan yang sarjana bahkan mentalnya pun demikian. Hal itu dapat dilihat dari cara bicara, cara berorganisasi, dan pola pikir maju seperti halnya sarjana. Itulah sekilah cerita tentang Prawoto.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke undangan, setelah aku baca, ternyata undangan tersebut sekaligus perintah dari pengurus YM3SK untuk mewakili datang di acara Haul Sunan Prawoto yang dilaksanakan di hari dan tanggal itu juga jam 19.00 WIB. Walaupun terkesan mendadak tidak seperti biasa jauh-jauh hari sudah ada pemberitahuan, seperti saat acara haul Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Ampel. Akhirnya tetap datang di acara haul Sunan Prawoto dengan berkoordinasi dan mengajak dengan teman-teman di dekat desa Prawoto. Berangkat sehabis sholat isya\u2019, sampai di desa Prawoto jam 19.45 WIB acara dbelum di mulai menunggu group rebana dari bapak-bapak polisi Polres Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Disaat-saat senggang tersebut, aku manfaatkan ngobrol dengan penduduk dan tokoh Ulama\u2019 setempat. Ternyata mereka selain punya warisan seni ketoprak juga punya kebudayaan menghisap rokok kretek. Selain rokok kretek mereka tidak mau. Karena budaya merokok kretek diyakini warisan leluhurnya. Jarang sekali orang-orang tua yang tidak merokok, terlihat tidak memegang dan membawa rokok kretek kebanyakan anak-anak usia sekolah. Sambil ngobrol mengupas sedikit sejarah Sunan Prawoto kita merokok kretek bersama. Dengan merokok kretek suasana santai dan keakraban terbentuk di serambi masjid Sunan Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Kebetulan posisiku duduk bersebelahan dengan salah satu tokoh juga Ulama\u2019 Prawoto. Umurnya sudah tergolong dapat bonus 16 tahun dati Tuhan. Itulah jawabannya saat aku tanya usianya berapa. Karena pingin tau, aku tanya kembali persisnya usia berapa, beliau menjawab diatas rata-rata umumnya usia manusia (60 tahun) yaitu 76 tahun. Ia menjawab sambil tersenyum dan memegang rokok kretek yang telah disulut, ia adalah Mbah Sholeh (nama samara).<\/p>\n\n\n\n

Saat menjawab, akupun terkaget, karena prediksiku umur sekitaran 50an. Raup wajahnya bersih, badannya terlihat sehat dan terlihat energik, tidak mau kalah dengan bapak-bapak lainnya yang saat itu ikut ngobrol yang rata-rata umur 48-60 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Akhirnya akupun penasaran, dan kembali bertanya. Mbah apa resepnya kok masih terlihat muda?. Ia pun menjawab, jauhi makanan yang ada obat penyedap rasanya, makananlah bahan alami seperti daun-daunan. Sampai detik ini ia mengaku tidak makan makanan yang ada penyedap rasanya, kalau ditawari atau ada suguhan di depannya, ia memilih tidak akan memakannya. Juga kalau ditawari dan disuguhi minuman yang bergula. Ia pun demikian menghindari. Kata masyarakat lainnya yang ikut ngobrol, Mbah Sholeh itu hidup sehat.<\/p>\n\n\n\n

Celetukan tersebut disikapi Mbah Sholeh  dengan senyuman dan sambil mengeluarkan asap rokok kretek dari mulutnya dan hidupnya. Kemudian aku bertanya lagi, kenapa Mbah merokok?. Ia pun tersenyum sambil menyedot kembali rokok kreteknya dengan menjawab, kalau merokok kretek membuat ia bahagia, dengan kondisi bahagia ini orang jadi awet muda. Kalau merokok membuat semangat, dengan semangat orang jadi giat dan kuat. Ia juga menceritakan memulai merokok kretek saat sudah Islam. Kata Islam disini bukan berarti saat masuk Islam, akan tetapi yang dimaksud saat sudah khitan atau usia baliq. Dahulu setelah ia dikhitan, bapaknya menyuruhnya merokok sebagai tanda sudah dewasa. <\/p>\n\n\n\n

Inilah pengakuan Mbah Sholeh, ternyata wajah yang bersih berseri, awet muda, fisiknya kuat dan energik, salah satu rahasinya adalah berbahagia dan giat. Agar bahagia dan giat ia selalu mengkonsumsi rokok kretek dan meninggalkan makanan dengan penyedap rasa.   
<\/p>\n","post_title":"Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bikin-awet-muda-dan-energik-rahasia-di-balik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-30 10:40:00","post_modified_gmt":"2019-09-30 03:40:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6112","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6101,"post_author":"877","post_date":"2019-09-26 10:08:08","post_date_gmt":"2019-09-26 03:08:08","post_content":"\n

Masa panen adalah saat yang dinanti-nanti petani tembakau. Tentunya harapan petani, tanaman tembakaunaya tumbuh dengan baik, kualitas bagus dan jumlahnya banyak, serta harganya bagus. Di saat tanaman tembakaunya bagus, baik kualitas dan kuantitasnya, biasanya diikuti dengan harga bagus pula. Namun tidak bisa dipastikan, karena masalah harga tidak bisa petani serta merta yang menentukan, ada faktor yang sanagat kompleks. Yaitu situasi dan kondisi sektor pertembakauan di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada masa penjajahan Belanda, Desa Prawoto di fungsikan sebagai distrik Karesidenan yang membawai daerah Pati sampai perbatasan Tuban Jawa Timur, Kudus, Jepara bahkan Demak. Sampai sekarang perkantoran Karesidenan warisan Belanda masih berdiri kokoh dan sebagian difungsikan untuk kepentingan Desa. Tidak hanya itu, di tengah-tengah desa terdapat semacam alun-alun kecil dengan kolam air besar yang konon juga peninggalan Belanda. Tidak sedikit yang berpendapat kolam tersebut peninggalan jauh sebelum Belanda, alias peninggalan Sunan Prawoto. Sehingga, kolam tersebut sering dibuat mandi para tokoh-tokoh dan Ulama\u2019 dari luar kota di Jawa, seperti Pekalongan, Batang, Kendal, Magelang, Solo dan lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Di Desa Prawoto terdapat dua makam Sunan Prawoto, di daerah bawah dan di daerah atas istilah masyarakat menamainya. Terlepas mana yang benar Makam Sunan Prawoto tergantung keyakinan individu. Menurut arkeolog UGM yang saat itu ikut menjelaskan, bahwa yang dibawah adalah peninggalan situs dan yang di atas dari dulu berupa makam yang dikenal dengan makam Tabek. <\/p>\n\n\n\n

Rerata jenjang pendidikan masyarakat Prawoto maksimal tingkat SMA, hanya ada beberapa glintir yang samapi jenjang sarjana dan ada satu orang menjadi guru besar di UGM, namun sudah lama menetap di Yogyakarta, dan jarang pulang. Anehnya, walaupun rata-rata lulusan jenjang SMA, kemampuan dan skill mereka tak kalah dengan yang sarjana bahkan mentalnya pun demikian. Hal itu dapat dilihat dari cara bicara, cara berorganisasi, dan pola pikir maju seperti halnya sarjana. Itulah sekilah cerita tentang Prawoto.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke undangan, setelah aku baca, ternyata undangan tersebut sekaligus perintah dari pengurus YM3SK untuk mewakili datang di acara Haul Sunan Prawoto yang dilaksanakan di hari dan tanggal itu juga jam 19.00 WIB. Walaupun terkesan mendadak tidak seperti biasa jauh-jauh hari sudah ada pemberitahuan, seperti saat acara haul Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Ampel. Akhirnya tetap datang di acara haul Sunan Prawoto dengan berkoordinasi dan mengajak dengan teman-teman di dekat desa Prawoto. Berangkat sehabis sholat isya\u2019, sampai di desa Prawoto jam 19.45 WIB acara dbelum di mulai menunggu group rebana dari bapak-bapak polisi Polres Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Disaat-saat senggang tersebut, aku manfaatkan ngobrol dengan penduduk dan tokoh Ulama\u2019 setempat. Ternyata mereka selain punya warisan seni ketoprak juga punya kebudayaan menghisap rokok kretek. Selain rokok kretek mereka tidak mau. Karena budaya merokok kretek diyakini warisan leluhurnya. Jarang sekali orang-orang tua yang tidak merokok, terlihat tidak memegang dan membawa rokok kretek kebanyakan anak-anak usia sekolah. Sambil ngobrol mengupas sedikit sejarah Sunan Prawoto kita merokok kretek bersama. Dengan merokok kretek suasana santai dan keakraban terbentuk di serambi masjid Sunan Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Kebetulan posisiku duduk bersebelahan dengan salah satu tokoh juga Ulama\u2019 Prawoto. Umurnya sudah tergolong dapat bonus 16 tahun dati Tuhan. Itulah jawabannya saat aku tanya usianya berapa. Karena pingin tau, aku tanya kembali persisnya usia berapa, beliau menjawab diatas rata-rata umumnya usia manusia (60 tahun) yaitu 76 tahun. Ia menjawab sambil tersenyum dan memegang rokok kretek yang telah disulut, ia adalah Mbah Sholeh (nama samara).<\/p>\n\n\n\n

Saat menjawab, akupun terkaget, karena prediksiku umur sekitaran 50an. Raup wajahnya bersih, badannya terlihat sehat dan terlihat energik, tidak mau kalah dengan bapak-bapak lainnya yang saat itu ikut ngobrol yang rata-rata umur 48-60 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Akhirnya akupun penasaran, dan kembali bertanya. Mbah apa resepnya kok masih terlihat muda?. Ia pun menjawab, jauhi makanan yang ada obat penyedap rasanya, makananlah bahan alami seperti daun-daunan. Sampai detik ini ia mengaku tidak makan makanan yang ada penyedap rasanya, kalau ditawari atau ada suguhan di depannya, ia memilih tidak akan memakannya. Juga kalau ditawari dan disuguhi minuman yang bergula. Ia pun demikian menghindari. Kata masyarakat lainnya yang ikut ngobrol, Mbah Sholeh itu hidup sehat.<\/p>\n\n\n\n

Celetukan tersebut disikapi Mbah Sholeh  dengan senyuman dan sambil mengeluarkan asap rokok kretek dari mulutnya dan hidupnya. Kemudian aku bertanya lagi, kenapa Mbah merokok?. Ia pun tersenyum sambil menyedot kembali rokok kreteknya dengan menjawab, kalau merokok kretek membuat ia bahagia, dengan kondisi bahagia ini orang jadi awet muda. Kalau merokok membuat semangat, dengan semangat orang jadi giat dan kuat. Ia juga menceritakan memulai merokok kretek saat sudah Islam. Kata Islam disini bukan berarti saat masuk Islam, akan tetapi yang dimaksud saat sudah khitan atau usia baliq. Dahulu setelah ia dikhitan, bapaknya menyuruhnya merokok sebagai tanda sudah dewasa. <\/p>\n\n\n\n

Inilah pengakuan Mbah Sholeh, ternyata wajah yang bersih berseri, awet muda, fisiknya kuat dan energik, salah satu rahasinya adalah berbahagia dan giat. Agar bahagia dan giat ia selalu mengkonsumsi rokok kretek dan meninggalkan makanan dengan penyedap rasa.   
<\/p>\n","post_title":"Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bikin-awet-muda-dan-energik-rahasia-di-balik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-30 10:40:00","post_modified_gmt":"2019-09-30 03:40:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6112","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6101,"post_author":"877","post_date":"2019-09-26 10:08:08","post_date_gmt":"2019-09-26 03:08:08","post_content":"\n

Masa panen adalah saat yang dinanti-nanti petani tembakau. Tentunya harapan petani, tanaman tembakaunaya tumbuh dengan baik, kualitas bagus dan jumlahnya banyak, serta harganya bagus. Di saat tanaman tembakaunya bagus, baik kualitas dan kuantitasnya, biasanya diikuti dengan harga bagus pula. Namun tidak bisa dipastikan, karena masalah harga tidak bisa petani serta merta yang menentukan, ada faktor yang sanagat kompleks. Yaitu situasi dan kondisi sektor pertembakauan di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saat ini Desa Prawoto adalah desa perbukitan, dengan hawa yang tidak terlalu dingin saat malam hari dan tidak terlalu panas pada siang hari. Walaupun hanya perbukitan, di Prawoto masih banyak pohon-pohon besar dan hijau memberikan kesejukan. Saat malam tiba, dari perbukitan Prawoto nampak jelas wilayah kota Kudus. Memang daerah Prowoto lebih dekat dengan kota Kudus dari pada Kota Pati. Bahkan budaya dan adat istiadatnya pun kental dengan budaya keKudusan. Sebagian besar masyarakat Prawoto aktifitas seharinya kewilayah Kudus, seperti bekerja, berdagang, pergi kepasar, sekolah, bahkan samapi memanfaatkan fasilitas ATM mereka memilih ke Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa penjajahan Belanda, Desa Prawoto di fungsikan sebagai distrik Karesidenan yang membawai daerah Pati sampai perbatasan Tuban Jawa Timur, Kudus, Jepara bahkan Demak. Sampai sekarang perkantoran Karesidenan warisan Belanda masih berdiri kokoh dan sebagian difungsikan untuk kepentingan Desa. Tidak hanya itu, di tengah-tengah desa terdapat semacam alun-alun kecil dengan kolam air besar yang konon juga peninggalan Belanda. Tidak sedikit yang berpendapat kolam tersebut peninggalan jauh sebelum Belanda, alias peninggalan Sunan Prawoto. Sehingga, kolam tersebut sering dibuat mandi para tokoh-tokoh dan Ulama\u2019 dari luar kota di Jawa, seperti Pekalongan, Batang, Kendal, Magelang, Solo dan lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Di Desa Prawoto terdapat dua makam Sunan Prawoto, di daerah bawah dan di daerah atas istilah masyarakat menamainya. Terlepas mana yang benar Makam Sunan Prawoto tergantung keyakinan individu. Menurut arkeolog UGM yang saat itu ikut menjelaskan, bahwa yang dibawah adalah peninggalan situs dan yang di atas dari dulu berupa makam yang dikenal dengan makam Tabek. <\/p>\n\n\n\n

Rerata jenjang pendidikan masyarakat Prawoto maksimal tingkat SMA, hanya ada beberapa glintir yang samapi jenjang sarjana dan ada satu orang menjadi guru besar di UGM, namun sudah lama menetap di Yogyakarta, dan jarang pulang. Anehnya, walaupun rata-rata lulusan jenjang SMA, kemampuan dan skill mereka tak kalah dengan yang sarjana bahkan mentalnya pun demikian. Hal itu dapat dilihat dari cara bicara, cara berorganisasi, dan pola pikir maju seperti halnya sarjana. Itulah sekilah cerita tentang Prawoto.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke undangan, setelah aku baca, ternyata undangan tersebut sekaligus perintah dari pengurus YM3SK untuk mewakili datang di acara Haul Sunan Prawoto yang dilaksanakan di hari dan tanggal itu juga jam 19.00 WIB. Walaupun terkesan mendadak tidak seperti biasa jauh-jauh hari sudah ada pemberitahuan, seperti saat acara haul Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Ampel. Akhirnya tetap datang di acara haul Sunan Prawoto dengan berkoordinasi dan mengajak dengan teman-teman di dekat desa Prawoto. Berangkat sehabis sholat isya\u2019, sampai di desa Prawoto jam 19.45 WIB acara dbelum di mulai menunggu group rebana dari bapak-bapak polisi Polres Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Disaat-saat senggang tersebut, aku manfaatkan ngobrol dengan penduduk dan tokoh Ulama\u2019 setempat. Ternyata mereka selain punya warisan seni ketoprak juga punya kebudayaan menghisap rokok kretek. Selain rokok kretek mereka tidak mau. Karena budaya merokok kretek diyakini warisan leluhurnya. Jarang sekali orang-orang tua yang tidak merokok, terlihat tidak memegang dan membawa rokok kretek kebanyakan anak-anak usia sekolah. Sambil ngobrol mengupas sedikit sejarah Sunan Prawoto kita merokok kretek bersama. Dengan merokok kretek suasana santai dan keakraban terbentuk di serambi masjid Sunan Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Kebetulan posisiku duduk bersebelahan dengan salah satu tokoh juga Ulama\u2019 Prawoto. Umurnya sudah tergolong dapat bonus 16 tahun dati Tuhan. Itulah jawabannya saat aku tanya usianya berapa. Karena pingin tau, aku tanya kembali persisnya usia berapa, beliau menjawab diatas rata-rata umumnya usia manusia (60 tahun) yaitu 76 tahun. Ia menjawab sambil tersenyum dan memegang rokok kretek yang telah disulut, ia adalah Mbah Sholeh (nama samara).<\/p>\n\n\n\n

Saat menjawab, akupun terkaget, karena prediksiku umur sekitaran 50an. Raup wajahnya bersih, badannya terlihat sehat dan terlihat energik, tidak mau kalah dengan bapak-bapak lainnya yang saat itu ikut ngobrol yang rata-rata umur 48-60 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Akhirnya akupun penasaran, dan kembali bertanya. Mbah apa resepnya kok masih terlihat muda?. Ia pun menjawab, jauhi makanan yang ada obat penyedap rasanya, makananlah bahan alami seperti daun-daunan. Sampai detik ini ia mengaku tidak makan makanan yang ada penyedap rasanya, kalau ditawari atau ada suguhan di depannya, ia memilih tidak akan memakannya. Juga kalau ditawari dan disuguhi minuman yang bergula. Ia pun demikian menghindari. Kata masyarakat lainnya yang ikut ngobrol, Mbah Sholeh itu hidup sehat.<\/p>\n\n\n\n

Celetukan tersebut disikapi Mbah Sholeh  dengan senyuman dan sambil mengeluarkan asap rokok kretek dari mulutnya dan hidupnya. Kemudian aku bertanya lagi, kenapa Mbah merokok?. Ia pun tersenyum sambil menyedot kembali rokok kreteknya dengan menjawab, kalau merokok kretek membuat ia bahagia, dengan kondisi bahagia ini orang jadi awet muda. Kalau merokok membuat semangat, dengan semangat orang jadi giat dan kuat. Ia juga menceritakan memulai merokok kretek saat sudah Islam. Kata Islam disini bukan berarti saat masuk Islam, akan tetapi yang dimaksud saat sudah khitan atau usia baliq. Dahulu setelah ia dikhitan, bapaknya menyuruhnya merokok sebagai tanda sudah dewasa. <\/p>\n\n\n\n

Inilah pengakuan Mbah Sholeh, ternyata wajah yang bersih berseri, awet muda, fisiknya kuat dan energik, salah satu rahasinya adalah berbahagia dan giat. Agar bahagia dan giat ia selalu mengkonsumsi rokok kretek dan meninggalkan makanan dengan penyedap rasa.   
<\/p>\n","post_title":"Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bikin-awet-muda-dan-energik-rahasia-di-balik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-30 10:40:00","post_modified_gmt":"2019-09-30 03:40:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6112","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6101,"post_author":"877","post_date":"2019-09-26 10:08:08","post_date_gmt":"2019-09-26 03:08:08","post_content":"\n

Masa panen adalah saat yang dinanti-nanti petani tembakau. Tentunya harapan petani, tanaman tembakaunaya tumbuh dengan baik, kualitas bagus dan jumlahnya banyak, serta harganya bagus. Di saat tanaman tembakaunya bagus, baik kualitas dan kuantitasnya, biasanya diikuti dengan harga bagus pula. Namun tidak bisa dipastikan, karena masalah harga tidak bisa petani serta merta yang menentukan, ada faktor yang sanagat kompleks. Yaitu situasi dan kondisi sektor pertembakauan di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sunan Prawoto adalah raja keempat dari Kesultanan Demak yang memerintah tahun 1546-1549. Nama lahirnya Raden Mukmin, seorang agamis dari keturunan Kerajaan Demak Bintoro. Putra Sulung Raja Demak Sultan Trenggono. Ia terkenal dengan sebutan Sunan Prawoto, karena daerah yang disinggahi hingga akhir wafatnya bernama Desa Prawoto dalam wilayah kabupaten Pati Jawa Tengah berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kudus bagian selatan. Konon Desa Prawoto sebagai Kerajaan Kecil setelah Kerajaan Demak hancur. Raden Mukmin inilah yang memboyong Kerajaan Demak ke Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Saat ini Desa Prawoto adalah desa perbukitan, dengan hawa yang tidak terlalu dingin saat malam hari dan tidak terlalu panas pada siang hari. Walaupun hanya perbukitan, di Prawoto masih banyak pohon-pohon besar dan hijau memberikan kesejukan. Saat malam tiba, dari perbukitan Prawoto nampak jelas wilayah kota Kudus. Memang daerah Prowoto lebih dekat dengan kota Kudus dari pada Kota Pati. Bahkan budaya dan adat istiadatnya pun kental dengan budaya keKudusan. Sebagian besar masyarakat Prawoto aktifitas seharinya kewilayah Kudus, seperti bekerja, berdagang, pergi kepasar, sekolah, bahkan samapi memanfaatkan fasilitas ATM mereka memilih ke Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa penjajahan Belanda, Desa Prawoto di fungsikan sebagai distrik Karesidenan yang membawai daerah Pati sampai perbatasan Tuban Jawa Timur, Kudus, Jepara bahkan Demak. Sampai sekarang perkantoran Karesidenan warisan Belanda masih berdiri kokoh dan sebagian difungsikan untuk kepentingan Desa. Tidak hanya itu, di tengah-tengah desa terdapat semacam alun-alun kecil dengan kolam air besar yang konon juga peninggalan Belanda. Tidak sedikit yang berpendapat kolam tersebut peninggalan jauh sebelum Belanda, alias peninggalan Sunan Prawoto. Sehingga, kolam tersebut sering dibuat mandi para tokoh-tokoh dan Ulama\u2019 dari luar kota di Jawa, seperti Pekalongan, Batang, Kendal, Magelang, Solo dan lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Di Desa Prawoto terdapat dua makam Sunan Prawoto, di daerah bawah dan di daerah atas istilah masyarakat menamainya. Terlepas mana yang benar Makam Sunan Prawoto tergantung keyakinan individu. Menurut arkeolog UGM yang saat itu ikut menjelaskan, bahwa yang dibawah adalah peninggalan situs dan yang di atas dari dulu berupa makam yang dikenal dengan makam Tabek. <\/p>\n\n\n\n

Rerata jenjang pendidikan masyarakat Prawoto maksimal tingkat SMA, hanya ada beberapa glintir yang samapi jenjang sarjana dan ada satu orang menjadi guru besar di UGM, namun sudah lama menetap di Yogyakarta, dan jarang pulang. Anehnya, walaupun rata-rata lulusan jenjang SMA, kemampuan dan skill mereka tak kalah dengan yang sarjana bahkan mentalnya pun demikian. Hal itu dapat dilihat dari cara bicara, cara berorganisasi, dan pola pikir maju seperti halnya sarjana. Itulah sekilah cerita tentang Prawoto.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke undangan, setelah aku baca, ternyata undangan tersebut sekaligus perintah dari pengurus YM3SK untuk mewakili datang di acara Haul Sunan Prawoto yang dilaksanakan di hari dan tanggal itu juga jam 19.00 WIB. Walaupun terkesan mendadak tidak seperti biasa jauh-jauh hari sudah ada pemberitahuan, seperti saat acara haul Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Ampel. Akhirnya tetap datang di acara haul Sunan Prawoto dengan berkoordinasi dan mengajak dengan teman-teman di dekat desa Prawoto. Berangkat sehabis sholat isya\u2019, sampai di desa Prawoto jam 19.45 WIB acara dbelum di mulai menunggu group rebana dari bapak-bapak polisi Polres Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Disaat-saat senggang tersebut, aku manfaatkan ngobrol dengan penduduk dan tokoh Ulama\u2019 setempat. Ternyata mereka selain punya warisan seni ketoprak juga punya kebudayaan menghisap rokok kretek. Selain rokok kretek mereka tidak mau. Karena budaya merokok kretek diyakini warisan leluhurnya. Jarang sekali orang-orang tua yang tidak merokok, terlihat tidak memegang dan membawa rokok kretek kebanyakan anak-anak usia sekolah. Sambil ngobrol mengupas sedikit sejarah Sunan Prawoto kita merokok kretek bersama. Dengan merokok kretek suasana santai dan keakraban terbentuk di serambi masjid Sunan Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Kebetulan posisiku duduk bersebelahan dengan salah satu tokoh juga Ulama\u2019 Prawoto. Umurnya sudah tergolong dapat bonus 16 tahun dati Tuhan. Itulah jawabannya saat aku tanya usianya berapa. Karena pingin tau, aku tanya kembali persisnya usia berapa, beliau menjawab diatas rata-rata umumnya usia manusia (60 tahun) yaitu 76 tahun. Ia menjawab sambil tersenyum dan memegang rokok kretek yang telah disulut, ia adalah Mbah Sholeh (nama samara).<\/p>\n\n\n\n

Saat menjawab, akupun terkaget, karena prediksiku umur sekitaran 50an. Raup wajahnya bersih, badannya terlihat sehat dan terlihat energik, tidak mau kalah dengan bapak-bapak lainnya yang saat itu ikut ngobrol yang rata-rata umur 48-60 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Akhirnya akupun penasaran, dan kembali bertanya. Mbah apa resepnya kok masih terlihat muda?. Ia pun menjawab, jauhi makanan yang ada obat penyedap rasanya, makananlah bahan alami seperti daun-daunan. Sampai detik ini ia mengaku tidak makan makanan yang ada penyedap rasanya, kalau ditawari atau ada suguhan di depannya, ia memilih tidak akan memakannya. Juga kalau ditawari dan disuguhi minuman yang bergula. Ia pun demikian menghindari. Kata masyarakat lainnya yang ikut ngobrol, Mbah Sholeh itu hidup sehat.<\/p>\n\n\n\n

Celetukan tersebut disikapi Mbah Sholeh  dengan senyuman dan sambil mengeluarkan asap rokok kretek dari mulutnya dan hidupnya. Kemudian aku bertanya lagi, kenapa Mbah merokok?. Ia pun tersenyum sambil menyedot kembali rokok kreteknya dengan menjawab, kalau merokok kretek membuat ia bahagia, dengan kondisi bahagia ini orang jadi awet muda. Kalau merokok membuat semangat, dengan semangat orang jadi giat dan kuat. Ia juga menceritakan memulai merokok kretek saat sudah Islam. Kata Islam disini bukan berarti saat masuk Islam, akan tetapi yang dimaksud saat sudah khitan atau usia baliq. Dahulu setelah ia dikhitan, bapaknya menyuruhnya merokok sebagai tanda sudah dewasa. <\/p>\n\n\n\n

Inilah pengakuan Mbah Sholeh, ternyata wajah yang bersih berseri, awet muda, fisiknya kuat dan energik, salah satu rahasinya adalah berbahagia dan giat. Agar bahagia dan giat ia selalu mengkonsumsi rokok kretek dan meninggalkan makanan dengan penyedap rasa.   
<\/p>\n","post_title":"Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bikin-awet-muda-dan-energik-rahasia-di-balik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-30 10:40:00","post_modified_gmt":"2019-09-30 03:40:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6112","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6101,"post_author":"877","post_date":"2019-09-26 10:08:08","post_date_gmt":"2019-09-26 03:08:08","post_content":"\n

Masa panen adalah saat yang dinanti-nanti petani tembakau. Tentunya harapan petani, tanaman tembakaunaya tumbuh dengan baik, kualitas bagus dan jumlahnya banyak, serta harganya bagus. Di saat tanaman tembakaunya bagus, baik kualitas dan kuantitasnya, biasanya diikuti dengan harga bagus pula. Namun tidak bisa dipastikan, karena masalah harga tidak bisa petani serta merta yang menentukan, ada faktor yang sanagat kompleks. Yaitu situasi dan kondisi sektor pertembakauan di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Undangan dari pengurus YM3SK aku masukkan ke kantong saku celana, kemudian lanjut pergi belanja. Walaupun hari sudah sore, panas matahari masih terasa, terlebih saat menyinari kulit yang tidak terbungkus kain pakaian. Seakan-akan hari itu matahari semangat menyinari bumi mengiringi musim kemarau. Sepulang dari belanja akupun menuju dapur mengambil gelas dan air minum. Sambil minum aku buka undangan tersebut dan aku baca. Ternyata undangan tersebut pemberitahuan ada acara pengajian dalam rangka Haul Agung Kanjeng Sunan Prawoto Raden Haryo Bagus Mu\u2019min atau biasa dipanggil Mbah Tabek.<\/p>\n\n\n\n

Sunan Prawoto adalah raja keempat dari Kesultanan Demak yang memerintah tahun 1546-1549. Nama lahirnya Raden Mukmin, seorang agamis dari keturunan Kerajaan Demak Bintoro. Putra Sulung Raja Demak Sultan Trenggono. Ia terkenal dengan sebutan Sunan Prawoto, karena daerah yang disinggahi hingga akhir wafatnya bernama Desa Prawoto dalam wilayah kabupaten Pati Jawa Tengah berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kudus bagian selatan. Konon Desa Prawoto sebagai Kerajaan Kecil setelah Kerajaan Demak hancur. Raden Mukmin inilah yang memboyong Kerajaan Demak ke Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Saat ini Desa Prawoto adalah desa perbukitan, dengan hawa yang tidak terlalu dingin saat malam hari dan tidak terlalu panas pada siang hari. Walaupun hanya perbukitan, di Prawoto masih banyak pohon-pohon besar dan hijau memberikan kesejukan. Saat malam tiba, dari perbukitan Prawoto nampak jelas wilayah kota Kudus. Memang daerah Prowoto lebih dekat dengan kota Kudus dari pada Kota Pati. Bahkan budaya dan adat istiadatnya pun kental dengan budaya keKudusan. Sebagian besar masyarakat Prawoto aktifitas seharinya kewilayah Kudus, seperti bekerja, berdagang, pergi kepasar, sekolah, bahkan samapi memanfaatkan fasilitas ATM mereka memilih ke Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa penjajahan Belanda, Desa Prawoto di fungsikan sebagai distrik Karesidenan yang membawai daerah Pati sampai perbatasan Tuban Jawa Timur, Kudus, Jepara bahkan Demak. Sampai sekarang perkantoran Karesidenan warisan Belanda masih berdiri kokoh dan sebagian difungsikan untuk kepentingan Desa. Tidak hanya itu, di tengah-tengah desa terdapat semacam alun-alun kecil dengan kolam air besar yang konon juga peninggalan Belanda. Tidak sedikit yang berpendapat kolam tersebut peninggalan jauh sebelum Belanda, alias peninggalan Sunan Prawoto. Sehingga, kolam tersebut sering dibuat mandi para tokoh-tokoh dan Ulama\u2019 dari luar kota di Jawa, seperti Pekalongan, Batang, Kendal, Magelang, Solo dan lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Di Desa Prawoto terdapat dua makam Sunan Prawoto, di daerah bawah dan di daerah atas istilah masyarakat menamainya. Terlepas mana yang benar Makam Sunan Prawoto tergantung keyakinan individu. Menurut arkeolog UGM yang saat itu ikut menjelaskan, bahwa yang dibawah adalah peninggalan situs dan yang di atas dari dulu berupa makam yang dikenal dengan makam Tabek. <\/p>\n\n\n\n

Rerata jenjang pendidikan masyarakat Prawoto maksimal tingkat SMA, hanya ada beberapa glintir yang samapi jenjang sarjana dan ada satu orang menjadi guru besar di UGM, namun sudah lama menetap di Yogyakarta, dan jarang pulang. Anehnya, walaupun rata-rata lulusan jenjang SMA, kemampuan dan skill mereka tak kalah dengan yang sarjana bahkan mentalnya pun demikian. Hal itu dapat dilihat dari cara bicara, cara berorganisasi, dan pola pikir maju seperti halnya sarjana. Itulah sekilah cerita tentang Prawoto.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke undangan, setelah aku baca, ternyata undangan tersebut sekaligus perintah dari pengurus YM3SK untuk mewakili datang di acara Haul Sunan Prawoto yang dilaksanakan di hari dan tanggal itu juga jam 19.00 WIB. Walaupun terkesan mendadak tidak seperti biasa jauh-jauh hari sudah ada pemberitahuan, seperti saat acara haul Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Ampel. Akhirnya tetap datang di acara haul Sunan Prawoto dengan berkoordinasi dan mengajak dengan teman-teman di dekat desa Prawoto. Berangkat sehabis sholat isya\u2019, sampai di desa Prawoto jam 19.45 WIB acara dbelum di mulai menunggu group rebana dari bapak-bapak polisi Polres Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Disaat-saat senggang tersebut, aku manfaatkan ngobrol dengan penduduk dan tokoh Ulama\u2019 setempat. Ternyata mereka selain punya warisan seni ketoprak juga punya kebudayaan menghisap rokok kretek. Selain rokok kretek mereka tidak mau. Karena budaya merokok kretek diyakini warisan leluhurnya. Jarang sekali orang-orang tua yang tidak merokok, terlihat tidak memegang dan membawa rokok kretek kebanyakan anak-anak usia sekolah. Sambil ngobrol mengupas sedikit sejarah Sunan Prawoto kita merokok kretek bersama. Dengan merokok kretek suasana santai dan keakraban terbentuk di serambi masjid Sunan Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Kebetulan posisiku duduk bersebelahan dengan salah satu tokoh juga Ulama\u2019 Prawoto. Umurnya sudah tergolong dapat bonus 16 tahun dati Tuhan. Itulah jawabannya saat aku tanya usianya berapa. Karena pingin tau, aku tanya kembali persisnya usia berapa, beliau menjawab diatas rata-rata umumnya usia manusia (60 tahun) yaitu 76 tahun. Ia menjawab sambil tersenyum dan memegang rokok kretek yang telah disulut, ia adalah Mbah Sholeh (nama samara).<\/p>\n\n\n\n

Saat menjawab, akupun terkaget, karena prediksiku umur sekitaran 50an. Raup wajahnya bersih, badannya terlihat sehat dan terlihat energik, tidak mau kalah dengan bapak-bapak lainnya yang saat itu ikut ngobrol yang rata-rata umur 48-60 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Akhirnya akupun penasaran, dan kembali bertanya. Mbah apa resepnya kok masih terlihat muda?. Ia pun menjawab, jauhi makanan yang ada obat penyedap rasanya, makananlah bahan alami seperti daun-daunan. Sampai detik ini ia mengaku tidak makan makanan yang ada penyedap rasanya, kalau ditawari atau ada suguhan di depannya, ia memilih tidak akan memakannya. Juga kalau ditawari dan disuguhi minuman yang bergula. Ia pun demikian menghindari. Kata masyarakat lainnya yang ikut ngobrol, Mbah Sholeh itu hidup sehat.<\/p>\n\n\n\n

Celetukan tersebut disikapi Mbah Sholeh  dengan senyuman dan sambil mengeluarkan asap rokok kretek dari mulutnya dan hidupnya. Kemudian aku bertanya lagi, kenapa Mbah merokok?. Ia pun tersenyum sambil menyedot kembali rokok kreteknya dengan menjawab, kalau merokok kretek membuat ia bahagia, dengan kondisi bahagia ini orang jadi awet muda. Kalau merokok membuat semangat, dengan semangat orang jadi giat dan kuat. Ia juga menceritakan memulai merokok kretek saat sudah Islam. Kata Islam disini bukan berarti saat masuk Islam, akan tetapi yang dimaksud saat sudah khitan atau usia baliq. Dahulu setelah ia dikhitan, bapaknya menyuruhnya merokok sebagai tanda sudah dewasa. <\/p>\n\n\n\n

Inilah pengakuan Mbah Sholeh, ternyata wajah yang bersih berseri, awet muda, fisiknya kuat dan energik, salah satu rahasinya adalah berbahagia dan giat. Agar bahagia dan giat ia selalu mengkonsumsi rokok kretek dan meninggalkan makanan dengan penyedap rasa.   
<\/p>\n","post_title":"Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bikin-awet-muda-dan-energik-rahasia-di-balik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-30 10:40:00","post_modified_gmt":"2019-09-30 03:40:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6112","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6101,"post_author":"877","post_date":"2019-09-26 10:08:08","post_date_gmt":"2019-09-26 03:08:08","post_content":"\n

Masa panen adalah saat yang dinanti-nanti petani tembakau. Tentunya harapan petani, tanaman tembakaunaya tumbuh dengan baik, kualitas bagus dan jumlahnya banyak, serta harganya bagus. Di saat tanaman tembakaunya bagus, baik kualitas dan kuantitasnya, biasanya diikuti dengan harga bagus pula. Namun tidak bisa dipastikan, karena masalah harga tidak bisa petani serta merta yang menentukan, ada faktor yang sanagat kompleks. Yaitu situasi dan kondisi sektor pertembakauan di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sore itu sehabis ashar hari senin tanggal 23 September 2019, salah satu pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) menghampiriku sembari menyerahkan kertas undangan. Saat itu, aku sendiri sudah di atas motor mau bergegas pergi belanja untuk keperluan Mbah Pae panggilan akrab simbah KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus. Saat ini, beliau menjadi bapak masyarakat Kudus, sehingga banyak orang memanggilnya \u201cMbah Pae\u201d, putra dan cucunya pun memanggil demikian. <\/p>\n\n\n\n

Undangan dari pengurus YM3SK aku masukkan ke kantong saku celana, kemudian lanjut pergi belanja. Walaupun hari sudah sore, panas matahari masih terasa, terlebih saat menyinari kulit yang tidak terbungkus kain pakaian. Seakan-akan hari itu matahari semangat menyinari bumi mengiringi musim kemarau. Sepulang dari belanja akupun menuju dapur mengambil gelas dan air minum. Sambil minum aku buka undangan tersebut dan aku baca. Ternyata undangan tersebut pemberitahuan ada acara pengajian dalam rangka Haul Agung Kanjeng Sunan Prawoto Raden Haryo Bagus Mu\u2019min atau biasa dipanggil Mbah Tabek.<\/p>\n\n\n\n

Sunan Prawoto adalah raja keempat dari Kesultanan Demak yang memerintah tahun 1546-1549. Nama lahirnya Raden Mukmin, seorang agamis dari keturunan Kerajaan Demak Bintoro. Putra Sulung Raja Demak Sultan Trenggono. Ia terkenal dengan sebutan Sunan Prawoto, karena daerah yang disinggahi hingga akhir wafatnya bernama Desa Prawoto dalam wilayah kabupaten Pati Jawa Tengah berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kudus bagian selatan. Konon Desa Prawoto sebagai Kerajaan Kecil setelah Kerajaan Demak hancur. Raden Mukmin inilah yang memboyong Kerajaan Demak ke Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Saat ini Desa Prawoto adalah desa perbukitan, dengan hawa yang tidak terlalu dingin saat malam hari dan tidak terlalu panas pada siang hari. Walaupun hanya perbukitan, di Prawoto masih banyak pohon-pohon besar dan hijau memberikan kesejukan. Saat malam tiba, dari perbukitan Prawoto nampak jelas wilayah kota Kudus. Memang daerah Prowoto lebih dekat dengan kota Kudus dari pada Kota Pati. Bahkan budaya dan adat istiadatnya pun kental dengan budaya keKudusan. Sebagian besar masyarakat Prawoto aktifitas seharinya kewilayah Kudus, seperti bekerja, berdagang, pergi kepasar, sekolah, bahkan samapi memanfaatkan fasilitas ATM mereka memilih ke Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa penjajahan Belanda, Desa Prawoto di fungsikan sebagai distrik Karesidenan yang membawai daerah Pati sampai perbatasan Tuban Jawa Timur, Kudus, Jepara bahkan Demak. Sampai sekarang perkantoran Karesidenan warisan Belanda masih berdiri kokoh dan sebagian difungsikan untuk kepentingan Desa. Tidak hanya itu, di tengah-tengah desa terdapat semacam alun-alun kecil dengan kolam air besar yang konon juga peninggalan Belanda. Tidak sedikit yang berpendapat kolam tersebut peninggalan jauh sebelum Belanda, alias peninggalan Sunan Prawoto. Sehingga, kolam tersebut sering dibuat mandi para tokoh-tokoh dan Ulama\u2019 dari luar kota di Jawa, seperti Pekalongan, Batang, Kendal, Magelang, Solo dan lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Di Desa Prawoto terdapat dua makam Sunan Prawoto, di daerah bawah dan di daerah atas istilah masyarakat menamainya. Terlepas mana yang benar Makam Sunan Prawoto tergantung keyakinan individu. Menurut arkeolog UGM yang saat itu ikut menjelaskan, bahwa yang dibawah adalah peninggalan situs dan yang di atas dari dulu berupa makam yang dikenal dengan makam Tabek. <\/p>\n\n\n\n

Rerata jenjang pendidikan masyarakat Prawoto maksimal tingkat SMA, hanya ada beberapa glintir yang samapi jenjang sarjana dan ada satu orang menjadi guru besar di UGM, namun sudah lama menetap di Yogyakarta, dan jarang pulang. Anehnya, walaupun rata-rata lulusan jenjang SMA, kemampuan dan skill mereka tak kalah dengan yang sarjana bahkan mentalnya pun demikian. Hal itu dapat dilihat dari cara bicara, cara berorganisasi, dan pola pikir maju seperti halnya sarjana. Itulah sekilah cerita tentang Prawoto.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke undangan, setelah aku baca, ternyata undangan tersebut sekaligus perintah dari pengurus YM3SK untuk mewakili datang di acara Haul Sunan Prawoto yang dilaksanakan di hari dan tanggal itu juga jam 19.00 WIB. Walaupun terkesan mendadak tidak seperti biasa jauh-jauh hari sudah ada pemberitahuan, seperti saat acara haul Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Ampel. Akhirnya tetap datang di acara haul Sunan Prawoto dengan berkoordinasi dan mengajak dengan teman-teman di dekat desa Prawoto. Berangkat sehabis sholat isya\u2019, sampai di desa Prawoto jam 19.45 WIB acara dbelum di mulai menunggu group rebana dari bapak-bapak polisi Polres Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Disaat-saat senggang tersebut, aku manfaatkan ngobrol dengan penduduk dan tokoh Ulama\u2019 setempat. Ternyata mereka selain punya warisan seni ketoprak juga punya kebudayaan menghisap rokok kretek. Selain rokok kretek mereka tidak mau. Karena budaya merokok kretek diyakini warisan leluhurnya. Jarang sekali orang-orang tua yang tidak merokok, terlihat tidak memegang dan membawa rokok kretek kebanyakan anak-anak usia sekolah. Sambil ngobrol mengupas sedikit sejarah Sunan Prawoto kita merokok kretek bersama. Dengan merokok kretek suasana santai dan keakraban terbentuk di serambi masjid Sunan Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Kebetulan posisiku duduk bersebelahan dengan salah satu tokoh juga Ulama\u2019 Prawoto. Umurnya sudah tergolong dapat bonus 16 tahun dati Tuhan. Itulah jawabannya saat aku tanya usianya berapa. Karena pingin tau, aku tanya kembali persisnya usia berapa, beliau menjawab diatas rata-rata umumnya usia manusia (60 tahun) yaitu 76 tahun. Ia menjawab sambil tersenyum dan memegang rokok kretek yang telah disulut, ia adalah Mbah Sholeh (nama samara).<\/p>\n\n\n\n

Saat menjawab, akupun terkaget, karena prediksiku umur sekitaran 50an. Raup wajahnya bersih, badannya terlihat sehat dan terlihat energik, tidak mau kalah dengan bapak-bapak lainnya yang saat itu ikut ngobrol yang rata-rata umur 48-60 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Akhirnya akupun penasaran, dan kembali bertanya. Mbah apa resepnya kok masih terlihat muda?. Ia pun menjawab, jauhi makanan yang ada obat penyedap rasanya, makananlah bahan alami seperti daun-daunan. Sampai detik ini ia mengaku tidak makan makanan yang ada penyedap rasanya, kalau ditawari atau ada suguhan di depannya, ia memilih tidak akan memakannya. Juga kalau ditawari dan disuguhi minuman yang bergula. Ia pun demikian menghindari. Kata masyarakat lainnya yang ikut ngobrol, Mbah Sholeh itu hidup sehat.<\/p>\n\n\n\n

Celetukan tersebut disikapi Mbah Sholeh  dengan senyuman dan sambil mengeluarkan asap rokok kretek dari mulutnya dan hidupnya. Kemudian aku bertanya lagi, kenapa Mbah merokok?. Ia pun tersenyum sambil menyedot kembali rokok kreteknya dengan menjawab, kalau merokok kretek membuat ia bahagia, dengan kondisi bahagia ini orang jadi awet muda. Kalau merokok membuat semangat, dengan semangat orang jadi giat dan kuat. Ia juga menceritakan memulai merokok kretek saat sudah Islam. Kata Islam disini bukan berarti saat masuk Islam, akan tetapi yang dimaksud saat sudah khitan atau usia baliq. Dahulu setelah ia dikhitan, bapaknya menyuruhnya merokok sebagai tanda sudah dewasa. <\/p>\n\n\n\n

Inilah pengakuan Mbah Sholeh, ternyata wajah yang bersih berseri, awet muda, fisiknya kuat dan energik, salah satu rahasinya adalah berbahagia dan giat. Agar bahagia dan giat ia selalu mengkonsumsi rokok kretek dan meninggalkan makanan dengan penyedap rasa.   
<\/p>\n","post_title":"Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bikin-awet-muda-dan-energik-rahasia-di-balik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-30 10:40:00","post_modified_gmt":"2019-09-30 03:40:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6112","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6101,"post_author":"877","post_date":"2019-09-26 10:08:08","post_date_gmt":"2019-09-26 03:08:08","post_content":"\n

Masa panen adalah saat yang dinanti-nanti petani tembakau. Tentunya harapan petani, tanaman tembakaunaya tumbuh dengan baik, kualitas bagus dan jumlahnya banyak, serta harganya bagus. Di saat tanaman tembakaunya bagus, baik kualitas dan kuantitasnya, biasanya diikuti dengan harga bagus pula. Namun tidak bisa dipastikan, karena masalah harga tidak bisa petani serta merta yang menentukan, ada faktor yang sanagat kompleks. Yaitu situasi dan kondisi sektor pertembakauan di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Mbah Sholeh, salah satu tokoh di Desa Prawoto Pati Jawa Tengah, ia selalu mengkonsumsi rokok kretek untuk memacu gairah semangat hidupnya diusia menjelang senja. Usia boleh bertambah kepala tujuh, namun fisik tetap bugar, seger dan energik. <\/p>\n\n\n\n

Sore itu sehabis ashar hari senin tanggal 23 September 2019, salah satu pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) menghampiriku sembari menyerahkan kertas undangan. Saat itu, aku sendiri sudah di atas motor mau bergegas pergi belanja untuk keperluan Mbah Pae panggilan akrab simbah KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus. Saat ini, beliau menjadi bapak masyarakat Kudus, sehingga banyak orang memanggilnya \u201cMbah Pae\u201d, putra dan cucunya pun memanggil demikian. <\/p>\n\n\n\n

Undangan dari pengurus YM3SK aku masukkan ke kantong saku celana, kemudian lanjut pergi belanja. Walaupun hari sudah sore, panas matahari masih terasa, terlebih saat menyinari kulit yang tidak terbungkus kain pakaian. Seakan-akan hari itu matahari semangat menyinari bumi mengiringi musim kemarau. Sepulang dari belanja akupun menuju dapur mengambil gelas dan air minum. Sambil minum aku buka undangan tersebut dan aku baca. Ternyata undangan tersebut pemberitahuan ada acara pengajian dalam rangka Haul Agung Kanjeng Sunan Prawoto Raden Haryo Bagus Mu\u2019min atau biasa dipanggil Mbah Tabek.<\/p>\n\n\n\n

Sunan Prawoto adalah raja keempat dari Kesultanan Demak yang memerintah tahun 1546-1549. Nama lahirnya Raden Mukmin, seorang agamis dari keturunan Kerajaan Demak Bintoro. Putra Sulung Raja Demak Sultan Trenggono. Ia terkenal dengan sebutan Sunan Prawoto, karena daerah yang disinggahi hingga akhir wafatnya bernama Desa Prawoto dalam wilayah kabupaten Pati Jawa Tengah berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kudus bagian selatan. Konon Desa Prawoto sebagai Kerajaan Kecil setelah Kerajaan Demak hancur. Raden Mukmin inilah yang memboyong Kerajaan Demak ke Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Saat ini Desa Prawoto adalah desa perbukitan, dengan hawa yang tidak terlalu dingin saat malam hari dan tidak terlalu panas pada siang hari. Walaupun hanya perbukitan, di Prawoto masih banyak pohon-pohon besar dan hijau memberikan kesejukan. Saat malam tiba, dari perbukitan Prawoto nampak jelas wilayah kota Kudus. Memang daerah Prowoto lebih dekat dengan kota Kudus dari pada Kota Pati. Bahkan budaya dan adat istiadatnya pun kental dengan budaya keKudusan. Sebagian besar masyarakat Prawoto aktifitas seharinya kewilayah Kudus, seperti bekerja, berdagang, pergi kepasar, sekolah, bahkan samapi memanfaatkan fasilitas ATM mereka memilih ke Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa penjajahan Belanda, Desa Prawoto di fungsikan sebagai distrik Karesidenan yang membawai daerah Pati sampai perbatasan Tuban Jawa Timur, Kudus, Jepara bahkan Demak. Sampai sekarang perkantoran Karesidenan warisan Belanda masih berdiri kokoh dan sebagian difungsikan untuk kepentingan Desa. Tidak hanya itu, di tengah-tengah desa terdapat semacam alun-alun kecil dengan kolam air besar yang konon juga peninggalan Belanda. Tidak sedikit yang berpendapat kolam tersebut peninggalan jauh sebelum Belanda, alias peninggalan Sunan Prawoto. Sehingga, kolam tersebut sering dibuat mandi para tokoh-tokoh dan Ulama\u2019 dari luar kota di Jawa, seperti Pekalongan, Batang, Kendal, Magelang, Solo dan lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Di Desa Prawoto terdapat dua makam Sunan Prawoto, di daerah bawah dan di daerah atas istilah masyarakat menamainya. Terlepas mana yang benar Makam Sunan Prawoto tergantung keyakinan individu. Menurut arkeolog UGM yang saat itu ikut menjelaskan, bahwa yang dibawah adalah peninggalan situs dan yang di atas dari dulu berupa makam yang dikenal dengan makam Tabek. <\/p>\n\n\n\n

Rerata jenjang pendidikan masyarakat Prawoto maksimal tingkat SMA, hanya ada beberapa glintir yang samapi jenjang sarjana dan ada satu orang menjadi guru besar di UGM, namun sudah lama menetap di Yogyakarta, dan jarang pulang. Anehnya, walaupun rata-rata lulusan jenjang SMA, kemampuan dan skill mereka tak kalah dengan yang sarjana bahkan mentalnya pun demikian. Hal itu dapat dilihat dari cara bicara, cara berorganisasi, dan pola pikir maju seperti halnya sarjana. Itulah sekilah cerita tentang Prawoto.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke undangan, setelah aku baca, ternyata undangan tersebut sekaligus perintah dari pengurus YM3SK untuk mewakili datang di acara Haul Sunan Prawoto yang dilaksanakan di hari dan tanggal itu juga jam 19.00 WIB. Walaupun terkesan mendadak tidak seperti biasa jauh-jauh hari sudah ada pemberitahuan, seperti saat acara haul Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Ampel. Akhirnya tetap datang di acara haul Sunan Prawoto dengan berkoordinasi dan mengajak dengan teman-teman di dekat desa Prawoto. Berangkat sehabis sholat isya\u2019, sampai di desa Prawoto jam 19.45 WIB acara dbelum di mulai menunggu group rebana dari bapak-bapak polisi Polres Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Disaat-saat senggang tersebut, aku manfaatkan ngobrol dengan penduduk dan tokoh Ulama\u2019 setempat. Ternyata mereka selain punya warisan seni ketoprak juga punya kebudayaan menghisap rokok kretek. Selain rokok kretek mereka tidak mau. Karena budaya merokok kretek diyakini warisan leluhurnya. Jarang sekali orang-orang tua yang tidak merokok, terlihat tidak memegang dan membawa rokok kretek kebanyakan anak-anak usia sekolah. Sambil ngobrol mengupas sedikit sejarah Sunan Prawoto kita merokok kretek bersama. Dengan merokok kretek suasana santai dan keakraban terbentuk di serambi masjid Sunan Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Kebetulan posisiku duduk bersebelahan dengan salah satu tokoh juga Ulama\u2019 Prawoto. Umurnya sudah tergolong dapat bonus 16 tahun dati Tuhan. Itulah jawabannya saat aku tanya usianya berapa. Karena pingin tau, aku tanya kembali persisnya usia berapa, beliau menjawab diatas rata-rata umumnya usia manusia (60 tahun) yaitu 76 tahun. Ia menjawab sambil tersenyum dan memegang rokok kretek yang telah disulut, ia adalah Mbah Sholeh (nama samara).<\/p>\n\n\n\n

Saat menjawab, akupun terkaget, karena prediksiku umur sekitaran 50an. Raup wajahnya bersih, badannya terlihat sehat dan terlihat energik, tidak mau kalah dengan bapak-bapak lainnya yang saat itu ikut ngobrol yang rata-rata umur 48-60 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Akhirnya akupun penasaran, dan kembali bertanya. Mbah apa resepnya kok masih terlihat muda?. Ia pun menjawab, jauhi makanan yang ada obat penyedap rasanya, makananlah bahan alami seperti daun-daunan. Sampai detik ini ia mengaku tidak makan makanan yang ada penyedap rasanya, kalau ditawari atau ada suguhan di depannya, ia memilih tidak akan memakannya. Juga kalau ditawari dan disuguhi minuman yang bergula. Ia pun demikian menghindari. Kata masyarakat lainnya yang ikut ngobrol, Mbah Sholeh itu hidup sehat.<\/p>\n\n\n\n

Celetukan tersebut disikapi Mbah Sholeh  dengan senyuman dan sambil mengeluarkan asap rokok kretek dari mulutnya dan hidupnya. Kemudian aku bertanya lagi, kenapa Mbah merokok?. Ia pun tersenyum sambil menyedot kembali rokok kreteknya dengan menjawab, kalau merokok kretek membuat ia bahagia, dengan kondisi bahagia ini orang jadi awet muda. Kalau merokok membuat semangat, dengan semangat orang jadi giat dan kuat. Ia juga menceritakan memulai merokok kretek saat sudah Islam. Kata Islam disini bukan berarti saat masuk Islam, akan tetapi yang dimaksud saat sudah khitan atau usia baliq. Dahulu setelah ia dikhitan, bapaknya menyuruhnya merokok sebagai tanda sudah dewasa. <\/p>\n\n\n\n

Inilah pengakuan Mbah Sholeh, ternyata wajah yang bersih berseri, awet muda, fisiknya kuat dan energik, salah satu rahasinya adalah berbahagia dan giat. Agar bahagia dan giat ia selalu mengkonsumsi rokok kretek dan meninggalkan makanan dengan penyedap rasa.   
<\/p>\n","post_title":"Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bikin-awet-muda-dan-energik-rahasia-di-balik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-30 10:40:00","post_modified_gmt":"2019-09-30 03:40:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6112","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6101,"post_author":"877","post_date":"2019-09-26 10:08:08","post_date_gmt":"2019-09-26 03:08:08","post_content":"\n

Masa panen adalah saat yang dinanti-nanti petani tembakau. Tentunya harapan petani, tanaman tembakaunaya tumbuh dengan baik, kualitas bagus dan jumlahnya banyak, serta harganya bagus. Di saat tanaman tembakaunya bagus, baik kualitas dan kuantitasnya, biasanya diikuti dengan harga bagus pula. Namun tidak bisa dipastikan, karena masalah harga tidak bisa petani serta merta yang menentukan, ada faktor yang sanagat kompleks. Yaitu situasi dan kondisi sektor pertembakauan di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6112,"post_author":"877","post_date":"2019-09-30 10:39:53","post_date_gmt":"2019-09-30 03:39:53","post_content":"\n

Mbah Sholeh, salah satu tokoh di Desa Prawoto Pati Jawa Tengah, ia selalu mengkonsumsi rokok kretek untuk memacu gairah semangat hidupnya diusia menjelang senja. Usia boleh bertambah kepala tujuh, namun fisik tetap bugar, seger dan energik. <\/p>\n\n\n\n

Sore itu sehabis ashar hari senin tanggal 23 September 2019, salah satu pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) menghampiriku sembari menyerahkan kertas undangan. Saat itu, aku sendiri sudah di atas motor mau bergegas pergi belanja untuk keperluan Mbah Pae panggilan akrab simbah KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus. Saat ini, beliau menjadi bapak masyarakat Kudus, sehingga banyak orang memanggilnya \u201cMbah Pae\u201d, putra dan cucunya pun memanggil demikian. <\/p>\n\n\n\n

Undangan dari pengurus YM3SK aku masukkan ke kantong saku celana, kemudian lanjut pergi belanja. Walaupun hari sudah sore, panas matahari masih terasa, terlebih saat menyinari kulit yang tidak terbungkus kain pakaian. Seakan-akan hari itu matahari semangat menyinari bumi mengiringi musim kemarau. Sepulang dari belanja akupun menuju dapur mengambil gelas dan air minum. Sambil minum aku buka undangan tersebut dan aku baca. Ternyata undangan tersebut pemberitahuan ada acara pengajian dalam rangka Haul Agung Kanjeng Sunan Prawoto Raden Haryo Bagus Mu\u2019min atau biasa dipanggil Mbah Tabek.<\/p>\n\n\n\n

Sunan Prawoto adalah raja keempat dari Kesultanan Demak yang memerintah tahun 1546-1549. Nama lahirnya Raden Mukmin, seorang agamis dari keturunan Kerajaan Demak Bintoro. Putra Sulung Raja Demak Sultan Trenggono. Ia terkenal dengan sebutan Sunan Prawoto, karena daerah yang disinggahi hingga akhir wafatnya bernama Desa Prawoto dalam wilayah kabupaten Pati Jawa Tengah berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kudus bagian selatan. Konon Desa Prawoto sebagai Kerajaan Kecil setelah Kerajaan Demak hancur. Raden Mukmin inilah yang memboyong Kerajaan Demak ke Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Saat ini Desa Prawoto adalah desa perbukitan, dengan hawa yang tidak terlalu dingin saat malam hari dan tidak terlalu panas pada siang hari. Walaupun hanya perbukitan, di Prawoto masih banyak pohon-pohon besar dan hijau memberikan kesejukan. Saat malam tiba, dari perbukitan Prawoto nampak jelas wilayah kota Kudus. Memang daerah Prowoto lebih dekat dengan kota Kudus dari pada Kota Pati. Bahkan budaya dan adat istiadatnya pun kental dengan budaya keKudusan. Sebagian besar masyarakat Prawoto aktifitas seharinya kewilayah Kudus, seperti bekerja, berdagang, pergi kepasar, sekolah, bahkan samapi memanfaatkan fasilitas ATM mereka memilih ke Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa penjajahan Belanda, Desa Prawoto di fungsikan sebagai distrik Karesidenan yang membawai daerah Pati sampai perbatasan Tuban Jawa Timur, Kudus, Jepara bahkan Demak. Sampai sekarang perkantoran Karesidenan warisan Belanda masih berdiri kokoh dan sebagian difungsikan untuk kepentingan Desa. Tidak hanya itu, di tengah-tengah desa terdapat semacam alun-alun kecil dengan kolam air besar yang konon juga peninggalan Belanda. Tidak sedikit yang berpendapat kolam tersebut peninggalan jauh sebelum Belanda, alias peninggalan Sunan Prawoto. Sehingga, kolam tersebut sering dibuat mandi para tokoh-tokoh dan Ulama\u2019 dari luar kota di Jawa, seperti Pekalongan, Batang, Kendal, Magelang, Solo dan lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Di Desa Prawoto terdapat dua makam Sunan Prawoto, di daerah bawah dan di daerah atas istilah masyarakat menamainya. Terlepas mana yang benar Makam Sunan Prawoto tergantung keyakinan individu. Menurut arkeolog UGM yang saat itu ikut menjelaskan, bahwa yang dibawah adalah peninggalan situs dan yang di atas dari dulu berupa makam yang dikenal dengan makam Tabek. <\/p>\n\n\n\n

Rerata jenjang pendidikan masyarakat Prawoto maksimal tingkat SMA, hanya ada beberapa glintir yang samapi jenjang sarjana dan ada satu orang menjadi guru besar di UGM, namun sudah lama menetap di Yogyakarta, dan jarang pulang. Anehnya, walaupun rata-rata lulusan jenjang SMA, kemampuan dan skill mereka tak kalah dengan yang sarjana bahkan mentalnya pun demikian. Hal itu dapat dilihat dari cara bicara, cara berorganisasi, dan pola pikir maju seperti halnya sarjana. Itulah sekilah cerita tentang Prawoto.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke undangan, setelah aku baca, ternyata undangan tersebut sekaligus perintah dari pengurus YM3SK untuk mewakili datang di acara Haul Sunan Prawoto yang dilaksanakan di hari dan tanggal itu juga jam 19.00 WIB. Walaupun terkesan mendadak tidak seperti biasa jauh-jauh hari sudah ada pemberitahuan, seperti saat acara haul Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Ampel. Akhirnya tetap datang di acara haul Sunan Prawoto dengan berkoordinasi dan mengajak dengan teman-teman di dekat desa Prawoto. Berangkat sehabis sholat isya\u2019, sampai di desa Prawoto jam 19.45 WIB acara dbelum di mulai menunggu group rebana dari bapak-bapak polisi Polres Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Disaat-saat senggang tersebut, aku manfaatkan ngobrol dengan penduduk dan tokoh Ulama\u2019 setempat. Ternyata mereka selain punya warisan seni ketoprak juga punya kebudayaan menghisap rokok kretek. Selain rokok kretek mereka tidak mau. Karena budaya merokok kretek diyakini warisan leluhurnya. Jarang sekali orang-orang tua yang tidak merokok, terlihat tidak memegang dan membawa rokok kretek kebanyakan anak-anak usia sekolah. Sambil ngobrol mengupas sedikit sejarah Sunan Prawoto kita merokok kretek bersama. Dengan merokok kretek suasana santai dan keakraban terbentuk di serambi masjid Sunan Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Kebetulan posisiku duduk bersebelahan dengan salah satu tokoh juga Ulama\u2019 Prawoto. Umurnya sudah tergolong dapat bonus 16 tahun dati Tuhan. Itulah jawabannya saat aku tanya usianya berapa. Karena pingin tau, aku tanya kembali persisnya usia berapa, beliau menjawab diatas rata-rata umumnya usia manusia (60 tahun) yaitu 76 tahun. Ia menjawab sambil tersenyum dan memegang rokok kretek yang telah disulut, ia adalah Mbah Sholeh (nama samara).<\/p>\n\n\n\n

Saat menjawab, akupun terkaget, karena prediksiku umur sekitaran 50an. Raup wajahnya bersih, badannya terlihat sehat dan terlihat energik, tidak mau kalah dengan bapak-bapak lainnya yang saat itu ikut ngobrol yang rata-rata umur 48-60 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Akhirnya akupun penasaran, dan kembali bertanya. Mbah apa resepnya kok masih terlihat muda?. Ia pun menjawab, jauhi makanan yang ada obat penyedap rasanya, makananlah bahan alami seperti daun-daunan. Sampai detik ini ia mengaku tidak makan makanan yang ada penyedap rasanya, kalau ditawari atau ada suguhan di depannya, ia memilih tidak akan memakannya. Juga kalau ditawari dan disuguhi minuman yang bergula. Ia pun demikian menghindari. Kata masyarakat lainnya yang ikut ngobrol, Mbah Sholeh itu hidup sehat.<\/p>\n\n\n\n

Celetukan tersebut disikapi Mbah Sholeh  dengan senyuman dan sambil mengeluarkan asap rokok kretek dari mulutnya dan hidupnya. Kemudian aku bertanya lagi, kenapa Mbah merokok?. Ia pun tersenyum sambil menyedot kembali rokok kreteknya dengan menjawab, kalau merokok kretek membuat ia bahagia, dengan kondisi bahagia ini orang jadi awet muda. Kalau merokok membuat semangat, dengan semangat orang jadi giat dan kuat. Ia juga menceritakan memulai merokok kretek saat sudah Islam. Kata Islam disini bukan berarti saat masuk Islam, akan tetapi yang dimaksud saat sudah khitan atau usia baliq. Dahulu setelah ia dikhitan, bapaknya menyuruhnya merokok sebagai tanda sudah dewasa. <\/p>\n\n\n\n

Inilah pengakuan Mbah Sholeh, ternyata wajah yang bersih berseri, awet muda, fisiknya kuat dan energik, salah satu rahasinya adalah berbahagia dan giat. Agar bahagia dan giat ia selalu mengkonsumsi rokok kretek dan meninggalkan makanan dengan penyedap rasa.   
<\/p>\n","post_title":"Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bikin-awet-muda-dan-energik-rahasia-di-balik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-30 10:40:00","post_modified_gmt":"2019-09-30 03:40:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6112","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6101,"post_author":"877","post_date":"2019-09-26 10:08:08","post_date_gmt":"2019-09-26 03:08:08","post_content":"\n

Masa panen adalah saat yang dinanti-nanti petani tembakau. Tentunya harapan petani, tanaman tembakaunaya tumbuh dengan baik, kualitas bagus dan jumlahnya banyak, serta harganya bagus. Di saat tanaman tembakaunya bagus, baik kualitas dan kuantitasnya, biasanya diikuti dengan harga bagus pula. Namun tidak bisa dipastikan, karena masalah harga tidak bisa petani serta merta yang menentukan, ada faktor yang sanagat kompleks. Yaitu situasi dan kondisi sektor pertembakauan di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6112,"post_author":"877","post_date":"2019-09-30 10:39:53","post_date_gmt":"2019-09-30 03:39:53","post_content":"\n

Mbah Sholeh, salah satu tokoh di Desa Prawoto Pati Jawa Tengah, ia selalu mengkonsumsi rokok kretek untuk memacu gairah semangat hidupnya diusia menjelang senja. Usia boleh bertambah kepala tujuh, namun fisik tetap bugar, seger dan energik. <\/p>\n\n\n\n

Sore itu sehabis ashar hari senin tanggal 23 September 2019, salah satu pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) menghampiriku sembari menyerahkan kertas undangan. Saat itu, aku sendiri sudah di atas motor mau bergegas pergi belanja untuk keperluan Mbah Pae panggilan akrab simbah KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus. Saat ini, beliau menjadi bapak masyarakat Kudus, sehingga banyak orang memanggilnya \u201cMbah Pae\u201d, putra dan cucunya pun memanggil demikian. <\/p>\n\n\n\n

Undangan dari pengurus YM3SK aku masukkan ke kantong saku celana, kemudian lanjut pergi belanja. Walaupun hari sudah sore, panas matahari masih terasa, terlebih saat menyinari kulit yang tidak terbungkus kain pakaian. Seakan-akan hari itu matahari semangat menyinari bumi mengiringi musim kemarau. Sepulang dari belanja akupun menuju dapur mengambil gelas dan air minum. Sambil minum aku buka undangan tersebut dan aku baca. Ternyata undangan tersebut pemberitahuan ada acara pengajian dalam rangka Haul Agung Kanjeng Sunan Prawoto Raden Haryo Bagus Mu\u2019min atau biasa dipanggil Mbah Tabek.<\/p>\n\n\n\n

Sunan Prawoto adalah raja keempat dari Kesultanan Demak yang memerintah tahun 1546-1549. Nama lahirnya Raden Mukmin, seorang agamis dari keturunan Kerajaan Demak Bintoro. Putra Sulung Raja Demak Sultan Trenggono. Ia terkenal dengan sebutan Sunan Prawoto, karena daerah yang disinggahi hingga akhir wafatnya bernama Desa Prawoto dalam wilayah kabupaten Pati Jawa Tengah berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kudus bagian selatan. Konon Desa Prawoto sebagai Kerajaan Kecil setelah Kerajaan Demak hancur. Raden Mukmin inilah yang memboyong Kerajaan Demak ke Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Saat ini Desa Prawoto adalah desa perbukitan, dengan hawa yang tidak terlalu dingin saat malam hari dan tidak terlalu panas pada siang hari. Walaupun hanya perbukitan, di Prawoto masih banyak pohon-pohon besar dan hijau memberikan kesejukan. Saat malam tiba, dari perbukitan Prawoto nampak jelas wilayah kota Kudus. Memang daerah Prowoto lebih dekat dengan kota Kudus dari pada Kota Pati. Bahkan budaya dan adat istiadatnya pun kental dengan budaya keKudusan. Sebagian besar masyarakat Prawoto aktifitas seharinya kewilayah Kudus, seperti bekerja, berdagang, pergi kepasar, sekolah, bahkan samapi memanfaatkan fasilitas ATM mereka memilih ke Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa penjajahan Belanda, Desa Prawoto di fungsikan sebagai distrik Karesidenan yang membawai daerah Pati sampai perbatasan Tuban Jawa Timur, Kudus, Jepara bahkan Demak. Sampai sekarang perkantoran Karesidenan warisan Belanda masih berdiri kokoh dan sebagian difungsikan untuk kepentingan Desa. Tidak hanya itu, di tengah-tengah desa terdapat semacam alun-alun kecil dengan kolam air besar yang konon juga peninggalan Belanda. Tidak sedikit yang berpendapat kolam tersebut peninggalan jauh sebelum Belanda, alias peninggalan Sunan Prawoto. Sehingga, kolam tersebut sering dibuat mandi para tokoh-tokoh dan Ulama\u2019 dari luar kota di Jawa, seperti Pekalongan, Batang, Kendal, Magelang, Solo dan lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Di Desa Prawoto terdapat dua makam Sunan Prawoto, di daerah bawah dan di daerah atas istilah masyarakat menamainya. Terlepas mana yang benar Makam Sunan Prawoto tergantung keyakinan individu. Menurut arkeolog UGM yang saat itu ikut menjelaskan, bahwa yang dibawah adalah peninggalan situs dan yang di atas dari dulu berupa makam yang dikenal dengan makam Tabek. <\/p>\n\n\n\n

Rerata jenjang pendidikan masyarakat Prawoto maksimal tingkat SMA, hanya ada beberapa glintir yang samapi jenjang sarjana dan ada satu orang menjadi guru besar di UGM, namun sudah lama menetap di Yogyakarta, dan jarang pulang. Anehnya, walaupun rata-rata lulusan jenjang SMA, kemampuan dan skill mereka tak kalah dengan yang sarjana bahkan mentalnya pun demikian. Hal itu dapat dilihat dari cara bicara, cara berorganisasi, dan pola pikir maju seperti halnya sarjana. Itulah sekilah cerita tentang Prawoto.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke undangan, setelah aku baca, ternyata undangan tersebut sekaligus perintah dari pengurus YM3SK untuk mewakili datang di acara Haul Sunan Prawoto yang dilaksanakan di hari dan tanggal itu juga jam 19.00 WIB. Walaupun terkesan mendadak tidak seperti biasa jauh-jauh hari sudah ada pemberitahuan, seperti saat acara haul Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Ampel. Akhirnya tetap datang di acara haul Sunan Prawoto dengan berkoordinasi dan mengajak dengan teman-teman di dekat desa Prawoto. Berangkat sehabis sholat isya\u2019, sampai di desa Prawoto jam 19.45 WIB acara dbelum di mulai menunggu group rebana dari bapak-bapak polisi Polres Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Disaat-saat senggang tersebut, aku manfaatkan ngobrol dengan penduduk dan tokoh Ulama\u2019 setempat. Ternyata mereka selain punya warisan seni ketoprak juga punya kebudayaan menghisap rokok kretek. Selain rokok kretek mereka tidak mau. Karena budaya merokok kretek diyakini warisan leluhurnya. Jarang sekali orang-orang tua yang tidak merokok, terlihat tidak memegang dan membawa rokok kretek kebanyakan anak-anak usia sekolah. Sambil ngobrol mengupas sedikit sejarah Sunan Prawoto kita merokok kretek bersama. Dengan merokok kretek suasana santai dan keakraban terbentuk di serambi masjid Sunan Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Kebetulan posisiku duduk bersebelahan dengan salah satu tokoh juga Ulama\u2019 Prawoto. Umurnya sudah tergolong dapat bonus 16 tahun dati Tuhan. Itulah jawabannya saat aku tanya usianya berapa. Karena pingin tau, aku tanya kembali persisnya usia berapa, beliau menjawab diatas rata-rata umumnya usia manusia (60 tahun) yaitu 76 tahun. Ia menjawab sambil tersenyum dan memegang rokok kretek yang telah disulut, ia adalah Mbah Sholeh (nama samara).<\/p>\n\n\n\n

Saat menjawab, akupun terkaget, karena prediksiku umur sekitaran 50an. Raup wajahnya bersih, badannya terlihat sehat dan terlihat energik, tidak mau kalah dengan bapak-bapak lainnya yang saat itu ikut ngobrol yang rata-rata umur 48-60 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Akhirnya akupun penasaran, dan kembali bertanya. Mbah apa resepnya kok masih terlihat muda?. Ia pun menjawab, jauhi makanan yang ada obat penyedap rasanya, makananlah bahan alami seperti daun-daunan. Sampai detik ini ia mengaku tidak makan makanan yang ada penyedap rasanya, kalau ditawari atau ada suguhan di depannya, ia memilih tidak akan memakannya. Juga kalau ditawari dan disuguhi minuman yang bergula. Ia pun demikian menghindari. Kata masyarakat lainnya yang ikut ngobrol, Mbah Sholeh itu hidup sehat.<\/p>\n\n\n\n

Celetukan tersebut disikapi Mbah Sholeh  dengan senyuman dan sambil mengeluarkan asap rokok kretek dari mulutnya dan hidupnya. Kemudian aku bertanya lagi, kenapa Mbah merokok?. Ia pun tersenyum sambil menyedot kembali rokok kreteknya dengan menjawab, kalau merokok kretek membuat ia bahagia, dengan kondisi bahagia ini orang jadi awet muda. Kalau merokok membuat semangat, dengan semangat orang jadi giat dan kuat. Ia juga menceritakan memulai merokok kretek saat sudah Islam. Kata Islam disini bukan berarti saat masuk Islam, akan tetapi yang dimaksud saat sudah khitan atau usia baliq. Dahulu setelah ia dikhitan, bapaknya menyuruhnya merokok sebagai tanda sudah dewasa. <\/p>\n\n\n\n

Inilah pengakuan Mbah Sholeh, ternyata wajah yang bersih berseri, awet muda, fisiknya kuat dan energik, salah satu rahasinya adalah berbahagia dan giat. Agar bahagia dan giat ia selalu mengkonsumsi rokok kretek dan meninggalkan makanan dengan penyedap rasa.   
<\/p>\n","post_title":"Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bikin-awet-muda-dan-energik-rahasia-di-balik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-30 10:40:00","post_modified_gmt":"2019-09-30 03:40:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6112","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6101,"post_author":"877","post_date":"2019-09-26 10:08:08","post_date_gmt":"2019-09-26 03:08:08","post_content":"\n

Masa panen adalah saat yang dinanti-nanti petani tembakau. Tentunya harapan petani, tanaman tembakaunaya tumbuh dengan baik, kualitas bagus dan jumlahnya banyak, serta harganya bagus. Di saat tanaman tembakaunya bagus, baik kualitas dan kuantitasnya, biasanya diikuti dengan harga bagus pula. Namun tidak bisa dipastikan, karena masalah harga tidak bisa petani serta merta yang menentukan, ada faktor yang sanagat kompleks. Yaitu situasi dan kondisi sektor pertembakauan di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6112,"post_author":"877","post_date":"2019-09-30 10:39:53","post_date_gmt":"2019-09-30 03:39:53","post_content":"\n

Mbah Sholeh, salah satu tokoh di Desa Prawoto Pati Jawa Tengah, ia selalu mengkonsumsi rokok kretek untuk memacu gairah semangat hidupnya diusia menjelang senja. Usia boleh bertambah kepala tujuh, namun fisik tetap bugar, seger dan energik. <\/p>\n\n\n\n

Sore itu sehabis ashar hari senin tanggal 23 September 2019, salah satu pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) menghampiriku sembari menyerahkan kertas undangan. Saat itu, aku sendiri sudah di atas motor mau bergegas pergi belanja untuk keperluan Mbah Pae panggilan akrab simbah KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus. Saat ini, beliau menjadi bapak masyarakat Kudus, sehingga banyak orang memanggilnya \u201cMbah Pae\u201d, putra dan cucunya pun memanggil demikian. <\/p>\n\n\n\n

Undangan dari pengurus YM3SK aku masukkan ke kantong saku celana, kemudian lanjut pergi belanja. Walaupun hari sudah sore, panas matahari masih terasa, terlebih saat menyinari kulit yang tidak terbungkus kain pakaian. Seakan-akan hari itu matahari semangat menyinari bumi mengiringi musim kemarau. Sepulang dari belanja akupun menuju dapur mengambil gelas dan air minum. Sambil minum aku buka undangan tersebut dan aku baca. Ternyata undangan tersebut pemberitahuan ada acara pengajian dalam rangka Haul Agung Kanjeng Sunan Prawoto Raden Haryo Bagus Mu\u2019min atau biasa dipanggil Mbah Tabek.<\/p>\n\n\n\n

Sunan Prawoto adalah raja keempat dari Kesultanan Demak yang memerintah tahun 1546-1549. Nama lahirnya Raden Mukmin, seorang agamis dari keturunan Kerajaan Demak Bintoro. Putra Sulung Raja Demak Sultan Trenggono. Ia terkenal dengan sebutan Sunan Prawoto, karena daerah yang disinggahi hingga akhir wafatnya bernama Desa Prawoto dalam wilayah kabupaten Pati Jawa Tengah berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kudus bagian selatan. Konon Desa Prawoto sebagai Kerajaan Kecil setelah Kerajaan Demak hancur. Raden Mukmin inilah yang memboyong Kerajaan Demak ke Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Saat ini Desa Prawoto adalah desa perbukitan, dengan hawa yang tidak terlalu dingin saat malam hari dan tidak terlalu panas pada siang hari. Walaupun hanya perbukitan, di Prawoto masih banyak pohon-pohon besar dan hijau memberikan kesejukan. Saat malam tiba, dari perbukitan Prawoto nampak jelas wilayah kota Kudus. Memang daerah Prowoto lebih dekat dengan kota Kudus dari pada Kota Pati. Bahkan budaya dan adat istiadatnya pun kental dengan budaya keKudusan. Sebagian besar masyarakat Prawoto aktifitas seharinya kewilayah Kudus, seperti bekerja, berdagang, pergi kepasar, sekolah, bahkan samapi memanfaatkan fasilitas ATM mereka memilih ke Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa penjajahan Belanda, Desa Prawoto di fungsikan sebagai distrik Karesidenan yang membawai daerah Pati sampai perbatasan Tuban Jawa Timur, Kudus, Jepara bahkan Demak. Sampai sekarang perkantoran Karesidenan warisan Belanda masih berdiri kokoh dan sebagian difungsikan untuk kepentingan Desa. Tidak hanya itu, di tengah-tengah desa terdapat semacam alun-alun kecil dengan kolam air besar yang konon juga peninggalan Belanda. Tidak sedikit yang berpendapat kolam tersebut peninggalan jauh sebelum Belanda, alias peninggalan Sunan Prawoto. Sehingga, kolam tersebut sering dibuat mandi para tokoh-tokoh dan Ulama\u2019 dari luar kota di Jawa, seperti Pekalongan, Batang, Kendal, Magelang, Solo dan lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Di Desa Prawoto terdapat dua makam Sunan Prawoto, di daerah bawah dan di daerah atas istilah masyarakat menamainya. Terlepas mana yang benar Makam Sunan Prawoto tergantung keyakinan individu. Menurut arkeolog UGM yang saat itu ikut menjelaskan, bahwa yang dibawah adalah peninggalan situs dan yang di atas dari dulu berupa makam yang dikenal dengan makam Tabek. <\/p>\n\n\n\n

Rerata jenjang pendidikan masyarakat Prawoto maksimal tingkat SMA, hanya ada beberapa glintir yang samapi jenjang sarjana dan ada satu orang menjadi guru besar di UGM, namun sudah lama menetap di Yogyakarta, dan jarang pulang. Anehnya, walaupun rata-rata lulusan jenjang SMA, kemampuan dan skill mereka tak kalah dengan yang sarjana bahkan mentalnya pun demikian. Hal itu dapat dilihat dari cara bicara, cara berorganisasi, dan pola pikir maju seperti halnya sarjana. Itulah sekilah cerita tentang Prawoto.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke undangan, setelah aku baca, ternyata undangan tersebut sekaligus perintah dari pengurus YM3SK untuk mewakili datang di acara Haul Sunan Prawoto yang dilaksanakan di hari dan tanggal itu juga jam 19.00 WIB. Walaupun terkesan mendadak tidak seperti biasa jauh-jauh hari sudah ada pemberitahuan, seperti saat acara haul Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Ampel. Akhirnya tetap datang di acara haul Sunan Prawoto dengan berkoordinasi dan mengajak dengan teman-teman di dekat desa Prawoto. Berangkat sehabis sholat isya\u2019, sampai di desa Prawoto jam 19.45 WIB acara dbelum di mulai menunggu group rebana dari bapak-bapak polisi Polres Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Disaat-saat senggang tersebut, aku manfaatkan ngobrol dengan penduduk dan tokoh Ulama\u2019 setempat. Ternyata mereka selain punya warisan seni ketoprak juga punya kebudayaan menghisap rokok kretek. Selain rokok kretek mereka tidak mau. Karena budaya merokok kretek diyakini warisan leluhurnya. Jarang sekali orang-orang tua yang tidak merokok, terlihat tidak memegang dan membawa rokok kretek kebanyakan anak-anak usia sekolah. Sambil ngobrol mengupas sedikit sejarah Sunan Prawoto kita merokok kretek bersama. Dengan merokok kretek suasana santai dan keakraban terbentuk di serambi masjid Sunan Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Kebetulan posisiku duduk bersebelahan dengan salah satu tokoh juga Ulama\u2019 Prawoto. Umurnya sudah tergolong dapat bonus 16 tahun dati Tuhan. Itulah jawabannya saat aku tanya usianya berapa. Karena pingin tau, aku tanya kembali persisnya usia berapa, beliau menjawab diatas rata-rata umumnya usia manusia (60 tahun) yaitu 76 tahun. Ia menjawab sambil tersenyum dan memegang rokok kretek yang telah disulut, ia adalah Mbah Sholeh (nama samara).<\/p>\n\n\n\n

Saat menjawab, akupun terkaget, karena prediksiku umur sekitaran 50an. Raup wajahnya bersih, badannya terlihat sehat dan terlihat energik, tidak mau kalah dengan bapak-bapak lainnya yang saat itu ikut ngobrol yang rata-rata umur 48-60 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Akhirnya akupun penasaran, dan kembali bertanya. Mbah apa resepnya kok masih terlihat muda?. Ia pun menjawab, jauhi makanan yang ada obat penyedap rasanya, makananlah bahan alami seperti daun-daunan. Sampai detik ini ia mengaku tidak makan makanan yang ada penyedap rasanya, kalau ditawari atau ada suguhan di depannya, ia memilih tidak akan memakannya. Juga kalau ditawari dan disuguhi minuman yang bergula. Ia pun demikian menghindari. Kata masyarakat lainnya yang ikut ngobrol, Mbah Sholeh itu hidup sehat.<\/p>\n\n\n\n

Celetukan tersebut disikapi Mbah Sholeh  dengan senyuman dan sambil mengeluarkan asap rokok kretek dari mulutnya dan hidupnya. Kemudian aku bertanya lagi, kenapa Mbah merokok?. Ia pun tersenyum sambil menyedot kembali rokok kreteknya dengan menjawab, kalau merokok kretek membuat ia bahagia, dengan kondisi bahagia ini orang jadi awet muda. Kalau merokok membuat semangat, dengan semangat orang jadi giat dan kuat. Ia juga menceritakan memulai merokok kretek saat sudah Islam. Kata Islam disini bukan berarti saat masuk Islam, akan tetapi yang dimaksud saat sudah khitan atau usia baliq. Dahulu setelah ia dikhitan, bapaknya menyuruhnya merokok sebagai tanda sudah dewasa. <\/p>\n\n\n\n

Inilah pengakuan Mbah Sholeh, ternyata wajah yang bersih berseri, awet muda, fisiknya kuat dan energik, salah satu rahasinya adalah berbahagia dan giat. Agar bahagia dan giat ia selalu mengkonsumsi rokok kretek dan meninggalkan makanan dengan penyedap rasa.   
<\/p>\n","post_title":"Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bikin-awet-muda-dan-energik-rahasia-di-balik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-30 10:40:00","post_modified_gmt":"2019-09-30 03:40:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6112","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6101,"post_author":"877","post_date":"2019-09-26 10:08:08","post_date_gmt":"2019-09-26 03:08:08","post_content":"\n

Masa panen adalah saat yang dinanti-nanti petani tembakau. Tentunya harapan petani, tanaman tembakaunaya tumbuh dengan baik, kualitas bagus dan jumlahnya banyak, serta harganya bagus. Di saat tanaman tembakaunya bagus, baik kualitas dan kuantitasnya, biasanya diikuti dengan harga bagus pula. Namun tidak bisa dipastikan, karena masalah harga tidak bisa petani serta merta yang menentukan, ada faktor yang sanagat kompleks. Yaitu situasi dan kondisi sektor pertembakauan di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6112,"post_author":"877","post_date":"2019-09-30 10:39:53","post_date_gmt":"2019-09-30 03:39:53","post_content":"\n

Mbah Sholeh, salah satu tokoh di Desa Prawoto Pati Jawa Tengah, ia selalu mengkonsumsi rokok kretek untuk memacu gairah semangat hidupnya diusia menjelang senja. Usia boleh bertambah kepala tujuh, namun fisik tetap bugar, seger dan energik. <\/p>\n\n\n\n

Sore itu sehabis ashar hari senin tanggal 23 September 2019, salah satu pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) menghampiriku sembari menyerahkan kertas undangan. Saat itu, aku sendiri sudah di atas motor mau bergegas pergi belanja untuk keperluan Mbah Pae panggilan akrab simbah KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus. Saat ini, beliau menjadi bapak masyarakat Kudus, sehingga banyak orang memanggilnya \u201cMbah Pae\u201d, putra dan cucunya pun memanggil demikian. <\/p>\n\n\n\n

Undangan dari pengurus YM3SK aku masukkan ke kantong saku celana, kemudian lanjut pergi belanja. Walaupun hari sudah sore, panas matahari masih terasa, terlebih saat menyinari kulit yang tidak terbungkus kain pakaian. Seakan-akan hari itu matahari semangat menyinari bumi mengiringi musim kemarau. Sepulang dari belanja akupun menuju dapur mengambil gelas dan air minum. Sambil minum aku buka undangan tersebut dan aku baca. Ternyata undangan tersebut pemberitahuan ada acara pengajian dalam rangka Haul Agung Kanjeng Sunan Prawoto Raden Haryo Bagus Mu\u2019min atau biasa dipanggil Mbah Tabek.<\/p>\n\n\n\n

Sunan Prawoto adalah raja keempat dari Kesultanan Demak yang memerintah tahun 1546-1549. Nama lahirnya Raden Mukmin, seorang agamis dari keturunan Kerajaan Demak Bintoro. Putra Sulung Raja Demak Sultan Trenggono. Ia terkenal dengan sebutan Sunan Prawoto, karena daerah yang disinggahi hingga akhir wafatnya bernama Desa Prawoto dalam wilayah kabupaten Pati Jawa Tengah berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kudus bagian selatan. Konon Desa Prawoto sebagai Kerajaan Kecil setelah Kerajaan Demak hancur. Raden Mukmin inilah yang memboyong Kerajaan Demak ke Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Saat ini Desa Prawoto adalah desa perbukitan, dengan hawa yang tidak terlalu dingin saat malam hari dan tidak terlalu panas pada siang hari. Walaupun hanya perbukitan, di Prawoto masih banyak pohon-pohon besar dan hijau memberikan kesejukan. Saat malam tiba, dari perbukitan Prawoto nampak jelas wilayah kota Kudus. Memang daerah Prowoto lebih dekat dengan kota Kudus dari pada Kota Pati. Bahkan budaya dan adat istiadatnya pun kental dengan budaya keKudusan. Sebagian besar masyarakat Prawoto aktifitas seharinya kewilayah Kudus, seperti bekerja, berdagang, pergi kepasar, sekolah, bahkan samapi memanfaatkan fasilitas ATM mereka memilih ke Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa penjajahan Belanda, Desa Prawoto di fungsikan sebagai distrik Karesidenan yang membawai daerah Pati sampai perbatasan Tuban Jawa Timur, Kudus, Jepara bahkan Demak. Sampai sekarang perkantoran Karesidenan warisan Belanda masih berdiri kokoh dan sebagian difungsikan untuk kepentingan Desa. Tidak hanya itu, di tengah-tengah desa terdapat semacam alun-alun kecil dengan kolam air besar yang konon juga peninggalan Belanda. Tidak sedikit yang berpendapat kolam tersebut peninggalan jauh sebelum Belanda, alias peninggalan Sunan Prawoto. Sehingga, kolam tersebut sering dibuat mandi para tokoh-tokoh dan Ulama\u2019 dari luar kota di Jawa, seperti Pekalongan, Batang, Kendal, Magelang, Solo dan lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Di Desa Prawoto terdapat dua makam Sunan Prawoto, di daerah bawah dan di daerah atas istilah masyarakat menamainya. Terlepas mana yang benar Makam Sunan Prawoto tergantung keyakinan individu. Menurut arkeolog UGM yang saat itu ikut menjelaskan, bahwa yang dibawah adalah peninggalan situs dan yang di atas dari dulu berupa makam yang dikenal dengan makam Tabek. <\/p>\n\n\n\n

Rerata jenjang pendidikan masyarakat Prawoto maksimal tingkat SMA, hanya ada beberapa glintir yang samapi jenjang sarjana dan ada satu orang menjadi guru besar di UGM, namun sudah lama menetap di Yogyakarta, dan jarang pulang. Anehnya, walaupun rata-rata lulusan jenjang SMA, kemampuan dan skill mereka tak kalah dengan yang sarjana bahkan mentalnya pun demikian. Hal itu dapat dilihat dari cara bicara, cara berorganisasi, dan pola pikir maju seperti halnya sarjana. Itulah sekilah cerita tentang Prawoto.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke undangan, setelah aku baca, ternyata undangan tersebut sekaligus perintah dari pengurus YM3SK untuk mewakili datang di acara Haul Sunan Prawoto yang dilaksanakan di hari dan tanggal itu juga jam 19.00 WIB. Walaupun terkesan mendadak tidak seperti biasa jauh-jauh hari sudah ada pemberitahuan, seperti saat acara haul Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Ampel. Akhirnya tetap datang di acara haul Sunan Prawoto dengan berkoordinasi dan mengajak dengan teman-teman di dekat desa Prawoto. Berangkat sehabis sholat isya\u2019, sampai di desa Prawoto jam 19.45 WIB acara dbelum di mulai menunggu group rebana dari bapak-bapak polisi Polres Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Disaat-saat senggang tersebut, aku manfaatkan ngobrol dengan penduduk dan tokoh Ulama\u2019 setempat. Ternyata mereka selain punya warisan seni ketoprak juga punya kebudayaan menghisap rokok kretek. Selain rokok kretek mereka tidak mau. Karena budaya merokok kretek diyakini warisan leluhurnya. Jarang sekali orang-orang tua yang tidak merokok, terlihat tidak memegang dan membawa rokok kretek kebanyakan anak-anak usia sekolah. Sambil ngobrol mengupas sedikit sejarah Sunan Prawoto kita merokok kretek bersama. Dengan merokok kretek suasana santai dan keakraban terbentuk di serambi masjid Sunan Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Kebetulan posisiku duduk bersebelahan dengan salah satu tokoh juga Ulama\u2019 Prawoto. Umurnya sudah tergolong dapat bonus 16 tahun dati Tuhan. Itulah jawabannya saat aku tanya usianya berapa. Karena pingin tau, aku tanya kembali persisnya usia berapa, beliau menjawab diatas rata-rata umumnya usia manusia (60 tahun) yaitu 76 tahun. Ia menjawab sambil tersenyum dan memegang rokok kretek yang telah disulut, ia adalah Mbah Sholeh (nama samara).<\/p>\n\n\n\n

Saat menjawab, akupun terkaget, karena prediksiku umur sekitaran 50an. Raup wajahnya bersih, badannya terlihat sehat dan terlihat energik, tidak mau kalah dengan bapak-bapak lainnya yang saat itu ikut ngobrol yang rata-rata umur 48-60 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Akhirnya akupun penasaran, dan kembali bertanya. Mbah apa resepnya kok masih terlihat muda?. Ia pun menjawab, jauhi makanan yang ada obat penyedap rasanya, makananlah bahan alami seperti daun-daunan. Sampai detik ini ia mengaku tidak makan makanan yang ada penyedap rasanya, kalau ditawari atau ada suguhan di depannya, ia memilih tidak akan memakannya. Juga kalau ditawari dan disuguhi minuman yang bergula. Ia pun demikian menghindari. Kata masyarakat lainnya yang ikut ngobrol, Mbah Sholeh itu hidup sehat.<\/p>\n\n\n\n

Celetukan tersebut disikapi Mbah Sholeh  dengan senyuman dan sambil mengeluarkan asap rokok kretek dari mulutnya dan hidupnya. Kemudian aku bertanya lagi, kenapa Mbah merokok?. Ia pun tersenyum sambil menyedot kembali rokok kreteknya dengan menjawab, kalau merokok kretek membuat ia bahagia, dengan kondisi bahagia ini orang jadi awet muda. Kalau merokok membuat semangat, dengan semangat orang jadi giat dan kuat. Ia juga menceritakan memulai merokok kretek saat sudah Islam. Kata Islam disini bukan berarti saat masuk Islam, akan tetapi yang dimaksud saat sudah khitan atau usia baliq. Dahulu setelah ia dikhitan, bapaknya menyuruhnya merokok sebagai tanda sudah dewasa. <\/p>\n\n\n\n

Inilah pengakuan Mbah Sholeh, ternyata wajah yang bersih berseri, awet muda, fisiknya kuat dan energik, salah satu rahasinya adalah berbahagia dan giat. Agar bahagia dan giat ia selalu mengkonsumsi rokok kretek dan meninggalkan makanan dengan penyedap rasa.   
<\/p>\n","post_title":"Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bikin-awet-muda-dan-energik-rahasia-di-balik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-30 10:40:00","post_modified_gmt":"2019-09-30 03:40:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6112","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6101,"post_author":"877","post_date":"2019-09-26 10:08:08","post_date_gmt":"2019-09-26 03:08:08","post_content":"\n

Masa panen adalah saat yang dinanti-nanti petani tembakau. Tentunya harapan petani, tanaman tembakaunaya tumbuh dengan baik, kualitas bagus dan jumlahnya banyak, serta harganya bagus. Di saat tanaman tembakaunya bagus, baik kualitas dan kuantitasnya, biasanya diikuti dengan harga bagus pula. Namun tidak bisa dipastikan, karena masalah harga tidak bisa petani serta merta yang menentukan, ada faktor yang sanagat kompleks. Yaitu situasi dan kondisi sektor pertembakauan di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6112,"post_author":"877","post_date":"2019-09-30 10:39:53","post_date_gmt":"2019-09-30 03:39:53","post_content":"\n

Mbah Sholeh, salah satu tokoh di Desa Prawoto Pati Jawa Tengah, ia selalu mengkonsumsi rokok kretek untuk memacu gairah semangat hidupnya diusia menjelang senja. Usia boleh bertambah kepala tujuh, namun fisik tetap bugar, seger dan energik. <\/p>\n\n\n\n

Sore itu sehabis ashar hari senin tanggal 23 September 2019, salah satu pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) menghampiriku sembari menyerahkan kertas undangan. Saat itu, aku sendiri sudah di atas motor mau bergegas pergi belanja untuk keperluan Mbah Pae panggilan akrab simbah KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus. Saat ini, beliau menjadi bapak masyarakat Kudus, sehingga banyak orang memanggilnya \u201cMbah Pae\u201d, putra dan cucunya pun memanggil demikian. <\/p>\n\n\n\n

Undangan dari pengurus YM3SK aku masukkan ke kantong saku celana, kemudian lanjut pergi belanja. Walaupun hari sudah sore, panas matahari masih terasa, terlebih saat menyinari kulit yang tidak terbungkus kain pakaian. Seakan-akan hari itu matahari semangat menyinari bumi mengiringi musim kemarau. Sepulang dari belanja akupun menuju dapur mengambil gelas dan air minum. Sambil minum aku buka undangan tersebut dan aku baca. Ternyata undangan tersebut pemberitahuan ada acara pengajian dalam rangka Haul Agung Kanjeng Sunan Prawoto Raden Haryo Bagus Mu\u2019min atau biasa dipanggil Mbah Tabek.<\/p>\n\n\n\n

Sunan Prawoto adalah raja keempat dari Kesultanan Demak yang memerintah tahun 1546-1549. Nama lahirnya Raden Mukmin, seorang agamis dari keturunan Kerajaan Demak Bintoro. Putra Sulung Raja Demak Sultan Trenggono. Ia terkenal dengan sebutan Sunan Prawoto, karena daerah yang disinggahi hingga akhir wafatnya bernama Desa Prawoto dalam wilayah kabupaten Pati Jawa Tengah berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kudus bagian selatan. Konon Desa Prawoto sebagai Kerajaan Kecil setelah Kerajaan Demak hancur. Raden Mukmin inilah yang memboyong Kerajaan Demak ke Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Saat ini Desa Prawoto adalah desa perbukitan, dengan hawa yang tidak terlalu dingin saat malam hari dan tidak terlalu panas pada siang hari. Walaupun hanya perbukitan, di Prawoto masih banyak pohon-pohon besar dan hijau memberikan kesejukan. Saat malam tiba, dari perbukitan Prawoto nampak jelas wilayah kota Kudus. Memang daerah Prowoto lebih dekat dengan kota Kudus dari pada Kota Pati. Bahkan budaya dan adat istiadatnya pun kental dengan budaya keKudusan. Sebagian besar masyarakat Prawoto aktifitas seharinya kewilayah Kudus, seperti bekerja, berdagang, pergi kepasar, sekolah, bahkan samapi memanfaatkan fasilitas ATM mereka memilih ke Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa penjajahan Belanda, Desa Prawoto di fungsikan sebagai distrik Karesidenan yang membawai daerah Pati sampai perbatasan Tuban Jawa Timur, Kudus, Jepara bahkan Demak. Sampai sekarang perkantoran Karesidenan warisan Belanda masih berdiri kokoh dan sebagian difungsikan untuk kepentingan Desa. Tidak hanya itu, di tengah-tengah desa terdapat semacam alun-alun kecil dengan kolam air besar yang konon juga peninggalan Belanda. Tidak sedikit yang berpendapat kolam tersebut peninggalan jauh sebelum Belanda, alias peninggalan Sunan Prawoto. Sehingga, kolam tersebut sering dibuat mandi para tokoh-tokoh dan Ulama\u2019 dari luar kota di Jawa, seperti Pekalongan, Batang, Kendal, Magelang, Solo dan lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Di Desa Prawoto terdapat dua makam Sunan Prawoto, di daerah bawah dan di daerah atas istilah masyarakat menamainya. Terlepas mana yang benar Makam Sunan Prawoto tergantung keyakinan individu. Menurut arkeolog UGM yang saat itu ikut menjelaskan, bahwa yang dibawah adalah peninggalan situs dan yang di atas dari dulu berupa makam yang dikenal dengan makam Tabek. <\/p>\n\n\n\n

Rerata jenjang pendidikan masyarakat Prawoto maksimal tingkat SMA, hanya ada beberapa glintir yang samapi jenjang sarjana dan ada satu orang menjadi guru besar di UGM, namun sudah lama menetap di Yogyakarta, dan jarang pulang. Anehnya, walaupun rata-rata lulusan jenjang SMA, kemampuan dan skill mereka tak kalah dengan yang sarjana bahkan mentalnya pun demikian. Hal itu dapat dilihat dari cara bicara, cara berorganisasi, dan pola pikir maju seperti halnya sarjana. Itulah sekilah cerita tentang Prawoto.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke undangan, setelah aku baca, ternyata undangan tersebut sekaligus perintah dari pengurus YM3SK untuk mewakili datang di acara Haul Sunan Prawoto yang dilaksanakan di hari dan tanggal itu juga jam 19.00 WIB. Walaupun terkesan mendadak tidak seperti biasa jauh-jauh hari sudah ada pemberitahuan, seperti saat acara haul Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Ampel. Akhirnya tetap datang di acara haul Sunan Prawoto dengan berkoordinasi dan mengajak dengan teman-teman di dekat desa Prawoto. Berangkat sehabis sholat isya\u2019, sampai di desa Prawoto jam 19.45 WIB acara dbelum di mulai menunggu group rebana dari bapak-bapak polisi Polres Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Disaat-saat senggang tersebut, aku manfaatkan ngobrol dengan penduduk dan tokoh Ulama\u2019 setempat. Ternyata mereka selain punya warisan seni ketoprak juga punya kebudayaan menghisap rokok kretek. Selain rokok kretek mereka tidak mau. Karena budaya merokok kretek diyakini warisan leluhurnya. Jarang sekali orang-orang tua yang tidak merokok, terlihat tidak memegang dan membawa rokok kretek kebanyakan anak-anak usia sekolah. Sambil ngobrol mengupas sedikit sejarah Sunan Prawoto kita merokok kretek bersama. Dengan merokok kretek suasana santai dan keakraban terbentuk di serambi masjid Sunan Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Kebetulan posisiku duduk bersebelahan dengan salah satu tokoh juga Ulama\u2019 Prawoto. Umurnya sudah tergolong dapat bonus 16 tahun dati Tuhan. Itulah jawabannya saat aku tanya usianya berapa. Karena pingin tau, aku tanya kembali persisnya usia berapa, beliau menjawab diatas rata-rata umumnya usia manusia (60 tahun) yaitu 76 tahun. Ia menjawab sambil tersenyum dan memegang rokok kretek yang telah disulut, ia adalah Mbah Sholeh (nama samara).<\/p>\n\n\n\n

Saat menjawab, akupun terkaget, karena prediksiku umur sekitaran 50an. Raup wajahnya bersih, badannya terlihat sehat dan terlihat energik, tidak mau kalah dengan bapak-bapak lainnya yang saat itu ikut ngobrol yang rata-rata umur 48-60 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Akhirnya akupun penasaran, dan kembali bertanya. Mbah apa resepnya kok masih terlihat muda?. Ia pun menjawab, jauhi makanan yang ada obat penyedap rasanya, makananlah bahan alami seperti daun-daunan. Sampai detik ini ia mengaku tidak makan makanan yang ada penyedap rasanya, kalau ditawari atau ada suguhan di depannya, ia memilih tidak akan memakannya. Juga kalau ditawari dan disuguhi minuman yang bergula. Ia pun demikian menghindari. Kata masyarakat lainnya yang ikut ngobrol, Mbah Sholeh itu hidup sehat.<\/p>\n\n\n\n

Celetukan tersebut disikapi Mbah Sholeh  dengan senyuman dan sambil mengeluarkan asap rokok kretek dari mulutnya dan hidupnya. Kemudian aku bertanya lagi, kenapa Mbah merokok?. Ia pun tersenyum sambil menyedot kembali rokok kreteknya dengan menjawab, kalau merokok kretek membuat ia bahagia, dengan kondisi bahagia ini orang jadi awet muda. Kalau merokok membuat semangat, dengan semangat orang jadi giat dan kuat. Ia juga menceritakan memulai merokok kretek saat sudah Islam. Kata Islam disini bukan berarti saat masuk Islam, akan tetapi yang dimaksud saat sudah khitan atau usia baliq. Dahulu setelah ia dikhitan, bapaknya menyuruhnya merokok sebagai tanda sudah dewasa. <\/p>\n\n\n\n

Inilah pengakuan Mbah Sholeh, ternyata wajah yang bersih berseri, awet muda, fisiknya kuat dan energik, salah satu rahasinya adalah berbahagia dan giat. Agar bahagia dan giat ia selalu mengkonsumsi rokok kretek dan meninggalkan makanan dengan penyedap rasa.   
<\/p>\n","post_title":"Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bikin-awet-muda-dan-energik-rahasia-di-balik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-30 10:40:00","post_modified_gmt":"2019-09-30 03:40:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6112","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6101,"post_author":"877","post_date":"2019-09-26 10:08:08","post_date_gmt":"2019-09-26 03:08:08","post_content":"\n

Masa panen adalah saat yang dinanti-nanti petani tembakau. Tentunya harapan petani, tanaman tembakaunaya tumbuh dengan baik, kualitas bagus dan jumlahnya banyak, serta harganya bagus. Di saat tanaman tembakaunya bagus, baik kualitas dan kuantitasnya, biasanya diikuti dengan harga bagus pula. Namun tidak bisa dipastikan, karena masalah harga tidak bisa petani serta merta yang menentukan, ada faktor yang sanagat kompleks. Yaitu situasi dan kondisi sektor pertembakauan di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6112,"post_author":"877","post_date":"2019-09-30 10:39:53","post_date_gmt":"2019-09-30 03:39:53","post_content":"\n

Mbah Sholeh, salah satu tokoh di Desa Prawoto Pati Jawa Tengah, ia selalu mengkonsumsi rokok kretek untuk memacu gairah semangat hidupnya diusia menjelang senja. Usia boleh bertambah kepala tujuh, namun fisik tetap bugar, seger dan energik. <\/p>\n\n\n\n

Sore itu sehabis ashar hari senin tanggal 23 September 2019, salah satu pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) menghampiriku sembari menyerahkan kertas undangan. Saat itu, aku sendiri sudah di atas motor mau bergegas pergi belanja untuk keperluan Mbah Pae panggilan akrab simbah KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus. Saat ini, beliau menjadi bapak masyarakat Kudus, sehingga banyak orang memanggilnya \u201cMbah Pae\u201d, putra dan cucunya pun memanggil demikian. <\/p>\n\n\n\n

Undangan dari pengurus YM3SK aku masukkan ke kantong saku celana, kemudian lanjut pergi belanja. Walaupun hari sudah sore, panas matahari masih terasa, terlebih saat menyinari kulit yang tidak terbungkus kain pakaian. Seakan-akan hari itu matahari semangat menyinari bumi mengiringi musim kemarau. Sepulang dari belanja akupun menuju dapur mengambil gelas dan air minum. Sambil minum aku buka undangan tersebut dan aku baca. Ternyata undangan tersebut pemberitahuan ada acara pengajian dalam rangka Haul Agung Kanjeng Sunan Prawoto Raden Haryo Bagus Mu\u2019min atau biasa dipanggil Mbah Tabek.<\/p>\n\n\n\n

Sunan Prawoto adalah raja keempat dari Kesultanan Demak yang memerintah tahun 1546-1549. Nama lahirnya Raden Mukmin, seorang agamis dari keturunan Kerajaan Demak Bintoro. Putra Sulung Raja Demak Sultan Trenggono. Ia terkenal dengan sebutan Sunan Prawoto, karena daerah yang disinggahi hingga akhir wafatnya bernama Desa Prawoto dalam wilayah kabupaten Pati Jawa Tengah berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kudus bagian selatan. Konon Desa Prawoto sebagai Kerajaan Kecil setelah Kerajaan Demak hancur. Raden Mukmin inilah yang memboyong Kerajaan Demak ke Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Saat ini Desa Prawoto adalah desa perbukitan, dengan hawa yang tidak terlalu dingin saat malam hari dan tidak terlalu panas pada siang hari. Walaupun hanya perbukitan, di Prawoto masih banyak pohon-pohon besar dan hijau memberikan kesejukan. Saat malam tiba, dari perbukitan Prawoto nampak jelas wilayah kota Kudus. Memang daerah Prowoto lebih dekat dengan kota Kudus dari pada Kota Pati. Bahkan budaya dan adat istiadatnya pun kental dengan budaya keKudusan. Sebagian besar masyarakat Prawoto aktifitas seharinya kewilayah Kudus, seperti bekerja, berdagang, pergi kepasar, sekolah, bahkan samapi memanfaatkan fasilitas ATM mereka memilih ke Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa penjajahan Belanda, Desa Prawoto di fungsikan sebagai distrik Karesidenan yang membawai daerah Pati sampai perbatasan Tuban Jawa Timur, Kudus, Jepara bahkan Demak. Sampai sekarang perkantoran Karesidenan warisan Belanda masih berdiri kokoh dan sebagian difungsikan untuk kepentingan Desa. Tidak hanya itu, di tengah-tengah desa terdapat semacam alun-alun kecil dengan kolam air besar yang konon juga peninggalan Belanda. Tidak sedikit yang berpendapat kolam tersebut peninggalan jauh sebelum Belanda, alias peninggalan Sunan Prawoto. Sehingga, kolam tersebut sering dibuat mandi para tokoh-tokoh dan Ulama\u2019 dari luar kota di Jawa, seperti Pekalongan, Batang, Kendal, Magelang, Solo dan lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Di Desa Prawoto terdapat dua makam Sunan Prawoto, di daerah bawah dan di daerah atas istilah masyarakat menamainya. Terlepas mana yang benar Makam Sunan Prawoto tergantung keyakinan individu. Menurut arkeolog UGM yang saat itu ikut menjelaskan, bahwa yang dibawah adalah peninggalan situs dan yang di atas dari dulu berupa makam yang dikenal dengan makam Tabek. <\/p>\n\n\n\n

Rerata jenjang pendidikan masyarakat Prawoto maksimal tingkat SMA, hanya ada beberapa glintir yang samapi jenjang sarjana dan ada satu orang menjadi guru besar di UGM, namun sudah lama menetap di Yogyakarta, dan jarang pulang. Anehnya, walaupun rata-rata lulusan jenjang SMA, kemampuan dan skill mereka tak kalah dengan yang sarjana bahkan mentalnya pun demikian. Hal itu dapat dilihat dari cara bicara, cara berorganisasi, dan pola pikir maju seperti halnya sarjana. Itulah sekilah cerita tentang Prawoto.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke undangan, setelah aku baca, ternyata undangan tersebut sekaligus perintah dari pengurus YM3SK untuk mewakili datang di acara Haul Sunan Prawoto yang dilaksanakan di hari dan tanggal itu juga jam 19.00 WIB. Walaupun terkesan mendadak tidak seperti biasa jauh-jauh hari sudah ada pemberitahuan, seperti saat acara haul Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Ampel. Akhirnya tetap datang di acara haul Sunan Prawoto dengan berkoordinasi dan mengajak dengan teman-teman di dekat desa Prawoto. Berangkat sehabis sholat isya\u2019, sampai di desa Prawoto jam 19.45 WIB acara dbelum di mulai menunggu group rebana dari bapak-bapak polisi Polres Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Disaat-saat senggang tersebut, aku manfaatkan ngobrol dengan penduduk dan tokoh Ulama\u2019 setempat. Ternyata mereka selain punya warisan seni ketoprak juga punya kebudayaan menghisap rokok kretek. Selain rokok kretek mereka tidak mau. Karena budaya merokok kretek diyakini warisan leluhurnya. Jarang sekali orang-orang tua yang tidak merokok, terlihat tidak memegang dan membawa rokok kretek kebanyakan anak-anak usia sekolah. Sambil ngobrol mengupas sedikit sejarah Sunan Prawoto kita merokok kretek bersama. Dengan merokok kretek suasana santai dan keakraban terbentuk di serambi masjid Sunan Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Kebetulan posisiku duduk bersebelahan dengan salah satu tokoh juga Ulama\u2019 Prawoto. Umurnya sudah tergolong dapat bonus 16 tahun dati Tuhan. Itulah jawabannya saat aku tanya usianya berapa. Karena pingin tau, aku tanya kembali persisnya usia berapa, beliau menjawab diatas rata-rata umumnya usia manusia (60 tahun) yaitu 76 tahun. Ia menjawab sambil tersenyum dan memegang rokok kretek yang telah disulut, ia adalah Mbah Sholeh (nama samara).<\/p>\n\n\n\n

Saat menjawab, akupun terkaget, karena prediksiku umur sekitaran 50an. Raup wajahnya bersih, badannya terlihat sehat dan terlihat energik, tidak mau kalah dengan bapak-bapak lainnya yang saat itu ikut ngobrol yang rata-rata umur 48-60 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Akhirnya akupun penasaran, dan kembali bertanya. Mbah apa resepnya kok masih terlihat muda?. Ia pun menjawab, jauhi makanan yang ada obat penyedap rasanya, makananlah bahan alami seperti daun-daunan. Sampai detik ini ia mengaku tidak makan makanan yang ada penyedap rasanya, kalau ditawari atau ada suguhan di depannya, ia memilih tidak akan memakannya. Juga kalau ditawari dan disuguhi minuman yang bergula. Ia pun demikian menghindari. Kata masyarakat lainnya yang ikut ngobrol, Mbah Sholeh itu hidup sehat.<\/p>\n\n\n\n

Celetukan tersebut disikapi Mbah Sholeh  dengan senyuman dan sambil mengeluarkan asap rokok kretek dari mulutnya dan hidupnya. Kemudian aku bertanya lagi, kenapa Mbah merokok?. Ia pun tersenyum sambil menyedot kembali rokok kreteknya dengan menjawab, kalau merokok kretek membuat ia bahagia, dengan kondisi bahagia ini orang jadi awet muda. Kalau merokok membuat semangat, dengan semangat orang jadi giat dan kuat. Ia juga menceritakan memulai merokok kretek saat sudah Islam. Kata Islam disini bukan berarti saat masuk Islam, akan tetapi yang dimaksud saat sudah khitan atau usia baliq. Dahulu setelah ia dikhitan, bapaknya menyuruhnya merokok sebagai tanda sudah dewasa. <\/p>\n\n\n\n

Inilah pengakuan Mbah Sholeh, ternyata wajah yang bersih berseri, awet muda, fisiknya kuat dan energik, salah satu rahasinya adalah berbahagia dan giat. Agar bahagia dan giat ia selalu mengkonsumsi rokok kretek dan meninggalkan makanan dengan penyedap rasa.   
<\/p>\n","post_title":"Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bikin-awet-muda-dan-energik-rahasia-di-balik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-30 10:40:00","post_modified_gmt":"2019-09-30 03:40:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6112","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6101,"post_author":"877","post_date":"2019-09-26 10:08:08","post_date_gmt":"2019-09-26 03:08:08","post_content":"\n

Masa panen adalah saat yang dinanti-nanti petani tembakau. Tentunya harapan petani, tanaman tembakaunaya tumbuh dengan baik, kualitas bagus dan jumlahnya banyak, serta harganya bagus. Di saat tanaman tembakaunya bagus, baik kualitas dan kuantitasnya, biasanya diikuti dengan harga bagus pula. Namun tidak bisa dipastikan, karena masalah harga tidak bisa petani serta merta yang menentukan, ada faktor yang sanagat kompleks. Yaitu situasi dan kondisi sektor pertembakauan di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6112,"post_author":"877","post_date":"2019-09-30 10:39:53","post_date_gmt":"2019-09-30 03:39:53","post_content":"\n

Mbah Sholeh, salah satu tokoh di Desa Prawoto Pati Jawa Tengah, ia selalu mengkonsumsi rokok kretek untuk memacu gairah semangat hidupnya diusia menjelang senja. Usia boleh bertambah kepala tujuh, namun fisik tetap bugar, seger dan energik. <\/p>\n\n\n\n

Sore itu sehabis ashar hari senin tanggal 23 September 2019, salah satu pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) menghampiriku sembari menyerahkan kertas undangan. Saat itu, aku sendiri sudah di atas motor mau bergegas pergi belanja untuk keperluan Mbah Pae panggilan akrab simbah KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus. Saat ini, beliau menjadi bapak masyarakat Kudus, sehingga banyak orang memanggilnya \u201cMbah Pae\u201d, putra dan cucunya pun memanggil demikian. <\/p>\n\n\n\n

Undangan dari pengurus YM3SK aku masukkan ke kantong saku celana, kemudian lanjut pergi belanja. Walaupun hari sudah sore, panas matahari masih terasa, terlebih saat menyinari kulit yang tidak terbungkus kain pakaian. Seakan-akan hari itu matahari semangat menyinari bumi mengiringi musim kemarau. Sepulang dari belanja akupun menuju dapur mengambil gelas dan air minum. Sambil minum aku buka undangan tersebut dan aku baca. Ternyata undangan tersebut pemberitahuan ada acara pengajian dalam rangka Haul Agung Kanjeng Sunan Prawoto Raden Haryo Bagus Mu\u2019min atau biasa dipanggil Mbah Tabek.<\/p>\n\n\n\n

Sunan Prawoto adalah raja keempat dari Kesultanan Demak yang memerintah tahun 1546-1549. Nama lahirnya Raden Mukmin, seorang agamis dari keturunan Kerajaan Demak Bintoro. Putra Sulung Raja Demak Sultan Trenggono. Ia terkenal dengan sebutan Sunan Prawoto, karena daerah yang disinggahi hingga akhir wafatnya bernama Desa Prawoto dalam wilayah kabupaten Pati Jawa Tengah berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kudus bagian selatan. Konon Desa Prawoto sebagai Kerajaan Kecil setelah Kerajaan Demak hancur. Raden Mukmin inilah yang memboyong Kerajaan Demak ke Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Saat ini Desa Prawoto adalah desa perbukitan, dengan hawa yang tidak terlalu dingin saat malam hari dan tidak terlalu panas pada siang hari. Walaupun hanya perbukitan, di Prawoto masih banyak pohon-pohon besar dan hijau memberikan kesejukan. Saat malam tiba, dari perbukitan Prawoto nampak jelas wilayah kota Kudus. Memang daerah Prowoto lebih dekat dengan kota Kudus dari pada Kota Pati. Bahkan budaya dan adat istiadatnya pun kental dengan budaya keKudusan. Sebagian besar masyarakat Prawoto aktifitas seharinya kewilayah Kudus, seperti bekerja, berdagang, pergi kepasar, sekolah, bahkan samapi memanfaatkan fasilitas ATM mereka memilih ke Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa penjajahan Belanda, Desa Prawoto di fungsikan sebagai distrik Karesidenan yang membawai daerah Pati sampai perbatasan Tuban Jawa Timur, Kudus, Jepara bahkan Demak. Sampai sekarang perkantoran Karesidenan warisan Belanda masih berdiri kokoh dan sebagian difungsikan untuk kepentingan Desa. Tidak hanya itu, di tengah-tengah desa terdapat semacam alun-alun kecil dengan kolam air besar yang konon juga peninggalan Belanda. Tidak sedikit yang berpendapat kolam tersebut peninggalan jauh sebelum Belanda, alias peninggalan Sunan Prawoto. Sehingga, kolam tersebut sering dibuat mandi para tokoh-tokoh dan Ulama\u2019 dari luar kota di Jawa, seperti Pekalongan, Batang, Kendal, Magelang, Solo dan lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Di Desa Prawoto terdapat dua makam Sunan Prawoto, di daerah bawah dan di daerah atas istilah masyarakat menamainya. Terlepas mana yang benar Makam Sunan Prawoto tergantung keyakinan individu. Menurut arkeolog UGM yang saat itu ikut menjelaskan, bahwa yang dibawah adalah peninggalan situs dan yang di atas dari dulu berupa makam yang dikenal dengan makam Tabek. <\/p>\n\n\n\n

Rerata jenjang pendidikan masyarakat Prawoto maksimal tingkat SMA, hanya ada beberapa glintir yang samapi jenjang sarjana dan ada satu orang menjadi guru besar di UGM, namun sudah lama menetap di Yogyakarta, dan jarang pulang. Anehnya, walaupun rata-rata lulusan jenjang SMA, kemampuan dan skill mereka tak kalah dengan yang sarjana bahkan mentalnya pun demikian. Hal itu dapat dilihat dari cara bicara, cara berorganisasi, dan pola pikir maju seperti halnya sarjana. Itulah sekilah cerita tentang Prawoto.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke undangan, setelah aku baca, ternyata undangan tersebut sekaligus perintah dari pengurus YM3SK untuk mewakili datang di acara Haul Sunan Prawoto yang dilaksanakan di hari dan tanggal itu juga jam 19.00 WIB. Walaupun terkesan mendadak tidak seperti biasa jauh-jauh hari sudah ada pemberitahuan, seperti saat acara haul Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Ampel. Akhirnya tetap datang di acara haul Sunan Prawoto dengan berkoordinasi dan mengajak dengan teman-teman di dekat desa Prawoto. Berangkat sehabis sholat isya\u2019, sampai di desa Prawoto jam 19.45 WIB acara dbelum di mulai menunggu group rebana dari bapak-bapak polisi Polres Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Disaat-saat senggang tersebut, aku manfaatkan ngobrol dengan penduduk dan tokoh Ulama\u2019 setempat. Ternyata mereka selain punya warisan seni ketoprak juga punya kebudayaan menghisap rokok kretek. Selain rokok kretek mereka tidak mau. Karena budaya merokok kretek diyakini warisan leluhurnya. Jarang sekali orang-orang tua yang tidak merokok, terlihat tidak memegang dan membawa rokok kretek kebanyakan anak-anak usia sekolah. Sambil ngobrol mengupas sedikit sejarah Sunan Prawoto kita merokok kretek bersama. Dengan merokok kretek suasana santai dan keakraban terbentuk di serambi masjid Sunan Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Kebetulan posisiku duduk bersebelahan dengan salah satu tokoh juga Ulama\u2019 Prawoto. Umurnya sudah tergolong dapat bonus 16 tahun dati Tuhan. Itulah jawabannya saat aku tanya usianya berapa. Karena pingin tau, aku tanya kembali persisnya usia berapa, beliau menjawab diatas rata-rata umumnya usia manusia (60 tahun) yaitu 76 tahun. Ia menjawab sambil tersenyum dan memegang rokok kretek yang telah disulut, ia adalah Mbah Sholeh (nama samara).<\/p>\n\n\n\n

Saat menjawab, akupun terkaget, karena prediksiku umur sekitaran 50an. Raup wajahnya bersih, badannya terlihat sehat dan terlihat energik, tidak mau kalah dengan bapak-bapak lainnya yang saat itu ikut ngobrol yang rata-rata umur 48-60 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Akhirnya akupun penasaran, dan kembali bertanya. Mbah apa resepnya kok masih terlihat muda?. Ia pun menjawab, jauhi makanan yang ada obat penyedap rasanya, makananlah bahan alami seperti daun-daunan. Sampai detik ini ia mengaku tidak makan makanan yang ada penyedap rasanya, kalau ditawari atau ada suguhan di depannya, ia memilih tidak akan memakannya. Juga kalau ditawari dan disuguhi minuman yang bergula. Ia pun demikian menghindari. Kata masyarakat lainnya yang ikut ngobrol, Mbah Sholeh itu hidup sehat.<\/p>\n\n\n\n

Celetukan tersebut disikapi Mbah Sholeh  dengan senyuman dan sambil mengeluarkan asap rokok kretek dari mulutnya dan hidupnya. Kemudian aku bertanya lagi, kenapa Mbah merokok?. Ia pun tersenyum sambil menyedot kembali rokok kreteknya dengan menjawab, kalau merokok kretek membuat ia bahagia, dengan kondisi bahagia ini orang jadi awet muda. Kalau merokok membuat semangat, dengan semangat orang jadi giat dan kuat. Ia juga menceritakan memulai merokok kretek saat sudah Islam. Kata Islam disini bukan berarti saat masuk Islam, akan tetapi yang dimaksud saat sudah khitan atau usia baliq. Dahulu setelah ia dikhitan, bapaknya menyuruhnya merokok sebagai tanda sudah dewasa. <\/p>\n\n\n\n

Inilah pengakuan Mbah Sholeh, ternyata wajah yang bersih berseri, awet muda, fisiknya kuat dan energik, salah satu rahasinya adalah berbahagia dan giat. Agar bahagia dan giat ia selalu mengkonsumsi rokok kretek dan meninggalkan makanan dengan penyedap rasa.   
<\/p>\n","post_title":"Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bikin-awet-muda-dan-energik-rahasia-di-balik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-30 10:40:00","post_modified_gmt":"2019-09-30 03:40:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6112","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6101,"post_author":"877","post_date":"2019-09-26 10:08:08","post_date_gmt":"2019-09-26 03:08:08","post_content":"\n

Masa panen adalah saat yang dinanti-nanti petani tembakau. Tentunya harapan petani, tanaman tembakaunaya tumbuh dengan baik, kualitas bagus dan jumlahnya banyak, serta harganya bagus. Di saat tanaman tembakaunya bagus, baik kualitas dan kuantitasnya, biasanya diikuti dengan harga bagus pula. Namun tidak bisa dipastikan, karena masalah harga tidak bisa petani serta merta yang menentukan, ada faktor yang sanagat kompleks. Yaitu situasi dan kondisi sektor pertembakauan di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6112,"post_author":"877","post_date":"2019-09-30 10:39:53","post_date_gmt":"2019-09-30 03:39:53","post_content":"\n

Mbah Sholeh, salah satu tokoh di Desa Prawoto Pati Jawa Tengah, ia selalu mengkonsumsi rokok kretek untuk memacu gairah semangat hidupnya diusia menjelang senja. Usia boleh bertambah kepala tujuh, namun fisik tetap bugar, seger dan energik. <\/p>\n\n\n\n

Sore itu sehabis ashar hari senin tanggal 23 September 2019, salah satu pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) menghampiriku sembari menyerahkan kertas undangan. Saat itu, aku sendiri sudah di atas motor mau bergegas pergi belanja untuk keperluan Mbah Pae panggilan akrab simbah KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus. Saat ini, beliau menjadi bapak masyarakat Kudus, sehingga banyak orang memanggilnya \u201cMbah Pae\u201d, putra dan cucunya pun memanggil demikian. <\/p>\n\n\n\n

Undangan dari pengurus YM3SK aku masukkan ke kantong saku celana, kemudian lanjut pergi belanja. Walaupun hari sudah sore, panas matahari masih terasa, terlebih saat menyinari kulit yang tidak terbungkus kain pakaian. Seakan-akan hari itu matahari semangat menyinari bumi mengiringi musim kemarau. Sepulang dari belanja akupun menuju dapur mengambil gelas dan air minum. Sambil minum aku buka undangan tersebut dan aku baca. Ternyata undangan tersebut pemberitahuan ada acara pengajian dalam rangka Haul Agung Kanjeng Sunan Prawoto Raden Haryo Bagus Mu\u2019min atau biasa dipanggil Mbah Tabek.<\/p>\n\n\n\n

Sunan Prawoto adalah raja keempat dari Kesultanan Demak yang memerintah tahun 1546-1549. Nama lahirnya Raden Mukmin, seorang agamis dari keturunan Kerajaan Demak Bintoro. Putra Sulung Raja Demak Sultan Trenggono. Ia terkenal dengan sebutan Sunan Prawoto, karena daerah yang disinggahi hingga akhir wafatnya bernama Desa Prawoto dalam wilayah kabupaten Pati Jawa Tengah berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kudus bagian selatan. Konon Desa Prawoto sebagai Kerajaan Kecil setelah Kerajaan Demak hancur. Raden Mukmin inilah yang memboyong Kerajaan Demak ke Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Saat ini Desa Prawoto adalah desa perbukitan, dengan hawa yang tidak terlalu dingin saat malam hari dan tidak terlalu panas pada siang hari. Walaupun hanya perbukitan, di Prawoto masih banyak pohon-pohon besar dan hijau memberikan kesejukan. Saat malam tiba, dari perbukitan Prawoto nampak jelas wilayah kota Kudus. Memang daerah Prowoto lebih dekat dengan kota Kudus dari pada Kota Pati. Bahkan budaya dan adat istiadatnya pun kental dengan budaya keKudusan. Sebagian besar masyarakat Prawoto aktifitas seharinya kewilayah Kudus, seperti bekerja, berdagang, pergi kepasar, sekolah, bahkan samapi memanfaatkan fasilitas ATM mereka memilih ke Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa penjajahan Belanda, Desa Prawoto di fungsikan sebagai distrik Karesidenan yang membawai daerah Pati sampai perbatasan Tuban Jawa Timur, Kudus, Jepara bahkan Demak. Sampai sekarang perkantoran Karesidenan warisan Belanda masih berdiri kokoh dan sebagian difungsikan untuk kepentingan Desa. Tidak hanya itu, di tengah-tengah desa terdapat semacam alun-alun kecil dengan kolam air besar yang konon juga peninggalan Belanda. Tidak sedikit yang berpendapat kolam tersebut peninggalan jauh sebelum Belanda, alias peninggalan Sunan Prawoto. Sehingga, kolam tersebut sering dibuat mandi para tokoh-tokoh dan Ulama\u2019 dari luar kota di Jawa, seperti Pekalongan, Batang, Kendal, Magelang, Solo dan lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Di Desa Prawoto terdapat dua makam Sunan Prawoto, di daerah bawah dan di daerah atas istilah masyarakat menamainya. Terlepas mana yang benar Makam Sunan Prawoto tergantung keyakinan individu. Menurut arkeolog UGM yang saat itu ikut menjelaskan, bahwa yang dibawah adalah peninggalan situs dan yang di atas dari dulu berupa makam yang dikenal dengan makam Tabek. <\/p>\n\n\n\n

Rerata jenjang pendidikan masyarakat Prawoto maksimal tingkat SMA, hanya ada beberapa glintir yang samapi jenjang sarjana dan ada satu orang menjadi guru besar di UGM, namun sudah lama menetap di Yogyakarta, dan jarang pulang. Anehnya, walaupun rata-rata lulusan jenjang SMA, kemampuan dan skill mereka tak kalah dengan yang sarjana bahkan mentalnya pun demikian. Hal itu dapat dilihat dari cara bicara, cara berorganisasi, dan pola pikir maju seperti halnya sarjana. Itulah sekilah cerita tentang Prawoto.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke undangan, setelah aku baca, ternyata undangan tersebut sekaligus perintah dari pengurus YM3SK untuk mewakili datang di acara Haul Sunan Prawoto yang dilaksanakan di hari dan tanggal itu juga jam 19.00 WIB. Walaupun terkesan mendadak tidak seperti biasa jauh-jauh hari sudah ada pemberitahuan, seperti saat acara haul Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Ampel. Akhirnya tetap datang di acara haul Sunan Prawoto dengan berkoordinasi dan mengajak dengan teman-teman di dekat desa Prawoto. Berangkat sehabis sholat isya\u2019, sampai di desa Prawoto jam 19.45 WIB acara dbelum di mulai menunggu group rebana dari bapak-bapak polisi Polres Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Disaat-saat senggang tersebut, aku manfaatkan ngobrol dengan penduduk dan tokoh Ulama\u2019 setempat. Ternyata mereka selain punya warisan seni ketoprak juga punya kebudayaan menghisap rokok kretek. Selain rokok kretek mereka tidak mau. Karena budaya merokok kretek diyakini warisan leluhurnya. Jarang sekali orang-orang tua yang tidak merokok, terlihat tidak memegang dan membawa rokok kretek kebanyakan anak-anak usia sekolah. Sambil ngobrol mengupas sedikit sejarah Sunan Prawoto kita merokok kretek bersama. Dengan merokok kretek suasana santai dan keakraban terbentuk di serambi masjid Sunan Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Kebetulan posisiku duduk bersebelahan dengan salah satu tokoh juga Ulama\u2019 Prawoto. Umurnya sudah tergolong dapat bonus 16 tahun dati Tuhan. Itulah jawabannya saat aku tanya usianya berapa. Karena pingin tau, aku tanya kembali persisnya usia berapa, beliau menjawab diatas rata-rata umumnya usia manusia (60 tahun) yaitu 76 tahun. Ia menjawab sambil tersenyum dan memegang rokok kretek yang telah disulut, ia adalah Mbah Sholeh (nama samara).<\/p>\n\n\n\n

Saat menjawab, akupun terkaget, karena prediksiku umur sekitaran 50an. Raup wajahnya bersih, badannya terlihat sehat dan terlihat energik, tidak mau kalah dengan bapak-bapak lainnya yang saat itu ikut ngobrol yang rata-rata umur 48-60 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Akhirnya akupun penasaran, dan kembali bertanya. Mbah apa resepnya kok masih terlihat muda?. Ia pun menjawab, jauhi makanan yang ada obat penyedap rasanya, makananlah bahan alami seperti daun-daunan. Sampai detik ini ia mengaku tidak makan makanan yang ada penyedap rasanya, kalau ditawari atau ada suguhan di depannya, ia memilih tidak akan memakannya. Juga kalau ditawari dan disuguhi minuman yang bergula. Ia pun demikian menghindari. Kata masyarakat lainnya yang ikut ngobrol, Mbah Sholeh itu hidup sehat.<\/p>\n\n\n\n

Celetukan tersebut disikapi Mbah Sholeh  dengan senyuman dan sambil mengeluarkan asap rokok kretek dari mulutnya dan hidupnya. Kemudian aku bertanya lagi, kenapa Mbah merokok?. Ia pun tersenyum sambil menyedot kembali rokok kreteknya dengan menjawab, kalau merokok kretek membuat ia bahagia, dengan kondisi bahagia ini orang jadi awet muda. Kalau merokok membuat semangat, dengan semangat orang jadi giat dan kuat. Ia juga menceritakan memulai merokok kretek saat sudah Islam. Kata Islam disini bukan berarti saat masuk Islam, akan tetapi yang dimaksud saat sudah khitan atau usia baliq. Dahulu setelah ia dikhitan, bapaknya menyuruhnya merokok sebagai tanda sudah dewasa. <\/p>\n\n\n\n

Inilah pengakuan Mbah Sholeh, ternyata wajah yang bersih berseri, awet muda, fisiknya kuat dan energik, salah satu rahasinya adalah berbahagia dan giat. Agar bahagia dan giat ia selalu mengkonsumsi rokok kretek dan meninggalkan makanan dengan penyedap rasa.   
<\/p>\n","post_title":"Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bikin-awet-muda-dan-energik-rahasia-di-balik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-30 10:40:00","post_modified_gmt":"2019-09-30 03:40:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6112","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6101,"post_author":"877","post_date":"2019-09-26 10:08:08","post_date_gmt":"2019-09-26 03:08:08","post_content":"\n

Masa panen adalah saat yang dinanti-nanti petani tembakau. Tentunya harapan petani, tanaman tembakaunaya tumbuh dengan baik, kualitas bagus dan jumlahnya banyak, serta harganya bagus. Di saat tanaman tembakaunya bagus, baik kualitas dan kuantitasnya, biasanya diikuti dengan harga bagus pula. Namun tidak bisa dipastikan, karena masalah harga tidak bisa petani serta merta yang menentukan, ada faktor yang sanagat kompleks. Yaitu situasi dan kondisi sektor pertembakauan di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6112,"post_author":"877","post_date":"2019-09-30 10:39:53","post_date_gmt":"2019-09-30 03:39:53","post_content":"\n

Mbah Sholeh, salah satu tokoh di Desa Prawoto Pati Jawa Tengah, ia selalu mengkonsumsi rokok kretek untuk memacu gairah semangat hidupnya diusia menjelang senja. Usia boleh bertambah kepala tujuh, namun fisik tetap bugar, seger dan energik. <\/p>\n\n\n\n

Sore itu sehabis ashar hari senin tanggal 23 September 2019, salah satu pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) menghampiriku sembari menyerahkan kertas undangan. Saat itu, aku sendiri sudah di atas motor mau bergegas pergi belanja untuk keperluan Mbah Pae panggilan akrab simbah KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus. Saat ini, beliau menjadi bapak masyarakat Kudus, sehingga banyak orang memanggilnya \u201cMbah Pae\u201d, putra dan cucunya pun memanggil demikian. <\/p>\n\n\n\n

Undangan dari pengurus YM3SK aku masukkan ke kantong saku celana, kemudian lanjut pergi belanja. Walaupun hari sudah sore, panas matahari masih terasa, terlebih saat menyinari kulit yang tidak terbungkus kain pakaian. Seakan-akan hari itu matahari semangat menyinari bumi mengiringi musim kemarau. Sepulang dari belanja akupun menuju dapur mengambil gelas dan air minum. Sambil minum aku buka undangan tersebut dan aku baca. Ternyata undangan tersebut pemberitahuan ada acara pengajian dalam rangka Haul Agung Kanjeng Sunan Prawoto Raden Haryo Bagus Mu\u2019min atau biasa dipanggil Mbah Tabek.<\/p>\n\n\n\n

Sunan Prawoto adalah raja keempat dari Kesultanan Demak yang memerintah tahun 1546-1549. Nama lahirnya Raden Mukmin, seorang agamis dari keturunan Kerajaan Demak Bintoro. Putra Sulung Raja Demak Sultan Trenggono. Ia terkenal dengan sebutan Sunan Prawoto, karena daerah yang disinggahi hingga akhir wafatnya bernama Desa Prawoto dalam wilayah kabupaten Pati Jawa Tengah berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kudus bagian selatan. Konon Desa Prawoto sebagai Kerajaan Kecil setelah Kerajaan Demak hancur. Raden Mukmin inilah yang memboyong Kerajaan Demak ke Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Saat ini Desa Prawoto adalah desa perbukitan, dengan hawa yang tidak terlalu dingin saat malam hari dan tidak terlalu panas pada siang hari. Walaupun hanya perbukitan, di Prawoto masih banyak pohon-pohon besar dan hijau memberikan kesejukan. Saat malam tiba, dari perbukitan Prawoto nampak jelas wilayah kota Kudus. Memang daerah Prowoto lebih dekat dengan kota Kudus dari pada Kota Pati. Bahkan budaya dan adat istiadatnya pun kental dengan budaya keKudusan. Sebagian besar masyarakat Prawoto aktifitas seharinya kewilayah Kudus, seperti bekerja, berdagang, pergi kepasar, sekolah, bahkan samapi memanfaatkan fasilitas ATM mereka memilih ke Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa penjajahan Belanda, Desa Prawoto di fungsikan sebagai distrik Karesidenan yang membawai daerah Pati sampai perbatasan Tuban Jawa Timur, Kudus, Jepara bahkan Demak. Sampai sekarang perkantoran Karesidenan warisan Belanda masih berdiri kokoh dan sebagian difungsikan untuk kepentingan Desa. Tidak hanya itu, di tengah-tengah desa terdapat semacam alun-alun kecil dengan kolam air besar yang konon juga peninggalan Belanda. Tidak sedikit yang berpendapat kolam tersebut peninggalan jauh sebelum Belanda, alias peninggalan Sunan Prawoto. Sehingga, kolam tersebut sering dibuat mandi para tokoh-tokoh dan Ulama\u2019 dari luar kota di Jawa, seperti Pekalongan, Batang, Kendal, Magelang, Solo dan lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Di Desa Prawoto terdapat dua makam Sunan Prawoto, di daerah bawah dan di daerah atas istilah masyarakat menamainya. Terlepas mana yang benar Makam Sunan Prawoto tergantung keyakinan individu. Menurut arkeolog UGM yang saat itu ikut menjelaskan, bahwa yang dibawah adalah peninggalan situs dan yang di atas dari dulu berupa makam yang dikenal dengan makam Tabek. <\/p>\n\n\n\n

Rerata jenjang pendidikan masyarakat Prawoto maksimal tingkat SMA, hanya ada beberapa glintir yang samapi jenjang sarjana dan ada satu orang menjadi guru besar di UGM, namun sudah lama menetap di Yogyakarta, dan jarang pulang. Anehnya, walaupun rata-rata lulusan jenjang SMA, kemampuan dan skill mereka tak kalah dengan yang sarjana bahkan mentalnya pun demikian. Hal itu dapat dilihat dari cara bicara, cara berorganisasi, dan pola pikir maju seperti halnya sarjana. Itulah sekilah cerita tentang Prawoto.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke undangan, setelah aku baca, ternyata undangan tersebut sekaligus perintah dari pengurus YM3SK untuk mewakili datang di acara Haul Sunan Prawoto yang dilaksanakan di hari dan tanggal itu juga jam 19.00 WIB. Walaupun terkesan mendadak tidak seperti biasa jauh-jauh hari sudah ada pemberitahuan, seperti saat acara haul Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Ampel. Akhirnya tetap datang di acara haul Sunan Prawoto dengan berkoordinasi dan mengajak dengan teman-teman di dekat desa Prawoto. Berangkat sehabis sholat isya\u2019, sampai di desa Prawoto jam 19.45 WIB acara dbelum di mulai menunggu group rebana dari bapak-bapak polisi Polres Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Disaat-saat senggang tersebut, aku manfaatkan ngobrol dengan penduduk dan tokoh Ulama\u2019 setempat. Ternyata mereka selain punya warisan seni ketoprak juga punya kebudayaan menghisap rokok kretek. Selain rokok kretek mereka tidak mau. Karena budaya merokok kretek diyakini warisan leluhurnya. Jarang sekali orang-orang tua yang tidak merokok, terlihat tidak memegang dan membawa rokok kretek kebanyakan anak-anak usia sekolah. Sambil ngobrol mengupas sedikit sejarah Sunan Prawoto kita merokok kretek bersama. Dengan merokok kretek suasana santai dan keakraban terbentuk di serambi masjid Sunan Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Kebetulan posisiku duduk bersebelahan dengan salah satu tokoh juga Ulama\u2019 Prawoto. Umurnya sudah tergolong dapat bonus 16 tahun dati Tuhan. Itulah jawabannya saat aku tanya usianya berapa. Karena pingin tau, aku tanya kembali persisnya usia berapa, beliau menjawab diatas rata-rata umumnya usia manusia (60 tahun) yaitu 76 tahun. Ia menjawab sambil tersenyum dan memegang rokok kretek yang telah disulut, ia adalah Mbah Sholeh (nama samara).<\/p>\n\n\n\n

Saat menjawab, akupun terkaget, karena prediksiku umur sekitaran 50an. Raup wajahnya bersih, badannya terlihat sehat dan terlihat energik, tidak mau kalah dengan bapak-bapak lainnya yang saat itu ikut ngobrol yang rata-rata umur 48-60 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Akhirnya akupun penasaran, dan kembali bertanya. Mbah apa resepnya kok masih terlihat muda?. Ia pun menjawab, jauhi makanan yang ada obat penyedap rasanya, makananlah bahan alami seperti daun-daunan. Sampai detik ini ia mengaku tidak makan makanan yang ada penyedap rasanya, kalau ditawari atau ada suguhan di depannya, ia memilih tidak akan memakannya. Juga kalau ditawari dan disuguhi minuman yang bergula. Ia pun demikian menghindari. Kata masyarakat lainnya yang ikut ngobrol, Mbah Sholeh itu hidup sehat.<\/p>\n\n\n\n

Celetukan tersebut disikapi Mbah Sholeh  dengan senyuman dan sambil mengeluarkan asap rokok kretek dari mulutnya dan hidupnya. Kemudian aku bertanya lagi, kenapa Mbah merokok?. Ia pun tersenyum sambil menyedot kembali rokok kreteknya dengan menjawab, kalau merokok kretek membuat ia bahagia, dengan kondisi bahagia ini orang jadi awet muda. Kalau merokok membuat semangat, dengan semangat orang jadi giat dan kuat. Ia juga menceritakan memulai merokok kretek saat sudah Islam. Kata Islam disini bukan berarti saat masuk Islam, akan tetapi yang dimaksud saat sudah khitan atau usia baliq. Dahulu setelah ia dikhitan, bapaknya menyuruhnya merokok sebagai tanda sudah dewasa. <\/p>\n\n\n\n

Inilah pengakuan Mbah Sholeh, ternyata wajah yang bersih berseri, awet muda, fisiknya kuat dan energik, salah satu rahasinya adalah berbahagia dan giat. Agar bahagia dan giat ia selalu mengkonsumsi rokok kretek dan meninggalkan makanan dengan penyedap rasa.   
<\/p>\n","post_title":"Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bikin-awet-muda-dan-energik-rahasia-di-balik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-30 10:40:00","post_modified_gmt":"2019-09-30 03:40:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6112","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6101,"post_author":"877","post_date":"2019-09-26 10:08:08","post_date_gmt":"2019-09-26 03:08:08","post_content":"\n

Masa panen adalah saat yang dinanti-nanti petani tembakau. Tentunya harapan petani, tanaman tembakaunaya tumbuh dengan baik, kualitas bagus dan jumlahnya banyak, serta harganya bagus. Di saat tanaman tembakaunya bagus, baik kualitas dan kuantitasnya, biasanya diikuti dengan harga bagus pula. Namun tidak bisa dipastikan, karena masalah harga tidak bisa petani serta merta yang menentukan, ada faktor yang sanagat kompleks. Yaitu situasi dan kondisi sektor pertembakauan di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6112,"post_author":"877","post_date":"2019-09-30 10:39:53","post_date_gmt":"2019-09-30 03:39:53","post_content":"\n

Mbah Sholeh, salah satu tokoh di Desa Prawoto Pati Jawa Tengah, ia selalu mengkonsumsi rokok kretek untuk memacu gairah semangat hidupnya diusia menjelang senja. Usia boleh bertambah kepala tujuh, namun fisik tetap bugar, seger dan energik. <\/p>\n\n\n\n

Sore itu sehabis ashar hari senin tanggal 23 September 2019, salah satu pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) menghampiriku sembari menyerahkan kertas undangan. Saat itu, aku sendiri sudah di atas motor mau bergegas pergi belanja untuk keperluan Mbah Pae panggilan akrab simbah KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus. Saat ini, beliau menjadi bapak masyarakat Kudus, sehingga banyak orang memanggilnya \u201cMbah Pae\u201d, putra dan cucunya pun memanggil demikian. <\/p>\n\n\n\n

Undangan dari pengurus YM3SK aku masukkan ke kantong saku celana, kemudian lanjut pergi belanja. Walaupun hari sudah sore, panas matahari masih terasa, terlebih saat menyinari kulit yang tidak terbungkus kain pakaian. Seakan-akan hari itu matahari semangat menyinari bumi mengiringi musim kemarau. Sepulang dari belanja akupun menuju dapur mengambil gelas dan air minum. Sambil minum aku buka undangan tersebut dan aku baca. Ternyata undangan tersebut pemberitahuan ada acara pengajian dalam rangka Haul Agung Kanjeng Sunan Prawoto Raden Haryo Bagus Mu\u2019min atau biasa dipanggil Mbah Tabek.<\/p>\n\n\n\n

Sunan Prawoto adalah raja keempat dari Kesultanan Demak yang memerintah tahun 1546-1549. Nama lahirnya Raden Mukmin, seorang agamis dari keturunan Kerajaan Demak Bintoro. Putra Sulung Raja Demak Sultan Trenggono. Ia terkenal dengan sebutan Sunan Prawoto, karena daerah yang disinggahi hingga akhir wafatnya bernama Desa Prawoto dalam wilayah kabupaten Pati Jawa Tengah berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kudus bagian selatan. Konon Desa Prawoto sebagai Kerajaan Kecil setelah Kerajaan Demak hancur. Raden Mukmin inilah yang memboyong Kerajaan Demak ke Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Saat ini Desa Prawoto adalah desa perbukitan, dengan hawa yang tidak terlalu dingin saat malam hari dan tidak terlalu panas pada siang hari. Walaupun hanya perbukitan, di Prawoto masih banyak pohon-pohon besar dan hijau memberikan kesejukan. Saat malam tiba, dari perbukitan Prawoto nampak jelas wilayah kota Kudus. Memang daerah Prowoto lebih dekat dengan kota Kudus dari pada Kota Pati. Bahkan budaya dan adat istiadatnya pun kental dengan budaya keKudusan. Sebagian besar masyarakat Prawoto aktifitas seharinya kewilayah Kudus, seperti bekerja, berdagang, pergi kepasar, sekolah, bahkan samapi memanfaatkan fasilitas ATM mereka memilih ke Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa penjajahan Belanda, Desa Prawoto di fungsikan sebagai distrik Karesidenan yang membawai daerah Pati sampai perbatasan Tuban Jawa Timur, Kudus, Jepara bahkan Demak. Sampai sekarang perkantoran Karesidenan warisan Belanda masih berdiri kokoh dan sebagian difungsikan untuk kepentingan Desa. Tidak hanya itu, di tengah-tengah desa terdapat semacam alun-alun kecil dengan kolam air besar yang konon juga peninggalan Belanda. Tidak sedikit yang berpendapat kolam tersebut peninggalan jauh sebelum Belanda, alias peninggalan Sunan Prawoto. Sehingga, kolam tersebut sering dibuat mandi para tokoh-tokoh dan Ulama\u2019 dari luar kota di Jawa, seperti Pekalongan, Batang, Kendal, Magelang, Solo dan lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Di Desa Prawoto terdapat dua makam Sunan Prawoto, di daerah bawah dan di daerah atas istilah masyarakat menamainya. Terlepas mana yang benar Makam Sunan Prawoto tergantung keyakinan individu. Menurut arkeolog UGM yang saat itu ikut menjelaskan, bahwa yang dibawah adalah peninggalan situs dan yang di atas dari dulu berupa makam yang dikenal dengan makam Tabek. <\/p>\n\n\n\n

Rerata jenjang pendidikan masyarakat Prawoto maksimal tingkat SMA, hanya ada beberapa glintir yang samapi jenjang sarjana dan ada satu orang menjadi guru besar di UGM, namun sudah lama menetap di Yogyakarta, dan jarang pulang. Anehnya, walaupun rata-rata lulusan jenjang SMA, kemampuan dan skill mereka tak kalah dengan yang sarjana bahkan mentalnya pun demikian. Hal itu dapat dilihat dari cara bicara, cara berorganisasi, dan pola pikir maju seperti halnya sarjana. Itulah sekilah cerita tentang Prawoto.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke undangan, setelah aku baca, ternyata undangan tersebut sekaligus perintah dari pengurus YM3SK untuk mewakili datang di acara Haul Sunan Prawoto yang dilaksanakan di hari dan tanggal itu juga jam 19.00 WIB. Walaupun terkesan mendadak tidak seperti biasa jauh-jauh hari sudah ada pemberitahuan, seperti saat acara haul Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Ampel. Akhirnya tetap datang di acara haul Sunan Prawoto dengan berkoordinasi dan mengajak dengan teman-teman di dekat desa Prawoto. Berangkat sehabis sholat isya\u2019, sampai di desa Prawoto jam 19.45 WIB acara dbelum di mulai menunggu group rebana dari bapak-bapak polisi Polres Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Disaat-saat senggang tersebut, aku manfaatkan ngobrol dengan penduduk dan tokoh Ulama\u2019 setempat. Ternyata mereka selain punya warisan seni ketoprak juga punya kebudayaan menghisap rokok kretek. Selain rokok kretek mereka tidak mau. Karena budaya merokok kretek diyakini warisan leluhurnya. Jarang sekali orang-orang tua yang tidak merokok, terlihat tidak memegang dan membawa rokok kretek kebanyakan anak-anak usia sekolah. Sambil ngobrol mengupas sedikit sejarah Sunan Prawoto kita merokok kretek bersama. Dengan merokok kretek suasana santai dan keakraban terbentuk di serambi masjid Sunan Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Kebetulan posisiku duduk bersebelahan dengan salah satu tokoh juga Ulama\u2019 Prawoto. Umurnya sudah tergolong dapat bonus 16 tahun dati Tuhan. Itulah jawabannya saat aku tanya usianya berapa. Karena pingin tau, aku tanya kembali persisnya usia berapa, beliau menjawab diatas rata-rata umumnya usia manusia (60 tahun) yaitu 76 tahun. Ia menjawab sambil tersenyum dan memegang rokok kretek yang telah disulut, ia adalah Mbah Sholeh (nama samara).<\/p>\n\n\n\n

Saat menjawab, akupun terkaget, karena prediksiku umur sekitaran 50an. Raup wajahnya bersih, badannya terlihat sehat dan terlihat energik, tidak mau kalah dengan bapak-bapak lainnya yang saat itu ikut ngobrol yang rata-rata umur 48-60 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Akhirnya akupun penasaran, dan kembali bertanya. Mbah apa resepnya kok masih terlihat muda?. Ia pun menjawab, jauhi makanan yang ada obat penyedap rasanya, makananlah bahan alami seperti daun-daunan. Sampai detik ini ia mengaku tidak makan makanan yang ada penyedap rasanya, kalau ditawari atau ada suguhan di depannya, ia memilih tidak akan memakannya. Juga kalau ditawari dan disuguhi minuman yang bergula. Ia pun demikian menghindari. Kata masyarakat lainnya yang ikut ngobrol, Mbah Sholeh itu hidup sehat.<\/p>\n\n\n\n

Celetukan tersebut disikapi Mbah Sholeh  dengan senyuman dan sambil mengeluarkan asap rokok kretek dari mulutnya dan hidupnya. Kemudian aku bertanya lagi, kenapa Mbah merokok?. Ia pun tersenyum sambil menyedot kembali rokok kreteknya dengan menjawab, kalau merokok kretek membuat ia bahagia, dengan kondisi bahagia ini orang jadi awet muda. Kalau merokok membuat semangat, dengan semangat orang jadi giat dan kuat. Ia juga menceritakan memulai merokok kretek saat sudah Islam. Kata Islam disini bukan berarti saat masuk Islam, akan tetapi yang dimaksud saat sudah khitan atau usia baliq. Dahulu setelah ia dikhitan, bapaknya menyuruhnya merokok sebagai tanda sudah dewasa. <\/p>\n\n\n\n

Inilah pengakuan Mbah Sholeh, ternyata wajah yang bersih berseri, awet muda, fisiknya kuat dan energik, salah satu rahasinya adalah berbahagia dan giat. Agar bahagia dan giat ia selalu mengkonsumsi rokok kretek dan meninggalkan makanan dengan penyedap rasa.   
<\/p>\n","post_title":"Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bikin-awet-muda-dan-energik-rahasia-di-balik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-30 10:40:00","post_modified_gmt":"2019-09-30 03:40:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6112","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6101,"post_author":"877","post_date":"2019-09-26 10:08:08","post_date_gmt":"2019-09-26 03:08:08","post_content":"\n

Masa panen adalah saat yang dinanti-nanti petani tembakau. Tentunya harapan petani, tanaman tembakaunaya tumbuh dengan baik, kualitas bagus dan jumlahnya banyak, serta harganya bagus. Di saat tanaman tembakaunya bagus, baik kualitas dan kuantitasnya, biasanya diikuti dengan harga bagus pula. Namun tidak bisa dipastikan, karena masalah harga tidak bisa petani serta merta yang menentukan, ada faktor yang sanagat kompleks. Yaitu situasi dan kondisi sektor pertembakauan di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6112,"post_author":"877","post_date":"2019-09-30 10:39:53","post_date_gmt":"2019-09-30 03:39:53","post_content":"\n

Mbah Sholeh, salah satu tokoh di Desa Prawoto Pati Jawa Tengah, ia selalu mengkonsumsi rokok kretek untuk memacu gairah semangat hidupnya diusia menjelang senja. Usia boleh bertambah kepala tujuh, namun fisik tetap bugar, seger dan energik. <\/p>\n\n\n\n

Sore itu sehabis ashar hari senin tanggal 23 September 2019, salah satu pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) menghampiriku sembari menyerahkan kertas undangan. Saat itu, aku sendiri sudah di atas motor mau bergegas pergi belanja untuk keperluan Mbah Pae panggilan akrab simbah KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus. Saat ini, beliau menjadi bapak masyarakat Kudus, sehingga banyak orang memanggilnya \u201cMbah Pae\u201d, putra dan cucunya pun memanggil demikian. <\/p>\n\n\n\n

Undangan dari pengurus YM3SK aku masukkan ke kantong saku celana, kemudian lanjut pergi belanja. Walaupun hari sudah sore, panas matahari masih terasa, terlebih saat menyinari kulit yang tidak terbungkus kain pakaian. Seakan-akan hari itu matahari semangat menyinari bumi mengiringi musim kemarau. Sepulang dari belanja akupun menuju dapur mengambil gelas dan air minum. Sambil minum aku buka undangan tersebut dan aku baca. Ternyata undangan tersebut pemberitahuan ada acara pengajian dalam rangka Haul Agung Kanjeng Sunan Prawoto Raden Haryo Bagus Mu\u2019min atau biasa dipanggil Mbah Tabek.<\/p>\n\n\n\n

Sunan Prawoto adalah raja keempat dari Kesultanan Demak yang memerintah tahun 1546-1549. Nama lahirnya Raden Mukmin, seorang agamis dari keturunan Kerajaan Demak Bintoro. Putra Sulung Raja Demak Sultan Trenggono. Ia terkenal dengan sebutan Sunan Prawoto, karena daerah yang disinggahi hingga akhir wafatnya bernama Desa Prawoto dalam wilayah kabupaten Pati Jawa Tengah berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kudus bagian selatan. Konon Desa Prawoto sebagai Kerajaan Kecil setelah Kerajaan Demak hancur. Raden Mukmin inilah yang memboyong Kerajaan Demak ke Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Saat ini Desa Prawoto adalah desa perbukitan, dengan hawa yang tidak terlalu dingin saat malam hari dan tidak terlalu panas pada siang hari. Walaupun hanya perbukitan, di Prawoto masih banyak pohon-pohon besar dan hijau memberikan kesejukan. Saat malam tiba, dari perbukitan Prawoto nampak jelas wilayah kota Kudus. Memang daerah Prowoto lebih dekat dengan kota Kudus dari pada Kota Pati. Bahkan budaya dan adat istiadatnya pun kental dengan budaya keKudusan. Sebagian besar masyarakat Prawoto aktifitas seharinya kewilayah Kudus, seperti bekerja, berdagang, pergi kepasar, sekolah, bahkan samapi memanfaatkan fasilitas ATM mereka memilih ke Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa penjajahan Belanda, Desa Prawoto di fungsikan sebagai distrik Karesidenan yang membawai daerah Pati sampai perbatasan Tuban Jawa Timur, Kudus, Jepara bahkan Demak. Sampai sekarang perkantoran Karesidenan warisan Belanda masih berdiri kokoh dan sebagian difungsikan untuk kepentingan Desa. Tidak hanya itu, di tengah-tengah desa terdapat semacam alun-alun kecil dengan kolam air besar yang konon juga peninggalan Belanda. Tidak sedikit yang berpendapat kolam tersebut peninggalan jauh sebelum Belanda, alias peninggalan Sunan Prawoto. Sehingga, kolam tersebut sering dibuat mandi para tokoh-tokoh dan Ulama\u2019 dari luar kota di Jawa, seperti Pekalongan, Batang, Kendal, Magelang, Solo dan lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Di Desa Prawoto terdapat dua makam Sunan Prawoto, di daerah bawah dan di daerah atas istilah masyarakat menamainya. Terlepas mana yang benar Makam Sunan Prawoto tergantung keyakinan individu. Menurut arkeolog UGM yang saat itu ikut menjelaskan, bahwa yang dibawah adalah peninggalan situs dan yang di atas dari dulu berupa makam yang dikenal dengan makam Tabek. <\/p>\n\n\n\n

Rerata jenjang pendidikan masyarakat Prawoto maksimal tingkat SMA, hanya ada beberapa glintir yang samapi jenjang sarjana dan ada satu orang menjadi guru besar di UGM, namun sudah lama menetap di Yogyakarta, dan jarang pulang. Anehnya, walaupun rata-rata lulusan jenjang SMA, kemampuan dan skill mereka tak kalah dengan yang sarjana bahkan mentalnya pun demikian. Hal itu dapat dilihat dari cara bicara, cara berorganisasi, dan pola pikir maju seperti halnya sarjana. Itulah sekilah cerita tentang Prawoto.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke undangan, setelah aku baca, ternyata undangan tersebut sekaligus perintah dari pengurus YM3SK untuk mewakili datang di acara Haul Sunan Prawoto yang dilaksanakan di hari dan tanggal itu juga jam 19.00 WIB. Walaupun terkesan mendadak tidak seperti biasa jauh-jauh hari sudah ada pemberitahuan, seperti saat acara haul Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Ampel. Akhirnya tetap datang di acara haul Sunan Prawoto dengan berkoordinasi dan mengajak dengan teman-teman di dekat desa Prawoto. Berangkat sehabis sholat isya\u2019, sampai di desa Prawoto jam 19.45 WIB acara dbelum di mulai menunggu group rebana dari bapak-bapak polisi Polres Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Disaat-saat senggang tersebut, aku manfaatkan ngobrol dengan penduduk dan tokoh Ulama\u2019 setempat. Ternyata mereka selain punya warisan seni ketoprak juga punya kebudayaan menghisap rokok kretek. Selain rokok kretek mereka tidak mau. Karena budaya merokok kretek diyakini warisan leluhurnya. Jarang sekali orang-orang tua yang tidak merokok, terlihat tidak memegang dan membawa rokok kretek kebanyakan anak-anak usia sekolah. Sambil ngobrol mengupas sedikit sejarah Sunan Prawoto kita merokok kretek bersama. Dengan merokok kretek suasana santai dan keakraban terbentuk di serambi masjid Sunan Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Kebetulan posisiku duduk bersebelahan dengan salah satu tokoh juga Ulama\u2019 Prawoto. Umurnya sudah tergolong dapat bonus 16 tahun dati Tuhan. Itulah jawabannya saat aku tanya usianya berapa. Karena pingin tau, aku tanya kembali persisnya usia berapa, beliau menjawab diatas rata-rata umumnya usia manusia (60 tahun) yaitu 76 tahun. Ia menjawab sambil tersenyum dan memegang rokok kretek yang telah disulut, ia adalah Mbah Sholeh (nama samara).<\/p>\n\n\n\n

Saat menjawab, akupun terkaget, karena prediksiku umur sekitaran 50an. Raup wajahnya bersih, badannya terlihat sehat dan terlihat energik, tidak mau kalah dengan bapak-bapak lainnya yang saat itu ikut ngobrol yang rata-rata umur 48-60 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Akhirnya akupun penasaran, dan kembali bertanya. Mbah apa resepnya kok masih terlihat muda?. Ia pun menjawab, jauhi makanan yang ada obat penyedap rasanya, makananlah bahan alami seperti daun-daunan. Sampai detik ini ia mengaku tidak makan makanan yang ada penyedap rasanya, kalau ditawari atau ada suguhan di depannya, ia memilih tidak akan memakannya. Juga kalau ditawari dan disuguhi minuman yang bergula. Ia pun demikian menghindari. Kata masyarakat lainnya yang ikut ngobrol, Mbah Sholeh itu hidup sehat.<\/p>\n\n\n\n

Celetukan tersebut disikapi Mbah Sholeh  dengan senyuman dan sambil mengeluarkan asap rokok kretek dari mulutnya dan hidupnya. Kemudian aku bertanya lagi, kenapa Mbah merokok?. Ia pun tersenyum sambil menyedot kembali rokok kreteknya dengan menjawab, kalau merokok kretek membuat ia bahagia, dengan kondisi bahagia ini orang jadi awet muda. Kalau merokok membuat semangat, dengan semangat orang jadi giat dan kuat. Ia juga menceritakan memulai merokok kretek saat sudah Islam. Kata Islam disini bukan berarti saat masuk Islam, akan tetapi yang dimaksud saat sudah khitan atau usia baliq. Dahulu setelah ia dikhitan, bapaknya menyuruhnya merokok sebagai tanda sudah dewasa. <\/p>\n\n\n\n

Inilah pengakuan Mbah Sholeh, ternyata wajah yang bersih berseri, awet muda, fisiknya kuat dan energik, salah satu rahasinya adalah berbahagia dan giat. Agar bahagia dan giat ia selalu mengkonsumsi rokok kretek dan meninggalkan makanan dengan penyedap rasa.   
<\/p>\n","post_title":"Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bikin-awet-muda-dan-energik-rahasia-di-balik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-30 10:40:00","post_modified_gmt":"2019-09-30 03:40:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6112","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6101,"post_author":"877","post_date":"2019-09-26 10:08:08","post_date_gmt":"2019-09-26 03:08:08","post_content":"\n

Masa panen adalah saat yang dinanti-nanti petani tembakau. Tentunya harapan petani, tanaman tembakaunaya tumbuh dengan baik, kualitas bagus dan jumlahnya banyak, serta harganya bagus. Di saat tanaman tembakaunya bagus, baik kualitas dan kuantitasnya, biasanya diikuti dengan harga bagus pula. Namun tidak bisa dipastikan, karena masalah harga tidak bisa petani serta merta yang menentukan, ada faktor yang sanagat kompleks. Yaitu situasi dan kondisi sektor pertembakauan di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6112,"post_author":"877","post_date":"2019-09-30 10:39:53","post_date_gmt":"2019-09-30 03:39:53","post_content":"\n

Mbah Sholeh, salah satu tokoh di Desa Prawoto Pati Jawa Tengah, ia selalu mengkonsumsi rokok kretek untuk memacu gairah semangat hidupnya diusia menjelang senja. Usia boleh bertambah kepala tujuh, namun fisik tetap bugar, seger dan energik. <\/p>\n\n\n\n

Sore itu sehabis ashar hari senin tanggal 23 September 2019, salah satu pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) menghampiriku sembari menyerahkan kertas undangan. Saat itu, aku sendiri sudah di atas motor mau bergegas pergi belanja untuk keperluan Mbah Pae panggilan akrab simbah KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus. Saat ini, beliau menjadi bapak masyarakat Kudus, sehingga banyak orang memanggilnya \u201cMbah Pae\u201d, putra dan cucunya pun memanggil demikian. <\/p>\n\n\n\n

Undangan dari pengurus YM3SK aku masukkan ke kantong saku celana, kemudian lanjut pergi belanja. Walaupun hari sudah sore, panas matahari masih terasa, terlebih saat menyinari kulit yang tidak terbungkus kain pakaian. Seakan-akan hari itu matahari semangat menyinari bumi mengiringi musim kemarau. Sepulang dari belanja akupun menuju dapur mengambil gelas dan air minum. Sambil minum aku buka undangan tersebut dan aku baca. Ternyata undangan tersebut pemberitahuan ada acara pengajian dalam rangka Haul Agung Kanjeng Sunan Prawoto Raden Haryo Bagus Mu\u2019min atau biasa dipanggil Mbah Tabek.<\/p>\n\n\n\n

Sunan Prawoto adalah raja keempat dari Kesultanan Demak yang memerintah tahun 1546-1549. Nama lahirnya Raden Mukmin, seorang agamis dari keturunan Kerajaan Demak Bintoro. Putra Sulung Raja Demak Sultan Trenggono. Ia terkenal dengan sebutan Sunan Prawoto, karena daerah yang disinggahi hingga akhir wafatnya bernama Desa Prawoto dalam wilayah kabupaten Pati Jawa Tengah berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kudus bagian selatan. Konon Desa Prawoto sebagai Kerajaan Kecil setelah Kerajaan Demak hancur. Raden Mukmin inilah yang memboyong Kerajaan Demak ke Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Saat ini Desa Prawoto adalah desa perbukitan, dengan hawa yang tidak terlalu dingin saat malam hari dan tidak terlalu panas pada siang hari. Walaupun hanya perbukitan, di Prawoto masih banyak pohon-pohon besar dan hijau memberikan kesejukan. Saat malam tiba, dari perbukitan Prawoto nampak jelas wilayah kota Kudus. Memang daerah Prowoto lebih dekat dengan kota Kudus dari pada Kota Pati. Bahkan budaya dan adat istiadatnya pun kental dengan budaya keKudusan. Sebagian besar masyarakat Prawoto aktifitas seharinya kewilayah Kudus, seperti bekerja, berdagang, pergi kepasar, sekolah, bahkan samapi memanfaatkan fasilitas ATM mereka memilih ke Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa penjajahan Belanda, Desa Prawoto di fungsikan sebagai distrik Karesidenan yang membawai daerah Pati sampai perbatasan Tuban Jawa Timur, Kudus, Jepara bahkan Demak. Sampai sekarang perkantoran Karesidenan warisan Belanda masih berdiri kokoh dan sebagian difungsikan untuk kepentingan Desa. Tidak hanya itu, di tengah-tengah desa terdapat semacam alun-alun kecil dengan kolam air besar yang konon juga peninggalan Belanda. Tidak sedikit yang berpendapat kolam tersebut peninggalan jauh sebelum Belanda, alias peninggalan Sunan Prawoto. Sehingga, kolam tersebut sering dibuat mandi para tokoh-tokoh dan Ulama\u2019 dari luar kota di Jawa, seperti Pekalongan, Batang, Kendal, Magelang, Solo dan lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Di Desa Prawoto terdapat dua makam Sunan Prawoto, di daerah bawah dan di daerah atas istilah masyarakat menamainya. Terlepas mana yang benar Makam Sunan Prawoto tergantung keyakinan individu. Menurut arkeolog UGM yang saat itu ikut menjelaskan, bahwa yang dibawah adalah peninggalan situs dan yang di atas dari dulu berupa makam yang dikenal dengan makam Tabek. <\/p>\n\n\n\n

Rerata jenjang pendidikan masyarakat Prawoto maksimal tingkat SMA, hanya ada beberapa glintir yang samapi jenjang sarjana dan ada satu orang menjadi guru besar di UGM, namun sudah lama menetap di Yogyakarta, dan jarang pulang. Anehnya, walaupun rata-rata lulusan jenjang SMA, kemampuan dan skill mereka tak kalah dengan yang sarjana bahkan mentalnya pun demikian. Hal itu dapat dilihat dari cara bicara, cara berorganisasi, dan pola pikir maju seperti halnya sarjana. Itulah sekilah cerita tentang Prawoto.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke undangan, setelah aku baca, ternyata undangan tersebut sekaligus perintah dari pengurus YM3SK untuk mewakili datang di acara Haul Sunan Prawoto yang dilaksanakan di hari dan tanggal itu juga jam 19.00 WIB. Walaupun terkesan mendadak tidak seperti biasa jauh-jauh hari sudah ada pemberitahuan, seperti saat acara haul Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Ampel. Akhirnya tetap datang di acara haul Sunan Prawoto dengan berkoordinasi dan mengajak dengan teman-teman di dekat desa Prawoto. Berangkat sehabis sholat isya\u2019, sampai di desa Prawoto jam 19.45 WIB acara dbelum di mulai menunggu group rebana dari bapak-bapak polisi Polres Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Disaat-saat senggang tersebut, aku manfaatkan ngobrol dengan penduduk dan tokoh Ulama\u2019 setempat. Ternyata mereka selain punya warisan seni ketoprak juga punya kebudayaan menghisap rokok kretek. Selain rokok kretek mereka tidak mau. Karena budaya merokok kretek diyakini warisan leluhurnya. Jarang sekali orang-orang tua yang tidak merokok, terlihat tidak memegang dan membawa rokok kretek kebanyakan anak-anak usia sekolah. Sambil ngobrol mengupas sedikit sejarah Sunan Prawoto kita merokok kretek bersama. Dengan merokok kretek suasana santai dan keakraban terbentuk di serambi masjid Sunan Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Kebetulan posisiku duduk bersebelahan dengan salah satu tokoh juga Ulama\u2019 Prawoto. Umurnya sudah tergolong dapat bonus 16 tahun dati Tuhan. Itulah jawabannya saat aku tanya usianya berapa. Karena pingin tau, aku tanya kembali persisnya usia berapa, beliau menjawab diatas rata-rata umumnya usia manusia (60 tahun) yaitu 76 tahun. Ia menjawab sambil tersenyum dan memegang rokok kretek yang telah disulut, ia adalah Mbah Sholeh (nama samara).<\/p>\n\n\n\n

Saat menjawab, akupun terkaget, karena prediksiku umur sekitaran 50an. Raup wajahnya bersih, badannya terlihat sehat dan terlihat energik, tidak mau kalah dengan bapak-bapak lainnya yang saat itu ikut ngobrol yang rata-rata umur 48-60 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Akhirnya akupun penasaran, dan kembali bertanya. Mbah apa resepnya kok masih terlihat muda?. Ia pun menjawab, jauhi makanan yang ada obat penyedap rasanya, makananlah bahan alami seperti daun-daunan. Sampai detik ini ia mengaku tidak makan makanan yang ada penyedap rasanya, kalau ditawari atau ada suguhan di depannya, ia memilih tidak akan memakannya. Juga kalau ditawari dan disuguhi minuman yang bergula. Ia pun demikian menghindari. Kata masyarakat lainnya yang ikut ngobrol, Mbah Sholeh itu hidup sehat.<\/p>\n\n\n\n

Celetukan tersebut disikapi Mbah Sholeh  dengan senyuman dan sambil mengeluarkan asap rokok kretek dari mulutnya dan hidupnya. Kemudian aku bertanya lagi, kenapa Mbah merokok?. Ia pun tersenyum sambil menyedot kembali rokok kreteknya dengan menjawab, kalau merokok kretek membuat ia bahagia, dengan kondisi bahagia ini orang jadi awet muda. Kalau merokok membuat semangat, dengan semangat orang jadi giat dan kuat. Ia juga menceritakan memulai merokok kretek saat sudah Islam. Kata Islam disini bukan berarti saat masuk Islam, akan tetapi yang dimaksud saat sudah khitan atau usia baliq. Dahulu setelah ia dikhitan, bapaknya menyuruhnya merokok sebagai tanda sudah dewasa. <\/p>\n\n\n\n

Inilah pengakuan Mbah Sholeh, ternyata wajah yang bersih berseri, awet muda, fisiknya kuat dan energik, salah satu rahasinya adalah berbahagia dan giat. Agar bahagia dan giat ia selalu mengkonsumsi rokok kretek dan meninggalkan makanan dengan penyedap rasa.   
<\/p>\n","post_title":"Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bikin-awet-muda-dan-energik-rahasia-di-balik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-30 10:40:00","post_modified_gmt":"2019-09-30 03:40:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6112","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6101,"post_author":"877","post_date":"2019-09-26 10:08:08","post_date_gmt":"2019-09-26 03:08:08","post_content":"\n

Masa panen adalah saat yang dinanti-nanti petani tembakau. Tentunya harapan petani, tanaman tembakaunaya tumbuh dengan baik, kualitas bagus dan jumlahnya banyak, serta harganya bagus. Di saat tanaman tembakaunya bagus, baik kualitas dan kuantitasnya, biasanya diikuti dengan harga bagus pula. Namun tidak bisa dipastikan, karena masalah harga tidak bisa petani serta merta yang menentukan, ada faktor yang sanagat kompleks. Yaitu situasi dan kondisi sektor pertembakauan di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6112,"post_author":"877","post_date":"2019-09-30 10:39:53","post_date_gmt":"2019-09-30 03:39:53","post_content":"\n

Mbah Sholeh, salah satu tokoh di Desa Prawoto Pati Jawa Tengah, ia selalu mengkonsumsi rokok kretek untuk memacu gairah semangat hidupnya diusia menjelang senja. Usia boleh bertambah kepala tujuh, namun fisik tetap bugar, seger dan energik. <\/p>\n\n\n\n

Sore itu sehabis ashar hari senin tanggal 23 September 2019, salah satu pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) menghampiriku sembari menyerahkan kertas undangan. Saat itu, aku sendiri sudah di atas motor mau bergegas pergi belanja untuk keperluan Mbah Pae panggilan akrab simbah KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus. Saat ini, beliau menjadi bapak masyarakat Kudus, sehingga banyak orang memanggilnya \u201cMbah Pae\u201d, putra dan cucunya pun memanggil demikian. <\/p>\n\n\n\n

Undangan dari pengurus YM3SK aku masukkan ke kantong saku celana, kemudian lanjut pergi belanja. Walaupun hari sudah sore, panas matahari masih terasa, terlebih saat menyinari kulit yang tidak terbungkus kain pakaian. Seakan-akan hari itu matahari semangat menyinari bumi mengiringi musim kemarau. Sepulang dari belanja akupun menuju dapur mengambil gelas dan air minum. Sambil minum aku buka undangan tersebut dan aku baca. Ternyata undangan tersebut pemberitahuan ada acara pengajian dalam rangka Haul Agung Kanjeng Sunan Prawoto Raden Haryo Bagus Mu\u2019min atau biasa dipanggil Mbah Tabek.<\/p>\n\n\n\n

Sunan Prawoto adalah raja keempat dari Kesultanan Demak yang memerintah tahun 1546-1549. Nama lahirnya Raden Mukmin, seorang agamis dari keturunan Kerajaan Demak Bintoro. Putra Sulung Raja Demak Sultan Trenggono. Ia terkenal dengan sebutan Sunan Prawoto, karena daerah yang disinggahi hingga akhir wafatnya bernama Desa Prawoto dalam wilayah kabupaten Pati Jawa Tengah berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kudus bagian selatan. Konon Desa Prawoto sebagai Kerajaan Kecil setelah Kerajaan Demak hancur. Raden Mukmin inilah yang memboyong Kerajaan Demak ke Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Saat ini Desa Prawoto adalah desa perbukitan, dengan hawa yang tidak terlalu dingin saat malam hari dan tidak terlalu panas pada siang hari. Walaupun hanya perbukitan, di Prawoto masih banyak pohon-pohon besar dan hijau memberikan kesejukan. Saat malam tiba, dari perbukitan Prawoto nampak jelas wilayah kota Kudus. Memang daerah Prowoto lebih dekat dengan kota Kudus dari pada Kota Pati. Bahkan budaya dan adat istiadatnya pun kental dengan budaya keKudusan. Sebagian besar masyarakat Prawoto aktifitas seharinya kewilayah Kudus, seperti bekerja, berdagang, pergi kepasar, sekolah, bahkan samapi memanfaatkan fasilitas ATM mereka memilih ke Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa penjajahan Belanda, Desa Prawoto di fungsikan sebagai distrik Karesidenan yang membawai daerah Pati sampai perbatasan Tuban Jawa Timur, Kudus, Jepara bahkan Demak. Sampai sekarang perkantoran Karesidenan warisan Belanda masih berdiri kokoh dan sebagian difungsikan untuk kepentingan Desa. Tidak hanya itu, di tengah-tengah desa terdapat semacam alun-alun kecil dengan kolam air besar yang konon juga peninggalan Belanda. Tidak sedikit yang berpendapat kolam tersebut peninggalan jauh sebelum Belanda, alias peninggalan Sunan Prawoto. Sehingga, kolam tersebut sering dibuat mandi para tokoh-tokoh dan Ulama\u2019 dari luar kota di Jawa, seperti Pekalongan, Batang, Kendal, Magelang, Solo dan lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Di Desa Prawoto terdapat dua makam Sunan Prawoto, di daerah bawah dan di daerah atas istilah masyarakat menamainya. Terlepas mana yang benar Makam Sunan Prawoto tergantung keyakinan individu. Menurut arkeolog UGM yang saat itu ikut menjelaskan, bahwa yang dibawah adalah peninggalan situs dan yang di atas dari dulu berupa makam yang dikenal dengan makam Tabek. <\/p>\n\n\n\n

Rerata jenjang pendidikan masyarakat Prawoto maksimal tingkat SMA, hanya ada beberapa glintir yang samapi jenjang sarjana dan ada satu orang menjadi guru besar di UGM, namun sudah lama menetap di Yogyakarta, dan jarang pulang. Anehnya, walaupun rata-rata lulusan jenjang SMA, kemampuan dan skill mereka tak kalah dengan yang sarjana bahkan mentalnya pun demikian. Hal itu dapat dilihat dari cara bicara, cara berorganisasi, dan pola pikir maju seperti halnya sarjana. Itulah sekilah cerita tentang Prawoto.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke undangan, setelah aku baca, ternyata undangan tersebut sekaligus perintah dari pengurus YM3SK untuk mewakili datang di acara Haul Sunan Prawoto yang dilaksanakan di hari dan tanggal itu juga jam 19.00 WIB. Walaupun terkesan mendadak tidak seperti biasa jauh-jauh hari sudah ada pemberitahuan, seperti saat acara haul Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Ampel. Akhirnya tetap datang di acara haul Sunan Prawoto dengan berkoordinasi dan mengajak dengan teman-teman di dekat desa Prawoto. Berangkat sehabis sholat isya\u2019, sampai di desa Prawoto jam 19.45 WIB acara dbelum di mulai menunggu group rebana dari bapak-bapak polisi Polres Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Disaat-saat senggang tersebut, aku manfaatkan ngobrol dengan penduduk dan tokoh Ulama\u2019 setempat. Ternyata mereka selain punya warisan seni ketoprak juga punya kebudayaan menghisap rokok kretek. Selain rokok kretek mereka tidak mau. Karena budaya merokok kretek diyakini warisan leluhurnya. Jarang sekali orang-orang tua yang tidak merokok, terlihat tidak memegang dan membawa rokok kretek kebanyakan anak-anak usia sekolah. Sambil ngobrol mengupas sedikit sejarah Sunan Prawoto kita merokok kretek bersama. Dengan merokok kretek suasana santai dan keakraban terbentuk di serambi masjid Sunan Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Kebetulan posisiku duduk bersebelahan dengan salah satu tokoh juga Ulama\u2019 Prawoto. Umurnya sudah tergolong dapat bonus 16 tahun dati Tuhan. Itulah jawabannya saat aku tanya usianya berapa. Karena pingin tau, aku tanya kembali persisnya usia berapa, beliau menjawab diatas rata-rata umumnya usia manusia (60 tahun) yaitu 76 tahun. Ia menjawab sambil tersenyum dan memegang rokok kretek yang telah disulut, ia adalah Mbah Sholeh (nama samara).<\/p>\n\n\n\n

Saat menjawab, akupun terkaget, karena prediksiku umur sekitaran 50an. Raup wajahnya bersih, badannya terlihat sehat dan terlihat energik, tidak mau kalah dengan bapak-bapak lainnya yang saat itu ikut ngobrol yang rata-rata umur 48-60 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Akhirnya akupun penasaran, dan kembali bertanya. Mbah apa resepnya kok masih terlihat muda?. Ia pun menjawab, jauhi makanan yang ada obat penyedap rasanya, makananlah bahan alami seperti daun-daunan. Sampai detik ini ia mengaku tidak makan makanan yang ada penyedap rasanya, kalau ditawari atau ada suguhan di depannya, ia memilih tidak akan memakannya. Juga kalau ditawari dan disuguhi minuman yang bergula. Ia pun demikian menghindari. Kata masyarakat lainnya yang ikut ngobrol, Mbah Sholeh itu hidup sehat.<\/p>\n\n\n\n

Celetukan tersebut disikapi Mbah Sholeh  dengan senyuman dan sambil mengeluarkan asap rokok kretek dari mulutnya dan hidupnya. Kemudian aku bertanya lagi, kenapa Mbah merokok?. Ia pun tersenyum sambil menyedot kembali rokok kreteknya dengan menjawab, kalau merokok kretek membuat ia bahagia, dengan kondisi bahagia ini orang jadi awet muda. Kalau merokok membuat semangat, dengan semangat orang jadi giat dan kuat. Ia juga menceritakan memulai merokok kretek saat sudah Islam. Kata Islam disini bukan berarti saat masuk Islam, akan tetapi yang dimaksud saat sudah khitan atau usia baliq. Dahulu setelah ia dikhitan, bapaknya menyuruhnya merokok sebagai tanda sudah dewasa. <\/p>\n\n\n\n

Inilah pengakuan Mbah Sholeh, ternyata wajah yang bersih berseri, awet muda, fisiknya kuat dan energik, salah satu rahasinya adalah berbahagia dan giat. Agar bahagia dan giat ia selalu mengkonsumsi rokok kretek dan meninggalkan makanan dengan penyedap rasa.   
<\/p>\n","post_title":"Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bikin-awet-muda-dan-energik-rahasia-di-balik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-30 10:40:00","post_modified_gmt":"2019-09-30 03:40:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6112","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6101,"post_author":"877","post_date":"2019-09-26 10:08:08","post_date_gmt":"2019-09-26 03:08:08","post_content":"\n

Masa panen adalah saat yang dinanti-nanti petani tembakau. Tentunya harapan petani, tanaman tembakaunaya tumbuh dengan baik, kualitas bagus dan jumlahnya banyak, serta harganya bagus. Di saat tanaman tembakaunya bagus, baik kualitas dan kuantitasnya, biasanya diikuti dengan harga bagus pula. Namun tidak bisa dipastikan, karena masalah harga tidak bisa petani serta merta yang menentukan, ada faktor yang sanagat kompleks. Yaitu situasi dan kondisi sektor pertembakauan di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6112,"post_author":"877","post_date":"2019-09-30 10:39:53","post_date_gmt":"2019-09-30 03:39:53","post_content":"\n

Mbah Sholeh, salah satu tokoh di Desa Prawoto Pati Jawa Tengah, ia selalu mengkonsumsi rokok kretek untuk memacu gairah semangat hidupnya diusia menjelang senja. Usia boleh bertambah kepala tujuh, namun fisik tetap bugar, seger dan energik. <\/p>\n\n\n\n

Sore itu sehabis ashar hari senin tanggal 23 September 2019, salah satu pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) menghampiriku sembari menyerahkan kertas undangan. Saat itu, aku sendiri sudah di atas motor mau bergegas pergi belanja untuk keperluan Mbah Pae panggilan akrab simbah KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus. Saat ini, beliau menjadi bapak masyarakat Kudus, sehingga banyak orang memanggilnya \u201cMbah Pae\u201d, putra dan cucunya pun memanggil demikian. <\/p>\n\n\n\n

Undangan dari pengurus YM3SK aku masukkan ke kantong saku celana, kemudian lanjut pergi belanja. Walaupun hari sudah sore, panas matahari masih terasa, terlebih saat menyinari kulit yang tidak terbungkus kain pakaian. Seakan-akan hari itu matahari semangat menyinari bumi mengiringi musim kemarau. Sepulang dari belanja akupun menuju dapur mengambil gelas dan air minum. Sambil minum aku buka undangan tersebut dan aku baca. Ternyata undangan tersebut pemberitahuan ada acara pengajian dalam rangka Haul Agung Kanjeng Sunan Prawoto Raden Haryo Bagus Mu\u2019min atau biasa dipanggil Mbah Tabek.<\/p>\n\n\n\n

Sunan Prawoto adalah raja keempat dari Kesultanan Demak yang memerintah tahun 1546-1549. Nama lahirnya Raden Mukmin, seorang agamis dari keturunan Kerajaan Demak Bintoro. Putra Sulung Raja Demak Sultan Trenggono. Ia terkenal dengan sebutan Sunan Prawoto, karena daerah yang disinggahi hingga akhir wafatnya bernama Desa Prawoto dalam wilayah kabupaten Pati Jawa Tengah berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kudus bagian selatan. Konon Desa Prawoto sebagai Kerajaan Kecil setelah Kerajaan Demak hancur. Raden Mukmin inilah yang memboyong Kerajaan Demak ke Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Saat ini Desa Prawoto adalah desa perbukitan, dengan hawa yang tidak terlalu dingin saat malam hari dan tidak terlalu panas pada siang hari. Walaupun hanya perbukitan, di Prawoto masih banyak pohon-pohon besar dan hijau memberikan kesejukan. Saat malam tiba, dari perbukitan Prawoto nampak jelas wilayah kota Kudus. Memang daerah Prowoto lebih dekat dengan kota Kudus dari pada Kota Pati. Bahkan budaya dan adat istiadatnya pun kental dengan budaya keKudusan. Sebagian besar masyarakat Prawoto aktifitas seharinya kewilayah Kudus, seperti bekerja, berdagang, pergi kepasar, sekolah, bahkan samapi memanfaatkan fasilitas ATM mereka memilih ke Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa penjajahan Belanda, Desa Prawoto di fungsikan sebagai distrik Karesidenan yang membawai daerah Pati sampai perbatasan Tuban Jawa Timur, Kudus, Jepara bahkan Demak. Sampai sekarang perkantoran Karesidenan warisan Belanda masih berdiri kokoh dan sebagian difungsikan untuk kepentingan Desa. Tidak hanya itu, di tengah-tengah desa terdapat semacam alun-alun kecil dengan kolam air besar yang konon juga peninggalan Belanda. Tidak sedikit yang berpendapat kolam tersebut peninggalan jauh sebelum Belanda, alias peninggalan Sunan Prawoto. Sehingga, kolam tersebut sering dibuat mandi para tokoh-tokoh dan Ulama\u2019 dari luar kota di Jawa, seperti Pekalongan, Batang, Kendal, Magelang, Solo dan lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Di Desa Prawoto terdapat dua makam Sunan Prawoto, di daerah bawah dan di daerah atas istilah masyarakat menamainya. Terlepas mana yang benar Makam Sunan Prawoto tergantung keyakinan individu. Menurut arkeolog UGM yang saat itu ikut menjelaskan, bahwa yang dibawah adalah peninggalan situs dan yang di atas dari dulu berupa makam yang dikenal dengan makam Tabek. <\/p>\n\n\n\n

Rerata jenjang pendidikan masyarakat Prawoto maksimal tingkat SMA, hanya ada beberapa glintir yang samapi jenjang sarjana dan ada satu orang menjadi guru besar di UGM, namun sudah lama menetap di Yogyakarta, dan jarang pulang. Anehnya, walaupun rata-rata lulusan jenjang SMA, kemampuan dan skill mereka tak kalah dengan yang sarjana bahkan mentalnya pun demikian. Hal itu dapat dilihat dari cara bicara, cara berorganisasi, dan pola pikir maju seperti halnya sarjana. Itulah sekilah cerita tentang Prawoto.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke undangan, setelah aku baca, ternyata undangan tersebut sekaligus perintah dari pengurus YM3SK untuk mewakili datang di acara Haul Sunan Prawoto yang dilaksanakan di hari dan tanggal itu juga jam 19.00 WIB. Walaupun terkesan mendadak tidak seperti biasa jauh-jauh hari sudah ada pemberitahuan, seperti saat acara haul Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Ampel. Akhirnya tetap datang di acara haul Sunan Prawoto dengan berkoordinasi dan mengajak dengan teman-teman di dekat desa Prawoto. Berangkat sehabis sholat isya\u2019, sampai di desa Prawoto jam 19.45 WIB acara dbelum di mulai menunggu group rebana dari bapak-bapak polisi Polres Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Disaat-saat senggang tersebut, aku manfaatkan ngobrol dengan penduduk dan tokoh Ulama\u2019 setempat. Ternyata mereka selain punya warisan seni ketoprak juga punya kebudayaan menghisap rokok kretek. Selain rokok kretek mereka tidak mau. Karena budaya merokok kretek diyakini warisan leluhurnya. Jarang sekali orang-orang tua yang tidak merokok, terlihat tidak memegang dan membawa rokok kretek kebanyakan anak-anak usia sekolah. Sambil ngobrol mengupas sedikit sejarah Sunan Prawoto kita merokok kretek bersama. Dengan merokok kretek suasana santai dan keakraban terbentuk di serambi masjid Sunan Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Kebetulan posisiku duduk bersebelahan dengan salah satu tokoh juga Ulama\u2019 Prawoto. Umurnya sudah tergolong dapat bonus 16 tahun dati Tuhan. Itulah jawabannya saat aku tanya usianya berapa. Karena pingin tau, aku tanya kembali persisnya usia berapa, beliau menjawab diatas rata-rata umumnya usia manusia (60 tahun) yaitu 76 tahun. Ia menjawab sambil tersenyum dan memegang rokok kretek yang telah disulut, ia adalah Mbah Sholeh (nama samara).<\/p>\n\n\n\n

Saat menjawab, akupun terkaget, karena prediksiku umur sekitaran 50an. Raup wajahnya bersih, badannya terlihat sehat dan terlihat energik, tidak mau kalah dengan bapak-bapak lainnya yang saat itu ikut ngobrol yang rata-rata umur 48-60 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Akhirnya akupun penasaran, dan kembali bertanya. Mbah apa resepnya kok masih terlihat muda?. Ia pun menjawab, jauhi makanan yang ada obat penyedap rasanya, makananlah bahan alami seperti daun-daunan. Sampai detik ini ia mengaku tidak makan makanan yang ada penyedap rasanya, kalau ditawari atau ada suguhan di depannya, ia memilih tidak akan memakannya. Juga kalau ditawari dan disuguhi minuman yang bergula. Ia pun demikian menghindari. Kata masyarakat lainnya yang ikut ngobrol, Mbah Sholeh itu hidup sehat.<\/p>\n\n\n\n

Celetukan tersebut disikapi Mbah Sholeh  dengan senyuman dan sambil mengeluarkan asap rokok kretek dari mulutnya dan hidupnya. Kemudian aku bertanya lagi, kenapa Mbah merokok?. Ia pun tersenyum sambil menyedot kembali rokok kreteknya dengan menjawab, kalau merokok kretek membuat ia bahagia, dengan kondisi bahagia ini orang jadi awet muda. Kalau merokok membuat semangat, dengan semangat orang jadi giat dan kuat. Ia juga menceritakan memulai merokok kretek saat sudah Islam. Kata Islam disini bukan berarti saat masuk Islam, akan tetapi yang dimaksud saat sudah khitan atau usia baliq. Dahulu setelah ia dikhitan, bapaknya menyuruhnya merokok sebagai tanda sudah dewasa. <\/p>\n\n\n\n

Inilah pengakuan Mbah Sholeh, ternyata wajah yang bersih berseri, awet muda, fisiknya kuat dan energik, salah satu rahasinya adalah berbahagia dan giat. Agar bahagia dan giat ia selalu mengkonsumsi rokok kretek dan meninggalkan makanan dengan penyedap rasa.   
<\/p>\n","post_title":"Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bikin-awet-muda-dan-energik-rahasia-di-balik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-30 10:40:00","post_modified_gmt":"2019-09-30 03:40:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6112","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6101,"post_author":"877","post_date":"2019-09-26 10:08:08","post_date_gmt":"2019-09-26 03:08:08","post_content":"\n

Masa panen adalah saat yang dinanti-nanti petani tembakau. Tentunya harapan petani, tanaman tembakaunaya tumbuh dengan baik, kualitas bagus dan jumlahnya banyak, serta harganya bagus. Di saat tanaman tembakaunya bagus, baik kualitas dan kuantitasnya, biasanya diikuti dengan harga bagus pula. Namun tidak bisa dipastikan, karena masalah harga tidak bisa petani serta merta yang menentukan, ada faktor yang sanagat kompleks. Yaitu situasi dan kondisi sektor pertembakauan di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6112,"post_author":"877","post_date":"2019-09-30 10:39:53","post_date_gmt":"2019-09-30 03:39:53","post_content":"\n

Mbah Sholeh, salah satu tokoh di Desa Prawoto Pati Jawa Tengah, ia selalu mengkonsumsi rokok kretek untuk memacu gairah semangat hidupnya diusia menjelang senja. Usia boleh bertambah kepala tujuh, namun fisik tetap bugar, seger dan energik. <\/p>\n\n\n\n

Sore itu sehabis ashar hari senin tanggal 23 September 2019, salah satu pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) menghampiriku sembari menyerahkan kertas undangan. Saat itu, aku sendiri sudah di atas motor mau bergegas pergi belanja untuk keperluan Mbah Pae panggilan akrab simbah KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus. Saat ini, beliau menjadi bapak masyarakat Kudus, sehingga banyak orang memanggilnya \u201cMbah Pae\u201d, putra dan cucunya pun memanggil demikian. <\/p>\n\n\n\n

Undangan dari pengurus YM3SK aku masukkan ke kantong saku celana, kemudian lanjut pergi belanja. Walaupun hari sudah sore, panas matahari masih terasa, terlebih saat menyinari kulit yang tidak terbungkus kain pakaian. Seakan-akan hari itu matahari semangat menyinari bumi mengiringi musim kemarau. Sepulang dari belanja akupun menuju dapur mengambil gelas dan air minum. Sambil minum aku buka undangan tersebut dan aku baca. Ternyata undangan tersebut pemberitahuan ada acara pengajian dalam rangka Haul Agung Kanjeng Sunan Prawoto Raden Haryo Bagus Mu\u2019min atau biasa dipanggil Mbah Tabek.<\/p>\n\n\n\n

Sunan Prawoto adalah raja keempat dari Kesultanan Demak yang memerintah tahun 1546-1549. Nama lahirnya Raden Mukmin, seorang agamis dari keturunan Kerajaan Demak Bintoro. Putra Sulung Raja Demak Sultan Trenggono. Ia terkenal dengan sebutan Sunan Prawoto, karena daerah yang disinggahi hingga akhir wafatnya bernama Desa Prawoto dalam wilayah kabupaten Pati Jawa Tengah berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kudus bagian selatan. Konon Desa Prawoto sebagai Kerajaan Kecil setelah Kerajaan Demak hancur. Raden Mukmin inilah yang memboyong Kerajaan Demak ke Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Saat ini Desa Prawoto adalah desa perbukitan, dengan hawa yang tidak terlalu dingin saat malam hari dan tidak terlalu panas pada siang hari. Walaupun hanya perbukitan, di Prawoto masih banyak pohon-pohon besar dan hijau memberikan kesejukan. Saat malam tiba, dari perbukitan Prawoto nampak jelas wilayah kota Kudus. Memang daerah Prowoto lebih dekat dengan kota Kudus dari pada Kota Pati. Bahkan budaya dan adat istiadatnya pun kental dengan budaya keKudusan. Sebagian besar masyarakat Prawoto aktifitas seharinya kewilayah Kudus, seperti bekerja, berdagang, pergi kepasar, sekolah, bahkan samapi memanfaatkan fasilitas ATM mereka memilih ke Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa penjajahan Belanda, Desa Prawoto di fungsikan sebagai distrik Karesidenan yang membawai daerah Pati sampai perbatasan Tuban Jawa Timur, Kudus, Jepara bahkan Demak. Sampai sekarang perkantoran Karesidenan warisan Belanda masih berdiri kokoh dan sebagian difungsikan untuk kepentingan Desa. Tidak hanya itu, di tengah-tengah desa terdapat semacam alun-alun kecil dengan kolam air besar yang konon juga peninggalan Belanda. Tidak sedikit yang berpendapat kolam tersebut peninggalan jauh sebelum Belanda, alias peninggalan Sunan Prawoto. Sehingga, kolam tersebut sering dibuat mandi para tokoh-tokoh dan Ulama\u2019 dari luar kota di Jawa, seperti Pekalongan, Batang, Kendal, Magelang, Solo dan lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Di Desa Prawoto terdapat dua makam Sunan Prawoto, di daerah bawah dan di daerah atas istilah masyarakat menamainya. Terlepas mana yang benar Makam Sunan Prawoto tergantung keyakinan individu. Menurut arkeolog UGM yang saat itu ikut menjelaskan, bahwa yang dibawah adalah peninggalan situs dan yang di atas dari dulu berupa makam yang dikenal dengan makam Tabek. <\/p>\n\n\n\n

Rerata jenjang pendidikan masyarakat Prawoto maksimal tingkat SMA, hanya ada beberapa glintir yang samapi jenjang sarjana dan ada satu orang menjadi guru besar di UGM, namun sudah lama menetap di Yogyakarta, dan jarang pulang. Anehnya, walaupun rata-rata lulusan jenjang SMA, kemampuan dan skill mereka tak kalah dengan yang sarjana bahkan mentalnya pun demikian. Hal itu dapat dilihat dari cara bicara, cara berorganisasi, dan pola pikir maju seperti halnya sarjana. Itulah sekilah cerita tentang Prawoto.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke undangan, setelah aku baca, ternyata undangan tersebut sekaligus perintah dari pengurus YM3SK untuk mewakili datang di acara Haul Sunan Prawoto yang dilaksanakan di hari dan tanggal itu juga jam 19.00 WIB. Walaupun terkesan mendadak tidak seperti biasa jauh-jauh hari sudah ada pemberitahuan, seperti saat acara haul Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Ampel. Akhirnya tetap datang di acara haul Sunan Prawoto dengan berkoordinasi dan mengajak dengan teman-teman di dekat desa Prawoto. Berangkat sehabis sholat isya\u2019, sampai di desa Prawoto jam 19.45 WIB acara dbelum di mulai menunggu group rebana dari bapak-bapak polisi Polres Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Disaat-saat senggang tersebut, aku manfaatkan ngobrol dengan penduduk dan tokoh Ulama\u2019 setempat. Ternyata mereka selain punya warisan seni ketoprak juga punya kebudayaan menghisap rokok kretek. Selain rokok kretek mereka tidak mau. Karena budaya merokok kretek diyakini warisan leluhurnya. Jarang sekali orang-orang tua yang tidak merokok, terlihat tidak memegang dan membawa rokok kretek kebanyakan anak-anak usia sekolah. Sambil ngobrol mengupas sedikit sejarah Sunan Prawoto kita merokok kretek bersama. Dengan merokok kretek suasana santai dan keakraban terbentuk di serambi masjid Sunan Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Kebetulan posisiku duduk bersebelahan dengan salah satu tokoh juga Ulama\u2019 Prawoto. Umurnya sudah tergolong dapat bonus 16 tahun dati Tuhan. Itulah jawabannya saat aku tanya usianya berapa. Karena pingin tau, aku tanya kembali persisnya usia berapa, beliau menjawab diatas rata-rata umumnya usia manusia (60 tahun) yaitu 76 tahun. Ia menjawab sambil tersenyum dan memegang rokok kretek yang telah disulut, ia adalah Mbah Sholeh (nama samara).<\/p>\n\n\n\n

Saat menjawab, akupun terkaget, karena prediksiku umur sekitaran 50an. Raup wajahnya bersih, badannya terlihat sehat dan terlihat energik, tidak mau kalah dengan bapak-bapak lainnya yang saat itu ikut ngobrol yang rata-rata umur 48-60 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Akhirnya akupun penasaran, dan kembali bertanya. Mbah apa resepnya kok masih terlihat muda?. Ia pun menjawab, jauhi makanan yang ada obat penyedap rasanya, makananlah bahan alami seperti daun-daunan. Sampai detik ini ia mengaku tidak makan makanan yang ada penyedap rasanya, kalau ditawari atau ada suguhan di depannya, ia memilih tidak akan memakannya. Juga kalau ditawari dan disuguhi minuman yang bergula. Ia pun demikian menghindari. Kata masyarakat lainnya yang ikut ngobrol, Mbah Sholeh itu hidup sehat.<\/p>\n\n\n\n

Celetukan tersebut disikapi Mbah Sholeh  dengan senyuman dan sambil mengeluarkan asap rokok kretek dari mulutnya dan hidupnya. Kemudian aku bertanya lagi, kenapa Mbah merokok?. Ia pun tersenyum sambil menyedot kembali rokok kreteknya dengan menjawab, kalau merokok kretek membuat ia bahagia, dengan kondisi bahagia ini orang jadi awet muda. Kalau merokok membuat semangat, dengan semangat orang jadi giat dan kuat. Ia juga menceritakan memulai merokok kretek saat sudah Islam. Kata Islam disini bukan berarti saat masuk Islam, akan tetapi yang dimaksud saat sudah khitan atau usia baliq. Dahulu setelah ia dikhitan, bapaknya menyuruhnya merokok sebagai tanda sudah dewasa. <\/p>\n\n\n\n

Inilah pengakuan Mbah Sholeh, ternyata wajah yang bersih berseri, awet muda, fisiknya kuat dan energik, salah satu rahasinya adalah berbahagia dan giat. Agar bahagia dan giat ia selalu mengkonsumsi rokok kretek dan meninggalkan makanan dengan penyedap rasa.   
<\/p>\n","post_title":"Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bikin-awet-muda-dan-energik-rahasia-di-balik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-30 10:40:00","post_modified_gmt":"2019-09-30 03:40:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6112","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6101,"post_author":"877","post_date":"2019-09-26 10:08:08","post_date_gmt":"2019-09-26 03:08:08","post_content":"\n

Masa panen adalah saat yang dinanti-nanti petani tembakau. Tentunya harapan petani, tanaman tembakaunaya tumbuh dengan baik, kualitas bagus dan jumlahnya banyak, serta harganya bagus. Di saat tanaman tembakaunya bagus, baik kualitas dan kuantitasnya, biasanya diikuti dengan harga bagus pula. Namun tidak bisa dipastikan, karena masalah harga tidak bisa petani serta merta yang menentukan, ada faktor yang sanagat kompleks. Yaitu situasi dan kondisi sektor pertembakauan di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6112,"post_author":"877","post_date":"2019-09-30 10:39:53","post_date_gmt":"2019-09-30 03:39:53","post_content":"\n

Mbah Sholeh, salah satu tokoh di Desa Prawoto Pati Jawa Tengah, ia selalu mengkonsumsi rokok kretek untuk memacu gairah semangat hidupnya diusia menjelang senja. Usia boleh bertambah kepala tujuh, namun fisik tetap bugar, seger dan energik. <\/p>\n\n\n\n

Sore itu sehabis ashar hari senin tanggal 23 September 2019, salah satu pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) menghampiriku sembari menyerahkan kertas undangan. Saat itu, aku sendiri sudah di atas motor mau bergegas pergi belanja untuk keperluan Mbah Pae panggilan akrab simbah KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus. Saat ini, beliau menjadi bapak masyarakat Kudus, sehingga banyak orang memanggilnya \u201cMbah Pae\u201d, putra dan cucunya pun memanggil demikian. <\/p>\n\n\n\n

Undangan dari pengurus YM3SK aku masukkan ke kantong saku celana, kemudian lanjut pergi belanja. Walaupun hari sudah sore, panas matahari masih terasa, terlebih saat menyinari kulit yang tidak terbungkus kain pakaian. Seakan-akan hari itu matahari semangat menyinari bumi mengiringi musim kemarau. Sepulang dari belanja akupun menuju dapur mengambil gelas dan air minum. Sambil minum aku buka undangan tersebut dan aku baca. Ternyata undangan tersebut pemberitahuan ada acara pengajian dalam rangka Haul Agung Kanjeng Sunan Prawoto Raden Haryo Bagus Mu\u2019min atau biasa dipanggil Mbah Tabek.<\/p>\n\n\n\n

Sunan Prawoto adalah raja keempat dari Kesultanan Demak yang memerintah tahun 1546-1549. Nama lahirnya Raden Mukmin, seorang agamis dari keturunan Kerajaan Demak Bintoro. Putra Sulung Raja Demak Sultan Trenggono. Ia terkenal dengan sebutan Sunan Prawoto, karena daerah yang disinggahi hingga akhir wafatnya bernama Desa Prawoto dalam wilayah kabupaten Pati Jawa Tengah berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kudus bagian selatan. Konon Desa Prawoto sebagai Kerajaan Kecil setelah Kerajaan Demak hancur. Raden Mukmin inilah yang memboyong Kerajaan Demak ke Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Saat ini Desa Prawoto adalah desa perbukitan, dengan hawa yang tidak terlalu dingin saat malam hari dan tidak terlalu panas pada siang hari. Walaupun hanya perbukitan, di Prawoto masih banyak pohon-pohon besar dan hijau memberikan kesejukan. Saat malam tiba, dari perbukitan Prawoto nampak jelas wilayah kota Kudus. Memang daerah Prowoto lebih dekat dengan kota Kudus dari pada Kota Pati. Bahkan budaya dan adat istiadatnya pun kental dengan budaya keKudusan. Sebagian besar masyarakat Prawoto aktifitas seharinya kewilayah Kudus, seperti bekerja, berdagang, pergi kepasar, sekolah, bahkan samapi memanfaatkan fasilitas ATM mereka memilih ke Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa penjajahan Belanda, Desa Prawoto di fungsikan sebagai distrik Karesidenan yang membawai daerah Pati sampai perbatasan Tuban Jawa Timur, Kudus, Jepara bahkan Demak. Sampai sekarang perkantoran Karesidenan warisan Belanda masih berdiri kokoh dan sebagian difungsikan untuk kepentingan Desa. Tidak hanya itu, di tengah-tengah desa terdapat semacam alun-alun kecil dengan kolam air besar yang konon juga peninggalan Belanda. Tidak sedikit yang berpendapat kolam tersebut peninggalan jauh sebelum Belanda, alias peninggalan Sunan Prawoto. Sehingga, kolam tersebut sering dibuat mandi para tokoh-tokoh dan Ulama\u2019 dari luar kota di Jawa, seperti Pekalongan, Batang, Kendal, Magelang, Solo dan lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Di Desa Prawoto terdapat dua makam Sunan Prawoto, di daerah bawah dan di daerah atas istilah masyarakat menamainya. Terlepas mana yang benar Makam Sunan Prawoto tergantung keyakinan individu. Menurut arkeolog UGM yang saat itu ikut menjelaskan, bahwa yang dibawah adalah peninggalan situs dan yang di atas dari dulu berupa makam yang dikenal dengan makam Tabek. <\/p>\n\n\n\n

Rerata jenjang pendidikan masyarakat Prawoto maksimal tingkat SMA, hanya ada beberapa glintir yang samapi jenjang sarjana dan ada satu orang menjadi guru besar di UGM, namun sudah lama menetap di Yogyakarta, dan jarang pulang. Anehnya, walaupun rata-rata lulusan jenjang SMA, kemampuan dan skill mereka tak kalah dengan yang sarjana bahkan mentalnya pun demikian. Hal itu dapat dilihat dari cara bicara, cara berorganisasi, dan pola pikir maju seperti halnya sarjana. Itulah sekilah cerita tentang Prawoto.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke undangan, setelah aku baca, ternyata undangan tersebut sekaligus perintah dari pengurus YM3SK untuk mewakili datang di acara Haul Sunan Prawoto yang dilaksanakan di hari dan tanggal itu juga jam 19.00 WIB. Walaupun terkesan mendadak tidak seperti biasa jauh-jauh hari sudah ada pemberitahuan, seperti saat acara haul Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Ampel. Akhirnya tetap datang di acara haul Sunan Prawoto dengan berkoordinasi dan mengajak dengan teman-teman di dekat desa Prawoto. Berangkat sehabis sholat isya\u2019, sampai di desa Prawoto jam 19.45 WIB acara dbelum di mulai menunggu group rebana dari bapak-bapak polisi Polres Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Disaat-saat senggang tersebut, aku manfaatkan ngobrol dengan penduduk dan tokoh Ulama\u2019 setempat. Ternyata mereka selain punya warisan seni ketoprak juga punya kebudayaan menghisap rokok kretek. Selain rokok kretek mereka tidak mau. Karena budaya merokok kretek diyakini warisan leluhurnya. Jarang sekali orang-orang tua yang tidak merokok, terlihat tidak memegang dan membawa rokok kretek kebanyakan anak-anak usia sekolah. Sambil ngobrol mengupas sedikit sejarah Sunan Prawoto kita merokok kretek bersama. Dengan merokok kretek suasana santai dan keakraban terbentuk di serambi masjid Sunan Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Kebetulan posisiku duduk bersebelahan dengan salah satu tokoh juga Ulama\u2019 Prawoto. Umurnya sudah tergolong dapat bonus 16 tahun dati Tuhan. Itulah jawabannya saat aku tanya usianya berapa. Karena pingin tau, aku tanya kembali persisnya usia berapa, beliau menjawab diatas rata-rata umumnya usia manusia (60 tahun) yaitu 76 tahun. Ia menjawab sambil tersenyum dan memegang rokok kretek yang telah disulut, ia adalah Mbah Sholeh (nama samara).<\/p>\n\n\n\n

Saat menjawab, akupun terkaget, karena prediksiku umur sekitaran 50an. Raup wajahnya bersih, badannya terlihat sehat dan terlihat energik, tidak mau kalah dengan bapak-bapak lainnya yang saat itu ikut ngobrol yang rata-rata umur 48-60 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Akhirnya akupun penasaran, dan kembali bertanya. Mbah apa resepnya kok masih terlihat muda?. Ia pun menjawab, jauhi makanan yang ada obat penyedap rasanya, makananlah bahan alami seperti daun-daunan. Sampai detik ini ia mengaku tidak makan makanan yang ada penyedap rasanya, kalau ditawari atau ada suguhan di depannya, ia memilih tidak akan memakannya. Juga kalau ditawari dan disuguhi minuman yang bergula. Ia pun demikian menghindari. Kata masyarakat lainnya yang ikut ngobrol, Mbah Sholeh itu hidup sehat.<\/p>\n\n\n\n

Celetukan tersebut disikapi Mbah Sholeh  dengan senyuman dan sambil mengeluarkan asap rokok kretek dari mulutnya dan hidupnya. Kemudian aku bertanya lagi, kenapa Mbah merokok?. Ia pun tersenyum sambil menyedot kembali rokok kreteknya dengan menjawab, kalau merokok kretek membuat ia bahagia, dengan kondisi bahagia ini orang jadi awet muda. Kalau merokok membuat semangat, dengan semangat orang jadi giat dan kuat. Ia juga menceritakan memulai merokok kretek saat sudah Islam. Kata Islam disini bukan berarti saat masuk Islam, akan tetapi yang dimaksud saat sudah khitan atau usia baliq. Dahulu setelah ia dikhitan, bapaknya menyuruhnya merokok sebagai tanda sudah dewasa. <\/p>\n\n\n\n

Inilah pengakuan Mbah Sholeh, ternyata wajah yang bersih berseri, awet muda, fisiknya kuat dan energik, salah satu rahasinya adalah berbahagia dan giat. Agar bahagia dan giat ia selalu mengkonsumsi rokok kretek dan meninggalkan makanan dengan penyedap rasa.   
<\/p>\n","post_title":"Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bikin-awet-muda-dan-energik-rahasia-di-balik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-30 10:40:00","post_modified_gmt":"2019-09-30 03:40:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6112","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6101,"post_author":"877","post_date":"2019-09-26 10:08:08","post_date_gmt":"2019-09-26 03:08:08","post_content":"\n

Masa panen adalah saat yang dinanti-nanti petani tembakau. Tentunya harapan petani, tanaman tembakaunaya tumbuh dengan baik, kualitas bagus dan jumlahnya banyak, serta harganya bagus. Di saat tanaman tembakaunya bagus, baik kualitas dan kuantitasnya, biasanya diikuti dengan harga bagus pula. Namun tidak bisa dipastikan, karena masalah harga tidak bisa petani serta merta yang menentukan, ada faktor yang sanagat kompleks. Yaitu situasi dan kondisi sektor pertembakauan di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6112,"post_author":"877","post_date":"2019-09-30 10:39:53","post_date_gmt":"2019-09-30 03:39:53","post_content":"\n

Mbah Sholeh, salah satu tokoh di Desa Prawoto Pati Jawa Tengah, ia selalu mengkonsumsi rokok kretek untuk memacu gairah semangat hidupnya diusia menjelang senja. Usia boleh bertambah kepala tujuh, namun fisik tetap bugar, seger dan energik. <\/p>\n\n\n\n

Sore itu sehabis ashar hari senin tanggal 23 September 2019, salah satu pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) menghampiriku sembari menyerahkan kertas undangan. Saat itu, aku sendiri sudah di atas motor mau bergegas pergi belanja untuk keperluan Mbah Pae panggilan akrab simbah KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus. Saat ini, beliau menjadi bapak masyarakat Kudus, sehingga banyak orang memanggilnya \u201cMbah Pae\u201d, putra dan cucunya pun memanggil demikian. <\/p>\n\n\n\n

Undangan dari pengurus YM3SK aku masukkan ke kantong saku celana, kemudian lanjut pergi belanja. Walaupun hari sudah sore, panas matahari masih terasa, terlebih saat menyinari kulit yang tidak terbungkus kain pakaian. Seakan-akan hari itu matahari semangat menyinari bumi mengiringi musim kemarau. Sepulang dari belanja akupun menuju dapur mengambil gelas dan air minum. Sambil minum aku buka undangan tersebut dan aku baca. Ternyata undangan tersebut pemberitahuan ada acara pengajian dalam rangka Haul Agung Kanjeng Sunan Prawoto Raden Haryo Bagus Mu\u2019min atau biasa dipanggil Mbah Tabek.<\/p>\n\n\n\n

Sunan Prawoto adalah raja keempat dari Kesultanan Demak yang memerintah tahun 1546-1549. Nama lahirnya Raden Mukmin, seorang agamis dari keturunan Kerajaan Demak Bintoro. Putra Sulung Raja Demak Sultan Trenggono. Ia terkenal dengan sebutan Sunan Prawoto, karena daerah yang disinggahi hingga akhir wafatnya bernama Desa Prawoto dalam wilayah kabupaten Pati Jawa Tengah berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kudus bagian selatan. Konon Desa Prawoto sebagai Kerajaan Kecil setelah Kerajaan Demak hancur. Raden Mukmin inilah yang memboyong Kerajaan Demak ke Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Saat ini Desa Prawoto adalah desa perbukitan, dengan hawa yang tidak terlalu dingin saat malam hari dan tidak terlalu panas pada siang hari. Walaupun hanya perbukitan, di Prawoto masih banyak pohon-pohon besar dan hijau memberikan kesejukan. Saat malam tiba, dari perbukitan Prawoto nampak jelas wilayah kota Kudus. Memang daerah Prowoto lebih dekat dengan kota Kudus dari pada Kota Pati. Bahkan budaya dan adat istiadatnya pun kental dengan budaya keKudusan. Sebagian besar masyarakat Prawoto aktifitas seharinya kewilayah Kudus, seperti bekerja, berdagang, pergi kepasar, sekolah, bahkan samapi memanfaatkan fasilitas ATM mereka memilih ke Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa penjajahan Belanda, Desa Prawoto di fungsikan sebagai distrik Karesidenan yang membawai daerah Pati sampai perbatasan Tuban Jawa Timur, Kudus, Jepara bahkan Demak. Sampai sekarang perkantoran Karesidenan warisan Belanda masih berdiri kokoh dan sebagian difungsikan untuk kepentingan Desa. Tidak hanya itu, di tengah-tengah desa terdapat semacam alun-alun kecil dengan kolam air besar yang konon juga peninggalan Belanda. Tidak sedikit yang berpendapat kolam tersebut peninggalan jauh sebelum Belanda, alias peninggalan Sunan Prawoto. Sehingga, kolam tersebut sering dibuat mandi para tokoh-tokoh dan Ulama\u2019 dari luar kota di Jawa, seperti Pekalongan, Batang, Kendal, Magelang, Solo dan lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Di Desa Prawoto terdapat dua makam Sunan Prawoto, di daerah bawah dan di daerah atas istilah masyarakat menamainya. Terlepas mana yang benar Makam Sunan Prawoto tergantung keyakinan individu. Menurut arkeolog UGM yang saat itu ikut menjelaskan, bahwa yang dibawah adalah peninggalan situs dan yang di atas dari dulu berupa makam yang dikenal dengan makam Tabek. <\/p>\n\n\n\n

Rerata jenjang pendidikan masyarakat Prawoto maksimal tingkat SMA, hanya ada beberapa glintir yang samapi jenjang sarjana dan ada satu orang menjadi guru besar di UGM, namun sudah lama menetap di Yogyakarta, dan jarang pulang. Anehnya, walaupun rata-rata lulusan jenjang SMA, kemampuan dan skill mereka tak kalah dengan yang sarjana bahkan mentalnya pun demikian. Hal itu dapat dilihat dari cara bicara, cara berorganisasi, dan pola pikir maju seperti halnya sarjana. Itulah sekilah cerita tentang Prawoto.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke undangan, setelah aku baca, ternyata undangan tersebut sekaligus perintah dari pengurus YM3SK untuk mewakili datang di acara Haul Sunan Prawoto yang dilaksanakan di hari dan tanggal itu juga jam 19.00 WIB. Walaupun terkesan mendadak tidak seperti biasa jauh-jauh hari sudah ada pemberitahuan, seperti saat acara haul Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Ampel. Akhirnya tetap datang di acara haul Sunan Prawoto dengan berkoordinasi dan mengajak dengan teman-teman di dekat desa Prawoto. Berangkat sehabis sholat isya\u2019, sampai di desa Prawoto jam 19.45 WIB acara dbelum di mulai menunggu group rebana dari bapak-bapak polisi Polres Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Disaat-saat senggang tersebut, aku manfaatkan ngobrol dengan penduduk dan tokoh Ulama\u2019 setempat. Ternyata mereka selain punya warisan seni ketoprak juga punya kebudayaan menghisap rokok kretek. Selain rokok kretek mereka tidak mau. Karena budaya merokok kretek diyakini warisan leluhurnya. Jarang sekali orang-orang tua yang tidak merokok, terlihat tidak memegang dan membawa rokok kretek kebanyakan anak-anak usia sekolah. Sambil ngobrol mengupas sedikit sejarah Sunan Prawoto kita merokok kretek bersama. Dengan merokok kretek suasana santai dan keakraban terbentuk di serambi masjid Sunan Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Kebetulan posisiku duduk bersebelahan dengan salah satu tokoh juga Ulama\u2019 Prawoto. Umurnya sudah tergolong dapat bonus 16 tahun dati Tuhan. Itulah jawabannya saat aku tanya usianya berapa. Karena pingin tau, aku tanya kembali persisnya usia berapa, beliau menjawab diatas rata-rata umumnya usia manusia (60 tahun) yaitu 76 tahun. Ia menjawab sambil tersenyum dan memegang rokok kretek yang telah disulut, ia adalah Mbah Sholeh (nama samara).<\/p>\n\n\n\n

Saat menjawab, akupun terkaget, karena prediksiku umur sekitaran 50an. Raup wajahnya bersih, badannya terlihat sehat dan terlihat energik, tidak mau kalah dengan bapak-bapak lainnya yang saat itu ikut ngobrol yang rata-rata umur 48-60 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Akhirnya akupun penasaran, dan kembali bertanya. Mbah apa resepnya kok masih terlihat muda?. Ia pun menjawab, jauhi makanan yang ada obat penyedap rasanya, makananlah bahan alami seperti daun-daunan. Sampai detik ini ia mengaku tidak makan makanan yang ada penyedap rasanya, kalau ditawari atau ada suguhan di depannya, ia memilih tidak akan memakannya. Juga kalau ditawari dan disuguhi minuman yang bergula. Ia pun demikian menghindari. Kata masyarakat lainnya yang ikut ngobrol, Mbah Sholeh itu hidup sehat.<\/p>\n\n\n\n

Celetukan tersebut disikapi Mbah Sholeh  dengan senyuman dan sambil mengeluarkan asap rokok kretek dari mulutnya dan hidupnya. Kemudian aku bertanya lagi, kenapa Mbah merokok?. Ia pun tersenyum sambil menyedot kembali rokok kreteknya dengan menjawab, kalau merokok kretek membuat ia bahagia, dengan kondisi bahagia ini orang jadi awet muda. Kalau merokok membuat semangat, dengan semangat orang jadi giat dan kuat. Ia juga menceritakan memulai merokok kretek saat sudah Islam. Kata Islam disini bukan berarti saat masuk Islam, akan tetapi yang dimaksud saat sudah khitan atau usia baliq. Dahulu setelah ia dikhitan, bapaknya menyuruhnya merokok sebagai tanda sudah dewasa. <\/p>\n\n\n\n

Inilah pengakuan Mbah Sholeh, ternyata wajah yang bersih berseri, awet muda, fisiknya kuat dan energik, salah satu rahasinya adalah berbahagia dan giat. Agar bahagia dan giat ia selalu mengkonsumsi rokok kretek dan meninggalkan makanan dengan penyedap rasa.   
<\/p>\n","post_title":"Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bikin-awet-muda-dan-energik-rahasia-di-balik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-30 10:40:00","post_modified_gmt":"2019-09-30 03:40:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6112","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6101,"post_author":"877","post_date":"2019-09-26 10:08:08","post_date_gmt":"2019-09-26 03:08:08","post_content":"\n

Masa panen adalah saat yang dinanti-nanti petani tembakau. Tentunya harapan petani, tanaman tembakaunaya tumbuh dengan baik, kualitas bagus dan jumlahnya banyak, serta harganya bagus. Di saat tanaman tembakaunya bagus, baik kualitas dan kuantitasnya, biasanya diikuti dengan harga bagus pula. Namun tidak bisa dipastikan, karena masalah harga tidak bisa petani serta merta yang menentukan, ada faktor yang sanagat kompleks. Yaitu situasi dan kondisi sektor pertembakauan di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6112,"post_author":"877","post_date":"2019-09-30 10:39:53","post_date_gmt":"2019-09-30 03:39:53","post_content":"\n

Mbah Sholeh, salah satu tokoh di Desa Prawoto Pati Jawa Tengah, ia selalu mengkonsumsi rokok kretek untuk memacu gairah semangat hidupnya diusia menjelang senja. Usia boleh bertambah kepala tujuh, namun fisik tetap bugar, seger dan energik. <\/p>\n\n\n\n

Sore itu sehabis ashar hari senin tanggal 23 September 2019, salah satu pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) menghampiriku sembari menyerahkan kertas undangan. Saat itu, aku sendiri sudah di atas motor mau bergegas pergi belanja untuk keperluan Mbah Pae panggilan akrab simbah KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus. Saat ini, beliau menjadi bapak masyarakat Kudus, sehingga banyak orang memanggilnya \u201cMbah Pae\u201d, putra dan cucunya pun memanggil demikian. <\/p>\n\n\n\n

Undangan dari pengurus YM3SK aku masukkan ke kantong saku celana, kemudian lanjut pergi belanja. Walaupun hari sudah sore, panas matahari masih terasa, terlebih saat menyinari kulit yang tidak terbungkus kain pakaian. Seakan-akan hari itu matahari semangat menyinari bumi mengiringi musim kemarau. Sepulang dari belanja akupun menuju dapur mengambil gelas dan air minum. Sambil minum aku buka undangan tersebut dan aku baca. Ternyata undangan tersebut pemberitahuan ada acara pengajian dalam rangka Haul Agung Kanjeng Sunan Prawoto Raden Haryo Bagus Mu\u2019min atau biasa dipanggil Mbah Tabek.<\/p>\n\n\n\n

Sunan Prawoto adalah raja keempat dari Kesultanan Demak yang memerintah tahun 1546-1549. Nama lahirnya Raden Mukmin, seorang agamis dari keturunan Kerajaan Demak Bintoro. Putra Sulung Raja Demak Sultan Trenggono. Ia terkenal dengan sebutan Sunan Prawoto, karena daerah yang disinggahi hingga akhir wafatnya bernama Desa Prawoto dalam wilayah kabupaten Pati Jawa Tengah berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kudus bagian selatan. Konon Desa Prawoto sebagai Kerajaan Kecil setelah Kerajaan Demak hancur. Raden Mukmin inilah yang memboyong Kerajaan Demak ke Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Saat ini Desa Prawoto adalah desa perbukitan, dengan hawa yang tidak terlalu dingin saat malam hari dan tidak terlalu panas pada siang hari. Walaupun hanya perbukitan, di Prawoto masih banyak pohon-pohon besar dan hijau memberikan kesejukan. Saat malam tiba, dari perbukitan Prawoto nampak jelas wilayah kota Kudus. Memang daerah Prowoto lebih dekat dengan kota Kudus dari pada Kota Pati. Bahkan budaya dan adat istiadatnya pun kental dengan budaya keKudusan. Sebagian besar masyarakat Prawoto aktifitas seharinya kewilayah Kudus, seperti bekerja, berdagang, pergi kepasar, sekolah, bahkan samapi memanfaatkan fasilitas ATM mereka memilih ke Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa penjajahan Belanda, Desa Prawoto di fungsikan sebagai distrik Karesidenan yang membawai daerah Pati sampai perbatasan Tuban Jawa Timur, Kudus, Jepara bahkan Demak. Sampai sekarang perkantoran Karesidenan warisan Belanda masih berdiri kokoh dan sebagian difungsikan untuk kepentingan Desa. Tidak hanya itu, di tengah-tengah desa terdapat semacam alun-alun kecil dengan kolam air besar yang konon juga peninggalan Belanda. Tidak sedikit yang berpendapat kolam tersebut peninggalan jauh sebelum Belanda, alias peninggalan Sunan Prawoto. Sehingga, kolam tersebut sering dibuat mandi para tokoh-tokoh dan Ulama\u2019 dari luar kota di Jawa, seperti Pekalongan, Batang, Kendal, Magelang, Solo dan lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Di Desa Prawoto terdapat dua makam Sunan Prawoto, di daerah bawah dan di daerah atas istilah masyarakat menamainya. Terlepas mana yang benar Makam Sunan Prawoto tergantung keyakinan individu. Menurut arkeolog UGM yang saat itu ikut menjelaskan, bahwa yang dibawah adalah peninggalan situs dan yang di atas dari dulu berupa makam yang dikenal dengan makam Tabek. <\/p>\n\n\n\n

Rerata jenjang pendidikan masyarakat Prawoto maksimal tingkat SMA, hanya ada beberapa glintir yang samapi jenjang sarjana dan ada satu orang menjadi guru besar di UGM, namun sudah lama menetap di Yogyakarta, dan jarang pulang. Anehnya, walaupun rata-rata lulusan jenjang SMA, kemampuan dan skill mereka tak kalah dengan yang sarjana bahkan mentalnya pun demikian. Hal itu dapat dilihat dari cara bicara, cara berorganisasi, dan pola pikir maju seperti halnya sarjana. Itulah sekilah cerita tentang Prawoto.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke undangan, setelah aku baca, ternyata undangan tersebut sekaligus perintah dari pengurus YM3SK untuk mewakili datang di acara Haul Sunan Prawoto yang dilaksanakan di hari dan tanggal itu juga jam 19.00 WIB. Walaupun terkesan mendadak tidak seperti biasa jauh-jauh hari sudah ada pemberitahuan, seperti saat acara haul Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Ampel. Akhirnya tetap datang di acara haul Sunan Prawoto dengan berkoordinasi dan mengajak dengan teman-teman di dekat desa Prawoto. Berangkat sehabis sholat isya\u2019, sampai di desa Prawoto jam 19.45 WIB acara dbelum di mulai menunggu group rebana dari bapak-bapak polisi Polres Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Disaat-saat senggang tersebut, aku manfaatkan ngobrol dengan penduduk dan tokoh Ulama\u2019 setempat. Ternyata mereka selain punya warisan seni ketoprak juga punya kebudayaan menghisap rokok kretek. Selain rokok kretek mereka tidak mau. Karena budaya merokok kretek diyakini warisan leluhurnya. Jarang sekali orang-orang tua yang tidak merokok, terlihat tidak memegang dan membawa rokok kretek kebanyakan anak-anak usia sekolah. Sambil ngobrol mengupas sedikit sejarah Sunan Prawoto kita merokok kretek bersama. Dengan merokok kretek suasana santai dan keakraban terbentuk di serambi masjid Sunan Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Kebetulan posisiku duduk bersebelahan dengan salah satu tokoh juga Ulama\u2019 Prawoto. Umurnya sudah tergolong dapat bonus 16 tahun dati Tuhan. Itulah jawabannya saat aku tanya usianya berapa. Karena pingin tau, aku tanya kembali persisnya usia berapa, beliau menjawab diatas rata-rata umumnya usia manusia (60 tahun) yaitu 76 tahun. Ia menjawab sambil tersenyum dan memegang rokok kretek yang telah disulut, ia adalah Mbah Sholeh (nama samara).<\/p>\n\n\n\n

Saat menjawab, akupun terkaget, karena prediksiku umur sekitaran 50an. Raup wajahnya bersih, badannya terlihat sehat dan terlihat energik, tidak mau kalah dengan bapak-bapak lainnya yang saat itu ikut ngobrol yang rata-rata umur 48-60 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Akhirnya akupun penasaran, dan kembali bertanya. Mbah apa resepnya kok masih terlihat muda?. Ia pun menjawab, jauhi makanan yang ada obat penyedap rasanya, makananlah bahan alami seperti daun-daunan. Sampai detik ini ia mengaku tidak makan makanan yang ada penyedap rasanya, kalau ditawari atau ada suguhan di depannya, ia memilih tidak akan memakannya. Juga kalau ditawari dan disuguhi minuman yang bergula. Ia pun demikian menghindari. Kata masyarakat lainnya yang ikut ngobrol, Mbah Sholeh itu hidup sehat.<\/p>\n\n\n\n

Celetukan tersebut disikapi Mbah Sholeh  dengan senyuman dan sambil mengeluarkan asap rokok kretek dari mulutnya dan hidupnya. Kemudian aku bertanya lagi, kenapa Mbah merokok?. Ia pun tersenyum sambil menyedot kembali rokok kreteknya dengan menjawab, kalau merokok kretek membuat ia bahagia, dengan kondisi bahagia ini orang jadi awet muda. Kalau merokok membuat semangat, dengan semangat orang jadi giat dan kuat. Ia juga menceritakan memulai merokok kretek saat sudah Islam. Kata Islam disini bukan berarti saat masuk Islam, akan tetapi yang dimaksud saat sudah khitan atau usia baliq. Dahulu setelah ia dikhitan, bapaknya menyuruhnya merokok sebagai tanda sudah dewasa. <\/p>\n\n\n\n

Inilah pengakuan Mbah Sholeh, ternyata wajah yang bersih berseri, awet muda, fisiknya kuat dan energik, salah satu rahasinya adalah berbahagia dan giat. Agar bahagia dan giat ia selalu mengkonsumsi rokok kretek dan meninggalkan makanan dengan penyedap rasa.   
<\/p>\n","post_title":"Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bikin-awet-muda-dan-energik-rahasia-di-balik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-30 10:40:00","post_modified_gmt":"2019-09-30 03:40:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6112","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6101,"post_author":"877","post_date":"2019-09-26 10:08:08","post_date_gmt":"2019-09-26 03:08:08","post_content":"\n

Masa panen adalah saat yang dinanti-nanti petani tembakau. Tentunya harapan petani, tanaman tembakaunaya tumbuh dengan baik, kualitas bagus dan jumlahnya banyak, serta harganya bagus. Di saat tanaman tembakaunya bagus, baik kualitas dan kuantitasnya, biasanya diikuti dengan harga bagus pula. Namun tidak bisa dipastikan, karena masalah harga tidak bisa petani serta merta yang menentukan, ada faktor yang sanagat kompleks. Yaitu situasi dan kondisi sektor pertembakauan di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6112,"post_author":"877","post_date":"2019-09-30 10:39:53","post_date_gmt":"2019-09-30 03:39:53","post_content":"\n

Mbah Sholeh, salah satu tokoh di Desa Prawoto Pati Jawa Tengah, ia selalu mengkonsumsi rokok kretek untuk memacu gairah semangat hidupnya diusia menjelang senja. Usia boleh bertambah kepala tujuh, namun fisik tetap bugar, seger dan energik. <\/p>\n\n\n\n

Sore itu sehabis ashar hari senin tanggal 23 September 2019, salah satu pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) menghampiriku sembari menyerahkan kertas undangan. Saat itu, aku sendiri sudah di atas motor mau bergegas pergi belanja untuk keperluan Mbah Pae panggilan akrab simbah KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus. Saat ini, beliau menjadi bapak masyarakat Kudus, sehingga banyak orang memanggilnya \u201cMbah Pae\u201d, putra dan cucunya pun memanggil demikian. <\/p>\n\n\n\n

Undangan dari pengurus YM3SK aku masukkan ke kantong saku celana, kemudian lanjut pergi belanja. Walaupun hari sudah sore, panas matahari masih terasa, terlebih saat menyinari kulit yang tidak terbungkus kain pakaian. Seakan-akan hari itu matahari semangat menyinari bumi mengiringi musim kemarau. Sepulang dari belanja akupun menuju dapur mengambil gelas dan air minum. Sambil minum aku buka undangan tersebut dan aku baca. Ternyata undangan tersebut pemberitahuan ada acara pengajian dalam rangka Haul Agung Kanjeng Sunan Prawoto Raden Haryo Bagus Mu\u2019min atau biasa dipanggil Mbah Tabek.<\/p>\n\n\n\n

Sunan Prawoto adalah raja keempat dari Kesultanan Demak yang memerintah tahun 1546-1549. Nama lahirnya Raden Mukmin, seorang agamis dari keturunan Kerajaan Demak Bintoro. Putra Sulung Raja Demak Sultan Trenggono. Ia terkenal dengan sebutan Sunan Prawoto, karena daerah yang disinggahi hingga akhir wafatnya bernama Desa Prawoto dalam wilayah kabupaten Pati Jawa Tengah berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kudus bagian selatan. Konon Desa Prawoto sebagai Kerajaan Kecil setelah Kerajaan Demak hancur. Raden Mukmin inilah yang memboyong Kerajaan Demak ke Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Saat ini Desa Prawoto adalah desa perbukitan, dengan hawa yang tidak terlalu dingin saat malam hari dan tidak terlalu panas pada siang hari. Walaupun hanya perbukitan, di Prawoto masih banyak pohon-pohon besar dan hijau memberikan kesejukan. Saat malam tiba, dari perbukitan Prawoto nampak jelas wilayah kota Kudus. Memang daerah Prowoto lebih dekat dengan kota Kudus dari pada Kota Pati. Bahkan budaya dan adat istiadatnya pun kental dengan budaya keKudusan. Sebagian besar masyarakat Prawoto aktifitas seharinya kewilayah Kudus, seperti bekerja, berdagang, pergi kepasar, sekolah, bahkan samapi memanfaatkan fasilitas ATM mereka memilih ke Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa penjajahan Belanda, Desa Prawoto di fungsikan sebagai distrik Karesidenan yang membawai daerah Pati sampai perbatasan Tuban Jawa Timur, Kudus, Jepara bahkan Demak. Sampai sekarang perkantoran Karesidenan warisan Belanda masih berdiri kokoh dan sebagian difungsikan untuk kepentingan Desa. Tidak hanya itu, di tengah-tengah desa terdapat semacam alun-alun kecil dengan kolam air besar yang konon juga peninggalan Belanda. Tidak sedikit yang berpendapat kolam tersebut peninggalan jauh sebelum Belanda, alias peninggalan Sunan Prawoto. Sehingga, kolam tersebut sering dibuat mandi para tokoh-tokoh dan Ulama\u2019 dari luar kota di Jawa, seperti Pekalongan, Batang, Kendal, Magelang, Solo dan lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Di Desa Prawoto terdapat dua makam Sunan Prawoto, di daerah bawah dan di daerah atas istilah masyarakat menamainya. Terlepas mana yang benar Makam Sunan Prawoto tergantung keyakinan individu. Menurut arkeolog UGM yang saat itu ikut menjelaskan, bahwa yang dibawah adalah peninggalan situs dan yang di atas dari dulu berupa makam yang dikenal dengan makam Tabek. <\/p>\n\n\n\n

Rerata jenjang pendidikan masyarakat Prawoto maksimal tingkat SMA, hanya ada beberapa glintir yang samapi jenjang sarjana dan ada satu orang menjadi guru besar di UGM, namun sudah lama menetap di Yogyakarta, dan jarang pulang. Anehnya, walaupun rata-rata lulusan jenjang SMA, kemampuan dan skill mereka tak kalah dengan yang sarjana bahkan mentalnya pun demikian. Hal itu dapat dilihat dari cara bicara, cara berorganisasi, dan pola pikir maju seperti halnya sarjana. Itulah sekilah cerita tentang Prawoto.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke undangan, setelah aku baca, ternyata undangan tersebut sekaligus perintah dari pengurus YM3SK untuk mewakili datang di acara Haul Sunan Prawoto yang dilaksanakan di hari dan tanggal itu juga jam 19.00 WIB. Walaupun terkesan mendadak tidak seperti biasa jauh-jauh hari sudah ada pemberitahuan, seperti saat acara haul Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Ampel. Akhirnya tetap datang di acara haul Sunan Prawoto dengan berkoordinasi dan mengajak dengan teman-teman di dekat desa Prawoto. Berangkat sehabis sholat isya\u2019, sampai di desa Prawoto jam 19.45 WIB acara dbelum di mulai menunggu group rebana dari bapak-bapak polisi Polres Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Disaat-saat senggang tersebut, aku manfaatkan ngobrol dengan penduduk dan tokoh Ulama\u2019 setempat. Ternyata mereka selain punya warisan seni ketoprak juga punya kebudayaan menghisap rokok kretek. Selain rokok kretek mereka tidak mau. Karena budaya merokok kretek diyakini warisan leluhurnya. Jarang sekali orang-orang tua yang tidak merokok, terlihat tidak memegang dan membawa rokok kretek kebanyakan anak-anak usia sekolah. Sambil ngobrol mengupas sedikit sejarah Sunan Prawoto kita merokok kretek bersama. Dengan merokok kretek suasana santai dan keakraban terbentuk di serambi masjid Sunan Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Kebetulan posisiku duduk bersebelahan dengan salah satu tokoh juga Ulama\u2019 Prawoto. Umurnya sudah tergolong dapat bonus 16 tahun dati Tuhan. Itulah jawabannya saat aku tanya usianya berapa. Karena pingin tau, aku tanya kembali persisnya usia berapa, beliau menjawab diatas rata-rata umumnya usia manusia (60 tahun) yaitu 76 tahun. Ia menjawab sambil tersenyum dan memegang rokok kretek yang telah disulut, ia adalah Mbah Sholeh (nama samara).<\/p>\n\n\n\n

Saat menjawab, akupun terkaget, karena prediksiku umur sekitaran 50an. Raup wajahnya bersih, badannya terlihat sehat dan terlihat energik, tidak mau kalah dengan bapak-bapak lainnya yang saat itu ikut ngobrol yang rata-rata umur 48-60 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Akhirnya akupun penasaran, dan kembali bertanya. Mbah apa resepnya kok masih terlihat muda?. Ia pun menjawab, jauhi makanan yang ada obat penyedap rasanya, makananlah bahan alami seperti daun-daunan. Sampai detik ini ia mengaku tidak makan makanan yang ada penyedap rasanya, kalau ditawari atau ada suguhan di depannya, ia memilih tidak akan memakannya. Juga kalau ditawari dan disuguhi minuman yang bergula. Ia pun demikian menghindari. Kata masyarakat lainnya yang ikut ngobrol, Mbah Sholeh itu hidup sehat.<\/p>\n\n\n\n

Celetukan tersebut disikapi Mbah Sholeh  dengan senyuman dan sambil mengeluarkan asap rokok kretek dari mulutnya dan hidupnya. Kemudian aku bertanya lagi, kenapa Mbah merokok?. Ia pun tersenyum sambil menyedot kembali rokok kreteknya dengan menjawab, kalau merokok kretek membuat ia bahagia, dengan kondisi bahagia ini orang jadi awet muda. Kalau merokok membuat semangat, dengan semangat orang jadi giat dan kuat. Ia juga menceritakan memulai merokok kretek saat sudah Islam. Kata Islam disini bukan berarti saat masuk Islam, akan tetapi yang dimaksud saat sudah khitan atau usia baliq. Dahulu setelah ia dikhitan, bapaknya menyuruhnya merokok sebagai tanda sudah dewasa. <\/p>\n\n\n\n

Inilah pengakuan Mbah Sholeh, ternyata wajah yang bersih berseri, awet muda, fisiknya kuat dan energik, salah satu rahasinya adalah berbahagia dan giat. Agar bahagia dan giat ia selalu mengkonsumsi rokok kretek dan meninggalkan makanan dengan penyedap rasa.   
<\/p>\n","post_title":"Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bikin-awet-muda-dan-energik-rahasia-di-balik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-30 10:40:00","post_modified_gmt":"2019-09-30 03:40:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6112","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6101,"post_author":"877","post_date":"2019-09-26 10:08:08","post_date_gmt":"2019-09-26 03:08:08","post_content":"\n

Masa panen adalah saat yang dinanti-nanti petani tembakau. Tentunya harapan petani, tanaman tembakaunaya tumbuh dengan baik, kualitas bagus dan jumlahnya banyak, serta harganya bagus. Di saat tanaman tembakaunya bagus, baik kualitas dan kuantitasnya, biasanya diikuti dengan harga bagus pula. Namun tidak bisa dipastikan, karena masalah harga tidak bisa petani serta merta yang menentukan, ada faktor yang sanagat kompleks. Yaitu situasi dan kondisi sektor pertembakauan di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6112,"post_author":"877","post_date":"2019-09-30 10:39:53","post_date_gmt":"2019-09-30 03:39:53","post_content":"\n

Mbah Sholeh, salah satu tokoh di Desa Prawoto Pati Jawa Tengah, ia selalu mengkonsumsi rokok kretek untuk memacu gairah semangat hidupnya diusia menjelang senja. Usia boleh bertambah kepala tujuh, namun fisik tetap bugar, seger dan energik. <\/p>\n\n\n\n

Sore itu sehabis ashar hari senin tanggal 23 September 2019, salah satu pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) menghampiriku sembari menyerahkan kertas undangan. Saat itu, aku sendiri sudah di atas motor mau bergegas pergi belanja untuk keperluan Mbah Pae panggilan akrab simbah KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus. Saat ini, beliau menjadi bapak masyarakat Kudus, sehingga banyak orang memanggilnya \u201cMbah Pae\u201d, putra dan cucunya pun memanggil demikian. <\/p>\n\n\n\n

Undangan dari pengurus YM3SK aku masukkan ke kantong saku celana, kemudian lanjut pergi belanja. Walaupun hari sudah sore, panas matahari masih terasa, terlebih saat menyinari kulit yang tidak terbungkus kain pakaian. Seakan-akan hari itu matahari semangat menyinari bumi mengiringi musim kemarau. Sepulang dari belanja akupun menuju dapur mengambil gelas dan air minum. Sambil minum aku buka undangan tersebut dan aku baca. Ternyata undangan tersebut pemberitahuan ada acara pengajian dalam rangka Haul Agung Kanjeng Sunan Prawoto Raden Haryo Bagus Mu\u2019min atau biasa dipanggil Mbah Tabek.<\/p>\n\n\n\n

Sunan Prawoto adalah raja keempat dari Kesultanan Demak yang memerintah tahun 1546-1549. Nama lahirnya Raden Mukmin, seorang agamis dari keturunan Kerajaan Demak Bintoro. Putra Sulung Raja Demak Sultan Trenggono. Ia terkenal dengan sebutan Sunan Prawoto, karena daerah yang disinggahi hingga akhir wafatnya bernama Desa Prawoto dalam wilayah kabupaten Pati Jawa Tengah berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kudus bagian selatan. Konon Desa Prawoto sebagai Kerajaan Kecil setelah Kerajaan Demak hancur. Raden Mukmin inilah yang memboyong Kerajaan Demak ke Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Saat ini Desa Prawoto adalah desa perbukitan, dengan hawa yang tidak terlalu dingin saat malam hari dan tidak terlalu panas pada siang hari. Walaupun hanya perbukitan, di Prawoto masih banyak pohon-pohon besar dan hijau memberikan kesejukan. Saat malam tiba, dari perbukitan Prawoto nampak jelas wilayah kota Kudus. Memang daerah Prowoto lebih dekat dengan kota Kudus dari pada Kota Pati. Bahkan budaya dan adat istiadatnya pun kental dengan budaya keKudusan. Sebagian besar masyarakat Prawoto aktifitas seharinya kewilayah Kudus, seperti bekerja, berdagang, pergi kepasar, sekolah, bahkan samapi memanfaatkan fasilitas ATM mereka memilih ke Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa penjajahan Belanda, Desa Prawoto di fungsikan sebagai distrik Karesidenan yang membawai daerah Pati sampai perbatasan Tuban Jawa Timur, Kudus, Jepara bahkan Demak. Sampai sekarang perkantoran Karesidenan warisan Belanda masih berdiri kokoh dan sebagian difungsikan untuk kepentingan Desa. Tidak hanya itu, di tengah-tengah desa terdapat semacam alun-alun kecil dengan kolam air besar yang konon juga peninggalan Belanda. Tidak sedikit yang berpendapat kolam tersebut peninggalan jauh sebelum Belanda, alias peninggalan Sunan Prawoto. Sehingga, kolam tersebut sering dibuat mandi para tokoh-tokoh dan Ulama\u2019 dari luar kota di Jawa, seperti Pekalongan, Batang, Kendal, Magelang, Solo dan lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Di Desa Prawoto terdapat dua makam Sunan Prawoto, di daerah bawah dan di daerah atas istilah masyarakat menamainya. Terlepas mana yang benar Makam Sunan Prawoto tergantung keyakinan individu. Menurut arkeolog UGM yang saat itu ikut menjelaskan, bahwa yang dibawah adalah peninggalan situs dan yang di atas dari dulu berupa makam yang dikenal dengan makam Tabek. <\/p>\n\n\n\n

Rerata jenjang pendidikan masyarakat Prawoto maksimal tingkat SMA, hanya ada beberapa glintir yang samapi jenjang sarjana dan ada satu orang menjadi guru besar di UGM, namun sudah lama menetap di Yogyakarta, dan jarang pulang. Anehnya, walaupun rata-rata lulusan jenjang SMA, kemampuan dan skill mereka tak kalah dengan yang sarjana bahkan mentalnya pun demikian. Hal itu dapat dilihat dari cara bicara, cara berorganisasi, dan pola pikir maju seperti halnya sarjana. Itulah sekilah cerita tentang Prawoto.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke undangan, setelah aku baca, ternyata undangan tersebut sekaligus perintah dari pengurus YM3SK untuk mewakili datang di acara Haul Sunan Prawoto yang dilaksanakan di hari dan tanggal itu juga jam 19.00 WIB. Walaupun terkesan mendadak tidak seperti biasa jauh-jauh hari sudah ada pemberitahuan, seperti saat acara haul Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Ampel. Akhirnya tetap datang di acara haul Sunan Prawoto dengan berkoordinasi dan mengajak dengan teman-teman di dekat desa Prawoto. Berangkat sehabis sholat isya\u2019, sampai di desa Prawoto jam 19.45 WIB acara dbelum di mulai menunggu group rebana dari bapak-bapak polisi Polres Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Disaat-saat senggang tersebut, aku manfaatkan ngobrol dengan penduduk dan tokoh Ulama\u2019 setempat. Ternyata mereka selain punya warisan seni ketoprak juga punya kebudayaan menghisap rokok kretek. Selain rokok kretek mereka tidak mau. Karena budaya merokok kretek diyakini warisan leluhurnya. Jarang sekali orang-orang tua yang tidak merokok, terlihat tidak memegang dan membawa rokok kretek kebanyakan anak-anak usia sekolah. Sambil ngobrol mengupas sedikit sejarah Sunan Prawoto kita merokok kretek bersama. Dengan merokok kretek suasana santai dan keakraban terbentuk di serambi masjid Sunan Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Kebetulan posisiku duduk bersebelahan dengan salah satu tokoh juga Ulama\u2019 Prawoto. Umurnya sudah tergolong dapat bonus 16 tahun dati Tuhan. Itulah jawabannya saat aku tanya usianya berapa. Karena pingin tau, aku tanya kembali persisnya usia berapa, beliau menjawab diatas rata-rata umumnya usia manusia (60 tahun) yaitu 76 tahun. Ia menjawab sambil tersenyum dan memegang rokok kretek yang telah disulut, ia adalah Mbah Sholeh (nama samara).<\/p>\n\n\n\n

Saat menjawab, akupun terkaget, karena prediksiku umur sekitaran 50an. Raup wajahnya bersih, badannya terlihat sehat dan terlihat energik, tidak mau kalah dengan bapak-bapak lainnya yang saat itu ikut ngobrol yang rata-rata umur 48-60 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Akhirnya akupun penasaran, dan kembali bertanya. Mbah apa resepnya kok masih terlihat muda?. Ia pun menjawab, jauhi makanan yang ada obat penyedap rasanya, makananlah bahan alami seperti daun-daunan. Sampai detik ini ia mengaku tidak makan makanan yang ada penyedap rasanya, kalau ditawari atau ada suguhan di depannya, ia memilih tidak akan memakannya. Juga kalau ditawari dan disuguhi minuman yang bergula. Ia pun demikian menghindari. Kata masyarakat lainnya yang ikut ngobrol, Mbah Sholeh itu hidup sehat.<\/p>\n\n\n\n

Celetukan tersebut disikapi Mbah Sholeh  dengan senyuman dan sambil mengeluarkan asap rokok kretek dari mulutnya dan hidupnya. Kemudian aku bertanya lagi, kenapa Mbah merokok?. Ia pun tersenyum sambil menyedot kembali rokok kreteknya dengan menjawab, kalau merokok kretek membuat ia bahagia, dengan kondisi bahagia ini orang jadi awet muda. Kalau merokok membuat semangat, dengan semangat orang jadi giat dan kuat. Ia juga menceritakan memulai merokok kretek saat sudah Islam. Kata Islam disini bukan berarti saat masuk Islam, akan tetapi yang dimaksud saat sudah khitan atau usia baliq. Dahulu setelah ia dikhitan, bapaknya menyuruhnya merokok sebagai tanda sudah dewasa. <\/p>\n\n\n\n

Inilah pengakuan Mbah Sholeh, ternyata wajah yang bersih berseri, awet muda, fisiknya kuat dan energik, salah satu rahasinya adalah berbahagia dan giat. Agar bahagia dan giat ia selalu mengkonsumsi rokok kretek dan meninggalkan makanan dengan penyedap rasa.   
<\/p>\n","post_title":"Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bikin-awet-muda-dan-energik-rahasia-di-balik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-30 10:40:00","post_modified_gmt":"2019-09-30 03:40:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6112","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6101,"post_author":"877","post_date":"2019-09-26 10:08:08","post_date_gmt":"2019-09-26 03:08:08","post_content":"\n

Masa panen adalah saat yang dinanti-nanti petani tembakau. Tentunya harapan petani, tanaman tembakaunaya tumbuh dengan baik, kualitas bagus dan jumlahnya banyak, serta harganya bagus. Di saat tanaman tembakaunya bagus, baik kualitas dan kuantitasnya, biasanya diikuti dengan harga bagus pula. Namun tidak bisa dipastikan, karena masalah harga tidak bisa petani serta merta yang menentukan, ada faktor yang sanagat kompleks. Yaitu situasi dan kondisi sektor pertembakauan di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6112,"post_author":"877","post_date":"2019-09-30 10:39:53","post_date_gmt":"2019-09-30 03:39:53","post_content":"\n

Mbah Sholeh, salah satu tokoh di Desa Prawoto Pati Jawa Tengah, ia selalu mengkonsumsi rokok kretek untuk memacu gairah semangat hidupnya diusia menjelang senja. Usia boleh bertambah kepala tujuh, namun fisik tetap bugar, seger dan energik. <\/p>\n\n\n\n

Sore itu sehabis ashar hari senin tanggal 23 September 2019, salah satu pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) menghampiriku sembari menyerahkan kertas undangan. Saat itu, aku sendiri sudah di atas motor mau bergegas pergi belanja untuk keperluan Mbah Pae panggilan akrab simbah KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus. Saat ini, beliau menjadi bapak masyarakat Kudus, sehingga banyak orang memanggilnya \u201cMbah Pae\u201d, putra dan cucunya pun memanggil demikian. <\/p>\n\n\n\n

Undangan dari pengurus YM3SK aku masukkan ke kantong saku celana, kemudian lanjut pergi belanja. Walaupun hari sudah sore, panas matahari masih terasa, terlebih saat menyinari kulit yang tidak terbungkus kain pakaian. Seakan-akan hari itu matahari semangat menyinari bumi mengiringi musim kemarau. Sepulang dari belanja akupun menuju dapur mengambil gelas dan air minum. Sambil minum aku buka undangan tersebut dan aku baca. Ternyata undangan tersebut pemberitahuan ada acara pengajian dalam rangka Haul Agung Kanjeng Sunan Prawoto Raden Haryo Bagus Mu\u2019min atau biasa dipanggil Mbah Tabek.<\/p>\n\n\n\n

Sunan Prawoto adalah raja keempat dari Kesultanan Demak yang memerintah tahun 1546-1549. Nama lahirnya Raden Mukmin, seorang agamis dari keturunan Kerajaan Demak Bintoro. Putra Sulung Raja Demak Sultan Trenggono. Ia terkenal dengan sebutan Sunan Prawoto, karena daerah yang disinggahi hingga akhir wafatnya bernama Desa Prawoto dalam wilayah kabupaten Pati Jawa Tengah berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kudus bagian selatan. Konon Desa Prawoto sebagai Kerajaan Kecil setelah Kerajaan Demak hancur. Raden Mukmin inilah yang memboyong Kerajaan Demak ke Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Saat ini Desa Prawoto adalah desa perbukitan, dengan hawa yang tidak terlalu dingin saat malam hari dan tidak terlalu panas pada siang hari. Walaupun hanya perbukitan, di Prawoto masih banyak pohon-pohon besar dan hijau memberikan kesejukan. Saat malam tiba, dari perbukitan Prawoto nampak jelas wilayah kota Kudus. Memang daerah Prowoto lebih dekat dengan kota Kudus dari pada Kota Pati. Bahkan budaya dan adat istiadatnya pun kental dengan budaya keKudusan. Sebagian besar masyarakat Prawoto aktifitas seharinya kewilayah Kudus, seperti bekerja, berdagang, pergi kepasar, sekolah, bahkan samapi memanfaatkan fasilitas ATM mereka memilih ke Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa penjajahan Belanda, Desa Prawoto di fungsikan sebagai distrik Karesidenan yang membawai daerah Pati sampai perbatasan Tuban Jawa Timur, Kudus, Jepara bahkan Demak. Sampai sekarang perkantoran Karesidenan warisan Belanda masih berdiri kokoh dan sebagian difungsikan untuk kepentingan Desa. Tidak hanya itu, di tengah-tengah desa terdapat semacam alun-alun kecil dengan kolam air besar yang konon juga peninggalan Belanda. Tidak sedikit yang berpendapat kolam tersebut peninggalan jauh sebelum Belanda, alias peninggalan Sunan Prawoto. Sehingga, kolam tersebut sering dibuat mandi para tokoh-tokoh dan Ulama\u2019 dari luar kota di Jawa, seperti Pekalongan, Batang, Kendal, Magelang, Solo dan lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Di Desa Prawoto terdapat dua makam Sunan Prawoto, di daerah bawah dan di daerah atas istilah masyarakat menamainya. Terlepas mana yang benar Makam Sunan Prawoto tergantung keyakinan individu. Menurut arkeolog UGM yang saat itu ikut menjelaskan, bahwa yang dibawah adalah peninggalan situs dan yang di atas dari dulu berupa makam yang dikenal dengan makam Tabek. <\/p>\n\n\n\n

Rerata jenjang pendidikan masyarakat Prawoto maksimal tingkat SMA, hanya ada beberapa glintir yang samapi jenjang sarjana dan ada satu orang menjadi guru besar di UGM, namun sudah lama menetap di Yogyakarta, dan jarang pulang. Anehnya, walaupun rata-rata lulusan jenjang SMA, kemampuan dan skill mereka tak kalah dengan yang sarjana bahkan mentalnya pun demikian. Hal itu dapat dilihat dari cara bicara, cara berorganisasi, dan pola pikir maju seperti halnya sarjana. Itulah sekilah cerita tentang Prawoto.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke undangan, setelah aku baca, ternyata undangan tersebut sekaligus perintah dari pengurus YM3SK untuk mewakili datang di acara Haul Sunan Prawoto yang dilaksanakan di hari dan tanggal itu juga jam 19.00 WIB. Walaupun terkesan mendadak tidak seperti biasa jauh-jauh hari sudah ada pemberitahuan, seperti saat acara haul Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Ampel. Akhirnya tetap datang di acara haul Sunan Prawoto dengan berkoordinasi dan mengajak dengan teman-teman di dekat desa Prawoto. Berangkat sehabis sholat isya\u2019, sampai di desa Prawoto jam 19.45 WIB acara dbelum di mulai menunggu group rebana dari bapak-bapak polisi Polres Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Disaat-saat senggang tersebut, aku manfaatkan ngobrol dengan penduduk dan tokoh Ulama\u2019 setempat. Ternyata mereka selain punya warisan seni ketoprak juga punya kebudayaan menghisap rokok kretek. Selain rokok kretek mereka tidak mau. Karena budaya merokok kretek diyakini warisan leluhurnya. Jarang sekali orang-orang tua yang tidak merokok, terlihat tidak memegang dan membawa rokok kretek kebanyakan anak-anak usia sekolah. Sambil ngobrol mengupas sedikit sejarah Sunan Prawoto kita merokok kretek bersama. Dengan merokok kretek suasana santai dan keakraban terbentuk di serambi masjid Sunan Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Kebetulan posisiku duduk bersebelahan dengan salah satu tokoh juga Ulama\u2019 Prawoto. Umurnya sudah tergolong dapat bonus 16 tahun dati Tuhan. Itulah jawabannya saat aku tanya usianya berapa. Karena pingin tau, aku tanya kembali persisnya usia berapa, beliau menjawab diatas rata-rata umumnya usia manusia (60 tahun) yaitu 76 tahun. Ia menjawab sambil tersenyum dan memegang rokok kretek yang telah disulut, ia adalah Mbah Sholeh (nama samara).<\/p>\n\n\n\n

Saat menjawab, akupun terkaget, karena prediksiku umur sekitaran 50an. Raup wajahnya bersih, badannya terlihat sehat dan terlihat energik, tidak mau kalah dengan bapak-bapak lainnya yang saat itu ikut ngobrol yang rata-rata umur 48-60 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Akhirnya akupun penasaran, dan kembali bertanya. Mbah apa resepnya kok masih terlihat muda?. Ia pun menjawab, jauhi makanan yang ada obat penyedap rasanya, makananlah bahan alami seperti daun-daunan. Sampai detik ini ia mengaku tidak makan makanan yang ada penyedap rasanya, kalau ditawari atau ada suguhan di depannya, ia memilih tidak akan memakannya. Juga kalau ditawari dan disuguhi minuman yang bergula. Ia pun demikian menghindari. Kata masyarakat lainnya yang ikut ngobrol, Mbah Sholeh itu hidup sehat.<\/p>\n\n\n\n

Celetukan tersebut disikapi Mbah Sholeh  dengan senyuman dan sambil mengeluarkan asap rokok kretek dari mulutnya dan hidupnya. Kemudian aku bertanya lagi, kenapa Mbah merokok?. Ia pun tersenyum sambil menyedot kembali rokok kreteknya dengan menjawab, kalau merokok kretek membuat ia bahagia, dengan kondisi bahagia ini orang jadi awet muda. Kalau merokok membuat semangat, dengan semangat orang jadi giat dan kuat. Ia juga menceritakan memulai merokok kretek saat sudah Islam. Kata Islam disini bukan berarti saat masuk Islam, akan tetapi yang dimaksud saat sudah khitan atau usia baliq. Dahulu setelah ia dikhitan, bapaknya menyuruhnya merokok sebagai tanda sudah dewasa. <\/p>\n\n\n\n

Inilah pengakuan Mbah Sholeh, ternyata wajah yang bersih berseri, awet muda, fisiknya kuat dan energik, salah satu rahasinya adalah berbahagia dan giat. Agar bahagia dan giat ia selalu mengkonsumsi rokok kretek dan meninggalkan makanan dengan penyedap rasa.   
<\/p>\n","post_title":"Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bikin-awet-muda-dan-energik-rahasia-di-balik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-30 10:40:00","post_modified_gmt":"2019-09-30 03:40:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6112","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6101,"post_author":"877","post_date":"2019-09-26 10:08:08","post_date_gmt":"2019-09-26 03:08:08","post_content":"\n

Masa panen adalah saat yang dinanti-nanti petani tembakau. Tentunya harapan petani, tanaman tembakaunaya tumbuh dengan baik, kualitas bagus dan jumlahnya banyak, serta harganya bagus. Di saat tanaman tembakaunya bagus, baik kualitas dan kuantitasnya, biasanya diikuti dengan harga bagus pula. Namun tidak bisa dipastikan, karena masalah harga tidak bisa petani serta merta yang menentukan, ada faktor yang sanagat kompleks. Yaitu situasi dan kondisi sektor pertembakauan di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6112,"post_author":"877","post_date":"2019-09-30 10:39:53","post_date_gmt":"2019-09-30 03:39:53","post_content":"\n

Mbah Sholeh, salah satu tokoh di Desa Prawoto Pati Jawa Tengah, ia selalu mengkonsumsi rokok kretek untuk memacu gairah semangat hidupnya diusia menjelang senja. Usia boleh bertambah kepala tujuh, namun fisik tetap bugar, seger dan energik. <\/p>\n\n\n\n

Sore itu sehabis ashar hari senin tanggal 23 September 2019, salah satu pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) menghampiriku sembari menyerahkan kertas undangan. Saat itu, aku sendiri sudah di atas motor mau bergegas pergi belanja untuk keperluan Mbah Pae panggilan akrab simbah KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus. Saat ini, beliau menjadi bapak masyarakat Kudus, sehingga banyak orang memanggilnya \u201cMbah Pae\u201d, putra dan cucunya pun memanggil demikian. <\/p>\n\n\n\n

Undangan dari pengurus YM3SK aku masukkan ke kantong saku celana, kemudian lanjut pergi belanja. Walaupun hari sudah sore, panas matahari masih terasa, terlebih saat menyinari kulit yang tidak terbungkus kain pakaian. Seakan-akan hari itu matahari semangat menyinari bumi mengiringi musim kemarau. Sepulang dari belanja akupun menuju dapur mengambil gelas dan air minum. Sambil minum aku buka undangan tersebut dan aku baca. Ternyata undangan tersebut pemberitahuan ada acara pengajian dalam rangka Haul Agung Kanjeng Sunan Prawoto Raden Haryo Bagus Mu\u2019min atau biasa dipanggil Mbah Tabek.<\/p>\n\n\n\n

Sunan Prawoto adalah raja keempat dari Kesultanan Demak yang memerintah tahun 1546-1549. Nama lahirnya Raden Mukmin, seorang agamis dari keturunan Kerajaan Demak Bintoro. Putra Sulung Raja Demak Sultan Trenggono. Ia terkenal dengan sebutan Sunan Prawoto, karena daerah yang disinggahi hingga akhir wafatnya bernama Desa Prawoto dalam wilayah kabupaten Pati Jawa Tengah berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kudus bagian selatan. Konon Desa Prawoto sebagai Kerajaan Kecil setelah Kerajaan Demak hancur. Raden Mukmin inilah yang memboyong Kerajaan Demak ke Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Saat ini Desa Prawoto adalah desa perbukitan, dengan hawa yang tidak terlalu dingin saat malam hari dan tidak terlalu panas pada siang hari. Walaupun hanya perbukitan, di Prawoto masih banyak pohon-pohon besar dan hijau memberikan kesejukan. Saat malam tiba, dari perbukitan Prawoto nampak jelas wilayah kota Kudus. Memang daerah Prowoto lebih dekat dengan kota Kudus dari pada Kota Pati. Bahkan budaya dan adat istiadatnya pun kental dengan budaya keKudusan. Sebagian besar masyarakat Prawoto aktifitas seharinya kewilayah Kudus, seperti bekerja, berdagang, pergi kepasar, sekolah, bahkan samapi memanfaatkan fasilitas ATM mereka memilih ke Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa penjajahan Belanda, Desa Prawoto di fungsikan sebagai distrik Karesidenan yang membawai daerah Pati sampai perbatasan Tuban Jawa Timur, Kudus, Jepara bahkan Demak. Sampai sekarang perkantoran Karesidenan warisan Belanda masih berdiri kokoh dan sebagian difungsikan untuk kepentingan Desa. Tidak hanya itu, di tengah-tengah desa terdapat semacam alun-alun kecil dengan kolam air besar yang konon juga peninggalan Belanda. Tidak sedikit yang berpendapat kolam tersebut peninggalan jauh sebelum Belanda, alias peninggalan Sunan Prawoto. Sehingga, kolam tersebut sering dibuat mandi para tokoh-tokoh dan Ulama\u2019 dari luar kota di Jawa, seperti Pekalongan, Batang, Kendal, Magelang, Solo dan lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Di Desa Prawoto terdapat dua makam Sunan Prawoto, di daerah bawah dan di daerah atas istilah masyarakat menamainya. Terlepas mana yang benar Makam Sunan Prawoto tergantung keyakinan individu. Menurut arkeolog UGM yang saat itu ikut menjelaskan, bahwa yang dibawah adalah peninggalan situs dan yang di atas dari dulu berupa makam yang dikenal dengan makam Tabek. <\/p>\n\n\n\n

Rerata jenjang pendidikan masyarakat Prawoto maksimal tingkat SMA, hanya ada beberapa glintir yang samapi jenjang sarjana dan ada satu orang menjadi guru besar di UGM, namun sudah lama menetap di Yogyakarta, dan jarang pulang. Anehnya, walaupun rata-rata lulusan jenjang SMA, kemampuan dan skill mereka tak kalah dengan yang sarjana bahkan mentalnya pun demikian. Hal itu dapat dilihat dari cara bicara, cara berorganisasi, dan pola pikir maju seperti halnya sarjana. Itulah sekilah cerita tentang Prawoto.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke undangan, setelah aku baca, ternyata undangan tersebut sekaligus perintah dari pengurus YM3SK untuk mewakili datang di acara Haul Sunan Prawoto yang dilaksanakan di hari dan tanggal itu juga jam 19.00 WIB. Walaupun terkesan mendadak tidak seperti biasa jauh-jauh hari sudah ada pemberitahuan, seperti saat acara haul Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Ampel. Akhirnya tetap datang di acara haul Sunan Prawoto dengan berkoordinasi dan mengajak dengan teman-teman di dekat desa Prawoto. Berangkat sehabis sholat isya\u2019, sampai di desa Prawoto jam 19.45 WIB acara dbelum di mulai menunggu group rebana dari bapak-bapak polisi Polres Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Disaat-saat senggang tersebut, aku manfaatkan ngobrol dengan penduduk dan tokoh Ulama\u2019 setempat. Ternyata mereka selain punya warisan seni ketoprak juga punya kebudayaan menghisap rokok kretek. Selain rokok kretek mereka tidak mau. Karena budaya merokok kretek diyakini warisan leluhurnya. Jarang sekali orang-orang tua yang tidak merokok, terlihat tidak memegang dan membawa rokok kretek kebanyakan anak-anak usia sekolah. Sambil ngobrol mengupas sedikit sejarah Sunan Prawoto kita merokok kretek bersama. Dengan merokok kretek suasana santai dan keakraban terbentuk di serambi masjid Sunan Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Kebetulan posisiku duduk bersebelahan dengan salah satu tokoh juga Ulama\u2019 Prawoto. Umurnya sudah tergolong dapat bonus 16 tahun dati Tuhan. Itulah jawabannya saat aku tanya usianya berapa. Karena pingin tau, aku tanya kembali persisnya usia berapa, beliau menjawab diatas rata-rata umumnya usia manusia (60 tahun) yaitu 76 tahun. Ia menjawab sambil tersenyum dan memegang rokok kretek yang telah disulut, ia adalah Mbah Sholeh (nama samara).<\/p>\n\n\n\n

Saat menjawab, akupun terkaget, karena prediksiku umur sekitaran 50an. Raup wajahnya bersih, badannya terlihat sehat dan terlihat energik, tidak mau kalah dengan bapak-bapak lainnya yang saat itu ikut ngobrol yang rata-rata umur 48-60 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Akhirnya akupun penasaran, dan kembali bertanya. Mbah apa resepnya kok masih terlihat muda?. Ia pun menjawab, jauhi makanan yang ada obat penyedap rasanya, makananlah bahan alami seperti daun-daunan. Sampai detik ini ia mengaku tidak makan makanan yang ada penyedap rasanya, kalau ditawari atau ada suguhan di depannya, ia memilih tidak akan memakannya. Juga kalau ditawari dan disuguhi minuman yang bergula. Ia pun demikian menghindari. Kata masyarakat lainnya yang ikut ngobrol, Mbah Sholeh itu hidup sehat.<\/p>\n\n\n\n

Celetukan tersebut disikapi Mbah Sholeh  dengan senyuman dan sambil mengeluarkan asap rokok kretek dari mulutnya dan hidupnya. Kemudian aku bertanya lagi, kenapa Mbah merokok?. Ia pun tersenyum sambil menyedot kembali rokok kreteknya dengan menjawab, kalau merokok kretek membuat ia bahagia, dengan kondisi bahagia ini orang jadi awet muda. Kalau merokok membuat semangat, dengan semangat orang jadi giat dan kuat. Ia juga menceritakan memulai merokok kretek saat sudah Islam. Kata Islam disini bukan berarti saat masuk Islam, akan tetapi yang dimaksud saat sudah khitan atau usia baliq. Dahulu setelah ia dikhitan, bapaknya menyuruhnya merokok sebagai tanda sudah dewasa. <\/p>\n\n\n\n

Inilah pengakuan Mbah Sholeh, ternyata wajah yang bersih berseri, awet muda, fisiknya kuat dan energik, salah satu rahasinya adalah berbahagia dan giat. Agar bahagia dan giat ia selalu mengkonsumsi rokok kretek dan meninggalkan makanan dengan penyedap rasa.   
<\/p>\n","post_title":"Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bikin-awet-muda-dan-energik-rahasia-di-balik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-30 10:40:00","post_modified_gmt":"2019-09-30 03:40:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6112","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6101,"post_author":"877","post_date":"2019-09-26 10:08:08","post_date_gmt":"2019-09-26 03:08:08","post_content":"\n

Masa panen adalah saat yang dinanti-nanti petani tembakau. Tentunya harapan petani, tanaman tembakaunaya tumbuh dengan baik, kualitas bagus dan jumlahnya banyak, serta harganya bagus. Di saat tanaman tembakaunya bagus, baik kualitas dan kuantitasnya, biasanya diikuti dengan harga bagus pula. Namun tidak bisa dipastikan, karena masalah harga tidak bisa petani serta merta yang menentukan, ada faktor yang sanagat kompleks. Yaitu situasi dan kondisi sektor pertembakauan di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6112,"post_author":"877","post_date":"2019-09-30 10:39:53","post_date_gmt":"2019-09-30 03:39:53","post_content":"\n

Mbah Sholeh, salah satu tokoh di Desa Prawoto Pati Jawa Tengah, ia selalu mengkonsumsi rokok kretek untuk memacu gairah semangat hidupnya diusia menjelang senja. Usia boleh bertambah kepala tujuh, namun fisik tetap bugar, seger dan energik. <\/p>\n\n\n\n

Sore itu sehabis ashar hari senin tanggal 23 September 2019, salah satu pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) menghampiriku sembari menyerahkan kertas undangan. Saat itu, aku sendiri sudah di atas motor mau bergegas pergi belanja untuk keperluan Mbah Pae panggilan akrab simbah KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus. Saat ini, beliau menjadi bapak masyarakat Kudus, sehingga banyak orang memanggilnya \u201cMbah Pae\u201d, putra dan cucunya pun memanggil demikian. <\/p>\n\n\n\n

Undangan dari pengurus YM3SK aku masukkan ke kantong saku celana, kemudian lanjut pergi belanja. Walaupun hari sudah sore, panas matahari masih terasa, terlebih saat menyinari kulit yang tidak terbungkus kain pakaian. Seakan-akan hari itu matahari semangat menyinari bumi mengiringi musim kemarau. Sepulang dari belanja akupun menuju dapur mengambil gelas dan air minum. Sambil minum aku buka undangan tersebut dan aku baca. Ternyata undangan tersebut pemberitahuan ada acara pengajian dalam rangka Haul Agung Kanjeng Sunan Prawoto Raden Haryo Bagus Mu\u2019min atau biasa dipanggil Mbah Tabek.<\/p>\n\n\n\n

Sunan Prawoto adalah raja keempat dari Kesultanan Demak yang memerintah tahun 1546-1549. Nama lahirnya Raden Mukmin, seorang agamis dari keturunan Kerajaan Demak Bintoro. Putra Sulung Raja Demak Sultan Trenggono. Ia terkenal dengan sebutan Sunan Prawoto, karena daerah yang disinggahi hingga akhir wafatnya bernama Desa Prawoto dalam wilayah kabupaten Pati Jawa Tengah berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kudus bagian selatan. Konon Desa Prawoto sebagai Kerajaan Kecil setelah Kerajaan Demak hancur. Raden Mukmin inilah yang memboyong Kerajaan Demak ke Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Saat ini Desa Prawoto adalah desa perbukitan, dengan hawa yang tidak terlalu dingin saat malam hari dan tidak terlalu panas pada siang hari. Walaupun hanya perbukitan, di Prawoto masih banyak pohon-pohon besar dan hijau memberikan kesejukan. Saat malam tiba, dari perbukitan Prawoto nampak jelas wilayah kota Kudus. Memang daerah Prowoto lebih dekat dengan kota Kudus dari pada Kota Pati. Bahkan budaya dan adat istiadatnya pun kental dengan budaya keKudusan. Sebagian besar masyarakat Prawoto aktifitas seharinya kewilayah Kudus, seperti bekerja, berdagang, pergi kepasar, sekolah, bahkan samapi memanfaatkan fasilitas ATM mereka memilih ke Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa penjajahan Belanda, Desa Prawoto di fungsikan sebagai distrik Karesidenan yang membawai daerah Pati sampai perbatasan Tuban Jawa Timur, Kudus, Jepara bahkan Demak. Sampai sekarang perkantoran Karesidenan warisan Belanda masih berdiri kokoh dan sebagian difungsikan untuk kepentingan Desa. Tidak hanya itu, di tengah-tengah desa terdapat semacam alun-alun kecil dengan kolam air besar yang konon juga peninggalan Belanda. Tidak sedikit yang berpendapat kolam tersebut peninggalan jauh sebelum Belanda, alias peninggalan Sunan Prawoto. Sehingga, kolam tersebut sering dibuat mandi para tokoh-tokoh dan Ulama\u2019 dari luar kota di Jawa, seperti Pekalongan, Batang, Kendal, Magelang, Solo dan lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Di Desa Prawoto terdapat dua makam Sunan Prawoto, di daerah bawah dan di daerah atas istilah masyarakat menamainya. Terlepas mana yang benar Makam Sunan Prawoto tergantung keyakinan individu. Menurut arkeolog UGM yang saat itu ikut menjelaskan, bahwa yang dibawah adalah peninggalan situs dan yang di atas dari dulu berupa makam yang dikenal dengan makam Tabek. <\/p>\n\n\n\n

Rerata jenjang pendidikan masyarakat Prawoto maksimal tingkat SMA, hanya ada beberapa glintir yang samapi jenjang sarjana dan ada satu orang menjadi guru besar di UGM, namun sudah lama menetap di Yogyakarta, dan jarang pulang. Anehnya, walaupun rata-rata lulusan jenjang SMA, kemampuan dan skill mereka tak kalah dengan yang sarjana bahkan mentalnya pun demikian. Hal itu dapat dilihat dari cara bicara, cara berorganisasi, dan pola pikir maju seperti halnya sarjana. Itulah sekilah cerita tentang Prawoto.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke undangan, setelah aku baca, ternyata undangan tersebut sekaligus perintah dari pengurus YM3SK untuk mewakili datang di acara Haul Sunan Prawoto yang dilaksanakan di hari dan tanggal itu juga jam 19.00 WIB. Walaupun terkesan mendadak tidak seperti biasa jauh-jauh hari sudah ada pemberitahuan, seperti saat acara haul Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Ampel. Akhirnya tetap datang di acara haul Sunan Prawoto dengan berkoordinasi dan mengajak dengan teman-teman di dekat desa Prawoto. Berangkat sehabis sholat isya\u2019, sampai di desa Prawoto jam 19.45 WIB acara dbelum di mulai menunggu group rebana dari bapak-bapak polisi Polres Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Disaat-saat senggang tersebut, aku manfaatkan ngobrol dengan penduduk dan tokoh Ulama\u2019 setempat. Ternyata mereka selain punya warisan seni ketoprak juga punya kebudayaan menghisap rokok kretek. Selain rokok kretek mereka tidak mau. Karena budaya merokok kretek diyakini warisan leluhurnya. Jarang sekali orang-orang tua yang tidak merokok, terlihat tidak memegang dan membawa rokok kretek kebanyakan anak-anak usia sekolah. Sambil ngobrol mengupas sedikit sejarah Sunan Prawoto kita merokok kretek bersama. Dengan merokok kretek suasana santai dan keakraban terbentuk di serambi masjid Sunan Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Kebetulan posisiku duduk bersebelahan dengan salah satu tokoh juga Ulama\u2019 Prawoto. Umurnya sudah tergolong dapat bonus 16 tahun dati Tuhan. Itulah jawabannya saat aku tanya usianya berapa. Karena pingin tau, aku tanya kembali persisnya usia berapa, beliau menjawab diatas rata-rata umumnya usia manusia (60 tahun) yaitu 76 tahun. Ia menjawab sambil tersenyum dan memegang rokok kretek yang telah disulut, ia adalah Mbah Sholeh (nama samara).<\/p>\n\n\n\n

Saat menjawab, akupun terkaget, karena prediksiku umur sekitaran 50an. Raup wajahnya bersih, badannya terlihat sehat dan terlihat energik, tidak mau kalah dengan bapak-bapak lainnya yang saat itu ikut ngobrol yang rata-rata umur 48-60 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Akhirnya akupun penasaran, dan kembali bertanya. Mbah apa resepnya kok masih terlihat muda?. Ia pun menjawab, jauhi makanan yang ada obat penyedap rasanya, makananlah bahan alami seperti daun-daunan. Sampai detik ini ia mengaku tidak makan makanan yang ada penyedap rasanya, kalau ditawari atau ada suguhan di depannya, ia memilih tidak akan memakannya. Juga kalau ditawari dan disuguhi minuman yang bergula. Ia pun demikian menghindari. Kata masyarakat lainnya yang ikut ngobrol, Mbah Sholeh itu hidup sehat.<\/p>\n\n\n\n

Celetukan tersebut disikapi Mbah Sholeh  dengan senyuman dan sambil mengeluarkan asap rokok kretek dari mulutnya dan hidupnya. Kemudian aku bertanya lagi, kenapa Mbah merokok?. Ia pun tersenyum sambil menyedot kembali rokok kreteknya dengan menjawab, kalau merokok kretek membuat ia bahagia, dengan kondisi bahagia ini orang jadi awet muda. Kalau merokok membuat semangat, dengan semangat orang jadi giat dan kuat. Ia juga menceritakan memulai merokok kretek saat sudah Islam. Kata Islam disini bukan berarti saat masuk Islam, akan tetapi yang dimaksud saat sudah khitan atau usia baliq. Dahulu setelah ia dikhitan, bapaknya menyuruhnya merokok sebagai tanda sudah dewasa. <\/p>\n\n\n\n

Inilah pengakuan Mbah Sholeh, ternyata wajah yang bersih berseri, awet muda, fisiknya kuat dan energik, salah satu rahasinya adalah berbahagia dan giat. Agar bahagia dan giat ia selalu mengkonsumsi rokok kretek dan meninggalkan makanan dengan penyedap rasa.   
<\/p>\n","post_title":"Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bikin-awet-muda-dan-energik-rahasia-di-balik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-30 10:40:00","post_modified_gmt":"2019-09-30 03:40:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6112","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6101,"post_author":"877","post_date":"2019-09-26 10:08:08","post_date_gmt":"2019-09-26 03:08:08","post_content":"\n

Masa panen adalah saat yang dinanti-nanti petani tembakau. Tentunya harapan petani, tanaman tembakaunaya tumbuh dengan baik, kualitas bagus dan jumlahnya banyak, serta harganya bagus. Di saat tanaman tembakaunya bagus, baik kualitas dan kuantitasnya, biasanya diikuti dengan harga bagus pula. Namun tidak bisa dipastikan, karena masalah harga tidak bisa petani serta merta yang menentukan, ada faktor yang sanagat kompleks. Yaitu situasi dan kondisi sektor pertembakauan di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6112,"post_author":"877","post_date":"2019-09-30 10:39:53","post_date_gmt":"2019-09-30 03:39:53","post_content":"\n

Mbah Sholeh, salah satu tokoh di Desa Prawoto Pati Jawa Tengah, ia selalu mengkonsumsi rokok kretek untuk memacu gairah semangat hidupnya diusia menjelang senja. Usia boleh bertambah kepala tujuh, namun fisik tetap bugar, seger dan energik. <\/p>\n\n\n\n

Sore itu sehabis ashar hari senin tanggal 23 September 2019, salah satu pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) menghampiriku sembari menyerahkan kertas undangan. Saat itu, aku sendiri sudah di atas motor mau bergegas pergi belanja untuk keperluan Mbah Pae panggilan akrab simbah KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus. Saat ini, beliau menjadi bapak masyarakat Kudus, sehingga banyak orang memanggilnya \u201cMbah Pae\u201d, putra dan cucunya pun memanggil demikian. <\/p>\n\n\n\n

Undangan dari pengurus YM3SK aku masukkan ke kantong saku celana, kemudian lanjut pergi belanja. Walaupun hari sudah sore, panas matahari masih terasa, terlebih saat menyinari kulit yang tidak terbungkus kain pakaian. Seakan-akan hari itu matahari semangat menyinari bumi mengiringi musim kemarau. Sepulang dari belanja akupun menuju dapur mengambil gelas dan air minum. Sambil minum aku buka undangan tersebut dan aku baca. Ternyata undangan tersebut pemberitahuan ada acara pengajian dalam rangka Haul Agung Kanjeng Sunan Prawoto Raden Haryo Bagus Mu\u2019min atau biasa dipanggil Mbah Tabek.<\/p>\n\n\n\n

Sunan Prawoto adalah raja keempat dari Kesultanan Demak yang memerintah tahun 1546-1549. Nama lahirnya Raden Mukmin, seorang agamis dari keturunan Kerajaan Demak Bintoro. Putra Sulung Raja Demak Sultan Trenggono. Ia terkenal dengan sebutan Sunan Prawoto, karena daerah yang disinggahi hingga akhir wafatnya bernama Desa Prawoto dalam wilayah kabupaten Pati Jawa Tengah berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kudus bagian selatan. Konon Desa Prawoto sebagai Kerajaan Kecil setelah Kerajaan Demak hancur. Raden Mukmin inilah yang memboyong Kerajaan Demak ke Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Saat ini Desa Prawoto adalah desa perbukitan, dengan hawa yang tidak terlalu dingin saat malam hari dan tidak terlalu panas pada siang hari. Walaupun hanya perbukitan, di Prawoto masih banyak pohon-pohon besar dan hijau memberikan kesejukan. Saat malam tiba, dari perbukitan Prawoto nampak jelas wilayah kota Kudus. Memang daerah Prowoto lebih dekat dengan kota Kudus dari pada Kota Pati. Bahkan budaya dan adat istiadatnya pun kental dengan budaya keKudusan. Sebagian besar masyarakat Prawoto aktifitas seharinya kewilayah Kudus, seperti bekerja, berdagang, pergi kepasar, sekolah, bahkan samapi memanfaatkan fasilitas ATM mereka memilih ke Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa penjajahan Belanda, Desa Prawoto di fungsikan sebagai distrik Karesidenan yang membawai daerah Pati sampai perbatasan Tuban Jawa Timur, Kudus, Jepara bahkan Demak. Sampai sekarang perkantoran Karesidenan warisan Belanda masih berdiri kokoh dan sebagian difungsikan untuk kepentingan Desa. Tidak hanya itu, di tengah-tengah desa terdapat semacam alun-alun kecil dengan kolam air besar yang konon juga peninggalan Belanda. Tidak sedikit yang berpendapat kolam tersebut peninggalan jauh sebelum Belanda, alias peninggalan Sunan Prawoto. Sehingga, kolam tersebut sering dibuat mandi para tokoh-tokoh dan Ulama\u2019 dari luar kota di Jawa, seperti Pekalongan, Batang, Kendal, Magelang, Solo dan lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Di Desa Prawoto terdapat dua makam Sunan Prawoto, di daerah bawah dan di daerah atas istilah masyarakat menamainya. Terlepas mana yang benar Makam Sunan Prawoto tergantung keyakinan individu. Menurut arkeolog UGM yang saat itu ikut menjelaskan, bahwa yang dibawah adalah peninggalan situs dan yang di atas dari dulu berupa makam yang dikenal dengan makam Tabek. <\/p>\n\n\n\n

Rerata jenjang pendidikan masyarakat Prawoto maksimal tingkat SMA, hanya ada beberapa glintir yang samapi jenjang sarjana dan ada satu orang menjadi guru besar di UGM, namun sudah lama menetap di Yogyakarta, dan jarang pulang. Anehnya, walaupun rata-rata lulusan jenjang SMA, kemampuan dan skill mereka tak kalah dengan yang sarjana bahkan mentalnya pun demikian. Hal itu dapat dilihat dari cara bicara, cara berorganisasi, dan pola pikir maju seperti halnya sarjana. Itulah sekilah cerita tentang Prawoto.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke undangan, setelah aku baca, ternyata undangan tersebut sekaligus perintah dari pengurus YM3SK untuk mewakili datang di acara Haul Sunan Prawoto yang dilaksanakan di hari dan tanggal itu juga jam 19.00 WIB. Walaupun terkesan mendadak tidak seperti biasa jauh-jauh hari sudah ada pemberitahuan, seperti saat acara haul Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Ampel. Akhirnya tetap datang di acara haul Sunan Prawoto dengan berkoordinasi dan mengajak dengan teman-teman di dekat desa Prawoto. Berangkat sehabis sholat isya\u2019, sampai di desa Prawoto jam 19.45 WIB acara dbelum di mulai menunggu group rebana dari bapak-bapak polisi Polres Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Disaat-saat senggang tersebut, aku manfaatkan ngobrol dengan penduduk dan tokoh Ulama\u2019 setempat. Ternyata mereka selain punya warisan seni ketoprak juga punya kebudayaan menghisap rokok kretek. Selain rokok kretek mereka tidak mau. Karena budaya merokok kretek diyakini warisan leluhurnya. Jarang sekali orang-orang tua yang tidak merokok, terlihat tidak memegang dan membawa rokok kretek kebanyakan anak-anak usia sekolah. Sambil ngobrol mengupas sedikit sejarah Sunan Prawoto kita merokok kretek bersama. Dengan merokok kretek suasana santai dan keakraban terbentuk di serambi masjid Sunan Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Kebetulan posisiku duduk bersebelahan dengan salah satu tokoh juga Ulama\u2019 Prawoto. Umurnya sudah tergolong dapat bonus 16 tahun dati Tuhan. Itulah jawabannya saat aku tanya usianya berapa. Karena pingin tau, aku tanya kembali persisnya usia berapa, beliau menjawab diatas rata-rata umumnya usia manusia (60 tahun) yaitu 76 tahun. Ia menjawab sambil tersenyum dan memegang rokok kretek yang telah disulut, ia adalah Mbah Sholeh (nama samara).<\/p>\n\n\n\n

Saat menjawab, akupun terkaget, karena prediksiku umur sekitaran 50an. Raup wajahnya bersih, badannya terlihat sehat dan terlihat energik, tidak mau kalah dengan bapak-bapak lainnya yang saat itu ikut ngobrol yang rata-rata umur 48-60 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Akhirnya akupun penasaran, dan kembali bertanya. Mbah apa resepnya kok masih terlihat muda?. Ia pun menjawab, jauhi makanan yang ada obat penyedap rasanya, makananlah bahan alami seperti daun-daunan. Sampai detik ini ia mengaku tidak makan makanan yang ada penyedap rasanya, kalau ditawari atau ada suguhan di depannya, ia memilih tidak akan memakannya. Juga kalau ditawari dan disuguhi minuman yang bergula. Ia pun demikian menghindari. Kata masyarakat lainnya yang ikut ngobrol, Mbah Sholeh itu hidup sehat.<\/p>\n\n\n\n

Celetukan tersebut disikapi Mbah Sholeh  dengan senyuman dan sambil mengeluarkan asap rokok kretek dari mulutnya dan hidupnya. Kemudian aku bertanya lagi, kenapa Mbah merokok?. Ia pun tersenyum sambil menyedot kembali rokok kreteknya dengan menjawab, kalau merokok kretek membuat ia bahagia, dengan kondisi bahagia ini orang jadi awet muda. Kalau merokok membuat semangat, dengan semangat orang jadi giat dan kuat. Ia juga menceritakan memulai merokok kretek saat sudah Islam. Kata Islam disini bukan berarti saat masuk Islam, akan tetapi yang dimaksud saat sudah khitan atau usia baliq. Dahulu setelah ia dikhitan, bapaknya menyuruhnya merokok sebagai tanda sudah dewasa. <\/p>\n\n\n\n

Inilah pengakuan Mbah Sholeh, ternyata wajah yang bersih berseri, awet muda, fisiknya kuat dan energik, salah satu rahasinya adalah berbahagia dan giat. Agar bahagia dan giat ia selalu mengkonsumsi rokok kretek dan meninggalkan makanan dengan penyedap rasa.   
<\/p>\n","post_title":"Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bikin-awet-muda-dan-energik-rahasia-di-balik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-30 10:40:00","post_modified_gmt":"2019-09-30 03:40:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6112","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6101,"post_author":"877","post_date":"2019-09-26 10:08:08","post_date_gmt":"2019-09-26 03:08:08","post_content":"\n

Masa panen adalah saat yang dinanti-nanti petani tembakau. Tentunya harapan petani, tanaman tembakaunaya tumbuh dengan baik, kualitas bagus dan jumlahnya banyak, serta harganya bagus. Di saat tanaman tembakaunya bagus, baik kualitas dan kuantitasnya, biasanya diikuti dengan harga bagus pula. Namun tidak bisa dipastikan, karena masalah harga tidak bisa petani serta merta yang menentukan, ada faktor yang sanagat kompleks. Yaitu situasi dan kondisi sektor pertembakauan di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6112,"post_author":"877","post_date":"2019-09-30 10:39:53","post_date_gmt":"2019-09-30 03:39:53","post_content":"\n

Mbah Sholeh, salah satu tokoh di Desa Prawoto Pati Jawa Tengah, ia selalu mengkonsumsi rokok kretek untuk memacu gairah semangat hidupnya diusia menjelang senja. Usia boleh bertambah kepala tujuh, namun fisik tetap bugar, seger dan energik. <\/p>\n\n\n\n

Sore itu sehabis ashar hari senin tanggal 23 September 2019, salah satu pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) menghampiriku sembari menyerahkan kertas undangan. Saat itu, aku sendiri sudah di atas motor mau bergegas pergi belanja untuk keperluan Mbah Pae panggilan akrab simbah KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus. Saat ini, beliau menjadi bapak masyarakat Kudus, sehingga banyak orang memanggilnya \u201cMbah Pae\u201d, putra dan cucunya pun memanggil demikian. <\/p>\n\n\n\n

Undangan dari pengurus YM3SK aku masukkan ke kantong saku celana, kemudian lanjut pergi belanja. Walaupun hari sudah sore, panas matahari masih terasa, terlebih saat menyinari kulit yang tidak terbungkus kain pakaian. Seakan-akan hari itu matahari semangat menyinari bumi mengiringi musim kemarau. Sepulang dari belanja akupun menuju dapur mengambil gelas dan air minum. Sambil minum aku buka undangan tersebut dan aku baca. Ternyata undangan tersebut pemberitahuan ada acara pengajian dalam rangka Haul Agung Kanjeng Sunan Prawoto Raden Haryo Bagus Mu\u2019min atau biasa dipanggil Mbah Tabek.<\/p>\n\n\n\n

Sunan Prawoto adalah raja keempat dari Kesultanan Demak yang memerintah tahun 1546-1549. Nama lahirnya Raden Mukmin, seorang agamis dari keturunan Kerajaan Demak Bintoro. Putra Sulung Raja Demak Sultan Trenggono. Ia terkenal dengan sebutan Sunan Prawoto, karena daerah yang disinggahi hingga akhir wafatnya bernama Desa Prawoto dalam wilayah kabupaten Pati Jawa Tengah berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kudus bagian selatan. Konon Desa Prawoto sebagai Kerajaan Kecil setelah Kerajaan Demak hancur. Raden Mukmin inilah yang memboyong Kerajaan Demak ke Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Saat ini Desa Prawoto adalah desa perbukitan, dengan hawa yang tidak terlalu dingin saat malam hari dan tidak terlalu panas pada siang hari. Walaupun hanya perbukitan, di Prawoto masih banyak pohon-pohon besar dan hijau memberikan kesejukan. Saat malam tiba, dari perbukitan Prawoto nampak jelas wilayah kota Kudus. Memang daerah Prowoto lebih dekat dengan kota Kudus dari pada Kota Pati. Bahkan budaya dan adat istiadatnya pun kental dengan budaya keKudusan. Sebagian besar masyarakat Prawoto aktifitas seharinya kewilayah Kudus, seperti bekerja, berdagang, pergi kepasar, sekolah, bahkan samapi memanfaatkan fasilitas ATM mereka memilih ke Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa penjajahan Belanda, Desa Prawoto di fungsikan sebagai distrik Karesidenan yang membawai daerah Pati sampai perbatasan Tuban Jawa Timur, Kudus, Jepara bahkan Demak. Sampai sekarang perkantoran Karesidenan warisan Belanda masih berdiri kokoh dan sebagian difungsikan untuk kepentingan Desa. Tidak hanya itu, di tengah-tengah desa terdapat semacam alun-alun kecil dengan kolam air besar yang konon juga peninggalan Belanda. Tidak sedikit yang berpendapat kolam tersebut peninggalan jauh sebelum Belanda, alias peninggalan Sunan Prawoto. Sehingga, kolam tersebut sering dibuat mandi para tokoh-tokoh dan Ulama\u2019 dari luar kota di Jawa, seperti Pekalongan, Batang, Kendal, Magelang, Solo dan lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Di Desa Prawoto terdapat dua makam Sunan Prawoto, di daerah bawah dan di daerah atas istilah masyarakat menamainya. Terlepas mana yang benar Makam Sunan Prawoto tergantung keyakinan individu. Menurut arkeolog UGM yang saat itu ikut menjelaskan, bahwa yang dibawah adalah peninggalan situs dan yang di atas dari dulu berupa makam yang dikenal dengan makam Tabek. <\/p>\n\n\n\n

Rerata jenjang pendidikan masyarakat Prawoto maksimal tingkat SMA, hanya ada beberapa glintir yang samapi jenjang sarjana dan ada satu orang menjadi guru besar di UGM, namun sudah lama menetap di Yogyakarta, dan jarang pulang. Anehnya, walaupun rata-rata lulusan jenjang SMA, kemampuan dan skill mereka tak kalah dengan yang sarjana bahkan mentalnya pun demikian. Hal itu dapat dilihat dari cara bicara, cara berorganisasi, dan pola pikir maju seperti halnya sarjana. Itulah sekilah cerita tentang Prawoto.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke undangan, setelah aku baca, ternyata undangan tersebut sekaligus perintah dari pengurus YM3SK untuk mewakili datang di acara Haul Sunan Prawoto yang dilaksanakan di hari dan tanggal itu juga jam 19.00 WIB. Walaupun terkesan mendadak tidak seperti biasa jauh-jauh hari sudah ada pemberitahuan, seperti saat acara haul Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Ampel. Akhirnya tetap datang di acara haul Sunan Prawoto dengan berkoordinasi dan mengajak dengan teman-teman di dekat desa Prawoto. Berangkat sehabis sholat isya\u2019, sampai di desa Prawoto jam 19.45 WIB acara dbelum di mulai menunggu group rebana dari bapak-bapak polisi Polres Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Disaat-saat senggang tersebut, aku manfaatkan ngobrol dengan penduduk dan tokoh Ulama\u2019 setempat. Ternyata mereka selain punya warisan seni ketoprak juga punya kebudayaan menghisap rokok kretek. Selain rokok kretek mereka tidak mau. Karena budaya merokok kretek diyakini warisan leluhurnya. Jarang sekali orang-orang tua yang tidak merokok, terlihat tidak memegang dan membawa rokok kretek kebanyakan anak-anak usia sekolah. Sambil ngobrol mengupas sedikit sejarah Sunan Prawoto kita merokok kretek bersama. Dengan merokok kretek suasana santai dan keakraban terbentuk di serambi masjid Sunan Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Kebetulan posisiku duduk bersebelahan dengan salah satu tokoh juga Ulama\u2019 Prawoto. Umurnya sudah tergolong dapat bonus 16 tahun dati Tuhan. Itulah jawabannya saat aku tanya usianya berapa. Karena pingin tau, aku tanya kembali persisnya usia berapa, beliau menjawab diatas rata-rata umumnya usia manusia (60 tahun) yaitu 76 tahun. Ia menjawab sambil tersenyum dan memegang rokok kretek yang telah disulut, ia adalah Mbah Sholeh (nama samara).<\/p>\n\n\n\n

Saat menjawab, akupun terkaget, karena prediksiku umur sekitaran 50an. Raup wajahnya bersih, badannya terlihat sehat dan terlihat energik, tidak mau kalah dengan bapak-bapak lainnya yang saat itu ikut ngobrol yang rata-rata umur 48-60 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Akhirnya akupun penasaran, dan kembali bertanya. Mbah apa resepnya kok masih terlihat muda?. Ia pun menjawab, jauhi makanan yang ada obat penyedap rasanya, makananlah bahan alami seperti daun-daunan. Sampai detik ini ia mengaku tidak makan makanan yang ada penyedap rasanya, kalau ditawari atau ada suguhan di depannya, ia memilih tidak akan memakannya. Juga kalau ditawari dan disuguhi minuman yang bergula. Ia pun demikian menghindari. Kata masyarakat lainnya yang ikut ngobrol, Mbah Sholeh itu hidup sehat.<\/p>\n\n\n\n

Celetukan tersebut disikapi Mbah Sholeh  dengan senyuman dan sambil mengeluarkan asap rokok kretek dari mulutnya dan hidupnya. Kemudian aku bertanya lagi, kenapa Mbah merokok?. Ia pun tersenyum sambil menyedot kembali rokok kreteknya dengan menjawab, kalau merokok kretek membuat ia bahagia, dengan kondisi bahagia ini orang jadi awet muda. Kalau merokok membuat semangat, dengan semangat orang jadi giat dan kuat. Ia juga menceritakan memulai merokok kretek saat sudah Islam. Kata Islam disini bukan berarti saat masuk Islam, akan tetapi yang dimaksud saat sudah khitan atau usia baliq. Dahulu setelah ia dikhitan, bapaknya menyuruhnya merokok sebagai tanda sudah dewasa. <\/p>\n\n\n\n

Inilah pengakuan Mbah Sholeh, ternyata wajah yang bersih berseri, awet muda, fisiknya kuat dan energik, salah satu rahasinya adalah berbahagia dan giat. Agar bahagia dan giat ia selalu mengkonsumsi rokok kretek dan meninggalkan makanan dengan penyedap rasa.   
<\/p>\n","post_title":"Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bikin-awet-muda-dan-energik-rahasia-di-balik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-30 10:40:00","post_modified_gmt":"2019-09-30 03:40:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6112","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6101,"post_author":"877","post_date":"2019-09-26 10:08:08","post_date_gmt":"2019-09-26 03:08:08","post_content":"\n

Masa panen adalah saat yang dinanti-nanti petani tembakau. Tentunya harapan petani, tanaman tembakaunaya tumbuh dengan baik, kualitas bagus dan jumlahnya banyak, serta harganya bagus. Di saat tanaman tembakaunya bagus, baik kualitas dan kuantitasnya, biasanya diikuti dengan harga bagus pula. Namun tidak bisa dipastikan, karena masalah harga tidak bisa petani serta merta yang menentukan, ada faktor yang sanagat kompleks. Yaitu situasi dan kondisi sektor pertembakauan di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6112,"post_author":"877","post_date":"2019-09-30 10:39:53","post_date_gmt":"2019-09-30 03:39:53","post_content":"\n

Mbah Sholeh, salah satu tokoh di Desa Prawoto Pati Jawa Tengah, ia selalu mengkonsumsi rokok kretek untuk memacu gairah semangat hidupnya diusia menjelang senja. Usia boleh bertambah kepala tujuh, namun fisik tetap bugar, seger dan energik. <\/p>\n\n\n\n

Sore itu sehabis ashar hari senin tanggal 23 September 2019, salah satu pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) menghampiriku sembari menyerahkan kertas undangan. Saat itu, aku sendiri sudah di atas motor mau bergegas pergi belanja untuk keperluan Mbah Pae panggilan akrab simbah KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus. Saat ini, beliau menjadi bapak masyarakat Kudus, sehingga banyak orang memanggilnya \u201cMbah Pae\u201d, putra dan cucunya pun memanggil demikian. <\/p>\n\n\n\n

Undangan dari pengurus YM3SK aku masukkan ke kantong saku celana, kemudian lanjut pergi belanja. Walaupun hari sudah sore, panas matahari masih terasa, terlebih saat menyinari kulit yang tidak terbungkus kain pakaian. Seakan-akan hari itu matahari semangat menyinari bumi mengiringi musim kemarau. Sepulang dari belanja akupun menuju dapur mengambil gelas dan air minum. Sambil minum aku buka undangan tersebut dan aku baca. Ternyata undangan tersebut pemberitahuan ada acara pengajian dalam rangka Haul Agung Kanjeng Sunan Prawoto Raden Haryo Bagus Mu\u2019min atau biasa dipanggil Mbah Tabek.<\/p>\n\n\n\n

Sunan Prawoto adalah raja keempat dari Kesultanan Demak yang memerintah tahun 1546-1549. Nama lahirnya Raden Mukmin, seorang agamis dari keturunan Kerajaan Demak Bintoro. Putra Sulung Raja Demak Sultan Trenggono. Ia terkenal dengan sebutan Sunan Prawoto, karena daerah yang disinggahi hingga akhir wafatnya bernama Desa Prawoto dalam wilayah kabupaten Pati Jawa Tengah berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kudus bagian selatan. Konon Desa Prawoto sebagai Kerajaan Kecil setelah Kerajaan Demak hancur. Raden Mukmin inilah yang memboyong Kerajaan Demak ke Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Saat ini Desa Prawoto adalah desa perbukitan, dengan hawa yang tidak terlalu dingin saat malam hari dan tidak terlalu panas pada siang hari. Walaupun hanya perbukitan, di Prawoto masih banyak pohon-pohon besar dan hijau memberikan kesejukan. Saat malam tiba, dari perbukitan Prawoto nampak jelas wilayah kota Kudus. Memang daerah Prowoto lebih dekat dengan kota Kudus dari pada Kota Pati. Bahkan budaya dan adat istiadatnya pun kental dengan budaya keKudusan. Sebagian besar masyarakat Prawoto aktifitas seharinya kewilayah Kudus, seperti bekerja, berdagang, pergi kepasar, sekolah, bahkan samapi memanfaatkan fasilitas ATM mereka memilih ke Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa penjajahan Belanda, Desa Prawoto di fungsikan sebagai distrik Karesidenan yang membawai daerah Pati sampai perbatasan Tuban Jawa Timur, Kudus, Jepara bahkan Demak. Sampai sekarang perkantoran Karesidenan warisan Belanda masih berdiri kokoh dan sebagian difungsikan untuk kepentingan Desa. Tidak hanya itu, di tengah-tengah desa terdapat semacam alun-alun kecil dengan kolam air besar yang konon juga peninggalan Belanda. Tidak sedikit yang berpendapat kolam tersebut peninggalan jauh sebelum Belanda, alias peninggalan Sunan Prawoto. Sehingga, kolam tersebut sering dibuat mandi para tokoh-tokoh dan Ulama\u2019 dari luar kota di Jawa, seperti Pekalongan, Batang, Kendal, Magelang, Solo dan lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Di Desa Prawoto terdapat dua makam Sunan Prawoto, di daerah bawah dan di daerah atas istilah masyarakat menamainya. Terlepas mana yang benar Makam Sunan Prawoto tergantung keyakinan individu. Menurut arkeolog UGM yang saat itu ikut menjelaskan, bahwa yang dibawah adalah peninggalan situs dan yang di atas dari dulu berupa makam yang dikenal dengan makam Tabek. <\/p>\n\n\n\n

Rerata jenjang pendidikan masyarakat Prawoto maksimal tingkat SMA, hanya ada beberapa glintir yang samapi jenjang sarjana dan ada satu orang menjadi guru besar di UGM, namun sudah lama menetap di Yogyakarta, dan jarang pulang. Anehnya, walaupun rata-rata lulusan jenjang SMA, kemampuan dan skill mereka tak kalah dengan yang sarjana bahkan mentalnya pun demikian. Hal itu dapat dilihat dari cara bicara, cara berorganisasi, dan pola pikir maju seperti halnya sarjana. Itulah sekilah cerita tentang Prawoto.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke undangan, setelah aku baca, ternyata undangan tersebut sekaligus perintah dari pengurus YM3SK untuk mewakili datang di acara Haul Sunan Prawoto yang dilaksanakan di hari dan tanggal itu juga jam 19.00 WIB. Walaupun terkesan mendadak tidak seperti biasa jauh-jauh hari sudah ada pemberitahuan, seperti saat acara haul Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Ampel. Akhirnya tetap datang di acara haul Sunan Prawoto dengan berkoordinasi dan mengajak dengan teman-teman di dekat desa Prawoto. Berangkat sehabis sholat isya\u2019, sampai di desa Prawoto jam 19.45 WIB acara dbelum di mulai menunggu group rebana dari bapak-bapak polisi Polres Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Disaat-saat senggang tersebut, aku manfaatkan ngobrol dengan penduduk dan tokoh Ulama\u2019 setempat. Ternyata mereka selain punya warisan seni ketoprak juga punya kebudayaan menghisap rokok kretek. Selain rokok kretek mereka tidak mau. Karena budaya merokok kretek diyakini warisan leluhurnya. Jarang sekali orang-orang tua yang tidak merokok, terlihat tidak memegang dan membawa rokok kretek kebanyakan anak-anak usia sekolah. Sambil ngobrol mengupas sedikit sejarah Sunan Prawoto kita merokok kretek bersama. Dengan merokok kretek suasana santai dan keakraban terbentuk di serambi masjid Sunan Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Kebetulan posisiku duduk bersebelahan dengan salah satu tokoh juga Ulama\u2019 Prawoto. Umurnya sudah tergolong dapat bonus 16 tahun dati Tuhan. Itulah jawabannya saat aku tanya usianya berapa. Karena pingin tau, aku tanya kembali persisnya usia berapa, beliau menjawab diatas rata-rata umumnya usia manusia (60 tahun) yaitu 76 tahun. Ia menjawab sambil tersenyum dan memegang rokok kretek yang telah disulut, ia adalah Mbah Sholeh (nama samara).<\/p>\n\n\n\n

Saat menjawab, akupun terkaget, karena prediksiku umur sekitaran 50an. Raup wajahnya bersih, badannya terlihat sehat dan terlihat energik, tidak mau kalah dengan bapak-bapak lainnya yang saat itu ikut ngobrol yang rata-rata umur 48-60 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Akhirnya akupun penasaran, dan kembali bertanya. Mbah apa resepnya kok masih terlihat muda?. Ia pun menjawab, jauhi makanan yang ada obat penyedap rasanya, makananlah bahan alami seperti daun-daunan. Sampai detik ini ia mengaku tidak makan makanan yang ada penyedap rasanya, kalau ditawari atau ada suguhan di depannya, ia memilih tidak akan memakannya. Juga kalau ditawari dan disuguhi minuman yang bergula. Ia pun demikian menghindari. Kata masyarakat lainnya yang ikut ngobrol, Mbah Sholeh itu hidup sehat.<\/p>\n\n\n\n

Celetukan tersebut disikapi Mbah Sholeh  dengan senyuman dan sambil mengeluarkan asap rokok kretek dari mulutnya dan hidupnya. Kemudian aku bertanya lagi, kenapa Mbah merokok?. Ia pun tersenyum sambil menyedot kembali rokok kreteknya dengan menjawab, kalau merokok kretek membuat ia bahagia, dengan kondisi bahagia ini orang jadi awet muda. Kalau merokok membuat semangat, dengan semangat orang jadi giat dan kuat. Ia juga menceritakan memulai merokok kretek saat sudah Islam. Kata Islam disini bukan berarti saat masuk Islam, akan tetapi yang dimaksud saat sudah khitan atau usia baliq. Dahulu setelah ia dikhitan, bapaknya menyuruhnya merokok sebagai tanda sudah dewasa. <\/p>\n\n\n\n

Inilah pengakuan Mbah Sholeh, ternyata wajah yang bersih berseri, awet muda, fisiknya kuat dan energik, salah satu rahasinya adalah berbahagia dan giat. Agar bahagia dan giat ia selalu mengkonsumsi rokok kretek dan meninggalkan makanan dengan penyedap rasa.   
<\/p>\n","post_title":"Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bikin-awet-muda-dan-energik-rahasia-di-balik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-30 10:40:00","post_modified_gmt":"2019-09-30 03:40:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6112","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6101,"post_author":"877","post_date":"2019-09-26 10:08:08","post_date_gmt":"2019-09-26 03:08:08","post_content":"\n

Masa panen adalah saat yang dinanti-nanti petani tembakau. Tentunya harapan petani, tanaman tembakaunaya tumbuh dengan baik, kualitas bagus dan jumlahnya banyak, serta harganya bagus. Di saat tanaman tembakaunya bagus, baik kualitas dan kuantitasnya, biasanya diikuti dengan harga bagus pula. Namun tidak bisa dipastikan, karena masalah harga tidak bisa petani serta merta yang menentukan, ada faktor yang sanagat kompleks. Yaitu situasi dan kondisi sektor pertembakauan di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6112,"post_author":"877","post_date":"2019-09-30 10:39:53","post_date_gmt":"2019-09-30 03:39:53","post_content":"\n

Mbah Sholeh, salah satu tokoh di Desa Prawoto Pati Jawa Tengah, ia selalu mengkonsumsi rokok kretek untuk memacu gairah semangat hidupnya diusia menjelang senja. Usia boleh bertambah kepala tujuh, namun fisik tetap bugar, seger dan energik. <\/p>\n\n\n\n

Sore itu sehabis ashar hari senin tanggal 23 September 2019, salah satu pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) menghampiriku sembari menyerahkan kertas undangan. Saat itu, aku sendiri sudah di atas motor mau bergegas pergi belanja untuk keperluan Mbah Pae panggilan akrab simbah KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus. Saat ini, beliau menjadi bapak masyarakat Kudus, sehingga banyak orang memanggilnya \u201cMbah Pae\u201d, putra dan cucunya pun memanggil demikian. <\/p>\n\n\n\n

Undangan dari pengurus YM3SK aku masukkan ke kantong saku celana, kemudian lanjut pergi belanja. Walaupun hari sudah sore, panas matahari masih terasa, terlebih saat menyinari kulit yang tidak terbungkus kain pakaian. Seakan-akan hari itu matahari semangat menyinari bumi mengiringi musim kemarau. Sepulang dari belanja akupun menuju dapur mengambil gelas dan air minum. Sambil minum aku buka undangan tersebut dan aku baca. Ternyata undangan tersebut pemberitahuan ada acara pengajian dalam rangka Haul Agung Kanjeng Sunan Prawoto Raden Haryo Bagus Mu\u2019min atau biasa dipanggil Mbah Tabek.<\/p>\n\n\n\n

Sunan Prawoto adalah raja keempat dari Kesultanan Demak yang memerintah tahun 1546-1549. Nama lahirnya Raden Mukmin, seorang agamis dari keturunan Kerajaan Demak Bintoro. Putra Sulung Raja Demak Sultan Trenggono. Ia terkenal dengan sebutan Sunan Prawoto, karena daerah yang disinggahi hingga akhir wafatnya bernama Desa Prawoto dalam wilayah kabupaten Pati Jawa Tengah berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kudus bagian selatan. Konon Desa Prawoto sebagai Kerajaan Kecil setelah Kerajaan Demak hancur. Raden Mukmin inilah yang memboyong Kerajaan Demak ke Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Saat ini Desa Prawoto adalah desa perbukitan, dengan hawa yang tidak terlalu dingin saat malam hari dan tidak terlalu panas pada siang hari. Walaupun hanya perbukitan, di Prawoto masih banyak pohon-pohon besar dan hijau memberikan kesejukan. Saat malam tiba, dari perbukitan Prawoto nampak jelas wilayah kota Kudus. Memang daerah Prowoto lebih dekat dengan kota Kudus dari pada Kota Pati. Bahkan budaya dan adat istiadatnya pun kental dengan budaya keKudusan. Sebagian besar masyarakat Prawoto aktifitas seharinya kewilayah Kudus, seperti bekerja, berdagang, pergi kepasar, sekolah, bahkan samapi memanfaatkan fasilitas ATM mereka memilih ke Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa penjajahan Belanda, Desa Prawoto di fungsikan sebagai distrik Karesidenan yang membawai daerah Pati sampai perbatasan Tuban Jawa Timur, Kudus, Jepara bahkan Demak. Sampai sekarang perkantoran Karesidenan warisan Belanda masih berdiri kokoh dan sebagian difungsikan untuk kepentingan Desa. Tidak hanya itu, di tengah-tengah desa terdapat semacam alun-alun kecil dengan kolam air besar yang konon juga peninggalan Belanda. Tidak sedikit yang berpendapat kolam tersebut peninggalan jauh sebelum Belanda, alias peninggalan Sunan Prawoto. Sehingga, kolam tersebut sering dibuat mandi para tokoh-tokoh dan Ulama\u2019 dari luar kota di Jawa, seperti Pekalongan, Batang, Kendal, Magelang, Solo dan lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Di Desa Prawoto terdapat dua makam Sunan Prawoto, di daerah bawah dan di daerah atas istilah masyarakat menamainya. Terlepas mana yang benar Makam Sunan Prawoto tergantung keyakinan individu. Menurut arkeolog UGM yang saat itu ikut menjelaskan, bahwa yang dibawah adalah peninggalan situs dan yang di atas dari dulu berupa makam yang dikenal dengan makam Tabek. <\/p>\n\n\n\n

Rerata jenjang pendidikan masyarakat Prawoto maksimal tingkat SMA, hanya ada beberapa glintir yang samapi jenjang sarjana dan ada satu orang menjadi guru besar di UGM, namun sudah lama menetap di Yogyakarta, dan jarang pulang. Anehnya, walaupun rata-rata lulusan jenjang SMA, kemampuan dan skill mereka tak kalah dengan yang sarjana bahkan mentalnya pun demikian. Hal itu dapat dilihat dari cara bicara, cara berorganisasi, dan pola pikir maju seperti halnya sarjana. Itulah sekilah cerita tentang Prawoto.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke undangan, setelah aku baca, ternyata undangan tersebut sekaligus perintah dari pengurus YM3SK untuk mewakili datang di acara Haul Sunan Prawoto yang dilaksanakan di hari dan tanggal itu juga jam 19.00 WIB. Walaupun terkesan mendadak tidak seperti biasa jauh-jauh hari sudah ada pemberitahuan, seperti saat acara haul Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Ampel. Akhirnya tetap datang di acara haul Sunan Prawoto dengan berkoordinasi dan mengajak dengan teman-teman di dekat desa Prawoto. Berangkat sehabis sholat isya\u2019, sampai di desa Prawoto jam 19.45 WIB acara dbelum di mulai menunggu group rebana dari bapak-bapak polisi Polres Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Disaat-saat senggang tersebut, aku manfaatkan ngobrol dengan penduduk dan tokoh Ulama\u2019 setempat. Ternyata mereka selain punya warisan seni ketoprak juga punya kebudayaan menghisap rokok kretek. Selain rokok kretek mereka tidak mau. Karena budaya merokok kretek diyakini warisan leluhurnya. Jarang sekali orang-orang tua yang tidak merokok, terlihat tidak memegang dan membawa rokok kretek kebanyakan anak-anak usia sekolah. Sambil ngobrol mengupas sedikit sejarah Sunan Prawoto kita merokok kretek bersama. Dengan merokok kretek suasana santai dan keakraban terbentuk di serambi masjid Sunan Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Kebetulan posisiku duduk bersebelahan dengan salah satu tokoh juga Ulama\u2019 Prawoto. Umurnya sudah tergolong dapat bonus 16 tahun dati Tuhan. Itulah jawabannya saat aku tanya usianya berapa. Karena pingin tau, aku tanya kembali persisnya usia berapa, beliau menjawab diatas rata-rata umumnya usia manusia (60 tahun) yaitu 76 tahun. Ia menjawab sambil tersenyum dan memegang rokok kretek yang telah disulut, ia adalah Mbah Sholeh (nama samara).<\/p>\n\n\n\n

Saat menjawab, akupun terkaget, karena prediksiku umur sekitaran 50an. Raup wajahnya bersih, badannya terlihat sehat dan terlihat energik, tidak mau kalah dengan bapak-bapak lainnya yang saat itu ikut ngobrol yang rata-rata umur 48-60 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Akhirnya akupun penasaran, dan kembali bertanya. Mbah apa resepnya kok masih terlihat muda?. Ia pun menjawab, jauhi makanan yang ada obat penyedap rasanya, makananlah bahan alami seperti daun-daunan. Sampai detik ini ia mengaku tidak makan makanan yang ada penyedap rasanya, kalau ditawari atau ada suguhan di depannya, ia memilih tidak akan memakannya. Juga kalau ditawari dan disuguhi minuman yang bergula. Ia pun demikian menghindari. Kata masyarakat lainnya yang ikut ngobrol, Mbah Sholeh itu hidup sehat.<\/p>\n\n\n\n

Celetukan tersebut disikapi Mbah Sholeh  dengan senyuman dan sambil mengeluarkan asap rokok kretek dari mulutnya dan hidupnya. Kemudian aku bertanya lagi, kenapa Mbah merokok?. Ia pun tersenyum sambil menyedot kembali rokok kreteknya dengan menjawab, kalau merokok kretek membuat ia bahagia, dengan kondisi bahagia ini orang jadi awet muda. Kalau merokok membuat semangat, dengan semangat orang jadi giat dan kuat. Ia juga menceritakan memulai merokok kretek saat sudah Islam. Kata Islam disini bukan berarti saat masuk Islam, akan tetapi yang dimaksud saat sudah khitan atau usia baliq. Dahulu setelah ia dikhitan, bapaknya menyuruhnya merokok sebagai tanda sudah dewasa. <\/p>\n\n\n\n

Inilah pengakuan Mbah Sholeh, ternyata wajah yang bersih berseri, awet muda, fisiknya kuat dan energik, salah satu rahasinya adalah berbahagia dan giat. Agar bahagia dan giat ia selalu mengkonsumsi rokok kretek dan meninggalkan makanan dengan penyedap rasa.   
<\/p>\n","post_title":"Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bikin-awet-muda-dan-energik-rahasia-di-balik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-30 10:40:00","post_modified_gmt":"2019-09-30 03:40:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6112","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6101,"post_author":"877","post_date":"2019-09-26 10:08:08","post_date_gmt":"2019-09-26 03:08:08","post_content":"\n

Masa panen adalah saat yang dinanti-nanti petani tembakau. Tentunya harapan petani, tanaman tembakaunaya tumbuh dengan baik, kualitas bagus dan jumlahnya banyak, serta harganya bagus. Di saat tanaman tembakaunya bagus, baik kualitas dan kuantitasnya, biasanya diikuti dengan harga bagus pula. Namun tidak bisa dipastikan, karena masalah harga tidak bisa petani serta merta yang menentukan, ada faktor yang sanagat kompleks. Yaitu situasi dan kondisi sektor pertembakauan di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6112,"post_author":"877","post_date":"2019-09-30 10:39:53","post_date_gmt":"2019-09-30 03:39:53","post_content":"\n

Mbah Sholeh, salah satu tokoh di Desa Prawoto Pati Jawa Tengah, ia selalu mengkonsumsi rokok kretek untuk memacu gairah semangat hidupnya diusia menjelang senja. Usia boleh bertambah kepala tujuh, namun fisik tetap bugar, seger dan energik. <\/p>\n\n\n\n

Sore itu sehabis ashar hari senin tanggal 23 September 2019, salah satu pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) menghampiriku sembari menyerahkan kertas undangan. Saat itu, aku sendiri sudah di atas motor mau bergegas pergi belanja untuk keperluan Mbah Pae panggilan akrab simbah KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus. Saat ini, beliau menjadi bapak masyarakat Kudus, sehingga banyak orang memanggilnya \u201cMbah Pae\u201d, putra dan cucunya pun memanggil demikian. <\/p>\n\n\n\n

Undangan dari pengurus YM3SK aku masukkan ke kantong saku celana, kemudian lanjut pergi belanja. Walaupun hari sudah sore, panas matahari masih terasa, terlebih saat menyinari kulit yang tidak terbungkus kain pakaian. Seakan-akan hari itu matahari semangat menyinari bumi mengiringi musim kemarau. Sepulang dari belanja akupun menuju dapur mengambil gelas dan air minum. Sambil minum aku buka undangan tersebut dan aku baca. Ternyata undangan tersebut pemberitahuan ada acara pengajian dalam rangka Haul Agung Kanjeng Sunan Prawoto Raden Haryo Bagus Mu\u2019min atau biasa dipanggil Mbah Tabek.<\/p>\n\n\n\n

Sunan Prawoto adalah raja keempat dari Kesultanan Demak yang memerintah tahun 1546-1549. Nama lahirnya Raden Mukmin, seorang agamis dari keturunan Kerajaan Demak Bintoro. Putra Sulung Raja Demak Sultan Trenggono. Ia terkenal dengan sebutan Sunan Prawoto, karena daerah yang disinggahi hingga akhir wafatnya bernama Desa Prawoto dalam wilayah kabupaten Pati Jawa Tengah berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kudus bagian selatan. Konon Desa Prawoto sebagai Kerajaan Kecil setelah Kerajaan Demak hancur. Raden Mukmin inilah yang memboyong Kerajaan Demak ke Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Saat ini Desa Prawoto adalah desa perbukitan, dengan hawa yang tidak terlalu dingin saat malam hari dan tidak terlalu panas pada siang hari. Walaupun hanya perbukitan, di Prawoto masih banyak pohon-pohon besar dan hijau memberikan kesejukan. Saat malam tiba, dari perbukitan Prawoto nampak jelas wilayah kota Kudus. Memang daerah Prowoto lebih dekat dengan kota Kudus dari pada Kota Pati. Bahkan budaya dan adat istiadatnya pun kental dengan budaya keKudusan. Sebagian besar masyarakat Prawoto aktifitas seharinya kewilayah Kudus, seperti bekerja, berdagang, pergi kepasar, sekolah, bahkan samapi memanfaatkan fasilitas ATM mereka memilih ke Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa penjajahan Belanda, Desa Prawoto di fungsikan sebagai distrik Karesidenan yang membawai daerah Pati sampai perbatasan Tuban Jawa Timur, Kudus, Jepara bahkan Demak. Sampai sekarang perkantoran Karesidenan warisan Belanda masih berdiri kokoh dan sebagian difungsikan untuk kepentingan Desa. Tidak hanya itu, di tengah-tengah desa terdapat semacam alun-alun kecil dengan kolam air besar yang konon juga peninggalan Belanda. Tidak sedikit yang berpendapat kolam tersebut peninggalan jauh sebelum Belanda, alias peninggalan Sunan Prawoto. Sehingga, kolam tersebut sering dibuat mandi para tokoh-tokoh dan Ulama\u2019 dari luar kota di Jawa, seperti Pekalongan, Batang, Kendal, Magelang, Solo dan lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Di Desa Prawoto terdapat dua makam Sunan Prawoto, di daerah bawah dan di daerah atas istilah masyarakat menamainya. Terlepas mana yang benar Makam Sunan Prawoto tergantung keyakinan individu. Menurut arkeolog UGM yang saat itu ikut menjelaskan, bahwa yang dibawah adalah peninggalan situs dan yang di atas dari dulu berupa makam yang dikenal dengan makam Tabek. <\/p>\n\n\n\n

Rerata jenjang pendidikan masyarakat Prawoto maksimal tingkat SMA, hanya ada beberapa glintir yang samapi jenjang sarjana dan ada satu orang menjadi guru besar di UGM, namun sudah lama menetap di Yogyakarta, dan jarang pulang. Anehnya, walaupun rata-rata lulusan jenjang SMA, kemampuan dan skill mereka tak kalah dengan yang sarjana bahkan mentalnya pun demikian. Hal itu dapat dilihat dari cara bicara, cara berorganisasi, dan pola pikir maju seperti halnya sarjana. Itulah sekilah cerita tentang Prawoto.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke undangan, setelah aku baca, ternyata undangan tersebut sekaligus perintah dari pengurus YM3SK untuk mewakili datang di acara Haul Sunan Prawoto yang dilaksanakan di hari dan tanggal itu juga jam 19.00 WIB. Walaupun terkesan mendadak tidak seperti biasa jauh-jauh hari sudah ada pemberitahuan, seperti saat acara haul Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Ampel. Akhirnya tetap datang di acara haul Sunan Prawoto dengan berkoordinasi dan mengajak dengan teman-teman di dekat desa Prawoto. Berangkat sehabis sholat isya\u2019, sampai di desa Prawoto jam 19.45 WIB acara dbelum di mulai menunggu group rebana dari bapak-bapak polisi Polres Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Disaat-saat senggang tersebut, aku manfaatkan ngobrol dengan penduduk dan tokoh Ulama\u2019 setempat. Ternyata mereka selain punya warisan seni ketoprak juga punya kebudayaan menghisap rokok kretek. Selain rokok kretek mereka tidak mau. Karena budaya merokok kretek diyakini warisan leluhurnya. Jarang sekali orang-orang tua yang tidak merokok, terlihat tidak memegang dan membawa rokok kretek kebanyakan anak-anak usia sekolah. Sambil ngobrol mengupas sedikit sejarah Sunan Prawoto kita merokok kretek bersama. Dengan merokok kretek suasana santai dan keakraban terbentuk di serambi masjid Sunan Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Kebetulan posisiku duduk bersebelahan dengan salah satu tokoh juga Ulama\u2019 Prawoto. Umurnya sudah tergolong dapat bonus 16 tahun dati Tuhan. Itulah jawabannya saat aku tanya usianya berapa. Karena pingin tau, aku tanya kembali persisnya usia berapa, beliau menjawab diatas rata-rata umumnya usia manusia (60 tahun) yaitu 76 tahun. Ia menjawab sambil tersenyum dan memegang rokok kretek yang telah disulut, ia adalah Mbah Sholeh (nama samara).<\/p>\n\n\n\n

Saat menjawab, akupun terkaget, karena prediksiku umur sekitaran 50an. Raup wajahnya bersih, badannya terlihat sehat dan terlihat energik, tidak mau kalah dengan bapak-bapak lainnya yang saat itu ikut ngobrol yang rata-rata umur 48-60 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Akhirnya akupun penasaran, dan kembali bertanya. Mbah apa resepnya kok masih terlihat muda?. Ia pun menjawab, jauhi makanan yang ada obat penyedap rasanya, makananlah bahan alami seperti daun-daunan. Sampai detik ini ia mengaku tidak makan makanan yang ada penyedap rasanya, kalau ditawari atau ada suguhan di depannya, ia memilih tidak akan memakannya. Juga kalau ditawari dan disuguhi minuman yang bergula. Ia pun demikian menghindari. Kata masyarakat lainnya yang ikut ngobrol, Mbah Sholeh itu hidup sehat.<\/p>\n\n\n\n

Celetukan tersebut disikapi Mbah Sholeh  dengan senyuman dan sambil mengeluarkan asap rokok kretek dari mulutnya dan hidupnya. Kemudian aku bertanya lagi, kenapa Mbah merokok?. Ia pun tersenyum sambil menyedot kembali rokok kreteknya dengan menjawab, kalau merokok kretek membuat ia bahagia, dengan kondisi bahagia ini orang jadi awet muda. Kalau merokok membuat semangat, dengan semangat orang jadi giat dan kuat. Ia juga menceritakan memulai merokok kretek saat sudah Islam. Kata Islam disini bukan berarti saat masuk Islam, akan tetapi yang dimaksud saat sudah khitan atau usia baliq. Dahulu setelah ia dikhitan, bapaknya menyuruhnya merokok sebagai tanda sudah dewasa. <\/p>\n\n\n\n

Inilah pengakuan Mbah Sholeh, ternyata wajah yang bersih berseri, awet muda, fisiknya kuat dan energik, salah satu rahasinya adalah berbahagia dan giat. Agar bahagia dan giat ia selalu mengkonsumsi rokok kretek dan meninggalkan makanan dengan penyedap rasa.   
<\/p>\n","post_title":"Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bikin-awet-muda-dan-energik-rahasia-di-balik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-30 10:40:00","post_modified_gmt":"2019-09-30 03:40:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6112","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6101,"post_author":"877","post_date":"2019-09-26 10:08:08","post_date_gmt":"2019-09-26 03:08:08","post_content":"\n

Masa panen adalah saat yang dinanti-nanti petani tembakau. Tentunya harapan petani, tanaman tembakaunaya tumbuh dengan baik, kualitas bagus dan jumlahnya banyak, serta harganya bagus. Di saat tanaman tembakaunya bagus, baik kualitas dan kuantitasnya, biasanya diikuti dengan harga bagus pula. Namun tidak bisa dipastikan, karena masalah harga tidak bisa petani serta merta yang menentukan, ada faktor yang sanagat kompleks. Yaitu situasi dan kondisi sektor pertembakauan di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6112,"post_author":"877","post_date":"2019-09-30 10:39:53","post_date_gmt":"2019-09-30 03:39:53","post_content":"\n

Mbah Sholeh, salah satu tokoh di Desa Prawoto Pati Jawa Tengah, ia selalu mengkonsumsi rokok kretek untuk memacu gairah semangat hidupnya diusia menjelang senja. Usia boleh bertambah kepala tujuh, namun fisik tetap bugar, seger dan energik. <\/p>\n\n\n\n

Sore itu sehabis ashar hari senin tanggal 23 September 2019, salah satu pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) menghampiriku sembari menyerahkan kertas undangan. Saat itu, aku sendiri sudah di atas motor mau bergegas pergi belanja untuk keperluan Mbah Pae panggilan akrab simbah KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus. Saat ini, beliau menjadi bapak masyarakat Kudus, sehingga banyak orang memanggilnya \u201cMbah Pae\u201d, putra dan cucunya pun memanggil demikian. <\/p>\n\n\n\n

Undangan dari pengurus YM3SK aku masukkan ke kantong saku celana, kemudian lanjut pergi belanja. Walaupun hari sudah sore, panas matahari masih terasa, terlebih saat menyinari kulit yang tidak terbungkus kain pakaian. Seakan-akan hari itu matahari semangat menyinari bumi mengiringi musim kemarau. Sepulang dari belanja akupun menuju dapur mengambil gelas dan air minum. Sambil minum aku buka undangan tersebut dan aku baca. Ternyata undangan tersebut pemberitahuan ada acara pengajian dalam rangka Haul Agung Kanjeng Sunan Prawoto Raden Haryo Bagus Mu\u2019min atau biasa dipanggil Mbah Tabek.<\/p>\n\n\n\n

Sunan Prawoto adalah raja keempat dari Kesultanan Demak yang memerintah tahun 1546-1549. Nama lahirnya Raden Mukmin, seorang agamis dari keturunan Kerajaan Demak Bintoro. Putra Sulung Raja Demak Sultan Trenggono. Ia terkenal dengan sebutan Sunan Prawoto, karena daerah yang disinggahi hingga akhir wafatnya bernama Desa Prawoto dalam wilayah kabupaten Pati Jawa Tengah berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kudus bagian selatan. Konon Desa Prawoto sebagai Kerajaan Kecil setelah Kerajaan Demak hancur. Raden Mukmin inilah yang memboyong Kerajaan Demak ke Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Saat ini Desa Prawoto adalah desa perbukitan, dengan hawa yang tidak terlalu dingin saat malam hari dan tidak terlalu panas pada siang hari. Walaupun hanya perbukitan, di Prawoto masih banyak pohon-pohon besar dan hijau memberikan kesejukan. Saat malam tiba, dari perbukitan Prawoto nampak jelas wilayah kota Kudus. Memang daerah Prowoto lebih dekat dengan kota Kudus dari pada Kota Pati. Bahkan budaya dan adat istiadatnya pun kental dengan budaya keKudusan. Sebagian besar masyarakat Prawoto aktifitas seharinya kewilayah Kudus, seperti bekerja, berdagang, pergi kepasar, sekolah, bahkan samapi memanfaatkan fasilitas ATM mereka memilih ke Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa penjajahan Belanda, Desa Prawoto di fungsikan sebagai distrik Karesidenan yang membawai daerah Pati sampai perbatasan Tuban Jawa Timur, Kudus, Jepara bahkan Demak. Sampai sekarang perkantoran Karesidenan warisan Belanda masih berdiri kokoh dan sebagian difungsikan untuk kepentingan Desa. Tidak hanya itu, di tengah-tengah desa terdapat semacam alun-alun kecil dengan kolam air besar yang konon juga peninggalan Belanda. Tidak sedikit yang berpendapat kolam tersebut peninggalan jauh sebelum Belanda, alias peninggalan Sunan Prawoto. Sehingga, kolam tersebut sering dibuat mandi para tokoh-tokoh dan Ulama\u2019 dari luar kota di Jawa, seperti Pekalongan, Batang, Kendal, Magelang, Solo dan lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Di Desa Prawoto terdapat dua makam Sunan Prawoto, di daerah bawah dan di daerah atas istilah masyarakat menamainya. Terlepas mana yang benar Makam Sunan Prawoto tergantung keyakinan individu. Menurut arkeolog UGM yang saat itu ikut menjelaskan, bahwa yang dibawah adalah peninggalan situs dan yang di atas dari dulu berupa makam yang dikenal dengan makam Tabek. <\/p>\n\n\n\n

Rerata jenjang pendidikan masyarakat Prawoto maksimal tingkat SMA, hanya ada beberapa glintir yang samapi jenjang sarjana dan ada satu orang menjadi guru besar di UGM, namun sudah lama menetap di Yogyakarta, dan jarang pulang. Anehnya, walaupun rata-rata lulusan jenjang SMA, kemampuan dan skill mereka tak kalah dengan yang sarjana bahkan mentalnya pun demikian. Hal itu dapat dilihat dari cara bicara, cara berorganisasi, dan pola pikir maju seperti halnya sarjana. Itulah sekilah cerita tentang Prawoto.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke undangan, setelah aku baca, ternyata undangan tersebut sekaligus perintah dari pengurus YM3SK untuk mewakili datang di acara Haul Sunan Prawoto yang dilaksanakan di hari dan tanggal itu juga jam 19.00 WIB. Walaupun terkesan mendadak tidak seperti biasa jauh-jauh hari sudah ada pemberitahuan, seperti saat acara haul Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Ampel. Akhirnya tetap datang di acara haul Sunan Prawoto dengan berkoordinasi dan mengajak dengan teman-teman di dekat desa Prawoto. Berangkat sehabis sholat isya\u2019, sampai di desa Prawoto jam 19.45 WIB acara dbelum di mulai menunggu group rebana dari bapak-bapak polisi Polres Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Disaat-saat senggang tersebut, aku manfaatkan ngobrol dengan penduduk dan tokoh Ulama\u2019 setempat. Ternyata mereka selain punya warisan seni ketoprak juga punya kebudayaan menghisap rokok kretek. Selain rokok kretek mereka tidak mau. Karena budaya merokok kretek diyakini warisan leluhurnya. Jarang sekali orang-orang tua yang tidak merokok, terlihat tidak memegang dan membawa rokok kretek kebanyakan anak-anak usia sekolah. Sambil ngobrol mengupas sedikit sejarah Sunan Prawoto kita merokok kretek bersama. Dengan merokok kretek suasana santai dan keakraban terbentuk di serambi masjid Sunan Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Kebetulan posisiku duduk bersebelahan dengan salah satu tokoh juga Ulama\u2019 Prawoto. Umurnya sudah tergolong dapat bonus 16 tahun dati Tuhan. Itulah jawabannya saat aku tanya usianya berapa. Karena pingin tau, aku tanya kembali persisnya usia berapa, beliau menjawab diatas rata-rata umumnya usia manusia (60 tahun) yaitu 76 tahun. Ia menjawab sambil tersenyum dan memegang rokok kretek yang telah disulut, ia adalah Mbah Sholeh (nama samara).<\/p>\n\n\n\n

Saat menjawab, akupun terkaget, karena prediksiku umur sekitaran 50an. Raup wajahnya bersih, badannya terlihat sehat dan terlihat energik, tidak mau kalah dengan bapak-bapak lainnya yang saat itu ikut ngobrol yang rata-rata umur 48-60 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Akhirnya akupun penasaran, dan kembali bertanya. Mbah apa resepnya kok masih terlihat muda?. Ia pun menjawab, jauhi makanan yang ada obat penyedap rasanya, makananlah bahan alami seperti daun-daunan. Sampai detik ini ia mengaku tidak makan makanan yang ada penyedap rasanya, kalau ditawari atau ada suguhan di depannya, ia memilih tidak akan memakannya. Juga kalau ditawari dan disuguhi minuman yang bergula. Ia pun demikian menghindari. Kata masyarakat lainnya yang ikut ngobrol, Mbah Sholeh itu hidup sehat.<\/p>\n\n\n\n

Celetukan tersebut disikapi Mbah Sholeh  dengan senyuman dan sambil mengeluarkan asap rokok kretek dari mulutnya dan hidupnya. Kemudian aku bertanya lagi, kenapa Mbah merokok?. Ia pun tersenyum sambil menyedot kembali rokok kreteknya dengan menjawab, kalau merokok kretek membuat ia bahagia, dengan kondisi bahagia ini orang jadi awet muda. Kalau merokok membuat semangat, dengan semangat orang jadi giat dan kuat. Ia juga menceritakan memulai merokok kretek saat sudah Islam. Kata Islam disini bukan berarti saat masuk Islam, akan tetapi yang dimaksud saat sudah khitan atau usia baliq. Dahulu setelah ia dikhitan, bapaknya menyuruhnya merokok sebagai tanda sudah dewasa. <\/p>\n\n\n\n

Inilah pengakuan Mbah Sholeh, ternyata wajah yang bersih berseri, awet muda, fisiknya kuat dan energik, salah satu rahasinya adalah berbahagia dan giat. Agar bahagia dan giat ia selalu mengkonsumsi rokok kretek dan meninggalkan makanan dengan penyedap rasa.   
<\/p>\n","post_title":"Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bikin-awet-muda-dan-energik-rahasia-di-balik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-30 10:40:00","post_modified_gmt":"2019-09-30 03:40:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6112","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6101,"post_author":"877","post_date":"2019-09-26 10:08:08","post_date_gmt":"2019-09-26 03:08:08","post_content":"\n

Masa panen adalah saat yang dinanti-nanti petani tembakau. Tentunya harapan petani, tanaman tembakaunaya tumbuh dengan baik, kualitas bagus dan jumlahnya banyak, serta harganya bagus. Di saat tanaman tembakaunya bagus, baik kualitas dan kuantitasnya, biasanya diikuti dengan harga bagus pula. Namun tidak bisa dipastikan, karena masalah harga tidak bisa petani serta merta yang menentukan, ada faktor yang sanagat kompleks. Yaitu situasi dan kondisi sektor pertembakauan di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6112,"post_author":"877","post_date":"2019-09-30 10:39:53","post_date_gmt":"2019-09-30 03:39:53","post_content":"\n

Mbah Sholeh, salah satu tokoh di Desa Prawoto Pati Jawa Tengah, ia selalu mengkonsumsi rokok kretek untuk memacu gairah semangat hidupnya diusia menjelang senja. Usia boleh bertambah kepala tujuh, namun fisik tetap bugar, seger dan energik. <\/p>\n\n\n\n

Sore itu sehabis ashar hari senin tanggal 23 September 2019, salah satu pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) menghampiriku sembari menyerahkan kertas undangan. Saat itu, aku sendiri sudah di atas motor mau bergegas pergi belanja untuk keperluan Mbah Pae panggilan akrab simbah KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus. Saat ini, beliau menjadi bapak masyarakat Kudus, sehingga banyak orang memanggilnya \u201cMbah Pae\u201d, putra dan cucunya pun memanggil demikian. <\/p>\n\n\n\n

Undangan dari pengurus YM3SK aku masukkan ke kantong saku celana, kemudian lanjut pergi belanja. Walaupun hari sudah sore, panas matahari masih terasa, terlebih saat menyinari kulit yang tidak terbungkus kain pakaian. Seakan-akan hari itu matahari semangat menyinari bumi mengiringi musim kemarau. Sepulang dari belanja akupun menuju dapur mengambil gelas dan air minum. Sambil minum aku buka undangan tersebut dan aku baca. Ternyata undangan tersebut pemberitahuan ada acara pengajian dalam rangka Haul Agung Kanjeng Sunan Prawoto Raden Haryo Bagus Mu\u2019min atau biasa dipanggil Mbah Tabek.<\/p>\n\n\n\n

Sunan Prawoto adalah raja keempat dari Kesultanan Demak yang memerintah tahun 1546-1549. Nama lahirnya Raden Mukmin, seorang agamis dari keturunan Kerajaan Demak Bintoro. Putra Sulung Raja Demak Sultan Trenggono. Ia terkenal dengan sebutan Sunan Prawoto, karena daerah yang disinggahi hingga akhir wafatnya bernama Desa Prawoto dalam wilayah kabupaten Pati Jawa Tengah berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kudus bagian selatan. Konon Desa Prawoto sebagai Kerajaan Kecil setelah Kerajaan Demak hancur. Raden Mukmin inilah yang memboyong Kerajaan Demak ke Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Saat ini Desa Prawoto adalah desa perbukitan, dengan hawa yang tidak terlalu dingin saat malam hari dan tidak terlalu panas pada siang hari. Walaupun hanya perbukitan, di Prawoto masih banyak pohon-pohon besar dan hijau memberikan kesejukan. Saat malam tiba, dari perbukitan Prawoto nampak jelas wilayah kota Kudus. Memang daerah Prowoto lebih dekat dengan kota Kudus dari pada Kota Pati. Bahkan budaya dan adat istiadatnya pun kental dengan budaya keKudusan. Sebagian besar masyarakat Prawoto aktifitas seharinya kewilayah Kudus, seperti bekerja, berdagang, pergi kepasar, sekolah, bahkan samapi memanfaatkan fasilitas ATM mereka memilih ke Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa penjajahan Belanda, Desa Prawoto di fungsikan sebagai distrik Karesidenan yang membawai daerah Pati sampai perbatasan Tuban Jawa Timur, Kudus, Jepara bahkan Demak. Sampai sekarang perkantoran Karesidenan warisan Belanda masih berdiri kokoh dan sebagian difungsikan untuk kepentingan Desa. Tidak hanya itu, di tengah-tengah desa terdapat semacam alun-alun kecil dengan kolam air besar yang konon juga peninggalan Belanda. Tidak sedikit yang berpendapat kolam tersebut peninggalan jauh sebelum Belanda, alias peninggalan Sunan Prawoto. Sehingga, kolam tersebut sering dibuat mandi para tokoh-tokoh dan Ulama\u2019 dari luar kota di Jawa, seperti Pekalongan, Batang, Kendal, Magelang, Solo dan lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Di Desa Prawoto terdapat dua makam Sunan Prawoto, di daerah bawah dan di daerah atas istilah masyarakat menamainya. Terlepas mana yang benar Makam Sunan Prawoto tergantung keyakinan individu. Menurut arkeolog UGM yang saat itu ikut menjelaskan, bahwa yang dibawah adalah peninggalan situs dan yang di atas dari dulu berupa makam yang dikenal dengan makam Tabek. <\/p>\n\n\n\n

Rerata jenjang pendidikan masyarakat Prawoto maksimal tingkat SMA, hanya ada beberapa glintir yang samapi jenjang sarjana dan ada satu orang menjadi guru besar di UGM, namun sudah lama menetap di Yogyakarta, dan jarang pulang. Anehnya, walaupun rata-rata lulusan jenjang SMA, kemampuan dan skill mereka tak kalah dengan yang sarjana bahkan mentalnya pun demikian. Hal itu dapat dilihat dari cara bicara, cara berorganisasi, dan pola pikir maju seperti halnya sarjana. Itulah sekilah cerita tentang Prawoto.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke undangan, setelah aku baca, ternyata undangan tersebut sekaligus perintah dari pengurus YM3SK untuk mewakili datang di acara Haul Sunan Prawoto yang dilaksanakan di hari dan tanggal itu juga jam 19.00 WIB. Walaupun terkesan mendadak tidak seperti biasa jauh-jauh hari sudah ada pemberitahuan, seperti saat acara haul Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Ampel. Akhirnya tetap datang di acara haul Sunan Prawoto dengan berkoordinasi dan mengajak dengan teman-teman di dekat desa Prawoto. Berangkat sehabis sholat isya\u2019, sampai di desa Prawoto jam 19.45 WIB acara dbelum di mulai menunggu group rebana dari bapak-bapak polisi Polres Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Disaat-saat senggang tersebut, aku manfaatkan ngobrol dengan penduduk dan tokoh Ulama\u2019 setempat. Ternyata mereka selain punya warisan seni ketoprak juga punya kebudayaan menghisap rokok kretek. Selain rokok kretek mereka tidak mau. Karena budaya merokok kretek diyakini warisan leluhurnya. Jarang sekali orang-orang tua yang tidak merokok, terlihat tidak memegang dan membawa rokok kretek kebanyakan anak-anak usia sekolah. Sambil ngobrol mengupas sedikit sejarah Sunan Prawoto kita merokok kretek bersama. Dengan merokok kretek suasana santai dan keakraban terbentuk di serambi masjid Sunan Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Kebetulan posisiku duduk bersebelahan dengan salah satu tokoh juga Ulama\u2019 Prawoto. Umurnya sudah tergolong dapat bonus 16 tahun dati Tuhan. Itulah jawabannya saat aku tanya usianya berapa. Karena pingin tau, aku tanya kembali persisnya usia berapa, beliau menjawab diatas rata-rata umumnya usia manusia (60 tahun) yaitu 76 tahun. Ia menjawab sambil tersenyum dan memegang rokok kretek yang telah disulut, ia adalah Mbah Sholeh (nama samara).<\/p>\n\n\n\n

Saat menjawab, akupun terkaget, karena prediksiku umur sekitaran 50an. Raup wajahnya bersih, badannya terlihat sehat dan terlihat energik, tidak mau kalah dengan bapak-bapak lainnya yang saat itu ikut ngobrol yang rata-rata umur 48-60 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Akhirnya akupun penasaran, dan kembali bertanya. Mbah apa resepnya kok masih terlihat muda?. Ia pun menjawab, jauhi makanan yang ada obat penyedap rasanya, makananlah bahan alami seperti daun-daunan. Sampai detik ini ia mengaku tidak makan makanan yang ada penyedap rasanya, kalau ditawari atau ada suguhan di depannya, ia memilih tidak akan memakannya. Juga kalau ditawari dan disuguhi minuman yang bergula. Ia pun demikian menghindari. Kata masyarakat lainnya yang ikut ngobrol, Mbah Sholeh itu hidup sehat.<\/p>\n\n\n\n

Celetukan tersebut disikapi Mbah Sholeh  dengan senyuman dan sambil mengeluarkan asap rokok kretek dari mulutnya dan hidupnya. Kemudian aku bertanya lagi, kenapa Mbah merokok?. Ia pun tersenyum sambil menyedot kembali rokok kreteknya dengan menjawab, kalau merokok kretek membuat ia bahagia, dengan kondisi bahagia ini orang jadi awet muda. Kalau merokok membuat semangat, dengan semangat orang jadi giat dan kuat. Ia juga menceritakan memulai merokok kretek saat sudah Islam. Kata Islam disini bukan berarti saat masuk Islam, akan tetapi yang dimaksud saat sudah khitan atau usia baliq. Dahulu setelah ia dikhitan, bapaknya menyuruhnya merokok sebagai tanda sudah dewasa. <\/p>\n\n\n\n

Inilah pengakuan Mbah Sholeh, ternyata wajah yang bersih berseri, awet muda, fisiknya kuat dan energik, salah satu rahasinya adalah berbahagia dan giat. Agar bahagia dan giat ia selalu mengkonsumsi rokok kretek dan meninggalkan makanan dengan penyedap rasa.   
<\/p>\n","post_title":"Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bikin-awet-muda-dan-energik-rahasia-di-balik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-30 10:40:00","post_modified_gmt":"2019-09-30 03:40:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6112","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6101,"post_author":"877","post_date":"2019-09-26 10:08:08","post_date_gmt":"2019-09-26 03:08:08","post_content":"\n

Masa panen adalah saat yang dinanti-nanti petani tembakau. Tentunya harapan petani, tanaman tembakaunaya tumbuh dengan baik, kualitas bagus dan jumlahnya banyak, serta harganya bagus. Di saat tanaman tembakaunya bagus, baik kualitas dan kuantitasnya, biasanya diikuti dengan harga bagus pula. Namun tidak bisa dipastikan, karena masalah harga tidak bisa petani serta merta yang menentukan, ada faktor yang sanagat kompleks. Yaitu situasi dan kondisi sektor pertembakauan di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6112,"post_author":"877","post_date":"2019-09-30 10:39:53","post_date_gmt":"2019-09-30 03:39:53","post_content":"\n

Mbah Sholeh, salah satu tokoh di Desa Prawoto Pati Jawa Tengah, ia selalu mengkonsumsi rokok kretek untuk memacu gairah semangat hidupnya diusia menjelang senja. Usia boleh bertambah kepala tujuh, namun fisik tetap bugar, seger dan energik. <\/p>\n\n\n\n

Sore itu sehabis ashar hari senin tanggal 23 September 2019, salah satu pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) menghampiriku sembari menyerahkan kertas undangan. Saat itu, aku sendiri sudah di atas motor mau bergegas pergi belanja untuk keperluan Mbah Pae panggilan akrab simbah KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus. Saat ini, beliau menjadi bapak masyarakat Kudus, sehingga banyak orang memanggilnya \u201cMbah Pae\u201d, putra dan cucunya pun memanggil demikian. <\/p>\n\n\n\n

Undangan dari pengurus YM3SK aku masukkan ke kantong saku celana, kemudian lanjut pergi belanja. Walaupun hari sudah sore, panas matahari masih terasa, terlebih saat menyinari kulit yang tidak terbungkus kain pakaian. Seakan-akan hari itu matahari semangat menyinari bumi mengiringi musim kemarau. Sepulang dari belanja akupun menuju dapur mengambil gelas dan air minum. Sambil minum aku buka undangan tersebut dan aku baca. Ternyata undangan tersebut pemberitahuan ada acara pengajian dalam rangka Haul Agung Kanjeng Sunan Prawoto Raden Haryo Bagus Mu\u2019min atau biasa dipanggil Mbah Tabek.<\/p>\n\n\n\n

Sunan Prawoto adalah raja keempat dari Kesultanan Demak yang memerintah tahun 1546-1549. Nama lahirnya Raden Mukmin, seorang agamis dari keturunan Kerajaan Demak Bintoro. Putra Sulung Raja Demak Sultan Trenggono. Ia terkenal dengan sebutan Sunan Prawoto, karena daerah yang disinggahi hingga akhir wafatnya bernama Desa Prawoto dalam wilayah kabupaten Pati Jawa Tengah berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kudus bagian selatan. Konon Desa Prawoto sebagai Kerajaan Kecil setelah Kerajaan Demak hancur. Raden Mukmin inilah yang memboyong Kerajaan Demak ke Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Saat ini Desa Prawoto adalah desa perbukitan, dengan hawa yang tidak terlalu dingin saat malam hari dan tidak terlalu panas pada siang hari. Walaupun hanya perbukitan, di Prawoto masih banyak pohon-pohon besar dan hijau memberikan kesejukan. Saat malam tiba, dari perbukitan Prawoto nampak jelas wilayah kota Kudus. Memang daerah Prowoto lebih dekat dengan kota Kudus dari pada Kota Pati. Bahkan budaya dan adat istiadatnya pun kental dengan budaya keKudusan. Sebagian besar masyarakat Prawoto aktifitas seharinya kewilayah Kudus, seperti bekerja, berdagang, pergi kepasar, sekolah, bahkan samapi memanfaatkan fasilitas ATM mereka memilih ke Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa penjajahan Belanda, Desa Prawoto di fungsikan sebagai distrik Karesidenan yang membawai daerah Pati sampai perbatasan Tuban Jawa Timur, Kudus, Jepara bahkan Demak. Sampai sekarang perkantoran Karesidenan warisan Belanda masih berdiri kokoh dan sebagian difungsikan untuk kepentingan Desa. Tidak hanya itu, di tengah-tengah desa terdapat semacam alun-alun kecil dengan kolam air besar yang konon juga peninggalan Belanda. Tidak sedikit yang berpendapat kolam tersebut peninggalan jauh sebelum Belanda, alias peninggalan Sunan Prawoto. Sehingga, kolam tersebut sering dibuat mandi para tokoh-tokoh dan Ulama\u2019 dari luar kota di Jawa, seperti Pekalongan, Batang, Kendal, Magelang, Solo dan lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Di Desa Prawoto terdapat dua makam Sunan Prawoto, di daerah bawah dan di daerah atas istilah masyarakat menamainya. Terlepas mana yang benar Makam Sunan Prawoto tergantung keyakinan individu. Menurut arkeolog UGM yang saat itu ikut menjelaskan, bahwa yang dibawah adalah peninggalan situs dan yang di atas dari dulu berupa makam yang dikenal dengan makam Tabek. <\/p>\n\n\n\n

Rerata jenjang pendidikan masyarakat Prawoto maksimal tingkat SMA, hanya ada beberapa glintir yang samapi jenjang sarjana dan ada satu orang menjadi guru besar di UGM, namun sudah lama menetap di Yogyakarta, dan jarang pulang. Anehnya, walaupun rata-rata lulusan jenjang SMA, kemampuan dan skill mereka tak kalah dengan yang sarjana bahkan mentalnya pun demikian. Hal itu dapat dilihat dari cara bicara, cara berorganisasi, dan pola pikir maju seperti halnya sarjana. Itulah sekilah cerita tentang Prawoto.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke undangan, setelah aku baca, ternyata undangan tersebut sekaligus perintah dari pengurus YM3SK untuk mewakili datang di acara Haul Sunan Prawoto yang dilaksanakan di hari dan tanggal itu juga jam 19.00 WIB. Walaupun terkesan mendadak tidak seperti biasa jauh-jauh hari sudah ada pemberitahuan, seperti saat acara haul Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Ampel. Akhirnya tetap datang di acara haul Sunan Prawoto dengan berkoordinasi dan mengajak dengan teman-teman di dekat desa Prawoto. Berangkat sehabis sholat isya\u2019, sampai di desa Prawoto jam 19.45 WIB acara dbelum di mulai menunggu group rebana dari bapak-bapak polisi Polres Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Disaat-saat senggang tersebut, aku manfaatkan ngobrol dengan penduduk dan tokoh Ulama\u2019 setempat. Ternyata mereka selain punya warisan seni ketoprak juga punya kebudayaan menghisap rokok kretek. Selain rokok kretek mereka tidak mau. Karena budaya merokok kretek diyakini warisan leluhurnya. Jarang sekali orang-orang tua yang tidak merokok, terlihat tidak memegang dan membawa rokok kretek kebanyakan anak-anak usia sekolah. Sambil ngobrol mengupas sedikit sejarah Sunan Prawoto kita merokok kretek bersama. Dengan merokok kretek suasana santai dan keakraban terbentuk di serambi masjid Sunan Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Kebetulan posisiku duduk bersebelahan dengan salah satu tokoh juga Ulama\u2019 Prawoto. Umurnya sudah tergolong dapat bonus 16 tahun dati Tuhan. Itulah jawabannya saat aku tanya usianya berapa. Karena pingin tau, aku tanya kembali persisnya usia berapa, beliau menjawab diatas rata-rata umumnya usia manusia (60 tahun) yaitu 76 tahun. Ia menjawab sambil tersenyum dan memegang rokok kretek yang telah disulut, ia adalah Mbah Sholeh (nama samara).<\/p>\n\n\n\n

Saat menjawab, akupun terkaget, karena prediksiku umur sekitaran 50an. Raup wajahnya bersih, badannya terlihat sehat dan terlihat energik, tidak mau kalah dengan bapak-bapak lainnya yang saat itu ikut ngobrol yang rata-rata umur 48-60 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Akhirnya akupun penasaran, dan kembali bertanya. Mbah apa resepnya kok masih terlihat muda?. Ia pun menjawab, jauhi makanan yang ada obat penyedap rasanya, makananlah bahan alami seperti daun-daunan. Sampai detik ini ia mengaku tidak makan makanan yang ada penyedap rasanya, kalau ditawari atau ada suguhan di depannya, ia memilih tidak akan memakannya. Juga kalau ditawari dan disuguhi minuman yang bergula. Ia pun demikian menghindari. Kata masyarakat lainnya yang ikut ngobrol, Mbah Sholeh itu hidup sehat.<\/p>\n\n\n\n

Celetukan tersebut disikapi Mbah Sholeh  dengan senyuman dan sambil mengeluarkan asap rokok kretek dari mulutnya dan hidupnya. Kemudian aku bertanya lagi, kenapa Mbah merokok?. Ia pun tersenyum sambil menyedot kembali rokok kreteknya dengan menjawab, kalau merokok kretek membuat ia bahagia, dengan kondisi bahagia ini orang jadi awet muda. Kalau merokok membuat semangat, dengan semangat orang jadi giat dan kuat. Ia juga menceritakan memulai merokok kretek saat sudah Islam. Kata Islam disini bukan berarti saat masuk Islam, akan tetapi yang dimaksud saat sudah khitan atau usia baliq. Dahulu setelah ia dikhitan, bapaknya menyuruhnya merokok sebagai tanda sudah dewasa. <\/p>\n\n\n\n

Inilah pengakuan Mbah Sholeh, ternyata wajah yang bersih berseri, awet muda, fisiknya kuat dan energik, salah satu rahasinya adalah berbahagia dan giat. Agar bahagia dan giat ia selalu mengkonsumsi rokok kretek dan meninggalkan makanan dengan penyedap rasa.   
<\/p>\n","post_title":"Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bikin-awet-muda-dan-energik-rahasia-di-balik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-30 10:40:00","post_modified_gmt":"2019-09-30 03:40:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6112","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6101,"post_author":"877","post_date":"2019-09-26 10:08:08","post_date_gmt":"2019-09-26 03:08:08","post_content":"\n

Masa panen adalah saat yang dinanti-nanti petani tembakau. Tentunya harapan petani, tanaman tembakaunaya tumbuh dengan baik, kualitas bagus dan jumlahnya banyak, serta harganya bagus. Di saat tanaman tembakaunya bagus, baik kualitas dan kuantitasnya, biasanya diikuti dengan harga bagus pula. Namun tidak bisa dipastikan, karena masalah harga tidak bisa petani serta merta yang menentukan, ada faktor yang sanagat kompleks. Yaitu situasi dan kondisi sektor pertembakauan di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pengaruh wacana kesehatan global yang dikampanyekan kelompok anti tembakau dan rokok kretek telah menyusup dalam regulasi di Negara Indonesia. Melalui kebijakan pengaturan peredaran tembakau dan membuat isu negatif rokok kretek sangat didominasi rezim kesehatan, menafikan aspek ekonomi, sosial dan budaya yang telah mengakar berates tahun. Pada akhirnya kebijakan tembakau di Indonesia melemahkan industri kretek nasional, yang selama ini menjadi sumber penghidupan berpuluh-puluh juta rakyat yang terintegrasi dengan insdustri rokok kretek nasional.  
<\/p>\n","post_title":"Beratnya Perjalanan Rokok Kretek di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beratnya-perjalanan-kretek-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-12 10:28:19","post_modified_gmt":"2019-10-12 03:28:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6142","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6112,"post_author":"877","post_date":"2019-09-30 10:39:53","post_date_gmt":"2019-09-30 03:39:53","post_content":"\n

Mbah Sholeh, salah satu tokoh di Desa Prawoto Pati Jawa Tengah, ia selalu mengkonsumsi rokok kretek untuk memacu gairah semangat hidupnya diusia menjelang senja. Usia boleh bertambah kepala tujuh, namun fisik tetap bugar, seger dan energik. <\/p>\n\n\n\n

Sore itu sehabis ashar hari senin tanggal 23 September 2019, salah satu pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) menghampiriku sembari menyerahkan kertas undangan. Saat itu, aku sendiri sudah di atas motor mau bergegas pergi belanja untuk keperluan Mbah Pae panggilan akrab simbah KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus. Saat ini, beliau menjadi bapak masyarakat Kudus, sehingga banyak orang memanggilnya \u201cMbah Pae\u201d, putra dan cucunya pun memanggil demikian. <\/p>\n\n\n\n

Undangan dari pengurus YM3SK aku masukkan ke kantong saku celana, kemudian lanjut pergi belanja. Walaupun hari sudah sore, panas matahari masih terasa, terlebih saat menyinari kulit yang tidak terbungkus kain pakaian. Seakan-akan hari itu matahari semangat menyinari bumi mengiringi musim kemarau. Sepulang dari belanja akupun menuju dapur mengambil gelas dan air minum. Sambil minum aku buka undangan tersebut dan aku baca. Ternyata undangan tersebut pemberitahuan ada acara pengajian dalam rangka Haul Agung Kanjeng Sunan Prawoto Raden Haryo Bagus Mu\u2019min atau biasa dipanggil Mbah Tabek.<\/p>\n\n\n\n

Sunan Prawoto adalah raja keempat dari Kesultanan Demak yang memerintah tahun 1546-1549. Nama lahirnya Raden Mukmin, seorang agamis dari keturunan Kerajaan Demak Bintoro. Putra Sulung Raja Demak Sultan Trenggono. Ia terkenal dengan sebutan Sunan Prawoto, karena daerah yang disinggahi hingga akhir wafatnya bernama Desa Prawoto dalam wilayah kabupaten Pati Jawa Tengah berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kudus bagian selatan. Konon Desa Prawoto sebagai Kerajaan Kecil setelah Kerajaan Demak hancur. Raden Mukmin inilah yang memboyong Kerajaan Demak ke Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Saat ini Desa Prawoto adalah desa perbukitan, dengan hawa yang tidak terlalu dingin saat malam hari dan tidak terlalu panas pada siang hari. Walaupun hanya perbukitan, di Prawoto masih banyak pohon-pohon besar dan hijau memberikan kesejukan. Saat malam tiba, dari perbukitan Prawoto nampak jelas wilayah kota Kudus. Memang daerah Prowoto lebih dekat dengan kota Kudus dari pada Kota Pati. Bahkan budaya dan adat istiadatnya pun kental dengan budaya keKudusan. Sebagian besar masyarakat Prawoto aktifitas seharinya kewilayah Kudus, seperti bekerja, berdagang, pergi kepasar, sekolah, bahkan samapi memanfaatkan fasilitas ATM mereka memilih ke Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa penjajahan Belanda, Desa Prawoto di fungsikan sebagai distrik Karesidenan yang membawai daerah Pati sampai perbatasan Tuban Jawa Timur, Kudus, Jepara bahkan Demak. Sampai sekarang perkantoran Karesidenan warisan Belanda masih berdiri kokoh dan sebagian difungsikan untuk kepentingan Desa. Tidak hanya itu, di tengah-tengah desa terdapat semacam alun-alun kecil dengan kolam air besar yang konon juga peninggalan Belanda. Tidak sedikit yang berpendapat kolam tersebut peninggalan jauh sebelum Belanda, alias peninggalan Sunan Prawoto. Sehingga, kolam tersebut sering dibuat mandi para tokoh-tokoh dan Ulama\u2019 dari luar kota di Jawa, seperti Pekalongan, Batang, Kendal, Magelang, Solo dan lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Di Desa Prawoto terdapat dua makam Sunan Prawoto, di daerah bawah dan di daerah atas istilah masyarakat menamainya. Terlepas mana yang benar Makam Sunan Prawoto tergantung keyakinan individu. Menurut arkeolog UGM yang saat itu ikut menjelaskan, bahwa yang dibawah adalah peninggalan situs dan yang di atas dari dulu berupa makam yang dikenal dengan makam Tabek. <\/p>\n\n\n\n

Rerata jenjang pendidikan masyarakat Prawoto maksimal tingkat SMA, hanya ada beberapa glintir yang samapi jenjang sarjana dan ada satu orang menjadi guru besar di UGM, namun sudah lama menetap di Yogyakarta, dan jarang pulang. Anehnya, walaupun rata-rata lulusan jenjang SMA, kemampuan dan skill mereka tak kalah dengan yang sarjana bahkan mentalnya pun demikian. Hal itu dapat dilihat dari cara bicara, cara berorganisasi, dan pola pikir maju seperti halnya sarjana. Itulah sekilah cerita tentang Prawoto.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke undangan, setelah aku baca, ternyata undangan tersebut sekaligus perintah dari pengurus YM3SK untuk mewakili datang di acara Haul Sunan Prawoto yang dilaksanakan di hari dan tanggal itu juga jam 19.00 WIB. Walaupun terkesan mendadak tidak seperti biasa jauh-jauh hari sudah ada pemberitahuan, seperti saat acara haul Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Ampel. Akhirnya tetap datang di acara haul Sunan Prawoto dengan berkoordinasi dan mengajak dengan teman-teman di dekat desa Prawoto. Berangkat sehabis sholat isya\u2019, sampai di desa Prawoto jam 19.45 WIB acara dbelum di mulai menunggu group rebana dari bapak-bapak polisi Polres Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Disaat-saat senggang tersebut, aku manfaatkan ngobrol dengan penduduk dan tokoh Ulama\u2019 setempat. Ternyata mereka selain punya warisan seni ketoprak juga punya kebudayaan menghisap rokok kretek. Selain rokok kretek mereka tidak mau. Karena budaya merokok kretek diyakini warisan leluhurnya. Jarang sekali orang-orang tua yang tidak merokok, terlihat tidak memegang dan membawa rokok kretek kebanyakan anak-anak usia sekolah. Sambil ngobrol mengupas sedikit sejarah Sunan Prawoto kita merokok kretek bersama. Dengan merokok kretek suasana santai dan keakraban terbentuk di serambi masjid Sunan Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Kebetulan posisiku duduk bersebelahan dengan salah satu tokoh juga Ulama\u2019 Prawoto. Umurnya sudah tergolong dapat bonus 16 tahun dati Tuhan. Itulah jawabannya saat aku tanya usianya berapa. Karena pingin tau, aku tanya kembali persisnya usia berapa, beliau menjawab diatas rata-rata umumnya usia manusia (60 tahun) yaitu 76 tahun. Ia menjawab sambil tersenyum dan memegang rokok kretek yang telah disulut, ia adalah Mbah Sholeh (nama samara).<\/p>\n\n\n\n

Saat menjawab, akupun terkaget, karena prediksiku umur sekitaran 50an. Raup wajahnya bersih, badannya terlihat sehat dan terlihat energik, tidak mau kalah dengan bapak-bapak lainnya yang saat itu ikut ngobrol yang rata-rata umur 48-60 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Akhirnya akupun penasaran, dan kembali bertanya. Mbah apa resepnya kok masih terlihat muda?. Ia pun menjawab, jauhi makanan yang ada obat penyedap rasanya, makananlah bahan alami seperti daun-daunan. Sampai detik ini ia mengaku tidak makan makanan yang ada penyedap rasanya, kalau ditawari atau ada suguhan di depannya, ia memilih tidak akan memakannya. Juga kalau ditawari dan disuguhi minuman yang bergula. Ia pun demikian menghindari. Kata masyarakat lainnya yang ikut ngobrol, Mbah Sholeh itu hidup sehat.<\/p>\n\n\n\n

Celetukan tersebut disikapi Mbah Sholeh  dengan senyuman dan sambil mengeluarkan asap rokok kretek dari mulutnya dan hidupnya. Kemudian aku bertanya lagi, kenapa Mbah merokok?. Ia pun tersenyum sambil menyedot kembali rokok kreteknya dengan menjawab, kalau merokok kretek membuat ia bahagia, dengan kondisi bahagia ini orang jadi awet muda. Kalau merokok membuat semangat, dengan semangat orang jadi giat dan kuat. Ia juga menceritakan memulai merokok kretek saat sudah Islam. Kata Islam disini bukan berarti saat masuk Islam, akan tetapi yang dimaksud saat sudah khitan atau usia baliq. Dahulu setelah ia dikhitan, bapaknya menyuruhnya merokok sebagai tanda sudah dewasa. <\/p>\n\n\n\n

Inilah pengakuan Mbah Sholeh, ternyata wajah yang bersih berseri, awet muda, fisiknya kuat dan energik, salah satu rahasinya adalah berbahagia dan giat. Agar bahagia dan giat ia selalu mengkonsumsi rokok kretek dan meninggalkan makanan dengan penyedap rasa.   
<\/p>\n","post_title":"Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bikin-awet-muda-dan-energik-rahasia-di-balik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-30 10:40:00","post_modified_gmt":"2019-09-30 03:40:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6112","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6101,"post_author":"877","post_date":"2019-09-26 10:08:08","post_date_gmt":"2019-09-26 03:08:08","post_content":"\n

Masa panen adalah saat yang dinanti-nanti petani tembakau. Tentunya harapan petani, tanaman tembakaunaya tumbuh dengan baik, kualitas bagus dan jumlahnya banyak, serta harganya bagus. Di saat tanaman tembakaunya bagus, baik kualitas dan kuantitasnya, biasanya diikuti dengan harga bagus pula. Namun tidak bisa dipastikan, karena masalah harga tidak bisa petani serta merta yang menentukan, ada faktor yang sanagat kompleks. Yaitu situasi dan kondisi sektor pertembakauan di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kedua, kampanye isu negatif terhadap rokok kretek. Hampir semua penyakit yang diderita manusia dikaitkan dampak dari rokok, baik bagi perokok maupun yang tidak merokok. Tanpa dasar, tanpa bukti keberadaan rokok kretek sebagai sumber dari segala penyakit. Lebih tidak rasional lagi, semua dampak yang terjadi di masyarakat selalu dikaitkan dengan rokok kretek. Ambil contoh, kemiskinan di Indonesia salah satu penyebabnya karena mengkonsumsi rokok kretek. Naiknya iuran BPJS gara-gara banyak tunggakan yang belum terbayar, gara-gara pengurusan yang tidak akuntabel dikaitkan dengan konsumsi rokok kretek, memberikan nuansa negatif pada perokok. Sampai hal-hal yang terkecil seperti keberadaan sampah, polusi udara selalu keberadaan rokok kretek selalu disalahkan. Inilah bentuk kampanye anti rokok, bertujuan mematikan industri rokok kretek nasional. Setelah industri mati, farmasi melenggang memonopoli perdagangan nikotin.   <\/p>\n\n\n\n

Pengaruh wacana kesehatan global yang dikampanyekan kelompok anti tembakau dan rokok kretek telah menyusup dalam regulasi di Negara Indonesia. Melalui kebijakan pengaturan peredaran tembakau dan membuat isu negatif rokok kretek sangat didominasi rezim kesehatan, menafikan aspek ekonomi, sosial dan budaya yang telah mengakar berates tahun. Pada akhirnya kebijakan tembakau di Indonesia melemahkan industri kretek nasional, yang selama ini menjadi sumber penghidupan berpuluh-puluh juta rakyat yang terintegrasi dengan insdustri rokok kretek nasional.  
<\/p>\n","post_title":"Beratnya Perjalanan Rokok Kretek di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beratnya-perjalanan-kretek-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-12 10:28:19","post_modified_gmt":"2019-10-12 03:28:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6142","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6112,"post_author":"877","post_date":"2019-09-30 10:39:53","post_date_gmt":"2019-09-30 03:39:53","post_content":"\n

Mbah Sholeh, salah satu tokoh di Desa Prawoto Pati Jawa Tengah, ia selalu mengkonsumsi rokok kretek untuk memacu gairah semangat hidupnya diusia menjelang senja. Usia boleh bertambah kepala tujuh, namun fisik tetap bugar, seger dan energik. <\/p>\n\n\n\n

Sore itu sehabis ashar hari senin tanggal 23 September 2019, salah satu pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) menghampiriku sembari menyerahkan kertas undangan. Saat itu, aku sendiri sudah di atas motor mau bergegas pergi belanja untuk keperluan Mbah Pae panggilan akrab simbah KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus. Saat ini, beliau menjadi bapak masyarakat Kudus, sehingga banyak orang memanggilnya \u201cMbah Pae\u201d, putra dan cucunya pun memanggil demikian. <\/p>\n\n\n\n

Undangan dari pengurus YM3SK aku masukkan ke kantong saku celana, kemudian lanjut pergi belanja. Walaupun hari sudah sore, panas matahari masih terasa, terlebih saat menyinari kulit yang tidak terbungkus kain pakaian. Seakan-akan hari itu matahari semangat menyinari bumi mengiringi musim kemarau. Sepulang dari belanja akupun menuju dapur mengambil gelas dan air minum. Sambil minum aku buka undangan tersebut dan aku baca. Ternyata undangan tersebut pemberitahuan ada acara pengajian dalam rangka Haul Agung Kanjeng Sunan Prawoto Raden Haryo Bagus Mu\u2019min atau biasa dipanggil Mbah Tabek.<\/p>\n\n\n\n

Sunan Prawoto adalah raja keempat dari Kesultanan Demak yang memerintah tahun 1546-1549. Nama lahirnya Raden Mukmin, seorang agamis dari keturunan Kerajaan Demak Bintoro. Putra Sulung Raja Demak Sultan Trenggono. Ia terkenal dengan sebutan Sunan Prawoto, karena daerah yang disinggahi hingga akhir wafatnya bernama Desa Prawoto dalam wilayah kabupaten Pati Jawa Tengah berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kudus bagian selatan. Konon Desa Prawoto sebagai Kerajaan Kecil setelah Kerajaan Demak hancur. Raden Mukmin inilah yang memboyong Kerajaan Demak ke Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Saat ini Desa Prawoto adalah desa perbukitan, dengan hawa yang tidak terlalu dingin saat malam hari dan tidak terlalu panas pada siang hari. Walaupun hanya perbukitan, di Prawoto masih banyak pohon-pohon besar dan hijau memberikan kesejukan. Saat malam tiba, dari perbukitan Prawoto nampak jelas wilayah kota Kudus. Memang daerah Prowoto lebih dekat dengan kota Kudus dari pada Kota Pati. Bahkan budaya dan adat istiadatnya pun kental dengan budaya keKudusan. Sebagian besar masyarakat Prawoto aktifitas seharinya kewilayah Kudus, seperti bekerja, berdagang, pergi kepasar, sekolah, bahkan samapi memanfaatkan fasilitas ATM mereka memilih ke Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa penjajahan Belanda, Desa Prawoto di fungsikan sebagai distrik Karesidenan yang membawai daerah Pati sampai perbatasan Tuban Jawa Timur, Kudus, Jepara bahkan Demak. Sampai sekarang perkantoran Karesidenan warisan Belanda masih berdiri kokoh dan sebagian difungsikan untuk kepentingan Desa. Tidak hanya itu, di tengah-tengah desa terdapat semacam alun-alun kecil dengan kolam air besar yang konon juga peninggalan Belanda. Tidak sedikit yang berpendapat kolam tersebut peninggalan jauh sebelum Belanda, alias peninggalan Sunan Prawoto. Sehingga, kolam tersebut sering dibuat mandi para tokoh-tokoh dan Ulama\u2019 dari luar kota di Jawa, seperti Pekalongan, Batang, Kendal, Magelang, Solo dan lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Di Desa Prawoto terdapat dua makam Sunan Prawoto, di daerah bawah dan di daerah atas istilah masyarakat menamainya. Terlepas mana yang benar Makam Sunan Prawoto tergantung keyakinan individu. Menurut arkeolog UGM yang saat itu ikut menjelaskan, bahwa yang dibawah adalah peninggalan situs dan yang di atas dari dulu berupa makam yang dikenal dengan makam Tabek. <\/p>\n\n\n\n

Rerata jenjang pendidikan masyarakat Prawoto maksimal tingkat SMA, hanya ada beberapa glintir yang samapi jenjang sarjana dan ada satu orang menjadi guru besar di UGM, namun sudah lama menetap di Yogyakarta, dan jarang pulang. Anehnya, walaupun rata-rata lulusan jenjang SMA, kemampuan dan skill mereka tak kalah dengan yang sarjana bahkan mentalnya pun demikian. Hal itu dapat dilihat dari cara bicara, cara berorganisasi, dan pola pikir maju seperti halnya sarjana. Itulah sekilah cerita tentang Prawoto.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke undangan, setelah aku baca, ternyata undangan tersebut sekaligus perintah dari pengurus YM3SK untuk mewakili datang di acara Haul Sunan Prawoto yang dilaksanakan di hari dan tanggal itu juga jam 19.00 WIB. Walaupun terkesan mendadak tidak seperti biasa jauh-jauh hari sudah ada pemberitahuan, seperti saat acara haul Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Ampel. Akhirnya tetap datang di acara haul Sunan Prawoto dengan berkoordinasi dan mengajak dengan teman-teman di dekat desa Prawoto. Berangkat sehabis sholat isya\u2019, sampai di desa Prawoto jam 19.45 WIB acara dbelum di mulai menunggu group rebana dari bapak-bapak polisi Polres Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Disaat-saat senggang tersebut, aku manfaatkan ngobrol dengan penduduk dan tokoh Ulama\u2019 setempat. Ternyata mereka selain punya warisan seni ketoprak juga punya kebudayaan menghisap rokok kretek. Selain rokok kretek mereka tidak mau. Karena budaya merokok kretek diyakini warisan leluhurnya. Jarang sekali orang-orang tua yang tidak merokok, terlihat tidak memegang dan membawa rokok kretek kebanyakan anak-anak usia sekolah. Sambil ngobrol mengupas sedikit sejarah Sunan Prawoto kita merokok kretek bersama. Dengan merokok kretek suasana santai dan keakraban terbentuk di serambi masjid Sunan Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Kebetulan posisiku duduk bersebelahan dengan salah satu tokoh juga Ulama\u2019 Prawoto. Umurnya sudah tergolong dapat bonus 16 tahun dati Tuhan. Itulah jawabannya saat aku tanya usianya berapa. Karena pingin tau, aku tanya kembali persisnya usia berapa, beliau menjawab diatas rata-rata umumnya usia manusia (60 tahun) yaitu 76 tahun. Ia menjawab sambil tersenyum dan memegang rokok kretek yang telah disulut, ia adalah Mbah Sholeh (nama samara).<\/p>\n\n\n\n

Saat menjawab, akupun terkaget, karena prediksiku umur sekitaran 50an. Raup wajahnya bersih, badannya terlihat sehat dan terlihat energik, tidak mau kalah dengan bapak-bapak lainnya yang saat itu ikut ngobrol yang rata-rata umur 48-60 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Akhirnya akupun penasaran, dan kembali bertanya. Mbah apa resepnya kok masih terlihat muda?. Ia pun menjawab, jauhi makanan yang ada obat penyedap rasanya, makananlah bahan alami seperti daun-daunan. Sampai detik ini ia mengaku tidak makan makanan yang ada penyedap rasanya, kalau ditawari atau ada suguhan di depannya, ia memilih tidak akan memakannya. Juga kalau ditawari dan disuguhi minuman yang bergula. Ia pun demikian menghindari. Kata masyarakat lainnya yang ikut ngobrol, Mbah Sholeh itu hidup sehat.<\/p>\n\n\n\n

Celetukan tersebut disikapi Mbah Sholeh  dengan senyuman dan sambil mengeluarkan asap rokok kretek dari mulutnya dan hidupnya. Kemudian aku bertanya lagi, kenapa Mbah merokok?. Ia pun tersenyum sambil menyedot kembali rokok kreteknya dengan menjawab, kalau merokok kretek membuat ia bahagia, dengan kondisi bahagia ini orang jadi awet muda. Kalau merokok membuat semangat, dengan semangat orang jadi giat dan kuat. Ia juga menceritakan memulai merokok kretek saat sudah Islam. Kata Islam disini bukan berarti saat masuk Islam, akan tetapi yang dimaksud saat sudah khitan atau usia baliq. Dahulu setelah ia dikhitan, bapaknya menyuruhnya merokok sebagai tanda sudah dewasa. <\/p>\n\n\n\n

Inilah pengakuan Mbah Sholeh, ternyata wajah yang bersih berseri, awet muda, fisiknya kuat dan energik, salah satu rahasinya adalah berbahagia dan giat. Agar bahagia dan giat ia selalu mengkonsumsi rokok kretek dan meninggalkan makanan dengan penyedap rasa.   
<\/p>\n","post_title":"Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bikin-awet-muda-dan-energik-rahasia-di-balik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-30 10:40:00","post_modified_gmt":"2019-09-30 03:40:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6112","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6101,"post_author":"877","post_date":"2019-09-26 10:08:08","post_date_gmt":"2019-09-26 03:08:08","post_content":"\n

Masa panen adalah saat yang dinanti-nanti petani tembakau. Tentunya harapan petani, tanaman tembakaunaya tumbuh dengan baik, kualitas bagus dan jumlahnya banyak, serta harganya bagus. Di saat tanaman tembakaunya bagus, baik kualitas dan kuantitasnya, biasanya diikuti dengan harga bagus pula. Namun tidak bisa dipastikan, karena masalah harga tidak bisa petani serta merta yang menentukan, ada faktor yang sanagat kompleks. Yaitu situasi dan kondisi sektor pertembakauan di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada tahun 2009 muncul Undang-undang No. 28 Tentang pajak daerah dan retribusi daerah atau lebih sederhanya di sebut pajak daerah selain cukai. Besaran pajak daerah ini 10% atas produk tembakau. Unduang-undang ini adopsi dari framework convention on tobacco control (FCTC). Tujuan utama pungutan pajak daerah ini sama halnya pergeseran paradigma pungutan cukai, yaitu untuk menekan peredaran rokok kretek nasional. Kemudian muncul PP 109 tahun 2012 yang didalamnya tembakau dimasukan sebagai bahan zat adiktif, ini sebagai upaya ektrim untuk mematikan rokok kretek Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, kampanye isu negatif terhadap rokok kretek. Hampir semua penyakit yang diderita manusia dikaitkan dampak dari rokok, baik bagi perokok maupun yang tidak merokok. Tanpa dasar, tanpa bukti keberadaan rokok kretek sebagai sumber dari segala penyakit. Lebih tidak rasional lagi, semua dampak yang terjadi di masyarakat selalu dikaitkan dengan rokok kretek. Ambil contoh, kemiskinan di Indonesia salah satu penyebabnya karena mengkonsumsi rokok kretek. Naiknya iuran BPJS gara-gara banyak tunggakan yang belum terbayar, gara-gara pengurusan yang tidak akuntabel dikaitkan dengan konsumsi rokok kretek, memberikan nuansa negatif pada perokok. Sampai hal-hal yang terkecil seperti keberadaan sampah, polusi udara selalu keberadaan rokok kretek selalu disalahkan. Inilah bentuk kampanye anti rokok, bertujuan mematikan industri rokok kretek nasional. Setelah industri mati, farmasi melenggang memonopoli perdagangan nikotin.   <\/p>\n\n\n\n

Pengaruh wacana kesehatan global yang dikampanyekan kelompok anti tembakau dan rokok kretek telah menyusup dalam regulasi di Negara Indonesia. Melalui kebijakan pengaturan peredaran tembakau dan membuat isu negatif rokok kretek sangat didominasi rezim kesehatan, menafikan aspek ekonomi, sosial dan budaya yang telah mengakar berates tahun. Pada akhirnya kebijakan tembakau di Indonesia melemahkan industri kretek nasional, yang selama ini menjadi sumber penghidupan berpuluh-puluh juta rakyat yang terintegrasi dengan insdustri rokok kretek nasional.  
<\/p>\n","post_title":"Beratnya Perjalanan Rokok Kretek di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beratnya-perjalanan-kretek-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-12 10:28:19","post_modified_gmt":"2019-10-12 03:28:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6142","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6112,"post_author":"877","post_date":"2019-09-30 10:39:53","post_date_gmt":"2019-09-30 03:39:53","post_content":"\n

Mbah Sholeh, salah satu tokoh di Desa Prawoto Pati Jawa Tengah, ia selalu mengkonsumsi rokok kretek untuk memacu gairah semangat hidupnya diusia menjelang senja. Usia boleh bertambah kepala tujuh, namun fisik tetap bugar, seger dan energik. <\/p>\n\n\n\n

Sore itu sehabis ashar hari senin tanggal 23 September 2019, salah satu pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) menghampiriku sembari menyerahkan kertas undangan. Saat itu, aku sendiri sudah di atas motor mau bergegas pergi belanja untuk keperluan Mbah Pae panggilan akrab simbah KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus. Saat ini, beliau menjadi bapak masyarakat Kudus, sehingga banyak orang memanggilnya \u201cMbah Pae\u201d, putra dan cucunya pun memanggil demikian. <\/p>\n\n\n\n

Undangan dari pengurus YM3SK aku masukkan ke kantong saku celana, kemudian lanjut pergi belanja. Walaupun hari sudah sore, panas matahari masih terasa, terlebih saat menyinari kulit yang tidak terbungkus kain pakaian. Seakan-akan hari itu matahari semangat menyinari bumi mengiringi musim kemarau. Sepulang dari belanja akupun menuju dapur mengambil gelas dan air minum. Sambil minum aku buka undangan tersebut dan aku baca. Ternyata undangan tersebut pemberitahuan ada acara pengajian dalam rangka Haul Agung Kanjeng Sunan Prawoto Raden Haryo Bagus Mu\u2019min atau biasa dipanggil Mbah Tabek.<\/p>\n\n\n\n

Sunan Prawoto adalah raja keempat dari Kesultanan Demak yang memerintah tahun 1546-1549. Nama lahirnya Raden Mukmin, seorang agamis dari keturunan Kerajaan Demak Bintoro. Putra Sulung Raja Demak Sultan Trenggono. Ia terkenal dengan sebutan Sunan Prawoto, karena daerah yang disinggahi hingga akhir wafatnya bernama Desa Prawoto dalam wilayah kabupaten Pati Jawa Tengah berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kudus bagian selatan. Konon Desa Prawoto sebagai Kerajaan Kecil setelah Kerajaan Demak hancur. Raden Mukmin inilah yang memboyong Kerajaan Demak ke Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Saat ini Desa Prawoto adalah desa perbukitan, dengan hawa yang tidak terlalu dingin saat malam hari dan tidak terlalu panas pada siang hari. Walaupun hanya perbukitan, di Prawoto masih banyak pohon-pohon besar dan hijau memberikan kesejukan. Saat malam tiba, dari perbukitan Prawoto nampak jelas wilayah kota Kudus. Memang daerah Prowoto lebih dekat dengan kota Kudus dari pada Kota Pati. Bahkan budaya dan adat istiadatnya pun kental dengan budaya keKudusan. Sebagian besar masyarakat Prawoto aktifitas seharinya kewilayah Kudus, seperti bekerja, berdagang, pergi kepasar, sekolah, bahkan samapi memanfaatkan fasilitas ATM mereka memilih ke Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa penjajahan Belanda, Desa Prawoto di fungsikan sebagai distrik Karesidenan yang membawai daerah Pati sampai perbatasan Tuban Jawa Timur, Kudus, Jepara bahkan Demak. Sampai sekarang perkantoran Karesidenan warisan Belanda masih berdiri kokoh dan sebagian difungsikan untuk kepentingan Desa. Tidak hanya itu, di tengah-tengah desa terdapat semacam alun-alun kecil dengan kolam air besar yang konon juga peninggalan Belanda. Tidak sedikit yang berpendapat kolam tersebut peninggalan jauh sebelum Belanda, alias peninggalan Sunan Prawoto. Sehingga, kolam tersebut sering dibuat mandi para tokoh-tokoh dan Ulama\u2019 dari luar kota di Jawa, seperti Pekalongan, Batang, Kendal, Magelang, Solo dan lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Di Desa Prawoto terdapat dua makam Sunan Prawoto, di daerah bawah dan di daerah atas istilah masyarakat menamainya. Terlepas mana yang benar Makam Sunan Prawoto tergantung keyakinan individu. Menurut arkeolog UGM yang saat itu ikut menjelaskan, bahwa yang dibawah adalah peninggalan situs dan yang di atas dari dulu berupa makam yang dikenal dengan makam Tabek. <\/p>\n\n\n\n

Rerata jenjang pendidikan masyarakat Prawoto maksimal tingkat SMA, hanya ada beberapa glintir yang samapi jenjang sarjana dan ada satu orang menjadi guru besar di UGM, namun sudah lama menetap di Yogyakarta, dan jarang pulang. Anehnya, walaupun rata-rata lulusan jenjang SMA, kemampuan dan skill mereka tak kalah dengan yang sarjana bahkan mentalnya pun demikian. Hal itu dapat dilihat dari cara bicara, cara berorganisasi, dan pola pikir maju seperti halnya sarjana. Itulah sekilah cerita tentang Prawoto.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke undangan, setelah aku baca, ternyata undangan tersebut sekaligus perintah dari pengurus YM3SK untuk mewakili datang di acara Haul Sunan Prawoto yang dilaksanakan di hari dan tanggal itu juga jam 19.00 WIB. Walaupun terkesan mendadak tidak seperti biasa jauh-jauh hari sudah ada pemberitahuan, seperti saat acara haul Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Ampel. Akhirnya tetap datang di acara haul Sunan Prawoto dengan berkoordinasi dan mengajak dengan teman-teman di dekat desa Prawoto. Berangkat sehabis sholat isya\u2019, sampai di desa Prawoto jam 19.45 WIB acara dbelum di mulai menunggu group rebana dari bapak-bapak polisi Polres Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Disaat-saat senggang tersebut, aku manfaatkan ngobrol dengan penduduk dan tokoh Ulama\u2019 setempat. Ternyata mereka selain punya warisan seni ketoprak juga punya kebudayaan menghisap rokok kretek. Selain rokok kretek mereka tidak mau. Karena budaya merokok kretek diyakini warisan leluhurnya. Jarang sekali orang-orang tua yang tidak merokok, terlihat tidak memegang dan membawa rokok kretek kebanyakan anak-anak usia sekolah. Sambil ngobrol mengupas sedikit sejarah Sunan Prawoto kita merokok kretek bersama. Dengan merokok kretek suasana santai dan keakraban terbentuk di serambi masjid Sunan Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Kebetulan posisiku duduk bersebelahan dengan salah satu tokoh juga Ulama\u2019 Prawoto. Umurnya sudah tergolong dapat bonus 16 tahun dati Tuhan. Itulah jawabannya saat aku tanya usianya berapa. Karena pingin tau, aku tanya kembali persisnya usia berapa, beliau menjawab diatas rata-rata umumnya usia manusia (60 tahun) yaitu 76 tahun. Ia menjawab sambil tersenyum dan memegang rokok kretek yang telah disulut, ia adalah Mbah Sholeh (nama samara).<\/p>\n\n\n\n

Saat menjawab, akupun terkaget, karena prediksiku umur sekitaran 50an. Raup wajahnya bersih, badannya terlihat sehat dan terlihat energik, tidak mau kalah dengan bapak-bapak lainnya yang saat itu ikut ngobrol yang rata-rata umur 48-60 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Akhirnya akupun penasaran, dan kembali bertanya. Mbah apa resepnya kok masih terlihat muda?. Ia pun menjawab, jauhi makanan yang ada obat penyedap rasanya, makananlah bahan alami seperti daun-daunan. Sampai detik ini ia mengaku tidak makan makanan yang ada penyedap rasanya, kalau ditawari atau ada suguhan di depannya, ia memilih tidak akan memakannya. Juga kalau ditawari dan disuguhi minuman yang bergula. Ia pun demikian menghindari. Kata masyarakat lainnya yang ikut ngobrol, Mbah Sholeh itu hidup sehat.<\/p>\n\n\n\n

Celetukan tersebut disikapi Mbah Sholeh  dengan senyuman dan sambil mengeluarkan asap rokok kretek dari mulutnya dan hidupnya. Kemudian aku bertanya lagi, kenapa Mbah merokok?. Ia pun tersenyum sambil menyedot kembali rokok kreteknya dengan menjawab, kalau merokok kretek membuat ia bahagia, dengan kondisi bahagia ini orang jadi awet muda. Kalau merokok membuat semangat, dengan semangat orang jadi giat dan kuat. Ia juga menceritakan memulai merokok kretek saat sudah Islam. Kata Islam disini bukan berarti saat masuk Islam, akan tetapi yang dimaksud saat sudah khitan atau usia baliq. Dahulu setelah ia dikhitan, bapaknya menyuruhnya merokok sebagai tanda sudah dewasa. <\/p>\n\n\n\n

Inilah pengakuan Mbah Sholeh, ternyata wajah yang bersih berseri, awet muda, fisiknya kuat dan energik, salah satu rahasinya adalah berbahagia dan giat. Agar bahagia dan giat ia selalu mengkonsumsi rokok kretek dan meninggalkan makanan dengan penyedap rasa.   
<\/p>\n","post_title":"Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bikin-awet-muda-dan-energik-rahasia-di-balik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-30 10:40:00","post_modified_gmt":"2019-09-30 03:40:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6112","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6101,"post_author":"877","post_date":"2019-09-26 10:08:08","post_date_gmt":"2019-09-26 03:08:08","post_content":"\n

Masa panen adalah saat yang dinanti-nanti petani tembakau. Tentunya harapan petani, tanaman tembakaunaya tumbuh dengan baik, kualitas bagus dan jumlahnya banyak, serta harganya bagus. Di saat tanaman tembakaunya bagus, baik kualitas dan kuantitasnya, biasanya diikuti dengan harga bagus pula. Namun tidak bisa dipastikan, karena masalah harga tidak bisa petani serta merta yang menentukan, ada faktor yang sanagat kompleks. Yaitu situasi dan kondisi sektor pertembakauan di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Setelah Permenkeu No. 200\/PMK\/04\/2008, muncul Permenkeu lainnya, seperti Permenkeu No. 191\/PMK.04\/2010, Permenkeu No. 78\/PMK.011\/2013, Permenkeu 84\/2008, Permenkeu 20\/2009. Dari semua Permenkeu tersebut, semuanya mengarah pelemahan industri rokok kretek nasional yang didasari dari intervensi rezim kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2009 muncul Undang-undang No. 28 Tentang pajak daerah dan retribusi daerah atau lebih sederhanya di sebut pajak daerah selain cukai. Besaran pajak daerah ini 10% atas produk tembakau. Unduang-undang ini adopsi dari framework convention on tobacco control (FCTC). Tujuan utama pungutan pajak daerah ini sama halnya pergeseran paradigma pungutan cukai, yaitu untuk menekan peredaran rokok kretek nasional. Kemudian muncul PP 109 tahun 2012 yang didalamnya tembakau dimasukan sebagai bahan zat adiktif, ini sebagai upaya ektrim untuk mematikan rokok kretek Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, kampanye isu negatif terhadap rokok kretek. Hampir semua penyakit yang diderita manusia dikaitkan dampak dari rokok, baik bagi perokok maupun yang tidak merokok. Tanpa dasar, tanpa bukti keberadaan rokok kretek sebagai sumber dari segala penyakit. Lebih tidak rasional lagi, semua dampak yang terjadi di masyarakat selalu dikaitkan dengan rokok kretek. Ambil contoh, kemiskinan di Indonesia salah satu penyebabnya karena mengkonsumsi rokok kretek. Naiknya iuran BPJS gara-gara banyak tunggakan yang belum terbayar, gara-gara pengurusan yang tidak akuntabel dikaitkan dengan konsumsi rokok kretek, memberikan nuansa negatif pada perokok. Sampai hal-hal yang terkecil seperti keberadaan sampah, polusi udara selalu keberadaan rokok kretek selalu disalahkan. Inilah bentuk kampanye anti rokok, bertujuan mematikan industri rokok kretek nasional. Setelah industri mati, farmasi melenggang memonopoli perdagangan nikotin.   <\/p>\n\n\n\n

Pengaruh wacana kesehatan global yang dikampanyekan kelompok anti tembakau dan rokok kretek telah menyusup dalam regulasi di Negara Indonesia. Melalui kebijakan pengaturan peredaran tembakau dan membuat isu negatif rokok kretek sangat didominasi rezim kesehatan, menafikan aspek ekonomi, sosial dan budaya yang telah mengakar berates tahun. Pada akhirnya kebijakan tembakau di Indonesia melemahkan industri kretek nasional, yang selama ini menjadi sumber penghidupan berpuluh-puluh juta rakyat yang terintegrasi dengan insdustri rokok kretek nasional.  
<\/p>\n","post_title":"Beratnya Perjalanan Rokok Kretek di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beratnya-perjalanan-kretek-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-12 10:28:19","post_modified_gmt":"2019-10-12 03:28:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6142","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6112,"post_author":"877","post_date":"2019-09-30 10:39:53","post_date_gmt":"2019-09-30 03:39:53","post_content":"\n

Mbah Sholeh, salah satu tokoh di Desa Prawoto Pati Jawa Tengah, ia selalu mengkonsumsi rokok kretek untuk memacu gairah semangat hidupnya diusia menjelang senja. Usia boleh bertambah kepala tujuh, namun fisik tetap bugar, seger dan energik. <\/p>\n\n\n\n

Sore itu sehabis ashar hari senin tanggal 23 September 2019, salah satu pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) menghampiriku sembari menyerahkan kertas undangan. Saat itu, aku sendiri sudah di atas motor mau bergegas pergi belanja untuk keperluan Mbah Pae panggilan akrab simbah KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus. Saat ini, beliau menjadi bapak masyarakat Kudus, sehingga banyak orang memanggilnya \u201cMbah Pae\u201d, putra dan cucunya pun memanggil demikian. <\/p>\n\n\n\n

Undangan dari pengurus YM3SK aku masukkan ke kantong saku celana, kemudian lanjut pergi belanja. Walaupun hari sudah sore, panas matahari masih terasa, terlebih saat menyinari kulit yang tidak terbungkus kain pakaian. Seakan-akan hari itu matahari semangat menyinari bumi mengiringi musim kemarau. Sepulang dari belanja akupun menuju dapur mengambil gelas dan air minum. Sambil minum aku buka undangan tersebut dan aku baca. Ternyata undangan tersebut pemberitahuan ada acara pengajian dalam rangka Haul Agung Kanjeng Sunan Prawoto Raden Haryo Bagus Mu\u2019min atau biasa dipanggil Mbah Tabek.<\/p>\n\n\n\n

Sunan Prawoto adalah raja keempat dari Kesultanan Demak yang memerintah tahun 1546-1549. Nama lahirnya Raden Mukmin, seorang agamis dari keturunan Kerajaan Demak Bintoro. Putra Sulung Raja Demak Sultan Trenggono. Ia terkenal dengan sebutan Sunan Prawoto, karena daerah yang disinggahi hingga akhir wafatnya bernama Desa Prawoto dalam wilayah kabupaten Pati Jawa Tengah berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kudus bagian selatan. Konon Desa Prawoto sebagai Kerajaan Kecil setelah Kerajaan Demak hancur. Raden Mukmin inilah yang memboyong Kerajaan Demak ke Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Saat ini Desa Prawoto adalah desa perbukitan, dengan hawa yang tidak terlalu dingin saat malam hari dan tidak terlalu panas pada siang hari. Walaupun hanya perbukitan, di Prawoto masih banyak pohon-pohon besar dan hijau memberikan kesejukan. Saat malam tiba, dari perbukitan Prawoto nampak jelas wilayah kota Kudus. Memang daerah Prowoto lebih dekat dengan kota Kudus dari pada Kota Pati. Bahkan budaya dan adat istiadatnya pun kental dengan budaya keKudusan. Sebagian besar masyarakat Prawoto aktifitas seharinya kewilayah Kudus, seperti bekerja, berdagang, pergi kepasar, sekolah, bahkan samapi memanfaatkan fasilitas ATM mereka memilih ke Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa penjajahan Belanda, Desa Prawoto di fungsikan sebagai distrik Karesidenan yang membawai daerah Pati sampai perbatasan Tuban Jawa Timur, Kudus, Jepara bahkan Demak. Sampai sekarang perkantoran Karesidenan warisan Belanda masih berdiri kokoh dan sebagian difungsikan untuk kepentingan Desa. Tidak hanya itu, di tengah-tengah desa terdapat semacam alun-alun kecil dengan kolam air besar yang konon juga peninggalan Belanda. Tidak sedikit yang berpendapat kolam tersebut peninggalan jauh sebelum Belanda, alias peninggalan Sunan Prawoto. Sehingga, kolam tersebut sering dibuat mandi para tokoh-tokoh dan Ulama\u2019 dari luar kota di Jawa, seperti Pekalongan, Batang, Kendal, Magelang, Solo dan lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Di Desa Prawoto terdapat dua makam Sunan Prawoto, di daerah bawah dan di daerah atas istilah masyarakat menamainya. Terlepas mana yang benar Makam Sunan Prawoto tergantung keyakinan individu. Menurut arkeolog UGM yang saat itu ikut menjelaskan, bahwa yang dibawah adalah peninggalan situs dan yang di atas dari dulu berupa makam yang dikenal dengan makam Tabek. <\/p>\n\n\n\n

Rerata jenjang pendidikan masyarakat Prawoto maksimal tingkat SMA, hanya ada beberapa glintir yang samapi jenjang sarjana dan ada satu orang menjadi guru besar di UGM, namun sudah lama menetap di Yogyakarta, dan jarang pulang. Anehnya, walaupun rata-rata lulusan jenjang SMA, kemampuan dan skill mereka tak kalah dengan yang sarjana bahkan mentalnya pun demikian. Hal itu dapat dilihat dari cara bicara, cara berorganisasi, dan pola pikir maju seperti halnya sarjana. Itulah sekilah cerita tentang Prawoto.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke undangan, setelah aku baca, ternyata undangan tersebut sekaligus perintah dari pengurus YM3SK untuk mewakili datang di acara Haul Sunan Prawoto yang dilaksanakan di hari dan tanggal itu juga jam 19.00 WIB. Walaupun terkesan mendadak tidak seperti biasa jauh-jauh hari sudah ada pemberitahuan, seperti saat acara haul Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Ampel. Akhirnya tetap datang di acara haul Sunan Prawoto dengan berkoordinasi dan mengajak dengan teman-teman di dekat desa Prawoto. Berangkat sehabis sholat isya\u2019, sampai di desa Prawoto jam 19.45 WIB acara dbelum di mulai menunggu group rebana dari bapak-bapak polisi Polres Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Disaat-saat senggang tersebut, aku manfaatkan ngobrol dengan penduduk dan tokoh Ulama\u2019 setempat. Ternyata mereka selain punya warisan seni ketoprak juga punya kebudayaan menghisap rokok kretek. Selain rokok kretek mereka tidak mau. Karena budaya merokok kretek diyakini warisan leluhurnya. Jarang sekali orang-orang tua yang tidak merokok, terlihat tidak memegang dan membawa rokok kretek kebanyakan anak-anak usia sekolah. Sambil ngobrol mengupas sedikit sejarah Sunan Prawoto kita merokok kretek bersama. Dengan merokok kretek suasana santai dan keakraban terbentuk di serambi masjid Sunan Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Kebetulan posisiku duduk bersebelahan dengan salah satu tokoh juga Ulama\u2019 Prawoto. Umurnya sudah tergolong dapat bonus 16 tahun dati Tuhan. Itulah jawabannya saat aku tanya usianya berapa. Karena pingin tau, aku tanya kembali persisnya usia berapa, beliau menjawab diatas rata-rata umumnya usia manusia (60 tahun) yaitu 76 tahun. Ia menjawab sambil tersenyum dan memegang rokok kretek yang telah disulut, ia adalah Mbah Sholeh (nama samara).<\/p>\n\n\n\n

Saat menjawab, akupun terkaget, karena prediksiku umur sekitaran 50an. Raup wajahnya bersih, badannya terlihat sehat dan terlihat energik, tidak mau kalah dengan bapak-bapak lainnya yang saat itu ikut ngobrol yang rata-rata umur 48-60 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Akhirnya akupun penasaran, dan kembali bertanya. Mbah apa resepnya kok masih terlihat muda?. Ia pun menjawab, jauhi makanan yang ada obat penyedap rasanya, makananlah bahan alami seperti daun-daunan. Sampai detik ini ia mengaku tidak makan makanan yang ada penyedap rasanya, kalau ditawari atau ada suguhan di depannya, ia memilih tidak akan memakannya. Juga kalau ditawari dan disuguhi minuman yang bergula. Ia pun demikian menghindari. Kata masyarakat lainnya yang ikut ngobrol, Mbah Sholeh itu hidup sehat.<\/p>\n\n\n\n

Celetukan tersebut disikapi Mbah Sholeh  dengan senyuman dan sambil mengeluarkan asap rokok kretek dari mulutnya dan hidupnya. Kemudian aku bertanya lagi, kenapa Mbah merokok?. Ia pun tersenyum sambil menyedot kembali rokok kreteknya dengan menjawab, kalau merokok kretek membuat ia bahagia, dengan kondisi bahagia ini orang jadi awet muda. Kalau merokok membuat semangat, dengan semangat orang jadi giat dan kuat. Ia juga menceritakan memulai merokok kretek saat sudah Islam. Kata Islam disini bukan berarti saat masuk Islam, akan tetapi yang dimaksud saat sudah khitan atau usia baliq. Dahulu setelah ia dikhitan, bapaknya menyuruhnya merokok sebagai tanda sudah dewasa. <\/p>\n\n\n\n

Inilah pengakuan Mbah Sholeh, ternyata wajah yang bersih berseri, awet muda, fisiknya kuat dan energik, salah satu rahasinya adalah berbahagia dan giat. Agar bahagia dan giat ia selalu mengkonsumsi rokok kretek dan meninggalkan makanan dengan penyedap rasa.   
<\/p>\n","post_title":"Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bikin-awet-muda-dan-energik-rahasia-di-balik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-30 10:40:00","post_modified_gmt":"2019-09-30 03:40:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6112","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6101,"post_author":"877","post_date":"2019-09-26 10:08:08","post_date_gmt":"2019-09-26 03:08:08","post_content":"\n

Masa panen adalah saat yang dinanti-nanti petani tembakau. Tentunya harapan petani, tanaman tembakaunaya tumbuh dengan baik, kualitas bagus dan jumlahnya banyak, serta harganya bagus. Di saat tanaman tembakaunya bagus, baik kualitas dan kuantitasnya, biasanya diikuti dengan harga bagus pula. Namun tidak bisa dipastikan, karena masalah harga tidak bisa petani serta merta yang menentukan, ada faktor yang sanagat kompleks. Yaitu situasi dan kondisi sektor pertembakauan di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Turunan dari UU No. 39 tahun 2007 diatas, muncul Permenkeu No. 200\/PMK\/04\/2008, tentang aturan tata cara pemberian, pembekuan dan pencabutan nomor pokok pengusahaan barang cukai untuk pabrik atau industri hasil tembakau. Dalam aturan ini, memberlakukan ketentuan yang sangat berat bagi industri rokok kretek rumahan (industri kecil). Yaitu salah satunya, aturan industri kretek bangunan luasnya harus 200 meter persegi, tidak berhubungan langsung dengan bangunan rumah tempat tinggal, halaman rumah dan tempat lain yang bukan bagian pabrik, dan diharuskan bangunan tersebut di pinggir jalan umum. Gara-gara aturan ini, banyak industri kecil rumahan mati. Sebelum ada aturan ini, di kota Kudus sendiri banyak sekali industri kretek rumahan belum lagi di kota lain seperti kabupaten Jember, Malang dan lainnya.  <\/p>\n\n\n\n

Setelah Permenkeu No. 200\/PMK\/04\/2008, muncul Permenkeu lainnya, seperti Permenkeu No. 191\/PMK.04\/2010, Permenkeu No. 78\/PMK.011\/2013, Permenkeu 84\/2008, Permenkeu 20\/2009. Dari semua Permenkeu tersebut, semuanya mengarah pelemahan industri rokok kretek nasional yang didasari dari intervensi rezim kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2009 muncul Undang-undang No. 28 Tentang pajak daerah dan retribusi daerah atau lebih sederhanya di sebut pajak daerah selain cukai. Besaran pajak daerah ini 10% atas produk tembakau. Unduang-undang ini adopsi dari framework convention on tobacco control (FCTC). Tujuan utama pungutan pajak daerah ini sama halnya pergeseran paradigma pungutan cukai, yaitu untuk menekan peredaran rokok kretek nasional. Kemudian muncul PP 109 tahun 2012 yang didalamnya tembakau dimasukan sebagai bahan zat adiktif, ini sebagai upaya ektrim untuk mematikan rokok kretek Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, kampanye isu negatif terhadap rokok kretek. Hampir semua penyakit yang diderita manusia dikaitkan dampak dari rokok, baik bagi perokok maupun yang tidak merokok. Tanpa dasar, tanpa bukti keberadaan rokok kretek sebagai sumber dari segala penyakit. Lebih tidak rasional lagi, semua dampak yang terjadi di masyarakat selalu dikaitkan dengan rokok kretek. Ambil contoh, kemiskinan di Indonesia salah satu penyebabnya karena mengkonsumsi rokok kretek. Naiknya iuran BPJS gara-gara banyak tunggakan yang belum terbayar, gara-gara pengurusan yang tidak akuntabel dikaitkan dengan konsumsi rokok kretek, memberikan nuansa negatif pada perokok. Sampai hal-hal yang terkecil seperti keberadaan sampah, polusi udara selalu keberadaan rokok kretek selalu disalahkan. Inilah bentuk kampanye anti rokok, bertujuan mematikan industri rokok kretek nasional. Setelah industri mati, farmasi melenggang memonopoli perdagangan nikotin.   <\/p>\n\n\n\n

Pengaruh wacana kesehatan global yang dikampanyekan kelompok anti tembakau dan rokok kretek telah menyusup dalam regulasi di Negara Indonesia. Melalui kebijakan pengaturan peredaran tembakau dan membuat isu negatif rokok kretek sangat didominasi rezim kesehatan, menafikan aspek ekonomi, sosial dan budaya yang telah mengakar berates tahun. Pada akhirnya kebijakan tembakau di Indonesia melemahkan industri kretek nasional, yang selama ini menjadi sumber penghidupan berpuluh-puluh juta rakyat yang terintegrasi dengan insdustri rokok kretek nasional.  
<\/p>\n","post_title":"Beratnya Perjalanan Rokok Kretek di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beratnya-perjalanan-kretek-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-12 10:28:19","post_modified_gmt":"2019-10-12 03:28:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6142","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6112,"post_author":"877","post_date":"2019-09-30 10:39:53","post_date_gmt":"2019-09-30 03:39:53","post_content":"\n

Mbah Sholeh, salah satu tokoh di Desa Prawoto Pati Jawa Tengah, ia selalu mengkonsumsi rokok kretek untuk memacu gairah semangat hidupnya diusia menjelang senja. Usia boleh bertambah kepala tujuh, namun fisik tetap bugar, seger dan energik. <\/p>\n\n\n\n

Sore itu sehabis ashar hari senin tanggal 23 September 2019, salah satu pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) menghampiriku sembari menyerahkan kertas undangan. Saat itu, aku sendiri sudah di atas motor mau bergegas pergi belanja untuk keperluan Mbah Pae panggilan akrab simbah KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus. Saat ini, beliau menjadi bapak masyarakat Kudus, sehingga banyak orang memanggilnya \u201cMbah Pae\u201d, putra dan cucunya pun memanggil demikian. <\/p>\n\n\n\n

Undangan dari pengurus YM3SK aku masukkan ke kantong saku celana, kemudian lanjut pergi belanja. Walaupun hari sudah sore, panas matahari masih terasa, terlebih saat menyinari kulit yang tidak terbungkus kain pakaian. Seakan-akan hari itu matahari semangat menyinari bumi mengiringi musim kemarau. Sepulang dari belanja akupun menuju dapur mengambil gelas dan air minum. Sambil minum aku buka undangan tersebut dan aku baca. Ternyata undangan tersebut pemberitahuan ada acara pengajian dalam rangka Haul Agung Kanjeng Sunan Prawoto Raden Haryo Bagus Mu\u2019min atau biasa dipanggil Mbah Tabek.<\/p>\n\n\n\n

Sunan Prawoto adalah raja keempat dari Kesultanan Demak yang memerintah tahun 1546-1549. Nama lahirnya Raden Mukmin, seorang agamis dari keturunan Kerajaan Demak Bintoro. Putra Sulung Raja Demak Sultan Trenggono. Ia terkenal dengan sebutan Sunan Prawoto, karena daerah yang disinggahi hingga akhir wafatnya bernama Desa Prawoto dalam wilayah kabupaten Pati Jawa Tengah berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kudus bagian selatan. Konon Desa Prawoto sebagai Kerajaan Kecil setelah Kerajaan Demak hancur. Raden Mukmin inilah yang memboyong Kerajaan Demak ke Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Saat ini Desa Prawoto adalah desa perbukitan, dengan hawa yang tidak terlalu dingin saat malam hari dan tidak terlalu panas pada siang hari. Walaupun hanya perbukitan, di Prawoto masih banyak pohon-pohon besar dan hijau memberikan kesejukan. Saat malam tiba, dari perbukitan Prawoto nampak jelas wilayah kota Kudus. Memang daerah Prowoto lebih dekat dengan kota Kudus dari pada Kota Pati. Bahkan budaya dan adat istiadatnya pun kental dengan budaya keKudusan. Sebagian besar masyarakat Prawoto aktifitas seharinya kewilayah Kudus, seperti bekerja, berdagang, pergi kepasar, sekolah, bahkan samapi memanfaatkan fasilitas ATM mereka memilih ke Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa penjajahan Belanda, Desa Prawoto di fungsikan sebagai distrik Karesidenan yang membawai daerah Pati sampai perbatasan Tuban Jawa Timur, Kudus, Jepara bahkan Demak. Sampai sekarang perkantoran Karesidenan warisan Belanda masih berdiri kokoh dan sebagian difungsikan untuk kepentingan Desa. Tidak hanya itu, di tengah-tengah desa terdapat semacam alun-alun kecil dengan kolam air besar yang konon juga peninggalan Belanda. Tidak sedikit yang berpendapat kolam tersebut peninggalan jauh sebelum Belanda, alias peninggalan Sunan Prawoto. Sehingga, kolam tersebut sering dibuat mandi para tokoh-tokoh dan Ulama\u2019 dari luar kota di Jawa, seperti Pekalongan, Batang, Kendal, Magelang, Solo dan lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Di Desa Prawoto terdapat dua makam Sunan Prawoto, di daerah bawah dan di daerah atas istilah masyarakat menamainya. Terlepas mana yang benar Makam Sunan Prawoto tergantung keyakinan individu. Menurut arkeolog UGM yang saat itu ikut menjelaskan, bahwa yang dibawah adalah peninggalan situs dan yang di atas dari dulu berupa makam yang dikenal dengan makam Tabek. <\/p>\n\n\n\n

Rerata jenjang pendidikan masyarakat Prawoto maksimal tingkat SMA, hanya ada beberapa glintir yang samapi jenjang sarjana dan ada satu orang menjadi guru besar di UGM, namun sudah lama menetap di Yogyakarta, dan jarang pulang. Anehnya, walaupun rata-rata lulusan jenjang SMA, kemampuan dan skill mereka tak kalah dengan yang sarjana bahkan mentalnya pun demikian. Hal itu dapat dilihat dari cara bicara, cara berorganisasi, dan pola pikir maju seperti halnya sarjana. Itulah sekilah cerita tentang Prawoto.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke undangan, setelah aku baca, ternyata undangan tersebut sekaligus perintah dari pengurus YM3SK untuk mewakili datang di acara Haul Sunan Prawoto yang dilaksanakan di hari dan tanggal itu juga jam 19.00 WIB. Walaupun terkesan mendadak tidak seperti biasa jauh-jauh hari sudah ada pemberitahuan, seperti saat acara haul Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Ampel. Akhirnya tetap datang di acara haul Sunan Prawoto dengan berkoordinasi dan mengajak dengan teman-teman di dekat desa Prawoto. Berangkat sehabis sholat isya\u2019, sampai di desa Prawoto jam 19.45 WIB acara dbelum di mulai menunggu group rebana dari bapak-bapak polisi Polres Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Disaat-saat senggang tersebut, aku manfaatkan ngobrol dengan penduduk dan tokoh Ulama\u2019 setempat. Ternyata mereka selain punya warisan seni ketoprak juga punya kebudayaan menghisap rokok kretek. Selain rokok kretek mereka tidak mau. Karena budaya merokok kretek diyakini warisan leluhurnya. Jarang sekali orang-orang tua yang tidak merokok, terlihat tidak memegang dan membawa rokok kretek kebanyakan anak-anak usia sekolah. Sambil ngobrol mengupas sedikit sejarah Sunan Prawoto kita merokok kretek bersama. Dengan merokok kretek suasana santai dan keakraban terbentuk di serambi masjid Sunan Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Kebetulan posisiku duduk bersebelahan dengan salah satu tokoh juga Ulama\u2019 Prawoto. Umurnya sudah tergolong dapat bonus 16 tahun dati Tuhan. Itulah jawabannya saat aku tanya usianya berapa. Karena pingin tau, aku tanya kembali persisnya usia berapa, beliau menjawab diatas rata-rata umumnya usia manusia (60 tahun) yaitu 76 tahun. Ia menjawab sambil tersenyum dan memegang rokok kretek yang telah disulut, ia adalah Mbah Sholeh (nama samara).<\/p>\n\n\n\n

Saat menjawab, akupun terkaget, karena prediksiku umur sekitaran 50an. Raup wajahnya bersih, badannya terlihat sehat dan terlihat energik, tidak mau kalah dengan bapak-bapak lainnya yang saat itu ikut ngobrol yang rata-rata umur 48-60 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Akhirnya akupun penasaran, dan kembali bertanya. Mbah apa resepnya kok masih terlihat muda?. Ia pun menjawab, jauhi makanan yang ada obat penyedap rasanya, makananlah bahan alami seperti daun-daunan. Sampai detik ini ia mengaku tidak makan makanan yang ada penyedap rasanya, kalau ditawari atau ada suguhan di depannya, ia memilih tidak akan memakannya. Juga kalau ditawari dan disuguhi minuman yang bergula. Ia pun demikian menghindari. Kata masyarakat lainnya yang ikut ngobrol, Mbah Sholeh itu hidup sehat.<\/p>\n\n\n\n

Celetukan tersebut disikapi Mbah Sholeh  dengan senyuman dan sambil mengeluarkan asap rokok kretek dari mulutnya dan hidupnya. Kemudian aku bertanya lagi, kenapa Mbah merokok?. Ia pun tersenyum sambil menyedot kembali rokok kreteknya dengan menjawab, kalau merokok kretek membuat ia bahagia, dengan kondisi bahagia ini orang jadi awet muda. Kalau merokok membuat semangat, dengan semangat orang jadi giat dan kuat. Ia juga menceritakan memulai merokok kretek saat sudah Islam. Kata Islam disini bukan berarti saat masuk Islam, akan tetapi yang dimaksud saat sudah khitan atau usia baliq. Dahulu setelah ia dikhitan, bapaknya menyuruhnya merokok sebagai tanda sudah dewasa. <\/p>\n\n\n\n

Inilah pengakuan Mbah Sholeh, ternyata wajah yang bersih berseri, awet muda, fisiknya kuat dan energik, salah satu rahasinya adalah berbahagia dan giat. Agar bahagia dan giat ia selalu mengkonsumsi rokok kretek dan meninggalkan makanan dengan penyedap rasa.   
<\/p>\n","post_title":"Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bikin-awet-muda-dan-energik-rahasia-di-balik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-30 10:40:00","post_modified_gmt":"2019-09-30 03:40:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6112","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6101,"post_author":"877","post_date":"2019-09-26 10:08:08","post_date_gmt":"2019-09-26 03:08:08","post_content":"\n

Masa panen adalah saat yang dinanti-nanti petani tembakau. Tentunya harapan petani, tanaman tembakaunaya tumbuh dengan baik, kualitas bagus dan jumlahnya banyak, serta harganya bagus. Di saat tanaman tembakaunya bagus, baik kualitas dan kuantitasnya, biasanya diikuti dengan harga bagus pula. Namun tidak bisa dipastikan, karena masalah harga tidak bisa petani serta merta yang menentukan, ada faktor yang sanagat kompleks. Yaitu situasi dan kondisi sektor pertembakauan di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tidak menngherankan, jika di Indonesia sampai detik ini keberadaan dokter atau ilmuwan kesehatan penopang utama peredaran obat dan apotek. Yang terjadi ada take and give, saling memberi dan menerima. Bisa jadi pendapatan dokter di Indonesia lebih besar penjualan obat dari pada hasil dari konsumen atau pasien. Tak berhenti disitu, akibat di atas, memicu maraknya berdirinya apotek di Indonesia sampai tingkat Kecamatan dan desa. Masyarakat Indonesia dibuat hidupnya tergantung obat-obatan, mulai meninggalkan pengobatan alamiah tumbuh-tumbuhan dan sejenisnya. Bahkan masyarakat Indonesia dalam benaknya sudah terkontaminasi rezim kesehatan, semua penyakit harus disembuhkan dengan mengkonsumsi obat. Yang lebih menyedihkan lagi, praktek-praktek tradisional mulai terkikis dan hilang dari peredaran. Ambil contoh, dukun bayi, jamu tradisional, tumbuhan obat-obatan mulai tertelan bumi.     <\/p>\n\n\n\n

Turunan dari UU No. 39 tahun 2007 diatas, muncul Permenkeu No. 200\/PMK\/04\/2008, tentang aturan tata cara pemberian, pembekuan dan pencabutan nomor pokok pengusahaan barang cukai untuk pabrik atau industri hasil tembakau. Dalam aturan ini, memberlakukan ketentuan yang sangat berat bagi industri rokok kretek rumahan (industri kecil). Yaitu salah satunya, aturan industri kretek bangunan luasnya harus 200 meter persegi, tidak berhubungan langsung dengan bangunan rumah tempat tinggal, halaman rumah dan tempat lain yang bukan bagian pabrik, dan diharuskan bangunan tersebut di pinggir jalan umum. Gara-gara aturan ini, banyak industri kecil rumahan mati. Sebelum ada aturan ini, di kota Kudus sendiri banyak sekali industri kretek rumahan belum lagi di kota lain seperti kabupaten Jember, Malang dan lainnya.  <\/p>\n\n\n\n

Setelah Permenkeu No. 200\/PMK\/04\/2008, muncul Permenkeu lainnya, seperti Permenkeu No. 191\/PMK.04\/2010, Permenkeu No. 78\/PMK.011\/2013, Permenkeu 84\/2008, Permenkeu 20\/2009. Dari semua Permenkeu tersebut, semuanya mengarah pelemahan industri rokok kretek nasional yang didasari dari intervensi rezim kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2009 muncul Undang-undang No. 28 Tentang pajak daerah dan retribusi daerah atau lebih sederhanya di sebut pajak daerah selain cukai. Besaran pajak daerah ini 10% atas produk tembakau. Unduang-undang ini adopsi dari framework convention on tobacco control (FCTC). Tujuan utama pungutan pajak daerah ini sama halnya pergeseran paradigma pungutan cukai, yaitu untuk menekan peredaran rokok kretek nasional. Kemudian muncul PP 109 tahun 2012 yang didalamnya tembakau dimasukan sebagai bahan zat adiktif, ini sebagai upaya ektrim untuk mematikan rokok kretek Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, kampanye isu negatif terhadap rokok kretek. Hampir semua penyakit yang diderita manusia dikaitkan dampak dari rokok, baik bagi perokok maupun yang tidak merokok. Tanpa dasar, tanpa bukti keberadaan rokok kretek sebagai sumber dari segala penyakit. Lebih tidak rasional lagi, semua dampak yang terjadi di masyarakat selalu dikaitkan dengan rokok kretek. Ambil contoh, kemiskinan di Indonesia salah satu penyebabnya karena mengkonsumsi rokok kretek. Naiknya iuran BPJS gara-gara banyak tunggakan yang belum terbayar, gara-gara pengurusan yang tidak akuntabel dikaitkan dengan konsumsi rokok kretek, memberikan nuansa negatif pada perokok. Sampai hal-hal yang terkecil seperti keberadaan sampah, polusi udara selalu keberadaan rokok kretek selalu disalahkan. Inilah bentuk kampanye anti rokok, bertujuan mematikan industri rokok kretek nasional. Setelah industri mati, farmasi melenggang memonopoli perdagangan nikotin.   <\/p>\n\n\n\n

Pengaruh wacana kesehatan global yang dikampanyekan kelompok anti tembakau dan rokok kretek telah menyusup dalam regulasi di Negara Indonesia. Melalui kebijakan pengaturan peredaran tembakau dan membuat isu negatif rokok kretek sangat didominasi rezim kesehatan, menafikan aspek ekonomi, sosial dan budaya yang telah mengakar berates tahun. Pada akhirnya kebijakan tembakau di Indonesia melemahkan industri kretek nasional, yang selama ini menjadi sumber penghidupan berpuluh-puluh juta rakyat yang terintegrasi dengan insdustri rokok kretek nasional.  
<\/p>\n","post_title":"Beratnya Perjalanan Rokok Kretek di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beratnya-perjalanan-kretek-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-12 10:28:19","post_modified_gmt":"2019-10-12 03:28:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6142","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6112,"post_author":"877","post_date":"2019-09-30 10:39:53","post_date_gmt":"2019-09-30 03:39:53","post_content":"\n

Mbah Sholeh, salah satu tokoh di Desa Prawoto Pati Jawa Tengah, ia selalu mengkonsumsi rokok kretek untuk memacu gairah semangat hidupnya diusia menjelang senja. Usia boleh bertambah kepala tujuh, namun fisik tetap bugar, seger dan energik. <\/p>\n\n\n\n

Sore itu sehabis ashar hari senin tanggal 23 September 2019, salah satu pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) menghampiriku sembari menyerahkan kertas undangan. Saat itu, aku sendiri sudah di atas motor mau bergegas pergi belanja untuk keperluan Mbah Pae panggilan akrab simbah KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus. Saat ini, beliau menjadi bapak masyarakat Kudus, sehingga banyak orang memanggilnya \u201cMbah Pae\u201d, putra dan cucunya pun memanggil demikian. <\/p>\n\n\n\n

Undangan dari pengurus YM3SK aku masukkan ke kantong saku celana, kemudian lanjut pergi belanja. Walaupun hari sudah sore, panas matahari masih terasa, terlebih saat menyinari kulit yang tidak terbungkus kain pakaian. Seakan-akan hari itu matahari semangat menyinari bumi mengiringi musim kemarau. Sepulang dari belanja akupun menuju dapur mengambil gelas dan air minum. Sambil minum aku buka undangan tersebut dan aku baca. Ternyata undangan tersebut pemberitahuan ada acara pengajian dalam rangka Haul Agung Kanjeng Sunan Prawoto Raden Haryo Bagus Mu\u2019min atau biasa dipanggil Mbah Tabek.<\/p>\n\n\n\n

Sunan Prawoto adalah raja keempat dari Kesultanan Demak yang memerintah tahun 1546-1549. Nama lahirnya Raden Mukmin, seorang agamis dari keturunan Kerajaan Demak Bintoro. Putra Sulung Raja Demak Sultan Trenggono. Ia terkenal dengan sebutan Sunan Prawoto, karena daerah yang disinggahi hingga akhir wafatnya bernama Desa Prawoto dalam wilayah kabupaten Pati Jawa Tengah berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kudus bagian selatan. Konon Desa Prawoto sebagai Kerajaan Kecil setelah Kerajaan Demak hancur. Raden Mukmin inilah yang memboyong Kerajaan Demak ke Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Saat ini Desa Prawoto adalah desa perbukitan, dengan hawa yang tidak terlalu dingin saat malam hari dan tidak terlalu panas pada siang hari. Walaupun hanya perbukitan, di Prawoto masih banyak pohon-pohon besar dan hijau memberikan kesejukan. Saat malam tiba, dari perbukitan Prawoto nampak jelas wilayah kota Kudus. Memang daerah Prowoto lebih dekat dengan kota Kudus dari pada Kota Pati. Bahkan budaya dan adat istiadatnya pun kental dengan budaya keKudusan. Sebagian besar masyarakat Prawoto aktifitas seharinya kewilayah Kudus, seperti bekerja, berdagang, pergi kepasar, sekolah, bahkan samapi memanfaatkan fasilitas ATM mereka memilih ke Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa penjajahan Belanda, Desa Prawoto di fungsikan sebagai distrik Karesidenan yang membawai daerah Pati sampai perbatasan Tuban Jawa Timur, Kudus, Jepara bahkan Demak. Sampai sekarang perkantoran Karesidenan warisan Belanda masih berdiri kokoh dan sebagian difungsikan untuk kepentingan Desa. Tidak hanya itu, di tengah-tengah desa terdapat semacam alun-alun kecil dengan kolam air besar yang konon juga peninggalan Belanda. Tidak sedikit yang berpendapat kolam tersebut peninggalan jauh sebelum Belanda, alias peninggalan Sunan Prawoto. Sehingga, kolam tersebut sering dibuat mandi para tokoh-tokoh dan Ulama\u2019 dari luar kota di Jawa, seperti Pekalongan, Batang, Kendal, Magelang, Solo dan lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Di Desa Prawoto terdapat dua makam Sunan Prawoto, di daerah bawah dan di daerah atas istilah masyarakat menamainya. Terlepas mana yang benar Makam Sunan Prawoto tergantung keyakinan individu. Menurut arkeolog UGM yang saat itu ikut menjelaskan, bahwa yang dibawah adalah peninggalan situs dan yang di atas dari dulu berupa makam yang dikenal dengan makam Tabek. <\/p>\n\n\n\n

Rerata jenjang pendidikan masyarakat Prawoto maksimal tingkat SMA, hanya ada beberapa glintir yang samapi jenjang sarjana dan ada satu orang menjadi guru besar di UGM, namun sudah lama menetap di Yogyakarta, dan jarang pulang. Anehnya, walaupun rata-rata lulusan jenjang SMA, kemampuan dan skill mereka tak kalah dengan yang sarjana bahkan mentalnya pun demikian. Hal itu dapat dilihat dari cara bicara, cara berorganisasi, dan pola pikir maju seperti halnya sarjana. Itulah sekilah cerita tentang Prawoto.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke undangan, setelah aku baca, ternyata undangan tersebut sekaligus perintah dari pengurus YM3SK untuk mewakili datang di acara Haul Sunan Prawoto yang dilaksanakan di hari dan tanggal itu juga jam 19.00 WIB. Walaupun terkesan mendadak tidak seperti biasa jauh-jauh hari sudah ada pemberitahuan, seperti saat acara haul Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Ampel. Akhirnya tetap datang di acara haul Sunan Prawoto dengan berkoordinasi dan mengajak dengan teman-teman di dekat desa Prawoto. Berangkat sehabis sholat isya\u2019, sampai di desa Prawoto jam 19.45 WIB acara dbelum di mulai menunggu group rebana dari bapak-bapak polisi Polres Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Disaat-saat senggang tersebut, aku manfaatkan ngobrol dengan penduduk dan tokoh Ulama\u2019 setempat. Ternyata mereka selain punya warisan seni ketoprak juga punya kebudayaan menghisap rokok kretek. Selain rokok kretek mereka tidak mau. Karena budaya merokok kretek diyakini warisan leluhurnya. Jarang sekali orang-orang tua yang tidak merokok, terlihat tidak memegang dan membawa rokok kretek kebanyakan anak-anak usia sekolah. Sambil ngobrol mengupas sedikit sejarah Sunan Prawoto kita merokok kretek bersama. Dengan merokok kretek suasana santai dan keakraban terbentuk di serambi masjid Sunan Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Kebetulan posisiku duduk bersebelahan dengan salah satu tokoh juga Ulama\u2019 Prawoto. Umurnya sudah tergolong dapat bonus 16 tahun dati Tuhan. Itulah jawabannya saat aku tanya usianya berapa. Karena pingin tau, aku tanya kembali persisnya usia berapa, beliau menjawab diatas rata-rata umumnya usia manusia (60 tahun) yaitu 76 tahun. Ia menjawab sambil tersenyum dan memegang rokok kretek yang telah disulut, ia adalah Mbah Sholeh (nama samara).<\/p>\n\n\n\n

Saat menjawab, akupun terkaget, karena prediksiku umur sekitaran 50an. Raup wajahnya bersih, badannya terlihat sehat dan terlihat energik, tidak mau kalah dengan bapak-bapak lainnya yang saat itu ikut ngobrol yang rata-rata umur 48-60 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Akhirnya akupun penasaran, dan kembali bertanya. Mbah apa resepnya kok masih terlihat muda?. Ia pun menjawab, jauhi makanan yang ada obat penyedap rasanya, makananlah bahan alami seperti daun-daunan. Sampai detik ini ia mengaku tidak makan makanan yang ada penyedap rasanya, kalau ditawari atau ada suguhan di depannya, ia memilih tidak akan memakannya. Juga kalau ditawari dan disuguhi minuman yang bergula. Ia pun demikian menghindari. Kata masyarakat lainnya yang ikut ngobrol, Mbah Sholeh itu hidup sehat.<\/p>\n\n\n\n

Celetukan tersebut disikapi Mbah Sholeh  dengan senyuman dan sambil mengeluarkan asap rokok kretek dari mulutnya dan hidupnya. Kemudian aku bertanya lagi, kenapa Mbah merokok?. Ia pun tersenyum sambil menyedot kembali rokok kreteknya dengan menjawab, kalau merokok kretek membuat ia bahagia, dengan kondisi bahagia ini orang jadi awet muda. Kalau merokok membuat semangat, dengan semangat orang jadi giat dan kuat. Ia juga menceritakan memulai merokok kretek saat sudah Islam. Kata Islam disini bukan berarti saat masuk Islam, akan tetapi yang dimaksud saat sudah khitan atau usia baliq. Dahulu setelah ia dikhitan, bapaknya menyuruhnya merokok sebagai tanda sudah dewasa. <\/p>\n\n\n\n

Inilah pengakuan Mbah Sholeh, ternyata wajah yang bersih berseri, awet muda, fisiknya kuat dan energik, salah satu rahasinya adalah berbahagia dan giat. Agar bahagia dan giat ia selalu mengkonsumsi rokok kretek dan meninggalkan makanan dengan penyedap rasa.   
<\/p>\n","post_title":"Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bikin-awet-muda-dan-energik-rahasia-di-balik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-30 10:40:00","post_modified_gmt":"2019-09-30 03:40:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6112","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6101,"post_author":"877","post_date":"2019-09-26 10:08:08","post_date_gmt":"2019-09-26 03:08:08","post_content":"\n

Masa panen adalah saat yang dinanti-nanti petani tembakau. Tentunya harapan petani, tanaman tembakaunaya tumbuh dengan baik, kualitas bagus dan jumlahnya banyak, serta harganya bagus. Di saat tanaman tembakaunya bagus, baik kualitas dan kuantitasnya, biasanya diikuti dengan harga bagus pula. Namun tidak bisa dipastikan, karena masalah harga tidak bisa petani serta merta yang menentukan, ada faktor yang sanagat kompleks. Yaitu situasi dan kondisi sektor pertembakauan di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Organisasi kesehatan dunia WHO sebagai organisasi pemegang otoritas tertinggi kesehatan dunia, dengan lantaran mendapatkan sokokngan dana industri farmasi menjadikan organisasi WHO tidak lagi bertindak demi meningkatkan taraf kesehatan masyarakat dunia. Melainkan muncul liberalisasi kesehatan modern. WHO menjadi panjang tangan industri farmasi, dokter atau ilmuwan kesehatan menjadi alat perusahaan obat, menjadi ujung tombak industri farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Tidak menngherankan, jika di Indonesia sampai detik ini keberadaan dokter atau ilmuwan kesehatan penopang utama peredaran obat dan apotek. Yang terjadi ada take and give, saling memberi dan menerima. Bisa jadi pendapatan dokter di Indonesia lebih besar penjualan obat dari pada hasil dari konsumen atau pasien. Tak berhenti disitu, akibat di atas, memicu maraknya berdirinya apotek di Indonesia sampai tingkat Kecamatan dan desa. Masyarakat Indonesia dibuat hidupnya tergantung obat-obatan, mulai meninggalkan pengobatan alamiah tumbuh-tumbuhan dan sejenisnya. Bahkan masyarakat Indonesia dalam benaknya sudah terkontaminasi rezim kesehatan, semua penyakit harus disembuhkan dengan mengkonsumsi obat. Yang lebih menyedihkan lagi, praktek-praktek tradisional mulai terkikis dan hilang dari peredaran. Ambil contoh, dukun bayi, jamu tradisional, tumbuhan obat-obatan mulai tertelan bumi.     <\/p>\n\n\n\n

Turunan dari UU No. 39 tahun 2007 diatas, muncul Permenkeu No. 200\/PMK\/04\/2008, tentang aturan tata cara pemberian, pembekuan dan pencabutan nomor pokok pengusahaan barang cukai untuk pabrik atau industri hasil tembakau. Dalam aturan ini, memberlakukan ketentuan yang sangat berat bagi industri rokok kretek rumahan (industri kecil). Yaitu salah satunya, aturan industri kretek bangunan luasnya harus 200 meter persegi, tidak berhubungan langsung dengan bangunan rumah tempat tinggal, halaman rumah dan tempat lain yang bukan bagian pabrik, dan diharuskan bangunan tersebut di pinggir jalan umum. Gara-gara aturan ini, banyak industri kecil rumahan mati. Sebelum ada aturan ini, di kota Kudus sendiri banyak sekali industri kretek rumahan belum lagi di kota lain seperti kabupaten Jember, Malang dan lainnya.  <\/p>\n\n\n\n

Setelah Permenkeu No. 200\/PMK\/04\/2008, muncul Permenkeu lainnya, seperti Permenkeu No. 191\/PMK.04\/2010, Permenkeu No. 78\/PMK.011\/2013, Permenkeu 84\/2008, Permenkeu 20\/2009. Dari semua Permenkeu tersebut, semuanya mengarah pelemahan industri rokok kretek nasional yang didasari dari intervensi rezim kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2009 muncul Undang-undang No. 28 Tentang pajak daerah dan retribusi daerah atau lebih sederhanya di sebut pajak daerah selain cukai. Besaran pajak daerah ini 10% atas produk tembakau. Unduang-undang ini adopsi dari framework convention on tobacco control (FCTC). Tujuan utama pungutan pajak daerah ini sama halnya pergeseran paradigma pungutan cukai, yaitu untuk menekan peredaran rokok kretek nasional. Kemudian muncul PP 109 tahun 2012 yang didalamnya tembakau dimasukan sebagai bahan zat adiktif, ini sebagai upaya ektrim untuk mematikan rokok kretek Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, kampanye isu negatif terhadap rokok kretek. Hampir semua penyakit yang diderita manusia dikaitkan dampak dari rokok, baik bagi perokok maupun yang tidak merokok. Tanpa dasar, tanpa bukti keberadaan rokok kretek sebagai sumber dari segala penyakit. Lebih tidak rasional lagi, semua dampak yang terjadi di masyarakat selalu dikaitkan dengan rokok kretek. Ambil contoh, kemiskinan di Indonesia salah satu penyebabnya karena mengkonsumsi rokok kretek. Naiknya iuran BPJS gara-gara banyak tunggakan yang belum terbayar, gara-gara pengurusan yang tidak akuntabel dikaitkan dengan konsumsi rokok kretek, memberikan nuansa negatif pada perokok. Sampai hal-hal yang terkecil seperti keberadaan sampah, polusi udara selalu keberadaan rokok kretek selalu disalahkan. Inilah bentuk kampanye anti rokok, bertujuan mematikan industri rokok kretek nasional. Setelah industri mati, farmasi melenggang memonopoli perdagangan nikotin.   <\/p>\n\n\n\n

Pengaruh wacana kesehatan global yang dikampanyekan kelompok anti tembakau dan rokok kretek telah menyusup dalam regulasi di Negara Indonesia. Melalui kebijakan pengaturan peredaran tembakau dan membuat isu negatif rokok kretek sangat didominasi rezim kesehatan, menafikan aspek ekonomi, sosial dan budaya yang telah mengakar berates tahun. Pada akhirnya kebijakan tembakau di Indonesia melemahkan industri kretek nasional, yang selama ini menjadi sumber penghidupan berpuluh-puluh juta rakyat yang terintegrasi dengan insdustri rokok kretek nasional.  
<\/p>\n","post_title":"Beratnya Perjalanan Rokok Kretek di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beratnya-perjalanan-kretek-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-12 10:28:19","post_modified_gmt":"2019-10-12 03:28:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6142","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6112,"post_author":"877","post_date":"2019-09-30 10:39:53","post_date_gmt":"2019-09-30 03:39:53","post_content":"\n

Mbah Sholeh, salah satu tokoh di Desa Prawoto Pati Jawa Tengah, ia selalu mengkonsumsi rokok kretek untuk memacu gairah semangat hidupnya diusia menjelang senja. Usia boleh bertambah kepala tujuh, namun fisik tetap bugar, seger dan energik. <\/p>\n\n\n\n

Sore itu sehabis ashar hari senin tanggal 23 September 2019, salah satu pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) menghampiriku sembari menyerahkan kertas undangan. Saat itu, aku sendiri sudah di atas motor mau bergegas pergi belanja untuk keperluan Mbah Pae panggilan akrab simbah KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus. Saat ini, beliau menjadi bapak masyarakat Kudus, sehingga banyak orang memanggilnya \u201cMbah Pae\u201d, putra dan cucunya pun memanggil demikian. <\/p>\n\n\n\n

Undangan dari pengurus YM3SK aku masukkan ke kantong saku celana, kemudian lanjut pergi belanja. Walaupun hari sudah sore, panas matahari masih terasa, terlebih saat menyinari kulit yang tidak terbungkus kain pakaian. Seakan-akan hari itu matahari semangat menyinari bumi mengiringi musim kemarau. Sepulang dari belanja akupun menuju dapur mengambil gelas dan air minum. Sambil minum aku buka undangan tersebut dan aku baca. Ternyata undangan tersebut pemberitahuan ada acara pengajian dalam rangka Haul Agung Kanjeng Sunan Prawoto Raden Haryo Bagus Mu\u2019min atau biasa dipanggil Mbah Tabek.<\/p>\n\n\n\n

Sunan Prawoto adalah raja keempat dari Kesultanan Demak yang memerintah tahun 1546-1549. Nama lahirnya Raden Mukmin, seorang agamis dari keturunan Kerajaan Demak Bintoro. Putra Sulung Raja Demak Sultan Trenggono. Ia terkenal dengan sebutan Sunan Prawoto, karena daerah yang disinggahi hingga akhir wafatnya bernama Desa Prawoto dalam wilayah kabupaten Pati Jawa Tengah berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kudus bagian selatan. Konon Desa Prawoto sebagai Kerajaan Kecil setelah Kerajaan Demak hancur. Raden Mukmin inilah yang memboyong Kerajaan Demak ke Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Saat ini Desa Prawoto adalah desa perbukitan, dengan hawa yang tidak terlalu dingin saat malam hari dan tidak terlalu panas pada siang hari. Walaupun hanya perbukitan, di Prawoto masih banyak pohon-pohon besar dan hijau memberikan kesejukan. Saat malam tiba, dari perbukitan Prawoto nampak jelas wilayah kota Kudus. Memang daerah Prowoto lebih dekat dengan kota Kudus dari pada Kota Pati. Bahkan budaya dan adat istiadatnya pun kental dengan budaya keKudusan. Sebagian besar masyarakat Prawoto aktifitas seharinya kewilayah Kudus, seperti bekerja, berdagang, pergi kepasar, sekolah, bahkan samapi memanfaatkan fasilitas ATM mereka memilih ke Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa penjajahan Belanda, Desa Prawoto di fungsikan sebagai distrik Karesidenan yang membawai daerah Pati sampai perbatasan Tuban Jawa Timur, Kudus, Jepara bahkan Demak. Sampai sekarang perkantoran Karesidenan warisan Belanda masih berdiri kokoh dan sebagian difungsikan untuk kepentingan Desa. Tidak hanya itu, di tengah-tengah desa terdapat semacam alun-alun kecil dengan kolam air besar yang konon juga peninggalan Belanda. Tidak sedikit yang berpendapat kolam tersebut peninggalan jauh sebelum Belanda, alias peninggalan Sunan Prawoto. Sehingga, kolam tersebut sering dibuat mandi para tokoh-tokoh dan Ulama\u2019 dari luar kota di Jawa, seperti Pekalongan, Batang, Kendal, Magelang, Solo dan lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Di Desa Prawoto terdapat dua makam Sunan Prawoto, di daerah bawah dan di daerah atas istilah masyarakat menamainya. Terlepas mana yang benar Makam Sunan Prawoto tergantung keyakinan individu. Menurut arkeolog UGM yang saat itu ikut menjelaskan, bahwa yang dibawah adalah peninggalan situs dan yang di atas dari dulu berupa makam yang dikenal dengan makam Tabek. <\/p>\n\n\n\n

Rerata jenjang pendidikan masyarakat Prawoto maksimal tingkat SMA, hanya ada beberapa glintir yang samapi jenjang sarjana dan ada satu orang menjadi guru besar di UGM, namun sudah lama menetap di Yogyakarta, dan jarang pulang. Anehnya, walaupun rata-rata lulusan jenjang SMA, kemampuan dan skill mereka tak kalah dengan yang sarjana bahkan mentalnya pun demikian. Hal itu dapat dilihat dari cara bicara, cara berorganisasi, dan pola pikir maju seperti halnya sarjana. Itulah sekilah cerita tentang Prawoto.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke undangan, setelah aku baca, ternyata undangan tersebut sekaligus perintah dari pengurus YM3SK untuk mewakili datang di acara Haul Sunan Prawoto yang dilaksanakan di hari dan tanggal itu juga jam 19.00 WIB. Walaupun terkesan mendadak tidak seperti biasa jauh-jauh hari sudah ada pemberitahuan, seperti saat acara haul Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Ampel. Akhirnya tetap datang di acara haul Sunan Prawoto dengan berkoordinasi dan mengajak dengan teman-teman di dekat desa Prawoto. Berangkat sehabis sholat isya\u2019, sampai di desa Prawoto jam 19.45 WIB acara dbelum di mulai menunggu group rebana dari bapak-bapak polisi Polres Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Disaat-saat senggang tersebut, aku manfaatkan ngobrol dengan penduduk dan tokoh Ulama\u2019 setempat. Ternyata mereka selain punya warisan seni ketoprak juga punya kebudayaan menghisap rokok kretek. Selain rokok kretek mereka tidak mau. Karena budaya merokok kretek diyakini warisan leluhurnya. Jarang sekali orang-orang tua yang tidak merokok, terlihat tidak memegang dan membawa rokok kretek kebanyakan anak-anak usia sekolah. Sambil ngobrol mengupas sedikit sejarah Sunan Prawoto kita merokok kretek bersama. Dengan merokok kretek suasana santai dan keakraban terbentuk di serambi masjid Sunan Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Kebetulan posisiku duduk bersebelahan dengan salah satu tokoh juga Ulama\u2019 Prawoto. Umurnya sudah tergolong dapat bonus 16 tahun dati Tuhan. Itulah jawabannya saat aku tanya usianya berapa. Karena pingin tau, aku tanya kembali persisnya usia berapa, beliau menjawab diatas rata-rata umumnya usia manusia (60 tahun) yaitu 76 tahun. Ia menjawab sambil tersenyum dan memegang rokok kretek yang telah disulut, ia adalah Mbah Sholeh (nama samara).<\/p>\n\n\n\n

Saat menjawab, akupun terkaget, karena prediksiku umur sekitaran 50an. Raup wajahnya bersih, badannya terlihat sehat dan terlihat energik, tidak mau kalah dengan bapak-bapak lainnya yang saat itu ikut ngobrol yang rata-rata umur 48-60 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Akhirnya akupun penasaran, dan kembali bertanya. Mbah apa resepnya kok masih terlihat muda?. Ia pun menjawab, jauhi makanan yang ada obat penyedap rasanya, makananlah bahan alami seperti daun-daunan. Sampai detik ini ia mengaku tidak makan makanan yang ada penyedap rasanya, kalau ditawari atau ada suguhan di depannya, ia memilih tidak akan memakannya. Juga kalau ditawari dan disuguhi minuman yang bergula. Ia pun demikian menghindari. Kata masyarakat lainnya yang ikut ngobrol, Mbah Sholeh itu hidup sehat.<\/p>\n\n\n\n

Celetukan tersebut disikapi Mbah Sholeh  dengan senyuman dan sambil mengeluarkan asap rokok kretek dari mulutnya dan hidupnya. Kemudian aku bertanya lagi, kenapa Mbah merokok?. Ia pun tersenyum sambil menyedot kembali rokok kreteknya dengan menjawab, kalau merokok kretek membuat ia bahagia, dengan kondisi bahagia ini orang jadi awet muda. Kalau merokok membuat semangat, dengan semangat orang jadi giat dan kuat. Ia juga menceritakan memulai merokok kretek saat sudah Islam. Kata Islam disini bukan berarti saat masuk Islam, akan tetapi yang dimaksud saat sudah khitan atau usia baliq. Dahulu setelah ia dikhitan, bapaknya menyuruhnya merokok sebagai tanda sudah dewasa. <\/p>\n\n\n\n

Inilah pengakuan Mbah Sholeh, ternyata wajah yang bersih berseri, awet muda, fisiknya kuat dan energik, salah satu rahasinya adalah berbahagia dan giat. Agar bahagia dan giat ia selalu mengkonsumsi rokok kretek dan meninggalkan makanan dengan penyedap rasa.   
<\/p>\n","post_title":"Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bikin-awet-muda-dan-energik-rahasia-di-balik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-30 10:40:00","post_modified_gmt":"2019-09-30 03:40:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6112","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6101,"post_author":"877","post_date":"2019-09-26 10:08:08","post_date_gmt":"2019-09-26 03:08:08","post_content":"\n

Masa panen adalah saat yang dinanti-nanti petani tembakau. Tentunya harapan petani, tanaman tembakaunaya tumbuh dengan baik, kualitas bagus dan jumlahnya banyak, serta harganya bagus. Di saat tanaman tembakaunya bagus, baik kualitas dan kuantitasnya, biasanya diikuti dengan harga bagus pula. Namun tidak bisa dipastikan, karena masalah harga tidak bisa petani serta merta yang menentukan, ada faktor yang sanagat kompleks. Yaitu situasi dan kondisi sektor pertembakauan di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kemitraan antara WHO dan industri farmasi multinasional , setelah adanya riset di Amerika Serikat yang dilakukan lembaga penelitian kesehatan Surgeon General yang mengaitkan konsumsi nikotin tembakau dengan kesehatan. Riset tersebut memicu pengambilalihan bisnis nikotin diberbagai Negara termasuk Indonesia. Karena secara alamiah, kandungan nikotin terbesar ada di daun tembakau. Nikotin bagi ilmuwan kesehatan mempunyai banyak manfaat untuk pengobatan dan aneka terapi. <\/p>\n\n\n\n

Organisasi kesehatan dunia WHO sebagai organisasi pemegang otoritas tertinggi kesehatan dunia, dengan lantaran mendapatkan sokokngan dana industri farmasi menjadikan organisasi WHO tidak lagi bertindak demi meningkatkan taraf kesehatan masyarakat dunia. Melainkan muncul liberalisasi kesehatan modern. WHO menjadi panjang tangan industri farmasi, dokter atau ilmuwan kesehatan menjadi alat perusahaan obat, menjadi ujung tombak industri farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Tidak menngherankan, jika di Indonesia sampai detik ini keberadaan dokter atau ilmuwan kesehatan penopang utama peredaran obat dan apotek. Yang terjadi ada take and give, saling memberi dan menerima. Bisa jadi pendapatan dokter di Indonesia lebih besar penjualan obat dari pada hasil dari konsumen atau pasien. Tak berhenti disitu, akibat di atas, memicu maraknya berdirinya apotek di Indonesia sampai tingkat Kecamatan dan desa. Masyarakat Indonesia dibuat hidupnya tergantung obat-obatan, mulai meninggalkan pengobatan alamiah tumbuh-tumbuhan dan sejenisnya. Bahkan masyarakat Indonesia dalam benaknya sudah terkontaminasi rezim kesehatan, semua penyakit harus disembuhkan dengan mengkonsumsi obat. Yang lebih menyedihkan lagi, praktek-praktek tradisional mulai terkikis dan hilang dari peredaran. Ambil contoh, dukun bayi, jamu tradisional, tumbuhan obat-obatan mulai tertelan bumi.     <\/p>\n\n\n\n

Turunan dari UU No. 39 tahun 2007 diatas, muncul Permenkeu No. 200\/PMK\/04\/2008, tentang aturan tata cara pemberian, pembekuan dan pencabutan nomor pokok pengusahaan barang cukai untuk pabrik atau industri hasil tembakau. Dalam aturan ini, memberlakukan ketentuan yang sangat berat bagi industri rokok kretek rumahan (industri kecil). Yaitu salah satunya, aturan industri kretek bangunan luasnya harus 200 meter persegi, tidak berhubungan langsung dengan bangunan rumah tempat tinggal, halaman rumah dan tempat lain yang bukan bagian pabrik, dan diharuskan bangunan tersebut di pinggir jalan umum. Gara-gara aturan ini, banyak industri kecil rumahan mati. Sebelum ada aturan ini, di kota Kudus sendiri banyak sekali industri kretek rumahan belum lagi di kota lain seperti kabupaten Jember, Malang dan lainnya.  <\/p>\n\n\n\n

Setelah Permenkeu No. 200\/PMK\/04\/2008, muncul Permenkeu lainnya, seperti Permenkeu No. 191\/PMK.04\/2010, Permenkeu No. 78\/PMK.011\/2013, Permenkeu 84\/2008, Permenkeu 20\/2009. Dari semua Permenkeu tersebut, semuanya mengarah pelemahan industri rokok kretek nasional yang didasari dari intervensi rezim kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2009 muncul Undang-undang No. 28 Tentang pajak daerah dan retribusi daerah atau lebih sederhanya di sebut pajak daerah selain cukai. Besaran pajak daerah ini 10% atas produk tembakau. Unduang-undang ini adopsi dari framework convention on tobacco control (FCTC). Tujuan utama pungutan pajak daerah ini sama halnya pergeseran paradigma pungutan cukai, yaitu untuk menekan peredaran rokok kretek nasional. Kemudian muncul PP 109 tahun 2012 yang didalamnya tembakau dimasukan sebagai bahan zat adiktif, ini sebagai upaya ektrim untuk mematikan rokok kretek Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, kampanye isu negatif terhadap rokok kretek. Hampir semua penyakit yang diderita manusia dikaitkan dampak dari rokok, baik bagi perokok maupun yang tidak merokok. Tanpa dasar, tanpa bukti keberadaan rokok kretek sebagai sumber dari segala penyakit. Lebih tidak rasional lagi, semua dampak yang terjadi di masyarakat selalu dikaitkan dengan rokok kretek. Ambil contoh, kemiskinan di Indonesia salah satu penyebabnya karena mengkonsumsi rokok kretek. Naiknya iuran BPJS gara-gara banyak tunggakan yang belum terbayar, gara-gara pengurusan yang tidak akuntabel dikaitkan dengan konsumsi rokok kretek, memberikan nuansa negatif pada perokok. Sampai hal-hal yang terkecil seperti keberadaan sampah, polusi udara selalu keberadaan rokok kretek selalu disalahkan. Inilah bentuk kampanye anti rokok, bertujuan mematikan industri rokok kretek nasional. Setelah industri mati, farmasi melenggang memonopoli perdagangan nikotin.   <\/p>\n\n\n\n

Pengaruh wacana kesehatan global yang dikampanyekan kelompok anti tembakau dan rokok kretek telah menyusup dalam regulasi di Negara Indonesia. Melalui kebijakan pengaturan peredaran tembakau dan membuat isu negatif rokok kretek sangat didominasi rezim kesehatan, menafikan aspek ekonomi, sosial dan budaya yang telah mengakar berates tahun. Pada akhirnya kebijakan tembakau di Indonesia melemahkan industri kretek nasional, yang selama ini menjadi sumber penghidupan berpuluh-puluh juta rakyat yang terintegrasi dengan insdustri rokok kretek nasional.  
<\/p>\n","post_title":"Beratnya Perjalanan Rokok Kretek di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beratnya-perjalanan-kretek-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-12 10:28:19","post_modified_gmt":"2019-10-12 03:28:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6142","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6112,"post_author":"877","post_date":"2019-09-30 10:39:53","post_date_gmt":"2019-09-30 03:39:53","post_content":"\n

Mbah Sholeh, salah satu tokoh di Desa Prawoto Pati Jawa Tengah, ia selalu mengkonsumsi rokok kretek untuk memacu gairah semangat hidupnya diusia menjelang senja. Usia boleh bertambah kepala tujuh, namun fisik tetap bugar, seger dan energik. <\/p>\n\n\n\n

Sore itu sehabis ashar hari senin tanggal 23 September 2019, salah satu pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) menghampiriku sembari menyerahkan kertas undangan. Saat itu, aku sendiri sudah di atas motor mau bergegas pergi belanja untuk keperluan Mbah Pae panggilan akrab simbah KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus. Saat ini, beliau menjadi bapak masyarakat Kudus, sehingga banyak orang memanggilnya \u201cMbah Pae\u201d, putra dan cucunya pun memanggil demikian. <\/p>\n\n\n\n

Undangan dari pengurus YM3SK aku masukkan ke kantong saku celana, kemudian lanjut pergi belanja. Walaupun hari sudah sore, panas matahari masih terasa, terlebih saat menyinari kulit yang tidak terbungkus kain pakaian. Seakan-akan hari itu matahari semangat menyinari bumi mengiringi musim kemarau. Sepulang dari belanja akupun menuju dapur mengambil gelas dan air minum. Sambil minum aku buka undangan tersebut dan aku baca. Ternyata undangan tersebut pemberitahuan ada acara pengajian dalam rangka Haul Agung Kanjeng Sunan Prawoto Raden Haryo Bagus Mu\u2019min atau biasa dipanggil Mbah Tabek.<\/p>\n\n\n\n

Sunan Prawoto adalah raja keempat dari Kesultanan Demak yang memerintah tahun 1546-1549. Nama lahirnya Raden Mukmin, seorang agamis dari keturunan Kerajaan Demak Bintoro. Putra Sulung Raja Demak Sultan Trenggono. Ia terkenal dengan sebutan Sunan Prawoto, karena daerah yang disinggahi hingga akhir wafatnya bernama Desa Prawoto dalam wilayah kabupaten Pati Jawa Tengah berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kudus bagian selatan. Konon Desa Prawoto sebagai Kerajaan Kecil setelah Kerajaan Demak hancur. Raden Mukmin inilah yang memboyong Kerajaan Demak ke Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Saat ini Desa Prawoto adalah desa perbukitan, dengan hawa yang tidak terlalu dingin saat malam hari dan tidak terlalu panas pada siang hari. Walaupun hanya perbukitan, di Prawoto masih banyak pohon-pohon besar dan hijau memberikan kesejukan. Saat malam tiba, dari perbukitan Prawoto nampak jelas wilayah kota Kudus. Memang daerah Prowoto lebih dekat dengan kota Kudus dari pada Kota Pati. Bahkan budaya dan adat istiadatnya pun kental dengan budaya keKudusan. Sebagian besar masyarakat Prawoto aktifitas seharinya kewilayah Kudus, seperti bekerja, berdagang, pergi kepasar, sekolah, bahkan samapi memanfaatkan fasilitas ATM mereka memilih ke Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa penjajahan Belanda, Desa Prawoto di fungsikan sebagai distrik Karesidenan yang membawai daerah Pati sampai perbatasan Tuban Jawa Timur, Kudus, Jepara bahkan Demak. Sampai sekarang perkantoran Karesidenan warisan Belanda masih berdiri kokoh dan sebagian difungsikan untuk kepentingan Desa. Tidak hanya itu, di tengah-tengah desa terdapat semacam alun-alun kecil dengan kolam air besar yang konon juga peninggalan Belanda. Tidak sedikit yang berpendapat kolam tersebut peninggalan jauh sebelum Belanda, alias peninggalan Sunan Prawoto. Sehingga, kolam tersebut sering dibuat mandi para tokoh-tokoh dan Ulama\u2019 dari luar kota di Jawa, seperti Pekalongan, Batang, Kendal, Magelang, Solo dan lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Di Desa Prawoto terdapat dua makam Sunan Prawoto, di daerah bawah dan di daerah atas istilah masyarakat menamainya. Terlepas mana yang benar Makam Sunan Prawoto tergantung keyakinan individu. Menurut arkeolog UGM yang saat itu ikut menjelaskan, bahwa yang dibawah adalah peninggalan situs dan yang di atas dari dulu berupa makam yang dikenal dengan makam Tabek. <\/p>\n\n\n\n

Rerata jenjang pendidikan masyarakat Prawoto maksimal tingkat SMA, hanya ada beberapa glintir yang samapi jenjang sarjana dan ada satu orang menjadi guru besar di UGM, namun sudah lama menetap di Yogyakarta, dan jarang pulang. Anehnya, walaupun rata-rata lulusan jenjang SMA, kemampuan dan skill mereka tak kalah dengan yang sarjana bahkan mentalnya pun demikian. Hal itu dapat dilihat dari cara bicara, cara berorganisasi, dan pola pikir maju seperti halnya sarjana. Itulah sekilah cerita tentang Prawoto.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke undangan, setelah aku baca, ternyata undangan tersebut sekaligus perintah dari pengurus YM3SK untuk mewakili datang di acara Haul Sunan Prawoto yang dilaksanakan di hari dan tanggal itu juga jam 19.00 WIB. Walaupun terkesan mendadak tidak seperti biasa jauh-jauh hari sudah ada pemberitahuan, seperti saat acara haul Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Ampel. Akhirnya tetap datang di acara haul Sunan Prawoto dengan berkoordinasi dan mengajak dengan teman-teman di dekat desa Prawoto. Berangkat sehabis sholat isya\u2019, sampai di desa Prawoto jam 19.45 WIB acara dbelum di mulai menunggu group rebana dari bapak-bapak polisi Polres Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Disaat-saat senggang tersebut, aku manfaatkan ngobrol dengan penduduk dan tokoh Ulama\u2019 setempat. Ternyata mereka selain punya warisan seni ketoprak juga punya kebudayaan menghisap rokok kretek. Selain rokok kretek mereka tidak mau. Karena budaya merokok kretek diyakini warisan leluhurnya. Jarang sekali orang-orang tua yang tidak merokok, terlihat tidak memegang dan membawa rokok kretek kebanyakan anak-anak usia sekolah. Sambil ngobrol mengupas sedikit sejarah Sunan Prawoto kita merokok kretek bersama. Dengan merokok kretek suasana santai dan keakraban terbentuk di serambi masjid Sunan Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Kebetulan posisiku duduk bersebelahan dengan salah satu tokoh juga Ulama\u2019 Prawoto. Umurnya sudah tergolong dapat bonus 16 tahun dati Tuhan. Itulah jawabannya saat aku tanya usianya berapa. Karena pingin tau, aku tanya kembali persisnya usia berapa, beliau menjawab diatas rata-rata umumnya usia manusia (60 tahun) yaitu 76 tahun. Ia menjawab sambil tersenyum dan memegang rokok kretek yang telah disulut, ia adalah Mbah Sholeh (nama samara).<\/p>\n\n\n\n

Saat menjawab, akupun terkaget, karena prediksiku umur sekitaran 50an. Raup wajahnya bersih, badannya terlihat sehat dan terlihat energik, tidak mau kalah dengan bapak-bapak lainnya yang saat itu ikut ngobrol yang rata-rata umur 48-60 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Akhirnya akupun penasaran, dan kembali bertanya. Mbah apa resepnya kok masih terlihat muda?. Ia pun menjawab, jauhi makanan yang ada obat penyedap rasanya, makananlah bahan alami seperti daun-daunan. Sampai detik ini ia mengaku tidak makan makanan yang ada penyedap rasanya, kalau ditawari atau ada suguhan di depannya, ia memilih tidak akan memakannya. Juga kalau ditawari dan disuguhi minuman yang bergula. Ia pun demikian menghindari. Kata masyarakat lainnya yang ikut ngobrol, Mbah Sholeh itu hidup sehat.<\/p>\n\n\n\n

Celetukan tersebut disikapi Mbah Sholeh  dengan senyuman dan sambil mengeluarkan asap rokok kretek dari mulutnya dan hidupnya. Kemudian aku bertanya lagi, kenapa Mbah merokok?. Ia pun tersenyum sambil menyedot kembali rokok kreteknya dengan menjawab, kalau merokok kretek membuat ia bahagia, dengan kondisi bahagia ini orang jadi awet muda. Kalau merokok membuat semangat, dengan semangat orang jadi giat dan kuat. Ia juga menceritakan memulai merokok kretek saat sudah Islam. Kata Islam disini bukan berarti saat masuk Islam, akan tetapi yang dimaksud saat sudah khitan atau usia baliq. Dahulu setelah ia dikhitan, bapaknya menyuruhnya merokok sebagai tanda sudah dewasa. <\/p>\n\n\n\n

Inilah pengakuan Mbah Sholeh, ternyata wajah yang bersih berseri, awet muda, fisiknya kuat dan energik, salah satu rahasinya adalah berbahagia dan giat. Agar bahagia dan giat ia selalu mengkonsumsi rokok kretek dan meninggalkan makanan dengan penyedap rasa.   
<\/p>\n","post_title":"Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bikin-awet-muda-dan-energik-rahasia-di-balik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-30 10:40:00","post_modified_gmt":"2019-09-30 03:40:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6112","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6101,"post_author":"877","post_date":"2019-09-26 10:08:08","post_date_gmt":"2019-09-26 03:08:08","post_content":"\n

Masa panen adalah saat yang dinanti-nanti petani tembakau. Tentunya harapan petani, tanaman tembakaunaya tumbuh dengan baik, kualitas bagus dan jumlahnya banyak, serta harganya bagus. Di saat tanaman tembakaunya bagus, baik kualitas dan kuantitasnya, biasanya diikuti dengan harga bagus pula. Namun tidak bisa dipastikan, karena masalah harga tidak bisa petani serta merta yang menentukan, ada faktor yang sanagat kompleks. Yaitu situasi dan kondisi sektor pertembakauan di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Mulai tahun 2007 sampai sekarang rezim kesehatan mendominasi aturan kretek. Kejadian ini akibat desekan dan tekanan dunia internasional setelah terjadi perselingkuhan WHO dengan perusahaan farmasi multinasional di Swiss pada tanggal 30 Januari 1999. Direktur Jenderal WHO, Gro Harlem Brundtland mengumumkan proyek kemitraan antara WHO dan perusahaan farmasi multinasional Pharmacia & Upjohn, Novartis dan Glaxo Wellcome untuk pengembangan nicotine replacement therapy (NRT). Dalam pidatonya, Brundtland terang-terangan mendeklarasikan kampanye anti rokok untuk mensukseskan tujuan bersama. <\/p>\n\n\n\n

Kemitraan antara WHO dan industri farmasi multinasional , setelah adanya riset di Amerika Serikat yang dilakukan lembaga penelitian kesehatan Surgeon General yang mengaitkan konsumsi nikotin tembakau dengan kesehatan. Riset tersebut memicu pengambilalihan bisnis nikotin diberbagai Negara termasuk Indonesia. Karena secara alamiah, kandungan nikotin terbesar ada di daun tembakau. Nikotin bagi ilmuwan kesehatan mempunyai banyak manfaat untuk pengobatan dan aneka terapi. <\/p>\n\n\n\n

Organisasi kesehatan dunia WHO sebagai organisasi pemegang otoritas tertinggi kesehatan dunia, dengan lantaran mendapatkan sokokngan dana industri farmasi menjadikan organisasi WHO tidak lagi bertindak demi meningkatkan taraf kesehatan masyarakat dunia. Melainkan muncul liberalisasi kesehatan modern. WHO menjadi panjang tangan industri farmasi, dokter atau ilmuwan kesehatan menjadi alat perusahaan obat, menjadi ujung tombak industri farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Tidak menngherankan, jika di Indonesia sampai detik ini keberadaan dokter atau ilmuwan kesehatan penopang utama peredaran obat dan apotek. Yang terjadi ada take and give, saling memberi dan menerima. Bisa jadi pendapatan dokter di Indonesia lebih besar penjualan obat dari pada hasil dari konsumen atau pasien. Tak berhenti disitu, akibat di atas, memicu maraknya berdirinya apotek di Indonesia sampai tingkat Kecamatan dan desa. Masyarakat Indonesia dibuat hidupnya tergantung obat-obatan, mulai meninggalkan pengobatan alamiah tumbuh-tumbuhan dan sejenisnya. Bahkan masyarakat Indonesia dalam benaknya sudah terkontaminasi rezim kesehatan, semua penyakit harus disembuhkan dengan mengkonsumsi obat. Yang lebih menyedihkan lagi, praktek-praktek tradisional mulai terkikis dan hilang dari peredaran. Ambil contoh, dukun bayi, jamu tradisional, tumbuhan obat-obatan mulai tertelan bumi.     <\/p>\n\n\n\n

Turunan dari UU No. 39 tahun 2007 diatas, muncul Permenkeu No. 200\/PMK\/04\/2008, tentang aturan tata cara pemberian, pembekuan dan pencabutan nomor pokok pengusahaan barang cukai untuk pabrik atau industri hasil tembakau. Dalam aturan ini, memberlakukan ketentuan yang sangat berat bagi industri rokok kretek rumahan (industri kecil). Yaitu salah satunya, aturan industri kretek bangunan luasnya harus 200 meter persegi, tidak berhubungan langsung dengan bangunan rumah tempat tinggal, halaman rumah dan tempat lain yang bukan bagian pabrik, dan diharuskan bangunan tersebut di pinggir jalan umum. Gara-gara aturan ini, banyak industri kecil rumahan mati. Sebelum ada aturan ini, di kota Kudus sendiri banyak sekali industri kretek rumahan belum lagi di kota lain seperti kabupaten Jember, Malang dan lainnya.  <\/p>\n\n\n\n

Setelah Permenkeu No. 200\/PMK\/04\/2008, muncul Permenkeu lainnya, seperti Permenkeu No. 191\/PMK.04\/2010, Permenkeu No. 78\/PMK.011\/2013, Permenkeu 84\/2008, Permenkeu 20\/2009. Dari semua Permenkeu tersebut, semuanya mengarah pelemahan industri rokok kretek nasional yang didasari dari intervensi rezim kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2009 muncul Undang-undang No. 28 Tentang pajak daerah dan retribusi daerah atau lebih sederhanya di sebut pajak daerah selain cukai. Besaran pajak daerah ini 10% atas produk tembakau. Unduang-undang ini adopsi dari framework convention on tobacco control (FCTC). Tujuan utama pungutan pajak daerah ini sama halnya pergeseran paradigma pungutan cukai, yaitu untuk menekan peredaran rokok kretek nasional. Kemudian muncul PP 109 tahun 2012 yang didalamnya tembakau dimasukan sebagai bahan zat adiktif, ini sebagai upaya ektrim untuk mematikan rokok kretek Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, kampanye isu negatif terhadap rokok kretek. Hampir semua penyakit yang diderita manusia dikaitkan dampak dari rokok, baik bagi perokok maupun yang tidak merokok. Tanpa dasar, tanpa bukti keberadaan rokok kretek sebagai sumber dari segala penyakit. Lebih tidak rasional lagi, semua dampak yang terjadi di masyarakat selalu dikaitkan dengan rokok kretek. Ambil contoh, kemiskinan di Indonesia salah satu penyebabnya karena mengkonsumsi rokok kretek. Naiknya iuran BPJS gara-gara banyak tunggakan yang belum terbayar, gara-gara pengurusan yang tidak akuntabel dikaitkan dengan konsumsi rokok kretek, memberikan nuansa negatif pada perokok. Sampai hal-hal yang terkecil seperti keberadaan sampah, polusi udara selalu keberadaan rokok kretek selalu disalahkan. Inilah bentuk kampanye anti rokok, bertujuan mematikan industri rokok kretek nasional. Setelah industri mati, farmasi melenggang memonopoli perdagangan nikotin.   <\/p>\n\n\n\n

Pengaruh wacana kesehatan global yang dikampanyekan kelompok anti tembakau dan rokok kretek telah menyusup dalam regulasi di Negara Indonesia. Melalui kebijakan pengaturan peredaran tembakau dan membuat isu negatif rokok kretek sangat didominasi rezim kesehatan, menafikan aspek ekonomi, sosial dan budaya yang telah mengakar berates tahun. Pada akhirnya kebijakan tembakau di Indonesia melemahkan industri kretek nasional, yang selama ini menjadi sumber penghidupan berpuluh-puluh juta rakyat yang terintegrasi dengan insdustri rokok kretek nasional.  
<\/p>\n","post_title":"Beratnya Perjalanan Rokok Kretek di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beratnya-perjalanan-kretek-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-12 10:28:19","post_modified_gmt":"2019-10-12 03:28:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6142","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6112,"post_author":"877","post_date":"2019-09-30 10:39:53","post_date_gmt":"2019-09-30 03:39:53","post_content":"\n

Mbah Sholeh, salah satu tokoh di Desa Prawoto Pati Jawa Tengah, ia selalu mengkonsumsi rokok kretek untuk memacu gairah semangat hidupnya diusia menjelang senja. Usia boleh bertambah kepala tujuh, namun fisik tetap bugar, seger dan energik. <\/p>\n\n\n\n

Sore itu sehabis ashar hari senin tanggal 23 September 2019, salah satu pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) menghampiriku sembari menyerahkan kertas undangan. Saat itu, aku sendiri sudah di atas motor mau bergegas pergi belanja untuk keperluan Mbah Pae panggilan akrab simbah KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus. Saat ini, beliau menjadi bapak masyarakat Kudus, sehingga banyak orang memanggilnya \u201cMbah Pae\u201d, putra dan cucunya pun memanggil demikian. <\/p>\n\n\n\n

Undangan dari pengurus YM3SK aku masukkan ke kantong saku celana, kemudian lanjut pergi belanja. Walaupun hari sudah sore, panas matahari masih terasa, terlebih saat menyinari kulit yang tidak terbungkus kain pakaian. Seakan-akan hari itu matahari semangat menyinari bumi mengiringi musim kemarau. Sepulang dari belanja akupun menuju dapur mengambil gelas dan air minum. Sambil minum aku buka undangan tersebut dan aku baca. Ternyata undangan tersebut pemberitahuan ada acara pengajian dalam rangka Haul Agung Kanjeng Sunan Prawoto Raden Haryo Bagus Mu\u2019min atau biasa dipanggil Mbah Tabek.<\/p>\n\n\n\n

Sunan Prawoto adalah raja keempat dari Kesultanan Demak yang memerintah tahun 1546-1549. Nama lahirnya Raden Mukmin, seorang agamis dari keturunan Kerajaan Demak Bintoro. Putra Sulung Raja Demak Sultan Trenggono. Ia terkenal dengan sebutan Sunan Prawoto, karena daerah yang disinggahi hingga akhir wafatnya bernama Desa Prawoto dalam wilayah kabupaten Pati Jawa Tengah berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kudus bagian selatan. Konon Desa Prawoto sebagai Kerajaan Kecil setelah Kerajaan Demak hancur. Raden Mukmin inilah yang memboyong Kerajaan Demak ke Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Saat ini Desa Prawoto adalah desa perbukitan, dengan hawa yang tidak terlalu dingin saat malam hari dan tidak terlalu panas pada siang hari. Walaupun hanya perbukitan, di Prawoto masih banyak pohon-pohon besar dan hijau memberikan kesejukan. Saat malam tiba, dari perbukitan Prawoto nampak jelas wilayah kota Kudus. Memang daerah Prowoto lebih dekat dengan kota Kudus dari pada Kota Pati. Bahkan budaya dan adat istiadatnya pun kental dengan budaya keKudusan. Sebagian besar masyarakat Prawoto aktifitas seharinya kewilayah Kudus, seperti bekerja, berdagang, pergi kepasar, sekolah, bahkan samapi memanfaatkan fasilitas ATM mereka memilih ke Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa penjajahan Belanda, Desa Prawoto di fungsikan sebagai distrik Karesidenan yang membawai daerah Pati sampai perbatasan Tuban Jawa Timur, Kudus, Jepara bahkan Demak. Sampai sekarang perkantoran Karesidenan warisan Belanda masih berdiri kokoh dan sebagian difungsikan untuk kepentingan Desa. Tidak hanya itu, di tengah-tengah desa terdapat semacam alun-alun kecil dengan kolam air besar yang konon juga peninggalan Belanda. Tidak sedikit yang berpendapat kolam tersebut peninggalan jauh sebelum Belanda, alias peninggalan Sunan Prawoto. Sehingga, kolam tersebut sering dibuat mandi para tokoh-tokoh dan Ulama\u2019 dari luar kota di Jawa, seperti Pekalongan, Batang, Kendal, Magelang, Solo dan lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Di Desa Prawoto terdapat dua makam Sunan Prawoto, di daerah bawah dan di daerah atas istilah masyarakat menamainya. Terlepas mana yang benar Makam Sunan Prawoto tergantung keyakinan individu. Menurut arkeolog UGM yang saat itu ikut menjelaskan, bahwa yang dibawah adalah peninggalan situs dan yang di atas dari dulu berupa makam yang dikenal dengan makam Tabek. <\/p>\n\n\n\n

Rerata jenjang pendidikan masyarakat Prawoto maksimal tingkat SMA, hanya ada beberapa glintir yang samapi jenjang sarjana dan ada satu orang menjadi guru besar di UGM, namun sudah lama menetap di Yogyakarta, dan jarang pulang. Anehnya, walaupun rata-rata lulusan jenjang SMA, kemampuan dan skill mereka tak kalah dengan yang sarjana bahkan mentalnya pun demikian. Hal itu dapat dilihat dari cara bicara, cara berorganisasi, dan pola pikir maju seperti halnya sarjana. Itulah sekilah cerita tentang Prawoto.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke undangan, setelah aku baca, ternyata undangan tersebut sekaligus perintah dari pengurus YM3SK untuk mewakili datang di acara Haul Sunan Prawoto yang dilaksanakan di hari dan tanggal itu juga jam 19.00 WIB. Walaupun terkesan mendadak tidak seperti biasa jauh-jauh hari sudah ada pemberitahuan, seperti saat acara haul Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Ampel. Akhirnya tetap datang di acara haul Sunan Prawoto dengan berkoordinasi dan mengajak dengan teman-teman di dekat desa Prawoto. Berangkat sehabis sholat isya\u2019, sampai di desa Prawoto jam 19.45 WIB acara dbelum di mulai menunggu group rebana dari bapak-bapak polisi Polres Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Disaat-saat senggang tersebut, aku manfaatkan ngobrol dengan penduduk dan tokoh Ulama\u2019 setempat. Ternyata mereka selain punya warisan seni ketoprak juga punya kebudayaan menghisap rokok kretek. Selain rokok kretek mereka tidak mau. Karena budaya merokok kretek diyakini warisan leluhurnya. Jarang sekali orang-orang tua yang tidak merokok, terlihat tidak memegang dan membawa rokok kretek kebanyakan anak-anak usia sekolah. Sambil ngobrol mengupas sedikit sejarah Sunan Prawoto kita merokok kretek bersama. Dengan merokok kretek suasana santai dan keakraban terbentuk di serambi masjid Sunan Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Kebetulan posisiku duduk bersebelahan dengan salah satu tokoh juga Ulama\u2019 Prawoto. Umurnya sudah tergolong dapat bonus 16 tahun dati Tuhan. Itulah jawabannya saat aku tanya usianya berapa. Karena pingin tau, aku tanya kembali persisnya usia berapa, beliau menjawab diatas rata-rata umumnya usia manusia (60 tahun) yaitu 76 tahun. Ia menjawab sambil tersenyum dan memegang rokok kretek yang telah disulut, ia adalah Mbah Sholeh (nama samara).<\/p>\n\n\n\n

Saat menjawab, akupun terkaget, karena prediksiku umur sekitaran 50an. Raup wajahnya bersih, badannya terlihat sehat dan terlihat energik, tidak mau kalah dengan bapak-bapak lainnya yang saat itu ikut ngobrol yang rata-rata umur 48-60 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Akhirnya akupun penasaran, dan kembali bertanya. Mbah apa resepnya kok masih terlihat muda?. Ia pun menjawab, jauhi makanan yang ada obat penyedap rasanya, makananlah bahan alami seperti daun-daunan. Sampai detik ini ia mengaku tidak makan makanan yang ada penyedap rasanya, kalau ditawari atau ada suguhan di depannya, ia memilih tidak akan memakannya. Juga kalau ditawari dan disuguhi minuman yang bergula. Ia pun demikian menghindari. Kata masyarakat lainnya yang ikut ngobrol, Mbah Sholeh itu hidup sehat.<\/p>\n\n\n\n

Celetukan tersebut disikapi Mbah Sholeh  dengan senyuman dan sambil mengeluarkan asap rokok kretek dari mulutnya dan hidupnya. Kemudian aku bertanya lagi, kenapa Mbah merokok?. Ia pun tersenyum sambil menyedot kembali rokok kreteknya dengan menjawab, kalau merokok kretek membuat ia bahagia, dengan kondisi bahagia ini orang jadi awet muda. Kalau merokok membuat semangat, dengan semangat orang jadi giat dan kuat. Ia juga menceritakan memulai merokok kretek saat sudah Islam. Kata Islam disini bukan berarti saat masuk Islam, akan tetapi yang dimaksud saat sudah khitan atau usia baliq. Dahulu setelah ia dikhitan, bapaknya menyuruhnya merokok sebagai tanda sudah dewasa. <\/p>\n\n\n\n

Inilah pengakuan Mbah Sholeh, ternyata wajah yang bersih berseri, awet muda, fisiknya kuat dan energik, salah satu rahasinya adalah berbahagia dan giat. Agar bahagia dan giat ia selalu mengkonsumsi rokok kretek dan meninggalkan makanan dengan penyedap rasa.   
<\/p>\n","post_title":"Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bikin-awet-muda-dan-energik-rahasia-di-balik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-30 10:40:00","post_modified_gmt":"2019-09-30 03:40:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6112","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6101,"post_author":"877","post_date":"2019-09-26 10:08:08","post_date_gmt":"2019-09-26 03:08:08","post_content":"\n

Masa panen adalah saat yang dinanti-nanti petani tembakau. Tentunya harapan petani, tanaman tembakaunaya tumbuh dengan baik, kualitas bagus dan jumlahnya banyak, serta harganya bagus. Di saat tanaman tembakaunya bagus, baik kualitas dan kuantitasnya, biasanya diikuti dengan harga bagus pula. Namun tidak bisa dipastikan, karena masalah harga tidak bisa petani serta merta yang menentukan, ada faktor yang sanagat kompleks. Yaitu situasi dan kondisi sektor pertembakauan di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Setelah merdeka, pungutan cukai tetap dilanjutkan sebagai bagian penguatan keuangan Negara, diatur pada Undang-undang No. 28 Tahun 1947 hingga Undang-undang No.11 Tahun 1995. Pada tahun 2007, terjadi pergeseran alasan pungutan cukai yang awalnya untuk penguatan keuangan Negara, kemudian bertujuan sebagai sarana pembatasan peredaran dan pemakaiannya. Pergeseran tujuan ini, karena dominasi rezim kesehatan. Yaitu munculnya UU No. 39 Tahun 2007,  Tentang perubahan atas UU No. 11 Tahun 1995. Dalam UU No. 39 tahun 2007 ini terlihat sangat kuat dominasi kesehatan. Sehingga memberi peluang peningkatan tarif cukai terjadi tiap tahun. Jadi naiknya tarif cukai menjadi jalan paling efektif untuk menekan lajunya peredaran rokok kretek. Terlihat, dari awal kemunculan pada abad 19 hingga tahun 1995, keberadaan industri kretek sangat berarti sebagai satu budaya yang mengakar di tengah-tengah masyarakat bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Mulai tahun 2007 sampai sekarang rezim kesehatan mendominasi aturan kretek. Kejadian ini akibat desekan dan tekanan dunia internasional setelah terjadi perselingkuhan WHO dengan perusahaan farmasi multinasional di Swiss pada tanggal 30 Januari 1999. Direktur Jenderal WHO, Gro Harlem Brundtland mengumumkan proyek kemitraan antara WHO dan perusahaan farmasi multinasional Pharmacia & Upjohn, Novartis dan Glaxo Wellcome untuk pengembangan nicotine replacement therapy (NRT). Dalam pidatonya, Brundtland terang-terangan mendeklarasikan kampanye anti rokok untuk mensukseskan tujuan bersama. <\/p>\n\n\n\n

Kemitraan antara WHO dan industri farmasi multinasional , setelah adanya riset di Amerika Serikat yang dilakukan lembaga penelitian kesehatan Surgeon General yang mengaitkan konsumsi nikotin tembakau dengan kesehatan. Riset tersebut memicu pengambilalihan bisnis nikotin diberbagai Negara termasuk Indonesia. Karena secara alamiah, kandungan nikotin terbesar ada di daun tembakau. Nikotin bagi ilmuwan kesehatan mempunyai banyak manfaat untuk pengobatan dan aneka terapi. <\/p>\n\n\n\n

Organisasi kesehatan dunia WHO sebagai organisasi pemegang otoritas tertinggi kesehatan dunia, dengan lantaran mendapatkan sokokngan dana industri farmasi menjadikan organisasi WHO tidak lagi bertindak demi meningkatkan taraf kesehatan masyarakat dunia. Melainkan muncul liberalisasi kesehatan modern. WHO menjadi panjang tangan industri farmasi, dokter atau ilmuwan kesehatan menjadi alat perusahaan obat, menjadi ujung tombak industri farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Tidak menngherankan, jika di Indonesia sampai detik ini keberadaan dokter atau ilmuwan kesehatan penopang utama peredaran obat dan apotek. Yang terjadi ada take and give, saling memberi dan menerima. Bisa jadi pendapatan dokter di Indonesia lebih besar penjualan obat dari pada hasil dari konsumen atau pasien. Tak berhenti disitu, akibat di atas, memicu maraknya berdirinya apotek di Indonesia sampai tingkat Kecamatan dan desa. Masyarakat Indonesia dibuat hidupnya tergantung obat-obatan, mulai meninggalkan pengobatan alamiah tumbuh-tumbuhan dan sejenisnya. Bahkan masyarakat Indonesia dalam benaknya sudah terkontaminasi rezim kesehatan, semua penyakit harus disembuhkan dengan mengkonsumsi obat. Yang lebih menyedihkan lagi, praktek-praktek tradisional mulai terkikis dan hilang dari peredaran. Ambil contoh, dukun bayi, jamu tradisional, tumbuhan obat-obatan mulai tertelan bumi.     <\/p>\n\n\n\n

Turunan dari UU No. 39 tahun 2007 diatas, muncul Permenkeu No. 200\/PMK\/04\/2008, tentang aturan tata cara pemberian, pembekuan dan pencabutan nomor pokok pengusahaan barang cukai untuk pabrik atau industri hasil tembakau. Dalam aturan ini, memberlakukan ketentuan yang sangat berat bagi industri rokok kretek rumahan (industri kecil). Yaitu salah satunya, aturan industri kretek bangunan luasnya harus 200 meter persegi, tidak berhubungan langsung dengan bangunan rumah tempat tinggal, halaman rumah dan tempat lain yang bukan bagian pabrik, dan diharuskan bangunan tersebut di pinggir jalan umum. Gara-gara aturan ini, banyak industri kecil rumahan mati. Sebelum ada aturan ini, di kota Kudus sendiri banyak sekali industri kretek rumahan belum lagi di kota lain seperti kabupaten Jember, Malang dan lainnya.  <\/p>\n\n\n\n

Setelah Permenkeu No. 200\/PMK\/04\/2008, muncul Permenkeu lainnya, seperti Permenkeu No. 191\/PMK.04\/2010, Permenkeu No. 78\/PMK.011\/2013, Permenkeu 84\/2008, Permenkeu 20\/2009. Dari semua Permenkeu tersebut, semuanya mengarah pelemahan industri rokok kretek nasional yang didasari dari intervensi rezim kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2009 muncul Undang-undang No. 28 Tentang pajak daerah dan retribusi daerah atau lebih sederhanya di sebut pajak daerah selain cukai. Besaran pajak daerah ini 10% atas produk tembakau. Unduang-undang ini adopsi dari framework convention on tobacco control (FCTC). Tujuan utama pungutan pajak daerah ini sama halnya pergeseran paradigma pungutan cukai, yaitu untuk menekan peredaran rokok kretek nasional. Kemudian muncul PP 109 tahun 2012 yang didalamnya tembakau dimasukan sebagai bahan zat adiktif, ini sebagai upaya ektrim untuk mematikan rokok kretek Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, kampanye isu negatif terhadap rokok kretek. Hampir semua penyakit yang diderita manusia dikaitkan dampak dari rokok, baik bagi perokok maupun yang tidak merokok. Tanpa dasar, tanpa bukti keberadaan rokok kretek sebagai sumber dari segala penyakit. Lebih tidak rasional lagi, semua dampak yang terjadi di masyarakat selalu dikaitkan dengan rokok kretek. Ambil contoh, kemiskinan di Indonesia salah satu penyebabnya karena mengkonsumsi rokok kretek. Naiknya iuran BPJS gara-gara banyak tunggakan yang belum terbayar, gara-gara pengurusan yang tidak akuntabel dikaitkan dengan konsumsi rokok kretek, memberikan nuansa negatif pada perokok. Sampai hal-hal yang terkecil seperti keberadaan sampah, polusi udara selalu keberadaan rokok kretek selalu disalahkan. Inilah bentuk kampanye anti rokok, bertujuan mematikan industri rokok kretek nasional. Setelah industri mati, farmasi melenggang memonopoli perdagangan nikotin.   <\/p>\n\n\n\n

Pengaruh wacana kesehatan global yang dikampanyekan kelompok anti tembakau dan rokok kretek telah menyusup dalam regulasi di Negara Indonesia. Melalui kebijakan pengaturan peredaran tembakau dan membuat isu negatif rokok kretek sangat didominasi rezim kesehatan, menafikan aspek ekonomi, sosial dan budaya yang telah mengakar berates tahun. Pada akhirnya kebijakan tembakau di Indonesia melemahkan industri kretek nasional, yang selama ini menjadi sumber penghidupan berpuluh-puluh juta rakyat yang terintegrasi dengan insdustri rokok kretek nasional.  
<\/p>\n","post_title":"Beratnya Perjalanan Rokok Kretek di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beratnya-perjalanan-kretek-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-12 10:28:19","post_modified_gmt":"2019-10-12 03:28:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6142","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6112,"post_author":"877","post_date":"2019-09-30 10:39:53","post_date_gmt":"2019-09-30 03:39:53","post_content":"\n

Mbah Sholeh, salah satu tokoh di Desa Prawoto Pati Jawa Tengah, ia selalu mengkonsumsi rokok kretek untuk memacu gairah semangat hidupnya diusia menjelang senja. Usia boleh bertambah kepala tujuh, namun fisik tetap bugar, seger dan energik. <\/p>\n\n\n\n

Sore itu sehabis ashar hari senin tanggal 23 September 2019, salah satu pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) menghampiriku sembari menyerahkan kertas undangan. Saat itu, aku sendiri sudah di atas motor mau bergegas pergi belanja untuk keperluan Mbah Pae panggilan akrab simbah KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus. Saat ini, beliau menjadi bapak masyarakat Kudus, sehingga banyak orang memanggilnya \u201cMbah Pae\u201d, putra dan cucunya pun memanggil demikian. <\/p>\n\n\n\n

Undangan dari pengurus YM3SK aku masukkan ke kantong saku celana, kemudian lanjut pergi belanja. Walaupun hari sudah sore, panas matahari masih terasa, terlebih saat menyinari kulit yang tidak terbungkus kain pakaian. Seakan-akan hari itu matahari semangat menyinari bumi mengiringi musim kemarau. Sepulang dari belanja akupun menuju dapur mengambil gelas dan air minum. Sambil minum aku buka undangan tersebut dan aku baca. Ternyata undangan tersebut pemberitahuan ada acara pengajian dalam rangka Haul Agung Kanjeng Sunan Prawoto Raden Haryo Bagus Mu\u2019min atau biasa dipanggil Mbah Tabek.<\/p>\n\n\n\n

Sunan Prawoto adalah raja keempat dari Kesultanan Demak yang memerintah tahun 1546-1549. Nama lahirnya Raden Mukmin, seorang agamis dari keturunan Kerajaan Demak Bintoro. Putra Sulung Raja Demak Sultan Trenggono. Ia terkenal dengan sebutan Sunan Prawoto, karena daerah yang disinggahi hingga akhir wafatnya bernama Desa Prawoto dalam wilayah kabupaten Pati Jawa Tengah berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kudus bagian selatan. Konon Desa Prawoto sebagai Kerajaan Kecil setelah Kerajaan Demak hancur. Raden Mukmin inilah yang memboyong Kerajaan Demak ke Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Saat ini Desa Prawoto adalah desa perbukitan, dengan hawa yang tidak terlalu dingin saat malam hari dan tidak terlalu panas pada siang hari. Walaupun hanya perbukitan, di Prawoto masih banyak pohon-pohon besar dan hijau memberikan kesejukan. Saat malam tiba, dari perbukitan Prawoto nampak jelas wilayah kota Kudus. Memang daerah Prowoto lebih dekat dengan kota Kudus dari pada Kota Pati. Bahkan budaya dan adat istiadatnya pun kental dengan budaya keKudusan. Sebagian besar masyarakat Prawoto aktifitas seharinya kewilayah Kudus, seperti bekerja, berdagang, pergi kepasar, sekolah, bahkan samapi memanfaatkan fasilitas ATM mereka memilih ke Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa penjajahan Belanda, Desa Prawoto di fungsikan sebagai distrik Karesidenan yang membawai daerah Pati sampai perbatasan Tuban Jawa Timur, Kudus, Jepara bahkan Demak. Sampai sekarang perkantoran Karesidenan warisan Belanda masih berdiri kokoh dan sebagian difungsikan untuk kepentingan Desa. Tidak hanya itu, di tengah-tengah desa terdapat semacam alun-alun kecil dengan kolam air besar yang konon juga peninggalan Belanda. Tidak sedikit yang berpendapat kolam tersebut peninggalan jauh sebelum Belanda, alias peninggalan Sunan Prawoto. Sehingga, kolam tersebut sering dibuat mandi para tokoh-tokoh dan Ulama\u2019 dari luar kota di Jawa, seperti Pekalongan, Batang, Kendal, Magelang, Solo dan lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Di Desa Prawoto terdapat dua makam Sunan Prawoto, di daerah bawah dan di daerah atas istilah masyarakat menamainya. Terlepas mana yang benar Makam Sunan Prawoto tergantung keyakinan individu. Menurut arkeolog UGM yang saat itu ikut menjelaskan, bahwa yang dibawah adalah peninggalan situs dan yang di atas dari dulu berupa makam yang dikenal dengan makam Tabek. <\/p>\n\n\n\n

Rerata jenjang pendidikan masyarakat Prawoto maksimal tingkat SMA, hanya ada beberapa glintir yang samapi jenjang sarjana dan ada satu orang menjadi guru besar di UGM, namun sudah lama menetap di Yogyakarta, dan jarang pulang. Anehnya, walaupun rata-rata lulusan jenjang SMA, kemampuan dan skill mereka tak kalah dengan yang sarjana bahkan mentalnya pun demikian. Hal itu dapat dilihat dari cara bicara, cara berorganisasi, dan pola pikir maju seperti halnya sarjana. Itulah sekilah cerita tentang Prawoto.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke undangan, setelah aku baca, ternyata undangan tersebut sekaligus perintah dari pengurus YM3SK untuk mewakili datang di acara Haul Sunan Prawoto yang dilaksanakan di hari dan tanggal itu juga jam 19.00 WIB. Walaupun terkesan mendadak tidak seperti biasa jauh-jauh hari sudah ada pemberitahuan, seperti saat acara haul Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Ampel. Akhirnya tetap datang di acara haul Sunan Prawoto dengan berkoordinasi dan mengajak dengan teman-teman di dekat desa Prawoto. Berangkat sehabis sholat isya\u2019, sampai di desa Prawoto jam 19.45 WIB acara dbelum di mulai menunggu group rebana dari bapak-bapak polisi Polres Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Disaat-saat senggang tersebut, aku manfaatkan ngobrol dengan penduduk dan tokoh Ulama\u2019 setempat. Ternyata mereka selain punya warisan seni ketoprak juga punya kebudayaan menghisap rokok kretek. Selain rokok kretek mereka tidak mau. Karena budaya merokok kretek diyakini warisan leluhurnya. Jarang sekali orang-orang tua yang tidak merokok, terlihat tidak memegang dan membawa rokok kretek kebanyakan anak-anak usia sekolah. Sambil ngobrol mengupas sedikit sejarah Sunan Prawoto kita merokok kretek bersama. Dengan merokok kretek suasana santai dan keakraban terbentuk di serambi masjid Sunan Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Kebetulan posisiku duduk bersebelahan dengan salah satu tokoh juga Ulama\u2019 Prawoto. Umurnya sudah tergolong dapat bonus 16 tahun dati Tuhan. Itulah jawabannya saat aku tanya usianya berapa. Karena pingin tau, aku tanya kembali persisnya usia berapa, beliau menjawab diatas rata-rata umumnya usia manusia (60 tahun) yaitu 76 tahun. Ia menjawab sambil tersenyum dan memegang rokok kretek yang telah disulut, ia adalah Mbah Sholeh (nama samara).<\/p>\n\n\n\n

Saat menjawab, akupun terkaget, karena prediksiku umur sekitaran 50an. Raup wajahnya bersih, badannya terlihat sehat dan terlihat energik, tidak mau kalah dengan bapak-bapak lainnya yang saat itu ikut ngobrol yang rata-rata umur 48-60 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Akhirnya akupun penasaran, dan kembali bertanya. Mbah apa resepnya kok masih terlihat muda?. Ia pun menjawab, jauhi makanan yang ada obat penyedap rasanya, makananlah bahan alami seperti daun-daunan. Sampai detik ini ia mengaku tidak makan makanan yang ada penyedap rasanya, kalau ditawari atau ada suguhan di depannya, ia memilih tidak akan memakannya. Juga kalau ditawari dan disuguhi minuman yang bergula. Ia pun demikian menghindari. Kata masyarakat lainnya yang ikut ngobrol, Mbah Sholeh itu hidup sehat.<\/p>\n\n\n\n

Celetukan tersebut disikapi Mbah Sholeh  dengan senyuman dan sambil mengeluarkan asap rokok kretek dari mulutnya dan hidupnya. Kemudian aku bertanya lagi, kenapa Mbah merokok?. Ia pun tersenyum sambil menyedot kembali rokok kreteknya dengan menjawab, kalau merokok kretek membuat ia bahagia, dengan kondisi bahagia ini orang jadi awet muda. Kalau merokok membuat semangat, dengan semangat orang jadi giat dan kuat. Ia juga menceritakan memulai merokok kretek saat sudah Islam. Kata Islam disini bukan berarti saat masuk Islam, akan tetapi yang dimaksud saat sudah khitan atau usia baliq. Dahulu setelah ia dikhitan, bapaknya menyuruhnya merokok sebagai tanda sudah dewasa. <\/p>\n\n\n\n

Inilah pengakuan Mbah Sholeh, ternyata wajah yang bersih berseri, awet muda, fisiknya kuat dan energik, salah satu rahasinya adalah berbahagia dan giat. Agar bahagia dan giat ia selalu mengkonsumsi rokok kretek dan meninggalkan makanan dengan penyedap rasa.   
<\/p>\n","post_title":"Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bikin-awet-muda-dan-energik-rahasia-di-balik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-30 10:40:00","post_modified_gmt":"2019-09-30 03:40:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6112","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6101,"post_author":"877","post_date":"2019-09-26 10:08:08","post_date_gmt":"2019-09-26 03:08:08","post_content":"\n

Masa panen adalah saat yang dinanti-nanti petani tembakau. Tentunya harapan petani, tanaman tembakaunaya tumbuh dengan baik, kualitas bagus dan jumlahnya banyak, serta harganya bagus. Di saat tanaman tembakaunya bagus, baik kualitas dan kuantitasnya, biasanya diikuti dengan harga bagus pula. Namun tidak bisa dipastikan, karena masalah harga tidak bisa petani serta merta yang menentukan, ada faktor yang sanagat kompleks. Yaitu situasi dan kondisi sektor pertembakauan di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pertama, undang-undang cukai dan kejahatan rezim kesehatan. Cukai merupakan komponen pendapatan negara yang mempunyai peran penting untuk terlaksananya tugas Negara. Pungutan cukai sudah terlaksana sejak zaman kolonial dalam Staatsblad No. 517 tahun 1932. Giroh pungutan ini hanya berdasar pada penguatan pendapatan dan keungan kolonial. Karena dirasa salah satu industri yang mampu menopang keuangan kolonial saat itu. <\/p>\n\n\n\n

Setelah merdeka, pungutan cukai tetap dilanjutkan sebagai bagian penguatan keuangan Negara, diatur pada Undang-undang No. 28 Tahun 1947 hingga Undang-undang No.11 Tahun 1995. Pada tahun 2007, terjadi pergeseran alasan pungutan cukai yang awalnya untuk penguatan keuangan Negara, kemudian bertujuan sebagai sarana pembatasan peredaran dan pemakaiannya. Pergeseran tujuan ini, karena dominasi rezim kesehatan. Yaitu munculnya UU No. 39 Tahun 2007,  Tentang perubahan atas UU No. 11 Tahun 1995. Dalam UU No. 39 tahun 2007 ini terlihat sangat kuat dominasi kesehatan. Sehingga memberi peluang peningkatan tarif cukai terjadi tiap tahun. Jadi naiknya tarif cukai menjadi jalan paling efektif untuk menekan lajunya peredaran rokok kretek. Terlihat, dari awal kemunculan pada abad 19 hingga tahun 1995, keberadaan industri kretek sangat berarti sebagai satu budaya yang mengakar di tengah-tengah masyarakat bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Mulai tahun 2007 sampai sekarang rezim kesehatan mendominasi aturan kretek. Kejadian ini akibat desekan dan tekanan dunia internasional setelah terjadi perselingkuhan WHO dengan perusahaan farmasi multinasional di Swiss pada tanggal 30 Januari 1999. Direktur Jenderal WHO, Gro Harlem Brundtland mengumumkan proyek kemitraan antara WHO dan perusahaan farmasi multinasional Pharmacia & Upjohn, Novartis dan Glaxo Wellcome untuk pengembangan nicotine replacement therapy (NRT). Dalam pidatonya, Brundtland terang-terangan mendeklarasikan kampanye anti rokok untuk mensukseskan tujuan bersama. <\/p>\n\n\n\n

Kemitraan antara WHO dan industri farmasi multinasional , setelah adanya riset di Amerika Serikat yang dilakukan lembaga penelitian kesehatan Surgeon General yang mengaitkan konsumsi nikotin tembakau dengan kesehatan. Riset tersebut memicu pengambilalihan bisnis nikotin diberbagai Negara termasuk Indonesia. Karena secara alamiah, kandungan nikotin terbesar ada di daun tembakau. Nikotin bagi ilmuwan kesehatan mempunyai banyak manfaat untuk pengobatan dan aneka terapi. <\/p>\n\n\n\n

Organisasi kesehatan dunia WHO sebagai organisasi pemegang otoritas tertinggi kesehatan dunia, dengan lantaran mendapatkan sokokngan dana industri farmasi menjadikan organisasi WHO tidak lagi bertindak demi meningkatkan taraf kesehatan masyarakat dunia. Melainkan muncul liberalisasi kesehatan modern. WHO menjadi panjang tangan industri farmasi, dokter atau ilmuwan kesehatan menjadi alat perusahaan obat, menjadi ujung tombak industri farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Tidak menngherankan, jika di Indonesia sampai detik ini keberadaan dokter atau ilmuwan kesehatan penopang utama peredaran obat dan apotek. Yang terjadi ada take and give, saling memberi dan menerima. Bisa jadi pendapatan dokter di Indonesia lebih besar penjualan obat dari pada hasil dari konsumen atau pasien. Tak berhenti disitu, akibat di atas, memicu maraknya berdirinya apotek di Indonesia sampai tingkat Kecamatan dan desa. Masyarakat Indonesia dibuat hidupnya tergantung obat-obatan, mulai meninggalkan pengobatan alamiah tumbuh-tumbuhan dan sejenisnya. Bahkan masyarakat Indonesia dalam benaknya sudah terkontaminasi rezim kesehatan, semua penyakit harus disembuhkan dengan mengkonsumsi obat. Yang lebih menyedihkan lagi, praktek-praktek tradisional mulai terkikis dan hilang dari peredaran. Ambil contoh, dukun bayi, jamu tradisional, tumbuhan obat-obatan mulai tertelan bumi.     <\/p>\n\n\n\n

Turunan dari UU No. 39 tahun 2007 diatas, muncul Permenkeu No. 200\/PMK\/04\/2008, tentang aturan tata cara pemberian, pembekuan dan pencabutan nomor pokok pengusahaan barang cukai untuk pabrik atau industri hasil tembakau. Dalam aturan ini, memberlakukan ketentuan yang sangat berat bagi industri rokok kretek rumahan (industri kecil). Yaitu salah satunya, aturan industri kretek bangunan luasnya harus 200 meter persegi, tidak berhubungan langsung dengan bangunan rumah tempat tinggal, halaman rumah dan tempat lain yang bukan bagian pabrik, dan diharuskan bangunan tersebut di pinggir jalan umum. Gara-gara aturan ini, banyak industri kecil rumahan mati. Sebelum ada aturan ini, di kota Kudus sendiri banyak sekali industri kretek rumahan belum lagi di kota lain seperti kabupaten Jember, Malang dan lainnya.  <\/p>\n\n\n\n

Setelah Permenkeu No. 200\/PMK\/04\/2008, muncul Permenkeu lainnya, seperti Permenkeu No. 191\/PMK.04\/2010, Permenkeu No. 78\/PMK.011\/2013, Permenkeu 84\/2008, Permenkeu 20\/2009. Dari semua Permenkeu tersebut, semuanya mengarah pelemahan industri rokok kretek nasional yang didasari dari intervensi rezim kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2009 muncul Undang-undang No. 28 Tentang pajak daerah dan retribusi daerah atau lebih sederhanya di sebut pajak daerah selain cukai. Besaran pajak daerah ini 10% atas produk tembakau. Unduang-undang ini adopsi dari framework convention on tobacco control (FCTC). Tujuan utama pungutan pajak daerah ini sama halnya pergeseran paradigma pungutan cukai, yaitu untuk menekan peredaran rokok kretek nasional. Kemudian muncul PP 109 tahun 2012 yang didalamnya tembakau dimasukan sebagai bahan zat adiktif, ini sebagai upaya ektrim untuk mematikan rokok kretek Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, kampanye isu negatif terhadap rokok kretek. Hampir semua penyakit yang diderita manusia dikaitkan dampak dari rokok, baik bagi perokok maupun yang tidak merokok. Tanpa dasar, tanpa bukti keberadaan rokok kretek sebagai sumber dari segala penyakit. Lebih tidak rasional lagi, semua dampak yang terjadi di masyarakat selalu dikaitkan dengan rokok kretek. Ambil contoh, kemiskinan di Indonesia salah satu penyebabnya karena mengkonsumsi rokok kretek. Naiknya iuran BPJS gara-gara banyak tunggakan yang belum terbayar, gara-gara pengurusan yang tidak akuntabel dikaitkan dengan konsumsi rokok kretek, memberikan nuansa negatif pada perokok. Sampai hal-hal yang terkecil seperti keberadaan sampah, polusi udara selalu keberadaan rokok kretek selalu disalahkan. Inilah bentuk kampanye anti rokok, bertujuan mematikan industri rokok kretek nasional. Setelah industri mati, farmasi melenggang memonopoli perdagangan nikotin.   <\/p>\n\n\n\n

Pengaruh wacana kesehatan global yang dikampanyekan kelompok anti tembakau dan rokok kretek telah menyusup dalam regulasi di Negara Indonesia. Melalui kebijakan pengaturan peredaran tembakau dan membuat isu negatif rokok kretek sangat didominasi rezim kesehatan, menafikan aspek ekonomi, sosial dan budaya yang telah mengakar berates tahun. Pada akhirnya kebijakan tembakau di Indonesia melemahkan industri kretek nasional, yang selama ini menjadi sumber penghidupan berpuluh-puluh juta rakyat yang terintegrasi dengan insdustri rokok kretek nasional.  
<\/p>\n","post_title":"Beratnya Perjalanan Rokok Kretek di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beratnya-perjalanan-kretek-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-12 10:28:19","post_modified_gmt":"2019-10-12 03:28:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6142","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6112,"post_author":"877","post_date":"2019-09-30 10:39:53","post_date_gmt":"2019-09-30 03:39:53","post_content":"\n

Mbah Sholeh, salah satu tokoh di Desa Prawoto Pati Jawa Tengah, ia selalu mengkonsumsi rokok kretek untuk memacu gairah semangat hidupnya diusia menjelang senja. Usia boleh bertambah kepala tujuh, namun fisik tetap bugar, seger dan energik. <\/p>\n\n\n\n

Sore itu sehabis ashar hari senin tanggal 23 September 2019, salah satu pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) menghampiriku sembari menyerahkan kertas undangan. Saat itu, aku sendiri sudah di atas motor mau bergegas pergi belanja untuk keperluan Mbah Pae panggilan akrab simbah KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus. Saat ini, beliau menjadi bapak masyarakat Kudus, sehingga banyak orang memanggilnya \u201cMbah Pae\u201d, putra dan cucunya pun memanggil demikian. <\/p>\n\n\n\n

Undangan dari pengurus YM3SK aku masukkan ke kantong saku celana, kemudian lanjut pergi belanja. Walaupun hari sudah sore, panas matahari masih terasa, terlebih saat menyinari kulit yang tidak terbungkus kain pakaian. Seakan-akan hari itu matahari semangat menyinari bumi mengiringi musim kemarau. Sepulang dari belanja akupun menuju dapur mengambil gelas dan air minum. Sambil minum aku buka undangan tersebut dan aku baca. Ternyata undangan tersebut pemberitahuan ada acara pengajian dalam rangka Haul Agung Kanjeng Sunan Prawoto Raden Haryo Bagus Mu\u2019min atau biasa dipanggil Mbah Tabek.<\/p>\n\n\n\n

Sunan Prawoto adalah raja keempat dari Kesultanan Demak yang memerintah tahun 1546-1549. Nama lahirnya Raden Mukmin, seorang agamis dari keturunan Kerajaan Demak Bintoro. Putra Sulung Raja Demak Sultan Trenggono. Ia terkenal dengan sebutan Sunan Prawoto, karena daerah yang disinggahi hingga akhir wafatnya bernama Desa Prawoto dalam wilayah kabupaten Pati Jawa Tengah berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kudus bagian selatan. Konon Desa Prawoto sebagai Kerajaan Kecil setelah Kerajaan Demak hancur. Raden Mukmin inilah yang memboyong Kerajaan Demak ke Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Saat ini Desa Prawoto adalah desa perbukitan, dengan hawa yang tidak terlalu dingin saat malam hari dan tidak terlalu panas pada siang hari. Walaupun hanya perbukitan, di Prawoto masih banyak pohon-pohon besar dan hijau memberikan kesejukan. Saat malam tiba, dari perbukitan Prawoto nampak jelas wilayah kota Kudus. Memang daerah Prowoto lebih dekat dengan kota Kudus dari pada Kota Pati. Bahkan budaya dan adat istiadatnya pun kental dengan budaya keKudusan. Sebagian besar masyarakat Prawoto aktifitas seharinya kewilayah Kudus, seperti bekerja, berdagang, pergi kepasar, sekolah, bahkan samapi memanfaatkan fasilitas ATM mereka memilih ke Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa penjajahan Belanda, Desa Prawoto di fungsikan sebagai distrik Karesidenan yang membawai daerah Pati sampai perbatasan Tuban Jawa Timur, Kudus, Jepara bahkan Demak. Sampai sekarang perkantoran Karesidenan warisan Belanda masih berdiri kokoh dan sebagian difungsikan untuk kepentingan Desa. Tidak hanya itu, di tengah-tengah desa terdapat semacam alun-alun kecil dengan kolam air besar yang konon juga peninggalan Belanda. Tidak sedikit yang berpendapat kolam tersebut peninggalan jauh sebelum Belanda, alias peninggalan Sunan Prawoto. Sehingga, kolam tersebut sering dibuat mandi para tokoh-tokoh dan Ulama\u2019 dari luar kota di Jawa, seperti Pekalongan, Batang, Kendal, Magelang, Solo dan lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Di Desa Prawoto terdapat dua makam Sunan Prawoto, di daerah bawah dan di daerah atas istilah masyarakat menamainya. Terlepas mana yang benar Makam Sunan Prawoto tergantung keyakinan individu. Menurut arkeolog UGM yang saat itu ikut menjelaskan, bahwa yang dibawah adalah peninggalan situs dan yang di atas dari dulu berupa makam yang dikenal dengan makam Tabek. <\/p>\n\n\n\n

Rerata jenjang pendidikan masyarakat Prawoto maksimal tingkat SMA, hanya ada beberapa glintir yang samapi jenjang sarjana dan ada satu orang menjadi guru besar di UGM, namun sudah lama menetap di Yogyakarta, dan jarang pulang. Anehnya, walaupun rata-rata lulusan jenjang SMA, kemampuan dan skill mereka tak kalah dengan yang sarjana bahkan mentalnya pun demikian. Hal itu dapat dilihat dari cara bicara, cara berorganisasi, dan pola pikir maju seperti halnya sarjana. Itulah sekilah cerita tentang Prawoto.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke undangan, setelah aku baca, ternyata undangan tersebut sekaligus perintah dari pengurus YM3SK untuk mewakili datang di acara Haul Sunan Prawoto yang dilaksanakan di hari dan tanggal itu juga jam 19.00 WIB. Walaupun terkesan mendadak tidak seperti biasa jauh-jauh hari sudah ada pemberitahuan, seperti saat acara haul Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Ampel. Akhirnya tetap datang di acara haul Sunan Prawoto dengan berkoordinasi dan mengajak dengan teman-teman di dekat desa Prawoto. Berangkat sehabis sholat isya\u2019, sampai di desa Prawoto jam 19.45 WIB acara dbelum di mulai menunggu group rebana dari bapak-bapak polisi Polres Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Disaat-saat senggang tersebut, aku manfaatkan ngobrol dengan penduduk dan tokoh Ulama\u2019 setempat. Ternyata mereka selain punya warisan seni ketoprak juga punya kebudayaan menghisap rokok kretek. Selain rokok kretek mereka tidak mau. Karena budaya merokok kretek diyakini warisan leluhurnya. Jarang sekali orang-orang tua yang tidak merokok, terlihat tidak memegang dan membawa rokok kretek kebanyakan anak-anak usia sekolah. Sambil ngobrol mengupas sedikit sejarah Sunan Prawoto kita merokok kretek bersama. Dengan merokok kretek suasana santai dan keakraban terbentuk di serambi masjid Sunan Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Kebetulan posisiku duduk bersebelahan dengan salah satu tokoh juga Ulama\u2019 Prawoto. Umurnya sudah tergolong dapat bonus 16 tahun dati Tuhan. Itulah jawabannya saat aku tanya usianya berapa. Karena pingin tau, aku tanya kembali persisnya usia berapa, beliau menjawab diatas rata-rata umumnya usia manusia (60 tahun) yaitu 76 tahun. Ia menjawab sambil tersenyum dan memegang rokok kretek yang telah disulut, ia adalah Mbah Sholeh (nama samara).<\/p>\n\n\n\n

Saat menjawab, akupun terkaget, karena prediksiku umur sekitaran 50an. Raup wajahnya bersih, badannya terlihat sehat dan terlihat energik, tidak mau kalah dengan bapak-bapak lainnya yang saat itu ikut ngobrol yang rata-rata umur 48-60 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Akhirnya akupun penasaran, dan kembali bertanya. Mbah apa resepnya kok masih terlihat muda?. Ia pun menjawab, jauhi makanan yang ada obat penyedap rasanya, makananlah bahan alami seperti daun-daunan. Sampai detik ini ia mengaku tidak makan makanan yang ada penyedap rasanya, kalau ditawari atau ada suguhan di depannya, ia memilih tidak akan memakannya. Juga kalau ditawari dan disuguhi minuman yang bergula. Ia pun demikian menghindari. Kata masyarakat lainnya yang ikut ngobrol, Mbah Sholeh itu hidup sehat.<\/p>\n\n\n\n

Celetukan tersebut disikapi Mbah Sholeh  dengan senyuman dan sambil mengeluarkan asap rokok kretek dari mulutnya dan hidupnya. Kemudian aku bertanya lagi, kenapa Mbah merokok?. Ia pun tersenyum sambil menyedot kembali rokok kreteknya dengan menjawab, kalau merokok kretek membuat ia bahagia, dengan kondisi bahagia ini orang jadi awet muda. Kalau merokok membuat semangat, dengan semangat orang jadi giat dan kuat. Ia juga menceritakan memulai merokok kretek saat sudah Islam. Kata Islam disini bukan berarti saat masuk Islam, akan tetapi yang dimaksud saat sudah khitan atau usia baliq. Dahulu setelah ia dikhitan, bapaknya menyuruhnya merokok sebagai tanda sudah dewasa. <\/p>\n\n\n\n

Inilah pengakuan Mbah Sholeh, ternyata wajah yang bersih berseri, awet muda, fisiknya kuat dan energik, salah satu rahasinya adalah berbahagia dan giat. Agar bahagia dan giat ia selalu mengkonsumsi rokok kretek dan meninggalkan makanan dengan penyedap rasa.   
<\/p>\n","post_title":"Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bikin-awet-muda-dan-energik-rahasia-di-balik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-30 10:40:00","post_modified_gmt":"2019-09-30 03:40:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6112","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6101,"post_author":"877","post_date":"2019-09-26 10:08:08","post_date_gmt":"2019-09-26 03:08:08","post_content":"\n

Masa panen adalah saat yang dinanti-nanti petani tembakau. Tentunya harapan petani, tanaman tembakaunaya tumbuh dengan baik, kualitas bagus dan jumlahnya banyak, serta harganya bagus. Di saat tanaman tembakaunya bagus, baik kualitas dan kuantitasnya, biasanya diikuti dengan harga bagus pula. Namun tidak bisa dipastikan, karena masalah harga tidak bisa petani serta merta yang menentukan, ada faktor yang sanagat kompleks. Yaitu situasi dan kondisi sektor pertembakauan di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

 Uang dari hasil rokok kretek oke, barangnya nanti dulu, itulah situasi rokok kretek di Indonesia. Sangat ironi sekali, keberadaan kretek di Indonesia selalu di recoki, mulai dari aturan perundang-undangan sampai pada isu tak sedap yang dikaitkan dengan keberadaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Pertama, undang-undang cukai dan kejahatan rezim kesehatan. Cukai merupakan komponen pendapatan negara yang mempunyai peran penting untuk terlaksananya tugas Negara. Pungutan cukai sudah terlaksana sejak zaman kolonial dalam Staatsblad No. 517 tahun 1932. Giroh pungutan ini hanya berdasar pada penguatan pendapatan dan keungan kolonial. Karena dirasa salah satu industri yang mampu menopang keuangan kolonial saat itu. <\/p>\n\n\n\n

Setelah merdeka, pungutan cukai tetap dilanjutkan sebagai bagian penguatan keuangan Negara, diatur pada Undang-undang No. 28 Tahun 1947 hingga Undang-undang No.11 Tahun 1995. Pada tahun 2007, terjadi pergeseran alasan pungutan cukai yang awalnya untuk penguatan keuangan Negara, kemudian bertujuan sebagai sarana pembatasan peredaran dan pemakaiannya. Pergeseran tujuan ini, karena dominasi rezim kesehatan. Yaitu munculnya UU No. 39 Tahun 2007,  Tentang perubahan atas UU No. 11 Tahun 1995. Dalam UU No. 39 tahun 2007 ini terlihat sangat kuat dominasi kesehatan. Sehingga memberi peluang peningkatan tarif cukai terjadi tiap tahun. Jadi naiknya tarif cukai menjadi jalan paling efektif untuk menekan lajunya peredaran rokok kretek. Terlihat, dari awal kemunculan pada abad 19 hingga tahun 1995, keberadaan industri kretek sangat berarti sebagai satu budaya yang mengakar di tengah-tengah masyarakat bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Mulai tahun 2007 sampai sekarang rezim kesehatan mendominasi aturan kretek. Kejadian ini akibat desekan dan tekanan dunia internasional setelah terjadi perselingkuhan WHO dengan perusahaan farmasi multinasional di Swiss pada tanggal 30 Januari 1999. Direktur Jenderal WHO, Gro Harlem Brundtland mengumumkan proyek kemitraan antara WHO dan perusahaan farmasi multinasional Pharmacia & Upjohn, Novartis dan Glaxo Wellcome untuk pengembangan nicotine replacement therapy (NRT). Dalam pidatonya, Brundtland terang-terangan mendeklarasikan kampanye anti rokok untuk mensukseskan tujuan bersama. <\/p>\n\n\n\n

Kemitraan antara WHO dan industri farmasi multinasional , setelah adanya riset di Amerika Serikat yang dilakukan lembaga penelitian kesehatan Surgeon General yang mengaitkan konsumsi nikotin tembakau dengan kesehatan. Riset tersebut memicu pengambilalihan bisnis nikotin diberbagai Negara termasuk Indonesia. Karena secara alamiah, kandungan nikotin terbesar ada di daun tembakau. Nikotin bagi ilmuwan kesehatan mempunyai banyak manfaat untuk pengobatan dan aneka terapi. <\/p>\n\n\n\n

Organisasi kesehatan dunia WHO sebagai organisasi pemegang otoritas tertinggi kesehatan dunia, dengan lantaran mendapatkan sokokngan dana industri farmasi menjadikan organisasi WHO tidak lagi bertindak demi meningkatkan taraf kesehatan masyarakat dunia. Melainkan muncul liberalisasi kesehatan modern. WHO menjadi panjang tangan industri farmasi, dokter atau ilmuwan kesehatan menjadi alat perusahaan obat, menjadi ujung tombak industri farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Tidak menngherankan, jika di Indonesia sampai detik ini keberadaan dokter atau ilmuwan kesehatan penopang utama peredaran obat dan apotek. Yang terjadi ada take and give, saling memberi dan menerima. Bisa jadi pendapatan dokter di Indonesia lebih besar penjualan obat dari pada hasil dari konsumen atau pasien. Tak berhenti disitu, akibat di atas, memicu maraknya berdirinya apotek di Indonesia sampai tingkat Kecamatan dan desa. Masyarakat Indonesia dibuat hidupnya tergantung obat-obatan, mulai meninggalkan pengobatan alamiah tumbuh-tumbuhan dan sejenisnya. Bahkan masyarakat Indonesia dalam benaknya sudah terkontaminasi rezim kesehatan, semua penyakit harus disembuhkan dengan mengkonsumsi obat. Yang lebih menyedihkan lagi, praktek-praktek tradisional mulai terkikis dan hilang dari peredaran. Ambil contoh, dukun bayi, jamu tradisional, tumbuhan obat-obatan mulai tertelan bumi.     <\/p>\n\n\n\n

Turunan dari UU No. 39 tahun 2007 diatas, muncul Permenkeu No. 200\/PMK\/04\/2008, tentang aturan tata cara pemberian, pembekuan dan pencabutan nomor pokok pengusahaan barang cukai untuk pabrik atau industri hasil tembakau. Dalam aturan ini, memberlakukan ketentuan yang sangat berat bagi industri rokok kretek rumahan (industri kecil). Yaitu salah satunya, aturan industri kretek bangunan luasnya harus 200 meter persegi, tidak berhubungan langsung dengan bangunan rumah tempat tinggal, halaman rumah dan tempat lain yang bukan bagian pabrik, dan diharuskan bangunan tersebut di pinggir jalan umum. Gara-gara aturan ini, banyak industri kecil rumahan mati. Sebelum ada aturan ini, di kota Kudus sendiri banyak sekali industri kretek rumahan belum lagi di kota lain seperti kabupaten Jember, Malang dan lainnya.  <\/p>\n\n\n\n

Setelah Permenkeu No. 200\/PMK\/04\/2008, muncul Permenkeu lainnya, seperti Permenkeu No. 191\/PMK.04\/2010, Permenkeu No. 78\/PMK.011\/2013, Permenkeu 84\/2008, Permenkeu 20\/2009. Dari semua Permenkeu tersebut, semuanya mengarah pelemahan industri rokok kretek nasional yang didasari dari intervensi rezim kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2009 muncul Undang-undang No. 28 Tentang pajak daerah dan retribusi daerah atau lebih sederhanya di sebut pajak daerah selain cukai. Besaran pajak daerah ini 10% atas produk tembakau. Unduang-undang ini adopsi dari framework convention on tobacco control (FCTC). Tujuan utama pungutan pajak daerah ini sama halnya pergeseran paradigma pungutan cukai, yaitu untuk menekan peredaran rokok kretek nasional. Kemudian muncul PP 109 tahun 2012 yang didalamnya tembakau dimasukan sebagai bahan zat adiktif, ini sebagai upaya ektrim untuk mematikan rokok kretek Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, kampanye isu negatif terhadap rokok kretek. Hampir semua penyakit yang diderita manusia dikaitkan dampak dari rokok, baik bagi perokok maupun yang tidak merokok. Tanpa dasar, tanpa bukti keberadaan rokok kretek sebagai sumber dari segala penyakit. Lebih tidak rasional lagi, semua dampak yang terjadi di masyarakat selalu dikaitkan dengan rokok kretek. Ambil contoh, kemiskinan di Indonesia salah satu penyebabnya karena mengkonsumsi rokok kretek. Naiknya iuran BPJS gara-gara banyak tunggakan yang belum terbayar, gara-gara pengurusan yang tidak akuntabel dikaitkan dengan konsumsi rokok kretek, memberikan nuansa negatif pada perokok. Sampai hal-hal yang terkecil seperti keberadaan sampah, polusi udara selalu keberadaan rokok kretek selalu disalahkan. Inilah bentuk kampanye anti rokok, bertujuan mematikan industri rokok kretek nasional. Setelah industri mati, farmasi melenggang memonopoli perdagangan nikotin.   <\/p>\n\n\n\n

Pengaruh wacana kesehatan global yang dikampanyekan kelompok anti tembakau dan rokok kretek telah menyusup dalam regulasi di Negara Indonesia. Melalui kebijakan pengaturan peredaran tembakau dan membuat isu negatif rokok kretek sangat didominasi rezim kesehatan, menafikan aspek ekonomi, sosial dan budaya yang telah mengakar berates tahun. Pada akhirnya kebijakan tembakau di Indonesia melemahkan industri kretek nasional, yang selama ini menjadi sumber penghidupan berpuluh-puluh juta rakyat yang terintegrasi dengan insdustri rokok kretek nasional.  
<\/p>\n","post_title":"Beratnya Perjalanan Rokok Kretek di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beratnya-perjalanan-kretek-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-12 10:28:19","post_modified_gmt":"2019-10-12 03:28:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6142","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6112,"post_author":"877","post_date":"2019-09-30 10:39:53","post_date_gmt":"2019-09-30 03:39:53","post_content":"\n

Mbah Sholeh, salah satu tokoh di Desa Prawoto Pati Jawa Tengah, ia selalu mengkonsumsi rokok kretek untuk memacu gairah semangat hidupnya diusia menjelang senja. Usia boleh bertambah kepala tujuh, namun fisik tetap bugar, seger dan energik. <\/p>\n\n\n\n

Sore itu sehabis ashar hari senin tanggal 23 September 2019, salah satu pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) menghampiriku sembari menyerahkan kertas undangan. Saat itu, aku sendiri sudah di atas motor mau bergegas pergi belanja untuk keperluan Mbah Pae panggilan akrab simbah KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus. Saat ini, beliau menjadi bapak masyarakat Kudus, sehingga banyak orang memanggilnya \u201cMbah Pae\u201d, putra dan cucunya pun memanggil demikian. <\/p>\n\n\n\n

Undangan dari pengurus YM3SK aku masukkan ke kantong saku celana, kemudian lanjut pergi belanja. Walaupun hari sudah sore, panas matahari masih terasa, terlebih saat menyinari kulit yang tidak terbungkus kain pakaian. Seakan-akan hari itu matahari semangat menyinari bumi mengiringi musim kemarau. Sepulang dari belanja akupun menuju dapur mengambil gelas dan air minum. Sambil minum aku buka undangan tersebut dan aku baca. Ternyata undangan tersebut pemberitahuan ada acara pengajian dalam rangka Haul Agung Kanjeng Sunan Prawoto Raden Haryo Bagus Mu\u2019min atau biasa dipanggil Mbah Tabek.<\/p>\n\n\n\n

Sunan Prawoto adalah raja keempat dari Kesultanan Demak yang memerintah tahun 1546-1549. Nama lahirnya Raden Mukmin, seorang agamis dari keturunan Kerajaan Demak Bintoro. Putra Sulung Raja Demak Sultan Trenggono. Ia terkenal dengan sebutan Sunan Prawoto, karena daerah yang disinggahi hingga akhir wafatnya bernama Desa Prawoto dalam wilayah kabupaten Pati Jawa Tengah berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kudus bagian selatan. Konon Desa Prawoto sebagai Kerajaan Kecil setelah Kerajaan Demak hancur. Raden Mukmin inilah yang memboyong Kerajaan Demak ke Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Saat ini Desa Prawoto adalah desa perbukitan, dengan hawa yang tidak terlalu dingin saat malam hari dan tidak terlalu panas pada siang hari. Walaupun hanya perbukitan, di Prawoto masih banyak pohon-pohon besar dan hijau memberikan kesejukan. Saat malam tiba, dari perbukitan Prawoto nampak jelas wilayah kota Kudus. Memang daerah Prowoto lebih dekat dengan kota Kudus dari pada Kota Pati. Bahkan budaya dan adat istiadatnya pun kental dengan budaya keKudusan. Sebagian besar masyarakat Prawoto aktifitas seharinya kewilayah Kudus, seperti bekerja, berdagang, pergi kepasar, sekolah, bahkan samapi memanfaatkan fasilitas ATM mereka memilih ke Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa penjajahan Belanda, Desa Prawoto di fungsikan sebagai distrik Karesidenan yang membawai daerah Pati sampai perbatasan Tuban Jawa Timur, Kudus, Jepara bahkan Demak. Sampai sekarang perkantoran Karesidenan warisan Belanda masih berdiri kokoh dan sebagian difungsikan untuk kepentingan Desa. Tidak hanya itu, di tengah-tengah desa terdapat semacam alun-alun kecil dengan kolam air besar yang konon juga peninggalan Belanda. Tidak sedikit yang berpendapat kolam tersebut peninggalan jauh sebelum Belanda, alias peninggalan Sunan Prawoto. Sehingga, kolam tersebut sering dibuat mandi para tokoh-tokoh dan Ulama\u2019 dari luar kota di Jawa, seperti Pekalongan, Batang, Kendal, Magelang, Solo dan lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Di Desa Prawoto terdapat dua makam Sunan Prawoto, di daerah bawah dan di daerah atas istilah masyarakat menamainya. Terlepas mana yang benar Makam Sunan Prawoto tergantung keyakinan individu. Menurut arkeolog UGM yang saat itu ikut menjelaskan, bahwa yang dibawah adalah peninggalan situs dan yang di atas dari dulu berupa makam yang dikenal dengan makam Tabek. <\/p>\n\n\n\n

Rerata jenjang pendidikan masyarakat Prawoto maksimal tingkat SMA, hanya ada beberapa glintir yang samapi jenjang sarjana dan ada satu orang menjadi guru besar di UGM, namun sudah lama menetap di Yogyakarta, dan jarang pulang. Anehnya, walaupun rata-rata lulusan jenjang SMA, kemampuan dan skill mereka tak kalah dengan yang sarjana bahkan mentalnya pun demikian. Hal itu dapat dilihat dari cara bicara, cara berorganisasi, dan pola pikir maju seperti halnya sarjana. Itulah sekilah cerita tentang Prawoto.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke undangan, setelah aku baca, ternyata undangan tersebut sekaligus perintah dari pengurus YM3SK untuk mewakili datang di acara Haul Sunan Prawoto yang dilaksanakan di hari dan tanggal itu juga jam 19.00 WIB. Walaupun terkesan mendadak tidak seperti biasa jauh-jauh hari sudah ada pemberitahuan, seperti saat acara haul Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Ampel. Akhirnya tetap datang di acara haul Sunan Prawoto dengan berkoordinasi dan mengajak dengan teman-teman di dekat desa Prawoto. Berangkat sehabis sholat isya\u2019, sampai di desa Prawoto jam 19.45 WIB acara dbelum di mulai menunggu group rebana dari bapak-bapak polisi Polres Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Disaat-saat senggang tersebut, aku manfaatkan ngobrol dengan penduduk dan tokoh Ulama\u2019 setempat. Ternyata mereka selain punya warisan seni ketoprak juga punya kebudayaan menghisap rokok kretek. Selain rokok kretek mereka tidak mau. Karena budaya merokok kretek diyakini warisan leluhurnya. Jarang sekali orang-orang tua yang tidak merokok, terlihat tidak memegang dan membawa rokok kretek kebanyakan anak-anak usia sekolah. Sambil ngobrol mengupas sedikit sejarah Sunan Prawoto kita merokok kretek bersama. Dengan merokok kretek suasana santai dan keakraban terbentuk di serambi masjid Sunan Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Kebetulan posisiku duduk bersebelahan dengan salah satu tokoh juga Ulama\u2019 Prawoto. Umurnya sudah tergolong dapat bonus 16 tahun dati Tuhan. Itulah jawabannya saat aku tanya usianya berapa. Karena pingin tau, aku tanya kembali persisnya usia berapa, beliau menjawab diatas rata-rata umumnya usia manusia (60 tahun) yaitu 76 tahun. Ia menjawab sambil tersenyum dan memegang rokok kretek yang telah disulut, ia adalah Mbah Sholeh (nama samara).<\/p>\n\n\n\n

Saat menjawab, akupun terkaget, karena prediksiku umur sekitaran 50an. Raup wajahnya bersih, badannya terlihat sehat dan terlihat energik, tidak mau kalah dengan bapak-bapak lainnya yang saat itu ikut ngobrol yang rata-rata umur 48-60 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Akhirnya akupun penasaran, dan kembali bertanya. Mbah apa resepnya kok masih terlihat muda?. Ia pun menjawab, jauhi makanan yang ada obat penyedap rasanya, makananlah bahan alami seperti daun-daunan. Sampai detik ini ia mengaku tidak makan makanan yang ada penyedap rasanya, kalau ditawari atau ada suguhan di depannya, ia memilih tidak akan memakannya. Juga kalau ditawari dan disuguhi minuman yang bergula. Ia pun demikian menghindari. Kata masyarakat lainnya yang ikut ngobrol, Mbah Sholeh itu hidup sehat.<\/p>\n\n\n\n

Celetukan tersebut disikapi Mbah Sholeh  dengan senyuman dan sambil mengeluarkan asap rokok kretek dari mulutnya dan hidupnya. Kemudian aku bertanya lagi, kenapa Mbah merokok?. Ia pun tersenyum sambil menyedot kembali rokok kreteknya dengan menjawab, kalau merokok kretek membuat ia bahagia, dengan kondisi bahagia ini orang jadi awet muda. Kalau merokok membuat semangat, dengan semangat orang jadi giat dan kuat. Ia juga menceritakan memulai merokok kretek saat sudah Islam. Kata Islam disini bukan berarti saat masuk Islam, akan tetapi yang dimaksud saat sudah khitan atau usia baliq. Dahulu setelah ia dikhitan, bapaknya menyuruhnya merokok sebagai tanda sudah dewasa. <\/p>\n\n\n\n

Inilah pengakuan Mbah Sholeh, ternyata wajah yang bersih berseri, awet muda, fisiknya kuat dan energik, salah satu rahasinya adalah berbahagia dan giat. Agar bahagia dan giat ia selalu mengkonsumsi rokok kretek dan meninggalkan makanan dengan penyedap rasa.   
<\/p>\n","post_title":"Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bikin-awet-muda-dan-energik-rahasia-di-balik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-30 10:40:00","post_modified_gmt":"2019-09-30 03:40:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6112","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6101,"post_author":"877","post_date":"2019-09-26 10:08:08","post_date_gmt":"2019-09-26 03:08:08","post_content":"\n

Masa panen adalah saat yang dinanti-nanti petani tembakau. Tentunya harapan petani, tanaman tembakaunaya tumbuh dengan baik, kualitas bagus dan jumlahnya banyak, serta harganya bagus. Di saat tanaman tembakaunya bagus, baik kualitas dan kuantitasnya, biasanya diikuti dengan harga bagus pula. Namun tidak bisa dipastikan, karena masalah harga tidak bisa petani serta merta yang menentukan, ada faktor yang sanagat kompleks. Yaitu situasi dan kondisi sektor pertembakauan di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jelas-jelas kretek satu-satunya industri yang peka zaman. Industri yang telah membuktikan ketangguhannya selama ratusan tahun tetap bertahan hidup hingga sekarang. Keberadaan industri kretek masih terus memberikan kontribusi besar terhadap bangsa Indonesia, baik untuk petani, ketersediaan lapangan pekerjaan, jaminan sosial, pengembangan kebudayaan bangsa bahkan sampai pada berkontribusi besar terhadap pemasukan dan pendapatan Negara. Namun perjalanan industri kretek dari zaman kezaman menghadapi tantangan dan ancaman yang sangat berat hingga sekarang.<\/p>\n\n\n\n

 Uang dari hasil rokok kretek oke, barangnya nanti dulu, itulah situasi rokok kretek di Indonesia. Sangat ironi sekali, keberadaan kretek di Indonesia selalu di recoki, mulai dari aturan perundang-undangan sampai pada isu tak sedap yang dikaitkan dengan keberadaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Pertama, undang-undang cukai dan kejahatan rezim kesehatan. Cukai merupakan komponen pendapatan negara yang mempunyai peran penting untuk terlaksananya tugas Negara. Pungutan cukai sudah terlaksana sejak zaman kolonial dalam Staatsblad No. 517 tahun 1932. Giroh pungutan ini hanya berdasar pada penguatan pendapatan dan keungan kolonial. Karena dirasa salah satu industri yang mampu menopang keuangan kolonial saat itu. <\/p>\n\n\n\n

Setelah merdeka, pungutan cukai tetap dilanjutkan sebagai bagian penguatan keuangan Negara, diatur pada Undang-undang No. 28 Tahun 1947 hingga Undang-undang No.11 Tahun 1995. Pada tahun 2007, terjadi pergeseran alasan pungutan cukai yang awalnya untuk penguatan keuangan Negara, kemudian bertujuan sebagai sarana pembatasan peredaran dan pemakaiannya. Pergeseran tujuan ini, karena dominasi rezim kesehatan. Yaitu munculnya UU No. 39 Tahun 2007,  Tentang perubahan atas UU No. 11 Tahun 1995. Dalam UU No. 39 tahun 2007 ini terlihat sangat kuat dominasi kesehatan. Sehingga memberi peluang peningkatan tarif cukai terjadi tiap tahun. Jadi naiknya tarif cukai menjadi jalan paling efektif untuk menekan lajunya peredaran rokok kretek. Terlihat, dari awal kemunculan pada abad 19 hingga tahun 1995, keberadaan industri kretek sangat berarti sebagai satu budaya yang mengakar di tengah-tengah masyarakat bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Mulai tahun 2007 sampai sekarang rezim kesehatan mendominasi aturan kretek. Kejadian ini akibat desekan dan tekanan dunia internasional setelah terjadi perselingkuhan WHO dengan perusahaan farmasi multinasional di Swiss pada tanggal 30 Januari 1999. Direktur Jenderal WHO, Gro Harlem Brundtland mengumumkan proyek kemitraan antara WHO dan perusahaan farmasi multinasional Pharmacia & Upjohn, Novartis dan Glaxo Wellcome untuk pengembangan nicotine replacement therapy (NRT). Dalam pidatonya, Brundtland terang-terangan mendeklarasikan kampanye anti rokok untuk mensukseskan tujuan bersama. <\/p>\n\n\n\n

Kemitraan antara WHO dan industri farmasi multinasional , setelah adanya riset di Amerika Serikat yang dilakukan lembaga penelitian kesehatan Surgeon General yang mengaitkan konsumsi nikotin tembakau dengan kesehatan. Riset tersebut memicu pengambilalihan bisnis nikotin diberbagai Negara termasuk Indonesia. Karena secara alamiah, kandungan nikotin terbesar ada di daun tembakau. Nikotin bagi ilmuwan kesehatan mempunyai banyak manfaat untuk pengobatan dan aneka terapi. <\/p>\n\n\n\n

Organisasi kesehatan dunia WHO sebagai organisasi pemegang otoritas tertinggi kesehatan dunia, dengan lantaran mendapatkan sokokngan dana industri farmasi menjadikan organisasi WHO tidak lagi bertindak demi meningkatkan taraf kesehatan masyarakat dunia. Melainkan muncul liberalisasi kesehatan modern. WHO menjadi panjang tangan industri farmasi, dokter atau ilmuwan kesehatan menjadi alat perusahaan obat, menjadi ujung tombak industri farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Tidak menngherankan, jika di Indonesia sampai detik ini keberadaan dokter atau ilmuwan kesehatan penopang utama peredaran obat dan apotek. Yang terjadi ada take and give, saling memberi dan menerima. Bisa jadi pendapatan dokter di Indonesia lebih besar penjualan obat dari pada hasil dari konsumen atau pasien. Tak berhenti disitu, akibat di atas, memicu maraknya berdirinya apotek di Indonesia sampai tingkat Kecamatan dan desa. Masyarakat Indonesia dibuat hidupnya tergantung obat-obatan, mulai meninggalkan pengobatan alamiah tumbuh-tumbuhan dan sejenisnya. Bahkan masyarakat Indonesia dalam benaknya sudah terkontaminasi rezim kesehatan, semua penyakit harus disembuhkan dengan mengkonsumsi obat. Yang lebih menyedihkan lagi, praktek-praktek tradisional mulai terkikis dan hilang dari peredaran. Ambil contoh, dukun bayi, jamu tradisional, tumbuhan obat-obatan mulai tertelan bumi.     <\/p>\n\n\n\n

Turunan dari UU No. 39 tahun 2007 diatas, muncul Permenkeu No. 200\/PMK\/04\/2008, tentang aturan tata cara pemberian, pembekuan dan pencabutan nomor pokok pengusahaan barang cukai untuk pabrik atau industri hasil tembakau. Dalam aturan ini, memberlakukan ketentuan yang sangat berat bagi industri rokok kretek rumahan (industri kecil). Yaitu salah satunya, aturan industri kretek bangunan luasnya harus 200 meter persegi, tidak berhubungan langsung dengan bangunan rumah tempat tinggal, halaman rumah dan tempat lain yang bukan bagian pabrik, dan diharuskan bangunan tersebut di pinggir jalan umum. Gara-gara aturan ini, banyak industri kecil rumahan mati. Sebelum ada aturan ini, di kota Kudus sendiri banyak sekali industri kretek rumahan belum lagi di kota lain seperti kabupaten Jember, Malang dan lainnya.  <\/p>\n\n\n\n

Setelah Permenkeu No. 200\/PMK\/04\/2008, muncul Permenkeu lainnya, seperti Permenkeu No. 191\/PMK.04\/2010, Permenkeu No. 78\/PMK.011\/2013, Permenkeu 84\/2008, Permenkeu 20\/2009. Dari semua Permenkeu tersebut, semuanya mengarah pelemahan industri rokok kretek nasional yang didasari dari intervensi rezim kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2009 muncul Undang-undang No. 28 Tentang pajak daerah dan retribusi daerah atau lebih sederhanya di sebut pajak daerah selain cukai. Besaran pajak daerah ini 10% atas produk tembakau. Unduang-undang ini adopsi dari framework convention on tobacco control (FCTC). Tujuan utama pungutan pajak daerah ini sama halnya pergeseran paradigma pungutan cukai, yaitu untuk menekan peredaran rokok kretek nasional. Kemudian muncul PP 109 tahun 2012 yang didalamnya tembakau dimasukan sebagai bahan zat adiktif, ini sebagai upaya ektrim untuk mematikan rokok kretek Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, kampanye isu negatif terhadap rokok kretek. Hampir semua penyakit yang diderita manusia dikaitkan dampak dari rokok, baik bagi perokok maupun yang tidak merokok. Tanpa dasar, tanpa bukti keberadaan rokok kretek sebagai sumber dari segala penyakit. Lebih tidak rasional lagi, semua dampak yang terjadi di masyarakat selalu dikaitkan dengan rokok kretek. Ambil contoh, kemiskinan di Indonesia salah satu penyebabnya karena mengkonsumsi rokok kretek. Naiknya iuran BPJS gara-gara banyak tunggakan yang belum terbayar, gara-gara pengurusan yang tidak akuntabel dikaitkan dengan konsumsi rokok kretek, memberikan nuansa negatif pada perokok. Sampai hal-hal yang terkecil seperti keberadaan sampah, polusi udara selalu keberadaan rokok kretek selalu disalahkan. Inilah bentuk kampanye anti rokok, bertujuan mematikan industri rokok kretek nasional. Setelah industri mati, farmasi melenggang memonopoli perdagangan nikotin.   <\/p>\n\n\n\n

Pengaruh wacana kesehatan global yang dikampanyekan kelompok anti tembakau dan rokok kretek telah menyusup dalam regulasi di Negara Indonesia. Melalui kebijakan pengaturan peredaran tembakau dan membuat isu negatif rokok kretek sangat didominasi rezim kesehatan, menafikan aspek ekonomi, sosial dan budaya yang telah mengakar berates tahun. Pada akhirnya kebijakan tembakau di Indonesia melemahkan industri kretek nasional, yang selama ini menjadi sumber penghidupan berpuluh-puluh juta rakyat yang terintegrasi dengan insdustri rokok kretek nasional.  
<\/p>\n","post_title":"Beratnya Perjalanan Rokok Kretek di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beratnya-perjalanan-kretek-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-12 10:28:19","post_modified_gmt":"2019-10-12 03:28:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6142","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6112,"post_author":"877","post_date":"2019-09-30 10:39:53","post_date_gmt":"2019-09-30 03:39:53","post_content":"\n

Mbah Sholeh, salah satu tokoh di Desa Prawoto Pati Jawa Tengah, ia selalu mengkonsumsi rokok kretek untuk memacu gairah semangat hidupnya diusia menjelang senja. Usia boleh bertambah kepala tujuh, namun fisik tetap bugar, seger dan energik. <\/p>\n\n\n\n

Sore itu sehabis ashar hari senin tanggal 23 September 2019, salah satu pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) menghampiriku sembari menyerahkan kertas undangan. Saat itu, aku sendiri sudah di atas motor mau bergegas pergi belanja untuk keperluan Mbah Pae panggilan akrab simbah KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus. Saat ini, beliau menjadi bapak masyarakat Kudus, sehingga banyak orang memanggilnya \u201cMbah Pae\u201d, putra dan cucunya pun memanggil demikian. <\/p>\n\n\n\n

Undangan dari pengurus YM3SK aku masukkan ke kantong saku celana, kemudian lanjut pergi belanja. Walaupun hari sudah sore, panas matahari masih terasa, terlebih saat menyinari kulit yang tidak terbungkus kain pakaian. Seakan-akan hari itu matahari semangat menyinari bumi mengiringi musim kemarau. Sepulang dari belanja akupun menuju dapur mengambil gelas dan air minum. Sambil minum aku buka undangan tersebut dan aku baca. Ternyata undangan tersebut pemberitahuan ada acara pengajian dalam rangka Haul Agung Kanjeng Sunan Prawoto Raden Haryo Bagus Mu\u2019min atau biasa dipanggil Mbah Tabek.<\/p>\n\n\n\n

Sunan Prawoto adalah raja keempat dari Kesultanan Demak yang memerintah tahun 1546-1549. Nama lahirnya Raden Mukmin, seorang agamis dari keturunan Kerajaan Demak Bintoro. Putra Sulung Raja Demak Sultan Trenggono. Ia terkenal dengan sebutan Sunan Prawoto, karena daerah yang disinggahi hingga akhir wafatnya bernama Desa Prawoto dalam wilayah kabupaten Pati Jawa Tengah berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kudus bagian selatan. Konon Desa Prawoto sebagai Kerajaan Kecil setelah Kerajaan Demak hancur. Raden Mukmin inilah yang memboyong Kerajaan Demak ke Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Saat ini Desa Prawoto adalah desa perbukitan, dengan hawa yang tidak terlalu dingin saat malam hari dan tidak terlalu panas pada siang hari. Walaupun hanya perbukitan, di Prawoto masih banyak pohon-pohon besar dan hijau memberikan kesejukan. Saat malam tiba, dari perbukitan Prawoto nampak jelas wilayah kota Kudus. Memang daerah Prowoto lebih dekat dengan kota Kudus dari pada Kota Pati. Bahkan budaya dan adat istiadatnya pun kental dengan budaya keKudusan. Sebagian besar masyarakat Prawoto aktifitas seharinya kewilayah Kudus, seperti bekerja, berdagang, pergi kepasar, sekolah, bahkan samapi memanfaatkan fasilitas ATM mereka memilih ke Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa penjajahan Belanda, Desa Prawoto di fungsikan sebagai distrik Karesidenan yang membawai daerah Pati sampai perbatasan Tuban Jawa Timur, Kudus, Jepara bahkan Demak. Sampai sekarang perkantoran Karesidenan warisan Belanda masih berdiri kokoh dan sebagian difungsikan untuk kepentingan Desa. Tidak hanya itu, di tengah-tengah desa terdapat semacam alun-alun kecil dengan kolam air besar yang konon juga peninggalan Belanda. Tidak sedikit yang berpendapat kolam tersebut peninggalan jauh sebelum Belanda, alias peninggalan Sunan Prawoto. Sehingga, kolam tersebut sering dibuat mandi para tokoh-tokoh dan Ulama\u2019 dari luar kota di Jawa, seperti Pekalongan, Batang, Kendal, Magelang, Solo dan lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Di Desa Prawoto terdapat dua makam Sunan Prawoto, di daerah bawah dan di daerah atas istilah masyarakat menamainya. Terlepas mana yang benar Makam Sunan Prawoto tergantung keyakinan individu. Menurut arkeolog UGM yang saat itu ikut menjelaskan, bahwa yang dibawah adalah peninggalan situs dan yang di atas dari dulu berupa makam yang dikenal dengan makam Tabek. <\/p>\n\n\n\n

Rerata jenjang pendidikan masyarakat Prawoto maksimal tingkat SMA, hanya ada beberapa glintir yang samapi jenjang sarjana dan ada satu orang menjadi guru besar di UGM, namun sudah lama menetap di Yogyakarta, dan jarang pulang. Anehnya, walaupun rata-rata lulusan jenjang SMA, kemampuan dan skill mereka tak kalah dengan yang sarjana bahkan mentalnya pun demikian. Hal itu dapat dilihat dari cara bicara, cara berorganisasi, dan pola pikir maju seperti halnya sarjana. Itulah sekilah cerita tentang Prawoto.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke undangan, setelah aku baca, ternyata undangan tersebut sekaligus perintah dari pengurus YM3SK untuk mewakili datang di acara Haul Sunan Prawoto yang dilaksanakan di hari dan tanggal itu juga jam 19.00 WIB. Walaupun terkesan mendadak tidak seperti biasa jauh-jauh hari sudah ada pemberitahuan, seperti saat acara haul Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Ampel. Akhirnya tetap datang di acara haul Sunan Prawoto dengan berkoordinasi dan mengajak dengan teman-teman di dekat desa Prawoto. Berangkat sehabis sholat isya\u2019, sampai di desa Prawoto jam 19.45 WIB acara dbelum di mulai menunggu group rebana dari bapak-bapak polisi Polres Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Disaat-saat senggang tersebut, aku manfaatkan ngobrol dengan penduduk dan tokoh Ulama\u2019 setempat. Ternyata mereka selain punya warisan seni ketoprak juga punya kebudayaan menghisap rokok kretek. Selain rokok kretek mereka tidak mau. Karena budaya merokok kretek diyakini warisan leluhurnya. Jarang sekali orang-orang tua yang tidak merokok, terlihat tidak memegang dan membawa rokok kretek kebanyakan anak-anak usia sekolah. Sambil ngobrol mengupas sedikit sejarah Sunan Prawoto kita merokok kretek bersama. Dengan merokok kretek suasana santai dan keakraban terbentuk di serambi masjid Sunan Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Kebetulan posisiku duduk bersebelahan dengan salah satu tokoh juga Ulama\u2019 Prawoto. Umurnya sudah tergolong dapat bonus 16 tahun dati Tuhan. Itulah jawabannya saat aku tanya usianya berapa. Karena pingin tau, aku tanya kembali persisnya usia berapa, beliau menjawab diatas rata-rata umumnya usia manusia (60 tahun) yaitu 76 tahun. Ia menjawab sambil tersenyum dan memegang rokok kretek yang telah disulut, ia adalah Mbah Sholeh (nama samara).<\/p>\n\n\n\n

Saat menjawab, akupun terkaget, karena prediksiku umur sekitaran 50an. Raup wajahnya bersih, badannya terlihat sehat dan terlihat energik, tidak mau kalah dengan bapak-bapak lainnya yang saat itu ikut ngobrol yang rata-rata umur 48-60 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Akhirnya akupun penasaran, dan kembali bertanya. Mbah apa resepnya kok masih terlihat muda?. Ia pun menjawab, jauhi makanan yang ada obat penyedap rasanya, makananlah bahan alami seperti daun-daunan. Sampai detik ini ia mengaku tidak makan makanan yang ada penyedap rasanya, kalau ditawari atau ada suguhan di depannya, ia memilih tidak akan memakannya. Juga kalau ditawari dan disuguhi minuman yang bergula. Ia pun demikian menghindari. Kata masyarakat lainnya yang ikut ngobrol, Mbah Sholeh itu hidup sehat.<\/p>\n\n\n\n

Celetukan tersebut disikapi Mbah Sholeh  dengan senyuman dan sambil mengeluarkan asap rokok kretek dari mulutnya dan hidupnya. Kemudian aku bertanya lagi, kenapa Mbah merokok?. Ia pun tersenyum sambil menyedot kembali rokok kreteknya dengan menjawab, kalau merokok kretek membuat ia bahagia, dengan kondisi bahagia ini orang jadi awet muda. Kalau merokok membuat semangat, dengan semangat orang jadi giat dan kuat. Ia juga menceritakan memulai merokok kretek saat sudah Islam. Kata Islam disini bukan berarti saat masuk Islam, akan tetapi yang dimaksud saat sudah khitan atau usia baliq. Dahulu setelah ia dikhitan, bapaknya menyuruhnya merokok sebagai tanda sudah dewasa. <\/p>\n\n\n\n

Inilah pengakuan Mbah Sholeh, ternyata wajah yang bersih berseri, awet muda, fisiknya kuat dan energik, salah satu rahasinya adalah berbahagia dan giat. Agar bahagia dan giat ia selalu mengkonsumsi rokok kretek dan meninggalkan makanan dengan penyedap rasa.   
<\/p>\n","post_title":"Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bikin-awet-muda-dan-energik-rahasia-di-balik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-30 10:40:00","post_modified_gmt":"2019-09-30 03:40:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6112","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6101,"post_author":"877","post_date":"2019-09-26 10:08:08","post_date_gmt":"2019-09-26 03:08:08","post_content":"\n

Masa panen adalah saat yang dinanti-nanti petani tembakau. Tentunya harapan petani, tanaman tembakaunaya tumbuh dengan baik, kualitas bagus dan jumlahnya banyak, serta harganya bagus. Di saat tanaman tembakaunya bagus, baik kualitas dan kuantitasnya, biasanya diikuti dengan harga bagus pula. Namun tidak bisa dipastikan, karena masalah harga tidak bisa petani serta merta yang menentukan, ada faktor yang sanagat kompleks. Yaitu situasi dan kondisi sektor pertembakauan di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat yang mengakar. Perkembangannya, sistem tersebut menjadi sarana memperoleh nilai ekonomi sebagai penguatan hidup keberlanjutan. Tak hanya itu, sistem pengetahuan tersebut membawa si pewaris menuju kehidupan sejahtera. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Kretek Warisan Budaya Tak Benda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-warisan-budaya-tak-benda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-14 09:05:15","post_modified_gmt":"2019-10-14 02:05:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6142,"post_author":"877","post_date":"2019-10-12 10:25:41","post_date_gmt":"2019-10-12 03:25:41","post_content":"\n

Jelas-jelas kretek satu-satunya industri yang peka zaman. Industri yang telah membuktikan ketangguhannya selama ratusan tahun tetap bertahan hidup hingga sekarang. Keberadaan industri kretek masih terus memberikan kontribusi besar terhadap bangsa Indonesia, baik untuk petani, ketersediaan lapangan pekerjaan, jaminan sosial, pengembangan kebudayaan bangsa bahkan sampai pada berkontribusi besar terhadap pemasukan dan pendapatan Negara. Namun perjalanan industri kretek dari zaman kezaman menghadapi tantangan dan ancaman yang sangat berat hingga sekarang.<\/p>\n\n\n\n

 Uang dari hasil rokok kretek oke, barangnya nanti dulu, itulah situasi rokok kretek di Indonesia. Sangat ironi sekali, keberadaan kretek di Indonesia selalu di recoki, mulai dari aturan perundang-undangan sampai pada isu tak sedap yang dikaitkan dengan keberadaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Pertama, undang-undang cukai dan kejahatan rezim kesehatan. Cukai merupakan komponen pendapatan negara yang mempunyai peran penting untuk terlaksananya tugas Negara. Pungutan cukai sudah terlaksana sejak zaman kolonial dalam Staatsblad No. 517 tahun 1932. Giroh pungutan ini hanya berdasar pada penguatan pendapatan dan keungan kolonial. Karena dirasa salah satu industri yang mampu menopang keuangan kolonial saat itu. <\/p>\n\n\n\n

Setelah merdeka, pungutan cukai tetap dilanjutkan sebagai bagian penguatan keuangan Negara, diatur pada Undang-undang No. 28 Tahun 1947 hingga Undang-undang No.11 Tahun 1995. Pada tahun 2007, terjadi pergeseran alasan pungutan cukai yang awalnya untuk penguatan keuangan Negara, kemudian bertujuan sebagai sarana pembatasan peredaran dan pemakaiannya. Pergeseran tujuan ini, karena dominasi rezim kesehatan. Yaitu munculnya UU No. 39 Tahun 2007,  Tentang perubahan atas UU No. 11 Tahun 1995. Dalam UU No. 39 tahun 2007 ini terlihat sangat kuat dominasi kesehatan. Sehingga memberi peluang peningkatan tarif cukai terjadi tiap tahun. Jadi naiknya tarif cukai menjadi jalan paling efektif untuk menekan lajunya peredaran rokok kretek. Terlihat, dari awal kemunculan pada abad 19 hingga tahun 1995, keberadaan industri kretek sangat berarti sebagai satu budaya yang mengakar di tengah-tengah masyarakat bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Mulai tahun 2007 sampai sekarang rezim kesehatan mendominasi aturan kretek. Kejadian ini akibat desekan dan tekanan dunia internasional setelah terjadi perselingkuhan WHO dengan perusahaan farmasi multinasional di Swiss pada tanggal 30 Januari 1999. Direktur Jenderal WHO, Gro Harlem Brundtland mengumumkan proyek kemitraan antara WHO dan perusahaan farmasi multinasional Pharmacia & Upjohn, Novartis dan Glaxo Wellcome untuk pengembangan nicotine replacement therapy (NRT). Dalam pidatonya, Brundtland terang-terangan mendeklarasikan kampanye anti rokok untuk mensukseskan tujuan bersama. <\/p>\n\n\n\n

Kemitraan antara WHO dan industri farmasi multinasional , setelah adanya riset di Amerika Serikat yang dilakukan lembaga penelitian kesehatan Surgeon General yang mengaitkan konsumsi nikotin tembakau dengan kesehatan. Riset tersebut memicu pengambilalihan bisnis nikotin diberbagai Negara termasuk Indonesia. Karena secara alamiah, kandungan nikotin terbesar ada di daun tembakau. Nikotin bagi ilmuwan kesehatan mempunyai banyak manfaat untuk pengobatan dan aneka terapi. <\/p>\n\n\n\n

Organisasi kesehatan dunia WHO sebagai organisasi pemegang otoritas tertinggi kesehatan dunia, dengan lantaran mendapatkan sokokngan dana industri farmasi menjadikan organisasi WHO tidak lagi bertindak demi meningkatkan taraf kesehatan masyarakat dunia. Melainkan muncul liberalisasi kesehatan modern. WHO menjadi panjang tangan industri farmasi, dokter atau ilmuwan kesehatan menjadi alat perusahaan obat, menjadi ujung tombak industri farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Tidak menngherankan, jika di Indonesia sampai detik ini keberadaan dokter atau ilmuwan kesehatan penopang utama peredaran obat dan apotek. Yang terjadi ada take and give, saling memberi dan menerima. Bisa jadi pendapatan dokter di Indonesia lebih besar penjualan obat dari pada hasil dari konsumen atau pasien. Tak berhenti disitu, akibat di atas, memicu maraknya berdirinya apotek di Indonesia sampai tingkat Kecamatan dan desa. Masyarakat Indonesia dibuat hidupnya tergantung obat-obatan, mulai meninggalkan pengobatan alamiah tumbuh-tumbuhan dan sejenisnya. Bahkan masyarakat Indonesia dalam benaknya sudah terkontaminasi rezim kesehatan, semua penyakit harus disembuhkan dengan mengkonsumsi obat. Yang lebih menyedihkan lagi, praktek-praktek tradisional mulai terkikis dan hilang dari peredaran. Ambil contoh, dukun bayi, jamu tradisional, tumbuhan obat-obatan mulai tertelan bumi.     <\/p>\n\n\n\n

Turunan dari UU No. 39 tahun 2007 diatas, muncul Permenkeu No. 200\/PMK\/04\/2008, tentang aturan tata cara pemberian, pembekuan dan pencabutan nomor pokok pengusahaan barang cukai untuk pabrik atau industri hasil tembakau. Dalam aturan ini, memberlakukan ketentuan yang sangat berat bagi industri rokok kretek rumahan (industri kecil). Yaitu salah satunya, aturan industri kretek bangunan luasnya harus 200 meter persegi, tidak berhubungan langsung dengan bangunan rumah tempat tinggal, halaman rumah dan tempat lain yang bukan bagian pabrik, dan diharuskan bangunan tersebut di pinggir jalan umum. Gara-gara aturan ini, banyak industri kecil rumahan mati. Sebelum ada aturan ini, di kota Kudus sendiri banyak sekali industri kretek rumahan belum lagi di kota lain seperti kabupaten Jember, Malang dan lainnya.  <\/p>\n\n\n\n

Setelah Permenkeu No. 200\/PMK\/04\/2008, muncul Permenkeu lainnya, seperti Permenkeu No. 191\/PMK.04\/2010, Permenkeu No. 78\/PMK.011\/2013, Permenkeu 84\/2008, Permenkeu 20\/2009. Dari semua Permenkeu tersebut, semuanya mengarah pelemahan industri rokok kretek nasional yang didasari dari intervensi rezim kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2009 muncul Undang-undang No. 28 Tentang pajak daerah dan retribusi daerah atau lebih sederhanya di sebut pajak daerah selain cukai. Besaran pajak daerah ini 10% atas produk tembakau. Unduang-undang ini adopsi dari framework convention on tobacco control (FCTC). Tujuan utama pungutan pajak daerah ini sama halnya pergeseran paradigma pungutan cukai, yaitu untuk menekan peredaran rokok kretek nasional. Kemudian muncul PP 109 tahun 2012 yang didalamnya tembakau dimasukan sebagai bahan zat adiktif, ini sebagai upaya ektrim untuk mematikan rokok kretek Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, kampanye isu negatif terhadap rokok kretek. Hampir semua penyakit yang diderita manusia dikaitkan dampak dari rokok, baik bagi perokok maupun yang tidak merokok. Tanpa dasar, tanpa bukti keberadaan rokok kretek sebagai sumber dari segala penyakit. Lebih tidak rasional lagi, semua dampak yang terjadi di masyarakat selalu dikaitkan dengan rokok kretek. Ambil contoh, kemiskinan di Indonesia salah satu penyebabnya karena mengkonsumsi rokok kretek. Naiknya iuran BPJS gara-gara banyak tunggakan yang belum terbayar, gara-gara pengurusan yang tidak akuntabel dikaitkan dengan konsumsi rokok kretek, memberikan nuansa negatif pada perokok. Sampai hal-hal yang terkecil seperti keberadaan sampah, polusi udara selalu keberadaan rokok kretek selalu disalahkan. Inilah bentuk kampanye anti rokok, bertujuan mematikan industri rokok kretek nasional. Setelah industri mati, farmasi melenggang memonopoli perdagangan nikotin.   <\/p>\n\n\n\n

Pengaruh wacana kesehatan global yang dikampanyekan kelompok anti tembakau dan rokok kretek telah menyusup dalam regulasi di Negara Indonesia. Melalui kebijakan pengaturan peredaran tembakau dan membuat isu negatif rokok kretek sangat didominasi rezim kesehatan, menafikan aspek ekonomi, sosial dan budaya yang telah mengakar berates tahun. Pada akhirnya kebijakan tembakau di Indonesia melemahkan industri kretek nasional, yang selama ini menjadi sumber penghidupan berpuluh-puluh juta rakyat yang terintegrasi dengan insdustri rokok kretek nasional.  
<\/p>\n","post_title":"Beratnya Perjalanan Rokok Kretek di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beratnya-perjalanan-kretek-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-12 10:28:19","post_modified_gmt":"2019-10-12 03:28:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6142","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6112,"post_author":"877","post_date":"2019-09-30 10:39:53","post_date_gmt":"2019-09-30 03:39:53","post_content":"\n

Mbah Sholeh, salah satu tokoh di Desa Prawoto Pati Jawa Tengah, ia selalu mengkonsumsi rokok kretek untuk memacu gairah semangat hidupnya diusia menjelang senja. Usia boleh bertambah kepala tujuh, namun fisik tetap bugar, seger dan energik. <\/p>\n\n\n\n

Sore itu sehabis ashar hari senin tanggal 23 September 2019, salah satu pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) menghampiriku sembari menyerahkan kertas undangan. Saat itu, aku sendiri sudah di atas motor mau bergegas pergi belanja untuk keperluan Mbah Pae panggilan akrab simbah KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus. Saat ini, beliau menjadi bapak masyarakat Kudus, sehingga banyak orang memanggilnya \u201cMbah Pae\u201d, putra dan cucunya pun memanggil demikian. <\/p>\n\n\n\n

Undangan dari pengurus YM3SK aku masukkan ke kantong saku celana, kemudian lanjut pergi belanja. Walaupun hari sudah sore, panas matahari masih terasa, terlebih saat menyinari kulit yang tidak terbungkus kain pakaian. Seakan-akan hari itu matahari semangat menyinari bumi mengiringi musim kemarau. Sepulang dari belanja akupun menuju dapur mengambil gelas dan air minum. Sambil minum aku buka undangan tersebut dan aku baca. Ternyata undangan tersebut pemberitahuan ada acara pengajian dalam rangka Haul Agung Kanjeng Sunan Prawoto Raden Haryo Bagus Mu\u2019min atau biasa dipanggil Mbah Tabek.<\/p>\n\n\n\n

Sunan Prawoto adalah raja keempat dari Kesultanan Demak yang memerintah tahun 1546-1549. Nama lahirnya Raden Mukmin, seorang agamis dari keturunan Kerajaan Demak Bintoro. Putra Sulung Raja Demak Sultan Trenggono. Ia terkenal dengan sebutan Sunan Prawoto, karena daerah yang disinggahi hingga akhir wafatnya bernama Desa Prawoto dalam wilayah kabupaten Pati Jawa Tengah berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kudus bagian selatan. Konon Desa Prawoto sebagai Kerajaan Kecil setelah Kerajaan Demak hancur. Raden Mukmin inilah yang memboyong Kerajaan Demak ke Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Saat ini Desa Prawoto adalah desa perbukitan, dengan hawa yang tidak terlalu dingin saat malam hari dan tidak terlalu panas pada siang hari. Walaupun hanya perbukitan, di Prawoto masih banyak pohon-pohon besar dan hijau memberikan kesejukan. Saat malam tiba, dari perbukitan Prawoto nampak jelas wilayah kota Kudus. Memang daerah Prowoto lebih dekat dengan kota Kudus dari pada Kota Pati. Bahkan budaya dan adat istiadatnya pun kental dengan budaya keKudusan. Sebagian besar masyarakat Prawoto aktifitas seharinya kewilayah Kudus, seperti bekerja, berdagang, pergi kepasar, sekolah, bahkan samapi memanfaatkan fasilitas ATM mereka memilih ke Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa penjajahan Belanda, Desa Prawoto di fungsikan sebagai distrik Karesidenan yang membawai daerah Pati sampai perbatasan Tuban Jawa Timur, Kudus, Jepara bahkan Demak. Sampai sekarang perkantoran Karesidenan warisan Belanda masih berdiri kokoh dan sebagian difungsikan untuk kepentingan Desa. Tidak hanya itu, di tengah-tengah desa terdapat semacam alun-alun kecil dengan kolam air besar yang konon juga peninggalan Belanda. Tidak sedikit yang berpendapat kolam tersebut peninggalan jauh sebelum Belanda, alias peninggalan Sunan Prawoto. Sehingga, kolam tersebut sering dibuat mandi para tokoh-tokoh dan Ulama\u2019 dari luar kota di Jawa, seperti Pekalongan, Batang, Kendal, Magelang, Solo dan lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Di Desa Prawoto terdapat dua makam Sunan Prawoto, di daerah bawah dan di daerah atas istilah masyarakat menamainya. Terlepas mana yang benar Makam Sunan Prawoto tergantung keyakinan individu. Menurut arkeolog UGM yang saat itu ikut menjelaskan, bahwa yang dibawah adalah peninggalan situs dan yang di atas dari dulu berupa makam yang dikenal dengan makam Tabek. <\/p>\n\n\n\n

Rerata jenjang pendidikan masyarakat Prawoto maksimal tingkat SMA, hanya ada beberapa glintir yang samapi jenjang sarjana dan ada satu orang menjadi guru besar di UGM, namun sudah lama menetap di Yogyakarta, dan jarang pulang. Anehnya, walaupun rata-rata lulusan jenjang SMA, kemampuan dan skill mereka tak kalah dengan yang sarjana bahkan mentalnya pun demikian. Hal itu dapat dilihat dari cara bicara, cara berorganisasi, dan pola pikir maju seperti halnya sarjana. Itulah sekilah cerita tentang Prawoto.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke undangan, setelah aku baca, ternyata undangan tersebut sekaligus perintah dari pengurus YM3SK untuk mewakili datang di acara Haul Sunan Prawoto yang dilaksanakan di hari dan tanggal itu juga jam 19.00 WIB. Walaupun terkesan mendadak tidak seperti biasa jauh-jauh hari sudah ada pemberitahuan, seperti saat acara haul Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Ampel. Akhirnya tetap datang di acara haul Sunan Prawoto dengan berkoordinasi dan mengajak dengan teman-teman di dekat desa Prawoto. Berangkat sehabis sholat isya\u2019, sampai di desa Prawoto jam 19.45 WIB acara dbelum di mulai menunggu group rebana dari bapak-bapak polisi Polres Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Disaat-saat senggang tersebut, aku manfaatkan ngobrol dengan penduduk dan tokoh Ulama\u2019 setempat. Ternyata mereka selain punya warisan seni ketoprak juga punya kebudayaan menghisap rokok kretek. Selain rokok kretek mereka tidak mau. Karena budaya merokok kretek diyakini warisan leluhurnya. Jarang sekali orang-orang tua yang tidak merokok, terlihat tidak memegang dan membawa rokok kretek kebanyakan anak-anak usia sekolah. Sambil ngobrol mengupas sedikit sejarah Sunan Prawoto kita merokok kretek bersama. Dengan merokok kretek suasana santai dan keakraban terbentuk di serambi masjid Sunan Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Kebetulan posisiku duduk bersebelahan dengan salah satu tokoh juga Ulama\u2019 Prawoto. Umurnya sudah tergolong dapat bonus 16 tahun dati Tuhan. Itulah jawabannya saat aku tanya usianya berapa. Karena pingin tau, aku tanya kembali persisnya usia berapa, beliau menjawab diatas rata-rata umumnya usia manusia (60 tahun) yaitu 76 tahun. Ia menjawab sambil tersenyum dan memegang rokok kretek yang telah disulut, ia adalah Mbah Sholeh (nama samara).<\/p>\n\n\n\n

Saat menjawab, akupun terkaget, karena prediksiku umur sekitaran 50an. Raup wajahnya bersih, badannya terlihat sehat dan terlihat energik, tidak mau kalah dengan bapak-bapak lainnya yang saat itu ikut ngobrol yang rata-rata umur 48-60 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Akhirnya akupun penasaran, dan kembali bertanya. Mbah apa resepnya kok masih terlihat muda?. Ia pun menjawab, jauhi makanan yang ada obat penyedap rasanya, makananlah bahan alami seperti daun-daunan. Sampai detik ini ia mengaku tidak makan makanan yang ada penyedap rasanya, kalau ditawari atau ada suguhan di depannya, ia memilih tidak akan memakannya. Juga kalau ditawari dan disuguhi minuman yang bergula. Ia pun demikian menghindari. Kata masyarakat lainnya yang ikut ngobrol, Mbah Sholeh itu hidup sehat.<\/p>\n\n\n\n

Celetukan tersebut disikapi Mbah Sholeh  dengan senyuman dan sambil mengeluarkan asap rokok kretek dari mulutnya dan hidupnya. Kemudian aku bertanya lagi, kenapa Mbah merokok?. Ia pun tersenyum sambil menyedot kembali rokok kreteknya dengan menjawab, kalau merokok kretek membuat ia bahagia, dengan kondisi bahagia ini orang jadi awet muda. Kalau merokok membuat semangat, dengan semangat orang jadi giat dan kuat. Ia juga menceritakan memulai merokok kretek saat sudah Islam. Kata Islam disini bukan berarti saat masuk Islam, akan tetapi yang dimaksud saat sudah khitan atau usia baliq. Dahulu setelah ia dikhitan, bapaknya menyuruhnya merokok sebagai tanda sudah dewasa. <\/p>\n\n\n\n

Inilah pengakuan Mbah Sholeh, ternyata wajah yang bersih berseri, awet muda, fisiknya kuat dan energik, salah satu rahasinya adalah berbahagia dan giat. Agar bahagia dan giat ia selalu mengkonsumsi rokok kretek dan meninggalkan makanan dengan penyedap rasa.   
<\/p>\n","post_title":"Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bikin-awet-muda-dan-energik-rahasia-di-balik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-30 10:40:00","post_modified_gmt":"2019-09-30 03:40:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6112","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6101,"post_author":"877","post_date":"2019-09-26 10:08:08","post_date_gmt":"2019-09-26 03:08:08","post_content":"\n

Masa panen adalah saat yang dinanti-nanti petani tembakau. Tentunya harapan petani, tanaman tembakaunaya tumbuh dengan baik, kualitas bagus dan jumlahnya banyak, serta harganya bagus. Di saat tanaman tembakaunya bagus, baik kualitas dan kuantitasnya, biasanya diikuti dengan harga bagus pula. Namun tidak bisa dipastikan, karena masalah harga tidak bisa petani serta merta yang menentukan, ada faktor yang sanagat kompleks. Yaitu situasi dan kondisi sektor pertembakauan di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jika perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Artinya usia kretek telah mencapai, bahkan melebihi batas 50 tahun sebagai syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. Bahkan jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat yang mengakar. Perkembangannya, sistem tersebut menjadi sarana memperoleh nilai ekonomi sebagai penguatan hidup keberlanjutan. Tak hanya itu, sistem pengetahuan tersebut membawa si pewaris menuju kehidupan sejahtera. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Kretek Warisan Budaya Tak Benda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-warisan-budaya-tak-benda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-14 09:05:15","post_modified_gmt":"2019-10-14 02:05:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6142,"post_author":"877","post_date":"2019-10-12 10:25:41","post_date_gmt":"2019-10-12 03:25:41","post_content":"\n

Jelas-jelas kretek satu-satunya industri yang peka zaman. Industri yang telah membuktikan ketangguhannya selama ratusan tahun tetap bertahan hidup hingga sekarang. Keberadaan industri kretek masih terus memberikan kontribusi besar terhadap bangsa Indonesia, baik untuk petani, ketersediaan lapangan pekerjaan, jaminan sosial, pengembangan kebudayaan bangsa bahkan sampai pada berkontribusi besar terhadap pemasukan dan pendapatan Negara. Namun perjalanan industri kretek dari zaman kezaman menghadapi tantangan dan ancaman yang sangat berat hingga sekarang.<\/p>\n\n\n\n

 Uang dari hasil rokok kretek oke, barangnya nanti dulu, itulah situasi rokok kretek di Indonesia. Sangat ironi sekali, keberadaan kretek di Indonesia selalu di recoki, mulai dari aturan perundang-undangan sampai pada isu tak sedap yang dikaitkan dengan keberadaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Pertama, undang-undang cukai dan kejahatan rezim kesehatan. Cukai merupakan komponen pendapatan negara yang mempunyai peran penting untuk terlaksananya tugas Negara. Pungutan cukai sudah terlaksana sejak zaman kolonial dalam Staatsblad No. 517 tahun 1932. Giroh pungutan ini hanya berdasar pada penguatan pendapatan dan keungan kolonial. Karena dirasa salah satu industri yang mampu menopang keuangan kolonial saat itu. <\/p>\n\n\n\n

Setelah merdeka, pungutan cukai tetap dilanjutkan sebagai bagian penguatan keuangan Negara, diatur pada Undang-undang No. 28 Tahun 1947 hingga Undang-undang No.11 Tahun 1995. Pada tahun 2007, terjadi pergeseran alasan pungutan cukai yang awalnya untuk penguatan keuangan Negara, kemudian bertujuan sebagai sarana pembatasan peredaran dan pemakaiannya. Pergeseran tujuan ini, karena dominasi rezim kesehatan. Yaitu munculnya UU No. 39 Tahun 2007,  Tentang perubahan atas UU No. 11 Tahun 1995. Dalam UU No. 39 tahun 2007 ini terlihat sangat kuat dominasi kesehatan. Sehingga memberi peluang peningkatan tarif cukai terjadi tiap tahun. Jadi naiknya tarif cukai menjadi jalan paling efektif untuk menekan lajunya peredaran rokok kretek. Terlihat, dari awal kemunculan pada abad 19 hingga tahun 1995, keberadaan industri kretek sangat berarti sebagai satu budaya yang mengakar di tengah-tengah masyarakat bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Mulai tahun 2007 sampai sekarang rezim kesehatan mendominasi aturan kretek. Kejadian ini akibat desekan dan tekanan dunia internasional setelah terjadi perselingkuhan WHO dengan perusahaan farmasi multinasional di Swiss pada tanggal 30 Januari 1999. Direktur Jenderal WHO, Gro Harlem Brundtland mengumumkan proyek kemitraan antara WHO dan perusahaan farmasi multinasional Pharmacia & Upjohn, Novartis dan Glaxo Wellcome untuk pengembangan nicotine replacement therapy (NRT). Dalam pidatonya, Brundtland terang-terangan mendeklarasikan kampanye anti rokok untuk mensukseskan tujuan bersama. <\/p>\n\n\n\n

Kemitraan antara WHO dan industri farmasi multinasional , setelah adanya riset di Amerika Serikat yang dilakukan lembaga penelitian kesehatan Surgeon General yang mengaitkan konsumsi nikotin tembakau dengan kesehatan. Riset tersebut memicu pengambilalihan bisnis nikotin diberbagai Negara termasuk Indonesia. Karena secara alamiah, kandungan nikotin terbesar ada di daun tembakau. Nikotin bagi ilmuwan kesehatan mempunyai banyak manfaat untuk pengobatan dan aneka terapi. <\/p>\n\n\n\n

Organisasi kesehatan dunia WHO sebagai organisasi pemegang otoritas tertinggi kesehatan dunia, dengan lantaran mendapatkan sokokngan dana industri farmasi menjadikan organisasi WHO tidak lagi bertindak demi meningkatkan taraf kesehatan masyarakat dunia. Melainkan muncul liberalisasi kesehatan modern. WHO menjadi panjang tangan industri farmasi, dokter atau ilmuwan kesehatan menjadi alat perusahaan obat, menjadi ujung tombak industri farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Tidak menngherankan, jika di Indonesia sampai detik ini keberadaan dokter atau ilmuwan kesehatan penopang utama peredaran obat dan apotek. Yang terjadi ada take and give, saling memberi dan menerima. Bisa jadi pendapatan dokter di Indonesia lebih besar penjualan obat dari pada hasil dari konsumen atau pasien. Tak berhenti disitu, akibat di atas, memicu maraknya berdirinya apotek di Indonesia sampai tingkat Kecamatan dan desa. Masyarakat Indonesia dibuat hidupnya tergantung obat-obatan, mulai meninggalkan pengobatan alamiah tumbuh-tumbuhan dan sejenisnya. Bahkan masyarakat Indonesia dalam benaknya sudah terkontaminasi rezim kesehatan, semua penyakit harus disembuhkan dengan mengkonsumsi obat. Yang lebih menyedihkan lagi, praktek-praktek tradisional mulai terkikis dan hilang dari peredaran. Ambil contoh, dukun bayi, jamu tradisional, tumbuhan obat-obatan mulai tertelan bumi.     <\/p>\n\n\n\n

Turunan dari UU No. 39 tahun 2007 diatas, muncul Permenkeu No. 200\/PMK\/04\/2008, tentang aturan tata cara pemberian, pembekuan dan pencabutan nomor pokok pengusahaan barang cukai untuk pabrik atau industri hasil tembakau. Dalam aturan ini, memberlakukan ketentuan yang sangat berat bagi industri rokok kretek rumahan (industri kecil). Yaitu salah satunya, aturan industri kretek bangunan luasnya harus 200 meter persegi, tidak berhubungan langsung dengan bangunan rumah tempat tinggal, halaman rumah dan tempat lain yang bukan bagian pabrik, dan diharuskan bangunan tersebut di pinggir jalan umum. Gara-gara aturan ini, banyak industri kecil rumahan mati. Sebelum ada aturan ini, di kota Kudus sendiri banyak sekali industri kretek rumahan belum lagi di kota lain seperti kabupaten Jember, Malang dan lainnya.  <\/p>\n\n\n\n

Setelah Permenkeu No. 200\/PMK\/04\/2008, muncul Permenkeu lainnya, seperti Permenkeu No. 191\/PMK.04\/2010, Permenkeu No. 78\/PMK.011\/2013, Permenkeu 84\/2008, Permenkeu 20\/2009. Dari semua Permenkeu tersebut, semuanya mengarah pelemahan industri rokok kretek nasional yang didasari dari intervensi rezim kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2009 muncul Undang-undang No. 28 Tentang pajak daerah dan retribusi daerah atau lebih sederhanya di sebut pajak daerah selain cukai. Besaran pajak daerah ini 10% atas produk tembakau. Unduang-undang ini adopsi dari framework convention on tobacco control (FCTC). Tujuan utama pungutan pajak daerah ini sama halnya pergeseran paradigma pungutan cukai, yaitu untuk menekan peredaran rokok kretek nasional. Kemudian muncul PP 109 tahun 2012 yang didalamnya tembakau dimasukan sebagai bahan zat adiktif, ini sebagai upaya ektrim untuk mematikan rokok kretek Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, kampanye isu negatif terhadap rokok kretek. Hampir semua penyakit yang diderita manusia dikaitkan dampak dari rokok, baik bagi perokok maupun yang tidak merokok. Tanpa dasar, tanpa bukti keberadaan rokok kretek sebagai sumber dari segala penyakit. Lebih tidak rasional lagi, semua dampak yang terjadi di masyarakat selalu dikaitkan dengan rokok kretek. Ambil contoh, kemiskinan di Indonesia salah satu penyebabnya karena mengkonsumsi rokok kretek. Naiknya iuran BPJS gara-gara banyak tunggakan yang belum terbayar, gara-gara pengurusan yang tidak akuntabel dikaitkan dengan konsumsi rokok kretek, memberikan nuansa negatif pada perokok. Sampai hal-hal yang terkecil seperti keberadaan sampah, polusi udara selalu keberadaan rokok kretek selalu disalahkan. Inilah bentuk kampanye anti rokok, bertujuan mematikan industri rokok kretek nasional. Setelah industri mati, farmasi melenggang memonopoli perdagangan nikotin.   <\/p>\n\n\n\n

Pengaruh wacana kesehatan global yang dikampanyekan kelompok anti tembakau dan rokok kretek telah menyusup dalam regulasi di Negara Indonesia. Melalui kebijakan pengaturan peredaran tembakau dan membuat isu negatif rokok kretek sangat didominasi rezim kesehatan, menafikan aspek ekonomi, sosial dan budaya yang telah mengakar berates tahun. Pada akhirnya kebijakan tembakau di Indonesia melemahkan industri kretek nasional, yang selama ini menjadi sumber penghidupan berpuluh-puluh juta rakyat yang terintegrasi dengan insdustri rokok kretek nasional.  
<\/p>\n","post_title":"Beratnya Perjalanan Rokok Kretek di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beratnya-perjalanan-kretek-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-12 10:28:19","post_modified_gmt":"2019-10-12 03:28:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6142","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6112,"post_author":"877","post_date":"2019-09-30 10:39:53","post_date_gmt":"2019-09-30 03:39:53","post_content":"\n

Mbah Sholeh, salah satu tokoh di Desa Prawoto Pati Jawa Tengah, ia selalu mengkonsumsi rokok kretek untuk memacu gairah semangat hidupnya diusia menjelang senja. Usia boleh bertambah kepala tujuh, namun fisik tetap bugar, seger dan energik. <\/p>\n\n\n\n

Sore itu sehabis ashar hari senin tanggal 23 September 2019, salah satu pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) menghampiriku sembari menyerahkan kertas undangan. Saat itu, aku sendiri sudah di atas motor mau bergegas pergi belanja untuk keperluan Mbah Pae panggilan akrab simbah KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus. Saat ini, beliau menjadi bapak masyarakat Kudus, sehingga banyak orang memanggilnya \u201cMbah Pae\u201d, putra dan cucunya pun memanggil demikian. <\/p>\n\n\n\n

Undangan dari pengurus YM3SK aku masukkan ke kantong saku celana, kemudian lanjut pergi belanja. Walaupun hari sudah sore, panas matahari masih terasa, terlebih saat menyinari kulit yang tidak terbungkus kain pakaian. Seakan-akan hari itu matahari semangat menyinari bumi mengiringi musim kemarau. Sepulang dari belanja akupun menuju dapur mengambil gelas dan air minum. Sambil minum aku buka undangan tersebut dan aku baca. Ternyata undangan tersebut pemberitahuan ada acara pengajian dalam rangka Haul Agung Kanjeng Sunan Prawoto Raden Haryo Bagus Mu\u2019min atau biasa dipanggil Mbah Tabek.<\/p>\n\n\n\n

Sunan Prawoto adalah raja keempat dari Kesultanan Demak yang memerintah tahun 1546-1549. Nama lahirnya Raden Mukmin, seorang agamis dari keturunan Kerajaan Demak Bintoro. Putra Sulung Raja Demak Sultan Trenggono. Ia terkenal dengan sebutan Sunan Prawoto, karena daerah yang disinggahi hingga akhir wafatnya bernama Desa Prawoto dalam wilayah kabupaten Pati Jawa Tengah berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kudus bagian selatan. Konon Desa Prawoto sebagai Kerajaan Kecil setelah Kerajaan Demak hancur. Raden Mukmin inilah yang memboyong Kerajaan Demak ke Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Saat ini Desa Prawoto adalah desa perbukitan, dengan hawa yang tidak terlalu dingin saat malam hari dan tidak terlalu panas pada siang hari. Walaupun hanya perbukitan, di Prawoto masih banyak pohon-pohon besar dan hijau memberikan kesejukan. Saat malam tiba, dari perbukitan Prawoto nampak jelas wilayah kota Kudus. Memang daerah Prowoto lebih dekat dengan kota Kudus dari pada Kota Pati. Bahkan budaya dan adat istiadatnya pun kental dengan budaya keKudusan. Sebagian besar masyarakat Prawoto aktifitas seharinya kewilayah Kudus, seperti bekerja, berdagang, pergi kepasar, sekolah, bahkan samapi memanfaatkan fasilitas ATM mereka memilih ke Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa penjajahan Belanda, Desa Prawoto di fungsikan sebagai distrik Karesidenan yang membawai daerah Pati sampai perbatasan Tuban Jawa Timur, Kudus, Jepara bahkan Demak. Sampai sekarang perkantoran Karesidenan warisan Belanda masih berdiri kokoh dan sebagian difungsikan untuk kepentingan Desa. Tidak hanya itu, di tengah-tengah desa terdapat semacam alun-alun kecil dengan kolam air besar yang konon juga peninggalan Belanda. Tidak sedikit yang berpendapat kolam tersebut peninggalan jauh sebelum Belanda, alias peninggalan Sunan Prawoto. Sehingga, kolam tersebut sering dibuat mandi para tokoh-tokoh dan Ulama\u2019 dari luar kota di Jawa, seperti Pekalongan, Batang, Kendal, Magelang, Solo dan lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Di Desa Prawoto terdapat dua makam Sunan Prawoto, di daerah bawah dan di daerah atas istilah masyarakat menamainya. Terlepas mana yang benar Makam Sunan Prawoto tergantung keyakinan individu. Menurut arkeolog UGM yang saat itu ikut menjelaskan, bahwa yang dibawah adalah peninggalan situs dan yang di atas dari dulu berupa makam yang dikenal dengan makam Tabek. <\/p>\n\n\n\n

Rerata jenjang pendidikan masyarakat Prawoto maksimal tingkat SMA, hanya ada beberapa glintir yang samapi jenjang sarjana dan ada satu orang menjadi guru besar di UGM, namun sudah lama menetap di Yogyakarta, dan jarang pulang. Anehnya, walaupun rata-rata lulusan jenjang SMA, kemampuan dan skill mereka tak kalah dengan yang sarjana bahkan mentalnya pun demikian. Hal itu dapat dilihat dari cara bicara, cara berorganisasi, dan pola pikir maju seperti halnya sarjana. Itulah sekilah cerita tentang Prawoto.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke undangan, setelah aku baca, ternyata undangan tersebut sekaligus perintah dari pengurus YM3SK untuk mewakili datang di acara Haul Sunan Prawoto yang dilaksanakan di hari dan tanggal itu juga jam 19.00 WIB. Walaupun terkesan mendadak tidak seperti biasa jauh-jauh hari sudah ada pemberitahuan, seperti saat acara haul Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Ampel. Akhirnya tetap datang di acara haul Sunan Prawoto dengan berkoordinasi dan mengajak dengan teman-teman di dekat desa Prawoto. Berangkat sehabis sholat isya\u2019, sampai di desa Prawoto jam 19.45 WIB acara dbelum di mulai menunggu group rebana dari bapak-bapak polisi Polres Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Disaat-saat senggang tersebut, aku manfaatkan ngobrol dengan penduduk dan tokoh Ulama\u2019 setempat. Ternyata mereka selain punya warisan seni ketoprak juga punya kebudayaan menghisap rokok kretek. Selain rokok kretek mereka tidak mau. Karena budaya merokok kretek diyakini warisan leluhurnya. Jarang sekali orang-orang tua yang tidak merokok, terlihat tidak memegang dan membawa rokok kretek kebanyakan anak-anak usia sekolah. Sambil ngobrol mengupas sedikit sejarah Sunan Prawoto kita merokok kretek bersama. Dengan merokok kretek suasana santai dan keakraban terbentuk di serambi masjid Sunan Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Kebetulan posisiku duduk bersebelahan dengan salah satu tokoh juga Ulama\u2019 Prawoto. Umurnya sudah tergolong dapat bonus 16 tahun dati Tuhan. Itulah jawabannya saat aku tanya usianya berapa. Karena pingin tau, aku tanya kembali persisnya usia berapa, beliau menjawab diatas rata-rata umumnya usia manusia (60 tahun) yaitu 76 tahun. Ia menjawab sambil tersenyum dan memegang rokok kretek yang telah disulut, ia adalah Mbah Sholeh (nama samara).<\/p>\n\n\n\n

Saat menjawab, akupun terkaget, karena prediksiku umur sekitaran 50an. Raup wajahnya bersih, badannya terlihat sehat dan terlihat energik, tidak mau kalah dengan bapak-bapak lainnya yang saat itu ikut ngobrol yang rata-rata umur 48-60 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Akhirnya akupun penasaran, dan kembali bertanya. Mbah apa resepnya kok masih terlihat muda?. Ia pun menjawab, jauhi makanan yang ada obat penyedap rasanya, makananlah bahan alami seperti daun-daunan. Sampai detik ini ia mengaku tidak makan makanan yang ada penyedap rasanya, kalau ditawari atau ada suguhan di depannya, ia memilih tidak akan memakannya. Juga kalau ditawari dan disuguhi minuman yang bergula. Ia pun demikian menghindari. Kata masyarakat lainnya yang ikut ngobrol, Mbah Sholeh itu hidup sehat.<\/p>\n\n\n\n

Celetukan tersebut disikapi Mbah Sholeh  dengan senyuman dan sambil mengeluarkan asap rokok kretek dari mulutnya dan hidupnya. Kemudian aku bertanya lagi, kenapa Mbah merokok?. Ia pun tersenyum sambil menyedot kembali rokok kreteknya dengan menjawab, kalau merokok kretek membuat ia bahagia, dengan kondisi bahagia ini orang jadi awet muda. Kalau merokok membuat semangat, dengan semangat orang jadi giat dan kuat. Ia juga menceritakan memulai merokok kretek saat sudah Islam. Kata Islam disini bukan berarti saat masuk Islam, akan tetapi yang dimaksud saat sudah khitan atau usia baliq. Dahulu setelah ia dikhitan, bapaknya menyuruhnya merokok sebagai tanda sudah dewasa. <\/p>\n\n\n\n

Inilah pengakuan Mbah Sholeh, ternyata wajah yang bersih berseri, awet muda, fisiknya kuat dan energik, salah satu rahasinya adalah berbahagia dan giat. Agar bahagia dan giat ia selalu mengkonsumsi rokok kretek dan meninggalkan makanan dengan penyedap rasa.   
<\/p>\n","post_title":"Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bikin-awet-muda-dan-energik-rahasia-di-balik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-30 10:40:00","post_modified_gmt":"2019-09-30 03:40:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6112","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6101,"post_author":"877","post_date":"2019-09-26 10:08:08","post_date_gmt":"2019-09-26 03:08:08","post_content":"\n

Masa panen adalah saat yang dinanti-nanti petani tembakau. Tentunya harapan petani, tanaman tembakaunaya tumbuh dengan baik, kualitas bagus dan jumlahnya banyak, serta harganya bagus. Di saat tanaman tembakaunya bagus, baik kualitas dan kuantitasnya, biasanya diikuti dengan harga bagus pula. Namun tidak bisa dipastikan, karena masalah harga tidak bisa petani serta merta yang menentukan, ada faktor yang sanagat kompleks. Yaitu situasi dan kondisi sektor pertembakauan di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz, menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage.<\/em>Tetapi di sepanjang bukunya, dipampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.
<\/p>\n\n\n\n

Jika perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Artinya usia kretek telah mencapai, bahkan melebihi batas 50 tahun sebagai syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. Bahkan jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat yang mengakar. Perkembangannya, sistem tersebut menjadi sarana memperoleh nilai ekonomi sebagai penguatan hidup keberlanjutan. Tak hanya itu, sistem pengetahuan tersebut membawa si pewaris menuju kehidupan sejahtera. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Kretek Warisan Budaya Tak Benda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-warisan-budaya-tak-benda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-14 09:05:15","post_modified_gmt":"2019-10-14 02:05:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6142,"post_author":"877","post_date":"2019-10-12 10:25:41","post_date_gmt":"2019-10-12 03:25:41","post_content":"\n

Jelas-jelas kretek satu-satunya industri yang peka zaman. Industri yang telah membuktikan ketangguhannya selama ratusan tahun tetap bertahan hidup hingga sekarang. Keberadaan industri kretek masih terus memberikan kontribusi besar terhadap bangsa Indonesia, baik untuk petani, ketersediaan lapangan pekerjaan, jaminan sosial, pengembangan kebudayaan bangsa bahkan sampai pada berkontribusi besar terhadap pemasukan dan pendapatan Negara. Namun perjalanan industri kretek dari zaman kezaman menghadapi tantangan dan ancaman yang sangat berat hingga sekarang.<\/p>\n\n\n\n

 Uang dari hasil rokok kretek oke, barangnya nanti dulu, itulah situasi rokok kretek di Indonesia. Sangat ironi sekali, keberadaan kretek di Indonesia selalu di recoki, mulai dari aturan perundang-undangan sampai pada isu tak sedap yang dikaitkan dengan keberadaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Pertama, undang-undang cukai dan kejahatan rezim kesehatan. Cukai merupakan komponen pendapatan negara yang mempunyai peran penting untuk terlaksananya tugas Negara. Pungutan cukai sudah terlaksana sejak zaman kolonial dalam Staatsblad No. 517 tahun 1932. Giroh pungutan ini hanya berdasar pada penguatan pendapatan dan keungan kolonial. Karena dirasa salah satu industri yang mampu menopang keuangan kolonial saat itu. <\/p>\n\n\n\n

Setelah merdeka, pungutan cukai tetap dilanjutkan sebagai bagian penguatan keuangan Negara, diatur pada Undang-undang No. 28 Tahun 1947 hingga Undang-undang No.11 Tahun 1995. Pada tahun 2007, terjadi pergeseran alasan pungutan cukai yang awalnya untuk penguatan keuangan Negara, kemudian bertujuan sebagai sarana pembatasan peredaran dan pemakaiannya. Pergeseran tujuan ini, karena dominasi rezim kesehatan. Yaitu munculnya UU No. 39 Tahun 2007,  Tentang perubahan atas UU No. 11 Tahun 1995. Dalam UU No. 39 tahun 2007 ini terlihat sangat kuat dominasi kesehatan. Sehingga memberi peluang peningkatan tarif cukai terjadi tiap tahun. Jadi naiknya tarif cukai menjadi jalan paling efektif untuk menekan lajunya peredaran rokok kretek. Terlihat, dari awal kemunculan pada abad 19 hingga tahun 1995, keberadaan industri kretek sangat berarti sebagai satu budaya yang mengakar di tengah-tengah masyarakat bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Mulai tahun 2007 sampai sekarang rezim kesehatan mendominasi aturan kretek. Kejadian ini akibat desekan dan tekanan dunia internasional setelah terjadi perselingkuhan WHO dengan perusahaan farmasi multinasional di Swiss pada tanggal 30 Januari 1999. Direktur Jenderal WHO, Gro Harlem Brundtland mengumumkan proyek kemitraan antara WHO dan perusahaan farmasi multinasional Pharmacia & Upjohn, Novartis dan Glaxo Wellcome untuk pengembangan nicotine replacement therapy (NRT). Dalam pidatonya, Brundtland terang-terangan mendeklarasikan kampanye anti rokok untuk mensukseskan tujuan bersama. <\/p>\n\n\n\n

Kemitraan antara WHO dan industri farmasi multinasional , setelah adanya riset di Amerika Serikat yang dilakukan lembaga penelitian kesehatan Surgeon General yang mengaitkan konsumsi nikotin tembakau dengan kesehatan. Riset tersebut memicu pengambilalihan bisnis nikotin diberbagai Negara termasuk Indonesia. Karena secara alamiah, kandungan nikotin terbesar ada di daun tembakau. Nikotin bagi ilmuwan kesehatan mempunyai banyak manfaat untuk pengobatan dan aneka terapi. <\/p>\n\n\n\n

Organisasi kesehatan dunia WHO sebagai organisasi pemegang otoritas tertinggi kesehatan dunia, dengan lantaran mendapatkan sokokngan dana industri farmasi menjadikan organisasi WHO tidak lagi bertindak demi meningkatkan taraf kesehatan masyarakat dunia. Melainkan muncul liberalisasi kesehatan modern. WHO menjadi panjang tangan industri farmasi, dokter atau ilmuwan kesehatan menjadi alat perusahaan obat, menjadi ujung tombak industri farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Tidak menngherankan, jika di Indonesia sampai detik ini keberadaan dokter atau ilmuwan kesehatan penopang utama peredaran obat dan apotek. Yang terjadi ada take and give, saling memberi dan menerima. Bisa jadi pendapatan dokter di Indonesia lebih besar penjualan obat dari pada hasil dari konsumen atau pasien. Tak berhenti disitu, akibat di atas, memicu maraknya berdirinya apotek di Indonesia sampai tingkat Kecamatan dan desa. Masyarakat Indonesia dibuat hidupnya tergantung obat-obatan, mulai meninggalkan pengobatan alamiah tumbuh-tumbuhan dan sejenisnya. Bahkan masyarakat Indonesia dalam benaknya sudah terkontaminasi rezim kesehatan, semua penyakit harus disembuhkan dengan mengkonsumsi obat. Yang lebih menyedihkan lagi, praktek-praktek tradisional mulai terkikis dan hilang dari peredaran. Ambil contoh, dukun bayi, jamu tradisional, tumbuhan obat-obatan mulai tertelan bumi.     <\/p>\n\n\n\n

Turunan dari UU No. 39 tahun 2007 diatas, muncul Permenkeu No. 200\/PMK\/04\/2008, tentang aturan tata cara pemberian, pembekuan dan pencabutan nomor pokok pengusahaan barang cukai untuk pabrik atau industri hasil tembakau. Dalam aturan ini, memberlakukan ketentuan yang sangat berat bagi industri rokok kretek rumahan (industri kecil). Yaitu salah satunya, aturan industri kretek bangunan luasnya harus 200 meter persegi, tidak berhubungan langsung dengan bangunan rumah tempat tinggal, halaman rumah dan tempat lain yang bukan bagian pabrik, dan diharuskan bangunan tersebut di pinggir jalan umum. Gara-gara aturan ini, banyak industri kecil rumahan mati. Sebelum ada aturan ini, di kota Kudus sendiri banyak sekali industri kretek rumahan belum lagi di kota lain seperti kabupaten Jember, Malang dan lainnya.  <\/p>\n\n\n\n

Setelah Permenkeu No. 200\/PMK\/04\/2008, muncul Permenkeu lainnya, seperti Permenkeu No. 191\/PMK.04\/2010, Permenkeu No. 78\/PMK.011\/2013, Permenkeu 84\/2008, Permenkeu 20\/2009. Dari semua Permenkeu tersebut, semuanya mengarah pelemahan industri rokok kretek nasional yang didasari dari intervensi rezim kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2009 muncul Undang-undang No. 28 Tentang pajak daerah dan retribusi daerah atau lebih sederhanya di sebut pajak daerah selain cukai. Besaran pajak daerah ini 10% atas produk tembakau. Unduang-undang ini adopsi dari framework convention on tobacco control (FCTC). Tujuan utama pungutan pajak daerah ini sama halnya pergeseran paradigma pungutan cukai, yaitu untuk menekan peredaran rokok kretek nasional. Kemudian muncul PP 109 tahun 2012 yang didalamnya tembakau dimasukan sebagai bahan zat adiktif, ini sebagai upaya ektrim untuk mematikan rokok kretek Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, kampanye isu negatif terhadap rokok kretek. Hampir semua penyakit yang diderita manusia dikaitkan dampak dari rokok, baik bagi perokok maupun yang tidak merokok. Tanpa dasar, tanpa bukti keberadaan rokok kretek sebagai sumber dari segala penyakit. Lebih tidak rasional lagi, semua dampak yang terjadi di masyarakat selalu dikaitkan dengan rokok kretek. Ambil contoh, kemiskinan di Indonesia salah satu penyebabnya karena mengkonsumsi rokok kretek. Naiknya iuran BPJS gara-gara banyak tunggakan yang belum terbayar, gara-gara pengurusan yang tidak akuntabel dikaitkan dengan konsumsi rokok kretek, memberikan nuansa negatif pada perokok. Sampai hal-hal yang terkecil seperti keberadaan sampah, polusi udara selalu keberadaan rokok kretek selalu disalahkan. Inilah bentuk kampanye anti rokok, bertujuan mematikan industri rokok kretek nasional. Setelah industri mati, farmasi melenggang memonopoli perdagangan nikotin.   <\/p>\n\n\n\n

Pengaruh wacana kesehatan global yang dikampanyekan kelompok anti tembakau dan rokok kretek telah menyusup dalam regulasi di Negara Indonesia. Melalui kebijakan pengaturan peredaran tembakau dan membuat isu negatif rokok kretek sangat didominasi rezim kesehatan, menafikan aspek ekonomi, sosial dan budaya yang telah mengakar berates tahun. Pada akhirnya kebijakan tembakau di Indonesia melemahkan industri kretek nasional, yang selama ini menjadi sumber penghidupan berpuluh-puluh juta rakyat yang terintegrasi dengan insdustri rokok kretek nasional.  
<\/p>\n","post_title":"Beratnya Perjalanan Rokok Kretek di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beratnya-perjalanan-kretek-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-12 10:28:19","post_modified_gmt":"2019-10-12 03:28:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6142","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6112,"post_author":"877","post_date":"2019-09-30 10:39:53","post_date_gmt":"2019-09-30 03:39:53","post_content":"\n

Mbah Sholeh, salah satu tokoh di Desa Prawoto Pati Jawa Tengah, ia selalu mengkonsumsi rokok kretek untuk memacu gairah semangat hidupnya diusia menjelang senja. Usia boleh bertambah kepala tujuh, namun fisik tetap bugar, seger dan energik. <\/p>\n\n\n\n

Sore itu sehabis ashar hari senin tanggal 23 September 2019, salah satu pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) menghampiriku sembari menyerahkan kertas undangan. Saat itu, aku sendiri sudah di atas motor mau bergegas pergi belanja untuk keperluan Mbah Pae panggilan akrab simbah KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus. Saat ini, beliau menjadi bapak masyarakat Kudus, sehingga banyak orang memanggilnya \u201cMbah Pae\u201d, putra dan cucunya pun memanggil demikian. <\/p>\n\n\n\n

Undangan dari pengurus YM3SK aku masukkan ke kantong saku celana, kemudian lanjut pergi belanja. Walaupun hari sudah sore, panas matahari masih terasa, terlebih saat menyinari kulit yang tidak terbungkus kain pakaian. Seakan-akan hari itu matahari semangat menyinari bumi mengiringi musim kemarau. Sepulang dari belanja akupun menuju dapur mengambil gelas dan air minum. Sambil minum aku buka undangan tersebut dan aku baca. Ternyata undangan tersebut pemberitahuan ada acara pengajian dalam rangka Haul Agung Kanjeng Sunan Prawoto Raden Haryo Bagus Mu\u2019min atau biasa dipanggil Mbah Tabek.<\/p>\n\n\n\n

Sunan Prawoto adalah raja keempat dari Kesultanan Demak yang memerintah tahun 1546-1549. Nama lahirnya Raden Mukmin, seorang agamis dari keturunan Kerajaan Demak Bintoro. Putra Sulung Raja Demak Sultan Trenggono. Ia terkenal dengan sebutan Sunan Prawoto, karena daerah yang disinggahi hingga akhir wafatnya bernama Desa Prawoto dalam wilayah kabupaten Pati Jawa Tengah berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kudus bagian selatan. Konon Desa Prawoto sebagai Kerajaan Kecil setelah Kerajaan Demak hancur. Raden Mukmin inilah yang memboyong Kerajaan Demak ke Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Saat ini Desa Prawoto adalah desa perbukitan, dengan hawa yang tidak terlalu dingin saat malam hari dan tidak terlalu panas pada siang hari. Walaupun hanya perbukitan, di Prawoto masih banyak pohon-pohon besar dan hijau memberikan kesejukan. Saat malam tiba, dari perbukitan Prawoto nampak jelas wilayah kota Kudus. Memang daerah Prowoto lebih dekat dengan kota Kudus dari pada Kota Pati. Bahkan budaya dan adat istiadatnya pun kental dengan budaya keKudusan. Sebagian besar masyarakat Prawoto aktifitas seharinya kewilayah Kudus, seperti bekerja, berdagang, pergi kepasar, sekolah, bahkan samapi memanfaatkan fasilitas ATM mereka memilih ke Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa penjajahan Belanda, Desa Prawoto di fungsikan sebagai distrik Karesidenan yang membawai daerah Pati sampai perbatasan Tuban Jawa Timur, Kudus, Jepara bahkan Demak. Sampai sekarang perkantoran Karesidenan warisan Belanda masih berdiri kokoh dan sebagian difungsikan untuk kepentingan Desa. Tidak hanya itu, di tengah-tengah desa terdapat semacam alun-alun kecil dengan kolam air besar yang konon juga peninggalan Belanda. Tidak sedikit yang berpendapat kolam tersebut peninggalan jauh sebelum Belanda, alias peninggalan Sunan Prawoto. Sehingga, kolam tersebut sering dibuat mandi para tokoh-tokoh dan Ulama\u2019 dari luar kota di Jawa, seperti Pekalongan, Batang, Kendal, Magelang, Solo dan lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Di Desa Prawoto terdapat dua makam Sunan Prawoto, di daerah bawah dan di daerah atas istilah masyarakat menamainya. Terlepas mana yang benar Makam Sunan Prawoto tergantung keyakinan individu. Menurut arkeolog UGM yang saat itu ikut menjelaskan, bahwa yang dibawah adalah peninggalan situs dan yang di atas dari dulu berupa makam yang dikenal dengan makam Tabek. <\/p>\n\n\n\n

Rerata jenjang pendidikan masyarakat Prawoto maksimal tingkat SMA, hanya ada beberapa glintir yang samapi jenjang sarjana dan ada satu orang menjadi guru besar di UGM, namun sudah lama menetap di Yogyakarta, dan jarang pulang. Anehnya, walaupun rata-rata lulusan jenjang SMA, kemampuan dan skill mereka tak kalah dengan yang sarjana bahkan mentalnya pun demikian. Hal itu dapat dilihat dari cara bicara, cara berorganisasi, dan pola pikir maju seperti halnya sarjana. Itulah sekilah cerita tentang Prawoto.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke undangan, setelah aku baca, ternyata undangan tersebut sekaligus perintah dari pengurus YM3SK untuk mewakili datang di acara Haul Sunan Prawoto yang dilaksanakan di hari dan tanggal itu juga jam 19.00 WIB. Walaupun terkesan mendadak tidak seperti biasa jauh-jauh hari sudah ada pemberitahuan, seperti saat acara haul Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Ampel. Akhirnya tetap datang di acara haul Sunan Prawoto dengan berkoordinasi dan mengajak dengan teman-teman di dekat desa Prawoto. Berangkat sehabis sholat isya\u2019, sampai di desa Prawoto jam 19.45 WIB acara dbelum di mulai menunggu group rebana dari bapak-bapak polisi Polres Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Disaat-saat senggang tersebut, aku manfaatkan ngobrol dengan penduduk dan tokoh Ulama\u2019 setempat. Ternyata mereka selain punya warisan seni ketoprak juga punya kebudayaan menghisap rokok kretek. Selain rokok kretek mereka tidak mau. Karena budaya merokok kretek diyakini warisan leluhurnya. Jarang sekali orang-orang tua yang tidak merokok, terlihat tidak memegang dan membawa rokok kretek kebanyakan anak-anak usia sekolah. Sambil ngobrol mengupas sedikit sejarah Sunan Prawoto kita merokok kretek bersama. Dengan merokok kretek suasana santai dan keakraban terbentuk di serambi masjid Sunan Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Kebetulan posisiku duduk bersebelahan dengan salah satu tokoh juga Ulama\u2019 Prawoto. Umurnya sudah tergolong dapat bonus 16 tahun dati Tuhan. Itulah jawabannya saat aku tanya usianya berapa. Karena pingin tau, aku tanya kembali persisnya usia berapa, beliau menjawab diatas rata-rata umumnya usia manusia (60 tahun) yaitu 76 tahun. Ia menjawab sambil tersenyum dan memegang rokok kretek yang telah disulut, ia adalah Mbah Sholeh (nama samara).<\/p>\n\n\n\n

Saat menjawab, akupun terkaget, karena prediksiku umur sekitaran 50an. Raup wajahnya bersih, badannya terlihat sehat dan terlihat energik, tidak mau kalah dengan bapak-bapak lainnya yang saat itu ikut ngobrol yang rata-rata umur 48-60 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Akhirnya akupun penasaran, dan kembali bertanya. Mbah apa resepnya kok masih terlihat muda?. Ia pun menjawab, jauhi makanan yang ada obat penyedap rasanya, makananlah bahan alami seperti daun-daunan. Sampai detik ini ia mengaku tidak makan makanan yang ada penyedap rasanya, kalau ditawari atau ada suguhan di depannya, ia memilih tidak akan memakannya. Juga kalau ditawari dan disuguhi minuman yang bergula. Ia pun demikian menghindari. Kata masyarakat lainnya yang ikut ngobrol, Mbah Sholeh itu hidup sehat.<\/p>\n\n\n\n

Celetukan tersebut disikapi Mbah Sholeh  dengan senyuman dan sambil mengeluarkan asap rokok kretek dari mulutnya dan hidupnya. Kemudian aku bertanya lagi, kenapa Mbah merokok?. Ia pun tersenyum sambil menyedot kembali rokok kreteknya dengan menjawab, kalau merokok kretek membuat ia bahagia, dengan kondisi bahagia ini orang jadi awet muda. Kalau merokok membuat semangat, dengan semangat orang jadi giat dan kuat. Ia juga menceritakan memulai merokok kretek saat sudah Islam. Kata Islam disini bukan berarti saat masuk Islam, akan tetapi yang dimaksud saat sudah khitan atau usia baliq. Dahulu setelah ia dikhitan, bapaknya menyuruhnya merokok sebagai tanda sudah dewasa. <\/p>\n\n\n\n

Inilah pengakuan Mbah Sholeh, ternyata wajah yang bersih berseri, awet muda, fisiknya kuat dan energik, salah satu rahasinya adalah berbahagia dan giat. Agar bahagia dan giat ia selalu mengkonsumsi rokok kretek dan meninggalkan makanan dengan penyedap rasa.   
<\/p>\n","post_title":"Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bikin-awet-muda-dan-energik-rahasia-di-balik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-30 10:40:00","post_modified_gmt":"2019-09-30 03:40:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6112","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6101,"post_author":"877","post_date":"2019-09-26 10:08:08","post_date_gmt":"2019-09-26 03:08:08","post_content":"\n

Masa panen adalah saat yang dinanti-nanti petani tembakau. Tentunya harapan petani, tanaman tembakaunaya tumbuh dengan baik, kualitas bagus dan jumlahnya banyak, serta harganya bagus. Di saat tanaman tembakaunya bagus, baik kualitas dan kuantitasnya, biasanya diikuti dengan harga bagus pula. Namun tidak bisa dipastikan, karena masalah harga tidak bisa petani serta merta yang menentukan, ada faktor yang sanagat kompleks. Yaitu situasi dan kondisi sektor pertembakauan di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting kolonial, kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. 
<\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz, menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage.<\/em>Tetapi di sepanjang bukunya, dipampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.
<\/p>\n\n\n\n

Jika perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Artinya usia kretek telah mencapai, bahkan melebihi batas 50 tahun sebagai syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. Bahkan jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat yang mengakar. Perkembangannya, sistem tersebut menjadi sarana memperoleh nilai ekonomi sebagai penguatan hidup keberlanjutan. Tak hanya itu, sistem pengetahuan tersebut membawa si pewaris menuju kehidupan sejahtera. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Kretek Warisan Budaya Tak Benda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-warisan-budaya-tak-benda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-14 09:05:15","post_modified_gmt":"2019-10-14 02:05:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6142,"post_author":"877","post_date":"2019-10-12 10:25:41","post_date_gmt":"2019-10-12 03:25:41","post_content":"\n

Jelas-jelas kretek satu-satunya industri yang peka zaman. Industri yang telah membuktikan ketangguhannya selama ratusan tahun tetap bertahan hidup hingga sekarang. Keberadaan industri kretek masih terus memberikan kontribusi besar terhadap bangsa Indonesia, baik untuk petani, ketersediaan lapangan pekerjaan, jaminan sosial, pengembangan kebudayaan bangsa bahkan sampai pada berkontribusi besar terhadap pemasukan dan pendapatan Negara. Namun perjalanan industri kretek dari zaman kezaman menghadapi tantangan dan ancaman yang sangat berat hingga sekarang.<\/p>\n\n\n\n

 Uang dari hasil rokok kretek oke, barangnya nanti dulu, itulah situasi rokok kretek di Indonesia. Sangat ironi sekali, keberadaan kretek di Indonesia selalu di recoki, mulai dari aturan perundang-undangan sampai pada isu tak sedap yang dikaitkan dengan keberadaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Pertama, undang-undang cukai dan kejahatan rezim kesehatan. Cukai merupakan komponen pendapatan negara yang mempunyai peran penting untuk terlaksananya tugas Negara. Pungutan cukai sudah terlaksana sejak zaman kolonial dalam Staatsblad No. 517 tahun 1932. Giroh pungutan ini hanya berdasar pada penguatan pendapatan dan keungan kolonial. Karena dirasa salah satu industri yang mampu menopang keuangan kolonial saat itu. <\/p>\n\n\n\n

Setelah merdeka, pungutan cukai tetap dilanjutkan sebagai bagian penguatan keuangan Negara, diatur pada Undang-undang No. 28 Tahun 1947 hingga Undang-undang No.11 Tahun 1995. Pada tahun 2007, terjadi pergeseran alasan pungutan cukai yang awalnya untuk penguatan keuangan Negara, kemudian bertujuan sebagai sarana pembatasan peredaran dan pemakaiannya. Pergeseran tujuan ini, karena dominasi rezim kesehatan. Yaitu munculnya UU No. 39 Tahun 2007,  Tentang perubahan atas UU No. 11 Tahun 1995. Dalam UU No. 39 tahun 2007 ini terlihat sangat kuat dominasi kesehatan. Sehingga memberi peluang peningkatan tarif cukai terjadi tiap tahun. Jadi naiknya tarif cukai menjadi jalan paling efektif untuk menekan lajunya peredaran rokok kretek. Terlihat, dari awal kemunculan pada abad 19 hingga tahun 1995, keberadaan industri kretek sangat berarti sebagai satu budaya yang mengakar di tengah-tengah masyarakat bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Mulai tahun 2007 sampai sekarang rezim kesehatan mendominasi aturan kretek. Kejadian ini akibat desekan dan tekanan dunia internasional setelah terjadi perselingkuhan WHO dengan perusahaan farmasi multinasional di Swiss pada tanggal 30 Januari 1999. Direktur Jenderal WHO, Gro Harlem Brundtland mengumumkan proyek kemitraan antara WHO dan perusahaan farmasi multinasional Pharmacia & Upjohn, Novartis dan Glaxo Wellcome untuk pengembangan nicotine replacement therapy (NRT). Dalam pidatonya, Brundtland terang-terangan mendeklarasikan kampanye anti rokok untuk mensukseskan tujuan bersama. <\/p>\n\n\n\n

Kemitraan antara WHO dan industri farmasi multinasional , setelah adanya riset di Amerika Serikat yang dilakukan lembaga penelitian kesehatan Surgeon General yang mengaitkan konsumsi nikotin tembakau dengan kesehatan. Riset tersebut memicu pengambilalihan bisnis nikotin diberbagai Negara termasuk Indonesia. Karena secara alamiah, kandungan nikotin terbesar ada di daun tembakau. Nikotin bagi ilmuwan kesehatan mempunyai banyak manfaat untuk pengobatan dan aneka terapi. <\/p>\n\n\n\n

Organisasi kesehatan dunia WHO sebagai organisasi pemegang otoritas tertinggi kesehatan dunia, dengan lantaran mendapatkan sokokngan dana industri farmasi menjadikan organisasi WHO tidak lagi bertindak demi meningkatkan taraf kesehatan masyarakat dunia. Melainkan muncul liberalisasi kesehatan modern. WHO menjadi panjang tangan industri farmasi, dokter atau ilmuwan kesehatan menjadi alat perusahaan obat, menjadi ujung tombak industri farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Tidak menngherankan, jika di Indonesia sampai detik ini keberadaan dokter atau ilmuwan kesehatan penopang utama peredaran obat dan apotek. Yang terjadi ada take and give, saling memberi dan menerima. Bisa jadi pendapatan dokter di Indonesia lebih besar penjualan obat dari pada hasil dari konsumen atau pasien. Tak berhenti disitu, akibat di atas, memicu maraknya berdirinya apotek di Indonesia sampai tingkat Kecamatan dan desa. Masyarakat Indonesia dibuat hidupnya tergantung obat-obatan, mulai meninggalkan pengobatan alamiah tumbuh-tumbuhan dan sejenisnya. Bahkan masyarakat Indonesia dalam benaknya sudah terkontaminasi rezim kesehatan, semua penyakit harus disembuhkan dengan mengkonsumsi obat. Yang lebih menyedihkan lagi, praktek-praktek tradisional mulai terkikis dan hilang dari peredaran. Ambil contoh, dukun bayi, jamu tradisional, tumbuhan obat-obatan mulai tertelan bumi.     <\/p>\n\n\n\n

Turunan dari UU No. 39 tahun 2007 diatas, muncul Permenkeu No. 200\/PMK\/04\/2008, tentang aturan tata cara pemberian, pembekuan dan pencabutan nomor pokok pengusahaan barang cukai untuk pabrik atau industri hasil tembakau. Dalam aturan ini, memberlakukan ketentuan yang sangat berat bagi industri rokok kretek rumahan (industri kecil). Yaitu salah satunya, aturan industri kretek bangunan luasnya harus 200 meter persegi, tidak berhubungan langsung dengan bangunan rumah tempat tinggal, halaman rumah dan tempat lain yang bukan bagian pabrik, dan diharuskan bangunan tersebut di pinggir jalan umum. Gara-gara aturan ini, banyak industri kecil rumahan mati. Sebelum ada aturan ini, di kota Kudus sendiri banyak sekali industri kretek rumahan belum lagi di kota lain seperti kabupaten Jember, Malang dan lainnya.  <\/p>\n\n\n\n

Setelah Permenkeu No. 200\/PMK\/04\/2008, muncul Permenkeu lainnya, seperti Permenkeu No. 191\/PMK.04\/2010, Permenkeu No. 78\/PMK.011\/2013, Permenkeu 84\/2008, Permenkeu 20\/2009. Dari semua Permenkeu tersebut, semuanya mengarah pelemahan industri rokok kretek nasional yang didasari dari intervensi rezim kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2009 muncul Undang-undang No. 28 Tentang pajak daerah dan retribusi daerah atau lebih sederhanya di sebut pajak daerah selain cukai. Besaran pajak daerah ini 10% atas produk tembakau. Unduang-undang ini adopsi dari framework convention on tobacco control (FCTC). Tujuan utama pungutan pajak daerah ini sama halnya pergeseran paradigma pungutan cukai, yaitu untuk menekan peredaran rokok kretek nasional. Kemudian muncul PP 109 tahun 2012 yang didalamnya tembakau dimasukan sebagai bahan zat adiktif, ini sebagai upaya ektrim untuk mematikan rokok kretek Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, kampanye isu negatif terhadap rokok kretek. Hampir semua penyakit yang diderita manusia dikaitkan dampak dari rokok, baik bagi perokok maupun yang tidak merokok. Tanpa dasar, tanpa bukti keberadaan rokok kretek sebagai sumber dari segala penyakit. Lebih tidak rasional lagi, semua dampak yang terjadi di masyarakat selalu dikaitkan dengan rokok kretek. Ambil contoh, kemiskinan di Indonesia salah satu penyebabnya karena mengkonsumsi rokok kretek. Naiknya iuran BPJS gara-gara banyak tunggakan yang belum terbayar, gara-gara pengurusan yang tidak akuntabel dikaitkan dengan konsumsi rokok kretek, memberikan nuansa negatif pada perokok. Sampai hal-hal yang terkecil seperti keberadaan sampah, polusi udara selalu keberadaan rokok kretek selalu disalahkan. Inilah bentuk kampanye anti rokok, bertujuan mematikan industri rokok kretek nasional. Setelah industri mati, farmasi melenggang memonopoli perdagangan nikotin.   <\/p>\n\n\n\n

Pengaruh wacana kesehatan global yang dikampanyekan kelompok anti tembakau dan rokok kretek telah menyusup dalam regulasi di Negara Indonesia. Melalui kebijakan pengaturan peredaran tembakau dan membuat isu negatif rokok kretek sangat didominasi rezim kesehatan, menafikan aspek ekonomi, sosial dan budaya yang telah mengakar berates tahun. Pada akhirnya kebijakan tembakau di Indonesia melemahkan industri kretek nasional, yang selama ini menjadi sumber penghidupan berpuluh-puluh juta rakyat yang terintegrasi dengan insdustri rokok kretek nasional.  
<\/p>\n","post_title":"Beratnya Perjalanan Rokok Kretek di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beratnya-perjalanan-kretek-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-12 10:28:19","post_modified_gmt":"2019-10-12 03:28:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6142","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6112,"post_author":"877","post_date":"2019-09-30 10:39:53","post_date_gmt":"2019-09-30 03:39:53","post_content":"\n

Mbah Sholeh, salah satu tokoh di Desa Prawoto Pati Jawa Tengah, ia selalu mengkonsumsi rokok kretek untuk memacu gairah semangat hidupnya diusia menjelang senja. Usia boleh bertambah kepala tujuh, namun fisik tetap bugar, seger dan energik. <\/p>\n\n\n\n

Sore itu sehabis ashar hari senin tanggal 23 September 2019, salah satu pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) menghampiriku sembari menyerahkan kertas undangan. Saat itu, aku sendiri sudah di atas motor mau bergegas pergi belanja untuk keperluan Mbah Pae panggilan akrab simbah KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus. Saat ini, beliau menjadi bapak masyarakat Kudus, sehingga banyak orang memanggilnya \u201cMbah Pae\u201d, putra dan cucunya pun memanggil demikian. <\/p>\n\n\n\n

Undangan dari pengurus YM3SK aku masukkan ke kantong saku celana, kemudian lanjut pergi belanja. Walaupun hari sudah sore, panas matahari masih terasa, terlebih saat menyinari kulit yang tidak terbungkus kain pakaian. Seakan-akan hari itu matahari semangat menyinari bumi mengiringi musim kemarau. Sepulang dari belanja akupun menuju dapur mengambil gelas dan air minum. Sambil minum aku buka undangan tersebut dan aku baca. Ternyata undangan tersebut pemberitahuan ada acara pengajian dalam rangka Haul Agung Kanjeng Sunan Prawoto Raden Haryo Bagus Mu\u2019min atau biasa dipanggil Mbah Tabek.<\/p>\n\n\n\n

Sunan Prawoto adalah raja keempat dari Kesultanan Demak yang memerintah tahun 1546-1549. Nama lahirnya Raden Mukmin, seorang agamis dari keturunan Kerajaan Demak Bintoro. Putra Sulung Raja Demak Sultan Trenggono. Ia terkenal dengan sebutan Sunan Prawoto, karena daerah yang disinggahi hingga akhir wafatnya bernama Desa Prawoto dalam wilayah kabupaten Pati Jawa Tengah berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kudus bagian selatan. Konon Desa Prawoto sebagai Kerajaan Kecil setelah Kerajaan Demak hancur. Raden Mukmin inilah yang memboyong Kerajaan Demak ke Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Saat ini Desa Prawoto adalah desa perbukitan, dengan hawa yang tidak terlalu dingin saat malam hari dan tidak terlalu panas pada siang hari. Walaupun hanya perbukitan, di Prawoto masih banyak pohon-pohon besar dan hijau memberikan kesejukan. Saat malam tiba, dari perbukitan Prawoto nampak jelas wilayah kota Kudus. Memang daerah Prowoto lebih dekat dengan kota Kudus dari pada Kota Pati. Bahkan budaya dan adat istiadatnya pun kental dengan budaya keKudusan. Sebagian besar masyarakat Prawoto aktifitas seharinya kewilayah Kudus, seperti bekerja, berdagang, pergi kepasar, sekolah, bahkan samapi memanfaatkan fasilitas ATM mereka memilih ke Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa penjajahan Belanda, Desa Prawoto di fungsikan sebagai distrik Karesidenan yang membawai daerah Pati sampai perbatasan Tuban Jawa Timur, Kudus, Jepara bahkan Demak. Sampai sekarang perkantoran Karesidenan warisan Belanda masih berdiri kokoh dan sebagian difungsikan untuk kepentingan Desa. Tidak hanya itu, di tengah-tengah desa terdapat semacam alun-alun kecil dengan kolam air besar yang konon juga peninggalan Belanda. Tidak sedikit yang berpendapat kolam tersebut peninggalan jauh sebelum Belanda, alias peninggalan Sunan Prawoto. Sehingga, kolam tersebut sering dibuat mandi para tokoh-tokoh dan Ulama\u2019 dari luar kota di Jawa, seperti Pekalongan, Batang, Kendal, Magelang, Solo dan lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Di Desa Prawoto terdapat dua makam Sunan Prawoto, di daerah bawah dan di daerah atas istilah masyarakat menamainya. Terlepas mana yang benar Makam Sunan Prawoto tergantung keyakinan individu. Menurut arkeolog UGM yang saat itu ikut menjelaskan, bahwa yang dibawah adalah peninggalan situs dan yang di atas dari dulu berupa makam yang dikenal dengan makam Tabek. <\/p>\n\n\n\n

Rerata jenjang pendidikan masyarakat Prawoto maksimal tingkat SMA, hanya ada beberapa glintir yang samapi jenjang sarjana dan ada satu orang menjadi guru besar di UGM, namun sudah lama menetap di Yogyakarta, dan jarang pulang. Anehnya, walaupun rata-rata lulusan jenjang SMA, kemampuan dan skill mereka tak kalah dengan yang sarjana bahkan mentalnya pun demikian. Hal itu dapat dilihat dari cara bicara, cara berorganisasi, dan pola pikir maju seperti halnya sarjana. Itulah sekilah cerita tentang Prawoto.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke undangan, setelah aku baca, ternyata undangan tersebut sekaligus perintah dari pengurus YM3SK untuk mewakili datang di acara Haul Sunan Prawoto yang dilaksanakan di hari dan tanggal itu juga jam 19.00 WIB. Walaupun terkesan mendadak tidak seperti biasa jauh-jauh hari sudah ada pemberitahuan, seperti saat acara haul Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Ampel. Akhirnya tetap datang di acara haul Sunan Prawoto dengan berkoordinasi dan mengajak dengan teman-teman di dekat desa Prawoto. Berangkat sehabis sholat isya\u2019, sampai di desa Prawoto jam 19.45 WIB acara dbelum di mulai menunggu group rebana dari bapak-bapak polisi Polres Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Disaat-saat senggang tersebut, aku manfaatkan ngobrol dengan penduduk dan tokoh Ulama\u2019 setempat. Ternyata mereka selain punya warisan seni ketoprak juga punya kebudayaan menghisap rokok kretek. Selain rokok kretek mereka tidak mau. Karena budaya merokok kretek diyakini warisan leluhurnya. Jarang sekali orang-orang tua yang tidak merokok, terlihat tidak memegang dan membawa rokok kretek kebanyakan anak-anak usia sekolah. Sambil ngobrol mengupas sedikit sejarah Sunan Prawoto kita merokok kretek bersama. Dengan merokok kretek suasana santai dan keakraban terbentuk di serambi masjid Sunan Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Kebetulan posisiku duduk bersebelahan dengan salah satu tokoh juga Ulama\u2019 Prawoto. Umurnya sudah tergolong dapat bonus 16 tahun dati Tuhan. Itulah jawabannya saat aku tanya usianya berapa. Karena pingin tau, aku tanya kembali persisnya usia berapa, beliau menjawab diatas rata-rata umumnya usia manusia (60 tahun) yaitu 76 tahun. Ia menjawab sambil tersenyum dan memegang rokok kretek yang telah disulut, ia adalah Mbah Sholeh (nama samara).<\/p>\n\n\n\n

Saat menjawab, akupun terkaget, karena prediksiku umur sekitaran 50an. Raup wajahnya bersih, badannya terlihat sehat dan terlihat energik, tidak mau kalah dengan bapak-bapak lainnya yang saat itu ikut ngobrol yang rata-rata umur 48-60 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Akhirnya akupun penasaran, dan kembali bertanya. Mbah apa resepnya kok masih terlihat muda?. Ia pun menjawab, jauhi makanan yang ada obat penyedap rasanya, makananlah bahan alami seperti daun-daunan. Sampai detik ini ia mengaku tidak makan makanan yang ada penyedap rasanya, kalau ditawari atau ada suguhan di depannya, ia memilih tidak akan memakannya. Juga kalau ditawari dan disuguhi minuman yang bergula. Ia pun demikian menghindari. Kata masyarakat lainnya yang ikut ngobrol, Mbah Sholeh itu hidup sehat.<\/p>\n\n\n\n

Celetukan tersebut disikapi Mbah Sholeh  dengan senyuman dan sambil mengeluarkan asap rokok kretek dari mulutnya dan hidupnya. Kemudian aku bertanya lagi, kenapa Mbah merokok?. Ia pun tersenyum sambil menyedot kembali rokok kreteknya dengan menjawab, kalau merokok kretek membuat ia bahagia, dengan kondisi bahagia ini orang jadi awet muda. Kalau merokok membuat semangat, dengan semangat orang jadi giat dan kuat. Ia juga menceritakan memulai merokok kretek saat sudah Islam. Kata Islam disini bukan berarti saat masuk Islam, akan tetapi yang dimaksud saat sudah khitan atau usia baliq. Dahulu setelah ia dikhitan, bapaknya menyuruhnya merokok sebagai tanda sudah dewasa. <\/p>\n\n\n\n

Inilah pengakuan Mbah Sholeh, ternyata wajah yang bersih berseri, awet muda, fisiknya kuat dan energik, salah satu rahasinya adalah berbahagia dan giat. Agar bahagia dan giat ia selalu mengkonsumsi rokok kretek dan meninggalkan makanan dengan penyedap rasa.   
<\/p>\n","post_title":"Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bikin-awet-muda-dan-energik-rahasia-di-balik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-30 10:40:00","post_modified_gmt":"2019-09-30 03:40:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6112","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6101,"post_author":"877","post_date":"2019-09-26 10:08:08","post_date_gmt":"2019-09-26 03:08:08","post_content":"\n

Masa panen adalah saat yang dinanti-nanti petani tembakau. Tentunya harapan petani, tanaman tembakaunaya tumbuh dengan baik, kualitas bagus dan jumlahnya banyak, serta harganya bagus. Di saat tanaman tembakaunya bagus, baik kualitas dan kuantitasnya, biasanya diikuti dengan harga bagus pula. Namun tidak bisa dipastikan, karena masalah harga tidak bisa petani serta merta yang menentukan, ada faktor yang sanagat kompleks. Yaitu situasi dan kondisi sektor pertembakauan di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Sepuluh Konsep Kemitraan Ideal Pertanian Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting kolonial, kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. 
<\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz, menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage.<\/em>Tetapi di sepanjang bukunya, dipampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.
<\/p>\n\n\n\n

Jika perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Artinya usia kretek telah mencapai, bahkan melebihi batas 50 tahun sebagai syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. Bahkan jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat yang mengakar. Perkembangannya, sistem tersebut menjadi sarana memperoleh nilai ekonomi sebagai penguatan hidup keberlanjutan. Tak hanya itu, sistem pengetahuan tersebut membawa si pewaris menuju kehidupan sejahtera. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Kretek Warisan Budaya Tak Benda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-warisan-budaya-tak-benda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-14 09:05:15","post_modified_gmt":"2019-10-14 02:05:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6142,"post_author":"877","post_date":"2019-10-12 10:25:41","post_date_gmt":"2019-10-12 03:25:41","post_content":"\n

Jelas-jelas kretek satu-satunya industri yang peka zaman. Industri yang telah membuktikan ketangguhannya selama ratusan tahun tetap bertahan hidup hingga sekarang. Keberadaan industri kretek masih terus memberikan kontribusi besar terhadap bangsa Indonesia, baik untuk petani, ketersediaan lapangan pekerjaan, jaminan sosial, pengembangan kebudayaan bangsa bahkan sampai pada berkontribusi besar terhadap pemasukan dan pendapatan Negara. Namun perjalanan industri kretek dari zaman kezaman menghadapi tantangan dan ancaman yang sangat berat hingga sekarang.<\/p>\n\n\n\n

 Uang dari hasil rokok kretek oke, barangnya nanti dulu, itulah situasi rokok kretek di Indonesia. Sangat ironi sekali, keberadaan kretek di Indonesia selalu di recoki, mulai dari aturan perundang-undangan sampai pada isu tak sedap yang dikaitkan dengan keberadaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Pertama, undang-undang cukai dan kejahatan rezim kesehatan. Cukai merupakan komponen pendapatan negara yang mempunyai peran penting untuk terlaksananya tugas Negara. Pungutan cukai sudah terlaksana sejak zaman kolonial dalam Staatsblad No. 517 tahun 1932. Giroh pungutan ini hanya berdasar pada penguatan pendapatan dan keungan kolonial. Karena dirasa salah satu industri yang mampu menopang keuangan kolonial saat itu. <\/p>\n\n\n\n

Setelah merdeka, pungutan cukai tetap dilanjutkan sebagai bagian penguatan keuangan Negara, diatur pada Undang-undang No. 28 Tahun 1947 hingga Undang-undang No.11 Tahun 1995. Pada tahun 2007, terjadi pergeseran alasan pungutan cukai yang awalnya untuk penguatan keuangan Negara, kemudian bertujuan sebagai sarana pembatasan peredaran dan pemakaiannya. Pergeseran tujuan ini, karena dominasi rezim kesehatan. Yaitu munculnya UU No. 39 Tahun 2007,  Tentang perubahan atas UU No. 11 Tahun 1995. Dalam UU No. 39 tahun 2007 ini terlihat sangat kuat dominasi kesehatan. Sehingga memberi peluang peningkatan tarif cukai terjadi tiap tahun. Jadi naiknya tarif cukai menjadi jalan paling efektif untuk menekan lajunya peredaran rokok kretek. Terlihat, dari awal kemunculan pada abad 19 hingga tahun 1995, keberadaan industri kretek sangat berarti sebagai satu budaya yang mengakar di tengah-tengah masyarakat bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Mulai tahun 2007 sampai sekarang rezim kesehatan mendominasi aturan kretek. Kejadian ini akibat desekan dan tekanan dunia internasional setelah terjadi perselingkuhan WHO dengan perusahaan farmasi multinasional di Swiss pada tanggal 30 Januari 1999. Direktur Jenderal WHO, Gro Harlem Brundtland mengumumkan proyek kemitraan antara WHO dan perusahaan farmasi multinasional Pharmacia & Upjohn, Novartis dan Glaxo Wellcome untuk pengembangan nicotine replacement therapy (NRT). Dalam pidatonya, Brundtland terang-terangan mendeklarasikan kampanye anti rokok untuk mensukseskan tujuan bersama. <\/p>\n\n\n\n

Kemitraan antara WHO dan industri farmasi multinasional , setelah adanya riset di Amerika Serikat yang dilakukan lembaga penelitian kesehatan Surgeon General yang mengaitkan konsumsi nikotin tembakau dengan kesehatan. Riset tersebut memicu pengambilalihan bisnis nikotin diberbagai Negara termasuk Indonesia. Karena secara alamiah, kandungan nikotin terbesar ada di daun tembakau. Nikotin bagi ilmuwan kesehatan mempunyai banyak manfaat untuk pengobatan dan aneka terapi. <\/p>\n\n\n\n

Organisasi kesehatan dunia WHO sebagai organisasi pemegang otoritas tertinggi kesehatan dunia, dengan lantaran mendapatkan sokokngan dana industri farmasi menjadikan organisasi WHO tidak lagi bertindak demi meningkatkan taraf kesehatan masyarakat dunia. Melainkan muncul liberalisasi kesehatan modern. WHO menjadi panjang tangan industri farmasi, dokter atau ilmuwan kesehatan menjadi alat perusahaan obat, menjadi ujung tombak industri farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Tidak menngherankan, jika di Indonesia sampai detik ini keberadaan dokter atau ilmuwan kesehatan penopang utama peredaran obat dan apotek. Yang terjadi ada take and give, saling memberi dan menerima. Bisa jadi pendapatan dokter di Indonesia lebih besar penjualan obat dari pada hasil dari konsumen atau pasien. Tak berhenti disitu, akibat di atas, memicu maraknya berdirinya apotek di Indonesia sampai tingkat Kecamatan dan desa. Masyarakat Indonesia dibuat hidupnya tergantung obat-obatan, mulai meninggalkan pengobatan alamiah tumbuh-tumbuhan dan sejenisnya. Bahkan masyarakat Indonesia dalam benaknya sudah terkontaminasi rezim kesehatan, semua penyakit harus disembuhkan dengan mengkonsumsi obat. Yang lebih menyedihkan lagi, praktek-praktek tradisional mulai terkikis dan hilang dari peredaran. Ambil contoh, dukun bayi, jamu tradisional, tumbuhan obat-obatan mulai tertelan bumi.     <\/p>\n\n\n\n

Turunan dari UU No. 39 tahun 2007 diatas, muncul Permenkeu No. 200\/PMK\/04\/2008, tentang aturan tata cara pemberian, pembekuan dan pencabutan nomor pokok pengusahaan barang cukai untuk pabrik atau industri hasil tembakau. Dalam aturan ini, memberlakukan ketentuan yang sangat berat bagi industri rokok kretek rumahan (industri kecil). Yaitu salah satunya, aturan industri kretek bangunan luasnya harus 200 meter persegi, tidak berhubungan langsung dengan bangunan rumah tempat tinggal, halaman rumah dan tempat lain yang bukan bagian pabrik, dan diharuskan bangunan tersebut di pinggir jalan umum. Gara-gara aturan ini, banyak industri kecil rumahan mati. Sebelum ada aturan ini, di kota Kudus sendiri banyak sekali industri kretek rumahan belum lagi di kota lain seperti kabupaten Jember, Malang dan lainnya.  <\/p>\n\n\n\n

Setelah Permenkeu No. 200\/PMK\/04\/2008, muncul Permenkeu lainnya, seperti Permenkeu No. 191\/PMK.04\/2010, Permenkeu No. 78\/PMK.011\/2013, Permenkeu 84\/2008, Permenkeu 20\/2009. Dari semua Permenkeu tersebut, semuanya mengarah pelemahan industri rokok kretek nasional yang didasari dari intervensi rezim kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2009 muncul Undang-undang No. 28 Tentang pajak daerah dan retribusi daerah atau lebih sederhanya di sebut pajak daerah selain cukai. Besaran pajak daerah ini 10% atas produk tembakau. Unduang-undang ini adopsi dari framework convention on tobacco control (FCTC). Tujuan utama pungutan pajak daerah ini sama halnya pergeseran paradigma pungutan cukai, yaitu untuk menekan peredaran rokok kretek nasional. Kemudian muncul PP 109 tahun 2012 yang didalamnya tembakau dimasukan sebagai bahan zat adiktif, ini sebagai upaya ektrim untuk mematikan rokok kretek Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, kampanye isu negatif terhadap rokok kretek. Hampir semua penyakit yang diderita manusia dikaitkan dampak dari rokok, baik bagi perokok maupun yang tidak merokok. Tanpa dasar, tanpa bukti keberadaan rokok kretek sebagai sumber dari segala penyakit. Lebih tidak rasional lagi, semua dampak yang terjadi di masyarakat selalu dikaitkan dengan rokok kretek. Ambil contoh, kemiskinan di Indonesia salah satu penyebabnya karena mengkonsumsi rokok kretek. Naiknya iuran BPJS gara-gara banyak tunggakan yang belum terbayar, gara-gara pengurusan yang tidak akuntabel dikaitkan dengan konsumsi rokok kretek, memberikan nuansa negatif pada perokok. Sampai hal-hal yang terkecil seperti keberadaan sampah, polusi udara selalu keberadaan rokok kretek selalu disalahkan. Inilah bentuk kampanye anti rokok, bertujuan mematikan industri rokok kretek nasional. Setelah industri mati, farmasi melenggang memonopoli perdagangan nikotin.   <\/p>\n\n\n\n

Pengaruh wacana kesehatan global yang dikampanyekan kelompok anti tembakau dan rokok kretek telah menyusup dalam regulasi di Negara Indonesia. Melalui kebijakan pengaturan peredaran tembakau dan membuat isu negatif rokok kretek sangat didominasi rezim kesehatan, menafikan aspek ekonomi, sosial dan budaya yang telah mengakar berates tahun. Pada akhirnya kebijakan tembakau di Indonesia melemahkan industri kretek nasional, yang selama ini menjadi sumber penghidupan berpuluh-puluh juta rakyat yang terintegrasi dengan insdustri rokok kretek nasional.  
<\/p>\n","post_title":"Beratnya Perjalanan Rokok Kretek di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beratnya-perjalanan-kretek-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-12 10:28:19","post_modified_gmt":"2019-10-12 03:28:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6142","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6112,"post_author":"877","post_date":"2019-09-30 10:39:53","post_date_gmt":"2019-09-30 03:39:53","post_content":"\n

Mbah Sholeh, salah satu tokoh di Desa Prawoto Pati Jawa Tengah, ia selalu mengkonsumsi rokok kretek untuk memacu gairah semangat hidupnya diusia menjelang senja. Usia boleh bertambah kepala tujuh, namun fisik tetap bugar, seger dan energik. <\/p>\n\n\n\n

Sore itu sehabis ashar hari senin tanggal 23 September 2019, salah satu pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) menghampiriku sembari menyerahkan kertas undangan. Saat itu, aku sendiri sudah di atas motor mau bergegas pergi belanja untuk keperluan Mbah Pae panggilan akrab simbah KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus. Saat ini, beliau menjadi bapak masyarakat Kudus, sehingga banyak orang memanggilnya \u201cMbah Pae\u201d, putra dan cucunya pun memanggil demikian. <\/p>\n\n\n\n

Undangan dari pengurus YM3SK aku masukkan ke kantong saku celana, kemudian lanjut pergi belanja. Walaupun hari sudah sore, panas matahari masih terasa, terlebih saat menyinari kulit yang tidak terbungkus kain pakaian. Seakan-akan hari itu matahari semangat menyinari bumi mengiringi musim kemarau. Sepulang dari belanja akupun menuju dapur mengambil gelas dan air minum. Sambil minum aku buka undangan tersebut dan aku baca. Ternyata undangan tersebut pemberitahuan ada acara pengajian dalam rangka Haul Agung Kanjeng Sunan Prawoto Raden Haryo Bagus Mu\u2019min atau biasa dipanggil Mbah Tabek.<\/p>\n\n\n\n

Sunan Prawoto adalah raja keempat dari Kesultanan Demak yang memerintah tahun 1546-1549. Nama lahirnya Raden Mukmin, seorang agamis dari keturunan Kerajaan Demak Bintoro. Putra Sulung Raja Demak Sultan Trenggono. Ia terkenal dengan sebutan Sunan Prawoto, karena daerah yang disinggahi hingga akhir wafatnya bernama Desa Prawoto dalam wilayah kabupaten Pati Jawa Tengah berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kudus bagian selatan. Konon Desa Prawoto sebagai Kerajaan Kecil setelah Kerajaan Demak hancur. Raden Mukmin inilah yang memboyong Kerajaan Demak ke Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Saat ini Desa Prawoto adalah desa perbukitan, dengan hawa yang tidak terlalu dingin saat malam hari dan tidak terlalu panas pada siang hari. Walaupun hanya perbukitan, di Prawoto masih banyak pohon-pohon besar dan hijau memberikan kesejukan. Saat malam tiba, dari perbukitan Prawoto nampak jelas wilayah kota Kudus. Memang daerah Prowoto lebih dekat dengan kota Kudus dari pada Kota Pati. Bahkan budaya dan adat istiadatnya pun kental dengan budaya keKudusan. Sebagian besar masyarakat Prawoto aktifitas seharinya kewilayah Kudus, seperti bekerja, berdagang, pergi kepasar, sekolah, bahkan samapi memanfaatkan fasilitas ATM mereka memilih ke Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa penjajahan Belanda, Desa Prawoto di fungsikan sebagai distrik Karesidenan yang membawai daerah Pati sampai perbatasan Tuban Jawa Timur, Kudus, Jepara bahkan Demak. Sampai sekarang perkantoran Karesidenan warisan Belanda masih berdiri kokoh dan sebagian difungsikan untuk kepentingan Desa. Tidak hanya itu, di tengah-tengah desa terdapat semacam alun-alun kecil dengan kolam air besar yang konon juga peninggalan Belanda. Tidak sedikit yang berpendapat kolam tersebut peninggalan jauh sebelum Belanda, alias peninggalan Sunan Prawoto. Sehingga, kolam tersebut sering dibuat mandi para tokoh-tokoh dan Ulama\u2019 dari luar kota di Jawa, seperti Pekalongan, Batang, Kendal, Magelang, Solo dan lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Di Desa Prawoto terdapat dua makam Sunan Prawoto, di daerah bawah dan di daerah atas istilah masyarakat menamainya. Terlepas mana yang benar Makam Sunan Prawoto tergantung keyakinan individu. Menurut arkeolog UGM yang saat itu ikut menjelaskan, bahwa yang dibawah adalah peninggalan situs dan yang di atas dari dulu berupa makam yang dikenal dengan makam Tabek. <\/p>\n\n\n\n

Rerata jenjang pendidikan masyarakat Prawoto maksimal tingkat SMA, hanya ada beberapa glintir yang samapi jenjang sarjana dan ada satu orang menjadi guru besar di UGM, namun sudah lama menetap di Yogyakarta, dan jarang pulang. Anehnya, walaupun rata-rata lulusan jenjang SMA, kemampuan dan skill mereka tak kalah dengan yang sarjana bahkan mentalnya pun demikian. Hal itu dapat dilihat dari cara bicara, cara berorganisasi, dan pola pikir maju seperti halnya sarjana. Itulah sekilah cerita tentang Prawoto.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke undangan, setelah aku baca, ternyata undangan tersebut sekaligus perintah dari pengurus YM3SK untuk mewakili datang di acara Haul Sunan Prawoto yang dilaksanakan di hari dan tanggal itu juga jam 19.00 WIB. Walaupun terkesan mendadak tidak seperti biasa jauh-jauh hari sudah ada pemberitahuan, seperti saat acara haul Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Ampel. Akhirnya tetap datang di acara haul Sunan Prawoto dengan berkoordinasi dan mengajak dengan teman-teman di dekat desa Prawoto. Berangkat sehabis sholat isya\u2019, sampai di desa Prawoto jam 19.45 WIB acara dbelum di mulai menunggu group rebana dari bapak-bapak polisi Polres Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Disaat-saat senggang tersebut, aku manfaatkan ngobrol dengan penduduk dan tokoh Ulama\u2019 setempat. Ternyata mereka selain punya warisan seni ketoprak juga punya kebudayaan menghisap rokok kretek. Selain rokok kretek mereka tidak mau. Karena budaya merokok kretek diyakini warisan leluhurnya. Jarang sekali orang-orang tua yang tidak merokok, terlihat tidak memegang dan membawa rokok kretek kebanyakan anak-anak usia sekolah. Sambil ngobrol mengupas sedikit sejarah Sunan Prawoto kita merokok kretek bersama. Dengan merokok kretek suasana santai dan keakraban terbentuk di serambi masjid Sunan Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Kebetulan posisiku duduk bersebelahan dengan salah satu tokoh juga Ulama\u2019 Prawoto. Umurnya sudah tergolong dapat bonus 16 tahun dati Tuhan. Itulah jawabannya saat aku tanya usianya berapa. Karena pingin tau, aku tanya kembali persisnya usia berapa, beliau menjawab diatas rata-rata umumnya usia manusia (60 tahun) yaitu 76 tahun. Ia menjawab sambil tersenyum dan memegang rokok kretek yang telah disulut, ia adalah Mbah Sholeh (nama samara).<\/p>\n\n\n\n

Saat menjawab, akupun terkaget, karena prediksiku umur sekitaran 50an. Raup wajahnya bersih, badannya terlihat sehat dan terlihat energik, tidak mau kalah dengan bapak-bapak lainnya yang saat itu ikut ngobrol yang rata-rata umur 48-60 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Akhirnya akupun penasaran, dan kembali bertanya. Mbah apa resepnya kok masih terlihat muda?. Ia pun menjawab, jauhi makanan yang ada obat penyedap rasanya, makananlah bahan alami seperti daun-daunan. Sampai detik ini ia mengaku tidak makan makanan yang ada penyedap rasanya, kalau ditawari atau ada suguhan di depannya, ia memilih tidak akan memakannya. Juga kalau ditawari dan disuguhi minuman yang bergula. Ia pun demikian menghindari. Kata masyarakat lainnya yang ikut ngobrol, Mbah Sholeh itu hidup sehat.<\/p>\n\n\n\n

Celetukan tersebut disikapi Mbah Sholeh  dengan senyuman dan sambil mengeluarkan asap rokok kretek dari mulutnya dan hidupnya. Kemudian aku bertanya lagi, kenapa Mbah merokok?. Ia pun tersenyum sambil menyedot kembali rokok kreteknya dengan menjawab, kalau merokok kretek membuat ia bahagia, dengan kondisi bahagia ini orang jadi awet muda. Kalau merokok membuat semangat, dengan semangat orang jadi giat dan kuat. Ia juga menceritakan memulai merokok kretek saat sudah Islam. Kata Islam disini bukan berarti saat masuk Islam, akan tetapi yang dimaksud saat sudah khitan atau usia baliq. Dahulu setelah ia dikhitan, bapaknya menyuruhnya merokok sebagai tanda sudah dewasa. <\/p>\n\n\n\n

Inilah pengakuan Mbah Sholeh, ternyata wajah yang bersih berseri, awet muda, fisiknya kuat dan energik, salah satu rahasinya adalah berbahagia dan giat. Agar bahagia dan giat ia selalu mengkonsumsi rokok kretek dan meninggalkan makanan dengan penyedap rasa.   
<\/p>\n","post_title":"Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bikin-awet-muda-dan-energik-rahasia-di-balik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-30 10:40:00","post_modified_gmt":"2019-09-30 03:40:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6112","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6101,"post_author":"877","post_date":"2019-09-26 10:08:08","post_date_gmt":"2019-09-26 03:08:08","post_content":"\n

Masa panen adalah saat yang dinanti-nanti petani tembakau. Tentunya harapan petani, tanaman tembakaunaya tumbuh dengan baik, kualitas bagus dan jumlahnya banyak, serta harganya bagus. Di saat tanaman tembakaunya bagus, baik kualitas dan kuantitasnya, biasanya diikuti dengan harga bagus pula. Namun tidak bisa dipastikan, karena masalah harga tidak bisa petani serta merta yang menentukan, ada faktor yang sanagat kompleks. Yaitu situasi dan kondisi sektor pertembakauan di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Surabaya berdiri House of Sampoerna, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sepuluh Konsep Kemitraan Ideal Pertanian Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting kolonial, kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. 
<\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz, menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage.<\/em>Tetapi di sepanjang bukunya, dipampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.
<\/p>\n\n\n\n

Jika perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Artinya usia kretek telah mencapai, bahkan melebihi batas 50 tahun sebagai syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. Bahkan jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat yang mengakar. Perkembangannya, sistem tersebut menjadi sarana memperoleh nilai ekonomi sebagai penguatan hidup keberlanjutan. Tak hanya itu, sistem pengetahuan tersebut membawa si pewaris menuju kehidupan sejahtera. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Kretek Warisan Budaya Tak Benda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-warisan-budaya-tak-benda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-14 09:05:15","post_modified_gmt":"2019-10-14 02:05:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6142,"post_author":"877","post_date":"2019-10-12 10:25:41","post_date_gmt":"2019-10-12 03:25:41","post_content":"\n

Jelas-jelas kretek satu-satunya industri yang peka zaman. Industri yang telah membuktikan ketangguhannya selama ratusan tahun tetap bertahan hidup hingga sekarang. Keberadaan industri kretek masih terus memberikan kontribusi besar terhadap bangsa Indonesia, baik untuk petani, ketersediaan lapangan pekerjaan, jaminan sosial, pengembangan kebudayaan bangsa bahkan sampai pada berkontribusi besar terhadap pemasukan dan pendapatan Negara. Namun perjalanan industri kretek dari zaman kezaman menghadapi tantangan dan ancaman yang sangat berat hingga sekarang.<\/p>\n\n\n\n

 Uang dari hasil rokok kretek oke, barangnya nanti dulu, itulah situasi rokok kretek di Indonesia. Sangat ironi sekali, keberadaan kretek di Indonesia selalu di recoki, mulai dari aturan perundang-undangan sampai pada isu tak sedap yang dikaitkan dengan keberadaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Pertama, undang-undang cukai dan kejahatan rezim kesehatan. Cukai merupakan komponen pendapatan negara yang mempunyai peran penting untuk terlaksananya tugas Negara. Pungutan cukai sudah terlaksana sejak zaman kolonial dalam Staatsblad No. 517 tahun 1932. Giroh pungutan ini hanya berdasar pada penguatan pendapatan dan keungan kolonial. Karena dirasa salah satu industri yang mampu menopang keuangan kolonial saat itu. <\/p>\n\n\n\n

Setelah merdeka, pungutan cukai tetap dilanjutkan sebagai bagian penguatan keuangan Negara, diatur pada Undang-undang No. 28 Tahun 1947 hingga Undang-undang No.11 Tahun 1995. Pada tahun 2007, terjadi pergeseran alasan pungutan cukai yang awalnya untuk penguatan keuangan Negara, kemudian bertujuan sebagai sarana pembatasan peredaran dan pemakaiannya. Pergeseran tujuan ini, karena dominasi rezim kesehatan. Yaitu munculnya UU No. 39 Tahun 2007,  Tentang perubahan atas UU No. 11 Tahun 1995. Dalam UU No. 39 tahun 2007 ini terlihat sangat kuat dominasi kesehatan. Sehingga memberi peluang peningkatan tarif cukai terjadi tiap tahun. Jadi naiknya tarif cukai menjadi jalan paling efektif untuk menekan lajunya peredaran rokok kretek. Terlihat, dari awal kemunculan pada abad 19 hingga tahun 1995, keberadaan industri kretek sangat berarti sebagai satu budaya yang mengakar di tengah-tengah masyarakat bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Mulai tahun 2007 sampai sekarang rezim kesehatan mendominasi aturan kretek. Kejadian ini akibat desekan dan tekanan dunia internasional setelah terjadi perselingkuhan WHO dengan perusahaan farmasi multinasional di Swiss pada tanggal 30 Januari 1999. Direktur Jenderal WHO, Gro Harlem Brundtland mengumumkan proyek kemitraan antara WHO dan perusahaan farmasi multinasional Pharmacia & Upjohn, Novartis dan Glaxo Wellcome untuk pengembangan nicotine replacement therapy (NRT). Dalam pidatonya, Brundtland terang-terangan mendeklarasikan kampanye anti rokok untuk mensukseskan tujuan bersama. <\/p>\n\n\n\n

Kemitraan antara WHO dan industri farmasi multinasional , setelah adanya riset di Amerika Serikat yang dilakukan lembaga penelitian kesehatan Surgeon General yang mengaitkan konsumsi nikotin tembakau dengan kesehatan. Riset tersebut memicu pengambilalihan bisnis nikotin diberbagai Negara termasuk Indonesia. Karena secara alamiah, kandungan nikotin terbesar ada di daun tembakau. Nikotin bagi ilmuwan kesehatan mempunyai banyak manfaat untuk pengobatan dan aneka terapi. <\/p>\n\n\n\n

Organisasi kesehatan dunia WHO sebagai organisasi pemegang otoritas tertinggi kesehatan dunia, dengan lantaran mendapatkan sokokngan dana industri farmasi menjadikan organisasi WHO tidak lagi bertindak demi meningkatkan taraf kesehatan masyarakat dunia. Melainkan muncul liberalisasi kesehatan modern. WHO menjadi panjang tangan industri farmasi, dokter atau ilmuwan kesehatan menjadi alat perusahaan obat, menjadi ujung tombak industri farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Tidak menngherankan, jika di Indonesia sampai detik ini keberadaan dokter atau ilmuwan kesehatan penopang utama peredaran obat dan apotek. Yang terjadi ada take and give, saling memberi dan menerima. Bisa jadi pendapatan dokter di Indonesia lebih besar penjualan obat dari pada hasil dari konsumen atau pasien. Tak berhenti disitu, akibat di atas, memicu maraknya berdirinya apotek di Indonesia sampai tingkat Kecamatan dan desa. Masyarakat Indonesia dibuat hidupnya tergantung obat-obatan, mulai meninggalkan pengobatan alamiah tumbuh-tumbuhan dan sejenisnya. Bahkan masyarakat Indonesia dalam benaknya sudah terkontaminasi rezim kesehatan, semua penyakit harus disembuhkan dengan mengkonsumsi obat. Yang lebih menyedihkan lagi, praktek-praktek tradisional mulai terkikis dan hilang dari peredaran. Ambil contoh, dukun bayi, jamu tradisional, tumbuhan obat-obatan mulai tertelan bumi.     <\/p>\n\n\n\n

Turunan dari UU No. 39 tahun 2007 diatas, muncul Permenkeu No. 200\/PMK\/04\/2008, tentang aturan tata cara pemberian, pembekuan dan pencabutan nomor pokok pengusahaan barang cukai untuk pabrik atau industri hasil tembakau. Dalam aturan ini, memberlakukan ketentuan yang sangat berat bagi industri rokok kretek rumahan (industri kecil). Yaitu salah satunya, aturan industri kretek bangunan luasnya harus 200 meter persegi, tidak berhubungan langsung dengan bangunan rumah tempat tinggal, halaman rumah dan tempat lain yang bukan bagian pabrik, dan diharuskan bangunan tersebut di pinggir jalan umum. Gara-gara aturan ini, banyak industri kecil rumahan mati. Sebelum ada aturan ini, di kota Kudus sendiri banyak sekali industri kretek rumahan belum lagi di kota lain seperti kabupaten Jember, Malang dan lainnya.  <\/p>\n\n\n\n

Setelah Permenkeu No. 200\/PMK\/04\/2008, muncul Permenkeu lainnya, seperti Permenkeu No. 191\/PMK.04\/2010, Permenkeu No. 78\/PMK.011\/2013, Permenkeu 84\/2008, Permenkeu 20\/2009. Dari semua Permenkeu tersebut, semuanya mengarah pelemahan industri rokok kretek nasional yang didasari dari intervensi rezim kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2009 muncul Undang-undang No. 28 Tentang pajak daerah dan retribusi daerah atau lebih sederhanya di sebut pajak daerah selain cukai. Besaran pajak daerah ini 10% atas produk tembakau. Unduang-undang ini adopsi dari framework convention on tobacco control (FCTC). Tujuan utama pungutan pajak daerah ini sama halnya pergeseran paradigma pungutan cukai, yaitu untuk menekan peredaran rokok kretek nasional. Kemudian muncul PP 109 tahun 2012 yang didalamnya tembakau dimasukan sebagai bahan zat adiktif, ini sebagai upaya ektrim untuk mematikan rokok kretek Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, kampanye isu negatif terhadap rokok kretek. Hampir semua penyakit yang diderita manusia dikaitkan dampak dari rokok, baik bagi perokok maupun yang tidak merokok. Tanpa dasar, tanpa bukti keberadaan rokok kretek sebagai sumber dari segala penyakit. Lebih tidak rasional lagi, semua dampak yang terjadi di masyarakat selalu dikaitkan dengan rokok kretek. Ambil contoh, kemiskinan di Indonesia salah satu penyebabnya karena mengkonsumsi rokok kretek. Naiknya iuran BPJS gara-gara banyak tunggakan yang belum terbayar, gara-gara pengurusan yang tidak akuntabel dikaitkan dengan konsumsi rokok kretek, memberikan nuansa negatif pada perokok. Sampai hal-hal yang terkecil seperti keberadaan sampah, polusi udara selalu keberadaan rokok kretek selalu disalahkan. Inilah bentuk kampanye anti rokok, bertujuan mematikan industri rokok kretek nasional. Setelah industri mati, farmasi melenggang memonopoli perdagangan nikotin.   <\/p>\n\n\n\n

Pengaruh wacana kesehatan global yang dikampanyekan kelompok anti tembakau dan rokok kretek telah menyusup dalam regulasi di Negara Indonesia. Melalui kebijakan pengaturan peredaran tembakau dan membuat isu negatif rokok kretek sangat didominasi rezim kesehatan, menafikan aspek ekonomi, sosial dan budaya yang telah mengakar berates tahun. Pada akhirnya kebijakan tembakau di Indonesia melemahkan industri kretek nasional, yang selama ini menjadi sumber penghidupan berpuluh-puluh juta rakyat yang terintegrasi dengan insdustri rokok kretek nasional.  
<\/p>\n","post_title":"Beratnya Perjalanan Rokok Kretek di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beratnya-perjalanan-kretek-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-12 10:28:19","post_modified_gmt":"2019-10-12 03:28:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6142","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6112,"post_author":"877","post_date":"2019-09-30 10:39:53","post_date_gmt":"2019-09-30 03:39:53","post_content":"\n

Mbah Sholeh, salah satu tokoh di Desa Prawoto Pati Jawa Tengah, ia selalu mengkonsumsi rokok kretek untuk memacu gairah semangat hidupnya diusia menjelang senja. Usia boleh bertambah kepala tujuh, namun fisik tetap bugar, seger dan energik. <\/p>\n\n\n\n

Sore itu sehabis ashar hari senin tanggal 23 September 2019, salah satu pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) menghampiriku sembari menyerahkan kertas undangan. Saat itu, aku sendiri sudah di atas motor mau bergegas pergi belanja untuk keperluan Mbah Pae panggilan akrab simbah KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus. Saat ini, beliau menjadi bapak masyarakat Kudus, sehingga banyak orang memanggilnya \u201cMbah Pae\u201d, putra dan cucunya pun memanggil demikian. <\/p>\n\n\n\n

Undangan dari pengurus YM3SK aku masukkan ke kantong saku celana, kemudian lanjut pergi belanja. Walaupun hari sudah sore, panas matahari masih terasa, terlebih saat menyinari kulit yang tidak terbungkus kain pakaian. Seakan-akan hari itu matahari semangat menyinari bumi mengiringi musim kemarau. Sepulang dari belanja akupun menuju dapur mengambil gelas dan air minum. Sambil minum aku buka undangan tersebut dan aku baca. Ternyata undangan tersebut pemberitahuan ada acara pengajian dalam rangka Haul Agung Kanjeng Sunan Prawoto Raden Haryo Bagus Mu\u2019min atau biasa dipanggil Mbah Tabek.<\/p>\n\n\n\n

Sunan Prawoto adalah raja keempat dari Kesultanan Demak yang memerintah tahun 1546-1549. Nama lahirnya Raden Mukmin, seorang agamis dari keturunan Kerajaan Demak Bintoro. Putra Sulung Raja Demak Sultan Trenggono. Ia terkenal dengan sebutan Sunan Prawoto, karena daerah yang disinggahi hingga akhir wafatnya bernama Desa Prawoto dalam wilayah kabupaten Pati Jawa Tengah berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kudus bagian selatan. Konon Desa Prawoto sebagai Kerajaan Kecil setelah Kerajaan Demak hancur. Raden Mukmin inilah yang memboyong Kerajaan Demak ke Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Saat ini Desa Prawoto adalah desa perbukitan, dengan hawa yang tidak terlalu dingin saat malam hari dan tidak terlalu panas pada siang hari. Walaupun hanya perbukitan, di Prawoto masih banyak pohon-pohon besar dan hijau memberikan kesejukan. Saat malam tiba, dari perbukitan Prawoto nampak jelas wilayah kota Kudus. Memang daerah Prowoto lebih dekat dengan kota Kudus dari pada Kota Pati. Bahkan budaya dan adat istiadatnya pun kental dengan budaya keKudusan. Sebagian besar masyarakat Prawoto aktifitas seharinya kewilayah Kudus, seperti bekerja, berdagang, pergi kepasar, sekolah, bahkan samapi memanfaatkan fasilitas ATM mereka memilih ke Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa penjajahan Belanda, Desa Prawoto di fungsikan sebagai distrik Karesidenan yang membawai daerah Pati sampai perbatasan Tuban Jawa Timur, Kudus, Jepara bahkan Demak. Sampai sekarang perkantoran Karesidenan warisan Belanda masih berdiri kokoh dan sebagian difungsikan untuk kepentingan Desa. Tidak hanya itu, di tengah-tengah desa terdapat semacam alun-alun kecil dengan kolam air besar yang konon juga peninggalan Belanda. Tidak sedikit yang berpendapat kolam tersebut peninggalan jauh sebelum Belanda, alias peninggalan Sunan Prawoto. Sehingga, kolam tersebut sering dibuat mandi para tokoh-tokoh dan Ulama\u2019 dari luar kota di Jawa, seperti Pekalongan, Batang, Kendal, Magelang, Solo dan lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Di Desa Prawoto terdapat dua makam Sunan Prawoto, di daerah bawah dan di daerah atas istilah masyarakat menamainya. Terlepas mana yang benar Makam Sunan Prawoto tergantung keyakinan individu. Menurut arkeolog UGM yang saat itu ikut menjelaskan, bahwa yang dibawah adalah peninggalan situs dan yang di atas dari dulu berupa makam yang dikenal dengan makam Tabek. <\/p>\n\n\n\n

Rerata jenjang pendidikan masyarakat Prawoto maksimal tingkat SMA, hanya ada beberapa glintir yang samapi jenjang sarjana dan ada satu orang menjadi guru besar di UGM, namun sudah lama menetap di Yogyakarta, dan jarang pulang. Anehnya, walaupun rata-rata lulusan jenjang SMA, kemampuan dan skill mereka tak kalah dengan yang sarjana bahkan mentalnya pun demikian. Hal itu dapat dilihat dari cara bicara, cara berorganisasi, dan pola pikir maju seperti halnya sarjana. Itulah sekilah cerita tentang Prawoto.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke undangan, setelah aku baca, ternyata undangan tersebut sekaligus perintah dari pengurus YM3SK untuk mewakili datang di acara Haul Sunan Prawoto yang dilaksanakan di hari dan tanggal itu juga jam 19.00 WIB. Walaupun terkesan mendadak tidak seperti biasa jauh-jauh hari sudah ada pemberitahuan, seperti saat acara haul Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Ampel. Akhirnya tetap datang di acara haul Sunan Prawoto dengan berkoordinasi dan mengajak dengan teman-teman di dekat desa Prawoto. Berangkat sehabis sholat isya\u2019, sampai di desa Prawoto jam 19.45 WIB acara dbelum di mulai menunggu group rebana dari bapak-bapak polisi Polres Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Disaat-saat senggang tersebut, aku manfaatkan ngobrol dengan penduduk dan tokoh Ulama\u2019 setempat. Ternyata mereka selain punya warisan seni ketoprak juga punya kebudayaan menghisap rokok kretek. Selain rokok kretek mereka tidak mau. Karena budaya merokok kretek diyakini warisan leluhurnya. Jarang sekali orang-orang tua yang tidak merokok, terlihat tidak memegang dan membawa rokok kretek kebanyakan anak-anak usia sekolah. Sambil ngobrol mengupas sedikit sejarah Sunan Prawoto kita merokok kretek bersama. Dengan merokok kretek suasana santai dan keakraban terbentuk di serambi masjid Sunan Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Kebetulan posisiku duduk bersebelahan dengan salah satu tokoh juga Ulama\u2019 Prawoto. Umurnya sudah tergolong dapat bonus 16 tahun dati Tuhan. Itulah jawabannya saat aku tanya usianya berapa. Karena pingin tau, aku tanya kembali persisnya usia berapa, beliau menjawab diatas rata-rata umumnya usia manusia (60 tahun) yaitu 76 tahun. Ia menjawab sambil tersenyum dan memegang rokok kretek yang telah disulut, ia adalah Mbah Sholeh (nama samara).<\/p>\n\n\n\n

Saat menjawab, akupun terkaget, karena prediksiku umur sekitaran 50an. Raup wajahnya bersih, badannya terlihat sehat dan terlihat energik, tidak mau kalah dengan bapak-bapak lainnya yang saat itu ikut ngobrol yang rata-rata umur 48-60 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Akhirnya akupun penasaran, dan kembali bertanya. Mbah apa resepnya kok masih terlihat muda?. Ia pun menjawab, jauhi makanan yang ada obat penyedap rasanya, makananlah bahan alami seperti daun-daunan. Sampai detik ini ia mengaku tidak makan makanan yang ada penyedap rasanya, kalau ditawari atau ada suguhan di depannya, ia memilih tidak akan memakannya. Juga kalau ditawari dan disuguhi minuman yang bergula. Ia pun demikian menghindari. Kata masyarakat lainnya yang ikut ngobrol, Mbah Sholeh itu hidup sehat.<\/p>\n\n\n\n

Celetukan tersebut disikapi Mbah Sholeh  dengan senyuman dan sambil mengeluarkan asap rokok kretek dari mulutnya dan hidupnya. Kemudian aku bertanya lagi, kenapa Mbah merokok?. Ia pun tersenyum sambil menyedot kembali rokok kreteknya dengan menjawab, kalau merokok kretek membuat ia bahagia, dengan kondisi bahagia ini orang jadi awet muda. Kalau merokok membuat semangat, dengan semangat orang jadi giat dan kuat. Ia juga menceritakan memulai merokok kretek saat sudah Islam. Kata Islam disini bukan berarti saat masuk Islam, akan tetapi yang dimaksud saat sudah khitan atau usia baliq. Dahulu setelah ia dikhitan, bapaknya menyuruhnya merokok sebagai tanda sudah dewasa. <\/p>\n\n\n\n

Inilah pengakuan Mbah Sholeh, ternyata wajah yang bersih berseri, awet muda, fisiknya kuat dan energik, salah satu rahasinya adalah berbahagia dan giat. Agar bahagia dan giat ia selalu mengkonsumsi rokok kretek dan meninggalkan makanan dengan penyedap rasa.   
<\/p>\n","post_title":"Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bikin-awet-muda-dan-energik-rahasia-di-balik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-30 10:40:00","post_modified_gmt":"2019-09-30 03:40:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6112","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6101,"post_author":"877","post_date":"2019-09-26 10:08:08","post_date_gmt":"2019-09-26 03:08:08","post_content":"\n

Masa panen adalah saat yang dinanti-nanti petani tembakau. Tentunya harapan petani, tanaman tembakaunaya tumbuh dengan baik, kualitas bagus dan jumlahnya banyak, serta harganya bagus. Di saat tanaman tembakaunya bagus, baik kualitas dan kuantitasnya, biasanya diikuti dengan harga bagus pula. Namun tidak bisa dipastikan, karena masalah harga tidak bisa petani serta merta yang menentukan, ada faktor yang sanagat kompleks. Yaitu situasi dan kondisi sektor pertembakauan di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kretek yang kali pertama ditemukan di Kudus seharusnya juga didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. Kretek menjadi semacam sarana pergaula sosial pada kurang lebih satu abad ini, yang setara dengan sesi menginangpada tahun dan abad-abad lalu. Pertemuan dibuka, diselai, diisi dan ditutup dengan sambil menghisap kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Surabaya berdiri House of Sampoerna, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sepuluh Konsep Kemitraan Ideal Pertanian Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting kolonial, kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. 
<\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz, menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage.<\/em>Tetapi di sepanjang bukunya, dipampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.
<\/p>\n\n\n\n

Jika perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Artinya usia kretek telah mencapai, bahkan melebihi batas 50 tahun sebagai syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. Bahkan jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat yang mengakar. Perkembangannya, sistem tersebut menjadi sarana memperoleh nilai ekonomi sebagai penguatan hidup keberlanjutan. Tak hanya itu, sistem pengetahuan tersebut membawa si pewaris menuju kehidupan sejahtera. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Kretek Warisan Budaya Tak Benda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-warisan-budaya-tak-benda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-14 09:05:15","post_modified_gmt":"2019-10-14 02:05:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6142,"post_author":"877","post_date":"2019-10-12 10:25:41","post_date_gmt":"2019-10-12 03:25:41","post_content":"\n

Jelas-jelas kretek satu-satunya industri yang peka zaman. Industri yang telah membuktikan ketangguhannya selama ratusan tahun tetap bertahan hidup hingga sekarang. Keberadaan industri kretek masih terus memberikan kontribusi besar terhadap bangsa Indonesia, baik untuk petani, ketersediaan lapangan pekerjaan, jaminan sosial, pengembangan kebudayaan bangsa bahkan sampai pada berkontribusi besar terhadap pemasukan dan pendapatan Negara. Namun perjalanan industri kretek dari zaman kezaman menghadapi tantangan dan ancaman yang sangat berat hingga sekarang.<\/p>\n\n\n\n

 Uang dari hasil rokok kretek oke, barangnya nanti dulu, itulah situasi rokok kretek di Indonesia. Sangat ironi sekali, keberadaan kretek di Indonesia selalu di recoki, mulai dari aturan perundang-undangan sampai pada isu tak sedap yang dikaitkan dengan keberadaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Pertama, undang-undang cukai dan kejahatan rezim kesehatan. Cukai merupakan komponen pendapatan negara yang mempunyai peran penting untuk terlaksananya tugas Negara. Pungutan cukai sudah terlaksana sejak zaman kolonial dalam Staatsblad No. 517 tahun 1932. Giroh pungutan ini hanya berdasar pada penguatan pendapatan dan keungan kolonial. Karena dirasa salah satu industri yang mampu menopang keuangan kolonial saat itu. <\/p>\n\n\n\n

Setelah merdeka, pungutan cukai tetap dilanjutkan sebagai bagian penguatan keuangan Negara, diatur pada Undang-undang No. 28 Tahun 1947 hingga Undang-undang No.11 Tahun 1995. Pada tahun 2007, terjadi pergeseran alasan pungutan cukai yang awalnya untuk penguatan keuangan Negara, kemudian bertujuan sebagai sarana pembatasan peredaran dan pemakaiannya. Pergeseran tujuan ini, karena dominasi rezim kesehatan. Yaitu munculnya UU No. 39 Tahun 2007,  Tentang perubahan atas UU No. 11 Tahun 1995. Dalam UU No. 39 tahun 2007 ini terlihat sangat kuat dominasi kesehatan. Sehingga memberi peluang peningkatan tarif cukai terjadi tiap tahun. Jadi naiknya tarif cukai menjadi jalan paling efektif untuk menekan lajunya peredaran rokok kretek. Terlihat, dari awal kemunculan pada abad 19 hingga tahun 1995, keberadaan industri kretek sangat berarti sebagai satu budaya yang mengakar di tengah-tengah masyarakat bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Mulai tahun 2007 sampai sekarang rezim kesehatan mendominasi aturan kretek. Kejadian ini akibat desekan dan tekanan dunia internasional setelah terjadi perselingkuhan WHO dengan perusahaan farmasi multinasional di Swiss pada tanggal 30 Januari 1999. Direktur Jenderal WHO, Gro Harlem Brundtland mengumumkan proyek kemitraan antara WHO dan perusahaan farmasi multinasional Pharmacia & Upjohn, Novartis dan Glaxo Wellcome untuk pengembangan nicotine replacement therapy (NRT). Dalam pidatonya, Brundtland terang-terangan mendeklarasikan kampanye anti rokok untuk mensukseskan tujuan bersama. <\/p>\n\n\n\n

Kemitraan antara WHO dan industri farmasi multinasional , setelah adanya riset di Amerika Serikat yang dilakukan lembaga penelitian kesehatan Surgeon General yang mengaitkan konsumsi nikotin tembakau dengan kesehatan. Riset tersebut memicu pengambilalihan bisnis nikotin diberbagai Negara termasuk Indonesia. Karena secara alamiah, kandungan nikotin terbesar ada di daun tembakau. Nikotin bagi ilmuwan kesehatan mempunyai banyak manfaat untuk pengobatan dan aneka terapi. <\/p>\n\n\n\n

Organisasi kesehatan dunia WHO sebagai organisasi pemegang otoritas tertinggi kesehatan dunia, dengan lantaran mendapatkan sokokngan dana industri farmasi menjadikan organisasi WHO tidak lagi bertindak demi meningkatkan taraf kesehatan masyarakat dunia. Melainkan muncul liberalisasi kesehatan modern. WHO menjadi panjang tangan industri farmasi, dokter atau ilmuwan kesehatan menjadi alat perusahaan obat, menjadi ujung tombak industri farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Tidak menngherankan, jika di Indonesia sampai detik ini keberadaan dokter atau ilmuwan kesehatan penopang utama peredaran obat dan apotek. Yang terjadi ada take and give, saling memberi dan menerima. Bisa jadi pendapatan dokter di Indonesia lebih besar penjualan obat dari pada hasil dari konsumen atau pasien. Tak berhenti disitu, akibat di atas, memicu maraknya berdirinya apotek di Indonesia sampai tingkat Kecamatan dan desa. Masyarakat Indonesia dibuat hidupnya tergantung obat-obatan, mulai meninggalkan pengobatan alamiah tumbuh-tumbuhan dan sejenisnya. Bahkan masyarakat Indonesia dalam benaknya sudah terkontaminasi rezim kesehatan, semua penyakit harus disembuhkan dengan mengkonsumsi obat. Yang lebih menyedihkan lagi, praktek-praktek tradisional mulai terkikis dan hilang dari peredaran. Ambil contoh, dukun bayi, jamu tradisional, tumbuhan obat-obatan mulai tertelan bumi.     <\/p>\n\n\n\n

Turunan dari UU No. 39 tahun 2007 diatas, muncul Permenkeu No. 200\/PMK\/04\/2008, tentang aturan tata cara pemberian, pembekuan dan pencabutan nomor pokok pengusahaan barang cukai untuk pabrik atau industri hasil tembakau. Dalam aturan ini, memberlakukan ketentuan yang sangat berat bagi industri rokok kretek rumahan (industri kecil). Yaitu salah satunya, aturan industri kretek bangunan luasnya harus 200 meter persegi, tidak berhubungan langsung dengan bangunan rumah tempat tinggal, halaman rumah dan tempat lain yang bukan bagian pabrik, dan diharuskan bangunan tersebut di pinggir jalan umum. Gara-gara aturan ini, banyak industri kecil rumahan mati. Sebelum ada aturan ini, di kota Kudus sendiri banyak sekali industri kretek rumahan belum lagi di kota lain seperti kabupaten Jember, Malang dan lainnya.  <\/p>\n\n\n\n

Setelah Permenkeu No. 200\/PMK\/04\/2008, muncul Permenkeu lainnya, seperti Permenkeu No. 191\/PMK.04\/2010, Permenkeu No. 78\/PMK.011\/2013, Permenkeu 84\/2008, Permenkeu 20\/2009. Dari semua Permenkeu tersebut, semuanya mengarah pelemahan industri rokok kretek nasional yang didasari dari intervensi rezim kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2009 muncul Undang-undang No. 28 Tentang pajak daerah dan retribusi daerah atau lebih sederhanya di sebut pajak daerah selain cukai. Besaran pajak daerah ini 10% atas produk tembakau. Unduang-undang ini adopsi dari framework convention on tobacco control (FCTC). Tujuan utama pungutan pajak daerah ini sama halnya pergeseran paradigma pungutan cukai, yaitu untuk menekan peredaran rokok kretek nasional. Kemudian muncul PP 109 tahun 2012 yang didalamnya tembakau dimasukan sebagai bahan zat adiktif, ini sebagai upaya ektrim untuk mematikan rokok kretek Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, kampanye isu negatif terhadap rokok kretek. Hampir semua penyakit yang diderita manusia dikaitkan dampak dari rokok, baik bagi perokok maupun yang tidak merokok. Tanpa dasar, tanpa bukti keberadaan rokok kretek sebagai sumber dari segala penyakit. Lebih tidak rasional lagi, semua dampak yang terjadi di masyarakat selalu dikaitkan dengan rokok kretek. Ambil contoh, kemiskinan di Indonesia salah satu penyebabnya karena mengkonsumsi rokok kretek. Naiknya iuran BPJS gara-gara banyak tunggakan yang belum terbayar, gara-gara pengurusan yang tidak akuntabel dikaitkan dengan konsumsi rokok kretek, memberikan nuansa negatif pada perokok. Sampai hal-hal yang terkecil seperti keberadaan sampah, polusi udara selalu keberadaan rokok kretek selalu disalahkan. Inilah bentuk kampanye anti rokok, bertujuan mematikan industri rokok kretek nasional. Setelah industri mati, farmasi melenggang memonopoli perdagangan nikotin.   <\/p>\n\n\n\n

Pengaruh wacana kesehatan global yang dikampanyekan kelompok anti tembakau dan rokok kretek telah menyusup dalam regulasi di Negara Indonesia. Melalui kebijakan pengaturan peredaran tembakau dan membuat isu negatif rokok kretek sangat didominasi rezim kesehatan, menafikan aspek ekonomi, sosial dan budaya yang telah mengakar berates tahun. Pada akhirnya kebijakan tembakau di Indonesia melemahkan industri kretek nasional, yang selama ini menjadi sumber penghidupan berpuluh-puluh juta rakyat yang terintegrasi dengan insdustri rokok kretek nasional.  
<\/p>\n","post_title":"Beratnya Perjalanan Rokok Kretek di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beratnya-perjalanan-kretek-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-12 10:28:19","post_modified_gmt":"2019-10-12 03:28:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6142","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6112,"post_author":"877","post_date":"2019-09-30 10:39:53","post_date_gmt":"2019-09-30 03:39:53","post_content":"\n

Mbah Sholeh, salah satu tokoh di Desa Prawoto Pati Jawa Tengah, ia selalu mengkonsumsi rokok kretek untuk memacu gairah semangat hidupnya diusia menjelang senja. Usia boleh bertambah kepala tujuh, namun fisik tetap bugar, seger dan energik. <\/p>\n\n\n\n

Sore itu sehabis ashar hari senin tanggal 23 September 2019, salah satu pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) menghampiriku sembari menyerahkan kertas undangan. Saat itu, aku sendiri sudah di atas motor mau bergegas pergi belanja untuk keperluan Mbah Pae panggilan akrab simbah KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus. Saat ini, beliau menjadi bapak masyarakat Kudus, sehingga banyak orang memanggilnya \u201cMbah Pae\u201d, putra dan cucunya pun memanggil demikian. <\/p>\n\n\n\n

Undangan dari pengurus YM3SK aku masukkan ke kantong saku celana, kemudian lanjut pergi belanja. Walaupun hari sudah sore, panas matahari masih terasa, terlebih saat menyinari kulit yang tidak terbungkus kain pakaian. Seakan-akan hari itu matahari semangat menyinari bumi mengiringi musim kemarau. Sepulang dari belanja akupun menuju dapur mengambil gelas dan air minum. Sambil minum aku buka undangan tersebut dan aku baca. Ternyata undangan tersebut pemberitahuan ada acara pengajian dalam rangka Haul Agung Kanjeng Sunan Prawoto Raden Haryo Bagus Mu\u2019min atau biasa dipanggil Mbah Tabek.<\/p>\n\n\n\n

Sunan Prawoto adalah raja keempat dari Kesultanan Demak yang memerintah tahun 1546-1549. Nama lahirnya Raden Mukmin, seorang agamis dari keturunan Kerajaan Demak Bintoro. Putra Sulung Raja Demak Sultan Trenggono. Ia terkenal dengan sebutan Sunan Prawoto, karena daerah yang disinggahi hingga akhir wafatnya bernama Desa Prawoto dalam wilayah kabupaten Pati Jawa Tengah berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kudus bagian selatan. Konon Desa Prawoto sebagai Kerajaan Kecil setelah Kerajaan Demak hancur. Raden Mukmin inilah yang memboyong Kerajaan Demak ke Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Saat ini Desa Prawoto adalah desa perbukitan, dengan hawa yang tidak terlalu dingin saat malam hari dan tidak terlalu panas pada siang hari. Walaupun hanya perbukitan, di Prawoto masih banyak pohon-pohon besar dan hijau memberikan kesejukan. Saat malam tiba, dari perbukitan Prawoto nampak jelas wilayah kota Kudus. Memang daerah Prowoto lebih dekat dengan kota Kudus dari pada Kota Pati. Bahkan budaya dan adat istiadatnya pun kental dengan budaya keKudusan. Sebagian besar masyarakat Prawoto aktifitas seharinya kewilayah Kudus, seperti bekerja, berdagang, pergi kepasar, sekolah, bahkan samapi memanfaatkan fasilitas ATM mereka memilih ke Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa penjajahan Belanda, Desa Prawoto di fungsikan sebagai distrik Karesidenan yang membawai daerah Pati sampai perbatasan Tuban Jawa Timur, Kudus, Jepara bahkan Demak. Sampai sekarang perkantoran Karesidenan warisan Belanda masih berdiri kokoh dan sebagian difungsikan untuk kepentingan Desa. Tidak hanya itu, di tengah-tengah desa terdapat semacam alun-alun kecil dengan kolam air besar yang konon juga peninggalan Belanda. Tidak sedikit yang berpendapat kolam tersebut peninggalan jauh sebelum Belanda, alias peninggalan Sunan Prawoto. Sehingga, kolam tersebut sering dibuat mandi para tokoh-tokoh dan Ulama\u2019 dari luar kota di Jawa, seperti Pekalongan, Batang, Kendal, Magelang, Solo dan lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Di Desa Prawoto terdapat dua makam Sunan Prawoto, di daerah bawah dan di daerah atas istilah masyarakat menamainya. Terlepas mana yang benar Makam Sunan Prawoto tergantung keyakinan individu. Menurut arkeolog UGM yang saat itu ikut menjelaskan, bahwa yang dibawah adalah peninggalan situs dan yang di atas dari dulu berupa makam yang dikenal dengan makam Tabek. <\/p>\n\n\n\n

Rerata jenjang pendidikan masyarakat Prawoto maksimal tingkat SMA, hanya ada beberapa glintir yang samapi jenjang sarjana dan ada satu orang menjadi guru besar di UGM, namun sudah lama menetap di Yogyakarta, dan jarang pulang. Anehnya, walaupun rata-rata lulusan jenjang SMA, kemampuan dan skill mereka tak kalah dengan yang sarjana bahkan mentalnya pun demikian. Hal itu dapat dilihat dari cara bicara, cara berorganisasi, dan pola pikir maju seperti halnya sarjana. Itulah sekilah cerita tentang Prawoto.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke undangan, setelah aku baca, ternyata undangan tersebut sekaligus perintah dari pengurus YM3SK untuk mewakili datang di acara Haul Sunan Prawoto yang dilaksanakan di hari dan tanggal itu juga jam 19.00 WIB. Walaupun terkesan mendadak tidak seperti biasa jauh-jauh hari sudah ada pemberitahuan, seperti saat acara haul Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Ampel. Akhirnya tetap datang di acara haul Sunan Prawoto dengan berkoordinasi dan mengajak dengan teman-teman di dekat desa Prawoto. Berangkat sehabis sholat isya\u2019, sampai di desa Prawoto jam 19.45 WIB acara dbelum di mulai menunggu group rebana dari bapak-bapak polisi Polres Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Disaat-saat senggang tersebut, aku manfaatkan ngobrol dengan penduduk dan tokoh Ulama\u2019 setempat. Ternyata mereka selain punya warisan seni ketoprak juga punya kebudayaan menghisap rokok kretek. Selain rokok kretek mereka tidak mau. Karena budaya merokok kretek diyakini warisan leluhurnya. Jarang sekali orang-orang tua yang tidak merokok, terlihat tidak memegang dan membawa rokok kretek kebanyakan anak-anak usia sekolah. Sambil ngobrol mengupas sedikit sejarah Sunan Prawoto kita merokok kretek bersama. Dengan merokok kretek suasana santai dan keakraban terbentuk di serambi masjid Sunan Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Kebetulan posisiku duduk bersebelahan dengan salah satu tokoh juga Ulama\u2019 Prawoto. Umurnya sudah tergolong dapat bonus 16 tahun dati Tuhan. Itulah jawabannya saat aku tanya usianya berapa. Karena pingin tau, aku tanya kembali persisnya usia berapa, beliau menjawab diatas rata-rata umumnya usia manusia (60 tahun) yaitu 76 tahun. Ia menjawab sambil tersenyum dan memegang rokok kretek yang telah disulut, ia adalah Mbah Sholeh (nama samara).<\/p>\n\n\n\n

Saat menjawab, akupun terkaget, karena prediksiku umur sekitaran 50an. Raup wajahnya bersih, badannya terlihat sehat dan terlihat energik, tidak mau kalah dengan bapak-bapak lainnya yang saat itu ikut ngobrol yang rata-rata umur 48-60 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Akhirnya akupun penasaran, dan kembali bertanya. Mbah apa resepnya kok masih terlihat muda?. Ia pun menjawab, jauhi makanan yang ada obat penyedap rasanya, makananlah bahan alami seperti daun-daunan. Sampai detik ini ia mengaku tidak makan makanan yang ada penyedap rasanya, kalau ditawari atau ada suguhan di depannya, ia memilih tidak akan memakannya. Juga kalau ditawari dan disuguhi minuman yang bergula. Ia pun demikian menghindari. Kata masyarakat lainnya yang ikut ngobrol, Mbah Sholeh itu hidup sehat.<\/p>\n\n\n\n

Celetukan tersebut disikapi Mbah Sholeh  dengan senyuman dan sambil mengeluarkan asap rokok kretek dari mulutnya dan hidupnya. Kemudian aku bertanya lagi, kenapa Mbah merokok?. Ia pun tersenyum sambil menyedot kembali rokok kreteknya dengan menjawab, kalau merokok kretek membuat ia bahagia, dengan kondisi bahagia ini orang jadi awet muda. Kalau merokok membuat semangat, dengan semangat orang jadi giat dan kuat. Ia juga menceritakan memulai merokok kretek saat sudah Islam. Kata Islam disini bukan berarti saat masuk Islam, akan tetapi yang dimaksud saat sudah khitan atau usia baliq. Dahulu setelah ia dikhitan, bapaknya menyuruhnya merokok sebagai tanda sudah dewasa. <\/p>\n\n\n\n

Inilah pengakuan Mbah Sholeh, ternyata wajah yang bersih berseri, awet muda, fisiknya kuat dan energik, salah satu rahasinya adalah berbahagia dan giat. Agar bahagia dan giat ia selalu mengkonsumsi rokok kretek dan meninggalkan makanan dengan penyedap rasa.   
<\/p>\n","post_title":"Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bikin-awet-muda-dan-energik-rahasia-di-balik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-30 10:40:00","post_modified_gmt":"2019-09-30 03:40:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6112","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6101,"post_author":"877","post_date":"2019-09-26 10:08:08","post_date_gmt":"2019-09-26 03:08:08","post_content":"\n

Masa panen adalah saat yang dinanti-nanti petani tembakau. Tentunya harapan petani, tanaman tembakaunaya tumbuh dengan baik, kualitas bagus dan jumlahnya banyak, serta harganya bagus. Di saat tanaman tembakaunya bagus, baik kualitas dan kuantitasnya, biasanya diikuti dengan harga bagus pula. Namun tidak bisa dipastikan, karena masalah harga tidak bisa petani serta merta yang menentukan, ada faktor yang sanagat kompleks. Yaitu situasi dan kondisi sektor pertembakauan di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ketentuan mengenai \u2018juklak\u2019 dan \u2018juknis\u2019 pelestarian dan perlindungan terhadap warisan budaya tak bendawi ini, lebih jauh diatur berdasarkan Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata No. 42 tahun 2009\/40 Tahun 2009 tentang Pedoman Pelestarian Kebudayaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek yang kali pertama ditemukan di Kudus seharusnya juga didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. Kretek menjadi semacam sarana pergaula sosial pada kurang lebih satu abad ini, yang setara dengan sesi menginangpada tahun dan abad-abad lalu. Pertemuan dibuka, diselai, diisi dan ditutup dengan sambil menghisap kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Surabaya berdiri House of Sampoerna, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sepuluh Konsep Kemitraan Ideal Pertanian Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting kolonial, kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. 
<\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz, menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage.<\/em>Tetapi di sepanjang bukunya, dipampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.
<\/p>\n\n\n\n

Jika perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Artinya usia kretek telah mencapai, bahkan melebihi batas 50 tahun sebagai syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. Bahkan jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat yang mengakar. Perkembangannya, sistem tersebut menjadi sarana memperoleh nilai ekonomi sebagai penguatan hidup keberlanjutan. Tak hanya itu, sistem pengetahuan tersebut membawa si pewaris menuju kehidupan sejahtera. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Kretek Warisan Budaya Tak Benda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-warisan-budaya-tak-benda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-14 09:05:15","post_modified_gmt":"2019-10-14 02:05:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6142,"post_author":"877","post_date":"2019-10-12 10:25:41","post_date_gmt":"2019-10-12 03:25:41","post_content":"\n

Jelas-jelas kretek satu-satunya industri yang peka zaman. Industri yang telah membuktikan ketangguhannya selama ratusan tahun tetap bertahan hidup hingga sekarang. Keberadaan industri kretek masih terus memberikan kontribusi besar terhadap bangsa Indonesia, baik untuk petani, ketersediaan lapangan pekerjaan, jaminan sosial, pengembangan kebudayaan bangsa bahkan sampai pada berkontribusi besar terhadap pemasukan dan pendapatan Negara. Namun perjalanan industri kretek dari zaman kezaman menghadapi tantangan dan ancaman yang sangat berat hingga sekarang.<\/p>\n\n\n\n

 Uang dari hasil rokok kretek oke, barangnya nanti dulu, itulah situasi rokok kretek di Indonesia. Sangat ironi sekali, keberadaan kretek di Indonesia selalu di recoki, mulai dari aturan perundang-undangan sampai pada isu tak sedap yang dikaitkan dengan keberadaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Pertama, undang-undang cukai dan kejahatan rezim kesehatan. Cukai merupakan komponen pendapatan negara yang mempunyai peran penting untuk terlaksananya tugas Negara. Pungutan cukai sudah terlaksana sejak zaman kolonial dalam Staatsblad No. 517 tahun 1932. Giroh pungutan ini hanya berdasar pada penguatan pendapatan dan keungan kolonial. Karena dirasa salah satu industri yang mampu menopang keuangan kolonial saat itu. <\/p>\n\n\n\n

Setelah merdeka, pungutan cukai tetap dilanjutkan sebagai bagian penguatan keuangan Negara, diatur pada Undang-undang No. 28 Tahun 1947 hingga Undang-undang No.11 Tahun 1995. Pada tahun 2007, terjadi pergeseran alasan pungutan cukai yang awalnya untuk penguatan keuangan Negara, kemudian bertujuan sebagai sarana pembatasan peredaran dan pemakaiannya. Pergeseran tujuan ini, karena dominasi rezim kesehatan. Yaitu munculnya UU No. 39 Tahun 2007,  Tentang perubahan atas UU No. 11 Tahun 1995. Dalam UU No. 39 tahun 2007 ini terlihat sangat kuat dominasi kesehatan. Sehingga memberi peluang peningkatan tarif cukai terjadi tiap tahun. Jadi naiknya tarif cukai menjadi jalan paling efektif untuk menekan lajunya peredaran rokok kretek. Terlihat, dari awal kemunculan pada abad 19 hingga tahun 1995, keberadaan industri kretek sangat berarti sebagai satu budaya yang mengakar di tengah-tengah masyarakat bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Mulai tahun 2007 sampai sekarang rezim kesehatan mendominasi aturan kretek. Kejadian ini akibat desekan dan tekanan dunia internasional setelah terjadi perselingkuhan WHO dengan perusahaan farmasi multinasional di Swiss pada tanggal 30 Januari 1999. Direktur Jenderal WHO, Gro Harlem Brundtland mengumumkan proyek kemitraan antara WHO dan perusahaan farmasi multinasional Pharmacia & Upjohn, Novartis dan Glaxo Wellcome untuk pengembangan nicotine replacement therapy (NRT). Dalam pidatonya, Brundtland terang-terangan mendeklarasikan kampanye anti rokok untuk mensukseskan tujuan bersama. <\/p>\n\n\n\n

Kemitraan antara WHO dan industri farmasi multinasional , setelah adanya riset di Amerika Serikat yang dilakukan lembaga penelitian kesehatan Surgeon General yang mengaitkan konsumsi nikotin tembakau dengan kesehatan. Riset tersebut memicu pengambilalihan bisnis nikotin diberbagai Negara termasuk Indonesia. Karena secara alamiah, kandungan nikotin terbesar ada di daun tembakau. Nikotin bagi ilmuwan kesehatan mempunyai banyak manfaat untuk pengobatan dan aneka terapi. <\/p>\n\n\n\n

Organisasi kesehatan dunia WHO sebagai organisasi pemegang otoritas tertinggi kesehatan dunia, dengan lantaran mendapatkan sokokngan dana industri farmasi menjadikan organisasi WHO tidak lagi bertindak demi meningkatkan taraf kesehatan masyarakat dunia. Melainkan muncul liberalisasi kesehatan modern. WHO menjadi panjang tangan industri farmasi, dokter atau ilmuwan kesehatan menjadi alat perusahaan obat, menjadi ujung tombak industri farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Tidak menngherankan, jika di Indonesia sampai detik ini keberadaan dokter atau ilmuwan kesehatan penopang utama peredaran obat dan apotek. Yang terjadi ada take and give, saling memberi dan menerima. Bisa jadi pendapatan dokter di Indonesia lebih besar penjualan obat dari pada hasil dari konsumen atau pasien. Tak berhenti disitu, akibat di atas, memicu maraknya berdirinya apotek di Indonesia sampai tingkat Kecamatan dan desa. Masyarakat Indonesia dibuat hidupnya tergantung obat-obatan, mulai meninggalkan pengobatan alamiah tumbuh-tumbuhan dan sejenisnya. Bahkan masyarakat Indonesia dalam benaknya sudah terkontaminasi rezim kesehatan, semua penyakit harus disembuhkan dengan mengkonsumsi obat. Yang lebih menyedihkan lagi, praktek-praktek tradisional mulai terkikis dan hilang dari peredaran. Ambil contoh, dukun bayi, jamu tradisional, tumbuhan obat-obatan mulai tertelan bumi.     <\/p>\n\n\n\n

Turunan dari UU No. 39 tahun 2007 diatas, muncul Permenkeu No. 200\/PMK\/04\/2008, tentang aturan tata cara pemberian, pembekuan dan pencabutan nomor pokok pengusahaan barang cukai untuk pabrik atau industri hasil tembakau. Dalam aturan ini, memberlakukan ketentuan yang sangat berat bagi industri rokok kretek rumahan (industri kecil). Yaitu salah satunya, aturan industri kretek bangunan luasnya harus 200 meter persegi, tidak berhubungan langsung dengan bangunan rumah tempat tinggal, halaman rumah dan tempat lain yang bukan bagian pabrik, dan diharuskan bangunan tersebut di pinggir jalan umum. Gara-gara aturan ini, banyak industri kecil rumahan mati. Sebelum ada aturan ini, di kota Kudus sendiri banyak sekali industri kretek rumahan belum lagi di kota lain seperti kabupaten Jember, Malang dan lainnya.  <\/p>\n\n\n\n

Setelah Permenkeu No. 200\/PMK\/04\/2008, muncul Permenkeu lainnya, seperti Permenkeu No. 191\/PMK.04\/2010, Permenkeu No. 78\/PMK.011\/2013, Permenkeu 84\/2008, Permenkeu 20\/2009. Dari semua Permenkeu tersebut, semuanya mengarah pelemahan industri rokok kretek nasional yang didasari dari intervensi rezim kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2009 muncul Undang-undang No. 28 Tentang pajak daerah dan retribusi daerah atau lebih sederhanya di sebut pajak daerah selain cukai. Besaran pajak daerah ini 10% atas produk tembakau. Unduang-undang ini adopsi dari framework convention on tobacco control (FCTC). Tujuan utama pungutan pajak daerah ini sama halnya pergeseran paradigma pungutan cukai, yaitu untuk menekan peredaran rokok kretek nasional. Kemudian muncul PP 109 tahun 2012 yang didalamnya tembakau dimasukan sebagai bahan zat adiktif, ini sebagai upaya ektrim untuk mematikan rokok kretek Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, kampanye isu negatif terhadap rokok kretek. Hampir semua penyakit yang diderita manusia dikaitkan dampak dari rokok, baik bagi perokok maupun yang tidak merokok. Tanpa dasar, tanpa bukti keberadaan rokok kretek sebagai sumber dari segala penyakit. Lebih tidak rasional lagi, semua dampak yang terjadi di masyarakat selalu dikaitkan dengan rokok kretek. Ambil contoh, kemiskinan di Indonesia salah satu penyebabnya karena mengkonsumsi rokok kretek. Naiknya iuran BPJS gara-gara banyak tunggakan yang belum terbayar, gara-gara pengurusan yang tidak akuntabel dikaitkan dengan konsumsi rokok kretek, memberikan nuansa negatif pada perokok. Sampai hal-hal yang terkecil seperti keberadaan sampah, polusi udara selalu keberadaan rokok kretek selalu disalahkan. Inilah bentuk kampanye anti rokok, bertujuan mematikan industri rokok kretek nasional. Setelah industri mati, farmasi melenggang memonopoli perdagangan nikotin.   <\/p>\n\n\n\n

Pengaruh wacana kesehatan global yang dikampanyekan kelompok anti tembakau dan rokok kretek telah menyusup dalam regulasi di Negara Indonesia. Melalui kebijakan pengaturan peredaran tembakau dan membuat isu negatif rokok kretek sangat didominasi rezim kesehatan, menafikan aspek ekonomi, sosial dan budaya yang telah mengakar berates tahun. Pada akhirnya kebijakan tembakau di Indonesia melemahkan industri kretek nasional, yang selama ini menjadi sumber penghidupan berpuluh-puluh juta rakyat yang terintegrasi dengan insdustri rokok kretek nasional.  
<\/p>\n","post_title":"Beratnya Perjalanan Rokok Kretek di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beratnya-perjalanan-kretek-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-12 10:28:19","post_modified_gmt":"2019-10-12 03:28:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6142","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6112,"post_author":"877","post_date":"2019-09-30 10:39:53","post_date_gmt":"2019-09-30 03:39:53","post_content":"\n

Mbah Sholeh, salah satu tokoh di Desa Prawoto Pati Jawa Tengah, ia selalu mengkonsumsi rokok kretek untuk memacu gairah semangat hidupnya diusia menjelang senja. Usia boleh bertambah kepala tujuh, namun fisik tetap bugar, seger dan energik. <\/p>\n\n\n\n

Sore itu sehabis ashar hari senin tanggal 23 September 2019, salah satu pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) menghampiriku sembari menyerahkan kertas undangan. Saat itu, aku sendiri sudah di atas motor mau bergegas pergi belanja untuk keperluan Mbah Pae panggilan akrab simbah KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus. Saat ini, beliau menjadi bapak masyarakat Kudus, sehingga banyak orang memanggilnya \u201cMbah Pae\u201d, putra dan cucunya pun memanggil demikian. <\/p>\n\n\n\n

Undangan dari pengurus YM3SK aku masukkan ke kantong saku celana, kemudian lanjut pergi belanja. Walaupun hari sudah sore, panas matahari masih terasa, terlebih saat menyinari kulit yang tidak terbungkus kain pakaian. Seakan-akan hari itu matahari semangat menyinari bumi mengiringi musim kemarau. Sepulang dari belanja akupun menuju dapur mengambil gelas dan air minum. Sambil minum aku buka undangan tersebut dan aku baca. Ternyata undangan tersebut pemberitahuan ada acara pengajian dalam rangka Haul Agung Kanjeng Sunan Prawoto Raden Haryo Bagus Mu\u2019min atau biasa dipanggil Mbah Tabek.<\/p>\n\n\n\n

Sunan Prawoto adalah raja keempat dari Kesultanan Demak yang memerintah tahun 1546-1549. Nama lahirnya Raden Mukmin, seorang agamis dari keturunan Kerajaan Demak Bintoro. Putra Sulung Raja Demak Sultan Trenggono. Ia terkenal dengan sebutan Sunan Prawoto, karena daerah yang disinggahi hingga akhir wafatnya bernama Desa Prawoto dalam wilayah kabupaten Pati Jawa Tengah berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kudus bagian selatan. Konon Desa Prawoto sebagai Kerajaan Kecil setelah Kerajaan Demak hancur. Raden Mukmin inilah yang memboyong Kerajaan Demak ke Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Saat ini Desa Prawoto adalah desa perbukitan, dengan hawa yang tidak terlalu dingin saat malam hari dan tidak terlalu panas pada siang hari. Walaupun hanya perbukitan, di Prawoto masih banyak pohon-pohon besar dan hijau memberikan kesejukan. Saat malam tiba, dari perbukitan Prawoto nampak jelas wilayah kota Kudus. Memang daerah Prowoto lebih dekat dengan kota Kudus dari pada Kota Pati. Bahkan budaya dan adat istiadatnya pun kental dengan budaya keKudusan. Sebagian besar masyarakat Prawoto aktifitas seharinya kewilayah Kudus, seperti bekerja, berdagang, pergi kepasar, sekolah, bahkan samapi memanfaatkan fasilitas ATM mereka memilih ke Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa penjajahan Belanda, Desa Prawoto di fungsikan sebagai distrik Karesidenan yang membawai daerah Pati sampai perbatasan Tuban Jawa Timur, Kudus, Jepara bahkan Demak. Sampai sekarang perkantoran Karesidenan warisan Belanda masih berdiri kokoh dan sebagian difungsikan untuk kepentingan Desa. Tidak hanya itu, di tengah-tengah desa terdapat semacam alun-alun kecil dengan kolam air besar yang konon juga peninggalan Belanda. Tidak sedikit yang berpendapat kolam tersebut peninggalan jauh sebelum Belanda, alias peninggalan Sunan Prawoto. Sehingga, kolam tersebut sering dibuat mandi para tokoh-tokoh dan Ulama\u2019 dari luar kota di Jawa, seperti Pekalongan, Batang, Kendal, Magelang, Solo dan lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Di Desa Prawoto terdapat dua makam Sunan Prawoto, di daerah bawah dan di daerah atas istilah masyarakat menamainya. Terlepas mana yang benar Makam Sunan Prawoto tergantung keyakinan individu. Menurut arkeolog UGM yang saat itu ikut menjelaskan, bahwa yang dibawah adalah peninggalan situs dan yang di atas dari dulu berupa makam yang dikenal dengan makam Tabek. <\/p>\n\n\n\n

Rerata jenjang pendidikan masyarakat Prawoto maksimal tingkat SMA, hanya ada beberapa glintir yang samapi jenjang sarjana dan ada satu orang menjadi guru besar di UGM, namun sudah lama menetap di Yogyakarta, dan jarang pulang. Anehnya, walaupun rata-rata lulusan jenjang SMA, kemampuan dan skill mereka tak kalah dengan yang sarjana bahkan mentalnya pun demikian. Hal itu dapat dilihat dari cara bicara, cara berorganisasi, dan pola pikir maju seperti halnya sarjana. Itulah sekilah cerita tentang Prawoto.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke undangan, setelah aku baca, ternyata undangan tersebut sekaligus perintah dari pengurus YM3SK untuk mewakili datang di acara Haul Sunan Prawoto yang dilaksanakan di hari dan tanggal itu juga jam 19.00 WIB. Walaupun terkesan mendadak tidak seperti biasa jauh-jauh hari sudah ada pemberitahuan, seperti saat acara haul Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Ampel. Akhirnya tetap datang di acara haul Sunan Prawoto dengan berkoordinasi dan mengajak dengan teman-teman di dekat desa Prawoto. Berangkat sehabis sholat isya\u2019, sampai di desa Prawoto jam 19.45 WIB acara dbelum di mulai menunggu group rebana dari bapak-bapak polisi Polres Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Disaat-saat senggang tersebut, aku manfaatkan ngobrol dengan penduduk dan tokoh Ulama\u2019 setempat. Ternyata mereka selain punya warisan seni ketoprak juga punya kebudayaan menghisap rokok kretek. Selain rokok kretek mereka tidak mau. Karena budaya merokok kretek diyakini warisan leluhurnya. Jarang sekali orang-orang tua yang tidak merokok, terlihat tidak memegang dan membawa rokok kretek kebanyakan anak-anak usia sekolah. Sambil ngobrol mengupas sedikit sejarah Sunan Prawoto kita merokok kretek bersama. Dengan merokok kretek suasana santai dan keakraban terbentuk di serambi masjid Sunan Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Kebetulan posisiku duduk bersebelahan dengan salah satu tokoh juga Ulama\u2019 Prawoto. Umurnya sudah tergolong dapat bonus 16 tahun dati Tuhan. Itulah jawabannya saat aku tanya usianya berapa. Karena pingin tau, aku tanya kembali persisnya usia berapa, beliau menjawab diatas rata-rata umumnya usia manusia (60 tahun) yaitu 76 tahun. Ia menjawab sambil tersenyum dan memegang rokok kretek yang telah disulut, ia adalah Mbah Sholeh (nama samara).<\/p>\n\n\n\n

Saat menjawab, akupun terkaget, karena prediksiku umur sekitaran 50an. Raup wajahnya bersih, badannya terlihat sehat dan terlihat energik, tidak mau kalah dengan bapak-bapak lainnya yang saat itu ikut ngobrol yang rata-rata umur 48-60 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Akhirnya akupun penasaran, dan kembali bertanya. Mbah apa resepnya kok masih terlihat muda?. Ia pun menjawab, jauhi makanan yang ada obat penyedap rasanya, makananlah bahan alami seperti daun-daunan. Sampai detik ini ia mengaku tidak makan makanan yang ada penyedap rasanya, kalau ditawari atau ada suguhan di depannya, ia memilih tidak akan memakannya. Juga kalau ditawari dan disuguhi minuman yang bergula. Ia pun demikian menghindari. Kata masyarakat lainnya yang ikut ngobrol, Mbah Sholeh itu hidup sehat.<\/p>\n\n\n\n

Celetukan tersebut disikapi Mbah Sholeh  dengan senyuman dan sambil mengeluarkan asap rokok kretek dari mulutnya dan hidupnya. Kemudian aku bertanya lagi, kenapa Mbah merokok?. Ia pun tersenyum sambil menyedot kembali rokok kreteknya dengan menjawab, kalau merokok kretek membuat ia bahagia, dengan kondisi bahagia ini orang jadi awet muda. Kalau merokok membuat semangat, dengan semangat orang jadi giat dan kuat. Ia juga menceritakan memulai merokok kretek saat sudah Islam. Kata Islam disini bukan berarti saat masuk Islam, akan tetapi yang dimaksud saat sudah khitan atau usia baliq. Dahulu setelah ia dikhitan, bapaknya menyuruhnya merokok sebagai tanda sudah dewasa. <\/p>\n\n\n\n

Inilah pengakuan Mbah Sholeh, ternyata wajah yang bersih berseri, awet muda, fisiknya kuat dan energik, salah satu rahasinya adalah berbahagia dan giat. Agar bahagia dan giat ia selalu mengkonsumsi rokok kretek dan meninggalkan makanan dengan penyedap rasa.   
<\/p>\n","post_title":"Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bikin-awet-muda-dan-energik-rahasia-di-balik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-30 10:40:00","post_modified_gmt":"2019-09-30 03:40:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6112","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6101,"post_author":"877","post_date":"2019-09-26 10:08:08","post_date_gmt":"2019-09-26 03:08:08","post_content":"\n

Masa panen adalah saat yang dinanti-nanti petani tembakau. Tentunya harapan petani, tanaman tembakaunaya tumbuh dengan baik, kualitas bagus dan jumlahnya banyak, serta harganya bagus. Di saat tanaman tembakaunya bagus, baik kualitas dan kuantitasnya, biasanya diikuti dengan harga bagus pula. Namun tidak bisa dipastikan, karena masalah harga tidak bisa petani serta merta yang menentukan, ada faktor yang sanagat kompleks. Yaitu situasi dan kondisi sektor pertembakauan di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Perlindungan terhadap kebudayaan juga telah diatur dalam rencana pembangunan jangka panjang nasional tahun 2025, yaitu dalam lampiran Undang-Undang No. 17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005-2025 Bab II.3 Poin 3 yang menyatakan bahwa kebudayaan yang dimiliki oleh Indonesia merupakan sumber daya yang potensial bagi pembangunan nasional. Atas dasar itulah, kebudayaan menjadi salah satu arah sasaran pembangunan jangka panjang 2005-2025 seperti tertuang dalam bagian Lampiran Undang-Undang No. 17 tahun 2007 tentang Rencana Jangka Panjang Nasional 2005-2025, Bab IV Huruf H poin 1, berbunyi: \u201cMemperkuat dan mempromosikan identitas nasional sebagai negara demokratis dalam tatanan masyarakat internasional\u201d.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Ketentuan mengenai \u2018juklak\u2019 dan \u2018juknis\u2019 pelestarian dan perlindungan terhadap warisan budaya tak bendawi ini, lebih jauh diatur berdasarkan Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata No. 42 tahun 2009\/40 Tahun 2009 tentang Pedoman Pelestarian Kebudayaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek yang kali pertama ditemukan di Kudus seharusnya juga didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. Kretek menjadi semacam sarana pergaula sosial pada kurang lebih satu abad ini, yang setara dengan sesi menginangpada tahun dan abad-abad lalu. Pertemuan dibuka, diselai, diisi dan ditutup dengan sambil menghisap kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Surabaya berdiri House of Sampoerna, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sepuluh Konsep Kemitraan Ideal Pertanian Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting kolonial, kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. 
<\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz, menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage.<\/em>Tetapi di sepanjang bukunya, dipampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.
<\/p>\n\n\n\n

Jika perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Artinya usia kretek telah mencapai, bahkan melebihi batas 50 tahun sebagai syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. Bahkan jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat yang mengakar. Perkembangannya, sistem tersebut menjadi sarana memperoleh nilai ekonomi sebagai penguatan hidup keberlanjutan. Tak hanya itu, sistem pengetahuan tersebut membawa si pewaris menuju kehidupan sejahtera. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Kretek Warisan Budaya Tak Benda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-warisan-budaya-tak-benda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-14 09:05:15","post_modified_gmt":"2019-10-14 02:05:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6142,"post_author":"877","post_date":"2019-10-12 10:25:41","post_date_gmt":"2019-10-12 03:25:41","post_content":"\n

Jelas-jelas kretek satu-satunya industri yang peka zaman. Industri yang telah membuktikan ketangguhannya selama ratusan tahun tetap bertahan hidup hingga sekarang. Keberadaan industri kretek masih terus memberikan kontribusi besar terhadap bangsa Indonesia, baik untuk petani, ketersediaan lapangan pekerjaan, jaminan sosial, pengembangan kebudayaan bangsa bahkan sampai pada berkontribusi besar terhadap pemasukan dan pendapatan Negara. Namun perjalanan industri kretek dari zaman kezaman menghadapi tantangan dan ancaman yang sangat berat hingga sekarang.<\/p>\n\n\n\n

 Uang dari hasil rokok kretek oke, barangnya nanti dulu, itulah situasi rokok kretek di Indonesia. Sangat ironi sekali, keberadaan kretek di Indonesia selalu di recoki, mulai dari aturan perundang-undangan sampai pada isu tak sedap yang dikaitkan dengan keberadaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Pertama, undang-undang cukai dan kejahatan rezim kesehatan. Cukai merupakan komponen pendapatan negara yang mempunyai peran penting untuk terlaksananya tugas Negara. Pungutan cukai sudah terlaksana sejak zaman kolonial dalam Staatsblad No. 517 tahun 1932. Giroh pungutan ini hanya berdasar pada penguatan pendapatan dan keungan kolonial. Karena dirasa salah satu industri yang mampu menopang keuangan kolonial saat itu. <\/p>\n\n\n\n

Setelah merdeka, pungutan cukai tetap dilanjutkan sebagai bagian penguatan keuangan Negara, diatur pada Undang-undang No. 28 Tahun 1947 hingga Undang-undang No.11 Tahun 1995. Pada tahun 2007, terjadi pergeseran alasan pungutan cukai yang awalnya untuk penguatan keuangan Negara, kemudian bertujuan sebagai sarana pembatasan peredaran dan pemakaiannya. Pergeseran tujuan ini, karena dominasi rezim kesehatan. Yaitu munculnya UU No. 39 Tahun 2007,  Tentang perubahan atas UU No. 11 Tahun 1995. Dalam UU No. 39 tahun 2007 ini terlihat sangat kuat dominasi kesehatan. Sehingga memberi peluang peningkatan tarif cukai terjadi tiap tahun. Jadi naiknya tarif cukai menjadi jalan paling efektif untuk menekan lajunya peredaran rokok kretek. Terlihat, dari awal kemunculan pada abad 19 hingga tahun 1995, keberadaan industri kretek sangat berarti sebagai satu budaya yang mengakar di tengah-tengah masyarakat bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Mulai tahun 2007 sampai sekarang rezim kesehatan mendominasi aturan kretek. Kejadian ini akibat desekan dan tekanan dunia internasional setelah terjadi perselingkuhan WHO dengan perusahaan farmasi multinasional di Swiss pada tanggal 30 Januari 1999. Direktur Jenderal WHO, Gro Harlem Brundtland mengumumkan proyek kemitraan antara WHO dan perusahaan farmasi multinasional Pharmacia & Upjohn, Novartis dan Glaxo Wellcome untuk pengembangan nicotine replacement therapy (NRT). Dalam pidatonya, Brundtland terang-terangan mendeklarasikan kampanye anti rokok untuk mensukseskan tujuan bersama. <\/p>\n\n\n\n

Kemitraan antara WHO dan industri farmasi multinasional , setelah adanya riset di Amerika Serikat yang dilakukan lembaga penelitian kesehatan Surgeon General yang mengaitkan konsumsi nikotin tembakau dengan kesehatan. Riset tersebut memicu pengambilalihan bisnis nikotin diberbagai Negara termasuk Indonesia. Karena secara alamiah, kandungan nikotin terbesar ada di daun tembakau. Nikotin bagi ilmuwan kesehatan mempunyai banyak manfaat untuk pengobatan dan aneka terapi. <\/p>\n\n\n\n

Organisasi kesehatan dunia WHO sebagai organisasi pemegang otoritas tertinggi kesehatan dunia, dengan lantaran mendapatkan sokokngan dana industri farmasi menjadikan organisasi WHO tidak lagi bertindak demi meningkatkan taraf kesehatan masyarakat dunia. Melainkan muncul liberalisasi kesehatan modern. WHO menjadi panjang tangan industri farmasi, dokter atau ilmuwan kesehatan menjadi alat perusahaan obat, menjadi ujung tombak industri farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Tidak menngherankan, jika di Indonesia sampai detik ini keberadaan dokter atau ilmuwan kesehatan penopang utama peredaran obat dan apotek. Yang terjadi ada take and give, saling memberi dan menerima. Bisa jadi pendapatan dokter di Indonesia lebih besar penjualan obat dari pada hasil dari konsumen atau pasien. Tak berhenti disitu, akibat di atas, memicu maraknya berdirinya apotek di Indonesia sampai tingkat Kecamatan dan desa. Masyarakat Indonesia dibuat hidupnya tergantung obat-obatan, mulai meninggalkan pengobatan alamiah tumbuh-tumbuhan dan sejenisnya. Bahkan masyarakat Indonesia dalam benaknya sudah terkontaminasi rezim kesehatan, semua penyakit harus disembuhkan dengan mengkonsumsi obat. Yang lebih menyedihkan lagi, praktek-praktek tradisional mulai terkikis dan hilang dari peredaran. Ambil contoh, dukun bayi, jamu tradisional, tumbuhan obat-obatan mulai tertelan bumi.     <\/p>\n\n\n\n

Turunan dari UU No. 39 tahun 2007 diatas, muncul Permenkeu No. 200\/PMK\/04\/2008, tentang aturan tata cara pemberian, pembekuan dan pencabutan nomor pokok pengusahaan barang cukai untuk pabrik atau industri hasil tembakau. Dalam aturan ini, memberlakukan ketentuan yang sangat berat bagi industri rokok kretek rumahan (industri kecil). Yaitu salah satunya, aturan industri kretek bangunan luasnya harus 200 meter persegi, tidak berhubungan langsung dengan bangunan rumah tempat tinggal, halaman rumah dan tempat lain yang bukan bagian pabrik, dan diharuskan bangunan tersebut di pinggir jalan umum. Gara-gara aturan ini, banyak industri kecil rumahan mati. Sebelum ada aturan ini, di kota Kudus sendiri banyak sekali industri kretek rumahan belum lagi di kota lain seperti kabupaten Jember, Malang dan lainnya.  <\/p>\n\n\n\n

Setelah Permenkeu No. 200\/PMK\/04\/2008, muncul Permenkeu lainnya, seperti Permenkeu No. 191\/PMK.04\/2010, Permenkeu No. 78\/PMK.011\/2013, Permenkeu 84\/2008, Permenkeu 20\/2009. Dari semua Permenkeu tersebut, semuanya mengarah pelemahan industri rokok kretek nasional yang didasari dari intervensi rezim kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2009 muncul Undang-undang No. 28 Tentang pajak daerah dan retribusi daerah atau lebih sederhanya di sebut pajak daerah selain cukai. Besaran pajak daerah ini 10% atas produk tembakau. Unduang-undang ini adopsi dari framework convention on tobacco control (FCTC). Tujuan utama pungutan pajak daerah ini sama halnya pergeseran paradigma pungutan cukai, yaitu untuk menekan peredaran rokok kretek nasional. Kemudian muncul PP 109 tahun 2012 yang didalamnya tembakau dimasukan sebagai bahan zat adiktif, ini sebagai upaya ektrim untuk mematikan rokok kretek Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, kampanye isu negatif terhadap rokok kretek. Hampir semua penyakit yang diderita manusia dikaitkan dampak dari rokok, baik bagi perokok maupun yang tidak merokok. Tanpa dasar, tanpa bukti keberadaan rokok kretek sebagai sumber dari segala penyakit. Lebih tidak rasional lagi, semua dampak yang terjadi di masyarakat selalu dikaitkan dengan rokok kretek. Ambil contoh, kemiskinan di Indonesia salah satu penyebabnya karena mengkonsumsi rokok kretek. Naiknya iuran BPJS gara-gara banyak tunggakan yang belum terbayar, gara-gara pengurusan yang tidak akuntabel dikaitkan dengan konsumsi rokok kretek, memberikan nuansa negatif pada perokok. Sampai hal-hal yang terkecil seperti keberadaan sampah, polusi udara selalu keberadaan rokok kretek selalu disalahkan. Inilah bentuk kampanye anti rokok, bertujuan mematikan industri rokok kretek nasional. Setelah industri mati, farmasi melenggang memonopoli perdagangan nikotin.   <\/p>\n\n\n\n

Pengaruh wacana kesehatan global yang dikampanyekan kelompok anti tembakau dan rokok kretek telah menyusup dalam regulasi di Negara Indonesia. Melalui kebijakan pengaturan peredaran tembakau dan membuat isu negatif rokok kretek sangat didominasi rezim kesehatan, menafikan aspek ekonomi, sosial dan budaya yang telah mengakar berates tahun. Pada akhirnya kebijakan tembakau di Indonesia melemahkan industri kretek nasional, yang selama ini menjadi sumber penghidupan berpuluh-puluh juta rakyat yang terintegrasi dengan insdustri rokok kretek nasional.  
<\/p>\n","post_title":"Beratnya Perjalanan Rokok Kretek di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beratnya-perjalanan-kretek-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-12 10:28:19","post_modified_gmt":"2019-10-12 03:28:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6142","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6112,"post_author":"877","post_date":"2019-09-30 10:39:53","post_date_gmt":"2019-09-30 03:39:53","post_content":"\n

Mbah Sholeh, salah satu tokoh di Desa Prawoto Pati Jawa Tengah, ia selalu mengkonsumsi rokok kretek untuk memacu gairah semangat hidupnya diusia menjelang senja. Usia boleh bertambah kepala tujuh, namun fisik tetap bugar, seger dan energik. <\/p>\n\n\n\n

Sore itu sehabis ashar hari senin tanggal 23 September 2019, salah satu pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) menghampiriku sembari menyerahkan kertas undangan. Saat itu, aku sendiri sudah di atas motor mau bergegas pergi belanja untuk keperluan Mbah Pae panggilan akrab simbah KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus. Saat ini, beliau menjadi bapak masyarakat Kudus, sehingga banyak orang memanggilnya \u201cMbah Pae\u201d, putra dan cucunya pun memanggil demikian. <\/p>\n\n\n\n

Undangan dari pengurus YM3SK aku masukkan ke kantong saku celana, kemudian lanjut pergi belanja. Walaupun hari sudah sore, panas matahari masih terasa, terlebih saat menyinari kulit yang tidak terbungkus kain pakaian. Seakan-akan hari itu matahari semangat menyinari bumi mengiringi musim kemarau. Sepulang dari belanja akupun menuju dapur mengambil gelas dan air minum. Sambil minum aku buka undangan tersebut dan aku baca. Ternyata undangan tersebut pemberitahuan ada acara pengajian dalam rangka Haul Agung Kanjeng Sunan Prawoto Raden Haryo Bagus Mu\u2019min atau biasa dipanggil Mbah Tabek.<\/p>\n\n\n\n

Sunan Prawoto adalah raja keempat dari Kesultanan Demak yang memerintah tahun 1546-1549. Nama lahirnya Raden Mukmin, seorang agamis dari keturunan Kerajaan Demak Bintoro. Putra Sulung Raja Demak Sultan Trenggono. Ia terkenal dengan sebutan Sunan Prawoto, karena daerah yang disinggahi hingga akhir wafatnya bernama Desa Prawoto dalam wilayah kabupaten Pati Jawa Tengah berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kudus bagian selatan. Konon Desa Prawoto sebagai Kerajaan Kecil setelah Kerajaan Demak hancur. Raden Mukmin inilah yang memboyong Kerajaan Demak ke Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Saat ini Desa Prawoto adalah desa perbukitan, dengan hawa yang tidak terlalu dingin saat malam hari dan tidak terlalu panas pada siang hari. Walaupun hanya perbukitan, di Prawoto masih banyak pohon-pohon besar dan hijau memberikan kesejukan. Saat malam tiba, dari perbukitan Prawoto nampak jelas wilayah kota Kudus. Memang daerah Prowoto lebih dekat dengan kota Kudus dari pada Kota Pati. Bahkan budaya dan adat istiadatnya pun kental dengan budaya keKudusan. Sebagian besar masyarakat Prawoto aktifitas seharinya kewilayah Kudus, seperti bekerja, berdagang, pergi kepasar, sekolah, bahkan samapi memanfaatkan fasilitas ATM mereka memilih ke Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa penjajahan Belanda, Desa Prawoto di fungsikan sebagai distrik Karesidenan yang membawai daerah Pati sampai perbatasan Tuban Jawa Timur, Kudus, Jepara bahkan Demak. Sampai sekarang perkantoran Karesidenan warisan Belanda masih berdiri kokoh dan sebagian difungsikan untuk kepentingan Desa. Tidak hanya itu, di tengah-tengah desa terdapat semacam alun-alun kecil dengan kolam air besar yang konon juga peninggalan Belanda. Tidak sedikit yang berpendapat kolam tersebut peninggalan jauh sebelum Belanda, alias peninggalan Sunan Prawoto. Sehingga, kolam tersebut sering dibuat mandi para tokoh-tokoh dan Ulama\u2019 dari luar kota di Jawa, seperti Pekalongan, Batang, Kendal, Magelang, Solo dan lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Di Desa Prawoto terdapat dua makam Sunan Prawoto, di daerah bawah dan di daerah atas istilah masyarakat menamainya. Terlepas mana yang benar Makam Sunan Prawoto tergantung keyakinan individu. Menurut arkeolog UGM yang saat itu ikut menjelaskan, bahwa yang dibawah adalah peninggalan situs dan yang di atas dari dulu berupa makam yang dikenal dengan makam Tabek. <\/p>\n\n\n\n

Rerata jenjang pendidikan masyarakat Prawoto maksimal tingkat SMA, hanya ada beberapa glintir yang samapi jenjang sarjana dan ada satu orang menjadi guru besar di UGM, namun sudah lama menetap di Yogyakarta, dan jarang pulang. Anehnya, walaupun rata-rata lulusan jenjang SMA, kemampuan dan skill mereka tak kalah dengan yang sarjana bahkan mentalnya pun demikian. Hal itu dapat dilihat dari cara bicara, cara berorganisasi, dan pola pikir maju seperti halnya sarjana. Itulah sekilah cerita tentang Prawoto.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke undangan, setelah aku baca, ternyata undangan tersebut sekaligus perintah dari pengurus YM3SK untuk mewakili datang di acara Haul Sunan Prawoto yang dilaksanakan di hari dan tanggal itu juga jam 19.00 WIB. Walaupun terkesan mendadak tidak seperti biasa jauh-jauh hari sudah ada pemberitahuan, seperti saat acara haul Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Ampel. Akhirnya tetap datang di acara haul Sunan Prawoto dengan berkoordinasi dan mengajak dengan teman-teman di dekat desa Prawoto. Berangkat sehabis sholat isya\u2019, sampai di desa Prawoto jam 19.45 WIB acara dbelum di mulai menunggu group rebana dari bapak-bapak polisi Polres Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Disaat-saat senggang tersebut, aku manfaatkan ngobrol dengan penduduk dan tokoh Ulama\u2019 setempat. Ternyata mereka selain punya warisan seni ketoprak juga punya kebudayaan menghisap rokok kretek. Selain rokok kretek mereka tidak mau. Karena budaya merokok kretek diyakini warisan leluhurnya. Jarang sekali orang-orang tua yang tidak merokok, terlihat tidak memegang dan membawa rokok kretek kebanyakan anak-anak usia sekolah. Sambil ngobrol mengupas sedikit sejarah Sunan Prawoto kita merokok kretek bersama. Dengan merokok kretek suasana santai dan keakraban terbentuk di serambi masjid Sunan Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Kebetulan posisiku duduk bersebelahan dengan salah satu tokoh juga Ulama\u2019 Prawoto. Umurnya sudah tergolong dapat bonus 16 tahun dati Tuhan. Itulah jawabannya saat aku tanya usianya berapa. Karena pingin tau, aku tanya kembali persisnya usia berapa, beliau menjawab diatas rata-rata umumnya usia manusia (60 tahun) yaitu 76 tahun. Ia menjawab sambil tersenyum dan memegang rokok kretek yang telah disulut, ia adalah Mbah Sholeh (nama samara).<\/p>\n\n\n\n

Saat menjawab, akupun terkaget, karena prediksiku umur sekitaran 50an. Raup wajahnya bersih, badannya terlihat sehat dan terlihat energik, tidak mau kalah dengan bapak-bapak lainnya yang saat itu ikut ngobrol yang rata-rata umur 48-60 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Akhirnya akupun penasaran, dan kembali bertanya. Mbah apa resepnya kok masih terlihat muda?. Ia pun menjawab, jauhi makanan yang ada obat penyedap rasanya, makananlah bahan alami seperti daun-daunan. Sampai detik ini ia mengaku tidak makan makanan yang ada penyedap rasanya, kalau ditawari atau ada suguhan di depannya, ia memilih tidak akan memakannya. Juga kalau ditawari dan disuguhi minuman yang bergula. Ia pun demikian menghindari. Kata masyarakat lainnya yang ikut ngobrol, Mbah Sholeh itu hidup sehat.<\/p>\n\n\n\n

Celetukan tersebut disikapi Mbah Sholeh  dengan senyuman dan sambil mengeluarkan asap rokok kretek dari mulutnya dan hidupnya. Kemudian aku bertanya lagi, kenapa Mbah merokok?. Ia pun tersenyum sambil menyedot kembali rokok kreteknya dengan menjawab, kalau merokok kretek membuat ia bahagia, dengan kondisi bahagia ini orang jadi awet muda. Kalau merokok membuat semangat, dengan semangat orang jadi giat dan kuat. Ia juga menceritakan memulai merokok kretek saat sudah Islam. Kata Islam disini bukan berarti saat masuk Islam, akan tetapi yang dimaksud saat sudah khitan atau usia baliq. Dahulu setelah ia dikhitan, bapaknya menyuruhnya merokok sebagai tanda sudah dewasa. <\/p>\n\n\n\n

Inilah pengakuan Mbah Sholeh, ternyata wajah yang bersih berseri, awet muda, fisiknya kuat dan energik, salah satu rahasinya adalah berbahagia dan giat. Agar bahagia dan giat ia selalu mengkonsumsi rokok kretek dan meninggalkan makanan dengan penyedap rasa.   
<\/p>\n","post_title":"Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bikin-awet-muda-dan-energik-rahasia-di-balik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-30 10:40:00","post_modified_gmt":"2019-09-30 03:40:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6112","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6101,"post_author":"877","post_date":"2019-09-26 10:08:08","post_date_gmt":"2019-09-26 03:08:08","post_content":"\n

Masa panen adalah saat yang dinanti-nanti petani tembakau. Tentunya harapan petani, tanaman tembakaunaya tumbuh dengan baik, kualitas bagus dan jumlahnya banyak, serta harganya bagus. Di saat tanaman tembakaunya bagus, baik kualitas dan kuantitasnya, biasanya diikuti dengan harga bagus pula. Namun tidak bisa dipastikan, karena masalah harga tidak bisa petani serta merta yang menentukan, ada faktor yang sanagat kompleks. Yaitu situasi dan kondisi sektor pertembakauan di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Beratnya Perjalanan Rokok Kretek di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Perlindungan terhadap kebudayaan juga telah diatur dalam rencana pembangunan jangka panjang nasional tahun 2025, yaitu dalam lampiran Undang-Undang No. 17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005-2025 Bab II.3 Poin 3 yang menyatakan bahwa kebudayaan yang dimiliki oleh Indonesia merupakan sumber daya yang potensial bagi pembangunan nasional. Atas dasar itulah, kebudayaan menjadi salah satu arah sasaran pembangunan jangka panjang 2005-2025 seperti tertuang dalam bagian Lampiran Undang-Undang No. 17 tahun 2007 tentang Rencana Jangka Panjang Nasional 2005-2025, Bab IV Huruf H poin 1, berbunyi: \u201cMemperkuat dan mempromosikan identitas nasional sebagai negara demokratis dalam tatanan masyarakat internasional\u201d.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Ketentuan mengenai \u2018juklak\u2019 dan \u2018juknis\u2019 pelestarian dan perlindungan terhadap warisan budaya tak bendawi ini, lebih jauh diatur berdasarkan Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata No. 42 tahun 2009\/40 Tahun 2009 tentang Pedoman Pelestarian Kebudayaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek yang kali pertama ditemukan di Kudus seharusnya juga didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. Kretek menjadi semacam sarana pergaula sosial pada kurang lebih satu abad ini, yang setara dengan sesi menginangpada tahun dan abad-abad lalu. Pertemuan dibuka, diselai, diisi dan ditutup dengan sambil menghisap kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Surabaya berdiri House of Sampoerna, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sepuluh Konsep Kemitraan Ideal Pertanian Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting kolonial, kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. 
<\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz, menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage.<\/em>Tetapi di sepanjang bukunya, dipampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.
<\/p>\n\n\n\n

Jika perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Artinya usia kretek telah mencapai, bahkan melebihi batas 50 tahun sebagai syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. Bahkan jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat yang mengakar. Perkembangannya, sistem tersebut menjadi sarana memperoleh nilai ekonomi sebagai penguatan hidup keberlanjutan. Tak hanya itu, sistem pengetahuan tersebut membawa si pewaris menuju kehidupan sejahtera. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Kretek Warisan Budaya Tak Benda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-warisan-budaya-tak-benda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-14 09:05:15","post_modified_gmt":"2019-10-14 02:05:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6142,"post_author":"877","post_date":"2019-10-12 10:25:41","post_date_gmt":"2019-10-12 03:25:41","post_content":"\n

Jelas-jelas kretek satu-satunya industri yang peka zaman. Industri yang telah membuktikan ketangguhannya selama ratusan tahun tetap bertahan hidup hingga sekarang. Keberadaan industri kretek masih terus memberikan kontribusi besar terhadap bangsa Indonesia, baik untuk petani, ketersediaan lapangan pekerjaan, jaminan sosial, pengembangan kebudayaan bangsa bahkan sampai pada berkontribusi besar terhadap pemasukan dan pendapatan Negara. Namun perjalanan industri kretek dari zaman kezaman menghadapi tantangan dan ancaman yang sangat berat hingga sekarang.<\/p>\n\n\n\n

 Uang dari hasil rokok kretek oke, barangnya nanti dulu, itulah situasi rokok kretek di Indonesia. Sangat ironi sekali, keberadaan kretek di Indonesia selalu di recoki, mulai dari aturan perundang-undangan sampai pada isu tak sedap yang dikaitkan dengan keberadaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Pertama, undang-undang cukai dan kejahatan rezim kesehatan. Cukai merupakan komponen pendapatan negara yang mempunyai peran penting untuk terlaksananya tugas Negara. Pungutan cukai sudah terlaksana sejak zaman kolonial dalam Staatsblad No. 517 tahun 1932. Giroh pungutan ini hanya berdasar pada penguatan pendapatan dan keungan kolonial. Karena dirasa salah satu industri yang mampu menopang keuangan kolonial saat itu. <\/p>\n\n\n\n

Setelah merdeka, pungutan cukai tetap dilanjutkan sebagai bagian penguatan keuangan Negara, diatur pada Undang-undang No. 28 Tahun 1947 hingga Undang-undang No.11 Tahun 1995. Pada tahun 2007, terjadi pergeseran alasan pungutan cukai yang awalnya untuk penguatan keuangan Negara, kemudian bertujuan sebagai sarana pembatasan peredaran dan pemakaiannya. Pergeseran tujuan ini, karena dominasi rezim kesehatan. Yaitu munculnya UU No. 39 Tahun 2007,  Tentang perubahan atas UU No. 11 Tahun 1995. Dalam UU No. 39 tahun 2007 ini terlihat sangat kuat dominasi kesehatan. Sehingga memberi peluang peningkatan tarif cukai terjadi tiap tahun. Jadi naiknya tarif cukai menjadi jalan paling efektif untuk menekan lajunya peredaran rokok kretek. Terlihat, dari awal kemunculan pada abad 19 hingga tahun 1995, keberadaan industri kretek sangat berarti sebagai satu budaya yang mengakar di tengah-tengah masyarakat bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Mulai tahun 2007 sampai sekarang rezim kesehatan mendominasi aturan kretek. Kejadian ini akibat desekan dan tekanan dunia internasional setelah terjadi perselingkuhan WHO dengan perusahaan farmasi multinasional di Swiss pada tanggal 30 Januari 1999. Direktur Jenderal WHO, Gro Harlem Brundtland mengumumkan proyek kemitraan antara WHO dan perusahaan farmasi multinasional Pharmacia & Upjohn, Novartis dan Glaxo Wellcome untuk pengembangan nicotine replacement therapy (NRT). Dalam pidatonya, Brundtland terang-terangan mendeklarasikan kampanye anti rokok untuk mensukseskan tujuan bersama. <\/p>\n\n\n\n

Kemitraan antara WHO dan industri farmasi multinasional , setelah adanya riset di Amerika Serikat yang dilakukan lembaga penelitian kesehatan Surgeon General yang mengaitkan konsumsi nikotin tembakau dengan kesehatan. Riset tersebut memicu pengambilalihan bisnis nikotin diberbagai Negara termasuk Indonesia. Karena secara alamiah, kandungan nikotin terbesar ada di daun tembakau. Nikotin bagi ilmuwan kesehatan mempunyai banyak manfaat untuk pengobatan dan aneka terapi. <\/p>\n\n\n\n

Organisasi kesehatan dunia WHO sebagai organisasi pemegang otoritas tertinggi kesehatan dunia, dengan lantaran mendapatkan sokokngan dana industri farmasi menjadikan organisasi WHO tidak lagi bertindak demi meningkatkan taraf kesehatan masyarakat dunia. Melainkan muncul liberalisasi kesehatan modern. WHO menjadi panjang tangan industri farmasi, dokter atau ilmuwan kesehatan menjadi alat perusahaan obat, menjadi ujung tombak industri farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Tidak menngherankan, jika di Indonesia sampai detik ini keberadaan dokter atau ilmuwan kesehatan penopang utama peredaran obat dan apotek. Yang terjadi ada take and give, saling memberi dan menerima. Bisa jadi pendapatan dokter di Indonesia lebih besar penjualan obat dari pada hasil dari konsumen atau pasien. Tak berhenti disitu, akibat di atas, memicu maraknya berdirinya apotek di Indonesia sampai tingkat Kecamatan dan desa. Masyarakat Indonesia dibuat hidupnya tergantung obat-obatan, mulai meninggalkan pengobatan alamiah tumbuh-tumbuhan dan sejenisnya. Bahkan masyarakat Indonesia dalam benaknya sudah terkontaminasi rezim kesehatan, semua penyakit harus disembuhkan dengan mengkonsumsi obat. Yang lebih menyedihkan lagi, praktek-praktek tradisional mulai terkikis dan hilang dari peredaran. Ambil contoh, dukun bayi, jamu tradisional, tumbuhan obat-obatan mulai tertelan bumi.     <\/p>\n\n\n\n

Turunan dari UU No. 39 tahun 2007 diatas, muncul Permenkeu No. 200\/PMK\/04\/2008, tentang aturan tata cara pemberian, pembekuan dan pencabutan nomor pokok pengusahaan barang cukai untuk pabrik atau industri hasil tembakau. Dalam aturan ini, memberlakukan ketentuan yang sangat berat bagi industri rokok kretek rumahan (industri kecil). Yaitu salah satunya, aturan industri kretek bangunan luasnya harus 200 meter persegi, tidak berhubungan langsung dengan bangunan rumah tempat tinggal, halaman rumah dan tempat lain yang bukan bagian pabrik, dan diharuskan bangunan tersebut di pinggir jalan umum. Gara-gara aturan ini, banyak industri kecil rumahan mati. Sebelum ada aturan ini, di kota Kudus sendiri banyak sekali industri kretek rumahan belum lagi di kota lain seperti kabupaten Jember, Malang dan lainnya.  <\/p>\n\n\n\n

Setelah Permenkeu No. 200\/PMK\/04\/2008, muncul Permenkeu lainnya, seperti Permenkeu No. 191\/PMK.04\/2010, Permenkeu No. 78\/PMK.011\/2013, Permenkeu 84\/2008, Permenkeu 20\/2009. Dari semua Permenkeu tersebut, semuanya mengarah pelemahan industri rokok kretek nasional yang didasari dari intervensi rezim kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2009 muncul Undang-undang No. 28 Tentang pajak daerah dan retribusi daerah atau lebih sederhanya di sebut pajak daerah selain cukai. Besaran pajak daerah ini 10% atas produk tembakau. Unduang-undang ini adopsi dari framework convention on tobacco control (FCTC). Tujuan utama pungutan pajak daerah ini sama halnya pergeseran paradigma pungutan cukai, yaitu untuk menekan peredaran rokok kretek nasional. Kemudian muncul PP 109 tahun 2012 yang didalamnya tembakau dimasukan sebagai bahan zat adiktif, ini sebagai upaya ektrim untuk mematikan rokok kretek Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, kampanye isu negatif terhadap rokok kretek. Hampir semua penyakit yang diderita manusia dikaitkan dampak dari rokok, baik bagi perokok maupun yang tidak merokok. Tanpa dasar, tanpa bukti keberadaan rokok kretek sebagai sumber dari segala penyakit. Lebih tidak rasional lagi, semua dampak yang terjadi di masyarakat selalu dikaitkan dengan rokok kretek. Ambil contoh, kemiskinan di Indonesia salah satu penyebabnya karena mengkonsumsi rokok kretek. Naiknya iuran BPJS gara-gara banyak tunggakan yang belum terbayar, gara-gara pengurusan yang tidak akuntabel dikaitkan dengan konsumsi rokok kretek, memberikan nuansa negatif pada perokok. Sampai hal-hal yang terkecil seperti keberadaan sampah, polusi udara selalu keberadaan rokok kretek selalu disalahkan. Inilah bentuk kampanye anti rokok, bertujuan mematikan industri rokok kretek nasional. Setelah industri mati, farmasi melenggang memonopoli perdagangan nikotin.   <\/p>\n\n\n\n

Pengaruh wacana kesehatan global yang dikampanyekan kelompok anti tembakau dan rokok kretek telah menyusup dalam regulasi di Negara Indonesia. Melalui kebijakan pengaturan peredaran tembakau dan membuat isu negatif rokok kretek sangat didominasi rezim kesehatan, menafikan aspek ekonomi, sosial dan budaya yang telah mengakar berates tahun. Pada akhirnya kebijakan tembakau di Indonesia melemahkan industri kretek nasional, yang selama ini menjadi sumber penghidupan berpuluh-puluh juta rakyat yang terintegrasi dengan insdustri rokok kretek nasional.  
<\/p>\n","post_title":"Beratnya Perjalanan Rokok Kretek di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beratnya-perjalanan-kretek-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-12 10:28:19","post_modified_gmt":"2019-10-12 03:28:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6142","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6112,"post_author":"877","post_date":"2019-09-30 10:39:53","post_date_gmt":"2019-09-30 03:39:53","post_content":"\n

Mbah Sholeh, salah satu tokoh di Desa Prawoto Pati Jawa Tengah, ia selalu mengkonsumsi rokok kretek untuk memacu gairah semangat hidupnya diusia menjelang senja. Usia boleh bertambah kepala tujuh, namun fisik tetap bugar, seger dan energik. <\/p>\n\n\n\n

Sore itu sehabis ashar hari senin tanggal 23 September 2019, salah satu pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) menghampiriku sembari menyerahkan kertas undangan. Saat itu, aku sendiri sudah di atas motor mau bergegas pergi belanja untuk keperluan Mbah Pae panggilan akrab simbah KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus. Saat ini, beliau menjadi bapak masyarakat Kudus, sehingga banyak orang memanggilnya \u201cMbah Pae\u201d, putra dan cucunya pun memanggil demikian. <\/p>\n\n\n\n

Undangan dari pengurus YM3SK aku masukkan ke kantong saku celana, kemudian lanjut pergi belanja. Walaupun hari sudah sore, panas matahari masih terasa, terlebih saat menyinari kulit yang tidak terbungkus kain pakaian. Seakan-akan hari itu matahari semangat menyinari bumi mengiringi musim kemarau. Sepulang dari belanja akupun menuju dapur mengambil gelas dan air minum. Sambil minum aku buka undangan tersebut dan aku baca. Ternyata undangan tersebut pemberitahuan ada acara pengajian dalam rangka Haul Agung Kanjeng Sunan Prawoto Raden Haryo Bagus Mu\u2019min atau biasa dipanggil Mbah Tabek.<\/p>\n\n\n\n

Sunan Prawoto adalah raja keempat dari Kesultanan Demak yang memerintah tahun 1546-1549. Nama lahirnya Raden Mukmin, seorang agamis dari keturunan Kerajaan Demak Bintoro. Putra Sulung Raja Demak Sultan Trenggono. Ia terkenal dengan sebutan Sunan Prawoto, karena daerah yang disinggahi hingga akhir wafatnya bernama Desa Prawoto dalam wilayah kabupaten Pati Jawa Tengah berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kudus bagian selatan. Konon Desa Prawoto sebagai Kerajaan Kecil setelah Kerajaan Demak hancur. Raden Mukmin inilah yang memboyong Kerajaan Demak ke Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Saat ini Desa Prawoto adalah desa perbukitan, dengan hawa yang tidak terlalu dingin saat malam hari dan tidak terlalu panas pada siang hari. Walaupun hanya perbukitan, di Prawoto masih banyak pohon-pohon besar dan hijau memberikan kesejukan. Saat malam tiba, dari perbukitan Prawoto nampak jelas wilayah kota Kudus. Memang daerah Prowoto lebih dekat dengan kota Kudus dari pada Kota Pati. Bahkan budaya dan adat istiadatnya pun kental dengan budaya keKudusan. Sebagian besar masyarakat Prawoto aktifitas seharinya kewilayah Kudus, seperti bekerja, berdagang, pergi kepasar, sekolah, bahkan samapi memanfaatkan fasilitas ATM mereka memilih ke Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa penjajahan Belanda, Desa Prawoto di fungsikan sebagai distrik Karesidenan yang membawai daerah Pati sampai perbatasan Tuban Jawa Timur, Kudus, Jepara bahkan Demak. Sampai sekarang perkantoran Karesidenan warisan Belanda masih berdiri kokoh dan sebagian difungsikan untuk kepentingan Desa. Tidak hanya itu, di tengah-tengah desa terdapat semacam alun-alun kecil dengan kolam air besar yang konon juga peninggalan Belanda. Tidak sedikit yang berpendapat kolam tersebut peninggalan jauh sebelum Belanda, alias peninggalan Sunan Prawoto. Sehingga, kolam tersebut sering dibuat mandi para tokoh-tokoh dan Ulama\u2019 dari luar kota di Jawa, seperti Pekalongan, Batang, Kendal, Magelang, Solo dan lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Di Desa Prawoto terdapat dua makam Sunan Prawoto, di daerah bawah dan di daerah atas istilah masyarakat menamainya. Terlepas mana yang benar Makam Sunan Prawoto tergantung keyakinan individu. Menurut arkeolog UGM yang saat itu ikut menjelaskan, bahwa yang dibawah adalah peninggalan situs dan yang di atas dari dulu berupa makam yang dikenal dengan makam Tabek. <\/p>\n\n\n\n

Rerata jenjang pendidikan masyarakat Prawoto maksimal tingkat SMA, hanya ada beberapa glintir yang samapi jenjang sarjana dan ada satu orang menjadi guru besar di UGM, namun sudah lama menetap di Yogyakarta, dan jarang pulang. Anehnya, walaupun rata-rata lulusan jenjang SMA, kemampuan dan skill mereka tak kalah dengan yang sarjana bahkan mentalnya pun demikian. Hal itu dapat dilihat dari cara bicara, cara berorganisasi, dan pola pikir maju seperti halnya sarjana. Itulah sekilah cerita tentang Prawoto.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke undangan, setelah aku baca, ternyata undangan tersebut sekaligus perintah dari pengurus YM3SK untuk mewakili datang di acara Haul Sunan Prawoto yang dilaksanakan di hari dan tanggal itu juga jam 19.00 WIB. Walaupun terkesan mendadak tidak seperti biasa jauh-jauh hari sudah ada pemberitahuan, seperti saat acara haul Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Ampel. Akhirnya tetap datang di acara haul Sunan Prawoto dengan berkoordinasi dan mengajak dengan teman-teman di dekat desa Prawoto. Berangkat sehabis sholat isya\u2019, sampai di desa Prawoto jam 19.45 WIB acara dbelum di mulai menunggu group rebana dari bapak-bapak polisi Polres Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Disaat-saat senggang tersebut, aku manfaatkan ngobrol dengan penduduk dan tokoh Ulama\u2019 setempat. Ternyata mereka selain punya warisan seni ketoprak juga punya kebudayaan menghisap rokok kretek. Selain rokok kretek mereka tidak mau. Karena budaya merokok kretek diyakini warisan leluhurnya. Jarang sekali orang-orang tua yang tidak merokok, terlihat tidak memegang dan membawa rokok kretek kebanyakan anak-anak usia sekolah. Sambil ngobrol mengupas sedikit sejarah Sunan Prawoto kita merokok kretek bersama. Dengan merokok kretek suasana santai dan keakraban terbentuk di serambi masjid Sunan Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

Kebetulan posisiku duduk bersebelahan dengan salah satu tokoh juga Ulama\u2019 Prawoto. Umurnya sudah tergolong dapat bonus 16 tahun dati Tuhan. Itulah jawabannya saat aku tanya usianya berapa. Karena pingin tau, aku tanya kembali persisnya usia berapa, beliau menjawab diatas rata-rata umumnya usia manusia (60 tahun) yaitu 76 tahun. Ia menjawab sambil tersenyum dan memegang rokok kretek yang telah disulut, ia adalah Mbah Sholeh (nama samara).<\/p>\n\n\n\n

Saat menjawab, akupun terkaget, karena prediksiku umur sekitaran 50an. Raup wajahnya bersih, badannya terlihat sehat dan terlihat energik, tidak mau kalah dengan bapak-bapak lainnya yang saat itu ikut ngobrol yang rata-rata umur 48-60 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Akhirnya akupun penasaran, dan kembali bertanya. Mbah apa resepnya kok masih terlihat muda?. Ia pun menjawab, jauhi makanan yang ada obat penyedap rasanya, makananlah bahan alami seperti daun-daunan. Sampai detik ini ia mengaku tidak makan makanan yang ada penyedap rasanya, kalau ditawari atau ada suguhan di depannya, ia memilih tidak akan memakannya. Juga kalau ditawari dan disuguhi minuman yang bergula. Ia pun demikian menghindari. Kata masyarakat lainnya yang ikut ngobrol, Mbah Sholeh itu hidup sehat.<\/p>\n\n\n\n

Celetukan tersebut disikapi Mbah Sholeh  dengan senyuman dan sambil mengeluarkan asap rokok kretek dari mulutnya dan hidupnya. Kemudian aku bertanya lagi, kenapa Mbah merokok?. Ia pun tersenyum sambil menyedot kembali rokok kreteknya dengan menjawab, kalau merokok kretek membuat ia bahagia, dengan kondisi bahagia ini orang jadi awet muda. Kalau merokok membuat semangat, dengan semangat orang jadi giat dan kuat. Ia juga menceritakan memulai merokok kretek saat sudah Islam. Kata Islam disini bukan berarti saat masuk Islam, akan tetapi yang dimaksud saat sudah khitan atau usia baliq. Dahulu setelah ia dikhitan, bapaknya menyuruhnya merokok sebagai tanda sudah dewasa. <\/p>\n\n\n\n

Inilah pengakuan Mbah Sholeh, ternyata wajah yang bersih berseri, awet muda, fisiknya kuat dan energik, salah satu rahasinya adalah berbahagia dan giat. Agar bahagia dan giat ia selalu mengkonsumsi rokok kretek dan meninggalkan makanan dengan penyedap rasa.   
<\/p>\n","post_title":"Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bikin-awet-muda-dan-energik-rahasia-di-balik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-30 10:40:00","post_modified_gmt":"2019-09-30 03:40:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6112","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6101,"post_author":"877","post_date":"2019-09-26 10:08:08","post_date_gmt":"2019-09-26 03:08:08","post_content":"\n

Masa panen adalah saat yang dinanti-nanti petani tembakau. Tentunya harapan petani, tanaman tembakaunaya tumbuh dengan baik, kualitas bagus dan jumlahnya banyak, serta harganya bagus. Di saat tanaman tembakaunya bagus, baik kualitas dan kuantitasnya, biasanya diikuti dengan harga bagus pula. Namun tidak bisa dipastikan, karena masalah harga tidak bisa petani serta merta yang menentukan, ada faktor yang sanagat kompleks. Yaitu situasi dan kondisi sektor pertembakauan di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
<\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n
  1. Pasal 32 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945: Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya.<\/li>
  2. Undang-Undang No. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional, Lembaran Negara tahun 2000 Nomor 185.<\/li>
  3. Undang-Undang No. 17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional, Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 2007 Nomor 23.<\/li>
  4. <\/li><\/ol>\n\n\n\n

    Baca: Beratnya Perjalanan Rokok Kretek di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

    Perlindungan terhadap kebudayaan juga telah diatur dalam rencana pembangunan jangka panjang nasional tahun 2025, yaitu dalam lampiran Undang-Undang No. 17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005-2025 Bab II.3 Poin 3 yang menyatakan bahwa kebudayaan yang dimiliki oleh Indonesia merupakan sumber daya yang potensial bagi pembangunan nasional. Atas dasar itulah, kebudayaan menjadi salah satu arah sasaran pembangunan jangka panjang 2005-2025 seperti tertuang dalam bagian Lampiran Undang-Undang No. 17 tahun 2007 tentang Rencana Jangka Panjang Nasional 2005-2025, Bab IV Huruf H poin 1, berbunyi: \u201cMemperkuat dan mempromosikan identitas nasional sebagai negara demokratis dalam tatanan masyarakat internasional\u201d.\u00a0
    <\/p>\n\n\n\n

    Ketentuan mengenai \u2018juklak\u2019 dan \u2018juknis\u2019 pelestarian dan perlindungan terhadap warisan budaya tak bendawi ini, lebih jauh diatur berdasarkan Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata No. 42 tahun 2009\/40 Tahun 2009 tentang Pedoman Pelestarian Kebudayaan.
    <\/p>\n\n\n\n

    Kretek yang kali pertama ditemukan di Kudus seharusnya juga didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. Kretek menjadi semacam sarana pergaula sosial pada kurang lebih satu abad ini, yang setara dengan sesi menginangpada tahun dan abad-abad lalu. Pertemuan dibuka, diselai, diisi dan ditutup dengan sambil menghisap kretek.
    <\/p>\n\n\n\n

    Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Surabaya berdiri House of Sampoerna, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n\n\n\n

    Baca: Sepuluh Konsep Kemitraan Ideal Pertanian Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

    Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting kolonial, kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. 
    <\/p>\n\n\n\n

    Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz, menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage.<\/em>Tetapi di sepanjang bukunya, dipampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.
    <\/p>\n\n\n\n

    Jika perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Artinya usia kretek telah mencapai, bahkan melebihi batas 50 tahun sebagai syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. Bahkan jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. 
    <\/p>\n\n\n\n

    Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat yang mengakar. Perkembangannya, sistem tersebut menjadi sarana memperoleh nilai ekonomi sebagai penguatan hidup keberlanjutan. Tak hanya itu, sistem pengetahuan tersebut membawa si pewaris menuju kehidupan sejahtera. 
    <\/p>\n","post_title":"Rokok Kretek Warisan Budaya Tak Benda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-warisan-budaya-tak-benda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-14 09:05:15","post_modified_gmt":"2019-10-14 02:05:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6142,"post_author":"877","post_date":"2019-10-12 10:25:41","post_date_gmt":"2019-10-12 03:25:41","post_content":"\n

    Jelas-jelas kretek satu-satunya industri yang peka zaman. Industri yang telah membuktikan ketangguhannya selama ratusan tahun tetap bertahan hidup hingga sekarang. Keberadaan industri kretek masih terus memberikan kontribusi besar terhadap bangsa Indonesia, baik untuk petani, ketersediaan lapangan pekerjaan, jaminan sosial, pengembangan kebudayaan bangsa bahkan sampai pada berkontribusi besar terhadap pemasukan dan pendapatan Negara. Namun perjalanan industri kretek dari zaman kezaman menghadapi tantangan dan ancaman yang sangat berat hingga sekarang.<\/p>\n\n\n\n

     Uang dari hasil rokok kretek oke, barangnya nanti dulu, itulah situasi rokok kretek di Indonesia. Sangat ironi sekali, keberadaan kretek di Indonesia selalu di recoki, mulai dari aturan perundang-undangan sampai pada isu tak sedap yang dikaitkan dengan keberadaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

    Pertama, undang-undang cukai dan kejahatan rezim kesehatan. Cukai merupakan komponen pendapatan negara yang mempunyai peran penting untuk terlaksananya tugas Negara. Pungutan cukai sudah terlaksana sejak zaman kolonial dalam Staatsblad No. 517 tahun 1932. Giroh pungutan ini hanya berdasar pada penguatan pendapatan dan keungan kolonial. Karena dirasa salah satu industri yang mampu menopang keuangan kolonial saat itu. <\/p>\n\n\n\n

    Setelah merdeka, pungutan cukai tetap dilanjutkan sebagai bagian penguatan keuangan Negara, diatur pada Undang-undang No. 28 Tahun 1947 hingga Undang-undang No.11 Tahun 1995. Pada tahun 2007, terjadi pergeseran alasan pungutan cukai yang awalnya untuk penguatan keuangan Negara, kemudian bertujuan sebagai sarana pembatasan peredaran dan pemakaiannya. Pergeseran tujuan ini, karena dominasi rezim kesehatan. Yaitu munculnya UU No. 39 Tahun 2007,  Tentang perubahan atas UU No. 11 Tahun 1995. Dalam UU No. 39 tahun 2007 ini terlihat sangat kuat dominasi kesehatan. Sehingga memberi peluang peningkatan tarif cukai terjadi tiap tahun. Jadi naiknya tarif cukai menjadi jalan paling efektif untuk menekan lajunya peredaran rokok kretek. Terlihat, dari awal kemunculan pada abad 19 hingga tahun 1995, keberadaan industri kretek sangat berarti sebagai satu budaya yang mengakar di tengah-tengah masyarakat bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

    Mulai tahun 2007 sampai sekarang rezim kesehatan mendominasi aturan kretek. Kejadian ini akibat desekan dan tekanan dunia internasional setelah terjadi perselingkuhan WHO dengan perusahaan farmasi multinasional di Swiss pada tanggal 30 Januari 1999. Direktur Jenderal WHO, Gro Harlem Brundtland mengumumkan proyek kemitraan antara WHO dan perusahaan farmasi multinasional Pharmacia & Upjohn, Novartis dan Glaxo Wellcome untuk pengembangan nicotine replacement therapy (NRT). Dalam pidatonya, Brundtland terang-terangan mendeklarasikan kampanye anti rokok untuk mensukseskan tujuan bersama. <\/p>\n\n\n\n

    Kemitraan antara WHO dan industri farmasi multinasional , setelah adanya riset di Amerika Serikat yang dilakukan lembaga penelitian kesehatan Surgeon General yang mengaitkan konsumsi nikotin tembakau dengan kesehatan. Riset tersebut memicu pengambilalihan bisnis nikotin diberbagai Negara termasuk Indonesia. Karena secara alamiah, kandungan nikotin terbesar ada di daun tembakau. Nikotin bagi ilmuwan kesehatan mempunyai banyak manfaat untuk pengobatan dan aneka terapi. <\/p>\n\n\n\n

    Organisasi kesehatan dunia WHO sebagai organisasi pemegang otoritas tertinggi kesehatan dunia, dengan lantaran mendapatkan sokokngan dana industri farmasi menjadikan organisasi WHO tidak lagi bertindak demi meningkatkan taraf kesehatan masyarakat dunia. Melainkan muncul liberalisasi kesehatan modern. WHO menjadi panjang tangan industri farmasi, dokter atau ilmuwan kesehatan menjadi alat perusahaan obat, menjadi ujung tombak industri farmasi. <\/p>\n\n\n\n

    Tidak menngherankan, jika di Indonesia sampai detik ini keberadaan dokter atau ilmuwan kesehatan penopang utama peredaran obat dan apotek. Yang terjadi ada take and give, saling memberi dan menerima. Bisa jadi pendapatan dokter di Indonesia lebih besar penjualan obat dari pada hasil dari konsumen atau pasien. Tak berhenti disitu, akibat di atas, memicu maraknya berdirinya apotek di Indonesia sampai tingkat Kecamatan dan desa. Masyarakat Indonesia dibuat hidupnya tergantung obat-obatan, mulai meninggalkan pengobatan alamiah tumbuh-tumbuhan dan sejenisnya. Bahkan masyarakat Indonesia dalam benaknya sudah terkontaminasi rezim kesehatan, semua penyakit harus disembuhkan dengan mengkonsumsi obat. Yang lebih menyedihkan lagi, praktek-praktek tradisional mulai terkikis dan hilang dari peredaran. Ambil contoh, dukun bayi, jamu tradisional, tumbuhan obat-obatan mulai tertelan bumi.     <\/p>\n\n\n\n

    Turunan dari UU No. 39 tahun 2007 diatas, muncul Permenkeu No. 200\/PMK\/04\/2008, tentang aturan tata cara pemberian, pembekuan dan pencabutan nomor pokok pengusahaan barang cukai untuk pabrik atau industri hasil tembakau. Dalam aturan ini, memberlakukan ketentuan yang sangat berat bagi industri rokok kretek rumahan (industri kecil). Yaitu salah satunya, aturan industri kretek bangunan luasnya harus 200 meter persegi, tidak berhubungan langsung dengan bangunan rumah tempat tinggal, halaman rumah dan tempat lain yang bukan bagian pabrik, dan diharuskan bangunan tersebut di pinggir jalan umum. Gara-gara aturan ini, banyak industri kecil rumahan mati. Sebelum ada aturan ini, di kota Kudus sendiri banyak sekali industri kretek rumahan belum lagi di kota lain seperti kabupaten Jember, Malang dan lainnya.  <\/p>\n\n\n\n

    Setelah Permenkeu No. 200\/PMK\/04\/2008, muncul Permenkeu lainnya, seperti Permenkeu No. 191\/PMK.04\/2010, Permenkeu No. 78\/PMK.011\/2013, Permenkeu 84\/2008, Permenkeu 20\/2009. Dari semua Permenkeu tersebut, semuanya mengarah pelemahan industri rokok kretek nasional yang didasari dari intervensi rezim kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

    Pada tahun 2009 muncul Undang-undang No. 28 Tentang pajak daerah dan retribusi daerah atau lebih sederhanya di sebut pajak daerah selain cukai. Besaran pajak daerah ini 10% atas produk tembakau. Unduang-undang ini adopsi dari framework convention on tobacco control (FCTC). Tujuan utama pungutan pajak daerah ini sama halnya pergeseran paradigma pungutan cukai, yaitu untuk menekan peredaran rokok kretek nasional. Kemudian muncul PP 109 tahun 2012 yang didalamnya tembakau dimasukan sebagai bahan zat adiktif, ini sebagai upaya ektrim untuk mematikan rokok kretek Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

    Kedua, kampanye isu negatif terhadap rokok kretek. Hampir semua penyakit yang diderita manusia dikaitkan dampak dari rokok, baik bagi perokok maupun yang tidak merokok. Tanpa dasar, tanpa bukti keberadaan rokok kretek sebagai sumber dari segala penyakit. Lebih tidak rasional lagi, semua dampak yang terjadi di masyarakat selalu dikaitkan dengan rokok kretek. Ambil contoh, kemiskinan di Indonesia salah satu penyebabnya karena mengkonsumsi rokok kretek. Naiknya iuran BPJS gara-gara banyak tunggakan yang belum terbayar, gara-gara pengurusan yang tidak akuntabel dikaitkan dengan konsumsi rokok kretek, memberikan nuansa negatif pada perokok. Sampai hal-hal yang terkecil seperti keberadaan sampah, polusi udara selalu keberadaan rokok kretek selalu disalahkan. Inilah bentuk kampanye anti rokok, bertujuan mematikan industri rokok kretek nasional. Setelah industri mati, farmasi melenggang memonopoli perdagangan nikotin.   <\/p>\n\n\n\n

    Pengaruh wacana kesehatan global yang dikampanyekan kelompok anti tembakau dan rokok kretek telah menyusup dalam regulasi di Negara Indonesia. Melalui kebijakan pengaturan peredaran tembakau dan membuat isu negatif rokok kretek sangat didominasi rezim kesehatan, menafikan aspek ekonomi, sosial dan budaya yang telah mengakar berates tahun. Pada akhirnya kebijakan tembakau di Indonesia melemahkan industri kretek nasional, yang selama ini menjadi sumber penghidupan berpuluh-puluh juta rakyat yang terintegrasi dengan insdustri rokok kretek nasional.  
    <\/p>\n","post_title":"Beratnya Perjalanan Rokok Kretek di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beratnya-perjalanan-kretek-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-12 10:28:19","post_modified_gmt":"2019-10-12 03:28:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6142","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

    Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

    Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

    Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

    Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

    Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

    Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

    Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

    Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

    Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

    Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

    Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

    Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

    Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

    Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

    Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
    <\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

    Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

    Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

    Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

    Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

    Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

    Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

    Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

    Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

    Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

    Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

    Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

    Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

    Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

    Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

    Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

    Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
    <\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6112,"post_author":"877","post_date":"2019-09-30 10:39:53","post_date_gmt":"2019-09-30 03:39:53","post_content":"\n

    Mbah Sholeh, salah satu tokoh di Desa Prawoto Pati Jawa Tengah, ia selalu mengkonsumsi rokok kretek untuk memacu gairah semangat hidupnya diusia menjelang senja. Usia boleh bertambah kepala tujuh, namun fisik tetap bugar, seger dan energik. <\/p>\n\n\n\n

    Sore itu sehabis ashar hari senin tanggal 23 September 2019, salah satu pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) menghampiriku sembari menyerahkan kertas undangan. Saat itu, aku sendiri sudah di atas motor mau bergegas pergi belanja untuk keperluan Mbah Pae panggilan akrab simbah KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus. Saat ini, beliau menjadi bapak masyarakat Kudus, sehingga banyak orang memanggilnya \u201cMbah Pae\u201d, putra dan cucunya pun memanggil demikian. <\/p>\n\n\n\n

    Undangan dari pengurus YM3SK aku masukkan ke kantong saku celana, kemudian lanjut pergi belanja. Walaupun hari sudah sore, panas matahari masih terasa, terlebih saat menyinari kulit yang tidak terbungkus kain pakaian. Seakan-akan hari itu matahari semangat menyinari bumi mengiringi musim kemarau. Sepulang dari belanja akupun menuju dapur mengambil gelas dan air minum. Sambil minum aku buka undangan tersebut dan aku baca. Ternyata undangan tersebut pemberitahuan ada acara pengajian dalam rangka Haul Agung Kanjeng Sunan Prawoto Raden Haryo Bagus Mu\u2019min atau biasa dipanggil Mbah Tabek.<\/p>\n\n\n\n

    Sunan Prawoto adalah raja keempat dari Kesultanan Demak yang memerintah tahun 1546-1549. Nama lahirnya Raden Mukmin, seorang agamis dari keturunan Kerajaan Demak Bintoro. Putra Sulung Raja Demak Sultan Trenggono. Ia terkenal dengan sebutan Sunan Prawoto, karena daerah yang disinggahi hingga akhir wafatnya bernama Desa Prawoto dalam wilayah kabupaten Pati Jawa Tengah berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kudus bagian selatan. Konon Desa Prawoto sebagai Kerajaan Kecil setelah Kerajaan Demak hancur. Raden Mukmin inilah yang memboyong Kerajaan Demak ke Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

    Saat ini Desa Prawoto adalah desa perbukitan, dengan hawa yang tidak terlalu dingin saat malam hari dan tidak terlalu panas pada siang hari. Walaupun hanya perbukitan, di Prawoto masih banyak pohon-pohon besar dan hijau memberikan kesejukan. Saat malam tiba, dari perbukitan Prawoto nampak jelas wilayah kota Kudus. Memang daerah Prowoto lebih dekat dengan kota Kudus dari pada Kota Pati. Bahkan budaya dan adat istiadatnya pun kental dengan budaya keKudusan. Sebagian besar masyarakat Prawoto aktifitas seharinya kewilayah Kudus, seperti bekerja, berdagang, pergi kepasar, sekolah, bahkan samapi memanfaatkan fasilitas ATM mereka memilih ke Kudus. <\/p>\n\n\n\n

    Pada masa penjajahan Belanda, Desa Prawoto di fungsikan sebagai distrik Karesidenan yang membawai daerah Pati sampai perbatasan Tuban Jawa Timur, Kudus, Jepara bahkan Demak. Sampai sekarang perkantoran Karesidenan warisan Belanda masih berdiri kokoh dan sebagian difungsikan untuk kepentingan Desa. Tidak hanya itu, di tengah-tengah desa terdapat semacam alun-alun kecil dengan kolam air besar yang konon juga peninggalan Belanda. Tidak sedikit yang berpendapat kolam tersebut peninggalan jauh sebelum Belanda, alias peninggalan Sunan Prawoto. Sehingga, kolam tersebut sering dibuat mandi para tokoh-tokoh dan Ulama\u2019 dari luar kota di Jawa, seperti Pekalongan, Batang, Kendal, Magelang, Solo dan lainnya. <\/p>\n\n\n\n

    Di Desa Prawoto terdapat dua makam Sunan Prawoto, di daerah bawah dan di daerah atas istilah masyarakat menamainya. Terlepas mana yang benar Makam Sunan Prawoto tergantung keyakinan individu. Menurut arkeolog UGM yang saat itu ikut menjelaskan, bahwa yang dibawah adalah peninggalan situs dan yang di atas dari dulu berupa makam yang dikenal dengan makam Tabek. <\/p>\n\n\n\n

    Rerata jenjang pendidikan masyarakat Prawoto maksimal tingkat SMA, hanya ada beberapa glintir yang samapi jenjang sarjana dan ada satu orang menjadi guru besar di UGM, namun sudah lama menetap di Yogyakarta, dan jarang pulang. Anehnya, walaupun rata-rata lulusan jenjang SMA, kemampuan dan skill mereka tak kalah dengan yang sarjana bahkan mentalnya pun demikian. Hal itu dapat dilihat dari cara bicara, cara berorganisasi, dan pola pikir maju seperti halnya sarjana. Itulah sekilah cerita tentang Prawoto.<\/p>\n\n\n\n

    Kembali ke undangan, setelah aku baca, ternyata undangan tersebut sekaligus perintah dari pengurus YM3SK untuk mewakili datang di acara Haul Sunan Prawoto yang dilaksanakan di hari dan tanggal itu juga jam 19.00 WIB. Walaupun terkesan mendadak tidak seperti biasa jauh-jauh hari sudah ada pemberitahuan, seperti saat acara haul Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Ampel. Akhirnya tetap datang di acara haul Sunan Prawoto dengan berkoordinasi dan mengajak dengan teman-teman di dekat desa Prawoto. Berangkat sehabis sholat isya\u2019, sampai di desa Prawoto jam 19.45 WIB acara dbelum di mulai menunggu group rebana dari bapak-bapak polisi Polres Kudus. <\/p>\n\n\n\n

    Disaat-saat senggang tersebut, aku manfaatkan ngobrol dengan penduduk dan tokoh Ulama\u2019 setempat. Ternyata mereka selain punya warisan seni ketoprak juga punya kebudayaan menghisap rokok kretek. Selain rokok kretek mereka tidak mau. Karena budaya merokok kretek diyakini warisan leluhurnya. Jarang sekali orang-orang tua yang tidak merokok, terlihat tidak memegang dan membawa rokok kretek kebanyakan anak-anak usia sekolah. Sambil ngobrol mengupas sedikit sejarah Sunan Prawoto kita merokok kretek bersama. Dengan merokok kretek suasana santai dan keakraban terbentuk di serambi masjid Sunan Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

    Kebetulan posisiku duduk bersebelahan dengan salah satu tokoh juga Ulama\u2019 Prawoto. Umurnya sudah tergolong dapat bonus 16 tahun dati Tuhan. Itulah jawabannya saat aku tanya usianya berapa. Karena pingin tau, aku tanya kembali persisnya usia berapa, beliau menjawab diatas rata-rata umumnya usia manusia (60 tahun) yaitu 76 tahun. Ia menjawab sambil tersenyum dan memegang rokok kretek yang telah disulut, ia adalah Mbah Sholeh (nama samara).<\/p>\n\n\n\n

    Saat menjawab, akupun terkaget, karena prediksiku umur sekitaran 50an. Raup wajahnya bersih, badannya terlihat sehat dan terlihat energik, tidak mau kalah dengan bapak-bapak lainnya yang saat itu ikut ngobrol yang rata-rata umur 48-60 tahun. <\/p>\n\n\n\n

    Akhirnya akupun penasaran, dan kembali bertanya. Mbah apa resepnya kok masih terlihat muda?. Ia pun menjawab, jauhi makanan yang ada obat penyedap rasanya, makananlah bahan alami seperti daun-daunan. Sampai detik ini ia mengaku tidak makan makanan yang ada penyedap rasanya, kalau ditawari atau ada suguhan di depannya, ia memilih tidak akan memakannya. Juga kalau ditawari dan disuguhi minuman yang bergula. Ia pun demikian menghindari. Kata masyarakat lainnya yang ikut ngobrol, Mbah Sholeh itu hidup sehat.<\/p>\n\n\n\n

    Celetukan tersebut disikapi Mbah Sholeh  dengan senyuman dan sambil mengeluarkan asap rokok kretek dari mulutnya dan hidupnya. Kemudian aku bertanya lagi, kenapa Mbah merokok?. Ia pun tersenyum sambil menyedot kembali rokok kreteknya dengan menjawab, kalau merokok kretek membuat ia bahagia, dengan kondisi bahagia ini orang jadi awet muda. Kalau merokok membuat semangat, dengan semangat orang jadi giat dan kuat. Ia juga menceritakan memulai merokok kretek saat sudah Islam. Kata Islam disini bukan berarti saat masuk Islam, akan tetapi yang dimaksud saat sudah khitan atau usia baliq. Dahulu setelah ia dikhitan, bapaknya menyuruhnya merokok sebagai tanda sudah dewasa. <\/p>\n\n\n\n

    Inilah pengakuan Mbah Sholeh, ternyata wajah yang bersih berseri, awet muda, fisiknya kuat dan energik, salah satu rahasinya adalah berbahagia dan giat. Agar bahagia dan giat ia selalu mengkonsumsi rokok kretek dan meninggalkan makanan dengan penyedap rasa.   
    <\/p>\n","post_title":"Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bikin-awet-muda-dan-energik-rahasia-di-balik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-30 10:40:00","post_modified_gmt":"2019-09-30 03:40:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6112","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6101,"post_author":"877","post_date":"2019-09-26 10:08:08","post_date_gmt":"2019-09-26 03:08:08","post_content":"\n

    Masa panen adalah saat yang dinanti-nanti petani tembakau. Tentunya harapan petani, tanaman tembakaunaya tumbuh dengan baik, kualitas bagus dan jumlahnya banyak, serta harganya bagus. Di saat tanaman tembakaunya bagus, baik kualitas dan kuantitasnya, biasanya diikuti dengan harga bagus pula. Namun tidak bisa dipastikan, karena masalah harga tidak bisa petani serta merta yang menentukan, ada faktor yang sanagat kompleks. Yaitu situasi dan kondisi sektor pertembakauan di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

    Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

    Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

    Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

    Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

    Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

    Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

    Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

    Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

    Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

    Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

    Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

    Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

    Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

    Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
    <\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

    \n

    Indonesia meratifikasi konvensi tersebut melalui Peraturan Presiden Nomor 78 Tahun 2007 tentang Pengesahan Convention For The Safeguarding of The Intangible Cultural Heritage (Konvensi Untuk Perlindungan Warisan Budaya Takbenda). Terdapat beberapa pertimbangan hukum yang tertuang dalam konsideran dalam Perpres tersebut:<\/p>\n\n\n\n

    1. Pasal 32 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945: Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya.<\/li>
    2. Undang-Undang No. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional, Lembaran Negara tahun 2000 Nomor 185.<\/li>
    3. Undang-Undang No. 17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional, Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 2007 Nomor 23.<\/li>
    4. <\/li><\/ol>\n\n\n\n

      Baca: Beratnya Perjalanan Rokok Kretek di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

      Perlindungan terhadap kebudayaan juga telah diatur dalam rencana pembangunan jangka panjang nasional tahun 2025, yaitu dalam lampiran Undang-Undang No. 17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005-2025 Bab II.3 Poin 3 yang menyatakan bahwa kebudayaan yang dimiliki oleh Indonesia merupakan sumber daya yang potensial bagi pembangunan nasional. Atas dasar itulah, kebudayaan menjadi salah satu arah sasaran pembangunan jangka panjang 2005-2025 seperti tertuang dalam bagian Lampiran Undang-Undang No. 17 tahun 2007 tentang Rencana Jangka Panjang Nasional 2005-2025, Bab IV Huruf H poin 1, berbunyi: \u201cMemperkuat dan mempromosikan identitas nasional sebagai negara demokratis dalam tatanan masyarakat internasional\u201d.\u00a0
      <\/p>\n\n\n\n

      Ketentuan mengenai \u2018juklak\u2019 dan \u2018juknis\u2019 pelestarian dan perlindungan terhadap warisan budaya tak bendawi ini, lebih jauh diatur berdasarkan Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata No. 42 tahun 2009\/40 Tahun 2009 tentang Pedoman Pelestarian Kebudayaan.
      <\/p>\n\n\n\n

      Kretek yang kali pertama ditemukan di Kudus seharusnya juga didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. Kretek menjadi semacam sarana pergaula sosial pada kurang lebih satu abad ini, yang setara dengan sesi menginangpada tahun dan abad-abad lalu. Pertemuan dibuka, diselai, diisi dan ditutup dengan sambil menghisap kretek.
      <\/p>\n\n\n\n

      Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Surabaya berdiri House of Sampoerna, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n\n\n\n

      Baca: Sepuluh Konsep Kemitraan Ideal Pertanian Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

      Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting kolonial, kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. 
      <\/p>\n\n\n\n

      Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz, menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage.<\/em>Tetapi di sepanjang bukunya, dipampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.
      <\/p>\n\n\n\n

      Jika perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Artinya usia kretek telah mencapai, bahkan melebihi batas 50 tahun sebagai syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. Bahkan jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. 
      <\/p>\n\n\n\n

      Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat yang mengakar. Perkembangannya, sistem tersebut menjadi sarana memperoleh nilai ekonomi sebagai penguatan hidup keberlanjutan. Tak hanya itu, sistem pengetahuan tersebut membawa si pewaris menuju kehidupan sejahtera. 
      <\/p>\n","post_title":"Rokok Kretek Warisan Budaya Tak Benda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-warisan-budaya-tak-benda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-14 09:05:15","post_modified_gmt":"2019-10-14 02:05:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6142,"post_author":"877","post_date":"2019-10-12 10:25:41","post_date_gmt":"2019-10-12 03:25:41","post_content":"\n

      Jelas-jelas kretek satu-satunya industri yang peka zaman. Industri yang telah membuktikan ketangguhannya selama ratusan tahun tetap bertahan hidup hingga sekarang. Keberadaan industri kretek masih terus memberikan kontribusi besar terhadap bangsa Indonesia, baik untuk petani, ketersediaan lapangan pekerjaan, jaminan sosial, pengembangan kebudayaan bangsa bahkan sampai pada berkontribusi besar terhadap pemasukan dan pendapatan Negara. Namun perjalanan industri kretek dari zaman kezaman menghadapi tantangan dan ancaman yang sangat berat hingga sekarang.<\/p>\n\n\n\n

       Uang dari hasil rokok kretek oke, barangnya nanti dulu, itulah situasi rokok kretek di Indonesia. Sangat ironi sekali, keberadaan kretek di Indonesia selalu di recoki, mulai dari aturan perundang-undangan sampai pada isu tak sedap yang dikaitkan dengan keberadaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

      Pertama, undang-undang cukai dan kejahatan rezim kesehatan. Cukai merupakan komponen pendapatan negara yang mempunyai peran penting untuk terlaksananya tugas Negara. Pungutan cukai sudah terlaksana sejak zaman kolonial dalam Staatsblad No. 517 tahun 1932. Giroh pungutan ini hanya berdasar pada penguatan pendapatan dan keungan kolonial. Karena dirasa salah satu industri yang mampu menopang keuangan kolonial saat itu. <\/p>\n\n\n\n

      Setelah merdeka, pungutan cukai tetap dilanjutkan sebagai bagian penguatan keuangan Negara, diatur pada Undang-undang No. 28 Tahun 1947 hingga Undang-undang No.11 Tahun 1995. Pada tahun 2007, terjadi pergeseran alasan pungutan cukai yang awalnya untuk penguatan keuangan Negara, kemudian bertujuan sebagai sarana pembatasan peredaran dan pemakaiannya. Pergeseran tujuan ini, karena dominasi rezim kesehatan. Yaitu munculnya UU No. 39 Tahun 2007,  Tentang perubahan atas UU No. 11 Tahun 1995. Dalam UU No. 39 tahun 2007 ini terlihat sangat kuat dominasi kesehatan. Sehingga memberi peluang peningkatan tarif cukai terjadi tiap tahun. Jadi naiknya tarif cukai menjadi jalan paling efektif untuk menekan lajunya peredaran rokok kretek. Terlihat, dari awal kemunculan pada abad 19 hingga tahun 1995, keberadaan industri kretek sangat berarti sebagai satu budaya yang mengakar di tengah-tengah masyarakat bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

      Mulai tahun 2007 sampai sekarang rezim kesehatan mendominasi aturan kretek. Kejadian ini akibat desekan dan tekanan dunia internasional setelah terjadi perselingkuhan WHO dengan perusahaan farmasi multinasional di Swiss pada tanggal 30 Januari 1999. Direktur Jenderal WHO, Gro Harlem Brundtland mengumumkan proyek kemitraan antara WHO dan perusahaan farmasi multinasional Pharmacia & Upjohn, Novartis dan Glaxo Wellcome untuk pengembangan nicotine replacement therapy (NRT). Dalam pidatonya, Brundtland terang-terangan mendeklarasikan kampanye anti rokok untuk mensukseskan tujuan bersama. <\/p>\n\n\n\n

      Kemitraan antara WHO dan industri farmasi multinasional , setelah adanya riset di Amerika Serikat yang dilakukan lembaga penelitian kesehatan Surgeon General yang mengaitkan konsumsi nikotin tembakau dengan kesehatan. Riset tersebut memicu pengambilalihan bisnis nikotin diberbagai Negara termasuk Indonesia. Karena secara alamiah, kandungan nikotin terbesar ada di daun tembakau. Nikotin bagi ilmuwan kesehatan mempunyai banyak manfaat untuk pengobatan dan aneka terapi. <\/p>\n\n\n\n

      Organisasi kesehatan dunia WHO sebagai organisasi pemegang otoritas tertinggi kesehatan dunia, dengan lantaran mendapatkan sokokngan dana industri farmasi menjadikan organisasi WHO tidak lagi bertindak demi meningkatkan taraf kesehatan masyarakat dunia. Melainkan muncul liberalisasi kesehatan modern. WHO menjadi panjang tangan industri farmasi, dokter atau ilmuwan kesehatan menjadi alat perusahaan obat, menjadi ujung tombak industri farmasi. <\/p>\n\n\n\n

      Tidak menngherankan, jika di Indonesia sampai detik ini keberadaan dokter atau ilmuwan kesehatan penopang utama peredaran obat dan apotek. Yang terjadi ada take and give, saling memberi dan menerima. Bisa jadi pendapatan dokter di Indonesia lebih besar penjualan obat dari pada hasil dari konsumen atau pasien. Tak berhenti disitu, akibat di atas, memicu maraknya berdirinya apotek di Indonesia sampai tingkat Kecamatan dan desa. Masyarakat Indonesia dibuat hidupnya tergantung obat-obatan, mulai meninggalkan pengobatan alamiah tumbuh-tumbuhan dan sejenisnya. Bahkan masyarakat Indonesia dalam benaknya sudah terkontaminasi rezim kesehatan, semua penyakit harus disembuhkan dengan mengkonsumsi obat. Yang lebih menyedihkan lagi, praktek-praktek tradisional mulai terkikis dan hilang dari peredaran. Ambil contoh, dukun bayi, jamu tradisional, tumbuhan obat-obatan mulai tertelan bumi.     <\/p>\n\n\n\n

      Turunan dari UU No. 39 tahun 2007 diatas, muncul Permenkeu No. 200\/PMK\/04\/2008, tentang aturan tata cara pemberian, pembekuan dan pencabutan nomor pokok pengusahaan barang cukai untuk pabrik atau industri hasil tembakau. Dalam aturan ini, memberlakukan ketentuan yang sangat berat bagi industri rokok kretek rumahan (industri kecil). Yaitu salah satunya, aturan industri kretek bangunan luasnya harus 200 meter persegi, tidak berhubungan langsung dengan bangunan rumah tempat tinggal, halaman rumah dan tempat lain yang bukan bagian pabrik, dan diharuskan bangunan tersebut di pinggir jalan umum. Gara-gara aturan ini, banyak industri kecil rumahan mati. Sebelum ada aturan ini, di kota Kudus sendiri banyak sekali industri kretek rumahan belum lagi di kota lain seperti kabupaten Jember, Malang dan lainnya.  <\/p>\n\n\n\n

      Setelah Permenkeu No. 200\/PMK\/04\/2008, muncul Permenkeu lainnya, seperti Permenkeu No. 191\/PMK.04\/2010, Permenkeu No. 78\/PMK.011\/2013, Permenkeu 84\/2008, Permenkeu 20\/2009. Dari semua Permenkeu tersebut, semuanya mengarah pelemahan industri rokok kretek nasional yang didasari dari intervensi rezim kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

      Pada tahun 2009 muncul Undang-undang No. 28 Tentang pajak daerah dan retribusi daerah atau lebih sederhanya di sebut pajak daerah selain cukai. Besaran pajak daerah ini 10% atas produk tembakau. Unduang-undang ini adopsi dari framework convention on tobacco control (FCTC). Tujuan utama pungutan pajak daerah ini sama halnya pergeseran paradigma pungutan cukai, yaitu untuk menekan peredaran rokok kretek nasional. Kemudian muncul PP 109 tahun 2012 yang didalamnya tembakau dimasukan sebagai bahan zat adiktif, ini sebagai upaya ektrim untuk mematikan rokok kretek Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

      Kedua, kampanye isu negatif terhadap rokok kretek. Hampir semua penyakit yang diderita manusia dikaitkan dampak dari rokok, baik bagi perokok maupun yang tidak merokok. Tanpa dasar, tanpa bukti keberadaan rokok kretek sebagai sumber dari segala penyakit. Lebih tidak rasional lagi, semua dampak yang terjadi di masyarakat selalu dikaitkan dengan rokok kretek. Ambil contoh, kemiskinan di Indonesia salah satu penyebabnya karena mengkonsumsi rokok kretek. Naiknya iuran BPJS gara-gara banyak tunggakan yang belum terbayar, gara-gara pengurusan yang tidak akuntabel dikaitkan dengan konsumsi rokok kretek, memberikan nuansa negatif pada perokok. Sampai hal-hal yang terkecil seperti keberadaan sampah, polusi udara selalu keberadaan rokok kretek selalu disalahkan. Inilah bentuk kampanye anti rokok, bertujuan mematikan industri rokok kretek nasional. Setelah industri mati, farmasi melenggang memonopoli perdagangan nikotin.   <\/p>\n\n\n\n

      Pengaruh wacana kesehatan global yang dikampanyekan kelompok anti tembakau dan rokok kretek telah menyusup dalam regulasi di Negara Indonesia. Melalui kebijakan pengaturan peredaran tembakau dan membuat isu negatif rokok kretek sangat didominasi rezim kesehatan, menafikan aspek ekonomi, sosial dan budaya yang telah mengakar berates tahun. Pada akhirnya kebijakan tembakau di Indonesia melemahkan industri kretek nasional, yang selama ini menjadi sumber penghidupan berpuluh-puluh juta rakyat yang terintegrasi dengan insdustri rokok kretek nasional.  
      <\/p>\n","post_title":"Beratnya Perjalanan Rokok Kretek di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beratnya-perjalanan-kretek-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-12 10:28:19","post_modified_gmt":"2019-10-12 03:28:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6142","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

      Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

      Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

      Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

      Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

      Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

      Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

      Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

      Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

      Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

      Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

      Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

      Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

      Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

      Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

      Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
      <\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

      Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

      Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

      Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

      Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

      Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

      Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

      Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

      Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

      Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

      Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

      Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

      Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

      Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

      Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

      Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

      Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
      <\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6112,"post_author":"877","post_date":"2019-09-30 10:39:53","post_date_gmt":"2019-09-30 03:39:53","post_content":"\n

      Mbah Sholeh, salah satu tokoh di Desa Prawoto Pati Jawa Tengah, ia selalu mengkonsumsi rokok kretek untuk memacu gairah semangat hidupnya diusia menjelang senja. Usia boleh bertambah kepala tujuh, namun fisik tetap bugar, seger dan energik. <\/p>\n\n\n\n

      Sore itu sehabis ashar hari senin tanggal 23 September 2019, salah satu pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) menghampiriku sembari menyerahkan kertas undangan. Saat itu, aku sendiri sudah di atas motor mau bergegas pergi belanja untuk keperluan Mbah Pae panggilan akrab simbah KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus. Saat ini, beliau menjadi bapak masyarakat Kudus, sehingga banyak orang memanggilnya \u201cMbah Pae\u201d, putra dan cucunya pun memanggil demikian. <\/p>\n\n\n\n

      Undangan dari pengurus YM3SK aku masukkan ke kantong saku celana, kemudian lanjut pergi belanja. Walaupun hari sudah sore, panas matahari masih terasa, terlebih saat menyinari kulit yang tidak terbungkus kain pakaian. Seakan-akan hari itu matahari semangat menyinari bumi mengiringi musim kemarau. Sepulang dari belanja akupun menuju dapur mengambil gelas dan air minum. Sambil minum aku buka undangan tersebut dan aku baca. Ternyata undangan tersebut pemberitahuan ada acara pengajian dalam rangka Haul Agung Kanjeng Sunan Prawoto Raden Haryo Bagus Mu\u2019min atau biasa dipanggil Mbah Tabek.<\/p>\n\n\n\n

      Sunan Prawoto adalah raja keempat dari Kesultanan Demak yang memerintah tahun 1546-1549. Nama lahirnya Raden Mukmin, seorang agamis dari keturunan Kerajaan Demak Bintoro. Putra Sulung Raja Demak Sultan Trenggono. Ia terkenal dengan sebutan Sunan Prawoto, karena daerah yang disinggahi hingga akhir wafatnya bernama Desa Prawoto dalam wilayah kabupaten Pati Jawa Tengah berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kudus bagian selatan. Konon Desa Prawoto sebagai Kerajaan Kecil setelah Kerajaan Demak hancur. Raden Mukmin inilah yang memboyong Kerajaan Demak ke Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

      Saat ini Desa Prawoto adalah desa perbukitan, dengan hawa yang tidak terlalu dingin saat malam hari dan tidak terlalu panas pada siang hari. Walaupun hanya perbukitan, di Prawoto masih banyak pohon-pohon besar dan hijau memberikan kesejukan. Saat malam tiba, dari perbukitan Prawoto nampak jelas wilayah kota Kudus. Memang daerah Prowoto lebih dekat dengan kota Kudus dari pada Kota Pati. Bahkan budaya dan adat istiadatnya pun kental dengan budaya keKudusan. Sebagian besar masyarakat Prawoto aktifitas seharinya kewilayah Kudus, seperti bekerja, berdagang, pergi kepasar, sekolah, bahkan samapi memanfaatkan fasilitas ATM mereka memilih ke Kudus. <\/p>\n\n\n\n

      Pada masa penjajahan Belanda, Desa Prawoto di fungsikan sebagai distrik Karesidenan yang membawai daerah Pati sampai perbatasan Tuban Jawa Timur, Kudus, Jepara bahkan Demak. Sampai sekarang perkantoran Karesidenan warisan Belanda masih berdiri kokoh dan sebagian difungsikan untuk kepentingan Desa. Tidak hanya itu, di tengah-tengah desa terdapat semacam alun-alun kecil dengan kolam air besar yang konon juga peninggalan Belanda. Tidak sedikit yang berpendapat kolam tersebut peninggalan jauh sebelum Belanda, alias peninggalan Sunan Prawoto. Sehingga, kolam tersebut sering dibuat mandi para tokoh-tokoh dan Ulama\u2019 dari luar kota di Jawa, seperti Pekalongan, Batang, Kendal, Magelang, Solo dan lainnya. <\/p>\n\n\n\n

      Di Desa Prawoto terdapat dua makam Sunan Prawoto, di daerah bawah dan di daerah atas istilah masyarakat menamainya. Terlepas mana yang benar Makam Sunan Prawoto tergantung keyakinan individu. Menurut arkeolog UGM yang saat itu ikut menjelaskan, bahwa yang dibawah adalah peninggalan situs dan yang di atas dari dulu berupa makam yang dikenal dengan makam Tabek. <\/p>\n\n\n\n

      Rerata jenjang pendidikan masyarakat Prawoto maksimal tingkat SMA, hanya ada beberapa glintir yang samapi jenjang sarjana dan ada satu orang menjadi guru besar di UGM, namun sudah lama menetap di Yogyakarta, dan jarang pulang. Anehnya, walaupun rata-rata lulusan jenjang SMA, kemampuan dan skill mereka tak kalah dengan yang sarjana bahkan mentalnya pun demikian. Hal itu dapat dilihat dari cara bicara, cara berorganisasi, dan pola pikir maju seperti halnya sarjana. Itulah sekilah cerita tentang Prawoto.<\/p>\n\n\n\n

      Kembali ke undangan, setelah aku baca, ternyata undangan tersebut sekaligus perintah dari pengurus YM3SK untuk mewakili datang di acara Haul Sunan Prawoto yang dilaksanakan di hari dan tanggal itu juga jam 19.00 WIB. Walaupun terkesan mendadak tidak seperti biasa jauh-jauh hari sudah ada pemberitahuan, seperti saat acara haul Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Ampel. Akhirnya tetap datang di acara haul Sunan Prawoto dengan berkoordinasi dan mengajak dengan teman-teman di dekat desa Prawoto. Berangkat sehabis sholat isya\u2019, sampai di desa Prawoto jam 19.45 WIB acara dbelum di mulai menunggu group rebana dari bapak-bapak polisi Polres Kudus. <\/p>\n\n\n\n

      Disaat-saat senggang tersebut, aku manfaatkan ngobrol dengan penduduk dan tokoh Ulama\u2019 setempat. Ternyata mereka selain punya warisan seni ketoprak juga punya kebudayaan menghisap rokok kretek. Selain rokok kretek mereka tidak mau. Karena budaya merokok kretek diyakini warisan leluhurnya. Jarang sekali orang-orang tua yang tidak merokok, terlihat tidak memegang dan membawa rokok kretek kebanyakan anak-anak usia sekolah. Sambil ngobrol mengupas sedikit sejarah Sunan Prawoto kita merokok kretek bersama. Dengan merokok kretek suasana santai dan keakraban terbentuk di serambi masjid Sunan Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

      Kebetulan posisiku duduk bersebelahan dengan salah satu tokoh juga Ulama\u2019 Prawoto. Umurnya sudah tergolong dapat bonus 16 tahun dati Tuhan. Itulah jawabannya saat aku tanya usianya berapa. Karena pingin tau, aku tanya kembali persisnya usia berapa, beliau menjawab diatas rata-rata umumnya usia manusia (60 tahun) yaitu 76 tahun. Ia menjawab sambil tersenyum dan memegang rokok kretek yang telah disulut, ia adalah Mbah Sholeh (nama samara).<\/p>\n\n\n\n

      Saat menjawab, akupun terkaget, karena prediksiku umur sekitaran 50an. Raup wajahnya bersih, badannya terlihat sehat dan terlihat energik, tidak mau kalah dengan bapak-bapak lainnya yang saat itu ikut ngobrol yang rata-rata umur 48-60 tahun. <\/p>\n\n\n\n

      Akhirnya akupun penasaran, dan kembali bertanya. Mbah apa resepnya kok masih terlihat muda?. Ia pun menjawab, jauhi makanan yang ada obat penyedap rasanya, makananlah bahan alami seperti daun-daunan. Sampai detik ini ia mengaku tidak makan makanan yang ada penyedap rasanya, kalau ditawari atau ada suguhan di depannya, ia memilih tidak akan memakannya. Juga kalau ditawari dan disuguhi minuman yang bergula. Ia pun demikian menghindari. Kata masyarakat lainnya yang ikut ngobrol, Mbah Sholeh itu hidup sehat.<\/p>\n\n\n\n

      Celetukan tersebut disikapi Mbah Sholeh  dengan senyuman dan sambil mengeluarkan asap rokok kretek dari mulutnya dan hidupnya. Kemudian aku bertanya lagi, kenapa Mbah merokok?. Ia pun tersenyum sambil menyedot kembali rokok kreteknya dengan menjawab, kalau merokok kretek membuat ia bahagia, dengan kondisi bahagia ini orang jadi awet muda. Kalau merokok membuat semangat, dengan semangat orang jadi giat dan kuat. Ia juga menceritakan memulai merokok kretek saat sudah Islam. Kata Islam disini bukan berarti saat masuk Islam, akan tetapi yang dimaksud saat sudah khitan atau usia baliq. Dahulu setelah ia dikhitan, bapaknya menyuruhnya merokok sebagai tanda sudah dewasa. <\/p>\n\n\n\n

      Inilah pengakuan Mbah Sholeh, ternyata wajah yang bersih berseri, awet muda, fisiknya kuat dan energik, salah satu rahasinya adalah berbahagia dan giat. Agar bahagia dan giat ia selalu mengkonsumsi rokok kretek dan meninggalkan makanan dengan penyedap rasa.   
      <\/p>\n","post_title":"Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bikin-awet-muda-dan-energik-rahasia-di-balik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-30 10:40:00","post_modified_gmt":"2019-09-30 03:40:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6112","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6101,"post_author":"877","post_date":"2019-09-26 10:08:08","post_date_gmt":"2019-09-26 03:08:08","post_content":"\n

      Masa panen adalah saat yang dinanti-nanti petani tembakau. Tentunya harapan petani, tanaman tembakaunaya tumbuh dengan baik, kualitas bagus dan jumlahnya banyak, serta harganya bagus. Di saat tanaman tembakaunya bagus, baik kualitas dan kuantitasnya, biasanya diikuti dengan harga bagus pula. Namun tidak bisa dipastikan, karena masalah harga tidak bisa petani serta merta yang menentukan, ada faktor yang sanagat kompleks. Yaitu situasi dan kondisi sektor pertembakauan di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

      Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

      Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

      Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

      Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

      Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

      Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

      Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

      Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

      Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

      Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

      Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

      Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

      Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

      Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
      <\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

      \n

      Sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature.  <\/em>Budaya yang dimaksud  tak hanya menunjuk praktik kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan pemisah dengan yang lain.
      <\/p>\n\n\n\n

      Indonesia meratifikasi konvensi tersebut melalui Peraturan Presiden Nomor 78 Tahun 2007 tentang Pengesahan Convention For The Safeguarding of The Intangible Cultural Heritage (Konvensi Untuk Perlindungan Warisan Budaya Takbenda). Terdapat beberapa pertimbangan hukum yang tertuang dalam konsideran dalam Perpres tersebut:<\/p>\n\n\n\n

      1. Pasal 32 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945: Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya.<\/li>
      2. Undang-Undang No. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional, Lembaran Negara tahun 2000 Nomor 185.<\/li>
      3. Undang-Undang No. 17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional, Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 2007 Nomor 23.<\/li>
      4. <\/li><\/ol>\n\n\n\n

        Baca: Beratnya Perjalanan Rokok Kretek di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

        Perlindungan terhadap kebudayaan juga telah diatur dalam rencana pembangunan jangka panjang nasional tahun 2025, yaitu dalam lampiran Undang-Undang No. 17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005-2025 Bab II.3 Poin 3 yang menyatakan bahwa kebudayaan yang dimiliki oleh Indonesia merupakan sumber daya yang potensial bagi pembangunan nasional. Atas dasar itulah, kebudayaan menjadi salah satu arah sasaran pembangunan jangka panjang 2005-2025 seperti tertuang dalam bagian Lampiran Undang-Undang No. 17 tahun 2007 tentang Rencana Jangka Panjang Nasional 2005-2025, Bab IV Huruf H poin 1, berbunyi: \u201cMemperkuat dan mempromosikan identitas nasional sebagai negara demokratis dalam tatanan masyarakat internasional\u201d.\u00a0
        <\/p>\n\n\n\n

        Ketentuan mengenai \u2018juklak\u2019 dan \u2018juknis\u2019 pelestarian dan perlindungan terhadap warisan budaya tak bendawi ini, lebih jauh diatur berdasarkan Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata No. 42 tahun 2009\/40 Tahun 2009 tentang Pedoman Pelestarian Kebudayaan.
        <\/p>\n\n\n\n

        Kretek yang kali pertama ditemukan di Kudus seharusnya juga didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. Kretek menjadi semacam sarana pergaula sosial pada kurang lebih satu abad ini, yang setara dengan sesi menginangpada tahun dan abad-abad lalu. Pertemuan dibuka, diselai, diisi dan ditutup dengan sambil menghisap kretek.
        <\/p>\n\n\n\n

        Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Surabaya berdiri House of Sampoerna, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n\n\n\n

        Baca: Sepuluh Konsep Kemitraan Ideal Pertanian Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

        Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting kolonial, kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. 
        <\/p>\n\n\n\n

        Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz, menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage.<\/em>Tetapi di sepanjang bukunya, dipampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.
        <\/p>\n\n\n\n

        Jika perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Artinya usia kretek telah mencapai, bahkan melebihi batas 50 tahun sebagai syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. Bahkan jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. 
        <\/p>\n\n\n\n

        Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat yang mengakar. Perkembangannya, sistem tersebut menjadi sarana memperoleh nilai ekonomi sebagai penguatan hidup keberlanjutan. Tak hanya itu, sistem pengetahuan tersebut membawa si pewaris menuju kehidupan sejahtera. 
        <\/p>\n","post_title":"Rokok Kretek Warisan Budaya Tak Benda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-warisan-budaya-tak-benda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-14 09:05:15","post_modified_gmt":"2019-10-14 02:05:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6142,"post_author":"877","post_date":"2019-10-12 10:25:41","post_date_gmt":"2019-10-12 03:25:41","post_content":"\n

        Jelas-jelas kretek satu-satunya industri yang peka zaman. Industri yang telah membuktikan ketangguhannya selama ratusan tahun tetap bertahan hidup hingga sekarang. Keberadaan industri kretek masih terus memberikan kontribusi besar terhadap bangsa Indonesia, baik untuk petani, ketersediaan lapangan pekerjaan, jaminan sosial, pengembangan kebudayaan bangsa bahkan sampai pada berkontribusi besar terhadap pemasukan dan pendapatan Negara. Namun perjalanan industri kretek dari zaman kezaman menghadapi tantangan dan ancaman yang sangat berat hingga sekarang.<\/p>\n\n\n\n

         Uang dari hasil rokok kretek oke, barangnya nanti dulu, itulah situasi rokok kretek di Indonesia. Sangat ironi sekali, keberadaan kretek di Indonesia selalu di recoki, mulai dari aturan perundang-undangan sampai pada isu tak sedap yang dikaitkan dengan keberadaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

        Pertama, undang-undang cukai dan kejahatan rezim kesehatan. Cukai merupakan komponen pendapatan negara yang mempunyai peran penting untuk terlaksananya tugas Negara. Pungutan cukai sudah terlaksana sejak zaman kolonial dalam Staatsblad No. 517 tahun 1932. Giroh pungutan ini hanya berdasar pada penguatan pendapatan dan keungan kolonial. Karena dirasa salah satu industri yang mampu menopang keuangan kolonial saat itu. <\/p>\n\n\n\n

        Setelah merdeka, pungutan cukai tetap dilanjutkan sebagai bagian penguatan keuangan Negara, diatur pada Undang-undang No. 28 Tahun 1947 hingga Undang-undang No.11 Tahun 1995. Pada tahun 2007, terjadi pergeseran alasan pungutan cukai yang awalnya untuk penguatan keuangan Negara, kemudian bertujuan sebagai sarana pembatasan peredaran dan pemakaiannya. Pergeseran tujuan ini, karena dominasi rezim kesehatan. Yaitu munculnya UU No. 39 Tahun 2007,  Tentang perubahan atas UU No. 11 Tahun 1995. Dalam UU No. 39 tahun 2007 ini terlihat sangat kuat dominasi kesehatan. Sehingga memberi peluang peningkatan tarif cukai terjadi tiap tahun. Jadi naiknya tarif cukai menjadi jalan paling efektif untuk menekan lajunya peredaran rokok kretek. Terlihat, dari awal kemunculan pada abad 19 hingga tahun 1995, keberadaan industri kretek sangat berarti sebagai satu budaya yang mengakar di tengah-tengah masyarakat bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

        Mulai tahun 2007 sampai sekarang rezim kesehatan mendominasi aturan kretek. Kejadian ini akibat desekan dan tekanan dunia internasional setelah terjadi perselingkuhan WHO dengan perusahaan farmasi multinasional di Swiss pada tanggal 30 Januari 1999. Direktur Jenderal WHO, Gro Harlem Brundtland mengumumkan proyek kemitraan antara WHO dan perusahaan farmasi multinasional Pharmacia & Upjohn, Novartis dan Glaxo Wellcome untuk pengembangan nicotine replacement therapy (NRT). Dalam pidatonya, Brundtland terang-terangan mendeklarasikan kampanye anti rokok untuk mensukseskan tujuan bersama. <\/p>\n\n\n\n

        Kemitraan antara WHO dan industri farmasi multinasional , setelah adanya riset di Amerika Serikat yang dilakukan lembaga penelitian kesehatan Surgeon General yang mengaitkan konsumsi nikotin tembakau dengan kesehatan. Riset tersebut memicu pengambilalihan bisnis nikotin diberbagai Negara termasuk Indonesia. Karena secara alamiah, kandungan nikotin terbesar ada di daun tembakau. Nikotin bagi ilmuwan kesehatan mempunyai banyak manfaat untuk pengobatan dan aneka terapi. <\/p>\n\n\n\n

        Organisasi kesehatan dunia WHO sebagai organisasi pemegang otoritas tertinggi kesehatan dunia, dengan lantaran mendapatkan sokokngan dana industri farmasi menjadikan organisasi WHO tidak lagi bertindak demi meningkatkan taraf kesehatan masyarakat dunia. Melainkan muncul liberalisasi kesehatan modern. WHO menjadi panjang tangan industri farmasi, dokter atau ilmuwan kesehatan menjadi alat perusahaan obat, menjadi ujung tombak industri farmasi. <\/p>\n\n\n\n

        Tidak menngherankan, jika di Indonesia sampai detik ini keberadaan dokter atau ilmuwan kesehatan penopang utama peredaran obat dan apotek. Yang terjadi ada take and give, saling memberi dan menerima. Bisa jadi pendapatan dokter di Indonesia lebih besar penjualan obat dari pada hasil dari konsumen atau pasien. Tak berhenti disitu, akibat di atas, memicu maraknya berdirinya apotek di Indonesia sampai tingkat Kecamatan dan desa. Masyarakat Indonesia dibuat hidupnya tergantung obat-obatan, mulai meninggalkan pengobatan alamiah tumbuh-tumbuhan dan sejenisnya. Bahkan masyarakat Indonesia dalam benaknya sudah terkontaminasi rezim kesehatan, semua penyakit harus disembuhkan dengan mengkonsumsi obat. Yang lebih menyedihkan lagi, praktek-praktek tradisional mulai terkikis dan hilang dari peredaran. Ambil contoh, dukun bayi, jamu tradisional, tumbuhan obat-obatan mulai tertelan bumi.     <\/p>\n\n\n\n

        Turunan dari UU No. 39 tahun 2007 diatas, muncul Permenkeu No. 200\/PMK\/04\/2008, tentang aturan tata cara pemberian, pembekuan dan pencabutan nomor pokok pengusahaan barang cukai untuk pabrik atau industri hasil tembakau. Dalam aturan ini, memberlakukan ketentuan yang sangat berat bagi industri rokok kretek rumahan (industri kecil). Yaitu salah satunya, aturan industri kretek bangunan luasnya harus 200 meter persegi, tidak berhubungan langsung dengan bangunan rumah tempat tinggal, halaman rumah dan tempat lain yang bukan bagian pabrik, dan diharuskan bangunan tersebut di pinggir jalan umum. Gara-gara aturan ini, banyak industri kecil rumahan mati. Sebelum ada aturan ini, di kota Kudus sendiri banyak sekali industri kretek rumahan belum lagi di kota lain seperti kabupaten Jember, Malang dan lainnya.  <\/p>\n\n\n\n

        Setelah Permenkeu No. 200\/PMK\/04\/2008, muncul Permenkeu lainnya, seperti Permenkeu No. 191\/PMK.04\/2010, Permenkeu No. 78\/PMK.011\/2013, Permenkeu 84\/2008, Permenkeu 20\/2009. Dari semua Permenkeu tersebut, semuanya mengarah pelemahan industri rokok kretek nasional yang didasari dari intervensi rezim kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

        Pada tahun 2009 muncul Undang-undang No. 28 Tentang pajak daerah dan retribusi daerah atau lebih sederhanya di sebut pajak daerah selain cukai. Besaran pajak daerah ini 10% atas produk tembakau. Unduang-undang ini adopsi dari framework convention on tobacco control (FCTC). Tujuan utama pungutan pajak daerah ini sama halnya pergeseran paradigma pungutan cukai, yaitu untuk menekan peredaran rokok kretek nasional. Kemudian muncul PP 109 tahun 2012 yang didalamnya tembakau dimasukan sebagai bahan zat adiktif, ini sebagai upaya ektrim untuk mematikan rokok kretek Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

        Kedua, kampanye isu negatif terhadap rokok kretek. Hampir semua penyakit yang diderita manusia dikaitkan dampak dari rokok, baik bagi perokok maupun yang tidak merokok. Tanpa dasar, tanpa bukti keberadaan rokok kretek sebagai sumber dari segala penyakit. Lebih tidak rasional lagi, semua dampak yang terjadi di masyarakat selalu dikaitkan dengan rokok kretek. Ambil contoh, kemiskinan di Indonesia salah satu penyebabnya karena mengkonsumsi rokok kretek. Naiknya iuran BPJS gara-gara banyak tunggakan yang belum terbayar, gara-gara pengurusan yang tidak akuntabel dikaitkan dengan konsumsi rokok kretek, memberikan nuansa negatif pada perokok. Sampai hal-hal yang terkecil seperti keberadaan sampah, polusi udara selalu keberadaan rokok kretek selalu disalahkan. Inilah bentuk kampanye anti rokok, bertujuan mematikan industri rokok kretek nasional. Setelah industri mati, farmasi melenggang memonopoli perdagangan nikotin.   <\/p>\n\n\n\n

        Pengaruh wacana kesehatan global yang dikampanyekan kelompok anti tembakau dan rokok kretek telah menyusup dalam regulasi di Negara Indonesia. Melalui kebijakan pengaturan peredaran tembakau dan membuat isu negatif rokok kretek sangat didominasi rezim kesehatan, menafikan aspek ekonomi, sosial dan budaya yang telah mengakar berates tahun. Pada akhirnya kebijakan tembakau di Indonesia melemahkan industri kretek nasional, yang selama ini menjadi sumber penghidupan berpuluh-puluh juta rakyat yang terintegrasi dengan insdustri rokok kretek nasional.  
        <\/p>\n","post_title":"Beratnya Perjalanan Rokok Kretek di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beratnya-perjalanan-kretek-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-12 10:28:19","post_modified_gmt":"2019-10-12 03:28:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6142","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

        Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

        Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

        Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

        Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

        Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

        Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

        Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

        Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

        Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

        Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

        Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

        Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

        Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

        Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

        Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
        <\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

        Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

        Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

        Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

        Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

        Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

        Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

        Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

        Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

        Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

        Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

        Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

        Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

        Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

        Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

        Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

        Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
        <\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6112,"post_author":"877","post_date":"2019-09-30 10:39:53","post_date_gmt":"2019-09-30 03:39:53","post_content":"\n

        Mbah Sholeh, salah satu tokoh di Desa Prawoto Pati Jawa Tengah, ia selalu mengkonsumsi rokok kretek untuk memacu gairah semangat hidupnya diusia menjelang senja. Usia boleh bertambah kepala tujuh, namun fisik tetap bugar, seger dan energik. <\/p>\n\n\n\n

        Sore itu sehabis ashar hari senin tanggal 23 September 2019, salah satu pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) menghampiriku sembari menyerahkan kertas undangan. Saat itu, aku sendiri sudah di atas motor mau bergegas pergi belanja untuk keperluan Mbah Pae panggilan akrab simbah KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus. Saat ini, beliau menjadi bapak masyarakat Kudus, sehingga banyak orang memanggilnya \u201cMbah Pae\u201d, putra dan cucunya pun memanggil demikian. <\/p>\n\n\n\n

        Undangan dari pengurus YM3SK aku masukkan ke kantong saku celana, kemudian lanjut pergi belanja. Walaupun hari sudah sore, panas matahari masih terasa, terlebih saat menyinari kulit yang tidak terbungkus kain pakaian. Seakan-akan hari itu matahari semangat menyinari bumi mengiringi musim kemarau. Sepulang dari belanja akupun menuju dapur mengambil gelas dan air minum. Sambil minum aku buka undangan tersebut dan aku baca. Ternyata undangan tersebut pemberitahuan ada acara pengajian dalam rangka Haul Agung Kanjeng Sunan Prawoto Raden Haryo Bagus Mu\u2019min atau biasa dipanggil Mbah Tabek.<\/p>\n\n\n\n

        Sunan Prawoto adalah raja keempat dari Kesultanan Demak yang memerintah tahun 1546-1549. Nama lahirnya Raden Mukmin, seorang agamis dari keturunan Kerajaan Demak Bintoro. Putra Sulung Raja Demak Sultan Trenggono. Ia terkenal dengan sebutan Sunan Prawoto, karena daerah yang disinggahi hingga akhir wafatnya bernama Desa Prawoto dalam wilayah kabupaten Pati Jawa Tengah berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kudus bagian selatan. Konon Desa Prawoto sebagai Kerajaan Kecil setelah Kerajaan Demak hancur. Raden Mukmin inilah yang memboyong Kerajaan Demak ke Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

        Saat ini Desa Prawoto adalah desa perbukitan, dengan hawa yang tidak terlalu dingin saat malam hari dan tidak terlalu panas pada siang hari. Walaupun hanya perbukitan, di Prawoto masih banyak pohon-pohon besar dan hijau memberikan kesejukan. Saat malam tiba, dari perbukitan Prawoto nampak jelas wilayah kota Kudus. Memang daerah Prowoto lebih dekat dengan kota Kudus dari pada Kota Pati. Bahkan budaya dan adat istiadatnya pun kental dengan budaya keKudusan. Sebagian besar masyarakat Prawoto aktifitas seharinya kewilayah Kudus, seperti bekerja, berdagang, pergi kepasar, sekolah, bahkan samapi memanfaatkan fasilitas ATM mereka memilih ke Kudus. <\/p>\n\n\n\n

        Pada masa penjajahan Belanda, Desa Prawoto di fungsikan sebagai distrik Karesidenan yang membawai daerah Pati sampai perbatasan Tuban Jawa Timur, Kudus, Jepara bahkan Demak. Sampai sekarang perkantoran Karesidenan warisan Belanda masih berdiri kokoh dan sebagian difungsikan untuk kepentingan Desa. Tidak hanya itu, di tengah-tengah desa terdapat semacam alun-alun kecil dengan kolam air besar yang konon juga peninggalan Belanda. Tidak sedikit yang berpendapat kolam tersebut peninggalan jauh sebelum Belanda, alias peninggalan Sunan Prawoto. Sehingga, kolam tersebut sering dibuat mandi para tokoh-tokoh dan Ulama\u2019 dari luar kota di Jawa, seperti Pekalongan, Batang, Kendal, Magelang, Solo dan lainnya. <\/p>\n\n\n\n

        Di Desa Prawoto terdapat dua makam Sunan Prawoto, di daerah bawah dan di daerah atas istilah masyarakat menamainya. Terlepas mana yang benar Makam Sunan Prawoto tergantung keyakinan individu. Menurut arkeolog UGM yang saat itu ikut menjelaskan, bahwa yang dibawah adalah peninggalan situs dan yang di atas dari dulu berupa makam yang dikenal dengan makam Tabek. <\/p>\n\n\n\n

        Rerata jenjang pendidikan masyarakat Prawoto maksimal tingkat SMA, hanya ada beberapa glintir yang samapi jenjang sarjana dan ada satu orang menjadi guru besar di UGM, namun sudah lama menetap di Yogyakarta, dan jarang pulang. Anehnya, walaupun rata-rata lulusan jenjang SMA, kemampuan dan skill mereka tak kalah dengan yang sarjana bahkan mentalnya pun demikian. Hal itu dapat dilihat dari cara bicara, cara berorganisasi, dan pola pikir maju seperti halnya sarjana. Itulah sekilah cerita tentang Prawoto.<\/p>\n\n\n\n

        Kembali ke undangan, setelah aku baca, ternyata undangan tersebut sekaligus perintah dari pengurus YM3SK untuk mewakili datang di acara Haul Sunan Prawoto yang dilaksanakan di hari dan tanggal itu juga jam 19.00 WIB. Walaupun terkesan mendadak tidak seperti biasa jauh-jauh hari sudah ada pemberitahuan, seperti saat acara haul Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Ampel. Akhirnya tetap datang di acara haul Sunan Prawoto dengan berkoordinasi dan mengajak dengan teman-teman di dekat desa Prawoto. Berangkat sehabis sholat isya\u2019, sampai di desa Prawoto jam 19.45 WIB acara dbelum di mulai menunggu group rebana dari bapak-bapak polisi Polres Kudus. <\/p>\n\n\n\n

        Disaat-saat senggang tersebut, aku manfaatkan ngobrol dengan penduduk dan tokoh Ulama\u2019 setempat. Ternyata mereka selain punya warisan seni ketoprak juga punya kebudayaan menghisap rokok kretek. Selain rokok kretek mereka tidak mau. Karena budaya merokok kretek diyakini warisan leluhurnya. Jarang sekali orang-orang tua yang tidak merokok, terlihat tidak memegang dan membawa rokok kretek kebanyakan anak-anak usia sekolah. Sambil ngobrol mengupas sedikit sejarah Sunan Prawoto kita merokok kretek bersama. Dengan merokok kretek suasana santai dan keakraban terbentuk di serambi masjid Sunan Prawoto. <\/p>\n\n\n\n

        Kebetulan posisiku duduk bersebelahan dengan salah satu tokoh juga Ulama\u2019 Prawoto. Umurnya sudah tergolong dapat bonus 16 tahun dati Tuhan. Itulah jawabannya saat aku tanya usianya berapa. Karena pingin tau, aku tanya kembali persisnya usia berapa, beliau menjawab diatas rata-rata umumnya usia manusia (60 tahun) yaitu 76 tahun. Ia menjawab sambil tersenyum dan memegang rokok kretek yang telah disulut, ia adalah Mbah Sholeh (nama samara).<\/p>\n\n\n\n

        Saat menjawab, akupun terkaget, karena prediksiku umur sekitaran 50an. Raup wajahnya bersih, badannya terlihat sehat dan terlihat energik, tidak mau kalah dengan bapak-bapak lainnya yang saat itu ikut ngobrol yang rata-rata umur 48-60 tahun. <\/p>\n\n\n\n

        Akhirnya akupun penasaran, dan kembali bertanya. Mbah apa resepnya kok masih terlihat muda?. Ia pun menjawab, jauhi makanan yang ada obat penyedap rasanya, makananlah bahan alami seperti daun-daunan. Sampai detik ini ia mengaku tidak makan makanan yang ada penyedap rasanya, kalau ditawari atau ada suguhan di depannya, ia memilih tidak akan memakannya. Juga kalau ditawari dan disuguhi minuman yang bergula. Ia pun demikian menghindari. Kata masyarakat lainnya yang ikut ngobrol, Mbah Sholeh itu hidup sehat.<\/p>\n\n\n\n

        Celetukan tersebut disikapi Mbah Sholeh  dengan senyuman dan sambil mengeluarkan asap rokok kretek dari mulutnya dan hidupnya. Kemudian aku bertanya lagi, kenapa Mbah merokok?. Ia pun tersenyum sambil menyedot kembali rokok kreteknya dengan menjawab, kalau merokok kretek membuat ia bahagia, dengan kondisi bahagia ini orang jadi awet muda. Kalau merokok membuat semangat, dengan semangat orang jadi giat dan kuat. Ia juga menceritakan memulai merokok kretek saat sudah Islam. Kata Islam disini bukan berarti saat masuk Islam, akan tetapi yang dimaksud saat sudah khitan atau usia baliq. Dahulu setelah ia dikhitan, bapaknya menyuruhnya merokok sebagai tanda sudah dewasa. <\/p>\n\n\n\n

        Inilah pengakuan Mbah Sholeh, ternyata wajah yang bersih berseri, awet muda, fisiknya kuat dan energik, salah satu rahasinya adalah berbahagia dan giat. Agar bahagia dan giat ia selalu mengkonsumsi rokok kretek dan meninggalkan makanan dengan penyedap rasa.   
        <\/p>\n","post_title":"Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bikin-awet-muda-dan-energik-rahasia-di-balik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-30 10:40:00","post_modified_gmt":"2019-09-30 03:40:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6112","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6101,"post_author":"877","post_date":"2019-09-26 10:08:08","post_date_gmt":"2019-09-26 03:08:08","post_content":"\n

        Masa panen adalah saat yang dinanti-nanti petani tembakau. Tentunya harapan petani, tanaman tembakaunaya tumbuh dengan baik, kualitas bagus dan jumlahnya banyak, serta harganya bagus. Di saat tanaman tembakaunya bagus, baik kualitas dan kuantitasnya, biasanya diikuti dengan harga bagus pula. Namun tidak bisa dipastikan, karena masalah harga tidak bisa petani serta merta yang menentukan, ada faktor yang sanagat kompleks. Yaitu situasi dan kondisi sektor pertembakauan di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

        Baca: Naiknya Cukai Rokok Ancaman Bagi Buruh Industri Rokok <\/a><\/p>\n\n\n\n

        Artinya, semua yang berpengaruh terhadap perusahaan rokok, itulah nanti akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Petani hanya punya perkiraan harga berdasarkan \u201ctiten\u201d atau kebiasaan, tidak bisa dipastikan, karena harga tembakau sangat ditentukan oleh dinamika alam, situasai dan kondisi rokok di lapangan, diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n

        Pertama;<\/strong> faktor iklim \/ cuaca, di saat memulai tanam tembakau air hujan masih terlihat menetes, kemudian menjelang panen musim kemarau tiba, biasanya kualitas dan kuantitas tembakau petani bagus. Di saat itu pula diiringi harga jual tembakau bagus, dan petani mendapatkan keuntungan. Inilah kejadian dan kebiasaan yang terjadi. Di saat cuaca mudah diprediksi, petani mudah memperkirakan hasil tanaman tembakaunya. Sebaliknya, ketika cuaca sulit diprediksi, petani hanya pasrah. Seperti halnya, di tahun-tahun terakhir ini, iklim dan cuaca sulit diprediksi, bahkan cenderung berubah dari kebiasan. Waktu mulai tanam sampai menjelang panen, terkadang intensitas hujan turun masih tinggi, berdampak terhadap kualitas dan kuantitas tanaman tembakau menurun. Karena tembakau, termasuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jika kebanyakan air, akan membusuk dan mati atau kualitasnya jelek.<\/p>\n\n\n\n

        Di tahun-tahun terakhir ini faktor cuaca selain sulit diprediksi juga sudah bisa dibuat patokan untuk mendapatkan harga tembakau bagus. Mungkin dahulu ya, dengan cuaca yang mendukung, hasil tanaman bagus, harga jual tembakau bagus. Sekarang belum tentu demikian, karena banyak faktor.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

        Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia <\/a><\/p>\n\n\n\n

        Contohnya, bisa jadi harga tembakau naik bagus saat cuaca tidak sesuai dan tidan mendukung tanaman tembakau, karena kelangkaan tembakau. Saat itu, banyak tanaman tembakau yang mati, atau banyak tanaman tembakau kuwalitasnya jelek. Nah, keadaan kelangkaan tembakau inilah memicu petani mendapatkan harga jual tembakaunya bagus. Sebaliknya, dengan cuaca dan iklim yang mendukung tanaman tembakau, belum tentu harga tanaman tembakau petani bagus. Bisa jadi harga yang diperoleh justru jauh dibawah harga saat cuaca tidak mendukung. Kenapa demikian, dimungkinkan jumlah atau kuantitas tanaman tembakau over, sehingga harga pasaran tembakau anjlok karena saking banyaknya persediaan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

        Belum lagi, jika saat tembakau bagus akan tetapi kondisi pasaran rokok melemah, jelas akan mempengaruhi harga pembelian tembakau. Beda, walaupun kondisi tembakau tidak begitu bagus, namun permintaan pasar rokok kencang, bisa jadi harga pembelian tembakau bagus. <\/p>\n\n\n\n

        Jadi, faktor iklim dan cuaca memang bisa memprediksi bagus dan tidaknya kualitas dan kuantitas tembakau. Namun belum tentu dengan kualitas tembakau bagus mendapatkan harga jual bagus karena kuantitasnya berlebihan atau permintaan pasar rokok baru melemah. Realita perdagangan tembakau demikian saat ini. Ada petani yang merasakan keuntungan lebih dari hasil tanamannya di saat cuaca tidak mendukung.  Sebaliknya ada petani yang merasa hasil tanaman tembakaunya tidak sesuai prediksi (keuntungan yang lebih) walaupun kualitas tembakaunya bagus dengan dukungan cuaca bagus. Ada juga, petani yang merasa mendapatkan harga tembakaunya bagus karena kuwalitas dengan daya dukung iklim. <\/p>\n\n\n\n

        Kedua,<\/strong> faktor regulasi dan kebijakan pemerintah. Faktor ini memang tidak mempengaruhi secara langsung harga jual tembakau. Namun justru faktor regulasi dan kebijakan pemerintah ini berdampak sangat signifikan terhadap permintaan tembakau, yang selanjutnya berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Kebijakan yang tidak melindungi tanaman tembakau, maka harga tembakau pasti semakin terpuruk, tembakau tidak dihargai lagi sebagai komuditas tanaman unggulan. Tak hanya itu, kebijakan yang tidak melindungi perusahan rokok dan tidak melindungi rokok pun akan berdampak terhadap harga jual tembakau.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

        Ambil contoh kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya sampai 23%, akan berdampak terhadap harga jual tembakau. logikanya, jika dampak kenaikan tarif cukai tersebut membuat permintaan pasar menurun, maka permintaan tembakau turun dan selanjutnya harga jual tembakau ikut menurun. Sebailiknya, dengan kenaikan tarif cukai naik, ternyata permintaan pasar rokok meningkat, maka permintaan tembakau pun meningkat dan kemudian harga tembakau ikut bagus.<\/p>\n\n\n\n

        Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok \u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

        Faktor regulasi dan kebijakan yang melindungi rokok dan tembakau sangat penting untuk menentukan bagusnya harga tembakau. Apalgi jika kebijakan pemerintah tidak melindungi perusahaan rokok, tentu perusahan akan melakukan itung-itungan. Jika dalam kalkulasinya masih untung, pastinya perusahaan masih akan tetap berproduksi, dan masih akan membutuhkan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

        Contoh kebijakan lain yang merugikan petani tembakau, disaat pemerintah mengeluarkan kebijakan perusahaan rokok dengan ketentuan 200m2<\/sup>, maka banyak industri rokok rumahan tutup, berakibat permintaan tembakau turun, terlebih tembakau kelas menengah ke bawah. Contoh lagi kebijakan pemerintah low nikotin dan tar, maka berdampak harga jual tembakau yang tidak memenuhi aturan pemerintah tersebut akan menurun. Sedangkan mayoritas tanaman tembakau petani Indonesia dengan kearifan lokalnya sulit untuk memenuhi aturan tersebut.  <\/p>\n\n\n\n

        Jadi sebenarnya faktor harga jual tembakau sangat kompleks. Industri atau perusahaan rokok sebagai pihak yang melakukan permintaan tembakau dalam menentukan patokan harga beli pastinya memperhitungkan kuwalitas, kuantitas dan kebijakan pemerintah. Untuk itu harus ada sinergi antara industri rokok dan petani agar saling menguntungkan. Karena satu-satunya serapan tembakau terbesar di Indonesia hanya diperuntukkan sebagai bahan baku rokok kretek. Kalau nantinya industri rokok dirugikan adanya kebijakan pemerintah sudah pasti berdampak terhadap harga jual tembakau petani. Selanjutnya jalinan antara industri rokok kretek dan petani harus kuat, harus ada keterbukaan, saling dukung mendukung. Industri rokok kretek harus menghargai hasil tanaman tembakau petani Nusantara, begitu juga petani harus mendukung industri rokok kretek nasional. Jangan sampai terjadi antara industri rokok kretek dan petani seakan-akan berdiri sendiri-sendiri, sehingga stabilitas harga jual tembakau terjaga dengan baik.       
        <\/p>\n","post_title":"Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"faktor-yang-mempengaruhi-harga-jual-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-26 10:08:10","post_modified_gmt":"2019-09-26 03:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6101","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":15},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};